• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Buku Kenangan Monumen Pena
 

Buku Kenangan Monumen Pena

on

  • 6,185 views

Monumen Pena adalah sebutan untuk sebuah bangunan yang berada di depan aula (Gedung Pertemuan) Prabasanti Kompleks GKJ Kebumen Jl. Pemuda 140. Pada Perang Kemerdekaan I 1947, Markas Pusat Pelajar ...

Monumen Pena adalah sebutan untuk sebuah bangunan yang berada di depan aula (Gedung Pertemuan) Prabasanti Kompleks GKJ Kebumen Jl. Pemuda 140. Pada Perang Kemerdekaan I 1947, Markas Pusat Pelajar (markas besar Tentara Pelajar/ Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan) mengerahkan sebagian besar pasukannya ke front Barat di sekitar Gombong Selatan (Kuwarasan dan Puring). Karena pertimbangan strategi, dioperasikan sebuah Markas Darurat sebagai pusat komando di lapangan (semacam Pusdalops) yang menempati rumah dinas kapanditan GKJ sebagai kantor dan aula sebagai asramanya. Saat itu, pendeta GKJ dijabat oleh Bapak Reksodihardjo, ayah kandung Agustinus yang juga anggota Tentara Pelajar di Markas Kauman Kebumen (sekarang gedung SMP Muhammadiyah I). Markas ini dipimpin oleh Moedojo dan Tjiptardjo. Serta Staf Putri yang dipercayakan kepada Atiatoen Djadjoeli, siswi Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta yang berasal dari Kebumen. Karena jumlah anggota Tentara Pelajar yang harus diurus di asrama markas darurat sangat besar dan berasal dari berbagai kesatuan (termasuk Perpis - Pelajar Sulawesi) dan sebagainya, Atiatoen mengajak teman-teman sekolah yang berasal dari Kebumen juga. Yaitu Umiyatun (adik kandung Martono, Komandan Markas Pusat Pelajar/ mantan Menteri Transmigrasi), Rasini, Umi Wasilah dan Suprapti. Nama terakhir bertempat tinggal di depan GKJ (terakhir jadi guru SMA di Kota Malang).
Markas darurat beroperasi sekitar 3 bulan dan berakhir pada 5 September 1947 setelah terjadinya pertempuran di sekitar Desa Sidobunder Puring yang menelan korban besar. 24 gugur atau dieksekusi mati. Satu diantara korban meninggal yang disemayamkan di teras aula atas nama Suryoharyono yang akrab dipanggil Harry.
Atiatoen punya kakak kandung bernama Affandi yang akrab dipanggil Pandi Gondek yang merupakan sahabat karib Agustinus Reksodihardjo di kesatuan TGP (Tentara Genie Pelajar) yang semua anggotanya adalah pelajar Sekolah Teknik. Selain itu, kakak kandung Atiatoen lainnya yaitu Achmad Dimjatie adalah petinggi di TRI Kebumen berpangkat Letnan dan terlibat dalam pertempuran di Sidobunder.
Monumen Pena digagas oleh Atiatoen dan Agustinus pada tahun 2002. Selesai dibangun 2009 dan rencananya akan diresmikan September 2010. Tapi Atiatoen mendului dipanggil menghadap Tuhan Maha Kuasa pada 26 Juli 2010. Rancang bangun Monumen Pena dilakukan oleh ahlli waris Atiatoen, Toto Karyanto.

Statistics

Views

Total Views
6,185
Views on SlideShare
1,188
Embed Views
4,997

Actions

Likes
0
Downloads
0
Comments
0

34 Embeds 4,997

http://totowirjosoemarto.blogspot.com 2235
http://gematepe.wordpress.com 1147
http://gematepe.blogspot.com 933
http://catatantotokaryanto.blogspot.com 447
http://motivasikandirimu.blogspot.com 119
http://catatantotokaryanto.blogspot.ru 21
http://webcache.googleusercontent.com 17
http://totowirjosoemarto.blogspot.ru 11
http://gematepe.blogspot.ru 9
http://totowirjosoemarto.blogspot.nl 7
https://gematepe.wordpress.com 7
http://totowirjosoemarto.blogspot.sg 6
http://totowirjosoemarto.blogspot.co.uk 5
http://motivasikandirimu.blogspot.com.au 3
http://www.google.com 3
http://totowirjosoemarto.blogspot.tw 3
http://gematepe.blogspot.tw 3
http://totowirjosoemarto.blogspot.ca 3
http://totowirjosoemarto.blogspot.in 2
http://www.gematepe.blogspot.com 2
http://totowirjosoemarto.blogspot.com.au 1
http://www.totowirjosoemarto.blogspot.fr 1
http://gematepe.blogspot.co.uk 1
http://totowirjosoemarto.blogspot.jp 1
http://totowirjosoemarto.blogspot.it 1
http://www.totowirjosoemarto.blogspot.de 1
http://motivasikandirimu.blogspot.tw 1
http://motivasikandirimu.blogspot.de 1
http://totowirjosoemarto.blogspot.hk 1
http://totowirjosoemarto.blogspot.com.br 1
https://www.google.com 1
http://gematepe.blogspot.be 1
http://catatantotokaryanto.blogspot.hk 1
http://totowirjosoemarto.blogspot.fi 1
More...

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Buku Kenangan Monumen Pena Buku Kenangan Monumen Pena Document Transcript

    • Panitia Pembuatan Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan Pada Perang Kemerdekaan I – 1947 Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI Kompleks GKJ Kebumen, 10 November 2013 1
    • ISI Tentang 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Halaman Persembahan Sekapur Sirih Gagasan dan Peristiwa Keterangan Gambar Monumen Pena Puisi Mata Pena Mata Hati Laporan Panitia Pembangunan Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300 TNI Pada Perang Kemerdekaan I – 1947 Di Kebumen Terbentuknya Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan Puisi : Sepucuk Surat Dari Akhirat - Welanatama Keberadaan Markas Darurat di Front Barat Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947 – Prof. Dr.drh., R.I.M. Djokowoerjo Sastradipradja Pengalaman Pertempuran di Sidobunder 2 September 1947 - Imam Soekotjo, Masekal Muda (Purn) Kenangan Menjadi Staf Putri Markas Pusat Pelajar – Atiatoen Wirjosoemarto Biografi Ringkas Atiatoen Wirjosoemarto binti Moch. Djadjoeli Penutup 2 2 3 4 6 8 11 12 13 14 24 27 31 32
    • PERSEMBAHAN Sepenggal Sajak Buat Para Pelajar Pejuang Di negeri yang sarat pecundang Tak ada lagi tempat layak bagi pejuang Bila tanpa perang Jika tidak pakai pedang Kalau tanpa garang Andai ada laga menghadang Sepenggal kata tak lagi bermakna Saat semua berbicara dengan amarahnya Kala curiga jadi panglima Dalam wajah-wajah beringas penguasa Yang siap melindas dengan seragamnya Yang berasa kuat ketika pegang senjata Tapi tiada daya berhadapan sang satria perwira sejati yang berbudi pekerti yang junjung tinggi amanat negeri bebaskan anak-anaknya dari penjajahan atas kebodohan yang terpelihara kemiskinan mental para pecundang yang berlindung di balik ketiak sang penguasa bersekutu hancurkan tanah persada Wahai para pelajar pejuang merdeka nyala apimu tak kan pernah padam dalam dada dan jiwa karena kamu selalu sedia satu peluru tuk satu sasaran pasti ilmu itu tiada kan pernah tumpul yang selalu terasah dalam langkah yang menancap kuat di setiap benak anak-anak negeri berbakti bagimu negeri demi tanah air merdeka Kebumen, 6 Pebruari 2011 Toto “Onkytom” Karyanto 3
    • Sekapur Sirih Banyak sudah monumen, tugu peringatan dan tempat tertentu yang bernilai sejarah bagi masyarakat, bangsa dan negera Indonesia diadakan sebagai tanda sebuah peristiwa bersejarah yang menandai kehadiran fisik Tentara Pelajar (TP) dalam kancah perjuangan Bangsa Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hampir atau bahkan semua tanda itu digagas dan/atau disetujui oleh “para tokoh” yang kebanyakan diantaranya adalah pejabat penting di lingkungan sipil maupun militer. Dan dengan satu catatan yang mungkin sangat penting yaitu berhubungan dengan posisi sebagai pasukan tempur atau dalam Konvensi Jenewa 1949 disebut kombatan. Pada umumnya, gambaran seperti inilah yang menjadi simbol utama dalam mewakilkan sebuah peristiwa heroik (bernilai kepahlawanan). Satu segi yang mungkin juga dianggap penting adalah formalitas, dikuatkan dengan bukti formal seperti Surat Keputusan (SK) Veteran, tanda jasa dan lain-lain. Gambaran umum di atas mungkin saja benar, tapi tidak selalu tepat. Karena dalam realita perjuangan bangsa Indonesia menegakkan arti dan makna kemerdekaannya, banyak warga masyarakat biasa yang memberi sumbangsih tidak kecil dan tak pernah menggapai segi formalitas di atas karena beragam alasan. Satu diantaranya adalah bahwa keikutsertaannya dalam kancah perjuangan bangsa adalah panggilan jiwa atau kewajiban moral yang harus ditunaikan sebagai darma bakti kepada tanah air, bangsa dan negara. Formalitas tak lagi dianggap penting yang kedudukannya tak lebih dari selembar kertas, sebuah benda mati “tak bernyawa”. Keadaan dan keberadaan Markas Darurat Front Barat di lingkungan Gereja Kristen Jawa Jalan Stasiun (sekarang jalan Pemuda) Kebumen, gaungnya tak sekuat peristiwa puncak dari sebuah proses pengerahan sebagian besar kekuatan Markas Pusat Pelajar yang menjadi pusat komando Tentara Pelajar di Jalan Tugu Kulon 70 Yogyakarta. Yaitu pertempuran dua hari di sekitar Desa Sidobunder Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen pada tanggal 1 dan 2 September 1947. Pada persitiwa itu, secara formal dicatat sejumlah 20 orang anggota TP gugur. Sementara itu, pengakuan dari pelaku dan orang terakhir yang meninggalkan killing field dari sebuah pertempuran tak berimbang tersebut, ada 24 orang teman seperjuangannya menjadi korban meninggal yang beliau catat dan laporkan kepada Markas Tentara Pelajar di Karanganyar sebagai markas komando di garis terdepan selaku pemberi perintah dalam mengevakuasi korban. Perbedaan jumlah formal dan riil tersebut adalah sebagian sisi peka dalam pencatatan dan/atau pengakuan atas sebuah peristiwa sejarah. Bagi sebagian orang, perbedaan itu tidak menjadi hal penting karena hanya mencakup sisi formal. Sisi atau aspek yang dinilai lebih penting adalah memelihara ”isi”-nya, Mengenai cara dan upaya memberi makna atas penghargaan tertinggi bagi kemanusiaan. Di sisi ini, formalitas atau pengakuan resmi secara tertulis tak lagi dinilai penting dan bermakna bagi kelangsungan hidup manusia pada umumnya. *** 4
    • GAGASAN DAN PERISTIWA Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, hari ini, di tengah suasana Bangsa Indonesia memperingati kepahlawanan arek-arek Soerobojo yang gagah berani dan pantang menyerah berjuang bahu membahu melawan tentara pendudukan Belanda yang membonceng Sekutu ingin kembali menjajah tanah air Indonesia. Hari ini kita juga menjadi saksi sejarah berdirinya sebuah bangunan sederhana di depan asrama Markas Darurat Tentara Pelajar pada Front Barat dalam upaya ikut serta secara aktif menegakkan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945. Bangunan yang diberi nama Monumen Pena ini digagas oleh almarhumah Ibu Atiatoen Djadjoeli selaku Staf Putri Markas Pusat Pelajar (MPP) Yogyakarta yang diperbantukan menangani asrama, dapur umum dan kepalangmerahan di Markas Darurat tersebut yang berdiri di Kompleks Gereja Kristen Jawa (GKJ) ini pada Perang Kemerdekaan I - 1947. Gagasan yang dicetuskan seketika disela mengikuti upacara pemancangan bambu runcing pada makam anggota Tentara Pelajar atas nama Kartiko di Makam Kristen Desa Panjer, Kebumen, kemudian didukung oleh Agustinus Reksodihardjo yang merupakan putra kandung Pendeta GKJ saat itu, Bapak Reksodihardjo. Agustinus anggota Tentara Pelajar Markas Kebumen di Kauman dan sahabat karib kakak kandung Atiatoen bernama Affandi yang lebih akrab dipanggil Pandi Gondhek (pelajar Sekolah Teknik dan anggota Tentara Genie Pelajar/TGP di Kebumen). Semula, bangunan ini diberi nama Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan pada Perang Kemerdekaan I – 1947 Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI . Dalam perjalanan mewujudkan gagasan itu, banyak terjadi hal sulit dan dilematis yang dialami oleh Panitia Pembangunan karena kendala formal dan khususnya finansial. Meski usulan telah disosialisasikan hampir setahun, upaya penggalangan dana tidak berjalan lancar. Sebagai wujud rasa tanggung jawab penggagas, Ibu Atiatoen sempat dua kali menitipkan SK pensiun selaku guru SD dengan golongan/pangkat III C. Pada awal Maret 2003, sebuah upacara sederhana peletakan batu pertama tanda dimulai pembangunan monument dilakukan oleh Ketua Paguyuban III-17 Rayon Kabupaten Kebumen, Bapak Umar Sukarno, BE. Bangunan ini memakai konstruksi cor dan selesai tahap pertama yaitu bentuk dasarnya sekitar tiga minggu. Sambil menunggu kering dan siap dilanjutkan, upaya menggali sumber-sumber dana terus dilakukan baik secara personal maupun melalui media. Dengan beragam kendala, akhir tahun 2009, bangunan ini telah dinyatakan selesai oleh penggagas. Tinggal menunggu peresmian yang direncanakan akan dilakukan pada September 2010 sesuai peristiwa yang melatar-belakanginya. Rencana peresmian tersebut batal dilakukan karena sang penggagas, Ibu Atiatoen Djadjoeli wafat pada usia 80 tahun karena sakit yang telah lama diderita. Sebagai ahli waris, rencana almarhumah terus diupayakan secara mandiri maupun dengan memanfaatkan dana bantuan sosial dari Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk Paguyuban Keluarga Besar Eks Tentara Pelajar di Kabupaten Kebumen (tertulis Brigade Ex Tentara Pelajar). Pada rencana peresmian kali ini banyak kendala teknis yang harus dihadapi. Dana masih menjadi masalah yang cukup serius mengingat penggagas bukan termasuk “orang penting”. Almarhumah Ibu Atiatoen hanya “orang belakang” yang mengurus dapur umum dan kepalangmerahan. Bukan anggota pasukan tempur (kombatan) yang senantiasa menjadi gambaran umum mewakili sosok pejuang sejati. Hal mendasar lainnya adalah karena almarhumah tidak tercantum dalam daftar nama anggota Tentara Pelajar dalam buku resmi terbitan Pusat Sejarah dan Tradisi TNI “ Peran Pelajar Dalam Perjuangan dan 5
    • Pembangunan” (1995). Satu-satunya bukti bahwa Atiatoen adalah anggota Tentara Pelajar adalah Piagam Penghargaan dan Bintang Tentara Pelajar yang dikeluarkan oleh Keluarga Besar ex Tentara Pelajar Kedu dan ditanda-tangani sang Ketua, Bapak Drs. Imam Pratignyo pada Juli 1957. Tanpa SK Veteran RI karena enggan mengurusnya. Sementara itu. Bapak Agustinus Reksodihardjo yang lebih beruntung mendapat pengakuan sebagai veteran RI dan meraih sejumlah bintang jasa dari Pemerintah RI. Meski mengaku tak terlibat secara langsung dalam pengoperasian Markas Darurat, beliau diakui sebagai anggota Tentara Pelajar Markas Kebumen yang berada di Kauman bersama almarhum Affandi, kakak kandung almarhumah Atiatoen. Selain itu, posisinya sebagai putra kandung Pendeta GKJ Kebumen saat markas darurat beroperasi, Bapak Reksodihardjo, adalah satu alasan kuat gagasan mendirikan monumen ini harus dilaksanakan secara mandiri. Lebih dari itu, sepanjang masa pemerintahan Orde Baru yang friksioner, banyak mantan anggota Tentara Pelajar yang menduduki jabatan penting di lingkungan militer maupun sipil cenderung mendulukan kesatuan kecilnya entah bernama regu, seksi, kompi sampai tingkat detasemen atau batalyon. Kami menyebutnya dengan istilah dampak sektarianisme elitis. Sehingga banyak muncul atribut aspal, asli tapi sebenarnya palsu. Asli karena diresmikan oleh aturan formal, tapi palsu karena tidak sesuai dengan kapasitas dan peran diri pada masa-masa sulit dalam upaya bangsa Indonesia menegakkan makna kemerdekaannya. Sebagai generasi penerus yang cukup memahami situasi seperti itu, kami mencoba berpikir positif dan bertindak obyektif menurut nalar serta dorongan nurani. Bahwa di balik kesulitan akan selalu ada kemudahan yang mungkin baru dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. Karena itu, dalam mengupayakan realisasi gagasan di atas, kami mengedepankan asas nilai mengungguli bentuk. Makna lebih bernilai ketimbang formalitas. Apapun yang akan terjadi kelak, biarlah waktu dan proses yang menjadi saksinya. Kewajiban utama kami adalah memelihara amanat almarhumah dan semua yang berkeinginan agar kita senantiasa mampu memaknai setiap peristiwa kehidupan yang mengiringi perjalanan Bangsa Indonesia menuju kedewasaannya dengan segala konsekuensinya. Biarlah jargon terkenal “jas merah – jangan melupakan sejarah” tetap menjadi milik semua orang Indonesia. Bukan hanya pengikut Bung Karno. Karena sejarah adalah proses apresiatif yang jika semakin didalami maknanya akan muncul sikap bijak dalam berkehidupan. Kebumen, 10 November 2013 Ahli waris penggagas (alm. Atiatoen) Toto karyanto 6
    • KETERANGAN GAMBAR BANGUNAN MONUMEN PENA MATA PENA BUKU TERBUKA Monumen Pena adalah sebutan untuk bangunan yang berdiri di depan aula Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jalan Pemuda Kebumen. Insiatif pendirian berasal dari pembicaraan ser-san (serius tapi santai) antara almarhumah Ibu Atiatoen yang saat itu bertugas selaku Staf Putri saat Markas Darurat Pelajar Pejuang Kemerdekaan dari Markas Pusat Tentara Pelajar di Tugu Kulon (sekarang jadi monument TP di Jl.Diponegoro sebelah Barat Pasar Kranggan Yogyakarta). Dengan Bapak Agustinus Reksodihardjo, teman di Tentara Pelajar (TP) Kebumen dan putra kandung Bapak Pendeta Reksodihardjo. Markas Darurat beroperasi sekitar 3 (tiga) bulan: Juli – September 1947. Menempati rumah dinas kapandhitan GKJ sebagai pusat kendali dan asrama darurat di Komplek GKJ yang sekarang sebagai aula bernama Gedung Prabasanti. Kedua mantan anggota TP itu bersepakat untuk membuat “tetenger” atau saksi bisu berupa sebuah bangunan yang oleh almarhumah Ibu Atiatoen disarankan bernama Monumen PENA pada pertengahan tahun 2000 yang lalu. Selaku putra dan generasi penerus yang cukup memahami “isi” TP, saya diminta membuat gambar rancangannya. FASE PERGE RAKAN KEBANGSAAN @totokaryanto 7
    • Perubahan nama Tetenger menjadi Monumen Pena sebenarnya adalah usul penulis kepada penggagas (Ibu Atiatoen) setelah bentuk dasar bangunan selesai dirancang dan disetujui. Secara filosofi, satu bagian penting dari lambang Tentara Pelajar adalah pena bulu yang melukiskan dunia kependidikan adalah dasar utama keberadaan pasukan pelajar atau Tentara Pelajar. Namun bentuk pena yang dipilih adalah pena yang punya mata dan gagang kayu atau sejenisnya. Hasil guratan pena ini sangat tebal atau tegas, menggambarkan ketegasan sikap penggagas tentang kebenaran hakiki. Selain sisi simbobik di atas, keberadaan pasukan pelajar (pejuang kemerdekaan) telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Bangsa Indonesia menegakkan kemerdekaannya. Buku "Peran Pelajar dalam Perjuangan dan Pembangunan" yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (1995) dengan segala kekurangannya menguatkan hal itu. Juga beragam karya purna bakti baik berupa monumen, wisma, lembaga pendidikan atau apapun bentuk serta skalanya. Pena memiliki dua bagian utama. Mata pena dan gagang pena. Dalam posisi terbalik, mata pena ada di bagian atas dan gagangnya di bawah. Mata pena kemudian dibentuk seperti tiara, mahkota bersusun tiga yang menggambarkan periodisasi perjalanan pasukan pelajar ini. Periode pertama adalah ketika pasukan pelajar ini bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Bagian Pertahanan yang diwakili dengan warna coklat gelap. Berikutnya adalah bagian yang menggambarkan posisi pasukan pelajar sebagai bagian dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam wadah Brigade XVII. Dan bagian terakhir yang berwarna hitam adalah periode demobilisasi atau purna bakti. Semua anggota pasukan pelajar diberi pilihan oleh Pemerintah untuk melanjutkan karir di lingkungan militer atau kembali ke bangku sekolah dan kuliah sebagai manusia sipil. Pada gagang pena juga terdapat penggambaran situasi perjalanan bangsa Indonesia. Yakni fase atau periode penjajahan yang berupa fondasi berkedalaman 0,5 m di dalam tanah dan lantai dasar yang disimbolkan dengan warna hitam sebagai periode kegelapan. Di lantai yang berbentuk segi empat berwarna dasar hitam dengan garis merah yang memisahkan dua periode kegelapan yaitu periode penjajahan bangsabangsa Eropa dan periode pendudukan asing pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai penyerahan kembali kedaulatan pada akhir Desember 1949. Bagian gagang yang paling utama adalah berbentuk buku terbuka yang berwarna putih bersih. Mewakili masa pencerahan pasca penjajahan asing. Buku adalah sumber ilmu dan kebajikan. Di dalam buku yang terbuka, bangsa Indonesia semestinya mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaannya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Dengan “buku”, cakrawala pandang kita seharusnya lebih terbuka sebagai bangsa yang maju dan beradab. Jika realita yang terjadi saat ini berbeda dari idealisme kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diperjuangkan dengan pengorbanan nyawa para syuhada, harta benda penduduk, kekayaan alam dan keihlasan berjuang para penegak kemerdekaan; buku sejarah tak salah. Karena kehidupan ini terus berjalan dan kesaksianlah yang harus ditegakkan. Apakah kita yang hidup saat ini akan terus memelihara kebodohan dengan cara suka mengasihani diri dan memperlakukan amanat kemerdekaan bangsa berlalu tanpa makna ? Semua akan kembali ke dalam nurani dan keyakinan pribadi masing-masing. Buku-buku sejarah adalah cermin. Hanya yang “buruk muka” cermin itu menjadi terbelah. 8
    • Perubahan gagasan dari Tetenger jadi Monumen Pena Pengembangan Gagasan 9
    • Mata Pena… Mata Hati Mata Pena ada di antara goresan tinta emas para pejuang kemerdekaan yang tinggalkan bangku sekolah yang jauhi keluarga dan sanak saudara tuk berbakti kepada negeri yang tengah dihinakan yang dinistakan kemurkaan itu dari wajah-wajah bengis penjajah penghisap darah, keringat dan air mata tanah airku negeri nan kaya Mata Pena mata hati yang melihat kesombongan itu dan hianat para durjana pelacur negeri tak pernah jijik menjilat ludah sendiri tak pernah malu mesti ditelanjangi dan tak berasa risi dengan gerahnya kebodohan karena mereka tak bermata hati beku dalam selimut congkak Selama pena menggores buku sumber-sumber ilmu tiada kering Meski debu kian memburu dan angan-angan pengumbar nafsu Angkara murka tak pernah bersukma Mata Pena mata hati tetap membara dalam nurani tanpa ragu dalam berbakti tiada enggan tuk berbudi Bagimu negeri dan Ibu Pertiwi Kami berbakti Karena merdeka itu hakiki tiada ada yang menandingi Selain kehendak Illahi Toto Karyanto 2011 10
    • Laporan Panitia Pembuatan Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Batalyon 300 Brigade XVII TNI Pada Perang Kemerdekaan I – 1947 Di Kebumen Tiada pernah lelah kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Tak pernah lagi kami mampu berhitung nikmatMu. Khususnya nikmat kemerdekaan bagi segenap Bangsa Indonesia yang meraih dengan berjuang dan terus berjuang memaknainya. Panitia kecil yang dibentuk secara musyawarah oleh beberapa anggota Paguyuban III – 17 Rayon Kebumen dan generasi mudanya pada awal Juni 2002 adalah sebuah upaya memaknai kemerdekaan itu. Agar generasi muda Indonesia senantiasa memahami bahwa di tempat kita berkumpul ini adalah satu tempat besar dan pernah digunakan sebagai asrama Markas Darurat Tentara Pelajar untuk menghadapi front Barat di sepanjang garis demarkasi di sepanjang aliran Sungai Kemit dari Karanggayam yang berbukit sampai Puring di bibir Pantai Samudera Hindia. Peletakan batu pertama oleh Ketua Paguyuban yang disaksikan sejumlah kecil anggota Paguyuban dan wakil GKJ yang saat itu dipimpin oleh bapak Pendeta Imam Sugiri pada 16 Pebruari 2003. Dengan demikian, proses pembangunan fisik “Tetenger Patilasan Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947 secara resmi dimulai. Sekitar sebulan kemudian, wujud bangunan yang masih berbalut papan cor telah nampak cukup jelas. Dan dalam jangka waktu cukup lama, hampir setahun, kondisi seperti itu tak mengalami perubahan bentuk yang cukup berarti menjadi lebih nyata. Menggambarkan kekuatan niat dan usaha para penghuni dan/atau tamu asrama. Inilah kendala kedua yang dihadapi Panitia, terutama sang penggagas dan pelaku yakni Ibu Atiatoen Djadjoeli. Agar tidak mengganggu pemandangan di lingkungan GKJ, maka dengan segala konsekuensinya sang penggagas menggadaikan SK Pensiun sebagai guru SD Golongan III C untuk mendapatkan dana segar dan segera. Cara yang sama berulang dalam proses penyelesaian akhir. Satu persatu anggota Panitia wafat karena usia dan sakit yang diderita. Mulai dari Bapak Thomo Sudirman (Penasihat), Bapak Umar Soekarno (Ketua), Bapak Salmon HS (Penasihat), Ibu Rasini (Sekretaris I) dan terakhir adalah Ibu Atiatoen Djadjoeli pada 26 Juli 2010. Hal yang cukup membanggakan adalah wasiat penggagas sebelum wafat agar Panitia dapat segera diresmikan dan menyerahkan Tetenger yang kemudian diberi nama Monumen Pena sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan Tentara Pelajar kepada warga Gereja Kristen Jawa (GKJ) pada umumnya dan khususnya keluarga Pendeta Bapak Reksodihardjo yang telah mengijinkan serta mendukung kegiatan pengelolaan asrama pasukan pelajar pada masa itu. 11
    • Susunan Panitia Kecil Pembangunan Tetenger Rumah Perjuangan Tentara Pelajar Markas Darurat Front Barat pada Perang Kemerdekaan I – 1947 Penasihat : 1. Thomo Sudirman (Bandung) 2. Agustinus Reksodihardjo (Bandung) 3. Salmon HS (Kebumensaudara kandung David Sulistyanto) Ketua : Umar Soekarno, BE (Ketua Paguyuban III – 17 Rayon Kebumen Sekretaris : 1. Toto Karyanto 2. Rasini Bendahara : Atiatoen Kordinator : Amini Soeroto (mewakili anggota Lapangan Majelis GKJ Kebumen) Pelaksana : Toto Karyanto Saat laporan ini dibuat, anggota Panitia Kecil yang masih ada tinggal 3 orang yaitu Bapak Agustinus Reksodijardjo (Penasihat, Bandung), Toto Karyanto dan Ibu Amini Suroto. Dengan demikian, hampir semua tugas administratif dan lapangan dilaksanakan oleh Pelaksana Teknis yang merangkap banyak tugas. Di antara tugas-tugas itu, yang dirasakan paling berat adalah memelihara janji awal (komitmen) menjadikan bangunan ini sebagai tanda (tetenger) terima kasih dan penghargaan dari penggagas dan Keluarga Besar Tentara Pelajar pada umumnya kepada warga dan pengurus Gereja Kristen Jawa Kebumen yang telah mendukung perjuangan Bangsa Indonesia menegakkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 secara bersama-sama. Janji adalah utang yang wajib dilunasi sesegera mungkin. Oleh karena itu, dengan segenap konsekuensinya, prosesi serah terima dalam sebuah acara kecil sangat perlu dilakukan meskipun dalam suasana yang sangat sederhana sesuai amanat almarhumah Ibu Atiatoen Djadjoeli. ” Bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak” Demikian Laporan Panitia. Terima kasih atas segenap perhatian dan keikutsertaannya. Dan mohon maaf atas segala kekurangan. Kebumen, 10 November 2013 a.n. Panitia Toto Karyanto 12
    • 31 Desember 2003 13
    • Terbentuknya Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan Pelajar Indonesia pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsanya. Saat itu, September 1945, diselenggarkan Kongres Pemuda Pelajar seluruh Jawa dan Madura yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan Gabungan Sekolah Menengah. Kongres dimulai dengan mengadakan rapat raksasa di stadion Kridosono. Selain para pelajar yang jumlahnya sekitar 8.000 orang, hadir pula Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Paku Alam VIII dan Ketua Komite Nasional Daerah Yogyakarta. Keputusan yang paling penting dari Kongres ini adalah pembentukan Ikatan Pelajar Indonesia yang disingkat IPI sebagai wadah seluruh pelajar Indonesia. Sebagai Ketua dipilih Anto Sulaiman, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta. Keputusan yang lain diantaranya adalah sebuah mosi yang menyatakan bahwa : 1. Kami adalah pelajar Indonesia 2. Menolak menjadi pelajar lain dari pada Pemerintah Indonesia 3. Menyediakan tenaga, jiwa dan raga untuk kepentingan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia Pada tanggal 1 – 5 Januari 1946, Ikatan Pelajar Indonesia mengadakan Kongres di Madiun. Dalam Kongres itu diadakan perubahan dalam susunan pengurus besar. Ketua dijabat Tatang Mahmud, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) membentuk Bagian Pertahanan yang kemudian lebih dikenal dengan nama Tentara Pelajar. Di Yogyakarta, pembentukan Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan diputuskan dalam suatu rapat yang diselenggarakan di gedung Soboharsono. Sebagai ketua dipilih Hartono Kadri dan Suyitno sedang wakil ketuanya, Martono. Mula-mula gagasan ini dicetuskan dan didukung oleh lima orang pelajar Sekolah Guru Tinggi, ialah Sutomo, Moch. Said, Abdul Gofur, Warsito dan Martono serta Atmono dan Titi Dewi. Pada tanggal 10 Juni 1946 diadakan rapat raksasa di depan Istana Negara (sekarang Gedung Negara) di mana hadir beribu-sibu pelajar.Setelah Presiden Soekarno keluar dari istana, para pelajar menyatakan siap di belakang pemerintah dan siap dikirim di medan laga. Pada rapat itu diumumkan juga, bahwa siapa yang ingin menjadi pasukan Ikatan Pelajar Indonesia supaya mendaftarkan diri ke kantor pusat Ikatan Pelajar Indonesia di Jalan Tugu Kulon no 70 (sekarang Jl. Diponegoro dekat Pasar Kranggan). Selanjutnya, kantor ini juga berfungsi sebagai Markas Pusat Pelajar (MPP) serupa dengan fungsi markas besar tentara. Selain pasukan Ikatan Pelajar Indonesia, di Yogyakarta juga terdapat pasukan dari Organisasi Pelajar Sulawesi. Anggotanya terdiri dari pelajar-pelajar Makasar yang sebelumnya berjuang melawan Belanda. Organisasi Pelajar Sulawesi dibentuk pada Januari 1947 dan terkenal dengan singkatan PERPIS. Ketuanya adalah M. Risa dengan sekretaris Tajudin. Persatuan Pelajar Sulawesi diresmikan berdirinya pada bulan Pebruari 1947 di asrama Blunyah Petinggen. Sebagai organisasi pelajar maka Persatuan Pelajar Sulawesi menjadi Ikatan Pelajar Indonesia. (dikutip dari buku “ Peran Pelajar Dalam Perjuangan dan Pembangunan”, Pusat Sejarah dan Tradisi TNI, 1995) *** 14
    • SEPUCUK SURAT DARI AKHIRAT BUAT REKAN-REKAN ANGKATAN ‘45 Kawan, Kau pasti masih ingat Kami mati dengan perut kosong dan baju compang-camping tapi berendam dalam semangat yang membara Kami belum pernah merasai hasil Kemerdekaan Kamilah remaja yang tidak sempat mereguk nikmat dunia Tapi kami rela melepas nyawa demi cita-cita bangsa Kini… apa kabar kawan, nasib bangsa kita ? Dan masihkah engkau setia Kepada ikrar semula ? Engkau boleh melupakan kami Tapi jangan berpaling dari nasib Rakyat Jelata dan, kami pun pralaya. Bagi mereka jua kita dulu menyabung nyawa dan, kami pun pralaya. Kami tidak tahu apa jadinya kini ! Semoga segalanya berjalan sesuai cita-cita semula sehingga pengorbanan kami tidak sia-sia welatanama 15
    • Keberadaan Markas Darurat di Front Barat Pada Perang Kemerdekaan I - 1947 Jatuhnya Gombong ke tangan tentara pendudukan Belanda dalam suatu gerakan ofensif setelah menduduki Banyumas pada Juni 1947 menyebabkan munculnya garis demarkasi di sepanjang wilayah Timur Kali Kemit dari Karanggayam sampai Puring. Dengan demikian, pusat pemerintahan dan kekuatan pertahanan juga mundur ke wilayah aman di Karanganyar. Wilayah ini kemudian disebut sebagai Front Barat. Menghadapi perkembangan situasi terakhir, terutama mengantisipasi kemungkinan besar terjadinya “serangan penghormatan atas hari ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 1 September”, Markas Pusat Pelajar mengirim sejumlah besar kekuatannya. Terbukti dari kehadiran utusan khusus yang dikirim ke markas TP Purworejo yang dilakukan oleh Moedojo (baca Mudoyo) dan stafnya kepada Imam Pratignyo yang menjabat sebagai Komandan Markas TP di sana. Utusan tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke Kebumen dan memutuskan untuk menempatkan markas komando lapangan yang menurut penuturan Staf Putri, Atiatoen, untuk menghadapi Front Barat yang dinilai sangat strategis dalam mempertahankan wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Markas Darurat Front Barat beroperasi selama kurang lebih dua bulan, sejak awal Juli sampai dengan 5 September 1947. Kantor dikelola oleh Moedojo yang merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum (sekarang Fakultas Hukum Universitas Gadjahmada, Yogyakarta) selaku Kepala dan Tjiptardjo (baca Ciptarjo) sebagai wakilnya. Menurut penuturan Ibu Atiatoen Djadjoeli, mas Moedojo adalah pribadi yang serius dan pendiam. Sementara itu, mas Tjiptardjo yang masih menjadi siswa Sekolah Menengah Teknik (setara STM atau SMK) adalah pribadi yang ramah, ceria dan komunikator handal. Selama bertugas di Markas Darurat, Ibu Atiatoen mengajak rekan-rekan satu sekolah dan asrama di Sekolah Guru Putri (SGP) Jalan Jati Yogyakarta yang berasal dari Kebumen. Yaitu, Umiyatun yang merupakan adik kandung Martono (Komandan Batalyon 300 Tentara Pelajar), Rasini, Umi Wasilah dan Suprapti. Mereka dibantu oleh juru masak keluarga Pendeta Bapak Reksdihardjo yaitu Yu Fathonah dan seorang lelaki pencari kayu serta kebutuhan dapur lain yang tidak diingat namanya oleh Ibu Atiatoen Djadjoeli. Kesadaran kaum terdidik atas nasib bangsa yang kembali dijajah oleh bangsa atau persekutuan sejumlah bangsa telah dibuktikan dengan partisipasi aktif IPI Bagian Pertahanan atau Tentara Pelajar serta sejumlah nama lain di berbagai front besar Perang Kemerdekaan I maupun II. Tanpa landasan kesadaran pentingnya bela bangsa/ Negara (patriotisme) bisa kita bayangkan betapa lebih beratnya nasib bangsa, negara dan masyarakat Indonesia saat ini. Tidak ada kebanggaan dan harga diri selaku manusia merdeka yang jadi fitrah manusia. Hanya dengan kesadaran dan usaha bersungguhsungguh memaknai kemerdekaan itu, keadilan dan kesejahteraan dapat diwujudkan. Tentara Pelajar telah membuktikan dalam kiprahnya selama sekitar 4,5 tahun sejak Juni 1946 sampai dengan akhir Desember 1949. *** 16
    • Mengenang Pertempuran Sidobunder 2 September 1947 Oleh: Djokowoerjo Sastradipraja; Prof. Dr; drh; Pengantar Pertempuran Sidobunder tercatat sebagai salah satu pengalaman kontak senjata dengan Belanda yang meminta korban anggota Tentara Pelajar Yogyakarta. Kisah pertempuran ini dimuat dalam buku “ Peran Pelajar dalam Perang Kemerdekaan ” diterbitkan oleh Pusat Sejarah dan Tradisi TNI (Angkatan Bersenjata R.I), cetakan I 1985. Meski sudah didokumentasikan secara formal terasa bahwa banyak kejadian rinci yang belum terungkap dan karena itu dari para pelaku yang saat ini masih dalam keadaan sehat jiwa raga atas berkat karunia Tuhan Yang Mahaesa diharapkan dapat mengumpulkan memoir tertulis guna melengkapi dokumentasi mengenai partisipasi pelajar dalam perjuangan fisik. (biografi beliau saya kumpulkan di bagian lain – Toto Karyanto). Menempati Posisi Pertahanan di Sidobunder Seksi kami mendapat tugas menggantikan Seksi Soedewo di front. Menjelang akhir bulan Agustus pasukan pindah dari Kebumen naik kereta api ke Karanganyar dan menginap semalam di beberapa rumah sebelah Timur alun-alun Kabupaten yang letaknya tidak jauh dari stasiun. Sore hari saya mandi di kompleks nDalem Kabupaten dan sempat melihat-lihat sekeliling kabupaten serta alun-alun itu. Pada saat di Karangayar itu baru saya ketahui bahwa kedudukan front kami adalah di Selatan yaitu di desa Sugihwaras yang jauhnya sekitar 10km dari kota. Dari anggota TP kompi 320 yang ada di Karanganyar hanyalah komandan kompi dan stafnya saja. Sedangkan Seksi Soedewo ada di Sugihwaras. Pimpinan kompi dan staf menceritakan bahwa Karanganyar pernah diserang oleh Belanda sampai di sebelah Barat alun-alun dan sempat terjadi kontak senjata sebelum musuh mundur kembali ke arah Gombong. Esok harinya, pagi-pagi sekitar pukul 6, seksi kami telah berangkat ke arah Selatan dengan terlebih dulu menyeberangi jalan kereta api di stasiun. Kebanyakan kami tidak membawa senjata karena senapan-senapan telah dibawa Soedewo yang ada di front. Gerakan pasukan tidak mengikuti barisan yang teratur, melainkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri atau bergerombol sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Seperti halnya juga di Kotabaru, Wates atau Kebumen, koleksi nyanyian kami tidak hanya lagu perjuangan, tetapi juga lagu-lagu asing seperti “ My bonny is over the ocean” dll. Malahan di antara nyanyian yang dinyanyikan itu termasuk juga nyanyian Belanda yang sewaktu jaman penjajahan kami pelajari dari buku “Kunt je nog zingen, zing dan mee”. Kedengarannya aneh, tetapi mengingat bahwa cukup banyak di antara kami itu dulu mengecap pendidikan Sekolah Dasar HIS atau ELS, dan di antara kamipun kadang-kadang melakukan percakapan antara sesama dengan bahasa Belanda. Jago penggembira nyanyi adalah Djokonomo. Dalam gerakan itu sama sekali tidak tercermin rasa takut dan semuanya terasa aman-aman saja meskipun kami melihat ke arah Barat dan membayangkan bahwa di sana sudah daerah yang dikuasai Belanda. Rakyat yang kami jumpai nampaknya seperti hidup dalam suasana damai saja. Dan dari mereka diperoleh informasi bahwa tidak ada Belanda saat itu di daerah mereka. Seingat saya tanggal itu adalah 29 Agustus (1947-pen). Seksi Anggoro sampai di kediaman Pak Lurah Sugihwaras sekitar pukul 11 siang. Seksi Soedewo yang akan kami gantikan sebagian sudah siap tetapi sebagian lainnya masih 17
    • belum kembali dari patroli. Sambil berbincang-bincang dan mendengarkan pengalaman anggota Seksi 322 tentang tugas di front ini, kami menikmati pembagian nasi bungkus (dengan daun pisang), santapan siang yang lauknya daging kambing gulai dengan kuahnya. Menu ini ternyata sama setiap siang dan petang. Kami selalu mendapat kiriman bungkusan ini (tentunya dari dapur umum) yang dibawa oleh “tobang” dalam keranjang besar. Kami yang baru datang tentu saja ingin tahu pengalaman serangan Belanda, kapan terjadi dan bagaimana cara melawannya. Kami juga tertarik mendengarkan bahwa pasukan Indonesia cukup banyak yaitu sejumlah kekuatan tangguh BPRI dan satu seksi pasukan India (asal tentara Inggris) yang memihak Indonesia. Di sebelah Utara dan Timur ada pertahanan pasukan AOI (Hizbullah). Ada juga sekelompok kecil pasukan TNI di sebelah Barat. Di daerah itu juga ada seorang Jepang eks tentara Jepang yang memihak Indonesia. Ia dianggap sangat berpengalaman perang dan saya merasa aman karena pertahanan kami cukup kuat. Pak Lurah Sugihwaras sangat tinggi semangat perjuangannya yang sangat kami kagumi dan dia akrab dengan kami para pelajar pejuang. Suatu kali ia memuji pasukan India, tetapi tak lupa juga menceritakan terjadinya insiden “asmara” antara salah satu anggota pasukan itu dengan Marina gadis setempat. Pak Lurah memiliki gamelan dan saya sempat menabuh gambang dan kendang. Ridwan, penembak bren, mengomentari kemahiran saya menabuh gambang. Sementara kami sibuk mencari ambilan oper senapan dari kawan-kawan yang digantikan. Saya memperoleh senapan karaben laras pendek (tanpa sangkur) tetapi tidak kebagian kantong atau sabuk peluru. Pada siang hari, yang berpatroli sudah kembali ke Sugihwaras dan menceritakan bahwa mereka sampai Karangbolong dan melihat beberapa serdadu Belanda tengah mandi di laut. Regu patroli sempat meletuskan beberapa kali tembakan dan mereka mengingatkan juga hahwa saat itu menjelang “koninginnedag” hari lahir Ratu Wilhelmina. Mereka menyarankan untuk mengganggu Belanda pada hari 31 Agustus itu. Pada sore hari, seksi 322 meninggalkan Sugihwaras kembali ke markas di Karanganyar. Hari 30 Agustus pagi, saya bertugas ikut regu patroli sejumlah 5 – 6 orang bersama tentara Jepang tadi. Tujuannya ke Desa Sidobunder untuk memeriksa medan yang akan menjadi posisi daerah pertahanan seksi. Sewaktu berpatroli kami mendiskusikan cara berpatroli model Jepang dan Inggris. Kami kemudian memperagakan cara berpatroli India yaitu regu bergerak dalam satu kelompok, seorang yang berada di barisan terdepan menghadap lurus ke depan, diikuti anggota lain di kiri dan kanan (semacam posisi zig-zagpen). Dan anggota yang berada di posisi paling belakang berjalan mundur menatap lurus arah belakang barisan itu. Patroli hanya sampai bagian Barat Sidobunder. Jadi hanya berjarak sekitar 2 km saja. Suasanya sepi dan kalaupun bertemu orang hanya ada laki-laki yang semunya gundul. Siang hari, kami sudah kembali ke Sugihwaras. Sore dan malam hari kami beristirahat dan berjaga di rumah pak Lurah yang dijadikan markas. Keesokan hari, 31 Agustus pagi, kami diperkuat dengan tambahan satu regu patroli. Tetapi saya tidak ikut berpatroli. Kabarnya mereka berpatroli lebih jauh lagi ke daerah “niemandsland” dan siang sudah kembali ke markas. Pada saat itu, sekitar jam 4 sore, seluruh seksi dipindahkan mengambil posisi pertahanan di Desa Sidobunder. Penempatan juki dikelola oleh teman-teman dari Perpis (Persatuan Pelajar Indonesia – Sulawesi – pen) di bagian Timur sungai dekat pos TNI regular. Brend (Ridwan) mengambil posisi di kanan menghadap arah Barat Daya. Saya dan beberapa teman bersenjatakan karaben dan standgun buatan Demak Ijo mengambil posisi sekitar markas yang letaknya di sisi Utara jalan utama. Tetapi kami sering mondar mandir menyusuri jalan utama dan menyambangi posisi regu yang memegang juki sampai ke batas desa yang menghadap arah Sugihwaras. Bersama Rinanto, saya mendapat giliran jaga malam sekitar pukul 2 – 3 pagi. 18
    • Tanggal 1 September pagi dikirim satu regu yang salah satu anggotanya adalah Poernomo. Teman ini pernah menceritakan pengalaman menolong seorang wanita yang akan melahirkan bayinya. Sejak siang sampai malam, hujan terus turun dan membuat daerah di sekitar pertahanan kami becek serta sawah-sawah terendam air cukup dalam. Kami berjaga di dalam markas dan emperan rumah-rumah penduduk. Berteduh dan menunggu teman-teman kembali dari berpatroli. Ternyata mereka baru kembali sekitar jam 9 malam dan segera menceritakan hasil pantauannya. Mereka bilang kalau pasukan India telah mundur dari posisi pertahanan awal. Juga pasukan BPRI telah meninggalkan posnya di Puring. Sehingga daerah itu sampai Karangbolong menjadi kosong pasukan pertahanan. Ada indikasi bahwa Belanda akan segera bergerak. Informasi bahwa iringiringan pasukan Belanda telah meninggalkan Gombong ke arah Selatan sudah kami terima. Karena itu, situasi ini kami anggap cukup serius. Tetapi kami bersikap menunggu sampai pagi dan baru mengambil tindakan. Di sela suasana serius itu, ada sebagian teman yang bercanda tawa dengan kelakar khas pelajar menjelang usia dewasa. Keadaan semacam ini belum pernah terjadi dalam tugas, karena itu terasa aneh. Dan selalu ada teman yang akan mengingatkan ketika sudah berlebihan dengan ucapan “ awas mati konyol “ yang terbukti sangat mujarab. Pertempuran Sidobunder Tanggal 2 September adalah hari yang ternyata amat menyedihkan bagi seksi kami. Setelah semalam suntuk diguyur hujan dan diisi dengan canda tawa untuk membunuh waktu, pagi-pagi sekali di antara tidur lelap kami, hujan peluru membangunkan dan mulai dirasakan di sebelah Timur. Dalam sekejap, semua anggota pasukan menempati posisi bertahan di tempat masing-masing. Regu kami, termasuk komandan kompi Anggoro, menempati posisi di ladang kecil seberang jalan di depan markas. Kami “stelling” menghadap arah Selatan dan Timur. Saya stelling dengan cara menelungkupkan badan dan menghadap Selatan. Imam Sukotjo ada di sebelah kanan posisi saya. Sebagai komandan, Anggoro bergerak mobil mengatur posisi dan ia mendapat laporan berbagai posisi dari anggota seksi lainnya. Saya bilang kepada Imam Sukotjo bahwa isi karaben senapan saya tinggal 2 butir. Ia memberi saya tambahan 5 butir peluru dengan komentar mengapa tak meminta tambahan dua hari sebelumnya di markas Karanganyar saya ada pembagian logistik. Saya tak tahu ada pembagian itu. Meskipun saat itu saya menyadari kami sudah terkepung, namun saya membayangkan bahwa kami akan mampu bertahan karena adanya senjata bren dan juki. Sambil menanti peristiwa yang akan terjadi, kami sempat berbincang tentang adanya 2 orang yang menanyakan keberadaan markas di pagi sekali karena mereka memerlukan surat jalan. Setelah kami merangkai beragam kejadian dan adanya serangan yang tengah kami hadapi saat ini, akhirnya berujung pada kesimpulan bahwa mereka adalah mata-mata musuh. Sesaat waktu terdengar tembakan brengun dari arah Timur yang semakin gencar dan mendekat. Pasukan Belanda mulai menghujani kami dengan tembakan mortir, tapi mengenai sisi Barat posisi kami. Sementara itu, kebun kecil yang menjadi tempat pertahanan kami luput dari sasaran tembak itu. Tembakan brengun musuh kian mendekat dan mendapat balasan dari pasukan kami. Sesaat kemudian, terdengar tembakan gencar dari arah Barat. Saya yang semula mengira tembakan balasan berasal dari pasukan kami, sesaat kemudian muncul teman-teman dari Perpis dari arah Barat. Mereka memberitahu kalau juki-nya macet, tak dapat dipakai untuk membalas serangan musuh. Kami sadar 19
    • bahwa sebenarnya pertahanan pasukan kami telah terkepung oleh pasukan musuh. Dan suara tembakan balasan itu berasal dari brengun Ridwan. Peluru senjata otomatis itu dirangkai menjadi rantai panjang tidak seperti bahan kain untuk mitrallieur watermantel. Tapi dibentuk serupa vlinder (kupu-kupu). Saya perkiraan saat itu sekitar jam 7 pagi. Komandan Anggoro memerintahkan kami bergerak untuk meloloskan diri dari kepungan pasukan musuh. Senapan Juki yang macet dilepas dari alat penggotongnya dan larasnya dipisahkan untuk diselamatkan. Dalam mencari jalan keluar dari kepungan musuh, ternyata pasukan kami terpecah menjadi dua rombongan. Sebagian bergerak ke arah Barat Daya dan sisanya ke Selatan. Saya mengikuti pasukan yang ke arah Selatan. Sebenarnya saya merasa janggal mengikuti pasukan yang ke Selatan karena diperkirakan posisi serangan pasukan Belanda dari arah Selatan dan Timur. Selain itu, saya tak mengenal medan itu karena tak pernah berpatroli ke arah itu. Karena sudah terlanjur mengikuti teman-teman, kami akan lihat dan rasakan perkembangan situasinya. Kami bergerak di persawahan yang becek setelah diguyur hujan semalaman. Berjalan satu per satu di pematang sawah yang sempit itu. Seingat saya, posisi saya ada di urutan terbelakang dengan bertelanjang kaki. Sementara itu, sepatu lars pembagian justru saya gantungkan di leher. Di pundak ada tas berisi pakaian ganti. Di depan saya adalah Soepadi atau Abunandir, saya lupa hal itu. Mereka berdua adalah sahabat karib. Sesekali masih terdengar suara tembakan pasukan Belanda dari Selatan dan serpihan pelurunya jatuh di depan kami seperti suara batu-batu kecil yang berjatuhan. Saat itu saya jadi ingat pelajaran mekanika tentang arah lintasan peluru. Dan desing peluru pasukan Belanda seperti praktikum pelajaran mekanika itu. Tiba-tiba terdengar tembakan musuh dari depan dan jarak yang sangat dekat. Kami segera berpencar, bergerak maju menyeberang sungai lewat jembatan bambu dan masuk ke sawah. Saya melakukan hal sama dan ternyata telah berada di pinggir Selatan sungai itu. Sejenak saya merasa tak tahu harus berbuat apa karena serdadu Belanda telah nampak di batas sawah (Selatan) dalam jarak kurang sari 100m. Entah dari mana datangnya, Linus Djentamat dari Perpis telah berdiri membawa senapan juki kami yang macet. Segera saja saya mendekat dan ia meminta saya untuk bantu menyeberangkan juki ke sisi Utara sungai itu. Linus lebih tua beberapa tahun dari umur saya. Secara naluriah, saya memang harus bersamanya menyelamatkan senjata itu. Peristiwa ini sangat menentukan hidup saya saat itu dan selanjutnya. Karena, dalam latihan kemiliteran yang pernah saya lakukan, selalu ditanamkan bahwa senjata itu sama nilainya dengan nyawa kita. Adalah kesalahan besar jika senjata kita sampai jatuh ke tangan musuh. Jadi, juki ini harus diselamatkan dan menjadi tugas yang sangat penting. Saya masuk ke sungai yang airnya sebatas dada dan menerima juki dari Linus yang kemudian saya angkat dengan kedua tangan untuk diseberangkan. Linus menyusul segara dan membawakan karaben saya. Sesampai di sisi Utara, kami bertukar senjata dan menyadari bahwa kami terpisah dari rombongan pasukan. Tak lagi sempat berpikir lebih jauh karena suara tembakan dari arah sawah terdengar semakin gencar. Linus bercerita pengalamannya 3 kali dikepung musuh. Berdasar pengalaman yang ia rasakan, pasukan Belanda tidak akan menduduki daerah yang diserang. Melainkan hanya sambil lalu, melakukan pembersihan dalam menuju pos pertahanan mereka. Ia usul agar kami bersembunyi untuk menyelamatkan juki itu. Semula saya ragu dan ingin menolak usulan Linus. Kenapa tak bertempur sampai titik darah penghabisan saja? Agak masuk ke dalam desa, sekitar 15 m dari sungai terdapat sebuah rumah bambu menghadap ke Selatan dengan pintu sleregan (sliding door ). Di depan rumah itu ada sebuah gubug kecil dari bilik bambu dan ternyata adalah ruangan tunggal berukuran 3 x 3m dengan pintu sleregan juga yang menghadap ke rumah tadi. Linus mengajak saya 20
    • memasuki gubug kecil itu. Kami mendapati bale-bale bambu sederhana di pojok Tenggara ruangan itu. Linus bilang agar kami bersembunyi di bawah kolong bale-bale. Ia masuk duluan, bertelungkup merapat ke dinding dengan juki-nya. Kepalanya menghadap ke Timur. Saya menyusul dan berbaring di sebelahnya dalam posisi berlawanan arah. Senjata karaben saya dalam posisi siap tembak ke arah pintu. Tak lama berselang, desa itu dihujani peluru mortir yang semula terdengar jatuh di sisi Selatan sungai. Dan dentuman granat serta mortir berjauhan di sisi Timur, Barat dan Utara gubug. Serpihannya terdengar jatuh sangat dekat dengan posisi kami. Setelah hujan tembakan mortir mereda, terdengar suara rentetan bunyi tembakan brendgun yang kian mendekat. Sering terdengar suara pohon bambu bertumbangan dihajar oleh rentetan tembakan peluru brendgun itu. Sesaat kemudian terdengar suara dalam Bahasa Belanda agar kami menyerah. “ Opgeven jongens!” beberapa kali. Pasukan Belanda nampaknya memang telah menguasai desa itu. Tapi tak ada suara mengaduh atau erang kesakitan dari teman-teman sepasukan. Kesimpulan saya, kami berdua terpisah dari pasukan. Sesaat kemudian, terdengar pasukan Belanda mendekat gubug kami di arah Selatan, Timur dan Barat dinding. Ada yang hanya berjarak setengah meter, tapi tak ada yang melintas di antara rumah dan gubug. Dari percakapan mereka, ternyata tidak semua pasukan Belanda adalah orang Belanda atau Barat. Tapi ada juga yang memakai dialek lokal atau bukan Belanda. Selang beberapa saat, terdengar pasukan Belanda menjauh dari posisi kami ke Utara dan Timur. Hal itu terdengar dari bunyi tembakan yang mereka muntahkan. Lalu suasana menjadi sangat hening. Suara kokok ayam jago menjadi suara terindah pertama yang kami dengar. Sehingga cukup lama berselang, kami tetap bertahan dalam posisi berdiam diri dan siaga. Menjelang tengah hari, Linus mengajak saya beranjak dari tempat persembunyian. Linus menyuruh saya memeriksa keadaan di luar. Dengan menguatkan hati, saya memberanikan diri menuju rumah di depan gubug dan memeriksanya secara saksama. Ternyata rumah itu kosong dan saya segera kembali ke gubug melapor semua hal yang saya ketahui. Lalu, Linus gantian ke luar dan saya masuk kembali ke gubug untuk menjaga juki itu. Kepergian Linus cukup lama dan membuat saya menjadi was-was. Sesaat berikutnya terdengar suara orang desa itu disusul oleh suara Linus. Ia berbicara dalam Bahasa Jawa kromo. Sementara Linus memakai bahasa ngoko. Segera saja saya keluar dan bergabung dengan mereka. Penduduk desa itu adalah lelaki dewasa berkepala pelontos. Di saat itu, barulah saya tahu bahwa posisi persembunyian kami ada di Desa Bumirejo. Dari desa ini ada jalan yang mudah dilalui melalui Desa Sugihwaras ke arah Puring. Oleh penduduk desa itu kami diajak melihat para korban pertempuran. Senapan juki kami tinggal di gubug. Kami dibawa ke tepi sungai. Teman pertama yang kami jumpai adalah Hary Suryoharyono, komandan regu saya yang terbaring di sisi Utara sungai. Tubuhnya utuh dan sangat tampan-atletis seperti orang tengah tidur saja. Luka di kepalanya menembus telinga kiri. Kepada penduduk, saya katakan bahwa yang gugur itu adalah calon pemimpin bangsa. Oleh karena itu, saya minta agar mereka membawa jenasah Hary ke Karanganyar sebagai markas komando terdekat. Tak jauh dari tempat Hary, kami menemukan jenasah Willy Hutaoeroek dari Perpis dalam posisi tertelungkup. Linus yang Katholik membawa tasbih rosario berjongkok dan berdoa sejenak. Informasi terakhir yang saya tahu, jenasah Hary dibawa ke Kebumen. Sementara itu, jenasah Willy Hotaoeroek dimakamkan di desa Bumirejo. Kemudian kami dibawa ke sebuah lumbung padi yang agak jauh dari sungai. Di sana ada Alex Rumamby dari Perpis yang terluka di bagian perutnya. Linus naik ke lumbung memberi penghiburan dan semangat agar Alex bertahan dan akan segera mengurus proses evakuasi serta pengobatannya. Kami juga meminta kepada penduduk 21
    • desa itu untuk membawanya ke Karanganyar. Selain itu, penduduk juga menemukan seorang rekan yang dalam posisi telungkup di sawah. Mereka membangunkan dengan mengatakan bahwa Belanda telah pergi serta memberi sarung untuk ganti pakaian yang dikenakannya. Teman kami disembunyikan karena wajahnya sembab diinjak-injak oleh serdadu Belanda yang menyangkanya telah tewas. Semula saya tak tahu siapa teman kami itu. Baru keesokan harinya saya mengenalnya. Ia sahabat karib dan teman sebangku, Imam Sukotjo. Setelah tak ada hal penting lagi yang perlu diurus dan waktu sudah sekitar jam 2 siang, kami memutuskan untuk menuju Karanganyar bergabung dengan induk pasukan. Untuk itu ada beberapa masalah yang perlu kami pecahkan. Kami tak memiliki informasi apapun tentang keberadaan pasukan Belanda di daerah pertempuran di sepanjang jalan yang akan kami lewati sehingga kami dapat menjaga jembatan atau check point tertentu. Berikutnya adalah masalah baju hijau yang kami pakai serta potongan rambut yang tidak plontos seperti kebanyakan penduduk setempat tentu akan memudahkan serdadu Belanda mengenali kami sebagai pejuang/ Tentara Pelajar. Kedua masalah ini cukup mudah diatasi. Baju masuk tas dan rambut dicukur plontos. Tapi ada hal lain yang merisaukan yaitu keberadaan laskar AOI yang kami tahu sering meminta senjata pasukan yang tengah mundur dari medan pertempuran yang ada di lini kedua. Senjata adalah nyawa cadangan, menyerahkan senjata berarti sama dengan menyerahkan nyawa. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan juki dan mempercayakannya kepada penduduk setempat. Dengan janji kami akan kembali secepat mungkin mengambil senjata itu. Atas keputusan itu, kami segera meninggalan Desa Bumirejo menuju markas induk di Karanganyar lewat Desa Sugihwaras melalui jalur sungai melawan arus ke Timur dengan cara berjalan jongkok. Mendekati jembatan, kami mempelajari situasi untuk memastikan ada tidaknya pasukan Belanda. Ternyata kosong dan kami bersiap diri melewati daerah yang dikuasai AOI sekitar 300m di depan kami. Benar saja dugaan kami, ada sekitar 300 anggota laskar AOI yang telah mengetahui keberadaan kami. Senjata mereka berupa senapan dan panah yang anak panahnya berdetonator. Sesampai di tempat mereka berjaga, kami segera naik (di sisi Utara) dan lagi-lagi semua gerakan kami sang pemimpin adalah Linus. Ia lalu menjelaskan peristiwa yang kami alami dalam bahasa Jawa ngoko. Saya sesekali menambahkan penjelasan dalam Bahasa Jawa madya. Seperti telah kami duga, pertanyaan mereka adalah tentang senjata kami. Kami jelaskan bahwa semua senjata dibuang di medan pertempuran karena macet atau habis peluru. Entah diterima atau tidak penjelasan itu, kami akhirnya dibawa ke markas mereka di sebuah masjid yang berjarak sekitar 100m dari posisi saat ini. Di sana kami disuruh beristirahat dan diberi nasi bungkus. Kebanyakan tidak kami makan karena tiada lagi nafsu makan. Waktu itu sudah memasuki waktu shalat Ashar. Kami ingin sesegera mungkin menuju Karanganyar ke markas induk. Kebetulan di situ ada kurir yang bergerak menunggang kuda. Kurir itu rupanya habis menyelesaikan tugasnya dan akan kembali bertugas ke Utara. Tak lama berselang, kami diijinkan meneruskan perjalanan dengan bertelanjang dada, tanpa alas kaki dan hanya bercelana pendek. Rasanya kami telah berjalan cukup jauh tanpa was-was bertemu pasukan Belanda karena sudah mencapai daerah aman. Sekitar jam 5 sore di kejauhan kami melihat sekelompok orang berkerumun seakan menantikan kedatangan kami. Benar saja, setelah mendekat ternyata mereka adalah teman-teman kami yang mundur melalui sisi Utara dan Timur. Bukan main rasa sukacita kami bertemu dalam keadaan selamat. Kami saling merangkul dan mengucap syukur. Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalan di kegelapan malam. Sekitar jam 8 malam, kami tiba di markas yang letaknya di sebelah Timur alun-alun Karanganyar. 22
    • Sebagian diantara kami langsung mencari tempat untuk beristirahat. Sebagian lainnya jalan jalan di sekitar markas dan minum kopi serta makan makanan kecil. Tak diduga, di warung itu saya bertemu Komanda Kompi Saroso Hoerip dan beberapa stafnya. Kami saling menyapa dan diminta bercerita tentang pertistiwa yang kami alami. Saya juga melaporkan keberadaan juki yang ditinggal dan dipercayakan kepada penduduk Desa Bumirejo. Secara ringkas kami melaporkan semua kejadian. Atas hal itu, komandan memberi pujian. Di akhir percakapan kami, komandan kompi memerintahkan kami untuk menyertai regu yang akan dikirim untuk mengambil jenasah dan khusus bagi perintah memandu pengambilan juki. Perintah itu saya terima dengan ihlas. Saya sadar bahwa upaya penyelamatan senjata juki adalah kebanggaan kompi kami dan merupakan sebuah tugas penting. Mengambil Jenasah dan Menyelamatan (Senapan) Juki Keesokan hari, tanggal 3 September 1947, sekitar puku 5.30 pagi diberangkatkan satu regu dari markas induk Karanganyar untuk mengambil jenasah dan senapan juki yang kami tinggalkan di Bumirejo sehari sebelumnya. Regu ini terdiri dari 10 orang, sebagian besar adalah teman-teman yang kami gantikan tugasnya di Desa Sugihwaras. Satu diantaranya adalah Wiratno. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Alex Rumambi yang diangkut dengan usungan bambu oleh beberapa penduduk Desa Bumirejo. Kami sempat diberitahu bahwa semua jenasah yang ada di sana telah dibawa ke Kebumen. Setelah beristirahat sejenak di Desa Sugihwaras, regu ini dibagi dua. Oleh kepala regu saya diperintahkan ke Selatan menuju Desa Bumirejo bersama 4 orang teman. Tugas utama adalah menyelamatkan juki dan senjata-senjata lainnya. Kelompok lain menuju Desa Sidobunder untuk menolong korban pertempuran dan mengambil jenasah rekan-rekan yang gugur di sana. Sekitar jam 11 kami berangkat ke Bumirejo yang ternyata hanya berjarak 3 km dari Sugihwaras. Sampai di tujuan, suasana desa cukup sepi. Ada beberapa penduduk yang dapat kami tanyai tentang keberadaan juki yang kami titipkan kepada mereka. Mereka menjawab, bahwa semua senjata disimpan dengan baik. Juga teman kami yang wajahnya diinjak serdadu Belanda ( Imam Sukotjo-pen) telah dipindahkan ke garis belakang. Saya menyampaikan terima kasih kepada mereka yang telah dengan tulus memenuhi permintaan kami sehari sebelumnya. Pada kesempatan itu, kami juga diajak melihat beberapa korban meninggal dan luka dari penduduk Desa Bumirejo. Seorang korban luka adalah gadis kecil yang mengalami luka lebar di bagian paha dan selalu mengerang kesakitan. Kebetulan, seorang anggota regu kami membawa obat. Ia segera memberi pertolongan dan membalut luka sang gadis kecil. Tak lupa ia menyarankan agar gadis ini segera dibawa ke RS Karanganyar untuk mendapatkan perawatan selanjutnya. Setelah menerima kembali juki dan karaben yang saya titipkan kepada penduduk serta menerima penyerahan sekitar 200 butir peluru Lee Enfield yang ditinggalkan serdadu Belanda di sebuah rumpun bambu serta memastikan bahwa semua korban dari TP telah ditangani dengan baik, kami pamit dan segera kembali ke Sugihwaras dengan perasaan lega karena tugas dapat dilaksanakan dengan baik. Kami tiba di Sugihwaras sekitar pukul 2 siang dan menunggu kedatangan rombongan yang ditugaskan ke Sidobunder. Hampir dua jam kemudian terdengar suara mereka bersama pak Lurah dan penduduk desa. Ternyata mereka membawa jenasah teman-teman kami yang diangkut dengan perahu-perahu kecil berisi 3 – 4 jenasah setiap perahu. Saya mengenali jenasah anggota TP. Ada juga 2 jenasah anggota TNI reguler. Rekan 23
    • kami, Ridwan, terkena 3 tembakan di leher yang menembus ke rongga dada. Hapto yang baru berumur 14 tahun dan sering bersama saya berjaga di markas Wates terluka bacokan di wajah sekitar daerah hidung. Saya sangat mengenali jenasah Pramono, Djokopramono, Soegiyono, Poernomo dan kalau tidak salah ada juga jenasah Achmadi. Hanya itu yang dapat ditemukan (yang dibawa ke Kebumen dari Bumirejo hanya jenasah Soerjoharyono, sehingga jenasah Willy Hutaoeroek tetap dimakamkan di Bumirejo. Di kemudian hari juga diketahui bahwa Herman Fernandez ditangkap dan dihukum mati oleh Belanda. Mungkin ada teman lain yang tertangkap, nyatanya sampai kini tak ada yang kembali). Pak Lurah memerintahkan warganya agar segera membuat usungan dari bambu yang banyak tumbuh di desa itu. Setiap usungan hanya diisi dengan satu jenasah, ditutup daun pisang dan diikat dengan tali bambu. Setelah semua siap, semua jenasah segera dibawa ke Karanganyar. Kesediaan penduduk desa membantu kami mengurus dan mengusung jenasan teman-teman yang gugur secara ihlas sangat kami rasakan. Meski, karena faktor usia, saya belum mampu menangkap makna dari peristiwa itu, tapi saya dapat merasakan kebanggaan atas bantuan penduduk desa yang tanpa pamrih itu. Perjalanan dari Sugihwaras ke Karanganyar dimulai sekitar jam 5 sore dan dalam menembus kegelapan malam kami menggunakan obor yang disediakan oleh penduduk setempat. Karena jarak cukup jauh, perjalanan jenasah itu dilakukan secara estafet oleh penduduk desa-desa di sepanjang jalan yang kami lewati. Dua jenasah TNI reguler dibawa ke markas induknya, bukan ke Karanganyar. Sekitar jam 8 malam lewat, rombongan pembawa jenasah akhirnya sampai di Karanganyar dan langsung dibawa ke rumah sakit. Diterangi beberapa batang lilin, jenasah-jenasah itu disemayamkan di salah satu bangsal rumah sakit. Di situ telah menunggu beberapa teman yang selamat dalam pertempuran, seorang di antaranya adalah Rinanto sahabat karib saya. Saya mendapat perintah untuk ikut mengiringi jenasah yang akan dibawa ke Yogyakarta dengan kereta api. Setelah makan nasi bungkus di kompleks rumah sakit, mandi ala kadarnya dan mengambil tas pakaian di asrama markas induk, saya segera kembali ke rumah sakit. Semua jenasah kemudian dibawa ke stasiun dan ditempatkan di gerbong khusus. Sekitar jam 10 malam kami berangkat ke Yogyakarta dalam temaram cahaya lilin. Kereta berhenti di stasiun Kebumen untuk mengangkut anggota seksi Anggoro yang akan diistirahatkan di sana. Dan jenasah Soejoharyono yang sudah menunggu di situ bersama rombongan akhirnya disatukan dengan jenasah lain dalam gerbong khusus. Kereta berhenti agak lama dan saya menyempatkan diri menengok asrama kami di gereja protestan (GKJ-pen) itu. Kereta api diberangkatkan dari Kebumen antara jam 11 – 12 malam. Malam yang sepi dan hening membuat banyak rekan kami tertidur. Saya tak dapat tidur, dan sesekali menuju gerbong jenasah yang tanpa rasa takut karena mereka adalah rekan-rekan seperjuangan yang ditakdirkan gugur mendului kami. Sekitar jam 4 pagi kereta sampai di stasiun Tugu. Sementara menunggu jemputan yang akan membawa kami ke Jetis (asrama SGA), datang perintah kepada saya agar mengiringi jenasah ke RS Bethesda untuk membantu dan mengenali para jenasah. Memang benar bahwa patugas penerima jenasah belum tentu mengenali para korban pertempuran Sidobunder dan sayalah yang dianggap lebih tahu ciri-ciri mereka. Tugas di RS Bethesda dapat saya laksanakan dengan baik di antaranya membantu kakak Djoko Pramono mengenali jenasah adiknya. Beliau menangis setelah membuka daun pisang yang menutupi tubuh jenasah adiknya. Jam 6 pagi saya ikut kendaraan menuju asrama SGA di Jetis untuk bergabung dengan rekan-rekan. Sekitar jam 9 pagi ada pengumuman yang membolehkan kami pulang ke rumah masing-masing dan diberi cuti selama 2 minggu. Bersama Sarbidu yang terhitung sebagai paman Soehapto yang gugur dan dua teman lain, kami naik delman ke Pakualaman tempat kami tinggal. Sampai di 24
    • rumah sekitar jam 10. Berita kedatangan saya yang dikabarkan selamat ternyata sudah beredar di sana. Puji syukur dan perasaan sukacita memenuhi anggota keluarga saya. Kepada ibu, perasaan haru saya tumpahkandan saya dirangkul beliau sambil menangis. Saya membayangkan betapa akan sedihnya ibu bila saya termasuk yang gugur mengingat betapa beratnya beliau melepaskan saya waktu pamit ke front. Tanggal 4 September 1947 sore dikitar jam 3 dilakukan pemakaman jenasah yang diberangkatkan dari Gedung BPKKP menuju tempat peristirahatan terakhir di Makam Taman Bahagia Semaki Yogyakarta dengan perhatian penuh warga masyarakat Ibukota Yogyakarta, khususnya para pelajar. Puluhan karangan bunga sebagai tanda bela sungkawa masyarakat menyertai iringan jenasah yang diangkut dengan beberapa truk terbuka dan dijaga rekan-rekan seperjuangannya. Sengan tembakan salvo, teman-teman yang gugur dimakamkan di Taman Pahlawan Semaki. Jenasah SoerjoHaryono, atas permintaan keluarganya, dimakamkan di Kuncen. Dalam buku “Peranan Pelajar dalam Perang Kemerdekaan” yang disinggung di awal tulisan ini disebutkan 24 anggota TP gugur pada pertempuran Sidobunder, tetapi hanya 20 nama yang tertulis dalam buku itu. Yaitu:           Abunandir Herman Fernandez Poernomo Soepadi Achmadi Kodara Sam Pramono Soerjoharyono Ben Rumayar Koenarso           Ridwan Tadjoedin Djoko Pramono La Indi Soegiyono Willy Hutaoeroek Harun Losung F Soehapto Rinanggar Adapun yang selamat, seingat saya 12 orang yaitu:  Sarbidu  Santoso  Djokonomo  Kusdradjat  Rinanto  Anggoro  Imam Soekotjo  Maulwi Saelan  Sujitno  Alex Rumambi  Linus Djentamat  Djokowoerjo Penutup Di antara kawan-kawan untuk waktu lama saya mendapat julukan si penyelamat juki. Julukan itu rasanya terlalu berlebihan. Saya meyadari bahwa memang ada peranan saya, tapi sebenarnya sebatas pelengkap (instrumental) saja. Bukankah ide penyelamatan itu berawal dari Linus yang dapat menangkap situasi dan melihat jauh ke depan. Bahwasanya kemudian saya yang mendapat tugas untuk mengambilnya dari bekas lokasi pertempuran tidak lebih hanya karena sayalah yang dianggap mengetahui di mana senjata itu berada. Juki itu kemudian diperbaiki di Yogya dan kabarnya dapat berfungsi lagi. 25
    • Dari pengalaman ini ada 2 hal yang membekas di hati sanubari saya yaitu semangat perjuangan kawan-kawan yang sanggup mati untuk membela tanah air dan partisipasi aktif rakyat secara spontan tanpa pamrih dalam perjuangan membela kemerdekaan. Dalam perjalanan hidup saya kemudian, kesan ini senantiasa saya ingat dalam meniti karir hidup saya. Saya mengemban cita-cita kawan-kawan yang gugur, citacita generasi muda terpelajar yang setinggi langit memimpikan kejayaan tanah air. Semangat kawan-kawan coba saya bawa meniti karir saya. Mereka saya kenang dalam doa harian saya melambungkan puji syukur kepada Allah Yang Maharahim. Darma bakti kami kepada nusa dan bangsa. Semoga ini memenuhi cita-cita kawan-kawan yang yelah mendahuli menghadap Yang Maha Kudus di surga. Bogor, Agustus – September 1995 Biografi ringkas penulis:  Prof.Dr.drh. Djokowoerjo Sastradipraja adalah pelajar SMA Kotabaru (padmanaba) yang pernah mengenyam latihan dasar kemiliteran di MA Kotabaru saat bergabung dalam pasukan pelajar pejuang kemerdekaan dari Yogyakarta. Front Barat di sekitar Gombong bagian Selatan adalah penugasan pertama di luar Yogyakarta dan sekitarnya bersama sejumlah besar pasukan pelajar yang dikerahkan dari Markas Pusat di Tugu Kulon pada akhir Agustus sampai awal September 1947. Mengaku ikut singgah dan bermalam di asrama markas darurat pelajar pejuang kemerdekaan di kompleks GKJ Kebumen sebelum diberangkatkan ke medan laga.  Dosen, guru besar serta mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.  Anggota AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia). 26
    • Pengalaman Pertempuran di Sidobunder 2 September 1947 Oleh : Imam Soekotjo; Marsekal Madya (Purn) Menjelang Subuh, saya dan Djokonomo terbangun karena mendengar rentetan tembakan. Djokonomo berkata, “ wah, aku ngimpi jungkatan, rambutku mbrodholi …rontok kabeh “ (wah…aku bermimpi sedang bersisir, tapi rambuku rontok semua – pen). Tak lama kemudian datang Soejitno yang memberi tahu bahwa Regu I diperintahkan untuk menggabungkan diri dengan induk pasukan. Dalam upaya mengumpulkan semua teman yang saat itu berjaga di pos-pos terpencar, saya berpisah dari Djokonomo. Sehingga Regu I terpecah menjadi dua kelompok kecil. Satu kelompok dipimpin Djokonomo, kelompok kecil lain terdiri dari lima orang yaitu saya, Pramono dan tiga rekan lain. Jarak antara satu dan lain kelompok sekitar 30m. Meninggalkan Dukuh Gringgul ke pusat Desa Sidobunder yang berjarak sekitar 100m. Ketika kelompok dua mendekati Desa Sidobunder, datang seorang anggota TP (berbaju putih, berkalung sarung dan membawa karaben. Di punggungnya terdapat luka kecil karena terserempet peluru. Ia bilang kalau Belanda sudah menduduki markas kita. Atas kesepakatan dengan kelompok dua, rombongan kami berbelok ke Selatan menerobos sawah melalui tanggul yang terendam air semata kaki). Tujuan kelompok dua adalah menghindari Desa Sidobunder ke desa lain di sebelah Timur. Saat berada di titik A (lihat gambar), saya dan Pramono terpeleset dari jembatan bambu dan masuk kali berair setinggi dada. Jembatan bambu itu ternyata ikut roboh. Teman lain yang berada di belakang kami kemudian segera masuk parit. Hujan yang turun selama beberapa hari terakhir telah merendam persawahan di Desa Sidobunder. Kelompok dua meneruskan perjalanan ke titik B yang berada di desa sebelah Utara Sidobunder karena berdasarkan perkiraan kami desa di Timur jaraknya lebih jauh. Di desa Utara itu tidak terdengar ada tembakan. Sejak datang, kami memang belum melakukan pemeriksaan medan. Perjalanan ke desa di Utara dilanjutkan dan menuju titik C, kemudian menuju ke desa sebelah Timur untuk mencari dan menggabungkan diri dengan induk pasukan. Ternyata, di titik C ini, kami bertemu dengan kelompok lain yang dipimpin Suryoharyono, Djokowoerjo Kiratijo dan Rinanto. Kami tidak tahu bahwa titik C masih berada di Desa Sidobunder sebelah Tenggara. Kami lalu bersepakat menuju desa sebelah melalui pematang sawah untuk menghindari pasukan Belanda. Baru beberapa langkah meninggalkan pinggir desa, pasukan kami disambut rentetan tembakan senjata otomatis dari desa di sebelah Timur Sidobunder. Teman-teman lari pontang panting, masuk ke desa lagi dan tak lama berselang pasukan Belanda bergerak dengan cara berbanjar menuju posisi kami (titik D) di bawah lindungan tembakan brengun. Kami bersiaga di belakang pepohonan atau semak belukar dan segera melepaskan tembakan kea rah pasukan Belanda itu. Korban di pihak Belanda mulai berjatuhan dan gerak maju mereka terhenti. Beberapa saat berikutnya, serangan pasukan kami mulai mengendur karena beberapa teman telah kehabisan peluru. Tapi ada juga yang senjatanya 27
    • macet. Melihat kondisi itu, pasukan Belanda bergerak lagi dan menghujani tembakan dengan senjata otomatisnya. Jumlah peluru yang saya bawa di kantong (howderbak) dari Kebumen hanya 20 butir. Di dalam kontak tembak (voorcontact) ini , saya telah menghabiskan 10 butir dan ada yang mengena sasaran. Setelah peluru habis, di antara kami ada yang menyela, “ ayo lari ke desa sebelah.. di Selatan”. Lalu Suryoharyono berteriak’ “ Jangan bertahan di sini dan terus bertempur. Larilah selagi ada waktu ..”. Saya melepas lima tembakan lagi, juga Pramono. Gerak pasukan Belanda terhenti lagi. Kami mundur dan terpecah menjadi tiga kelompok. Yaitu kelompok Suryoharyono, Djokowoerjo dan Rinanto serta beberapa teman. Terakhir adalah kelompok saya, Gunarso, Pramono dan seorang teman. Ketika kami melewati parit di desa sebelah Selatan (titik E), saya masih sempat melihat Haryono dan beberapa teman sedang mencari tempat persembunyian. Saya dan Pramono lari secepat kilat dan beberapa kali jatuh bangun karena sawah licin dan tanggul yang dilewati tergenang air. Di titik F, kami melihat pasukan yang bergerak secara berbanjar telah lewat pinggiran desa menuju ke arah Timur. Kegembiraan muncul karena kami mengira pasukan itu adalah pasukan Republik Indonesia. Begitu melihat mereka berhenti dan menyiapkan serangan, kami tersadarkan bahwa pasukan itu adalah tentara Belanda. Satu diantara kami berteriak “ Belanda…. !” Tak lama berselang, desing peluru membahana di sekeliling kami. Spontan kami tiarap dengan kepala menghadap ke Utara (arah Desa Sidobunder). Rupanya ada tiga anggota kelompok pasukan Suryoharyono yang memisahkan diri dan mencoba bergabung dengan kami. Ternyata, belum sampai tujuan, ketiganya kena tembak dan gugur satu demi satu. Tembakan senjata otomatis terus menuju arah posisi kami. Dengan sisa peluru, kami bergantian membalas tembakan satu-satu dan berhasil membungkam dua bendgun. Setiap habis melepas satu tembakan, saya dan teman-teman berguling dan merayap secara bergantian agar dapat segera masuk parit. Saat mendekati Pramono, saya mendengar ia mengaduh. Itulah kata terakhir sebelum ia gugur. Saya terus merayap, bergerak mundur menjauhi jenasah Pramono sambil membuang senjata yang tak berpeluru lagi. Menggantinya dengan golok yang senantiasa terhunus sambil menunggu dan berpasrah diri kepada Yang Kuasa. Dalam posisi terlentang, saya melepas semua baju, celana dan sepatu. Hanya menyisakan celana dalam yang melekat di tubuh. Pasukan Belanda terus menghujani posisi kami dengan tembakan senjata otomatis meski tak terdengar ada tembakan balasan. Ketika tembakan berhenti, dari arah belakang, terdengar suara orang berbicara dalam bahasa Madura dan Belanda. Tiba-tiba ada yang berteriak “ angkat tangan (overgeven) !”, tapi saya tetap bertahan dalam posisi tiarap tak bergerak. Pura-pura mati. Dari sudut mata kanan yang tak terendam air, saya melihat dua pasang sepatu boot mendekat dan bayonet menyentuh kepala. Saya merasakan kedua bahu ini diangkat dan terdengar suara : 28
    • “ Hy is al dood…” sebanyak dua kali dan menghempaskan tubuhku. Meski sakit, saya tetap tak bersuara. Setelah itu, kepala saya ditendang sebanyak empat kali. Saya bersyukur tidak mengenai mata kanan dan tetap menjaga tak bersuara. Mereka lalu bergerak beberapa langkah, kemudian berhenti dengan tiba-tiba. Mungkin untuk meyakinkan diri bahwa saya telah (dianggap) benar-benar mati. Matahari terus meninggi dan semakin terik. Tapi saya tetap tak bergerak atau bersuara sedikitpun. Sekitar mendekati waktu shalat Ashar, datang beberapa orang dengan dialek setempat. “Kang… wis pada mati kabeh (mas…semua telah mati-pen)!”. Mereka terus bercakap-cakap, saya menyimak barangkali ada bahasa lain selain dialek lokal atau bahasa Belanda. Ternyata tidak ada dan saya merasa aman, kemudian menegakkan kepala sambil berkata: “ Pak…Londo-ne wonten pundi (pak..pasukan Belanda ada di mana? “, saya bertanya kepada mereka. Orang yang terdekat dengan posisi saya menjukkan kekagetan. “ lho… isih ana sing urip denekan (lho… ternyata masih ada yang hidup)!’, kata mereka. “ Iyo … Londo-ne wonten pundi ?”, kata saya mengulang pertanyaan tadi. “ Teng Ler (di sebelah Utara)”, jawab mereka. “Sing nang Kidul kono… (yang ada di Selatan..bagaimana) ?”, tanyaku. “Sampun Ngaler sedaya … (sudah ke Utara semua) “. Setelah dibantu berdiri, saya minta diantar menuju pasukan kami. Dua orang diantara mereka mengantar saya menuju desa di sebelah Selatan dan melewati jalan yang dipakai pasukan Belanda untuk menyiapkan serangan semalam. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri melihat jenasah Gunarso. Beberapa orang penduduk masih merawat jenasah teman-teman yang gugur. Kedua orang yang menolong saya, sampai saat ini tak pernah tahu di mana mereka tinggal. Sketsa Pergerakan Pasukan Tentara Pelajar (Imam Soekotjo) 29
    • KENANGAN MENJADI STAF PUTRI MARKAS PUSAT PELAJAR Oleh : Atiatoen Wirjosoemarto Penugasan Pertama Tahun lalu, ketika saya menerima tugas pertama setelah mengikuti latihan dasar kemiliteran di Militer Akademi Kotabaru bersama beberapa teman asrama dan sekolah (SGP) Jalan Jati Yogyakarta, saya dan mbak Kushartini dikirim ke Mojoagung Mojokerto Jawa Timur untuk mengirim sejumlah bahan makanan kering (dendeng) dan obat-obatan bersama sepasukan anggota Ikatan Pelajar Indonesia bagian Pertahanan yang dipimpin oleh Purbatin. Kami berangkat menggunakan kereta api pagi yang menarik dua gerbong. Sampai di Solo, perjalanan aman. Menjelang masuk hutan jati Mantingan, Purbatin memerintahkan masinis menghentikan kereta dan ia turun bersama empat anggota pasukan untuk memeriksa keadaan. Menurut cerita yang mereka dengar, tiga kawasan hutan yaitu Mantingan, Saradan dan Caruban dikuasi oleh gerombolan perampok kejam. Sekitar satu jam kemudian, kereta itu berjalan. Hal yang sama terjadi di kawasan hutan Saradan dan Caruban. Menjelang maghrib, kereta memasuki stasiun madiun dan berhenti sekitar dua jam untuk menaik-turunkan barang dan menambah air. Kesempatan ini kami gunakan untuk membersihkan badan dan menghilangkan penat. Perjalanan ke stasiun Mojokerto dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, saya dan mbak Kushatini sesekali memejamkan mata. Sementara itu, beberapa anggota pasukan nampak asyik membicarakan cerita pertempuran di sekitar Surabaya yang menelan korban ratusan pejuang. Yang terkena luka tembak, pecahan mortir atau tertusuk bayonet sebagian dirawat di Rumah Sakit Darurat PMI yang menjadi tujuan utama perjalanan kami dari Markas Pusat Pelajar di Jalan Tugu Kulon 70 Yogyakarta. Menurut keterangan yang kami terima sebelum berangkat, tempat perawatan korban pertempuran Surabaya ada di lingkungan SGB Katholik (bruderan). Kami sampai di stasiun Mojokerto dini hari, Di sana telah menunggu beberapa anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar, nama pasukan Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan di Jawa Timur). Kami dan barang bawaan segera dinaikkan ke atas dua truk militer tanpa upacara khusus. Mas Isman, begitu Purbatin memanggil nama komandan pasukan TRIP yang menyambut kedatangan kami di stasiun memberi aba-aba agar truk segera dijalankan. Di tengah pekatnya malam itu, saya tak dapat melihat keadaan di luar. Sekitar sejam perjalanan, kami telah memasuki kompleks rumah sakit. Saya dan mbak Kushartini ditempatkan di ruang depan bersama beberapa orang perawat. Sedangkan Purbatin dan pasukannya ditempatkan di asrama yang cukup jauh dari bangsal perawatan. Setelah mandi dan menyantap makanan yang telah disiapkan oleh kepala perawat, kami beristirahat di kamar. Saya tak mampu memejamkan mata karena di ruang sebelah suara-suara erang kesakitan tak pernah berhenti. Hari pertama kami dibebaskan dari semua tugas merawat korban di bangsal perawatan. Mbak Kushartini tidur dan mulai terdengar suara dengkurnya. Perjalanan yang sangat melelahkan selama hampir sehari semalam. Saya baru dapat tidur di siang hari sampai sore. Melihat keadaan korban pertempuran 10 November 1945, hati ini seperti tertusuk benda sangat tajam. Kekejaman penjajahan dan peperangan terlihat sangat jelas, tak membedakan siapapun mereka. Ada yang remuk kaki dan beragam luka tembak. Penugasan seminggu di rumah sakit darurat PMI sangat berkesan, tapi tak menyurutkan 30
    • niat kami untuk berbakti kepada Ibu Pertiwi. Sebuah harga yang sangat mahal, tak sebanding dengan apapun. Penugasan Kedua Hari terakhir ujian kenaikan kelas II baru saja usai, saya ingin bergegas ke kamar asrama yang letaknya bersebelahan dengan ruang kelas. Belum sempat melangkah jauh, seseorang memanggil nama saya. Segera saja saya melangkah, menuju arah sumber suara. Ternyata yang memanggil adalah Kepala Sekolah yaitu Ibu R.A. Oemijatie (baca Umiyati), adik kandung dr. Sutomo, salah satu pendiri Budi Utomo. Beliau berperawakan kecil, tapi lincah dan tegas. Hampir semua siswi SGP tahu tentang kemampuan beliau dalam menjiwai masing-masing pribadi. Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, saya segera mendekat. Ibu Umiyati tampak memegang sepucuk surat. Beliau lalu membuka pembicaraan. “ Atiatoen … ini ada surat untukmu dari Markas Pusat. Buka dan bacakan untuk Ibu “, kemudian beliau menyerahkan surat itu kepada saya. Tentu sebuah surat tugas, saya menduga-duga isinya. Surat itu dibuka dengan pisau perlahan-lahan, kuatir sobek. Pendek saja isinya. Yaitu perintah untuk segera menyelenggarkan dapur umum dan tugas kepalang-merahan di Gereja Kristen Jawa Jalan Stasiun (sekarang Jl. Pemuda) Kebumen untuk Front Barat. Yang menandatangani mbak Sri Daruni, Kepala Staf Putri Markas Pusat Pelajar Yogyakarta. Dari stasiun tugu, kereta api yang sebagian besar penumpangnya adalah para pelajar mulai bergerak perlahan. Di gerbong itu ada beberapa teman satu sekolah yang berasal dari Wates dan Purworejo. Di salah satu bangku tak jauh dari tempat duduk saya, terlihat sosok kecil yang tak asing dan selalu menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Bagyo, nama ini kelak menjadi pelawak terkenal di jamannya. Siswa SGL (Sekolah Guru Laki-laki) ini suaranya lantang dengan dialek khas Banyumasan. Sayang sekali, kereta yang membawa rombongan kami hanya sampai di Stasiun Kutoarjo. Perjalanan ke Kebumen saya lanjutkan dengan berjalan kaki dan naik delman karena tak ada moda angkutan lain. Kepada ayah, saya menanyakan keberadaan dua kakak kandung. Mas Achmad Dimjatie saat itu telah berpangkat Letnan TRI dan mas Affandi yang sering keluar masuk markas Tentara Pelajar Kebumen di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen) bersama Agustinus, putra pendeta Gereja Kristen di dekat stasiun. Kebetulan, sewaktu ibu kandung berjualan beras di pasar, Bapak Pendeta Reksodihardjo adalah seorang pelanggan setia. Jadi, hubungan kami telah berlangsung sejak lama dari masa kanak-kanak. Setelah ibu meninggal tahun 1939, yang menyambung tali silaturahmi adalah mas Pandi (Affandi). ” Pak… selama masa libur ini saya ditugaskan di markas darurat yang ada di rumah dinas pendeta, bapaknya Agustinus’, kata saya sambil menyodorkan surat tugas yang rencananya besok hari akan saya serahkan kepada kepala markas atau wakilnya. ” Sama siapa kamu di sana Toen ?”, tanya ayah. ” Teman-teman SGP dari Kebumen.. termasuk dik Wasil (Umi Wasilah) dan dik Cini (Rasini)”, jawab saya menyebut nama dua orang yang telah dikenal ayah. ” Di lumbung ada beberapa ikat padi yang bisa ditumbuk. Yang lain, kamu cari sendiri. Ayah sementara waktu akan mengungsi di rumah ibu tiri. Ini ada sedikit uang yang bisa kamu pakai untuk membeli garam dan bumbu buat keperluan asrama teman-temanmu di gereja sana”, ayah menyodorkan sejumlah uang yang nilainya cukup banyak. 31
    • Surat tugas diterima mas Tjiptardjo, wakil kepala markas. Mas Moedojo sedang ke Purworejo malakukan kordinasi dengan kepala markas TP di sana, mas Pratik (Imam Pratignyo). Dari penjelasan mas Tjip, saya mendapatkan informasi bahwa Markas Pusat Pelajar di Tugu Kulon tengah menyiapkan sebagian besar anggota pasukan yang akan dikirim ke front Barat di sepanjang garis demarkasi yang berbatasan dengan Kali Kemit. Ada yang dikirim melalui markas Karanganyar sebagai pusat komando terdepan. Tapi ada juga yang langsung menuju Puring dan Kuwarasan yang diperkirakan akan menjadi ajang pertempuran besar antara pasukan Republik Indonesia dan tentara pendudukan Belanda serta sekutunya. Markas darurat ini berfungsi sebagai pusat kendali operasi langsung di bawah komando Markas Pusat Pelajar. Karena itu disediakan asrama untuk menampung sementara waktu pasukan yang akan diterjunkan ke titik-titik pertahanan pasukan Republik Indonesia, Mungkin hanya untuk satu dua hari, tapi jumlah mereka ratusan atau ribuan. Penjelasan singkat wakil kepala markas memberi gambaran yang cukup dalam menyelenggarakan menu bagi para pelajar pejuang kemerdekaan ini. Baik yang disajikan selama mereka menginap maupun sebagai bekal dalam bentuk nasi bungkus (noek). Uang yang saya terima dari mas Tjip diperkirakan tak cukup untuk membeli bahan-bahan makanan meski telah ditambah dengan pemberian ayah. Sebagai penanggung-jawab, saya meminta bantuan pak Pendeta Rekso agar menyiapkan penanak nasi dan pencari kayu bakar. Beliau menunjuk mbak Fatonah yang tinggal di belakang gereja sebagai penanak nasi. Sementara itu, nama si pencari kayu dan keperluan dapur lain tak ingat lagi. Ia seorang lelaki asal Desa Legok di sebelah Barat sungai Luk Ulo. Di antar teman-teman yang bertugas di asrama, mbak Umiyatun adalah yang tertua. Dia adik kandung mas Martono, komandan Batalyon 300 dan wakil kepala Markas Pusat. Selama bertugas sekitar tiga minggu, mbak Umiyatun sempat dua kali pulang ke rumahnya di Desa Meles, Karanganyar. Dik Cini yang sekampung, tak pernah menengok rumahnya yang ada di desa itu juga. Kedua teman ini masih berkerabat cukup dekat. Saya, dik Wasil dan mbak Hartati yang tinggal tak jauh dari asrama dan markas, sesekali menengok rumah masing-masing. Bahkan, rumah mbak Hartati hanya berjarak kurang dari seratus meter. Karena yang mendapat latihan dasar militer dan kepalangmerahan hanya saya, ketrampilan yang saya peroleh kemudian saya tularkan di sela-sela waktu istirahat. Saya tak pernah memakai atribut lengan (ban) PMI. Yang selalu memakai yaitu Rasini, Umi Wasilah dan Umiyatun. Ketiganya sering bercengkerama dengan anggota pasukan yang memang usianya sebaya. Saya lebih suka membantu Yu Fathonah di dapur atau mencari bahan sayur dan lauk untuk sediaan hari berikutnya. Pada saat menyiapkan masakan (sayur) untuk makan malam, kami kehabisan kelapa. Saya minta anggota pasukan yang tengah duduk di teras asrama untuk memetik dari pohon yang ada di kebun belakang rumah kami di Pasarpari. ” Siapa yang bisa memetik kelapa, ikut saya !”, Atiatoen setengah berteriak. Seorang pemuda berperawakan tinggi mendekat dan menyatakan kesediaannya. Ternyata dia adalah Linus Djentamat dari Kalimantan. Sepanjang jalan, saya dan Hartati tak banyak bicara. Begitu juga dengan Linus. Sesampai di kebun belakang rumah, Linus langsung memanjat pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, sekitar 6 atau 7 meter dengan cekatan. ” Berapa butir yang tua dan muda mbak?”, teriak Linus di atas. ” Yang tua satu tandan… yang masih muda terserah …”, jawab Atiatoen lantang. Setelah semua kelapa dikumpulkan, beberapa anggota pasukan yang menyusul ikut rombongan kami ada yang langsung menancapkan linggis dan mengupas kulit kelapa dengan cekatan. Seorang lainnya memanjat pohon nangka yang juga ada di kebun belakang rumah kami. Kelapa dan nangka dibawa dengan pikulan dan kami bergegas kembali ke 32
    • gereja (asrama). Tak pernah menyangka, peristiwa ini adalah jumpa pertama dan terakhir dengan Linus Djentamat yang pendiam. Seperti kebanyakan remaja menjelang usia dewasa, anggota pasukan Tentara Pelajar yang dikirim ke Front Barat bersikap wajar. Sesekali mengeluarkan ucapan kotor dan suka menggoda kami baik ketika di dalam, apalagi di luar dapur. Di satu siang yang terik dan panas, seseorang yang dipanggil dengan sebutan Lowo masuk ke dalam dapur dan membuat onar dengan mengambil ubi rebus yang baru saja diturunkan dari tungku. Masih sangat panas. Tanpa pamit dia mengambil beberapa dan menaruhnya di atas daun pisang yang selalu kami siapkan untuk bungkus menu harian.Sambil tertawa terbahakbahak dia berkata: ” Terima kasih buat singkong rebusnya ya…. Mbak !”, dia berlalu dan menari kecil di depan teman-teman perempuan yang tengah menyobek lembaran daun pisang untuk pembungkus nasi. ” Dasar kampret …tukang copet !”, Rasini menghardik Lowo dengan nada keras. Bukan malu atau marah, Lowo justru bertambah keras tertawanya. Dan terus menggoda. Minggu terakhir Agustus 1947 semakin banyak anggota pasukan yang dikirim dari Markas Pusat Yogyakarta maupun sejumlah daerah yang dikerahkan dari markas Purworejo. Dari penuturan mas Tjiptardjo diperoleh kabar bahwa pasukan terakhir akan diberangkatkan dari stasiun Tugu pada tanggal 29 Agustus. Mereka kebanyakan dari Perpis (Pelajar Sulawesi) dan Pelajar Kalimantan. Sedangkan dari Purworejo akan datang pasukan SA/CSA dan TGP. TRIP Jawa Timur dan TP Solo mengirim sejumlah kecil pasukannya. Boleh disebut bahwa Front Barat adalah satu dari beberapa lokasi pengerahan pasukan pelajar pejuang kemerdekaan ini terbesar di tahun 1947. Kalau tak salah ingat, malam 30 Agustus adalah malam terakhir asrama markas darurat menjadi tempat menginap sementara pasukan Tentara Pelajar. Malam yang cukup dingin untuk ukuran awal musim penghujan. Tidak seperti biasanya, dapur umum menyediakan makan malam dan nasi 50 bungkus tapi dengan porsi sama dengan hari-hari sebelumnya yang disiapkan 100 nasi bungkus (noek). Rombongan terakhir adalah pasukan yang dikirim Yogya dan Purworejo. Tingkah laku mereka seolah ingin melepas semua ”beban”. Ada yang berteriak seperti kesurupan dan beragam tingkah “aneh” lainnya. Kepada Umiyatun dan Rasini, Atiatoen sempat menyatakan gundahnya. ”Nganeh-anehi (sangat aneh) tingkah mereka ya mbak..?”, yang dijawab singkat oleh keduanya. ” He eh… ”. ” Jangan-jangan………… ini sebuah pertanda buruk.. ”, kata Atiatoen dengan nada lebih pelan. ” Itulah…dik Toen. Saya juga kuatir ..”, sela Umiyatun. Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, beberapa warga masyarakat yang sudah tahu bahwa aula GKJ jadi asrama markas mas TP (sebutan mereka kepada anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan) mengirim dalam jumlah banyak bahan makanan (singkong dan ketela pohon/ubi jalar), pisang kapok dan raja uter yang enak disantap hangat dengan cara dikukus. Peristiwa serupa berulang pada malam 31. Selama tiga hari (1 – 3 September 1947) markas dan asrama libur. Dari utusan mas Dimjatie, saya mendapat kabar buruk. Firasat kami ternyata benar. Banyak teman kami gugur di medan laga, Front Barat. Tepatnya di Desa Sidobunder, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Satu korban atas nama Suryoharyono yang akrab dipanggil Hary di semayamkan di teras aula asrama sebelum dibawa ke Yogya bersama jenasah lainnya. Bapak Pendeta Reksodihardjo yang menyiapkan peti jenasahnya. Sebagaimana ditulis mas Djokowoerjo Sastradipradja yang ditugasi menemukan (kembali), mendata dan membawa korban Palagan Sidobunder ke markas Karanganyar, 33
    • ada 24 anggota pasukan Tentara Pelajar yang gugur. Hanya 20 orang yang diakui dan dicatat dalam buku sejarah terbitan Pusat Sejarah dan Tradisi TNI yang berjudul “ Peran Tentara Pelajar dalam Perang Kemerdekaan dan Pembangunan, tahun 1995. Sisanya yang 4 orang, karena dianggap kurir atau alasan lain, tidak termasuk dalam daftar. *** BIOGRAFI RINGKAS ATIATOEN WIRJOSOEMARTO BINTI MOCH.DJADJOELI Nama lengkap Tempat dan tanggal lahir Nama Orangtua Riwayat Pendidikan Riwayat Pekerjaan Jabatan yang pernah dipegang : Atiatoen binti Mochammad Djadjoeli : Purworejo, 17 Juli 1930 : Mohammad Djadjoeli dan Siti Chotidjah : 1. SR (Sekolah Rayat) Sempurna I Kebumen 1937 – 1944 2. SGP (Sekolah Guru Putri) Yogyakarta: 1945 1950 : 1. Guru Sekolah Darurat : 1948 -1949 2. Guru SR Latihan Rembang I : 1950 – 1953 3. Guru SD Pangenrejo I Purworejo: 1953 1954 4. Guru SD Panjer III Kebumen : 1954 5. Guru SD Kutosari IV Kebumen : 1955 - 1956 6. Guru SD Kutosari I Kebumen : 1957 – 1959 7. Guru SD Kebumen II (Tanjunganom): 1960 1962 8. Guru SD Kebumen I : 1963 – 1986 (pensiun pada usia 56 tahun) : 1. Staf Putri Markas Pusat Pelajar Yogyakarta: 1946 – 1947 2. Kepala SD N Kebumen I : 1965 – 1986 3. Ketua Seksi Kewanitaan DPD Golkar Kab. Kebumen: 1984 -1987 34
    • Suami : R. Djasmin Wirjosoemarto Anak : 1. Rr.Jasmiati Dyahkusumaningsih ( meninggal pada usia 1.5 tahun) 2. R. Kusmantoro (55 tahun) 3. R. Hari Budoyono (54 tahun) 4. R. Toto Karyanto (51 tahun) 5. Rr. Desthorini (meninggal pada usia 22 tahun) 1. Tanda penghargaan dan Bintang Tentara Pelajar (1957) 2. Dll. Tanda penghargaan 35
    • Penutup Semboyan : ” Kesetiaan kami kepada bangsa dan Negara dari buaian sampai ke liang lahat”. ”Kami tak akan kembali ke bangku sekolah sebelum penjajah enyah dari bumi pertiwi”. Kata Mutiara :  Pelan tapi pasti. Bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak (alm. Ibu R.A. Oemijatie, Kepala SGP Yogyakarta dalam buku harian Atiatoen).  Memang baik jadi orang penting, tapi jauh lebih penting adalah menjadi orang baik (alm. Bang Imad, Dr. Imadudin – Dosen ITB) Prasasti Monumen Pena *** 36