Penyakit Ternak Non Infeksius Penmas 2010 - triakoso

5,684 views
5,298 views

Published on

Menjelaskan berbagai penyakit non infeksius pada ternak. Merupakan materi penjelasan pembekalan pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas Airlangga tahun 2010

Published in: Education
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,684
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
215
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Penyakit Ternak Non Infeksius Penmas 2010 - triakoso

  1. 1. Nusdianto Triakoso triakoso.wordpress.com Penyakit Non Infeksius Pada Ternak Pengabdian Pada Masyarakat BEM Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga penyakit non infeksius - triakoso 2010
  2. 2. Asidosis Rumen • Grain overload, rumen engorgement, lactic acidosis, acid indigestion, toxic indigestion atau suddent death syndrome. • Kausa : pemberian sumber karbohidrat rendah serat (konsentrat) dalam jumlah besar. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  3. 3. ↑ KH yang mudah difermentasi ↑ laju pertumbuhan (semua bakteri) ↓ pH < 5 ↑ VFA’s ↓ laju pertumbuhan (sebagian bakteri) ASIDOSIS RUMEN ↓ S. bovis ↑ Lactobacillus ↓ pH ↑ laju pertumbuhan S. bovis ↑ asam laktat ↓ pH Stasis fermentasi Absorbsi D/L asam laktat Asidosis Metabolik penyakit non infeksius - triakoso 2010
  4. 4. Asidosis rumen • • • • • • • • Gejala klinis Ada tiga macam gejala : akut berat, subakut dan kronis. Pada serangan akut gejala akan muncul 12-36 jam setelah mengkonsumsi makanan. Gejalanya : tremor, lethargi, depresi, anoreksia dan ataksia. Hewan juga menunjukkan dehidrasi, daerah mata cekung. Gejala umum : distensi abdomen dan stasis rumen (rumen tidak berkontraksi). Suhu tubuh dapat meningkat cepat kemudian turun drastis. Denyut jantung meningkat dan cepat, hewan tampak bernafas dangkal dan cepat. Kadang hewan mengalami kebutaan. Dalam 24 jam hewan akan mengalami diare yang berbau kecut (masam) dan berlendir, berbuih berwarna coklat kekuningan atau keabuan. Hewan kemudian ambruk, koma dan mati. Subakut gejala mirip dengan akut berat hanya lebih ringan. Kronis akan disertai laminitis, pincang, abses liver, rumenitis kronis. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  5. 5. Asidosis rumen • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Berikan 1gram/kg BB magnesium oksida atau magnesium hidroksida atau natrium bikarbonat peroral. • Terapi suportif yang bisa diberikan adalah pemberian thiamine, kalsium dan anti radang. • Hewan sebaiknya diajak exercise (bergerak/berjalan) agar isi perut segera bergerak di dalam saluran pencernaan. • Hindari pemberian pakan tinggi karbohidrat rendah serat dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  6. 6. Indigesti sederhana • Indigesti adalah penyakit pada saluran pencernaan. Penyakit ini sering terjadi pada sapi terutama yang dikandangkan. • Penyebab utama biasanya adalah pakan yang terlalu tinggi kandungan seratnya. • Faktor risiko : perubahan pakan mendadak, kualitas pakan buruk, pemberian antibiotika jangka panjang atau kekurangan minum. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  7. 7. Indigesti sederhana • Gejala klinis • Sapi tampak enggan makan bahkan tidak mau makan sama sekali. Namun adakalanya sapi makan terus. Hal ini karena tidak ada makanan yang masuk ke dalam ususnya dan diabsorbsi sehingga tubuh merasa lapar. • Palpasi atau tinjuan pada daerah flank (rumen) akan membekas seperti kita menekan tanah liat (sarat rumen). • Tanda-tanda vital normal, namun tidak ditemukan kontraksi rumen. Feses normal atau mengeras, seringkali jumlahnya menurun bahkan tidak ada masa feses di dalam saluran pencernaan. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  8. 8. Indigesti sederhana • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Pemberian rumenotorik akan membantu meningkatkan kontraksi rumen. • Berikan pakan yang baik, rumput segar dan air. Pemberian viramin B akan membantu proses pencernaan mikrobial dan pergerakan rumen. • Bila mungkin berikan isi rumen hewan lain untuk membantu memperbaiki fermentasi mikroba di dalam rumen. • Pencegahan dilakukan dengan menghindari pemberian pakan yang terlalu tinggi serat. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  9. 9. Milk fever • Penyakit ini umumnya terjadi pada sapi perah. Kalsium esensial untuk hematologi, kontraksi otot, metabolisme tulang • Kausa : kadar kalsium darah di bawah normal (<7 mg/dl). • Faktor risiko : produksi susu tinggi, tua, manajemen pakan masa kering. • Pada domba umumnya terjadi pada akhir kebutingan, sedang pada kambing terjadi sebelum partus sebagaimana pada domba atau pasca partus terutama pada kambing perah yang berproduksi tinggi. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  10. 10. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  11. 11. Milk fever • • Gejala klinis Stadium awal (stadium eksitasi) hewan tampak kaku, tidak bergerak. Anoreksia. Gejala ini umumnya tidak begitu tampak karena berlangsung sangat singkat. • Stadium dua (stadium sternal) hewan tidak mampu berdiri namun masih rebah sternal. Depresi, anoreksia, cuping hidung kering, suhu subnormal, ekstrimitas dingin. • Stadium tiga (stadium terminal) hewan rebah lateral, lethargi, takikardia (120/menit), pulsus tidak terdeteksi, bloat. Kesadaran mulai hilang, tidak responsif terhadap rangsangan, koma. • Gejala pada domba biasanya ambruk, paralisis. Namun kadang juga ditemukan tremor dan tetani. Rebah sternal sebagaimana terjadi pada sapi jarang ditemui pada domba. Gejala pada kambing mirip seperti pada domba. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  12. 12. Milk fever • • • • • • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan Kurangi bloat yang terjadi. Sapi sebaiknya diposisikan rebah sternal. Berikan preparat kalsium seperti kalsium glukonat 23% 500 ml intravena. Pemberian kalsium sebaiknya secara perlahan dan periksa denyut jantung secara teratur. Bila terapi berhasil, maka sapi biasanya akan eruktasi, urinasi, defekasi dan berusaha bangun atau berdiri. Biasanya dalam 30 menit setelah terapi hewan akan berdiri. Bila perlu pemberian kalsium diulangi dalam12 jam. Pada domba atau kambing dapat diberikan kalsium buroglukonat 23% sebanyak 50-500 ml. Pencegahan dengan memberikan diet rendah kalsium saat masa kering setidaknya seminggu sebelum partus. Pemberian vitamin D3 menjelang partus. Pemberian kalsium yang cukup saat laktasi. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  13. 13. Downer Cow Syndrome • Sindroma ambruk pada sapi umumnya Downer Cow Syndrome (DCS) merupakan lanjutan dari milk fever. Bila dalam 24 jam meski diterapi kalsium, sapi tidak juga bisa berdiri dapat dikatagorikan menderita DCS. • Namun dapat juga DCS tidak berkaitan dengan kejadian milik fever. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  14. 14. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  15. 15. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  16. 16. Downer Cow Syndrome • Gejala klinis • Hewan tidak menunjukkan gejala sakit, namun tidak bisa berdiri. Kadang tampak seperti merangkak atau terduduk (dog sitting position) karena tidak mampu berdiri. • Komplikasi terjadi bila terjadi trauma saat berusaha berdiri, terutama pada panggul. Hewan juga mengalami dekubitus, fraktur, kerusakan otot dan lain-lain. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  17. 17. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  18. 18. Downer Cow Syndrome • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Terapi penyebab utama penyakit bila mungkin. Pemberian tambahan sumber fosfat dapat membantu. Berikan alas yang empuk agar tidak terjadi dekubitus atau trauma pada bagian tubuh yang lain. • Pemberian analgesik (aspirin, phenylbutazone, flunixin meglumin) dapat dilakukan untuk mengurangi rasa sakit pada otot. • Pencegahan dapat dilakukan dengan menempatkan pada kandang yang nyaman dan alas yang tebal untuk mencegah trauma saat melahirkan, usahakan cukup umur dan besarnya induk saat melahirkan serta cegah terjadinya milk fever. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  19. 19. Grass tetany • Lactation tetany, hipomagnesia • Magnesium esensial dalam metabolisme tulang, syaraf dan muskulus. • Penyebab : kadar mg darah di bawah normal (<1,5mg/dl). Output dan input magnesium tidak seimbang. Kadar kalium rumen meningkat akibat defisiensi natrium (garam). • Absorbsi mg menurun bila intake kalium meningkat. • Predisposisi : produksi susu tinggi, stress lingkungan, kadar kadar mg hijauan kurang (muda), perubahan pakan kering ke hijauan muda. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  20. 20. Grass tetany • Gejala klinis • Akut. Bersifat fatal, kematian mendadak tanpa gejala terutama pada sapi yg dikandang.Mulut dan hidung berbuih. Lantai kandang akibat merejan sebelum mati. • Hewan menunjukkan gejala syaraf, jalan kaku, gallop, melenguh keras sebelum rebah dan tidak bisa bangkit lagi. Tidak respon terhadap rangsangan (sinar, suara, sentuhan), kejang, tetany, menendang. Nistagmus. • Subakut. Gejala lebih ringan, tidak mampu mengerakkan kaki 3-4 hari penyakit non infeksius - triakoso 2010
  21. 21. Grass tetany • Pengobatan, pengendalian, pencegahan • Injeksi 1,6-2,7 g mg boroglukonas, garam klorid atau hipofosfit. Kombinasikan dg kalsium. • 0,04 ml/menit/kg 25% larutan mg (0,025 g/ml) • Oral magnesium untuk pencegahan. • Pencegahan : sapi berisiko (pakan hay atau hijauan muda stress lingkungan, produksi tinggi). Daerah intensif pemupukan (PK). penyakit non infeksius - triakoso 2010
  22. 22. Asetonemia • Disebut juga ketosis klinis, yang umumnya terjadi pada sapi perah. Ketosis terjadi akibat ketidakseimbangan kebutuhan karbohidrat atau sumber energi. • Ada dua macam ketosis yaitu ketosis primer dan sekunder. Ketosis sekunder biasanya berkaitan dengan terjadinya penyakit lain yang diderita hewan, karena hewan biasanya tidak mau makan. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  23. 23. Asetonemia • Gejala klinis • Pada ketosis primer umumnya hewan menunjukkan penurunan nafsu makan dan produksi susu secara bertahap. • Sapi akan kehilangan berat badan dan depresi. Sapi lebih memilih hijauan untuk dimakan. Feses umumnya kering dan keras. • Umumnya nafas berbau keton. Hewan akan pulih dengan sendirinya bila memperoleh pakan baik yang cukup. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  24. 24. Asetonemia • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Berikan dextrose 50% sebanyak 500 ml intravena. Berikan kortikosteroid (dexamethasone 10 mg IM) untuk memberikan efek glukoneogenesis atau anabolik steroid (Trenbolone asetat 60-120 mg). Bila perlu ditambahkan vitamin B12 dan Cobalt atau Asam nikotinat pada pakan. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  25. 25. Pregnancy Toxemia • Penyakit ini sering terjadi pada domba, meski dapat ditemukan juga pada ruminansia besar lain. Pada ruminansia kecil terutama domba umumnya terjadi pada akhir kebuntingan, menjelang partus. Faktor risikonya adalah kebuntingan lanjut, kegemukan dan beranak banyak (lebih dari satu). Kejadian ini biasanya berkaitan dengan perubahan pakan mendadak atau cuaca yang buruk dan bisa terjadi pada satu hewan atau dalam sekelompok hewan. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  26. 26. Pregnancy toxemia • Gejala klinis • Gejala utama yang terlihat adalah gejala syaraf seperti tremor, kejang, kebutaan, depresi, inkoordinasi atau ataksia. Hewan mungkin membenturkan kepala, berputar-putar atau seperti merumput. Gejala lain yang mungkin ditemukan adalah konstipasi dan nafas berbau keton. Distokia mungkin juga terjadi pada saat melahirkan. Pada akhirnya domba akan ambruk, koma dan mati dalam 4-7 hari. Kematian terjadi karena toksemia akibat kematian dan dekomposisi fetus. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  27. 27. Pregnancy toxemia • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Berikan preparat sumber energi seperti dextrose secara intravena atau propylene glycol secara peroral. Kortikosteroid dapat diberikan untuk memberikan efek glukoneogenesis. Hewan yang tertangani segera diberikan pakan yang baik dan mudah cerna atau palatable. Bila perlu, lakukan operasi sectio caesar dengan segera untuk menyelamatkan induk dan anak domba. • Hindari kegemukan dan berikan pakan yang cukup pada induk domba pada kebuntingan akhir. Hindari perubahan pemberian pakan. Bila perlu sediakan pakan suplemen seperti molases blok. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  28. 28. Fatty Cow Syndrome • Pada sapi perah penyakit ini sering terjadi pada pasca partus dan umumnya merupakan kaitan dengan penyakit peripartus lain seperti metritis, milk fever, ketosis, retensi plasenta. Sedangkan pada sapi potong lebih sering terjadi pada akhir kebuntingan. Faktor risikonya adalah sapi-sapi kegemukan. Penyebab munculnya Fatty Cow Syndrome adalah ketidakseimbangan metabolsime karbohidrat. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  29. 29. Fatty Cow Syndrome • Gejala • Umumnya terjadi pada peternakan yang intensif perah atau penggemukan. Sapi yang menderita umumnya sapi yang gemuk atau sangat gemuk. Hewan tampak depresi dan anoreksia. Sering juga diikuti ketosis sekunder yang berat. Gejala pada sapi potong mirip dengan pregnancy toxemia pada domba. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  30. 30. Fatty Cow Syndrome • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Lakukan pengobatan terhadap penyakit yang menyebabkannya (milk fever, retensi plasenta, metritis, dan lain-lain). Berikan pakan yang baik dan mudah dicerna. Obat lain dapat diberikan protamine-zinc insulin 200 IU IM tiap hari atau niacin 6-12 gram/hewan/hari peroral 1-2 minggu sebelum partus dan 90-100 hari pasca partus. Pemberian kortikosteroid biasanya tidak disarankan. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  31. 31. Retensi plasenta • Disebut juga retensi sekundinae. Plasenta secara normal akan lepas dari induk paling lama 1-12 jam pasca melahirkan. Pengeluaran plasenta lebih dari waktu tersebut adalah tidak normal. Pada sapi, retensi plasenta bisa terjadi 4-8 hari atau lebih bila tidak ada pertolongan. • Penyebab : ada gangguan pelepasan dari karunkula induk. Hal ini bisa disebabkan oleh keradangan atau infeksi seperti pada kasus brucellosis, trichomniasis, vibriosis atau infeksi bakterial lain yang menyebabkan plasentitis atau radang plasenta. Faktor lain seperti kelahiran prematur, kekurangan mineral atau vitamin. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  32. 32. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  33. 33. Retensi plasenta • Gejala klinis • Gejala yang paling jelas adalah tampak adanya plasenta yang masih menggantung yang keluar dari alat kelamin. Kadang plasenta menggantung sampai lantai kandang, bahkan dapat terinjak sapi yang lain. Kadang plasenta tidak begitu panjang sehingga hanya tampak bila sapi rebah, namun plasenta masuk ke dalam saluran kelamin bila hewan berdiri. Kadang disertai bau busuk, akibat pembusukan pada plasenta. • Kesehatan secara umum terganggu, depresi, produksi susu turun, respirasi cepat dan suhu tubuh meningkat. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  34. 34. Retensi plasenta • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Pertolongan terutama ditujukan untuk mengeluarkan plasenta dari alat kelamin, bila perlu dilakukan secara manual. • Oksitosin 100 IU untuk ruminansia besar atau 30-50 IU untuk ruminasia kecil akan membantu kontraksi uterus, sehingga dapat menyebabkan keluarnya plasenta. • Selanjutnya dilakukan pencucian uterus menggunakan larutan desinfektan, rivanol 1% atau antiseptik lain. Untuk mencegah timbulnya infeksi atau metritis berikan antibiotika. Penicillin 1 juta IU dikombinasi dengan streptomisin 1 gram dalam 40 ml larutan dimasukkan dalam uterus. Bisa juga menggunakan bolus klortetrasiklin 500 mg (Aeromycin) intrauteri. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  35. 35. Keracunan urea • Seringkali urea digunakan sebagai bahan untuk amoniasi jerami. Sumber nitrogen non protein. • Penyebab : urea yang diberikan terlalu banyak sehingga sapi mengalami keracunan atau sapi seringkali minum atau makan pupuk urea yang tidak disimpan dengan baik oleh peternak. • Urea tersebut di dalam rumen akan dimanfaatkan oleh mikroba dan menghasilkan amonia. Di dalam tubuh amonia adalah zat beracun dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai encephalopati hepatis dimana hewan menunjukkan gejala syaraf atau kejang-kejang karena gangguan sistem syaraf pusat akibat adanya akumulasi amonia di dalam tubuh. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  36. 36. Keracunan urea • Gejala klinis • Hewan hipersalivasi dan berbuih, gigi menggeretak karena adanya rasa sakit dan tampak telinga dan wajahnya menegang. Adanya nyeri abdomen disertai bloat. • Selain itu hewan menunjukkan peningkatan frekuensi respirasi dan berat. Hewan lebih sering urinasi. • Selanjutnya hewan kejang dan ambruk. Seringkali hewan ditemui mati di dekat sumber urea tersebut. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  37. 37. Keracunan urea • • Pengobatan, penanggulangan dan pencegahan Bila diketahui hewan menderita keracunan urea harus segera diterapi, meskipun hasilnya tidak cukup memuaskan. Gunakan sonde lambung untuk mengurangi bloat yang terjadi, sekaligus untuk memberikan air dingin. • Sapi dewasa : 45 liter diikuti beberapa liter asam asetat 6% atau cuka. Pengenceran tersebut akan menurunkan suhu di dalam rumen dan meningkatkan asiditas rumen sehingga mampu mengurangi produksi amonia. Bila perlu ulangi dalam 24 jam. • Berikan urea secara bertahap dalam jumlah yang sedikit (0,1 gram/kg BB) atau 35-40 gram untuk sapi 400 kg. • Simpan dengan baik urea yang biasanya digunakan sebagai pupuk agar tidak mudah dimakan sapi atau ruminansia kecil. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  38. 38. Keracunan lantana • Lantana camara atau kembang telekan adalah tanaman yang selalu hijau dan bertahan saat musim kemarau, sementara tanaman lain mengering. Menarik hewan untuk memakannya. • Komponen-komponen beracun tanaman ini yaitu Lantadene A (LA), Lantadene B (LB), Lantadene C (LC) dan Lantadene D (LD). Di antara komponen tersebut LA dan LB yang paling toksik. • Pada daerah kering, keracunan Lantana sering dilaporkan bahkan menjadi wabah. Di Indonesia bahkan pernah dilaporkan terjadi wabah keracunan Lantana pada sapi Bali di Kalawi, Donggala tahun 1980. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  39. 39. Keracunan lantana • Gejala klinis • Gejala awal adalah hewan akan mengalami gejala yang disebut fotosensitisasi dermatitis. Hewan akan mengalami kemerahan (eritema) pada kulit terutama yang terkena sinar matahari. Kulit yang terkena umumnya yang berambut tipis atau tidak berambut, termasuk juga di sekitar mocong. Bila berlanjut maka kulit tersebut akan nekrosis dan mengelupas. • Gejala yang lain hewan akan menunjukkan perubahan warna urine. Urine biasanya berwarna merah bahkan coklat tua. Gejala-gejala tersebut sangat mirip dengan penyakit Baliziekte. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  40. 40. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  41. 41. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  42. 42. Keracunan lantana • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Drenching dengan 2,5 kg karbon aktif dalam 20 liter untuk sapi atau 500 gram dalam 4 liter untuk kambing atau domba. Karbon aktif ini bertindak sebagai antidote keracunan. Dosis yang kedua mungkin diperlukan dalam 24 jam setelah terapi pertama bila kesembuhan masih belum tampak nyata. • Bentonite dapat digunakan sebagai pengganti karbon aktif, namun tidak cukup efektif sebagaimana karbon aktif. Bila perlu lakukan terapi cairan. Antibiotika dan sunscreen mungkin diperlukan untuk mengatasi keruskan kulit. • Bilamana tidak kunjung membaik ada kemungkinan telah terjadi kerusakan renal. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  43. 43. Keracunan nitrit-nitrat • • Keracunan nitrat atau nitrit mirip dengan keracunan urea. Nitrat (NO3)sebetulnya bukan merupakan bahan toksik. Namun di dalam tubuh, nitrat dicerna dan berubah menjadi nitrit (NO 2) oleh mikroba rumen. Kemudian nitrit yang beredar di dalam darah akan mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin. • Hemoglobin yang juga berfungsi mengikat oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan menjadi berkurang. • Pada monogastrik nitrat akan dikonversi menjadi nitrit di dalam usus, sehingga kecil kemungkinan untuk diabsorbsi dan menimbulkan masalah. • Sumber penularan biasanya dari tanaman (Astragalus) atau air sumur yang dalam sehingga terjadi akumulasi nitrat terutama bila di sekitarnya dilakukan pemupukan menggunakan pupuk nitrogen yang berlebihan. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  44. 44. Keracunan nitrit-nitrat • Gejala klinis • Hewan akan menunjukkan gejala setelah 6 jam memakan atau menelan bahan tersebut. Hewan menunjukkan gejala anoksia berat (kekurangan oksigen) seperti lemah, depresi, sianosis dan takikardia atau denyut jantung meningkat. Hewan akan mati bila 6075% hemoglobin dioksidasi menjadi methemoglobin. Biasanya ini berlangsung dalam 24 jam pasca hewan memakan bahan tersebut. • Sedangkan bila serangan bersifat kronis umumnya terjadi abortus dan meningkatkan kebutuhan vitamin A atau hewan menunjukkan gejala hipovitaminosis A. penyakit non infeksius - triakoso 2010
  45. 45. Keracunan nitrit-nitrat • Pengobatan, pengendalian dan pencegahan • Pada penderita dapat diberikan Methylene blue 1% yang dapat mereduksi methemoglobin menjadi hemoglobin. • Terapi tunggal 1-2 mg/kgBB intravena memberikan hasil yang baik pada monogastrik. • Sedangkan pada ruminansia butuh dosis hingga lebih dari 20 mg/kgBB dan bila perlu diulangi tiap 8 jam bila mengkonsumsi nitrat dalam jumlah besar. penyakit non infeksius - triakoso 2010

×