Panduan pelaksanaan bridging course smp
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Panduan pelaksanaan bridging course smp

on

  • 2,984 views

 

Statistics

Views

Total Views
2,984
Views on SlideShare
2,456
Embed Views
528

Actions

Likes
2
Downloads
88
Comments
0

10 Embeds 528

http://smpnegeri2gabus.blogspot.com 509
http://smpnegeri2gabus.blogspot.com.br 5
http://www.google.co.id 4
http://www.smpnegeri2gabus.blogspot.com 3
http://smpnegeri2gabus.blogspot.de 2
http://smpnegeri2gabus.blogspot.sg 1
http://smpnegeri2gabus.blogspot.nl 1
http://smpnegeri2gabus.blogspot.com.ar 1
http://smpnegeri2gabus.blogspot.com.es 1
http://smpnegeri2gabus.blogspot.pt 1
More...

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Panduan pelaksanaan bridging course smp Document Transcript

  • 1. iiiKATA PENGANTARPelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentangWajib Belajar, Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan NasionalPercepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun danPemberantasan Buta Aksara merupakan indikasi yang sangat nyata upayaPemerintah Indonesia dalam peningkatan mutu sumberdaya manusia agar mampubersaing dalam era keterbukaan dan globalisasi.Di lingkungan Direktorat Pembinaan SMP Ditjen Mandikdasmen, KementerianPendidikan Nasional, diantara dampak realisasi dari peraturan-peraturanperundangan tersebut dapat diukur dari Angka Partisipasi Kasar (APK)SMP/MTs/Sederajat pada akhir tahun 2009 mencapai 98,11%. Angka ini melebihitarget yang diharapkan dapat dicapai akhir tahun 2008, yaitu 95.0%. Dengan telahtercapainya target APK di atas, maka orientasi pembinaan pendidikan pada jenjangSMP lebih ditekankan pada peningkatan mutu pendidikan.Dalam rangka peningkatan mutu tersebut, Direktorat Pembinaan SMP telahmenyusun berbagai kebijakan dan strategi yang kemudian dijabarkan dalam bentukprogram dan kegiatan yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi. Dengankebijakan dan program tersebut, diharapkan misi 5 K Kementerian PendidikanNasional terkait dengan Ketersediaan, Keterjangkauan, Kualitas, Kesetaraan danKepastian juga diharapkan dapat terpenuhi.Agar program dan/atau kegiatan tersebut dapat mencapai target yang telahditetapkan, sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada, Direktorat PembinaanSMP menerbitkan berbagai Buku Panduan Pelaksanaan untuk masing-masingprogram dan/atau kegiatan, baik yang pengelolaannya di tingkat pusat, provinsi,kabupaten/kota, maupun yang dilaksanakan langsung oleh sekolah.Dengan buku panduan ini diharapkan pihak-pihak terkait dengan penyelenggaraanprogram di semua tingkatan dapat memahami dan melaksanakan dengan amanah,efektif dan efisien seluruh proses kegiatan mulai dari penyiapan rencana,pelaksanaan, sampai dengan monitoring, evaluasi dan pelaporannya.Akhirnya, kami mengharapkan agar semua pihak terkait mempelajari denganseksama dan menjadikannya sebagai pedoman serta acuan dalam pelaksanaanseluruh program atau kegiatan pembangunan pendidikan pada jenjang SekolahMenengah Pertama tahun anggaran 2010.Jakarta, Januari 2010Direktur PembinaanSekolah Menengah Pertama,Didik Suhardi, SH., M.SiNIP. 196312031983031004
  • 2. vDAFTAR ISIKATA PENGANTAR.............................................................................................iiiDAFTAR ISI ............................................................................................................ vBAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1A. Latar Belakang ........................................................................................... 1B. Tujuan ........................................................................................................ 3BAB II KONSEP PEMBELAJARAN PADA BRIDGING COURSE..................... 5A. Konsep Bridging Course ............................................................................ 5B. Pola Pembelajaran Pada Program Bridging Course ................................... 9BAB III POLA PENGATURAN DAN PELAKSANAAN PROGRAMBRIDGING COURSE DI SEKOLAH ................................................................... 13A. Pengaturan Program Bridging Course di Sekolah.................................... 13B. Desain Pelaksanaan Bridging Course di Sekolah..................................... 14C. Tahap Pelaksanaan Perluasan Pelaksanaan Bridging Course................... 16D. Unsur-Unsur Derkait dengan Perluasan Pelaksanaan ProgramBridging Course................................................................................................. 20BAB IV PENUTUP................................................................................................ 21Lampiran: Contoh program pelatihan/pembekalan bridging course....................... 20
  • 3. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP1BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangSalah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah tingkatkesiapan lulusan SD ketika memasuki jenjang SMP. Keragaman danrendahnya mutu pendidikan di SD menyebabkan lulusan SD tidak siapmengikuti pendidikan di SMP. Pola pendidikan yang saat iniberlangsung memberi kemungkinan lulusan SD, walaupun dengandengan tingkat penguasaan “terbatas” dapat lulus dan berhakmelanjutkan ke SMP. Kondisi seperti itu kemudian menjadi masalahbagi guru di SMP, yakni kesulitan memulai pelajaran karena bekalawal yang dimiliki oleh siswa (lulusan SD) tidak memadai untukmengikuti pelajaran di SMP.Siswa baru SMP yang kurang siap mengikuti pelajaran baru, danterutama ketidakmerataan kesiapan juga terjadi di sebagian besarsekolah. Ketidakmerataan mutu SD dan rendahnya mutu di sebagianSD menjadi penyebab pokok. Dengan adanya program Wajib Belajarsekolah tidak dapat menolak lulusan SD yang memiliki bekal awalyang tidak memadai, sehingga akhirnya mereka tidak siap mengikutipelajaran baru di SMP.Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dicari jalan keluar agar siswabaru di SMP siap untuk mengikuti pelajaran ketika tahun pelajarandimulai. Mengingat mutu lulusan SD belum optimal, maka perludilakukan program bridging course (BC) di awal tahun pelajaran SMPsupaya siswa baru siap untuk mengikuti pelajaran di SMP denganbaik. Program BC ini adalah semacam program matrikulasi untukmeningkatkan kemampuan awal siswa di tingkat SMP. PelaksanaanBC dapat diintegrasikan dengan masa orientasi siswa (MOS) bagisiswa baru atau dapat pula dilaksanakan secara terpisah dari kegiatanMOS.Pada tahun 2003 telah diujicobakan program BC di 4 (empat) sekolah,yaitu SMPN 1 Cisarua, SMPN 1 Parung, SMPN 1 Taktakan Serangdan SMPN 16 Bekasi. Hasil uji coba tersebut sangatmenggembirakan. Tes sebelum dan sesudah mengikuti BCmenunjukkan hasil yang signifikan pada seluruh mata pelajaran,walaupun dari nilai nominalnya masih belum cukup mencolok. Dariisian kuesioner siswa justru memberikan gambaran yang memberikan
  • 4. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP - QEC24711”2harapan. Sebagian besar siswa menyatakan senang mengikuti programBC dan merasa yakin dapat mengikuti pelajaran dengan baik di SMP,serta tidak merasa takut terhadap mata pelajaran yang selama inidianggap sulit, yaitu Matematika dan Fisika.Para guru dan kepala sekolah juga menyatakan bahwa siswa menjadilebih yakin, karena materi BC lebih mirip dengan mengulangpelajaran SD secara singkat dan kemudian disambungkan denganpelajaran awal di SMP. Pola pembelajaran juga menyenangkan,sehingga siswa merasa nyaman terhadap mata pelajaran.Pada tahun 2004 telah dilaksanakan perluasan pelaksanaan BC pada25 SMP yang tersebar di 13 provinsi, yaitu Bangka Belitung,Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, JawaTengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat,Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. Walaupun tidak dilakukanmonitoring pada awalnya, laporan tertulis yang disusun oleh pihaksekolah menunjukkan bahwa program BC memberikan dampaksignifikan terhadap kesiapan siswa baru untuk mengikuti pelajaran dikelas VII. Sekolah juga melaporkan bahwa MOS menjadi menarik,karena ada kegiatan yang terkait langsung dengan persiapan pelajaran.Pada tahun 2006, pelaksanaan program BC diperluas lagi menjadi 246SMP yang tersebar di 30 provinsi. Hasil analisis terhadap monitoringdan evaluasi yang dilakukan pada tahun 2006 dan laporan yangdikirimkan oleh beberapa sekolah menunjukkan bahwa program BCmemberi manfaat yang sangat baik. Namun demikian, terdapat catatanbahwa sekolah mengalami kesulitan keuangan dalam menggandakanbahan tercetak satu set untuk setiap siswa baru, sehingga prosespembelajaran ketika program BC dilaksanakan belum dapat berjalansecara ideal. Perkembangan program BC cukup menggembirakan.Sejak tahun 2006 sampai sekarang, lebih banyak sekolah yangmengimplementasikan program BC. Pola dan materi BC yangditerapkan di sekolah juga berkembang sesuai dengan kebutuhansiswa dan potensi sekolah.Kekurangsiapan siswa untuk mengikuti pelajaran baru juga terjadipada saat pembelajaran MIPA bilingual dilaksanakan, terutama diSMP RSBI. Dalam Kurikulum SD tidak ada mata pelajaran BahasaInggris, meskipun terdapat SD yang memberikannya dalam bentukmuatan lokal. Akibatnya bekal awal bahasa Inggris siswa kurangmemadai untuk mengikuti pelajaran MIPA dengan pengantar bahasaInggris, dan yang lebih menyulitkan adalah bekal awal tersebut sangat
  • 5. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP3berbeda antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu,program BC juga penting dilakukan untuk siswa baru yang mengikutiprogram bilingual.B. TujuanTujuan utama dilaksanakannya program BC adalah menyiapkan siswabaru di SMP, sehingga memiliki kesiapan memadai dalam mengikutipelajaran. Tujuan ini dapat dirinci sebagai berikut:1. Meningkatkan bekal awal siswa baru SMP dengan caramembahas materi-materi esensial (misalnya materi di SD) yangsangat penting untuk persiapan mengikuti pelajaran di SMP.2. Menyamakan bekal awal siswa baru SMP, agar antara satu siswadengan siswa lainnya tidak jauh berbeda, sehingga guru lebihmudah dalam memulai pelajaran.
  • 6. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP5BAB IIKONSEP PEMBELAJARAN PADA BRIDGING COURSEA. Konsep Bridging CourseProgram BC merupakan program pembelajaran pada beberapa matapelajaran yang dilaksanakan untuk meningkatkan bekal kemampuanawal siswa baru SMP, sehingga pada saat pembelajaran, siswa dapatmengikuti pelajaran dengan baik, lancar, dan mampu menguasaimateri pelajaran secara optimal.Bekal awal sangat penting bagi siswa dalam proses pembelajaran.Bekal awal tersebut akan berfungsi sebagai “modal” dalam memahamiinformasi yang dipelajari. Proses pemahaman pada dasarnyamerupakan interaksi secara asimilasi atau akomodasi informasi yangbaru diterima dengan bekal awal yang telah dimiliki sebelumnya.Sebagai contoh, ketika siswa SD belajar perkalian, maka mereka akanmenggunakan kemampuan penjumlahan berulang sebagai bekal awal.Jika siswa belum menguasai penjumlahan, maka mereka akan sangatsulit mempelajari perkalian. Oleh karena itu, banyak ahli menyebutpenjumlahan sebagai prasyarat belajar perkalian. Pola tersebut jugaterjadi pada topik-topik pada mata pelajaran Matematika dan matapelajaran lainnya.Secara teoretik, orang belajar pada dasarnya merupakan prosespengembangan skema berpikir yang bertolak dari skema yang telahada sebelumnya. Makin dekat antara skema berpikir yang telahdimiliki dengan skema yang dipelajari akan semakin mudah orangbelajar. Proses belajar pada dasarnya merupakan proses asimilasi dariskema yang telah ada, yaitu perluasan “skema” lama akibat adanyapenambahan informasi baru. Misalnya kita telah memahami tentangpeta jalan raya di kota Jakarta. Setelah itu, kita mempelajari peta jalankereta api sehingga kita dapat menggabungkan kedua peta tersebutdan dapat mengetahui cara naik kereta api dari stasiun jatinegara turundi stasiun kota dan akan ke ancol naik angkutan kota.Proses belajar dapat juga merupakan proses akomodasi, yaitu jikainformasi baru mengubah atau mengoreksi skema lama menjadiskema baru. Misalnya semula kita telah belajar dan menyimpulkanbahwa ikan paus berkembang biak dengan cara bertelur karenatermasuk jenis ikan. Kemudian belajar tentang ikan secara lebihmendalam dan menjumpai informasi bahwa ikan paus berkembang
  • 7. “Belajar Untuk Masa Depanku”“Direktorat PSMP - QEC24711”6biak dengan beranak karena termasuk mamalia. Dengan demikian,terjadi perubahan skema berpikir dari ikan paus termasuk jenis ikanmenjadi ikan paus termasuk jenis mamalia. Jika terjadi perubahanpemahaman secara utuh, yaitu bahwa ikan paus termasuk mamalia,walaupun bentuk ikan, tetapi berkembang biak dengan cara beranak,seperti pada ciri mamalia. Berarti telah terjadi proses akomodasi padaskema berpikir siswa.Baik proses asimilasi maupun akomodasi memerlukan skema lamayang secara sederhana disebut bekal awal atau prasyarat. Kelemahanatau kekurangan bekal awal akan menyulitkan siswa belajar karenayang bersangkutan tidak memiliki skema berpikir yang dapatdikaitkan dengan apa yang dipelajari. Jika dipaksakan, informasi akandihafal tanpa pemahaman dan dalam waktu cepat akan mudahdilupakan. Pola pembelajaran seperti itu akan menyebabkanpendidikan tidak bermakna (meaningless), karena siswa tidakmemahami apa yang sedang dipelajari. Di samping itu, pembelajaranmenjadi penumpukan informasi tanpa disertai pemaknaan danperangkaian antara berbagai fakta, konsep, dan teori. Akibatnya siswaakan menjadi sangat terbebani ketika belajar.Seperti dinyatakan oleh Ausuble, pembelajaran haruslah berlangsungsecara bermakna (meaningful) bagi anak, agar yang bersangkutanmerasakan manfaat dari apa yang dipelajari, sehingga dapatmenumbuhkan motivasi belajar mereka. Belajar bermakna dapatterjadi jika anak memahami apa yang dipelajari atau mengerti kaitanantara satu konsep dengan konsep lainnya sehingga menjadi suaturangkaian konsep yang komprehensif.Proses pembelajaran sebenarnya merupakan proses pengolahaninformasi, yaitu siswa yang sedang belajar mengolah informasi yangdiperoleh dari bacaan, penjelasan guru, dan fenomena yang diamatidari lingkungan. Proses pengolahan informasi tersebut dapat dilihatpada bagan berikut.
  • 8. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP7Pada gambar tersebut tampak bahwa informasi yang di terima berupastimulus akan disaring oleh sebuah penyaring untuk menguji apakahmenarik perhatian atau tidak. Jika tidak mampu menarik perhatianseseorang, informasi akan segera hilang (terabaikan). Sebagai contoh,ketika penjual mi goreng lewat di depan rumah sambil menawarkan,tetapi kita tidak menaruh perhatian karena baru makan. Ini berartibahwa informasi adanya mi goreng tidak mampu menarik perhatiankita.Ketertarikan seseorang terhadap stimulus informasi, biasanya terkaitdengan dua hal, yaitu (1) sesuai dengan kebutuhan saat itu, dan (2)sesuai dengan hobinya. Pada contoh di atas, kita tidak memberikanperhatian ketika ada penjual mi goreng yang lewat, karena sedangkenyang. Sebaliknya jika kita sedang lapar, maka kita akan segeratertarik jika ada penjual makanan yang lewat. Jika motor kita sedangrusak dan kita kebingungan memperbaiki, kemudian di TV adapenjelasan cara mereparasi motor, maka kita akan tertarik. Sebab,informasi itu sedang kita perlukan, seperti halnya adanya penjual migoreng pada saat kita sedang lapar.STIMULUSYA YASARINGANI:SESUAIDGHOBI?ATAUKEBUTUHAN?MEMORIJANGKAPENDEKSARINGANII:DAPATDIPAHAMIMEMORIJANGKAPANJANGTIDAKTIDAK ADA PERHATIAN TERLUPAKANTIDAKBagan 1: Proses Pengolahan Informasi
  • 9. “Belajar Untuk Masa Depanku”“Direktorat PSMP - QEC24711”8Seseorang yang mempunyai hobi bermain catur akan segera tertarikketika TV menayangkan pertandingan catur. Sebaliknya bagi orangyang tidak mempunyai hobi catur, tayangan pertandingan catur tidakakan menarik perhatiannya. Seorang anak kecil yang hobi mainlayang-layang akan segera tertarik, jika diajak membuat layang-layang. Sebaliknya, bagi anak yang tidak mempunyai hobi bermainlayang-layang akan kurang tertarik ketika diajak membuat layang-layang.Jika mampu menarik perhatian seseorang, maka informasi tersebutakan masuk memori jangka pendek (short-term memory). Artinyainformasi tersebut sudah masuk ke ingatan kita, walaupun memorijangka pendek sangat mudah terlupakan. Selanjutnya informasi akanmasuk ke saringan berikutnya dan diuji apakah dapat dipahami olehyang bersangkutan atau tidak.Tahap ini sangat kritis, karena seringkali informasi yang diminatitidak dapat dipahami. Misalnya kita tertarik dengan informasi tentangreparasi sepeda motor di TV, tetapi ternyata informasinya begitu rumitsehingga kita tidak paham. Akhirnya kita akan meninggalkantayangan tersebut dan informasinya segera terlupakan. Sebaliknya,jika tayangan tentang reparasi sepeda motor tersebut dapat kitapahami, kita akan tertarik mengikuti terus dan akhirnya menjadi“pengetahuan baru” bagi kita. Pengetahuan baru seperti itu akantersimpan dalam memori jangka panjang yang dapat diungkapkembali jika diperlukan. Misalnya jika suatu saat motor kita rusaklagi, kita akan mencoba mengingat kembali penjelasan di TV ataubahkan pengalaman kita membetulkan sepeda motor pada masa lalu.Pertanyaannya, bagaimana caranya agar informasi itu dapat mudahdipahami oleh seseorang? Nah, di sinilah pentingnya bekal awalsebagaimana disinggung pada bagian terdahulu. Intinya untukmempelajari sesuatu, siswa memerlukan bekal awal yang cukup,berupa pengetahuan lain yang terkait dan menjadi dasar apa yang saatini dipelajari. Dalam istilah pendidikan seringkali bekal awal tersebutdisebut sebagai prasyarat, yaitu pengetahuan yang menjadi prasyaratuntuk mempelajari sesuatu. Pada contoh di atas, penjumlahanberulang merupakan prasyarat untuk belajar perkalian.Terkait dengan prinsip di atas, penting diingat bahwa menurut Piaget,perkembangan berpikir siswa SMP kelas VII pada umumnya masihpada taraf operasi konkrit. Bahkan menurut hasil-hasil penelitian diIndonesia, banyak siswa SMP masih dalam taraf berfikir konkrit.
  • 10. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP9Artinya siswa sudah mampu melakukan operasi atau manipulasi tetapiberdasarkan obyek fisik yang konkrit. Dengan demikian, setiappenjelasan yang diberikan harus bertitik tolak dari fenomena fisikyang sudah diketahui atau dipahami siswa.Di samping prasyarat pengetahuan sebagai bekal awal, keberhasilansiswa ketika belajar juga dipengaruhi oleh faktor lain, misalnyakeyakinan dia mampu menguasai apa yang sedang dipelajari dankesungguhan dalam belajar. Jika pada saat belajar, siswa sudahmerasa tidak akan mampu menguasai apa yang dipelajari, maka akanterjadi apa yang sering disebut “kalah sebelum bertanding”. Artinya,siswa sudah takut atau menyerah sebelum berusaha.Ketakutan seperti itu seringkali disebabkan oleh pengalaman yanglalu. Misalnya pada waktu lalu, seseorang selalu kesulitan belajarmatematika, maka dia seakan sudah merasa akan mengalami kesulitanjuga ketika akan belajar topik Matematika berikutnya. Akibatnya, diaseakan menyerah sebelum mulai belajar dan pada akhirnya tidakberusaha secara maksimal.Kesungguhan dalam belajar terkait dengan kadar intensitas saatbelajar. Siswa yang sungguh-sungguh dalam belajar, akan belajardengan intensitas tinggi. Oleh karena itu, walaupun dia duduk belajardalam waktu yang sama dengan teman lainnya (misalnya 120 menit),sesungguhnya dia belajar dalam waktu yang lebih banyak, karenaselama 120 menit tersebut dia bersungguh-sungguh. Siswa yang tidaksungguh-sungguh, seringkali “mencuri” waktu belajar untukmemikirkan hal lain. Misalnya ketika sedang mengerjakan soalMatematika, dia memikirkan bermain bola.Kesungguhan belajar antara lain disebabkan keyakinan apakah yangdipelajari bermanfaat bagi dirinya. Jika siswa merasa apa yangdipelajari memberi manfaat tinggi, dia akan belajar dengan sungguh-sungguh, sebaliknya jika tidak memberi manfaat akan malas dalambelajar.B. Pola Pembelajaran pada Program Bridging CourseCara melaksanakan pembelajaran dalam program BC terkait eratdengan upaya agar siswa belajar dengan mudah, penuh keyakinanakan mampu menguasai apa yang dipelajari dan sungguh-sungguhdalam belajar. Prinsip pembelajaran yang dapat memunculkan tiga haldi atas, antara lain: (1) pembelajaran kontekstual, (2) pembelajaran
  • 11. “Belajar Untuk Masa Depanku”“Direktorat PSMP - QEC24711”10yang menyenangkan (joyful learning), dan (3) pembelajaranberdasarkan masalah. Tentu masih banyak pola pembelajaran lainyang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik anak didik dankondisi sekolah serta lingkungannya.Pembelajaran kontekstual artinya pembelajaran yang dikaitkandengan konteks kehidupan siswa dan konteks apa yang sudahdiketahui oleh siswa. Misalnya ketika guru IPS menerangkan hukumpermintaan dan penawaran dalam ekonomi, dalam mengajar gurumemulai dengan meminta siswa membandingkan harga buah-buahanpada saat musim panen dan pada saat tidak musim panen. Tentu siswapaham bahwa pada saat musim panen harga buah lebih murahdibanding pada saat tidak panen. Hal serupa juga terjadi pada hargabarang-barang lainnya. Fenomena yang sudah diketahui sebelumnyaitu dapat digunakan sebagai awalan dan konteks untuk menjelaskanhukum permintaan dan penawaran.Bahkan pada tahap tertentu pola pembelajaran kontekstual dapatditeruskan dengan mendorong siswa menarik kesimpulan sendiri,sehingga seakan-akan mereka menemukan “teori” atau “hukum” baru.Misalnya ketika siswa menyebutkan “ya saat panen produksi buahmangga banyak sehingga harganya turun”. Setelah itu siswa dapatdipancing dan didorong untuk membandingkan jumlah penawaran danpermintaan, sehingga dapat menyimpulkan “ketika jumlah penawaranmelebihi permintaan harga akan turun, sementara jika penawaranlebih sedikit dibanding permintaan harga akan naik.” Ketika itu gurudapat menyebutkan “itulah hukum penawaran dan permintaan dankalian telah menemukan sendiri”. Tentu mereka akan bangga, karenamerasa mampu menemukan hukum itu tanpa diajari oleh orang lain.Kebanggaan seperti itu menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasibelajar.Pembelajaran yang menyenangkan artinya pembelajaran yangdapat membuat siswa senang dan bukan merasa terpaksa ikutpelajaran. Agar siswa senang dalam belajar, maka prinsip pemrosesaninformasi patut diperhatikan. Siswa akan menyenangi situasi belajarjika apa yang dipelajari sesuai dengan apa yang diperlukan atau sesuaidengan hobinya, paling tidak terkait dengan apa yang dibutuhkan atauhobinya. Di samping itu, siswa akan senang belajar jika situasinyamenyenangkan. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untukmengkaitkan pembelajaran dengan apa yang pada umumnya disenangioleh siswa dan menyelipkan humor yang dapat menarik perhatiansiswa.
  • 12. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP11Siswa SMP kelas VII pada umumnya masih dalam taraf berpikiroperasional konkrit sehingga pembelajaran yang pada umumnyadisenangi adalah yang terkait atau paling tidak dapat dikaitkan ataumengambil contoh kehidupan remaja sehari-hari. Adapun pokokbahasan yang sedang dipelajari akan menjadi menarik bagi siswa jikadikaitkan kehidupan mereka sehari-hari.Interaksi antar teman juga merupakan aktivitas yang disenangi olehremaja seusia siswa SMP. Oleh karena itu, aktivitas kelompokmerupakan sesuatu yang menyenangkan bagi mereka. Jika prosespembelajaran dapat diwujudkan dalam kerja kelompok atau palingtidak siswa dapat mendiskusikan dengan teman akan membuat situasipembelajaran lebih menyenangkan.Pembelajaran berdasarkan masalah artinya pembelajarandidasarkan pada problema sehari-hari dan dalam pembelajaran siswadiajak untuk memecahkannya. Melalui pembelajaran semacam itusiswa akan merasa ditantang untuk mengajukan gagasan. Biasanyaakan muncul berbagai gagasan dan siswa akan saling memberikanalasan dari gagasan yang diajukan. Dalam proses pembahasan gagasanitu akan terjadi interaksi dan pemaduan gagasan yang pada akhirnyamengarah pada saling melengkapi. Siswa biasanya sangat senangkarena merasa mampu memecahkan masalah yang diberikan.Contoh pembelajaran berdasarkan masalah adalah kegiatan belajartentang cara mengatur kebersihan di sekolah. Mata pelajaran PKndapat menggunakan masalah kebersihan sekolah sebagai tema untukmembahas topik tanggung jawab sosial. Tema kebersihan juga dapatdigunakan sebagai tema Matematika dalam topik yang sesuai.Kegiatan yang paling pokok dalam pembelajaran berdasarkan masalahadalah dicari masalah sehari-hari yang dihadapi siswa, kemudianmasalah itu dipecahkan dengan topik yang akan diajarkan.Karena bekal awal siswa baru SMP pada umumnya sangat beragam,maka pembelajaran kooperatif (cooperative learning) sangat cocokuntuk diterapkan. Pada pola ini siswa dikelompokkan dalamkelompok setara, tetapi anggota masing-masing kelompok terdiri dariindividu yang heterogen dilihat dari bekal awalnya. Sederhananya,dalam setiap kelompok terdapat siswa yang pandai, sedang dankurang. Selama pembelajaran, setiap kelompok dirancang untukbekerjasama dan didorong agar semua anggota kelompok memahamiapa yang dipelajari. Penilaian bukan hanya berdasarkan ataspemahaman masing-masing anggota kelompok, tetapi juga
  • 13. “Belajar Untuk Masa Depanku”“Direktorat PSMP - QEC24711”12pemahaman kelompok. Artinya nilai kelompok akan berpengaruhterhadap penilaian individu yang menjadi anggotanya. Jadi siswa yangpandai akan terimbas oleh nilai siswa yang kurang pandai, jika siswatersebut tetap tidak paham materi yang dipelajari pada saat penilaian.
  • 14. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP13BAB IIIPOLA PENGATURAN DAN PELAKSANAANPROGRAM BRIDGING COURSE DI SEKOLAHA. Pengaturan Program Bridging Course di SekolahSeperti yang sudah diuraikan sebelumnya, program BC dilaksanakandengan tujuan untuk meningkatkan bekal awal siswa SMP, sehinggapada saat pembelajaran untuk kurikulum SMP, siswa dapat mengikutikegiatan dengan baik. Oleh karena itu, seharusnya program BCdilaksanakan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Selain itu, BCdapat juga dilaksanakan untuk penyiapan program tertentu. MisalnyaBC bahasa Inggris untuk mempersiapkan siswa-siswa yang akanmengikuti program pembelajaran dalam bahasa Inggris.Pada awal tahun pelajaran, sekolah sudah memiliki program MasaOrientasi Siswa (MOS) yang bertujuan untuk mengenalkan siswayang baru lulus SD kepada situasi kehidupan dan pembelajaran diSMP. Dengan demikian, antara MOS dan BC memiliki kaitan yangerat. MOS lebih berfokus pada kehidupan secara umum di sekolah,sementara BC berfokus pada peningkatan bekal awal siswa. Olehkarena itu keduanya dapat dan sebaiknya diintegrasikan menjadikegiatan penyiapan siswa baru agar lebih siap mengikuti kegiatanpembelajaran baik yang menyangkut materi ajar (lewat BC) maupunkehidupan sosial di sekolah (lewat MOS). Namun demikian, sekolahdapat mengalokasikan waktu yang lebih lama dari waktu yangdiperuntukkan pada program MOS. Untuk keperluan tersebut, sekolahdapat melakukan koordinasi dengan Dinas PendidikanKabupaten/Kota setempat untuk keperluan pembinaan.Mekanisme pengintegrasian program BC dengan MOS di sekolah,sangat tergantung pada program yang direncanakan oleh sekolah.Sekolah dapat mengatur sesuai dengan kondisi sekolah dankarakteristik siswa baru. Sebagai contoh, BC dapat dijadikan topikyang dibahas, sedangkan cara pembahasan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah menerapkan prinsip MOS. Tentu saja ada beberapasubstansi MOS yang juga perlu untuk diangkat menjadi topik,misalnya topik mengenal diri yang berasal dari MOS dipadukandengan topik PKn atau bahkan Matematika. di SD yang dianggapsukar oleh siswa.
  • 15. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP14Apakah semua mata pelajaran perlu diikutkan dalam program BC atauhanya mata pelajaran tertentu? Sekolah yang harus menentukan halini. Prinsipnya program BC ingin membantu siswa baru SMP agarmemiliki bekal awal cukup baik sehingga dapat mengikuti prosespembelajaran di SMP dengan baik. Pada mata pelajaran juga dipilihpokok bahasan atau topik yang pada umumnya sulit bagi siswa danpokok bahasan yang merupakan prasyarat bagi pembahasan pokokbahasan lainnya. Namun harus dipahami bahwa waktu pelaksanaanBC tidak terlalu banyak. Pada ujicoba di Kabupaten Bogor, Serangdan Kota Bekasi, waktu yang digunakan bervariasi antara 1–2 mingguyang sudah diintegrasikan dengan program MOS. Namun demikian,sekolah dapat menentukan sendiri lama waktu yang diperlukan sesuaidengan kebutuhan sekolah tersebut.Dengan demikian, jadwal atau struktur program BC tidak harusseragam antara sekolah satu dengan lainnya, termasuk materi yangakan digunakan dalam program BC. Setiap sekolah dapat mengatursesuai dengan karakteristik siswa baru dan kondisi sekolah sehinggasiswa dapat mengikuti program dengan senang seperti yangdiharapkan agar siswa dapat lebih siap untuk mengikuti program-program berikutnya di sekolah.B. Desain Pelaksanaan Bridging Course di SekolahPelaksanaan BC di sekolah perlu dirancang sedemikian rupa, yangdapat digunakan sebagai dasar pedoman sekolah dalampenyelenggaraannya. Perancangan yang baik akan menghasilkan danmencapai tujuan BC seperti yang diinginkan.Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pelaksanaan BC menjadisatu dengan kegiatan masa orientasi siswa (MOS), meskipun tidakmenutup kemungkinan dilaksanaan pada kegiatan-kegiatan lain selainpada saat MOS dengan tujuan yang juga berbeda. Misalnya pada saatwaktu luang setelah kenaikan kelas, yang bertujuan untukmemberikan bekal umum kepada siswa untuk mempersiapkan materidi jenjang berikutnya. Oleh karena itu, untuk menjaminterselenggaranya BC dengan baik dan lancar perlu dibuat suatu desainatau rancangan yang memadukan antara kedua kegiatan tersebut.Sebagai suatu gambaran dalam perencanaan pelaksanaan BC disekolah, perlu disusun komponen kegiatan pokok sebagai berikut:
  • 16. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP151. Melaksanakan sosialisasi dan penjelasan tentang konsep danpenyelenggaraan BC kepada warga sekolah dan stakeholderdengan melibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;2. Membentuk kepanitiaan untuk penyelenggaraan BC;3. Melaksanakan pre-test kepada siswa baru untuk mengetahuikompetensi atau kemampuan awal siswa;4. Melaksanakan pembelajaran kepada siswa sasaran denganmenggunakan materi (modul) yang telah disediakan sebelumnya,dengan rambu-rambu komponen dan kegiatan yang ada antaralain meliputi:a. Terdapat pembagian tugas antara pelaksanaan BC denganMOS, jika program BC disubstitusikan dengan kegiatanMOS;b. Penyiapan atau pembekalan terhadp fasilitator atau guru yangakan melaksanakan program BC untuk mata pelajarantertentu (sesuai dengan yang sudah diputuskan oleh sekolah);c. Terdapat penjadwalan yang menjamin terjadinyapembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan,tidak monoton;d. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dan relevan;e. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat dan relevan;f. Penggunaan sistem evaluasi yang tepat dan relevan;g. Penambahan sumber-sumber belajar yang relevan;h. Dan lain-lain komponen / kegiatan yang diperlukan.5. Melaksanakan post-test untuk mengetahui hasil pelaksanaanpembelajaran atau kompetensi/kemampuan siswa atau tanggapansiswa terhadap pelaksanaan program yang bertujuan untukmengetahui kondisi peserta didik antara sebelum dan sesudahpelaksanaan BC;6. Melaksanakan monitoring dan evaluasi mulai dari persiapan,pelaksanaan, dan akhir kegiatan (purna BC);7. Membuat laporan yang berisi tentang: hasil-hasil BC danpenyelenggaraan BC, dengan dilampiri berbagai dokumen yangrelevan termasuk beberapa rekomendasi untuk keperluanpelaksanaan program sejenis di masa yang akan datang. Laporanini dibuat rangkap sesuai dengan kebutuhan yang diperuntukkanpada unsur-unsur dan dinas terkait, misalnya untuk: komite
  • 17. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP16sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas PendidikanPropinsi, dan arsip sekolah.Penyelenggaraan program BC diharapkan dapat dibiayai sendiri olehsekolah atau lembaga penyelenggara program. Besarnya dana yangdiperlukan untuk menyelenggarakan program BC di sekolahtergantung kepada lama berlangsungnya program dan jumlah sasaranmurid yang mengikuti program BC. Dana peruntukan dengankeperluan sebagai berikut: (1) biaya operasional persiapan program(misalnya: rapat), dan (2) biaya operasional pelaksanaan (misalnya:honor guru, transportasi, konsumsi, penggandaan materi, media, danATK).C. Tahap Pelaksanaan Perluasan Pelaksanaan Bridging CourseTahap PersiapanPada tahap ini beberapa yang perlu dilaksanakan di antaranya adalah:a. Kegiatan rapat-rapat persiapan sekolah termasuk melakukankoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Pada tahap persiapan inijuga dilakukan penetapan mekanisme pelaksanaan programsecara menyeluruh oleh sekolah berdasarkan hasil evaluasiterhadap program BC yang sudah dilakukan sebelumnya jikasekolah sudah pernah melakukan program ini.b. Penentuan materi yang akan disampaikan pada saat BC.Penentuan materi ini sangat penting mengingat perlu disadaribahwa pola penyampaian materi dalam program BC ini berbedadengan pola penyampaian materi pada pembelajaran yang biasadilakukan. Oleh karena itu penentuan dan pengembangan materiharus dilakukan secara berhati-hati dengan mempertimbangkantujuan program BC dilakukan. Materi yang telah dikembangkankemudian digandakan oleh panitia pelaksana. Pada tahap ini jugaakan dilaksanakan persiapan-persiapan yang bersifatadministratif.Sosialisasi ProgramSosialisasi yang dilakukan oleh sekolah dilakukan dalam bentuk rapatyang melibatkan warga sekolah termasuk Komite Sekolah dan unsurdari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Sedangkan sosialisasi ditingkat pusat dilakukan melalui rapat koordinasi tingkat pusat yangdiikuti oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kepala Dinas
  • 18. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP17Pendidikan Kabupaten/Kota. Untuk sosialisasi tingkat provinsidilaksanakan melalui rapat koordinasi tingkat provinsi yang diikutioleh Ketua TTK, Subdin Program, dan Konsultan Kab/Kota.Sosialisasi tingkat Kabupaten/Kota dilakukan melalui rapat kerja yangdiikuti oleh Kepala Sekolah SMP, Ketua Komite Sekolah, dan DewanPendidikan Kabupaten/Kota. Program ini sejak tahun 2007 sudahtidak disediakan dana dari pusat. Oleh karena itu mulai tahun 2007pelaksanaan program ini diserahkan ke sekolah secara mandiri,dengan pengawasan dan koordinasi Dinas PendidikanKabupaten/Kota setempat.Tahap Verifikasi dan Penentuan Sekolah Pelaksana ProgramDinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat menentukan sekolah yangharus melaksanakan program ini. Namun demikian, sekolah dapatmelakukan program ini secara mandiri asal daya dukung yang dimilikioleh sekolah tersebut memungkinkan. Dalam penentuan sekolah yangharus melaksanakan program BC, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kotadapat menempuh mekanisme tertentu melalui tahapan verifikasi.Verifikasi dapat diawali dengan menentukan kriteria. Berdasarkankriteria tersebut Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan seleksiterhadap SMP yang mengajukan proposal program BC, yakni denganlangkah berikut: (1) mengumpulkan proposal program penggalanganpartisipasi masyarakat di bidang pendidikan dari berbagai lembaga,dan (2) berdasarkan proposal yang masuk, TTK melakukan seleksiproposal sesuai dengan ketentuan: (a) menilai proposal yang diajukanoleh lembaga, (b) melakukan kunjungan lapangan untuk melakukanverifikasi data dan program-program yang diusulkan oleh lembagapenyusun proposal, serta (c) berdasarkan hasil penilaian proposal danverifikasi lapangan, tim membuat rangking lembaga calon pelaksanaprogram. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota berdasarkanhasil seleksi tersebut menentukan sekolah-sekolah yang mampu atauselayaknya melaksanakan program BC.Tahap Pelatihan bagi Pelaksana ProgramSekolah-sekolah yang baru memulai program BC, perlu mendapatkanpelatihan. Pelatihan bagi pelaksana program BC yang baru inimerupakan kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan programini. Dalam hal ini guru-guru, kepala sekolah, dan salah satu anggota
  • 19. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP18komite sekolah dari sekolah yang menjadi sasaran perluasanpelaksanaan BC adalah pihak pelaksana program yang perlumengikuti pelatihan. Guru yang diikutsertakan untuk mengikutipelatihan ini adalah guru yang akan memberikan BC kepada parasiswa. Misalnya untuk program BC yang disubstitusikan dengankegiatan MOS, dapat dilibatkan guru yang terdiri atas 5 (lima) matapelajaran, yaitu: matematika, IPA (fisika, biologi), PKN, IPS(geografi, sejarah, ekonomi), dan bahasa Indonesia.Mengingat mulai tahun 2007, Direktorat Pembinaan SMP tidak lagimengadakan pelatihan secara terpusat untuk sekolah-sekolah yangakan melaksanakan program ini, maka Dinas PendidikanKabupaten/Kota dapat melaksanakan kegiatan pelatihan denganmelibatkan sumber daya manusia yang berasal dari sekolah-sekolahyang sebelumnya sudah melaksanakan program BC. Untuk keperluantersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dapat memodifikasistruktur program yang selama ini diterapkan oleh DirektoratPembinaan SMP (terlampir).Materi pelatihan lebih menekankan pada memberi pembekalamkepada sekolah (dalam hal ini kepala sekolah) dan guru dalammelaksanakan program BC. Untuk peserta kepala sekolah dan komite,materi lebih menitikberatkan pada perencanaan pelaksanaan BCdengan produk akhir adalah dihasilkannya proposal kegiatan BCtermasuk mekanisme pelaksanaan BC di sekolah dan bagaimanamengevaluasi keterlaksanaan program ini di sekolah. Untuk guru matapelajaran, lebih menitikberatkan pada memberikan pembekalankepada mereka bagaimana penyampaian materi pembelajaran dalamprogram BC dengan konsep-konsep yang melandasinya.Instruktur dalam pelatihan ini dapat melibatkan para guru yangsebelumnya sudah melaksanakan program BC di sekolah atau paraguru yang sudah mengembangkan materi untuk keperluanimplementasi program BC di sekolah. Di samping itu, akan lebih baikjika pelatihan ini juga melibatkan instruktur dari perguruan tinggiyang memahami atau berkompeten dalam bidangnya. Pelatihan akandilakukan dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan kerjakelompok. Metode ceramah digunakan untuk materi tentang konsepBC. Melalui kegiatan diskusi diharapkan para peserta tidak akanmerasa digurui. Melalui kerja kelompok, para peserta dikelompokkansesuai dengan mata pelajaran yang diampu masing-masing. Disamping itu, para peserta dari kelompok mata pelajaran Biologi danFisika disatukan untuk memperoleh materi hakikat IPA dan IPA
  • 20. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP19terpadu, dan para peserta dari kelompok mata pelajaran Sejarah,Geografi, dan Ekonomi disatukan untuk memperoleh materi hakikatdan IPS terpadu. Kegiatan lain yang dilakukan adalah diskusikelompok yang diikuti oleh kepala sekolah, dan komite sekolah.Diskusi dimaksudkan untuk membuat rancangan pelaksanaan programBC di masing-masing sekolah.Tahap Pelaksanaan ProgramTahap ini merupakan tahap yang terpenting dalam pelaksanaanprogram BC. Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan BC sebagaimanatelah dirancang oleh masing-masing sekolah pelaksana program ataspersetujuan dan koordinasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.Dalam tahap ini di masing-masing sekolah akan berlangsung beberapakegiatan berikut: (a) konsolidasi program sekolah, (b) sosialisasi bagiwarga sekolah, (c) proses pelaksanaan BC, serta (d) kegiatan-kegiatanlain yang mendukung kelancaran kegiatan BC.Tahap Monitoring, Evaluasi, dan PelaporanTahap ini digunakan untuk melihat apakah program yang telahdirencanakan dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Evaluasisemacam ini perlu dimasukkan ke dalam laporan akhir sehinggapihak-pihak yang akan menyelenggarakan kegiatan serupa dapatmengambil manfaat dari hasil evaluasi ini.Laporan setidak-tidaknya memuat:Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan program, sasaran, danhasil yang diharapkan.Bab II Pelaksanaan, berisi persiapan kegiatan, proses pelaksanaankegiatan, dan hasil yang dicapai.Bab III Pembahasan, berisi tentang hasil pelaksanaan kegiatan danhambatan-hambatan yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan, danupaya-upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi.Bab IV Penutup, berisi kesimpulan dan rekomendasi.
  • 21. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP20C. Unsur-Unsur terkait dengan Perluasan PelaksanaanProgram Bridging CoursePelaksana program ini adalah sekolah melalui persetujuan dankoordinasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.Pelaksana di Kabupaten/Kota adalah Dinas PendidikanKabupaten/Kota dalam hal ini. Tim Teknis Kabupaten/Kota (TTK),dengan tugas pokok berikut.1. Menetapkan pedoman program.2. Melakukan pemetaan terhadap SMP yang siswa barunyamengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolahtersebut.3. Mensosialisasikan program kepada masyarakat di wilayahnya.4. Melakukan seleksi lembaga calon pelaksana program denganlangkah-langkah sebagai berikut: (a) menilai proposal yangdiajukan oleh lembaga, (b) melakukan kunjungan lapangan untukmemverifikasi data dan program-program yang diusulkan olehlembaga penyusun proposal, serta (c) berdasarkan hasil penilaianproposal dan verifikasi lapangan, tim membuat peringkat lembagacalon pelaksana program.5. Memberi masukan kepada lembaga yang mengajukan proposalprogram untuk merevisi proposalnya.6. Menerima proposal yang telah direvisi dari lembaga.7. Mengesahkan proposal program dengan melakukanpenandatanganan berita acara pengesahan proposal.8. Memantau dan mengevaluasi penyaluran dana dan penggunaandana program di wilayahnya masing-masing.9. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program di wilayahnya.10. Memberikan pembinaan kepada lembaga pelaksana programterkait dengan pengembangan, pelaksanaan, dan penggunaan danaprogram.Pelaksana pada tingkat sekolah adalah panitia yang dibentuk olehsekolah untuk melaksanakan program BC. Panitia tersebut memilikitugas pokok sebagai berikut:1. Melakukan sosialisasi program ke berbagai pihak, terutamakepada orangtua siswa baru.
  • 22. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP212. Menyusun rencana program.3. Menyerahkan proposal kepada TTK.4. Mengikuti perkembangan proses dan hasil seleksi proposal.5. Merevisi proposal program berdasarkan masukan dari TTK.6. Menyerahkan proposal yang telah direvisi kepada TTK.7. Memanfaatkan dana program untuk merealisasikan programseperti tertuang dalam proposal program yang telah disetujui olehTTK.8. Membukukan semua jenis pemasukan dan pengeluaran danaprogram.9. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan program.
  • 23. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP21BAB IVPENUTUPPelaksanaan program BC yang diintegrasikan dengan kegiatan MOS inimerupakan program yang dapat digunakan untuk menginisiasi agar prosesbelajar mengajar selanjutnya di SMP dapat berlangsung lebih baik dengankesiapan awal siswa yang lebih baik dan relatif lebih seragam. Dengandemikian, pola pengorganisasian dan pengelolaan kelas akan lebih mudahsehingga prestasi belajar siswa dapat dicapai, termasuk mengurangi angkadrop out. Namun demikian pola pembinaan dari Dinas Pendidikan provinsidan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sangat diperlukan terkait denganpola pengaturan waktu antara MOS dan BC mengingat banyaknya masukandari lapangan bahwa program MOS di beberapa Kabupaten/Kota tidakboleh diintegrasikan dengan program BC.
  • 24. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP20Lampiran:Contoh program pelatihan/pembekalan bridging courseJadwal Pelaksanaan Pelatihan/Pembekalan Bridging CourseHari/Tanggal Waktu Kegiatan Pemateri Keterangan14.00 - Check in19.00-19.30 PembukaanH-119.30 –21.00Konsep BridgingCourse1 nara sumber Pleno:KepalaSekolah,KomiteSekolah, GuruMapel07.30 –08.30DesainPelaksanaanBridging Coursedi Sekolah1 nara sumber Pleno: KepalaSekolah,KomiteSekolah, GuruMapel08.30 –09.30DiskusiKelompokPerancanganBridging Coursedi tiap Kabupaten/ Kota1 nara sumber Kelompok persekolah09.30 –10.00ISTIMIN10.00 –12.00MelanjutkanDiskusiKelompokPerancanganBridging Coursedi tiap Kabupaten/ Kota1 nara sumber Kelompok persekolah12.00 –13.30ISHOMAH-213.30Catatan : pesertamasuk ke kelasmapel
  • 25. Belajar Untuk Masa DepankuQEC24711 - Panduan Pelaksanaan Bridging Course SMP21Jadwal Pelatihan Bridging Course : Diskusi Kelompok Guru Mapel
  • 26. Belajar Untuk Masa DepankuDirektorat PSMP22