Your SlideShare is downloading. ×
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI

9,672

Published on

Bahan Ajar Diklat Prajabatan Gol. III …

Bahan Ajar Diklat Prajabatan Gol. III
Lembaga Administrasi Negara RI

Published in: Technology
17 Comments
12 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
9,672
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
147
Comments
17
Likes
12
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. SISTEM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN NKRI Bahan Ajar Diklat Prajabatan Gol. III Tri Widodo W. UtomoPusat Kajian Manajemen Kebijakan (PKMK) 1 Free Powerpoint Templates Page Lembaga Administrasi Negara
  • 2. Data PribadiNAMA : Tri Widodo W. Utomo, SH.,MATTL : Yogyakarta, 15-07-1968NIP : 19680715 199401 1 001JABATAN : Kepala Pusat Kajian Manajemen Kebijakan/ Peneliti Utama Bidang Administrasi PublikGol/Pangkat : IV-c / Pembina Utama MudaAlamat KTR : Jl. Veteran No. 10 Jakarta Telp. 021-3868202; Fax. 021-3800187Alamat RMH : Villa Melati Mas Blok M6/12A, Serpong Tangerang Selatan, HP. 0819-503-4500 Free Powerpoint Templates Page 2
  • 3. Sistematika Materi1. Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI;2. Penyelenggaraan Negara Yang Bersih & Bebas KKN;3. Peraturan Perundang-Undangan;4. Lembaga Negara / Pemerintah;5. Manajemen Pemerintahan. Free Powerpoint Templates Page 3
  • 4. Bagian 1Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan NKRI  Sistem Pemerintahan;  Negara Hukum;  Sistem Konstitusional;  Sistem Presidensial & Parlementer  Pembatasan Kekuasaan. Free Powerpoint Templates Page 4
  • 5. WILAYAH NEGARA RI Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang (Pasal 25A)Awal 2004: 32 prov & 434 kab/kota. Jumlah pulau: 17.508Awal 2009: 33 prov & 497 kab/kota. Luas: 1.919.440 km2 (terluas ke-15 di dunia)
  • 6. Filsafat/ Teologi Administrasi/ Manajemen Sejarah PEMERIN-Kebijakan Hukum TAHAN Politik Psikologi Ekologi 7
  • 7. SPPN pra Amandemen UUD 45 Indonesia adalah Negara yang Berdasar Atas Hukum (Rechtstaat); Sistem Konstitusional; Kekuasaan Negara yang Tertinggi Ada di Tangan MPR; Presiden adalah Penyelenggara Pemerintah yang Tertinggi dibawah Majelis; Presiden Tidak Bertanggungjawab Kepada DPR; Menteri Negara ialah Pembantu Presiden; Menteri Negara Tidak Bertanggungjawab Kepada DPR; Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak Terbatas. 8
  • 8. Negara Hukum Indonesia UUD 1945 NASKAH ASLI UUD 1945 SETELAH PERUBAHAN BAB I BAB I BENTUK DAN KEDAULATAN BENTUK DAN KEDAULATAN Pasal 1 Pasal 1(1) Negara Indonesia ialah Ne- (1) Negara Indonesia ialah Ne- gara Kesatuan, yang gara Kesatuan, yang berbentuk Republik. berbentuk Republik.(2) Kedaulatan adalah di tangan (2) Kedaulatan berada di tangan rakyat, dan dilakukan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis menurut Undang-Undang Permusyawaratan Rakyat. Dasar.***) (3) Negara Indonesia adalah negara hukum. ***)
  • 9.  F.R. Bothlingk: De staat, waarin de wilsvrijheid van gezagsdragers is beperkt door grenzen van recht (negara dimana kebebasan kehendak pemegang kekuasaan dibatasi oleh ketentuan hukum). Prof. R. Djokosutomo: Negara berdasarkan pada kedaulatan hukum. Hukumlah yg berdaulat. Negara adalah merupakan subjek hukum, dalam arti rechtstaat (badan hukum republik). Karena negara itu dipandang sebagai subjek hukum, maka jika ia bersalah dapat dituntut didepan pengadilan karena perbuatan melanggar hukum.
  • 10. Negara Hukum & Sistem Hukum Dunia ANGLO SAXON EROPA KONTINENTALCommon Law (Konvensi) Civil Law (Written Law) Rechtstaat (Immanuel Kant &Rule of Law (AV. Dicey) Friedrich Julius Stahl)Tidak ada pemisahan Per- Peradilan Administrasi ygadilan Umum & Administrasi. terpisah.Supremasi hukum (legal supremacy); Tidak ada kekuasaan ygsewenang2 (absence of arbitrary power); Kedudukan yg sama didepan hukum (equality before the law); Jaminan HAM;Pembagian kekuasaan (division/separation of power).
  • 11. Negara Hukum Indonesia Negara berdasarkan atas hukum (Rechtsstaat), bukan berdasarkan atas kekuasaan (Machtsstaat). 3 Asas Pokok Negara Hukum (Prajudi A):  Asas monopoli paksa (Zwangmonopoli)  monopoli penggunaan kekuasaan dan paksaan untuk membuat orang menaati apa yang menjadi keputusan penguasa.  Asas persetujuan rakyat  peraturan yg dibuat tanpa perintah/kuasa UU adalah tidak sah. Ingat prinsip No Taxation without Representation.  Asas persekutuan hukum (rechtsgemeenschap)  Rakyat dan penguasa Negara bersama- sama merupakan suatu persekutuan hukum (rechtsgemeenschap, legal partnership).
  • 12. Parlementer: sistem pemerintahan dmn pemerintah (eksekutif) bertanggungjawab kpd parlemen (legislatif). Cirinya: Kekuasaan Kepala Negara merupakan kekuasaan nominal (hanya merupakan figur kepemimpinan formal & seremonial; hanya sbg lambang), shg kekuasaan politiknya dalam pemerintahan relatif kecil. Pelaksana dan penanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan adalah PM bersama para menteri (Kabinet), Kedudukan Kabinet tergantung pada dukungan Parlemen, dan Kabinet akan jatuh apabila Parlemen menarik dukungannya. Parlemen dapat dibubarkan oleh Kepala Negara atas usul PM; sebaliknya Kabinet dapat dijatuhkan oleh Parlemen melalui mosi tidak percaya (vote of non-confidence).
  • 13. Presidensial: sistem pemerintahan dmn Kepala Pemerintahan dipegang oleh Presiden, dan pemerintah tidak bertanggung jwb kepada Parlemen. Cirinya: Presiden disamping sebagai Kepala Negara, juga sebagai Kepala Pemerintahan yg mempunyai kekuasaan politik secara riil. Kedudukan Presiden tidak tergantung pada Parlemen, dan tidak dapat dijatuhkan, kecuali atas tuduhan melakukan kejahatan yg luar biasa. Presiden tidak dapat membubarkan Parlemen. Presiden dan Parlemen dipih untuk waktu dan jangka waktu tertentu, sehingga tidak dapat bubar sewaktu-waktu.
  • 14.  Ditinjau dari tujuannya, untuk menjamin hak warga negara dari tindakan sewenang-wenang penguasa demi terselenggaranya kepentingan / kesejahteraan masy. Ditinjau dari penyelenggaraan pemerintahan, untuk menjadi landasan struktural bagi organ negara dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan.
  • 15.  Dokumen nasional berisi perjanjian luhur, kesepakatan politik / hukum / sosek yg menjadi tujuan negara. Piagam kelahiran baru (a birth certificate of new state). Sumber Hukum Tertinggi, sekaligus sbg tools of social engineering dlm merespon perubahan zaman. Identitas nasional & lambang persatuan. Sumber legitimasi kekuasaan negara. Fungsi simbolik sbg pusat upacara (center of ceremony) dan keagungan bangsa.
  • 16. o Tidak seorangpun penguasa yg akan mengambil hasil pertanian dari siapapun tanpa membayar harganya seketika itu juga kecuali jika si pemilik memberi izin menangguhkan pembayaran (psl 28);o Tidak seorangpun penguasa yg akan mengambil kuda atau kendaraan dari seorang yg bebas (freeman) untuk keperluan pengangkutan tanpa izin si pemilik (psl 30);o Tidak seorangpun penguasa yg akan mengambil kayu-kayu untuk keperluan raja tanpa persetujuan si pemilik;o Tidak seorangpun pegawai kepolisian yg akan mengajukan seorang di muka pengadilan atas tuduhan tanpa kesaksian orang yg dipercaya (psl 38);o Tidak seorang bebaspun (freeman) yg akan dimasukkan ke dalam penjara atau dilarang berdiam di satu daerah tertentu kecuali atas putusan oleh penguasa setempat atau dibenarkan oleh aturan negara (psl 39);o Kepada siapapun tidak dapat diingkari atau ditangguhkan pelaksanaan haknya atas peradilan (psl 40).
  • 17. Dasar Pemikiran Tuntutan Reformasi Sebelum Perubahan Perubahan Tujuan Perubahan• Amandemen UUD 1945 Jumlah: • Kekuasaan tertinggi di Menyempurnakan aturan• Penghapusan doktrin • 16 bab tangan MPR dasar: Dwi Fungsi ABRI • 37 pasal • Kekuasaan yang sangat • Tatanan negara• Penegakan hukum, • 49 ayat besar kepada Presiden • Kedaulatan Rakyat HAM, dan pemberan- • 4 pasal A.P • Pasal-pasal multitafsir • HAM tasan KKN • 2 ayat A.T • Pengaturan lembaga • Pembagian kekuasaan• Otonomi Daerah • Penjelasan negara oleh Presiden • Kesejahteraan Sosial• Kebebasan Pers melalui pengajuan UU • Eksistensi negara• Mewujudkan kehidupan • Praktek ketatanegaraan demokrasi dan negara demokrasi tidak sesuai dengan hukum UUD 1945 • Sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan bangsa Hasil Perubahan Sidang MPR Kesepakatan Dasar Dasar YuridisJumlah: • Sidang Umum MPR, 1999 • Tidak mengubah • Pasal 3 UUD 1945• 21 bab Tgl.14-21 Okt 1999 Pembukaan UUD 1945. • Pasal 37 UUD 1945• 73 pasal • Sidang tahunan • Tetap mempertahankan • TAP MPR• 170 ayat MPR,2000 NKRI. No.IX/MPR/1999• 3 pasal A.P. Tgl.7-18 Agt 2000 • Mempertegas sistem • TAP MPR 9• 2 Pasal A.T. • Sidang tahunan presidensial. No.IX/MPR/2000• Tanpa Penjelasan MPR,2001 • TAP MPR XI/2001 Tgl.1-9 Nov 2001 • Penjelasan UUD 1945 • Sidang tahunan ditiadakan, hal-hal normatif masuk pasal. MPR,2002 Tgl.1-11 Agt 2002 • Perubahan dilakukan dengan cara adendum.
  • 18. AMANDEMEN PERTAMA (9 pasal) Psl yg di- Perihal / SubstansiAmandemen 5 Kekuasaan Presiden 7 Masa Jabatan Presiden 9 Sumpah Presiden 13 Pengangkatan Duta dan Konsul 14 Grasi, Amnesti, Abolisi dan Rehabilitasi 15 Gelar, Tanda Jasa & Kehormatan 17 Menteri Negara 20 Persetujuan thd UU 21 Hak Inisiatif DPR
  • 19. AMANDEMEN KEDUA (10 pasal) Psl yg di- Perihal / SubstansiAmandemen 18 Pemerintahan Daerah 19, 20, 22 DPR 25 Wilayah Negara 26, 27 Warga Negara dan Penduduk 28 Hak Asasi Manusia 30 Hankam Negara Bendera, Bahasa, Lambang Negara & Lagu 36 kebangsaan
  • 20. AMANDEMEN KETIGA (10 pasal) Psl yg di- Perihal / SubstansiAmandemen 1 Kedaulatan & Bentuk Negara 3 MPR 6 Presiden & Wapres 7 Pemberhentian Presiden / Wapres 8 Presiden Berhalangan 11 Perjanjain Internasional oleh Presiden Pembentukan, Pengubahan & Pembubaran 17 Kementerian Negara 22 c/d DPD22 e, 23a/c Pemilu 23 e/f/g BPK 24 Kekuasaan Kehakiman (MA dan KY)
  • 21. AMANDEMEN KEEMPAT (12 pasal) Psl yg di- Perihal / Substansi Amandemen 2 Susunan MPR 6a Pemilihan Presiden 8 Presiden Berhalangan 11 Pernyataan Perang, Perdamaian & Perjanjian 16 Dewan Pertimbangan (DPA hapus) 23 Mata Uang dan Bank Sentral 24 Kekuasaan Kehakiman 31, 32 Pendidikan & Kebudayaan 33, 34 Perekonomian Nasional & Kesejahteraan Sos. 37 Perubahan UUDAturan Peralihan Pasal I, II, IIIAturan Tambahan Pasal I, II
  • 22.  Menjamin adanya kebebasan dari masing- masing kekuasaan / menghindari terjadinya interaksi atau campur tangan dari kekuasaan yg satu thd kekuasaan lain. Manusia yg mempunyai kekuasaaan cenderung menyalahgunakan, tetapi manusia yg mempunyai kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya (power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely).
  • 23. INTI GAGASAN Demokrasi Konstitusional: “Menciptakan Keseimbangan Dalam Interaksi Sosial Politik (checks and balances)”(antara pemerintah – masyarakat; eksekutif – legislatif;atau kepentingan sosial ekonomi – kepentingan politik). Upaya Membatasi Kekuasaan yg dipegang Pemerintah.Perlunya hukum sbg instrumen negara demokrasi. Atau, hukum sbg alat untuk membatasi kekuasaan suatu lembaga politik. Inilah yang pada prinsipnya disebut dengan istilah negara hukum (rechtstaat). Instrumen Hukum tsb adalah Konstitusi.
  • 24.  Pertama kali dimunculkan oleh Montesquieu pada Abad Pencerahan (enlightenment). Lahir sbg hasil dari ajaran klasik tentang pemisahan kekuasaan (separation of power), dan pertama kali diadopsi kedalam konstitusi negara oleh Amerika Serikat (US Constitution 1789). Suatu negara dikatakan memiliki sistem checks n balances yg efektif jika tidak ada 1-pun cabang pemerintahan yg memiliki kekuasaan dominan, serta dapat dipengaruhi oleh cabang lainnya (A government is said to have an effective system of checks and balances if no one branch of government holds total power, and can be overridden by another). Sistem checks n balances ini memiliki 2 komponen:hak untuk ikut memeriksa/menilai/mengawasi/mencari konfirmasi terhadap suatu keadaan (the right to check); serta alat untuk mencari keseimbangan (the means to actively balance out imbalances).
  • 25.  7A – Presiden / Wapres dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR. 7B – MK memeriksa, mengadili & memutus pendapat DPR dalam 90 hari. Jika dikabulkan, DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian kepada MPR. MPR menyelenggarakan sidang dalam 30 hari setelah menerima usul DPR. 7C – Presiden tidak dapat membekukan / membubarkan DPR. Dengan persetujuan DPR, Presiden dapat:  Menyatakan perang, membuat perdamaian & perjanjian internasional (Pasal 11).  Menetapkan Perpu (Pasal 22 - dalam persidangan berikut). 23E – Hasil pemeriksaan keuangan negara oleh BPK diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD. 24A – Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan.
  • 26.  Dengan pertimbangan DPR, Presiden dapat:  Mengangkat Duta & Konsul (Pasal 13).  Memberikan Amnesti & Abolisi (Pasal 14). Dengan pertimbangan MA, Presiden dapat:  Mengangkat Grasi & Rehabilitasi (Pasal 14). 20 – Setiap RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. 20A – DPR memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran & fungsi pengawasan. Hak DPR lainnya: hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat, hak mengajukan pertanyaan, hal menyampaikan usul dan pendapat, serta hak imunitas. 22D – DPD ikut membahas & dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU mengenai otonomi daerah, pembentukan/ pemekaran/ penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan SDA, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan, dan agama.
  • 27. Bagian 2Penyelenggaraan Negara yg Bersih & Bebas KKN  Asas Umum Penyelenggaraan Negara/Pemerintahan yg Baik;  Akuntabilitas Kinerja;  PTUN. Free Powerpoint Templates Page 30
  • 28. World Bank (UNDP) Konfernas GG 20011. Partisipasi 1. Partisipasi2. Aturan Hukum (Rule of Law) 2. Penegakan hukum3. Transparansi 3. Transparansi4. Daya Tanggap 4. Kesetaraan5. Berorientasi Konsensus 5. Daya tanggap6. Keadilan 6. Wawasan kedepan7. Efektivitas & Efisiensi 7. Akuntabilitas8. Akuntabilitas 8. Pengawasan9. Bervisi Strategis 9. Efektivitas & Efisiensi10. Saling Keterkaitan 10. Profesionalisme 31
  • 29. Birokrasi Masyarakat(Fungsi Yan & Kesejahteraan) (Salus Populi Suprema Lex) Discretionary Power (Kewenangan Bertindak Secara Bebas) Kemungkinan Penyimpangan(perbuatan melanggar hkm /onrechmatige overheidsdaad ; perbuatanmenyalahgunakan wewenang / detournement de pouvoir ; perbuatan sewenang-wenang / abus de droit) Upaya Perlindungan  Hukum Positif  Etika / Asas atau Prinsip Pemerintahan Yang Baik (GG) 32
  • 30. UU No. 28/1999 The Liang Gie Soerjono• Kepastian Hukum • Pertanggung- • Legalitas• Tertib jawaban • Kontinuitas Penyelenggaraan • Pengabdian • Adaptasi Negara • Kesetiaan • Moralitas• Kepentingan Umum • Kepekaan • Efektivitas &• Keterbukaan • Persamaan Efisiensi• Proporsionalitas • Kepantasan • Legitimasi• Profesionalitas • Kebersamaan• Akuntabilitas dlm Keputusan 33
  • 31. Taliziduhu Ndraha Taliziduhu Ndraha• Memandang Jauh ke Depan • Noblesse Oblige• Berpikir Panjang • Tat Twam Asi• Belajar dari Sejarah • Omnipresence• Kepastian dlm Perubahan • Good Governance• Keserasian Tujuan dgn • Aktif – Positif Motif/Cara/Alat • Dengan Sendirinya• Profesionalisme • Sisa (Residu)• Tanggung Jawab • Discretion/Freies Ermessen• Kepatutan • Persatuan dlm Perbedaan• Kebersamaan • Kepercayaan & Pengharapan• Keterbukaan dlm Kekecewaan 34
  • 32. • Noblesse Oblige, berarti “the moral obligation of the rich or highborn to display honorable or charitable conduct”. Jabatan memberi seseorang social reward berupa status nobility, keagungan, terhormat, tersanjung, shg ybs dituntut berperilaku terhormat juga.• Tat Twam Asi, yg scr harfiah berarti “kamulah itu”. Maknanya: setiap jiwa-atman, setiap orang betapapun hina dinanya, adalah bagian / bayangan Brahmana yg mahaluhur. Artinya, jiwa manusia lbh bernilai ketimbangmateri.• Omnipresence, artinya serba hadir, tidak terikat ruang dan waktu. 35
  • 33.  Kepastian Hukum (Rechtszekerheid):  Menghendaki dihormatinya hak yg telah diperoleh seseorang berdasarkan keputusan badan/pejabat TUN. Keputusan harus mengandung kepastian & tidak akan dicabut kembali, bahkan sekalipun keputusan itu mengandung kekurangan  Contoh 1: Putusan Dewan Banding Pusat (Centrale Raad van Beroep), 23 Januari 1956, yg menyatakan bahwa Keputusan pemecatan seorang PNS tidak boleh berlaku surut.  Contoh 2: Putusan Dewan Banding Perdagangan dan Industri, 26 Juni 1957, yg menyatakan bahwa suatu ijin tidak boleh ditarik kembali, walaupun kemudian diketahui bahwa ijin itu mengandung kesalahan / kekeliruan yg dilakukan sendiri oleh instansi yg mengeluarkan ijin tsb. 36
  • 34.  Bertindak Cermat (Zorgvuldigheids):  Menghendaki administrasi negara senantiasa bertindak secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat.  Contoh 1: Putusan Hoge Raad, 9-1-1942, memutuskan bahwa terhadap jalan yg rusak atau berlubang, pemerintah wajib memberi tanda peringatan sehingga dapat diketahui oleh para pemakai jalan.  Contoh 2: Putusan Mahkota, 14-8-1970: dengan maksud mencegah kerusakan & penyakit gigi, pemerintah memerintahkan agar memasukkan bahan flouride ke dalam air minum. Ternyata, tidak semua orang tahan dengan bahaan ini, shg mereka menuntut diberi kesempatan yg sama untuk memperoleh air yg tidak dicampur flouride. Perintah itu kemudian dinyatakan Batal. 37
  • 35.  Tidak mencampuradukkan kewenangan (het verbod detournement de pouvoir):  Menghendaki agar dalam mengambil keputusan, badan / pejabat administrasi negara tidak menggunakan kewenangan diluar maksud pemberian wewenang tsb.  Contoh: Putusan Mahkota, 8-6-1965: Seseorang yg telah memiliki ijin penggalian tanah bertengkar dengan si pemilik tanah. Dengan alasan untuk mengakhiri sengketa itu, Dewan Propinsi menarik kembali ijin yg telah diberikan. Hal ini oleh Mahkota dinilai sebagai detournement de pouvoir, sebab sengketa itu harus diselesaikan melalui peradilan perdata. 38
  • 36.  Permainan yg layak (fair-play):  Menghendaki agar badan / pejabat administrasi negara memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yg benar dan adil.  Contoh: Putusan Mahkota, 17-10-1970: Seorang pemilik tanah mengajukan keberatan kepada Dewan Kota thd rencana pembangunan kota, karena dikhawatirkan ia tidak dapat mendirikan bangunan diatas tanahnya. Oleh Dewan Kota, keberatan tsb dianggap tidak beralasan karena tidak ada larangan mendirikan bangunan. Beberapa waktu kemudian si pemilik tanah baru tahu bahwa rencana pembangunan kota meliputi lahan miliknya. Ia langsung melakukan banding kepada Mahkota meskipun batas waktu yg ditentukan telah lewat, yg dikabulkan oleh Mahkota  bdk. Pasal 55 PTUN. 39
  • 37.  Keadilan / Kewajaran:  Menghendaki agar dalam melakukan tindakannya, badan/pejabat administrasi negara tidak berlaku sewenang-wenang.  Contoh: Putusan Kroon, 29-6-1966: Permohonan seorang gadis Indonesia untuk bertempat tinggal di Nederland, ditolak oleh Menteri Kehakiman dengan alasan akan mengalami kesulitan asimilasi. Keputusan ini dibatalkan karena ternyata gadis tadi mahir bahasa Belanda dan sudah lama tinggal disana. 40
  • 38.  Meniadakan akibat keputusan yg batal (undoing the consequences of annulled decision):  Menghendaki agar jika terjadi pembatalan atau keputusan badan/pejabat administrasi negara, maka akibat dari keputusan yg dibatalkan itu harus dihilangkan dan yg bersangkutan diberi ganti rugi.  Contoh: Putusan Centrale Raad van Beroep, 20-9-1920: Seorang pegawai yang dipecat, tetapi setelah melalui proses pemeriksaan pengadilan ternyata tidak melakukan kesalahan, ia berhak atas kedudukan semula pada instansinya, rehabilitasi nama baik, serta ganti rugi yg timbul karena pemecatannya. 41
  • 39.  Modul LAKIP Kementerian PAN, 2010: “kewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban atau untuk menjawab & menerangkan kinerja & tindakan seseorang/badan hukum/ pimpinan kolektif suatu organisasi kpd pihak yg memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Tri Widodo WU: Soft System – Soft Culture – Soft Control untuk menjamin berfungsinya organisasi  jangan direduksi menjadi perangkat keras pengendalian melalui instrumen pelaporan yg kaku. Akuntabilitas = setiap upaya memberi nilai tambah thd tanggungjawab jabatan; setiap upaya menegakkan norma; setiap upaya menghindari penyimpangan & perangkap jabatan; termasuk keteladanan (exemplary paragon), kepedulian & kebersamaan (care and share), keakraban (costumer intimacy), kedekatan (getting closer to the public), & kepercayaan timbal balik (reciprocal trust). 42
  • 40. 43
  • 41. RENSTRA INDIKATOR RENJA KINERJA: PENETAPAN INPUT KINERJA PROSES PENGUKURAN OUTPUT KINERJA OUTCOMESEVALUASI BENEFIT IMPACT LAKIP 44
  • 42. SISTEM UU 25/2004 Inpres 7/ 1999 UU 17/ 2003 PERENC. P. NAS RPJP -N SISTEM SISTEM -D AKIP PENGANGGARAN - KL RENCANA -D KERANGKA -N PENG. JANGKA -D RPJM STRATEGIS - SKPD MENENGAH - dll -P - KL RENCANA RENCANA PAGU ANGGRN -D KERJA KINERJA - SKPD RENCANA umpan balik KERJA DAN - KL DPR/D (?) PENETAPAN ANGGARAN - SKPD (Persetujuan KINERJA Anggaran) RENCANA Inpres 5/2004 RENCANA AKSI AKSI (OPRNAL PLAN) PENGUKURAN KINERJA SISTEM PERENC P. NAS, SISTEM AKIP, SISTEM LAKIP LAPORAN BPK KEUANGAN PENGANGGARAN (Audit) EVALUASI AKUN TABLTS KINERJA LKKIP UU 1/ 2004 45Designed by SR
  • 43. Administratief Beroep vs Rechtspraak dlm PTUN Peradilan TUN Atasan Pejabat / Badan TUN TIDAK Banding vertical SELESAI ? Pejabat / Badan TUN Keberatan Prosedur SK BAPEK, MPP/BPSP, Badan Penyelesaian Sengketa Pegawai / Pertanahan / Pengadaan Masyarakat Barang dan Jasa, Perijinan, Banding horizontal Perburuhan, dsb.
  • 44. Obyek Sengketa TUN: Keputusan Istilah lain: Penetapan, Beschikking (Bld) / Acte Administratief (Prc) / Verwaltungsakt (Jrm) Definisi: Perbuatan hukum publik bersegi satu (perbuatan sepihak dari pemerintah), dan bukan merupakan hasil persetujuan dua belah pihak. Sifat hukum publik diperoleh berdasarkan wewenang / kekuasaan istimewa. Dengan maksud terjadinya perubahan dalam lapangan hubungan hukum. Bersifat Konkrit, Individual & Final.
  • 45. TERMASUK dlm Keputusan (Ps 1 ay. 3 – Ps 2 + Ps 3 – Ps 49 – Penj. Um. 1) Jika Pejabat/Badan TUN tidak mengeluarkan keputusan sedang hal itu menjadi kewajibannya, hal tersebut disamakan dengan Keputusan (Pasal 3).  Jika Pejabat / Badan TUN tidak mengeluarkan keputusan yang dimohon sedang jangka waktu yang ditentukan telah lewat, Pejabat/Badan TUN tadi dianggap menolak mengeluarkan keputusan;  Dalam hal jangka waktu tidak ditentukan, maka setelah lewat 4 bulan sejak diterimanya permohonan, Pejabat / Badan TUN tadi dianggap telah mengeluarkan keputusan.
  • 46. TIDAK Termasuk Keputusan KTUN yg merupakan perbuatan Hukum Perdata, merupakan pengaturan yg bersifat umum, masih memerlukan persetujuan, yg dikeluarkan berdasar ketentuan KUH Perdata/ Pidana, yg dikeluarkan atas hasil pemeriksaan Badan peradilan, mengenai Tata Usaha ABRI, Keputusan Panitia Pemilihan Umum (Pasal 2). KTUN berdasarkan peraturan perundangan yg dikeluarkan:  Dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam atau keadaan luar biasa yang membahayakan.  Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum (Pasal 49). Sengketa administrasi di lingkungan TNI dan dalam soal-soal militer yg menurut UU No 16/1953 & UU No 19/1958, diperiksa, diputus & diselesaikan oleh Pengadilan Tata Usaha Militer (Penjelasan Umum angka 1).
  • 47. GUGATAN - 1 Dapat diajukan jika Keputusan TUN MERUGIKAN KEPENTINGAN seseorang / badan hukum tertentu yg bersifat LANGSUNG TERKENA, tidak terselubung dibalik kepentingan orang lain. Harus diajukan secara TERTULIS, berisi :  Nama, kewarganegaraan, tempat tinggal dan pekerjaan penggugat / kuasanya.  Nama, jabatan dan domisili tergugat.  Isi gugatan.  Dasar / alasan menggugat. Isi gugatan :  Tuntutan untuk menyatakan BATAL atau TIDAK SAH.  Dengan atau tanpa disertai tuntutan GANTI RUGI dan / atau REHABILITASI.
  • 48. GUGATAN - 2 Dasar / alasan menggugat:  Keputusan TUN BERTENTANGAN dengan peraturan perundangan, baik secara prosedural / formal maupun secara material / substansial.  Badan atau pejabat TUN TIDAK BERWENANG mengeluarkan keputusan, baik secara materiale, temporis, maupun loci.  Badan atau pejabat TUN menggunakan wewenangnya UNTUK TUJUAN LAIN dari maksud diberikannya wewenang tersebut. Artinya, telah terjadi penyalahgunaan wewenang.  Badan atau pejabat TUN seharusnya TIDAK SAMPAI KEPADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN tsb. Artinya, Badan / Pejabat TUN berbuat sewenang-wenang.
  • 49. Tenggang Waktu Gugatan Setelah tenggang waktu lewat, maka keputusan TUN akan memiliki kepastian hukum. Batas tanggal pengesahan / pengundangan biasanya dijadikan titik tolak perhitungan. Pasal 55 UU PTUN: gugatan dapat diajukan hanya dalam tenggang waktu 90 hari terhitung sejak saat diterimanya atau diumumkanya keputusan Badan atau Pejabat TUN. Ini berarti yg dipakai adalah Teori Penerimaan / Ontvangtstheorie  dihitung sejak hari diterimanya keputusan atau sepatutnya dianggap telah menerima. Teori lain: Pengiriman (Verzendtheorie)  dihitung sejak hari disampaikannya keputusan kepada ybs. Patokannya adalah stempel pos.
  • 50. Bagian 3 PeraturanPerundang-Undangan Free Powerpoint Templates Page 53
  • 51. GRUND NORM UUD TATA HUKUM GENERAL NORM REGELING “Hukum In abstracto”Melaksanakan suatuperaturan ke dalam BESCHIKKING INDIVIDUAL NORMsuatu hal yg nyata “Hukum Inconcreto”(konkrit) Hans Kelsen: General theory of law and state (teori tangga/stufenbau) Psl 3 UU 10/2004: UUD 1945 merupakan hukum dasar dalam Per-UU-an.
  • 52. Peraturan (Regeling) Keputusan (Beschikking) Bersifat menetapkan (declaratory,Bersifat mengatur (regulatory) executory)Bersifat umum, baik substansi Bersifat konkrit (materinya), dan/ materi maupun subyeknya. individual (subyeknya)Bertingkat (Tata Urut) Tidak BertingkatJudicial Review ke MK (untuk Gugatan ke PTUN atau UpayaUU), atau MA (dibawah UU) Administratif melalui Atasan.
  • 53. Sejak berlakunya UU No. 10/2004, maka: Ada penegasan antara Beschikking dengan Regeling  Keputusan tidak dpt lagi bersifat regulatory / regulerend, tapi hanya declaratoir atau penetapan. Adanya quasy reglementaire berupa Peraturan Kebijaksanaan, yakni Keputusan2 yg tidak mendapatkan atribusi dari peraturan per-UU-an yg lebih tinggi (Ermessen – discretionary power).
  • 54. Tap MPRS No. Tap MPR No. UU No. 10/2004 XX/1966 III/2000 UUD 1945 UUD 1945 UUD 1945Ketetapan MPR Ketetapan MPR UU / Perpu UU UU PP Perpu Perpu Peraturan Presiden PP PP Perda Keppres Keppres / Inpres Perda
  • 55.  Apakah UU No. 10/2004 tidak melanggar adagium Lex Superiori Derogat Legi Inferiori? Dkl, apakah UU tsb tidak cacat yuridis, shg harus dinyatakan nietig? Lihat TAP MPR No. I/2003 tentang Peninjauan thdMateri dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan MPR- RI Tahun 1960 – 2002.
  • 56. Pasal 1: TAP yg dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (8Ketetapan).Pasal 2: TAP yg dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan (3Ketetapan).Pasal 3: TAP yg dinyatakan tetap berlaku s/d terbentuknyaPemerintahan Hasil Pemilu 2004 (8 Ketetapan).Pasal 4: TAP yg dinyatakan tetap berlaku s/d terbentuknya UU(11 Ketetapan).Pasal 5: TAP yg dinyatakan masih berlaku s/d ditetapkannyaPeraturan Tata Tertib baru oleh MPR Hasil Pemilu 2004 (5Ketetapan).Pasal 6: TAP yg dinyatakan tidak perlu dilakukan tindakan hukumlebih lanjut, baik karena bersifat final (einmalig), telah dicabut,maupun telah selesai dilaksanakan (104).
  • 57. 1. TAP MPRS No. XXIX/1966 Tentang Pengangkatan Pahlawan Ampera.2. TAP MPR No. XI/1998 Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.3. TAP MPR No. XV/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan,Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional Yang Berkeadilan; serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka NKRI.4. TAP MPR No. III/2000 Tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.5. TAP MPR No. V/2000 Tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional.6. TAP MPR No. VI/2000 Tentang Pemisahan TNI dan POLRI.7. TAP MPR No. VII/2000 Tentang Peran TNI dan Peran POLRI.8. TAP MPR No. VI/2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa.9. TAP MPR No. VII/2001 Tentang Visi Indonesia Masa Depan10. TAP MPR No. VIII/2001 Tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan Pencegahan KKN.11. TAP MPR No. IX/2001 Tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan SDA.
  • 58.  UUD 1945; Ketetapan MPR; Undang-Undang/Perpu; Peraturan Pemerintah; Peraturan Presiden; Perda Provinsi; dan Perda Kabupaten/Kota. 61
  • 59. Yang dimaksud dengan “TAP MPR” adalah TAPMPRS dan TAP MPR yang masih berlakusebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 4Ketetapan MPR-RI No. I/MPR/2003 tentangPeninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum TAPMPRS dan TAP MPR Tahun 1960 sampai denganTahun 2002, tanggal 7 Agustus 2003. 62
  • 60. Bagian 4Kelembagaan Negara / Pemerintahan Free Powerpoint Templates Page 63
  • 61. • Strategic apex is charged with ensuring that the organization serve its mission in an effective way, and also that is serve the needs of those who control or other wise have power over the organization.• Operating core of the organization encompasses those numbers who perform the basic work related directly to the product and services.• Middle line. The strategic apex is joined to the operating core by the chain of middle line managers with formal authority.• Technostructure. The control analyst of the techno-structure serves to affect certain forms of standardization in the organization.• Supporting Staff: A glance at the chart of almost any large contemporary organization reveals a great number of units, all specialized, that exist to provide support to the organization out side its operating workflow. 64
  • 62. Struktur Kelembagaan Neg./Pem. UUD 1945 Presiden/ BPK Wakil DPR MPR DPD MA MK PresidenKPU Bank Kementerian Negara badan-badan lain KY Sentral yang fungsinya Dewan Pertimbangan berkaitan dengan TNI/POLRI kekuasaan kehakiman PUSAT LPNK LNS Lingkungan PERWAKILAN PEMDA Peradilan DAERAH BPK PROVINSI PROVINSI Umum KPD DPRD Agama PEMDA Militer KAB/KOTA TUN KPD DPRD 65
  • 63. Kelembagaan Tingkat Pusat1. Lembaga KEPRESIDENAN dibantu oleh WAKIL PRESIDEN2. Unsur Pembantu Presiden: Menteri Negara.3. KESEKRETARIATAN Lembaga Negara: o Sekretariat Jenderal MPR. o Sekretariat Jenderal DPR & DPD. o Sekretariat Jenderal BPK. o Sekretariat Jenderal MA.4. Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK)5. Organisasi EKSTRA STRUKTURAL yg dibentuk Pemerintah: Dewan, Badan, Panitia, Komisi, Kelompok Kerja.6. PERWAKILAN RI di Luar Negeri : o Perwakilan Diplomatik. o Perwakilan Konsuler. 66
  • 64. URUSAN • LUAR NEGERI YG NOMENKLATURNYA • DALAM NEGERI DISEBUTKAN DALAM • PERTAHANAN UUD 1945 TRIUM VIRAT (3 URUSAN) • PERTAMBANGAN • AGAMA • ENERGI • HUKUM • PU • KEUANGAN URUSAN • TRANSMIGRASI • KEAMANAN • TRANSPORTASI YG RUANG • HAM • INFORMASI LINGKUPNYA • PENDIDIKAN URUSAN • KOMUNIKASI • KEBUDAYAAN DISEBUTKAN DALAM • PERTANIANPEMERINTAHAN • KESEHATAN • PERKEBUNAN UUD 1945 • SOSIAL • KEHUTANAN (46 URUSAN) • NAKER (25 URUSAN) • PETERNAKAN • INDUSTRI • KELAUTAN • PERDAGANGAN • PERIKANAN URUSAN • PPN • INVESTASI • APARATUR NEGARA • KOPERASI DLM RANGKA • KESEKRET. NEGARA • UKM PENAJAMAN • BUMN • PARIWISATA KOORDINASI & • PERTANAHAN • PP • KEPENDUDUKAN • PEMUDA SINKRONISASI • LH • OLAH RAGA PROGRAM PEMERINTAH • ILMU67 PENGETAHUAN • PERUMAHAN (18 URUSAN) • TEKNOLOGI • PKDT 67
  • 65. Kementerian Negara Penafsiran dari kadar Urgensi:  Pola 1: Urusan yg nomenklaturnya disebutkan dalam UUD 1945  Wajib (obligatory).  Pola 2: Urusan yg ruang lingkupnya disebutkan dalam UUD 1945  Perlu (optional).  Pola 3: Urusan dalam rangka penajaman koordinasi program  Dapat dibentuk (optional).  Pola 4: tidak jelas pengaturannya  kementerian koordinator (3 buah). Penafsiran dari aspek kuantitas:  Di Jepang, jumlah kementerian adalah 17 (2007) dan mengecil menjadi 12 (2010). Indonesia menggunakan pola maksimal, yakni 34.  Perbandingan kementerian Pola 3 dengan Pola 1 + 2 saat ini 11 : 20. Sebaiknya, pola 3 cukup 1/4 atau bahkan 1/5 dari Pola 1 + 2, karena “hanya” bersifat penajaman. 68
  • 66. Reformasi Kelembagaan Pusat UU No. 19/2008 sbg tonggak penataan kelembagaan  harus diikuti dengan penataan lembaga selain kementerian secara komprehensif, mencakup: LPNK, LNS, Sekretariat Lembaga Negara, Kejagung/TNI/Polri, Perwakilan RI di LN, BI dan UMN, dll. Lembaga yg menjalankan urusan penajaman koordinasi tidak harus diwadahi dalam bentuk kementerian, namun bisa juga dalam wadah LPNK atau LNS sbg executing agency.  Restrukturisasi Kementerian yg ada saat ini.  Merger dengan LPNK atau LNS yg relevan. Perlu Grand Design reformasi kelembagaan Pusat. 69 69
  • 67. Lembaga PemerintahSetingkat MENTERI JAKSA AGUNG BADAN INTELIJEN NEGARA SEKRETARIS KABINET UKP4 70
  • 68. Nama LPNK & KementerianKoordinatornya - 1 NO NAMA LPNK DIKOORDINASIKAN 1 LAN 2 BKN MENTERI PAN & RB 3 BPKP 4 ANRI 5 LAPAN 6 BAPETEN 7 BATAN 8 LIPI MENRISTEK 9 BSN 10 BPPT 11 BAKOSURTANAL 71
  • 69. Nama LPNK & KementerianKoordinatornya - 2 NO NAMA LPNK DIKOORDINASIKAN 12 BKKBN MENTERI KESEHATAN 13 BPOM 14 BNP2TKI MENAKERTRANS 15 BAPPENAS 16 BPS MENTERI PPN 17 LKPP 18 BASARNAS MENTERI 19 BMKG PERHUBUNGAN 20 BNPB MENKO KESRA 21 BNPT MENKO POLKAM 72
  • 70. Nama LPNK & KementerianKoordinatornya - 3 NO NAMA LPNK DIKOORDINASIKAN 22 LEMBAGA SANDI NEGARA MENTERI PERTAHANAN 23 LEMHANNAS 24 BNN KAPOLRI 25 PERPUSNAS MENDIKNAS 26 BADAN PENGELOLA PERBATASAN MENDAGRI 27 BPN BPN 28 BKPM BKPM 29 BIN BIN Catatan: LPNK yg tidak dikoordinasikan oleh Menteri 73
  • 71. Perumpunan LPNK Rumpun penelitian/pengkajian : LAN, LIPI, BPPT, BATAN; Rumpun pendukung manajemen pemerintahan : LAN, BKN, BPKP, LKPP; Rumpun pendukung substansi pemerintahan : BPS, BKKBN, BMKG; dan Rumpun pelayanan/regulasi : BPN, BPOM, BNP2TKI. 74
  • 72. LPNK dlm Kerangka TeoriHenry Mintzberg Technostructure: BPKP, Lemsaneg, LAN, Lemhanas, LIPI, LKPP, Bappenas. Middleline: BKKBN, Bakosurtanal, BKPM. Supporting: BKN, ANRI, BPS, Batan, BIN, Perpusnas, BPPT, LIPI, LAN, BKPM, dan Sekjen Wantanas. Operating: BSN, Bapeten, LAPAN, LIPI, BKPM, BPOM, BMKG, BaSARnas, BNP2TKI, BNN, BNPT, BNPB. 75
  • 73. Hubungan LPNK dg Kementerian 76
  • 74. LPNK sbg Special Agency Lebih Berbasis Kompetensi / Keahlian:  Menangani tugas spesifik tertentu yg bersifat keahlian;  Tidak ditangani oleh kementerian karena bukan urusan pemerintahan;  Bersifat lintas kementerian;  Tidak menangani fungsi regulasi publik (pouvoir reglementair). Fokus pada Fungsi:  Pengkajian/penelitian;  Pemberian dukungan manajemen pemerintahan;  Pemberian dukungan substansi pemerintahan. 77
  • 75. Problem Kelembagaan LPNK - 1  Besaran organisasi LPNK sangat beragam & tidak konsisten: o Wakil Kepala LPNK (6 lembaga); o Jumlah Deputi sangat beragam, jumlahnya antara 3-9 Deputi. Terbanyak (9 Deputi) adalah Bappenas dan 6 Deputi di BIN dan BKPM; o 7 Lembaga yg memiliki Inspektorat Utama; o Staf ahli juga dimiliki beberapa lembaga seperti di BIN, Lemhanas, Wantanas, Bappenas; o Struktur kelembagaan di BIN hampir sama dengan kementerian kelompok III; o Wantanas, Kepala lembaga adalah Sekjen. 78
  • 76. Problem Kelembagaan LPNK - 2  Secara jumlah mendekati jumlah kementerian.  Urusan yg ditangani berhimpitan dengan urusan kementerian.  Sama-sama bertanggungjawab kepada Presiden.  Ketidakjelasan batasan, mekanisme dan sifat urusan yg dikoordinasikan oleh Menteri.  Tumpang tindih tugas dan fungsi antara LPNK dengan kementerian dan LNS. 79
  • 77. Inflasi LNS - 1 KomisiYudisial  UU No. 22/2004 Komisi Pemilihan Umum  UU No. 12/2003 Komnas HAM  UU No. 39/1999 Komisi Pengawas Persaingan Usaha  UU No. 5/1999 Komisi Penyiaran Indonesia  UU No. 32/2002 Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi / KPK  UU No 30/2002 Komisi Perlindungan Anak  UU No. 23/2002 Komisi Kebenaran & Rekonsiliasi  UU No. 27/2004 Komnas Anti Kekerasan Thd Perempuan  Keppres No. 181/1998 Komisi Ombudsman Nasional  Keppres No. 44/2000 Komisi Kepolisian  UU No. 2/2002 Komisi Kejaksaan  UU No. 16/2004 Komisi Hukum Nasional  Keppres No. 15/2000 80
  • 78. Inflasi LNS - 2 Dewan Pers  UU No. 40/1999 Dewan Pendidikan  UU No. 20/2003 Dewan Pembina Industri Strategis  Keppres No. 40/1999 Dewan Riset Nasional  Keppres No. 94/1999 Dewan Buku Nasional  Keppres No. 110/1999 Dewan Maritim Indonesia  Keppres No. 161/1999 Dewan Ekonomi Nasional  Keppres No. 144/1999 Dewan Pengembangan Usaha Nasional  Keppres No. 165/1999 Dewan Gula Nasional Keppres No. 23/2003 Dewan Ketahanan Pangan  Keppres No. 132/2001 Dewan Pengembangan Kws Tmr Indonesia  Keppres No. 44/2002 Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah  Keppres No. 151/2000 Dewan Pertahanan Nasional  Keppres No. 3/2003 Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional  Keppres No. 132/1998 Komite Nasional Keselamatan Transportasi  UU No. 41/1999 Komite Antar Dept. Bidang Kehutanan  Keppres No. 80/2000 Komite Akreditasi Nasional  Keppres No. 78/2001 Komite Penilaian Independen  Keppres No. 99/1999 Komite Olahraga Nasional Indonesia  Keppres No. 72/2001 Komite Kebijakan Sektor Keuangan  Keppres No. 89/1999 Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran  PP No. 102/2000 81
  • 79. 5 Alasan Pembentukan LembagaAd-hoc di Inggris The need to provide cultural or personal services supposedly free from the risk of political interference. Contoh: BBC (British Broadcasting Corporation); The desirability of non-political regulation of markets. Contoh: Milk Marketing Boards; The regulation of independent professions such as medicine and the law. Keperluan mengatur profesi yg bersifat independen seperti di bidang hukum kedokteran; The provisions of technical services. Contoh: Forestry Commission; The creation of informal judicial machinery for settling disputes. Terbentuknya institusi yg berfungsi sbg alat perlengkapan semi-judisial untuk menyelesaikan sengketa di luar peradilan sbg alternative dispute resolution (ADR). 82
  • 80. Bgmn dengan Indonesia? Adakah pertimbangan obyektif teknokratik pembentukan LPNK/LNS? Wujud rendahnya kinerja Kementerian & ketidakpercayaan thd Kementerian? Menciptakan sistem kekuasaan berlapis utk memperkuat posisi & daya tawar politis? 83
  • 81. Organisasi Perangkat Daerah UU 22/1999 UU 32/2004Psl. 60 s.d Psl. 68, Psl. 66 serta Psl. 120 s.d Psl. 128:Psl 120: PERANGKAT PROV: • Sekretariat Daerah;• Sekretariat Daerah; • Sekretariat DPRD;• Dinas Daerah; • Dinas Daerah;• Lembaga Teknis Daerah; • Lembaga Teknis Daerah;• Camat;• Satuan Polisi Pamong Praja PERANGKAT KAB/KOTA: • Sekretariat Daerah; • Sekretariat DPRD; • Dinas Daerah; • Lembaga Teknis Daerah;PP NO. 8/2003 • Kecamatan; PP 41/2007 • Kelurahan. 8
  • 82. Penataan OPDUU Keolahragaan UU Keuangan UU KPI Penataan Organisa UU BNN si PemdaUU Penyuluhan (PP 38 & 41 Thn UU Ketahanan 2007) PanganUU Kepegawaian PP Pengawasan PP Satpol PP 85
  • 83. Bagian 5Manajemen Pemerintahan Free Powerpoint Templates Page 86
  • 84.  Proses yg menyangkut upaya yg dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yg akan datang dan penentuan strategi / taktik yg tepat untuk mewujudkan target & tujuan organisasi. Kegiatan yg dilakukan:  Menetapkan tujuan dan target bisnis,  Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut,  Menentukan sumber-sumber daya yg diperlukan,  Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis.
  • 85.  Proses yg menyangkut bagaimana strategi / taktik yg telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yg tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yg kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif & efisien guna pencapaian tujuan organisasi. Kegiatan yg dilakukan:  Mengalokasikan sumber daya, merumuskan & menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yg diperlukan,  Menetapkan struktur organisasi yg menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab,  Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja,  Kegiatan penempatan SDM pada posisi yg tepat.
  • 86.  Prosesimplementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan produktifitas yg tinggi. Kegiatan yg dilakukan:  Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan,  Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan,  Menjelaskan kebijakan yg ditetapkan.
  • 87.  Prosesyg dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yg telah direncanakan, diorganisasikan & diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan organisasi. Kegiatan yg dilakukan:  Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan / target bisnis sesuai dengan indikator yg ditetapkan,  Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yg mungkin ditemukan,  Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yg terkait dengan pencapaian tujuan / target organisasi.
  • 88. Manajer = seorang yg bekerja dengan memanfaatkanbantuan orang lain dengan cara mengkoordinasikankegiatan & pekerjaan mereka guna mencapai sasaran& tujuan organisasi/perusahan. Interpersonal Roles  melibatkan hubungan dengan pihak lain, baik tugas yg bersifat seremonial atau simbolis.  Figurehead: Symbolic head; obliged to perform a number of routine duties of a legal or social nature.  Leader: Responsible for the motivation of subordinates; responsible for staffing training, and associated duties.  Liaison: Maintain self-developed network of outside contacts and informers who provide favors and information.
  • 89.  InformationalRoles  menerima, mengumpulkan, dan menyebarkan informasi kepada seluruh anggota organisasi.  Monitor: Seeks and receives wide variety of internal and external information to develop thorough understanding of organizations and environment.  Disseminator: Transmits information received from outsiders or subordinates to members of the organization.  Spokesperson: Transmits information to outsiders on organizations plans, policies, results, etc.
  • 90. Roles  membuat pilihan dalam Decisional pengambilan keputusan terhadap suatu permasalahan.  Enterpreneur: Searches opportunities and initiates improvement projects.  Disturbance-handler: Responsible for corrective action when organization faces important, unexpected disturbances.  Resource-Allocator: Responsible for the allocations of organizational resources of all kinds.  Negotiator: Responsible for presenting the organization at major negotiations.
  • 91.  TechnicalSkill = pengetahuan dan kemahiran dibidang spesialisasi tertentu. Human Skill = kemampuan bekerja secara baik dengan orang lain secara individual atau dalam kelompok. ConceptualSkill = kemampuan berfikir dan konseptualisasi tentang situasi yg abstrak dan rumit.
  • 92. Top / Higher Abstrak / Generalis MS (Managerial Skills) Manager TS Middle MS TS Manager MSLower Manager (Technical Skills) TS Konkrit / Spesialis Conceptual Skill Top / Higher Manager Human Rel. Middle Manager Skill Technical Lower Manager Skill
  • 93. Semoga Bermanfaat … Free Powerpoint Templates Page 96 96

×