• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Hiperbilirubin
 

Hiperbilirubin

on

  • 5,725 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,725
Views on SlideShare
5,710
Embed Views
15

Actions

Likes
1
Downloads
107
Comments
0

1 Embed 15

http://funnytio.blogspot.com 15

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Hiperbilirubin Hiperbilirubin Presentation Transcript

    • HIPERBILIRUBIN Compiled by : Diana Listyaningsih Tio fanny Editor re- : Tio fanny
    • LATAR BELAKANGWHO kematian bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000 jiwa pertahun. Pada tahun 2006 angka kematian bayi di Indonesia mencapai 46/1000 kelahiran hidup dan turun menjadi 35/1000 kelahiran hidup pada tahun 2008. Ruang perinatologi Rumah Sakit Ananda dari tanggal 26 Januari 2010 - 21 Januari 2011 terdapat 57 bayi yang menderita hiperbilirubin dari 288 bayi yang dirawat.
    • Derajat Area Kadar bilirubin total 1 1 Kepala dan leher 5 mg/dl 2 Kepala, leher dan bagian atas 9 mg/dl 2 4 4 3 Kepala, leher, badan bagian atas dan bawah 11 mg/dl 3 5 tungkai5 4 4 Kepala, leher, badan bagian atas dan bawah 12mg/dl tungkai dan lutut 5 5 Kepala, leher, badan bagian atas dan bawah 16 mg/dl tungkai, lutut. Dan kaki serta tangan
    • Tanggal 3 januari 2011 pukul 12.45 WIBkiriman dari poli anak Bayi M usia 7 hari datang ke ruang perinatologi keluhan tubuh bayi kuning sejak 7 hari setelah bayi lahir.
    • Ibu Bayi bernama Ny. R, berusia 35 tahun, dan ayahnya bernama Tn. A, umur 36 tahun, beragama Islam, pendidikan terakhir SMU, bersuku bangsaD padang, bekerja sebagai IRT/Karyawan swasta,A beralamat di Royal Residen Blok C 5 No.16,TA Ny. R mengatakan melahirkan anak ketiganya pada saat usia kehamilannya 39-40 minggu. IbuS bersalin secara normal atau spontan padaU tanggal 26 Desember 2010 pukul 07.10 WIB, partus di BPS dan ditolong oleh bidan, tidak adaB komplikasi selama persalinannya. Bayi lahirJ tunggal hidup, letak belakang kepala, denganE berat 3500 gram, dan panjang badan saat lahir 52K cm, anus ada ditandai adanya mekonium yangT keluar, kecacatan tidak ada,I ibu mengatakan bayinya BAB 1 x sehari dan BAK 4-5F kali. Ibu mengatakan bayinya kuat dalam minum ASI yakni hampir 2-3 jam sekali , PASI (-) dan ibu mengatakan bayi tidur pada malam hari 10 jam dimulai dari jam 19.00 – 05.00 WIB, sedangkan pada siang hari bayi tidur 7 jam dan tiap 3 jam bayi bangun untuk menyusu.
    • Data KU: sedangobjektif Kes: compos mentis TTV By. M : suhu: 36,5 ºC, RR: 52 x/menit HR: 150 x/menit. . pemeriksaan fisik : tidak ada cepal hematom, tidak ada caput sucsedoneum, konjungtiva tidak anemis, sklera tampak ikterik, telinga tidak ada kelainan, mulut tidak ada kelainan, hidung tidak ada polip, kepala, leher, badan bagian atas dan bawah, tungkai dan lutut tampak kuning dan tidak ada pembengkakan pada kelenjar getah bening, perut tampak kuning dan tidak kembung, tali pusat sudah puput dan tampak bersih, tidak berbau dan tidak ada pus, warna kulit ekstremitas atas dan bawah tampak kuning, pemeriksaan berat badan 3200 gram, panjang badan 52 cm. Lingkar kepala 32 cm, lingkar dada 33 cm dan lingkar lengan atas 12 cm.
    • pemeriksaan penunjang Dengan hasil bilirubin total : 14,9 mg/dl, direk : 1,2 mg/dl, indirek : 13,7 mg/dl. DIAGNOSA:Neonatus cukup bulan sesuai masakehamilan, usia 7 hari denganHiperbilirubin.Masalah potensial : kern ikterus.
    • 1.Informed consent dengan orang tua bayi untuk dirawat 2. Mengobservasi tanda-tanda vital By. M setiap 2 jam 3. Memantau berat badan bayi setiap pagi 4. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak 5. Melindungi mata bayi dari sinar blue light dengan eye protector. 6. Memonitor bila ada muntah, kaku otot dan tremor,7. Memberikan bayi ASI langsung dan PASI peroral 6 x 60 cc/hari dan hasilnya bayi minum PASI sebanyak 360 cc dan ASI langsung 2 x setiap hari.8. Mendokumentasikan hasil laporan ke dalam buku laporan.
    • CATATAN PERKEMBANGAN SOAPTANGGAL 4 JANUARI 2011 PUKUL 07.00WIBS : ---O: Ku: Tampak sakit sedang, Kesadaran: Composmentis, TTV = S: 37,1 ºC, Rr: 48x/menit, Hr 140x/menit. BB 3200 gram. Konjungtiva tidak anemis, sclera ikterik berkurang, pada bagian kepala, leher, badan bagian atas dan bawah dan tungkai ikterik berkurang, kelopak mata tidak oedema, reflek hisap bayi baik terlihat dari kemampuan bayi minum diit ASI dan PASI 60 cc. Tidak ada sesak, tidak kembung, sianosis tidak ada, muntah tidak ada, bayi aktif, BAB 2 x sehari dengan konsistensi lunak , BAK 50cc, blue light single terpasang.A: Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, usia 8 hari dengan hiperbilirubin Masalah potensial : Kern ikterus
    • P: 1. Menginformasikan hasil observasi pemeriksaan kepada orang tua. 2. Memantau keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital By. M setiap 2 jam. 3. Mengobservasi intake dan output bayi serta asupan ASI/PASI, dan pengeluaran feses dan urine. 4. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak untuk advice therapy blue light single, memberi therapy obat. 5. Melindungi mata bayi dari sinar blue light dengan eye protector saat penyinaran blue light. Memonitor bilirubin sesuai instruksi dokter yang merawat. 6. Memonitor bila ada muntah, kaku otot dan tremor. 7. Memberikan bayi ASI langsung 2 x sehari dan PASI peroral 6 x 60 cc/hari. 8. Mendokumentasikan hasil laporan kedalam buku laporan.
    • CATATAN PERKEMBANGAN SOAPTanggal 5 Januari 2011 Pukul 07.00 WIBS : -----O: Ku: sedang, Kesadaran: Composmentis, TTV = S: 36,6 ºC, Rr: 54 x/menit, Hr 140 x/menit. BB 3250 gram. Konjungtiva tidak anemis, scelera ikterik sedikit, kelopak mata tidak oedeme, ikterik tampak berkurang pada bagian kepala, leher, badan bagian atas dan bawah, reflek hisap bayi baik terlihat dari kemampuan bayi minum PASI yaitu 60 cc tiap pemberian PASI dan ASI langsung, BAB 3 x sehari dengan konsistensi lunak, BAK 70 cc/hari, rencana cek ulang bilirubin total tanggal 6 januari 2011 jam 06.00 WIB.A: Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, usia 9 hari dengan hiperbilirubin. Masalah potensial : Kern ikterus tidak terjadi
    • P: 1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada orang tua. 2. Memantau keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital setiap 2 jam. 3. Mengobservasi intake dan output bayi serta asupan ASI/PASI, dan pengeluaran feses dan urine. 4. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak untuk advice therapy blue light single, memberi obat nutricole 3x 1 bungkus/ hari. 5. Melindungi mata bayi dari sinar blue light dengan eye protection saat penyinaran blue light. Memonitor bilirubin sesuai instruksi dokter yang merawat. 6. Memonitor bila ada muntah, kaku otot dan tremor dan hasilnya tidak ditemukan muntah, kaku otot dan tremor. 7. Memberikan bayi ASI / PASI peroral 6 x 60 cc/hari 8. Rencana cek ulang bilirubin total tanggal 6 januari 2011 jam 06.00 WIB, mendokumentasikan hasil laporan kedalam buku laporan.
    • CATATAN PRKEMBANGAN SOAPTanggal 6 Januari 2011 Pukul 07.00 WIBS : ----O: Ku: sedang, Kesadaran: Composmentis, TTV = S: 37,6 ºC, Rr: 50 x/menit, Hr 150 x/menit. BB 3200 gram. Konjungtiva tidak anemis, scelera tidak ikterik, kelopak mata tidak oedema, pada bagian kepala, leher, badan bagian atas dan bawah, tungkai dan lutut tidak tampak ikterik, reflek hisap bayi baik terlihat dari kemampuan bayi minum ASI langsung dan PASI ± 70 cc/hari. Dilakukan chek bilirubin total jam 06.00 WIB, didapat hasil 7,8 mg/dl.A: Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, usia 10 hari Masalah potensial : Kern ikterus tidak terjadi
    • P: 1. Menginformasikan hasil observasi pemeriksaan kepada orang tua, hasilnya bayi tidak ikterik. 2. Memantau keadaan umum bayi dan tanda- tanda vital setiap 2 jam. Lapor Dr. N SpA hasil billirubin total 7,8 mg/dl, memberi therapy puyer nutricole 3 x 1 bungkus/hari, therapi blue light di stop jam 13.00 WIB. 3. Rencana untuk pulang tunggu Dr. visit.
    • Tanggal 6 Januari 2011 pukul 12.45 WIBS: Ibu menanyakan kepada Dr. N SpA tentang keadaan bayinyaO: Ku: sedang, Kesadaran: Composmentis, TTV = S: 37,5 ºC, Rr: 50 x/menit, Hr 150 x/menit. BB 3200 gram. Konjungtiva tidak anemis, scelera tidak ikterik, kelopak mata tidak oedema, pada bagian kepala, leher, badan bagian atas dan bawah, tungkai dan lutut tidak tampak ikterik, reflek hisap bayi baik terlihat dari kemampuan bayi minum ASI langsung dan PASI ± 70 cc/hari.A: Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan, usia 10 hari Masalah potensial : Kern ikterus tidak terjadi
    • P :1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada orang tua bayi2. memberikan therapi puyer nutricol 3 x 1 bungkus/hari.3. memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI agar ibu menyusui bayinya secara teratur yaitu setiap 3 jam sekali dan jika banyinya tidur dibangunkan untuk menyusu,4. menganjurkan ibu untuk menjemur bayinya setiap pagi antara jam 07.00-08.00 WIB selama 15 menit dengan kondisi bayi tanpa menggunakan pakaian.5. memberitahukan ibu tentang kunjungan ulang 3 hari kemudian pada tanggal 10 Januari 2011 dan jika sebelum tanggal kunjungan terjadi sesuatu sama bayinya ibu diharapkan segera datang kerumah sakit, mendokumentasikan hasil laporan kedalam buku laporan. Pukul 13.50 WIB Bayi dibawa pulang oleh orang tuanya dan sudah menandatangani surat persetujuan pulang.
    • PEMBAHASAAN Menurut Prof.Dr.Rustam Mochtar (2002), klasifikasi hiperbilirubin dibedakan menjadi 2 yaitu Ikterus fisiologik adalah timbul pada hari kedua dan ketiga, kadar bilirubin total kurang dari 12,5 mg/dl pada neonatus cukup bulan dan 10 mg/dl pada prematur, kecepatan peningkatan kadar bilirubin kurang dari 5mg/dl per hari, kadar bilirubin direk kurang dari 1mg/dl, ikterus menghilang pada hari ke 10 tidak terbukti adanya hubungan dengan patologik. Ikterus patologik adalah terjadi 24 jam pertama, kadar bilirubin indirek lebih dari 10mg/dl per hari dan ikterus menetap setelah 2 minggu pertama, kadar bilirubin direk lebih dari 1mg/dl dan ikterus mempunyai hubungan dengan proses hemolitik atau keaadan patologik lain. Dari hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 03 Januari 2011 pada By. M didapatkan hasil Billirubin total : 14,9 mg/dl pada usia 7 hari dan pada tanggal 06 Januari 2011 dilakukan chek bilirubin total : 7,8 mg/dl pada usia 10 hari, kemudian By. M didiagnosa dengan ikterus fisiologis. Maka terdapat kesesuain antara teori dan kasus.
    •  Menurut Ilyas Jumiarni (2000) yaitu Hiperbilirubin merupakan suatu keadaan kadar billirubin serum total yang lebih dari 10mg/dl pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit, sclera dan organ lain. Dari hasil pemeriksaan laboratorium pada By. M didapatkan hasil Billirubin total : 14,9 mg/dl pada usia 7 hari, kemudian By. M didiagnosa dengan Hiperbilirubinemia. Maka terdapat kesesuaian antara teori dan kasus.
    •  Menurut teori Ngatsiyah (2001) masalah potensial yaitu kren ikterus dengan gambaran klinik pada bayi dengan ikterik diantaranya adalah letargis (lemas), kejang, tidak mau menghisap, tonus otot meninggi, leher kaku dan epistotonus. Pada kasus By. M dilakukan pemeriksaan fisik dan didapatkan hasil keadaan umum bayi tampak sedang, keadaan bayi kuning pada bagian kepala, leher, badan bagian atas dan bawah, tungkai dan lutut, tidak ditemukan kejang, leher tidak kaku, tonus otot tidak meninggi, bayi mau menghisap pada saat disusui langsung oleh ibunya. Kemudian By. M tersebut hanya mengalami hiperbilirubin belum sampai kern ikterik. Maka terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.
    •  Menurut Prof. Dr. Abdul Bari Saifudin (2006), penilaian kadar bilirubin dengan rumus kramer jika tampak ikterik pada daerah kepala, leher, badan bagian atas dan bawah tungkai dan lutut 12-16mg/dl. Pada kasus By. M dan hasil pemeriksaan fisik didapatkan kepala, leher, badan bagian atas dan bawah tungkai dan lutut bayi tampak kuning, kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil bilirubin total sebesar 14,9 mg/dl. maka didapatkan kesesuaian antara teori dengan kasus.
    •  Menurut Prof. Dr. Abdul bari Saifudin (2006) Pedoman pengelolaan menurut waktu timbul dan kadar bilirubin, jika ikterus pada usia >72 jam dengan kadar bilirubin total 10 sampai <15 mg/dl maka diberi transfusi tukar bila hemolisis dan terapi sinar. Pada kasus By. M didiagnosa mengalami hiperbilirubin dengan nilai total bilirubin 14,9 mg/dl pada umur 7 hari diberikan terapi sinar blue light untuk mencegah peningkatan NT bilirubin. maka terdapat kesesuaian antara teori dengan kasus.
    • NOTE : Hiperbilirubinemia adalah tingginya kadar bilirubin di dalam darah yang didapat dari pemeriksaan laboratorium. Produksi bilirubin berasal dari katabolisme heme. Faktor penyebab tingginya bilirubin pada bayi baru lahir karena tingginya eritrosit bayi dengan masa hidup yang lebih pendek (70-90 hari), belum matangnya fungsi hati dan meningkatnya reabsorbsi bilirubin indirek dari usus (siklus enterohepatis).
    • Ikterus fisiologis ikterus timbul pada usia 2-3 hari dengan kadar bilirubin indirek pada usia tersebut tidak > 15 mg/dL (bayi cukup bulan) dan tidak > 10 mg/dL (bayi kurang bulan). Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak > 5 mg/dL per 24 jam, dengan kadar bilirubin direk > 1 mg/dL. Ikterus hilang pada 10 hari pertama dan tidak terbukti berhubungan dengan keadaan non fisiologis.
    • BATASAN KADAR BILIRUBIN YANG AMAN PADA BAYI DAPAT DILIHAT PADA TABELSESUAI AMERICAN ACADEMY OF PEDIATRIC (AAP) TETAPI SECARA UMUM DIPAKAIBATASAN TIDAK > 10 MG/DL UNTUK UNTUK BAYI KURANG BULAN DAN TIDAK > 15MG/DL PADA BAYI CUKUP BULAN.
    • Ikterus non fisiologis terjadi <24jam setelah BBL ketidaksesuaian golongan darah ibu-anak (Inkompatibilitas golongan darah ABO) Breast milk jaundice faktor rhesus infeksi. Pada kasus infeksi, selain pemeriksaan darah rutin dan kultur darah, perlu ditambahkan pemeriksaan urinalisis dan kultur urin. defisiensi enzim G6PD (Glucose 6-Phosphat Dehydrogenase), defisiensi piruvat kinase, dan hipotiroid. Kelainan yang disebabkan defisieni G6PD merupakan kondisi yang menunjukkan respon yang buruk terhadap foto terapi.
    • Kern ikterus hasil laboratorium dengan kadar bilirubin indirek tinggi dan tidak diatasi segera, maka dapat menimbulkan risiko berupa efek toksik pada sistem saraf pusat. Gejala kinis yang ditemukan seperti mengantuk, reflek hisap menurun, muntah, dan kejang. Kondisi awala ini disebut Bilirubin ensefalopati. Efek jangka panjang bila hal ini terus berlangsung dan tidak diatasi, maka akan terjadi perubahan pada syaraf pusat yang ditandai penumpukan bilirubin pada otak terutama ganglia basalis, pons dan serebelum yang disebut Kern ikterus. Kern ikterus merupakan kondisi bilirubin ensefalopati yang kronis dengan gejala sisa (sekuele) yang permanen. Sekuele dari kern ikterus adalah keterbelakangan mental, kelumpuhan serebral, gangguan pendengaran, dan kelumpuhan otot motorik mata.
    • thank you for yourattent ion