KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN <ul><ul><li>Karangan Prof. Dr. S. Nasution M.A. </li></ul></ul><ul><ul><li>Disusun Oleh   : Tot...
BAB I KONSEP-KONSEP DASAR KURIKULUM DAN PENGAJARAN  <ul><li>Pengertian Kurikulum </li></ul><ul><li>Lazimnya kurikulum dipa...
Asas-asas kurikulum serta pengembangannya dapat kita lihat pada bagan berikut: Falsafah  dan  tujuan  pendidikan (asas fil...
Proses pengembangan kurikulum  <ul><li>- Pedoman kurikulum meliputi: </li></ul><ul><li>Latar belakang yang berisi rumusan ...
BAB II DETERMINAN KURIKULUM <ul><li>Empat determinan kurikulum, yakni: </li></ul><ul><li>Determinan filosofis </li></ul><u...
Determinan filosofis  <ul><li>Falsafat dapat dirumuskan sebagai studi tentang: </li></ul><ul><li>Metafisika : Apakah hakik...
Determinan Sosiologis <ul><li>  Tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dari ...
Determinan Psikologis <ul><li>Dua dimansi yang saling berkaitan: </li></ul><ul><li>Teori belajar (bagaimana sebenarnya sis...
Determinan hakikat pengetahuan <ul><li>Dua masalah pokok yang harus dipertimbangkan: </li></ul><ul><li>Pengetahuan apakah ...
BAB III PENEDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM <ul><li>Pendekatan Bidang Studi (Pendekatan Subjek atau Disipl...
<ul><li>Pendekatan Rekonstruksionisme </li></ul><ul><li>Dua kelompok yang sangat berbeda pandangannya, yakni: </li></ul><u...
<ul><li>Pendekatan Humanistik </li></ul><ul><li>Kurikulum ini berpusat pada siswa, jadi “student-centered”, dan mengutamak...
<ul><li>Pendekatan Pengembangan Nasional  </li></ul><ul><li>Pendekatan ini mengandung tiga unsur: </li></ul><ul><ul><li>Pe...
BAB IV TUJUAN PENGAJARAN <ul><li>Tujuan umum (TU) </li></ul><ul><li>Mahasiswa akan : </li></ul><ul><ul><li>Mempelajari kon...
<ul><li>Tujuan instruksional khusus (TIK) </li></ul><ul><li>TU  TIU  topik  sub-topik </li></ul><ul><li>TIK </li></ul><ul>...
Ranah belajar <ul><li>Ranah kognitif. Ranah ini mempunyai 6 tingkatan dari yang paling rendah: </li></ul><ul><ul><li>Penge...
<ul><li>Ranah psikomotor </li></ul><ul><ul><li>Gerak refleks </li></ul></ul><ul><ul><li>Gerak dasar fundamenal </li></ul><...
BAB V STRATEGI DAN SUMBER MENGAJAR <ul><li>Rasional  </li></ul><ul><li>Strategi mengajar </li></ul><ul><li>Strategi mengaj...
BAB VI MENDISAIN RENCANA EVALUASI KURIKULUM <ul><li>Dasar-dasar evaluasi kurikulum </li></ul><ul><li>Tujuan evaluasi kurik...
<ul><li>Disain evaluasi </li></ul><ul><li>5 langkah disain evaluasi: </li></ul><ul><li>Merumuskan tujuan evaluasi </li></u...
<ul><li>Mengumpulkan, menyusun dan mengolah data. </li></ul><ul><li>Prosedur pengumpulan data bergantung pada model yang d...
BAB VII DISAIN RENCANA INSTRUKSIONAL PENGAJARAN EFEKTIF <ul><li>Pengajaran efektif : </li></ul><ul><li>  Mengajar efektif ...
<ul><li>Mengadakan asesment, Mendiagnosis </li></ul><ul><ul><li>Asesment pada permulaan, untuk mengetahui: </li></ul></ul>...
<ul><li>Pengajaran Efektif </li></ul><ul><ul><li>Guru yang efektif : </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mulai mengakhiri pelaj...
BAB VIII MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERFIKIR DAN MEMECAHKAN MASALAH <ul><li>Tipe-tipe Berfikir: </li></ul><ul><li>Cara ber...
<ul><li>Pendekatan-pendekatan dalam pemecahan masalah </li></ul><ul><ul><li>Pendekatan reaktif </li></ul></ul><ul><ul><li>...
BAB IX PERENCANAAN INSTRUKSIONAL UNTUK TUJUAN AFEKTIF <ul><li>Pendidikan Nilai-nilai. </li></ul><ul><li>Tujuannya: Proses ...
<ul><li>Pendidikan afektif </li></ul><ul><li>Tujuannya: membantu siswa agar ia meningkat dalam hierarki afektif, yakni dar...
<ul><li>Komunikasi dan Informasi Baru dalam Hubungannya dengan Pendidikan Afektif </li></ul><ul><li>Diagram “black box” (k...
BAB X PENDIDIKAN AFEKTIF, PERSPEKTIF HISTORIS DAN MODEL-MODEL PENDIDIKAN AFEKTIF <ul><li>Pendidikan afektif dipandang bida...
<ul><li>Pengaruh Psikologi Terhadap Pendidikan Afektif </li></ul><ul><li>3 tokoh psikologi yang memberi sumbangan besar ke...
<ul><li>Pengaruh Teori Kepribadian terhadap Pendidikan Afektif </li></ul><ul><ul><li>Peck dan Havighurst </li></ul></ul><u...
<ul><li>Model-model Pendidikan Afektif </li></ul><ul><ul><li>Model Konsiderasi (the Consideration Model) </li></ul></ul><u...
<ul><ul><li>Model Pembentukan Rasional (the Rationale Building Model) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tujuannya adalah menu...
<ul><ul><li>Model “Values  Clarification” </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>3 langkah utama dan tiap langkah terdiri atas 2-3...
<ul><ul><li>Model Pengembangan Kognitif </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tingkat dan tahap perkembangan moral: </li></ul></u...
<ul><ul><li>Model Aksi Sosial </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tujuannya: Membantu siswa mengembangkan “kopetensi kewarganeg...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Bab I

1,353

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,353
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
56
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab I

  1. 1. KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN <ul><ul><li>Karangan Prof. Dr. S. Nasution M.A. </li></ul></ul><ul><ul><li>Disusun Oleh : Toto A.S Hartono </li></ul></ul><ul><ul><li>Semester/Kelas : IV / A </li></ul></ul>
  2. 2. BAB I KONSEP-KONSEP DASAR KURIKULUM DAN PENGAJARAN <ul><li>Pengertian Kurikulum </li></ul><ul><li>Lazimnya kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan serta staf pengajarnya. </li></ul><ul><li>Kurikulum Formal meliputi: </li></ul><ul><ul><li>Bahan pelajaran yang disusun sistematis </li></ul></ul><ul><ul><li>Strategi belajar-mengajar Tujuan pelajaran,umum dan spesifik </li></ul></ul><ul><ul><li>serta kegiatan-kegiatannya </li></ul></ul><ul><ul><li>Sistem evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai </li></ul></ul><ul><li>Kurikulum tak formal meliputi: </li></ul><ul><ul><li>Pertunjukkan sandiwara </li></ul></ul><ul><ul><li>Pertandingan antar kelas atau antar sekolah </li></ul></ul><ul><ul><li>Perkumpulan berbagai hobby, dan lain-lain </li></ul></ul>
  3. 3. Asas-asas kurikulum serta pengembangannya dapat kita lihat pada bagan berikut: Falsafah dan tujuan pendidikan (asas filosofis) Kebutuhan masyarakat (asas sosiologis) Strategi dan kegiatan belajar/mengajar Sumber-sumber dan alat pelajaran Hakikat pengetahuan, disiplin ilmu (bahan pelajaran) Tujuan instruksional, hasil belajar yang diharapkan Hakikat anak dan belajar (asas psikologis) Efektivitas kurikulum dan pengajaran Evaluasi proses dan hasil belajar siswa
  4. 4. Proses pengembangan kurikulum <ul><li>- Pedoman kurikulum meliputi: </li></ul><ul><li>Latar belakang yang berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan,populasi yang menjadi sasaran rasional bidang studi atau mata kuliah, struktur organisasi bahan pelajaran. </li></ul><ul><li>Silabus yang berisi matapelajaran secara lebih terinci yang diberikan yakni scope ( ruang lingkup) dan sequence-nya (urutan pengajiannya). </li></ul><ul><li>Disain evaluasi termasuk strategi revisi atau perbaikan kurikulum mengenai: </li></ul><ul><li>Bahan pelajaran (scope dan squence). </li></ul><ul><li>Organisasi bahan dan strategi instruksionalnya. </li></ul><ul><li>- Pedoman Instruksional untuk tiap matapelajaran yang </li></ul><ul><li> dikembangkan berdasarkan silabus. </li></ul>
  5. 5. BAB II DETERMINAN KURIKULUM <ul><li>Empat determinan kurikulum, yakni: </li></ul><ul><li>Determinan filosofis </li></ul><ul><li>Determinan sosiologis </li></ul><ul><li>Determinan psikologis </li></ul><ul><li>Hakikat pengetahuan </li></ul>
  6. 6. Determinan filosofis <ul><li>Falsafat dapat dirumuskan sebagai studi tentang: </li></ul><ul><li>Metafisika : Apakah hakikat kenyataan atau realitas? </li></ul><ul><li>Epistemologi : Apakah hakiat pengetahuan? </li></ul><ul><li>Aksiologi : Apakah hakikat nilai? </li></ul><ul><li>Etika : Apakah hakikat kebaikan? </li></ul><ul><li>Estetika : Apakah hakikat keindahan? </li></ul><ul><li>Logika : Apakah hakikat penalaran? </li></ul><ul><li>Empat aliran utama dalam filsafat: </li></ul><ul><li>Idealisme </li></ul><ul><li>Realisme </li></ul><ul><li>Progmatisme atau (utilitarianisme) </li></ul><ul><li>ekistensialisme </li></ul>
  7. 7. Determinan Sosiologis <ul><li> Tiap kurikulum mencerminkan keinginan, cita-cita, tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dari segi sosiologis sistem pendidikan serta lembaga-lembaga pendidikan di dalamnya dapat dipandang sebagai badan yang mempunyai berbagai fungsi bagi kepentingan masyarakat, antara lain: </li></ul><ul><li>Mengadakan perbaikan bahkan perombakan sosial. </li></ul><ul><li>Mempertahankan kebebasan akademis dan kebebasan mengadakan penelitian ilmiah. </li></ul><ul><li>Mendukung dan turut memberi sumbangan kepada pembangunan nasional. </li></ul><ul><li>Menyampaikan kebudayaan dan nilai-nilai tradisional serta mempertahankan status quo. </li></ul><ul><li>Mengeksploitasi orang banyak demi kesejahteraan golongan elite.menyebarluaskan falsafah, politik atau kepercayaan tertentu </li></ul><ul><li>Mendorong dan mempercepat laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi </li></ul><ul><li>Mengajarkan keterampilan pokok seperti membaca, menulis dan berhitung </li></ul><ul><li>Memberikan keterampilan dasar bertalian dengan matapencaharian . </li></ul>
  8. 8. Determinan Psikologis <ul><li>Dua dimansi yang saling berkaitan: </li></ul><ul><li>Teori belajar (bagaimana sebenarnya siswa belajar?) </li></ul><ul><ul><ul><li>Behaviorisme </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Psikologi daya (Faculty Psychology) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Pengembangan kognitif </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Teori lapangan (teori Gestalt) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Teori kepribadian </li></ul></ul></ul><ul><li>Hakikat pelajar secara individual antaran lain berkenaan dengan taraf: </li></ul><ul><ul><ul><li>Motivasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kesiapan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kematangan intelektual </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Latar belakang pengalaman </li></ul></ul></ul>
  9. 9. Determinan hakikat pengetahuan <ul><li>Dua masalah pokok yang harus dipertimbangkan: </li></ul><ul><li>Pengetahuan apakah yang paling berharga untuk diajarkan bagi populasi sasaran (siswa) dalam suatu bidang studi? </li></ul><ul><li>Bagaimanakah mengorganisasi bahan itu agar siswa dapat menguasainya dengan sebaik-baiknya? </li></ul><ul><li>Tujuan dan sasaran kurikulum pada umumnya disusun: </li></ul><ul><li>Dari yang sederhana kepada yang kompleks </li></ul><ul><li>Dari yang konkrit kepada yang abstrak </li></ul><ul><li>Dari domain (ranah) tingkat rendah kepada yang lebih tinggi, kognitif, afektif maupun psikomotor. </li></ul>
  10. 10. BAB III PENEDEKATAN-PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM <ul><li>Pendekatan Bidang Studi (Pendekatan Subjek atau Disiplin ILmu) </li></ul><ul><li>Dapat dibedakan “macro-organiser” “organisr” dan “micro-organiser”: </li></ul><ul><ul><li>Macro organiser : Matematika </li></ul></ul><ul><ul><li>Organizer : Aljabar, Geometri, Kalkulus </li></ul></ul><ul><ul><li>Micro organizer : Aljabar I, Aljabar II,dll. </li></ul></ul><ul><li>Tipe organisasi ini sesuai dengan falsafah realisme </li></ul><ul><li>Pendekatan Interdisipliner </li></ul><ul><ul><li>Pendekatan broadfield </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan kurikulum inti (core Curriculum) </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan kurikulum inti di Perguruan Tinggi </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan Kurikulum Fusi </li></ul></ul>
  11. 11. <ul><li>Pendekatan Rekonstruksionisme </li></ul><ul><li>Dua kelompok yang sangat berbeda pandangannya, yakni: </li></ul><ul><ul><li>Rekonstruksionisme konservatif. Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang di hadapi masyarakat. </li></ul></ul><ul><ul><li>Rekonstruksionisme radikal. Pendekatan ini berpendapat bahwa banyak negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Mereka berpendapat bahwa sekolah yang dikembangkan negara bersifat operatif dan tidak humanistik serta digunakan sebagai alat golongan elit untuk mempertahankan status quo. </li></ul></ul><ul><li>Kedua pendirian diatas mempunyai kesamaan, masing-masing berpendirian bahwa missi sekolah ialah untuk mengubah dan memperbaiki masyarakat. </li></ul>
  12. 12. <ul><li>Pendekatan Humanistik </li></ul><ul><li>Kurikulum ini berpusat pada siswa, jadi “student-centered”, dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai integral dari proses belajar. Kurikulum humanistik didasarkan atas apa yang kadang-kadang disebut “psikologi humanistik” yang erat hubungannya dengan psikologi lapangan (field psyhology) dan teori kepribadian (khususnya Maslow). </li></ul><ul><li>Pendekatan “Accountability” </li></ul><ul><li>Akuntabilitas yang sistematis pertama kalinya diperkrnalkan Federick Taylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini. Pendekatannya, yang kelak dikenal sebagai “scientific managemant” atau manajeman ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan pekerja dalam waktu tertentu. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan accountability ini telah mendesak pendidikan dalam arti yang sebenarnya menjadi latihan belaka. </li></ul><ul><li>Dalam usaha mengembangkan standar yang dapat dipertanggungjawabkan, pendekatan kurikulum beralih ke arah apa yang di sebut sistem yang tertutup dan model latihan . </li></ul>
  13. 13. <ul><li>Pendekatan Pengembangan Nasional </li></ul><ul><li>Pendekatan ini mengandung tiga unsur: </li></ul><ul><ul><li>Pendidikan kewarganegaraan. Berorientasi pada sistem politik negara yang menentukan peranan, hak dan kewajiban tiap warga negara. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendidikan sebagai alat pembangunan nasional. Tujuan pendidikan ini adalah mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan untuk memenuhi kebuyuhan pembangunan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendidikan keterampilan untuk Kehidupan Praktis. Keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibagi dalam beberapa kategori yang tidak hanya bercorak keterampilan tetapi juga mengandung aspek pengetahuan dan sikap, yaitu: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan untuk mencari nafkah dan rangka sistem ekonomi negara </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan untuk mengembangkan masyarakat </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan untuk mentumbang kepada kesejahteraan umum </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan sebagai warga negara yang baik </li></ul></ul></ul><ul><li>Pendekatan ini menggabungkan humanisme dengan pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan pembangunan nasional. </li></ul>
  14. 14. BAB IV TUJUAN PENGAJARAN <ul><li>Tujuan umum (TU) </li></ul><ul><li>Mahasiswa akan : </li></ul><ul><ul><li>Mempelajari konsep pokok dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dan disain instruksional. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengembangkan suatu pedoman kurikulum dan silabus perkuliahan untuk suatu bidang studi tertentu. </li></ul></ul><ul><ul><li>Membuat disain dan rencana instruksional bidang studi. </li></ul></ul><ul><li>Tujuan Instruksional Umum (TIU) </li></ul><ul><li>Pada akhir matakuliah Pengembangan Kurikulum ini mahasiswa akan dapat: </li></ul><ul><ul><li>Menentukan langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum dan proses membuat disain instruksional. </li></ul></ul><ul><ul><li>Menjelaskan hubungan antara pengembangan kurikulum dan disain instruksional. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengidentifikasi dan menyatakan alasan atau rasional memilih pendekatan kurikulum. </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengembangkan silabus atau matakuliah menurut pilihan sendiri </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengembangkan pedoman kurikulum suatu matakuliah </li></ul></ul><ul><ul><li>Membuat disain suatu rencana instruksional salah satu topik dari silabus matakuliah. </li></ul></ul>
  15. 15. <ul><li>Tujuan instruksional khusus (TIK) </li></ul><ul><li>TU TIU topik sub-topik </li></ul><ul><li>TIK </li></ul><ul><li>TIK keberhasilannya dapat diukur pada umumnya mengandung unsur-unsur berikut: </li></ul><ul><ul><li>Apa – dirumuskan dalam pernyataan yang mengandung perbuatan tentang sesuatu yang dapat diharapkan dari siswa. </li></ul></ul><ul><ul><li>Hingga mana – hingga mana kuantitas dan kualitas penguasaan siswa yang akan dijadikan dasar pengukuran/penilaian. </li></ul></ul><ul><ul><li>Siapa – biasanya dengan “siapa” dimaksud semua siswa yang mengikuti pelajaran itu. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam kondisi yang bagaimana – dalam hal tertentu kondisi spesifik harus dinyatakan secara eksplisit, misalnya, mengetik surat dalam waktu kurang dari 3 menit per halaman tanpa salah </li></ul></ul>
  16. 16. Ranah belajar <ul><li>Ranah kognitif. Ranah ini mempunyai 6 tingkatan dari yang paling rendah: </li></ul><ul><ul><li>Pengetahuan </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemahaman </li></ul></ul><ul><ul><li>Aplikasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Analisis </li></ul></ul><ul><ul><li>Sintesis </li></ul></ul><ul><ul><li>Evaluasi </li></ul></ul><ul><li>Ranah afektif. Ranah afektif dikembangkan oleh Krathwohl , bloom, dan Masia, dalam garis besaarnya sebagai berikut: </li></ul><ul><ul><li>Menerima (memperhatikan) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kesadaran </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kerelaan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mengarahkan perhatian </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Merespons </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Merespons secara diam-diam </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Bersedia merespons </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Merasa kepuasan dalam merespons </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Menghargai </li></ul></ul><ul><ul><li>Organisasi </li></ul></ul><ul><ul><li>karakteristik </li></ul></ul>
  17. 17. <ul><li>Ranah psikomotor </li></ul><ul><ul><li>Gerak refleks </li></ul></ul><ul><ul><li>Gerak dasar fundamenal </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Gerak lokomotor </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Gerak non-lokomotor </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Gerak manipulatif </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Keterampilan perseptual </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diskriminasi kinestetik </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diskriminasi visual </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diskriminasi auditoris </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Diskriminasi taktil </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan perseptual yang terkoordinasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Keterampilan fisik </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ketahanan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kekuatan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keluwesan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kelincahan </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Gerakan trampil </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan adaptif yang sederhana </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan adaptif gabungan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Keterampilan adaptif yang kompleks </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Komunokasi non-diskursif (hubungan tanpa bahasa, melainkan melalui garakan) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Gerak ekspresif </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Gerak interpretataif </li></ul></ul></ul>
  18. 18. BAB V STRATEGI DAN SUMBER MENGAJAR <ul><li>Rasional </li></ul><ul><li>Strategi mengajar </li></ul><ul><li>Strategi mengajar bertambah kompleks bergantung pada: </li></ul><ul><ul><li>Tinggi tingkat tujuan kognitif, afektif dan keterampilan yang ingin dicapai </li></ul></ul><ul><ul><li>Banyak dan cermatnya persiapan yang harus diadakan </li></ul></ul><ul><ul><li>Tingkat kemampuan berfikir yang diperlukan </li></ul></ul><ul><ul><li>Komplrksitas manajemen kelas yang harus dijalankan </li></ul></ul><ul><ul><li>Sulitnya hasil belajar dinilai </li></ul></ul><ul><li>Sumber Mengajar </li></ul>
  19. 19. BAB VI MENDISAIN RENCANA EVALUASI KURIKULUM <ul><li>Dasar-dasar evaluasi kurikulum </li></ul><ul><li>Tujuan evaluasi kurikulum: </li></ul><ul><li>Mengetahui hingga manakah isiwa mencapai kemajuan ke arah tujuan yang telah ditetapkan </li></ul><ul><li>Menilai efektivitas kurikulum </li></ul><ul><li>Menentukan faktor biaya, waktu, dan tingkat keberhasilan kurikulum </li></ul><ul><li>Evaluasi kurikulum hendaknya didasarkan atas: </li></ul><ul><li>Determinan kurikulum </li></ul><ul><li>Harapan-harapan “golongan klien atau konsumen” </li></ul><ul><li>Bukti mengenai tingkat produktivitas dengan mempertimbangkan hasil belajar, biaya, waktu </li></ul>
  20. 20. <ul><li>Disain evaluasi </li></ul><ul><li>5 langkah disain evaluasi: </li></ul><ul><li>Merumuskan tujuan evaluasi </li></ul><ul><ul><ul><li>Dimensi I </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>- formatif </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>- sumatif </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Dimensi II </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>- proses </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>- produk </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Dimensi III </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>- operasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>- hasil belajar siswa </li></ul></ul></ul><ul><li>Mendisain proses dan metodologi evaluasi </li></ul><ul><ul><ul><li>Model Diskrepansi Provous </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Model Kontingensi-kontingensi Stake </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Model CIPP Stufflebeam </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Model Transformasi Kualitatif Eisner </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Model Lingkaran Tertutup Corrigan </li></ul></ul></ul><ul><li>Menspesifikkan data yang diperlukan untuk menyusun instrumen bagi proses pengumpulan data </li></ul><ul><ul><ul><li>Data “keras” berupa fakta seperti score test, absensi, dll </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Data “lunak” saperti persepsi dan pendapat orang </li></ul></ul></ul>
  21. 21. <ul><li>Mengumpulkan, menyusun dan mengolah data. </li></ul><ul><li>Prosedur pengumpulan data bergantung pada model yang digunakn, tersedianya data, serta sumber-sumber (manusia dan alat) yang ada. </li></ul><ul><li>Menganalisis data dan menysun laporan mengenai hasil-hasil, kesimpulan, dan rekomendasi. </li></ul><ul><li>Laporan evaluasi biasanya terdiri atas: </li></ul><ul><ul><li>Hasil-hasil, yaitu apa yang telah ditemukan berdasarkan data yang dikumpulkan </li></ul></ul><ul><ul><li>Kesimpulan, yaitu keputusan yang dapat diambil berdasarkan data itu dan apakah data itu telah cukup memadai untuk mendukung keputusan itu </li></ul></ul><ul><ul><li>Rekomendasi, apakah cukup data untuk mendukung kelangsungan kurikulum, ataukah disarankan agar dijalankan lanjutan penilaian agar diperoleh data yang lebih banyak </li></ul></ul>
  22. 22. BAB VII DISAIN RENCANA INSTRUKSIONAL PENGAJARAN EFEKTIF <ul><li>Pengajaran efektif : </li></ul><ul><li> Mengajar efektif </li></ul><ul><li> adalah proses </li></ul><ul><li> sirkuler </li></ul>1.Mengadakan asesmen/penilaian/mediagnosis 2.merencanakan 4.Membimbing latihan/reinforcement 3.mengajar
  23. 23. <ul><li>Mengadakan asesment, Mendiagnosis </li></ul><ul><ul><li>Asesment pada permulaan, untuk mengetahui: </li></ul></ul><ul><ul><li>- Tingkat perkembangan kognitif dan afektif </li></ul></ul><ul><ul><li>- Kesiapan mempalajari bahan baru </li></ul></ul><ul><ul><li>- Bahan yang telah dipelajari sebelumnya </li></ul></ul><ul><ul><li> (entry behavior) </li></ul></ul><ul><ul><li>- Pengalaman berhubung dengan bahan pelajaran </li></ul></ul><ul><ul><li>Asesment Selama Lingkaran Instruksional, untuk mengetahui: </li></ul></ul><ul><ul><li>- Hingga manakah bahan telah dikuasai </li></ul></ul><ul><ul><li>- Bahan manakah yang kurang dipahami </li></ul></ul><ul><ul><li>Asesment Akhir Lingkaran Instruksional, untuk mengetahui: </li></ul></ul><ul><ul><li>- Apa yang telah telah dikuasai dari seluruh pelajaran </li></ul></ul><ul><ul><li>- Apa yang tak berhasil mereka kuasai </li></ul></ul><ul><ul><li>- apakah masih perlu diberi ulangan </li></ul></ul><ul><li>Perencanaan </li></ul><ul><ul><li>Tingkat kurikulum umum (tingkat makro) </li></ul></ul><ul><ul><li>Tingkat instruksional yang spesifik untuk pengajaran dalam kelas (tingkat mikro) </li></ul></ul>
  24. 24. <ul><li>Pengajaran Efektif </li></ul><ul><ul><li>Guru yang efektif : </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mulai mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mengemukakan tujuan pelajaran pada permulaan pelajaran </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Memberi latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Memberi bantuan pada siswa khususnya pada latihan permulaan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Bersedia mengajarkan kembali apa yang belum dipahami siswa </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mengadakan review atau ulangan secara teratur </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mengadakan evaluasi berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Memantau kemajuan siswa </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Memberi ikhtisar pelajaran lampau sebelum memulai pelajaran baru </li></ul></ul></ul><ul><li>Latihan dan Reinforcement, meliputi: </li></ul><ul><li>- Menyediakan lembaran kerja bagi setiap siswa </li></ul><ul><li>- Mengadakan similasi dan permainan peranan </li></ul><ul><li>- Memimpin diskusi </li></ul><ul><li>- Mengembangkan proyek penelitian </li></ul><ul><li>- Membantu siswa berfikir kritis </li></ul>
  25. 25. BAB VIII MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERFIKIR DAN MEMECAHKAN MASALAH <ul><li>Tipe-tipe Berfikir: </li></ul><ul><li>Cara berfikir divergen . Orang yang berfikir divergen akan berkata “tidak tahu” , dan karena itu ia membuka diri sepenuhnya bagi berbagai pandangan dan ide baru dan dengan demikian memperluas pengetahuannya. </li></ul><ul><li>Cara berfikir konvergen. Berfikir konvergan adalah berfikir reduktif, yakni mereduksi masalah menjadi unit yang sekecil-kecilnya lalu menganalisis tiap unit dengan cermat. </li></ul><ul><li>Usur-unsur Keterampilan Berfikir </li></ul><ul><li>Mengamati </li></ul><ul><li>Melaporkan </li></ul><ul><li>Mengklasifikasi </li></ul><ul><li>Memberi Label </li></ul><ul><li>Menyusun dan Mengurutkan </li></ul><ul><li>Menginterpretasi </li></ul><ul><li>Membuat Inferensi </li></ul><ul><li>Memecahkan Problema </li></ul>
  26. 26. <ul><li>Pendekatan-pendekatan dalam pemecahan masalah </li></ul><ul><ul><li>Pendekatan reaktif </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan antisipatif </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan reflektif </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendekatan implusif </li></ul></ul><ul><li>Proses pemecahan masalah, oleh John Dewey: </li></ul><ul><ul><li>Mengidentifikasi dan merumuskan masalah </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengemukakan hipotesis </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengumpulkan data </li></ul></ul><ul><ul><li>Menguji hipotesis </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengambil kesimpulan </li></ul></ul><ul><li>Proses pemecahan masalah, oleh Karl Albrecht: </li></ul><ul><ul><li>Ekspansi/Fase Divergen </li></ul></ul><ul><ul><li>Penyelesaian/Fase Konvergen </li></ul></ul>
  27. 27. BAB IX PERENCANAAN INSTRUKSIONAL UNTUK TUJUAN AFEKTIF <ul><li>Pendidikan Nilai-nilai. </li></ul><ul><li>Tujuannya: Proses membantu siswa menjajaki nilai-nilai yang mereka miliki secara kritis agar meningkatkan mutu pemikiran dan perasaan mereka tentang nilai-nilai. </li></ul><ul><li>Empat dimensi utama Pendidikan Nilai- nilai: </li></ul><ul><ul><li>Identifikasi nilai-nilai personal dan sosial yang hakiki </li></ul></ul><ul><ul><li>Inkuiri filosofis atau tinjauan mendalam secara rasional tentang nilai-nilai itu </li></ul></ul><ul><ul><li>Respons afektif danemotif terhadap nilai-nilai itu </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengambil keputusan berhubung dengan nilai-nilai itu berdasarkan inkuiri dan respons. </li></ul></ul><ul><li>Pendidikan moral. </li></ul><ul><li>Tujuannya: Membantu siswa agar lebih mampu memberi pendapat yang bertanggung jawab , adil, dan matang menganai orang lain </li></ul>
  28. 28. <ul><li>Pendidikan afektif </li></ul><ul><li>Tujuannya: membantu siswa agar ia meningkat dalam hierarki afektif, yakni dari tingkat yang paling bawah (menerima pernyataan tentang nilai-nilai) melalui tingkat merespons terhadap nilai-nilai kemudian menghargainya, merasa komitmen terhadap nilai-nilai itu dan akhirnya menginternalisasi sistem nilai-nilai sebagai tingkat tertinggi dalam perkembangan afektif. </li></ul><ul><li>Nilai-nilai dan Penelitian Otak </li></ul><ul><li>Penelitian medis dan psikologis terdahulu tahun 1950-an yang disebut “split brain research” . Penemuan ini mengemukakan thesis bahwa: </li></ul><ul><ul><li>Belahan otak, kiri dan kanan masing-masing terpisah dan merupakan kesatuan tersendiri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tiap belahan memiliki kemampuan khusus yang berbeda-beda. </li></ul></ul><ul><ul><li>Tiap bagian mempunyai fumgsi kognitif dan afektif yang khas </li></ul></ul>
  29. 29. <ul><li>Komunikasi dan Informasi Baru dalam Hubungannya dengan Pendidikan Afektif </li></ul><ul><li>Diagram “black box” (kotak hitam): </li></ul><ul><li>informasi yang dikirimkan “kotak hitam” informasi yang diterima </li></ul><ul><li>Arah dan Intensitas Valensi </li></ul><ul><li>Perubahan Kelakuan sebagai Pengaruh Informasi Baru </li></ul><ul><ul><li>Belajar yang Afektif memerlukan: </li></ul></ul><ul><ul><li>- Kelas yang interaktif </li></ul></ul><ul><ul><li>- strategi mengajar yang membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai dan sikap sesuai dengan keinginan masyarakat </li></ul></ul><ul><ul><li>- Bahan dan sumber yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih mengambil keputusan yang lebih matang ditinjau dari segi moral. </li></ul></ul><ul><ul><li>- Prosedur serta alat evaluasi yang langsung dan tak langsung menilai perasaan dan pandangan siswa tentang dunia serta hubungan etis moral dengan dunia itu. </li></ul></ul>Input “A” Pemrosesan internal Output “B”
  30. 30. BAB X PENDIDIKAN AFEKTIF, PERSPEKTIF HISTORIS DAN MODEL-MODEL PENDIDIKAN AFEKTIF <ul><li>Pendidikan afektif dipandang bidang studi interdisipliner karena didasarkan atas berbagai bidang ilmu seperti falsafah moral sosial (Hobbes, Rosseau, Piaget, dan Durkheim), psikologi (Freud, Piaget, dan Dewey), dan teori kepribadian (Peck, Havighurst, dan Maslow). </li></ul><ul><li>Pengaruh filosofi sosial dalam Pendidikan Afektif </li></ul><ul><li>Pendekatan-pendekatan: </li></ul><ul><ul><li>Thomas Hobbes (Teori Kontrak Sosial) </li></ul></ul><ul><ul><li>Jean Jacques Rosseau (Naturalisme) </li></ul></ul><ul><ul><li>Immanuel Kant (Rasionalisme) </li></ul></ul><ul><ul><li>Emile Durkheim (Teori Konteks Sosial) </li></ul></ul>
  31. 31. <ul><li>Pengaruh Psikologi Terhadap Pendidikan Afektif </li></ul><ul><li>3 tokoh psikologi yang memberi sumbangan besar kepada pendidikan afektif: </li></ul><ul><ul><li>Sigmund freud (1856 – 1939) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Kepribadian terbentuk dari: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Ego (diri, self) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Super-ego (diri yang ideal, diri sadar, diri-moral) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Id (diri tak sadar) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><li>John dewey (1859 – 1952) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tiga tahap utama pertumbuhan moral </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Amoral (anak tak mempunyai rasa benar atau salah) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Konvensional (ia menerima nilai-nilai dan norma-norma dari orangtua dan masyarakat) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Otonomi (ia membuat pilihan sendiri secara bebas) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><li>Jean Piaget ( 1896 – 1980) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>4 Tahap Pendidikan moral: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Egosentris (anak bermain tanpa sadar adanya aturan) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Heteronomi atau tahap otoriter (anak mematuhi aturan dari otoritas yang dihormatinya. Aturan dipandangnya sebagai mutlak yang tak boleh diganggu-gugat sedikit pun). </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Otonomi (anak mengakui perlunya aturan dalam kegiatan sosial). </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Keadilan, rasa saling menghormati, menghormati peraturan. </li></ul></ul></ul></ul>
  32. 32. <ul><li>Pengaruh Teori Kepribadian terhadap Pendidikan Afektif </li></ul><ul><ul><li>Peck dan Havighurst </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>5 Tipe kepribadian yang berbeda-beda: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Amoral </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Expedient </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Conformist </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Irrational Conscientious </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Rational altruistic </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><li>Abraham maslow </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>6 Tingkatan kebutuhan: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Kepuasan fisiologis </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Keamanan </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Rasa diterima dan dicintai </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Aktualisasi diri </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Transendensi </li></ul></ul></ul></ul>
  33. 33. <ul><li>Model-model Pendidikan Afektif </li></ul><ul><ul><li>Model Konsiderasi (the Consideration Model) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Hidup intuk kepentingan orang lain ialah pengalaman yang membebaskan (dari egoisme) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Hanya dengan memberikan “konsiderasi”, kepada orang lain kita dapat mewujudkan diri kita sepenuhnya. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tugas guru : </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Menghadapkan siswa kepada situasi yang mengandung “konsiderasi” yang sedapat mungkin mirip dengan yang dihadapi dalam kehidupan. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengusahakan agar siswa menulis responsnya tentang situasi itu sebelum dimulai. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengajak siswa menganalisis respons siswa lainnya dan mengkategorikannya. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Mendorong siswa menjajaki konsekuensi tiap tindakan </li></ul></ul></ul></ul>
  34. 34. <ul><ul><li>Model Pembentukan Rasional (the Rationale Building Model) </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tujuannya adalah menumbuhkan pada siswa “kematangan pemikiran moral” </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Tugas guru : </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengajarkan nilai-nilai dasar yang berlaku dalam masyarakat seperti demokrasi, pancasila, dll </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Membantu siswa agar dapat memahami norma-norma masyarakat dan negara secara rasional </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Membantu siswa mengembangkan kerangka pemikiran analitis untuk memahami dan menilai situasi yang mengandung konflik antara nilai-nilai dalam masyarakat </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>5 Langkah Model Pembentukan Rasionale: </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengidentifikasi situasi dimana tindakan yang “salah” </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengumpulkan model informasi tambahan. </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Menganalisis situasi berdasar norma-norma </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mencari alternatif tindakan </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengambil keputusan atas prinsip atau pedoman </li></ul></ul></ul></ul></ul>
  35. 35. <ul><ul><li>Model “Values Clarification” </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>3 langkah utama dan tiap langkah terdiri atas 2-3 bagian sehingga menjadi 7 sub-langkah: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Memilih : 1). Secara bebas, 2). Dari beberapa alternatif, 3). Dengan mempertimbangkan konsekuensi tiap alternatif </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Menghargai : 4). Menjunjung tinggi, merasa bahagia dengan pilihan itu, 5). Menyatakan dan mempertahankannya di depan umum. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Berbuat : 6). Melaksanakan dan menerapkannya dalam perbuatan, 7). Melakukannya berulang-ulang sebagai pola kelakuan. </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>“ clarifying response”, jawaban guru yang membantu kejelasan siswa, jawaban itu hendaknya: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Jangan memojokan siswa sehingga ia menjadi defensif </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Jangan memaksa siswa memberi respons </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Tidak mendesak siswa ke arah pendirian tertentu </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Jangan menimbulkan rasa takut karena ucapan yang “salah” </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Hendaknya ditujukan lebih kepada individu daripada kelompok </li></ul></ul></ul></ul>
  36. 36. <ul><ul><li>Model Pengembangan Kognitif </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tingkat dan tahap perkembangan moral: </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Tingkat Pra-konvensisonal </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Tahap 2 : Orientasi instrumental-relatif </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Tingkat Konvensional </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Tahap 3 : Orientasi Keselarasan Interpersonal </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Tahap 4 : Sistem sosial dan kata hati </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Tingkat Post-konvensional, tingkat Otonomi atau Berprinsip </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Tahap 5 & 6 : Kontrak sosial dan prinsip-prinsip etis yang universal </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><li>Model Analisis Nilai </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tujuannya adalah mencapai prinsip-prinsip dalam penilaian melalui pengumpulan dan analisis data secara sistematis, rasional, dan ilmiah. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>6 Langkah model analisis nilai : </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengidentifikasi dan menjelaskan pertanyaan atau masalah yang berkenaan dengan suatu nilai </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mengumpulkan dan menyusun fakta </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Menilai kbenaran fakta yang dikumpulkan </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Menjelakan relevansi fakta </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mencapai keputusan sementara berdasar analisis </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Mentest prinsip yang ditemukan dan dijadikan keputusan </li></ul></ul></ul></ul></ul>
  37. 37. <ul><ul><li>Model Aksi Sosial </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tujuannya: Membantu siswa mengembangkan “kopetensi kewarganegaraannya”. </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>6 langkah model aksi sosial: </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Pertimbangan moral </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Penelitian kebijaksanaan sosial </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Penentuan posisi </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Perencanaan strategi </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Pelaksanaan strategi </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><ul><li>Pemecahan konflik </li></ul></ul></ul></ul></ul><ul><ul><li>Model Masa Depan: Sains – Teknologi masyarakat </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Menganalisis – merumuskan dan menguji hipotesis </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Meramalkan – mengkonstruk model dan prototipe </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Bereksperimen – menafsirkan dan menilai data </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Mendisain – menciptakan proses dan pendekatan baru </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Memetakan – mengekstrapolasi </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Tujuannya: Siswa diajak berfikir jauh ke masa depan, menggunakan imajinasi untuk membayangkan keadaan dunia kelak seperti yang dicita-citakan ditinjau dari segi moral, sosial, ekonomi, ekologi, politik, militer, dan sebagainya. </li></ul></ul></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×