• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
MP3EI Dlm Rangka Memperkuat Economic Governance di Indonesia
 

MP3EI Dlm Rangka Memperkuat Economic Governance di Indonesia

on

  • 1,433 views

Coretan Sederhana Untuk Komunitas KSF yang Tangguh !!

Coretan Sederhana Untuk Komunitas KSF yang Tangguh !!
Jakarta, 9 Juni 2011

Statistics

Views

Total Views
1,433
Views on SlideShare
1,431
Embed Views
2

Actions

Likes
2
Downloads
9
Comments
0

1 Embed 2

http://www.slideshare.net 2

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    MP3EI Dlm Rangka Memperkuat Economic Governance di Indonesia MP3EI Dlm Rangka Memperkuat Economic Governance di Indonesia Presentation Transcript

    • Tri Widodo W. Utomo (PKMK LAN-RI)MP3EI Dalam Kerangka Memperkuat Economic Governance di IndonesiaCoretan Sederhana Untuk Komunitas KSF yang Tangguh !! Jakarta, 9 Juni 2011
    • 2 Pembangunan nasional = pembangunanPolicy Setting daerah; pembangunan nasional = sum (pembangunan daerah). Pembangunan, meliputi: SDM (Manusia), SDA (Alam), SDB (Buatan). Problem: pertumbuhan yg tidak merata & menghasilkan gap regional, gap sektoral, gap spasional (desa vs kota), & gap sosial. Penyebab: 1) investasi terpusat pada lokasi tertentu; 2) model pembangunan lebih condong ke monocentric governance daripada polycentric governance; 3) tidak ada sistem interkoneksi & interdependensi antar wilayah Jawa/Jakarta centris.Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • Monocentric vs. Polycentric Model 3 Monocentric Model: semua aktivitas produksi di sebuah kota diasumsikan terjadi di 1 titik yg direpresentasikan oleh CBD (central business district), & semua pekerja diasumsikan sbg komuter thd CBD tsb. Polycentric Model: penduduk akan memilih lokasi yg paling dapat memenuhi preferensi barang & pelayanan yg dibutuhkan kota2 besar mjd makin tergantung pada kota2 kecil untuk menyediakan pelayanan pendukung yg dibutuhkan penduduk kota besar.Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • 4Peran & Urgensi Lex Specialis thd RPJP Nasional (focusing pada 8 koridor ekonomi & 22 kegiatan ekonomi). Merubah paradigma & pola pembangunan MP3EI dari Monocentric ke Polycentric Governance: o menyebar kegiatan ekonomi hingga ke pinggiran. o menurunkan skala ekonomi & kadar perkotaan dari level provinsi ke kab/kota. Memperkuat Economic Governance.Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • MP3EI Dalam Optik Desentralisasi 5 Koridor ekonomi pada skala pulau atau kepulauan, hendaknya dijabarkan dalam sub-koridor ekonomi berdasarkan provinsi. Selanjutnya, sub-koridor ekonomi tingkat provinsi dioperasionalisasikan dalam sub-sub-koridor ekonomi kabupaten/kota. Sebab, skala ekonomi riil berlangsung di tingkat lokal, yakni kabupaten/kota (bahkan harus menyentuh kecamatan pada kerangka jangka panjang). Provinsi dpt difungsikan sebagai pusat ekonomi (center) untuk mendorong perkembangan Kab/Kota di sekitarnya (periphery). Daerah yg tumbuh sebagai pusat pertumbuhan akan membentuk a continuum of small cities, yg selanjutnya akan menjadi penghubung (industrial belt) antar kota2 industri utama (new economic geography).Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • Case Study: Reform of Huaihailu Sub-District, Baixia District, Nanjing City, Jiangsu Province 6 Di China, otonomi tidak lagi diturunkan ke kecamatan (Jiedao), namun langsung kpd masyarakat. Kontrol administrasi kecamatan dikurangi scr drastis, dan dialihkan kpd masyarakat, cq. Urusan Jalan. Tujuan: to reduce administration levels, accelerate government processes, and strengthen community autonomy. Once the sub-district office was abolished, community resident committees became responsible for social programs. Hasil: overall improvement in efficiency: pengurangan pegawai 52%, sementara biaya administrasi turun dari US $ 1,032,000 menjadi US $ 541,803).Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • 7 Economic Governance Oliver Williamson: markets and firms should be seen as alternative governance structures, which differ in how they resolve conflicts of interest (the Royal Swedish Academy of Sciences, 2009). Combines the philosophy and architecture of economic policy-making with the institutions, machinery & practices that shape the evolution of the economy (Iain Begg, 2008). Economic governance centres around sound economic management and performance of an economy overtime; sound economic management must result in sustainable economic growth and development.Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • 8 Economic GovernanceTri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • 9 Akpan H. Ekpo, 2002, Economic Governance and The Partnership for African Development, University of Uyo, Nigeria. Iain Begg, Economic Governance in an Enlarged Euro Area, 2008, Economic Papers 311, European Commission. Referensi Mori, “A Modeling of Megalopolis Formation: the Maturing of City System”, Journal of Urban Economics, No. 42, 1997 Susan E. Baer and Vincent L. Marando, The Sub-districting of Cities: Applying the Polycentric Model, 2000. The Royal Swedish Academy of Sciences, 2009, Economic Governance. Tomoya Mori, Monocentric versus Polycentric Models in Urban Economics, Discussion Paper No. 611, Kyoto University, 2006. Judy Fenelon (ed.), 2003, Economic Governance and the Asian Crisis, Quality Assurance Series No. 30. Australian Agency for International Development.Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI
    • 10 Semoga Bermanfaat !!Tri Widodo W. Utomo – PKMK LAN-RI