Bahan kultum-ramadhan

4,740 views
4,525 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,740
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
123
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bahan kultum-ramadhan

  1. 1. Bahan Kultum Malam Pertama MMAARRHHAABBAANN YYAA RRAAMMAADDHHAANN Assalaamu’alaikum Wr. Wb. ⎛ν⊂ ⇒ζΤ⇔↓™ ≥ζΞ⇔↓™ σϖπ⇔°∈⇔↓ ″ℵ ãΠπΛ⇔↓ τΧΛ∅™ τ⇔↓ ⎛ν⊂™ ΠπŒ°⇓Πϖℜ σϖνℜΡπ⇔↓ √Ρ⊗↓ Π∈±°⇑↓ σϖ∈π÷↓ Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara, Jamaah Qi- yamu Ramadhan yang dirahmati Allah SWT. lhamdulillah, atas izin dan karunia Allah SWT. dapatlah pada malam hari ini, ma-lam pertama di bulan Ramadhan, kem-bali kita bisa berkumpul, bertemu muka, sekaligus bersila-turrahmi, di rumah Allah yang suci dan mulia ini, guna 1 bersama-sama melaksanakan serangkaian ibadah Qiyamu Ramadhan sebagai salah satu upaya kita menghidup-hi- dupkan bulan Ramadhan. Para Jamaah rahimakumullah. Bertemunya kita pada bulan Ramadhan tahun ini, merupakan perwujudan dari kerkabulnya doa kita yang telah kita mohonkan pada Ramadhan tahun lalu. Oleh karenanya bersyukurlah kita kepada Allah yang telah mempertemukan kita pada bulan yang penuh berkah ini, sebab tidak sedikit kaum Muslimin yang tidak sempat bertemu dengan bulan Ramadhan. Berapa banyak saudara-saudara kita, teman- teman kita, sahabat-sahabat kita, tokoh-tokoh kita yang telah pergi mendahului kita, kembali ke khadirat-Nya, sehingga Ramadhan tahun lalu merupakan Ramadhan terakhir bagi mereka. Jamaah sekalian. Suatu tradisi yang biasa Rasulullah lakukan setiap menjelang tibanya bulan Ramadhan, adalah menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat dan kaum muslimin yang isi khutbah tersebut sebagaimana termuat dalam kitab At- Targhib, Juz 2 halaman 217 dan 218 yang ditulis oleh Imam Ibnu Khuzaimah, adalah sebagai berikut : “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan 2 A 1
  2. 2. 2 dinaungi oleh suatu bulan yang agung dan penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan, yang oleh Allah telah menjadikan puasa sebagai suatu kewajiban, dan qiyam (shalat) pada malam harinya merupakan ibadah tathawwu’ yakni ibadah sunat yang sangat dianjurkan. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu aktivitas kebajikan, maka akan dibalas oleh Allah SWT.dengan ganjaran 70 kali lipat dibanding dengan mengerjakannya di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran. Siapa yang mampu menjaga kesabaran, maka baginya adalah Sorga Al-Jannah. Ramadhan adalah bulan memberi per- tolongan pada sesama, serta bulan Allah yang atas kuasa- Nya memberikan tambahan rezeki kepada orang-orang yang beriman. Siapa saja pada bulan tersebut yang dapat membukakan orang yang berpuasa tatkala berbuka dengan sejumlah makanan, maka perbuatan itu dapat mengha- puskan dosa-dosanya, dapat membebaskan ia dari api ne- raka, disamping ia juga mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang itu”. Setelah mendengarkan khutbah Rasulullah ini, diantara para sahabat berkomentar : “Ya Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan yang cukup untuk membukakan orang-orang yang berpu- asa”. Rasulullah menjawab : “Berikanlah apa yang kamu mampu, walau hanya sebiji 3 kurma, seteguk air atau sehirup susu, Allah tetap akan memberikan pahala”. Kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya: “Pada permulaan bulan Ramadhan merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan penghujungnya merupakan pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan beban saudaranya atau bawahannya (para karyawan, buruh, pembantu rumah tangga, tukang kebun, tukang cuci, tukang masak/koki dsb.) niscaya Allah meng- ampuni dosa-dosanya dan membebaskan ia dari api neraka. Karenanya perbanyaklah empat perkara di bulan Rama- dhan ini. Dua perkara untuk menyenangkan Allah, dan dua perkara untuk memohon Sorga-Nya serta berlindung kepa- da-Nya dari siksa api neraka. Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang sedang berpuasa, (taktala waktu berbuka puasa tiba), niscaya Allah akan memberinya mi- num dari suatu kolam Allah (di akhirat kelak) yang apabila meminumnya maka tidak akan haus lagi, hingga ia masuk Sorga”. Ada 13 hal yang dapat kita butiri dari isi khut- bah tersebut. Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan agung (syahrun ‘azhiim) dan bulan yang penuh berkah (syahrun mubarak), dengan bobot lebih yang luar biasa dibandingkan sebelas bulan lainnya, karena ia juga merupakan bulan utama atau penghulu dari segala bulan (sayyidul syuhur). 4
  3. 3. 3 Kedua, di dalam keagungan bulan Ramadhan ini, terdapat suatu malam yang paling bernilai bagi ummat Is- lam, yaitu malam kemuliaan, atau yang kita kenal dengan Lailatul Qadar. Ketiga, merupakan kewajiban pokok bagi ummat Islam yang baligh (sampai umur) untuk menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dengan jumlah hari 29 atau 30 hari. Keempat, selain kita diwajibkan berpuasa di siang hari, kita juga dianjurkan untuk mengerjakan ibadah sunnah setiap malam berupa Qiyamul Ramadhan atau yang biasa kita sebut Shalat Tarawih dan Witir. Kelima, pada bulan Ramadhan ini Allah memberikan ganjaran yang berlipat ganda bagi setiap amaliah ibadah yang dilaksanakan oleh kaum muslimin dengan bobot ganjaran 70 kali lipat. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa, pada bulan Ramadhan ini, kaum muslimin yang berpuasa memperoleh panen pahala dari Allah SWT. Keenam, Ramadhan dikatakan sebagai ajang latihan kesabaran. Karena dengan berpuasa dapat menempa jiwa sseorang seseorang agar mempunyai kekuatan dan daya tahan yang tangguh dalam menghadapi segala macam pen- deritaan dan berbagai cobaan hidup lainnya. Ketujuah, bulan Ramadhan merupakan bulan mem- berikan pertolongan (syahrul muwasah). Pada bulan ini kaum muslimin dianjurkan mengulurkan tangan kepada 5 mereka yang papa tak berpunya untuk sekedar memberikan in-faq dan shadaqah sebagai perwujudan adanya sikap peduli terhadap sesama. Kedelapan, bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT. memberikan kelapangan dan kemurahan rezeki kepada orang-orang yang beriman. Kesembilan, Allah akan memberikan penghargaan kepada orang yang memberikan makanan dan atau minuman kepada orang yang sedang berpuasa pada saat berbuka, dengan ganjaran berupa pengampunan atas dosa-dosanya, pembebasan dari api neraka dan memberikan pahala yang setara dengan orang yang berpuasa tersebut. Kesepuluh, bulan Ramadhan adalah bulan yang hari- hari perta-manya (sepuluh hari pertama), merupakan rahmat, yakni pencurahan kasih sayang Allah SWT. yang diberikan- Nya kepada kaum muslimin. Hari-hari pertengahannya (sepuluh hari ke dua) merupakan maghfirah, yakni pembe- rian pengampunan oleh Allah SWT. kepada hamba-hamba- Nya yang telah terlanjur berbuat kesalahan dan dosa. Dan hari-hari ter-akhirnya (sepuluh hari ke tiga) merupakan saat dimana Allah SWT. membebaskan kaum muslimin yang tekun berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadhan, dari azab dan siksa neraka.. Kesebelas, pada bulan Ramadhan ini dianjurkan kepada kaum muslimin agar saling bantu membantu dalam meringankan beban sesa-ma. Perbanyaklah amal shaleh atau 6
  4. 4. 4 amal jariah, misalnya memberikan bantuan kepada fakir miskin, orangtua jompo, anak yatim, anak terlantar dan putus sekolah, memberikan bantuan dalam hal pemba- ngunan, pemeliharaan dan pemakmuran masjid, musalla dan tempat-tempat ibadah ummat Islam lainnya, memberikan bantuan dalam hal pembangunan dan kelangsungan belajar siswa/santri di lembaga-lembaga pendidikan, dan sebagai- nya. Bagi pimpinan kantor/instansi atau perusahaan, bantu- lah para pegawai ata karyawannya, terutama para pegawai/ karyawan kelas menengah ke bawah (seperti para buruh, para pembantu/pelayan dan sebagainya), berupa in-faq, shadaqah dan zakat atau bantuan berupa paket Ramadhan, santunan Ramadhan dan sebagainya). Keduabelas, adalah empat perkara yang dipesankan Rasulullah SAW. agar di bulan Ramadhan ini diterapkan dan diperbanyak. Dua perkara yang pertama adalah mela- kukan perbuatan yang sekiranya dapat menyenangkan Al- lah, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dengan mela- kukan ibadah sebanyak-banyaknya dan berbuat baik pada sesama, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Kemudian dua perkara yang ke dua adalah memohon ke- pada Allah agar di masukkan ke dalam Sorga-Nya dan dihindarkan dari azab siksa neraka. Yang terakhir ini dapat kita mohonkan lewat doa dan permohonan kepada Allah SWT. Yang terakhir, ketigabelas, dinyatakan oleh Rasul- ullah SAW. bahwa barangsiapa yang memberi minum kepada orang yang sedang berpuasa manakala ia bebuka 7 (saat tibanya berbuka puasa), nanti oleh Allah akan diganti ganjarannya kepada yang bersangkutan berupa pem-berian minum di yaumil akhir (padang mahsyar) dari air telaga ke- punyaan Allah, yang apabila meminum air telaga tersebut, dapat meng-hilangkan haus dahaga selama-lamanya, sampai ia masuk sorga. Demikian beberapa pesan Rasulullah SAW. yang beliau ungkapkan pada setiap menjelang bulan Ramadhan, semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran da- rinya untuk kita jadikan pedoman di dalam berbuat dan beramal ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun ini. Marilah kita pelajari dan kaji ulang segala rukun, sunnah, hik-mah dan pengetahuan tentang puasa Ramadhan, sehingga puasa kita tahun ini benar-benar penuh makna dan diterima oleh Allah SWT. Demikian uraian singkat yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan kultum malam ini, semoga ada manfaat- nya bagi kita semua. Marhaban ya Ramadhan Assalaamu’alaikum Wr. Wb. 8
  5. 5. 5 Bahan Kultum Makam Kedua KKOONNSSEEPP DDAASSAARR PPUUAASSAA Assalaamu’alaikum Wr. Wb. ◊°∧ℵ↓ σ⇑°ρ∧ℵ ⇒°ϖΞ⇔↓ ⊃Ρ∏ ⎝Θ⇔↓ ãΠπΛ⇔↓ σ⇑↓υ⇓υλ⎜ ⎛λ⇔ ⇒↓Ρλ⇔↓ σϖρ⇑Απ⇔↓ ⎛ν⊂ ⇒ζℜ⎨↓ τ⇔↓⎢◊↓Π©⊗↓ ⇒°⎜⎨↓™ ⎡⇔°ϖν⇔↓ ⇐↓υβ σϖϕΦπ⇔↓ ®ΠΧ⊂↓ΠπŒ ◊↓Π©⊗↓™ τ⇔ µ⎜Ρ⊗⎨ ®Π≡™ ã↓⎨↓ √Ρ⊗↓ ⎛ν⊂ ∨ℵ°±™ θνℜ™ ο∅ θ©ν⇔↓ τ⇔υℜℵ™ τ±°Λ∅↓™ τ⇔↓ ⎛ν⊂™ΠπŒ σϖνℜΡπ⇔↓™ ⁄ƒϖΧ⇓⎨↓ Π∈±°⇑↓ σ⎜Π⇔↓ ⇒υ⎜ ⎛⇔↓ ◊°Τ≡°± θ©∈Χ× σ⇑™ 9 Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara Jamaah Qi- yamu Ramadhan yang dirahmati Allah SWT. tas pertolongan dan rahmat Allah SWT. alhamdulillah kita dapat melakukan start dengan baik di hari pertama di bulan Ramadhan ini, kendati mungkin sebagian besar kita agak payah melakukannya, hal ini dikarenakan kondisi pencer- naan perut kita masih dalam tahap asimilasi atau penye- suaian. Keadaan seperti ini barangkali akan berlangsung be- berapa hari, dan hal ini tentunya dapat kita maklumi, dan kita tidak perlu mempersoalkan, karena toh lama-lama akan menjadi biasa dan perut kitapun dapat menyesuaikan. Yang penting bagi kita adalah menjadikan keimanan sebagai san- daran utama dalam pelaksanaan ibadah puasa kita, sehingga dalam kondisi bagaimanapun juga, bukan menjadi pengha- lang bagi kesempurnaan dan keutuhan puasa kita. Hadirin para Jamaah Shalat Tarawih rahimakumullah. Pada kesempatan kultum di malam ke dua di bulan Ramadhan ini, kami akan menguraikan sedikit tentang Kon- sep Dasar Puasa, terutama berkenaan dengan pengertian dan rukun puasa. Jamaah sekalian. 10 Kata puasa berasal dari bahasa Arab yaitu Ash- Shiyam, yang diambil dari kata Shama yang berarti Mena- han, tidak berpindah dari suatu keadaan ke keadaan yang A 2
  6. 6. 6 lain. Udara yang tenang (tidak bergerak) disebut Shama ar- rih karena ia tertahan, tidak berpindah, tidak bergerak/tidak berhembus. Dalam sejarah, Maryam pernah bernadzar untuk ti- dak berbicara kepada siapapun tatkala ia mengandung pute- ranya Isa Al-Masih. Ini ia lakukan untuk menghindari tu- duhan yang bukan-bukan terhadap dirinya, karena janin yang ia kandung semuanya atas kehendak Allah, tanpa proses pembuahan yang biasa. Menahan diri untuk tidak berbicara dalam jangka waktu tertentu, dalam agama diis- tilahkan dengan kata Shauma (puasa). Firman Allah SWT. : ¯½À«[°¬§[µ¬Ÿ ¯½‡µ°nz¬«ayx³Á³[ À³[ “Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menahan diri (berpuasa) untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku ti- dak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam ayat 26). Kemudian pada surah Al-Baqarah ayat 35 dan 36 di- ceritakan bahwa ketika Nabi Adam a.s dan isteri beliau Hawwa diberikan kesempatan oleh Allah SWT. untuk ting- gal di Sorga beberapa lama, dan Allah berikan kebebasan 11 kepada keduanya untuk menggunakan sarana dan fasilitas apa saja yang ada di Sorga, kecuali satu hal yang dilarang Allah, yaitu mendekati sebatang pohon, yang oleh sebagian ahli tafsir menamakannya pohon khuldi, maka ketika Adam a.s dan Hawwa istrinya berupaya untuk tidak mendekati pohon khuldi tersebut, maka mereka sebenarnya telah me- lakukan puasa (menahan diri), kendati pada akhirnya me- reka terkena bujuk rayu Iblis dan mendekati pohon terlarang itu serta memakan buahnya. Firman Allah SWT. : ا¼ »´k«[©j¼{¼d³[µ¨~[¯uÔ¿´¬£¼ ºzkƒ[¶x·^z¤b×¼ °cσhÀn[v›y¸´¯ ¸´—µÀ„«[°¸«{Ÿ µÀ°¬”«[µ¯³½¨cŸ ¹ÀŸ³§°¯°¸jzrŸ “Dan Kami berfirman : “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu sorga ini, dan makanlah makanan-makan- annya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dhalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syetan dari sorga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula”. Pengertian puasa di atas adalah pengertian puasa menurut loghat atau bahasa, yaitu menahan diri, baik me- nahan diri dari berbicara, menahan diri dari berjalan, 12 menahan diri dari sesuatu yang mencelaka-kan, tidak mendekati/tidak melakukan suatu maksiat, menahan diri dari dorongan marah, dorongan nafsu birahi dan sebagainya.
  7. 7. 7 Pendeknya, segala sesuatu yang bersifat menahan diri (mengendalikan), itulah dia pengerian puasa menurut loghat/bahasa. Sedangkan pengertian puasa menurut Syar’iyyah, atau menurut Syari’at, dapat kita temukan dari berbagai sumber, diantaranya : 1. Menurut mufassir Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir jilid pertama disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan yang membatalkan puasa dengan niat ikhlas kepada Allah”; 2. Menurut mufasiir Ar-Razi dalam kitab At-Tafsir al- Kabir jilid kedua disebuitkan bahwa, “Puasa adalah menahan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dari apa saja yang membuka-kan puasa, padahal ia tahu dalam keadaan berpuasa disertai niat”; 3. Menurut Syeikh Muhammad Ali As-Shabuny dalam kitab Rowai’-ul Bayaan disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan jima’ disertai dengan niat sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dan kesempurnaannya adalah dengan menjauhi hal-hal yang kotor dan tidak melakukan per-kara yang diharamkan”; 4. Menurut Syeikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazy dalam kitab Tausikhu ‘alaa Ibnu Qasim, disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dengan niat yang ditentukan sepanjang hari puasa (yaitu hari-hari yang boleh dilakukan puasa) yang dilakukan oleh orang Islam yang ber-akal dan suci dari haid dan nifas, bagi wanita”; 8 5. Menurut Al-Imam Taqiyuddin Al-Husaini dalam kitab Kifayatul Akhyar disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dalam hal tertentu dari orang tertentu, di dalam waktu yang tertentu pula dengan beberapa syarat”; 6. Menurut Al-Ustadz Muhammad Ali As-Sayis dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari dua kedaulatan syahwat, yaitu syahwat perut dan farj dengan niat oleh ahli (orang yang diwajibkan) puasa, sejak ter- bit fajar sampai terpenam matahari”. Dari enam pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan puasa menurut syar’iyyah adalah, “Menahan diri dari (tidak melakukan) sesuatu yang dapat membatalkan puasa, yaitu ma-kan, minum dan bersetubuh (jima’) dengan wanita (isteri) sejak waktu terbit fajar sampai tenggelam matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah karena mengharapkan ridha-Nya, dan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada-Nya”. Dari kesimpulan pengertian ini, paling tidak terdapat dua hal yang kiranya perlu menjadi perhatian kita semua, dan ia merupakan rukun puasa. Pertama, “niat”. Orang yang akan mengerjakan puasa diwajib-kan berniat terlebih dahulu. Yaitu
  8. 8. 8 mengikatkan hati, dengan bersengaja (dalam keadaan sadar) semata-mata hanya karena Allah (lillaahi ta’ala) untuk melakukan puasa di siang hari, guna meraih keridhaan Allah SWT. Tanpa niat, puasa menjadi tidak sah. Rasulullah SAW. bersabda : ¹«¯À‡ØŸzk «[−_£¯Àˆ«[dÀ_¿°«µ¯ 9 “Barangsiapa tidak berniat akan berpuasa sebelum terbit fajar, maka tak ada puasa baginya” (HR. Abu Daud). Kapan niat dilakukan? Berdasarkan hadits Rasulullah di atas, niat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa. Entah setelah ber-buka puasa kemudian meniatkannya untuk berpuasa lagi besok harinya, entah setelah shalat Maghrib, setelah shalat Isya’, setelah shalat Tara-wih, ketika menjelang tidur, ketika makan sahur atau menjelang waktu imsak. Pendeknya asal dilakukan pada malam hari. Menurut kebanyakan jumhur ulama berpendapat bahwa keha-rusan berniat puasa pada malam hari hanya mutlak diwajibkan apabila seseorang ingin mengerjakan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan misalnya. Juga yang bersangkutan terbebas dari masalah kelupaan, sebab persoalan lupa merupakan persoalan di luar kemampuan ma-nusia, dan memang Allah SWT. tidak membebankan dosa bagi hamba-Nya yang terlupa. Firman Allah SWT. : ¯µ¨«¼¹^°bÈr[Ô°ÀŸm´j°¨À¬—À«¼ °¨^½¬£av°˜b “Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf (lupa) padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu” (QS. Al-Ahzab ayat 5). Sedangkan terhadap pelaksanaan puasa sunat (tathawwu’), tidak me-ngapa jika niat baru dilakukan pada siang hari (saat berpuasa). Hal ini sesuai dengan sebuah hadits yang menceritakan bahwa pada suatu hari 10 Rasulullah SAW. tiba di rumah Aisyah (isteri beliau), kemudian bertanya, “Wahai Aisyah, adakah makanan yang dapat kita makan hari ini?”, Aisyah menjawab, “Tidak ada ya Rasulullah”. “Kalau begitu”, kata Rasulullah, “Aku akan berpuasa hari ini”. Kedua, “Menahan diri dari apa-apa yang dapat membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari”. Firman Allah SWT. : Às«[°¨«µÀ_c¿Åcn[½^zƒ[¼[½¬§¼ [½°b[°fzk «[µ¯u½~×[Às«[µ¯À^×[
  9. 9. 9 °c³[¼ µ·¼zƒ_b×¼ −À«[Å«[¯Àˆ«[ vk°«[ÅŸ²½ §— “ Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu (isteri-isteri kamu), se-dangkan kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al-Baqarah ayat 187). Berbuhungan dengan benang putih dan benang hitam yang disebutkan dalam ayat di atas, ada kisah jenaka yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kisah tersebut menceritakan bahwa dulu ada seo-rang sahabat Nabi yang terkenal taat beribadah bernama Adi bin Hatim. Karena saking fanatiknya ia terhadap ayat di atas, sehingga di atas kasur tempat tidurnya, ia letakkan dua helai benang berwarna hitam dan 11 dan putih. Pada saat bersahur (makan sahur), selalu ia lihat dan perhatikan kedua helai benang ini. Selama ia belum mampu membeda-kan, mana benang yang putih dan mana benang yang hitam, ia masih menyantap makanan sahurnya. Baru setelah fajar menyingsing, dan ia sudah mampu membedakan mana benang putih dan mana benang hitam, barulah ia menghentikan makan sahurnya. Ketika hal ini disam-paikan kepada Rasulullah SAW. beliau tersenyum dan berkata, “Kasur tempat engkau meletakkan kedua helai benang itu terlalu luas, wahai Adi”, maksudnya benang hitam dan benang putih jangan diartikan yang sesungguhnya, karena benang hitam yang dimaksudkan ayat tersebut adalah gelapnya malam dan benang putih adalah merahnya fajar tanda hari telah siang. Sekarang timbul pertanyaan. Apa saja yang dapat membatalkan puasa? Berdasarkan beberapa hadits Rasulullah dan menurut jumhur ulama, disebutkan bahwa paling tidak ada delapan hal yang dapat mem-batalkan puasa, yaitu : 1. Makan dan minum dengan sengaja; 2. Melakukan hubungan suami isteri (jima’/bersetubuh); 3. Mengeluarkan air mani dengan sengaja; 4. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga badan melalui lobang yang terbuka dengan sengaja; 5. Muntah dengan sengaja; 6. Haid dan Nifas bagi wanita; 7. Orang yang berpuasa, tiba-tiba diserang penyakit gila; 8. Sengaja membatalkan niat puasa. O 12 PPUUAASSAA DDAALLAAMM LLIINNTTAASSAANN SSEEJJAARRAAHH 3
  10. 10. 10 i dalam surah Al-Baqarah ayat 183, terdapat kalimat : °¨¬_£µ¯µ¿x«[Ŭ—`c§°§ “Sebagaimana (puasa) telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Potongan ayat ini menerangkan bahwa puasa itu tidak saja di-wajibkan terhadap ummat Muhammad SAW. tetapi puasa juga telah di-wajibkan terhadap orang-orang atau ummat terdahulu. Hanya saja, bentuk, motif dan tata cara pelaksanaanya berbeda. Menurut beberapa riwayat diceritakan, bahwa bangsa-bangsa Mesir kuno dikala mereka masih beragama Watsani, bangsa Yunani dan Romawi di Eropah, suku bangsa Natchez di Amerika Utara, orang Hindu di India, telah mengenal dan mempraktekkan puasa. Hanya saja, selain motif yang mendorong mereka berpuasa, juga maksud dan tujuannya, berbeda satu sama lainnya. Begitu pula tentang tata cara pelaksanaan-nya. Menurut kitab Samuel jilid 2 diceritakan bahwa Nabi Daud ber-puasa selama tujuh hati ketika putera beliau sakit. “Maka dimohonkan Daud kepada Allah akan kanak-kanak itu dan berpuasalah Daud dengan yakin serta masuk ke dalam, lalu meniarap di tanah semalam-malaman itu”, demikian menurut kitab Samuel. 13 Menurut El-Bahayi El-Kholy dalam buku Ash-Shiyam, yang di-nukilkan dari Tafsir Al-Manar, dituliskan : “Tidak terdapat dalam kitab-kitab Taurat yang ada di tangan kita suatu perintah yang memberi arti wajibnya puasa itu, tetapi hanya sekedar memuji puasa dan mereka yang melakukannya. Ternyata Nabi Musa a.s melakukan puasa 40 hari. Ini memberi arti bahwa puasa dikenal di masa itu, disyari’atkan dan ter-golong sebagai satu ibadah. Bangsa Yahudi dewasa ini berpuasa se-minggu lamanya sebagai peringatan atas kehancuran Yerussalem. Ada-pun mengenai orang Nasrani tidaklah terdapat dalam kitab-kitab Injil mereka yang terkenal, satu nas yang mewajibkan puasa, tetapi hanya terdapat kata-kata mengenai puasa dan menganggapnya sebagai iba-dah. Dan orang yang berpuasa diperintahkan supaya menggosok ke-palanya dan membasuh mukanya dengan lemak hingga tidak kelihatan padanya alamat puasa agar jangan kelihatan sifat orang munafik (yang berbangga memperlihatkan ibadatnya) seperti orang Parsi”. Menurut kitab Perjanjian Lama disebutkan bahwa ada empat macam puasa yang lebih ringan dan lebih kecil fungsinya, yaitu untuk melepaskan diri dari rasa malang atau duka cita yang sedang maupun yang sudah dialami. Empat macam puasa tersebut adalah : 1. Puasa pasa saat kota Yerussalem dikepung tentara Romawi pada hari ke sepuluh bulan Tabeth; 2. Puasa pada tanggal 17, bulan Temmuz, ketika dinding kota dirusakkan; 3. Puasa waktu kuil Yerussalem dihancurkan dan; 4. Puasa pada tanggal 3 Tishri sewaktu Gedaliah, seorang Gu-bernur Yudah dibunuh orang. D
  11. 11. 11 Selain itu masih ada lagi puasa yang dilakukan secara beramai- 14 ramai guna meredakan kemarahan Tuhan. Ada pula puasa yang dilaku-kan sebagai tanda penyesalan atas kesalahan yang diperbuat. Dalam Tafsir Al-Azhar juz II Prof. Dr.HAMKA menguraikan seba-gai berikut : “Puasa orang Kristen yang terkenal ialah Puasa Besar se-belum Hari Paskah. Nabi Musa mempuasakan hari itu, demikian juga Nabi isa dan murid-murid beliau. Kemudian gereja-gereja memutuskan pada hari-hari yang lain buat puasa, menurut yang diputuskan oleh Pendeta-pendeta mereka dalam sekte masing-masing”. Kemudian, dalam ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa, : “Pada hari-hari tertentu ummat Katholik wajib menahan nafsu makan, yaitu pagi-pagi boleh makan sedikit sebagai penyegar badan, tengah hari dibolehkan makan kenyang-kenyang, tapi petangnya hanya sedikit pula, dan seterusnya”. Dulu, suku bangsa primitif membagi puasa menjadi lima macam. Ada puasa sebelum memasuki musim tertentu, misalnya pada musim bunga. Puasa yang semacam ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Yunani kuno. Ada puasa yang dilakukan karena meninggalnya sa-lah seorang anggota keluarga. Puasa ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Cina dan Korea. Ada puasa yang dilakukan karena terjadinya sua-tu bencana alam. Seperti beberapa suku di Jerman melakukan puasa lantaran di negerinya terjadi bencana topan yang mengamuk memporak-porandakan kampung. Begitu pula yang dilakukan oleh para wanita Bar-bar di Afrika, mereka berpuasa manakala suami mereka berada di medan perang. Ada pula puasa yang dilakukan dalam rangka meng-hadapi hari-hari khusus, misalnya puasa sebelum melangsungkan perka-winan. Puasa semacam ini banyak dilakukan oleh suku bangsa Teita di Afrika Timur, Macuai di Guyana, Tlingit di Alaska dan suku bangsa 15 Santals di Bengal, India. Ada puasa yang dilakukan untuk membentuk suatu hubungan yang permanen dengan Dewa-dewa, atau sesuatu yang mereka anggap berkuasa dan punya kekuatan. Misalnya puasa yang dilakukan oleh para Yogi Agama Hindu atau puasa yang dikerjakan oleh pengikut Brahma, dimana puasa mereka lakukan selama 24 hari dalam setahun, atau 40 hari berturut-turut disertai dengan bacaan-bacaan kitab suci mereka. Bahkan para pengikut Wisnu, sambil berpauas me-reka berbaring di atas paku, atau berdiri terus tanpa duduk, bahkan ada juga yang terus menerus berjemur di terik matahari. Semua itu mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Menurut catatan sejarah Islam, ketika Rasulullah SAW. tiba di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi melakukan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Mereka berpuasa pada tanggal ini adalah sebagai kenang-kenangan dan pernyataan syukur atas terlepas-nya Nabi Musa dan sebagian kaum Bani Israil dari kekejaman raja Fir’aun yang dzalim. Melihat peristiwa ini, Rasulullah mengajak para sa-habat dan kaum muslimin agar berpuasa. Kejadian ini sesuai dengan se-buah hadits Rasulullah SAW. dari Ibnu Abbas r.a yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, yaitu :
  12. 12. 12 u½¸À«[ÂÇzŸ °¬~¼¹À¬—ã[Ŭ‡Á_´«[¯v£ ¯½¿[½«£ I[x·¯ª¤Ÿ Æ[y½ƒ—¯½ˆb µ¯−ÀÎ[z~[Å´^¼Å~½¯¹ÀŸã[Åk³p«‡ Å~½°^¥n[³[:ª¤Ÿ Å~½¯¹¯ˆŸ °·¼v— 16 ¹¯Àˆ^z¯[¼¹¯ÀˆŸ°¨´¯ “Nabi SAW. datang ke Madinah dan dilihatnya orang-orang Yahudi ber-puasa pada hari Asyura. Maka tanya Nabi : Ada apa ini?. Ujar mereka : Hari baik, disaat mana Allah membebaskan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, hingga dipuasakan oleh Musa. Maka sabda Nabi SAW. : Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu. Lalu beliau ber-puasa pada hari itu dan menyuruh orang agar berpuasa”. Motif atau tujuan puasa yang dilakukan oleh ummat terdahulu, antara satu dengan lainnya memang berbeda-beda, sesuai dengan keperluan masing-masing. Demikian juga dengan diperintahkannya puasa bagi ummat Islam, tentu mempunyai maksud dan tujuan yang tidak sama dengan tujuan puasa umat- umat terdahulu. Adapun tujuan puasa menurut Islam adalah dalam rangka meningkatkan harkat dan derajat manusia di sisi Allah, ke puncak kehi-dupan rohaniah yang paling tinggi dan mulia, yaitu ingin mencapai pre-dikat taqwa, dengan sebutan muttaqien, yaitu derajat yang paling tinggi da mulia di sisi Allah. Padanya akan terpancar pribadi muslim yang luhur dan berakhlak terpuji, serta sanggup membina diri menjadi pribadi yang tangguh, sanggup berprilaku jujur dan bertindak adil. Nah, kalau kita ingin melihat bentuk, motivasi dan tujuan puasa menurut Islam dan membandingkannya dengan puasa dalam agama-agama lain, atau puasa yang dilakukan oleh ummat- ummat terdahulu, maka tidak berlebihan kiranya jika kita katakan bahwa puasa di dalam Islam lebih sempurna dari segala bentuk puasa manapun, karena syariat Islam secara umum memang bersifat pelengkap dan penyempuna. 17 PPUUAASSAA AADDAALLAAHH PPAANNGGGGIILLAANN KKEEIIMMAANNAANN anggilan Allah terhadap orang-orang yang beriman agar mengabdi kepada-Nya ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an yang jumlahnya tidak kurang dari 89 ayat, dianta-ranya dapat kita lihat dalam surah Al-Hajj ayat 77, Allah menyerukan : [¼v_—[¼ [¼vk~[¼[½˜§y[[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ P 4
  13. 13. 13 ²½o¬ b°¨¬˜«zÀs«[½¬˜Ÿ[¼ °¨^y “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah. Sujudlah, beribadahlah kepa-da Tuhanmu dan kerjakanlah amal kebajikan, agar kamu berbahagia”. Ada tiga kata kunci yang terkandung dalam ayat ini. Pertama adalah perintah ruku’ dan sujud yang diwujudkan dalam bentuk shalat. Kedua, perintah beribadah, baik ibadah has atau mahdhah maupun iba-dah ‘am termasuk di dalamnya perintah perpuasa, dan yang ketiga ada-lah perintah berbuat kebajikan. Panggilan Allah terhadap orang-orang yang beriman merupa-kan panggilan khusus yang diserukan Allah untuk memberikan penghar-gaan terhadap orang-orang yang berpredikat aamanu agar mereka te-tap berada dalam rel keimanan yang murni, sehingga tidak akan terpe-rosok ke jurang nista atau ke lembah sengsara yang dapat membawa 18 malapetaka, baik malapetaka dunia, terlebihlebih malapetaka akhirat. Kalimat Yaa ayyuhalladziina ‘aamanu , hai orang-orang yang beriman merupakan panggilan kemesraan, panggilan kebanggaan, panggilan kesayangan, yang ditujukan Allah kepada hamba-Nya, namun mengandung konsekuensi yang berat dibalik panggilan tersebut. Sama saja kalau seorang guru memanggil murid-muridnya dengan kalimat, Wahai murid-muridku yang pandai, coba kalian kerjakan soal matematika ini”. Ajakan sang guru dengan menggunakan kalimat, murid-muridku yang pandai, disamping terdapat unsur pujian, di dalamnya juga me-ngandung tugas berat yang harus diselesaikan dengan baik dan benar oleh para murid, yakni menjawab soal matematika. Ada tanggung jawab moral yang harus dipenuhi oleh para murid, yakni mereka harus mampu menjawab soal matematika dengan baik dan benar. Karena kalau tidak, maka panggilan sang guru dengan kalimat murid-muridku yang pandai akan menjadi buyar atau tidak terbukti. Syukur kalau pujian sang guru ini berdasarkan realita yang ada terhadap kemampuan kepandaian murid-muridnya, sehingga pengerjaan soal matematika bagi mereka merupa-kan sesuatu yang biasa, tidak sulit, yang pada akhirnya, mereka dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tetapi kalau pujian sang guru ini hanya merupakan basa-basi belaka, atau hanya sekedar memberikan semangat dan motivasi belajar tanpa didukung oleh suatu realita obyek-tif, maka tentu saja pujian sang guru ini merupakan beban yang berat yang mungkin justeru dapat menimbulkan cemas, khawatir dan seribu satu macam perasaan lainnya. Demikian juga dengan perintah ibadah puasa Ramadhan, yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang beriman dengan panggilan yaa ayyuhalladziina ‘aamanu seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi : 19 ¯Àˆ«[°¨À¬—`c§[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ ²½¤cb°¨¬˜« °¨¬_£µ¯µ¿x«[Ŭ—`c§°§
  14. 14. 14 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa”. Menurut Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat Rasulul-lah SAW. beliau mengatakan bahwa suatu ayat yang dimulai dengan ka-limat Yaa ayyuhalladziina ‘aamanu , hai orang- orang yang beriman, ayat ini mengandung suatu hal yang penting, suatu hal yang amat berat dilaksanakan, jika pelaksananya tidak mendasarkan pada pondasi kei-manan yang kuat. Atau suatu larangan yang teramat berat hukumannya, jika dilanggar atau tidak diindahkan. Dalam perintah tertentu, seperti puasa Ramadhan pada ayat di atas, Allah hanya memanggil secara khusus kepada orang- orang yang beriman untuk mengerjakan puasa. Tidak memanggil orang-orang mus-lim, tidak memanggil orang-orang yahudi, orang- orang nasrani, atau memanggil manusia secara umum, tetapi hanya orang-orang yang ber-iman. Kenapa demikian? Karena Allah Maha Tahu dan Allah sudah memperhitungkan sebelumnya, bahwa yang bakal bersedia dan sanggup memikul tugas berat ini, yakni puasa, hanyalah orang-orang yang ber-iman, lain tidak. Karena orang yang benar-benar beriman, ia sangat cinta kepada Allah, sehingga dengan kecintaanya ini, apapun yang di- perintahkan Allah, akan ia laksanakan dengan baik dan senang hati, demi menjaga kelanggengan hubungan cintanya kepada Allah tersebut. Allah berfirman dalam Al-Qur’an : 20 ã_nvƒ[Ó½´¯[µ¿x«[¼ “Orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah” (QS. Al- Baqarah ayat 165). Dengan demikian, mengerjakan puasa Ramadhan adalah dalam rangka memenuhi panggilan keimanan. Sebab, kalau imannya tidak ada, atau imannya tipis, berpuasa merupakan sesuatu yang sangat berat bagi mereka, sehingga tidak mustahil mereka tidak mampu melakukan-nya. Kalau hati tidak ada keyakinan kepada Allah, niscaya tidak akan kuat melaksanakan ibadah puasa. Tetapi dengan adanya iman yang kuat pada diri seseorang, maka ia sanggup melaksanakan ibadah puasa ini, tanpa merasa berat sedikitpun. Dari uraian di atas, dapatlah kita simpulkan, bahwa puasa me-rupakan panggilan keimanan, sekaligus merupakan batu ujian bagi o-rang-orang yang beriman, apakah dengan keimanannya itu ia mampu mengerjakan ibadah puasa dengan baik. Sejauhmana kontribusi puasa yang ia kerjakan berperanan penting dalam meningkatkan kualitas iman yang ia miliki. Oleh karena itu, marilah kita sambut bersama-sama panggilan Allah ini dengan perasaan iman yang dalam semata- mata hanya ingin mengharapkan ridha-Nya, sehingga kelezatan iman akan semakin tera-sa, yang pada gilirannya akan membangkitkan selera ibadah dan amal, sehingga berpuasa bagi kita merupakan kebutuhan yang primer bagi ke-langsungan hidup iman kita kepada Allah SWT. O 21
  15. 15. 15 PPUUAASSAA DDAANN PPEENNGGEENNDDAALLIIAANN HHAAWWAA NNAAFFSSUU etika perang Badar usai yang melibatkan kurang lebih 300 tentara muslim melawan 1000 tentara kafir quraisy yang berakhir dengan kemenangan di pihak kaum mus-limin, hal ini membawa kegembiraan tersendiri bagi para sahabat. Na-mun kegembiraan ini terhenti seketika, tatkala Rasulullah SAW. mengu-capkan selamat datang kepada para pejuang Islam dan menyatakan bahwa perang Badar yang telah usai, hanyalah sebuah perang kecil, se-dangkan perang yang lebih besar sedang menanti dan berada di depan mata. Sabda Rasulullah SAW. : z_§×[u¸k«[Å«[zœ‡×[u¸k«[µ¯´˜jy “Kita ini telah kembali dari peperangan yang kecil menuju ke pepe- rangan yang besar”. Apa gerangan peperangan yang besar itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah peperangan melawan hawa nafsu. Di dalam diri kita terdapat dua bentuk nafsu yang bertolak be-lakang, yakni Nafsu Rububiyah (nafsu yang baik dan membangun/ kontruktif) yang apabila dimanfaatkan akan melahirkan tindakan-tindak-an dinamis dan berkemajuan. Disamping itu, terdapat pula nafsu yang merusak, destruktif, yang apabila diperturutkan akan mendatangkan 22 kemudharatan dan kerugian yang besar, baik terhadap diri sendiri, bahkan dapat pula merugikan orang lain. Nafsu yang merusak ini adalah seperti Nafsu Syaithaniyan (Nafsu Syetan), Nafsu Bahimiyah (Nafsu ke-binatangan) dan Nafsu Subu’iyyah (Nafsu kebuasan/kebiadaban/kesera-kahan) merupakan sekumpulan nafsu yang selalu mengajak kepada ke-jahatan yang perlu kita waspadai setiap saat. Nafsu yang berusak atau sering kita sebut hawa nafsu, hendak-lah selalu kita kendalikan dengan baik. Dan memang mengendalikan hawa nafsu merupakan perjuangan yang besar, melebihi perjuangan dalam memenangkan perang Badar. Didalam memperjuangkan melawan hawa nafsu, ada tiga ke-mungkinan hasil yang dicapai. Kemungkinan pertama, kalah. Artinya ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, bahkan ia diperbudak oleh hawa nafsunya, sehingga orang yang seperti ini dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang menuhankan hawa nafsunya. Firman Allah dalam Al-Qur’an : ¹½·¹¸«[xsb[µ¯d¿ÆzŸ[ “Adakah engkau lihat (hai Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan” (QS. Al-Jatsiyah ayat 23). K 5
  16. 16. 16 Kemungkinan kedua, terkadang menang terkadang kalah. Arti-nya, suatu ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsu-nya, namun da-lam hal tertentu atau kondisi tertentu ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Banyak faktor memang yang menyebabkan ia menang atau kalah. Ya faktor kesempatan dan peluang, faktor keadaan yang 23 memaksa, faktor lingkungan, faktor ketidaktahuan, faktor kebodohan dan sebagainya. Kunci untuk mengatasi semua ini adalah terletak pada kualitas iman seseorang. Disamping itu, sejauhmana ia memberdayakan akal dan pikirannya. Kemungkinan ketiga, menang. Artinya, ia mampu mengendali-kan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsu dapat ia kuasai, bukan se-baliknya. Dalam hubungan ini, Rasulullah pernah bersabda : ã[²[¼²ÀƒÁ«¼ ²Àƒ¹«¼×[vn[µ¯¯ ¹c¨¬¯ÅcnÁ³ÀƒÅ¬—Á´³—[v£ “Tak seorangpun diantara kita yang tak bersyetan. Saya sendiripun (ka-ta Rasulullah), selalu dalam intaian syetan. Tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya untuk melepaskan diri dari intaian syetan tersebut, sehingga syetan dapat saya kalahkan”. Dorongan hawa nafsu sering diidentikkan dengan dorongan syetan. Karena memang hawa nafsu merupakan tempat bertenggernya syetan untuk memperdayakan manusia dari jalan Allah. Oleh karena itu bagaimanapun juga, dorongan hawa nafsu harus kita kendalikan, harus kita bebaskan dari berbagai pengaruh syetan. Salah satu upaya pengen-dalian hawa nafsu ini adalah dengan berpuasa. Sebab dengan melaku-kan ibadah puasa, syetan akan terhina dan semakin terhina. Jalan atau sarana yang biasa syetan pergunakan untuk menjerumuskan manusia melaui hawa nafsu, baik nafsu perut maupun nafsu farj, semakin sempit dan semakin sulit ia pergunakan. Karena itu Rasulullah menyarankan ke-pada kita agar mempersempit keleluasaan syetan dengan berpuasa. 24 ¯v«[Âzk¯¯uÓµ^[µ¯ÂzkÀ«²À„«[²É –½k«^¹¿yk¯[½¤ÀŒŸ “Sesungguhnya syetan itu mengalir dalam tubuh manusia, seperti me-ngalirnya darah. Oleh karena itu persempitlah saluran-saluran syetan dengan menahan lapar (berpuasa)”. Dalam menjalankan ibadah puasa kita dianjurkan agar sedikit tidur (banyak bangun/berjaga), sedikit bicara, bertahan dari gangguan manusia (bersabar) dan sedikit makan. Sedikit tidur, maksudnya dalam menjalankan ibadah puasa, waktu berjaga (bangun) kita hendaknya dipergunakan untuk banyak beribadah kepada Allah, seperti shalat, berdzikir mengingat Allah, mem-perbanyak istighfar, melakukan tadarrus Al- Qur’an dan mendalami isinya, mengkaji pengetahuan- pengetahuan Islam dengan mengikuti pengajian-pengajian, membaca buku-buku agama, banyak melakukan amal-amal
  17. 17. 17 ibadah sosial, seperti bersedekah, saling tolong menolong antar sesama dan sebagainya. Upayakanlah banyak bangun daripada tidur sepanjang bangun kita dipergunakan kepada hal-hal yang menda-tangkan manfaat. Tetapi kalau bangun kita ternyata justeru banyak men-datangkan mudharat atau dipergunakan kepada-hal- hal yang tidak ber-faedah, seperti misalnya main kartu, domino dan sebagainya yang nota-bena agar puasa tidak terasa lapar dan haus, dan waktu berlangsung tidak terasa, maka tidur barangkali akan lebih baik, sebab kata Rasulul-lah “Tidurnya orang yang sedang berpuasa merupakan ibadah” : ºu_—°Îˆ«[¯½³ 25 Sedikit bicara, maksudnya bicaralah seperlunya saja, jangan ngerumpi berlebihan hingga tak cukup waktu atau dapat menimbulkan perselisihan sesama. Menurut Umar bin Khaththab, : “Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi juga menahan diri dari dusta, dari perbuatan yang salah dan dari tutur kata yang sia-sia”. Bertahan dari gangguan manusia, maksudnya kita jangan me-layani orang yang memarahi kita, atau orang yang memancing kema-rahan kita, misalnya dengan mengejek kita, mencaci maki kita, meng-gunjing kita bahkan memfitnah kita dan sebagainya. Hadapilah semua-nya dengan sabar dan lapang dada. Konsentrasikanlah hati dan pikiran kita bahwa kita sedang beribadah (puasa) karena Allah. Sabda Rasulullah SAW. : hŸz¿ØŸ°Î‡°§vnDz§[wÊŸ »´j¯Àˆ«[ ųÉ:−¤À¬Ÿ¹°bƒ¼Ç¹¬b£Ëz¯[²ÊŸ−¸k¿×¼ OµÀbz¯N°Î‡ “Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang diantara kamu berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan mencaci maki sesama. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau memarahi/ mencaci makinya, hendaklah dikatakan kepadanya : saya ini berpuasa (tiga kali)” (HR. Bukhari dan Abu Daud). Sedikit makan, maksudnya dalam berpuasa seperti ketika 26 berbuka dan makan sahur hendaklah sesederhana mungkin. Jangan memperturutkan kehendak nafsu. Tahanlah dorongan nafsu makan dan minum yang tak terkendali. Janganlah berpuasa di siang hari dibalas dengan makan minum sepuas-puasnya pada saat berbuka. Sungguh yang sedemikian, sama sekali tidak menguntungkan. Tapi justeru banyak mengakibatkan kerugian, baik dari segi kesehatan maupun dari segi ke-jiwaan. Seorang Filosof Islam Yahya bin Muadz Ar-Razi pernah berkata “Perangilah hawa nafsumu, kata beliau, dengan ketaatan kepada Allah dan Riyadhah”.
  18. 18. 18 Riyadhah adalah segala upaya untuk melakukan tindakan, se-perti meninggalkan tidur (mengurangi tidur), sedikit bicara, bertahan dari gangguan manusia, dan sedikit makan. Dengan sedikit tidur, diharapkan keinginan-keinginan hati akan menjadi baik. Dengan sedikit bicara, akan timbul kesadaran kehati-ha-tian yang pada gilirannya dapat menyelamatkan seseorang dari berba-gai bahaya dan tipu daya, terutama bahaya- bahaya yang disebabkan oleh lidah tak bertulang. Dengan bersabar dalam menghadapi segala macam gangguan manusia, diharapkan ia akan mencapai derajat orang- orang yang ber-predikat shaabiriin yang selalu dekat dengan Allah bahkan selalu ber-sama Allah kapan saja dan di mana saja ia berada. Bukankah Allah itu selalu bersama orang-orang yang sabar? Dengan mengurangi makan, akan dapat melemahkan kese-nangan-kesenangan hawa nafsu, karena di dalam kerakusan makan, 27 terdapat kekerasan hati, sehingga seseorang cenderung suka memban-del, sukar menerima saran dan nasehat. Rasulullah SAW. berpesan : “Terangilah hatimu dengan lapar dan haus serta rajinlah untuk terus mengetuk pintu Sorga dengan lapar dan haus itu pula. Karena pahala dalam menjalani semua itu seperti pahala orang yang berjihad/berpe-rang di jalan Allah. Sesungguhnya tiada sebuah amalpun yang lebih di-cintai Allah, kecuali lapar dan haus. Dan orang-orang yang memenuhi perutnya dengan berlebihan, tidak akan dapat memasuki kerajaan langit, serta akan kehilangan betapa manisnya ibadah”. Mudah-mudahan dengan menahan lapar dan dahaga selama kita berpuasa di bulan Ramadhan ini, serta menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan atau mengurangi keutuhan nilai puasa, mudah-mudahan dapat menambah manisnya ibadah kita kepada Allah. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a pernah berkata : “Aku tidak pernah kenyang karena makan setelah aku masuk Islam, semua itu justeru dapat mem-bawaku betapa manisnya beribadah kepada Allah. Dan aku tidak pernah segar karena minum, tapi semua itu justeru menambah kerinduanku untuk bertemu dengan Tuhanku”. 28 PPUUAASSAA DDAANN PPEENNYYUUCCIIAANN JJIIWWAA anusia diciptakan Allah, tidak saja berupa jasmani atau badan kasar, tetapi juga berupa rohani atau jiwa. Bah-kan kedudukan rohani atau jiwa lebih tinggi dibanding-kan kedudukan jasmani. Sebab yang menentukan gerak-gerik aktivitas manusia justeru ditentukan M 6
  19. 19. 19 oleh dorongan dari dalam, yaitu rohani. Ini-lah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Segala aktivitas manusia pada dasarnya muncul dari suatu maksud tertentu dan datang dari suatu perasaan yang dalam dan mempunyai kekuasaan penuh da- lam dirinya. Berbeda dengan binatang, gerak-gerik binatang hanya dida-sarkan kepada insting semata, tidak disertai oleh suatu pertimbangan akal maupun perasaan. Rohani atau jiwa, adalah komponen kehidupan manusia yang sangat berperan dan ia merupakan harta yang dianugerahkan Allah ke-pada manusia dengan bobot nilai yang tak terhingga dan kepada setiap kita dituntut untuk memeliharanya dengan baik sehingga keberadaan rohani atau jiwa tetap dalam keadaan yang suci bersih. Sebab apabila rohani atau jiwa bersih, maka kebersihannya itu akan memancar dan membekas pada sikap prilaku lahiriyah. Sebaliknya, apabila rohani atau jiwa kotor, maka kotorannya ini akan melekat dan membekas pada seti-ap sikap dan tingkah laku. Pada dasarnya ajaran Islam ditujukan untuk membangun jiwa manusia melalui sarana Tazkiyah yaitu suatu proses penyucian jiwa yang harus dilaksanakan secara terus-menerus oleh setiap individu dan masyarakat Islam jika ingin tetap berada dalam kondisi muslim sejati. 29 Konsep penyucian jiwa dalam Islam bersifat dinamis dan univer-sal. Artinya, hampir seluruh aspek ajaran Islam selalu mengedepankan konsep penyucian jiwa. Tatkala seseorang berikrar Asyhadu an laa ilaa-ha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah dengan menya-takan diri memeluk agama Islam, maka ikrar ini dapat membebaskan di-rinya dari segala macam bentuk penghambaan selain Allah. Bahkan de- ngan ikrar ini pula, dapat menimbulkan kesadaran yang tajam dan dalam bahwa Allah adalah lebih besar dari segala bentuk apapun. Allah lebih berkuasa dan berhak disembah oleh segenap makhluk yang ada. Oleh karenanya, ia tidak akan dapat diperbudak oleh suatu sistem duniawi yang bukan bersumber dari Allah. Ia tidak akan takut kepada siapapun, kecuali hanya takut kepada Allah. Ia akan secara konsekuensi siap me-nerima segala apa yang disyari’atkan Allah melalui Rasul-Nya Muham-mad SAW. Demikian juga dengan ajaran shalat. Shalatpun juga merupakan proses penyucian jiwa yang membebaskan manusia dari ikatan ruang dan waktu. Dengan mengangkat takbir Allahu Akbar di permulaan shalat dapat mengantarkan jiwa manusia naik dan terus naik melayang ke alam yang maha tinggi menghadap Ilahi Rabbi. Disinilah letak awalnya proses Mi’rajul Muslimin (awal proses pertemuan dan dialog dengan Allah Tu-han Yang Maha Tinggi). Jiwa yang kotor memang tidak akan mampu menghayati shalat dengan sesungguhnya. Hanya dengan jiwa yang ber-sihlah seseorang baru mampu menghayati shalat sebagai sarana yang intens untuk berdialog dengan Allah Zat Yang Maha Suci. Demikian juga dengan zakat. Melalui zakat, dapat membersih-kan jiwa si kaya dari rasa egois dan mementingkan diri sendiri, dan da-pat pula membersihkan jiwa si miskin dari rasa iri dan dengki. Begitu ju-ga haji. Dengan memakai kain ihram, mengandung makna simbolik dari 30 kesucian hati orang yang memakainya. Dan pakaian inilah pula yang mendorong seseorang untuk pergi haji, dengan meninggalkan sanak saudara, anak cucu, kampung halaman, harta benda, pangkat jabatan dan segala yang dicintainya. Ia datang ke tanah suci dengan penuh ke-ikhlasan semata-mata
  20. 20. 20 memenuhi panggilan Allah untuk memperoleh berkat dan ridha- Nya. Ayat 183 surah Al-Baqarah yang berisi perintah puasa Rama-dhan untuk mengantarkan orang-orang yang beriman menuju jenjang taqwallah yang merupakan inti pokok tujuan puasa, hal ini juga tidak le-pas dari konsep penyucian jiwa. Imam Ibnu Katsir menggarisbawahi, bahwa puasa adalah pembersihan jiwa, menyucikannya dan memelihara-nya dari campuran yang kotor dan dari akhlak yang tercela. Dengan berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan diri dari nafsu syahwat dan beberapa kesenangan yang halal lainnya, meng-ingatkan kita kepada orang-orang yang selalu menderita sepanjang ta-hun, bahkan sepanjang hidupnya. Dengan berpuasa dapat menggugah diri seseorang yang hidup bergelimpangan harta dan kemewahan agar dapat merasakan penderitaan saudara-saudaranya sehingga dari pe-ngalaman ini diharapkan dapat membangkitkan perasaan lembut dan santun serta rasa kesatuan, persaudaraan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Dengan berpuasa, jiwa akan menjadi sehat. Dan jiwa yang se-hat selalu mempunyai rasa solidaritas sosial yang tinggi khususnya penghayatan terhadap orang-orang yang lemah, fakir miskin dan anak yatim. Perasaan tersebut tidak akan berhenti sampai disitu, tetapi akan ia realisasikan dalam perbuatan nyata untuk meringankan beban pende-ritaan sesamanya. 31 Jiwa yang sehat akan selalu ingat dan sadar bahwa rezeki yang ia peroleh selama ini merupakan amanat Allah yang di dalamnya ada hak hak orang lain yang wajib dikeluarkan. Sehingga orang yang berpuasa dan benar-benar menghayati puasanya, tidak akan segan-segan untuk berbuat kebajikan. Jika keadaan ini telah merasuk ke dalam jiwa seseo-rang dan kemudian terrealisasi dalam perbuatan amal kebajikan, maka boleh dikatakan bahwa proses penyucian jiwa melalui ibadah puasa be-nar-benar membuahkan hasil yang baik. Kalau kita tengok sejarah orang-orang terdahulu dalam mela-kukan puasa, nampaknya puasa yang mereka lakukan juga berorientasi pada penyucian jiwa. Sebagai contoh dapat kita baca sejarah agama Hindu, dimana para pengikut Brahma dan Wisnu, apabila mereka ingin memperoleh berkah dari para Dewa, mereka terlebih dahulu melakukan penyucian jiwa dengan berpuasa. Demikian juga Nabi Musa a.s ketika beliau ingin beraudensi dengan Tuhan di Bukit Sinai, terlebih dahulu be-liau melakukan puasa selama 40 hari. Karena untuk berkomunikasi de-ngan Tuhan diperlukan penyucian jiwa. Banyaklah lagi contoh lainnya yang menggambarkan bahwa puasa pada dasarnya merupakan upaya-upaya dalam penyucian jiwa. Salah satu tugas pokok Rasulullah SAW. disamping menyampai-kan ayat-ayat Allah dan mengajarkan kitab suci serta hikmah (ilmu pe-ngetahuan) beliau juga ditugasi untuk membersihkan atau menyucikan ummat manusia, baik yang menyangkut soal-soal jasmaniah terlebih-le-bih soal rohaniah dengan cara mengarbol bersih-bersih dari segala si-fat-sifat kemusyrikan dan penyakit-penyakit rohani lainnya. Sangat banyak nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah yang menunjukan betapa perjuangan Rasulullah di dalam usaha 32
  21. 21. 21 membersihkan rohani manusia. Karena kebersihan rohani merupakan syarat mutlak bagi seorang hamba yang kepingin memperoleh ridha Al-lah SWT. Firman Allah dalam Al-Qur’an : ©^yÅ«[Á˜jy[ »´Ï°°«[ ´«[¸c¿Ô¿ Á¬ru[¼ ¾u_—ÁŸÁ¬rvŸ »À‹z¯»À‹[y Ác´j “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Sorga-Ku” (QS. Al-Fajr ayat, 27-30). Semoga puasa yang kita jalankan di bulan Ramadhan ini dapat berfungsi sebagai pembersih jiwa kita masing-masing untuk mencapai jiwa yang tenang, yaitu jiwa yang selalu stabil, konstan dan istiqamah, baik dalam suka maupun di dalam duka. Marilah kita perbaharui terus kesucian jiwa kita dengan banyak beribadah kepada Allah serta beramal shaleh, karena orang yang selalu membersihkan jiwanya adalah orang yang sangat beruntung dalam pandangan Allah. Sebaliknya, orang yang tidak mau berusaha untuk membersihkan jiwanya, apalagi jika malah mengotorinya, maka merugilah orang ini. Firman Allah SWT. : ¸~uµ¯]rv£¼ ¸§{µ¯p¬Ÿ[v£ “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams ayat 9-10). 33 PPUUAASSAA MMEENNAANNAAMMKKAANN KKEEDDIISSIIPPLLIINNAANN ersoalan disiplin adalah persoalan yang tidak asing lagi bagi kita. Sejak dulu hingga sekarang semakin ramai dibi-carakan. Apapun alasannya, disiplin adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan kita perlu meningkatkan disiplin itu. Kenapa de-mikian? Karena disiplin merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita, dan ia merupakan suatu sikap yang berkaitan erat de-ngan kenyataan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan berke-hendak bebas. Sikap disiplin ini jika diterapkan dan dikembangkan, me-mungkinkan manusia dapat mencapai kemajuan dalam hidupnya. Dalam kehidupan masyarakat masalah disiplin memang masih merupakan persoalan yang ruwet, lantaran mungkin karena belum diberi bentuk yang konkrit. Bahkan secara jujur kitapun harus mengakui bahwa masyarakat kita nampaknya masih belum tergolong masyarakat yang berpola hidup disiplin. Tengok saja misalnya bagaimana orang-orang dengan seenaknya membuang sampah di sembarang tempat. Tengok pula bagaimana ulah para pengemudi di jalan raya, dan bagaimana ulah para penumpang P 7
  22. 22. 22 yang suka berebutan dan berjejal tatkala menaiki bis atau kendaraan umum lainnya, dan sebagainya. Memang ruwet, betul-betul ruwet, di satu pihak kita semua me-nyadari betapa pentingnya disiplin, namun dilain pihak tingkah laku kita sehari-hari justeru masih jauh dari kedisiplinan. Dengan kata lain, kesa-daran berdisiplin dengan tindakan yang terlihat sehari-hari, masih ter-bentang jarak yang sangat jauh. 34 Masalah disiplin adalah masalah kesadaran diri pribadi. Ia ber-ada di dalam diri manusia. Ia bukan merupakan faktor yang semata-ma-ta dipengaruhi oleh pihak luar diri manusia. Jadi, perwujudan disiplin da-lam kehidupan nyata sehari-hari sangat tergantung pada kesadaran diri pribadi masing-masing. Dapat dikatakan bahwa disiplin adalah kesediaan untuk melaku-kan kewajiban atau mentaati peraturan serta tata tertib yang berlaku. Bukan karena paksaan dari luar, tapi karena kesadaran dalam diri bah-wa sebagai manusia yang bermartabat, kita harus menegakkan disiplin. Dengan demikian jelaslah bahwa disiplin adalah suatu sikap khas yang bersifat manusiawi. Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan pribadi dan masyarakat pada prinsipnya sangat menjunjung tinggi nilai- nilai kedisip-linan. Sehingga segala macam bentuk ibadah ritual dalam Islam senan-tiasa didasarkan atas kedisiplinan. Seperti ibadah shalat umpamanya, sangat banyak ajaran shalat yang mensyaratkan adanya kedisiplinan, seperti tentang penentuan jadual waktu shalat, ketentuan rakaat, keter-tiban bacaan dan gerak laku shalat. Firman Allah SWT. : d³§º½¬ˆ«[²[ º½¬ˆ«[[½°À£Ÿ b½£½¯_c§µÀ´¯Ì°«[Ŭ— “ Maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa ayat 103). 35 Kemudian, “Amal perbuatan yang paling utama” kata Rasulullah, adalah Shalat tepat pada waktunya”. Bahkan beliau menganjurkan agar shalat di awal waktu, itu lebih utama lagi. ¸c£¼Å¬—ºØˆ«[ : ª£ I−ŒŸ[ª°—×[Â[ “Amal perbuatan apakah yang paling utama? Berkata (Rasulullah SAW) shalat tepat pada waktunya” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud). ã[²ÊŸ °¨c£¼ª¼ÇÅŸ°¨b؇[½¬‡¼ °¨«¡—Œ¿ “Dan kerjakanlah shalat-shalat kamu pada awal waktumu, karena Allah akan menggandakan pahala untuk kamu” (HR. Thabrani). Shalat lima waktu sehari semalam merupakan sarana latihan dan pendidikan kedisiplinan. Dengan waktu shalat yang
  23. 23. 23 telah ditentukan, mengharuskan seorang muslim senantiasa menjaga dan memeliharanya, sehingga mengerjakan shalat selalu tepat waktu. Ini merupakan suatu latihan yang tertib untuk menjaga waktu dan memanfaatkannya, dengan harapan dari pemanfaatan waktu tersebut akan mendatangkan keun-tungan yang besar. Disamping itu shalat berjamaah yang sangat dianjurkan, juga mengandung didikan kedisiplinan, karena dalam shalat berjamaah, mak-mum wajib mengikuti gerakan imam dan melakukannya setelah imam, jangan mendahului atau bersamaan. Ha l ini menunjukkan tamsil ibarat 36 yang universal terutama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dimana sebagai rakyat, kita harus taat dan patuh terha-dap pemimpin, sepanjang pemimpin tersebut tidak menyimpang dari ke-tentuan-ketentuan agama, negara dan adat istiadat yang sedang berla-ku di masyarakat. Begitu pula dengan puasa. Melalui puasa banyak didapat man-faat yang besar terutama dalam upaya melatih kita hidup berdisiplin. Dan memang melakukan ibadah puasa memerlukan kedisiplinan. Tanpa kedisiplinan tidak mungkin seseorang mampu melakukan puasa. Tatkala kita bangun dan makan sahur, kemudian kita tanamkan niat berpuasa besok harinya, tatkala itu pula sebenarnya kita sudah me-nanamkan ke dalam diri kita sikap disiplin. Niat puasa yang mantap ini kita wujudkan dengan berpuasa, dan selama kita berpuasa kemurnian disiplin kita diuji. Apakah kita mampu melaksanakan kewajiban berpuasa kita pada hari ini dengan baik? Jika ya, artinya kita berdisiplin. Tetapi jika tidak, ini artinya kita belum berdisiplin. Pada waktu berpuasa, kita kan dilarang makan dan minum, wa-lau yang dimakan dan diminum itu barang yang baik dan halal, barang yang kita miliki sendiri. Seandainya kita mau, mungkin tidak terlalu sulit. Tinggal ke belakang sebentar? atau masuk kamar sebentar?, apa yang kita kerjakan?, terserah kita. Mau makan, minum dan sebagainya, tak seorangpun yang bakal tahu, kalau kita sedang membatalkan puasa de-ngan berbuka sebelum waktunya tiba. Tetapi ternyata semua itu tidak kita lakukan, walaupun kesempatan dan peluangnya ada. Kenapa?, itu-lah dia disiplin, karena disiplin merupakan kesadaran pribadi. Seseorang yang berpuasa dengan penuh kesadaran bahwa 37 perintah puasa ini berasal dari Allah, maka dengan keimanannya kepada Allah ia tentu secara konsekuen akan menjalankan ibadah puasa ini de-ngan sebaik-baiknya. Dengan demikian, kunci kedisiplinan dalam berpu-asa ini memang terletak pada kualitas keimanan seseorang. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas disip-linnya. Puasa memang menumbuhkan disiplin jiwa yang kuat. Puasa pun juga mendidik manusia untuk berakhlak mulia, teguh memegang amanah serta menanamkan kejujuran. Di tempat-tempat sunyi, di mana tidak seorangpun yang bakal melihat, di pokok-pojok rumah, di ruang kamar yang sepi dan sebagai-nya, dengan leluasa sebenarnya kita bisa melakukan
  24. 24. 24 hal-hal yang dapat membatalkan puasa, namun semua itu tidak menggiurkan keiinginan kita untuk berbuka. Apabila puasa kita laksanakan dengan penuh disiplin, dalam arti disiplin tidak akan makan dan minum, tidak akan melakukan hu-bungan suami isteri pada siang hari, tidak akan berdusta, tidak akan berbuat yang bisa merusak keutuhan puasa kita, insyaAllah puasa kita akan menumbuhkan kesadaran yang tinggi pada diri kita mansing-ma-sing, suatu kesadaran yang berkesinambungan, yang melekat dan mem-bekas serta memancarkan sepak terjang kehidupan sepanjang umur. Semoga puasa kita di bulan Ramadhan ini membuahkan kesa-daran kedisiplinan yang tinggi, baik kedisiplinan dalam beribadah, da-lam bermasyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegara, yang pa-da gilirannya nanti akan menciptakan sikap disiplin nasional secara me-nyeluruh. 38 TTIINNGGKKAATTAANN PPUUAASSAA enurut Imam Al-Ghazali dalam ktabnya Ihya ‘Ulumuddin juz 1 disebutkan bahwa, “Puasa itu mempunyai tiga peringkat derajat, yaitu peringkat puasa umum, pering-kat puasa khusus dan peringkat puasa khususil khusus”. Peringkat puasa umum adalah tingkatan puasa yang paling rendah, karena puasa pada tingkat ini hanya disandarkan pada puasa dalam arti hanya menahan diri dari makan dan minum dan menahan diri dari melakukan hubungan seksual disiang hari. Peringkat puasa umum disebut juga peringkat puasanya orang awam, atau orang kebanyakan, karena memang secara umum kebanya-kan orang mampu melakukan puasa seperti ini. Peringkat puasa ke dua atau peringkat menengah, sedang, adalah peringkat puasa khusus. Adal;ah tingkatan puasa yang pelaksa-naannya tidak saja menahan diri dari makan dan minum dan melakukan hubungan seksual di siang hari, tetapi juga mengendalikan seluruh pan-ca indera dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Seseorang yang berada pada tingkatan puasa khusus ini, di-samping mampu menahan diri dari makan dan minum dan melakukan hubungan seksual di siang hari, ia juga mampu menahan pendengaran-nya, penglihatannya, lidahnya, kaki dan tangannya dan seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang merusak, perbuatan dosa atau per-buatan yang dapat merugikan orang lain. Pelaksanaan puasa pada 39 tingkat ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang shaleh. Peringkat puasa yang ketiga disebut puasa khususil khusus, atau puasa yang terkhusus dari yang khusus, atau puasa yang paling utama, adalah pelaksanaan puasa disamping menahan diri dari makan dan minum, dari hubungan seksual di siang hari, dari perbuatan panca indera yang merusak, puasa khususil khusus merupakan puasa hati, puasa jiwa, dengan mengendalikannya dari niatan-niatan yang jahat, ni-atan-niatan M 8
  25. 25. 25 yang merusak, niatan-niatan yang rendah dan pikiran-pikir-an duniawi. Seseorang yang berada pada tingkatan puasa khususil khusus ini, disamping mampu menahan diri dari makan dan minum, melakukan hubungan seksual dan dari perbuatan panca indera yang merusak, ia juga mampu menahan diri dari niatan- niatan, pikiran-pikiran yang buruk atau jahat, seperti perasaan iri dan dengki, perasaan riya, takabbur, mau menipu, memfitnah, mengadu domba dan sebagainya. Puasa pada tingkat ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqien dan Muqarrabiin. Dari penjelasan di atas, barangkali kita bisa mengevaluasi diri kita masing-masing, pada tingkatan yang mana kira-kira kita berada. Jika sekiranya peringkat puasa kita masih tergolong awwam, tentu kesem-patan untuk meningkatkannya ke jenjang khusus, atau minimal mende-kati, masih ada. Untuk mencapai ke peringkat puasa khusus, diperlukan paling tidak enam hal yang harus dipatuhi. Pertama, menjaga pandangan mata dari segala yang tercela atau yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah. 40 Rasulullah SAW. bersabda : ã¹´˜«À¬^[¯¸~µ¯¯½°¯°¸~ºz”´«[ ³°¿É−j¼|—ã[¶bÓã[µ¯Ÿ½r¸§zbµ°Ÿ ¹_¬£ÅŸ¹b¼Ønvk¿ “Sekilas pandangan mata, adakalanya merupakan sebuah anak panah yang berbisa diantara panah-panah Iblis yang terkutuk. Maka barangsi-apa menahan dirinya dari pandangan seperti itu, karena rasa takutnya kepada Allah, maka Allah SWT. akan melimpahkan kepadanya keimanan yang terasa amat manis dalam hatinya” (HR. Al-Hakim). Kedua, mejaga lidah dari ucapan-ucapan yang sia-sia, seperti berdusta, menggunjing, memfitnah, mencaci maki, menyinggung perasa-an orang lain, menimbulkan pertengkaran sesama, akibat perbuatan-lidah dan sebagainya. Rasulullah SAW. bersabda : °§vn[¯½‡¯½¿²§[wŸ »´j¯Àˆ«[ [vn[¹^~²Ÿ`s¿×¼xϯ½¿hŸz¿ØŸ °Î‡Á³[−¤À¬Ÿ¹¬b£¼ “Puasa itu perisai. Maka apabila salah seorang kamu berpuasa, maka janganlah ia menuturkan kata-kata keji, janganlah pula menyebarluaskan 41 kata-kata keji tersebut. Dan apabila seseorang sedang memakinya atau memberikan pukulan padanya, maka (jangan kamu balas), tapi katakan-lah, saya sedang berpuasa” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
  26. 26. 26 Ketiga, menahan diri dari pendengaran atau mendengarkan se-suatu yang dibenci oleh Allah. Seperti mendengarkan berita bohong, mendengarkan gunjingan dan sebagainya. Perlu kita ingat bahwa segala sesuatu yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Karena itu Allah menyamaratakan antara orang yang suka mendengarkan yang haram dengan orang yang memakan harta yang haram, sebagaimana firman-Nya : do«²½¬§[]x¨¬«²½˜°~ “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan makanan yang haram” (QS. Al- Maidah ayat 42). Kemudian sabda Rasulullah SAW. : °fÛ[ÅŸ²¨¿zƒ™°c°«[¼]cœ°«[ “Orang yang menggunjing dan yang suka mendengarkan gunjingan ada-lah serupa dalam dosa” (HR. Ath-Thabrani). Keempat. Mencegah semua anggota tubuh lainnya dari perbu-atan haram. Misalnya mencegah kaki untuk melangkah ke tempat-tem-pat maksiat. Mencegah tangan agar jangan mengambil barang milik 42 orang lain atau melempar pukulan sehingga menyakitkan jasmani orang lain. Menjaga mata agar tidak terarah kepada obyek-obyek yang diha-ramkan. Menjaga mulut dari suara-suara sumbang dan menyakitkan atau perkataan yang kotor, tidak senonoh dan sebagainya. Menjaga pe-rut agar tidak dimasuki oleh makanan dan minuman yang haram atau yang meragukan (syubhat) pada waktu berbuka puasa. Berlindunglah kita kepada Allah dari pernyataan Rasulullah SAW yang menyatakan : –½k«[×[¹¯À‡µ¯¹«À«°Î‡µ¯°§ …˜«[¼ “Betapa banyak orang yang berpuasa, sedangkan ia tidak mendapat se-suatu dari puasanya itu, kecuali lapar dan dahaga” (HR. An-Nasa’ie). Kelima, mencukupkan diri ketika berbuka dengan makanan dan minuman yang halal dan ala kadarnya. Jangan berlebihan atau memper-turutkan kehendak nafsu. Ingatlah bahwa, tak ada tempat yang paling dibenci oleh Allah, selain dari perut yang penuh dengan makanan. Keenam, menciptakan suasana hati pada saat berbuka antara harap dan cemas. Harap, artinya mengharap kepada Allah agar puasa kita diterima di sisi-Nya, sebagai amal ibadah. Dan cemas jangan-jangan puasa kita ditolak oleh Allah SWT.
  27. 27. 27 Jika enam hal di atas dapat kita laksanakan dengan sebaik-ba-iknya, insyaAllah puasa kita menjadi puasa yang berkualitas. 43 PPRRIIBBAADDII MMUUTTTTAAQQIIEENN YYAANNGG DDIIIINNGGIINNKKAANN PPUUAASSAA eperti yang kita maklum bahwa tujuan pokok disyari’at-kannya puasa Ramadhan adalah untuk memperoleh gelar taqwallah (bertaqwa kepada Allah SWT). Kata taqwa berasal dari kata kerja waqa, yang artinya hati- hati, menjaga, memelihara, melindungi, memperbaiki, menjauhi dan sebagai-nya. Menjaga, maksudnya menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik, perbuatan maksiat. Memelihara, maksudnya memelihara hati dan pikiran dari kecenderungan-kecenderungan yang buruk, jahat maupun merusak, yang dapat merugikan diri sendiri, terlebih-lebih merugikan orang lain. Melindungi, maksudnya melindungi diri sendiri dari segala macam kotoran dan penyakit rohani, seperti iri, dengki, bakhil, serakah dan sebagainya. Memperbaiki, maksudnya melakukan perbaikan diri se-cara terus menerus. Jika terlanjur berbuat dosa dan kesalahan, maka segera bertobat dan tidak mengulanginya lagi di masa-masa menda-tang. Menjauhi, maksudnya menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dan dosa. Pendeknya, taqwa merupakan istilah yang amat penting da-lam Islam yang secara umum diartikan, mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwallah, merupakan tujuan puncak yang menjadi sumber dari kehidupan rohani orang yang beriman dan puasa Ramadhan merupakan 44 salah satu saran sekaligus cara untuk mencapai taqwallah tersebut. Musfassir terkenal Muhammad Abduh mengatakan bahwa, “Puasa dalam ajaran Islam bukanlah untuk menyiksa diri atau untuk kepentingan fisik semata. Tetapi puasa adalah untuk mendidik dan menyucikan jiwa”. Dengan penyucian jiwa tersebut pada gilirannya akan lahir pribadi-priba-di yang taqwa. Dari pribadi-pribadi yang taqwa diharapkan tumbuh kelu-arga yang bertaqwa, dan dari keluarga yang bertaqwa akan terjelma masyarakat yang bertaqwa, yakni suatu masyarakat yang tumbuh dan berkembang dengan azas tazkiyah yang selalu menjaga kesuciaan di-rinya dan mengembangkan rasa tolong menolong, saling hormat meng-hormati, saling kasih mengasihi yang pada gilirannya terciptalah suatu masyarakat yang baldhatun thayyibatun suatu negeri yang masyarakat-nya penuh kedamaian, ketentraman dan kemakmuran. Sikap taqwallah yang terhunjam dalam dada seseorang, akan menampilkan sikap pribadi yang utuh menyeluruh. Seseorang yang ber-taqwa senantiasa bersikap baik dalam situasi dan kondisi apapun, baik pada saat suka maupun pada saat duka. Pada saat sepi sendirian mau-pun di tengah keramaian. Orang yang bertaqwa akan terpancar dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari yang selalu cenderung kepada per-buatan baik (ihsan). S 9
  28. 28. 28 Oleh karenanya, Allah SWT. mensejajarkan antara taqwa dengan ihsan (perbuatan baik). Firman Allah dalam Al-Qur’an : ²½´o¯°·µ¿x«[¼[½¤b[µ¿x«[™¯ã[²[ “Sessungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan)” (QS. An-Nahl ayat 128). Puasa Ramadhan sebagai sarana yang disediakan Allah untuk 45 dilaksanakan oleh orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menginginkan derajat taqwa , suatu derajat yang paling tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. apabila dilaksanakan dengan baik, insyaAllah akan me-lahirkan pribadi-pribadi muttaqien yang memiliki sifat-sifat terpuji, seba-gai buah dari ibadah puasa sekaligus merupakan sikap yang sebenarnya diinginkan oleh puasa itu sendiri. Pribadi-pribadi muttaqien atau sifat-sifat pribadi yang diingin-kan puasa Ramadhan, antara lain adalah sebagai berikut : 1. Suka Menolong Orang Lain Ajaran puasa yang mengandung hikmah kolektif, dimana setiap orang yang sedang menjalankannya pasti merasakan lapar dan dahaga, hal ini dapat menimbulkan perasaan iba bagi orang- orang kaya terha-dap orang-orang miskin. Ibnul Qayyim mengatakan, “Puasa dapat me-nyadarkan seseorang, ternyata betapa menderitanya lapar yang saban hari di derita oleh orang- orang miskin”. Ibnul Hamman juga berkata, “Pada saat seseorang merasakan lapar dalam waktu tertentu, akan mengingatkan ia kepada orang yang selalu menderita kelaparan di se-panjang hidupnya. Oleh karena itu ia akan segera bertindak untuk me- ringankan penderitaan orang-orang miskin dengan bersikap santun ke-pada mereka”. Sehubungan dengan ini Rasulullah SAW. sangat meng-anjurkan agar pada bulan Ramadhan ini, kita perbanyak amal kebajikan/ amal shaleh. Rasulullah adalah orang yang paling suka berbuat keba-jikan, terlebih-lebih di bulan Ramadhan, seperti yang diterangkan dalam hadiits berikut ini : ²§¼¥¬s«[u½j[O†Nã[ª½~y²§ 46 ÏÀƒ¹ÀŸ©°¿×»¬~z°«[p¿z«§²Œ¯yÅŸ “Rasulullah SAW. adalah orang yang paling dermawan, dan lebih derma-wan lagi ketika di bulan Ramadhan. (Tatkala Malaikat Jibril datang mene-mui beliau, dan biasanya Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ra-madhan, lalu membacakan ayat Al- Qur’an kepada beliau). Sungguh ke-tika Jibril datang menemui Rasulullah SAW. didapatinya beliau lebih der-mawan, laksana dermawannya angin ketika bertiup” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian, dalam beberapa hadits Rasulullah SAW. bersabda, yang arti-nya : “Puasa itu perisai dan shadaqah itu dapat memadamkan dosa, laksana air memadamkan api”. “Seutama-utama shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan”
  29. 29. 29 “Sesungguhnya shadaqah itu dapat memadamkan kemurkaan Tuhan dan menolak akibat jelek”. 2. Suka Memberi Maaf dan Mau Meminta Maaf Dalam menjalankan ibadah puasa dituntut tingkat kesabaran yang tinggi. Rasulullah sendiri mengatakan bahwa, “Puasa itu separuh dari kesabaran”. Maksudnya, tanpa didasari kesabaran, tidak mungkin seseorang dapat menjalankan puasa dengan baik. Oleh karena itu mari-lah kita latih kesabaran kita dengan berpuasa untuk melahirkan berba-gai sikap positif, seperti suka memaafkan kesalahan orang lain dan tidak segan-segan meminta maaf jika terlanjur berbuat salah. Saking penting-nya sikap sabar ini, Rasulullah SAW. mengharapkan kepada kita, agar 47 mampu menahan marah dan meningkatkan kesabaran, seperti yang dinyatakan dalam hadits berikut ini : xQ°Î‡Å³É:−¤À¬Ÿ¹°bƒ¼Ç¹¬b£Ëz¯[²ÊŸ “Seandainya ada orang yang mengajak brkelahi atau mencaci maki, maka katakanlah, saya sedang berpuasa (2 kali)” (HR. Bukhari). Kalau cuma memberi maaf, mungkin tidak terlalu berat bagi ki-ta, dibandingkan jika kita disuruh atau dengan kemauan sendiri meminta maaf kepada orang lain, kendati dua-duanya merupakan sesuatu yang berat dilakukan. Kenapa demikian? Karena kalau kita memberi maaf, se-cara psikologis posisi kita di atas, yakni sebagai pemberi maaf. Tetapi kalau kita yang datang kepada seseorang untuk meminta maaf, posisi kita berada di bawah, yakni peminta maaf. Disamping itu, sebagai pe-minta maaf, ada perasaan takut, kawatir, cemas, kalau-kalau permo- honan maaf kita ditolaknya. Semuanya ini juga tergantung besar kecilnya kesalahan yang diperbuat dan dampak yang ditimbulkannya. Jika kesa-lahannya besar dan mendatangkan dampak risiko yang besar, maka memberi maaf atau meminta maaf merupakan sesuatu yang sulit dilaku-kan. Tetapi jiika kesalahannya ringan saja, atau masih dalam batas ke-wajaran, maka memberi dan meminta maaf mungkin tidak terlalu sulit di- lakukan. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, jiwa kita dilatih sedemiki-an rupa, agar berjiwa besar dan sanggup memberikan maaf kepada orang lain serta sanggup meminta maaf, jika terlanjur berbuat salah kepada orang lain, tidak memandang apakah kesalahannya itu besar atau kecil. 48 3. Selalu Ingat Kepada Allah dan Meminta Ampun Kepada-Nya Jika Melakukan Dosa dan Kesalahan Puasa sebagai manifestasi dari ketaatan seseorang dalam me-laksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kondisi inilah yang menjadikan seseorang mampu mawas diri untuk membaca cacat cela diri sendiri dan berusaha memperbaikinya sehingga apabila ia ter-lanjur berbuat kesalahan dan dosa ia akan segera minta ampun dan bertobat kepada Allah SWT. Sikap inilah yang diinginkan oleh puasa, dan ini juga merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana terlukis dalam Al-Qur’an :
  30. 30. 30 ‹z—»´j¼°¨^yµ¯ºz œ¯Å«[Ó½—y~¼ µÀ¤c°¬«av—[Šy×[¼a½°«[ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran ayat 133). °¸ ³[Ó½°¬“¼[»„nŸ[½¬˜Ÿ[w[µ¿x«[¼ z œ¿µ¯¼ °¸^½³x«[¼z œc~Ÿã[[¼z§w [½¬˜Ÿ¯Å¬—[¼zˆ¿°«¼ ã[×[]½³x«[ ²½°¬˜¿°·¼ 49 “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatn keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran ayat 135). 4. Selalu Bertawakkal Kepada Allah Dalam Setiap Aktivitas Sehari- hari Sudah menjadi sunnatullah bahkan kita hidup di dunia ini memerlukan perjuangan dan setiap perjuangan terkadang membutuh-kan pengorbanan, baik pengorbanan tenaga, pikiran, harta, tahta bah-kan nyawa sekalipun. Disamping itu, segala perjuangan yang kita la-kukan pasti berhadapan dengan berbagai tantangan dan rintangan. Dan ketahuilah bahwa tantangan dan rintangan itu merupakan ujian Allah yang perlu kita hadapi dengan seksama, berjiwa besar dan penuh ke-ikhlasan, sambil bertawakkal kepada Allah SWT. Demikian sebagian pribadi muttaqien yang diinginkan puasa Ramadhan, yang sebenarnya masih banyak lagi sikap pribadi lainnya yang perlu kita gali dan kembangkan dalam rangka upaya meningkatkan kualitas puasa kita. 50 TTAAQQWWAA SSEEBBAAGGAAII SSTTAANNDDAARR NNIILLAAII10
  31. 31. 31 slam sebagai risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. se-bagai rahmatan lil ‘alamiin tidak pernah absen di dalam ikut serta memecahkan persoalan- persoalan hidup manusia. Salah satu persoalan hidup yang dihadapi manusia dan ini sa-ngat mendasar sifatnya adalah tentang bagaimana menentukan standar nilai manusia. Standar nilai ini berfungsi sebagai pedoman untuk menilai manusia baik atau buruk, mulia atau terhina. Disamping itu, standar nilai ini juga dijadikan pedoman untuk meraih kesuksesan sekaligus mewarnai cita-cita dan pandangan hidup manusia. Pada sekitar abad ke enam dan ke tujuh, yakni menjelang di-bangkitkannya Rasul terakhir Muhammad SAW. sebenarnya manusia di-berbagai kawasan bumi ini telah mempunyai standar nilai. Akan tetapi nampaknya masih sangat bersahaja dan memang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka saat itu. Diantara mereka ada yang menjadikan kekuatan fisik dan ke-pandaian berkelahi, berperang, bertempur sebagai standar nilai. Sehing-ga baik buruk seseorang tergantung kuat tidaknya fisik. Berani tidaknya berkelahi, pandai tidaknya berperang, bertempur. Akibatnya, di sana sini berdiri padepokan silat, perkumpulan-perkumpulan bela diri dan sema-camnya. Ramailah orang mempelajari ilmu-ilmu kanuragan, ilmu-ilmu ke-saktian, kekebalan dan sebagainya. Diantara mereka tidak jarang terjadi saling adu kekuatan, kesaktian, berkelahi, bertempur dan sebagainya. 51 Sehingga kehidupan mereka tak ubahnya laksana sekumpulan binatang buas yang hidup di rimba belantara yang tunduk dan patuh terhadap hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Ada lagi sementara orang yang menjadikan standar nilai be-rupa harta dan kekuasaan. Dengan memiliki harta yang banyak, kedudu-kan yang tinggi, ia dijadikan sebagai orang yang terpandang, terhormat dan berkuasa. Untuk memperoleh predikat tersebut, ia rela mengorban-kan apa saja. Perebutan harta dan tahta sudah tidak bisa dihindari lagi. Dan dari perebutan tersebut tidak jarang terjadi perkelahian, perseng-ketaan dan pertumpahan darah. Muncullah kelompok-kelompok dalam masyarakat. Ada kelompok kapital, peodal, rakyat jelata dan sebagainya. Dalamnya jurang pemisah antara si miskin dengan si kaya. Terjadilah penindasan kaum yang berkuasa terhadap rakyat jelata. Manusia sudah bertingkat-tingkat, bergolongan-golongan dan berkasta- kasta. Ada pula sekelompok manusia yang menjadikan kebagusan ru-pa atau kecantikan sebagai standar nilai. Sehingga masyarakat yang menganut paham ini, pekerjaan sehari-harinya selalu ditujukan dalam rangka memperbagus fisik, memperindah bentuk tubuh dan memper-cantik wajah. Semua ini dilakukan oleh terutama para wanitanya. Mereka menjunjung tinggi dan mengembangkan budaya kein-dahan sebagai hal yang utama, sehingga berdirilah salon- salon kecan-tikan di mana-mana. Akibatnya, manusia dijadikan barang tontonan dan pajangan, yang seringkali menjadi makanan empuk bagi nafsu birahi. Ada lagi sementara orang yang menjadikan keturunan, warna kulit dan tanah kelahiran sebagai standar nilai. Akibatnya I
  32. 32. 32 sering terjadi karena soal keturunan dan perbedaan warna kulit, menjadi ajang 52 persengketaan dan perselisihan bahkan peperangan. Akibat soal tanah kelahiran tidak jarang mengakibatkan pertumpahan darah yang menge-rikan. Kalau kita ingin jujur dan mencoba melihat kenyataan yang ada dalam masyarakat sekarang ini, ternyata standar nilai yang pernah dia-nut dan berlaku dalam masyarakat tempo dulu, sampai saat inipun pengaruhnya masih terasa. Walaupun tidak mendasar sifatnya, ternyata kekuatan fisik, harta, tahta, kecantikan, warna kulit, keturunan dan tanah kelahiriran masih mendominasi bagi strata nilai sosial seseorang. Terkadang soal harta, masih dijadikan ukuran untuk menilai se-seorang terpandang atau tidak. Golongan orang-orang berduit, yang kaya, yang punya pangkat jabatan kedudukan, dikelompokkan ke dalam orang-orang elit, sehingga mereka merasa enggan bahkan merasa jijik bergabung dengan orang- orang biasa, rakyat biasa. Kadang-kadang so-al keturunan, ras dan tanah kelahiran menjadi pertimbangan yang utama di dalam pergaulan masyarakat, misalnya di dalam soal perkawinan, di- mana persoalan suku dan adat istiadat masih menjadi pertimbangan di dalam memilih jodoh. Sekarang apa jawaban Islam tentang standar nilai ini. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 Allah memberikan jawaban : Åg³[¼z§wµ¯°¨´¤¬r³[}´«[¸¿Ô¿ °¨¯z§[²[[½Ÿy˜c«−ÎÔ_£¼^½˜ƒ°¨´¬˜j¼ zÀ_s°À¬—ã[²[°¨¤b[ã[v´— 53 “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu sekalian saling mengenal satu dengan lainnya. Karena sesungguhnya yang termulia diantara kamu di sisi Allah, adalah yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui, Maha Sadar”. Dari ayat ini jelaslah bahwa standar untuk menilai manusia mu-lia atau tidak, baik atau buruk, tergantung kepada prestasi amaliyahnya dalam berbakti kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesamanya, atas istilah singkatnya, taqwa. Begitu pentingnya standar nilai berupa taqwa ini, sehingga di dalam Al-Qur’an berulangkali Allah sebutkan. Bahkan Rasulullah SAW. sendiri dalam berbagai sabda beliau antara lain dinyatakan : °·¤bǪ£ I}´«[¯z§[µ¯ ã[ª½~y¿−À£ “Rasulullah SAW. ditanya, Siapakah manusia yang paling mulia? Nabi menjawab, Yang lebih bertaqwa” (HR. Bukhari Muslim).
  33. 33. 33 Å«É×¼ °¨¯~jÇÅ«Éz”´¿×Å«˜bã[²É °¨^½¬£Å«Éz”´¿µ¨«½ °§y½‡ “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat tubuh-tubuhmu dan tidak pula rupa-rupamu, akan tetapi Ia akan melihat hati-hatimu” (HR.Muslim). 54 Menurut Allah dan Rasul-Nya, taqwa adalah standar nilai manu-sia yang sangat sesuai dengan tabiat dan fitrahnya serta bersifat univer-sal. Standar nilai ini akan mendorong setiap manusia untuk bekerja ke-ras, berkarya dan berprestasi dalam berbuat kebajikan antar sesama dalam rangka mencapai ketentraman dan kesejahteraan. Bahkan ia juga merupakan standar nilai yang dapat membuka pandangan dan wawasan hidup, sehingga tidak akan berpandangan sempit, bagai katak dalam tempurung. Kenapa demikian? Karena orang yang taqwa senantiasa mendapatkan kenikmatan hidup, baik rohaniah maupun jasmaniah, sejak di dunia kini, hingga ke akhirat nanti. Orang yang bertaqwa senantiasa mendapat bimbingan, kecinta-an, kemenangan, tempat yang aman dan ketentraman dari Allah SWT. karena : µÀ¤c°«[Á«¼ã[¼ “Allah menjadi pemimpin orang yang bertaqwa” (QS. Al-Jasiah ayat 19). µÀ¤c°«[`o¿ã[²Ÿ “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang taqwa” (QS. Ali Imran ayat 76). µÀ¤c°«[™¯ã[²[Ó½°¬—[¼ “Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” (QS. At-Taubah ayat 36). 55 µÀ¤c°¬«»_£˜«[¼ “Kesudahan yang baik (kemenangan) adalah untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-A’raf ayat 128). ]¯µo«µÀ¤c°¬«²[¼ “Orang yang bertaqwa akan mendapat tempat kembali yang baik” (QS. Shaad ayat 49). ²½¤c¿[½³§¼[½´¯[µ¿x«[´Àk³¼ “Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa” (QS. Pushshilat ayat 18).
  34. 34. 34 Demikianlah kedudukan dan nilai taqwa di hadapan Allah SWT. Ia merupakan nilai tertinggi dari sekumpulan nilai apapun. Ia merupakan derajat yang tertinggi dan paling mulia di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan moment Ramadhan tahun ini untuk meningkat-kan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sehingga jenjang taqwa yang menjadi dambaan kita semua, insyaAllah dapat kita raih ber-sama. 56 NNIILLAAII FFIILLOOSSUUFFIISS PPUUAASSAA RRAAMMAADDHHAANN alam masalah ibadah, ada kaedah yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya dilarang, kecu-ali yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tetapi dalam masalah mu’amalah/kemasyarakatan, ada kaedah yang mengata-kan bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya boleh dikerjakan, kecuali yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam hubungan ini, maka pelaksanaan ibadah, terutama ibadah mahdhah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji selalu didasarkan atas perintah Allah SWT. : ã[[½‹z£[¼ º½§|«[[½b[¼º½¬ˆ«[[½°À£[¼ ´n‹z£ “Dan dirikanlah (oleh kamu sekalian) shalat serta tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik” (QS. Al-Muzzammil ayat 20). ¯Àˆ«[°¨À¬—`c§[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ ²½¤cb°¨¬˜« °¨¬_£µ¯µ¿x«[Ŭ—`c§°§ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa 57 sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah ayat 183). ¹À«[–c~[µ¯dÀ_«[ln}´«[Ŭ—ã¼ µÀ°¬˜«[µ—Á´›ã[²Ÿz §µ¯¼ ØÀ_~ “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan pergi ke sana. Barang-siapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah adalah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali ‘Imran ayat 97). D 11
  35. 35. 35 Dari beberapa ayat di atas, terutama yang berkenaan dengan perintah puasa Ramadhan, pada potongan ayat µ¿x«[Ŭ—`c§°§ °¨¬_£µ¯ , tersirat dalam ayat ini bahwa melaksanakan puasa Rama-dhan bukanlah sesuatu yang baru tetapi sudah pernah dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu, sehingga kalau orang- orang terdahulu pada sanggup mengerjakannya, maka tentu kitapun juga dapat melaksa-nakannya. Artinya, persoalan puasa adalah persoalan yang biasa dilaku-kan oleh manusia, sehingga secara filosufis boleh dikatakan bahwa puasa Ramadhan itu merupakan sesuatu yang mudah, enteng atau ri-ngan untuk dilaksanakan, karena masih dalam batas-batas kemampuan manusia untuk mengerjakannya. Kalau kita perhatikan awal ayat 183 surah Al-Baqarah, kata yang digunakan untuk mewajibkan orang-orang yang beriman agar berpuasa adalah kutiba. Menurut ilmu bahasa Arab, kata kutiba ini 58 dinamakan kata kerja yang tersembunyi, bukan kata kerja yang terbuka/ terang-terangan. Sebab kalau terang-terangan, seharusnya kata terse-but berbunyi, ¯Àˆ«[°¨À¬—ã[`c§ artinya, Allah mewajibkan kepada kamu sekalian untuk mengerjakan puasa. Dengan memakai kata kerja yang tersembunyi ini, seolah- olah tidak ditegaskan siapa yang memerintahkan mengerjakan puasa terse-but. Sehingga dari aksentuasi kata tersebut, perintah puasa Ramadhan ini dianggap mudah untuk dikerjakan. Sama saja misalnya kalau seo-rang komandan perang memerintahkan beberapa orang pasukannya melalui seorang utusan (tidak langsung) untuk maju bertempur ke garis depan dengan kalimat, kamu diperintahkan untuk maju ke garis depan. Kalimat ini terasa lebih ringan/enteng, karena ada kesan bahwa bertem-pur di garis depan itu soal biasa bagi perajurit tersebut, dibandingkan jika dengan kalimat Komandan memerintahkanmu untuk maju ke garis depan. Kalimat ini mungkin terasa lebih berat, karena suatu perintah yang menyertakan subyek pemerintah, terkesan bahwa perintah terse-but bukan main-main, sehingga terasa lebih berat jika dilaksanakan. Jika kita lihat lebih jauh lagi tentang keadaan dan sifat puasa yang diperintahkan ini, hakikat pelaksanaannya memang dirasa mudah, ringan dan enteng. Di mana kira-kira letak kemudahannya? Pertama, seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa per-soalan puasa bukan persoalan yang baru, pelaksanaannya pun sudah pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Setiap orang yang dipi-kulkan suatu kewajiban dan bersamaan dengan itu diketahuinya pula bahwa kewajiban tersebut telah dipikulkan kepada orang-orang sebelum dia, maka secara psikologis akan terhunjam ke dalam jiwanya satu kesan bahwa kewajiban tersebut adalah kewajiban yang tidak berat, buktinya 59 orang-orang sebelum dia dapat mengerjakan. Kedua, ada kalimat yang menyebutkan bahwa mengerjakan pu-asa itu hanya beberapa hari yang tertentu ( au¼v˜¯¯¿[ ). Tidak di-sebutkan 29 hari atau 30 hari (satu
  36. 36. 36 bulan), tapi hanya beberapa hari yang tertentu. Ini juga menurut hemat kami secara psikologis memberi-kan kesan kepada seseorang yang mengerjakan puasa bahwa waktu 29 atau 30 hari dalam berpuasa bukanlah waktu yang lama atau panjang, tapi hanya sebentar saja. Ketiga, adanya beberapa keringanan atau dispensasi Tuhan terharap orang-orang yang berhalangan/udzur melaksanakan puasa. Diantaranya misalnya, para manula, orang yang sakit dan tidak ada ha-rapan kesembuhannya, orang yang mempunyai pekerjaan berat dan ti-dak punya pilihan pekerjaan lain. Orang-orang ini diberikan keringanan untuk tidak berpuasa, jika kalau ia berpuasa akan memayahkan atau memberati mereka. Namun bagi mereka ada kewajiban membayar fidyah, seperti yang dinyatakan Allah SWT. : µÀ¨¯¯˜»¿vŸ¹³½¤À¿µ¿x«[Ŭ—¼ “Bagi orang-orang yang sulit melakukannya (puasa Ramadhan), hen-daklah mereka membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin” (QS. Ayat 184). Disamping itu, Allah juga memberikan keringanan kepada mere-ka yang sakit dan atau sedang berada di dalam perjalanan (musyafir), boleh tidak berpuasa, tetapi wajib membayarnya (mengqada’) pada bulan-bulan yang lain. Firman Allah SWT. : 60 ºv˜Ÿz ~Ŭ—¼[Œ¿z¯°¨´¯²§µ°Ÿ zr[¯¿[µ¯ “Siapa yang sakit diantaramu atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqada’ (mengganti puasanya) pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah ayat 184). Kemudian, bagi wanita hamil dan menyusui, Allah memberikan keringanan untuk tidak melakukan puasa, dengan catatan pada bulan yang lain ia wajib membayarnya (mengqada’), atau kalau terasa mem-beratkan bisa diganti dengan membayar fidyah, seperti yang diterang-kan hadits beikut ini : ¯½ˆ«[zŸ°«[µ—™‹¼−j¼|—ã[²[ ¯½ˆ«[™‹z°«[¼Å¬_o«[µ—¼ ºØˆ«[zƒ¼ “Sesungguhnya Allah ajja wajalla membebaskan puasa dan separuh shalat bagi musyafir, dan membebaskan puasa bagi wanita yang hamil dan wanita yang menyusui” (HR. Lima Imam). Juga bagi wanita yang mengalami haid dan nifas, tidak dibenarkan ber-puasa, dan jika ia berpuasa juga, maka puasanya batal, dan ia wajib mengqada’nya pada bulan yang lain. Demikianlah hakikat ibadah puasa dilihat dari sudut filsafat dan hukum yang memberikan kesimpulan bahwa ibadah puasa itu secara 61
  37. 37. 37 filosufis merupakan perbuatan yang mudah, ringan dan enteng. Bahkan secara umum, agama Islam yang kita anut ini adalah agama kemudahan. Allah menyatakan : iznµ¯µ¿v«[ÅŸ°¨À¬—−˜j¯¼ “Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama” (QS. Al-Hajj ayat 78). Semoga dengan filsafat kemudahan ini akan mendorong dan memacu kita untuk selalu meningkatkan kualitas puasa kita dari hari ke hari hingga mencapai puncaknya nanti. 62 PPUUAASSAA SSEEBBAAGGAAII TTEERRAAPPII PPSSIIKKOOSSOOMMAATTIISS uasa sebagai salah satu bentuk ibadah dalam Islam, ia tentunya bukan semata dogma atau kebiasaan rutin yang dilaksanakan setiap tahun di bulan Ramadhan tanpa me-ngetahui maksud dan manfaatnya, tetapi puasa Ramadhan merupakan suatu ibadah yang dapat melahirkan berjuta hikmah dan manfaat yang secara fungsional dapat dirasakan oleh para pelaku puasa dalam kehi- dupan sehari-hari. Salah satu hikmah atau manfaat puasa ditinjau dari segi kese-hatan jiwa adalah sebagai terapi terhadap penyakit psikosomatis. Istilah psikosomatis berasal dari kata psyche atau jiwa, dan soma atau badan. Istilah ini bermaksud menyatakan hubungan yang erat antara unsur jiwa dengan unsur badan, dan keduanya saling berhu-bungan, saling mempengaruhi satu sama lainnya. Bila jiwa ditimpa kesu-litan, maka badanpun turut menderita. Demikian juga sebaliknya, jika ba-dan sakit, jiwapun ikut merasa susah. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita pernah mengalami misalnya ketakutan yang amat sangat, sehingga lantaran saking takut-nya detak jantung kita semakin cepat, badan jasmani kita terasa lemas tak berdaya dan pikiran kita menjadi P 12
  38. 38. 38 kalut. Akhir dari rasa takut yang berlebihan ini terkadang dapat membuat orang pingsan tak sadarkan diri, bisa juga mengakibatkan timbulnya penyakit kronis. 63 Reaksi somatisasi bisa mengenai semua fungsi dan sistem or-ganis yang penting dari badan. Misalnya, alat pencernaan dari lambung atau perut, sistem kelenjar, sistem peredaran darah, alat pernafasan, alat kelamin, sistem persendian, kulit, jantung dan sebagainya. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa setiap fungsi organis atau somatis yang terganggu oleh emosi-emosi yang kuat bisa menjadi basis timbulnya macam-macam gangguan psikosomatis. Penyakit darah tinggi (hypertensi) merupakan penyakit jasmani yang cukup berbahaya. Penyakit ini ternyata ditimbulkan oleh adanya emosi-emosi yang kuat, yang dimanifestasikan dalam kerja jasmani dan langsung mengenai sistem peredaran darah, hingga mempengaruhi de-tak jantung dan tekanan darah. Hasil eksperimen para ahli kesehatan menunjukkan bahwa ke-kalutan, kecemasan dan kemarahan yang berlebihan atau kurang ter-kendali cenderung meningkatkan tekanan darah dan mempercepat de-tak jantung. Jika kondisi ini sering terjadi dan berlangsung lama serta sulit mengadakan penyesuaian, maka pada gilirannya nanti seseorang yang terkondisi seperti ini akan diserang penyakit darah tinggi. Gangguan-gangguan emosional yang serius dan kronis bisa memprodusir respons-respons fisiologis yang mengakibatkan kerusakan struktural pada tubuh, yang pada gilirannya nanti bisa mengakibatkan kematian. Orang yang sering marah, dongkol, benci, cemas dan takut, bi-asanya akan tidak berselera makan, akibatnya bila berlarut-larut dapat mengganggu pencernaan. Demikian juga orang selalu agresif dalam 64 memeram rasa kebencian pada orang lain bisa dijangkiti tekanan darah tinggi yang apabila berlarut-larut bisa mengancam keselamatan jiwanya. Pada abad modern sekarang ini, gangguan-gangguan psikolo-gis dengan bermacam-macam simptom penyakit, nampaknya semakin bertambah banyak saja. Keadaan ini dicerminkan oleh banyak pasien yang menderita gangguan mental berupa stress, baik yang ringan mau-pun yang berat, yang pada gilirannya dapat merambat pada tubuh dan menyebabkan seseorang menjadi sakit. Dr. Dadang Hawari, seorang ahli jiwa mengatakan bahwa, “Se-karang ini telah terjadi perubahan pola penyakit. Kalau dulu banyak pe-nyakit yang sifatnya infeksi, sekarang berubah menjadi penyakit nonin-feksi”. Perubahan penyakit infeksi ke noninfeksi disebabkan oleh adanya perubahan gaya hidup manusia yang belakangan ini cenderung serba terburu-buru, serba ambisi, sering memaksakan kehendak tanpa meng-ukur kemampuan diri, akibatnya dapat menimbulkan stress. Seseorang sering mengalami stress dapat mengganggu keseimbangan saraf oto- nom dengan gejala-gejala seperti, gatal-gatal, sakit maag, tukak lam-bung, mencret-mencret, sesak nafas atau asma, terlalu sering
  39. 39. 39 kencing dan sebagainya. Stress yang membawa akibat penyakit- penyakit ini disebut gangguan psikosomatis. Gangguan psikosomatis pada umumnya diderita oleh masyara-kat ekonomi menengah ke atas. Penyakit yang semacam ini kebanyakan dialami oleh para direktur, manajer atau para pelaksana eksekutif per-usahaan yang pada umumnya menduduki posisi menengah ke atas serta memikul tanggung jawab yang besar. Kasus yang paling banyak dari gangguan psikosomatis adalah 65 terserangnya penyakit darah tinggi (hypertensi), kejang jantung (angina pectoris) dan pembekuan dalam pembuluh nadi (coronary trombosis) yang semua penyakit ini seringkali mengakibatkan kematian. Puasa Ramadhan yang merupakan perintah Allah, dengan me-nekankan pengorbanan kesenangan diri dan kebiasaan tiap hari, seperti kebiasaan makan dan minum pada waktu-waktu tertentu, kebiasaan me-lakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sah pada waktu yang disukai dan beberapa kesenangan dunia lainnya, ketika seseorang mela-kukan puasa maka kebiasaan-kebiasaan dan kesenangan tersebut harus dikurangi dan dikendalikan sesuai dengan aturan puasa. Jika perintah puasa ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang beriman , maka ten-tu perintah ini tidak akan terrealisasi. Tetapi karena perintah puasa ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman maka dengan penuh kesa-daran mereka laksanakan perintah puasa ini sebagai bukti pengabdian-nya kepada Allah SWT. Sebab mereka yakin bahwa dengan melaksana-kan ibadah puasa akan melahirkan kesenangan jiwa, jiwanya akan lega dan tenteram dengan membawa efek yang sangat berarti bagi kesehat-an jasmani sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Carrel bahwa “Ketentraman yang ditimbulkan karena ibadah dan doa merupakan per-tolongan yang besar bagi pengobatan”. Kemudian Dr. Mac Fadon, seorang dokter kenamaan di Amerika Serikat mengatakan, “Setiap manusia berhajat pada puasa sekalipun dia tidak sakit. Sebab, makanan-makanan beracun yang terhimpun bersama dengan obat-obatan dalam tubuh menjadikan ia seperti orang yang sa-kit, dapat memberatkan badannya dan mengurangi kesegaran”. Penga-ruh puasa terhadap suatu penyakit memang berbeda-beda sesuai de-ngan perbedaan penyakitnya. Paling banyak penyakit yang dapat disembuhkan dengan puasa adalah penyakit perut, darah tinggi dan 66 penyakit tulang/urat atau rematik. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk bersi-kap sabar. Sabar dalam mengendalikan hawa nafsu, sabar dalam melak-sanakan kewajiban sebagai hamba Allah dan sebagai ummat yang hidup dalam masyarakat, sabar terhadap hal-hal yang kurang disukai, sabar dalam menahan amarah, dan sebagainya. Pengaruh dari sabar ini sa-ngat penting artinya sehingga seseorang yang terlatih kesabarannya akan dapat menggunakan akal sehat dan emosinya secara harmonis dalam upaya menyelesaikan segala permasalahan hidupnya. Dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, insyaAllah jiwa kita akan menjadi tenteram, sikap percaya pada diri sendiri akan semakin kuat, dan ketegaran dalam menghadapi sega-la problema hidup semakin mantap yang
  40. 40. 40 pada gilirannya nanti kita tidak akan pernah dihinggapi gangguan psikosomatis. Dalam hubungan ini maka tepat sekali dengan pernyataan Allah yang termuat dalam Al-Qur’an pada surah Al- Baqarah ayat 184 : ²½°¬˜b°c´§²[°¨«zÀr[½¯½ˆb²[¼ “Dan puasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” . 67 JJEEJJAAKK PPUUAASSAA DDAALLAAMM MMEEMMPPEERRBBAAIIKKII MMAASSYYAARRAAKKAATT alah satu kelebihan ajaran Islam yang barangkali tidak di-miliki oleh ajaran agama lain adalah mengajarkan keseim-bangan antara aktivitas keduniaan dengan aktivitas ke-akhiratan. Kepentingan dunia dan kepentingan akhirat bagi ajaran Islam ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Firman Allah SWT. : ´b×¼ ºzr×[y[v«[ã[©b[Ô°ÀŸc^[¼ ©À«[ã[µn[Ô°§µn[¼ À³v«[µ¯©_Àˆ³ `o¿×ã[²[ Šy×[ÅŸu «[_b×¼ µ¿v °«[ “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagia-an) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (ke-nikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaima-na Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat ke-rusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash ayat 77). Sekalipun Islam telah mengatur bentuk peribadatan yang 68 bersifat ritual dalam bentuk hubungan manusia dengan Allah SWT. dan memberikan batasan umum tentang mu’amalah yaitu hubungan manusia dengan sesamanya, namun semuanya itu tetap mengarah kepada dua dimensi, yaitu dimensi dunia dan dimensi akhirat. Yang bersifat kedunia-an tetap harus bertitik tolak pada ibadah kepada Allah SWT. dan ibadah kepada Allah dalam kegiatan ibadah ritual harus dikaitkan dengan soal-soal kemasyarakatan. Ibadah shalat, puasa, zakat dan haji sekalipun merupakan iba-dah khusus yang telah diatur dan ditentukan tata caranya, S 13
  41. 41. 41 sebagai per-wujudan dari adanya hubungan vertikal antara hamba dengan khaliqnya, namun keterkaitan dengan soal kemasyarakatan tetap melekat dengan indah dan rapi. Islam tak pernah membiarkan ummatnya terbelenggu dan ter-kukung oleh formalisme ibadah semata, sehingga melupakan tanggap sosialnya, baik terhadap keluarga, tetangga maupun masyarakat. Dalam hubungan ini, pada waktu-waktu tertentu Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling di sekitar masjidil Haram untuk melihat apakah masih ada kaum muslimin yang berada di masjid untuk melaku-kan ibadah padahal saat jam tersebut adalah saat waktu bekerja atau mencari nafkah bagi kaum prianya untuk keperluan keluarga dan anak-anaknya, sehingga jika ada yang masih berada di masjid pada jam-jam tersebut, khalifah pasti akan menegurnya. Tindakan ini beliau lakukan disadarkan atas firman Allah SWT. yang berbunyi : Šy×[ÅŸ[¼z„c³Ÿ º½¬ˆ«[dÀŒ£[wŸ 69 °¨¬˜«[zÀg§ã[[¼z§w[¼ ã[−ŒŸµ¯[½œc^[¼ ²½o¬ b “Apabila telah ditunaikan sahalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumu’ah ayat 10). Rasulullah SAW. membagi waktu kesehariannya menjadi tiga bagian. Sebagian waktu beliau gunakan untuk mengabdi kepada Allah SWT. dalam bentuk ibadah ritual, sebagian lagi beliau gunakan untuk membina keluarga dan sisanya untuk diri beliau sendiri. Sisa waktu untuk diri sendiri inilah kemudian sebagian besar beliau gunakan untuk kepentingan ummat/masyarakat. Seorang muslim yang taat tentu memiliki tingkat kepedulian masyarakat yang tinggi. Dalam kehidupannya ia selalu menyatu dalam lingkungan sosialnya sebagai perwujudan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Suka duka yang dialami masyarakat menjadi tanggung jawab bersama. Keprihatinan dalam masyarakat merupakan kepedihan bersa-ma yang harus kita tanggulangi bersama pula. Kenapa demikian? Karena kita adalah ummat yang satu, ummatan wahidah”. Firman Allah SWT. : ²¼v_—Ÿ°¨^y³[¼ ºvn[¼»¯[°¨c¯[¶x·²[ “Sesungguhnya ummat ini adalah ummat yang satu, dan Akulah Tuhan kamu. Oleh karena itu hendaklah kamu menyembah kepada-Ku” (QS. Al-Anbiya ayat 92). 70 A. Yusuf Ali dalam bukunya The Holy Qur’an menyatakan bah-wa perkataan Ummatan Wahidah ayat di atas lebih tepat diartikan Brother hood (persaudaraan), “This is best translated by brother hood here”.

×