Metode pelaksanaan jalan

17,767 views

Published on

Metode pelaksanaan konstruksi jalan raya flexible pavement campuran aspal panas hotmix

Published in: Technology
0 Comments
8 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
17,767
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
1,120
Comments
0
Likes
8
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Metode pelaksanaan jalan

  1. 1. METODE PELAKSANAAN /SPESIFIKASI TEKNIK Mobilisasi Pengiriman unit-unit peralatan Perkerasan Aspal Hotmix lengkap dengan unit Pemecah Batu Pengiriman unit-unit peralatan Pekerjaan Badan Jalan dan tanah Galian Biasa Galian untuk keperluan pekerjaan Talud dan Parit Dilaksanakan setelah SPMK dan telah mendapatkan persetujuan dari PPK yang meliputi Galian Tanah, Buangan Tanah Lebih dan Urugan Tanah Kembali untuk . Sebelum pekerjaan galian dimulai maka perlu dilakukan pengukuran sekeliling area bangunan. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kekeliruan pada saat pekerjaan galian dilaksanakan. Pekerjaan galian akan didahului dengan pekerjaan pengupasan lapisan teratas yang berupa lapisan urugan. Pekerjaan galian ini disesuaikan dengan peil dalam gambar desain. Pekerjaan galian ini menggunakan cara manual dengan peralatan sederhana. Pekerjaan lainya adalah urugan tanah kembali bekas galian dilakukan setelah pekerjaan pasangan selesai dilaksanakan dan dipadatkan kemudian sisa tanah dibuang pada pada lokasi tertentu hingga terlihat rapi dan sempurna. Pekerjaan tanah ini dilakukan untuk semua pekerjaan Talud dan Parit Pasangan Batu Membersihkan galian yang telah dibuat dan kontrol kedalaman dan lebar galian serta kelurusannya sesuai profil yang dipasang. Mengamparkan pasir sebagai lapisan dasar pondasi dan dipadatkan sehingga mempunyai permukaan yang rata dengan tebal minimum +20 cm Menghampar spesi talud dan memasang batu dengan rapi dengan posisi batu mendatar dan mengisi celah-celah antara batu bagian samping sampai penuh sengan dipasang drainase air tanah dengan menggunakan pipa pralon dengan jarak rata rata 1 meter selang seling. Setelah selesai dilakukan pekerjaan plesteran pada bagian atas talud serta dilakukan plester siaran pada permukaan dengan rapi. Pekerjaan Jalan Beton Berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Perkerasan Jalan Beton Semen (Pd T-05-2004-B) prosedur pelaksanaan perkerasan beton mencakup persyaratan bahan, penyiapan tanah dasar dan lapis pondasi, penyiapan pembetonan, pembetonan, pengendalian mutu dan pembukaan untuk lalu-lintas. Hal utama yang harus dilakukan dalam pengawasan selama pelaksanaan perkerasan beton semen adalah sebagai berikut: a) pekerjaan awal: - mempelajari gambar rencana dan spsefikasi - pemahaman lebih dalam terhadap lokasi proyek, lajur dan kemiringan - peralatan dan organisasi kontraktor
  2. 2. - penentuan tugas dan tanggung jawab - mementukan pengujian, pencatatan dan laporan yang diperlukan b) bahan: semua bahan harus diindentifikasi mengenai sumber, jumlah dan kesesuaian dengan persyaratan, penanganan, penimbangan dan pembuangan bahan yang ditolak. Bahan tersebut meliputi: - semen - agregat - air - bahan tambah - tulangan, ruji dan bahan pengikat - material perawatan beton - bahan sambungan c) perbandingan campuran: • pengujian agregat meliputi gradasi, berat jenis, penyerapan, kadar lempung • data perencanaan campuran meliputi kadar semen, proporsi agregat, air, rongga udara, kelecakan dan kekuatan • volume takaran meliputi ukuran takaran, berat material dalam takaran dan koreksi kadar air agregat d) unit penakaran/penimbangan meliputi: - pemeriksaan peralatan untuk menimbang dan mengukur semen, agregat, air dan bahan tambah - pemeriksaan peralatan untuk penanganan material, pengangkut dan skala timbangan e) unit pencampuran: pemeriksana peralatan pencampuran, lama waktu pencampuran, alat pengatur waktu dan penghitungan jumllah takaran sebelum pengecoran beton semen; - acuan : kecocokan acuan, alinyemen, kemiringan dan ruji - tanah dasar : kerataan, pemeriksaan permukaan akhir dan kadar air - sambungan muai : bahan sambungan, lokasi, alinyemen, dudukan dan ruji f) pembetonan: • persiapan meliputi bahan, perlengkapan peralatan, tenaga kerja dan bahan pelindung cauca • pencampuran meliputi jenis peralatan, konsistensi, kadar udara, pemisahan butir (segregasi) dan ketrlambatan • pengangkutan meliputi bats waktu, pengecekan pemisahan butir dan perubahan konsistensi • pengecoran meliputi penempatan adukan, pemisahan butir, kelurusan dan kerataan, lingkungan, pengteksturan dan perapihan tepi • pembentukan sambungan susut meliputi pembentukan sambungan, alinyemen, perapihan tepi dan pemeriksaan permukaan sambungan g) setelah pembetonan: • waktu pembongkaran acuan, kerusakan agar dihindari • perawatan meliputi metode, peralatan dan bahan, keseragaman, waktu mulai perawatan dan lama waktu perawatan • perlindungan meliputi beton basah, hujan, lalu-lintas, cuaca dingin, cuaca panas dan pencatatan temperatur • sambungan yang digergaji meliputi peralatan, temperatur, bahan penutup, pembersihan sambungan dan penutup
  3. 3. • pemeriksaan permukaan meliputi kelurusan dan kerataan, perbaikan atau penggantian h) pengujian beton semen: • campuran beton basah, pengujian kelecakan (dengan slump) dan kadar udara • pengujin kekuatan, pengambilan contoh, pembuatan benda uji, penyimpanan dan perawatan benda uji, pengujian kuat tekan, pengujian kuat tarik lentur, pengambilan contoh inti dan penggergajian perkerasan untuk pengujian kuat tarik lentur. Bahan resap pengikat dan perekat 1. Bahan untuk lapis resap pengikat (prime coat) • 2. Bahan untuk lapis perekat (tack coat) • • 3. Cutback bitumen jenis MC-30. Cutback bitumen jenis RC-70. Aspal emulsi kationik : CSS-1, CSS-1h Aplikasi bitumen • Lapis resap pengikat : 1,00 – 1,50 Ltr/m2. Lapis perekat : Jenis bahan Takaran pada permukaan baru atau pada permukaan yang sudah tua dan licin (Ltr/m2) Takaran pada permukaan yang berpori, permukaan yang lapuk (Ltr/m2) 0,15 0,40 0,15 – 0,35 Cutback RC-70 Aspal emulsi *) Aspal emulsi + air = 100 : 40 Pekerjaan hotmix Pekerjaan lapisan Asphalt Treated Base (ATB) menggunakan alat : 1). Jenis alat di pusat pencampuran aspal a. Asphalt Mixing Plant (AMP) dapat berupa pusat pencampuran dengan penakaran (batching) atau pusat pencampuran menerus (continuous). AMP harus memiliki kapasitas yang cukup melayani mesin penghampar secara menerus (tidak terhenti-henti) sewaktu menghampar campuran pada kecepatan normal dan ketebalan yang disyaratkan. AMP harus dirancang, dan dioperasikan
  4. 4. b. c. sedemikian rupa untuk menghasilkan campuran dalam batas toleransi sesuai dengan Campuran Kerja. Wheel Loader : alat untuk memindahkan agregat batu pecah dan pasir (abu batu) dari tumpukan material ke dalam hoper cold bin. Dump Truck : untuk mengangkut campuran aspal, tiap muatan harus ditutup dengan kanvas/terpal atau bahan lainnya yang cocok, dengan ukuran yang sedemikian rupa agar dapat melindungi campuran terhadap cuaca. 2). Jenis alat di lokasi badan jalan a. Asphalt Finisher : untuk pembentuk dan penghampar campuran aspal panas (hotmix). b. Tandem Roller : untuk breakdown rolling dan finishing rolling. c. Pneumatic Tire Roller : untuk pemadatan intermediate. 3). Timbangan • Timbangan untuk setiap kotak timbang atau corong tuang (hopper) dapat berupa jenis batang (beam) atau springless dial, harus berketelitian 0,5 % kali beban maximum yang diperlukan. • Bila timbangan jenis batang, maka harus ada suatu batang timbangan tersendiri untuk setiap ukuran agregat. Suatu tell tale dial harus dipasang dan ini akan mulai berfungsi bila beban yang sedang ditimbang berada dalam 50 kg dari yang diharapkan. Gerakan vertikal secukupnya harus dimungkinkan bagi batang tersebut untuk memungkinkan tell tale dial berfungsi dengan benar. • Bila timbangan jenis springless dial, maka ujung penunjuk harus di-stel dekat pada permukaan dial yang bersangkutan. Timbangan tersebut harus dilengkapi dengan alatalat penunjuk yang dapat disesuaikan untuk memberikan tanda berat dari setiap bahan yang akan ditimbang. • Timbangan untuk menimbang bahan bitumen harus sesuai dengan spesifikasi, nilai perbedaan angka minimum harus tidak boleh lebih besar dari 1 kg. Timbangan jenis dial untuk menimbang bahan bitumen harus berkapasitas kurang dari 2 kali berat bahan yang akan ditimbang dan harus dibaca sampai skala kg yang terdekat. Timbangan jenis batang harus diperlengkapi dengan suatu sarana penunjuk yang mulai berfungsi bila beban yang ditimbang berada dalam 5 kg dari yang diharapkan. 4). Peralatan untuk persiapan bahan bitumen Tanki-tanki penyimpan bahan bitumen harus dilengkapi untuk memanaskan bahan. Sistem sirkulasi untuk bahan bitumen harus berukuran cukup untuk menjamin sirkulasi yang layak dan terus menerus selama seluruh periode operasi. Total kapasitas penyimpanan tanki harus 30.000 liter dan minimum 2 buah tanki berkapasitas sama harus disediakan. 5). Alat penyalur bahan untuk alat pengering Instalasi harus diperlengkapi dengan suatu sarana mekanis yang tepat untuk menyalurkan agregat kedalam alat pengering sedemikian rupa sehingga dapat dicapai produksi dan temperatur yang merata. 6). Alat pengering Suatu alat pengering berputar untuk pengeringan dan pemanasan agregat harus disediakan. 7). Saringan
  5. 5. Saringan instalasi yang mampu menyaring semua agregat sampai ukuran-ukuran dan proporsi-proporsi yang ditetapkan, dan berkapasitas sedikit lebih besar dari kapasitas penuh alat pencampur harus disediakan. Saringan tersebut harus mempunyai suatu efisiensi operasi sedemikian rupa sehingga agregat yang disimpan dalam setiap tempat penyimpanan harus tidak berisi lebih dari 10 % bahan yang berukuran terlalu besar atau terlalu kecil. 8). Penampung Instalasi harus memiliki tempat-tempat penyimpan yang berkapasitas cukup untuk melayani alat pencampur bila sedang beroperasi dalam kapasitas penuh. Tempat penyimpanan harus dibagi sekurang-kurangnya dalam 3 kompartemen dan harus disusun sehingga menjamin penyimpanan fraksi-fraksi agregat secara terpisah dan cukup. Setiap kompartemen harus dilengkapi dengan suatu pipa pelimpah. 9). Unit pengendali bitumen Alat meteran untuk bahan bitumen harus berupa suatu pompa meteran aspal. Bila digunakan AMP jenis Batch maka pompa harus menyediakan jumlah bahan bitumen yang direncanakan untuk setiap penakaran. Untuk AMP jenis Continuous maka kecepatan operasi dari pompa harus disesuaikan dengan arus agregat kedalam campuran dengan suatu pengendali, alat tersebut harus dengan mudah dan tepat dapat diatur. 10). Peralatan pengukur suhu • Metal thermometer yang berskala 100 oC s/d 200 oC harus ditempatkan dalam jalur pemasukan bitumen yang sesuai dekat klep pengeluaran pada unit pencampur tersebut. • Instalasi diperlengkapi dengan termometer berskala cakra angka (dial). 11). Pengumpul debu AMP harus dilengkapi dengan suatu alat pengumpul debu (dust collector) untuk membuang atau mengembalikan ke elevator. 12). Pengendali waktu pencampuran AMP harus diperlengkapi dengan sarana-sarana untuk mengatur waktu pencampuran. 13). Truck scale Timbangan dan rumah timbang harus disediakan untuk menimbang truck-truck bermuatan hotmix yang siap untuk dikirim ke lokasi pekerjaan. 14). Persyaratan keamanan • • Tangga-tangga yang cocok dan aman yang menuju ke landasan alat pencampur dan tangga-tangga berpengaman yang menuju ke unit-unit instalasi lainnya harus ditempatkan pada semua jalan masuk ke operasi instalasi. Jalan lintasan yang cukup lebar dan tanpa rintangan harus dipelihara sepanjang waktu di dalam dan sekitar ruang pemuatan truck. 15). Persyaratan khusus untuk AMP jenis Batch Alat pencampur jenis Batch harus merupakan jenis twin-pugmill (pengaduk putar ganda)
  6. 6. yang mampu menghasilkan suatu campuran yang merata dalam batas toleransi job mix formula. Alat ini harus diberi selubung pemanas (heat jacketed) dengan uap air, minyak panas atau sarana lain. Kapasitas pencampur harus tidak kurang dari 1 ton. Pencampur harus mempunyai pengukur waktu untuk pengendalian siklus pengadukan. Perioda pengadukan kering di-definisikan sebagai interval waktu antara pembukaan pintu kotak timbangan dan permulaan penggunaan bitumen. Perioda pengadukan basah adalah interval antara waktu bahan bitumen disemprotkan pada agregat dan waktu pintu pencampur dibuka. 17). Peralatan penghampar • • Peralatan untuk penghamparan dan penyelesaian harus terdiri dari mesin penghampar (asphalt finisher) yang bertenaga penggerak sendiri, mampu menghampar dan menyelesaikan campuran tepat pada garis, kelandaian, dan penampang melintang yang diminta. Mesin penghampar harus dilengkapi dengan corong-curah dan ulir pendistribusi dari jenis yang dapat berputar balik untuk menempatkan campuran secara merata di depan batang perata (screed) yang dapat distel. • Mesin penghampar harus menggunakan perlengkapan penyeimbang (equalizing runner), pelurus (straightedge runner), lengan perata (evener arm) atau alat-alat pengganti yang bersangkutan lainnya, untuk mempertahankan kelandaian dan tepi perkerasan jalan tepat pada garis dan ketinggian permukaan yang diberikan dalam gambar dengan tanpa menggunakan acuan samping yang bersifat tetap. • Peralatan tersebut harus meliputi alat yang dapat distel untuk memberikan bentuk penampang melintang yang ditentukan dan mengatur ketebalan yang diperlukan. • Mesin penghampar harus dilengkapi dengan batang perata (screed) yang dapat digerakkan yang memiliki perlengkapan untuk memanaskan batang perata yang bersangkutan sampai temperatur yang diperlukan untuk menghampar campuran hotmix. • Istilah perataan (screeds) meliputi segala pemotongan, pengumpulan (crowding), atau tindakan praktis lainnya yang efektif dalam menghasilkan suatu permukaan akhir yang memiliki kerataan dan tekstur yang ditetapkan, dengan tanpa pembelahan, penggeseran atau pengaluran. 18). Peralatan pemadat a. Mesin gilas roda baja (Tandem Roller) dan mesin gilas roda ban bertekanan angin (Pneumatic Tire Roller) diperlukan untuk setiap mesin penghampar (Asphalt Finisher). b. Pneumatic tire roller harus yang mempunyai tidak kurang dari pada 7 roda dengan ban-ban pemadat bertapak halus yang ber-ukuran dan ber-konstruksi sama, dapat beroperasi dengan suatu tekanan ban sebesar 8,50 kg/cm2. c. Mesin gilas harus mampu menghasilkan suatu tekanan beban roda belakang tidak kurang dari pada 400 kg per 0,1 m meliputi tidak kurang dari 0,5 m lebar mesin gilas. Sekurang-kurangnya salah satu dari mesin gilas harus mampu menghasilkan suatu tekanan gilas sebesar 600 kg per 0,1 m lebar. PEKERJAAN LAPEN LEVELING
  7. 7. Lapisan Penetrasi Macadam (lapen), merupakan lapis perkerasan yang terdiri dari agregat pokok dan agregat pengunci bergradasi terbuka dan seragam yang diikat oleh aspal dengan cara disemprotkan di atasnya dan dipadatkan lapis demi lapis. Di atas lapen ini biasanya diberi laburan aspal dengan agregat penutup. Tebal lapisan bervariasi dari 4-10 cm. A. Bahan 1. Agregat • Agregat terdiri dari batu pecah berupa agregat kunci dan agregat penutup yang bersih, keras dengan kualitas seragam dan bebas dari kotoran lempung, bahan-bahan tumbuhtumbuhan atau bahan lainnya yang harus dibuang. • Batas perbedaan agregat • Agregat kasar berupa lapisan utama yang berada dalam batas-batas agregat ukuran nominal 2,5 cm – 6,25 cm yang tergantung kepada ketebalan lapisan dengan ukuran lebih /3 cm tebal rencana. • Agregat kunci untuk lapisan utama harus lolos saringan 25 mm tetap tidak boleh lebih dari 5% akan lolos dari saringan 9,5 mm. 2. Gradasi agregat % Berat Yang Lolos Ukuran Ayakan Tebal Lapisan (cm) ASTM (mm) 7-10 5-8 4-5 Agegat Pokok : 3” 75 100 2½” 63 90 – 100 100 2” 50 35 – 70 95 – 100 100 1½” 38 0 – 15 35 – 70 95 – 100 1” 25 0–5 0 – 15 ¾” 19 0–5 0–5 Agregat Pengunci : 1” ¾” 3/8” 25 19 9,5 100 95 – 100 0–5 100 95 – 100 0–5 0–5 95 – 100 100 3. Bahan Pengikat (Aspal) • Aspal semen Pen.80/100 atau Pen.60/70 yang memenuhi AASHTO M20. • Aspal emulsi CRS1 atau CRS2 yang memenuhi ketentuan Pd S-01-1995-03 (AASHTO M208) atau RS1 atau RS2 yang memenuhi ketentuan AASHTO M140. • Aspal cair penguapan cepat (rapid curing) jenis RC250 atau RC800 yang memenuhi ketentuan Pd S03-1995-03, atau aspal cair penguapan sedang (medium curing) jenis MC250 atau MC800 yang memenuhi ketentuan Pd S-02-1995-03. 4. Syarat-Syarat Kualitas Agregat Agregat yang digunakan untuk lapis permukaan penetrasi macadam adalah sebagai berikut. URAIAN BATANG BESI 1. Kehilangan berat karena abrasi 500 Maksimum 40% 2. Indeks serpihan (brithish standart) Maksimum 25% 3. Penahanan aspal setelah pelapisan dan Minimum 95%
  8. 8. pengelupasan B. Peralatan pelaksanaan • Dump truck • Loader • Penggilas tandem 6-8 ton atau penggilas beroda tiga 6-8 ton • Penggilas beroda karet 10-12 ton bila diperlukan • Hand sprayer • Truk penebar agregat • Penyapu, sikat, karung, keranjang, kaleng aspal, sekop, gerobak dorong, dan peralatan kecil lainnya. • Ketel aspal • Penggilas seperti cara mekanis C. Pelaksanaan 1. Persiapan Lapangan Penetrasi macadam akan dipasang diatas pondasi yang telah dibangun diatas permukaan dengan lapis penutup yang akan meliputi: • Diletakkan diatas permukaan lapis penutup yang ada permukaan tersebut harus dilapisi aspal pelekat pada suatu tingkat pemakaian tidak melebihi 0,51/m2. • Permukaan perkerasan harus kering dan bebas dari batu-batu lepas atau suatu bahan lain yang harus dibuang. • Sebelum pemasangan agregat kasar dan agregat kunci harus ditumpuk secara terpisah dilapangan untuk mencegah pencampuran dan harus selalu bersih. • Penghamparan dan Pemadatan 2. Metode mekanis • Penghamparan dan pemadatan agregat pokok • Truk penebar agregat harus dijalankan dengan kecepatan sedemikiansehingga kuantitas agregatadalah seperti yang disyaratkan dan diperoleh permukaan yang rata. • Pemadatan awal harus menggunakan alat pemadat6-8 ton yang bergerak dengan kecepatan kurang dari 3 km/jam. Pemadatan dilakukan dalam arah memanjang, dimulai dari tepi luar hamparan dan dijalankan menuju ke sumbu jalan. Lintasan penggilasan harus tumpang tindih(overlap) paling sedikit setengah lebar alat pemadat. Pemadatan harus dilakukan sampai memperoleh permukaan yang rata dan stabil (minimum 6 lintasan). • Penyemprotan Aspal Temperatur aspal dalam distributor harus dijaga pada temperature yang disyaratkan untuk jenis aspal yang disyaratkan. Temperatur Penyemprotan Aspal Jenis Aspal Temperatur Penyemprotan (oC) 60/70 Pen 165-175 80/100 Pen 155-165 Emulsi Kamar, atau sebagaimana petunjuk pabrik Aspal cair RC/MC 250 80-90 Aspal cair RC/MC 800 105-115
  9. 9. • Penebaran dan pemadatan agregat pengunci Segera setelah penyemprotan aspal, agregat pengunci harus ditebarkan pada takaran yang disyaratkan dan dengan cara yang sedemikian hingga tidak ada roda yang melintasi lokasi yang belum tertutup bahan aspal. Takaran penebaran harus sedemikian hingga, setelah pemadatan, rongga-rongga permukaan dalam agregat pokok terisi dan agregatpokok masih nampak. Pemadatan agregat pengunci harus dimulai segera setelah penebaran agregat pengunci. Dengan cara yang sama seperti yang telah diuraikan diatas. Jika diperlukan, tambahan agregat pengunci harus ditambahkan dalam jumlah kecil dan disapu perlahan-lahan diatas permukaan selama pemadatan. Pemadatan harus dilanjutkan sampai agregat pengunci tertanam dan terkunci penuh dalam lapisan dibawahnya. 3. Metode Manual • Penghamparan dan pemadatan agregat pokok • Jumlah agregat yang ditebar d atas permukaan yang telah disiapkan harus sebagaimana yang disyaratkan. Kerataan permukaan dapat diperoleh dengan ketrampilan penebaran dan menggunakan perkakas tanganseperti penggaru. • Pemadatan dilaksanakan seperti pada metode mekanis. • Penyemprotan aspal dapat dikerjakan dengan menggunakan penyemprot tangan (hand sprayer) dengan temperatu aspal seperti yang disebutkan diatas. Takaran penggunaan aspal harus serata mungkin pada takaran yang direncanakan. • Penebaran dan pemadatan agregat pengunci dilaksanakan dengan cara yang sama dengan agregat pokok. D. Kontrol Kualitas dan Pengujian Di Lapangan 1. Penyimpanan tiap fraksi agregat harus terpisah untuk menghindari tercampurnya agregat, dan harus dijaga kebersihannya dari benda asing. 2. Penyimpanan aspal dalam drum harus dengan cara tertentu agar tidak terjadi kebocoran atau kemasukan air. 3. Suhu pemanasan aspal harus sesuai dengan yang ditunjukkan pada tabel. Jenis Aspal 60/70 Pen 80/100 Pen Emulsi Aspal cair RC/MC 250 Aspal cair RC/MC 800 Temperatur Penyemprotan (oC) 165-175 155-165 Kamar, atau sebagaimana petunjuk pabrik 80-90 105-115
  10. 10. • Penebaran dan pemadatan agregat pengunci Segera setelah penyemprotan aspal, agregat pengunci harus ditebarkan pada takaran yang disyaratkan dan dengan cara yang sedemikian hingga tidak ada roda yang melintasi lokasi yang belum tertutup bahan aspal. Takaran penebaran harus sedemikian hingga, setelah pemadatan, rongga-rongga permukaan dalam agregat pokok terisi dan agregatpokok masih nampak. Pemadatan agregat pengunci harus dimulai segera setelah penebaran agregat pengunci. Dengan cara yang sama seperti yang telah diuraikan diatas. Jika diperlukan, tambahan agregat pengunci harus ditambahkan dalam jumlah kecil dan disapu perlahan-lahan diatas permukaan selama pemadatan. Pemadatan harus dilanjutkan sampai agregat pengunci tertanam dan terkunci penuh dalam lapisan dibawahnya. 3. Metode Manual • Penghamparan dan pemadatan agregat pokok • Jumlah agregat yang ditebar d atas permukaan yang telah disiapkan harus sebagaimana yang disyaratkan. Kerataan permukaan dapat diperoleh dengan ketrampilan penebaran dan menggunakan perkakas tanganseperti penggaru. • Pemadatan dilaksanakan seperti pada metode mekanis. • Penyemprotan aspal dapat dikerjakan dengan menggunakan penyemprot tangan (hand sprayer) dengan temperatu aspal seperti yang disebutkan diatas. Takaran penggunaan aspal harus serata mungkin pada takaran yang direncanakan. • Penebaran dan pemadatan agregat pengunci dilaksanakan dengan cara yang sama dengan agregat pokok. D. Kontrol Kualitas dan Pengujian Di Lapangan 1. Penyimpanan tiap fraksi agregat harus terpisah untuk menghindari tercampurnya agregat, dan harus dijaga kebersihannya dari benda asing. 2. Penyimpanan aspal dalam drum harus dengan cara tertentu agar tidak terjadi kebocoran atau kemasukan air. 3. Suhu pemanasan aspal harus sesuai dengan yang ditunjukkan pada tabel. Jenis Aspal 60/70 Pen 80/100 Pen Emulsi Aspal cair RC/MC 250 Aspal cair RC/MC 800 Temperatur Penyemprotan (oC) 165-175 155-165 Kamar, atau sebagaimana petunjuk pabrik 80-90 105-115

×