Sistem rantai pasok konstruksi sislognas samarinda

  • 1,788 views
Uploaded on

Describes the relationship between construction supply chain and heavy equipment supply chain in Indonesia

Describes the relationship between construction supply chain and heavy equipment supply chain in Indonesia

More in: Business
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • cara downloadnya gmn ya ?
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • Nice posting
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
1,788
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
92
Comments
2
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Penerapan Sistem Rantai Pasok Konstruksi Dalam Kerangka Sistem L i tik N i Si t Logistik Nasional l Togar M. Simatupang Masyarakat Logistik dan Rantai Pasok Indonesia (MLRI) Disampaikan pada Forum Diskusi “Peningkatan Kapasitas Sistem Rantai Pasok Material dan Peralatan Konstruksi untuk Mendukung Investasi Infrastruktur Pekerjaan Umum di Provinsi Kalimantan Timur” Samarinda ‐ 11 Oktober 2012
  • 2. Kilasan• Pengantar• Belanja Infrastruktur j• Sistem Logistik Nasional• Rantai Pasok Konstruksi• Rantai Pasok Alat Berat• Analisis SWOT• Usulan Kebijakan• Penutup 2
  • 3. Pengantar• Infrastruktur transportasi, energi, dan telekomunikasi merupakan salah satu roda f k i i d l k ik i k l h d penggerak pertumbuhan ekonomi yang terpenting. • Belanja infrastruktur memiliki efek berganda, selain dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, meningkatkan efisiensi perekonomian nasional, dan memperbaiki keterhubungan internal dan kawasan.• Infrastruktur menjadi kunci utama untuk menghidupkan sektor riil, mendukung pengembangan manufaktur dan program hilirisasi, sekaligus berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja dan mengurangi angka kemiskinan.• Buruknya infrastruktur dan sistem logistik membuat biaya distribusi barang menjadi mahal. Disparitas harga barang antara Jawa dan luar Jawa juga tinggi.  Kelemahan infrastruktur ini jugalah yang membuat investasi kurang deras mengalir.• Pemerintah menghadapi tantangan yang besar dalam menyediakan infrastruktur yang lebih baik dalam rangka meningkatkan daya saing.• Alat berat merupakan salah satu unsur pembantu dalam mewujudkan target  p pembangunan infrastruktur yang andal. g y g 3
  • 4. Faktor penghambat bisnis di Indonesia  p g (Sumber: GCR 2012‐2013) Buruknya infrastruktur menjadi  Buruknya infrastruktur menjadi titik lemah iklim investasi di  negeri ini. Kelemahan itu  membuat daya saing Indonesia  tahun 2012‐2013 (GCR 2012‐ 2013) turun dua peringkat ke  posisi 78 dari 144 negara yang  disurvei oleh World Economic  disurvei oleh World Economic Forum (WEF).  WEF bahkan menyebut  infrastruktur menjadi masalah  terbesar ketiga di Indonesia  b k d d setelah inefisiensi birokrasi dan persoalan korupsi.  4
  • 5. Belanja Infrastruktur Rendah Persentase PDB10 9 8 7 6 5.34 5 4.39 4 39 4.1 4.56 4 56 4 3.53 3.133.12 2.78 3 2.33 2.6 2.7 2.9 2 2.3 2.1 2.21 2 1.19 1 Sebelum terjadi krisis moneter pada tahun 1998, investasi  infrastruktur Indonesia sekitar 7% dari PDB, tapi setelah masa krisis  i f k I d i ki 7% d i PDB i l h kii menurun menjadi 3,5% dari PDB. Belanja infrastruktur pada tahun 1994 sebesar 5,3% dan turun sekitar 1,2% pada tahun 2005.  5
  • 6. Ketertinggalan Pembangunan  Infrastruktur 6
  • 7. Sistem Logistik Nasional 7
  • 8. MP3EI• MP3EI bertujuan mempercepat k 3 b j kemajuan d l j dalam spektrum yang luas d i sektor k l dari k ekonomi, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan dan energi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. • Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dan  Kementerian Koordinator Perekonomian, akan menyediakan pembiayaan sekitar  Rp 1.900 triliun untuk proyek‐proyek infrastruktur besar dan inisiatif lainnya dalam  waktu lima tahun sampai 2014.  kt li t h i 2014• Pemerintah mengalokasikan dana cukup besar Rp 755 triliun hingga tahun 2014  untuk pembangunan infrastruktur listrik dan energi, jalan, jalur kereta api, bandar  udara dan pelabuhan laut, serta sistem teknologi informasi dan komunikasi. d d l b h l k l f d k k• Pemerintah perlu memberikan kemudahan kepada investor untuk berpartisipasi  melalui skema Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS) atau Public Private Partnership (PPP).• Kontribusi perusahaan swasta dalam skema kerja sama pemerintah dan swasta di Indonesia hanya sekitar 2%, sementara negara lain telah mencapai 20%. 8
  • 9. Kinerja Logistik NasionalPeringkat LPI (Logistic Performance Index) Indonesia dari urutan 43 pada tahun 2007 (indeks = 3,71), menjadi urutan 75 pada tahun 2010 (indeks = 2,76).  9
  • 10. Sislognas & MP3EI Misi Ekonomi Indonesia 2025 “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil,  dan makmur” MP3EI 1 2 Koridor  Konektivitas Ekonomi Sistem Logistik  Nasional Meningkatkan  Meningkatkan  Daya Saing Kesejahteraan IPTEK /  / IPTEKS INOVASI 3 Sumber: Paparan Sislognas 2012• Cetak Biru merupakan arah dan pola pengembangan Sislognas pada tingkat kebijakan makro yang dijabarkan lebih lanjut dalam RKP dan RK-Kementerian/Lembaga setiap tahunnya• Cetak Biru berperan dalam mencapai sasaran RPJMN, menunjang Implementasi MP3EI, dan 10 mewujudkan visi ekonomi Indonesia Tahun 2025
  • 11. C CETAK BIRU Sistem Logistik Nasional... U S ste og st as o a PERPRES No. 26 Tahun 2012  tentang Cetak Biru Pengembangan SISLOGNAS • B b i M j Berbasis Manajemen Rantai  R i Pasok (Supply Chain  Management) PENDEKATAN • Paradigma: ship follows the  UTAMA trade & ship promotes the  trade & ship promotes the trade • Menggunakan pendekatan 6  gg p kunci penggerak utama  logistik (six key drivers)Sumber: Sislognas (2012) 11
  • 12. Enam Penggerak Utama Sislognas gg g Komoditas  Utama  (Key Commodity) Daya saing  Nasional Infrastruktur Logistik Pelaku dan Penyedia Jasa Sumber Daya Manusia (SDM)  Logistik Teknologi Informasi dan  Komunikasi (TIK) Komunikasi (TIK) Kesejahteran  Masyarakat Harmonisasi Regulasi Sumber: Sislognas (2012) 12
  • 13. Milestone Kinerja Logistik Nasional sampai 2025 13Sumber: Sislognas (2012)
  • 14. 1 DRIVER: Komoditas Penggerak Utama Terwujudnya sistem logistik komoditas penggerak utama (key commodities) yang mampu  meningkatkan daya saing produk nasional baik di pasar domestik, pasar regional maupun di pasar  global Tenjamin ketersediaan barang, kemudahan mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau dan stabil, serta rendahnya disparitas harga  antar wilayah di  Indonesia Penghela (driver)  dari seluruh kegiatan logistik. Penyebaran Pusat Distribusi Regional dan Pusat Distribusi propinsi yg  P b P t Di t ib i R i l d P t Di t ib i i i berfungsi sebagai cadangan penyangga nasional dan provinsi 14Sumber: Sislognas (2012)
  • 15. 3 DRIVER: Infrastruktur TransportasiTersedianya jaringan infrastuktur transportasi yang memadai dan handal dan beroperasi secara efisien sehingga terwujud:d h d ld b i fi i hi j d konektivitas domestik (domestic connectivity) baik  konektivitas lokal (local connectivity) maupun  konektivitas lokal (local connectivity) maupun konektivitas nasional (national connectivity) dan  konektivitas global (global connectivity) yang g g y y gterintegrasi, dengan transportasi laut dan transportasi massal sebagai tulang punggungnya. 15
  • 16. Jaringan Transportasi Laut sebagai Backbone Logistik Maritim g g Legend: Konektivitas: Pusat Distribusi Provinsi By sea / by rail By sea / by rail / by land By land / by rail / by sea Pusat Distribusi Nasional Short Sea Shipping Pelabuhan Pengumpan di setiap Kabupaten/Kota, dan Pelabuhan Pengumpul pada setiap Propinsi, Pelabuhan Utama pada beberapa pelabuhan pengumpul tertentu yang memenuhi kriteria, dan Pelabuhan Hub Internasional di Kuala Tanjung untuk Wilayah Indonesia Barat dan Bitung Untuk Wilayah Indonesia Timur 16Sumber: Sislognas (2012)
  • 17. Framework for Implementation Locally Integrated and Globally Connected  for National Competitiveness and Social  MP3EI Wellfare SDM SDM SDM Regulasi dan Kebijakan Corridor Papua & Maluku P Infrastruktur Transportasi Infrastruktur Transportasi K Corridor Sulawesi Corridor Sulawesi R O Saluran Distribusi O N Corridor Kalimantan D S Grosir Distributor Pasar Ritel U S U M Corridor Bali dan Nusra Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik E N E N Corridor Jawa Corridor Jawa Infrastruktur Infomasi (TIK) Corridor  Sumatra Regulasi dan Kebijakan SDM SDM SDM Program and Action Plan  Strategy, Program, and Action  St t P d A ti Ministries, Province/Regency/City Ministries Province/Regency/City Plan Mid Term of National Mid Term of National  Development Plan 17Sumber: Sislognas (2012) Background Substances The challenges of implementation
  • 18. Rantai Pasok Konstruksi 18
  • 19. Rantai Pasok Konstruksi Bangunan Gedung, Jembatan, dan Pondasi Pemasok Material Pemilik Elektrik danPeralatan Mekanik Kontraktor Own, Utama Rent, Kontraktor Lease Umum Kontraktor Pondasi Investor Rantai pasok konstruksi mencakup koordinasi semua bagian dari pemasok, kotraktor, dan pengguna jasa, baik secara langsung maupun tidak Pengguna langsung dalam mencapai tujuan proyek. Jasa (owner) 19 Sumber: APPAKSI (2012)
  • 20. Mengapa rantai pasok konstruksi?• Keterhubungan atau k h b konektivitas nasional d ki i i l dan regional akan memperlancar arus  barang, orang, dan jasa.  b d j• Kelancaran arus barang , orang, dan jasa dapat  mengurangi ekonomi biaya tinggi dan membuat  suatu kawasan lebih kompetitif dan kohesif. • Konektivitas akan meningkatkan pertumbuhan  yang seimbang dan kesenjangan pembangunan.• Pemerintah sedang memperkuat investasi dalam  p pembangunan infrastruktur.  g 20
  • 21. Rantai Pasok Konstruksi dan Sistem Logistik NasionalMisi:• Menjamin terpenuhinyatarget konstruksi infrastrukur Pertumbuhan Ekspansi Bisnis• Mewujudkan efektivitas danefisiensi penyelenggaraankonstruksi Perdagangan Ongkos Transaksi• Membina industri konstruksiberkembang dengan baik Damp Rantai Pasok Konstruksi Logistik pak Infrastruktur f k Pemasok Produsen Penyalur Pelanggan Alasan: Perspektif yang lebih luas:  Transportasi Ongkos Transit  aktor, kebutuhan, ketidakpastian,  sebaran informasi, katalog, isu tata niaga Konektivitas Konekti itas Kesempatan kerjasama Hambatan dan keterbatasan 21 implementasi
  • 22. Rantai Pasok Alat Berat 22
  • 23. Definisi Alat Berat• Alat berat adalah alat dan/atau mesin layak pakai yang  / digunakan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan atau menghasilkan sesuatu sesuatu.• Ciri alat berat antara lain alat pengangkat, alat penanganan bahan, alat pemindah, alat bahan alat pemindah alat pembangkit listrik dan tidak listrik, dan digunakan di jalan raya. • Operator alat berat masuk dalam Klasifikasi Baku Jenis  p Pekerjaan Indonesia dalam kategori 833 Operator mesin  pertanian dan mesin bergerak lainnya.  23
  • 24. Alat berat dan infrastruktur• Pembangunan infrastruktur akan meningkatkan permintaan  peralatan modal atau alat berat dan teknologi.• P Peruntukan penyediaan alat b t d i d t k di l t berat dari dana proyek  k infrastruktur sekitar 10‐15%.• Penyediaan alat berat menentukan keberhasilan penyelesaian infrastruktur yang bermutu sehingga akan mendorong  p pertumbuhan ekonomi. Ketidaktersediaan alat berat akan memperlambat laju pembangunan infrastruktur yang akan menghambat perputaran ekonomi.• Pemerintah perlu mengembangkan sistem rantai pasok yang  efektif dan efisien untuk menghindari krisis alat berat di masa  mendatang.  d t 24
  • 25. Karakteristik Rantai Pasok Alat Berat Karakteristik k i ik Kondisi Saat Ini di i iJenis Komoditas Barang modalKetersediaan Al t B tK t di Alat Berat Kekurangan K kPelaku atau Aktor Pengguna, Pemilik, Jasa , Distributor, Produsen, Rantai Pasok Importir, Pemasok Komponen p , pDominasi Rantai  Pasok Agen atau distributorTata Niaga • Harga dan penjualan mengikuti dinamika pasar. • Diatur perijinan: produsen, pemasok, agen, rekondisi,  pembiayaan, jasa, importir • Tidak diatur perijinan: lelang, jual‐beli • K b ih k pada alat untuk k Keberpihakan d l k konstruksi: tidak ada k i id k d • Pemilik: tidak ada pengaturan tanda daftar alat berat • Importir: pengaturan oleh pemerintah • P d Produsen: diatur pemerintah di t i t h 25
  • 26. Jenis Alat Berat Sesuai Fungsi1. Peralatan Konstruksi Bangunan Gedung l ki G d – Tower Crane – Passanger Lift, Genset – Concrete Pump, form work Concrete Pump form work2. Peralatan Jalan dan Jembatan – Launching Beam – Concrete paving, Asphalt Finisher, tire roller Concrete paving Asphalt Finisher tire roller – Batching Plant., Asphalt Mixing Plant3. Peralatan Pondasi – Bore pile, Pilling rig, Diapragm Wall, Boring Grouthing Bore pile Pilling rig Diapragm Wall Boring Grouthing4. Alat Berat untuk Pekerjaan Tanah – Buldozer, Excavator, Copactor, Motor Grader – Wheel Loader, Power Shovel Wheel Loader Power Shovel5. Alat Agkut/Transportasi – Dump truck, Truck Mixer, HDT – Articuleted Truck, Tangker Articuleted Truck, Tangker 26
  • 27. Katalog Produk Hinabi 2012 PRODUCT PICTURE OPERATING WEIGHT CAPACITY 10 ton  45 ton 10 ton – 45 ton 70 HP  325 HP 70 HP – 325 HP Hydraulic Excavator TOOLS & MINING RUCTION New 2011: 200ton (~690 HP) Dump Truck 40 ton – 70 ton (empty) CONSTR 730 HP – 1100 HP  730 HP 1100 HP (Off High Way) (GVW 100 – 170Ton) Bulldozer  17 ton – 28 ton 160 HP – 250 HP Vibrating Roller  RUCTION 10 ~ 15 Ton 100 HP  ~  170 HP HINE Compactor AD ROA MACH CONSTR Static Pneumatic 13 ~ 15 Ton 90 HP  ~  100HP Tire Roller Towing Tractor, Tower light, Fabrication component, casting component, forging  Towing Tractor Tower light Fabrication component casting component forgingothers component, remanufacturing component for heavy equipment 27
  • 28. Tujuan• P Pencapaian k di i t i kondisi terpenuhinya alat b t b i hi l t berat bagi penyelenggaraan konstruksi yang tercermin dari tersedianya alat yang cukup dan baik mutunya secara efektif dan efisien.• Kepastian berusaha bagi pengusaha alat berat dalam  membantu pemerintah dalam pembangunan infrastruktur. membantu pemerintah dalam pembangunan infrastruktur• Para aktor bisnis alat berat: – Pengguna, Pemilik, Agen tunggal (distributor), Pabrikan, Pelayanan Pekerjaan (k (d b ) b k l k (kontraktor) k ) – Penyewaan, Lelang, Pembiayaan, Sewa guna usaha (SGU), Rekondisi, Perawatan dan Perbaikan, Penjualan Suku Cadang, Importir, Pengangkutan (mobilisasi & demobilisasi) 28
  • 29. Pertanyaan• Sejauh mana peta rantai pasok alat berat di Indonesia?• Apa saja permasalahan yang dihadapi oleh rantai pasok alat berat?• Sejauh mana Pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap rantai pasok alat berat? 29
  • 30. Metode Analisis Rantai Pasok Alat Berat Stuktur dan Sasaran: • Definisi alat berat Perilaku Identifikasi • Siklus hidup alat berat • K t l produk Katalog d kPemetaan Rantai Permasalahan • Pemetaan rantai pasokPasok Alat Berat Rantai Pasok Alat alat berat Berat Konstruksi • Rumusan ketersediaan • Rumusan kebutuhan • Keseimbangan kebutuhan dan ketersediaan k t di • Tata niaga alat berat • Permasalahan rantai p pasok alat berat Strategi • Strategi pengembangan Pemenuhan • Rekomendasi kebijakan Analisis SWOT peningkatan efektifitasKebutuhan Alat dan fi i i d efisiensi rantai pasok t i k Berat alat berat 30
  • 31. Pemangku Kepentingan terkait dengan rantai pasok alat beratPemain Utama PendampingHilir • Asosiasi‐asosiasi• Pengguna (APPAKSI, PAABI, HINABI, APARATI)  (APPAKSI, PAABI, HINABI, APARATI)• Pemilik • Kementerian PU• Kontraktor – Pusat• Sub‐kontraktor (jasa pelaksana) – ProvinsiHulu • Kementerian Ke angan Keuangan• Agen tunggal (distributor) – Bea cukai• Produsen Alat Berat – Pajak• Pemasok • Kementerian PedaganganLayanan • Kementerian Perindustrian• Penyewaan (rental) Alat Berat • Kementerian Tenaga Kerja dan• Perawatan Alat Berat Transmigrasi• Lelang dan Jual‐Beli • Kementerian Perumahan Rakyat• Penjualan Suku Cadang• Pembiayaan Alat Berat • Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota• Angkutan Alat Berat• Rekondisi Alat Berat • Lembaga Pelatihan dan Pendidikan 31
  • 32. Situasi Rantai Pasok Alat Berat• Industri alat berat nasional hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan yang mencapai  I d i l b i lh hi 40 k b h i 20.000 unit pada tahun 2011 (PAABI). • Data pusbinsdi.net menunjukkan jumlah alat berat dengan kondisi baik sekitar 83.653 unit.  Sebanyak 87 3% dari ketersediaan alat berat nasional terdaftar di Jakarta 87,3% dari Jakarta.• Perkiraan jumlah alat berat tahun 2011 sekitar 38.315 unit (APPAKSI).• Jumlah alat berat belum akurat karena belum aturan yang memayungi registrasi alat.• Kekuatan pemilik alat adalah dapat menentukan satuan harga secara ekonomis dan mengendalikan target penyelesaian pekerjaan lebih pasti. • Katalog belum ada standar dan masih mengacu pada katalog produser alat berat seperti Caterpilar, Komatso, Kato, Hitachi, Hyundai, Volvo, dan Kobelco.  p , , , , y , ,• Konstruksi Infrastruktur – Persyaratan alat berat berbeda‐beda tergantung pada aturan tender – Permintaan tidak tetap (temporal), volume kecil, variasi tinggi – Informasi rencana investasi tersegmentasi menurut lokasinya – Otonomi daerah yang mengutamakan pengadaan alat berat dengan biaya pembelian minimum dan belum mempunyai perkiraaan kebutuhan alat berat 32
  • 33. Rantai Pasok Alat Berat HULU HILIRPemasok Pabrikan Distributor Pemilik Pelayanan Pengguna Konstruksi Penyewaan y Infrastruktur I f t kt Pemasok Produsen Agen PemilikKomponen Domestik Tunggal Alat Berat Jasa Konstruksi Non‐ Non Pelaksana Infrastruktur Impor Impor Penyedia Suku pKomponen Alat Berat Sektor Lainnya y Cadang d C d dan Perkebunan,  Perawatan Kehutanan, dll. Penjualan dan Lelang Impor Rekondisi Alat Bekas 33
  • 34. Pelaku Rantai Pasok Alat BeratPelaku adalah pihak yang terlibat dalam penjualan (selling), penyewaan p y g p j ( g), p y(rental), dan sewa hak guna usaha (leasing) alat berat yang digunakan dipertambangan, konstruksi, kelautan, kehutanan, industri, dan perkebunan.   Pemasok Produsen Distributor Pemilik Pelayanan Pengguna• Jaminan • Permintaan • Penjualan • Pengadaan/  • Pembayaran •Produktivitaspembelian pasar alat investasi alat alat Alat• Mutu • Peningkatan • Skema •Pemeliharaan • Volume  • Keselamatan• Teknologi kapasitas pembayaran alat transaksi Kerja• Bahan baku produksi • Pengantaran • Depresiasi • Informasi • Alat berat • Kandungan alat alat status   khusus lokal • Sebaran • Pendapatan ketersediaan • Informasi • Tenaga perakit cabang • Pembiayaan alat berat Investasi dan mekanik pemasaran • Mobilisasi dan • Mobilisasi dan • Biaya mesin • Dukungan demobilisasi demobilisasi operasi teknis alat alat • Operator   • Dukungan dan mekanik pemeliharaan 34 alat
  • 35. Asosiasi• Hi bi (A i i I d t i Al t B Hinabi (Asosiasi Industri Alat Besar I d Indonesia) (Heavy  i ) (H Equipment Manufacturer Association of Indonesia) (http://www.hinabi.org/)• Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI)  (Association of Indonesian Sole‐Agents for Heavy  Equipment)• Asosiasi Pengusaha dan Pemilik Alat Konstruksi Indonesia  (APPAKSI) (Indonesian Heavy Construction Equipment  Ownership Association) O hi A i ti )• Asosiasi Perusahaan Rekondisi Indonesia (APRI) • Asosiasi Pengusaha Rekondisi Alat Berat dan Truk Indonesia Indonesia  (Aparati)• Asosiasi Konstruksi Indonesia 35
  • 36. Penjualan Alat Berat 2003 2012 2003‐2012Sumber: PAABI (2012) 36
  • 37. Akumulasi Ketersediaan Alat Berat 2003‐2012Sumber: APPAKSI (2012) Total alat = posisi alat sampai dengan tahun saat ini, yang  37 terdiri alat baru dan alat lama 
  • 38. Distribusi per Sektor Pengoperasian Alat Berat 2011 Total alat 38.315 unitSumber: APPAKSI (2012) 38
  • 39. Perkiraan Ketersediaan Alat Berat 40% 60% Tumbuh 25% Tumbuh 10% Jumlah Alat Berat Pada Tahun t 95% 5% 39
  • 40. Anggapan Proyeksi• Menurut P bi M Paabi, pasar alat berat nasional diperkirakan terus meningkat. P l b i l di ki k i k Pasar alat berat  l b nasional akan mencapai angka 50.000 unit hingga 2015. Proyeksi tersebut menggunakan  asumsi pertumbuhan optimistis dengan rerata 40% per tahun. • Rerata pertumbuhan penjualan alat berat yang moderat sebesar 25% per tahun untuk lima yang moderat 25% per tahun lima  tahun ke depan. • Kebutuhan alat berat bekas yang sudah direkondisi terus meningkat, khususnya untuk  p y p y proyek‐proyek di bawah Rp 10 miliar. Penjualan alat berat rekondisi pada tahun 2013 p j p diperkirakan sebanyak 5.000 unit. Diperkirakan permintaan alat berat rekondisi tersebut akan  tumbuh sebanyak 10% seiring dilaksanakannya berbagai proyek infrastruktur di daerah‐ daerah serta terus meningkatkan kinerja sektor perkebunan dan pertambangan.• Penambahan alat per tahun sama d b h l h dengan jumlah penjualan alat b l h l l berat atau permintaan d l dalam negeri. • Alat berat yang tersedia sebanyak 40.016  unit pada tahun 2012 (berdasarkan data APPAKSI).• Alat Al t yang tidak di tid k digunakan l i ( k lagi (grounded) sekitar 5% d i populasi t h sebelumnya.  d d) kit 5% dari l i tahun b l• Populasi alat yang digunakan di konstruksi sekitar 15% dari total jumlah alat (Narasumber APPAKSI).• Kebutuhan alat berat konstruksi tahun 2013 diperkirakan 40 000 unit dan bertumbuh 25% 2013 diperkirakan 40.000 unit dan 25%  sampai tahun 2017, setelah itu bertumbuh 15% (pengolahan dari Kementerian PU).  40
  • 41. Proyeksi Kebutuhan dan Ketersediaan Alat Berat Periode 2013‐2017 41
  • 42. Selisih Kebutuhan dan Ketersediaan Alat Berat Konstruksi 42
  • 43. Tata Niaga Tata Niaga Alat Berat• Aturan k At kementerian perdagangan untuk t i d t k • Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia  P t M t iK R blik I d i penjualan dan importir Nomor 84/PMK.012/2006 Tentang Perusahaan • Aturan kementerian perindustrian untuk Pembiayaan. Sewa guna usaha (leasing) atau  produksi atau perakitan alat berat sering disingkat SGU adalah kegiatan • Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.  pembiayaan dengan menyediakan barang modal  bi d di k b d l 08/PRT/M/2011 tentang Pembagian  baik dengan hak opsi (finance lease) maupun  Subklasifikasi dan Subkualifikasi Usaha Jasa  tanpa hak opsi (operating lease) untuk  Konstruksi.  digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan  l j k kt t t t b d k• Peraturan Menteri Perindustrian No. 14/M‐ pembayaran secara angsuran. IND/PER/2/2012 tentang Ketentuan Pemberian  Rekomendasi atas Impor Barang Modal Bukan  • Dasar hukum pengenaan pajak terhadap alat‐ Baru alat berat sesuai dengan Pasal 1 angka 13, Pasal  5 ayat (2), Pasal 6 ayat (4), dan Pasal 12 ayat (2) • Peraturan Direktur Jenderal Industri Logam  UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah  Mesin Tekstil dan Aneka No.  dan Retribusi Daerah 05/HMTA/PEIR/2/2008 tentang Pedomen Teknis  Pelaksanaan Verifikasi Kemampuan Perusahaan  Pelaksanaan Verifikasi Kemampuan Perusahaan • Keputusan Presiden tentang Pengadaan Barang Rekondisi Alat Berat dan Selain Alat Berat dan Jasa Pemerintah• Aturan pajak‐pajak yang terkait dengan • Sertifikat Badan Usaha (SBU) UU No. 18 perniagaan alat berat 43
  • 44. Upaya Pemerintah untuk mendukung konstruksi infrastruktur• Reformasi peraturan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur melalui peraturan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur melalui  dasar hukum pembebasan lahan.• Agenda akselerasi pembangunan infrastruktur dalam RAPBN‐2013 didukung  dengan penerbitan Perpres 70/2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah  dan Perpres 71/2012 tentang Tata caraPengadaan Tanah untuk pembangunan dan  kepentingan umum. Kedua Perpres ini diharapkan dapat memberikan insentif bagi  upaya percepatan pembangunan infastruktur sehingga target pembangunan dan  p pemerataan pertumbuhan dapat lebih meningkat lagi. p p g g• Pemerintah sudah menawarkan pola kerjasama konsesi pemerintah dengan swasta dengan Peraturan Presiden No. 56 tahun 2011 tentang kerjasama swasta untuk  pengerjaan infrastruktur. Sejumlah poin utama dalam Perpres tersebut diantaranya  mengatur dukungan pemerintah dalam bentuk pengadaan  mengatur dukungan pemerintah dalam bentuk pengadaan tanah, perizinan, pajak, pengerjaan proyek, dan bina sosial. • Pemerintah juga telah menerbitkan Undang‐Undang No. 2 Tahun 2012 tentang  Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, dan Peraturan  Presiden No. 71 tahun 2012 sebagai dasar pelaksanaan. D P id N 71 t h 2012 b i d l k Dengan UU  UU tersebut, waktu negosiasi dipersingkat sehingga mempercepat pengadaan tanah.  Selain itu, harga tanah ditetapkan oleh penilai independen. 44
  • 45. Permasalahan Rantai Pasok Alat Berat (1)• Informasi proyek d k b h alat f i k dan kebutuhan l • Belum dib l k k persyaratan l diberlakukan berat yang terbatas dukungan pemilik alat dalam• Permintaan bidang konstruksi yang  sertifikat badan usaha tidak tetap dan berjangka waktu • Keterbatasan modal pemilik pendek • Pola pembiayaan yang masih• Informasi ketersediaan alat yang  terbatas terbatas • Waktu pesan pengadaan alat yang • Katalog produk yang belum cukup panjang komunikatif • Regulasi impor alat khusus konstruksi g p• Syarat tender yang bias ke arah yang merepotkan merek tertentu bukan spesifikasi • Harga beli alat sensitif terhadap yang berdasarkan daur kepemilikan harga bahan baku dan komponen alat secara menyeluruh impor• Belum ada dokumen legal atau • Pajak berganda untuk mobilisasi dan nomor registrasi alat yang  g y g domisili alat menyatakan bukti kepemilikan 45
  • 46. Permasalahan Rantai Pasok Alat Berat (2)• Belum adanya standar‐standar l k l d d d layak • Keselamatan k j d pelestarian l kerja dan l i pakai, kualitas kerja, teknologi, dll. lingkungan yang belum standar• Aji mumpung (moral hazard) • Rendahnya kompetensi mengambil untung dari ketimpangan operator, mekanik, dan perakit alat permintaan dan ketersediaan berat• Kemampuan manajemen aset yang  • Belum ada standar kompetensi terbatas pada para pemilik operator alat berat• Ketersediaan lahan antara untuk • Keterbatasan informasi dukungan melakukan pemeretelan dan logistik bahan bakar, ban, dan suku perakitan ulang pada saat mobilisasi cadang alat • Keterbatasan kapasitas produsen• Pengantaran alat ke lokasi proyek lokal alat berat terkadang mendapatkan kesulitan • Tingginya suku bunga pinjaman akibat akses jalan yang sempit dan sebesar 12‐14%. buruk 46
  • 47. Analisis SWOT Rantai Pasok Alat Berat SWOT Rantai 47
  • 48. Analisis SWOT Faktor Internal Kekuatan K k t (+) Kelemahan ( ) K l h (‐)• Pemilik alat berat mempunyai spesialisasi di bidang • Pola pembiayaan alat berat masih terbatas (W1) konstruksi (S1) • Informasi terbatas tentang ketersediaan dan• Lengkapnya asosiasi‐asosiasi yang mewakili rantai g p y y g kepemilikan alat berat (W2) p ( ) pasok alat berat (S2) • Belum adanya standar‐standar layak pakai, teknologi,  keselamatan, lingkungan, dan katalog (W3) • Kurangnya komposisi dan kompetensi operator dan mekanik (W4) ( ) Faktor Eksternal F kt Ek t l Peluang (+) Ancaman (‐)• Pertumbuhan investasi konstruksi yang meningkat • Kekurangan alat berat untuk kegiatan konstruksi (O1) infrastruktur (T1)• Regulasi yang memudahkan perencanaan,  • Permintaan bidang konstruksi yang tidak tetap,  pelaksanaan, dan pembiayaan proyek konstruksi berjangka waktu pendek, dan kriteria alat yang tidak (O2) transparan (T2) • Pajak Berganda (T3) • Prosedur impor alat berat khusus yang merepotkan48 (T4)
  • 49. Peluang (+) Ancaman (‐) Strategi  O1 Peningkatan nilai investasi T1 Keterbatasan alat berat untuk Berdasarkan  Berdasarkan konstruksi infrastruktur k t k i i f t kt konstruksi T2 Permintaan berjangka pendek Matriks TOWS O2 Reformasi regulasi pemerintah untuk mempercepat T3 Prosedur impor alat berat pembangunan infrastruktur khusus yang menyulitkan yang menyulitkan Kekuatan (+)S1 Pemilik dengan spesialisasi S O S1O1 ( ) e ge ba g a jeja g (1) Mengembangkan jejaring S S1T1 (6) e yed a a (6) Menyediakan insentif bagi se t bag bidang konstruksi kerjasama antar pelaku alat berat untuk konstruksi rantai pasok alat beratS2 Asosiasi yang relatif lengkap S2T3 (7) Mengembangkan prosedur impor untuk alat berat khusus Kelemahan (‐)W1 Pola pembiayaan yang  W1O1 (2) Mengembangkan skema W1T2 (8) Menerapkan skema terbatas pembiayaan yang efektif yang efektif proyek muti tahunW2 Lemahnya akses informasi W202 (3) Mengembangkan sistem W2T2 (9) Mengembangkan permintaan dan pemantauan status alat pemantauan rencana proyek kepemilikan berat konstruksi dan proyek berjalanW3 Belum ada standar alat,  W3O2 (4) Menerapkan standar‐ W2T1 (10) Melakukan kerjasama  katalog, teknologi standar alat dan penggunaan dengan pendukung pasokanW4 Kekurangan komposisi dan alat energi, suku cadang, dan ban kompetensi operator W4O2 (5) Mengembangkan (5) Mengembangkan kerjasama dengan lembaga pendidikan dan sertifikasi 49
  • 50. Usulan kebijakan dalam batas pengaruh PUApa yang dapat di d dipengaruhi? PEMILIK dan KONTRAKTOR: bagaimana pemilik mau b li hi? d O O b i ilik beli (inves) alat dan bagaimana alat tersedia dan berfungsi dengan baik?1. Mengembangkan jejaring kerjasama antar pelaku rantai pasok alat berat:  persyaratan keanggotaan rantai pasok konstruksi; fasilitas konsolidasi (WEB atau cloud computing) mengarah kepada lelang, sewa‐menyewa, jual‐beli; dokumen lelang dengan basis dukungan rantai pasok alat berat (lihat DOT tentang spesifikasi alat d l ifik i l t dalam l l ) lelang)2. Mengembangkan skema pembiayaan yang efektif (persyaratan, suku bunga,  kredit, asuransi, hak guna pakai, penjaminan)3. Mengembangkan sistem pemantauan status alat berat konstruksi: registrasi alat (terdaftar), penggunakan GPS yang terhubung dengan portal internet4. Menerapkan standar‐standar alat dan penggunaan alat: warrant of fitness  (WOF), operator, safety, lingkungan, jaminan pemeliharaan (manajemen aset), katalog alat, standar teknis pekerjaan (jenis alat yang perlu digunakan untuk pekerjaan tertentu) 50
  • 51. Usulan kebijakan dalam batas pengaruh PU5. Mengembangkan k b k kerjasama d dengan l b lembaga pendidikan d sertifikasi: d d k dan fk kompetensi operator dan mekanik, fasilitas peningkatan kemampuan pengelolaan aset alat berat, fasilitas BLK operator dan mekanik, fasilitas  pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja6. Menyediakan insentif bagi alat berat untuk konstruksi: bebas bea mobilisasi, subsidi mobilisasi subsidi bahan bakar (solar bersubsidi selama proyek berjalan (solar bersubsidi, selama sesuai dengan jam kerja), fasilitas distribusi ke lokasi tempat kerja (perakitan antara di pelabuhan)7. M7 Mengembangkan prosedur i b k d impor untuk alat b k l berat khkhusus: kemudahan k d h impor alat berat khusus8. Menerapkan skema proyek muti tahun p p y9. Mengembangkan pemantauan rencana proyek dan proyek berjalan:  informasi kepastian proyek konstruksi infratsruktur (jadwal, lokasi, dan penyerapan)10. Melakukan kerjasama dengan pemasok energi, suku cadang, dan ban 51
  • 52. Prakarsa #1 Jejaring Kerjasama Antar Pelaku Alat Berat KonstruksiKonsolidasi pemilikdan penggunadalam menjagakeseimbangan Jejaringpermintaan dan Angkutan Alatpenyediaan Berat Jejaring Pemilik Alat Berat Katalog Alat Berat Jaringan transaksi alat berat Jejaring Pengguna Alat Berat Al B 52
  • 53. Prakarsa #3 Sistem Pemantauan Status  Alat Berat Konstruksi Registrasi Alat Berat Konstruksi #3. Sistem Pemantauan Alat Berat Infrastruktur mobilisasi Tingkat Agen Alat Pembelian Jumlah Alat Berat Alat Berat yang  Kebutuhan Berat Alat Berat yang siap digunakan sedang digunakan Alat Berat demobilisasi Alat Berat rongsokan (grounded) #2. Skema #4. Standarisasi Pembiayaan Alat yang efektif Utilisasi Alat Laju Investasi L j I i Yang Tinggi #8. Informasi d #8 I f i dan Alat Berat pemantauan rencana dan #6. Penyediaan p pelaksanaan Insentif Alat investasi Berat Konstruksi infrastruktur 53
  • 54. Prakarsa #4 Standar‐Standar Alat dan Penggunaan Alat Berat The Advisory Committee on  y Construction Safety and Health (ACCSH)  Katalog 54
  • 55. Prakarsa #6 Penyediaan Insentif Alat Berat Konstruksi Infrastruktur• K Kesepakatan pemerintah d k t i t h daerah (d h (dengan referensi d i PU) t k f i dari PU) untuk bebas bea mobilisasi dan demobilisasi alat berat infrastuktur terdaftar• K Kesepakatan k it k t kemitraan k id ekonomi antar pemerintah d koridor k i t i t h daerah h untuk melaksanakan proyek bersama lintas kabupaten/kota• Subsidi bahan bakar solar selama penggunaan alat• Fasilitas tambahan untuk perakitan di sekitar pelabuhan• Dokumen lelang dengan mempertimbangkan siklus hidup alat (total  f p) cost of ownership)• Penyederhanaan pajak hak guna pakai (leasing) dan investasi, dan  asuransi• Pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday) dan Pembebasan pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday) dan  pengurangan pajak (tax allowance) 55
  • 56. Daya Saing Rantai Pasok Alat Berat #5. Lembaga #4. Standar dan DAYA SAING pelatihan dan Sertifikasi sertifikasi Peningkatan k keselamatan dan #4. Peningkatan lingkungan hijau KemampuanPengelolaan Aset Peningkatan Mutu Kerja #1. Konsolidasi Penghematan#6. Insentif Alat Kebutuhan dan energi danBerat Konstruksi Ketersediaan Alat p pemborosan#8‐9. Kepastian #2. Skema #1. Syarat lelang Investasi d I i dan Pembiayaan P bi dengan b i d basis Kebutuhan Alat Efektif rantai pasok 56
  • 57. Penutup• Proyeksi k d k i ke depan menunjukkan peningkatan pembangunan i f j kk i k b infrastruktur untuk k k mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi dan sosial.• Cetak biru Sistem Logistik Nasional sangat tergantung pada pembangunan infrastruktur logistik.• Rantai pasok konstruksi yang efektif dan efisien merupakan kunci dalam pembangunan infrastruktur. • Pengelolaan sistem rantai rantai pasok alat berat bertujuan untuk mencapai kondisi terpenuhinya alat berat bagi penyelenggaraan konstruksi yang tercermin dari tersedianya alat yang cukup dan baik mutunya secara efektif dan efisien. • Usulan kebijakan terdiri dari 10 prakarsa pengembangan rantai pasok alat berat konstruksi infrastruktur.• Perlu verifikasi pentingnya dan kemanfaatan kesepuluh prakarsa dan penerimaan oleh para pemegang kepentingan. • Perlu perincian lebih lanjut ke dalam draf keputusan atau peraturan atau pedoman. pedoman 57
  • 58. Terima Kasih 58