Potret Pembelajaran Dalam Diklat Aparatur dan Tacit Strategy Untuk Pengembangannya

  • 3,440 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • Mas Haris, bagi saya coretan seperti ini adalah sejarah msa lampau maupun masa depan. Suatu saat kelak, ia dapat membuka kembali memori dan lembaran2 hidup yg pernah kita lalui. Ia juga merupakan batu-batu loncatan yang akan mengantarkan kita pada suatu titik di depan sana. Guratan ini bagi saya abadi, jauh berbeda dengan rutinitas sehari2 yang kita lalui di kantor. Maka, memang saya akan terus berusaha menjadi pembelajar, seperti motivasi yang panjenengan semburkan kepada saya dkk. Matur nuwun sanget mas Haris Faozan, lelaki tangguh pilih tanding !!
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • Saya tidak hanya suka dengan karya gores pemikiran & kontemplasi seperti ini, tetapi lebih dari itu, saya mengagumi dan teramat sangat megapresiasi. Mas Tri bukan sekedar peserta dalam Diklatpim tk II ketika itu. Bagi saya pribadi, Beliau adalah Sang Pembelajar dan juga Guru bagi banyak insan. Beliau mampu menyambung patahan2 tulisan menjadi sebuah karya kecil yang tidak hanya indah, tetapi juag kuat dan bermanfaat. hal demikian patut dijadikan teladan bagi kita. Sahabat dan Saudaraku, SELAMAT!!! hal demikian yang saya sebut...TANGGUH!!!
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
3,440
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
2
Likes
6

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Potret Pembelajaran dalam Diklat Aparatur danTacit Strategy Untuk PengembangannyaSebuah Refleksi Berdasarkan Kompilasi Jurnal Harian Alumni Diklatpim IIAngkatan XXXI Kelas B, 2011Oleh:Tri Widodo W. Utomo Pusat Kajian Manajemen Kebijakan Lembaga Administrasi Negara RI 2011 Page | i
  • 2. Daftar IsiDaftar Isi ………………………………………………………………… iiPengantar Kapusdiklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan LAN …………… vKata Pengantar ……………………………………………………………… viJurnal #1 “Ketika Perubahan Menghampiri Kita … (1)” ……………… 1Jurnal #2 “Ketika Perubahan Menghampiri Kita … (2)” ……………… 3Jurnal #3 “Desentralisasi Dalam Kacamata Learning Organization” …... 5Jurnal #4 “Sudah Belajarkah Pemerintahan Kita?” …………………….. 7Jurnal #5 “Pembagian Kelas: Sebuah Takhayul?” ……………………… 10Jurnal #6 “Diana Leadership Dalam Diklat Aparatur” …………………. 12Jurnal #7 “Tentang Guru atau Widyaiswara …” ……………………… 15Jurnal #8 “Antara Temporary System dan Permanent System” ………… 16Jurnal #9 “Jurnal Harian, Tradisi Seorang Cendekia” ………………… 19Jurnal #10 “Reformasi Birokrasi, Keadilan, dan Tragedy of the Commons” ……………………………………………………. 21Jurnal #11 “Pengelolaan SDA dan Limits to Growth” …………………... 23Jurnal #12 “Quality Control dalam Diklat Aparatur” ……………………. 25Jurnal #13 “Kelelahan yang Mulai Menyergap” …………………………. 27Jurnal #14 “Berharap Akan Sebuah Kesetaraan”…………………………. 29Jurnal #15 “Tentang Fenomena Ghost Writer” ………………………….. 31Jurnal #16 “Mental Model di Minggu Ke-4” …………………………….. 33Jurnal #17 “Mencoba Mencari Makna dari Kata Sinergi dan Koordinasi”.. 35 Page | ii
  • 3. Jurnal #18 “Kambing Berdasi Lulus Diklatpim?” ………………………. 37Jurnal #19 “Ideologi dalam Kebijakan Publik” ………………………….. 39Jurnal #20 “Kebenaran Formal vs. Kebenaran Material” ……………….. 41Jurnal #21 “Gaya dan Persaingan Antar Widyaiswara” ………………… 44Jurnal #22 “Aplikasi Teknologi Untuk Diklat, Why Not? ……………….. 46Jurnal #23 “Perlunya Menggali Masalah Kebijakan” ……………………. 48Jurnal #24 “Pesan Kepemimpinan dalam Kegiatan Menanam Pohon dan Peduli Lingkungan” …………………………………………. 50Jurnal #25 “Penetapan Judul KTP-2: Soal Teknis atau Akademis?” ……. 52Jurnal #26 “Wawasan Internasional bagi Peserta Diklatpim II: Sebuah Keniscayaan!” ………………………………………………... 54Jurnal #27 “Menyimak Pemikiran Presiden SBY tentang Ekonomi Indonesia” ……………………………………………………. 56Jurnal #28 “Sekali Lagi tentang Sinergi” ………………………………… 60Jurnal #29 “Sisi Lain Diklatpim II” ……………………………………… 62Jurnal #30 “Pengendalian Diri: Esensi Lain Kepemimpinan” …………… 64Jurnal #31 “Men Sana In Corpore Sano” …………………………………. 66Jurnal #32 “Sindrom Inferioritas Daerah terhadap Pusat” ………………. 68Jurnal #33 “Sarung dalam Diklat: Tabu atau Mutu?” …………………….. 70Jurnal #34 “Hari Pertama Puasa di Kelas” ……………………………… 72Jurnal #35 “Merenungkan Filosofi Dasar Diklat” ……………………….. 74Jurnal #36 “Ide Kecil dari Survei Sederhana tentang Diklatpim II” …….. 76Jurnal #37 “Semua Kembali Kepada Diri Sendiri” ………………………. 78Jurnal #38 “Antara SL dan Istri Tercinta” ……………………………….. 80Jurnal #39 “Alumni Sebagai Institutional Resources” …………………… 83Jurnal #40 “Dari RPL ke RPL” …………………………………………… 85 Page | iii
  • 4. Jurnal #41 “Menyoal Pemeringkatan” …………………………………… 87Jurnal #42 “Antara Tugas Dinas dan Ibadah Keagamaan” ………………. 89Jurnal #43 “Tentang Ujian KTP-2” ………………………………………. 91Jurnal #44 “Sekedar Gagasan Ringan untuk Beberapa Perbaikan” ……… 93Jurnal #45 “Menjelang Perpisahan” ………………………………………. 96 Page | iv
  • 5. Pengantar Kepala Pusdiklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan Lembaga Administrasi NegaraKetika Sdr. Tri Widodo mendatangi saya dengan membawa kumpulan tulisan ini danmeminta saya untuk memberi pengantar, saya langsung memberi persetujuan. Sayamenyambut gembira atas inisiatif mengkompilasikan Jurnal Harian peserta DiklatpimTingkat II dalam sebuah dokumen yang disistematisir sedemikian rupa sehingga memilikinilai tambah yang baru, bukan lagi sekedar “catatan harian”.Dari catatan-catatan seperti ini, kami selaku penyelenggara Diklatpim Tingkat IImengharapkan adanya input, masukan dan kritik yang membangun untuk perbaikandimasa yang akan datang. Kepedulian dan kemauan peserta untuk turut mencari jalankeluar terbaik dalam sistem diklat yang kita laksanakan bersama-sama, menunjukkanadanya sinergi yang harmonis antara peserta dengan penyelenggara.Kami berharap inisiatif seperti ini bukan yang pertama dan terakhir, namun dapatdijadikan sebagai pemicu bagi peserta yang lain di angkatan-angkatan berikutnya untukdapat berbuat lebih dari sekedar menjadi “peserta yang baik”.Atas nama Pusdiklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan, saya ingin menyampaikanterima kasih dan selamat atas karya tulis Sdr. Tri Widodo ini, semoga tetap produktif danmakin sukses di tempat kerja permanennya. Pusdiklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan, Kepala, Drs. Makhdum Priyatno, MA Page | v
  • 6. Kata PengantarSaat pertama kali mendapat penugasan untuk membuat Jurnal Harian, saya sempat berpikir apaitu dan apa maksudnya? Kesan pertama, koq orang tua dan sudah pada menduduki Eselon IImasih harus membuat catatan harian seperti saat di SMA dulu. Saya kemudian mencobamerenung sebentar untuk mencari bentuk dari tugas yang akan saya kerjakan, dan seketika itutimbullah ide segar untuk menghasilkan karya tulis dari hasil mengumpulkan tugas harian ini.Pada waktu itu, saya langsung patok target harus mencapai 100 halaman. Saya sudahmembulatkan tekad untuk tidak sekedar memenuhi kewajiban harian, namun harus ada hasilyang lebih besar, lebih nyata, dan lebih bermanfaat. Saya menguatkan komitmen untuk tidaksekedar menggugurkan kewajiban; lebih dari itu saya ingin menyusuri lebih jauh hingga kealiran darah dan urat nadi sistem penyelenggaraan diklat aparatur khususnya Diklatpim II.Kesempatan mengikuti diklat adalah kesempatan yang sangat langka dan sangat disayangkanjika hanya kompetensi kognitif yang kita peroleh. Saya benar-benar ingin menyatu dengan rohdiklat dan spirit perbaikan diri dalam komunitas diklat yang saya yakini sangat luar biasa.Saya mencoba mengendap hingga ke dasar hati para peserta dan penyelenggaranya untukmenghasilkan asumsi-asumsi atau hipotesis awal tentang strategi-strategi yang layak untukperbaikan sistem diklat aparatur kedepan, meski masih bersifat implisit (tacit). Saya sengajamemilih istilah tacit strategy dalam Judul kumpulan tulisan ini, karena pemikiran dan alternatifstrategi yang saya tawarkan masih sangat mentah dan lahir hanya dari analisis sederhana, tidakmenggunakan metodologi yang rumit dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.Namun saya yakin bahwa dari pemikiran sederhana ini akan dapat digulirkan terus sebagai bolasalju untuk mematangkan konsep awal yang telah ada.Dengan semangat seperti itulah, maka saya memberanikan diri untuk mengemas jurnal hariandalam sajian yang sedikit lebih sistematik. Meskipun target 100 halaman akhirnya tidak tercapaikarena berbagai kondisi yang saya hadapi baik kapasitas selaku peserta Diklatpim II maupundalam kondisi rumah tangga saya, namun saya tepat optimis bahwa kumpulan jurnal harian inibukanlah hal yang sia-sia.Sebagaimana dikemukakan oleh Jacquelyn B. Carr dalam bukunya berjudul Communicating withMyself: A Journal (Benjamin/Cummings Pub Co, 1979), Jurnal harian adalah teknik komunikasidan metode yang paling efektif dalam proses pembelajaran, bahkan merupakan pembelajaranyang paling esensial dalam konteks individu. Kita dapat saja belajar dan berkomunikasi dengansumber-sumber belajar di sekitar kita yang tidak terbatas, namun efektivitas dalam pengendapanatau penghayatannya tidak akan sebaik jika kita lakukan dengan/terhadap diri sendiri.Dengan demikian, kumpulan jurnal ini pada hakekatnya juga merupakan komunikasi sayadengan diri saya, meski inspirasi atas tulisan lebih banyak saya dapatkan dari teman-temanpeserta. Saya mencoba menjadikan diri saya sebagai “mata telinga” teman-teman, untukkemudian saya rekam secara tertulis dalam dokumen ini. Boleh juga dikatakan, kumpulan tulisan Page | vi
  • 7. ini adalah reportase terhadap segenap aktivitas kolektif dan pemikiran dinamis yang berkembangdiantara para peserta diklat.Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada teman-teman yangtelah menjadi sumber inspirasi dan sumber belajar bagi saya selama ini. Sungguh saya sangatberuntung berada ditengah-tengah komunitas yang sedemikian beragam warna dan cita rasa,yang secara signifikan membawa pengaruh positif bagi diri pribadi saya. Maka, dokumen inipunsecara khusus saya persembahkan untuk seluruh peserta Diklatpim Tingkat II Angkatan XXXI,Kelas B.Terima kasih yang tulus juga kami haturkan kepada bapak Makhdum Priyatno, KapusdiklatSPIMNAS Bidang Kepemimpinan yang telah berkenan memberi kata pengantar terhadapkumpulan tulisan ini. Karya Tulis inipun kami persembahkan untuk segenap jajaran PusdiklatSPIMNAS Bidang Kepemimpinan yang telah memberikan pelayanan terbaik selama kamingangsu kawruh dan tholabul ‘ilm di kampus Pejompongan yang sarat dengan memori indah ini.Kalaupun dalam tulisan ini ada kritik yang manis maupun yang pedas, itu adalah wujud cintakami untuk sebuah program dan kelembagaan diklat aparatur yang semakin berwibawa dikemudian hari.Akhirnya, penulis hanya berharap kiranya karya sederhana ini dapat memberikan manfaat seekcilapapun itu …(Tri Widodo W Utomo)Peserta Diklatpim Tingkat IIAngkatan XXXI Kelas B, 2001NDH. 53 Page | vii
  • 8. Jurnal #1 “Ketika Perubahan Menghampiri Kita … (1)”Mengikuti Diklat selalu berarti menghadapi perubahan. Dari lingkungan fisik maupun sosial,pola makan, ritme hidup, hingga perilaku keseharian kita, semuanya berubah dengan tiba-tiba.Kantor dan rumah yang menjadi persinggahan sehari-hari, dengan “terpaksa” harus kitatinggalkan untuk memasuki lingkungan baru berupa asrama, kelas, auditorium, kantin, foto copyatau koperasi tempat berjualan pernak-pernik diklat. Interaksi sosial yang biasanya lebih banyakterbangun dengan rekan kerja dan anak istri, sekoyong-koyong juga berubah menjadi hubungandengan sesama peserta yang belum saling mengenal, widyaiswara, penjaga asrama, petugas fotocopy atau fax, hingga satpam dan penjaja koran atau makanan, bahkan juga dengan instruktursenam, mbak Diana dan mas Yanto.Kebiasaan makan pun berubah drastis, baik menunya, jadual makannya, juga penyajiannya.Urusan makan di program diklat seolah-olah telah menjelma menjadi sebuah cabang ilmu barudari disiplin manajemen, yakni “Manajemen Konsumsi”. Bagaimana tidak? Jika kita telat sedikitsaja, maka kita harus siap-siap kelaparan karena makan telah dibereskan. Sebaliknya, ketika kitalapar sebelum waktunya, maka dengan 1000 alasan-pun tetap saja mustahil untukmemperolehnya. Menu benar-benar telah direncanakan dengan sangat detil baik mengenaivolumenya, jenis dan pilihannya, saat penghidangannya, waktu menikmatinya, lengkap denganetikanya. Jangan harap kita dapat menikmati makanan sambil bercelana pendek, mengangkatkaki ke kursi, bahkan kadang untuk nambah-pun terasa sangat berat karena seolah kita serakahdan menyerobot jatah peserta lain. Maklum, jumlah makanan benar-benar sudah disesuaikandengan jumlah peserta. Jika mau nambah, yakinkan terlebih dahulu bahwa ada teman ada yangpuasa, atau yang memilih makan diluar, atau sengaja menghindar makanan yang ada karenaalasan selera …Diklat juga merubah ritme dan irama hidup kita secara signifikan. Jika biasanya kita bangunsubuh dilanjutkan dengan shalat subuh, kemudian berkemas-kemas untuk segera ke kantorkarena mengejar waktu agar tidak terkena kemacetan, sekarang tidak usah lagi khawatir denganderetan ratusan ribu kendaraan yang mengular puluhan kilo meter. Sebagai gantinya, setelahshalat subuh kita harus melakukan olah raga senam pagi. Ternyata, senam saja tidak cukup. Kitajuga wajib mengisi daftar hadir! Ini dia instrument baru yang sekonyong-konyongmengendalikan ritme hidup kita. Dari subuh hingga malam menjelang tidur, kita diikat erat-eratoleh Sang Daftar Hadir. Paling sedikit, kita harus membubuhkan tanda tangan – bukan paraf –sebanyak LIMA kali dalam sehari, sebuah angka yang menyamai jumlah shalat wajib bagi umatIslam. Maka, tidak mengherankan jika kehidupan di asrama sesungguhnya adalah momentummenghitung hari yang berisi fase kehidupan yang dibatasi oleh Daftar-daftar Hadir!Tidak cukup sampai disana … ternyata daftar hadir juga mencengkeram naluri kita. Jikaterlambat 5 menit saja, maka daftar hadir yang semula warna putih, mendadak berubah menjadikuning. Dan jika kita terlambat 5 menit lebih lama lagi, maka ia akan berubah menjadi MERAH!Itu artinya, kita harus mempersiapkan mental untuk menerima teguran lisan atau tulisan. Page | 1
  • 9. Yang lebih “heboh” lagi, perilaku keseharian kita juga turut berganti warna. Kebiasaan kitauntuk berpikir secara komprehensif digiring kearah berpikir secara sekuensial. Hasrat berpikir“liar” untuk mencari alternatif terbaik untuk membenahi carut-marut negeri, terhalang oleh tatakrama untuk tidak mengkritik simbol-simbol negara. Kebiasaan bekerja dengan perangkatkomputer, seketika harus putar balik ke zaman kejayaan Koes Plus ketika tulisan tangan menjadimedia dominan dalam dunia akademik. Tradisi baru yang memberi kebebasan bagi seseoranguntuk berekspresi secara lisan, tulisan, atau gerak kinestetik, dalam batas-batas kedewasaan,kesadaran, dan tanggungjawab penuh, tiba-tiba ditempatkan dalam kerangka “aturan dan ragamsanksinya bagi pelanggarnya”.Maka, terlambat absen akan mengurangi nilai, tidak ikut senam akan mengurangi nilai, tidakaktif dikelas akan mengurangi nilai, menerima tamu di kamar akan mengurangi nilai, memakaisandal pada saat makan siang akan mengurangi nilai … Singkatnya, “nilai” menjadi momokyang ampuh untuk membentuk dan/atau mengarahkan perilaku seseorang. Seolah, “nilai”menjadi satu-satunya tujuan dari berduyun-duyunnya para pejabat Eselon II dari seluruhIndonesia ke Kampus Pejompongan. Bukankah ini unik dan menarik menyimak fenomenapejabat yang ketakutan dikurangi nilainya, sama seperti takutnya anak-anak para pejabat tersebutterhadap ancaman pengurangan nilai dari guru Matematika di SD tempat mereka menuntut ilmu?Para pejabat tadi juga takut tidak lulus, sama seperti takutnya anak-anak SMP dan SMA yangmenghadapi Ujian Nasional …Perubahan-perubahan seperti itulah yang nampaknya membuat seseorang cenderungmenghindarinya. Rasa nyaman dan mapan yang selama ini sudah terbangun menjadi takberaturan oleh gelombang perubahan yang datang seketika. Kecenderungan menghindariperubahan nampaknya juga bukan sekedar persoalan “tidak mau berubah”, namun seringkalijustru terdorong oleh kebimbangan tentang kemanfaatan perubahan tadi atas dirinya.Jika demikian, lantas apa sesungguhnya esensi mengikuti diklat kalau hanya sekedar mengejarnilai? Apa urgensi pembelajaran jika hanya menumbuhkan rasa takut? Apa manfaat dariperubahan yang ditimbulkan oleh diklat?Kampus Pejompongan JakartaRabu, 15 Juni 2011Bersambung … Page | 2
  • 10. Jurnal #2 “Ketika Perubahan Menghampiri Kita … (2)”Mengikuti diklat – sebagaimana layaknya belajar dalam konteks apapun – memiliki satuprakondisi yang sangat penting untuk dapat berhasil, yakni bahwa proses diklat tersebut haruslahmenyenangkan, menggembirakan, juga tanpa ada rasa cemas atau tertekan, baik oleh ancamanpengurangan nilai, ancaman tidak lulus, ancaman teguran dari penyelenggara, atau mungkin jugapressure dari pimpinan instansi agar kita tetap perform terhadap tugas-tugas pokok di instansiyang sedang ditinggalkan. Jika seorang peserta mengalami perasaan tidak nyaman, kurangbahagia, resah atau gelisah selama mengikuti diklat, boro-boro mampu mencapai tujuan diklat …yang lebih mungkin terjadi adalah naiknya tekanan darah dan gula darah, melonjaknya kolesteroldan asam urat, merebaknya gejala stress dan depresi, hingga melayangnya nyawa.Maka, sangat dianjurkan untuk tidak menolak perubahan yang dibawa oleh diklat. Dari padarepot-repot mencari sejuta alasan tentang tidak efektifnya perubahan yang melanda, lebih baikberpikir positif tentangnya. Dan jika didalami lebih seksama, proses perubahan selalu merupakanproses yang menyakitkan (a painful process). Namun perlu dicatat bahwa rasa sakit tadi hanyaterjadi pada level proses yang akan mengantarkan kita (peserta diklat) pada hasil yang lebihindah dan manis dibanding kondisi sebelum mengikuti diklat. Seekor kerang-pun, untuk dapatmenghasilkan mutiara yang bernilai tinggi, harus melewati sebuah proses yang teramatmenyakitkan. Dalam ajaran Islam secara tegas dinyatakan bahwa dibalik setiap kesulitan akanselalu ada kemudahan (innama ‘al ‘usri yusra). Maknanya, jika kita ingin lebih berhasil, lebihpintar, lebih bijak, lebih enak dan lebih baik dalam segala hal dimasa depan, maka harusmelewati terlebih dahulu berbagai perjuangan yang melelahkan dan menyakitkan. Bahkan,musim semi yang begitu menawan, tidak pernah muncul tanpa didahului oleh musim dingin yangbegitu berat hingga menggemeretakkan tulang belulang manusia.Jika kita sudah memiliki model mental yang kondusif untuk menerima perubahan, maka apapunsituasi dan tantangan yang ditawarkan oleh penyelenggara diklat, akan dapat dikelola secaraproduktif. Ibaratnya, ketika angin bertiup kencang (simbolisasi perubahan), hasilnya bukanrobohnya bangunan beton yang kokoh (simbolisasi orang yang menolak perubahan), namunjustru dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi alternatif (simbolisasi yang siap menerimaperubahan).Kembali ke perubahan yang meluluhlantakkan wilayah kenyamanan seseorang. Ketikalingkungan fisik dan sosial sekitar kita berubah mendadak, pandanglah itu sebagai penyegaranterhadap kondisi sebelumnya yang begitu-begitu saja dan cenderung membosankan. Milieu barusecara psikologis mampu mengkonfigurasi ulang simpul-simpul kejiwaan dan sistem syarafmotorik untuk menumbuhkan kesan lebih rileks dan menyegarkan. Itulah mengapa banyak orangmelancong ke tempat-tempat baru. Bahkan banyak para petualang yang mengejar daerah-daerahterpencil dan sulit dijangkau hanya untuk mengembalikan kesegaran dan kekuatan jiwanya. Page | 3
  • 11. Demikian pula ketika pola makan kita berubah menjadi sangat terstruktur, syukurilah selayaknyaseorang atlit yang dijaga ketat pola makannya oleh sang manajer. Maksudnya jelas bukan untukmengurangi hak sang atlit, namun justru untuk menjamin kebugaran dan kesehatannya agar siapbertanding sewaktu-waktu dengan prestasi optimal. Jika tidak selama diklat, kapan lagi kita akanmakan secara teratur dengan menu yang telah dipertimbangkan secara professional?Kalaupun ritme hidup kita berubah secara drastis, itupun harus disikapi secara positif. Kewajibanmengisi daftar hadir 5 hari sekali sesungguhnya adalah sebuah test-case tentang sejauhmanatingkat ketaatan (obedience) kita terhadap aturan dan pimpinan. Seseorang yang berpandanganbahwa pejabat Eselon II tidak lagi layak diperlakukan seperti anak kecil dengan kewajibanberbasis ketidakpercayaan (distrust), mencerminkan bahwa seseorang tadi hanya mementingkanaspek kepemimpinan (leadership) namun cenderung mengabaikan sisi kepengikutan(followership). Padahal, keberhasilan suatu organisasi tidak hanya ditentukan olehkepemimpinan yang bermutu, namun lebih banyak dikontribusikan oleh para pengikutnya yangloyal, kompeten, dan kredibel. Satu hal lagi mohon diingat bahwa pejabat Eselon II – atau EselonI sekalipun – selain sebagai pemimpin, mereka adalah juga pengikut bagi atasannya. Untuk itu,hilangkan ego selaku pimpinan dan tumbuhkan ego selaku pelayan (steward) saat kita mengikutiprogram diklat. Peran seorang pemimpin sebagai pelayan (steward) inilah yang paling lemahdalam sistem birokrasi kita, dan akan dibangun kembali melalui proses perubahan selama diklat.Kunci sukses mengelola gelombang perubahan tadi adalah ikhlas. Janganlah resistant dan jangankeraskan hati terhadap perubahan. Sebaliknya, siapkan mental, pikiran, dan fisik untuk belajardan menyerap kebaikan sebesar mungkin dari rangkaian program diklat. Yakini juga bahwapembelajaran yang dilakukan akan merupakan satu-satunya yang dapat mempertahankankeunggulan kompetitif organisasi dimasa depan, seperti diungkapkan oleh de Geuss: learningmight prove to be the only sustainable competitive advantage for organization in the future.Kunci keberhasilan lainnya adalah disiplin, tekun dan sungguh-sungguh dalam menjalanikeseluruhan proses pembelajaran.Anda boleh saja berharap memperoleh kenikmatan dan pelayanan yang menyenangkan selamadiklat, namun akan lebih tepat jika anda berharap untuk memperoleh wisdom yang akanmemperbaiki kualitas anda selaku pemimpin sekaligus selaku pelayan organisasi. Diklat adalahkawah Candradimuka yang penuh tantangan, bukan kawah Tangkuban Perahu yang penuhkeindahan. Maka … selamat, anda telah terpilih untuk memasuki kawah Candradimuka!Kampus Pejompongan JakartaKamis, 16 Juni 2011 Page | 4
  • 12. Jurnal #3 “Desentralisasi Dalam Kacamata Learning Organization”Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba materi Systems Thinking yang dibawakan Dr. SudarsonoHardjosukarto berkembang menjadi diskusi tentang otonomi daerah. Banyak yang menginginkanagar urusan pertanian ditarik lagi menjadi urusan pusat mengingat kegagalan negara untukmemperkuat ketahanan pangan dan kembali ber-swasembada beras. Ada juga yangmengemukakan bahwa sejak big bang desentralisasi 1999, kasus deforestrasi menjadi tidakterkendali. Dalam bidang pendidikan-pun, muncul kritik bahwa desentralisasi gagal membangunsumber daya manusia yang unggul. Singkatnya, forum pembelajaran tadi berubah menjadi ajangpengadilan terhadap desentralisasi. Desentralisasi menjadi tersangka utama atas berbagaimasalah yang muncul sejak tumbangnya rezim Orde Baru.Diskusi menjadi semakin menarik karena baru saja peserta diberikan materi tentang learning danLearning Organization (LO). Ada tiga bentuk pembelajaran dalam organisasi, yakni learninghow to learn, learning how to unlearn, dan learning how to relearn. Bentuk pertama adalahpembelajaran terhadap hal-hal baru yang diyakini mampu memberi leverage effect terhadappeningkatan kinerja organisasi. Bentuk kedua merupakan kemauan dan kesadaran untukmenanggalkan atau meninggalkan hal-hal dimasa silam yang sudah jelas tidak membawamanfaat. Adapun bentuk ketiga adalah kemampuan untuk mengambil nilai atau hikmah daripengalaman diri sendiri atau orang lain, untuk kemudian dijadikan sebagai bahan pembelajaranorganisasi. Pada saat yang sama, peserta juga diasumsikan sudah memiliki pemahaman tentangteori Seven Learning Dissabilities dari Peter Senge, yakni: I am my position, The enemy is outthere, The illusion of taking charge, The fixation on events, The parable of the boiled frog, Thedelusion of learning from experience, dan The myth of the management team.Dengan bekal teori LO dan tujuh ketidakmampuan belajar tadi, maka agak janggal rasanyaketika kelas menjadi ajang “pembantaian” terhadap desentralisasi. Aneh rasanya ketika caraberpikir tidak diarahkan pada mencari solusi terhadap akar masalah yang dihadapi, namun lebihmencari “kambing hitam” terhadap masalah tersebut. Tanpa disadari, kita justru terjerumusdalam sindrom ketidakmampuan belajar no. 2, the enemy is out there. Bahwa kebijakan danproses desentralisasi saat ini masih menyisakan persoalan besar, adalah fakta yang sulit dibantah.Namun, terhadap fakta negatif desentralisasi tadi, ada dua opsi cara berpikir yang dapat dipilih:menyalahkan desentralisasi sebagai biang persoalan, atau mencari solusi kreatif atas masalahyang ada. Pilihan pertama jelas bukan pilihan bijak, terutama bagi setiap orang yang telahmenguasai lima disiplin dalam LO. Pilihan pertama juga tidak akan pernah mampumenghasilkan pemikiran inovatif dalam bentuk tawaran solusi. Hasil yang muncul dari pilihanseperti ini hanya saling menunjuk hidung orang lain, saling mengelak, saling merasa benar,saling menuduh, dan saling memojokkan. Ironisnya, cara berpikir “mencari kambing hitam”adalah cara berpikir termudah dan oleh karenanya, paling banyak diterapkan oleh para pejabatpublik, politisi, hingga akademisi dan pengamat sekalipun. Page | 5
  • 13. Padahal, kalau mau dirujuk ke belakang, desentralisasi adalah pilihan dan keputusan kolektifbangsa Indonesia untuk mengkoreksi berbagai penyimpangan dalam praktek pemerintahan padamasa sebelumnya. Artinya, pada tahun 1999 lalu, bangsa Indonesia sudah melakukan proseslearning how to unlearn, yaitu meninggalkan dan menanggalkan jauh-jauh praktek pemerintahanyang sentralistis dan menghambat tumbuhnya kemandirian daerah. Kekayaan ragam budayanusantara, tidak mungkin dikemas dalam sistem manajemen yang seragam, karena hal itubertentangan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.Dengan menanggalkan sistem yang jelas-jelas tidak membawa perbaikan, maka pada saat itupula bangsa Indonesia telah berhasil menjalani proses learning how to learn, yaitu menciptakansistem baru yang belum pernah terjadi di masa sebelumnya dan diyakini akan membawaperbaikan di berbagai sektor pemerintahan. Keberadaan Kantor Wilayah yang overlap denganurusan rumah tangga daerah, dihapuskan. Wewenang pemerintahan yang sangat luas diberikankepada daerah lengkap dengan instrumen fiskal dan SDM-nya.Setelah desentralisasi berjalan 10 tahun, sebuah evaluasi yang komprehensif adalah hal yangwajar, bahkan sangat diperlukan. Kalaupun ternyata ada wisdom dan best practices masa laluyang patut dikembangkan lagi, juga bukan suatu kemustahilan atau harus dipandang sebagai halyang tabu. Sebagai contoh, peran pemerintah pusat dan provinsi yang melemah akibatdesentralisasi luas, ternyata menimbulkan banyak persoalan di lapangan. Maka, peranpemerintah pusat dan provinsi perlu diperkuat tanpa harus melakukan upaya resentralisasiataupun mengurangi wewenang kabupaten/kota. Ini berarti, proses learning how to relearnsesungguhnya telah terjadi tanpa harus menuding desentralisasi sebagai akar masalah bangsa.Desentralisasi sudah terlanjur menghantarkan bangsa Indonesia pada posisi seperti saat ini danberada pada point of no return, sehingga problematika yang ada bukanlah pembenar untukberbalik arah ke masa silam.Dari kasus desentralisasi tersebut, saya pribadi menangkap sebuah kesan dan keyakinan bahwamempelajari dan menguasai teori maupun disiplin-disiplin LO akan membawa sangat banyakmanfaat untuk menelaah kompleksitas kebijakan di sekitar kita. Dengan LO ini kemungkinankeliru dalam pengambilan keputusan dapat diminimalisir, sehingga secara tidak langsung turutmeningkatkan kualitas kebijakan itu sendiri.Kampus Pejompongan JakartaJum’at, 17 Juni 2011 Page | 6
  • 14. Jurnal #4 “Sudah Belajarkah Pemerintahan Kita?”Sebagai pembelajar pemula systems thinking, saya mendapat banyak sekali wawasan daninspirasi tentang bagaimana suatu pemerintahan mengelola kebijakannya. Salah satu hal yangmenarik minat saya adalah tentang “Hukum Disiplin Kelima” yang terdiri dari 11 kaidah.Namun dalam refleksi ini saya hanya akan menyinggung hukum pertama dan kedua.Hukum pertama adalah “Permasalahan hari ini berasal dari solusi kemaren”. Masalah yangkita hadapi saat ini, seringkali merupakan hasil solusi masalah yang kita lakukan pada masa lalu.Pemecahan seperti ini – katanya – hanya mengalihkan masalah dari satu bagian ke bagian laindari sistem itu, tanpa dapat dideteksi atau diketahui. Sebagai contoh, jika polisi menangani suatumasalah peredaran narkoba di suatu wilayah, akan menyebabkan pindahnya peredaran barangterlarang itu ke wilayah lain yang dilakukan secara lebih rapi, baik dalam pengorganisasiannyamaupun dalam pendistribusiannya (Sumber: Modul 1.A-2, hal. 20).Praktek kebijakan di Indonesia secara umum, nampaknya tidak memperhatikan hukum tersebut,sehingga banyak kebijakan yang dapat mengurangi masalah tertentu namun menimbulkanmasalah yang sama di tempat berbeda. Sebagai contoh, Pemerintah Kota Tangerang Selatanmengalami masalah baru berupa kemacetan khususnya di sepanjang Jalan Raya Serpong, akibatkebijakan Pemerintah Provinsi DKI yang melarang truk masuk tol dalam kota dan memaksatruk-truk untuk mengambil jalan memutar ke wilayah Tangerang Selatan. Pemerintah DKI dapatberbangga dan mengklaim bahwa kebijakannya telah mengurangi kemacetan di wilayahnya,tanpa mempedulikan efek negatif di wilayah tetangganya.Contoh dengan pola agak berbeda adalah kasus pelemparan batu dan aksi pengrusakanpenumpang kereta api di beberapa stasiun akibat kebijakan PT. KAI yang menyemprotkan catkepada penumpang yang naik keatas gerbong. Akibatnya, penumpang marah dan menimbulkankerusakan dengan tingkat kerugian yang tidak kecil, dan memaksa pihak manajemen untukmencabut kebijakan tersebut dan mencari alternatif pengganti yang lebih baik dan lebih humanis.Dalam kasus PT. KAI ini, kebijakan baru ternyata menimbulkan masalah berbeda di tempat yangsama. Persamaan dengan kasus pertama, keduanya sama-sama tidak mampu mengatasi masalahyang ada, namun hanya memindahkan masalah, menimbulkan masalah baru, atau sekedarmenunda masalah. Dalam ilmu systems thinking, solusi seperti itu disebut symptomatic solution,bukan fundamental solution.Dua ilustrasi diatas ini menunjukkan bahwa pemerintah (cq. Pemprov DKI dan PT. KAI) dapatdikatakan tidak menggunakan pendekatan dan cara berpikir sistem dalam perumusan kebijakan.Mereka juga dapat disebut tidak mengalami proses pembelajaran, atau mengalami kegagalandalam proses pembelajaran (learning disabilities). Kegagalan mereka untuk belajar, bisa jadidisebabkan oleh kegagalan mengenali perubahan disekitarnya. Pemerintah DKI mungkin tidakmenyadari bahwa penambahan penduduk dan pemukiman, peningkatan jumlah kendaraan,perkembangan sektor-sektor ekonomi tumbuh teramat pesat sehingga menimbulkan kesenjangan Page | 7
  • 15. yang semakin parah dibandingkan dengan kemampuan Pemprov DKI menyediakan infrastrukturjalan, kapasitas polisi untuk mengatur ruas jalan, atau kemampuan anggaran dan petugas DinasPerhubungan dalam menata rambu dan marka lalu lintas.Ketika perubahan lingkungan lebih cepat dan lebih besar dibandingkan proses pembelajaranaparatur, maka dapat dipastikan terjadi bottlenecking kebijakan seperti kedua kasus diatas.Ironisnya, saat terjadi bottlenecking kebijakan, yang ditempuh adalah paradigma pragmatis untukmenyelesaikan masalah pada jangka pendek. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa cara berpikirserba sistem (systems thinking) belum dipraktekkan dalam manajemen kebijakan publik.Selanjutnya, hukum kedua adalah “Semakin keras kita menekan, yang kita hadapi juga semakinluas”. Contoh hukum ini misalnya terjadi di AS tahun 1960-an, dimana ada kebijakanpembangunan perumahan bagi kalangan bawah dan kebijakan peningkatan ketrampilan kerjamasyarakat di kota-kota yang dianggap lemah ekonominya. Satu dekade setelahnya, keadaan dikota-kota tersebut justru semakin memburuk, meskipun bantuan pemerintah ditingkatkan.Penyebabnya adalah orang-orang yang berpendapatan rendah dari kota lain dan pedesaanberbondong-bondong pindah ke kota yang mempunyai program insentif tersebut. Akhirnya,program perumahan baru menjadi sangat sesak, dan program pelatihan kerja dibanjiri olehpelamar. Pada saat yang sama, penerimaan pajak mulai terkikis, sehingga mengakibatkan lebihbanyak orang terperangkap dalam kemiskinan (Sumber: Modul 1.A-2, hal. 21).Naga-naganya, bangsa Indonesia-pun terjangkiti oleh penyakit serupa. Di bidang pendidikan,misalnya, terdapat kebijakan bahwa guru harus memiliki kualifikasi minimal sarjana dan jikamemungkinkan tersertifikasi. Atas nama desentralisasi, banyak pemerintah daerah yangmengalokasikan dana besar untuk peningkatan kualifikasi guru. Namun yang kemudian terjadi,para guru yang telah mencapai jenjang pendidikan tinggi cenderung pindah ke daerah yangmemberikan tunjangan atau insentif lebih besar kepada guru. Akibatnya, investasi pemerintahdaerah asal untuk menyekolahkan para guru membawa manfaat secara tidak seimbang bagidaerah maupun bagi masyarakat umum pengguna jasa layanan pendidikan dasar di daerahnyasendiri. Kasus pemberian BLT (bantuan langsung tunai) juga mencerminkan berlangsungnyahukum kedua tadi. Peningkatan jumlah penerima BLT dan anggaran yang dialokasikan,mengilustrasikan terjadinya kasus yang sama seperti di AS periode 1960-1970an.Kedua kasus diatas juga menggambarkan secara gamblang bahwa kebijakan yang ditempuh tidakberbasis pada pendekatan serba sistem. Sebagian besar kebijakan kita nampaknya masih lebihbersifat linier dan reaktif terhadap masalah yang ada. Akibatnya, masalah yang dihadapi tidakdapat dipecahkan secara holistik dan komprehensif. Masalah yang berhasil diatasi hanyalahmasalah yang ada di permukaan, sementara inti masalah yang sebenarnya tidak pernah teruraikansecara tuntas.Adapun sembilan “Hukum Disiplin Kelima” yang tidak saya elaborasi lebih jauh adalah“Perilaku berkembang membaik, sebelum memburuk”; “Pemecahan masalah yang mudahumumnya menggiring kembali ke masalah tersebut”; “Upaya penyembuhan dapat lebih burukdari pada penyakitnya sendiri”; “Sesuatu yang lebih cepat biasanya akan lebih lambat”; “Sebabdan akibat tidak begitu erat terkait dengan ruang dan waktu”; “Perubahan yang kecil dapatmenghasilkan hasil yang besar, namun wilayah dengan kemampuan daya ungkit terbesar itu Page | 8
  • 16. biasanya tersembunyi (tidak jelas)”; Anda dapat memiliki kue anda, dan juga memakannya,tetapi jangan sekaligus”; “Membelah seekor gajah tidak akan menghasilkan dua ekor gajahkecil”; “Jangan saling menyalahkan dan jangan menghujat”.Bayangkan saja, jika kita bisa mengambil banyak pelajaran dari dua hukum, berapa banyakperbaikan dan kemajuan yang dapat kita raih dengan belajar pada hukum-hukum lainnya?Sumber belajar ada dimana-mana, tersebar dilingkungan dimanapun kita berada. Setiap orangyang kita temui-pun, pada hakekatnya juga adalah sumber belajar yang potensial. Maka, tidakada alasan untuk tidak belajar atau menunda untuk belajar. Belajarlah mulai sekarang, danmulailah dari diri kita masing-masing …Kampus Pejompongan JakartaSabtu, 18 Juni 2011 Page | 9
  • 17. Jurnal #5 “Pembagian Kelas: Sebuah Takhayul?”Adalah hal yang lumrah dan sudah berlangsung puluhan tahun bahwa peserta Diklatpim II selaludikelompokkan dalam kelas-kelas, ada kelas A dan ada kelas B. Sekilas tidak ada yang aneh ataupatut dipertanyakan dengan pembagian seperti itu, hingga munculnya selentingan-selentinganbawah sadar yang membutuhkan penelusuran lebih seksama. Pagi hari tadi, misalnya, seorangteman menanyakan kapan tanda pengenal peserta untuk kelas B dibagikan, mengingat kelas Asudah memperoleh hari Jum’at yang lalu. Alhamdulillah, pada sessi kedua (jam 10.45) kamisemua sudah mendapatkannya. Selentingan teman tadi seketika mengingatkan saya padaselentingan salah seorang pengajar diklat ketika kami bertemu hari Kamis, atau pada hari ketigaDiklatpim II berlangsung. Dia bertanya: “Kenapa ya kelas B terlihat lebih santai dan cair daripada kelas A?” Dia menambahkan bahwa pengalaman penyelenggaraan Diklatpim angkatan-angkatan sebelumnya juga relatif sama. Terus terang, saya tidak dapat menjawab pertanyaanretoris tadi karena saya sendiri belum mampu membandingkan situasi dan kinerja antara kelas Adan B. Namun beberapa selentingan seolah memberi pembenaran bahwa antara kelas A dan Bmemang selalu memiliki karakter yang berbeda.Saya jadi teringat ketika anak saya pindah sekolah dari Samarinda ke Tangerang Selatanmengikuti ayahnya yang dimutasi ke kantor Pusat di Ibukota. Pada saat saya dan istrimendaftarkan ke SD Negeri di wilayah Serpong Utara, Kepala Sekolah SD tersebut menanyakanranking anak-anak saya sewaktu di Samarinda. Dia menjelaskan bahwa jika ranking-nya 1 s.d. 5,maka akan dimasukkan ke kelas A, sedangkan jika menempati ranking 6 keatas akanditempatkan di kelas B. Singkatnya, kelas A memang didesain sebagai kelompok orang-orangyang memiliki kelebihan dibanding kelas lainnya.Namun dalam konteks Diklatpim II, saya tahu bahwa tidak ada pertimbangan kepandaian,kepangkatan, track record kinerja, atau prestasi lainnya dalam penempatan seseorang ke kelastertentu. Tapi apa boleh buat, karena A dan B menunjukkan jenjang atau leveling sebagaimana 1dan 2, maka kesan bahwa kelas A adalah kelas 1 dan kelas B adalah kelas dibawahnya, tidak bisaterelakkan. Dalam alam bawah sadarnya, mereka yang masuk kelas A mengidentifikasikandirinya sebagai kelompok dengan kecakapan diatas rata-rata, sementara mereka yang “terpaksa”masuk kelas B harus siap untuk belajar lebih gigih jika ingin menyamai rekannya di kelas A.Bisa jadi, subconscious mind seperti itulah yang membuat peserta di kelas B merasa tidak perlurepot-repot belajar atau mengejar prestasi, karena urusan prestasi adalah domain kelas A.Sebagai gantinya, kelas B lebih memilih untuk menikmati program diklatnya dengan kelakar,senda gurau dan aktivitas apapun yang mendatangkan rasa rileks dan santai.Maka, terbentuklah takhayul bahwa kelas A selalu lebih baik dan lebih hebat dari pada kelas B.Dikatakan takhayul karena hal tersebut telah menjelma menjadi keyakinan yang diperkuatdengan fakta-fakta empirik bahwa sang juara lebih sering lahir dari kelas A dibanding kelas yanglain. Padahal, prestasi itu sama sekali tidak terbentuk oleh kebijakan penempatan kelas,melainkan oleh keyakinan seseorang dialam bawah sadarnya bahwa dia cerdas/unggul/hebat, Page | 10
  • 18. atau sebaliknya. Keyakinan yang teguh terhadap sesuatu akan menjadikan sesuatu tadi sebuahkenyataan, sebagaimana bunyi sebuah adagium: what you get is what you believe. Ini adalahajaran tentang kekuatan sebuah keyakinan (the power of believe). Dalam ajaran agama Islam-pundinyatakan bahwa Allah adalah sesuai persangkaan hambanya. Saat seorang hamba meyakinisecara penuh bahwa Allah akan memberikan kepadanya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka, maka hal tersebut benar-benar akan menjadi kenyataan. Subhanallah …Sebuah eksperimen pernah dilakukan di AS dengan memasukkan anak-anak cerdas dan potensialke kelas B dan anak-anak dengan intelijensi sedang ke kelas A. Setelah di-treatment denganpembelajaran yang sama untuk periode tertentu, ternyata hasilnya sangat mencengangkan. Anak-anak di kelas A yang notabene kecerdasannya hanya rata-rata, berhasil menunjukkan prestasiyang lebih baik dari pada kelas B yang berisi anak-anak jenius.Oleh karena itu, untuk siapa saja yang telah terlanjur masuk kelas B, C, atau D, keyakinan bahwamereka adalah kelas 2, 3, atau 4 harus dihancurleburkan agar tidak membawa efek psikologisyang negatif. Sedangkan untuk penyelenggara pendidikan, penamaan kelas hendaknya lebihbersifat netral namun justru mampu merangsang hasrat eksplorasi terhadap nama kelas. Sebagaicontoh, kelas A dan B masing-masing diganti menjadi kelas Kelembagaan dan Ketatalaksanaan.Nama kelembagaan dan ketatalaksanaan ini bukan sekedar pengganti A dan B, namun secaratersirat menuntut peserta untuk mendalami konsep kelembagaan dan ketatalaksanaan tersebut.Dengan pemberian nama kelas yang netral ini, maka setiap peserta akan memiliki posisi startyang sama dan kondisi mental yang sama, sehingga siap berkompetisi secara sehat dan fair.Kampus Pejompongan JakartaSenin, 20 Juni 2011 Page | 11
  • 19. Jurnal #6 “Diana Leadership Dalam Diklat Aparatur”Satu sisi dalam Diklatpim II yang sayang untuk dilewatkan adalah kewajiban senam pagi setiapSelasa, Rabu dan Kamis. Ternyata, banyak juga hal yang dapat dipelajari dari sessi yangberlangsung dari jam 05.30 s/d 07.00 ini, termasuk soal kepemimpinan. Siapa pemimpinlapangannya? Dia adalah Diana. Ya … Diana adalah nama instruktur senam pagi selamaprogram diklat berlangsung. Meski tugasnya terkesan sepele dan hanya menjadi bagian kecil darisistem diklat aparatur, namun sesungguhnya ia juga mencerminkan sosok pemimpin. HaroldKoontz (1989) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh, seni, atau prosesmempengaruhi orang-orang sehingga mereka akan berusaha mencapai tujuan kelompok dengankemauan dan antusiasme. Definisi dari George R. Terry, FA. Nigro, Tannenbaum, dan lain-lainjuga menegaskan inti kepemimpinan sebagai kemampuan seseorang dalam mempengaruhiperilaku orang lain atau menuntut ketaatan dari orang lain.Faktanya, Diana memiliki kedua kemampuan tersebut. Perilaku peserta senam terbentuk secaraseragam mengikuti irama yang dimainkan Diana. Orang yang sama sekali tidak pernah senampun berusaha sekuat tenaga untuk meniru semirip mungkin gerakan Diana. Peserta senammemberi perhatian penuh terhadap Diana, terlihat dari arah pandangan yang fokus kepadadirinya. Boro-boro komplain, tidak seorang peserta pun yang mencoba memberi alternatifgerakan senam yang lebih baik. Singkatnya, Diana adalah pemimpin tunggal di lapangan yangsetiap instruksinya diikuti dengan koor yang kompak. Bahkan ketika Diana bertanya: Manasuaranyaaa?”, seketika riuh rendah beragam suara memberi sambutan secara meriah.Uniknya, Diana tidak pernah menegur peserta yang tidak mengikuti gerakannya. Dia juga tidakpernah mengancam akan memberi sanksi bagi siapa saja, termasuk yang tidak datang kelapangan. Dia tetap saja happy dengan situasi disekelilingnya meski dia sadar bahwa karakterorang-orang disekitarnya sangat beragam. Nampaknya Diana tahu betul bahwa orang-orang yangdatang kepadanya adalah orang dewasa yang telah menyadari hak dan kewajiban masing-masing,sehingga model pembelajaran yang diberikan Diana juga model pembelajaran orang dewasa(andragogi). Nampaknya, Diana memahami betul metode ini sehingga yang dia lakukan lebihbanyak bersifat motivasi, persuasi, serta pemberian contoh (suri tauladan) yang konkrit.Adalah hal yang ironis ketika sosok Diana begitu ditaati oleh peserta, sedangkan penyelenggaradiklat yang jelas-jelas memiliki otoritas formal harus berusaha sekuat tenaga untuk menjagapeserta agar berperilaku sesuai tata tertib dan seperangkat aturan yang telah disiapkan lembaga.Ada saja peserta yang merasa sangat merdeka ketika sessi senam pagi, namun tiba-tiba merasaterkekang dalam formalitas diklat di sessi-sessi berikutnya. Apa yang salah dengan situasi sepertiini? Bukankah penyelenggara adalah pemimpin yang sebenarnya untuk peserta diklat? Namunfaktanya, mengapa sosok Diana lebih menonjol dan lebih disukai?Tentu saja, teori yang berbeda akan memberikan penjelasan yang berbeda pula. Salah satunyaadalah kepemimpinan situasional yang diajarkan Paul Hersey dan Ken Blanchard. Dari empat Page | 12
  • 20. gaya kepemimpinan directing (telling), coaching, supporting (participating) dan delegating,kepemimpinan hanya akan efektif jika diterapkan dalam situasi yang tepat – meskipun disadaribahwa setiap orang memiliki gaya yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untukmengubahnya meskipun perlu. Dalam prinsip pembelajaran untuk orang dewasa (andragogi),pada diri peserta diasumsikan sudah terdapat dua macam kompetensi, yakni kompetensi kognitifberupa seperangkat pengetahuan dan pengalaman, serta kompetensi afektif berupa sikapkedewasaan dan kesadaran tentang eksistensi dirinya.Dengan dua jenis kompetensi tersebut, maka gaya kepemimpinan yang paling tepat untukmendampingi mereka dalam proses diklat adalah gaya supporting participating, disusul dengangaya delegating dan coaching secara seimbang, serta menghindari sebanyak mungkin gayadirecting. Gaya directing dicirikan oleh tingginya tingkat penugasan dan rendahnya hubunganinterpersonal (high tasks and low relationship), sedangkan gaya supporting dicirikan olehtingginya hubungan interpersonal dan rendahnya penugasan (high relationship and low tasks).Kalau mau jujur, gaya yang lebih dikembangkan saat ini di Diklatpim II adalah gaya pelatihan(coaching) – meski keberadaan pelatih telah diposisikan sebagai mitra – dan sedikit directing.Hal ini bisa dilihat dari banyaknya target jumlah produk pembelajaran yang harus dihasilkanbaik secara individual maupun kelompok, bahkan pada tingkatan kelas atau angkatan. Pada saatyang sama, interaksi interpersonal antara peserta dengan penyelenggara sangat sedikit sekaliterjalin. Paling banyak hubungan terjadi antara peserta dengan widyaiswara, petugas absen,petugas laundry, dan satpam, sementara dengan manajemen diklat seperti Deputi V, KapusdiklatSpimnas Bidang Kepemimpinan, para pejabat Eselon III dan IV, serta staf penyelenggaralainnya, bisa dikatakan nihil. Hingga minggu kedua, hanya sekali ada pertemuan denganpenyelenggara, itupun cuma dalam sessi penjelasan program. Demikian pula, pertemuan denganKepala LAN hanya terjadi dalam konteks ceramah, bukan dalam fungsi pembinaan diklat ataudialog antara service provider dengan user-nya.Nah, disinilah kepemimpinan model Diana menunjukkan keunggulannya. Dalam setiappelaksanaan tugasnya, dia selalu menjalin kontak langsung dengan peserta, bukan hanya dengansuaranya atau gerakannya, namun juga dengan bahasa tubuhnya, semangatnya, totalitasnya,kedisiplinannya, dan senyumnya. Tidak heran, sosok Diana menjadi lebih populer dibandingsosok lain yang mestinya lebih berwibawa.Teori X dan teori Y dari Mc. Gregor sebagai hasil klasifikasi dua jenis tipe manusia yaitu tipe Xdan tipe Y, mungkin juga dapat sedikit memberi penjelasan. Menurut teori X, pada dasarnyamanusia itu cenderung berperilaku negatif dengan ciri-ciri sebagai berikut: (a) tidak senangbekerja dan apabila mungkin akan berusaha mengelakkannya; (b) karenanya manusia harusdipaksa, diawasi atau diancam dengan berbagai tindakan positif agar tujuan organisasi tercapai;(c) para pekerja akan berusaha mengelakkan tanggung jawab dan hanya akan bekerja apabilamenerima perintah untuk melakukan sesuatu; dan (d) kebanyakan pekerja akan menempatkanpemuasan kebutuhan fisiologis dan keamanan di atas faktor-faktor lain yang berkaitandengannya dan tidak akan menunjukkan keinginan atau ambisi untuk maju. Sementara itu teori Ymenyatakan bahwa manusia itu pada dasarnya cenderung berperilaku positif dengan ciri-cirisebagai berikut: (a) para pekerja memandang kegiatan bekerja sebagai hal yang alamiah sepertihalnya beristirahat dan bermain; (b) para pekerja akan berusaha melakukan tugas tanpa terlaludiarahkan dan akan berusaha mengendalikan diri sendiri; (c) pada umumnya para pekerja akan Page | 13
  • 21. menerima tanggungjawab yang lebih besar; dan (d) mereka akan berusaha menunjukkankreativitasnya, dan oleh karenanya akan berpendapat bahwa pengambilan keputusan merupakantanggungjawab mereka juga dan bukan semata-mata tanggungjawab orang yang mendudukijabatan manajerial (Weber, 1960, dalam Siagian, 1989).Manajemen diklat aparatur pada umumnya dan Diklatpim II pada khususnya, juga tidak lepasdari kecenderungan mempersepsikan peserta selayaknya manusia tipe X. Pada sesi pengarahanprogram, misalnya, peserta dicekoki dengan berbagai macam kewajiban, larangan, dan etikaberperilaku lengkap dengan sanksi yang mungkin diterima. Saat acara tanya jawab, seorangpeserta sampai bertanya: ”Dari tadi kami hanya dijelaskan tentang kewajiban-kewajiban yangharus kami penuhi. Lantas apa hak-hak kami selaku peserta?”. Pada poin inilah, kapasitaspenyelenggara masih perlu banyak pembenahan. Akan jauh lebih elegan jika peserta disambutdengan sikap dan pernyataan yang encouraging, diposisikan sebagai sub-sistem penting bagiinstitusi, dihormati sebagai sumber pengetahuan dan kearifan, dilayani dengan segenap sumberdaya dan sarana yang ada untuk menumbuhkan rasa betah laksana di rumah sendiri, sertadiperlakukan layaknya perusahaan memperlakukan pelanggan setianya.Peserta memang harus siap lahir batin dengan berbagai konsekuensi atas keikutsertaannya dalamdiklat (baca Jurnal #2: Ketika Perubahan Menghampiri Kita ...). Namun tidak ada salahnya pulabagi penyelenggara untuk terus meningkatkan kapasitas leadership-nya guna menghasilkanproses diklat yang sinergis serta output diklat yang benar-benar sesuai harapan semua pihak.Sebab, kepemimpinan bukan hanya sebuah ilmu, namun lebih merupakan seni. Bisa jadi, orangyang tidak pernah belajar ilmu kepemimpinan, lebih berhasil menjadi pemimpin dibanding orangyang kenyang teori-teori kepemimpinan, sepeti Diana, atau Walikota Solo, Joko Widodo.Akhirnya, penguatan kapasitas leadership penyelenggara yang makin menguat diharapkan akanmenjadi trade-off bagi Diana Leadership. Semoga!Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 21 Juni 2011 Page | 14
  • 22. Jurnal #7 “Tentang Guru atau Widyaiswara …”Pada suatu sessi, Widyaiswara Penuntun kami, Bapak Suwaris, mengungkapkan bahwa “Anordinary teacher can only tell; A good teacher can explain; An exellent teacher candemonstrate; A great teacher inspires. Saya mendukung sekali prinsip tersebut, terutama dalamkonteks pembelajaran untuk orang dewasa. Model dan gaya belajar orang dewasa tentunya lebihtepat diarahkan kepada generative learning yaitu proses belajar yang mengembangkan danmenciptakan, dari pada sekedar adaptive learning atau proses belajar yang bertujuan untukmenyerap atau menyesuaikan diri terhadap materi pembelajaran.Oleh karena itu, sedikit aneh rasanya jika seseorang yang telah meraih gelar akademik minimalsarjana (bahkan banyak yang sudah S3) dan menduduki jabatan cukup tinggi masih menuntutdiajar dengan pola didaktik yang detil dan tidak menyisakan ruang bagi si pembelajar untukbelajar lebih dalam secara mandiri. Maka, guru yang menginspirasi adalah guru yang mampumenumbuhkan rasa penasaran dan hasrat yang menggebu bagi muridnya untuk menggali lagipengetahuan dari berbagai sumber dan dengan berbagai metode.Cara seperti inilah yang sering dipraktekkan para pendekar kungfu dalam menurunkan ilmunya.Ia membiarkan muridnya untuk memecahkan misteri tertentu atau berkelana mencaripengalaman. Esensinya, ilmu tidak dapat diperoleh secara instan, namun harus diperjuangkanmelalui proses yang panjang dan mendaki, berduri, bahkan hingga berdarah-darah. Dalamfilosofi masyarakat Jawa disebutkan bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Artinya ilmu hanyadapat dicapai dengan berbagai laku seperti prihatin, tirakat, pasa (puasa), semedi (meditasi),hingga ngebleng (tidak makan minum selama berhari-hari).Sayangnya, banyak orang yang ingin belajar secara pragmatis, yakni mendapat ilmu secara cepatdan mudah dengan pengorbanan yang minimal. Orang dengan tipe ini akan senang sekali jikaguru memberi penjelasan secara rinci dan jelas, dan cenderung mengeluh ketika guru terkesanmengambang dalam setiap penjelasannya. Dalam situasi seperti ini, dia tidak segan-seganmenilai bahwa sang guru tidak menguasai materi, tidak mampu mentransfer ilmu, dansebagainya. Padahal, dengan pengajaran yang sangat rinci dan sangat jelas, akan menimbulkankepuasan murid. Kepuasan murid ini secara tidak disadari akan menutup curiosity-nya terhadaphal-hal lain diluar materi yang telah diajarkan sang guru. Sebaliknya, guru yang hanya memberikunci-kunci untuk membuka gerbang pengetahuan seringkali tidak memuaskan siswanya.Namun pada hakekatnya, dia sedang mengajari kita cara menemukan ilmu, bukan sedekarmemberikan ilmunya.Maka, berbahagialah ketika kita mendapatkan guru atau widyaiswara yang baik, namunbersyukurlah saat mendapatkan guru atau widyaiswara yang menginspirasi … Terima kasih pakWaris yang telah merangsang banyak inspirasi bagi kami.Kampus Pejompongan JakartaRabu, 22 Juni 2011 Page | 15
  • 23. Jurnal #8 “Antara Temporary System dan Permanent System”Dalam setiap penyelenggaraan diklat, akan selalu muncul pertanyaan tentang koneksitas antaradiklat sebagai temporary system dengan instansi tempat kerja sebagai permanent system.Diantara keduanya dapat diidentifikasikan paling sedikit dua macam gap. Pertama, gap antarateori dan praktek, yaitu antara materi yang dipelajari dalam diklat dengan peluang aplikasinya ditempat kerja. Faktanya, banyak sekali teori, model, good practices, atau materi-materi yangsangat bagus ternyata hampir seluruhnya tidak dapat dibumikan dan/atau direplikasikan. Kedua,proses pembelajaran yang berlangsung selama diklat diharapkan dapat berlanjut di tempat kerja,namun kenyataannya tidak terjadi. Teorinya, tempat pembelajaran yang hakiki adalahpembelajaran di tempat kerja. Namun yang lebih sering terjadi, pembelajaran berhenti bersamadengan selesainya program diklat. Peningkatan kompetensi kognitif yang diperoleh tidak lebihhanya sekedar “oleh-oleh” dari pada sebuah modal intelektual untuk pembenahan organisasi.Filosofi dasar diklat sendiri diselenggarakan untuk menutup celah kompetensi seseorang agarlebih efektif dan produktif dalam menjalankan tugas jabatannya. Dalam hal ini, desain diklatsecara umum sudah sangat bagus untuk membangun kompetensi peserta, sekaligus membantupeserta untuk melakukan diagnosa permasalahan, pengembangan alternatif solusi, hinggapengambilan keputusan yang terbaik lengkap dengan instrumennya. Sebagai contoh, diDiklatpim II ini kami belajar bagaimana mengidentifikasi 7 ketidakmampuan belajar (learningdisabilities), yang dengan mudah dan cepat bisa kami temukan. Ketika kita sudah tahu letakketidakmampuan belajar kita, maka dengan relatif mudah juga akan dapat dirumuskan strategiuntuk meminimalisasi, sehingga roda organisasi akan berjalan lebih mulus dan lancar. Namun,belum menjadi kelaziman untuk menyebarkan istrumen yang sama ke seluruh pegawai untukmengetahui ketidakmampuan belajar dan cara mengatasinya.Demikian pula saat kami belajar tentang gaya belajar (learning style inventory), kami menjadipaham bahwa empat gaya belajar yang ada yaitu Diverger, Assimilator, Konverger, danAkomodator memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing. Sebuah organisasi akanmemiliki peluang untuk belajar lebih cepat jika dalam organisasi tersebut terdapat pegawaidengan gaya belajar yang beragam. Dengan keragaman tadi, maka seseorang yang mempunyaigaya belajar diverger akan mampu mengisi kekurangan orang dengan gaya assimilator. Gayaassimilator selanjutnya akan menutupi kekurangan orang dengan gaya konverger. Padagilirannya, gaya konverger akan dapat menyempurnakan orang dengan gaya akomodator, danbegitu seterusnya membentuk sebuah siklus yang dinamis dan saling memperkuat (reinforcing).Sayangnya, meskipun sudah terlalu banyak orang mengetahui ilmu ini, toh tetap saja belumpernah dipraktekkan dalam dunia kerja.Oleh karena itu, jika ternyata kompetensi yang diperoleh selama diklat tidak dapat diaplikasikandi tempat kerja, maka sesungguhnya telah sia-sialah seluruh waktu, tenaga dan biaya yangdikeluarkan untuk terselenggaranya diklat tersebut. Kecenderungan diskoneksitas dan Page | 16
  • 24. diskontinuitas antara keduanya telah menjadi keprihatian yang meluas dikalangan birokrasi.Pertanyaan retoris yang sering kita dengar, misalnya, mengapa sikap perilaku dan kinerjaseseorang tidak berubah setelah ikut diklat?; mengapa masih banyak penyimpangan meskiprogram diklat semakin massive?; mengapa pembelajaran seorang alumni diklat tidaktertransformasikan kepada kolega dan bawahannya?; dan sebagainya.Berbagai pertanyaan tadi mengantarkan kita pada pertanyaan fundamental, yakni mengapapembelajaran pada temporary system tidak dapat atau sedikit sekali diterapkan pada permanentsystem? Sub-sistem apa yang berkontribusi terhadap kegagalan tersebut?Terus terang, saya juga tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut. Namun terdorong olehhasrat untuk menguak misteri yang ada, saya mencoba melakukan kontemplasi mendalam danmenemukan dugaan-dugaan sebagai berikut. Pertama, diklat tidak mampu menutup gapkompetensi karena memang gap antara kemampuan individu pegawai (individual level) denganstandar kompetensi jabatan, dan gap antara SDM organisasi (institutional level) dengankemampuan untuk mewujudkan visi-misi organisasi, tidak pernah teridentifikasikan sebelumnya.Bagaimana akan menutup gap atau celah, jika lobangnya sendiri belum ditemukan? Kedua,siklus diklat sering terputus oleh “ritual” penutupan, dan tidak dilanjutkan dengan sebuahevaluasi yang mendalam dan menyeluruh. Kalaupun ada, evaluasi lebih banyak menyentuhaspek “persepsi” yang tidak terukur, atau tidak diperkuat oleh parameter untuk mengetahuikorelasi / pengaruh langsung diklat terhadap kinerja alumni. Dalam perspektif systems thinking,gap tersebut muncul karena pendekatan diklat sendiri yang kurang sistemik, holistik, danintegratif komprehensif.Maka, agar terjadi koneksitas dan kontinuitas antara temporary system dengan permanentsystem, perlu diciptakan “jembatan” antar keduanya. Salah satu instrumen yang dapatdifungsikan sebagai jembatan, menurut saya, adalah kontrak pembelajaran (learning contract)yang pada hakekatnya adalah sebuah Perencanaan Kinerja (Renja) diklat. Artinya, peserta harusbisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar sebelum masuk kedalam program Diklat, misalnya:mengapa saya (harus) ikut diklat?; pada level mana kompetensi saya saat ini?; apa yang akanatau harus saya pelajari / kuasai dari diklat tersebut?; manfaat apa yang harus saya perolehdari diklat tersebut?; kompetensi baru apa yang harus saya raih, dan pada level manaseharusnya kompetensi diri saya meningkat?; bagaimana menerapkan manfaat yang diperolehdari diklat tersebut, dan bagaimana bentuk penerapannya?, dan sebagainya. Dengan demikian,peserta tidak hanya sekedar “faktor produksi” yang akan diproses atau diolah dalam rangkaiandiklat, namun mereka juga sebagai designer atau programmer yang harus menjadikan diklatsebagai sarana (tools) untuk mencapai tujuannya (tujuan Individu – Kelompok – Organisasi).Selain itu, sekuensi diklat sebaiknya tidak seperti sekarang, dengan komposisi pokok berupaproses pembelajaran (class learning) – orientasi/studi lapangan – seminar, namun diubahmenjadi class learning (conceptualization) – modelling (constructualization) – uji coba(piloting). Sekuensi baru tersebut mensyaratkan sebuah Diklat tidak dilaksanakan secara “sekalidan selesai (einmalig)”, namun dibagi menjadi tiga kategori strategi / kompetensi, kemudiandisebar penyelenggaraannya dalam kurun waktu tertentu. Tiga tahap ini sifatnya siklis menjaditiga tahap, sehingga semuanya terdiri dari sembilan tahap. Sebagai contoh, jika sebuah Diklatdurasinya 3 bulan, maka 1 bulan pertama harus selesai dengan 3 putaran tersebut. Break 2 bulan Page | 17
  • 25. untuk evaluasi dan penyempurnaan hasil piloting, dirumuskan menjadi learning contract untuk 1bulan ke-2. Setelah selesai, break lagi 2 bulan, susun lagi learning contract, terus masuk masa 1bulan ke-3. Dengan demikian, dari konsep 1, konstruk 1, piloting 1, dilanjut hingga konsep 3,konstruk 3, piloting 3, akan menjadi hasil yang benar-benar matang dan siap diimplementasikandi tempat kerja.Jika gagasan ini dapat diterima dan dikembangkan, maka diharapkan akan terjadi transformasidiklat dari peran tradisionalnya sebagai pengungkit (leverage) perubahan, kepada peran barusebagai faktor utama (condition sine qua non) perubahan organisasi. Satu hal lagi, sebuahevaluasi pasca diklat yang menyeluruh menjadi keniscayaan untuk menilai sejauhmana terjadigap secara faktual antara temporary system dengan permanent system, untuk kemudianmenentukan cara yang tepat untuk menekan gap tersebut.Kampus Pejompongan JakartaKamis, 23 Juni 2011 Page | 18
  • 26. Jurnal #9 “Jurnal Harian, Tradisi Seorang Cendekia”Ada sebuah tradisi baru yang saya lakukan selama mengikuti Diklatpim II, yakni menulis JurnalBelajar Pribadi, atau lebih dikenal dengan sebutan jurnal harian. Menurut Modul 1.A-1 (hal. 52),jurnal harian adalah suatu proses/teknik memperdalam kesadaran diri sendiri ke alur proseskehidupan kita secara total, atau sebuah proses belajar untuk mengerti diri sendiri dengan cara-cara baru. Jurnal harian juga sebuah refleksi dari dalam diri kita, yang dapat memberi stimulusatau dorongan untuk mencari banyak hal dari dunia luar. Adapun isi jurnal dapat berupa kejadianatau peristiwa tertentu yang menarik perhatian kita, kesan terhadap peristiwa tersebut,pembelajaran dan manfaat yang mungkin ditarik dari kejadian yang dialami.Dengan demikian, sumber utama jurnal adalah pengalaman pribadi yang diendapkan. Dari hasilpengendapan ini kemudian dilakukan refleksi, mengapa suatu peristiwa/fenomena yang dialamitadi terjadi, apa hikmah atau lesson learned dari peristiwa/fenomena tadi, serta siapa danbagaimana memanfaatkan pelajaran yang berhasil diambil. Dengan kata lain, proses refleksiyang mendalam akan menghasilkan konsepsi penulis jurnal terhadap peristiwa/fenomena yangdialaminya. Selanjutnya, untuk mematangkan konsepsi yang sudah terkonstruksi, kadang kalaperlu adanya sebuah proses pengujian konstruksi melalui sharing pengalaman, silang refleksi,atau pengayaan konsepsi dengan jurnal yang ditulis orang lain. Proses dinamis dari pengamatanatas peristiwa, yang membentuk pengalaman, lantas direfleksikan dan membentuk konsepsi,untuk kemudian diuji ini sesungguhnya adalah sebuah siklus pembelajaran (the wheel oflearning). Dengan roda pembelajaran seperti ini, tidak aneh jika menulis jurnal harian padahakekatnya adalah pembelajaran yang paling efektif.Bagi diri saya pribadi, saya sangat bersyukur dengan adanya kewajiban menulis jurnal harian.Saya merasakan banyak sekali manfaat dari menulis jurnal. Pertama, jurnal adalah sarana untukmengikat ide-ide kita tentang sesuatu untuk kemudian mengembangkannya. Betapa seringterpetik inspirasi dalam benak kita yang datang secara mendadak. Inspirasi seperti ini, biasanyabersifat sekejap, namun memiliki kadar originalitas tinggi. Jika ide seperti itu tiba-tiba lenyap,betapa ruginya kita hanya karena kita malas menuliskannya dalam catatan kecil harian. Kedua,jurnal adalah sarana pembelajaran yang sesungguhnya bagi seseorang, terutama peserta diklat.Fungsi jurnal ini bukan sekedar menampung bahasa lisan (talking) yang direkam dalam tulisan,namun juga bahasa pikiran (thinking), bahasa tubuh (being), bahasa emosi (feeling), serta bahasatindakan (behaving). Maka, tidak aneh jika jurnal merupakan satu-satunya produk pembelajarandalam diklat aparatur yang paling subyektif, namun paling jujur. Lebih hebat lagi, jurnal bukansekedar media komunikasi antara penulis dengan pihak diluar dirinya, lebih-lebih ia adalahcermin sekaligus sparring partner bagi dirinya sendiri.Saya sudah merasakan betul manfaat menulis jurnal. Ketika belajar soal proses pembelajaran(learn, unlearn, relearn), saya langsung bisa mengkaitkannya dengan kebijakan desentralisasi(lihat Jurnal #3: Desentralisasi dalam Kacamata Learning Organization). Atau, ketika belajartentang hukum disiplin kelima, tiba-tiba saya mendapat inspirasi untuk mengaplikasikan dalam Page | 19
  • 27. kasus nyata di lapangan (baca Jurnal #4: Sudah Belajarkah Pemerintahan Kita?). Terlalu banyakkonsep yang saya peroleh selama diklat dan sangat bermanfaat untuk menganalisis peristiwa dipermanent system, namun sayang tidak semuanya mampu saya tuangkan dalam jurnal harian.Andai saja agenda diklat tidak tersita oleh diskusi-diskusi kelompok yang memakan waktuhingga larut malam – bahkan menjelang subuh – tentu produktivitas menulis jurnal akan dapatberlipat.Saking berkesannya saya terhadap penulisan jurnal, saya sampai membayangkan alangkahbagusnya jika penulisan jurnal dijadikan sebagai kurikulum wajib dalam seluruh jenis diklataparatur. Sudah waktunya penulisan jurnal ini menjadi mata diklat yang mandiri, bukan sekedarpenugasan tambahan yang tidak memiliki angka kredit memadai. Jurnal dan pena bagi seorangcendekia, ibarat busur dan anak panah bagi seorang pemburu, laksana syair dan melodi bagiseorang penyanyi, bagaikan kanvas dan guratan bagi seorang maestro. Itulah media aktualisasidiri mereka. Cendekia tanpa jurnal, pemburu tanpa busur, penyanyi tanpa syair, atau maestrotanpa kanvas, adalah bukan siapa-siapa. Jurnal, busur, syair, dan kanvas, akan mengubah sesuatuyang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang penuh harga diri dan kehormatan. Maka, diklattanpa jurnal atau cendekia tanpa jurnal-pun rasanya menjadi gersang seperti pohon tanpadedaunan, hambar seperti canda tanpa tawa, serta hampa seperti berjalan tanpa tujuan …Terima kasih Diklatpim II yang telah memperkenalkan saya dengan jurnal harian, sertamengantarkan saya pada kesadaran baru untuk menjadi pribadi pembelajar yang lebih baikmelalui penulisan jurnal harian.Kampus Pejompongan JakartaJum’at, 24 Juni 2011 Page | 20
  • 28. Jurnal #10 “Reformasi Birokrasi, Keadilan, dan Tragedy of the Commons”Dalam ceramahnya tentang konsep keadilan, Yudi Latif sempat menyinggung soal remunerasiyang diterima oleh kementerian tertentu. Beliau mengajukan pertanyaan retoris: apakah hanyakarena mengurusi anggaran lantas kementerian tertentu berhak mendapat remunerasi jauh lebihbesar dibanding pegawai kementerian/lembaga lain? Seketika, pernyataan tadi disambut dengantepuk tangan riuh oleh peserta. Saya jadi teringat, pada ceramah perdana tentang reformasibirokrasi yang disampaikan Kepala LAN setelah pembukaan Diklatpim II, seorang pesertamenanyakan tentang dasar logika yang digunakan pada kebijakan pemberian remunerasi kepadakementerian tertentu.Ada dua nuansa yang yang dapat ditangkap dari dua peristiwa diatas. Pertama, terdapat kesanadanya kebijakan yang diskriminatif dan menciderai rasa keadilan masyarakat banyak. Alasandan logika apapun terlalu sulit untuk diterima dengan akal sehat, mengapa orang yang bekerja dikementerian yang menangani keuangan memiliki penghasilan 5 hingga 6 kali lipat dibandingmereka yang bekerja di kementerian/lembaga lain, padahal mereka sama-sama mengabdi kepadarepublik dengan level jabatan yang sama, beban kerja yang sama, masa kerja yang sama, ataupunpangkat yang sama? Diskriminasi kebijakan seperti ini dapat diobservasi secara kasat mata tanpamemerlukan metodologi maupun pembuktian ilmiah apapun. Bahkan dari perspektif hukum, halini dapat pula dimaknai sebagai upaya memperkaya atau menguntungkan diri-sendiri. Tidak anehjika kemudian banyak berkembang sinisme bahwa birokrasi di Indonesia sudah menganut pahamkastanisasi. Dalam konteks kebijakan yang berkeadilan, secara langsung maupun tidak langsung,praktek seperti ini adalah bentuk pengingkaran terhadap Sila kelima Pancasila, yakni “KeadilanSosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.Kedua, kentara sekali nuansa “cemburu” yang terpancar dari sikap para peserta setiap kali issuremunerasi diungkap. Namun, “kecemburuan” ini sebenarnya sangat logis dan beralasan.Bukankah orang yang bekerja di lembaga yang mengurusi soal kepegawaian juga tidak mendapatperlakuan istimewa di bidang kepegawaian? Bukankah orang yang bekerja menangani urusanasset (mobil, rumah dinas, komputer, dll) juga tidak memperoleh privilege untuk menggunakanasset tersebut? Jika asumsi yang digunakan adalah bahwa pemberian remunerasi dimaksudkanuntuk menekan tingkat korupsi dan penyelewengan di kementerian tertentu, bukankah itu adalahasumsi yang sesat dan misleading? Korupsi dan penyelewengan hanya tepat diganjar denganhukuman, bukan malah dianugerahi dengan remunerasi. Semestinya, remunerasi adalah bentukpenghargaan terhadap individu atau lembaga yang mampu bekerja dengan penuh integritas dandibuktikan dengan kinerja optimal. Faktanya sekarang, kementerian yang telah mendapatremunerasi tetap saja gagal memberantas praktek-praktek koruptif di lingkungannya.Secara kebetulan, beberapa hari yang lalu ada berita di media cetak bahwa beban APBN sudahsangat berat untuk membayar gaji pegawai. Bisa dibayangkan, jika kementerian/lembaga yanglain menuntut diberikan remunerasi yang sama seperti kementerian yang telah menerimasebelumnya, apakah tidak menyebabkan kebangkrutan total bagi negara? Namun jika Page | 21
  • 29. kementerian/lembaga lain tidak diberikan hak yang sama sehingga menimbulkan kecemburuanserta kegelisahan yang semakin menumpuk, bukankah sama artinya dengan menyimpan bomwaktu yang dapat meledak kapan saja tanpa dapat diprediksi? Dengan demikian, pemberianremunerasi secara merata kepada seluruh kementerian/lembaga, atau hanya memberikankeistimewaan bagi kementerian yang menangani urusan keuangan, sama-sama menyimpanpotensi bahaya yang sangat besar.Nah, ketika kami belajar tentang diagram pola dasar sistem (archetype diagram) sebagai pirantisystems thinking, ada satu pola dasar yang nampaknya sangat tepat untuk menganalisis kasusreformasi birokrasi ini, yakni archetype tragedi bersama (tragedy of the commons). Archetype inimenggambarkan bahwa banyak individu (baik dalam pengertian orang maupun lembaga) yangmemanfaatkan sumber daya milik bersama untuk keperluan pribadi tanpa memperhitungkandampak dan kepentingan bersama yang berpengaruh pada kegiatan semua pihak. Pada keadaantertentu, kegiatan perorangan itu melampaui batas dan menguras hampir seluruh sumberdaya(Modul 1.A-2 hal. 155-156).Normalnya, archetype tragedi bersama sering diterapkan pada kasus-kasus eksploitasi sumberdaya alam secara ekstraktif. Namun dalam kasus reformasi birokrasi-pun, ternyata archetype inicukup tepat dan akurat. Reformasi birokrasi yang berimplikasi pada pembayaran remunerasiakan menjadi beban yang makin lama makin besar terhadap APBN. Ada dua skenario yangmungkin terjadi. Pertama, apabila sumber-sumber pendapatan baru tidak sebanding dengantuntutan pembayaran remunerasi yang semakin banyak dari berbagai kementerian/lembaga yangbelum menerima, maka beban APBN akan semakin besar lagi. Jika beban ini terus membesar,maka akan ada mata anggaran yang dikorbankan untuk menutup beban pembayaran remunerasi.Jika semakin banyak mata anggaran yang dikorbankan, maka kepentingan publik yang lebih luasakan menjadi “tumbal” reformasi birokrasi. Kedua, apabila kementerian/lembaga selain yangmenangani keuangan tidak diberikan remunerasi guna meminimalisir tekanan terhadap APBN,maka akan muncul kecemburuan, kegelisahan, dan perasaan diperlakukan tidak adil. Jikaperasaan ini terus terakumulasi, maka akan menurunkan semangat kerja dan kinerjanya. Jikakinerja turun, maka yang paling dirugikan adalah rakyat banyak yang semestinya dilayanidengan optimal berdasarkan prinsip “anggaran untuk rakyat”.Dengan demikian, reformasi birokrasi yang berujung remunerasi sebaiknya dihentikan.Kebijakan pemberian remunerasi kepada kementerian yang menangani urusan keuangan harusdihentikan pula secepat mungkin sebelum menimbulkan ekses bola salju yang lebih besar.Namun program reformasi tetap perlu dilanjutkan tanpa harus dikaitkan dengan iming-iminguntuk mendapatkan remunerasi. Remunerasi dapat dipikirkan kemudian ketika reformasi telahmenunjukkan hasil berupa efisiensi anggaran yang signifikan. Atas dasar efisiensi itulah,remunerasi baru dapat dikalkulasi. Jadi jelaslah bahwa remunerasi sesungguhnya hanyalah byproduct dari proses reformasi, bukan tujuan utama.Kampus Pejompongan JakartaSabtu, 25 Juni 2011 Page | 22
  • 30. Jurnal #11 “Pengelolaan SDA dan Limits to Growth”Meski baru memasuki minggu ketiga Diklatpim II, saya berani merekomendasikan agar semuapolicy makers di Indonesia belajar systems thinking. Dengan memahami piranti-piranti yang adapada systems thinking, akan dapat dihindari kesalahan sedini mungkin. Salah satu piranti yangsangat mujarab untuk membuat pemodelan tentang efektivitas kebijakan adalah archetype batas-batas pertumbuhan (limits to growth). Archetype ini menyediakan suatu gambaran bahwa padamulanya sebuah usaha yang dilakukan menghasilkan suatu pertumbuhan. Upaya selanjutnyamendorong pertumbuhan itu lebih baik. Beberapa waktu kemudian, keberhasilan usaha itumencapai batas maksimal, dan setelah beberapa lama akhirnya membawa usaha tersebut padaproses penurunan (Modul 1.A-2 hal. 131).Contoh konkrit adalah usaha pengelolaan kayu (baca: penebangan hutan), penambangan batubara, atau eksplorasi minyak bumi. Pada masa-masa awal operasi, usaha tersebut memberikankeuntungan yang berlimpah karena memang kapasitas daya dukung (carrying capacity) alamyang masih tinggi. Namun, satu hal yang seringkali dilupakan oleh manusia adalah bahwa alamdan seisinya semakin lama semakin berkurang daya dukungnya, sehingga eksploitasi lingkunganyang didasarkan pada kepentingan ekonomis semata, pada suatu ketika akan menyebabkantergangunya keseimbangan ekologis. Dan apabila kekuatan ekologis ini telah sedemikianmelemah, maka kesejahteraan yang dicapai manusia menjadi tidak bermakna. Sebab,kesejahteraan tadi harus dibayar dengan recovery cost untuk memulihkan dan menjagakelestarian lingkungan – dan bahkan social cost yang sulit dihitung tingkat kerugiannya.Dalam hal ini terjadi hubungan terbalik antara kebutuhan manusia dengan sumber daya alamatau lingkungan. Artinya, semakin banyak dan bervariasi kebutuhan manusia, maka kemampuanalam untuk menyediakannya semakin terbatas. Pada saat bersamaan, terjadi hubungan tegaklurus antara kebutuhan manusia dengan pencemaran, dimana semakin banyak dan bervariasikebutuhan manusia yang dipenuhi lewat usaha industri, maka tingkat pencemaran lingkungandapat dipastikan semakin tinggi pula. Dan jika trend tersebut berlangsung terus-menerus, padasuatu saat akan terjadi suatu keadaan dimana pertumbuhan ekonomi tidak dapat ditingkatkanlagi, sementara kemampuan dan kualitas lingkungan sulit untuk diperbaiki kembali. Inilah yangdisebut dengan the limits to growth yang diperkenalkan oleh Meadows (dalam Berry, et.al.,1993).Meadows membuat sebuah prediksi untuk kurun waktu 200 tahun (1900-2100) yangmenggambarkan bahwa pada masa-masa awal, kondisi kependudukan, orde kebutuhan manusiaserta aktivitas ekonomi dan industri masih relatif rendah, sementara kondisi lingkungan beradadipuncak ketangguhannya. Namun seiring dengan penambahan jumlah penduduk, dan tingkatpolusi yang melekat pada ekspansi kegiatan industri, maka kualitas dan daya dukung (carryingcapacity) lingkungan menjadi sedemikian merosot, hingga pada akhirnya keseimbangan menjadigoyah dan kurva sumber daya alam menjadi sangat merosot, bahkan sama sekali tidak mampulagi mendukung aktivitas kemanusiaan. Page | 23
  • 31. Jika penurunan daya dukung lingkungan sudah dapat diproyeksi, maka kebijakan publik yangakan dirumuskan dapat diarahkan untuk mencapai dua kondisi, apakah untuk menghentikankebijakan sebelumnya yang telah mengakibatkan penurunan daya saing lingkungan, ataukanuntuk pemulihan dan reklamasi lingkungan. Jika ternyata kebijakan masih saja memberikanperijinan usaha untuk mengkeksploitasi sumber daya alam, hal itu menandakan bahwa policymakers telah gagal total dalam berpikir serba sistem (systems thinking). Pada tahap berikutnya,kegagalan berpikir serba sistem akan mengantarkan pada kegagalan kebijakan publik (policyfailures) yang berdampak negatif terhadap masyarakat.Sekali lagi, penguasaan policy makers terhadap disiplin learning organization khususnya disiplinkelimanya yakni systems thinking, dan lebih spesifik lagi pola-pola dasar sistem (archetype),akan sangat bermanfaat dalam memperkokoh kualitas kebijakan publik. Untuk itu, akan sangatideal jika seorang policy makers adalah juga systems thinkers.Kampus Pejompongan JakartaSenin, 27 Juni 2011 Page | 24
  • 32. Jurnal #12 “Quality Control dalam Diklat Aparatur”Meskipun telah lebih 17 tahun bekerja di LAN, namun saya belum pernah mendapat penempatandi bidang diklat, kecuali pada saat orientasi semasa masih berstatus CPNS. Maka, tidaklahmengherankan jika saya juga tidak terlalu paham bagaimana kebijakan, proses, dan instrumenyang digunakan untuk menjamin kualitas diklat. Yang pasti, quality control adalah sesuatu yangmutlak harus ada dalam program diklat, sebab program diklat yang berkualitas akan melahirkaninstitusi penyelenggara yang berwibawa, dan wibawa organisasi akan membentuk citra positiforganisasi (branding) dimata pelanggannya.Dalam salah satu episode Golden Ways, Mario Teguh pernah menyatakan bahwa citra organisasiditentukan oleh keselarasan visi misi seluruh anggotanya. Jika ada perilaku anggota organisasiyang bertolak belakang dengan konsensus yang telah disepakati secara kolektif, maka akanhancurlah citra organisasi itu, ibarat peribahasa “karena nila setitik rusak susu se belanga”.Sehebat apapun Kepolisian RI melakukan reformasi internal, akan sia-sia jika di lapangan masihbanyak dijumpai oknum yang melakukan pungli maupun penilangan yang berujung“perdamaian”. Demikian pula dalam penyelenggaraan diklat, seluruh komponen yang ada didalamnya baik jajaran pembina (pejabat struktural), widyaiswara, pelaksana/panitia diklat,hingga petugas teknis seperti Satpam, haruslah memahami sepenuhnya dan memegang teguhshared vision dan values yang ada.Nah, kuriositas dalam hati saya adalah, bagaimanakah manajemen diklat melakukan kendaliterhadap seluruh komponen yang ada sekaligus menjamin bahwa mereka patuh dan tunduhterhadap sistem nilai yang berlaku? Kuriositas saya semakin menggumpal karena praktek-praktek yang semestinya tidak terjadi, justru terjadi di depan mata saya. Maklumlah karenaposisi saya sebagai peserta diklat yang membaur dan hidup di tengah-tengah peserta lainnya,maka peristiwa yang muncul dan dialami teman-teman peserta tidak luput dari pengamatan saya.Terjadinya distorsi antara sistem nilai dengan praktek misalnya terjadi dalam aturan tentang “jammalam”. Sebagaimana tertuang dalam buku panduan dan penjelasan program, pada jam 22.00pintu gerbang sudah tertutup dan tidak diperkenankan peserta untuk keluar atau masuk kampus.Satpam juga diberi hak untuk menegur peserta jika melanggar ketentuan ini. Namunkenyataannya, cenderung terjadi opportunistic behavior yang mengorbankan sistem, dimanaSatpam sebagai sub-sistem diklat memberi kelonggaran kepada peserta untuk menabrak aturan“jam malam” hanya karena mengharap sesuatu dari peserta.Penyelenggara nampaknya juga mengalami keterbatasan kendali terhadap aturan yang berkenaandengan kehidupan di asrama. Sebagai contoh, jika ada komplain tentang makanan yang kurang,protap (prosedur tetap) seperti apa yang ditempuh oleh penyelenggara, apakah menerimanyasebagai sebuah kebenaran ataukah ada proses check and cross-check untuk mengetahui kondisiriilnya? Demikian pula dalam hal terjadi pelanggaran disiplin seperti menerima tamu dalamkamar, bagaimana penyelenggara mendeteksi kasus ini? Kasus “besar” yang nampaknya juga Page | 25
  • 33. luput dari perhatian penyelenggara adalah kasus seseorang yang tidak masuk kelas sehariannamun daftar hadir lengkap karena diisi oleh temannya. Satu hal lagi, masalah klasik yang selaluterjadi dari tahun ke tahun adalah fakta adanya fenomena ghost writer yang mengerjakan tugas-tugas individu peserta. Meskipun tidak nampak, namun keberadaannya sangat mudah dirasakan.Sayangnya, respon penyelenggara masih kurang proaktif dan cenderung menggunakan prinsip“tutup mata, tutup telinga”. Artinya, penyelenggara sangat mengutuk praktek plagiarisme danpengerjaan tugas oleh orang lain, akan tetapi tidak berbuat secara konkrit untuk memberantas“tuyul-tuyul” yang bergentayangan. Padahal, sebuah institusi akan berwibawa jika aturan yangdibuat dan disepakati dapat ditaati, dihormati, dan ditegakkan manakala terjadi pelanggaran. Jikatidak ada keberanian dan kemampuan untuk menegakkan aturan, lebih baik aturan tersebuttidak diberlakukan sejak awal.Sekedar pemikiran untuk memperkuat fungsi quality control dalam diklat, saya meyakini bahwapendekatan partisipatif merupakan metode yang sangat efektif untuk mengontrol programdiklat A-Z. Maknanya, penyelenggara harus terlibat langsung dalam setiap aktivitas yangdilakukan peserta. Dengan demikian, penyelenggara perlu makan bersama, senam bersama, dantinggal bersama peserta di asrama. Sementara dalam dimensi akademik, keterwakilanpenyelenggara hendaknya selalu ada di setiap kelas.Model partisipatif ini bukan berarti tidak memberikan ruang kebebasan kepada peserta atau tidakmempercayai perilaku harian peserta. Model ini justru dimaksudkan untuk mengurangi gapkomunikasi antara peserta dan penyelenggara melalui hubungan yang cair, membaur, danmenyatu. Dalam hubungan yang cair seperti itu, maka tidak ada lagi kedudukan selaku pesertaatau penyelenggara, namun keduanya sama-sama mengemban misi untuk menjaga diklat agarmenjadi momentum yang menyenangkan dan program yang produktif untuk membangun kinerjaorganisasi.Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 28 Juni 2011 Page | 26
  • 34. Jurnal #13 “Kelelahan yang Mulai Menyergap”Secara jujur harus saya akui bahwa pada akhir minggu ke-3 penyelenggaraan Diklatpim II, rasalelah telah mulai menghinggapi fisik dan pikiran saya. Indikasi kelelahan ini nampak sekali darimenurunnya daya konsentrasi, semakin seringnya menguap terutama pada sessi-sessi ceramahyang kurang atraktif dan provokatif, serta menurunnya minat dan semangat untuk berperansecara optimal dalam setiap aktivitas di kelas maupun di kelompok. Tanpa maksudmenggeneralisasi, saya melihat bahwa kelelahan juga sudah menyambangi peserta yang laindengan ciri-ciri yang sama.Jika melihat proses selama tiga minggu ke belakang, dapat dimaklumi mengapa kelelahan itusudah menjangkiti banyak peserta meski diklat baru berjalan seperempat bagian. Tugas-tugasyang harus diselesaikan begitu banyak dan beragam. Sebelum masuk program, peserta sudahharus menulis kasus administrasi negara. Begitu masuk program, tugas individu maupun tugaskelompok sudah antri panjang menunggu sentuhan peserta. Tugas individu yang harusdituntaskan hingga akhir minggu ketiga dan awal minggu keempat antara lain berupa penulisanjurnal harian, laporan DIT (diskusi issu terpilih), dan pengajuan TOR untuk KTP2 (Karya TulisPrestasi Perseorangan). Adapun tugas kelompok yang harus digarap meliputi DIT 1 s/d 7,integrasi DIT 1 s/d 3, integrasi DIT 4 dan 5, dan pengajuan TOR untuk KKT (Kertas KerjaTema). Total tugas yang harus diselesaikan adalah 16 tugas individual dan 10 tugas kelompok.Itulah sebabnya, pada minggu pertama kami sudah harus kerja marathon hingga larut malam,bahkan menjelang subuh. Ketika kelas selesai jam 16.30, selepas shalat Isya’ kami sudah harusberkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok hingga tengah malam. Setelah kerja kelompokselesai, barulah kami harus memikirkan tugas harian menyusun jurnal.Tugas yang begitu menggunung, tentu memiliki dampak positif untuk pembelajaran kami semua.Akan tetapi ada juga sisi negatifnya, yakni menyedot energi peserta secara sangat cepat. Kurvadiklat semestinya bergerak dari arah kiri bawah ke kanan atas, ibarat mesin diesel yangsemakin panas semakin bertenaga. Namun yang justru terjadi adalah kurva terbalik yangbergerak dari titik kiri atas ke kanan bawah, seperti pemain bola yang semakin lama bermainsemakin terkuras energinya. Fenomena kelelahan diatas mencerminkan secara nyata terjadinyapenurunan daya tahan peserta diklat seiring berjalannya waktu.Dampak terdekat dari kelelahan fisik adalah kelelahan mental. Dan ketika dimensi mental sudahterjangkiti kelelahan, maka akan menghasilkan umpan balik (loop balikan) ke dimensi fisikberupa rasa malas dan hilangnya gairah. Kelelahan mental juga akan memicu berubahnyaidealisme menjadi pragmatisme. Kualitas produk pembelajaran menjadi cenderung terabaikandan tergantikan oleh pemenuhan tugas secara formalitas belaka. Jika hal ini benar-benar terjadi,maka menjadi mudah untuk menjelaskan mengapa selalu hadir fenomena “Tuyul” dalam setiappenyelenggaraan diklat kepemimpinan. Page | 27
  • 35. Syukurlah, di tengah mulai berkeliarannya para tuyul, saya masih sanggup berdamai dengantuyul. Artinya, saya tidak berkolaborasi dengan mereka, namun juga tidak memusuhinya,sehingga saya merasa tidak perlu menggunakan jasa tuyul-tuyul tadi, namun sayapun tidak akanmengganggu usaha mereka, meski saya tahu tuyul itu ada di depan mata saya. Saya pribadipercaya bahwa tidak ada gunanya sama sekali memusihi apalagi memerangi para tuyul,sebagaimana mustahilnya umat manusia memerangi penyakit masyarakat seperti pelacuran,perjudian, dan sebagainya. Baik pelacuran, perjudian, maupun tuyul-tuyul yang bergentayangandi semua lembaga diklat adalah penawaran (supply) dalam konsep ilmu ekonomi, yang selaluhadir sepanjang ada permintaan pasar (demand). Maka, strategi mengeliminasi berbagai penyakittadi tidak akan pernah efektif jika ditempuh pada wilayah supply. Pelarangan, ancaman, atausanksi apapun tidak akan menghasilkan efek jera bagi para penyedia jasanya (supplier, provider).Akan lebih bijaksana jika wilayah supply yang disentuh, dengan gerakan penyadaran bahwa jasa-jasa tadi hanya memberikan efek kesenangan sesaat namun merusak dalam jangka panjang. Danketika jumlah permintaan semakin sedikit, maka penawaran juga makin sedikit, dan secara alamiakan mati pada saatnya.Oleh karena itu, alangkah baiknya jika paradigma diklat aparatur pada umumnya dan DiklatpimII pada khususnya, diubah dari orientasi kuantitas menjadi kualitas. Artinya, lebih baik produkpembelajaran sedikit namun berbobot, dibanding produk pembelajaran yang menumpuk namuntidak bermakna. Konkritnya, saya pribadi menyarankan pemangkasan tugas kelompok menyusun7 laporan DIT plus 2 DIT integrasi, hanya menjadi 3 DIT saja. Pengurangan jumlah produk iniperlu dilakukan tanpa harus mengurangi alokasi waktu pembelajaran, sehingga interaksi diskusidalam kelompok dapat berlangsung lebih lama, tidak lagi dikejar-kejar deadline untuk segeramenghasilkan laporan.Hal ini sekaligus dimaksudkan untuk mencegah merebaknya virus kelelahan yang hanyamenurunkan kualitas dan daya saing diklat.Kampus Pejompongan JakartaKamis, 30 Juni 2011 Page | 28
  • 36. Jurnal #14 “Berharap Akan Sebuah Kesetaraan”“Ketimpangan” adalah sebuah kata yang selalu negatif. Ketimpangan pembangunan antar daerahatau antar sektor, ketimpangan antara hak dan kewajiban, ketimpangan antara mimpi dan realita,atau apapun … ketimpangan selalu tidak mengenakkan. Contoh gampang yang sering kita alami,pengguna jasa penerbangan jika terlambat sedikit saja dapat terancam tidak dapat check-in ataubahkan tertinggal pesawat. Namun penyedia jasa penerbangan seolah boleh terlambat berapalama-pun, sementara penumpang setia menunggu hingga saat boarding tiba. Kasus ketimpanganlain bisa kita lihat misalnya saat mengurus perpanjangan KTP atau Akta Kelahiran. Dalam KTPatau UU Kependudukan diatur bahwa jika kita terlambat mengurusnya maka akan dikenakandenda dalam jumlah tertentu. Namun jika Kecamatan atau Dinas Kependudukan bekerjamelebihi batas waktu yang ditentukan dalam SOP mereka, seolah bukan hal yang aneh dan tidakperlu dikenakan sanksi tertentu.Nah, dalam program diklat-pun hal seperti ini bisa terjadi. Seperti yang saya alami hari ini, hanyagara-gara terlambat 5 menit saya “terpaksa” menerima sanksi absensi di kartu kuning. Padahal,begitu masuk kelas, ternyata proses pembelajaran belum dimulai karena pembicaranya, BudimanSujatmiko, belum hadir. Dia baru hadir 25 menit kemudian, namun toh tidak dianggap sebagaipersoalan besar. Kasus yang lebih parah terjadi minggu sebelumnya ketika kelas sudahmenunggu selama 45 menit, tetapi pembicara yang ditunggu-tunggu, Tomy A. Legowo, tidakkunjung menampakkan batang hidungnya dengan alasan terjebak kemacetan Jakarta. Akhirnya,peserta-lah yang harus menyesuaikan diri dengan pembicara, bukan pembicara yang tidakdisiplin yang dikenakan sanksi.Kasus-kasus ketimpangan diatas menggambarkan adanya asymmetric position antar dua pihakyang berkepentingan. Di satu pihak, penyedia jasa penerbangan, Kecamatan, DinasKependudukan, penyelenggara Diklat, atau pembicara/nara sumber Diklat, berada pada posisidiatas, yang oleh karenanya seolah-olah memiliki hak untuk ditaati dan tidak perlu dikenakansanksi ketika tidak dapat menjalankan kewajibannya. Di pihak lain, pengguna jasa penerbangan,pemohon KTP atau Akta Kelahiran, dan peserta diklat, berada di posisi bawah, yang olehkarenanya harus menjalankan kewajibannya dan secara otomatis akan terkena sanksi manakalagagal memenuhi kewajibannya.Posisi yang tidak simetris dalam hubungan antara service provider dengan costumer (pelanggan),antara aparat pemerintah dengan masyarakat, dan antara penyelenggara/pembicara diklat denganpeserta, sesungguhnya merefleksikan hubungan yang kurang demokratis. Ketimpanganhubungan selalu identik dengan praktek dominasi, monopoli, dan kooptasi satu pihak terhadappihak lainnya. Kalaupun hubungan itu tetap dipertahankan asimetris, semestinya pelanggan,masyarakat, dan peserta diklat-lah yang harus berada diposisi atas. Paradigma “daulat modal”dan “daulat tuanku penguasa” harus diganti secara total dengan “daulat rakyat”. Sebab, sebuahperusahaan akan bangkrut tanpa pelanggan, suatu negara akan bubar tanpa adanya rakyat, danlembaga diklat tidak berarti apa-apa tanpa peserta. Page | 29
  • 37. Sayangnya, jargon “pelanggan adalah raja” hanyalah bohong belaka. Buktinya adalah lahirnyaUU Konsumen untuk melindungi masyarakat dari praktek bisnis yang tidak jarang merugikanpelanggan dibalik dalih-dalih yang melenakan. Demikian pula, jargon “menempatkankepentingan rakyat diatas kepentingan pribadi dan golongan” juga belum sepenuhnya berjalan.Itulah sebabnya, akhir 2009 lalu lahir UU Pelayanan Publik yang bertujuan untuk menjaminkepastian hukum dan pemenuhan hak-hak masyarakat oleh aparat pemerintah. Jika sektor privatdan sektor pemerintah sudah memiliki jargon (terlepas dari soal implementasinya), tidak adasalahnya lembaga diklat juga memiliki jargon untuk pesertanya.Jargon itu jelas bukan sekedar pemanis bibir, namun harus diresapkan dalam seluruh rangkaianperilaku perusahaan, aparat pemerintah, serta lembaga diklat guna menciptakan tata hubunganyang lebih sejajar, egaliter, dan demokratis dengan “konstituen”-nya. Maka, ketika terjadiketerlambatan penerbangan, sudah selayaknya jika pihak maskapai menyediakan kompensasiyang pantas tanpa harus dikalkulasi dengan nilai tiket yang dibeli calon penumpang. Demikianpula ketika pelayanan KTP atau Akta Kelahiran terlambat, sikap ramah dan permohonan maafyang tulus harus disampaikan disertai dengan janji untuk memperbaiki kinerja pelayanannya.Sama halnya dalam soal penyelenggaraan diklat. Ketika manajemen tidak dapat menghindariterjadinya keterlambatan (meski diakibatkan oleh pihak luar, yakni pembicara), tidak padatempatnya peserta harus menerima sanksi karena keterlambatannya.Prinsip kesetaraan seperti inilah yang menurut saya harus dipegang teguh oleh semua pihak yangberhubungan dengan pihak diluar dirinya, sebab prinsip ini berkaitan erat dengan nilai keadilan(justice) dan perlakuan yang adil (fairness) …Kampus Pejompongan JakartaSenin, 4 Juli 2011 Page | 30
  • 38. Jurnal #15 “Tentang Fenomena Ghost Writer”Di jurnal #12 dan #13 saya telah menyinggung soal fenomena “tuyul” atau ghost writer.Kebetulan sekali minggu ini peserta sudah harus mulai menulis TOR KTP-2 (Karya TulisPrestasi Perseorangan), yang didahului oleh penjelasan teknik penulisan lengkap denganetikanya. Dalam sessi penjelasan penulisan KTP-2 tersebut, diingatkan kembali olehpenyelenggara bahwa menggunakan jasa pihak lain dalam penulisan KTP-2 adalah perbuatantidak etis yang dapat dikategorikan sebagai tindakan plagiasi atau plagiarism. Untuk memagarikemungkinan plagiasi tadi, peserta bahkan diharuskan membuat “Pakta Integritas” yang berisipernyataan bahwa KTP-2 yang dihasilkan adalah benar-benar karya pribadinya.Namun, nampaknya himbauan tinggal sebagai himbauan, dan pakta integritas-pun hanya menjadiformalitas belaka. Hingga saat ini belum ditemukan formula yang manjur untuk menghapuskanfenomena ghost writer ini. Penyakit ini rupanya sudah mengakar dalam tradisi pendidikan diIndonesia, sehingga tidak aneh jika jasa pembuatan karya tulis terjadi di seluruh lini pendidikansejak tingkat Sarjana (S1), Master (S2), Doktor (S3), hingga pemenuhan syarat sebagai Profesoratau jabatan fungsional tertentu. Jika di lembaga-lembaga pendidikan formal yang begituterhormat masih dijumpai praktek menyimpang seperti itu, apalagi “hanya” di tingkat pendidikandan pelatihan yang seringkali tidak memberikan civil effect bagi alumninya.Munculnya fenomena ini, selain karena faktor pasar bertemunya permintaan dan penawaran,juga bisa dilihat sebagai sebuah simbiose mutualisme antara pengguna jasa dan penyedia jasa.Disatu pihak, pengguna jasa, yakni peserta diklat, sering dihadapkan pada permasalahan sepertikelelahan, konsentrasi yang terbelah karena masih menjalankan tugas-tugas kantor, keterbatasandalam mengoperasikan komputer (gaptek) khususnya pemakaian aplikasi vensim atau supersim,atau memang kadar inteligensia yang pas-pasan. Untungnya, pihak yang mengalamipermasalahan ini pada umumnya memiliki kemampuan finansial menengah keatas. Pada pihaklain, terdapat sekelompok terpelajar yang memiliki kemampuan akademis cukup tinggi namunbelum memiliki sumber penghasilan yang permanen dan memadai kebutuhan hidupnya. Maka,ibarat botol ketemu tutupnya, atau keris ketemu warangkanya, atau mur ketemu bautnya,terjadilah interaksi dan transaksi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.Yang mengejutkan, tarif jasa intelektual ini lumayan murah, “hanya” berkisar antara 3 hingga 3,5juta untuk seluruh produk individual, mulai dari TOR KTP-2, DIT 3 kajian (paradigma,kebijakan publik, dan manajemen strategis), serta KTP-2 itu sendiri. Tentu, peserta juga akandibantu dalam hal penyiapan slide presentasinya. Dengan harga yang sangat kompetitif ini, orangyang tadinya tidak berminat-pun jadi tergoda untuk memanfaatkan jasa si “hantu penulis”.Godaan akan semakin besar ketika kita tahu bahwa para “hantu” tadi bukanlah orangsembarangan, namun dapat dikatakan professional baik dalam manajemen operasionalnyamaupun SDM pelakunya. Bukti bahwa mereka bukan orang biasa, mereka memiliki kemampuanyang tinggi dalam mengaplikasikan tools dan teknik-teknik analisis manajemen yang diajarkanpada Diklatpim II, padahal mereka tidak pernah mengikuti Diklatpim II sebelumnya. Lebih Page | 31
  • 39. hebatnya lagi, mereka tidak hanya melayani peserta selama berada di kampus, namun jugasetelah kembali ke instansinya masing-masing. Alumni yang karirnya meningkat dan menjadikandidat Sekretaris Daerah, atau balon (bakal calon) Kepala Daerah, biasanya akan kembaliminta bantuan jasa si “hantu” untuk pembuatan kertas kerja yang berisi tentang visi misi calonSekda atau Kepala Daerah.Mencermati peta situasi seperti itu, akan sangat sulit bagi penyelenggara diklat untuk mencegahpeserta agar tidak tergoda oleh ghost writer tersebut. Dari pengamatan sehari-hari di asramamaupun di kelas, saya pribadi memperkirakan bahwa pengguna jasa “illegal” ini mencapai 60persen dari total peserta.Meskipun fenomena ini sangat sulit dibasmi, bukan berarti tidak ada hal yang tidak bisadilakukan. Penyelenggara harus mengindentifikasi secara cermat faktor-faktor pendorongnya,kemudian menentukan strategi yang jitu untuk mengatasinya. Sebagai contoh, jika sejak awalsudah diketahui bahwa seorang peserta memiliki kendala dalam mengoperasikan komputer,maka bisa saja penyelenggara menyediakan jasa resmi pengetikan. Atau, penugasan apapun bagipeserta dengan jenis kesulitan ini tidak perlu diketik, namun cukup dikerjakan dengan tulisantangan. Sementara itu jika peserta mengalami kesulitan dalam memahami materi yang diberikan,maka kepadanya dapat diberikan penugasan lain dengan kadar kesulitan yang lebih rendah, ataudiberikan tambahan waktu untuk make-up, atau dikelompokkan dengan peserta lain yangmemiliki jenis kesulitan yang sama agar menghasilkan produk pembelajaran secara kolektif(tidak dipaksa bekerja secara individual). Intinya, setiap jenis kesulitan yang berbeda harus di-treatment dengan cara yang berbeda pula.Dengan pola penugasan yang didasarkan pada case per case seperti ini, diharapkan para “hantu”yang bergentayangan dapat ditekan secara signifikan. Wallahualam bissawab …Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 5 Juli 2011 Page | 32
  • 40. Jurnal #16 “Mental Model di Minggu Ke-4”Tidak terasa, program Diklatpim II yang kami ikuti sudah berada di ujung minggu ke-4, atauhampir menyelesaikan 1 (satu) kajian, yakni kajian paradigma. Tidak terasa pula, perilakubeberapa peserta mengalami perubahan dan semakin menunjukkan karakter asli dari pesertatersebut.Tipe peserta pertama adalah The Politician (si politikus). Ciri dasarnya adalah seringmemaksakan kehendak dalam menyampaikan pendapat atau pertanyaan. Tanpa menunggudipersilakan oleh moderator, manusia tipe politisi ini langsung memencet mike dan “memaksa”moderator untuk mengakomodir permintaannya. Dia merasa bahwa pendapatnya-lah yang palingpenting, sehingga menjadikan dirinya intoleran terhadap hak yang sama dari peserta lain,sekaligus mengabaikan aspek etika dialog dengan menyerobot wewenang pimpinan rapat.Dengan kata lain, manusia tipe politikus ini kurang memahami esensi dialog, dan lebihmengedepankan debat. Itulah sebabnya, pembahasan di sidang-sidang DPR/DPRD sering tidakefektif, bahkan sering diwarnai dengan percekcokan hingga perkelahian.Tipe kedua adalah The Boss. Manusia tipe ini ingin selalu dipatuhi dan diikuti, dan seringmengklaim bahwa orang yang mengikuti kemauannya sedang memboikotnya. Dengankelakuannya yang bossy, dia sering menggratiskan teman-temannya untuk menunjukkan bahwadia memang seorang “bos”. Manusia tipe ini kurang bisa mengakomodir pemikiran orang laindan menerima perbedaan pendapat. Komunikasi cenderung bersifat searah, karena si “boss”menempatkan dirinya sebagai pusat dari pusaran orang-orang di sekitarnya. Prinsip orang sepertiini adalah: “orang lainlah yang harus menyimak dirinya, bukan dirinya yang perlu mendengarorang lain”. Dikaitkan dengan teori kepemimpinan, orang dengan tipe “boss” ini sesungguhnyalebih mencerminkan diri selaku manajer, dan bukan pemimpin.Tipe ketiga adalah The Common (orang biasa-biasa saja). Ciri-ciri orang yang memiliki tipe iniadalah tidak memiliki ambisi dan visi yang kuat, secara sadar merasa dirinya tidak punyapotensi, melihat orang lain lebih hebar, serta sering berdalih hidup secara “mengalir” padahalesensinya adalah untuk mengelak dari tangungjawab yang lebih besar. Dengan sikapnya yangpasif, manusia tipe ini cenderung tidak mau mengambil peran yang lebih aktif dalam dinamikakelas maupun kelompok. Bahkan untuk dirinya sendiri-pun mereka tidak menunjukkan usahayang gigih, malah memilih melakukan langkah-langkah pragmatisme yang kurang konstruktif.Prinsip yang sering keluar dari manusia tipe ini misalnya: “dari pada pulang gila, lebih baikpulang bodo”, atau “yang penting lulus”. Ungkapan yang lebih miris saya terima langsung darisalah seorang peserta yang menginginkan agar diklat dipercepat, atau kalau perlu dihentikanpada minggu ke-4 ini, dan mereka tidak akan menuntut pengembalian uang kontribusi yangsudah disetorkan. Tanpa disadari, tipe “orang biasa-biasa saja” seperti ini adalah parapenunggang bebas (free riders; istilah Jawa: numpang mulya) dari orang-orag disekitarnya yangbekerja lebih keras dan serius. Page | 33
  • 41. Tipe selanjutnya adalah The Entertainer (penghibur). Dengan mudah dapat diduga, manusia tipeini jauh lebih aktif ketika istirahat dibanding saat forum diskusi di kelas. Saat-saat istirahatadalah waktu emas mereka karena berkesempatan mendemonstrasikan suara emasnya.Tipe kelima adalah The Double Face (si muka ganda). Tipe ini adalah orang yang inginmendapatkan keuntungan sebesar mungkin dengan upaya seminim mungkin. Sebagai contoh,ada orang yang bermimpi menjadi yang terbaik namun menggunakan jasa orang lain untukmenghasilkan produk pembelajaran tertentu. Atau, terjadi beberapa kasus peserta yang mengisidaftar hadir namun tidak berada di kelas. Artinya, dia ingin mendapat nilai kehadiran tanpakehadiran secara fisik.Diluar kelima karakter diatas, boleh jadi masih ada beberapa karakter yang lain. Salah satunyaadalah tipe pembelajar (The Learner) atau tipe idealis. Orang seperti ini berpandangan bahwaditengah-tengah merebaknya pragmatisme, harus tetap ada orang yang mengusung idealism.Ditengah-tengah disfungsi sistemik, keberadaan orang yang jujur dan lurus tetap saja sangatdibutuhkan, meskipun orang tersebut tidak mampu merombak sistem. Meminjam analisisRanggawarsita, meski kita hidup di jaman edan (gila) dan diantara orang-orang edan, tetap sajaorang yang eling lan waspada (berpegang teguh pada kebenaran dan tidak mudah terseret olehgodaan lingkungan) adalah orang yang lebih baik. Maka, prinsip orang bertipe pembelajar iniadalah: “biarlah orang lain … asal saya tidak”, misalnya: “biarlah orang lain memanfaatkanjasa ghost writer, asal saya tidak; biarlah orang memanipulasi daftar hadir, asal saya tidak”,dan seterusnya.Dalam konteks organisasi, perbedaan-perbedaan karakter tersebut adalah fakta yang hampirmustahil dihindarkan. Oleh karena itu, keragaman itu adalah sesuatu yang alamiah dan sepanjangtidak menjurus kearah persaingan yang tidak sehat, mungkin tidak terlalu perlu dirisaukan.Namun pada komunitas pembelajar seperti Diklatpim, tipe pertama hingga kelima rasanyakurang sesuai. Pola dasar masing-masing orang tentu sah-sah saja untuk dilanjutkan, namunhendaknya karakter pembelajar seyogyanya diresapkan dengan baik, sebab lingkungan diklatmemang lingkungan pembelajaran, bukan lingkungan untuk saling menunjukkan egoismejabatan di permanent system si peserta.Saya tidak tahu apakah pada minggu-minggu selanjutnya karakter asli peserta akan semakinmenonjol ataukah kembali ke pola pembelajar. Saya pribadi memiliki hipotesis bahwa gejalaperubahan karakter pada minggu ke-4 ini membuktikan bahwa merubah mind-set benar-benarsebuah proses yang teramat sulit. Empat minggu penggemblengan di kampus ternyata tidakmenghilangkan perilaku lama yang kurang baik, justru mengembalikan pada karakter aslinya.Boleh jadi, karakter-karakter aneh tadi merupakan manifestasi dari kejenuhan yang makinmenggumpal. Namun saya tetap berharap, semoga saja di sisa tujuh minggu berikutnya akansemakin membuat positif mental model dan mind-set peserta.Kampus Pejompongan JakartaRabu, 6 Juli 2011 Page | 34
  • 42. Jurnal #17 Mencoba Mencari Makna dari Kata “Sinergi” dan “Koordinasi”Tema Diklatpim Tingkat II Angkatan XXXI adalah “Akselerasi Sinergi Instansi PemerintahDalam Mewujudkan Pembangunan Berkeadilan”. Munculnya tema ini dilatarbelakangi olehkeprihatinan adanya mis-koordinasi antar instansi dalam menjalankan program pemerintah. Halini diakui sendiri oleh Presiden yang pada Rakernas III tanggal 5 Agustus 2010, menyebutkanadanya permasalahan dalam koordinasi antar institusi pemerintah termasuk antar kementerian.Kelemahan koordinasi ini terjadi dalam tataran horizontal antar kementerian maupun dalamtataran vertikal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, antar pemerintah provinsi, danantara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota.Maka, mengangkat tema sinergi dalam Diklatpim II adalah sebuah keputusan yang sangat tepat.Paling tidak ada dua alasan mengapa keputudsan ini dipandang sangat tepat. Pertama, secaraactual issu sinergi memang sedang menjadi problem bersama di semua lini pemerintahan. Kedua,peserta Dikaltpim II adalah para pejabat yang sedikit banyak bertanggungjawab terhadapberhasil atau gagalnya sinergi antar instansi pemerintah.Dengan mengusung tema sinergi antar instansi tersebut, sesungguhnya program Diklatpim IImengemban misi yang sangat berat. Mengapa demikian? Sebab, para peserta yang dididikselama 11 minggu, pada saat kembali ke instansinya diharapkan menjadi motor-motor penggerakyang melicinkan jalannya roda organisasi, yang memuluskan perencanaan program hinggaimplementasinya, yang membuka sekat-sekat komunikasi antar lembaga yang selama ini mampetatau tersendat, yang menjadi akselerator pencapaian tujuan dan visi organisasi. Menciptakankompetensi tersebut hanya dalam 11 minggu, sesungguhnya adalah sebuah Mission Impossible.Faktanya, sudah puluhan ribuan alumni Diklatpim berbagai jenjang dihasilkan, tetap sajakoordinasi menjadi masalah klasik yang tak kunjung teratasi. “Koordinasi” dan “sinergi” benar-benar menjadi dua kata yang sangat indah dan enak dibicarakan, namun teramat sulit untukdilaksanakan.Jangankan dalam konteks organisasi yang besar seperti kementerian, provinsi, maupunkabupaten/kota, dalam kelompok kecil seperti Kelas Diklatpim II yang terdiri dari 60 orang, ataubahkan kelompok yang terdiri dari 15 orang, koordinasi-pun sangat sulit dicapai. Kesulitan tadimakin membesar ketika tingkat keragaman atau perbedaan dalam kelompok semakin membesar.Kesulitan dalam mencapai kesamaan persepsi antar orang yang memiliki pandangan berbeda –apalagi ekstrem – adalah salah satu contoh. Kesulitan juga dapat timbul saat ada anggotakelompok/organisasi yang tidak peduli dengan kelompok/organisasinya, dan mencoba mencarikeuntungan di tengah berbagai kondisi dan kesempatan. Belum lagi jika ada iklim persainganyang tidak sehat, atau hasrat saling menjatuhkan diantara anggota organisasi, maka koordinasiyang sinergis adalah kemustahilan belaka. Page | 35
  • 43. Ketika kami bekerja dalam kelompok, sejatinya adalah sebuah miniatur dari organisasi riil yanglebih besar. Jika kami gagal menjalin kerjasama dan koordinasi di tingkat kelompok, sudah pastikami-pun akan gagal melakukannya di tingkat yang lebih besar. Namun jika kami berhasilmelakukan koordinasi dengan baik di level kelompok, hal itu belum merupakan jaminan untukkami keberhasilan di level yang lebih tinggi. Dalam situasi seperti itu, yang harus kami lakukanadalah mengidentifikasikan faktor-faktor yang menjadi determinan sukses tidaknya koordinasi.Hasilnya, tentu saja harus kami adopsi ke tingkat permanent system agar persoalan koordinasiselama ini dapat diurai meski tidak secara signifikan.Berdasarkan pencermatan saya dari proses kerja kelompok selama ini, koordinasi akanberkembang positif jika terpenuhi beberapa prasyarat, antara lain: anggota kelompok memilikirasa saling percaya diantara anggota, ada hasrat untuk saling mengisi, didukung kemampuanmengendalikan diri untuk tidak mendominasi, ada kemauan untuk berpartisipasi agar tidakmenjadi free rider bagi kelompok lain, dan selalu berpikiran positif (positive thinking).Dalam alam realita, hampir mustahil kondisi ideal tersebut ditemukan. Selalu saja ada orangyang ingin menonjol namun sebaliknya ada pula yang cenderung introvert. Selain itu, ada sajaorang yang tidak senang orang lain maju sehingga berusaha untuk menjegal di tengah jalan.Namanya hidup dan kehidupan, selalu penuh dengan dinamika hingga intrik yang membuathidup dan kehidupan menjadi tidak monoton dan penuh tantangan. Dalam kondisi seperti itu,maka adanya otoritas yang jelas dan dilaksanakan oleh orang yang kuat, akan menjadi solusiuntuk membangun koordinasi dan sinergi dalam interaksi antar manusia. Jika otoritas tadi tidakkokoh dan tidak dihormati, maka akan cenderung muncul kekuatan-kekuatan tandingan yangmenolak berada dibawah hegemoni kekuatan tertentu. Inilah barangkali yang menjelaskanmengapa pada sistem yang sentralistis, koordinasi dan sinergi justru lebih mudah dijagadibanding pada sistem yang demokratis dan terdesentralisasi. Semakin demokratis sebuah negeri,maka semakin dibutuhkan pemimpin yang kuat. Jika tidak, maka hancurnya sinergi dankoordinasi akan menjadi harga (cost) yang terpaksa harus diterima.Kampus Pejompongan JakartaRabu, 6 Juli 2011 Page | 36
  • 44. Jurnal #18 Kambing Berdasi Lulus Diklatpim?Sebelum mengikuti Diklatpim Tingkat II, saya teramat sering mendengar kritik bahwa Diklatpimtidak bermutu baik dalam proses maupun hasilnya. Saking sinisnya kritik tersebut, sampaimemunculkan ungkapan bahwa “kambing diberi dasi-pun pasti bisa lulus diklatpim”. Jelas, iniungkapan yang sangat keras bahkan lebih tepat disebut sebagai penghinaan. LAN sebagaiinstansi pembina diklat, tentu merasa berkepentingan untuk membuktikan bahwa hal tersebuttidaklah benar.Jika dalam jurnal ini saya membantah anggapan “sesat” tadi, itu bukan karena saya orang LAN,namun karena saya adalah peserta Diklatpim II yang mengetahui secara persis bagaimana modelpembelajaran diberikan. Harus saya akui bahwa untuk dapat mengikuti Diklatpim II secarabenar, tidak hanya dibutuhkan fisik yang kuat, namun juga intelektualitas diatas rata-rata,kesungguhan dan konsentrasi penuh untuk menyerap seluruh materi, ketrampilan untukmentransfer gagasan dan konsep, kemampuan menganalisis masalah, hingga seni memimpinorang lain. Syarat-syarat diatas memang tidak disebutkan sebagai syarat formal untuk bisamengikuti Diklatpim II, namun jika kita tidak memilikinya, maka kita hanya akan menjadipeserta biasa-biasa saja.Saya merasakan betul ketika diberikan materi tentang systems thinking dan disiplin learningorganization lainnya, apalagi dengan perangkat analisisnya berupa causal loop diagram danarchetype, sedikit saja kita kehilangan konsentrasi maka butuh energi ekstra untuk mengejarnya.Saya juga merasakan betapa sulit memimpin diskusi kelompok yang terdiri dari orang-orangyang telah memiliki jabatan cukup tinggi dan tingkat pendidikan relatif tinggi pula. Singkatnya,setiap agenda pembelajaran memberi pengalaman baru dan tantangan yang cukup berat, sehinggamemberi dampak positif terhadap peningkatan knowledge, skill, dan attitude (KSA). Sekecilapapun peningkatan KSA itu, Diklatpim telah berhasil melakukannya tanpa dapat dibantahsiapapun.Memang, boleh jadi ada benarnya bahwa alumni Diklatpim pada umumnya dan Diklatpim IIpada khususnya belum memenuhi kompetensi. Mungkin ada benarnya juga bahwa alumniDiklatpim tidak mampu membawa perubahan signifikan dalam permanent system-nya. Namunhal itu tidak cukup menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa Diklatpim tidak bermutu,sehingga kambing berdasi-pun akan dengan mudah melaluinya. Banyak faktor yangmenyebabkan mengapa kompetensi alumni Diklatpim masih dibawah harapan. Selain karenabelum adanya direktori kompetensi yang semestinya disusun oleh BKN, proses membangunkompetensi dan proses mendorong perubahan bukanlah sebuah produk instan dari program diklatyang hanya berjalan antara 5 hingga 11 minggu.Maka, Diklatpim saja tidaklah memadai, sebagaimana KRA Lemhanas saja tidak akan memadai.Bahkan seseorang yang sudah meraih gelar S3 atau Profesor sekalipun, tidak akan mudahmembuat perubahan dalam organisasinya. Diklat memang penting, namun saya pribadi yakin Page | 37
  • 45. tidak ada satupun teori yang menyatakan bahwa diklat adalah satu-satunya cara untukmendorong perubahan dan membangun kompetensi organisasi. Oleh karena itu, jika ada orangyang masih berpikir bahwa alumni Diklatpim ibarat mobil baru yang baru keluar dari pabriknyadan siap melaju kencang, adalah sebuah ekspektasi yang berlebihan. Harapan yang lebih realistisadalah bahwa mereka (para alumni diklat) memiliki modal cukup untuk melanjutkan prosespembelajaran bersama orang lain dalam lingkungannya. Maknanya, diklat hanyalah pemicu(trigger) atau pengungkit (leverage) untuk terjadinya perubahan yang dicita-citakan, bukanpembuat perubahan itu sendiri.Pertanyaan yang relevan untuk diajukan kemudian adalah: bagaimana membuat penyelenggaraanDiklatpim lebih berdaya guna? Atau, bagaimana menciptakan sistem yang lebih menjamin paraalumni Diklatpim memiliki kemampuan untuk mengakselerasi perubahan di permanent system-nya masing-masing? Secara lebih sederhana, bagaimana melakukan reformasi Diklatpim untukmeyakinkan semua pihak bahwa program ini benar-benar program unggulan dalam mencetakSDM aparatur yang professional?Langkah pertama yang diperlukan, menurut saya, adalah mencari kelemahan mendasar darisistem yang berjalan selama ini, dan pada sistem yang lemah itulah dilakukan perbaikan. Sayasendiri memandang bahwa salah satu kelemahan mendasar adalah intake atau standar kualitascalon peserta yang tidak seragam. Faktanya, ada peserta yang hanya berpendidikan S1, namunada juga yang S3 bahkan Profesor. Ada yang masih berpangkat IV-a, namun ada pula yangsudah mencapai pangkat IV-d. Ada yang masih menjabat Eselon III baru (dibawah 2 tahun), adapula yang sudah menduduki jabatan Eselon II senior (3 tahun atau lebih). Ada yang telahmenghasilkan banyak karya-karya besar (menerbitkan buku, menulis di media massa nasional,memaparkan hasil penelitian di forum internasional, dll), ada pula yang tidak memiliki trackrecord akademik yang memadai. Ada yang sangat terbiasa dengan aktivitas membaca danbrowsing internet, ada yang masih gaptek dengan komputer dan tidak tahu sama sekali apa ituinternet. Secara psikologis saja, kesenjangan tersebut akan menimbulkan rasa minder bagimereka yang kebetulan berada pada situasi yang tidak menguntungkan.Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika dilakukan pemetaan awal terhadap latar belakang peserta(tingkat pendidikan, pengalaman, jenis keterampilan yang dikuasai, prestasi yang diraih, dll)sebelum pemanggilan mereka untuk mengikuti Diklatpim. Penyelenggara harus benar-benarmemiliki info lengkap tentang kelebihan dan kekurangan calon peserta yang akan dipanggil. Daripemetaan awal tadi, kemudian dilakukan klasifikasi peserta, sehingga akan diperoleh tingkatkemampuan peserta yang relatif berimbang, yang ketika masuk dalam program Diklatpimnantinya dapat diharapkan muncul persaingan yang seimbang.Tentu masih banyak konsep reformasi yang bisa digagas. Namun dengan satu jenis perbaikan inisaja menurut saya sudah cukup efektif untuk membuktikan bahwa alumni Diklatpim tidakselayaknya disejajarkan dengan kambing berdasi. Alumni Diklatpim adalah kader-kaderpemimpin terbaik asset nasional yang siap menjadi agen perubahan atau transformer bagipembangunan organisasi publik yang jauh lebih baik. Semoga!Kampus Pejompongan JakartaKamis, 7 Juli 2011 Page | 38
  • 46. Jurnal #19 Ideologi dalam Kebijakan PublikDua hari terakhir ini, Senin (11/7/2011) dan Selasa (12/7/2011), saya mendapat pencerahan luarbiasa dari dua pembicara istimewa yakni Dr. Chusnul Mar’iyah dan Dr. Ichsanuddin Noorsy.Saya sebut luar biasa karena dua alasan. Pertama, keduanya membuat sebuah statement yangbelum pernah saya dengan dan belum pernah saya dapati dari buku manapun. Kedua, pernyataankeduanya sangat mirip dan saling memperkuat, meski topik ceramah mereka sangat berbedaperspektif. Chusnul bicara kebijakan dari perspektif politik, sementara Ichsanuddin melihat dariperspektif ekonomi.Chusnul mengatakan bahwa tidak ada kebijakan yang tidak punya ideologi, sedangkanIchsanuddin mengatakan bahwa ideologi seharusnya mengarahkan kebijakan. Singkatnya,sebuah kebijakan pada hakekatnya adalah anak ideologi, dan seorang policy maker harusmemiliki ideologi yang jelas, yang akan diperjuangkannya melalui instrument kebijakan publik.Jika pemimpin tidak memiliki ideologi, maka kebijakan yang lahir sangat mungkin merupakanproduk tekanan dari kelompok tertentu, atau produk kompromi terhadap transaksi ataupertarungan antar kepentingan. Jika hal seperti itu terjadi, maka hanya segelintir orang yang akanmenikmati kebijakan tadi, sementara mayoritas masyarakat justru harus menanggung beban danbiaya yang mungkin timbul.Sebagai sebuah sistem, kebijakan sendiri terdiri dari minimal empat komponen dasar, yaknipelaku kebijakan, lingkungan kebijakan, kelompok sasaran, serta kebijakan itu sendiri. Interaksiantar aktor kebijakan dengan stakeholder-nya, ditambah dengan dinamika lingkungan kebijakanyang sangat kompleks, membuat perumusan kebijakan menjadi teramat sulit, terutama dalammengakomodir perbedaan pemikiran, aliran, dan preferensi dari berbagai kelompok di tengahmasyarakat. Dalam lingkungan yang sangat dinamis itulah, peran pemerintah/negara semakinpenting untuk menjamin bahwa masyarakat yang apolitis, netral, dan tidak memiliki platformpolitik tertentu, harus tetap dilindungi agar tidak terlindas dan tertindas oleh kepentinganindividu/kelompok tertentu. Kepentingan publik harus diutamakan dari kepentingan privat, dankepentingan nasional harus didahulukan dibanding kepentingan internasional. Dengan kata lain,ideologi yang semestinya diperjuangkan seorang pemimpin adalah keberpihakan kepada rakyatbanyak (pro-people). Pemihakan kepada rakyat sendiri merupakan amanat konstitusi, sehinggadapat dikatakan pula bahwa ideologi yang harus terkandung dalam setiap kebijakan publikadalah ideologi konstitusi.Paham yang menghendaki adanya peran optimal negara/pemerintah untuk menciptakankeseimbangan antara tertib sosial (social order) dengan otonomi individu (personal autonomy)ini sering disebut dengan paham communitarian (Etzioni, 1995). Paham ini biasa dilawankandengan paham libertarian yang menginginkan pemerintah keluar dari aktivitas sosial ekonomidan percaya bahwa mekanisme privat akan memberi hasil yang lebih baik dibanding intervensinegara (Murray, 1997). Page | 39
  • 47. Salah satu ciri untuk mengetahui apakah pemerintah menerapkan paham libertarian ataucommnunitarian adalah dalam hal subsidi. Jika pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM(misalnya), berarti ideologi kerakyatan dan kolektivisme yang dianut. Namun jika terdapatrencana untuk mencabut subsidi dengan dalih menyesuaikan harga pasar, mengurangi barrierterhadap free market economy, menciptakan single price di pasar global, dan sebagainya, makagamblang sekali bahwa paham liberal-lah yang berlaku disini.Di era globalisasi seperti sekarang, nampaknya pemerintah dapat dengan mudah tergelincir kepaham liberal jika tidak memiliki komitmen penuh menjaga konstitusi dan melayani rakyat.Pemerintah sangat mungkin terseret oleh arus permainan dari kekuatan-kekuatan global danmelupakan peran dasarnya selaku pelindung rakyat. Pemerintah adalah wasit yang harusmenciptakan sistem pasar yang adil (fair) dan berkeadilan (just), dan harus menahan diri untuktidak turut bermain.Pelajaran yang sangat penting pernah ditunjukkan oleh Presiden China, Hu Jintao, tentangbagaimana seharusnya seorang pemimpin memegang teguh komitmen nasionalismenya. Padatanggal 13/4/2010 di depan Presiden Obama, Ia menyatakan: “soal nilai tukar RMB, tidak adasatu negara-pun bisa menekan dan campur tangan”. Mampukah para pemimpin Indonesiamengatakan “tidak” terhadap intervensi asing, kontrak karya yang menguntungkan asing, ataukerjasama yang berat sebelah? Jika ideologi kerakyatannya kuat, maka jawabannya “pasti bisa”!Semoga para pemimpin bangsa ini semakin menyadari bahwa nasib jutaan rakyat Indonesiasangat tergantung dari cara mereka berpikir dan bersikap pada saat merumuskan kebijakan, dansemoga pula mereka menempatkan amanat konstitusi dan kepentingan rakyat diatas segala-galanya. Bagi saya pribadi, pemahaman baru tentang adanya ideologi dibalik sebuah kebijakanini memberikan inspirasi dan motivasi yang sangat dahsyat. Konkritnya, jika suatu ketika nantisaya menjadi seorang pemimpin yang memegang fungsi perumusan kebijakan strategis, makaakan saya pastikan bahwa saya telah memiliki ideologi yang benar. Pada saat yang sama, saya-pun harus extra hati-hati dalam merumuskan kebijakan, karena jika kebijakan yang saya ambilternyata merugikan rakyat banyak, itu artinya saya telah berkhianat kepada rakyat dan kepadakonstitusi negara. Melalui jurnal ini, saya akan terus menanamkan dalam kalbu saya bahwakebijakan publik dibuat adalah untuk sebesar-besarnya kemakmuran dan kebahagiaan rakyat(public policy for the sake of people’s welfare and happiness).Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 18 Juli 2011 Page | 40
  • 48. Jurnal #20 Kebenaran Formal vs. Kebenaran MaterialHari ini, Rabu (13/7/2011), saya menerima “surat cinta” dari penyelenggara Diklatpim II. Isinyasungguh diluar dugaan saya dan sempat membuat saya sangat tidak mempercayainya. Surat ituberisi teguran karena ketidakhadiran saya telah mencapai 10 sesi.Sekedar untuk mengklarifikasi isi surat dan mencoba melakukan pembelaan terhadap keyakinansaya, maka saya kemudian menghadap kepada salah seorang pejabat dan menanyakan bagaimanacara perhitungan 10 sesi tersebut? Jika 10 sesi itu mencakup sesi senam pagi, sesi kegiatanmandiri di malam hari, dan ditambah dengan keterlambatan, mungkin saja ada benarnya. Namunpejabat tersebut menjawab bahwa 10 sesi itu dihitung dari sesi pembelajaran saja. Tentu saja,saya merasa keberatan. Saya bukan hanya ingat, namun juga haqqul yaqin, bahwa saya tidaksekalipun kehilangan sesi pembelajaran. Saya pernah 2 atau 3 kali terlambat sekitar 10 menit danmengisi daftar hadir di lembaran warna kuning. Saya juga pernah terlambat 1 jam, pada saat sesipresentasi pembulatan Kajian Paradigma tanggal 8/7/2011. Ini adalah satu-satunya keterlambatansaya yang cukup parah, namun itupun sudah saya informasikan kepada widyaiswara dan adaalasan kuat mengapa saya melakukannya.Perhitungan subyektif saya, tidak satupun sesi yang saya lewatkan, alias zero absence. Lantasmengapa saya diduga mangkir sebanyak 10 sesi? Bisa jadi jawabannya tidak bersifat tunggal,namun banyak faktor yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Salah satunya adalah keteledoransaya yang tidak mengisi daftar hadir meski secara fisik dan faktual saya hadir di kelas.Pergantian pola absensi seiring dengan pergantian jadual juga menyebabkan sedikit kekacauandalam hal waktu dan tempat absensi. Kekhilafan penyelenggara yang tidak mencocokkan antaradaftar hadir diatas kertas dengan kehadiran riil di kelas, juga turut berkontribusi terhadapmunculnya kasus seperti ini.Terus terang, saya sangat terusik dan terganggu dengan surat itu. Sejak awal, saya telah bertekaduntuk menyerap sebanyak mungkin ilmu, nilai tambah, pengalaman, dan kebaikan dari programDiklatpim II yang saya ikuti. Sejujurnya, saya juga sedikit terbebani dengan status saya sebagaisatu-satunya orang LAN yang mengikuti Diklatpim II Angkatan XXXI. Namun hal ini justrumembuat saya semakin termotivasi untuk membuktikan bahwa orang LAN tidak manja dandiperlakukan sama seperti peserta lainnya. Saya ingin membuktikan bahwa orang LAN dapatdijadikan sebagai contoh yang baik, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dalam prosespembelajaran. Salah satu contoh perilaku saya tunjukkan sesaat setelah upacara pembukaan,dimana ada salah seorang penyelenggara yang menawari saya untuk menempati kamar seorangdiri. Tawaran yang sangat simpatik ini harus saya tolak, dan saya lebih memilih membaurdengan peserta lain. Bukti lain dari komitmen bulat saya dalam mengikuti Diklatpim ini adalahhasrat saya untuk dapat menghasilkan produk pembelajaran “plus”. Artinya, sejak awal sudahterpikir dalam benak saya bahwa di ujung program diklat nantinya, saya tidak hanya akanmenyerahkan KTP-2 namun juga sebuah kumpulan tulisan berupa pemikiran tentang strategimereformasi sistem diklat aparatur. Inilah nilai tambah minimal yang ingin saya hasilkan dari Page | 41
  • 49. partisipasi saya di Diklatpim II (Catatan: rencana ini sebenarnya tidak akan saya ungkapsekarang, namun dengan adanya kasus teguran diatas memaksa saya untuk mengemukakanmelalui jurnal ini).Dengan komitmen seperti itu, tidak sedikitpun terbersit niat untuk meninggalkan sesipembelajaran. Bahkan dari nara sumber yang kadang kurang mampu memuaskan dahagaintelektual saya-pun, saya tetap berusaha mengambil pembelajaran sebesar mungkin (baca Jurnal#7).Kembali ke kasus teguran yang saya terima, alasan apapun rasanya tidak akan membawaperubahan. Secara faktual, dalam beberapa lembar absensi tidak terdapat tanda tangan saya, danoleh karena itu patut dianggap saya tidak hadir. Inilah kebenaran formal itu. Meskipun sayabenar-benar hadir di kelas (kebenaran substantif, kebenaran material), tetap saja pendekatanformal yang dijadikan acuan. Singkatnya, kebenaran formal seringkali mengalahkan kebenaranmaterial. Dalam lingkungan yang mementingkan formalitas, nampaknya mereka yang rajin absenatau titip absen namun tidak hadir jauh lebih beruntung dari pada mereka yang terlewat absenmeski nyatanya hadir secara fisik.Dalam kurikulum Diklatpim II, sebenarnya kami banyak diajarkan metode berpikir serba sistem,teknik mengenali gejala di permukaan (symptom) dan membedakannya dengan masalahfundamental, dan juga diajarkan untuk melakukan identifikasi masalah secara mendalam dancermat. Sayangnya, dalam dunia nyata kita sering mengabaikan hal-hal yang sifatnya mendasardan cenderung berfokus pada fenomena diatas permukaan (Iceberg Theory). Dalam kaitan ini,kebenaran formal hanyalah symptom atau fakta kasar yang seringkali tidak merefleksikankebenaran dibaliknya, yakni kebenaran material.Yang lebih menyedihkan, fenomena formalisasi ini terjadi pula dalam permanent systemorganisasi pemerintah. Ilustrasi berikut mungkin dapat memberi gambaran yang lebih gamblang.Dalam kasus pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, misalnya, jika digunakanpendekatan yuridis, maka setiap pertanggungjawaban keuangan yang dapat dibuktikan secaraformal tidak dapat dikatakan telah terjadi potensi korupsi, meskipun secara materiil sangatmungkin telah terjadi tindakan yang merugikan keuangan negara. Demikian pula dalam kasuspenambangan, seorang pengusaha yang telah memiliki ijin dapat seenaknya mengeruk tambangdemi keuntungan pribadinya. Sementara penambang liar dalam skala kecil justru seringditangkap dengan tuduhan merusak lingkungan hanya karena tidak memiliki ijin formal. Padahaljika dianalisis, penyebab kerusakan yang paling parah adalah pengusaha tambang skala besar.Demikian pula dalam dunia hukum dan kebijakan publik di Indonesia, sindrom dan mentalitasmengejar formalitas ini sudah begitu membudaya. Saat ini hukum dan kebijakan publik lebihmenonjolkan nilai-nilai benar – salah, dan kurang mengembangkan nilai-nilai baik – buruk.Pendekatan yuridis formal (wetmatigheid) dengan gampang menderogasi pendekatan etik(rechtmatigheid) yang bersumber dari sistem dan tata nilai. Padahal, suatu tindakan yang benarmenurut hukum atau aturan tertentu, belum tentu baik secara moral dan etis. Nah, apakahselamanya kita akan menjadi bangsa yang mengagungkan formalitas? Jika ya, alangkahmalangnya negeri ini … Page | 42
  • 50. Catatan kecil ini hanyalah sekedar “eksepsi” saya sebagai warga negara yang berhak untukmembela diri dan berhak pula mendapat perlakuan yang sama dimuka hukum. Persoalan apakaheksepsi ini akan didengar atau tidak, bukan lagi urusan saya. Namun akan jauh lebih arif jikasebelum sebuah sanksi (dalam bentuk teguran atau apapun) dilayangkan, pejabat atau institusiyang berwenang menjatuhkan sanksi melakukan klarifikasi terlebih dahulu untuk menghindarisekecil mungkin kesalahan akibat ditetapkannya kebijakan pemberian sanksi tersebut.Wallahu’alam …Kampus Pejompongan JakartaRabu, 13 Juli 2011 Page | 43
  • 51. Jurnal #21 Gaya dan Persaingan Antar WidyaiswaraDalam dunia pendidikan dan pengajaran, sebuah persaingan adalah hal yang lumrah dan bahkandianjurkan. Namun, lazimnya persaingan itu terjadi antar siswa atau peserta diklat, dan kuranglazim jika terjadi diantara para pendidik. Disamping itu, persaingan juga akan menjadi indah jikadilakukan dengan cara-cara sehat dan terhormat.Nah, ada hal baru yang saya temui dan ketahui tentang psikologi widyaiswara. Ternyata, merekatidak sekedar menyampaikan materi, membimbing, atau menjadi mitra pembelajaran bagi pesertaDiklatpim II. Lebih dari itu, mereka juga memiliki “ambisi” untuk menjadi yang terbaikdibanding widyaiswara lainnya, baik dimata peserta maupun penilaian penyelenggara. Dengankata lain, ada persaingan tersembunyi dibalik kekompakan para widyaiswara tersebut. Uniknya,hasrat menjadi yang terbaik tadi dikemas dengan target menjadikan kelompok yang dibimbingagar lebih baik dibanding kelompok bimbingan widyaiswara yang lain. Lebih unik lagi, empatwidyaiswara pembimbing memiliki semangat yang sama untuk menjadi yang terbaik melaluipenampilan terbaik dari kelompok binaannya. Hal ini saya ketahui dari hasil bincang-bincangdengan anggota kelompok yang lain dalam kesempatan informal seperti makan malam, fotocopy, dan lain-lain.Tentu saja, target menjadikan peserta didiknya menjadi yang terbaik adalah sebuah misi yangsangat mulia dari seorang pendidik, asalkan jalan menuju yang terbaik tadi benar-benar ditempuhmelalui proses pembelajaran yang terbaik pula. Namun yang kami alami tidaklah seperti itu.Untuk mewujudkan dirinya sebagai yang terbaik melalui penampilan kelompok yang terbaiktadi, seorang widyaiswara sampai merasa perlu memberikan trik cara menjawab pertanyaankelompok lain, atau memberikan seluruh materi ajarnya di awal-awal pertemuan, atau bahkanturut mengoreksi hasil kerja kelompok meski terhitung koreksi tidak bermakna. Saya sempatterhenyak ketika slide powerpoint kelompok tertentu masih ada footer bertuliskan: “Created by… (nama salah seorang widyaiswara)”. Maknanya jelas, peserta meng-copy file widyaiswara dantinggal mengganti bagian-bagian tertentu sesuai kebutuhan. Seorang teman di kelompok lainjuga mengeluh dengan “intervensi” widyaiswara yang hanya merubah penulisan B4 (misalnya)menjadi B-4. Disisi lain, ada widyaiswara yang mengkritik pertanyaan anggota kelompok lainyang dinilainya tidak tepat. Masih banyak lagi penggalan-penggalan cerita yang menarik dibalikpersaingan terselubung tadi.Singkatnya, peserta diklat pada fase pembelajaran Kajian Kebijakan Publik saat ini merasa agak“bergairah” dibanding pada tahap pembelajaran sebelumnya yakni Kajian Paradigma. Pesertaterlihat sangat enjoy mengikuti irama widyaiswara pembimbingnya masing-masing danmemberikan tepuk tangan setiap kali mereka memuji kelompok sendiri dan merendahkankelompok lain. Jika didalami lebih cermat, yang terjadi bukanlah widyaiswara yangmemanfaatkan peserta untuk membangun citra dirinya, melainkan pesertalah yang mendapatkantontonan dan permainan yang menyegarkan ditengah-tengah himpitan tugas yang makinmenggila. Page | 44
  • 52. Selain aura persaingan tadi, saya melihat peserta agak merasa janggal ketika di akhir presentasiDIT (Diskusi Issu Terpilih), hanya koordinator widyaiswara yang memberikan komentar umumterhadap paparan keempat kelompok, sementara ketiga widyaiswara lainnya tetap duduk dibarisan belakang peserta dan tidak diberikan hak untuk memberi komentar, tanggapan atau saranperbaikan. Kesan yang muncul, sang koordinator memiliki kemampuan lebih dibandingwidyaiswara lainnya dan memanfaatkan posisinya untuk memperkuat diri pada peta persainganyang ada. Saya sendiri langsung mengasosiasikan pemandangan ini dengan cara kerja birokrasiyang sangat menghormati struktur dan jabatan, bukan kompetensi dan profesionalitas. Mestinya,dunia widyaiswara yang notabene adalah jabatan fungsional tidak lagi terjangkiti penyakitbirokrasi, namun faktanya masih saja ada widyaiswara yang bergaya birokrat murni.Situasi seperti ini sangat kontras dibanding gaya yang diperagakan empat widyaiswara pada sessiKajian Paradigma. Kekompakan mereka bukan lagi di permukaan, namun nampaknya lebihmerasuk dalam bentuk penjiwaan profesi. Jikapun diantara merea masih ada persaingan, pesertatidak bisa mendeteksi sekecil apapun. Koordinator widyaiswara waktu itu juga memberikesempatan yang sama kepada seluruh widyaiswara untuk memberi komentar terhadap hasilkerja kelompok binaannya maupun kelompok lainnya. Komentar-komentar mereka juga sangatberimbang, memberi apresiasi terhadap prestasi namun juga memberi koreksi terhadapkekurangan disana-sini. Mereka juga kompak dan saling memperkuat dalam memberi tanggapan,tidak terlihat adanya hasrat saling mengungguli, saling menggurui, atau saling memotong.Dalam upaya transfer of knowledge, mereka cenderung membiarkan peserta untuk melakukansegala upaya dan menggali kreativitasnya masing-masing. Maka, bahan-bahan ajar dalam bentuksoft-files baru mereka berikan di akhir pembelajaran. Meski peserta saat itu merasa seperti tidakdiarahkan sebagaimana mestinya, ternyata cara itu saat ini dirasakan jauh efektif dalammenumbuhkan semangat belajar. Hasilnya-pun ternyata relatif lebih baik dibanding pola yangsaat ini berlangsung, yakni widyaiswara menyediakan template dan peserta tinggalmelengkapinya.Meskipun gaya widyaiswara di Kajian Kebijakan Publik ini sangat kontras dengan widyaiswarasebelumnya, dan meskipun kebanyakan peserta merasakan adanya shock therapy, namunsemuanya kami sikapi sebagai bentuk pembelajaran. Perubahan kelompok, perubahanwidyaiswara, perubahan gaya belajar, perubahan materi, dan berbagai perubahan lainnya, kamiyakini sebagai bentuk latihan yang sangat baik guna mempersiapkan diri kembali ke permanentsystem nantinya. Seringkali, kita justru akan dapat banyak mengambil kebaikan dari situasidimana kita tidak menginginkannya. Yang terpenting adalah mental model kita yang harus siapmenghadapi perubahan, apapun bentuknya, dan seberapa pun tinggi intensitasnya. Denganmental model yang baik, jangankan sebuah kebaikan, suatu kondisi yang tidak diharapkanpunakan selalu menjelma menjadi peluang meraih kebaikan. Inilah esensi seorang pembelajar,sekaligus tantangan seorang pemimpin …Kampus Pejompongan JakartaKamis, 14 Juli 2011 Page | 45
  • 53. Jurnal #22 Aplikasi Teknologi Untuk Diklat, Why Not?Hari Jum’at adalah salah satu hari paling krusial dalam program Diklatpim II. Hal inidikarenakan hari Sabtu adalah waktu untuk kerja mandiri, sementara Minggu adalah hari liburresmi. Maka, wajar jika selalu banyak peserta yang ijin (resmi maupun tidak) pada hari Jum’at,khususnya pada sesi ke-2 (14.00-16.30). Seperti yang terjadi pada hari ini, dari 15 anggotakelompok yang ada, 6 peserta tidak hadir. Beberapa diantaranya mengajukan ijin resmi yangditandatangani penyelenggara. Namun beberapa yang lain sempat mengisi daftar hadir kemudianijin melalui widyaiswara. Yang lebih parah, ada yang memang tidak hadir sejak awal namunmenitip daftar hadir melalui temannya. Kondisi serupa nampaknya juga terjadi di kelompoklainnya.Saya tidak tahu pasti apakah kondisi demikian dimonitor oleh penyelenggara. Jika saja adaperangkat teknologi pendukung, tentu saja akan sangat membantu dan memudahkan tugaspenyelenggara. Maksud saya, sudah saatnya di setiap ruang kelas dipasang kamera CCTV untukmerekam aktivitas kelas sekaligus untuk memberi efek kedisiplinan kepada peserta danwidyaiswara. Dengan remote sensing seperti ini, penyelenggara tidak perlu memonitor kelassecara door to door dan dapat memperoleh data yang obyektif. Perilaku dan tingkat keaktifanpeserta bahkan bisa dipantau langsung oleh penyelenggara. Dengan demikian, perangkatteknologi sederhana seperti ini dapat meningkatkan efektivitas program diklat secarakeseluruhan.Perangkat teknologi yang juga wajib tersedia dalam program diklat adalah jaringan internet, baikwireless maupun local area network. Dalam penyusunan berbagai kertas kerja seperti KTP-2,KKT, maupun DIT, widyaiswara sering meminta agar peserta mengembangkan substansi danteori seoptimal mungkin. Untuk memenuhi tuntutan seperti itu, kebutuhan browsing menjadisebuah keniscayaan. Sayang sekali, penyelenggara belum menyediakan fasilitas akses internet.Padahal, jika saja akses internet ini tersedia, ada manfaat lain yang bisa diraih, misalnyapengiriman materi melalui email atau download melalui website atau blog penyelenggara.Distribusi materi, laporan, atau bahan melalui akses internet ini, selanjutnya akan menekan biayaphoto copy sekaligus menekan kemungkinan penyebaran virus, sesuatu yang tidak dapatdihindari dengan pola konvensional menggunakan flashdisk dari komputer satu ke komputerlainnya.Untuk mengantisipasi masalah tidak dapat hadirnya pembicara VVIP, keberadaan perangkatteleconference bisa jadi merupakan solusi jitu. Tokoh-tokoh penting seperti Hatta Rajasa atauKuntoro Mangkusubroto yang batal memenuhi undangan penyelenggara, tidak perlu membuangwaktu menempuh perjalanan dari kantor mereka ke kampus Pejompongan, sehingga ceramahdapat dilaksanakan secara in absentia. Untuk level LAN selaku Instansi Pembina DiklatAparatur, terlebih dengan mengusung visi sebagai institusi bertaraf internasional, makakeberadaan perangkat teleconference menjadi kebutuhan mendasar. Jika perangkat ini telahterpasang, sekaligus dapat mendukung Tupoksi LAN dalam pembinaan diklat secara nasional. Page | 46
  • 54. Sistem lain yang sangat layak dikembangkan adalah Sistem Informasi Alumni Diklat. Data baseyang terangkum bukan hanya data Diklatpim II, namun juga Diklat Kepemimpinan jenjangbawahnya yang pernah diikuti. Informasi yang terekam-pun bukan sekedar tahun lulus danangkatan, namun juga peringkat, judul-judul karya tulis individual beserta nilainya, serta hal-halkhusus yang dipandang perlu. Selanjutnya, perlu dijamin adanya koneksitas antara SistemInformasi Alumni Diklat ini dengan Sistem Informasi Kepegawaian yang dikembangkan BKN,termasuk KPE (Kartu Pegawai Elektronik). Dengan sistem ini, perencanaan kebutuhan programDiklatpim akan lebih mudah dilakukan sehingga tidak akan terjadi surplus alumni maupundeficit aparat yang telah memenuhi persyaratan kompetensi.Tentu saja, masih banyak perangkat teknologi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkanefektivitas penyelenggaraan program diklat. Sebagaimana kata pepatah, dengan ilmupengetahuan dan teknologi, hidup (diklat) akan menjadi lebih mudah … ☺Kampus Pejompongan JakartaJum’at, 15 Juli 2011 Page | 47
  • 55. Jurnal #23 Perlunya Mengenali Masalah KebijakanDari awal pembukaan hingga memasuki minggu ke-6 penyelenggaraan Diklatpim II, setiappenceramah selalu mengemukakan permasalahan bangsa yang begitu serius. Puluhanpenceramah seolah-olah bermain dalam sebuah simfoni yang secara kompak memainkan nadaminor terhadap kebijakan publik di tanah air tercinta. Dr. Son Diamar, penceramah di sesi akhirminggu ke-5, memberikan contoh mengenai perubahan UU No. 13/1968 tentang Bank Sentralmenjadi UU No. 23/1999 jo. UU No. 3/2004 tentang Bank Indonesia. Pada UU yang lama, BankIndonesia harus tunduk pada kebijakan pemerintah, sehingga kebijakan pemerintah merupakanlex superiori dari kebijakan Bank Indonesia. Namun pada aturan yang baru, ditegaskan bahwa BIadalah lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebasdari campur tangan pemerintah dan/atau pihak lain. Aturan seperti ini jelas sekali mengebiri dirisendiri dan menjadikan pemerintah impoten dalam mengatur salah satu elemen bangsa.Kasus lain yang banyak dicontohkan oleh para pembicara adalah lemahnya posisi strategisIndonesia dihadapan tekanan liberalisasi ekonomi mondial. Tekanan internasional untukmenghapus subsidi atau untuk membuka pasar domestik terhadap arus barang impor adalahcontoh konkritnya. Dengan kebijakan liberalisasi ekonomi ini, membuat pelaku ekonomi kecildan menengah menjadi semakin sulit. Ditengah kesulitan ekonomi yang berdampakmeningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan, pemerintah justru banyak melakukanpenggusuran terhadap rakyat kecil namun memberi pelayanan istimewa kepada investor asing.Situasi seperti ini ibarat mengencingi diri sendiri.Banyaknya persoalan bangsa yang diungkapkan oleh para penceramah, ternyata menyebabkanbanyak peserta menjadi pesimis terhadap masa depan bangsa. Sebagian juga mengkritik parapembicara karena hanya melihat dari sisi permasalahan tanpa menawarkan solusi konkrit untukmengatasi problematika yang ada. Bahkan ada yang menganggap sikap kritis tadi sebagai bentukkekecewaan karena tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan.Namun bagi saya pribadi, tumpukan masalah disampaikan tadi bukanlah sebuah keluhan. Dalamistilah William Dunn, timbunan masalah yang belum terstruktur tadi disebut dengan metamasalah. Ketika kita sudah mempunyai meta masalah, itu tandanya kita sudah berhasilmengenali dan mencari masalah. Ini merupakan tahapan yang sangat penting dalam analisiskebijakan, sebab seringkali yang terjadi adalah kesalahan dalam mengenali masalah, sehinggalahirlah kebijakan yang mengatasi masalah yang salah. Kenyataannya, mengenali masalahbukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Sesuatu yang nampaknya masalah, bisa jadi hanyasebuah gejala atau symptom yang menandakan adanya masalah dibalik gejala atau symptomtersebut. Itulah sebabnya, ada sebuah pameo bahwa apabila kita telah berhasil mengenalimasalah yang sesungguhnya, kita sudah setengah berhasil memecahkan masalah.Tahap selanjutnya yang dibutuhkan ketika kita sudah memiliki meta masalah adalah melakukanpendefinisian masalah dengan membuat cluster atau klasifikasi masalah, misalnya menjadi Page | 48
  • 56. masalah sosial, masalah ekonomi, masalah administrasi, dan sebagainya. Kitapun bisamelakukan pengklasifikasian berdasar tingkatan urgensi dari masalah, atau berdasar jangkawaktu pemecahan yang kita inginkan, dan sebagainya. Hasil pendefinisan dan pengklasifikasianini oleh William Dunn disebut dengan istilah masalah substantif. Dari sini, kemudian dilakukanspesifikasi masalah yang ada dengan memilah-milah kebutuhan dan kemampuan kita untukmengatasinya. Tentu tidak semua masalah akan dapat diselesaikan dalam waktu bersamaan,sehingga perlu diseleksi berdasarkan prioritasnya. Hasil dari spesifikasi masalah adalah masalahformal, atau yang disebut oleh Anderson sebagai agenda institusional. Artinya, masalah formalitulah yang harus diangkat sebagai agenda dalam perumusan kebijakan publik.Kembali ke materi ceramah yang sarat dengan permasalahan, tanpa disadari telah menggiringpeserta untuk melakukan analisis kebijakan. Setelah mendengarkan banyak ceramah, giliranpeserta untuk mengembangkan alternatif solusi, menentukan kriteria dalam penilaian alternatif,serta menetapkan rekomendasi kebijakan untuk mengatasi masalah kebijakan (policy problem,bukan symptomatic problem) yang dihadapi.Oleh karena itu, peserta sesungguhnya cukup tertolong dengan adanya deretan masalah yangdipampangkan oleh para penceramah. Kita semua juga harus berprasangka baik bahwa dibalikapa-apa yang disampaikan oleh para penceramah terkandung niat positif untuk mencari solusiatas problematika dalam kehidupan berbangsa, bukan mencari kesalahan pihak-pihak tertentu.Inilah saya kira salah satu pembelajaran yang sangat baik dan manfaat yang bisa diraih dariprogram Diklatpim II.Kampus Pejompongan JakartaSenin, 18 Juli 2011 Page | 49
  • 57. Jurnal #24 Pesan Kepemimpinan dalam Kegiatan Menanam Pohon dan Peduli LingkunganHari ini kami melakukan kegiatan “ekstrakurikuler” berupa penanaman pohon dan penghijauanlingkungan kampus. Meski sponsor utamanya adalah teman-teman dari Kementerian Kehutanan,kegiatan ini murni sepenuhnya inisiatif dari seluruh peserta dan menjadi karya kelompok.Bagi saya, kegiatan ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan esensi Diklatpim II. Sesuainamanya, Diklatpim adalah ajang penggemblengan jiwa kepemimpinan, disamping mengasahkemampuan intelektual. Dalam konsep kepemimpinan, pemimpin yang baik adalah mereka yangtidak hanya berpikir untuk kebaikan dirinya (egocentric) namun juga untuk kemajuan bersamadan kepentingan kolektif. Untuk bisa berbuat maksimal bagi kelompoknya, seorang pemimpinharus memiliki kepedulian terhadap lingkungan (care) serta kemauan untuk berbagi sumber dayadan pemikiran (share) dengan lingkungannya.Pengertian “lingkungan” sendiri dapat dimaknakan dalam arti lingkungan alam dan lingkungansosial. Oleh karena itu, kepedulian terhadap lingkungan alam mencerminkan berjalannya fungsikepemimpinan para peserta Diklatpim II. Namun, kepedulian ini sesungguhnya masih bersifatsimbolik karena terjadi pada level temporary system dan baru mengarah pada kepedulianterhadap lingkungan alam. Tempat ujian yang sesungguhnya apakah mereka benar-benar telahmemiliki kualifikasi kepemimpinan yang memiliki kepedulian adalah pada saat kembali keorganisasi masing-masing sebagai permanent system-nya. Bentuk kepeduliannya-pun tidakcukup hanya kepada lingkungan alam, namun lebih dibutuhkan kepedulian terhadap lingkungansosialnya.Selain kepedulian terhadap lingkungan alam, penanaman pohon juga dapat dipersepsi sebagaisebuah aktivitas simbolik dalam bentuk investasi masa kini untuk diambil manfaatnya pada masadepan. Pada situasi riil di permanent system nantinya, bentuk investasi yang lebih dibutuhkanadalah menanam kepercayaan (trust) kepada stakeholder dan masyarakat yang dilayani,menanam kompetensi dan komitmen (competence and commitment) untuk tumbuhnya teamworkyang professional, menanam hubungan yang harmonis baik secara internal maupun eksternal(connection), serta menanam kebaikan dan kemanfaatan untuk semua pihak.Singkatnya, dari peristiwa hari ini saya mendapat sebuah inspirasi tentang ciri tambahan seorangpemimpin, yakni mereka yang peduli dengan lingkungannya dan gemar menanam hal-hal yangbersifat baik.Akan tetapi, ada sisi lain yang masih bisa dipelajari dari peristiwa tersebut. Seperti saya katakanadiawal tulisan, kegiatan ini disponsori oleh teman dari Kementerian Kehutanan. Dari penyediaan350 pohon, 2 unit biospor, puluhan cangkul, serta topi dan kaos bertuliskan “Ayo Menanam”untuk 120 peserta dan puluhan lagi untuk penyelenggara dan widyaiswara, semuanya gratis.Disinilah kesan teamwork menjadi sedikit berkurang sementara one man show agak sulit Page | 50
  • 58. dihindari. Akan lebih anggung tentunya, jika seluruh beban yang ada di-share kepada seluruhpeserta, karena memang kegiatan ini adalah kegiatan kolektif. Bahwa seorang pemimpinmempunyai kemampuan finansial atau intelektual diatas rata-rata orang lain, adalah sebuahkewajaran dan keuntungan tersendiri. Bahwa seorang pemimpin memiliki visi dan arah tujuanyang harus diikuti oleh pengikutnya, adalah juga sebuah kebenaran. Namun bukan berarti sebuahbeban harus ditanggung sendirian oleh pemimpin atau seseorang tertentu. Dalam hubunganinternal organisasi, pemerataan peran dan tanggungjawab lebih utama dibanding keunggulanindividual. Sebab, kelangsungan hidup organisasi tidak tergantung dan tidak dapat ditimpakankepada orang per orang, namun harus dibangun adanya sense of belonging dan sense ofresponsibility yang proporsional.Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 19 Juli 2011 Page | 51
  • 59. Jurnal #25 Penetapan Judul KTP-2: Soal Teknis atau Akademis?Kemaren sore kepada peserta Diklatpim II dibagikan lembar pengesahan judul KTP-2 yangditandatangani oleh Kapusdiklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan. Pengesahan ini merupakantahap lanjutan dari tahap pertama yang telah kami lalui, yakni bimbingan judul dan TOR KTP-2dengan Widyaiswara pembimbing.Sebelumnya, kami berasumsi bahwa Kapusdiklat tinggal melakukan pengesahan mengingatWidyaiswara pembimbing telah menyetujui judul dan TOR yang diajukan peserta. Tentunya,seorang Widyaiswara ditunjuk sebagai pembimbing KTP-2 atas dasar kompetensinya, sehinggaketika dia menyetujui judul tertentu, judul tersebut sudah layak secara akademis berdasarkanpengalaman dan pengetahuannya. Namun kenyataannya, lembar yang kami terima tadi bukansekedar mengesahkan, namun juga melakukan perubahan judul. Di kelompok saya sendiri ada 5(lima) peserta yang mengalami perubahan.Awalnya, saya tidak merasa ada yang aneh dengan keputusan Kapusdiklat merubah judul KTP-2,sampai ada teman dari kelompok lain yang “curhat” karena judulnya dirubah secara sepihaksementara dia sudah menulis hingga Bab II berdasarkan judul yang sudah disetujui Widyaiswarapembimbingnya. Maka, ketika Widyaiswara meminta untuk merubah Bab I dan II yang sudahjadi, teman saya ini langsung menolak, bahkan minta si Widyaiswara untuk memeriksa terlebihdahulu draft yang diajukan (Catatan: agenda pertemuan ke-2 dan ke-3 kemaren memangkonsultasi Bab I dan II).Atas dasar kasus yang dialami teman tadi, saya baru terpikir banyak hal. Pertama, keputusanperubahan tadi berarti memveto keputusan widyaiswara yang telah memberi persetujuanterhadap judul dan TOR KTP-2. Selain terkesan tidak etis, dalam dunia akademik rasanya jugatidak pernah terjadi birokrat kampus mengintervensi kemandirian dan hak intelektual seorangpembimbing. Jika hal ini diteruskan, akan dapat mengurangi kewibawaan pembimbing di matasiswa atau peserta dibawah bimbingannya. Akan lebih elegan jika Widyaiswara tersebut diberipanduan pembimbingan dan rambu-rambunya pada saat sebelum ditetapkan sebagaipembimbing. Namun, sekali dia dipercaya menjadi pembimbing KTP-2, sebaiknya diberikanotoritas penuh untuk menjalankan tugasnya selaku pembimbing.Kedua, keputusan perubahan juga menimbulkan disorientasi bagi peserta. Peserta sebagai pelakukebijakan di instansi masing-masing diasumsikan lebih tahu permasalahan, kebijakan, dankebutuhan pengembangannya. Dengan perubahan yang tidak dikonfirmasikan terlebih dahulukepada peserta, peserta harus menyesuaikan dengan pola pikir penyelenggara Dikaltpim. Dalamkasus teman yang “komplain” tadi, kesulitan baru juga muncul karena harus mengulangpenulisan Bab I dan II meski tidak secara total.Ketiga, proses berpikir akademis nampaknya menjadi jungkir balik. Dalam penulisan karya tulisseperti skripsi, thesis, disertasi, bahkan paper untuk publikasi jurnal, judul awal hanyalah sebuah Page | 52
  • 60. usulan yang bersifat sangat tentative, dan masih memungkinkan perubahan hingga karya tulistersebut mencapai proses akhir. Justru yang harus dimatangkan pada tahap awal adalahproblematika atau perumusan masalah yang dihadapi suatu organisasi dan ingin dipecahkanmelalui penulisan KTP-2. Hal ini juga sesuai dengan tahapan analisis kebijakan atau perumusanmasalah model William Dunn. Dengan kata lain, judul bukanlah elemen utama pada tahap awalberpikir akademis, dan dapat dijadikan sebagai tahap akhir dari seluruh rangkaian penulisankarya tulis.Mengingat pemilihan dan penetapan judul merupakan ranah akademis, maka alangkah bijaknyajika dipisahkan dari urusan teknis, apalagi non-teknis. Jikapun penyelenggara akan masuk dalamsubstansi KTP-2, akan jauh lebih indah jika dibahas secara terbuka dengan calon penulisnya.Sebab, tanggungjawab akhir dari substansi KTP-2 tetaplah penulisnya, sehingga kepadanya perludiberi ruang kebebasan untuk mengekspresikan konsep dan pemikirannya.Kampus Pejompongan JakartaRabu, 20 Juli 2011 Page | 53
  • 61. Jurnal #26 Wawasan Internasional bagi Peserta Diklatpim II: Sebuah Keniscayaan!Hari ini saya bersama 9 rekan lain dari Kelas B mendapat tugas tambahan dari penyelenggaraDiklatpim II untuk menghadiri “Indonesia International Conference Focus on IndonesianEconomy 2011: Shifting Regional Development, From Indonesia to the World”.Bagi saya, ini sebuah keberuntungan besar mendapat kesempatan untuk mendengarkan ceramahlangsung dari para pengambil kebijakan di republik tercinta, serta pakar-pakar ekonomi tingkatdunia. Saya katakan beruntung, karena kesempatan seperti ini sangat sulit diperoleh dalampelaksanaan tugas sehari-hari organisasi. Kalaupun ada kesempatan, seringkali membutuhkanbiaya cukup besar, terutama bila konferensi tadi digelar di luar negeri. Nah, yang sekarang sayaalami adalah kesempatan yang datang tiba-tiba dan tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun.Selain beruntung, saya juga menilai keikutsertaan dalam kegiatan seperti ini sangat bermanfaatuntuk menambah ilmu-ilmu, kebijakan, dan perspektif baru. Meski kehadiran kami hanya di harike-2 konferensi, tidak mengurangi nilai strategis yang dapat kami serap dari kegiatan ini.Apalagi nara sumber yang memberikan ceramah adalah tokoh-tokoh kunci dan pelaku utamakebijakan publik di negeri ini seperti Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Menteri PU DjokoKirmanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Ketua KEN (Komite EkonomiNasional) Chairul Tanjung, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, Presiden SBY sendiriberkenan hadir dan memberi Presidential Keynote Address tentang situasi dan masa depanekonomi Indonesia. Sementara pembicara asing antara lain Executive Secretary of UN Economicand Social Commision for Asia and the Pacific Dr. Noeleen Heyzer, President of Asian Instituteof Technology Prof. Said Irandoust, UNESCO Education Head for Indonesia, Mr. Anwar AlSaid, ILO Country Director for Indonesia Mr. Peter van Rooij, dan lain-lain.Sayangnya, ada sedikit hal yang membuat konferensi internasional ini kurang terasa greget-nya.Pada saat sessi pertama dimulai jam 08.00, jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari seperlimadari jumlah tempat duduk yang tersedia. Hingga sessi kedua berakhir, kehadiran hanyabertambah sedikit namun tidak mencapai setengahnya dari kapasitas ruangan. Iseng-iseng sayahitung, jumlah kursi yang disediakan mencapai 400. Hal lain yang bagi saya cukup“menggangu” adalah kebiasaan masyarakat kita yang tidak tepat waktu. Kedatangan pesertaditengah berlangsungnya ceramah atau diskusi, membuat situasi yang tidak menyenangkan bagipeserta lain, terlebih bagi para panelis. Selain tradisi telat para peserta, ada tradisi buruk lainyang membuat forum terhormat seperti ini kehilangan “roh” akademisnya, yakni pembicara yang“kabur” segera setelah memberi ceramah. Contoh buruk ini ditunjukkan oleh Menteri BUMNdan Menteri PU. Sangat mungkin memang mereka sangat sibuk dan memiliki agenda lain yangtidak kalah penting, namun tetap saja menjadi sesuatu yang tidak lazim dan mengurangi respectaudiens terhadap pembicara, khususnya audiens dari luar negeri. Satu hal lagi yang terasa“kurang” dari forum ini adalah tidak disediakannya copy bahan paparan para panelis, sementarapanelis lain bahkan tidak menyiapkan bahan power-point sama sekali. Hal ini tentu mempersulit Page | 54
  • 62. peserta dalam menangkap pesan secara memadai, khususnya bagi mereka yang kurang terbiasaberdiskusi dengan bahasa Inggris. Lebih parah lagi, forum ilmiah yang sepenuhnya didesainsecara akademis namun malah tidak menyediakan sessi tanya jawab.Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, fokus terhadap manfaat yang dapat diperoleh jauhlebih penting untuk dilakukan. Dalam konteks program Diklatpim II, saya menganggap forum inimerupakan sarana terbaik untuk membangun kompetensi berpikir secara global atau memberiwawasan internasional. Pada kenyatannya, sangat sedikit kurikulum Diklatpim II yang didesainuntuk membangun kompetensi ini, padahal level kepemimpinan peserta sudah cukup tinggi dansudah sepantasnya dibekali dengan praktek-praktek kepemimpinan dan manajemen sektor publikdari berbagai negara di dunia. Hal ini sesuai pula dengan level kompetensi yang ingin dibangunoleh program Diklatpim yakni Strategic Competence (bandingkan dengan kompetensi dariDiklatpim I yakni Visionary Competence, atau Diklatpim III yakni Operational Competence).Dalam pemikiran saya, jika kita ingin menghasilkan alumni Diklatpim II yang memilikikemampuan strategis, maka wawasan regional dan global menjadi sebuah kebutuhan. Untukmencapai tujuan tersebut, beberapa opsi dapat dipertimbangkan sebagai kurikulum tambahanatau disisipkan dalam silabus Diklatpim II, misalnya: kewajiban mengikuti seminar/konferensiinternasional, partisipasi dalam publikasi internasional yang relevan dengan tupoksi di organisasimasing-masing, mengundang guest lecture dari negara tetangga, studi lapangan ke luar negeri,mengubah komposisi DIT (diskusi issu terpilih) dengan menambah issu internasional danmengurangi issu nasional, atau opsi-opsi lain yang dianggap mampu membangun wawasaninternasional.Kampus Pejompongan JakartaKamis, 21 Juli 2011 Page | 55
  • 63. Jurnal #27 Menyimak Pemikiran Presiden SBY tentang Ekonomi IndonesiaHari ini saya sangat beruntung dapat melihat, mendengar, dan menyimak secara langsung pidatodan pemikiran Presiden SBY. Berada satu forum dengan orang nomor 1 di republik ini, jelasberbeda sekali suasana yang tercipta dan semburat aura yang terpancar, dibanding ketikamenyaksikan melalui layar kaca atau membaca melalui koran. Sama halnya mendengarpertunjukan musik secara live, akan sangat berbeda dibanding saat kita menikmatinya lewattelevisi atau radio. Maka, adalah hal yang selalu menyenangkan menyambut seorang KepalaNegara, terlepas dari berbagai kontroversi soal gaya kepemimpinan ataupun kasus-kasus dangossip yang tengah menerpanya.Bagi saya, sessi ini juga istimewa karena Presiden melewati persis di depan saya, bahkan sempatmelirik dan mengangguk kearah saya. Inilah kali pertama saya berada sangat dekat (± 1 meter)dengan Presiden RI. Jika saja tidak mengingat etika dan kemungkinan yang tidak diinginkan,pasti saya sodorkan tangan saya untuk menjabat tangannya, bukan sekedar jabat tangan antarapemimpin dengan rakyatnya, namun lebih sebagai bentuk silaturahmi antar hamba Allah di mukabumi. Meski pada akhirnya gagal untuk menjabat tanganya, saya sudah cukup puas sempatberdekatan dan bertatapan dengan beliau.Selanjutnya, saya ingin merangkum isi pidato beliau yang membangkitkan optimismmenghadapi masa depan. Sebagai pemimpin tertinggi sebuah negeri, memang seperti itulah yangharus dilakukan meski realita di lapangan terkadang terlalu sulit untuk bersikap optimis, presidenSBY mengawali pidatonya dengan mengemukakan 4 (empat) alasan mengapa beliau berkenanhadir dalam konferensi ini. Keempat alasan tersebut adalah:1. Konferensi ini membahas perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia sekaligus mengidentifikasi tantangan yang dihadapi. Jika bicara globalisasi, yang terbayang selama ini adalah ancaman untuk bangsa kita, padahal banyak juga opportunity yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa.2. Konferensi ini juga membaca issu ekonomi dari konteks regional dan global. Dinamika ekonomi Indonesia sendiri harus ditempatkan dalam kerangka nationally interpreted dan globally connected.3. Konferensi ini dihadiri oleh peserta yang sangat beragam, seperti regulator, business leader, serta economic player and stakeholders.4. Topik yang diangkat cukup komprehensif dan relevan dengan issu ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia. Salah satunya adalah posisi Indonesia sebagai Chairman ASEAN dan akan mengagendakan topik food and energy security untuk didiskusikan dalam ASEAN Summit II Oktober mendatang sebagai wujud kontribusi Indonesia dalam membangun food and energy security di tingkat regional. Page | 56
  • 64. Presiden berharap agar konferensi ini bebas dari berbagai kepentingan politis agar menjadibagian dari solusi dan bisa mendorong ditemukannya peluang-peluang baru bagi ekonomiIndonesia, baik tahun ini maupun tahun-tahun mendatang. Selanjutnya beliau mengemukakantiga hal yang akan menjadi substansi pidato, yakni:• Apa yang hendak dicapai oleh Indonesia pada 10 hingga 15 tahun yang akan datang pada bidang ekonomi?• Peluang dan tantangan apa yang dihadapi?• Mengapa kita tidak boleh menyia-nyiakan momentum pertumbuhan yang baik ini bagi kebangkitan dan kemajuan ekonomi nasional?Presiden menegaskan bahwa kita semua harus memiliki optimisme dan keyakinan diri(confidence) bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih baik serta berkembang lebih pesat ditahun-tahun mendatang. Ada 3 (tiga) alasan yang membuat kita dapat optimis dan memilikikeyakinan tinggi, yakni:1. 5 (lima) tahun terakhir trend ekonomi Indonesia terus membaik dan progress-nya riil, yang dapat dilihat dari indikator makro seperti economic growth, GDP, debt to GDP ratio, income per capita, poverty reduction, dan seterusnya.2. Ekonomi Indonesia keluar dengan selamat dan terhindar dari krisis ekonomi global. Saat ini, Tiongkok, China dan Indonesia menjadi 3 negara dengan kekuatan ekonomi baru di dunia. Pada saat terjadi krisis ekonomi global tahun 2008, telah dilakukan respon yang tepat sehingga tidak terjadi krisis berkepanjangan seperti pada saat krisis 1997-1999.3. Jika reformasi dan perbaikan yang dilakukan secara intensif berhasil melakukan perbaikan dalam banyak hal, dan lebih banyak infrastruktur terbangun, maka pada tahun 2025 ekonomi Indonesia akan terus tumbuh dan menjadi kuat, inklusif dan berkelanjutan (strong, inclusive, sustainable).Dengan demikian, target yang hendak dituju dan dicapai dalam pembangunan ekonomi bukansekedar pertumbuhan (growth), tapi makin baiknya standard of living, quality of life, dan welfareof people. Dari perspektif ekonomi, hal tersebut dapat dicapai jika ekonomi tumbuh kuat danberkelanjutan (growth with equity).Pertumuhan bagi Presiden SBY sangat penting, karena pertumbuhan akan membentuk matarantai. Jika pertumbuhan tinggi, maka akan dapat menciptakan lapangan kerja dan mengurangipengangguran, yang pada gilirannya memperbaiki pendapatan masyarakat. Jika incomemasyarakat naik, maka akan mengurangi jumlah orang miskin (growth job better income less poor). Dengan kata lain, pertumbuhan (growth) merupakan pengungkit terhadap programpengentasan kemiskinan (poverty reduction).Meskipun demikian, pertumbuhan yang tinggi (strong growth) sendiri tidaklah cukup, melainkanharus disertai dengan adanya pemerataan dan keadilan. Artinya, pembangunan ekonomi tidakboleh hanya berorientasi pertumbuhan, namun juga harus diimbangi dengan job creation,poverty reduction, dan environment protection. Pemikiran seperti inilah yang mendasari Page | 57
  • 65. pemerintah pada tahun 2005 mengeluarkan triple tracks strategy yang kemudian dikembangkanmenjadi four tracks strategy. Dalam kaitan ini terdapat 4 (empat) pendekatan untukmerealisasikan strategi growth with equity, yakni:• Demand side economy (sisi permintaan);• Riil Sector (sektor riil);• Supply side economy (sisi penawaran); dan• Production function (fungsi produksi).Ke-4 strategi tersebut adalah esensi dari MP3EI yang terdiri dari 6 koridor, zona economi, klasterindustri, serta 22 kegiatan ekonomi utama. Semuanya didesain untuk mencapai balanced, strong,inclusive, dan sustainable economy sebagaimana disinggung sebelumnya. Hal ini sesuai denganVisi Indonesia 2050 yang menetapkan 3 (tiga) capaian utama, yaitu:• Strong and just economy (ekonomi yang kuat dan adil);• Stable and mature democracy (demokrasi yang stabil dan matang); dan• Advance civilization (peradaban yang makin maju).Presiden menyimpulkan bahwa arah dan ekonomi Indonesia sudah benar. Survey WEF tentangGlobal Competitiveness Index mengkonfirmasi kemajuan ekonomi Indonesia dengan hasilsurvey yang terus menunjukkan peningkatan daya saing Indonesia secara signifikan. Fakta initelah mengantarkan Presiden SBY ke Davos untuk memberi pidato tentang pengalamanIndonesia dalam pembangunan ekonomi. Namun, Presiden tetap menekankan perlunyamemperbaiki semua masalah yang ada tanpa perlu menoleh ke belakang dan tanpa perlu salingmenyalahkan.Presiden tidak peduli masuk kategori ideologi apa pemikiran ekonomi yang disampaikannya.(Catatan: Majalah Warta Ekonomi menyebut konsep ekonomi SBY sebagai ideologi ekonomimasa depan atau SBYnomics). SBY sendiri cenderung menyebut gagasannya dengan istilah Eco-market economy with social justice. Pada akhir pidatonya, Presiden SBY mengeluarkanhimbauan untuk seluruh elemen bangsa untuk:• Menjadi pencari dan pencipta peluang (opportunity seekers);• Menjaga dan memelihara situasi dalam negeri, termasuk menjaga stabilitas sosial politik; serta• Bekerja lebih keras dan lebih keras lagi. Hanya dengan kerja keras kita bisa mengubah keadaan.Menyimak apa yang disampaikan Presiden SBY, seolah tidak ada masalah yang berarti dengansistem ekonomi Indonesia. Semua terlihat baik-baik saja. Hal ini tentu sangat bertolak belakangdengan ceramah-ceramah yang kami dapatkan selama penyelenggaraan Diklatpim II. Dariberbagai ceramah yang kami terima, banyak yang mengkritisi adanya kesalahan kebijakan,namun ada juga yang melihat konsep kebijakan sudah baik namun implementasinya yang tidakoptimal. Salah satunya dikemukakan oleh Dr. Ichsanuddin Noorsy yang mengakui tingginyapeningkatan PDB, namun mempertanyakan siapa yang paling besar menikmati pertumbuhanPDB tersebut? Pertanyaan mendasarnya adalah, mengapa hal demikian bisa terjadi? Page | 58
  • 66. Informasi dan pendekatan yang kontras dari SBY dan para penceramah Diklatpim II dapatdikatakan sebagai cerminan adanya kontroversi dan perbedaan cara pandang terhadap fakta dankebijakan yang sama. Dr. Dahrul, salah seorang penceramah, memberi ilustrasi yang menarikmengapa terjadi gap antara konsep yang bagus dengan buruknya implementasi. Menurutnya,Indonesia ibarat perusahaan yang memiliki banyak komisaris atau pemegang saham yangberbeda kepentingan. Tentu saja, menyatukan kepentingan yang berbeda, apalagi bertentangan,bukanlah pekerjaan yang mudah. Dalam kondisi seperti ini, keberadaan pemimpin yang tegasdan visoner (strong and visionary leadership) sangat dibutuhkan. Pemimpin nasional haruslahimparsial dan bebas murni dari kepentingan individual atau kepentingan kelompok, serta mampumemfungsikan diri sebagai jembatan (bridging) dari berbagai perbedaan yang ada diantaraelemen bangsa yang dipimpinnya.Persoalannya kemudian, sistem politik kita nampaknya masih belum memungkinkan untuklahirnya seorang pemimpin nasional yang bebas dari kepentingan politis tertentu. Seorang(calon) presiden justru merupakan usulan partai politik. Jika partai politik masih sarat dengananasir korupsi dan prinsip mementingkan diri sendiri, maka selamanya tidak akan lahirpemimpin yang benar-benar kuat dan dapat diterima oleh semua pihak. Dengan demikian,pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dengan reformasi politik. Sampai disini, sayapribadi menarik hipotesis bahwa pembangunan ekonomi Indonesia akan mencapai masakeemasan ketika bangsa ini sudah mampu menyelesaikan reformasi politik (dan reformasiperadilan, tentunya).Kinerja ekonomi yang cukup progresif seperti disampaikan oleh Presiden SBY memang sudahmaksimal dalam situasi politik seperti sekarang ini, dan untuk itu perlu kita apresiasi. Namunkita masih memiliki peluang yang sangat besar untuk bisa mencapai kinerja yang jauh lebih baik,asalkan PR di bidang politik (dan hukum) sudah bisa kita tuntaskan. Semoga!Kampus Pejompongan JakartaJum’at, 22 Juli 2011 Page | 59
  • 67. Jurnal #28 Sekali Lagi tentang SinergiPada jurnal #17, saya sudah menulis perihal sinergi. Saya berpikir tidak ada lagi hal yangmenarik dari issu yang diangkat sebagai tema Diklatpim II ini, hingga hari ini, ujian KajianKebijakan Publik ternyata berisi soal tentang sinergi. Nampaknya, penyelenggara Diklatpim IIbenar-benar ingin meyakinkan bahwa peserta telah memahami esensi sinergi dan mengetahuibagaimana menerapkannya dalam tupoksi di instansi masing-masing.Soal yang ditanyakan dalam ujian tadi adalah tentang faktor-faktor yang potensialmengakibatkan gagalnya sinergi antar bagian atau antar instansi pemerintah. Saya sendirimemberikan jawaban bahwa efektivitas sinergi dan koordinasi akan sangat tergantung pada 6(enam) kondisi sebagai berikut:• Ketidakmampuan organisasi untuk belajar (learning disabilities). Semakin tingkat tingkat ketidakmampuan organisasi untuk belajar, maka semakin sulit melakukan sinergi dan koordinasi.• Ketidakmampuan organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan. Semakin tinggi tingkat ketidakmampuan organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan, maka semakin sulit melakukan sinergi dan koordinasi.• Tingkat soliditas atau kemampuan mewujudkan shared-vision. Semakin beragam kepentingan dalam organisasi, semakin banyak perilaku oportunistik (opportunistic behavior) dalam organisasi, maka semakin sulit pula sinergi atau koordiansi dilakukan.• Besarnya/banyaknya unit kerja/instansi yang terlibat dalam suatu program. Semakin besar/banyak pihak yang harus dikoordinasikan, maka semakin sulit pula kemungkinan mewujudkan sinergi dan koordinasi.• Tingkat partisipasi dan kepedulian dalam organisasi. Semakin tinggi partisipasi dan kepedulian anggota organisasi terhadap visi dan program yang sudah disepakati, maka semakin mudah untuk melakukan koordinasi dan meraih sinergi.• Tingkat kejelasan otoritas dan kewenangan organisasi/pejabat tertentu. Semakin kabur batas- batas wewenang sebuah instansi atau semakin lemah seorang pejabat mengeksekusi kewenangannya, semakin sulit sinergi dan koordinasi dibangun.Selain faktor yang berkontribusi terhadap gagalnya sinergi, soal ujian juga menanyakan solusiapa yang layak untuk dikembangkan untuk mengatasi potensi gagalnya sinergi tersebut. Dalammenjawab pertanyaan ini, saya mengajukan 3 (tiga) opsi sebagai berikut:• Organisasi harus melakukan proses pembelajaran secara terus menerus (continuos learning). Program pengembangan kapasitas perlu banyak dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran tiada henti tersebut.• Setiap organisasi harus memiliki media untuk berkomunikasi dengan semua instansi/pihak yang terkait, misalnya dalam bentuk stakeholder meeting. Dengan demikian, sejak tahap Page | 60
  • 68. perencanaan, implementasi, hingga pengukuran hasil atau kinerjanya dapat dilakukan secara sinergis.• Program pertukaran exchange pejabat lintas instansi secara periodik. Hal ini menurut saya akan menjadi terobosan luar biasa dalam membangun sinergi lintas instansi. Bahkan ada manfaat tambahan misalnya berupa pengayaan pengalaman, terbukanya jaringan kerja (network), serta mengurangi hambatan komunikasi (communication barrier) yang selama ini terjadi.Terlepas dari jawaban yang telah saya kemukakan, harus saya akui bahwa saya sendiri tidakyakin bahwa 3 (tiga) opsi yang saya tawarkan benar-benar merupakan strategi yang ampuh untukmembangun sinergi lintas instansi. Keyataannya, problema sinergi adalah problema nasionalyang dihadapi staf golongan 2 di kelurahan hingga Presiden RI. Tentu, sudah ratusan strategidicoba dan ribuan konsep telah dikemukakan oleh pakar-pakar level nasional. Namun toch,masalah sinergi belum juga menghilang dari praktek pemerintahan di Indonesia. Maka, strategiyang paling baik barangkali adalah mencoba memulai diri sendiri untuk disiplin terhadap setiapaturan, dan sebesar mungkin mengurangi egoism, kemalasan, atau kecurigaan terhadap mitra/pejabat atau pihak-pihak di sekitar kita.Kampus Pejompongan JakartaSenin, 25 Juli 2011 Page | 61
  • 69. Jurnal #29 Sisi Lain Diklatpim IIDibalik proses pembelajaran yang terstruktur, Diklatpim II sesungguhnya menawarkan banyakkeuntungan lain. Keuntungan tadi jelas bukan keuntungan material, namun lebih banyakkeutungan immaterial, mulai bertambahnya kawan yang membentuk jaringan, kesempatan untukmenunjukkan jati diri kita dihadapan para pejabat dari berbagai kementerian/lembaga danpemerintahan daerah, serta ilmu-ilmu, hikmah, dan semangat yang kita peroleh dari sesamapeserta. Pendeknya, keberadaan kawan-kawan peserta adalah sumber ilmu dan kearifan yangsemestinya kita manfaatkan untuk meningkatkan ilmu dan kearifan kita. Dalam konteks inilahsaya menulis jurnal ini.Salah seorang peserta yang saya panggil “ustadz” sering sekali memberikan nasihat-nasihat yangmenjadikan suasana Diklatpim II menjadi tidak garing. Dia mengatakan bahwa sesungguhnyadunia ini tidak ada nilai. Jika dunia bernilai, maka orang kafir akan diharamkan oleh Allah SWTmendapatkannya, sebagaimana Sabda R Rasulullah SAW “Andaikan dunia itu senilai dengansayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafirwalaupun seteguk air dari dunia” (HR. Tirmidzi).Hal yang paling bernilai di dunia ini adalah agama, yang hanya diberikan kepada yang beriman.Ironisnya, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita terlalu disibukkan untuk membicarakanmemamerkan sampah (analogi untuk dimensi duniawi yang tidak bernilai), sementara intanberlian (analogi untuk agama dan kehidupan di alam nanti) malah tidak banyak dibicarakan dandipamerkan. Ini mencerminkan bahwa mata manusia tertipu oleh hal yang nampak (material).Hal-hal yang tidak Nampak karena tertutup oleh hujjah, hanya akan terbuka jika kita dekatdengan agama dan mencari sesuatu yang immaterial (transedental). Contoh orang yangterbutakan adalah pejabat tinggi yang tidak bisa nyenyak meski tidur di istana, sementara orangbiasa tidur pulas meski hanya di asrama. Maka, seorang hamba Allah yang cerdas tak akanterpedaya dengan dunia, seindah apa pun ia tampil.Pada kesempatan lain sambil menunggu penceramah yang datang terlambat, sang ustadz jugamenceritakan bahwa sesuatu yang pasti, namun karena tidak diulang-ulang, maka menjadiseolah-olah tidak pasti. Sebagai contoh, adalah maut. Entah kapan dan dimana, maut akan datangkepada segala hal yang hidup. Sayangnya, meski maut adalah hal yang mutlak kebenarannya,banyak orang yang tidak menyiapkan diri untuk menghadapinya, seolah-olah mereka masihbelum yakin bahwa maut akan menjemputnya. Hal ini karena jarang sekali kita membicarakansoal maut dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, sesuatu yang tidak pasti, karena diulang-ulang, maka terlihat seolah-olah menjadi pasti. Contohnya adalah kehidupan dunia soal karir,pendidikan, kekayaan, atau juga kondisi masa depan. Apa yang kita lakukan dengan kerja kerasdari pagi hingga malam seolah-olah sudah pasti akan memberi keuntungan dan nilai tambah bagihidup kita. Padahal, dunia adalah kehidupan yang sesungguhnya semu, bahkan cenderung“menipu”, kecuali bagi mereka yang tidak mau terjerumus kedalam permainan dunia yang penuhjebakan dan senda-gurau. Page | 62
  • 70. Dalam kasus lain, karena AS berkali-kali disebut sebagai negara super power baik secara militermaupun ekonomi, maka orang membayangkan jika suatu negeri diserbu AS maka pasti hancurlebur dalam hitungan hari. Namun orang tidak berpikir bahwa bencana tsunami yangmeluluhlantakkan Aceh (2004) dan Jepang (2011) hanyalah setitik abu dari kekuasaan Allahyang begitu besar tak terbatas. Dalam kenyataannya, orang justru mengagumi kehebatan ASdibanding kekaguman kepada Sang Pencipta alam semesta.Berbagai ilustrasi tadi menyiratkan sebuah kondisi dimana nilai-nilai agama sudah mulaitergerus oleh pragmatisme keduniawian. Saking pendeknya pemikiran manusia, orang tua selalumenasihati anaknya agar menggantungkan cita-cita setinggi langit. Padahal, langit hanyalahsetitik ciptaan Allah yang teramat luas diluar kemampuan akal pikiran manusia. Oleh karena itu– menurut ustadz teman saya tadi – seharusnya kita menggantungkan cita-cita semata-matahanya untuk menuju kepada pencipta kita, yakni Allah SWT, dan meraih ridho-Nya.Kondisi serba keduniawian tadi sedikit banyak dikontribusikan oleh sistem pendidikan formal,pendidikan informal, maupun pendidikan aparatur yang sangat sekuler dan kurang sekalimemberi porsi pendidikan akhlak, budi pekerti, etika, dan keagamaan. Oleh karena itu,paradigma pendidikan di Indonesia semestinya lebih memberi porsi terhadap muatan-muatanspiritualitas dan keagamaan.Selain teman yang ustadz tadi, saya juga beruntung mengenal seseorang yang telah cukup sepuh(57 tahun) yang sudah saya anggap sebagai saudara bahkan orang tua bagi saya. Ciri khas beliauadalah sangat kocak, baik hati, dan suka memotivasi orang lain. Saya adalah salah seorang yangdidukung oleh beliau untuk menjadi yang terbaik dalam kelas kami. Beliau mengatakan bahwapegawai seusia saya memang harus memiliki target-target yang tinggi dan tidak boleh kendor.Beliau juga memiliki keyakinan bahwa saya memiliki kemampuan memadai untuk menjadi yangterbaik.Dengan lingkungan sosial seperti si ustadz atau teman yang sudah saya anggap sebagai bapaktadi, maka saya merasa keberadaan saya dalam program Diklatpim II begitu tidak sia-sia.Banyak keuntungan yang benar-benar saya dapatkan, dan saya yakini sangat bermanfaat bagi dirisaya pribadi. Tentu saja, saya juga berusaha agar keberadaan saya membawa keberuntungan danmanfaat buat teman-teman yang lain.Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 26 Juli 2011 Page | 63
  • 71. Jurnal #30 Pengendalian Diri: Esensi Lain KepemimpinanPagi ini setelah senam pagi, ketua kelas mengumumkan bahwa pada hari Senin, 1 Agustus 2011,tidak akan ada pembelajaran, setelah mendapat persetujuan dari Kapus Diklat SPIMNAS BidangKepemimpinan. Pengumuman ini menyebabkan banyak orang merasa plong. Ada beberapaorang yang plong karena dapat pulang kampung dan merasakan puasa hari pertama bersamakeluarga, namun beberapa orang lain – termasuk saya – plong karena telah tercapai kesepahamanantara kelas dengan penyelenggara, sehingga keputusan tersebut dapat mencegah darikemungkinan lain yang lebih buruk.Malam hari sebelumnya, di ruang makan sempet perbedaan pandangan yang cukup tajam antarakelompok yang menghendaki agar pengurus kelas menghadap dengan baik-baik kepadapenyelenggara untuk menyampaikan aspirasi mayoritas peserta agar hari pertama puasadiliburkan, dengan kelompok yang menghendaki semua peserta untuk tidak hadir pada haripertama puasa dengan berlindung dibalik “hak” peserta untuk minta ijin. Perbedaan ini munculsebagai bentuk respon yang berbeda terhadap surat jawaban Kapus Diklat SPIMNAS BidangKepemimpinan yang menolak dengan halus permohonan yang diajukan ketua kelas untukmeliburkan hari pertama puasa.Kelompok yang menyarankan agar ditempuh dialog percaya bahwa selalu ada jalan keluarterhadap setiap masalah atau tujuan bersama. Oleh karena itu, kelompok ini tidak sepakat denganmodel ijin secara massal, karena hal itu sama artinya dengan tindakan pemboikotan. Jikadiperlukan, aspirasi dapat saja didukung dengan bukti tanda tangan peserta secara populasi (tidakmelalui representasi pengurus kelas). Sebagaimana dalam dunia politik, ada sistem demokrasiberdasarkan perwakilan, namun ada pula sistem referendum, yakni meminta pendapat secaralangsung dari seluruh rakyat untuk hal-hal yang sangat fundamental, atau manakala mekanismeperwakilan dinilai tidak lagi efektif.Sementara itu, kelompok kedua berpandangan bahwa tidak mungkin bagi Kapus DiklatSPIMNAS Bidang Kepemimpinan menarik kembali surat penolakannya. Penolakan dipandangsebagai keputusan akhir, dan akan sia-sia menempuh cara yang sama yakni mengirim surat baru,meski dengan tanda tangan secara kolektif. Untuk itu, kelompok ini menghendaki cara yangsedikit “frontal” yakni ijin secara kolektif.Namun, aspirasi untuk mengajukan ijin secara kolektif ini tidak mendapat dukungan beberapateman, khususnya yang saya nilai masih memiliki idealism dalam mengikuti diklat. Selainterkesan “memboikot” penyelenggara, opsi ini juga “merampas” hak peserta yang tetap inginmengikuti pembelajaran sesuai dengan jadual semula. Oleh karenanya, kelompok yang tidaksepakat dengan opsi tadi justru menawarkan opsi lain, yakni agar peserta yang akan pulangkampung pada hari pertama puasa dapat megajukan ijin resmi kepada penyelenggara, tanpaharus mempengaruhi peserta lainnya. Hal ini diyakini sebagai win-win solution bagipenyelenggara dan bagi peserta. Page | 64
  • 72. Satu hal yang menarik dan patut dijadikan sebagai pembelajaran adalah bahwa surat pertamaKapus Diklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan yang berisi penolakan sempat menimbulkanemosi dari beberapa teman yang berusaha melakukan “perlawanan” dengan cara mengusunggagasan ijin massal tadi. Beberapa teman ini terkesan tidak mau menerima surat Kapus Diklatdan ingin “memaksakan kehendak” sendiri. Kesan lain yang saya tangkap, sikap “ngotot”beberapa teman ini dipicu oleh sikap Kapus Diklat yang dianggap tidak aspiratif dan juga tidakkonsekuen dengan sikap awalnya yang memberi harapan, namun pada akhirnya tetap menolak.Kesan saling keukeuh inilah yang saya nilai kurang mencerminkan semangat kepemimpinan,padahal baik peserta maupun penyelenggara pada hakekatnya adalah para pemimpin. Dalampandangan saya, semestinya peserta tetap legawa meski permohonannya ditolak, dan tetapmenjalankan kewajiban mengikuti seluruh program diklat dengan sepenuh hati. Sebaliknya,penyelenggara-pun akan lebih baik jika bisa lebih banyak mendengar dari pada bicara, lebihbanyak meyerap aspirasi dari pada hasrat untuk dituruti. Kedua belah pihak seyogyanya mampumengendalikan diri dan tidak memaksakan kehendak sendiri, namun lebih mengedepankanempati dan mengukur diri berdasarkan “sepatu” orang lain.Mengapa demikian? Bagi saya, pemimpin bukanlah mereka yang harus selalu diikutikeinginannya, namun justru yang dapat mengikuti dan memenuhi keinginan orang lain,khususnya yang berada dibawah kepemimpinannya. Semakin tinggi kemampuan pengendaliandirinya, maka semakin tinggi pulalah kualitas kepemimpinannya. Namun, tentu saja seorangpemimpin tidak selamanya harus bersifat akomodatif dan kompromistis. Dalam keadaan tertentu,mereka juga harus mampu menunjukkan diri sebagai seorang yang memiliki prinsip, tegas, danbahkan berani memberikan sanksi bagi anggotanya yang tidak patuh terhadap keputusan yangdiambil. Dengan kombinasi yang seimbang antara kemampuan mengendalikan diri sertaketegasan dalam bertindak, maka setiap keputusan yang dibuat akan memiliki kadar kewibawaanyang relatif tinggi, sehingga mengundang semua pihak untuk mentaatinya secara sadar danlegawa.Kampus Pejompongan JakartaRabu, 27 Juli 2011 Page | 65
  • 73. Jurnal #31 Men Sana In Corpore SanoPagi hari ini, sehabis senam dan poco-poco bersama, saya melanjutkan olahraga dengan joggingkeliling kampus bersama seorang kawan yang berlatar belakang militer. Aktivitas bersamaseperti ini saya rasakan besar sekali manfaatnya. Disamping menimbulkan rasa kedekatan secarapersonal, juga mampu menjadi sumber inspirasi baru, sebagaimana yang saya alami. Sambilberlari-lari kecil, kami berbincang bebas tanpa topik, mengalir begitu saja seiring dengan alirannafas saya yang semakin ngos-ngosan.Ketika saya sudah merasa ngos-ngosan meski baru satu putaran, sementara kawan saya yang 11tahun lebih tua justru merasa belum “panas”, saat itulah terpikirkan oleh saya betapa tinggikesenjangan antara birokrat sipil dengan aparat militer dalam hal stamina, kebugaran jasmani,dan ketahanan fisik. Padahal, fisik yang kuat akan sangat membantu keberhasilan tugas-tugasorganisasi. Kondisi fisik yang prima juga akan sangat mempengaruhi emosi dan perilaku secarapositif, sebagaimana makna dari pepatah Latin Men Sana In Corpore Sano (dalam tubuh yangsehat terdapat jiwa yang sehat, a sound mind in a healthy body). Ternyata, pepatah ini memilikipengaruh yang sangat kuat (influential) di berbagai sektor. Bukan hanya John Locke (1632–1704) yang menggunakannya dalam bukunya berjudul Some Thoughts Concerning Education,namun institusi militer seperti Royal Marine Physical Training Instructors, Hargrave MilitaryAcademy, Canadian Military, dan sebagainya juga menggunakan sebagai bagian dariindoktrinasi mereka. Intisarinya sederhana saja: jika ingin bahagia, usahakan agar fisik kita sehatdan bugar. Sebab, orang yang terganggu mentalitas atau kejiwaannya, pastilah didahului olehkondisi fisiknya yang tidak memadai.Dengan melihat betapa pepatah itu sudah begitu luas diterapkan, maka agak aneh jika birokrasisipil di Indonesia tidak mencoba mengadopsinya. Dari jogging dengan kawan eks Kolonel tadisaya meyakini bahwa program pembangunan fisik jasmani adalah sebuah kebutuhan yang sangatfundamental bagi pejabat/pegawai pemerintah, termasuk bagi peserta diklat. Ketika sistemkebijakan dan sistem kepegawaian kita sudah mengakomodir aspek fisik jasmani sebagaikebutuhan, maka kesehatan dan kekuatan fisik jasmani ini harus menjadi salah satu kompetensiyang dipersyaratkan dalam proses rekrutmen, mutasi maupun promosi. Selain itu, programpembangunan fisik jasmani juga harus menjadi program yang terstruktur dalam seluruh programorganisasi pemerintah di level manapun. Sejak saat itu, saya memiliki keyakinan baru bahwakeberhasilan pemerintah akan ditentukan sebagian oleh seberapa tinggi tingkat keberhasilanprogram pembangunan fisik jasmani.Manfaat lain yang bisa diperoleh dengan meningkatnya pembangunan fisik jasmani dari birokratsipil adalah menjadi sistem pelapis yang kuat bagi pembangunan ketahanan nasional. Kapan sajaintegritas dan keutuhan bangsa terancam, dan kapan saja Ibu Pertiwi memanggil, maka parapejabat sipil ini telah siap menjadi kekuatan pelapis yang dapat diandalkan. Page | 66
  • 74. Keyakinan baru saya ini adalah sebuah keyakinan yang agak terlambat, karena saya sudahmengabdi 17 tahun lebih untuk birokrasi sipil Indonesia, tepatnya di Lembaga AdministrasiNegara. Selain itu, saat keyakinan ini datang, secara sangat kebetulan program senam pagi telahberakhir, seiring datangnya bulan suci Ramadhan beberapa hari lagi. Artinya, itulah kesempatansaya yang pertama dan terakhir untuk jogging bersama Kolonel sang pelatih. Namun, saya selaluyakin bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk niat baik atau usaha kearah perbaikan,sebagaimana sebuah pepatah mengatakan: better late than never …Kampus Pejompongan JakartaKamis, 28 Juli 2011 Page | 67
  • 75. Jurnal #32 Sindrom Inferioritas Daerah terhadap PusatSuatu ketika, teman sekamar saya yang berasal dari Sumatera Barat menceritakan bahwa dia danteman-temannya adalah pejabat yang tergolong vokal, berpikiran maju, dan sosok-sosok terpilihatau unggulan di daerah. Namun begitu mereka masuk dalam program Diklatpim II, merekamerasa bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kawan saya ini juga melihat bahwa peserta darikementerian atau lembaga tingkat pusat jauh lebih pintar dan hebat dibanding mereka yangberasal dari daerah. Kondisi seperti inilah yang membuat sebagian dari mereka menjadi kurangaktif di kelas, atau menolak diberi peran penting dalam kelompok, misalnya sebagai ketuakelas/ketua kelompok, atau presenter pada aktivitas tertentu. Dengan kata lain, terjadi sebuahkondisi minder (inferioritas) aparat daerah terhadap aparat pusat.Di lain kesempatan, salah satu kawan dari Jambi beberapa kali menceritakan kepada saya bahwamotivasi dia ikut Diklatpim II adalah untuk refreshing, syukur-syukur jika dalam upayapenyegaran tadi mendapatkan ilmu-ilmu baru. Dia seolah menyadari sepenuhnya bahwakeberadaan dia bukanlah untuk memberi nilai tambah bagi program Diklatpim II yang diikutimaupun bagi dirinya sendiri. Boro-boro ada keinginan menjadi yang terbaik, dengan motivasiawal seperti itu, dia tidak fight untuk menyerap pembelajaran semaksimal mungkin, ataumemanfaatkan momentum diklat sebagai kesempatan mengembangkan kapasitas dirinya. Sayamenangkap kesan bahwa dia sudah sangat puas mendapat peran sebagai “pelengkap penderita”.Sekali lagi, hal ini mencerminkan adanya sindrom inferioritas yang menjangkiti sebagian pejabatdaerah.Saya juga memperhatikan, ada seorang kawan dari Sumatera Selatan yang pada 3 minggupertama sangat aktif mengemukakan pendapat di kelas atau di kelompok, namun setelah itugrafiknya terus menurun hingga akhirnya cenderung menjadi pasif. Saya tidak tahu pasti apaalasan dibalik perubahan itu. Bisa jadi karena kejenuhan, namun saya menduga bahwa sindrominferioritas mulai menjangkitinya seiring dengan interaksinya dengan rekan-rekan dari pusat.Jika dilihat beberapa indikator obyektifnya, sesungguhnya sindrom inferioritas tadi tidak perluterjadi. Dilihat dari segi pendidikan, baik peserta dari pusat maupun dari daerah rata-rata adalahmagister (S2), meski beberapa kawan dari pusat memang sudah bergelar doktor. Mereka jugamayoritas sama-sama sudah menduduki jabatan Eselon II, hanya beda tipis antara II-a di pusatdan II-b di kabupaten/kota. Namun, ada dua indikator lain yang memang sangat mencolokkesenjangannya, yakni dalam hal penguasaan bahasa Inggris dengan keterampilanmengoperasikan komputer. Dalam dua aspek ini, teman-teman dari daerah memang terlihat jauhtertinggal. Banyak diantara kawan dari daerah yang membeli laptop bahkan tablet baru, namuntetap saja tidak optimal penggunaannya karena mereka masih dalam taraf belajar. Saya sendiribanyak memberikan bantuan teman-teman daerah tentang cara memanfaatkan internet, caramembaca dan menjawab email, cara mencari informasi penting melalui search engine, dansebagainya. Page | 68
  • 76. Apapun penyebab terjadinya sindrom inferioritas tadi, paling tidak ada dua hal yang patutmendapat perhatian serius dari berbagai pihak yang bertanggungjawab terhadap programpendayagunaan aparatur. Pertama, bagaimana meminimalisir gap kompetensi antara pejabatpusat dan daerah, sekaligus menjamin kompetensi yang standar untuk level jabatan yang sama,baik di pusat maupun daerah. Kedua, bagaimana menyelaraskan antara tujuan penyelenggaraanDiklatpim II dengan ekspektasi individual peserta. Hal ini sangat penting karena jika tujuandiklat adalah meningkatkan kompetensi sementara orientasi peserta hanya untuk refreshing,maka sesungguhnya telah terjadi inefisiensi sumber daya, baik pada instansi asal peserta tersebutmaupun pada instansi penyelenggara diklat.Upaya lain yang dapat dipikirkan adalah dengan menciptakan forum-forum yang lebih sering,yang melibatkan interaksi pejabat dari daerah dan dari pusat secara timbal balik. Dalam konteksini, desain Diklatpim II menurut saya sudah sangat bagus untuk memainkan fungsi sebagaijembatan kompetensi antar daerah, antar kementerian/lembaga, serta antara pusat dan daerah.Bahkan ada baiknya jika seluruh diklat aparatur juga didesain dengan untuk mempertemukanunsur daerah dan pusat. Demikian pula dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tertentu,meskipun sebagian besar telah didesentralisasikan kepada daerah lengkap dengan komponenpembiayaannya, perlu dipikirkan mekanisme yang menyatukan unsur pusat dan daerah dalamimplementasinya. Dengan adanya program yang selalu didesain dalam kerangka “sinergi pusat –daerah”, diharapkan tidak akan terjadi lagi sindrom inferioritas dari kelompok yang satu terhadapkelompok yang lain.Kampus Pejompongan JakartaJum’at, 29 Juli 2011 Page | 69
  • 77. Jurnal #33 Sarung dalam Diklat: Tabu atau Mutu?Di ruang makan lantai 2 Gedung Graha Wisesa terdapat pengumuman berbunyi “Alangkahterhormatnya saya karena tidak memakai sandal jepit, kain sarung, celana pendek, kaos oblongdi ruang makan ini”. Salah seorang teman komplain dengan mengatakan bahwa menghadapAllah saja kita pakai sarung, masak dilarang atau dianggap tidak sopan saat digunakan di ruangmakan? Meski dalam nada gurauan, celetukan kawan tadi menurut saya memiliki nilai kritikyang tajam dan strategis.Tajam, karena selama ini kita terlanjur terjebak dalam mindset bahwa penggunaan sarung adalahsesuatu yang tidak pada tempatnya. Menghadap pejabat dengan sarung bisa jadi akan dipandangsebagai sikap tidak sesuai tata krama dan bahkan penghinaan. Mengikuti rapat dengan memakaisarung sangat mungkin dianggap sebagai orang gila. Pesan eksplisit yang terkandung padakalimat yang terpampang di ruang makan tadi sangat jelas, yakni orang yang makan denganberpakaian kain sarung adalah orang yang tidak terhormat. Maka, kritik terhadap mindset sepertiitu adalah kritik yang sangat tajam dan jernih. Pertanyaannya, mengapa sarung yang merupakanwarisan budaya dan tradisi bangsa, justru dihinakan sedemikian rendah oleh bangsa kita sendiri,sementara Tuhan saja sangat senang menerima hamba-Nya yang bersarung? Sejak kapan bangsaini menjadikan sarung sebagai peluntur kehormatan seorang manusia?Jika kita flashback kembali ke jaman pergerakan kemerdekaan, tokoh nasionalis religius sepertiH. Agus Salim selalu menggunakan pakaian kombinasi adat Jawa dan Islam, yang mengandungunsur sarung. Demikian pula KH. Mustofa Bisri, sering berpakaian selayaknya H. Agus Salim,meski pada acara-acara formal kenegaraan. Toch, tidak satupun orang di seluruh dunia yangmenilai H. Agus Salim atau KH. Mustofa Bisri tidak punya kehormatan. Justru dengan sepenuhhati dan kebanggaan mau menggunakan produk asli negerinya dan identitas kulturalnya,menunjukkan mereka sebagai kader pemimpin yang sangat kokoh dan berwibawa. H. AgusSalim, yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, bahkan pernah dijuluki sebagai"Orang Tua Besar" (The Grand Old Man).Kritik diatas juga saya katakana strategis, karena ternyata kita tidak tahu bahwa kita memilikipotensi budaya yang besar namun kita abaikan begitu saja. Dari pada melarang menggunakansarung di ruangan makan, atau dalam pertemuan resmi di tempat kerja, mengapa tidak kita ambilpilihan yang sebaliknya? Katakanlah misalnya himbauan untuk menggunakan sarung setiap hariJum’at bersamaan dengan penggunaan Batik? Atau, kenapa tidak sekalian diajdikan sebagaipakaian resmi rakyat Indonesia? Mengapa kita lebih bangga menggunakan seragam orang lain(jas) dibanding kekayaan bangsa sendiri? Apa yang harus membuat kita malu untuk bersarung?Bukankah sarung justru adalah salah satu keunikan budaya Indonesia? Bukankah sarung jugamemiliki potensi ekonomi sangat besar jika ditunjang oleh kebijakan publik yang berpihak?Bukankah sarung juga bisa dimanfaatkan sebagai alat diplomasi internasional, sebagaimanawarisan budaya (heritage) kita yang lain seperti Angklung, Gamelan, Kain Kebaya, dan deretankekayaan bangsa yang tidak terbatas? Page | 70
  • 78. Maka, perubahan mindset melihat kondisi dan potensi bangsa sendiri harus dilakukan secararevolusioner. Dalam hal ini, LAN sebagai institusi pemikir dan institusi pendidikan milik seluruhrakyat Indonesia, harus mengambil peran sebagai garda terdepan dalam reformasi pola pikir.Langkah kecil di awal yang dapat dilakukan adalah mengganti pengumuman yang mearangpemakaian sarung menjadi pengumuman yang berisi ajakan (encouragement) untukmemasyarakatkan sarung dan menjadikannya sejajar dengan model-model pakaian yang lebihdahulu populer. Issu-issu yang mengangkat kekayaan etnis, tradisi dan budaya bangsa sebaiknyajuga dipromosikan melalui adopsi dalam konten kurikulum (misalnya dalam sessi DIT), atau bisajuga melalui aplikasi nyata yakni “mewajibkan” peserta diklat di LAN untuk mengkombinasikanbatik dengan sarung setiap hari Jum’at.Mungkin saja LAN, dalam hal ini Pusdiklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan, tidak beranimelakukannya. Namun kepada siapa lagi kita berharap ada elemen anak bangsa yang peduliterhadap nasib warisan leluhur yang begitu berharga? Menurut saya pribadi, jika LAN beranimelakukannya, ini akan menjadi sebuah ide besar yang inovatif, serta akan terus bergulirmenjadi wacana publik, dan pada akhirnya akan diadopsi menjadi kebijakan nasional yangberlaku di seluruh wilayah nusantara. Tentu saja, nama, corak dan cara pemakaian “sarung” akansangat bervariasi di berbagai daerah, dan itu membuat pelangi keragaman semakin indah danpatut dibanggakan.Pelajaran lain yang saya tarik dari kasus “sarung” ini adalah bahwa originalitas kebijakan tidakharus dicari dari lingkungan eksternal organisasi atau bangsa Indonesia. Pembelajaran tidakharus ditempuh dengan mengirim tim untuk studi banding yang hanya menghambur-hamburkananggaran negara. Di tengah-tengah bangsa sendiri sesungguhnya terdapat banyak sekali ragampotensi yang belum tergali dan menjadi sumber tak ternilai harganya sebagai input kebijakanpublik. Sudah saatnya kita tidak alergi dan tidak tabu dengan hal-hal yang berbau etnis atautradisi. Sebaliknya, hal-hal tersebut harus dikembangkan sebagai faktor untuk meningkatkanmutu dan harga diri kita sebagai bangsa secara keseluruhan.Kampus Pejompongan JakartaSenin, 1 Agustus 2011 Page | 71
  • 79. Jurnal #34 Hari Pertama Puasa di KelasHari ini adalah hari kedua puasa, yang menjadi hari pertama puasa di kelas Diklatpim II (haripertama puasa diisi dengan belajar mandiri). Ada sedikit situasi yang berbeda dibanding hari-harisebelumnya, yakni suasana kelas yang lebih sepi karena ada beberapa kawan yang mengambilijin. Selebihnya, peserta terlihat tetap enerjik dan semangat, tidak nampak raut-raut muka lesu.Entah karena baru dua hari berpuasan atau alasan lain, yang pasti semangat peserta dalam belajarsehari penuh membuat saya salut dan berbangga hati.Hari pertama pembelajaran pada bulan Ramadhan ini juga ditandai dengan kejutanmenyenangkan dari peserta yang baru kembali dari daerah. Saya sangat terkejut ketika waktuberbuka tiba, ternyata di ruang makan telah terhampar begitu banyak makanan khas daerah, yangpaling banyak adalah empek-empek Palembang. Ada juga kawan yang membawa Bolu Merantikhas Medan, jojorong khas Banten, dan sebagainya. Sangat mungkin situasi ini tidak akanterulang besok dan hari-hari berikutnya. Pemandangan di ruang makan tadi, sekali lagi,meyakinkan saya bahwa bangsa kita teramat kaya dengan aneka ragam budaya, yang salah satuwujudnya berupa aneka ragam makanan tradisional.Seketika saya terinspirasi oleh jurnal #33 tentang warisan budaya berupa sarung yang selayaknyamendapat perhatian serius dari pimpinan nasional. Demikian pula, potensi kuliner dari berbagaidaerah juga harus dipromosikan secara optimal, misalnya dengan menjadikannya sebagai menupilihan pada program diklat yang diselenggarakan oleh pemerintah.Selama ini saya mencermati bahwa kebijakan pemerintah belum cukup membuka ruang bagipengembangan produk unggulan lokal. Wacana keberpihakan begitu gencar namun realisasisering tidak sesuai dengan wacana yang didengung-dengungkan. Karena bangsa kita lebih pandaiberwacana, maka ketahanan pangan sulit sekali terwujud meski Indonesia adalah negara agraris;kelangkaan air bersih terjadi dimana-mana meski tingkat curah hujan sangat tinggi hinggamenimbulkan bencana banjir; pemasukan devisa sektor pariwisata rendah sementara potensiatraksi budaya dan keanekaragaman wisata melimpah ruah; rakyat dan pemerintah miskin meskikekayaan alam nyaris tak terbatas. Lebih ironis lagi, ketika kekayaan kita di-claim oleh negaratetangga, baru kita merasa kecolongan dan bertindak reaktif. Artinya, kesadaran sebagai bangsaakan kekayaan dirinya sangat terlambat sebagai akibat kebijakan publik yang seringkali tidakberpihak kepada diri sendiri dan lebih banyak melihat keluar (outward looking).Padahal, kebijakan pemerintah sesungguhnya tidak hanya berfungsi regulatif untuk menciptakanketertiban ditengah masyarakat, namun juga untuk menggali dan memberi nilai tambah terhadappotensi anak bangsa, sekaligus untuk menciptakan keberdayaan rakyat kecil, komoditas yangberdaya saing lemah, serta melindungi kelompok masyarakat yang tidak beruntung secara sosialekonomi maupun politik (disadvantaged groups). Perkara sebuah kebijakan harus berpandanganjauh melampaui spectrum (out of the box), adalah sebuah kebutuhan. Namun jangan sampaipandangan keluar tadi kemudian melenakan diri dari kewajiban untuk berpikir kedalam (inward Page | 72
  • 80. looking). Dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara berpikir global dengan bertindaklokal (think globally, act locally).Satu hal lagi yang saya amati pada hari ini adalah “kemanjaan” peserta yang meminta dilakukanpenyesuaian jadual pembelajaran. Kemanjaan pertama sudah terjadi minggu lalu ketika mintakepada penyelenggara untuk menetapkan hari senin, 1 Agustus, sebagai aktivitas belajar mandiri.Implikasi dari penetapan sebagai belajar mandiri tadi, maka pada hari Selasa dan Rabu adatambahan jam belajar malam hari. Namun, pengurus kelas – atas nama peserta – sekali lagimeminta dispensasi agar jam malam tadi ditarik ke sore hari, sehingga jam 18.00 seluruhrangkaian belajar sudah dapat diakhiri.Sebagai peserta, tentu saja saya sangat tidak keberatan dengan opsi tersebut. Namun sebagaibagian dari organisasi publik yang dituntut untuk mampu menunjukkan konsistensi atas pilihan,ketaatan terhadap aturan, serta keteladanan bagi orang lain, saya cenderung memilih untukberpegang teguh pada jadual semula. Jika seorang pemimpin atau calon pemimpin tidakmemegang janjinya, apa yang akan terjadi dengan orang-orang yang dipimpinnya? Jikapemimpin tidak mau bekerja keras dan berkorban diri, bagaimana mungkin orang lain akanmeneladaninya? Sikap manja dan upaya untuk selalu mencari dispensasi jelas tidakmencerminkan jiwa kepemimpinan yang kokoh.Saya jadi mengerti kata pepatah: guru kencing berdiri, murid kecing berlari. Pepatah serupa dariArab mengatakan: saya lebih takut 1000 pasukan itik yang dipimpin seekor singa, dari pada1000 pasukan singa yang dipimpin oleh seekor itik. Pelajaran yang terkandung dalam keduapepatah tadi adalah, baik buruknya suatu organisasi, maju mundurnya sebuah negara, danberhasil tidaknya sebuah misi, akan sangat tergantung pada pemimpinnya. Nah, jika dalamtemporary system saja peserta sudah manja, bagaimana ketika kembali ke permanent systemnantinya?Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 2 Agustus 2011 Page | 73
  • 81. Jurnal #35 Merenungkan Filosofi Dasar DiklatSuatu ketika, saya mendapatkan sebuah inspirasi dari widyaiswara sit-in pada Kajian Paradigma.Beliau memberi nasihat yang bersumber dari filosofi orang Jawa sebagai berikut: Yen kenceng aja nglancangi … Yen landhep aja natoni … Yen pinter aja ngguroni …Ungkapan berbahasa Jawa diatas kurang lebih artinya adalah: jika kita bisa berlari kencang,hendaknya tidak meninggalkan teman/orang lain; jika kita memiliki kemampuan berpikir danberbicara secara kritis, hendaknya tidak menimbulkan perasaan sakit hati atau ketersinggungan;dan jika kita pandai, usahakan agar jangan meremehkan orang lain dan merasa diri kita palinghebat atau paling pintar. Sebab, pada dasarnya tidak ada seorangpun yang suka dilangkahi,dilukai, dan dibodohi.Kalau kita perhatikan, esensi diklat adalah menghasilkan alumni yang dapat bekerja danmengambil keputusan secara cepat namun akurat (kenceng), yang mampu berpikir jernih danmampu memberikan solusi fundamental terhadap masalah yang dihadapi (landhep), serta yangmemiliki kemampuan intelektual dan daya nalar yang tangguh (pinter). Justru patutdipertanyakan jika seseorang yang sudah lulus diklat masih saja ragu-ragu dalam menghadapidinamika organisasi, atau tidak mampu mengayomi dan mengakomodir perbedaan pendapat danaspirasi anak buahnya, serta tidak memiliki konsep untuk kemajuan dan masa depan organisasi.Jika diperhatikan lebih jauh, kompetensi kenceng, landhep, dan pinter adalah kompetensi padadomein kecerdasan intelektual (intellectual quotient) belaka. Jelas ketiga kompetensi ini menjaditarget penting dari penyelenggaraan diklat. Namun dibelakang ketiga kata tersebut terdapat kataaja, yang berarti jangan. “Jangan” adalah sebuah sinyal filsafati yang berfungsi sebagai alatkendali agar seseorang tidak terjerumus oleh kelebihannya sendiri. Banyak kasus dimana orangpandai justru gagal karena kepandaiannya, orang cantik/ganteng yang terhina karena kecantikan/kegantengannya, atau orang kuat yang menjadi lemah oleh kekuatannya sendiri. Selain ketigaungkapan diatas, masih ada ungkapan-ungkapan Jawa lainnya yang menggunakan kata ajadengan fungsi yang mirip. Beberapa diantaranya adalah aja dumeh, aja nggege mangsa, ngonoya ngono ning aja ngono, dan sebagainya.Oleh karena itu, kata aja lebih mengedepankan kecerdasan emosional (emotional quotient), yangsekaligus menjadi penyeimbang terhadap kecerdasan intelektual. Artinya, kecerdasan intelektualsemata tidak ada maknanya tanpa kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual akanbermakna ganda saat dilandasi oleh kecerdasan emosional. Dengan fondasi kecerdasanemosional ini, maka ketajaman tidak akan melukai, kepandaian tidak menjadikan orang minder,kecepatan tidak akan mengabaikan atau meninggalkan orang lain, kekuasaan tidak akan men-dzalimi sesama, dan kekuatan tidak akan merusak lingkungan sekitarnya. Page | 74
  • 82. Dalam konteks inilah, diklat aparatur mendapat tantangan berat untuk tidak sekedarmenghasilkan manusia-manusia pintar, kreatif, cekatan, atau tajam dalam berargumentasi,melainkan juga harus mampu membentuk insan-insan yang santun, menghormati dan berempatikepada orang lain, mementingkan keharmonisan dan keseimbangan dalam kelompok, sertaringan tangan dalam memberdayakan rekan-rekannya.Saya sendiri belum tahu strategi diklat seperti apa yang efektif untuk membangun kompetensiemosional tersebut. Tentu saja, metode ceramah dan diskusi tentang change management,mindset and culture-set, building shared-vision and team-learning, dan sebagainya masih tetaprelevan, meski lebih banyak mengasah otak kiri. Secara simultan, metode tadi perlu diimbangidengan kerja kelompok dan teknik-teknik alternatif lainnya seperti praktek pelayanan,pembimbingan, pembiasaan bahasa tubuh dalam interaksi sehari-hari, dan sebagainya.Singkatnya, saya – dan mungkin banyak orang yang lain – mendambakan sebuah sistem diklatyang mampu melahirkan sosok-sosok yang pinter otaknya sekaligus baik perilaku dan hatinya,sebuah perpaduan yang begitu ideal bagi jajaran abdi negara dan abdi masyarakat!Kampus Pejompongan JakartaRabu, 3 Agustus 2011N.B. untuk referensi tentang pilar pendidikan, lihat http://www.unesco.org/delors/fourpil.htm Page | 75
  • 83. Jurnal #36 Ide Kecil dari Survei Sederhana tentang Diklatpim IIHari ini, tidak ada peristiwa yang menarik untuk dicermati. Semua berjalan normal dan rutin,tanpa dinamika yang unique atau peristiwa menarik. Sebagai gantinya, saya mencoba melakukanpenelusuran tentang persepsi teman-teman peserta terhadap program diklat yang sedang kamijalani bersama. Tentu, metodologinya tidak ilmiah meskipun kaidah-kaidah metodologis tidaksaya abaikan sama sekali. Sebagai contoh, “responden” yang saya pilih adalah mereka yang dimata saya memiliki keseriusan untuk mengikuti diklat. Bagi mereka yang hanya melihat diklatsebagai formalitas pejabat eselon II, atau sekedar mencari teman baru, atau hanya mengikutinyadengan setengah hati, jauh dari kriteria saya untuk menjadikannya selaku nara sumber.Pertanyaan yang saya ajukan hanya satu dan sangat sederhana meski bersifat eksploratif.Pertanyaan saya: menurut anda, apa yang perlu dilakukan untuk membenahi penyelenggaraanDiklatpim II dimasa mendatang? Jawabannya cukup beragam, dan saya hanya menggarisbawahibeberapa saja yang menurut saya layak dan kebetulan sejalan dengan pemikiran saya sendiri.Jawaban yang paling banyak saya terima adalah waktu yang terlalu panjang dan cenderung tidakefektif karena mengejar target kuantitas dari pada kualitas. Tanpa harus mengorbankan kualitas,sebenarnya durasi diklat bisa lebih dipersingkat dengan mengurangi penugasan-penugasan yangtidak terlalu urgen. Dengan penugasan yang begitu banyak, akhirnya peserta cenderung mengejartarget penyelesaian tugas namun berimplikasi pada proses dan mutu yang tidak optimal.Untuk diketahui, produk pembelajaran yang harus dihasilkan peserta teramat banyak denganwaktu yang saling berkejar-kejaran. Belum lagi tugas A tuntas, sudah peserta juga harusmengerjakan tugas B, C dan D secara bersamaan. Belum lagi tugas DIT Individu selesai,misalnya, mereka juga harus menyusun jurnal harian, DIT integrasi, KTP-2, KKT, TOR SL, ataubahkan presentasi bahasa Inggris. Keadaan overload seperti ini terus “menghantui” peserta sejakawal hingga akhir, ibaratnya sekedar untuk menghela nafaspun tak lagi sempat. Sekeras apapunpeserta bekerja, tetap saja tidak bisa maksimal. Ujung-ujungnya, munculnya istilah “ah, ini kancuma latihan”, atau “tidak usah terlalu ngoyo lah, yang penting tugas selesai”, atau “siapa jugayang akan ngoreksi hasil kerja peserta yang sedemikian banyak, paling cuma dibaca secarasekilas”, atau ungkapan-ungkapan lainnya yang jelas tidak mendukung semangat membangunkualitas.Pada dasarnya, mayoritas peserta sangat eager untuk menyerap materi pembelajaran, namunkonsentrasi mereka menjadi terpecah belah dengan adanya target-target laporan. Akibatnya,ditengah-tengah materi pembelajaran, malah banyak yang mengerjakan tugas-tugas tersebut,sehingga proses pembelajaran menjadi kurang efektif.Maka, alangkah baiknya jika urusan kuantitas mulai dikurangi dan difokuskan pada proses yanglebih kualitatif. Peserta hendaknya tidak diarahkan untuk menjadi “atlet loncat gawang” yangharus meloncati satu gawang untuk beralih ke gawang berikutnya dan melupakan gawang Page | 76
  • 84. sebelumnya. Mungkin ada baiknya peserta diarahkan untuk memilih dan memiliki satu gawang,dan gawang itulah yang harus dia jaga betul, dia percantik, dia kembangkan, dia perkuat,sehingga pada akhirnya benar-benar menjadi gawang yang kokoh dan indah. Peserta hendaknyajuga tidak dibentuk sekedar menjadi generalis yang mengetahui banyak hal secara sedikit, ataumenjadi spesialis yang hanya mengetahui sedikit hal secara mendalam, namun harusnya menjadisosok generalis yang terspesialisasi.Konsep pembelajaran yang berlaku saat ini boleh saja diteruskan karena membangun kompetensigeneralis, namun dengan dua catatan. Pertama, kurangi frekuensi penugasan yang berujungformalitas. Kedua, beri kesempatan peserta untuk memilih satu atau dua materi atau jeniskompetensi tertentu untuk didalami. Setiap peserta boleh saja memilih jenis keahlian yangberbeda, misalnya SWOT, Analisis Kebijakan, Scenario Planning, atau yang lain. Tugaspenyelenggara adalah menyediakan pembimbing yang memiliki kompetensi tidak setengah-setengah dalam setiap bidang kompetensi tersebut. Dengan cara ini, pada akhir diklat setiappeserta tidak hanya improved kompetensi generalisnya, namun juga memiliki keahlian khusussesuai minat dan kebutuhannya. Artinya, status peserta hanya boleh beralih menjadi alumni jikabenar-benar telah memiliki spesialisasi tertentu. Jika perlu, LAN dapat mengeluarkan sertifikatkhusus atau surat keterangan tambahan yang menerangkan bahwa yang bersangkutan benar-benar telah memiliki spesialisasi di bidang tertentu.Hal lain yang saya tangkap dari pendapat teman-teman adalah tidak adanya sistem insentif dalamdiklat kepemimpinan sehingga tidak merangsang tumbuhnya motivasi. Idealnya, memang diklatformal yang merupakan amanat peraturan perundang-undangan, haruslah memberi reward atauinsentif, misalnya berupa civil effect (efek kepegawaian). Sebagai contoh, seseorang yangberhasil menduduki peringkat 1 hingga 3 mendapat hak kenaikan pangkat istimewa dari negara,medali penghargaan (gold medal) dari Kepala LAN, dan plakat dari Kapus Diklat SPIMNASBidang Kepemimpinan. Selanjutnya, peringkat 4 hingga 6 akan mendapat medali penghargaan(silver medal) dari Kepala LAN dan plakat dari Kapus Diklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan.Adapun peringkat 7 hingga 10 akan menerima medali penghargaan (bronze medal) dari KepalaLAN dan plakat dari Kapus Diklat SPIMNAS Bidang Kepemimpinan. Selain plakat, KepalaLAN juga dapat memberikan surat rekomendasi kepada pimpinan instansi peserta yangberprestasi, yang berisi pernyataan bahwa peserta tersebut sangat layak untuk mendapatkanpromosi jabatan setingkat lebih tinggi.Dengan iming-iming seperti itu, gairah peserta tentu akan terbangkitkan dan adrenalin merekapun pasti bergejolak dahsyat. Namun, jika hal ini akan direalisasi, tentu penyelenggara harusmelakukan pembenahan menyeluruh dalam sistem penyelenggaraan diklat agar tidakmenimbulkan kesan subyektivitas, dugaan KKN, atau kemungkinan lain yang tidak diinginkan.Namun, tantangan seperti ini bagi saya adalah sebuah “godaan” yang menggelorakan dan seolah-olah menuntut pembuktian bahwa kita benar-benar “laki-laki”. Maka, bagi saya pribadi, tidakada jawaban lain kecuali Siaaaappppppp grak !!Kampus Pejompongan JakartaKamis, 4 Agustus 2011 Page | 77
  • 85. Jurnal #37 Semua Kembali Kepada Diri SendiriEntah ada hubungannya atau tidak, tiba-tiba saya ingin menganalogikan diklat dengan agama.Selama ini orang mengkritik diklat dengan mengatakan bahwa alumni diklat tidak berubahsetelah kembali ke induk organisasinya, atau bahwa alumni diklat banyak yang tersangkut kasuskorupsi, atau bahwa mereka berkontribusi positif terhadap kinerja lembaga, dan seterusnya.Seolah-olah, diklat adalah obat mujarab untuk semua penyakit organisasi atau tempat pengecoranlogam dimana kita bisa mengolah logam cair menjadi bentuk apapun yang kita kehendaki. Maka,diklat menjadi “tertuduh” ketika gagal menghasilkan manusia yang unggul dan bermutu tinggi,berbudi luhur dan berkarakter mulia, cekatan dan terampil, dan sebagainya.Sama kasusnya dengan pendidikan agama. Meski sekolah agama bertebaran dimana-mana,pengajian dan kebaktian digelar dengan frekuensi yang amat tinggi, media dakwah juga beranekaragam, tetap saja banyak kasus pelanggaran nilai-nilai keagamaan seperti mencuri (termasukkorupsi), berbohong, memfitnah, dan beragam tindakan tidak terpuji lainnya. Dalam kasusseperti itu, apakah agama harus disalahkan? Tentu saja tidak.Diklat maupun agama hanyalah berisi program-program penyadaran dan pencerahan. Soalapakah keduanya dapat menjadikan orang tersadarkan atau tercerahkan, akan sangat tergantungkepada pribadi orang tersebut, apakah ada niat bulat untuk menerapkan nilai-nilai yang diperolehdari diklat dan ajaran agama, atau tidak. Sebagai contoh, di Diklatpim II ini ada peserta yangsangat sungguh-sungguh belajar dengan segenap kemampuannya dilandasi hasrat meningkatkankompetensi dirinya, namun ada pula yang sekedar mencari sertifikat kelulusan. Nah, ketika hasilyang mereka peroleh sangat bertolak belakang, semestinya bukan program diklat yangdikambinghitamkan. Sama halnya ketika banyak tindakan asusila atau perbuatan dosa yangdilakukan seseorang, bukan agama atau ustadznya yang dipersalahkan.Hal terpenting adalah bahwa program diklat tersebut sudah didesain sedemikian rupa sehinggamembentuk sebuah sistem yang dapat diandalkan untuk membangun profesionalisme seseorang.Soal apakah dia mau memanfaatkan kesempatan ikut diklat sebagai kesempatan emasmembangun kapasitas individunya atau tidak, hal itu sepenuhnya berkaitan dengan motivasiintrinsiknya, bukan tanggungjawab program diklat. Dalam bahasa agama, kita tidak bisamemaksa seseorang untuk beriman, karena iman akan datang seiring dengan upaya kita mencarihidayah dari Sang Maha Pencipta.Baik diklat maupun agama hanyalah trigger dari luar diri seseorang, yang kekuatannya jauhlebih kecil dibanding semangat dan motivasi yang berasal dari dalamnya lubuk hati. Dalambeberapa hal, nilai-nilai yang dikembangkan dalam diklat atau diajarkan dalam agama memangdapat merangsang tumbuhnya kesadaran seseorang untuk menjadikan dirinya lebih berkualitasatau lebih mulis (outside in). Namun, internalisasi nilai-nilai diluar kejiwaan seseorang iniseringkali bersifat temporer, sehingga tidak dapat terlalu diharapkan untuk merubah perilakuseseorang untuk jangka panjang. Model pembentukan karakter dan kepribadian yang jauh lebih Page | 78
  • 86. efektif adalah melalui proses pengendapan, penghayatan dan penanaman keyakinan terhadapsebuah sistem nilai, untuk kemudian diaplikasikan dalam perbuatan sosial (inside out).Oleh karena diklat maupun ceramah agama hanya dapat mempengaruhi sikap mental seseorangsecara temporer, maka sedapat mungkin program diklat dan ceramah tadi harus dilakukan secaraterus-menerus atau berkelanjutan (sustain) dan berulang-ulang (repetitive). Sesungguhnya hanyasebuah kemubaziran ketika satu jenjang jabatan (eselon) hanya menyediakan satu kali diklat.Akan lebih baik kiranya jika didesain program diklat yang pendek-pendek namun denganfrekuensi yang lebih sering. Selain dapat menjadi forum penyegaran terhadap materi yang pernahdiberikan pada diklat yang sebelumnya, frekuensi keikutsertaan dalam diklat yang lebih banyakjuga memberi peluang interaksi antar pejabat yang lebih sering pula, sehingga terjadi efek crosslearning, experience sharing, sekaligus membangun mutual understanding antar institusi.Ini hanyalah pemikiran sederhana yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk mengupayakanperbaikan sistem diklat aparatur. Meskipun demikian, apapun upaya yang akan ditempuh,semuanya akan kembali kepada masing-masing individu, apakah akan menjadikan materi diklatsebagai pelecut kinerja, atau ceramah agama sebagai pengobar semangat berbuat kebaikan,ataukah tidak. Sebagaimana Firman Allah bahwa nasib suatu kaum tidak akan berubah kecualikaum tersebut yang mengubahnya, maka kompetensi seseorang juga tidak akan pernahmeningkat selama ia tidak sungguh-sungguh ingin meningkatkannya. Pandai dan bodohbukanlah takdir, sebagaimana sukses dan gagal bukanlah kehendak Tuhan. Semuanya adalahpilihan dan kehendak bebas (free will) kita sendiri. Maka, tentukan pilihanmu … sekarang!Kampus Pejompongan JakartaJum’at, 5 Agustus 2011 Page | 79
  • 87. Jurnal #38 Antara SL dan Istri TercintaHari ini kami memulai kegiatan Studi Lapangan sebagai bagian dari aktualisasi pembelajaranterhadap tiga kajian yang telah kami selesaikan, yakni Kajian Paradigma, Kajian KebijakanPublik, dan Kajian Manajemen Strategis. Dengan aktualisasi ini, peserta dituntut mampumengimplementasikan secara terpadu teori/konsep yang telah dipelajari, dan mengkaitkannyadengan tema diklat. Lokus SL adalah Provinsi Kalimantan Selatan dengan sub-lokus KotaBanjarmasin, Kabupaten Banjar Baru, dan Kabupaten Tanah Laut, dan akan memakan waktuselama 6 hari, termasuk perjalanan pergi dan pulang.Dalam rangkaian SL nantinya, kami akan mengunjungi beberapa instansi untuk melakukanaudiensi yang dilanjutkan dengan pengumpulan data, baik melalui wawancara maupuneksplorasi data sekunder dan tersier (jika diperlukan). Kami juga harus melakukan pengolahandan analisis data, pelaporan dan penyajian dalam bentuk slide tayangan, serta mempresentasikanhasil di depan nara sumber terpilih. Semuanya ini harus kami selesaikan hanya dalam waktuempat hari, sebuah target ambisius yang kurang realistis, atau sebuah mission impossible. Namunkami sedang dilatih untuk memungkinkan segala yang tidak mungkin, membisakan yang tidakbisa, membiasakan yang tidak biasa, dan memastikan sesuatu yang tidak pasti.Sebagai seorang peneliti, sesungguhnya bagi saya aktivitas seperti diatas tidaklah asing, bahkandapat dikatakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Sayapun cukup terbiasa dengan kerja modelSangkuriang yang menciptakan telaga atau Bandung Bondowoso yang menciptakan 1000 candi(dikenal dengan Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang) hanya dalam satu malam. Maka,urusan SL tidaklah menggelisahkan saya setitikpun.Namun, ada sesuatu yang sedikit membuat saya setengah hati menjalaninya, yakni keharusanmeninggalkan istri di rumah yang sedang dalam keadaan hamil tua. Status saya saat ini bukanhanya peserta Diklatpim II, namun lebih-lebih adalah suami Siaga, yang harus siap 24 jam secaralahir batin, jasmani rohani, dan materiil maupun immaterial untuk menjaga, mengawal, danmelayani sepenuhnya apapun masalah dan kebutuhan istri. Jika saja SL dan Diklatpim II bukankewajiban organisasi yang harus saya tunaikan dengan sepenuh hati pula, tentu saya akanmemilih menjaga dan melayani istri. Akan tetapi, profesi sebagai PNS dan LAN sebagai wadahpengabdian adalah pilihan hidup yang sudah saya tetapkan dengan penuh kesadaran lebih dari 17tahun lalu. Demikian pula, istri yang saya nikahi adalah pilihan hidup yang saya ambil melaluiolah jiwa yang mendalam dan penyerahan diri secara total kepada Yang Maha Kuasa.Maka, SL tetap harus saya jalani, sementara nasib istri saya titipkan dan kembalikan lagi kepadaSang Pencipta Yang Maha Pelindung. Perlindungan seorang suami terhadap istrinya, tidaksetitikpun sebanding dengan perlindungan-Nya. Kebahagiaan seorang istri bersama suaminya,tidak berarti sedikitpun dibanding kebahagiaan yang dianugerahkan Allah. Dengan meyakini haltersebut, maka saya putuskan mengikuti SL sebagai wujud “jihad” saya kepada Yang MahaPenggenggam hati sanubari manusia dan alam semesta. Apapun yang akan terjadi terhadap saya Page | 80
  • 88. dan istri saya, bahkan juga anak-anak saya, sepenuhnya kami (saya dan istri) yakini sebagaikebaikan untuk dunia dan akherat kami. Oleh karena saya meyakini bahwa saya tengah berjihad,maka saya berusaha tidak setengah-setengah menjalani tugas ini. Selain harus fokus memimpinkelompok Ketatalaksanaan, saya juga harus mengurus kelas dari sisi akademis, seperti distribusibahan, sinkronisasi instrumen dan alat analisis, dan sebagainya. Entah kenapa, ketika kita sudahmembulatkan tekad, tidak pernah datang kesempatan untuk bersantai-santai.Ketika partisipasi dalam SL saya maknai sebagai jihad, maka demikian pula adanya dengan istritercinta saya. Ketika tidur tak lagi nyaman; ketika berjalan sudah sedemikian berat dan kakipunmembengkak; ketika makan menjadi moment yang dilematis antara rasa eneg dengan keharusanmencukupi nutrisi bayi janin; ketika bernafas sering tersengal-sengal karena desakan si jabangbayi ke ulu hati atau ke seluruh penjuru kandungan; ketika rasa sakit atau kram sering datangsecara mendadak, ketika mental tiba-tiba melemah dan hati merasa gundah gulana … semuanyaadalah jihad yang tak terperi untuk seorang wanita dan seorang istri, khususnya saat mengandungmakhuk Allah yang masih suci dan baru saja mengadakan “kontrak” dengan-Nya di LauhulMahfudz. Saya yakinkan berkali-kali bahwa setiap saat hal-hal tersebut terjadi, sesungguhnyasaat itu pulalah Allah akan menggantinya dengan gugurnya dosa-dosa, berlipatnya pahala, danberlimpahnya ridho. Sebagaimana sering saya baca di berbagai sumber, wanita yang hamil akanmendapat pahala berpuasa pada siang hari dan pahala beribadat pada malam hari. Sementara saatpersalinan, ia akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa, dan setiap rasa sakit pada satuuratnya Allah akan mengaruniakan satu pahala haji. Insya Allah.Ini bukanlah penghibur dari sebuah kondisi berat yang tengah kami alami; ini adalah keyakinanyang menghunjam dalam hingga menembus wilayah keimanan. Ketika kita yakin, percaya, danmengimani sepenuhnya hal tersebut, dan ketika kita terus memelihara prasangka baik kepadaYang Maha Perkasa, maka akan terjadilah kenyataan. Dalam istilah duniawi, ini adalah hukumkeyakinan (the power of believe) yang berbunyi: What you get is what you believe (apa yangakan kamu peroleh adalah apa yang kamu yakini). Apalagi Allah sendiri sudah memberi jaminanbahwa ‘ud uni astajib lakum dan kun fayakun. Maka, kekuatan mana lagi yang akanmenenteramkan jiwa kita selain kekuatan-Nya? Maha Suci Allah yang sedemikian bermurah hatikepada hamba-Nya, yang sedemikian besar kasih sayang-Nya, yang sedemikian luas membukapintu-pintu rahmat-Nya.Ketika perjuangan istri saya maknai sebagai jihad, sesungguhnya anak-anak sayapun tengahberjihad. Meski mereka seperti tidak terpengaruh dengan situasi yang tengah dihadapi keduaorang tuanya, namun tetap saja mereka telah berkorban diri dengan tidak mendapat perhatiansepenuhnya dari ayah ibunya. Contoh kecil saja, anak saya yang terkecil selalu menciumi ketiaksaya sebelum tidur. Dia mengatakan bahwa ketiak bapaknya beraroma coklat yang sebelah kanandan strawberry yang sebelah kiri. Setiap kali saya harus meninggalkan rumah, setiap kali itu pulaia harus “berpuasa”. Demikian pula saat ia merengek ingin dimandikan oleh ibunya, saat itu pulaia harus rela dimandikan oleh pembantu, yang tentu saja, tidak disertai dengan belaian lembutpenuh kasih sayang.Anak-anak saya yang pertama dan keduapun terkena imbas. Seringkali mereka harus memijitkaki ibunya kapan saja dibutuhkan. Mereka juga harus siap sedia mengambilkan kebutuhantertentu, atau harus memandikan dan memakaikan baju adiknya secara bergantian. Bahkan tidak Page | 81
  • 89. jarang mereka menyiapkan makanan sendiri. Untuk usia 10 dan 9 tahun, merebus nasi, membuattelor ceplok, atau merebus mie sendiri, dan kadang-kadang diselingi dengan tugas menyapu danmembersihkan kamar sendiri, jelas sebuah efforts yang luar biasa.Last but not least, dua jabang bayi kembar yang ada dalam kandungan istri, saya yakin jugatengah menjalani jihadnya. Sempitnya rongga perut tentu akan membuat mereka salingberdesakan dan menuntut mereka berkompromi untuk tidak saling dorong, saling sikut atausaling tendang. Dengan kata lain, mereka sudah mengembangkan sikap toleransi dan empatipada usia yang masih teramat dini. Dan semakin besar usia kandungan, semakin besarlahpertumbuhan mereka, dan otomatis semakin sempitlah ruang gerak mereka. Dalam keadaanseperti itu, Alhamdulillah mereka tetap sabar, tetap kompak satu sama lain, dan tetap bertahanhingga saatnya kelak dilahirkan.Maka, melalui jurnal ini saya ingin menyampaikan terima kasih yang tak terhingga untuk istridan anak-anakku, juga untuk calon anakku yang Insya Allah sebentar lagi akan melihat indahnyaalam dunia. Hanya rasa cinta yang bisa saya berikan untuk kalian semua, disertai doa semogaAllah melanggengkan rasa cinta di antara kita hingga kelak kita berkumpul bersama lagi disurga-Nya. Marilah kita jalani kehidupan ini dengan sabar, saling percaya, sambil terus salingmengingatkan dan menyuburkan kasih sayang diantara kita.Program Diklatpim yang saya ikuti mengharuskan saya dan anak-anak dan istri untuk “berjihad”.SL telah menghasilkan trade-off bagi keluarga saya. Meskipun terasa berat, namun rasa syukurharus mengalahkan beratnya cobaan, dan the show must go on! Hadapi saja hidup ini dengansenyum, syukur, dan semangat (3S). Mengakhiri jurnal ini, tiba-tiba saya teringat lagu lawas dariKoes Plus … Jo padha nelangsa, jamane jaman rekasa … Urip pancen angel, kudune ra usah ngomel … Ati kudu tentrem, nyambut gawe karo seneng … Ulat aja peteng, yen dikongkon yo sing temen.Kampus Pejompongan JakartaMinggu, 7 Agustus 2011 Page | 82
  • 90. Jurnal #39 Alumni Sebagai Institutional ResourcesBagaimana perasaan kita jika usaha kita terus menuai hasil dan keuntungan yang melimpah? Apayang kita rasakan ketika asset dan sumber daya kita terus berkembang? Dari sudut pandangspiritualisme, minimal kita layak memanjatkan syukur dan akan merasa senang atau nikmat yangterus bertambah. Namun dari sudut pandang manajemen, senang dan bersyukur saja tidaklahcukup. Kita masih dituntut untuk mengolah resources yang melimpah tadi menjadi modal untukmenghasilkan resources yang lebih lebih banyak lagi, dan begitu seterusnya membentuk sikluspengembangan sumber daya.Apa hubungannya dengan LAN, khususnya Diklatpim II? Disadari atau tidak, LAN memilikiresources yang terus bertambah dengan sendirinya hanya dari pelaksanaan tupoksi rutinnya.Asset atau sumber daya tadi tidak berupa keuntungan finansial atau asset fisik, melainkansesuatu yang memiliki nilai jauh melampaui asset fisik dan keuangan. Sumber daya itu adalahalumni diklat. Saya bahkan berani menyebut bahwa alumni adalah sumber daya organisasi(institutional resources) yang terpenting, dengan beberapa alasan.Pertama, semakin banyak alumni identik dengan semakin luasnya networking. Networkingsendiri merupakan kunci untuk membangun koordinasi dan sinergi lintas instansi. Ketika kitamemiliki keperluan dengan kementerian tertentu, dapat dipastikan jalur networking alumni akanjauh efektif dibanding jalur formal melalui pengiriman surat, pendisposisian, pengagendaan,penjadualan pertemuan, dan seterusnya. Dengan kata lain, hubungan antar pejabat berubah daripola yang formal dan kaku menjadi pola yang cair dan personal. Networking yang optimal jugaakan memperlancar arus informasi antar instansi, yang berarti pula mempercepat prosespengambilan keputusan.Kedua, alumni dapat diibaratkan anggota keluarga yang terus berkembang. Diantara anggotakeluarga biasanya terbentuk ikatan emosional dan kepedulian yang sangat kuat, sehinggamembentuk solidaritas yang kokoh. Itulah sebabnya, anggota keluarga yang sukses akanberusaha mengangkat anggotanya yang belum sukses, atau selalu rela dan ikhlas dalammembesarkan keluarga besarnya. Namun, manakala ikatan emosional antara seseorang dengankeluarganya tidak terbentuk, maka orang tersebut dapat dipastikan tidak akan peduli dengankeluarganya. Dalam konteks diklat, seorang alumni yang kebetulan jobless atau non-job, sangatmungkin mendapatkan posisi yang prestisius karena bantuan alumni lainnya. Atau, ketika LANsebagai induk para alumni memiliki program unggulan berskala nasional, maka keberadaanalumni dapat dimanfaatkan sebagai sponsor atau supporter dari kegiatan tersebut.Ketiga, hampir seluruh pejabat karir di seluruh Indonesia pernah menempuh pendidikan di LANatau di tempat lain atas supervisi dan pembinaan langsung dari LAN. Para alumni diklat tersebutsaat ini sudah bertebaran di seluruh penjuru nusantara dan menempati posisi strategis, dariMenteri/Kepala LPNK, Gubernur, Bupati/Walikota, anggota DPR/DPRD, anggota LembagaTinggi Negara, Direktur BUMN/D, Direktur Jenderal, dan lain-lain. Pendeknya, LAN adalah Page | 83
  • 91. guru bangsa yang turut mewarnai hitam putihnya perjalanan bangsa ini. Fakta ini menjelaskanbetapa besar peran dan kontribusi LAN dalam pembangunan karakter bangsa (characterbuilding) serta pembangunan kompetensi aparatur pemerintah. Disisi lain, bangsa Indonesiamasih memegang teguh budaya menghormati gurunya. Meski seringkali seorang guru tidakcukup memiliki kecakapan yang memadai, namun statusnya telah menempatkan dirinya padaposisi mulia di mata peserta didiknya. Dengan budaya seperti ini, saya menarik asumsi bahwaseluruh alumni Diklat di LAN tetap menaruh respek terhadap lembaga dan pejabat di LANsebagai guru bangsa. Kondisi ini, tentu saja, merupakan faktor kekuatan (strength) yang dimilikiLAN yang mampu memperkokoh branding dan daya tawar organisasi (bargaining position)LAN terhadap lingkungan strategisnya.Maka, menjadi aneh jika LAN tidak menjadikan alumninya sebagai institutional resources yangterdepan. Ini bukan hanya menjadi sebuah kemubadziran, namun juga kebodohan. Hal yangsemestinya dilakukan LAN adalah memberikan Kartu Alumni lengkap dengan nomorregistrasinya, seketika seseorang dinyatakan lulus diklat. Selanjutnya, perlu dilakukanpembinaan alumni dengan membentuk Pengurus Alumni Pusat dan Wilayah; melakukan forum-forum komunikasi, pertukaran informasi, serta kerjasama antar instansi, antar daerah, dan antarnegara; membangun sistem informasi alumni yang modern dan selalu updated; serta melibatkanalumni dalam pembelajaran bagi peserta diklat (calon alumni).Pengalaman organisasi alumni lain seperti Ikatan Alumni ITB, Keluarga Alumni HMI, dansebagainya telah membuktikan bahwa forum alumni bukan sekedar forum arisan dan nostalgiabelaka, melainkan sebuah forum pemikir (think tank) yang mampu menelorkan gagasan-gagasanbesar untuk pembangunan bangsa. Jika mereka bisa, kenapa tidak dengan LAN? Where there is awill, there will be many ways … pasti bisa !!!Kampus Pejompongan JakartaSenin, 8 Agustus 2011 Page | 84
  • 92. Jurnal #40 Dari RPL ke RPLRPL yang pertama adalah Recognition of Prior Learning sedangkan RPL kedua adalahRecognition of Post Learning. Mirip-mirip dengan konsep Pre-test dan Post-test, namun denganproses dan treatment kebijakan yang sangat berbeda.Pada konsep Pre-test dan Post-test, calon peserta diberi soal ujian sebelum mengikuti programdiklat, dan diberi soal yang sama setelah menyelesaikannya. Jika skor/nilai post-test lebih baikdibanding pre-test, maka disimpulkan bahwa diklat tersebut telah berhasil meningkatkankompetensi peserta. Meski tidak sepenuhnya salah, namun konsep Pre-test dan Post-test inimengandung banyak kelemahan. Salah satunya adalah hasil post-test tidak menunjukkankompetensi yang sesungguhnya, apalagi jika belum ada direktori standar kompetensi, sehinggasulit untuk membandingkan antara capaian dengan standar yang ditetapkan. Kelemahan lain,ujian yang sama (dengan soal yang relatif sama) jika diberikan untuk kedua kali, tentu saja akanmemberikan hasil yang lebih baik, karena peserta ujian sudah mengetahui jenis soal yangdiberikan. Artinya, tanpa harus mengikuti diklatpun, dapat ditarik hipotesis bahwa post-test akanselalu lebih baik dari pada pre-test.Oleh karena itu, konsep RPL sementara ini diyakini sebagai sebuah terobosan yang lebih baikuntuk mengukur peningkatan kompetensi peserta diklat sekaligus mengukur efektivitas programdiklat. Cara kerja RPL (pertama) secara garis besar adalah sebagai berikut. Calon peserta diklatdiseleksi secara administratif, dan jika memenuhi syarat administratif, kompetensinya diassesuntuk mendeteksi atau memetakan kompetensi awal yang telah dimiliki. Apabila calon pesertatersebut dianggap telah memiliki kompetensi sebagai pejabat eselon tertentu, maka instansi yangbertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur (MenPAN), menerbitkan sertifikatkompetensi dan yang bersangkutan tidak perlu mengikuti diklat. Namun ada kalanya calonpeserta diklat tidak lulus assessment, dan hanya dinyatakan lulus bersyarat dalam tes seleksi.Dalam kasus seperti ini, maka calon peserta tersebut wajib mengikuti diklat untuk menutupi gapkompetensinya. Kemungkinan ketiga, ada calon peserta diklat yang tidak lulus assessment, dandiberikan kesempatan untuk mencoba ikut tes assessment sebanyak tiga kali. Jika gagal untukketiga kalinya, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti diklat. Asumsinya,meskipun diikutsertakan dalam diklat apapun, yang bersangkutan memang tidak memiliki dasarkompetensi yang memadai sehingga jika dipaksa masuk program diklat hanya menjadipemborosan sumber daya.Dalam hal seseorang telah mengkuti diklat, maka pada akhir pembelajaran dilakukan RPL lagi(kedua). Jika dinyatakan lulus dan dianggap telah memiliki kompetensi baru, maka yangbersangkutan berubah status menjadi alumni dan diberi STTPP (sertifikat kompetensi) dari LANatau Kantor MenPAN. Sedangkan calon peserta yang tidak lulus ujian, akan diberi kesempatanuntuk mengikuti ujian ulang sampai dengan 3 (tiga) kali, jika tetap tidak lulus maka diberikansurat keterangan telah mengikuti diklat saja (bukan sertifikat kompetensi). Page | 85
  • 93. Konsep baru ini menawarkan banyak keuntungan. Pertama, akan menekan inefisiensi dalaminvestasi SDM (human investment) sektor publik, karena mereka yang tidak layak atau tidakmemiliki cukup kompetensi dasar akan terseleksi dengan sendirinya. Sementara bagi yang sudahmemiliki kompetensi, juga tidak perlu membuang waktu hanya untuk mengikuti diklat. Pola baruseperti ini tidak memandang diklat (khususnya Diklat Kepemimpinan) sebagai program yangpaling tepat untuk kondisi yang berbeda (one size fits all). Kedua, orang-orang yang masukprogram diklat adalah mereka yang memiliki kadar kompetensi relatif berimbang, tidak ada yangterlalu tinggi, namun juga tidak terlalu rendah. Dengan tingkat kompetensi yang relatifberimbang ini, maka persaingan antar peserta selama berada dalam kelas diharapkan dapatberjalan lebih dinamis dan seimbang pula.Program Diklatpim II selama ini bukan berarti tidak memberi efek positif untuk peningkatankompetensi peserta/alumni. Namun, saya yakin bahwa dengan menerapkan RPL (pre) dan RPL(post) dalam siklus diklat, maka kualitas diklat secara keseluruhan dapat ditingkatkan secarasignifikan. Tentu saja banyak prakondisi yang ahrus disiapkan, namun jika tidak dimulaisekarang, kapan lagi? So, mari kita gulirkan terus ide reformasi diklat aparatur, mumpung nuansareformasi birokrasi tengah bergaung dimana-mana.Kampus Pejompongan JakartaSelasa, 9 Agustus 2011 Page | 86
  • 94. Jurnal #41 Menyoal PemeringkatanKetika kami hendak berangkat dari asrama menuju bandara dalam rangka kegiatan StudiLapangan, di dalam bis terdapat situasi yang cukup kontras. Disatu pihak, banyak peserta yangmenyalami temannya yang masuk ranking 10 besar untuk Kajian Kebijakan Publik, namun dilainpihak, ternyata lebih banyak nada sinisme yang dilontarkan beberapa orang tertentu.Saya sangat menyadari adanya situasi yang kontras tadi. Bagi kelompok yang sejak awalmemang merasa diri mereka tidak layak masuk dalam jajaran The Big 10, tidak jadi masalah bagimereka siapapun yang akan menempati urutan tangga prestasi di level kelas tersebut. Olehkarenanya, orang-orang tipe seperti ini juga nampak tulus dan nothing to loose ketika menyalamirekannya yang berhasil masuk ranking. Sebaliknya bagi sekelompok orang yang merasa dirinyalebih layak masuk 10 besar namun ternyata tidak, maka muncullah banyak pertanyaan sekitarobyektivitas penilaian dan kemungkinan adanya permainan yang kurang layak (unfair play)dalam penentuan peringkat tersebut.Pertanyaan tentang obyektivitas penilai memang sangatenyeluruh. wajar mengemuka, mengingatdari 10 peringkat terbaik sebelumnya pada Kajian Paradigma, lima orang diantaranya terlempardari urutan 10 besar pada Kajian Kebijakan Publik, empat diantaranya bahkan telah menyandanggelar Doktor. Sebagai gantinya, masuklah “muka-muka baru” yang sebelumnya tidakdiperhitungkan sama sekali karena memang tingkat aktivitas dan prestasi di kelas kurangmenonjol.Kebetulan sekali, sepanjang perjalanan ke bandara tadi, saya berdampingan dengan salahseorang Doktor yang terlempar dari 10 besar. Entah dari mana data yang beliau peroleh, namunbeliau menyatakan bahwa dalam urusan pemeringkatan tadi terdapat click atau “persekongkolan”antar kekuatan tertentu, layaknya persaingan antara Mafia Harvard dengan Mafia Berkeleydalam perebutan posisi kunci bidang perekonomian dalam kabinet Indonesia sepanjang masa.Beliau juga mensinyalir adanya pihak-pihak tertentu yang “terbeli” sehingga memberi standarpenilaian yang tidak setimbang antar peserta. Bahkan beliau juga mengatakan bahwa jika sistempemeringkatan tidak dibenahi dan dapat dijamin obyektivitasnya, akan memalukan bagi pesertatertentu maupun bagi penyelenggara. Bagi peserta tertentu, kegagalan masuk 10 besar dapatdisebut sebagai kegagalan secara keseluruhan atau rendahnya kompetensi dimata pimpinannya.Sedangkan bagi penyelenggara, ketidakobyektifan penilaian akan mempertaruhkan kredibilitaslembaga secara keseluruhan.Bagi saya, pemeringkatan bisa menjadi baik namun bisa juga menjadi buruk. Jika dilakukandengan professional dan mampu mengukur kinerja riil peserta, maka pola penilaian prestasiseperti ini akan sangat baik. Peringkat juga akan menjadi indikator pencapaian hasil diklat, danmenjadi dasar untuk pengambilan keputusan lanjutan. Seperti yang saya tulis pada Jurnal #36,pemeringkatan dapat dan perlu dikemas dalam sebuah rewarding system, atau dikaitkan dengancivil effect bagi peserta diklat. Namun jika peringkat tersebut lahir dari metodologi yang cacat Page | 87
  • 95. dan integritas penilai yang diragukan, maka jauh lebih baik pemeringkatan tersebut dihapuskansaja. Selain tidak ada manfaat yang nyata, pola yang tidak jelas malah menimbulkan polemikserta prasangka dan kebencian terselubung diantara sesama peserta.Saya sendiri memiliki pandangan bahwa untuk kondisi apa adanya saat ini, pemeringkatannampaknya kurang tepat untuk dilakukan. Saya mengetahui betul bahwa ada dua orang Doktoryang KTP-2 nya adalah hasil karya Tuyul, namun tetap saja keduanya masuk rangking 10 besar.Tentu hal semacam ini menciderai persaingan yang sehat dan berimbang. Saya juga mengamatisebuah situasi antara dua orang yang sama-sama berasal dari kementerian yang sama, namunmemiliki karakter yang berbeda. Si “A” lebih banyak bicara di kelas namun sangat minimkontribusinya dalam kerja kelompok. Sedangkan si “B” lebih sering diam dalam forum kelasnamun memiliki kontribusi terhadap kelompok yang jauh lebih besar dibanding si “A”. dalamkacamata saya, si “B” jauh lebih layak masuk 10 besar, namun justru si “A”lah yang dua kaliberturut-turut masuk 10 besar, sementara si “B” tidak sekalipun masuk 10 besar. Fakta lain, si“B” pernah ditunjuk jadi ketua kelompok KMS, sedang si “A” tidak pernah sekalipun memimpinkelompok. Sangat boleh jadi ada penilaian dari unsur lain, namun fakta yang saya paparkanmestinya juga menjadi pertimbangan serius dalam rangkaian sistem penilaian.Jika kelemahan-kelemahan dalam sistem penilaian dapat diatasi secara memuaskan, maka saya1000 persen mendukung adanya sistem pemeringkatan dalam diklat aparatur, apapun jenis dantingkatan diklatnya. Dalam ranah ideal saya, adanya pemeringkatan justru menjadi tolok ukurkualitas sebuah diklat. Program diklat yang berani mengukur dan mengumumkan kinerja pesertaatau alumninya tanpa memunculkan sanggahan yang berarti dari mayoritas peserta (secaraterbuka atau diam-diam) adalah program diklat yang dapat diandalkan. Program diklat yangberani mengukur dan mengumumkan kinerja peserta atau alumninya namun memunculkanbanyak sanggahan, adalah program diklat yang ceroboh dan gegabah. Program diklat yang tidakberani mengukur dan mengumumkan kinerja peserta atau alumninya adalah program diklat yangasal-asalan dan sia-sia.Kampus Pejompongan JakartaRabu, 10 Agustus 2011 Page | 88
  • 96. Jurnal #42 Antara Tugas Dinas dan Ibadah KeagamaanMengikuti Diklatpim II selama bulan Ramadhan mengandung pergulatan batin yang tidak akanditemui diluar bulan suci umat Islam ini. Pergulatan itu adalah antara keinginan untuk mengisibulan puasa dengan ibadah-ibadah tambahan seperti shalat tarawih, I’tikaf (berdiam diri dimasjid), membaca surat-surat suci Al-Quran, dan sebagainya. Maklumnya, pahala ibadah sunahselama bulan Ramadhan disamakan dengan pahala ibadah wajib, sementara ibadah wajib dilipatgandakan pahalanya.Namun, apakah hal tersebut dapat menjadi pembenar bagi kita untuk meninggalkan kewajibandalam program diklat? Pantaskah kita mengatakan bahwa tugas-tugas selama diklat hanyalahurusan dunia belaka yang tidak penting karena tidak akan kita bawa mati? Bukankah Islammengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akherat? Bukankah urusan dunia adalahladang untuk bekal menuju akherat?Terus terang saya sering merasa iri dengan orang-orang yang berpandangan seperti itu. Merekabegitu gampangnya meninggalkan kelompok dengan dalih ibadah. Sayapun ingin sekali rasanyameninggalkan kelompok dan bertafakur khidmat dalam sujud dan doa kepada-Nya. Tapi terusterang, saya tidak bisa dan tidak tega. Ketika saya membayangkan untuk meninggalkankelompok, saya merasa seperti seorang pejuang yang mundur sebelum sampai di medan perang.Saya seperti seorang pecundang yang takut gagal dengan mencari segudang alasan. Saya sepertiseorang yang mau berbuat namun tidak mau menerima akibat. Maka, akhirnya saya putuskanbahwa saya tidak akan pernah meninggalkan kelompok. Bahkan saya pernah bekerja seorang diripada saat SL di Kalsel untuk memilah-milah jawaban kuesioner dari para responden, untukdidistribusikan kepada kelompok masing-masing. Kenyataannya, saat itu semua angkat tangandan tidak ada satupun yang menyentuh dokumen tersebut!Konsekuensinya jelas, saya kehilangan kesempatan untuk duduk termenung memikirkan soalkematian, soal dosa yang menggunung, soal pengakuan dosa dan pertaubatan, soal muhasabahuntuk memperbaiki diri, dan sebagainya dan seterusnya. Ironisnya, ketika saya melakukanurusan “duniawi” tadi, ada saja teman yang menasihati agar saya tidak terlalu memikirkan urusanduniawi. Bukankah apa yang saya lakukan adalah juga urusan yang mereka tinggalkan? Sayayakin benar bahwa merkapun sadar bahwa apa yang saya kerjakan bukanlah semata-mata urusanpribadi saya. Namun tetap saja mereka merasa sebagai orang suci yang sedang meluruskan jalanseorang pendosa.Pengalaman ini terus berjalan sejak tahap Studi Lapangan hingga penulisan akhir KKTKelompok dan KKT Kelas. Dan pengalaman seperti inilah yang saya katakan menimbulkanpergulatan batin. Untunglah bahwa saya mampu mengendalikan emosi untuk tidak membalikkanomongan sok suci dari seseorang. Saya juga menilai diri saya beruntung tetap dapat mengerjakantugas-tugas kelompok meski dalam dasar hati sering berontak dan protes keras dengan sikapegois beberapa teman. Lebih dari itu, saya juga merasa beruntung bahwa saya memiliki Page | 89
  • 97. pemahaman yang saya pegang teguh bahwa meskipun saya sedang mengerjakan urusan duniawi,namun nilai ibadahnya tidak kalah dengan ibadah teman-teman lain. Sebab, bagi saya ibadahbukanlah urusan ritual belaka, namun lebih kepada pemberian makna kebaikan dan ketulusanterhadap apapun yang kita lakukan, disertai dengan harapan bahwa apapun yang kita lakukanakan memberi kemudahan dan kemanfaatan bukan hanya bagi diri pribadi kita, namun juga bagikelompok yang lebih luas.Dengan kata lain, saya mencoba tidak membuat dikotomi antara tugas kedinasan (termasuk tugasmengikuti Diklatpim) dengan ibadah keagamaan. Keduanyapun dapat menjadi ibadah tergantungkepada niat kita: tugas kedinasan adalah ibadah dalam dimensi horizontal, sedangkan ibadahkeagamaan lebih pada dimensi vertikal. Saya sering mendengar ceramah bahwa tugas-tugassosial kadang lebih penting dibanding ibadah ritual. Kisah-kisah tentang seorang anak sholehyang sulit melewati sakaratul maut karena belum ada maaf dari Ibunya, atau kisah seorang yangmemberi minum anjing yang kehausan, atau kisah Khalifah Umar yang memanggul beras untukrakyatnya, dan sebagainya, adalah sedikit contoh betapa kita harus memperhatikan dimensihorizontal selama hidup di dunia. Penyakit bangsa kita adalah kesolehan individu yang tidakpernah menjelma menjadi kesolehan sosial, karena setiap individu lebih mementingkan dimensivertikalnya. Maka, keduanya haruslah seimbang, sebagaimana keseimbangan sistem tata suryadalam alam semesta raya ini.Kampus Pejompongan JakartaJumat, 19 Agustus 2011 Page | 90
  • 98. Jurnal #43 Tentang Ujian KTP-2Hari Kamis dan Jumat kemarin kami menjalani ujian KTP-2 (Karya Tulis PrestasiPerseorangan). Penulisan KTP-2 sendiri mengikuti alur seperti penulisan karya tulis ilmiah, yangdidahului dengan penetapan pembimbing, pengajuan TOR atau proposal, rangkaian konsultasiper bab, hingga kaidah penulisan yang haru memenuhi standar akademis pula. Namun dilihatdari waktu yang tersedia serta tumpukan tugas-tugas lainnya, agak sulit mengharapkan lahirsebuah karya tulis yang baik dan mampu merumuskan rekomendasi kebijakan yang bersifatterobosan (breakthrough). Bayangkan saja, pada saat berangkat SL sebagian besar peserta barumenyelesaikan Bab I dan II, bahkan pembimbing baru memberikan persetujuan atas konsep BabI. Namun hanya 2 hari sepulang dari SL, peserta sudah harus menyerahkan draft KTP-2 lengkap.Akhirnya mudah diterka, bahwa konsep KTP-2 yang diajukan peserta tidak mendapat perhatian,catatan, dan perbaikan yang memadai dari widyaiswara pembimbing.Dalam keadaan KTP-2 yang tidak mendapat bimbingan cukup itulah kami harus paparkan didepan widyaiswara penguji. Maka, mudah diterka pula jika penguji dengan mudah menemukanbanyak kekurangan dan kelemahan dari paparan peserta. Di pihak lain, cukup wajar jika pesertayang merasa hasil karyanya “diobrak-abrik” oleh penguji lantas mencari sisi lemah dari sistematau pola penulisan dan pembimbingan KTP-2 tersebut. Seperti yang dialami seorang dariKalimantan yang mendapat banyak catatan, beliau merasa keberatan karena diuji tanpadidampingi oleh pembimbing. Teman ini lantas membandingkan dengan ujian thesis ataudisertasi yang selalu didampingi pembimbing atau promotor. Beliau juga mengkhawatirkanadanya perbedaan persepsi antara pembimbing dan penguji, yang berujung pada banyaknyacatatan perbaikan saat ujian tersebut.Pada kasus lain, perbedaan persepsi diantara peserta tentang “binatang” bernama KTP-2 jugatidak dapat dihindari. Salah seorang peserta yang bergelar Doktor dan berprofesi sebagai dosendi PTN di Jakarta melihat KTP-2 murni sebagai produk akademik sekelas thesis. Olehkarenanya, pada saat menjadi pembahas-pun beliau menceritakan pengalaman pribadinya selakupenguji thesis, dan memberikan komentar terhadap KTP-2 temannya benar-benar layaknyamenguji thesis. Padahal, bagi peserta lain (termasuk saya), KTP-2 bukanlah produk akademiksepenuhnya. Dilihat dari proses penulisan serta metodologi yang digunakan saja, KTP-2 sangatjauh untuk disebut sebagai karya ilmiah sekelas thesis. KTP-2 lebih merupakan dokumen kerjaatau dokumen perencanaan dalam rangka penjabaran Tupoksi organisasi, sehingga dialah yangdiasumsikan paling memahami isi dari KTP-2, bukan pembimbing, atau penguji, atau pembahas.Oleh sebab itu, “mengobrak-abrik” KTP-2 orang lain semestinya bukan sebuah hal yang ideal,sepanjang penulis KTP-2 benar-benar menguasai substansi serta benar-benar bertanggungjawabterhadap isi karya tulisnya. Hal ini berbeda dengan karya ilmiah thesis atau disertasi, dimanapembimbing (promotor) atau penguji memang memiliki kompetensi akademik untuk“mengobrak-abrik” jika tidak sesuai dengan kaidah ilmiah yang benar. Page | 91
  • 99. Satu hal lagi, kesan umum yang agak sulit dihindari adanya kesan bahwa KTP-2 hanyalahformalitas belaka dari rangkaian program Diklatpim II. Ketidakseriusan peserta untuk bertanyasecara tajam dan kritis adalah salah satu indikasinya. Indikasi lain, banyak peserta yangsesungguhnya tidak menguasai apa yang disampaikan. Mereka lebih fasih membaca dari padamenganalisis. Hal ini menghidupkan lagi kecurigaan tentang kemungkinan “sumber yang sama”dalam penulisan KTP-2 dan penyiapan paparan, terbukti dari banyaknya kemiripan yang sangatkentara dari model slide powerpoint antar peserta. Ironisnya, indikasi-indikasi seperti ini seolah-olah dipandang sebagai kelaziman yang tidak diikuti dengan langkah konkrit untukmengatasinya.Dalam konteks kedepan, sesi penulisan, pembimbingan dan ujian KTP-2 ini harus diposisikansebagai dimensi kritis dari upaya perbaikan sistem diklat, khususnya Diklatpim II. Salah satunyaadalah dengan melakukan pengaturan jadual yang lebih realistis, serta pengurangan tugas-tugasyang tidak perlu namun menyita waktu banyak (time consuming). Pembenahan sistem penulisanhingga ujian KTP-2 juga sangat terkait dengan bergentayangannya para tuyul yang merusakintegritas peserta dan kredibilitas program diklat (Baca Jurnal #15). Maka, menyempurnakanmanajemen KTP-2 juga harus sistemik, sebagaimana para Widyaiswara mengajarkan bahwapejabat eselon II harus mampu berpikir secara sistemik atau serba sistem.Kampus Pejompongan JakartaSabtu, 20 Agustus 2011 Page | 92
  • 100. Jurnal #44 Sekedar Gagasan Ringan untuk Beberapa PerbaikanHingga Jurnal ke 44 ini, sesungguhnya masih teramat banyak ide yang ingin saya tulis dantuangkan dalam tulisan. Namun tugas-tugas lain yang mengantri panjang serta kondisi domestikyang tidak memungkinkan, memaksa saya untuk mengerem diri, jika bukan mengakhiri. Itulahsebabnya, pada catatan ke-44 ini saya tidak bicara soal issu yang spesifik; saya mencobamengumpulkan beberapa memori yang berserakan yang pernah terpikir sepanjang keikutsertaansaya dalam Diklatpim Tingkat II Angkatan XXXI ini.Hal pertama yang perlu diseriusi adalah soal standarisasi kualitas widyaiswara, baik dalampenguasaan materi, teknik penyampaian materi, sikap / perlakuan terhadap peserta. Dari KajianParadigma, dilanjutkan dengan Kajian Kebijakan Publik, Kajian Manajemen Strategis, dandiakhiri dengan Aktualisasi, saya merasakan kualitasnya semakin menurun. Entah karena merekaterserang kejenuhan atau kemalasan, atau sebab lain, saya melihat penguasaan materi merekasangat minim dan serba menggantung saat ditanya oleh peserta. Tahap terakhir agaknya menjaditahap paling krusial, dimana widyaiswara dituntut memiliki kesamaan pandangan soal format,proses, dan konten KKT Kelompok, SL, dan KKT Kelas, namun sayangnya tidak terjadi. Bahkansempat terjadi kompromi bahwa cara kerja dan format laporan antar kelompok dibiarkan bebassesuai perspektif masing-masing kelompok. Saya menangkap kesan para widyaiswara kalahwibawa dalam berargumentasi dengan peserta yang berdebat secara emosional, atau mungkinmereka bermaksud menjaga wibawanya dengan melakukan “pembelaan” secara parsial. Jikamemang kelompok dibiarkan bebas berkreasi, untuk apa penjelasan yang diberikan berkali-kalisebelumnya, untuk apa ada pedoman aktualisasi, dan untuk apa ada KKT integrasi? Kompromiinilah yang paling mengecewakan saya hingga saat ini.Pengalaman seperti ini harus benar-benar dipahami oleh penyelenggara, untuk kemudian diambillangkah-langkah konsolidasi agar tidak terjadi lagi pada angkatan selanjutnya. Pola penunjukanwidyaiswara tidak boleh lagi didasarkan pada “urut kacang” dan pemerataan, namun harusbenar-benar berbasis kompetensi. Widyaiswara harus dipetakan dan diklasifikasikan berdasarkantalent dan competence-nya, sehingga seorang widyaiswara tidak bisa masuk ke seluruh talent-pool atau competence-pool. Setelah pemetaan bakat dan kompetensi tercapai, masih ada “PR”lain yakni menjamin bahwa widyaiswara yang berada pada pool yang sama harus benar-benarmemiliki cara pandang yang simetris, atau tidak saling memotong dan merasa diri palingmenonjol. Jika mereka tidak bisa menempatkan diri sebagai mitra antar sesama widyaiswara,bagaimana mungkin mereka akan menjadi mitra yang baik untuk peserta diklat?Saran kedua yang ingin saya sampaikan adalah soal memecah kekakuan hubungan antar pesertaatau icebreaking. Menurut saya, icebreaking diawal lebih baik dilakukan di tingkat kelas, bukandi tingkat kelompok. Sebab, hingga masuk Kajian Manajemen Strategis, bahkan pada saat beradadi lokasi SL, masih ada saja beberapa teman yang salah menyebut nama temannya, yangmengindikasikan bahwa mereka belum saling mengenal. Hubungan yang belum mencair hingga3/4 perjalanan program diklat, jelas mengurangi kualitas komunikasi dan kualitas mekanisme Page | 93
  • 101. kerja dalam setiap kelompok. Bahkan jika perlu, perlu diciptakan momen-momen khusus yangmempertemukan kelas A dan B, sehingga komunikasi tidak terbatas dalam ruang-ruang yangsaling terpisah. Jika perlu lagi, akan sangat baik jika ada forum komunikasi dan interaksi antarapeserta Diklatpim III, II dan I, sehingga suasana kampus benar-benar merefleksikan kondisi riildalam organisasi permanen.Hal lain yang juga sangat prinsip untuk dilakukan adalah mental-building. Caranya antara lainadalah: pada awal program, peserta perlu dimotivasi sebaik mungkin untuk menyetel frekuensihati, cara berpikir, dan kesiapan mental peserta sebelum memasuki program diklat yang panjangdan berat. Salah satunya adalah dengan mengingatkan tentang tujuh kebiasaan manusia yangpaling efektif, khususnya yang terakhir. Dalam bukunya, Stephen R. Covey menegaskan bahwamanusia adalah ibarat gergaji. Gergaji tersebut akan dapat berfungsi dengan baik jika terusdiasah dan dipelihara dengan baik pula. Jika gergaji tersebut dipakai secara terus menerus tanpajeda dan tanpa perawatan, maka akan cepat usang, tumpul, dan pada akhirnya rusak. Saat iarusak, maka tidak akan ada lagi yang peduli dengannya, bahkan dengan mudahnya gergajitersebut dicampakkan begitu saja, dibuang dalam tumpukan sampah busuk, seolah-olah ia tidakpernah berjasa kepada tuannya. Demikian pula kita sebagai pegawai pemerintah, secara periodikkita harus jeda untuk menjalani treatment atau maintenance. Nah, pendidikan atau pelatihanadalah salah satu bentuk maintenance yang paling efektif untuk menjaga konsistensi danmeningkatkan kompetensi seorang pegawai.Program diklatpim yang sedang diikuti, pada hakekatnya juga adalah waktu jeda dari rutinitasharian yang begitu padat dan acapkali tidak memberi kesempatan kita untuk menghela nafas.Dengan kata lain, diklat adalah “gergaji” yang memberikan jaminan agar seorang pegawai tetaptajam, baik dalam pemikiran maupun kinerjanya. Bayangkan jika seorang pegawai bekerja terustanpa henti, pasti akan mengalami kejenuhan, dan pada akhirnya mengalami penurunankreativitas dan penurunan kinerja. Oleh karena itu, diklat bukan hanya strategi untukmembangkitkan kinerja pegawai, namun sekaligus juga wahana penyegaran (refreshment) daridunia rutinitas agar muncul ide-ide kreatif dan potensi inovatif yang ada dalam diri setiappegawai. Dan jika peserta sudah benar-benar memahami spirit diklat, maka mereka akanmengikutinya dengan kesadaran penuh dan membuang jauh-jauh prinsip formalitas.Ide terserak terakhir yang ingin saya sumbangkan adalah soal sosiogram atau penilaian antarsesama peserta. Dengan adanya model pemeringkatan 10 Besar yang masih diragukanobyektivitasnya, semestinya sosiogram dapat menjadi kontrol terhadap akurasi pada komponenpenilaian lainnya. Namun yang terjadi dapat sebaliknya, dimana sosiogram justru menjadipengacau penilaian atau pengabur obyektivitas. Ada kecenderungan peserta mengisi secara“ngawur” untuk menguji apakah penyelenggara benar-benar memiliki instrumen yang mampumendeteksi kemampuan dan kinerja riil peserta. Oleh karena itu, sosiogram apa adanya sekarangsulit diandalkan, dan untuk membenahinya perlu dilengkapi dengan metode lain, misalnyasurvey secara aksidental. Maksudnya, penyelenggara sebaiknya tidak “menelan mentah-mentah”informasi dalam sosiogram, namun juga berusaha mencari cara lain sebagai media cross-checkterhadap kebenaran sosiogram tersebut. Salah satu caranya adalah dengan membuat survey tadi,yakni menanyakan secara langsung kepada beberapa peserta tertentu yang dinilai tepat, jujur, danseimbang untuk menggambarkan situasi nyata di kelompok maupun di kelas. Page | 94
  • 102. Sebenarnya masih ada beberapa ide sederhana yang ingin saya utarakan, namun sekali lagiberbagai keterbatasan membuat saya memilih untuk berhenti sampai disini dan mengambil jedahingga kesempatan yang lebih baik menyambangi saya … ☺Kampus Pejompongan JakartaMinggu, 21 Agustus 2011 Page | 95
  • 103. Jurnal #45 Menjelang PerpisahanSiklus organisasi, hidup manusia, bahkan sistem tata surya nampaknya tidak terlepas dari KurvaS (S Curve). Secara sederhana, Kurva S dapat didefinisikan sebagai suatu grafik hubungan antarawaktu berjalannya sesuatu dengan nilai akumulasi progress sesuatu tersebut. Sebagai contoh,sebuah kegiatan yang baik dalam organisasi, pada awalnya dicirikan oleh kecepatan yang pelan,kemudian cepat dan sibuk di bagian tengah, dan kemudian santai di penghujung. Demikian puladengan manusia, pada saat lahir lemah tidak berdaya, kemudian kuat dan produktif pada masamuda, hingga akhirnya kehilangan kekuatan lagi saat menjelang senja.Saya amati, peserta diklatpim juga terkena sindrom Kurva S tersebut. Pada awalnya sangatantusias dan cenderung menggebu-gebu dalam mengikuti diklat, di tengah-tengah mulai banyakkeluhan dan berprinsip “ikan sepat ikan gabus” (makin cepat makin bagus), namun di akhirprogram menjelang penutupan justru terasa ada yang hilang. Harus diakui bahwa di minggu-minggu terakhir tidak ada lagi suara-suara yang menginginkan percepatan program diklat. Yangterjadi justru keakraban yang makin terajut, dan hubungan yang makin cair. Dan ketika hal itumulai dirasakan, saat perpisahan justru semakin dekat.Secara kebetulan, program Diklatpim II yang saya ikuti bersamaan dengan bulan Ramadhan.Maka sayapun mengkaitkan Diklatpim dengan Ramadhan. Ternyata diantara keduanya adakemiripan. Bulan Ramadhanpun disambut dengan antusias di depan, biasa-biasa di tengah, dandirindukan ketika mendekati datangnya hari lebaran. Mungkin memang begitulah hukum alam:ketika kita belum merasa dekat dengan sesuatu, sesuatu tersebut terasa begitu lama berada disekitar kita meski kadang tidak diharapkan. Namun begitu kita sudah merasa nyaman dengannya,sesuatu tadi justru sudah pada masanya meninggalkan kira.Maka, tidaklah aneh ketika Diklatpim II kami tinggal tersisa satu hari, yang dilakukan teman-teman adalah upaya saling mengenal dan mendekatkan satu sama lain seperti merekam nomorhp, berjanji untuk saling kontak dan mengunjungi, dan sejenisnya. Namun, saya pribadikehilangan momentum karena saat Jurnal ini saya tulispun, saya masih menunggui istrimenjelang persalinannya. Kondisi HB-nya yang rendah mengharuskan dia untuk menerimatransfusi 6 kantong darah. Namun disela-sela transfusi dan infus, sesekali diselingi dengankontraksi perut dan keluhan-keluhan lain seperti sesak nafas, jantung berdebar-debar, kesakitanpada tulang kemaluan, dan banyak lagi. Maka, saya harus tetap terjaga agar dapat hadir setiapkali dibutuhkan. Dan untuk menjaga agar tetap terjaga, menulis jurnal inilah salah satu resepmujarabnya.Sampai disini, catatan harian selaku peserta Diklatpim II saya akhiri seiring dengan datangnyasaat berpisah. Namun, ketika perpisahan dengan teman-teman peserta sudah diambang pintu,ketika itu pula saya tengah menantikan kehadiran dua buah hati tercinta, si kembar Tri Widodoyunior. Kehadirannya bagi saya berada dalam momentum yang sangat baik, yakni di 10 hariterakhir Ramadhan yang penuh ampunan Ilahi Rabbi, bersamaan pula dengan keberhasilan saya Page | 96
  • 104. menyelesaikan tugas kedinasan mengikuti Diklatpim Tingkat II. Momentum Ramadhanmerefleksikan hubungan manusia dengan Khaliq-nya, sementara Diklatpim melambangkan tugaskekhalifahan manusia di muka bumi. Semoga, keseimbangan dimensi vertikal berupapenghambaan dan penyerahan sepenuhnya (total devotion and total submission) dengan dimensihorizontal berupa tugas memakmurkan dunia dan memuliakan sesama, akan menjadi bekalmereka berdua dalam mengarungi kehidupan di dunia.Semoga Allah senantiasa membimbing calon anakku berdua menjadi manusia utama lagi mulia,yang tangguh mengarungi samudera dan angkasa raya, yang menjadi tokoh sentral dalammembangun masyarakat sejahtera dan beradab, yang selalu berpikiran positif dan merubahkeburukan menjadi kebaikan, yang selalu menyebarkan salam dan kedamaian, yang selalu bersihucapan/pikiran/perbuatannya, yang selalu menyandarkan diri hanya kepada Allah Azza wa Jalla,yang memegang teguh perjanjian dengan Rabb-nya ketika berada di Arsy-Nya, yang menjadikansegalanya sebagai jalan ibadah menuju ridha dan surga-Nya.Amin amin amin ya rabbal ‘alamiin …Kampus Pejompongan JakartaSelasa dini hari, 23 Agustus 2011, 04.00 Wib. Page | 97