Your SlideShare is downloading. ×
Bahan kultum-ramadhan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bahan kultum-ramadhan

3,364

Published on

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,364
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
89
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Bahan Kultum Malam Pertama MMAARRHHAABBAANN YYAA RRAAMMAADDHHAANN Assalaamu’alaikum Wr. Wb. ⎛ν⊂ ⇒ζΤ⇔↓™ ≥ζΞ⇔↓™ σϖπ⇔°∈⇔↓ ″ℵ ãΠπΛ⇔↓ τΧΛ∅™ τ⇔↓ ⎛ν⊂™ ΠπŒ°⇓Πϖℜ σϖνℜΡπ⇔↓ √Ρ⊗↓ Π∈±°⇑↓ σϖ∈π÷↓ Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara, Jamaah Qi- yamu Ramadhan yang dirahmati Allah SWT. lhamdulillah, atas izin dan karunia Allah SWT. dapatlah pada malam hari ini, ma-lam pertama di bulan Ramadhan, kem-bali kita bisa berkumpul, bertemu muka, sekaligus bersila-turrahmi, di rumah Allah yang suci dan mulia ini, guna 1 bersama-sama melaksanakan serangkaian ibadah Qiyamu Ramadhan sebagai salah satu upaya kita menghidup-hi- dupkan bulan Ramadhan. Para Jamaah rahimakumullah. Bertemunya kita pada bulan Ramadhan tahun ini, merupakan perwujudan dari kerkabulnya doa kita yang telah kita mohonkan pada Ramadhan tahun lalu. Oleh karenanya bersyukurlah kita kepada Allah yang telah mempertemukan kita pada bulan yang penuh berkah ini, sebab tidak sedikit kaum Muslimin yang tidak sempat bertemu dengan bulan Ramadhan. Berapa banyak saudara-saudara kita, teman- teman kita, sahabat-sahabat kita, tokoh-tokoh kita yang telah pergi mendahului kita, kembali ke khadirat-Nya, sehingga Ramadhan tahun lalu merupakan Ramadhan terakhir bagi mereka. Jamaah sekalian. Suatu tradisi yang biasa Rasulullah lakukan setiap menjelang tibanya bulan Ramadhan, adalah menyampaikan khutbah di hadapan para sahabat dan kaum muslimin yang isi khutbah tersebut sebagaimana termuat dalam kitab At- Targhib, Juz 2 halaman 217 dan 218 yang ditulis oleh Imam Ibnu Khuzaimah, adalah sebagai berikut : “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan 2 A 1
  • 2. 2 dinaungi oleh suatu bulan yang agung dan penuh berkah, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan, yang oleh Allah telah menjadikan puasa sebagai suatu kewajiban, dan qiyam (shalat) pada malam harinya merupakan ibadah tathawwu’ yakni ibadah sunat yang sangat dianjurkan. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu aktivitas kebajikan, maka akan dibalas oleh Allah SWT.dengan ganjaran 70 kali lipat dibanding dengan mengerjakannya di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran. Siapa yang mampu menjaga kesabaran, maka baginya adalah Sorga Al-Jannah. Ramadhan adalah bulan memberi per- tolongan pada sesama, serta bulan Allah yang atas kuasa- Nya memberikan tambahan rezeki kepada orang-orang yang beriman. Siapa saja pada bulan tersebut yang dapat membukakan orang yang berpuasa tatkala berbuka dengan sejumlah makanan, maka perbuatan itu dapat mengha- puskan dosa-dosanya, dapat membebaskan ia dari api ne- raka, disamping ia juga mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang itu”. Setelah mendengarkan khutbah Rasulullah ini, diantara para sahabat berkomentar : “Ya Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan yang cukup untuk membukakan orang-orang yang berpu- asa”. Rasulullah menjawab : “Berikanlah apa yang kamu mampu, walau hanya sebiji 3 kurma, seteguk air atau sehirup susu, Allah tetap akan memberikan pahala”. Kemudian Rasulullah melanjutkan khutbahnya: “Pada permulaan bulan Ramadhan merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan penghujungnya merupakan pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan beban saudaranya atau bawahannya (para karyawan, buruh, pembantu rumah tangga, tukang kebun, tukang cuci, tukang masak/koki dsb.) niscaya Allah meng- ampuni dosa-dosanya dan membebaskan ia dari api neraka. Karenanya perbanyaklah empat perkara di bulan Rama- dhan ini. Dua perkara untuk menyenangkan Allah, dan dua perkara untuk memohon Sorga-Nya serta berlindung kepa- da-Nya dari siksa api neraka. Siapa saja yang memberi minum kepada orang yang sedang berpuasa, (taktala waktu berbuka puasa tiba), niscaya Allah akan memberinya mi- num dari suatu kolam Allah (di akhirat kelak) yang apabila meminumnya maka tidak akan haus lagi, hingga ia masuk Sorga”. Ada 13 hal yang dapat kita butiri dari isi khut- bah tersebut. Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan agung (syahrun ‘azhiim) dan bulan yang penuh berkah (syahrun mubarak), dengan bobot lebih yang luar biasa dibandingkan sebelas bulan lainnya, karena ia juga merupakan bulan utama atau penghulu dari segala bulan (sayyidul syuhur). 4
  • 3. 3 Kedua, di dalam keagungan bulan Ramadhan ini, terdapat suatu malam yang paling bernilai bagi ummat Is- lam, yaitu malam kemuliaan, atau yang kita kenal dengan Lailatul Qadar. Ketiga, merupakan kewajiban pokok bagi ummat Islam yang baligh (sampai umur) untuk menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dengan jumlah hari 29 atau 30 hari. Keempat, selain kita diwajibkan berpuasa di siang hari, kita juga dianjurkan untuk mengerjakan ibadah sunnah setiap malam berupa Qiyamul Ramadhan atau yang biasa kita sebut Shalat Tarawih dan Witir. Kelima, pada bulan Ramadhan ini Allah memberikan ganjaran yang berlipat ganda bagi setiap amaliah ibadah yang dilaksanakan oleh kaum muslimin dengan bobot ganjaran 70 kali lipat. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa, pada bulan Ramadhan ini, kaum muslimin yang berpuasa memperoleh panen pahala dari Allah SWT. Keenam, Ramadhan dikatakan sebagai ajang latihan kesabaran. Karena dengan berpuasa dapat menempa jiwa sseorang seseorang agar mempunyai kekuatan dan daya tahan yang tangguh dalam menghadapi segala macam pen- deritaan dan berbagai cobaan hidup lainnya. Ketujuah, bulan Ramadhan merupakan bulan mem- berikan pertolongan (syahrul muwasah). Pada bulan ini kaum muslimin dianjurkan mengulurkan tangan kepada 5 mereka yang papa tak berpunya untuk sekedar memberikan in-faq dan shadaqah sebagai perwujudan adanya sikap peduli terhadap sesama. Kedelapan, bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT. memberikan kelapangan dan kemurahan rezeki kepada orang-orang yang beriman. Kesembilan, Allah akan memberikan penghargaan kepada orang yang memberikan makanan dan atau minuman kepada orang yang sedang berpuasa pada saat berbuka, dengan ganjaran berupa pengampunan atas dosa-dosanya, pembebasan dari api neraka dan memberikan pahala yang setara dengan orang yang berpuasa tersebut. Kesepuluh, bulan Ramadhan adalah bulan yang hari- hari perta-manya (sepuluh hari pertama), merupakan rahmat, yakni pencurahan kasih sayang Allah SWT. yang diberikan- Nya kepada kaum muslimin. Hari-hari pertengahannya (sepuluh hari ke dua) merupakan maghfirah, yakni pembe- rian pengampunan oleh Allah SWT. kepada hamba-hamba- Nya yang telah terlanjur berbuat kesalahan dan dosa. Dan hari-hari ter-akhirnya (sepuluh hari ke tiga) merupakan saat dimana Allah SWT. membebaskan kaum muslimin yang tekun berpuasa dan beribadah lainnya di bulan Ramadhan, dari azab dan siksa neraka.. Kesebelas, pada bulan Ramadhan ini dianjurkan kepada kaum muslimin agar saling bantu membantu dalam meringankan beban sesa-ma. Perbanyaklah amal shaleh atau 6
  • 4. 4 amal jariah, misalnya memberikan bantuan kepada fakir miskin, orangtua jompo, anak yatim, anak terlantar dan putus sekolah, memberikan bantuan dalam hal pemba- ngunan, pemeliharaan dan pemakmuran masjid, musalla dan tempat-tempat ibadah ummat Islam lainnya, memberikan bantuan dalam hal pembangunan dan kelangsungan belajar siswa/santri di lembaga-lembaga pendidikan, dan sebagai- nya. Bagi pimpinan kantor/instansi atau perusahaan, bantu- lah para pegawai ata karyawannya, terutama para pegawai/ karyawan kelas menengah ke bawah (seperti para buruh, para pembantu/pelayan dan sebagainya), berupa in-faq, shadaqah dan zakat atau bantuan berupa paket Ramadhan, santunan Ramadhan dan sebagainya). Keduabelas, adalah empat perkara yang dipesankan Rasulullah SAW. agar di bulan Ramadhan ini diterapkan dan diperbanyak. Dua perkara yang pertama adalah mela- kukan perbuatan yang sekiranya dapat menyenangkan Al- lah, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dengan mela- kukan ibadah sebanyak-banyaknya dan berbuat baik pada sesama, dan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya. Kemudian dua perkara yang ke dua adalah memohon ke- pada Allah agar di masukkan ke dalam Sorga-Nya dan dihindarkan dari azab siksa neraka. Yang terakhir ini dapat kita mohonkan lewat doa dan permohonan kepada Allah SWT. Yang terakhir, ketigabelas, dinyatakan oleh Rasul- ullah SAW. bahwa barangsiapa yang memberi minum kepada orang yang sedang berpuasa manakala ia bebuka 7 (saat tibanya berbuka puasa), nanti oleh Allah akan diganti ganjarannya kepada yang bersangkutan berupa pem-berian minum di yaumil akhir (padang mahsyar) dari air telaga ke- punyaan Allah, yang apabila meminum air telaga tersebut, dapat meng-hilangkan haus dahaga selama-lamanya, sampai ia masuk sorga. Demikian beberapa pesan Rasulullah SAW. yang beliau ungkapkan pada setiap menjelang bulan Ramadhan, semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran da- rinya untuk kita jadikan pedoman di dalam berbuat dan beramal ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tahun ini. Marilah kita pelajari dan kaji ulang segala rukun, sunnah, hik-mah dan pengetahuan tentang puasa Ramadhan, sehingga puasa kita tahun ini benar-benar penuh makna dan diterima oleh Allah SWT. Demikian uraian singkat yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan kultum malam ini, semoga ada manfaat- nya bagi kita semua. Marhaban ya Ramadhan Assalaamu’alaikum Wr. Wb. 8
  • 5. 5 Bahan Kultum Makam Kedua KKOONNSSEEPP DDAASSAARR PPUUAASSAA Assalaamu’alaikum Wr. Wb. ◊°∧ℵ↓ σ⇑°ρ∧ℵ ⇒°ϖΞ⇔↓ ⊃Ρ∏ ⎝Θ⇔↓ ãΠπΛ⇔↓ σ⇑↓υ⇓υλ⎜ ⎛λ⇔ ⇒↓Ρλ⇔↓ σϖρ⇑Απ⇔↓ ⎛ν⊂ ⇒ζℜ⎨↓ τ⇔↓⎢◊↓Π©⊗↓ ⇒°⎜⎨↓™ ⎡⇔°ϖν⇔↓ ⇐↓υβ σϖϕΦπ⇔↓ ®ΠΧ⊂↓ΠπŒ ◊↓Π©⊗↓™ τ⇔ µ⎜Ρ⊗⎨ ®Π≡™ ã↓⎨↓ √Ρ⊗↓ ⎛ν⊂ ∨ℵ°±™ θνℜ™ ο∅ θ©ν⇔↓ τ⇔υℜℵ™ τ±°Λ∅↓™ τ⇔↓ ⎛ν⊂™ΠπŒ σϖνℜΡπ⇔↓™ ⁄ƒϖΧ⇓⎨↓ Π∈±°⇑↓ σ⎜Π⇔↓ ⇒υ⎜ ⎛⇔↓ ◊°Τ≡°± θ©∈Χ× σ⇑™ 9 Bapak-bapak, Ibu-ibu dan Saudara-saudara Jamaah Qi- yamu Ramadhan yang dirahmati Allah SWT. tas pertolongan dan rahmat Allah SWT. alhamdulillah kita dapat melakukan start dengan baik di hari pertama di bulan Ramadhan ini, kendati mungkin sebagian besar kita agak payah melakukannya, hal ini dikarenakan kondisi pencer- naan perut kita masih dalam tahap asimilasi atau penye- suaian. Keadaan seperti ini barangkali akan berlangsung be- berapa hari, dan hal ini tentunya dapat kita maklumi, dan kita tidak perlu mempersoalkan, karena toh lama-lama akan menjadi biasa dan perut kitapun dapat menyesuaikan. Yang penting bagi kita adalah menjadikan keimanan sebagai san- daran utama dalam pelaksanaan ibadah puasa kita, sehingga dalam kondisi bagaimanapun juga, bukan menjadi pengha- lang bagi kesempurnaan dan keutuhan puasa kita. Hadirin para Jamaah Shalat Tarawih rahimakumullah. Pada kesempatan kultum di malam ke dua di bulan Ramadhan ini, kami akan menguraikan sedikit tentang Kon- sep Dasar Puasa, terutama berkenaan dengan pengertian dan rukun puasa. Jamaah sekalian. 10 Kata puasa berasal dari bahasa Arab yaitu Ash- Shiyam, yang diambil dari kata Shama yang berarti Mena- han, tidak berpindah dari suatu keadaan ke keadaan yang A 2
  • 6. 6 lain. Udara yang tenang (tidak bergerak) disebut Shama ar- rih karena ia tertahan, tidak berpindah, tidak bergerak/tidak berhembus. Dalam sejarah, Maryam pernah bernadzar untuk ti- dak berbicara kepada siapapun tatkala ia mengandung pute- ranya Isa Al-Masih. Ini ia lakukan untuk menghindari tu- duhan yang bukan-bukan terhadap dirinya, karena janin yang ia kandung semuanya atas kehendak Allah, tanpa proses pembuahan yang biasa. Menahan diri untuk tidak berbicara dalam jangka waktu tertentu, dalam agama diis- tilahkan dengan kata Shauma (puasa). Firman Allah SWT. : ¯½À«[°¬§[µ¬Ÿ ¯½‡µ°nz¬«ayx³Á³[ À³[ “Sesungguhnya aku telah bernadzar untuk menahan diri (berpuasa) untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku ti- dak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam ayat 26). Kemudian pada surah Al-Baqarah ayat 35 dan 36 di- ceritakan bahwa ketika Nabi Adam a.s dan isteri beliau Hawwa diberikan kesempatan oleh Allah SWT. untuk ting- gal di Sorga beberapa lama, dan Allah berikan kebebasan 11 kepada keduanya untuk menggunakan sarana dan fasilitas apa saja yang ada di Sorga, kecuali satu hal yang dilarang Allah, yaitu mendekati sebatang pohon, yang oleh sebagian ahli tafsir menamakannya pohon khuldi, maka ketika Adam a.s dan Hawwa istrinya berupaya untuk tidak mendekati pohon khuldi tersebut, maka mereka sebenarnya telah me- lakukan puasa (menahan diri), kendati pada akhirnya me- reka terkena bujuk rayu Iblis dan mendekati pohon terlarang itu serta memakan buahnya. Firman Allah SWT. : ا¼ »´k«[©j¼{¼d³[µ¨~[¯uÔ¿´¬£¼ ºzkƒ[¶x·^z¤b×¼ °cσhÀn[v›y¸´¯ ¸´—µÀ„«[°¸«{Ÿ µÀ°¬”«[µ¯³½¨cŸ ¹ÀŸ³§°¯°¸jzrŸ “Dan Kami berfirman : “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu sorga ini, dan makanlah makanan-makan- annya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dhalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syetan dari sorga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula”. Pengertian puasa di atas adalah pengertian puasa menurut loghat atau bahasa, yaitu menahan diri, baik me- nahan diri dari berbicara, menahan diri dari berjalan, 12 menahan diri dari sesuatu yang mencelaka-kan, tidak mendekati/tidak melakukan suatu maksiat, menahan diri dari dorongan marah, dorongan nafsu birahi dan sebagainya.
  • 7. 7 Pendeknya, segala sesuatu yang bersifat menahan diri (mengendalikan), itulah dia pengerian puasa menurut loghat/bahasa. Sedangkan pengertian puasa menurut Syar’iyyah, atau menurut Syari’at, dapat kita temukan dari berbagai sumber, diantaranya : 1. Menurut mufassir Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir jilid pertama disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan yang membatalkan puasa dengan niat ikhlas kepada Allah”; 2. Menurut mufasiir Ar-Razi dalam kitab At-Tafsir al- Kabir jilid kedua disebuitkan bahwa, “Puasa adalah menahan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dari apa saja yang membuka-kan puasa, padahal ia tahu dalam keadaan berpuasa disertai niat”; 3. Menurut Syeikh Muhammad Ali As-Shabuny dalam kitab Rowai’-ul Bayaan disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan jima’ disertai dengan niat sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dan kesempurnaannya adalah dengan menjauhi hal-hal yang kotor dan tidak melakukan per-kara yang diharamkan”; 4. Menurut Syeikh Muhammad bin Qasim Al-Ghazy dalam kitab Tausikhu ‘alaa Ibnu Qasim, disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dengan niat yang ditentukan sepanjang hari puasa (yaitu hari-hari yang boleh dilakukan puasa) yang dilakukan oleh orang Islam yang ber-akal dan suci dari haid dan nifas, bagi wanita”; 8 5. Menurut Al-Imam Taqiyuddin Al-Husaini dalam kitab Kifayatul Akhyar disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dalam hal tertentu dari orang tertentu, di dalam waktu yang tertentu pula dengan beberapa syarat”; 6. Menurut Al-Ustadz Muhammad Ali As-Sayis dalam kitab Tafsir Ayatul Ahkam disebutkan bahwa, “Puasa adalah menahan diri dari dua kedaulatan syahwat, yaitu syahwat perut dan farj dengan niat oleh ahli (orang yang diwajibkan) puasa, sejak ter- bit fajar sampai terpenam matahari”. Dari enam pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan puasa menurut syar’iyyah adalah, “Menahan diri dari (tidak melakukan) sesuatu yang dapat membatalkan puasa, yaitu ma-kan, minum dan bersetubuh (jima’) dengan wanita (isteri) sejak waktu terbit fajar sampai tenggelam matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah karena mengharapkan ridha-Nya, dan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada-Nya”. Dari kesimpulan pengertian ini, paling tidak terdapat dua hal yang kiranya perlu menjadi perhatian kita semua, dan ia merupakan rukun puasa. Pertama, “niat”. Orang yang akan mengerjakan puasa diwajib-kan berniat terlebih dahulu. Yaitu
  • 8. 8 mengikatkan hati, dengan bersengaja (dalam keadaan sadar) semata-mata hanya karena Allah (lillaahi ta’ala) untuk melakukan puasa di siang hari, guna meraih keridhaan Allah SWT. Tanpa niat, puasa menjadi tidak sah. Rasulullah SAW. bersabda : ¹«¯À‡ØŸzk «[−_£¯Àˆ«[dÀ_¿°«µ¯ 9 “Barangsiapa tidak berniat akan berpuasa sebelum terbit fajar, maka tak ada puasa baginya” (HR. Abu Daud). Kapan niat dilakukan? Berdasarkan hadits Rasulullah di atas, niat dilakukan pada malam hari sebelum berpuasa. Entah setelah ber-buka puasa kemudian meniatkannya untuk berpuasa lagi besok harinya, entah setelah shalat Maghrib, setelah shalat Isya’, setelah shalat Tara-wih, ketika menjelang tidur, ketika makan sahur atau menjelang waktu imsak. Pendeknya asal dilakukan pada malam hari. Menurut kebanyakan jumhur ulama berpendapat bahwa keha-rusan berniat puasa pada malam hari hanya mutlak diwajibkan apabila seseorang ingin mengerjakan puasa wajib, seperti puasa Ramadhan misalnya. Juga yang bersangkutan terbebas dari masalah kelupaan, sebab persoalan lupa merupakan persoalan di luar kemampuan ma-nusia, dan memang Allah SWT. tidak membebankan dosa bagi hamba-Nya yang terlupa. Firman Allah SWT. : ¯µ¨«¼¹^°bÈr[Ô°ÀŸm´j°¨À¬—À«¼ °¨^½¬£av°˜b “Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf (lupa) padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu” (QS. Al-Ahzab ayat 5). Sedangkan terhadap pelaksanaan puasa sunat (tathawwu’), tidak me-ngapa jika niat baru dilakukan pada siang hari (saat berpuasa). Hal ini sesuai dengan sebuah hadits yang menceritakan bahwa pada suatu hari 10 Rasulullah SAW. tiba di rumah Aisyah (isteri beliau), kemudian bertanya, “Wahai Aisyah, adakah makanan yang dapat kita makan hari ini?”, Aisyah menjawab, “Tidak ada ya Rasulullah”. “Kalau begitu”, kata Rasulullah, “Aku akan berpuasa hari ini”. Kedua, “Menahan diri dari apa-apa yang dapat membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari”. Firman Allah SWT. : Às«[°¨«µÀ_c¿Åcn[½^zƒ[¼[½¬§¼ [½°b[°fzk «[µ¯u½~×[Às«[µ¯À^×[
  • 9. 9 °c³[¼ µ·¼zƒ_b×¼ −À«[Å«[¯Àˆ«[ vk°«[ÅŸ²½ §— “ Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu (isteri-isteri kamu), se-dangkan kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al-Baqarah ayat 187). Berbuhungan dengan benang putih dan benang hitam yang disebutkan dalam ayat di atas, ada kisah jenaka yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Kisah tersebut menceritakan bahwa dulu ada seo-rang sahabat Nabi yang terkenal taat beribadah bernama Adi bin Hatim. Karena saking fanatiknya ia terhadap ayat di atas, sehingga di atas kasur tempat tidurnya, ia letakkan dua helai benang berwarna hitam dan 11 dan putih. Pada saat bersahur (makan sahur), selalu ia lihat dan perhatikan kedua helai benang ini. Selama ia belum mampu membeda-kan, mana benang yang putih dan mana benang yang hitam, ia masih menyantap makanan sahurnya. Baru setelah fajar menyingsing, dan ia sudah mampu membedakan mana benang putih dan mana benang hitam, barulah ia menghentikan makan sahurnya. Ketika hal ini disam-paikan kepada Rasulullah SAW. beliau tersenyum dan berkata, “Kasur tempat engkau meletakkan kedua helai benang itu terlalu luas, wahai Adi”, maksudnya benang hitam dan benang putih jangan diartikan yang sesungguhnya, karena benang hitam yang dimaksudkan ayat tersebut adalah gelapnya malam dan benang putih adalah merahnya fajar tanda hari telah siang. Sekarang timbul pertanyaan. Apa saja yang dapat membatalkan puasa? Berdasarkan beberapa hadits Rasulullah dan menurut jumhur ulama, disebutkan bahwa paling tidak ada delapan hal yang dapat mem-batalkan puasa, yaitu : 1. Makan dan minum dengan sengaja; 2. Melakukan hubungan suami isteri (jima’/bersetubuh); 3. Mengeluarkan air mani dengan sengaja; 4. Memasukkan sesuatu benda ke dalam rongga badan melalui lobang yang terbuka dengan sengaja; 5. Muntah dengan sengaja; 6. Haid dan Nifas bagi wanita; 7. Orang yang berpuasa, tiba-tiba diserang penyakit gila; 8. Sengaja membatalkan niat puasa. O 12 PPUUAASSAA DDAALLAAMM LLIINNTTAASSAANN SSEEJJAARRAAHH 3
  • 10. 10 i dalam surah Al-Baqarah ayat 183, terdapat kalimat : °¨¬_£µ¯µ¿x«[Ŭ—`c§°§ “Sebagaimana (puasa) telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Potongan ayat ini menerangkan bahwa puasa itu tidak saja di-wajibkan terhadap ummat Muhammad SAW. tetapi puasa juga telah di-wajibkan terhadap orang-orang atau ummat terdahulu. Hanya saja, bentuk, motif dan tata cara pelaksanaanya berbeda. Menurut beberapa riwayat diceritakan, bahwa bangsa-bangsa Mesir kuno dikala mereka masih beragama Watsani, bangsa Yunani dan Romawi di Eropah, suku bangsa Natchez di Amerika Utara, orang Hindu di India, telah mengenal dan mempraktekkan puasa. Hanya saja, selain motif yang mendorong mereka berpuasa, juga maksud dan tujuannya, berbeda satu sama lainnya. Begitu pula tentang tata cara pelaksanaan-nya. Menurut kitab Samuel jilid 2 diceritakan bahwa Nabi Daud ber-puasa selama tujuh hati ketika putera beliau sakit. “Maka dimohonkan Daud kepada Allah akan kanak-kanak itu dan berpuasalah Daud dengan yakin serta masuk ke dalam, lalu meniarap di tanah semalam-malaman itu”, demikian menurut kitab Samuel. 13 Menurut El-Bahayi El-Kholy dalam buku Ash-Shiyam, yang di-nukilkan dari Tafsir Al-Manar, dituliskan : “Tidak terdapat dalam kitab-kitab Taurat yang ada di tangan kita suatu perintah yang memberi arti wajibnya puasa itu, tetapi hanya sekedar memuji puasa dan mereka yang melakukannya. Ternyata Nabi Musa a.s melakukan puasa 40 hari. Ini memberi arti bahwa puasa dikenal di masa itu, disyari’atkan dan ter-golong sebagai satu ibadah. Bangsa Yahudi dewasa ini berpuasa se-minggu lamanya sebagai peringatan atas kehancuran Yerussalem. Ada-pun mengenai orang Nasrani tidaklah terdapat dalam kitab-kitab Injil mereka yang terkenal, satu nas yang mewajibkan puasa, tetapi hanya terdapat kata-kata mengenai puasa dan menganggapnya sebagai iba-dah. Dan orang yang berpuasa diperintahkan supaya menggosok ke-palanya dan membasuh mukanya dengan lemak hingga tidak kelihatan padanya alamat puasa agar jangan kelihatan sifat orang munafik (yang berbangga memperlihatkan ibadatnya) seperti orang Parsi”. Menurut kitab Perjanjian Lama disebutkan bahwa ada empat macam puasa yang lebih ringan dan lebih kecil fungsinya, yaitu untuk melepaskan diri dari rasa malang atau duka cita yang sedang maupun yang sudah dialami. Empat macam puasa tersebut adalah : 1. Puasa pasa saat kota Yerussalem dikepung tentara Romawi pada hari ke sepuluh bulan Tabeth; 2. Puasa pada tanggal 17, bulan Temmuz, ketika dinding kota dirusakkan; 3. Puasa waktu kuil Yerussalem dihancurkan dan; 4. Puasa pada tanggal 3 Tishri sewaktu Gedaliah, seorang Gu-bernur Yudah dibunuh orang. D
  • 11. 11 Selain itu masih ada lagi puasa yang dilakukan secara beramai- 14 ramai guna meredakan kemarahan Tuhan. Ada pula puasa yang dilaku-kan sebagai tanda penyesalan atas kesalahan yang diperbuat. Dalam Tafsir Al-Azhar juz II Prof. Dr.HAMKA menguraikan seba-gai berikut : “Puasa orang Kristen yang terkenal ialah Puasa Besar se-belum Hari Paskah. Nabi Musa mempuasakan hari itu, demikian juga Nabi isa dan murid-murid beliau. Kemudian gereja-gereja memutuskan pada hari-hari yang lain buat puasa, menurut yang diputuskan oleh Pendeta-pendeta mereka dalam sekte masing-masing”. Kemudian, dalam ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa, : “Pada hari-hari tertentu ummat Katholik wajib menahan nafsu makan, yaitu pagi-pagi boleh makan sedikit sebagai penyegar badan, tengah hari dibolehkan makan kenyang-kenyang, tapi petangnya hanya sedikit pula, dan seterusnya”. Dulu, suku bangsa primitif membagi puasa menjadi lima macam. Ada puasa sebelum memasuki musim tertentu, misalnya pada musim bunga. Puasa yang semacam ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Yunani kuno. Ada puasa yang dilakukan karena meninggalnya sa-lah seorang anggota keluarga. Puasa ini biasanya dilakukan oleh orang-orang Cina dan Korea. Ada puasa yang dilakukan karena terjadinya sua-tu bencana alam. Seperti beberapa suku di Jerman melakukan puasa lantaran di negerinya terjadi bencana topan yang mengamuk memporak-porandakan kampung. Begitu pula yang dilakukan oleh para wanita Bar-bar di Afrika, mereka berpuasa manakala suami mereka berada di medan perang. Ada pula puasa yang dilakukan dalam rangka meng-hadapi hari-hari khusus, misalnya puasa sebelum melangsungkan perka-winan. Puasa semacam ini banyak dilakukan oleh suku bangsa Teita di Afrika Timur, Macuai di Guyana, Tlingit di Alaska dan suku bangsa 15 Santals di Bengal, India. Ada puasa yang dilakukan untuk membentuk suatu hubungan yang permanen dengan Dewa-dewa, atau sesuatu yang mereka anggap berkuasa dan punya kekuatan. Misalnya puasa yang dilakukan oleh para Yogi Agama Hindu atau puasa yang dikerjakan oleh pengikut Brahma, dimana puasa mereka lakukan selama 24 hari dalam setahun, atau 40 hari berturut-turut disertai dengan bacaan-bacaan kitab suci mereka. Bahkan para pengikut Wisnu, sambil berpauas me-reka berbaring di atas paku, atau berdiri terus tanpa duduk, bahkan ada juga yang terus menerus berjemur di terik matahari. Semua itu mereka lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan mereka. Menurut catatan sejarah Islam, ketika Rasulullah SAW. tiba di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi melakukan Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Mereka berpuasa pada tanggal ini adalah sebagai kenang-kenangan dan pernyataan syukur atas terlepas-nya Nabi Musa dan sebagian kaum Bani Israil dari kekejaman raja Fir’aun yang dzalim. Melihat peristiwa ini, Rasulullah mengajak para sa-habat dan kaum muslimin agar berpuasa. Kejadian ini sesuai dengan se-buah hadits Rasulullah SAW. dari Ibnu Abbas r.a yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, yaitu :
  • 12. 12 u½¸À«[ÂÇzŸ °¬~¼¹À¬—ã[Ŭ‡Á_´«[¯v£ ¯½¿[½«£ I[x·¯ª¤Ÿ Æ[y½ƒ—¯½ˆb µ¯−ÀÎ[z~[Å´^¼Å~½¯¹ÀŸã[Åk³p«‡ Å~½°^¥n[³[:ª¤Ÿ Å~½¯¹¯ˆŸ °·¼v— 16 ¹¯Àˆ^z¯[¼¹¯ÀˆŸ°¨´¯ “Nabi SAW. datang ke Madinah dan dilihatnya orang-orang Yahudi ber-puasa pada hari Asyura. Maka tanya Nabi : Ada apa ini?. Ujar mereka : Hari baik, disaat mana Allah membebaskan Nabi Musa dan Bani Israil dari musuh mereka, hingga dipuasakan oleh Musa. Maka sabda Nabi SAW. : Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu. Lalu beliau ber-puasa pada hari itu dan menyuruh orang agar berpuasa”. Motif atau tujuan puasa yang dilakukan oleh ummat terdahulu, antara satu dengan lainnya memang berbeda-beda, sesuai dengan keperluan masing-masing. Demikian juga dengan diperintahkannya puasa bagi ummat Islam, tentu mempunyai maksud dan tujuan yang tidak sama dengan tujuan puasa umat- umat terdahulu. Adapun tujuan puasa menurut Islam adalah dalam rangka meningkatkan harkat dan derajat manusia di sisi Allah, ke puncak kehi-dupan rohaniah yang paling tinggi dan mulia, yaitu ingin mencapai pre-dikat taqwa, dengan sebutan muttaqien, yaitu derajat yang paling tinggi da mulia di sisi Allah. Padanya akan terpancar pribadi muslim yang luhur dan berakhlak terpuji, serta sanggup membina diri menjadi pribadi yang tangguh, sanggup berprilaku jujur dan bertindak adil. Nah, kalau kita ingin melihat bentuk, motivasi dan tujuan puasa menurut Islam dan membandingkannya dengan puasa dalam agama-agama lain, atau puasa yang dilakukan oleh ummat- ummat terdahulu, maka tidak berlebihan kiranya jika kita katakan bahwa puasa di dalam Islam lebih sempurna dari segala bentuk puasa manapun, karena syariat Islam secara umum memang bersifat pelengkap dan penyempuna. 17 PPUUAASSAA AADDAALLAAHH PPAANNGGGGIILLAANN KKEEIIMMAANNAANN anggilan Allah terhadap orang-orang yang beriman agar mengabdi kepada-Nya ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an yang jumlahnya tidak kurang dari 89 ayat, dianta-ranya dapat kita lihat dalam surah Al-Hajj ayat 77, Allah menyerukan : [¼v_—[¼ [¼vk~[¼[½˜§y[[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ P 4
  • 13. 13 ²½o¬ b°¨¬˜«zÀs«[½¬˜Ÿ[¼ °¨^y “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah. Sujudlah, beribadahlah kepa-da Tuhanmu dan kerjakanlah amal kebajikan, agar kamu berbahagia”. Ada tiga kata kunci yang terkandung dalam ayat ini. Pertama adalah perintah ruku’ dan sujud yang diwujudkan dalam bentuk shalat. Kedua, perintah beribadah, baik ibadah has atau mahdhah maupun iba-dah ‘am termasuk di dalamnya perintah perpuasa, dan yang ketiga ada-lah perintah berbuat kebajikan. Panggilan Allah terhadap orang-orang yang beriman merupa-kan panggilan khusus yang diserukan Allah untuk memberikan penghar-gaan terhadap orang-orang yang berpredikat aamanu agar mereka te-tap berada dalam rel keimanan yang murni, sehingga tidak akan terpe-rosok ke jurang nista atau ke lembah sengsara yang dapat membawa 18 malapetaka, baik malapetaka dunia, terlebihlebih malapetaka akhirat. Kalimat Yaa ayyuhalladziina ‘aamanu , hai orang-orang yang beriman merupakan panggilan kemesraan, panggilan kebanggaan, panggilan kesayangan, yang ditujukan Allah kepada hamba-Nya, namun mengandung konsekuensi yang berat dibalik panggilan tersebut. Sama saja kalau seorang guru memanggil murid-muridnya dengan kalimat, Wahai murid-muridku yang pandai, coba kalian kerjakan soal matematika ini”. Ajakan sang guru dengan menggunakan kalimat, murid-muridku yang pandai, disamping terdapat unsur pujian, di dalamnya juga me-ngandung tugas berat yang harus diselesaikan dengan baik dan benar oleh para murid, yakni menjawab soal matematika. Ada tanggung jawab moral yang harus dipenuhi oleh para murid, yakni mereka harus mampu menjawab soal matematika dengan baik dan benar. Karena kalau tidak, maka panggilan sang guru dengan kalimat murid-muridku yang pandai akan menjadi buyar atau tidak terbukti. Syukur kalau pujian sang guru ini berdasarkan realita yang ada terhadap kemampuan kepandaian murid-muridnya, sehingga pengerjaan soal matematika bagi mereka merupa-kan sesuatu yang biasa, tidak sulit, yang pada akhirnya, mereka dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Tetapi kalau pujian sang guru ini hanya merupakan basa-basi belaka, atau hanya sekedar memberikan semangat dan motivasi belajar tanpa didukung oleh suatu realita obyek-tif, maka tentu saja pujian sang guru ini merupakan beban yang berat yang mungkin justeru dapat menimbulkan cemas, khawatir dan seribu satu macam perasaan lainnya. Demikian juga dengan perintah ibadah puasa Ramadhan, yang diwajibkan Allah kepada orang-orang yang beriman dengan panggilan yaa ayyuhalladziina ‘aamanu seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183, yang berbunyi : 19 ¯Àˆ«[°¨À¬—`c§[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ ²½¤cb°¨¬˜« °¨¬_£µ¯µ¿x«[Ŭ—`c§°§
  • 14. 14 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa”. Menurut Abdullah bin Mas’ud , salah seorang sahabat Rasulul-lah SAW. beliau mengatakan bahwa suatu ayat yang dimulai dengan ka-limat Yaa ayyuhalladziina ‘aamanu , hai orang- orang yang beriman, ayat ini mengandung suatu hal yang penting, suatu hal yang amat berat dilaksanakan, jika pelaksananya tidak mendasarkan pada pondasi kei-manan yang kuat. Atau suatu larangan yang teramat berat hukumannya, jika dilanggar atau tidak diindahkan. Dalam perintah tertentu, seperti puasa Ramadhan pada ayat di atas, Allah hanya memanggil secara khusus kepada orang- orang yang beriman untuk mengerjakan puasa. Tidak memanggil orang-orang mus-lim, tidak memanggil orang-orang yahudi, orang- orang nasrani, atau memanggil manusia secara umum, tetapi hanya orang-orang yang ber-iman. Kenapa demikian? Karena Allah Maha Tahu dan Allah sudah memperhitungkan sebelumnya, bahwa yang bakal bersedia dan sanggup memikul tugas berat ini, yakni puasa, hanyalah orang-orang yang ber-iman, lain tidak. Karena orang yang benar-benar beriman, ia sangat cinta kepada Allah, sehingga dengan kecintaanya ini, apapun yang di- perintahkan Allah, akan ia laksanakan dengan baik dan senang hati, demi menjaga kelanggengan hubungan cintanya kepada Allah tersebut. Allah berfirman dalam Al-Qur’an : 20 ã_nvƒ[Ó½´¯[µ¿x«[¼ “Orang-orang yang beriman itu sangat cinta kepada Allah” (QS. Al- Baqarah ayat 165). Dengan demikian, mengerjakan puasa Ramadhan adalah dalam rangka memenuhi panggilan keimanan. Sebab, kalau imannya tidak ada, atau imannya tipis, berpuasa merupakan sesuatu yang sangat berat bagi mereka, sehingga tidak mustahil mereka tidak mampu melakukan-nya. Kalau hati tidak ada keyakinan kepada Allah, niscaya tidak akan kuat melaksanakan ibadah puasa. Tetapi dengan adanya iman yang kuat pada diri seseorang, maka ia sanggup melaksanakan ibadah puasa ini, tanpa merasa berat sedikitpun. Dari uraian di atas, dapatlah kita simpulkan, bahwa puasa me-rupakan panggilan keimanan, sekaligus merupakan batu ujian bagi o-rang-orang yang beriman, apakah dengan keimanannya itu ia mampu mengerjakan ibadah puasa dengan baik. Sejauhmana kontribusi puasa yang ia kerjakan berperanan penting dalam meningkatkan kualitas iman yang ia miliki. Oleh karena itu, marilah kita sambut bersama-sama panggilan Allah ini dengan perasaan iman yang dalam semata- mata hanya ingin mengharapkan ridha-Nya, sehingga kelezatan iman akan semakin tera-sa, yang pada gilirannya akan membangkitkan selera ibadah dan amal, sehingga berpuasa bagi kita merupakan kebutuhan yang primer bagi ke-langsungan hidup iman kita kepada Allah SWT. O 21
  • 15. 15 PPUUAASSAA DDAANN PPEENNGGEENNDDAALLIIAANN HHAAWWAA NNAAFFSSUU etika perang Badar usai yang melibatkan kurang lebih 300 tentara muslim melawan 1000 tentara kafir quraisy yang berakhir dengan kemenangan di pihak kaum mus-limin, hal ini membawa kegembiraan tersendiri bagi para sahabat. Na-mun kegembiraan ini terhenti seketika, tatkala Rasulullah SAW. mengu-capkan selamat datang kepada para pejuang Islam dan menyatakan bahwa perang Badar yang telah usai, hanyalah sebuah perang kecil, se-dangkan perang yang lebih besar sedang menanti dan berada di depan mata. Sabda Rasulullah SAW. : z_§×[u¸k«[Å«[zœ‡×[u¸k«[µ¯´˜jy “Kita ini telah kembali dari peperangan yang kecil menuju ke pepe- rangan yang besar”. Apa gerangan peperangan yang besar itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah peperangan melawan hawa nafsu. Di dalam diri kita terdapat dua bentuk nafsu yang bertolak be-lakang, yakni Nafsu Rububiyah (nafsu yang baik dan membangun/ kontruktif) yang apabila dimanfaatkan akan melahirkan tindakan-tindak-an dinamis dan berkemajuan. Disamping itu, terdapat pula nafsu yang merusak, destruktif, yang apabila diperturutkan akan mendatangkan 22 kemudharatan dan kerugian yang besar, baik terhadap diri sendiri, bahkan dapat pula merugikan orang lain. Nafsu yang merusak ini adalah seperti Nafsu Syaithaniyan (Nafsu Syetan), Nafsu Bahimiyah (Nafsu ke-binatangan) dan Nafsu Subu’iyyah (Nafsu kebuasan/kebiadaban/kesera-kahan) merupakan sekumpulan nafsu yang selalu mengajak kepada ke-jahatan yang perlu kita waspadai setiap saat. Nafsu yang berusak atau sering kita sebut hawa nafsu, hendak-lah selalu kita kendalikan dengan baik. Dan memang mengendalikan hawa nafsu merupakan perjuangan yang besar, melebihi perjuangan dalam memenangkan perang Badar. Didalam memperjuangkan melawan hawa nafsu, ada tiga ke-mungkinan hasil yang dicapai. Kemungkinan pertama, kalah. Artinya ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, bahkan ia diperbudak oleh hawa nafsunya, sehingga orang yang seperti ini dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang menuhankan hawa nafsunya. Firman Allah dalam Al-Qur’an : ¹½·¹¸«[xsb[µ¯d¿ÆzŸ[ “Adakah engkau lihat (hai Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan” (QS. Al-Jatsiyah ayat 23). K 5
  • 16. 16 Kemungkinan kedua, terkadang menang terkadang kalah. Arti-nya, suatu ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsu-nya, namun da-lam hal tertentu atau kondisi tertentu ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Banyak faktor memang yang menyebabkan ia menang atau kalah. Ya faktor kesempatan dan peluang, faktor keadaan yang 23 memaksa, faktor lingkungan, faktor ketidaktahuan, faktor kebodohan dan sebagainya. Kunci untuk mengatasi semua ini adalah terletak pada kualitas iman seseorang. Disamping itu, sejauhmana ia memberdayakan akal dan pikirannya. Kemungkinan ketiga, menang. Artinya, ia mampu mengendali-kan hawa nafsunya, sehingga hawa nafsu dapat ia kuasai, bukan se-baliknya. Dalam hubungan ini, Rasulullah pernah bersabda : ã[²[¼²ÀƒÁ«¼ ²Àƒ¹«¼×[vn[µ¯¯ ¹c¨¬¯ÅcnÁ³ÀƒÅ¬—Á´³—[v£ “Tak seorangpun diantara kita yang tak bersyetan. Saya sendiripun (ka-ta Rasulullah), selalu dalam intaian syetan. Tetapi sesungguhnya Allah telah menolong saya untuk melepaskan diri dari intaian syetan tersebut, sehingga syetan dapat saya kalahkan”. Dorongan hawa nafsu sering diidentikkan dengan dorongan syetan. Karena memang hawa nafsu merupakan tempat bertenggernya syetan untuk memperdayakan manusia dari jalan Allah. Oleh karena itu bagaimanapun juga, dorongan hawa nafsu harus kita kendalikan, harus kita bebaskan dari berbagai pengaruh syetan. Salah satu upaya pengen-dalian hawa nafsu ini adalah dengan berpuasa. Sebab dengan melaku-kan ibadah puasa, syetan akan terhina dan semakin terhina. Jalan atau sarana yang biasa syetan pergunakan untuk menjerumuskan manusia melaui hawa nafsu, baik nafsu perut maupun nafsu farj, semakin sempit dan semakin sulit ia pergunakan. Karena itu Rasulullah menyarankan ke-pada kita agar mempersempit keleluasaan syetan dengan berpuasa. 24 ¯v«[Âzk¯¯uÓµ^[µ¯ÂzkÀ«²À„«[²É –½k«^¹¿yk¯[½¤ÀŒŸ “Sesungguhnya syetan itu mengalir dalam tubuh manusia, seperti me-ngalirnya darah. Oleh karena itu persempitlah saluran-saluran syetan dengan menahan lapar (berpuasa)”. Dalam menjalankan ibadah puasa kita dianjurkan agar sedikit tidur (banyak bangun/berjaga), sedikit bicara, bertahan dari gangguan manusia (bersabar) dan sedikit makan. Sedikit tidur, maksudnya dalam menjalankan ibadah puasa, waktu berjaga (bangun) kita hendaknya dipergunakan untuk banyak beribadah kepada Allah, seperti shalat, berdzikir mengingat Allah, mem-perbanyak istighfar, melakukan tadarrus Al- Qur’an dan mendalami isinya, mengkaji pengetahuan- pengetahuan Islam dengan mengikuti pengajian-pengajian, membaca buku-buku agama, banyak melakukan amal-amal
  • 17. 17 ibadah sosial, seperti bersedekah, saling tolong menolong antar sesama dan sebagainya. Upayakanlah banyak bangun daripada tidur sepanjang bangun kita dipergunakan kepada hal-hal yang menda-tangkan manfaat. Tetapi kalau bangun kita ternyata justeru banyak men-datangkan mudharat atau dipergunakan kepada-hal- hal yang tidak ber-faedah, seperti misalnya main kartu, domino dan sebagainya yang nota-bena agar puasa tidak terasa lapar dan haus, dan waktu berlangsung tidak terasa, maka tidur barangkali akan lebih baik, sebab kata Rasulul-lah “Tidurnya orang yang sedang berpuasa merupakan ibadah” : ºu_—°Îˆ«[¯½³ 25 Sedikit bicara, maksudnya bicaralah seperlunya saja, jangan ngerumpi berlebihan hingga tak cukup waktu atau dapat menimbulkan perselisihan sesama. Menurut Umar bin Khaththab, : “Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi juga menahan diri dari dusta, dari perbuatan yang salah dan dari tutur kata yang sia-sia”. Bertahan dari gangguan manusia, maksudnya kita jangan me-layani orang yang memarahi kita, atau orang yang memancing kema-rahan kita, misalnya dengan mengejek kita, mencaci maki kita, meng-gunjing kita bahkan memfitnah kita dan sebagainya. Hadapilah semua-nya dengan sabar dan lapang dada. Konsentrasikanlah hati dan pikiran kita bahwa kita sedang beribadah (puasa) karena Allah. Sabda Rasulullah SAW. : hŸz¿ØŸ°Î‡°§vnDz§[wÊŸ »´j¯Àˆ«[ ųÉ:−¤À¬Ÿ¹°bƒ¼Ç¹¬b£Ëz¯[²ÊŸ−¸k¿×¼ OµÀbz¯N°Î‡ “Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang diantara kamu berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan mencaci maki sesama. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau memarahi/ mencaci makinya, hendaklah dikatakan kepadanya : saya ini berpuasa (tiga kali)” (HR. Bukhari dan Abu Daud). Sedikit makan, maksudnya dalam berpuasa seperti ketika 26 berbuka dan makan sahur hendaklah sesederhana mungkin. Jangan memperturutkan kehendak nafsu. Tahanlah dorongan nafsu makan dan minum yang tak terkendali. Janganlah berpuasa di siang hari dibalas dengan makan minum sepuas-puasnya pada saat berbuka. Sungguh yang sedemikian, sama sekali tidak menguntungkan. Tapi justeru banyak mengakibatkan kerugian, baik dari segi kesehatan maupun dari segi ke-jiwaan. Seorang Filosof Islam Yahya bin Muadz Ar-Razi pernah berkata “Perangilah hawa nafsumu, kata beliau, dengan ketaatan kepada Allah dan Riyadhah”.
  • 18. 18 Riyadhah adalah segala upaya untuk melakukan tindakan, se-perti meninggalkan tidur (mengurangi tidur), sedikit bicara, bertahan dari gangguan manusia, dan sedikit makan. Dengan sedikit tidur, diharapkan keinginan-keinginan hati akan menjadi baik. Dengan sedikit bicara, akan timbul kesadaran kehati-ha-tian yang pada gilirannya dapat menyelamatkan seseorang dari berba-gai bahaya dan tipu daya, terutama bahaya- bahaya yang disebabkan oleh lidah tak bertulang. Dengan bersabar dalam menghadapi segala macam gangguan manusia, diharapkan ia akan mencapai derajat orang- orang yang ber-predikat shaabiriin yang selalu dekat dengan Allah bahkan selalu ber-sama Allah kapan saja dan di mana saja ia berada. Bukankah Allah itu selalu bersama orang-orang yang sabar? Dengan mengurangi makan, akan dapat melemahkan kese-nangan-kesenangan hawa nafsu, karena di dalam kerakusan makan, 27 terdapat kekerasan hati, sehingga seseorang cenderung suka memban-del, sukar menerima saran dan nasehat. Rasulullah SAW. berpesan : “Terangilah hatimu dengan lapar dan haus serta rajinlah untuk terus mengetuk pintu Sorga dengan lapar dan haus itu pula. Karena pahala dalam menjalani semua itu seperti pahala orang yang berjihad/berpe-rang di jalan Allah. Sesungguhnya tiada sebuah amalpun yang lebih di-cintai Allah, kecuali lapar dan haus. Dan orang-orang yang memenuhi perutnya dengan berlebihan, tidak akan dapat memasuki kerajaan langit, serta akan kehilangan betapa manisnya ibadah”. Mudah-mudahan dengan menahan lapar dan dahaga selama kita berpuasa di bulan Ramadhan ini, serta menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan atau mengurangi keutuhan nilai puasa, mudah-mudahan dapat menambah manisnya ibadah kita kepada Allah. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a pernah berkata : “Aku tidak pernah kenyang karena makan setelah aku masuk Islam, semua itu justeru dapat mem-bawaku betapa manisnya beribadah kepada Allah. Dan aku tidak pernah segar karena minum, tapi semua itu justeru menambah kerinduanku untuk bertemu dengan Tuhanku”. 28 PPUUAASSAA DDAANN PPEENNYYUUCCIIAANN JJIIWWAA anusia diciptakan Allah, tidak saja berupa jasmani atau badan kasar, tetapi juga berupa rohani atau jiwa. Bah-kan kedudukan rohani atau jiwa lebih tinggi dibanding-kan kedudukan jasmani. Sebab yang menentukan gerak-gerik aktivitas manusia justeru ditentukan M 6
  • 19. 19 oleh dorongan dari dalam, yaitu rohani. Ini-lah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Segala aktivitas manusia pada dasarnya muncul dari suatu maksud tertentu dan datang dari suatu perasaan yang dalam dan mempunyai kekuasaan penuh da- lam dirinya. Berbeda dengan binatang, gerak-gerik binatang hanya dida-sarkan kepada insting semata, tidak disertai oleh suatu pertimbangan akal maupun perasaan. Rohani atau jiwa, adalah komponen kehidupan manusia yang sangat berperan dan ia merupakan harta yang dianugerahkan Allah ke-pada manusia dengan bobot nilai yang tak terhingga dan kepada setiap kita dituntut untuk memeliharanya dengan baik sehingga keberadaan rohani atau jiwa tetap dalam keadaan yang suci bersih. Sebab apabila rohani atau jiwa bersih, maka kebersihannya itu akan memancar dan membekas pada sikap prilaku lahiriyah. Sebaliknya, apabila rohani atau jiwa kotor, maka kotorannya ini akan melekat dan membekas pada seti-ap sikap dan tingkah laku. Pada dasarnya ajaran Islam ditujukan untuk membangun jiwa manusia melalui sarana Tazkiyah yaitu suatu proses penyucian jiwa yang harus dilaksanakan secara terus-menerus oleh setiap individu dan masyarakat Islam jika ingin tetap berada dalam kondisi muslim sejati. 29 Konsep penyucian jiwa dalam Islam bersifat dinamis dan univer-sal. Artinya, hampir seluruh aspek ajaran Islam selalu mengedepankan konsep penyucian jiwa. Tatkala seseorang berikrar Asyhadu an laa ilaa-ha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah dengan menya-takan diri memeluk agama Islam, maka ikrar ini dapat membebaskan di-rinya dari segala macam bentuk penghambaan selain Allah. Bahkan de- ngan ikrar ini pula, dapat menimbulkan kesadaran yang tajam dan dalam bahwa Allah adalah lebih besar dari segala bentuk apapun. Allah lebih berkuasa dan berhak disembah oleh segenap makhluk yang ada. Oleh karenanya, ia tidak akan dapat diperbudak oleh suatu sistem duniawi yang bukan bersumber dari Allah. Ia tidak akan takut kepada siapapun, kecuali hanya takut kepada Allah. Ia akan secara konsekuensi siap me-nerima segala apa yang disyari’atkan Allah melalui Rasul-Nya Muham-mad SAW. Demikian juga dengan ajaran shalat. Shalatpun juga merupakan proses penyucian jiwa yang membebaskan manusia dari ikatan ruang dan waktu. Dengan mengangkat takbir Allahu Akbar di permulaan shalat dapat mengantarkan jiwa manusia naik dan terus naik melayang ke alam yang maha tinggi menghadap Ilahi Rabbi. Disinilah letak awalnya proses Mi’rajul Muslimin (awal proses pertemuan dan dialog dengan Allah Tu-han Yang Maha Tinggi). Jiwa yang kotor memang tidak akan mampu menghayati shalat dengan sesungguhnya. Hanya dengan jiwa yang ber-sihlah seseorang baru mampu menghayati shalat sebagai sarana yang intens untuk berdialog dengan Allah Zat Yang Maha Suci. Demikian juga dengan zakat. Melalui zakat, dapat membersih-kan jiwa si kaya dari rasa egois dan mementingkan diri sendiri, dan da-pat pula membersihkan jiwa si miskin dari rasa iri dan dengki. Begitu ju-ga haji. Dengan memakai kain ihram, mengandung makna simbolik dari 30 kesucian hati orang yang memakainya. Dan pakaian inilah pula yang mendorong seseorang untuk pergi haji, dengan meninggalkan sanak saudara, anak cucu, kampung halaman, harta benda, pangkat jabatan dan segala yang dicintainya. Ia datang ke tanah suci dengan penuh ke-ikhlasan semata-mata
  • 20. 20 memenuhi panggilan Allah untuk memperoleh berkat dan ridha- Nya. Ayat 183 surah Al-Baqarah yang berisi perintah puasa Rama-dhan untuk mengantarkan orang-orang yang beriman menuju jenjang taqwallah yang merupakan inti pokok tujuan puasa, hal ini juga tidak le-pas dari konsep penyucian jiwa. Imam Ibnu Katsir menggarisbawahi, bahwa puasa adalah pembersihan jiwa, menyucikannya dan memelihara-nya dari campuran yang kotor dan dari akhlak yang tercela. Dengan berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan diri dari nafsu syahwat dan beberapa kesenangan yang halal lainnya, meng-ingatkan kita kepada orang-orang yang selalu menderita sepanjang ta-hun, bahkan sepanjang hidupnya. Dengan berpuasa dapat menggugah diri seseorang yang hidup bergelimpangan harta dan kemewahan agar dapat merasakan penderitaan saudara-saudaranya sehingga dari pe-ngalaman ini diharapkan dapat membangkitkan perasaan lembut dan santun serta rasa kesatuan, persaudaraan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi. Dengan berpuasa, jiwa akan menjadi sehat. Dan jiwa yang se-hat selalu mempunyai rasa solidaritas sosial yang tinggi khususnya penghayatan terhadap orang-orang yang lemah, fakir miskin dan anak yatim. Perasaan tersebut tidak akan berhenti sampai disitu, tetapi akan ia realisasikan dalam perbuatan nyata untuk meringankan beban pende-ritaan sesamanya. 31 Jiwa yang sehat akan selalu ingat dan sadar bahwa rezeki yang ia peroleh selama ini merupakan amanat Allah yang di dalamnya ada hak hak orang lain yang wajib dikeluarkan. Sehingga orang yang berpuasa dan benar-benar menghayati puasanya, tidak akan segan-segan untuk berbuat kebajikan. Jika keadaan ini telah merasuk ke dalam jiwa seseo-rang dan kemudian terrealisasi dalam perbuatan amal kebajikan, maka boleh dikatakan bahwa proses penyucian jiwa melalui ibadah puasa be-nar-benar membuahkan hasil yang baik. Kalau kita tengok sejarah orang-orang terdahulu dalam mela-kukan puasa, nampaknya puasa yang mereka lakukan juga berorientasi pada penyucian jiwa. Sebagai contoh dapat kita baca sejarah agama Hindu, dimana para pengikut Brahma dan Wisnu, apabila mereka ingin memperoleh berkah dari para Dewa, mereka terlebih dahulu melakukan penyucian jiwa dengan berpuasa. Demikian juga Nabi Musa a.s ketika beliau ingin beraudensi dengan Tuhan di Bukit Sinai, terlebih dahulu be-liau melakukan puasa selama 40 hari. Karena untuk berkomunikasi de-ngan Tuhan diperlukan penyucian jiwa. Banyaklah lagi contoh lainnya yang menggambarkan bahwa puasa pada dasarnya merupakan upaya-upaya dalam penyucian jiwa. Salah satu tugas pokok Rasulullah SAW. disamping menyampai-kan ayat-ayat Allah dan mengajarkan kitab suci serta hikmah (ilmu pe-ngetahuan) beliau juga ditugasi untuk membersihkan atau menyucikan ummat manusia, baik yang menyangkut soal-soal jasmaniah terlebih-le-bih soal rohaniah dengan cara mengarbol bersih-bersih dari segala si-fat-sifat kemusyrikan dan penyakit-penyakit rohani lainnya. Sangat banyak nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah yang menunjukan betapa perjuangan Rasulullah di dalam usaha 32
  • 21. 21 membersihkan rohani manusia. Karena kebersihan rohani merupakan syarat mutlak bagi seorang hamba yang kepingin memperoleh ridha Al-lah SWT. Firman Allah dalam Al-Qur’an : ©^yÅ«[Á˜jy[ »´Ï°°«[ ´«[¸c¿Ô¿ Á¬ru[¼ ¾u_—ÁŸÁ¬rvŸ »À‹z¯»À‹[y Ác´j “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Sorga-Ku” (QS. Al-Fajr ayat, 27-30). Semoga puasa yang kita jalankan di bulan Ramadhan ini dapat berfungsi sebagai pembersih jiwa kita masing-masing untuk mencapai jiwa yang tenang, yaitu jiwa yang selalu stabil, konstan dan istiqamah, baik dalam suka maupun di dalam duka. Marilah kita perbaharui terus kesucian jiwa kita dengan banyak beribadah kepada Allah serta beramal shaleh, karena orang yang selalu membersihkan jiwanya adalah orang yang sangat beruntung dalam pandangan Allah. Sebaliknya, orang yang tidak mau berusaha untuk membersihkan jiwanya, apalagi jika malah mengotorinya, maka merugilah orang ini. Firman Allah SWT. : ¸~uµ¯]rv£¼ ¸§{µ¯p¬Ÿ[v£ “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams ayat 9-10). 33 PPUUAASSAA MMEENNAANNAAMMKKAANN KKEEDDIISSIIPPLLIINNAANN ersoalan disiplin adalah persoalan yang tidak asing lagi bagi kita. Sejak dulu hingga sekarang semakin ramai dibi-carakan. Apapun alasannya, disiplin adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan dan kita perlu meningkatkan disiplin itu. Kenapa de-mikian? Karena disiplin merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita, dan ia merupakan suatu sikap yang berkaitan erat de-ngan kenyataan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan berke-hendak bebas. Sikap disiplin ini jika diterapkan dan dikembangkan, me-mungkinkan manusia dapat mencapai kemajuan dalam hidupnya. Dalam kehidupan masyarakat masalah disiplin memang masih merupakan persoalan yang ruwet, lantaran mungkin karena belum diberi bentuk yang konkrit. Bahkan secara jujur kitapun harus mengakui bahwa masyarakat kita nampaknya masih belum tergolong masyarakat yang berpola hidup disiplin. Tengok saja misalnya bagaimana orang-orang dengan seenaknya membuang sampah di sembarang tempat. Tengok pula bagaimana ulah para pengemudi di jalan raya, dan bagaimana ulah para penumpang P 7
  • 22. 22 yang suka berebutan dan berjejal tatkala menaiki bis atau kendaraan umum lainnya, dan sebagainya. Memang ruwet, betul-betul ruwet, di satu pihak kita semua me-nyadari betapa pentingnya disiplin, namun dilain pihak tingkah laku kita sehari-hari justeru masih jauh dari kedisiplinan. Dengan kata lain, kesa-daran berdisiplin dengan tindakan yang terlihat sehari-hari, masih ter-bentang jarak yang sangat jauh. 34 Masalah disiplin adalah masalah kesadaran diri pribadi. Ia ber-ada di dalam diri manusia. Ia bukan merupakan faktor yang semata-ma-ta dipengaruhi oleh pihak luar diri manusia. Jadi, perwujudan disiplin da-lam kehidupan nyata sehari-hari sangat tergantung pada kesadaran diri pribadi masing-masing. Dapat dikatakan bahwa disiplin adalah kesediaan untuk melaku-kan kewajiban atau mentaati peraturan serta tata tertib yang berlaku. Bukan karena paksaan dari luar, tapi karena kesadaran dalam diri bah-wa sebagai manusia yang bermartabat, kita harus menegakkan disiplin. Dengan demikian jelaslah bahwa disiplin adalah suatu sikap khas yang bersifat manusiawi. Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan pribadi dan masyarakat pada prinsipnya sangat menjunjung tinggi nilai- nilai kedisip-linan. Sehingga segala macam bentuk ibadah ritual dalam Islam senan-tiasa didasarkan atas kedisiplinan. Seperti ibadah shalat umpamanya, sangat banyak ajaran shalat yang mensyaratkan adanya kedisiplinan, seperti tentang penentuan jadual waktu shalat, ketentuan rakaat, keter-tiban bacaan dan gerak laku shalat. Firman Allah SWT. : d³§º½¬ˆ«[²[ º½¬ˆ«[[½°À£Ÿ b½£½¯_c§µÀ´¯Ì°«[Ŭ— “ Maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisa ayat 103). 35 Kemudian, “Amal perbuatan yang paling utama” kata Rasulullah, adalah Shalat tepat pada waktunya”. Bahkan beliau menganjurkan agar shalat di awal waktu, itu lebih utama lagi. ¸c£¼Å¬—ºØˆ«[ : ª£ I−ŒŸ[ª°—×[Â[ “Amal perbuatan apakah yang paling utama? Berkata (Rasulullah SAW) shalat tepat pada waktunya” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud). ã[²ÊŸ °¨c£¼ª¼ÇÅŸ°¨b؇[½¬‡¼ °¨«¡—Œ¿ “Dan kerjakanlah shalat-shalat kamu pada awal waktumu, karena Allah akan menggandakan pahala untuk kamu” (HR. Thabrani). Shalat lima waktu sehari semalam merupakan sarana latihan dan pendidikan kedisiplinan. Dengan waktu shalat yang
  • 23. 23 telah ditentukan, mengharuskan seorang muslim senantiasa menjaga dan memeliharanya, sehingga mengerjakan shalat selalu tepat waktu. Ini merupakan suatu latihan yang tertib untuk menjaga waktu dan memanfaatkannya, dengan harapan dari pemanfaatan waktu tersebut akan mendatangkan keun-tungan yang besar. Disamping itu shalat berjamaah yang sangat dianjurkan, juga mengandung didikan kedisiplinan, karena dalam shalat berjamaah, mak-mum wajib mengikuti gerakan imam dan melakukannya setelah imam, jangan mendahului atau bersamaan. Ha l ini menunjukkan tamsil ibarat 36 yang universal terutama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dimana sebagai rakyat, kita harus taat dan patuh terha-dap pemimpin, sepanjang pemimpin tersebut tidak menyimpang dari ke-tentuan-ketentuan agama, negara dan adat istiadat yang sedang berla-ku di masyarakat. Begitu pula dengan puasa. Melalui puasa banyak didapat man-faat yang besar terutama dalam upaya melatih kita hidup berdisiplin. Dan memang melakukan ibadah puasa memerlukan kedisiplinan. Tanpa kedisiplinan tidak mungkin seseorang mampu melakukan puasa. Tatkala kita bangun dan makan sahur, kemudian kita tanamkan niat berpuasa besok harinya, tatkala itu pula sebenarnya kita sudah me-nanamkan ke dalam diri kita sikap disiplin. Niat puasa yang mantap ini kita wujudkan dengan berpuasa, dan selama kita berpuasa kemurnian disiplin kita diuji. Apakah kita mampu melaksanakan kewajiban berpuasa kita pada hari ini dengan baik? Jika ya, artinya kita berdisiplin. Tetapi jika tidak, ini artinya kita belum berdisiplin. Pada waktu berpuasa, kita kan dilarang makan dan minum, wa-lau yang dimakan dan diminum itu barang yang baik dan halal, barang yang kita miliki sendiri. Seandainya kita mau, mungkin tidak terlalu sulit. Tinggal ke belakang sebentar? atau masuk kamar sebentar?, apa yang kita kerjakan?, terserah kita. Mau makan, minum dan sebagainya, tak seorangpun yang bakal tahu, kalau kita sedang membatalkan puasa de-ngan berbuka sebelum waktunya tiba. Tetapi ternyata semua itu tidak kita lakukan, walaupun kesempatan dan peluangnya ada. Kenapa?, itu-lah dia disiplin, karena disiplin merupakan kesadaran pribadi. Seseorang yang berpuasa dengan penuh kesadaran bahwa 37 perintah puasa ini berasal dari Allah, maka dengan keimanannya kepada Allah ia tentu secara konsekuen akan menjalankan ibadah puasa ini de-ngan sebaik-baiknya. Dengan demikian, kunci kedisiplinan dalam berpu-asa ini memang terletak pada kualitas keimanan seseorang. Semakin tinggi kualitas iman seseorang, maka semakin tinggi pula kualitas disip-linnya. Puasa memang menumbuhkan disiplin jiwa yang kuat. Puasa pun juga mendidik manusia untuk berakhlak mulia, teguh memegang amanah serta menanamkan kejujuran. Di tempat-tempat sunyi, di mana tidak seorangpun yang bakal melihat, di pokok-pojok rumah, di ruang kamar yang sepi dan sebagai-nya, dengan leluasa sebenarnya kita bisa melakukan
  • 24. 24 hal-hal yang dapat membatalkan puasa, namun semua itu tidak menggiurkan keiinginan kita untuk berbuka. Apabila puasa kita laksanakan dengan penuh disiplin, dalam arti disiplin tidak akan makan dan minum, tidak akan melakukan hu-bungan suami isteri pada siang hari, tidak akan berdusta, tidak akan berbuat yang bisa merusak keutuhan puasa kita, insyaAllah puasa kita akan menumbuhkan kesadaran yang tinggi pada diri kita mansing-ma-sing, suatu kesadaran yang berkesinambungan, yang melekat dan mem-bekas serta memancarkan sepak terjang kehidupan sepanjang umur. Semoga puasa kita di bulan Ramadhan ini membuahkan kesa-daran kedisiplinan yang tinggi, baik kedisiplinan dalam beribadah, da-lam bermasyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegara, yang pa-da gilirannya nanti akan menciptakan sikap disiplin nasional secara me-nyeluruh. 38 TTIINNGGKKAATTAANN PPUUAASSAA enurut Imam Al-Ghazali dalam ktabnya Ihya ‘Ulumuddin juz 1 disebutkan bahwa, “Puasa itu mempunyai tiga peringkat derajat, yaitu peringkat puasa umum, pering-kat puasa khusus dan peringkat puasa khususil khusus”. Peringkat puasa umum adalah tingkatan puasa yang paling rendah, karena puasa pada tingkat ini hanya disandarkan pada puasa dalam arti hanya menahan diri dari makan dan minum dan menahan diri dari melakukan hubungan seksual disiang hari. Peringkat puasa umum disebut juga peringkat puasanya orang awam, atau orang kebanyakan, karena memang secara umum kebanya-kan orang mampu melakukan puasa seperti ini. Peringkat puasa ke dua atau peringkat menengah, sedang, adalah peringkat puasa khusus. Adal;ah tingkatan puasa yang pelaksa-naannya tidak saja menahan diri dari makan dan minum dan melakukan hubungan seksual di siang hari, tetapi juga mengendalikan seluruh pan-ca indera dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Seseorang yang berada pada tingkatan puasa khusus ini, di-samping mampu menahan diri dari makan dan minum dan melakukan hubungan seksual di siang hari, ia juga mampu menahan pendengaran-nya, penglihatannya, lidahnya, kaki dan tangannya dan seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang merusak, perbuatan dosa atau per-buatan yang dapat merugikan orang lain. Pelaksanaan puasa pada 39 tingkat ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang shaleh. Peringkat puasa yang ketiga disebut puasa khususil khusus, atau puasa yang terkhusus dari yang khusus, atau puasa yang paling utama, adalah pelaksanaan puasa disamping menahan diri dari makan dan minum, dari hubungan seksual di siang hari, dari perbuatan panca indera yang merusak, puasa khususil khusus merupakan puasa hati, puasa jiwa, dengan mengendalikannya dari niatan-niatan yang jahat, ni-atan-niatan M 8
  • 25. 25 yang merusak, niatan-niatan yang rendah dan pikiran-pikir-an duniawi. Seseorang yang berada pada tingkatan puasa khususil khusus ini, disamping mampu menahan diri dari makan dan minum, melakukan hubungan seksual dan dari perbuatan panca indera yang merusak, ia juga mampu menahan diri dari niatan- niatan, pikiran-pikiran yang buruk atau jahat, seperti perasaan iri dan dengki, perasaan riya, takabbur, mau menipu, memfitnah, mengadu domba dan sebagainya. Puasa pada tingkat ini adalah puasanya para Nabi, Shiddiqien dan Muqarrabiin. Dari penjelasan di atas, barangkali kita bisa mengevaluasi diri kita masing-masing, pada tingkatan yang mana kira-kira kita berada. Jika sekiranya peringkat puasa kita masih tergolong awwam, tentu kesem-patan untuk meningkatkannya ke jenjang khusus, atau minimal mende-kati, masih ada. Untuk mencapai ke peringkat puasa khusus, diperlukan paling tidak enam hal yang harus dipatuhi. Pertama, menjaga pandangan mata dari segala yang tercela atau yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah. 40 Rasulullah SAW. bersabda : ã¹´˜«À¬^[¯¸~µ¯¯½°¯°¸~ºz”´«[ ³°¿É−j¼|—ã[¶bÓã[µ¯Ÿ½r¸§zbµ°Ÿ ¹_¬£ÅŸ¹b¼Ønvk¿ “Sekilas pandangan mata, adakalanya merupakan sebuah anak panah yang berbisa diantara panah-panah Iblis yang terkutuk. Maka barangsi-apa menahan dirinya dari pandangan seperti itu, karena rasa takutnya kepada Allah, maka Allah SWT. akan melimpahkan kepadanya keimanan yang terasa amat manis dalam hatinya” (HR. Al-Hakim). Kedua, mejaga lidah dari ucapan-ucapan yang sia-sia, seperti berdusta, menggunjing, memfitnah, mencaci maki, menyinggung perasa-an orang lain, menimbulkan pertengkaran sesama, akibat perbuatan-lidah dan sebagainya. Rasulullah SAW. bersabda : °§vn[¯½‡¯½¿²§[wŸ »´j¯Àˆ«[ [vn[¹^~²Ÿ`s¿×¼xϯ½¿hŸz¿ØŸ °Î‡Á³[−¤À¬Ÿ¹¬b£¼ “Puasa itu perisai. Maka apabila salah seorang kamu berpuasa, maka janganlah ia menuturkan kata-kata keji, janganlah pula menyebarluaskan 41 kata-kata keji tersebut. Dan apabila seseorang sedang memakinya atau memberikan pukulan padanya, maka (jangan kamu balas), tapi katakan-lah, saya sedang berpuasa” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
  • 26. 26 Ketiga, menahan diri dari pendengaran atau mendengarkan se-suatu yang dibenci oleh Allah. Seperti mendengarkan berita bohong, mendengarkan gunjingan dan sebagainya. Perlu kita ingat bahwa segala sesuatu yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Karena itu Allah menyamaratakan antara orang yang suka mendengarkan yang haram dengan orang yang memakan harta yang haram, sebagaimana firman-Nya : do«²½¬§[]x¨¬«²½˜°~ “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan makanan yang haram” (QS. Al- Maidah ayat 42). Kemudian sabda Rasulullah SAW. : °fÛ[ÅŸ²¨¿zƒ™°c°«[¼]cœ°«[ “Orang yang menggunjing dan yang suka mendengarkan gunjingan ada-lah serupa dalam dosa” (HR. Ath-Thabrani). Keempat. Mencegah semua anggota tubuh lainnya dari perbu-atan haram. Misalnya mencegah kaki untuk melangkah ke tempat-tem-pat maksiat. Mencegah tangan agar jangan mengambil barang milik 42 orang lain atau melempar pukulan sehingga menyakitkan jasmani orang lain. Menjaga mata agar tidak terarah kepada obyek-obyek yang diha-ramkan. Menjaga mulut dari suara-suara sumbang dan menyakitkan atau perkataan yang kotor, tidak senonoh dan sebagainya. Menjaga pe-rut agar tidak dimasuki oleh makanan dan minuman yang haram atau yang meragukan (syubhat) pada waktu berbuka puasa. Berlindunglah kita kepada Allah dari pernyataan Rasulullah SAW yang menyatakan : –½k«[×[¹¯À‡µ¯¹«À«°Î‡µ¯°§ …˜«[¼ “Betapa banyak orang yang berpuasa, sedangkan ia tidak mendapat se-suatu dari puasanya itu, kecuali lapar dan dahaga” (HR. An-Nasa’ie). Kelima, mencukupkan diri ketika berbuka dengan makanan dan minuman yang halal dan ala kadarnya. Jangan berlebihan atau memper-turutkan kehendak nafsu. Ingatlah bahwa, tak ada tempat yang paling dibenci oleh Allah, selain dari perut yang penuh dengan makanan. Keenam, menciptakan suasana hati pada saat berbuka antara harap dan cemas. Harap, artinya mengharap kepada Allah agar puasa kita diterima di sisi-Nya, sebagai amal ibadah. Dan cemas jangan-jangan puasa kita ditolak oleh Allah SWT.
  • 27. 27 Jika enam hal di atas dapat kita laksanakan dengan sebaik-ba-iknya, insyaAllah puasa kita menjadi puasa yang berkualitas. 43 PPRRIIBBAADDII MMUUTTTTAAQQIIEENN YYAANNGG DDIIIINNGGIINNKKAANN PPUUAASSAA eperti yang kita maklum bahwa tujuan pokok disyari’at-kannya puasa Ramadhan adalah untuk memperoleh gelar taqwallah (bertaqwa kepada Allah SWT). Kata taqwa berasal dari kata kerja waqa, yang artinya hati- hati, menjaga, memelihara, melindungi, memperbaiki, menjauhi dan sebagai-nya. Menjaga, maksudnya menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik, perbuatan maksiat. Memelihara, maksudnya memelihara hati dan pikiran dari kecenderungan-kecenderungan yang buruk, jahat maupun merusak, yang dapat merugikan diri sendiri, terlebih-lebih merugikan orang lain. Melindungi, maksudnya melindungi diri sendiri dari segala macam kotoran dan penyakit rohani, seperti iri, dengki, bakhil, serakah dan sebagainya. Memperbaiki, maksudnya melakukan perbaikan diri se-cara terus menerus. Jika terlanjur berbuat dosa dan kesalahan, maka segera bertobat dan tidak mengulanginya lagi di masa-masa menda-tang. Menjauhi, maksudnya menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan dan dosa. Pendeknya, taqwa merupakan istilah yang amat penting da-lam Islam yang secara umum diartikan, mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwallah, merupakan tujuan puncak yang menjadi sumber dari kehidupan rohani orang yang beriman dan puasa Ramadhan merupakan 44 salah satu saran sekaligus cara untuk mencapai taqwallah tersebut. Musfassir terkenal Muhammad Abduh mengatakan bahwa, “Puasa dalam ajaran Islam bukanlah untuk menyiksa diri atau untuk kepentingan fisik semata. Tetapi puasa adalah untuk mendidik dan menyucikan jiwa”. Dengan penyucian jiwa tersebut pada gilirannya akan lahir pribadi-priba-di yang taqwa. Dari pribadi-pribadi yang taqwa diharapkan tumbuh kelu-arga yang bertaqwa, dan dari keluarga yang bertaqwa akan terjelma masyarakat yang bertaqwa, yakni suatu masyarakat yang tumbuh dan berkembang dengan azas tazkiyah yang selalu menjaga kesuciaan di-rinya dan mengembangkan rasa tolong menolong, saling hormat meng-hormati, saling kasih mengasihi yang pada gilirannya terciptalah suatu masyarakat yang baldhatun thayyibatun suatu negeri yang masyarakat-nya penuh kedamaian, ketentraman dan kemakmuran. Sikap taqwallah yang terhunjam dalam dada seseorang, akan menampilkan sikap pribadi yang utuh menyeluruh. Seseorang yang ber-taqwa senantiasa bersikap baik dalam situasi dan kondisi apapun, baik pada saat suka maupun pada saat duka. Pada saat sepi sendirian mau-pun di tengah keramaian. Orang yang bertaqwa akan terpancar dalam sikap dan perbuatannya sehari-hari yang selalu cenderung kepada per-buatan baik (ihsan). S 9
  • 28. 28 Oleh karenanya, Allah SWT. mensejajarkan antara taqwa dengan ihsan (perbuatan baik). Firman Allah dalam Al-Qur’an : ²½´o¯°·µ¿x«[¼[½¤b[µ¿x«[™¯ã[²[ “Sessungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan)” (QS. An-Nahl ayat 128). Puasa Ramadhan sebagai sarana yang disediakan Allah untuk 45 dilaksanakan oleh orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menginginkan derajat taqwa , suatu derajat yang paling tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. apabila dilaksanakan dengan baik, insyaAllah akan me-lahirkan pribadi-pribadi muttaqien yang memiliki sifat-sifat terpuji, seba-gai buah dari ibadah puasa sekaligus merupakan sikap yang sebenarnya diinginkan oleh puasa itu sendiri. Pribadi-pribadi muttaqien atau sifat-sifat pribadi yang diingin-kan puasa Ramadhan, antara lain adalah sebagai berikut : 1. Suka Menolong Orang Lain Ajaran puasa yang mengandung hikmah kolektif, dimana setiap orang yang sedang menjalankannya pasti merasakan lapar dan dahaga, hal ini dapat menimbulkan perasaan iba bagi orang- orang kaya terha-dap orang-orang miskin. Ibnul Qayyim mengatakan, “Puasa dapat me-nyadarkan seseorang, ternyata betapa menderitanya lapar yang saban hari di derita oleh orang- orang miskin”. Ibnul Hamman juga berkata, “Pada saat seseorang merasakan lapar dalam waktu tertentu, akan mengingatkan ia kepada orang yang selalu menderita kelaparan di se-panjang hidupnya. Oleh karena itu ia akan segera bertindak untuk me- ringankan penderitaan orang-orang miskin dengan bersikap santun ke-pada mereka”. Sehubungan dengan ini Rasulullah SAW. sangat meng-anjurkan agar pada bulan Ramadhan ini, kita perbanyak amal kebajikan/ amal shaleh. Rasulullah adalah orang yang paling suka berbuat keba-jikan, terlebih-lebih di bulan Ramadhan, seperti yang diterangkan dalam hadiits berikut ini : ²§¼¥¬s«[u½j[O†Nã[ª½~y²§ 46 ÏÀƒ¹ÀŸ©°¿×»¬~z°«[p¿z«§²Œ¯yÅŸ “Rasulullah SAW. adalah orang yang paling dermawan, dan lebih derma-wan lagi ketika di bulan Ramadhan. (Tatkala Malaikat Jibril datang mene-mui beliau, dan biasanya Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ra-madhan, lalu membacakan ayat Al- Qur’an kepada beliau). Sungguh ke-tika Jibril datang menemui Rasulullah SAW. didapatinya beliau lebih der-mawan, laksana dermawannya angin ketika bertiup” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian, dalam beberapa hadits Rasulullah SAW. bersabda, yang arti-nya : “Puasa itu perisai dan shadaqah itu dapat memadamkan dosa, laksana air memadamkan api”. “Seutama-utama shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan”
  • 29. 29 “Sesungguhnya shadaqah itu dapat memadamkan kemurkaan Tuhan dan menolak akibat jelek”. 2. Suka Memberi Maaf dan Mau Meminta Maaf Dalam menjalankan ibadah puasa dituntut tingkat kesabaran yang tinggi. Rasulullah sendiri mengatakan bahwa, “Puasa itu separuh dari kesabaran”. Maksudnya, tanpa didasari kesabaran, tidak mungkin seseorang dapat menjalankan puasa dengan baik. Oleh karena itu mari-lah kita latih kesabaran kita dengan berpuasa untuk melahirkan berba-gai sikap positif, seperti suka memaafkan kesalahan orang lain dan tidak segan-segan meminta maaf jika terlanjur berbuat salah. Saking penting-nya sikap sabar ini, Rasulullah SAW. mengharapkan kepada kita, agar 47 mampu menahan marah dan meningkatkan kesabaran, seperti yang dinyatakan dalam hadits berikut ini : xQ°Î‡Å³É:−¤À¬Ÿ¹°bƒ¼Ç¹¬b£Ëz¯[²ÊŸ “Seandainya ada orang yang mengajak brkelahi atau mencaci maki, maka katakanlah, saya sedang berpuasa (2 kali)” (HR. Bukhari). Kalau cuma memberi maaf, mungkin tidak terlalu berat bagi ki-ta, dibandingkan jika kita disuruh atau dengan kemauan sendiri meminta maaf kepada orang lain, kendati dua-duanya merupakan sesuatu yang berat dilakukan. Kenapa demikian? Karena kalau kita memberi maaf, se-cara psikologis posisi kita di atas, yakni sebagai pemberi maaf. Tetapi kalau kita yang datang kepada seseorang untuk meminta maaf, posisi kita berada di bawah, yakni peminta maaf. Disamping itu, sebagai pe-minta maaf, ada perasaan takut, kawatir, cemas, kalau-kalau permo- honan maaf kita ditolaknya. Semuanya ini juga tergantung besar kecilnya kesalahan yang diperbuat dan dampak yang ditimbulkannya. Jika kesa-lahannya besar dan mendatangkan dampak risiko yang besar, maka memberi maaf atau meminta maaf merupakan sesuatu yang sulit dilaku-kan. Tetapi jiika kesalahannya ringan saja, atau masih dalam batas ke-wajaran, maka memberi dan meminta maaf mungkin tidak terlalu sulit di- lakukan. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, jiwa kita dilatih sedemiki-an rupa, agar berjiwa besar dan sanggup memberikan maaf kepada orang lain serta sanggup meminta maaf, jika terlanjur berbuat salah kepada orang lain, tidak memandang apakah kesalahannya itu besar atau kecil. 48 3. Selalu Ingat Kepada Allah dan Meminta Ampun Kepada-Nya Jika Melakukan Dosa dan Kesalahan Puasa sebagai manifestasi dari ketaatan seseorang dalam me-laksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kondisi inilah yang menjadikan seseorang mampu mawas diri untuk membaca cacat cela diri sendiri dan berusaha memperbaikinya sehingga apabila ia ter-lanjur berbuat kesalahan dan dosa ia akan segera minta ampun dan bertobat kepada Allah SWT. Sikap inilah yang diinginkan oleh puasa, dan ini juga merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa, sebagaimana terlukis dalam Al-Qur’an :
  • 30. 30 ‹z—»´j¼°¨^yµ¯ºz œ¯Å«[Ó½—y~¼ µÀ¤c°¬«av—[Šy×[¼a½°«[ “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran ayat 133). °¸ ³[Ó½°¬“¼[»„nŸ[½¬˜Ÿ[w[µ¿x«[¼ z œ¿µ¯¼ °¸^½³x«[¼z œc~Ÿã[[¼z§w [½¬˜Ÿ¯Å¬—[¼zˆ¿°«¼ ã[×[]½³x«[ ²½°¬˜¿°·¼ 49 “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatn keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran ayat 135). 4. Selalu Bertawakkal Kepada Allah Dalam Setiap Aktivitas Sehari- hari Sudah menjadi sunnatullah bahkan kita hidup di dunia ini memerlukan perjuangan dan setiap perjuangan terkadang membutuh-kan pengorbanan, baik pengorbanan tenaga, pikiran, harta, tahta bah-kan nyawa sekalipun. Disamping itu, segala perjuangan yang kita la-kukan pasti berhadapan dengan berbagai tantangan dan rintangan. Dan ketahuilah bahwa tantangan dan rintangan itu merupakan ujian Allah yang perlu kita hadapi dengan seksama, berjiwa besar dan penuh ke-ikhlasan, sambil bertawakkal kepada Allah SWT. Demikian sebagian pribadi muttaqien yang diinginkan puasa Ramadhan, yang sebenarnya masih banyak lagi sikap pribadi lainnya yang perlu kita gali dan kembangkan dalam rangka upaya meningkatkan kualitas puasa kita. 50 TTAAQQWWAA SSEEBBAAGGAAII SSTTAANNDDAARR NNIILLAAII10
  • 31. 31 slam sebagai risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. se-bagai rahmatan lil ‘alamiin tidak pernah absen di dalam ikut serta memecahkan persoalan- persoalan hidup manusia. Salah satu persoalan hidup yang dihadapi manusia dan ini sa-ngat mendasar sifatnya adalah tentang bagaimana menentukan standar nilai manusia. Standar nilai ini berfungsi sebagai pedoman untuk menilai manusia baik atau buruk, mulia atau terhina. Disamping itu, standar nilai ini juga dijadikan pedoman untuk meraih kesuksesan sekaligus mewarnai cita-cita dan pandangan hidup manusia. Pada sekitar abad ke enam dan ke tujuh, yakni menjelang di-bangkitkannya Rasul terakhir Muhammad SAW. sebenarnya manusia di-berbagai kawasan bumi ini telah mempunyai standar nilai. Akan tetapi nampaknya masih sangat bersahaja dan memang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka saat itu. Diantara mereka ada yang menjadikan kekuatan fisik dan ke-pandaian berkelahi, berperang, bertempur sebagai standar nilai. Sehing-ga baik buruk seseorang tergantung kuat tidaknya fisik. Berani tidaknya berkelahi, pandai tidaknya berperang, bertempur. Akibatnya, di sana sini berdiri padepokan silat, perkumpulan-perkumpulan bela diri dan sema-camnya. Ramailah orang mempelajari ilmu-ilmu kanuragan, ilmu-ilmu ke-saktian, kekebalan dan sebagainya. Diantara mereka tidak jarang terjadi saling adu kekuatan, kesaktian, berkelahi, bertempur dan sebagainya. 51 Sehingga kehidupan mereka tak ubahnya laksana sekumpulan binatang buas yang hidup di rimba belantara yang tunduk dan patuh terhadap hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Ada lagi sementara orang yang menjadikan standar nilai be-rupa harta dan kekuasaan. Dengan memiliki harta yang banyak, kedudu-kan yang tinggi, ia dijadikan sebagai orang yang terpandang, terhormat dan berkuasa. Untuk memperoleh predikat tersebut, ia rela mengorban-kan apa saja. Perebutan harta dan tahta sudah tidak bisa dihindari lagi. Dan dari perebutan tersebut tidak jarang terjadi perkelahian, perseng-ketaan dan pertumpahan darah. Muncullah kelompok-kelompok dalam masyarakat. Ada kelompok kapital, peodal, rakyat jelata dan sebagainya. Dalamnya jurang pemisah antara si miskin dengan si kaya. Terjadilah penindasan kaum yang berkuasa terhadap rakyat jelata. Manusia sudah bertingkat-tingkat, bergolongan-golongan dan berkasta- kasta. Ada pula sekelompok manusia yang menjadikan kebagusan ru-pa atau kecantikan sebagai standar nilai. Sehingga masyarakat yang menganut paham ini, pekerjaan sehari-harinya selalu ditujukan dalam rangka memperbagus fisik, memperindah bentuk tubuh dan memper-cantik wajah. Semua ini dilakukan oleh terutama para wanitanya. Mereka menjunjung tinggi dan mengembangkan budaya kein-dahan sebagai hal yang utama, sehingga berdirilah salon- salon kecan-tikan di mana-mana. Akibatnya, manusia dijadikan barang tontonan dan pajangan, yang seringkali menjadi makanan empuk bagi nafsu birahi. Ada lagi sementara orang yang menjadikan keturunan, warna kulit dan tanah kelahiran sebagai standar nilai. Akibatnya I
  • 32. 32 sering terjadi karena soal keturunan dan perbedaan warna kulit, menjadi ajang 52 persengketaan dan perselisihan bahkan peperangan. Akibat soal tanah kelahiran tidak jarang mengakibatkan pertumpahan darah yang menge-rikan. Kalau kita ingin jujur dan mencoba melihat kenyataan yang ada dalam masyarakat sekarang ini, ternyata standar nilai yang pernah dia-nut dan berlaku dalam masyarakat tempo dulu, sampai saat inipun pengaruhnya masih terasa. Walaupun tidak mendasar sifatnya, ternyata kekuatan fisik, harta, tahta, kecantikan, warna kulit, keturunan dan tanah kelahiriran masih mendominasi bagi strata nilai sosial seseorang. Terkadang soal harta, masih dijadikan ukuran untuk menilai se-seorang terpandang atau tidak. Golongan orang-orang berduit, yang kaya, yang punya pangkat jabatan kedudukan, dikelompokkan ke dalam orang-orang elit, sehingga mereka merasa enggan bahkan merasa jijik bergabung dengan orang- orang biasa, rakyat biasa. Kadang-kadang so-al keturunan, ras dan tanah kelahiran menjadi pertimbangan yang utama di dalam pergaulan masyarakat, misalnya di dalam soal perkawinan, di- mana persoalan suku dan adat istiadat masih menjadi pertimbangan di dalam memilih jodoh. Sekarang apa jawaban Islam tentang standar nilai ini. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 Allah memberikan jawaban : Åg³[¼z§wµ¯°¨´¤¬r³[}´«[¸¿Ô¿ °¨¯z§[²[[½Ÿy˜c«−ÎÔ_£¼^½˜ƒ°¨´¬˜j¼ zÀ_s°À¬—ã[²[°¨¤b[ã[v´— 53 “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu sekalian saling mengenal satu dengan lainnya. Karena sesungguhnya yang termulia diantara kamu di sisi Allah, adalah yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui, Maha Sadar”. Dari ayat ini jelaslah bahwa standar untuk menilai manusia mu-lia atau tidak, baik atau buruk, tergantung kepada prestasi amaliyahnya dalam berbakti kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesamanya, atas istilah singkatnya, taqwa. Begitu pentingnya standar nilai berupa taqwa ini, sehingga di dalam Al-Qur’an berulangkali Allah sebutkan. Bahkan Rasulullah SAW. sendiri dalam berbagai sabda beliau antara lain dinyatakan : °·¤bǪ£ I}´«[¯z§[µ¯ ã[ª½~y¿−À£ “Rasulullah SAW. ditanya, Siapakah manusia yang paling mulia? Nabi menjawab, Yang lebih bertaqwa” (HR. Bukhari Muslim).
  • 33. 33 Å«É×¼ °¨¯~jÇÅ«Éz”´¿×Å«˜bã[²É °¨^½¬£Å«Éz”´¿µ¨«½ °§y½‡ “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat tubuh-tubuhmu dan tidak pula rupa-rupamu, akan tetapi Ia akan melihat hati-hatimu” (HR.Muslim). 54 Menurut Allah dan Rasul-Nya, taqwa adalah standar nilai manu-sia yang sangat sesuai dengan tabiat dan fitrahnya serta bersifat univer-sal. Standar nilai ini akan mendorong setiap manusia untuk bekerja ke-ras, berkarya dan berprestasi dalam berbuat kebajikan antar sesama dalam rangka mencapai ketentraman dan kesejahteraan. Bahkan ia juga merupakan standar nilai yang dapat membuka pandangan dan wawasan hidup, sehingga tidak akan berpandangan sempit, bagai katak dalam tempurung. Kenapa demikian? Karena orang yang taqwa senantiasa mendapatkan kenikmatan hidup, baik rohaniah maupun jasmaniah, sejak di dunia kini, hingga ke akhirat nanti. Orang yang bertaqwa senantiasa mendapat bimbingan, kecinta-an, kemenangan, tempat yang aman dan ketentraman dari Allah SWT. karena : µÀ¤c°«[Á«¼ã[¼ “Allah menjadi pemimpin orang yang bertaqwa” (QS. Al-Jasiah ayat 19). µÀ¤c°«[`o¿ã[²Ÿ “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang taqwa” (QS. Ali Imran ayat 76). µÀ¤c°«[™¯ã[²[Ó½°¬—[¼ “Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” (QS. At-Taubah ayat 36). 55 µÀ¤c°¬«»_£˜«[¼ “Kesudahan yang baik (kemenangan) adalah untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Al-A’raf ayat 128). ]¯µo«µÀ¤c°¬«²[¼ “Orang yang bertaqwa akan mendapat tempat kembali yang baik” (QS. Shaad ayat 49). ²½¤c¿[½³§¼[½´¯[µ¿x«[´Àk³¼ “Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertaqwa” (QS. Pushshilat ayat 18).
  • 34. 34 Demikianlah kedudukan dan nilai taqwa di hadapan Allah SWT. Ia merupakan nilai tertinggi dari sekumpulan nilai apapun. Ia merupakan derajat yang tertinggi dan paling mulia di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan moment Ramadhan tahun ini untuk meningkat-kan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sehingga jenjang taqwa yang menjadi dambaan kita semua, insyaAllah dapat kita raih ber-sama. 56 NNIILLAAII FFIILLOOSSUUFFIISS PPUUAASSAA RRAAMMAADDHHAANN alam masalah ibadah, ada kaedah yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya dilarang, kecu-ali yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tetapi dalam masalah mu’amalah/kemasyarakatan, ada kaedah yang mengata-kan bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya boleh dikerjakan, kecuali yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam hubungan ini, maka pelaksanaan ibadah, terutama ibadah mahdhah, seperti shalat, zakat, puasa dan haji selalu didasarkan atas perintah Allah SWT. : ã[[½‹z£[¼ º½§|«[[½b[¼º½¬ˆ«[[½°À£[¼ ´n‹z£ “Dan dirikanlah (oleh kamu sekalian) shalat serta tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik” (QS. Al-Muzzammil ayat 20). ¯Àˆ«[°¨À¬—`c§[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ ²½¤cb°¨¬˜« °¨¬_£µ¯µ¿x«[Ŭ—`c§°§ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa 57 sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah ayat 183). ¹À«[–c~[µ¯dÀ_«[ln}´«[Ŭ—ã¼ µÀ°¬˜«[µ—Á´›ã[²Ÿz §µ¯¼ ØÀ_~ “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan pergi ke sana. Barang-siapa yang ingkar (terhadap kewajiban haji), maka bahwasanya Allah adalah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali ‘Imran ayat 97). D 11
  • 35. 35 Dari beberapa ayat di atas, terutama yang berkenaan dengan perintah puasa Ramadhan, pada potongan ayat µ¿x«[Ŭ—`c§°§ °¨¬_£µ¯ , tersirat dalam ayat ini bahwa melaksanakan puasa Rama-dhan bukanlah sesuatu yang baru tetapi sudah pernah dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu, sehingga kalau orang- orang terdahulu pada sanggup mengerjakannya, maka tentu kitapun juga dapat melaksa-nakannya. Artinya, persoalan puasa adalah persoalan yang biasa dilaku-kan oleh manusia, sehingga secara filosufis boleh dikatakan bahwa puasa Ramadhan itu merupakan sesuatu yang mudah, enteng atau ri-ngan untuk dilaksanakan, karena masih dalam batas-batas kemampuan manusia untuk mengerjakannya. Kalau kita perhatikan awal ayat 183 surah Al-Baqarah, kata yang digunakan untuk mewajibkan orang-orang yang beriman agar berpuasa adalah kutiba. Menurut ilmu bahasa Arab, kata kutiba ini 58 dinamakan kata kerja yang tersembunyi, bukan kata kerja yang terbuka/ terang-terangan. Sebab kalau terang-terangan, seharusnya kata terse-but berbunyi, ¯Àˆ«[°¨À¬—ã[`c§ artinya, Allah mewajibkan kepada kamu sekalian untuk mengerjakan puasa. Dengan memakai kata kerja yang tersembunyi ini, seolah- olah tidak ditegaskan siapa yang memerintahkan mengerjakan puasa terse-but. Sehingga dari aksentuasi kata tersebut, perintah puasa Ramadhan ini dianggap mudah untuk dikerjakan. Sama saja misalnya kalau seo-rang komandan perang memerintahkan beberapa orang pasukannya melalui seorang utusan (tidak langsung) untuk maju bertempur ke garis depan dengan kalimat, kamu diperintahkan untuk maju ke garis depan. Kalimat ini terasa lebih ringan/enteng, karena ada kesan bahwa bertem-pur di garis depan itu soal biasa bagi perajurit tersebut, dibandingkan jika dengan kalimat Komandan memerintahkanmu untuk maju ke garis depan. Kalimat ini mungkin terasa lebih berat, karena suatu perintah yang menyertakan subyek pemerintah, terkesan bahwa perintah terse-but bukan main-main, sehingga terasa lebih berat jika dilaksanakan. Jika kita lihat lebih jauh lagi tentang keadaan dan sifat puasa yang diperintahkan ini, hakikat pelaksanaannya memang dirasa mudah, ringan dan enteng. Di mana kira-kira letak kemudahannya? Pertama, seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa per-soalan puasa bukan persoalan yang baru, pelaksanaannya pun sudah pernah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Setiap orang yang dipi-kulkan suatu kewajiban dan bersamaan dengan itu diketahuinya pula bahwa kewajiban tersebut telah dipikulkan kepada orang-orang sebelum dia, maka secara psikologis akan terhunjam ke dalam jiwanya satu kesan bahwa kewajiban tersebut adalah kewajiban yang tidak berat, buktinya 59 orang-orang sebelum dia dapat mengerjakan. Kedua, ada kalimat yang menyebutkan bahwa mengerjakan pu-asa itu hanya beberapa hari yang tertentu ( au¼v˜¯¯¿[ ). Tidak di-sebutkan 29 hari atau 30 hari (satu
  • 36. 36 bulan), tapi hanya beberapa hari yang tertentu. Ini juga menurut hemat kami secara psikologis memberi-kan kesan kepada seseorang yang mengerjakan puasa bahwa waktu 29 atau 30 hari dalam berpuasa bukanlah waktu yang lama atau panjang, tapi hanya sebentar saja. Ketiga, adanya beberapa keringanan atau dispensasi Tuhan terharap orang-orang yang berhalangan/udzur melaksanakan puasa. Diantaranya misalnya, para manula, orang yang sakit dan tidak ada ha-rapan kesembuhannya, orang yang mempunyai pekerjaan berat dan ti-dak punya pilihan pekerjaan lain. Orang-orang ini diberikan keringanan untuk tidak berpuasa, jika kalau ia berpuasa akan memayahkan atau memberati mereka. Namun bagi mereka ada kewajiban membayar fidyah, seperti yang dinyatakan Allah SWT. : µÀ¨¯¯˜»¿vŸ¹³½¤À¿µ¿x«[Ŭ—¼ “Bagi orang-orang yang sulit melakukannya (puasa Ramadhan), hen-daklah mereka membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin” (QS. Ayat 184). Disamping itu, Allah juga memberikan keringanan kepada mere-ka yang sakit dan atau sedang berada di dalam perjalanan (musyafir), boleh tidak berpuasa, tetapi wajib membayarnya (mengqada’) pada bulan-bulan yang lain. Firman Allah SWT. : 60 ºv˜Ÿz ~Ŭ—¼[Œ¿z¯°¨´¯²§µ°Ÿ zr[¯¿[µ¯ “Siapa yang sakit diantaramu atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqada’ (mengganti puasanya) pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah ayat 184). Kemudian, bagi wanita hamil dan menyusui, Allah memberikan keringanan untuk tidak melakukan puasa, dengan catatan pada bulan yang lain ia wajib membayarnya (mengqada’), atau kalau terasa mem-beratkan bisa diganti dengan membayar fidyah, seperti yang diterang-kan hadits beikut ini : ¯½ˆ«[zŸ°«[µ—™‹¼−j¼|—ã[²[ ¯½ˆ«[™‹z°«[¼Å¬_o«[µ—¼ ºØˆ«[zƒ¼ “Sesungguhnya Allah ajja wajalla membebaskan puasa dan separuh shalat bagi musyafir, dan membebaskan puasa bagi wanita yang hamil dan wanita yang menyusui” (HR. Lima Imam). Juga bagi wanita yang mengalami haid dan nifas, tidak dibenarkan ber-puasa, dan jika ia berpuasa juga, maka puasanya batal, dan ia wajib mengqada’nya pada bulan yang lain. Demikianlah hakikat ibadah puasa dilihat dari sudut filsafat dan hukum yang memberikan kesimpulan bahwa ibadah puasa itu secara 61
  • 37. 37 filosufis merupakan perbuatan yang mudah, ringan dan enteng. Bahkan secara umum, agama Islam yang kita anut ini adalah agama kemudahan. Allah menyatakan : iznµ¯µ¿v«[ÅŸ°¨À¬—−˜j¯¼ “Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama” (QS. Al-Hajj ayat 78). Semoga dengan filsafat kemudahan ini akan mendorong dan memacu kita untuk selalu meningkatkan kualitas puasa kita dari hari ke hari hingga mencapai puncaknya nanti. 62 PPUUAASSAA SSEEBBAAGGAAII TTEERRAAPPII PPSSIIKKOOSSOOMMAATTIISS uasa sebagai salah satu bentuk ibadah dalam Islam, ia tentunya bukan semata dogma atau kebiasaan rutin yang dilaksanakan setiap tahun di bulan Ramadhan tanpa me-ngetahui maksud dan manfaatnya, tetapi puasa Ramadhan merupakan suatu ibadah yang dapat melahirkan berjuta hikmah dan manfaat yang secara fungsional dapat dirasakan oleh para pelaku puasa dalam kehi- dupan sehari-hari. Salah satu hikmah atau manfaat puasa ditinjau dari segi kese-hatan jiwa adalah sebagai terapi terhadap penyakit psikosomatis. Istilah psikosomatis berasal dari kata psyche atau jiwa, dan soma atau badan. Istilah ini bermaksud menyatakan hubungan yang erat antara unsur jiwa dengan unsur badan, dan keduanya saling berhu-bungan, saling mempengaruhi satu sama lainnya. Bila jiwa ditimpa kesu-litan, maka badanpun turut menderita. Demikian juga sebaliknya, jika ba-dan sakit, jiwapun ikut merasa susah. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita pernah mengalami misalnya ketakutan yang amat sangat, sehingga lantaran saking takut-nya detak jantung kita semakin cepat, badan jasmani kita terasa lemas tak berdaya dan pikiran kita menjadi P 12
  • 38. 38 kalut. Akhir dari rasa takut yang berlebihan ini terkadang dapat membuat orang pingsan tak sadarkan diri, bisa juga mengakibatkan timbulnya penyakit kronis. 63 Reaksi somatisasi bisa mengenai semua fungsi dan sistem or-ganis yang penting dari badan. Misalnya, alat pencernaan dari lambung atau perut, sistem kelenjar, sistem peredaran darah, alat pernafasan, alat kelamin, sistem persendian, kulit, jantung dan sebagainya. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa setiap fungsi organis atau somatis yang terganggu oleh emosi-emosi yang kuat bisa menjadi basis timbulnya macam-macam gangguan psikosomatis. Penyakit darah tinggi (hypertensi) merupakan penyakit jasmani yang cukup berbahaya. Penyakit ini ternyata ditimbulkan oleh adanya emosi-emosi yang kuat, yang dimanifestasikan dalam kerja jasmani dan langsung mengenai sistem peredaran darah, hingga mempengaruhi de-tak jantung dan tekanan darah. Hasil eksperimen para ahli kesehatan menunjukkan bahwa ke-kalutan, kecemasan dan kemarahan yang berlebihan atau kurang ter-kendali cenderung meningkatkan tekanan darah dan mempercepat de-tak jantung. Jika kondisi ini sering terjadi dan berlangsung lama serta sulit mengadakan penyesuaian, maka pada gilirannya nanti seseorang yang terkondisi seperti ini akan diserang penyakit darah tinggi. Gangguan-gangguan emosional yang serius dan kronis bisa memprodusir respons-respons fisiologis yang mengakibatkan kerusakan struktural pada tubuh, yang pada gilirannya nanti bisa mengakibatkan kematian. Orang yang sering marah, dongkol, benci, cemas dan takut, bi-asanya akan tidak berselera makan, akibatnya bila berlarut-larut dapat mengganggu pencernaan. Demikian juga orang selalu agresif dalam 64 memeram rasa kebencian pada orang lain bisa dijangkiti tekanan darah tinggi yang apabila berlarut-larut bisa mengancam keselamatan jiwanya. Pada abad modern sekarang ini, gangguan-gangguan psikolo-gis dengan bermacam-macam simptom penyakit, nampaknya semakin bertambah banyak saja. Keadaan ini dicerminkan oleh banyak pasien yang menderita gangguan mental berupa stress, baik yang ringan mau-pun yang berat, yang pada gilirannya dapat merambat pada tubuh dan menyebabkan seseorang menjadi sakit. Dr. Dadang Hawari, seorang ahli jiwa mengatakan bahwa, “Se-karang ini telah terjadi perubahan pola penyakit. Kalau dulu banyak pe-nyakit yang sifatnya infeksi, sekarang berubah menjadi penyakit nonin-feksi”. Perubahan penyakit infeksi ke noninfeksi disebabkan oleh adanya perubahan gaya hidup manusia yang belakangan ini cenderung serba terburu-buru, serba ambisi, sering memaksakan kehendak tanpa meng-ukur kemampuan diri, akibatnya dapat menimbulkan stress. Seseorang sering mengalami stress dapat mengganggu keseimbangan saraf oto- nom dengan gejala-gejala seperti, gatal-gatal, sakit maag, tukak lam-bung, mencret-mencret, sesak nafas atau asma, terlalu sering
  • 39. 39 kencing dan sebagainya. Stress yang membawa akibat penyakit- penyakit ini disebut gangguan psikosomatis. Gangguan psikosomatis pada umumnya diderita oleh masyara-kat ekonomi menengah ke atas. Penyakit yang semacam ini kebanyakan dialami oleh para direktur, manajer atau para pelaksana eksekutif per-usahaan yang pada umumnya menduduki posisi menengah ke atas serta memikul tanggung jawab yang besar. Kasus yang paling banyak dari gangguan psikosomatis adalah 65 terserangnya penyakit darah tinggi (hypertensi), kejang jantung (angina pectoris) dan pembekuan dalam pembuluh nadi (coronary trombosis) yang semua penyakit ini seringkali mengakibatkan kematian. Puasa Ramadhan yang merupakan perintah Allah, dengan me-nekankan pengorbanan kesenangan diri dan kebiasaan tiap hari, seperti kebiasaan makan dan minum pada waktu-waktu tertentu, kebiasaan me-lakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sah pada waktu yang disukai dan beberapa kesenangan dunia lainnya, ketika seseorang mela-kukan puasa maka kebiasaan-kebiasaan dan kesenangan tersebut harus dikurangi dan dikendalikan sesuai dengan aturan puasa. Jika perintah puasa ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang beriman , maka ten-tu perintah ini tidak akan terrealisasi. Tetapi karena perintah puasa ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman maka dengan penuh kesa-daran mereka laksanakan perintah puasa ini sebagai bukti pengabdian-nya kepada Allah SWT. Sebab mereka yakin bahwa dengan melaksana-kan ibadah puasa akan melahirkan kesenangan jiwa, jiwanya akan lega dan tenteram dengan membawa efek yang sangat berarti bagi kesehat-an jasmani sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Carrel bahwa “Ketentraman yang ditimbulkan karena ibadah dan doa merupakan per-tolongan yang besar bagi pengobatan”. Kemudian Dr. Mac Fadon, seorang dokter kenamaan di Amerika Serikat mengatakan, “Setiap manusia berhajat pada puasa sekalipun dia tidak sakit. Sebab, makanan-makanan beracun yang terhimpun bersama dengan obat-obatan dalam tubuh menjadikan ia seperti orang yang sa-kit, dapat memberatkan badannya dan mengurangi kesegaran”. Penga-ruh puasa terhadap suatu penyakit memang berbeda-beda sesuai de-ngan perbedaan penyakitnya. Paling banyak penyakit yang dapat disembuhkan dengan puasa adalah penyakit perut, darah tinggi dan 66 penyakit tulang/urat atau rematik. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih untuk bersi-kap sabar. Sabar dalam mengendalikan hawa nafsu, sabar dalam melak-sanakan kewajiban sebagai hamba Allah dan sebagai ummat yang hidup dalam masyarakat, sabar terhadap hal-hal yang kurang disukai, sabar dalam menahan amarah, dan sebagainya. Pengaruh dari sabar ini sa-ngat penting artinya sehingga seseorang yang terlatih kesabarannya akan dapat menggunakan akal sehat dan emosinya secara harmonis dalam upaya menyelesaikan segala permasalahan hidupnya. Dengan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, insyaAllah jiwa kita akan menjadi tenteram, sikap percaya pada diri sendiri akan semakin kuat, dan ketegaran dalam menghadapi sega-la problema hidup semakin mantap yang
  • 40. 40 pada gilirannya nanti kita tidak akan pernah dihinggapi gangguan psikosomatis. Dalam hubungan ini maka tepat sekali dengan pernyataan Allah yang termuat dalam Al-Qur’an pada surah Al- Baqarah ayat 184 : ²½°¬˜b°c´§²[°¨«zÀr[½¯½ˆb²[¼ “Dan puasa itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” . 67 JJEEJJAAKK PPUUAASSAA DDAALLAAMM MMEEMMPPEERRBBAAIIKKII MMAASSYYAARRAAKKAATT alah satu kelebihan ajaran Islam yang barangkali tidak di-miliki oleh ajaran agama lain adalah mengajarkan keseim-bangan antara aktivitas keduniaan dengan aktivitas ke-akhiratan. Kepentingan dunia dan kepentingan akhirat bagi ajaran Islam ibarat dua sisi mata uang yang satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan. Firman Allah SWT. : ´b×¼ ºzr×[y[v«[ã[©b[Ô°ÀŸc^[¼ ©À«[ã[µn[Ô°§µn[¼ À³v«[µ¯©_Àˆ³ `o¿×ã[²[ Šy×[ÅŸu «[_b×¼ µ¿v °«[ “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagia-an) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (ke-nikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaima-na Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat ke-rusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash ayat 77). Sekalipun Islam telah mengatur bentuk peribadatan yang 68 bersifat ritual dalam bentuk hubungan manusia dengan Allah SWT. dan memberikan batasan umum tentang mu’amalah yaitu hubungan manusia dengan sesamanya, namun semuanya itu tetap mengarah kepada dua dimensi, yaitu dimensi dunia dan dimensi akhirat. Yang bersifat kedunia-an tetap harus bertitik tolak pada ibadah kepada Allah SWT. dan ibadah kepada Allah dalam kegiatan ibadah ritual harus dikaitkan dengan soal-soal kemasyarakatan. Ibadah shalat, puasa, zakat dan haji sekalipun merupakan iba-dah khusus yang telah diatur dan ditentukan tata caranya, S 13
  • 41. 41 sebagai per-wujudan dari adanya hubungan vertikal antara hamba dengan khaliqnya, namun keterkaitan dengan soal kemasyarakatan tetap melekat dengan indah dan rapi. Islam tak pernah membiarkan ummatnya terbelenggu dan ter-kukung oleh formalisme ibadah semata, sehingga melupakan tanggap sosialnya, baik terhadap keluarga, tetangga maupun masyarakat. Dalam hubungan ini, pada waktu-waktu tertentu Khalifah Umar bin Khattab sering berkeliling di sekitar masjidil Haram untuk melihat apakah masih ada kaum muslimin yang berada di masjid untuk melaku-kan ibadah padahal saat jam tersebut adalah saat waktu bekerja atau mencari nafkah bagi kaum prianya untuk keperluan keluarga dan anak-anaknya, sehingga jika ada yang masih berada di masjid pada jam-jam tersebut, khalifah pasti akan menegurnya. Tindakan ini beliau lakukan disadarkan atas firman Allah SWT. yang berbunyi : Šy×[ÅŸ[¼z„c³Ÿ º½¬ˆ«[dÀŒ£[wŸ 69 °¨¬˜«[zÀg§ã[[¼z§w[¼ ã[−ŒŸµ¯[½œc^[¼ ²½o¬ b “Apabila telah ditunaikan sahalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumu’ah ayat 10). Rasulullah SAW. membagi waktu kesehariannya menjadi tiga bagian. Sebagian waktu beliau gunakan untuk mengabdi kepada Allah SWT. dalam bentuk ibadah ritual, sebagian lagi beliau gunakan untuk membina keluarga dan sisanya untuk diri beliau sendiri. Sisa waktu untuk diri sendiri inilah kemudian sebagian besar beliau gunakan untuk kepentingan ummat/masyarakat. Seorang muslim yang taat tentu memiliki tingkat kepedulian masyarakat yang tinggi. Dalam kehidupannya ia selalu menyatu dalam lingkungan sosialnya sebagai perwujudan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Suka duka yang dialami masyarakat menjadi tanggung jawab bersama. Keprihatinan dalam masyarakat merupakan kepedihan bersa-ma yang harus kita tanggulangi bersama pula. Kenapa demikian? Karena kita adalah ummat yang satu, ummatan wahidah”. Firman Allah SWT. : ²¼v_—Ÿ°¨^y³[¼ ºvn[¼»¯[°¨c¯[¶x·²[ “Sesungguhnya ummat ini adalah ummat yang satu, dan Akulah Tuhan kamu. Oleh karena itu hendaklah kamu menyembah kepada-Ku” (QS. Al-Anbiya ayat 92). 70 A. Yusuf Ali dalam bukunya The Holy Qur’an menyatakan bah-wa perkataan Ummatan Wahidah ayat di atas lebih tepat diartikan Brother hood (persaudaraan), “This is best translated by brother hood here”.
  • 42. 42 Kita tahu bahwa dasar kesatuan dan persaudaraan kaum mus-limin adalah aqidah, yaitu kepercayaan yang satu, sama, bulat dan mut lak terhadap keesaan dan kekuasaan Ilahi Rabbi yang telah menciptakan ikatan dan hubungan yang erat kuat dalam segala bidang aspek kehi-dupan. Satu dalam pemikiran, satu dalam cara hidup dan satu dalam menghadapi situasi dan kondisi serta satu dalam suka dan duka. Bentuk hubungan yang semacam ini diuraikan secara terperinci di dalam sebu-ah hadits berikut ini : ˜b¼ °¸°n[zb¼ °·u[½bÅŸµÀ´¯Ì°«[−g¯ ½Œ—¹´¯Å¨cƒ[[wÉ vk«[−g°§ °¸  Å°o«[¼z¸«^vj«[zÎ~Å—[vb “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam saling sayang menya-yangi, santun menyantuni dan kasih mengasihi adalah laksana satu tubuh. Apabila satu anggota dari tubuh itu menderita (sakit), maka turut pula menderita seluruh anggota tubuh lainnya, tidak dapat tidur dan meriang” (HR. Bukhari). Bertitik tolak dari ayat dan hadits di atas maka kaum muslimin mempunyai ikatan jiwa yang diwujudkan dalam bentuk saling bantu membantu untuk menciptakan suatu masyarakat yang marhamah, 71 harmonis, baik lahiriah maupun batiniah. Salah satu diantara tugas-tugas kemasyarakatan seorang mus-lim adalah berbuat kebajikan terhadap masyarakatnya dan turut serta berusaha mengindarkan dari berbagai kerusakan menurut kemampuan dan kedudukan masing-masing. Tak seorangpun yang terbebas dari tugas yang satu ini. Firman Allah SWT. : Ŭ—½³¼˜b×¼ ½¤c«[¼z_«[Ŭ—[½³¼˜b¼ `¤˜«[v¿vƒã[²[ ã[[½¤b[¼ ²[¼v˜«[¼°f×[ “Dan hendaklah kamu tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan memelihara diri (dari kejahatan) dan janganlah tolong menolong da-lam mengerjakan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al-Maidah ayat 2). Pada ayat ini dengan tegas Allah memerintahkan bahwa bukan hanya melakukan tolong menolong dalam hal kebajikan, tetapi diperte-gas pula dengan larangan untuk bantu membantu dalam melakukan per-buatan jahat, buruk, tidak terpuji, yang akan menimbulkan perpecahan dan bencana. Obyek atau sasaran yang paling besar dalam melakukan tolong menolong tersebut adalah dalam membangun kebaikan masyara-kat (ishlahul mujtama’) dan dalam menghindarkan serta mencegah keru-sakan ummat. Melakukan tolong menolong dalam kebajikan dan tolong meno-long dalam mencegah dan mengatasi kerusakan, berarti melakukan per-baikan dalam masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar yang belum baik
  • 43. 43 72 menjadi baik dan yang sudah baik bertambah baik.. Kebaikan dan kejahatan merupakan dua unsur yang saling mengungguli. Kadang-kadang unsur kebaikan yang muncul dan lebih dominan, namun terkadang pula unsur kejahatan yang merajalela. Kalau unsur kebaikan menang, maka sampailah kepada kehidupan masyarakat yang penuh kebahagiaan dan kedamaian. Tetapi kalau unsur kejahatan yang muncul dan mendominasi, maka pastilah masyarakat mengalami kesengsaraan dan ketidaktenangan. Alangkah banyaknya manusia yang sengsara hidupnya, bukan karena kekurangan harta, bukan tidak berpendidikan , bukan pula tidak mempunyai kedudukan dan jabatan. Lalu kenapa? Jawabnya sederhana saja, karena mereka tidak mampu menahan diri . Kalau kaya, ia tidak mampu menahan diri dari hidup berlebihan, glamor dan berpoya-poya. Kalau pandai/berilmu, ia tidak mampu menahan diri untuk melontarkan konsep atau kata- kata yang dapat meracuni masyarakat dan mencelaka-kan orang lain. Kalau berpangkat berkedudukan, ia tidak mampu mena-han diri dari penggunaan pangkat dan jabatannya sehingga dengan se-enaknya saja melakukan rekayasa kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, melalui konsepnya “Me-nahan Diri” masyarakat diajak dan diajar untuk senantiasa ingat bahwa kelebihan seseorang, baik harta, tahta, pangkat jabatan dan ilmu pe-ngetahuan adalah semata-mata merupakan cobaan dan ujian Tuhan un-tuk menilai sejauh mana manusia melaksanakan apa-apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangan-Nya. Puasa merupakan jejak ibadah yang perlu diikuti oleh kaum 73 muslimin dengan konsepnya menahan diri , dimaksudkan agar manusia dapat mencapai derajat taqwa. Banyak ayat-ayat Al- Qur’an yang men-sitir konsep menahan diri sebagai ciri orang- orang yang bertaqwa. De-ngan kata lain bahwa orang yang bertaqwa harus mampu menahan diri dalam segala hal. Diantara ayat-ayat Al-Qur’an tersebut adalah : ½¤c¬«]z£[Ó½ ˜b²[¼ “Dan saling memberi maaf diantara kamu itu, lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al-Baqarah ayat 237). Dengan saling memberi maaf, berarti kita dapat menahan diri dari per-musuhan dan persengketaan. ã[d°˜³[¼z§w[¼ [¼|·ã[d¿[Ó¼xscb×¼ »°¨o«[¼`c¨«[µ¯°¨À¬—ª|³[Ô¯¼°¨À¬— ÆÁƒ−¨^ã[²[Ó½°¬—[¼ã[[½¤c«[¼ ¹^°¨”˜¿ °À¬— “Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan, dan ingatlah ni’mat Allah yang telah dilimpahkan kepadamu, dan
  • 44. 44 apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al- Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu, dan bertaqwalah kepada Allah, serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah ayat 231). 74 µ¯Á¤^¯[¼yw¼ã[[½¤b[[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ µÀ´¯Ì¯°c´§²[Ó½^z«[ “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan ting-galkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang- orang yang beriman” (QS. Al-Baqarah ayat 278). [½^[y¼[¼z^‡¼[¼z_‡[[½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ ²¼o¬ b°¨¬˜«ã[[½¤b[¼ “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah ke-sabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu), dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung” (QS. Ali ‘Imran ayat 200). ½¤c¬«]z£[½·[½«v—[ “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al- Ma’idah ayat 8). Dengan mematuhi hukum-hukum Allah, mensyukuri ni’mat-ni’mat- Nya, meninggalkan riba’, memperkuat kesabaran dan menegakkan keadilan, merupakan sederetan sikap dan tindakan yang sangat membutuhkan upaya pengendalian diri (menahan diri) ke arah perbaikan masyarakat. 75 PPUUAASSAA RRAAMMAADDHHAANN MMEENNCCIIPPTTAAKKAANN KKEERRUUKKUUNNAANN RRUUMMAAHH TTAANNGGGGAA uasana rukun, penuh kedamaian dalam sebuah rumah tangga merupakan idaman mutlak setiap kita, namun un-tuk meraihnya bukanlah persoalan yang gampang, tetapi memerlukan jurus-jurus jitu yang dilaksanakan dengan sungguh-sung-guh dan ikhlas oleh individu-individu keluarga. Secara ideal keluarga memang diharapkan dapat menjadi tem-pat perlindungan lahir dan batin bagi setiap anggotanya, dimana mereka merasa aman, nyaman, tenteram, damai dan sejahtera penuh kasih sa-yang. Namun, apakah setiap orang dapat merasakan yang sedemikian ini? Entahlah, yang jelas kegagalan dalam menumbuhkan afeksi di te-ngah-tengah keluarga, nampaknya semakin terasa. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor, antara lain karena terlalu sibuknya orangtua dalam pekerjaan sehari-hari, sehingga anak-anaknya kurang diperha-tikan. Untuk mengatasi masalah ini, ada sebagian keluarga menyediakan berbagai alat sarana hiburan keluarga di S 14
  • 45. 45 rumah, seperti penyediaan Ra-dio, Tape Recorder, TV, VCD, Komputer, berbagai alat permainan dan sebagainya, dengan harapan agar anak-anak betah tinggal di rumah. Tetapi kenyataannya tetap saja tidak mampu menciptakan kedamaian dan kebahagiaan rumah tangga, karena alat-alat mekanik dan elektronik ini kering akan sentuhan-sentuhan psikologis, sehingga tidak akan ba-nyak membantu dalam upaya memperkokoh ikatan keluarga. Puasa Ramadhan, tentu tidak hanya sekedar ibadah ritual 76 semata, tetapi lebih dari itu, ia juga mengandung unsur-unsur pendidik-an yang baik, antara lain pendidikan kerukunan rumah tangga. Tuntutan-tuntutan kehidupan yang sering menyita waktu sang ayah dan sang ibu untuk harus bekerja full time untuk mencari nafkah, seringkali berdampak negatif terhadap sang anak yang pada gilirannya dapat meretakkan kerukunan dalam keluarga. Dengan kehadiran bulan Ramadhan, dimana anak-anak sekolah pada libur, Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang bekerja di kantor/perusahaan biasanya diberikan kelong-garan waktu kerja, setidaknya dapat memberikan peluang-peluang wak-tu untuk kita manfaatkan buat keluarga, baik pada saat berbuka puasa bersama, makan sahur bersama, shalat Tarawih berjamaah dan seba-gainya. Manfaatkanlah kesempatan-kesempatan waktu ini untuk saling menjalin dan mempererat tali ikatan keluarga, saling memberi nasehat dan sebagainya. Dalam ilmu sosiologi terdapat istilah psychological condition, yaitu suasana yang mengikat seseorang secara rohaniah antara satu dengan yang lainnya, yang apabila kita hubungkan dengan didikan Ra-madhan, maka puasa Ramadhan dapat mengikat tali rohaniah menjadi lebih erat lagi, sehingga kerukunan keluarga akan semakin baik dan se-makin harmonis. Terdapat beberapa peluang waktu yang dapat kita manfaatkan dalam menciptakan kerukunan rumah tangga di bulan Ramadhan ini, se-perti antara lain : 1. Duduk bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga menanti tibanya saat berbuka puasa. Saat ini bisa digunakan untuk saling masehat menasehati; 77 2. Makan bersama disaat berbuka puasa; 3. Melakukan shalat Maghrib berjamaah; 4. Sama-sama berangkat menuju mushalla/masjid untuk melaksa-nakan shalat Isya’, Tarawih dan Witir secara berjamaah; 5. Makan sahur bersama; 6. Melakukan shalat Subuh berjamaah, baik di rumah maupun di mushalla/masjid dan mengikuti kuliah subuh; 7. Tadarrus Al-Qur’an bersama dan; 8. Kegiatan-kegaiatan positif lainnya. Di bulan Ramadhan, seluruh anggota keluarga melakukan pu-asa, tak terkecuali bagi anak-anak, mereka juga diajak puasa sesuai dengan kemampuannya. Sikap dan tindakan kebersamaan dalam melak-anakan puasa ini melahirkan sikap dan tindakan kebersamaan dalam mengayuh bahtera kehidupan keluarga, yang mana pahit manisnya kehidupan keluarga, suka dukanya dalam berumah tangga dirasakan dan dipikul bersama. Kita telah memaklumi bahwa terpeliharanya keber-samaan dalam keluarga
  • 46. 46 merupakan sesuatu yang sangat penting. Ra-sulullah SAW. mengajarkan kepada kita, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah laksana satu bangunan yang antara satu bagian dengan bagian lainnya saling menguatkan. Atau laksana satu tubuh, jika ada bagian tubuh yang sakit, maka bagian tubuh lainnya ikut merasakan sakitnya. Ini di dalam konteks hubungan antara sesama muslim dalam arti luas. Tentu, terlebih-lebih lagi bila sesama muslim yang berada da-am satu ikatan keluarga yang telah diikat dengan hubungan pernikahan, yang telah diikat dengan hubungan darah, maka menjaga kebersamaan dalam keluarga merupakan sesuatu yang harus dipelihara dan dilestari- kan. Alangkah ni’matnya suasana di dalam keluarga jika kita dapat 78 memelihara kebersamaan, saling menyayangi, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kita akui memang, pada bulan-bulan selain Ramadhan, masing-masing kita selalu disibukkan oleh tugas rutin sehari-hari yang terka-dang nyaris tak ada tersisa waktu sedikitpun buat keluarga. Jika sudah demikian, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengelak, bahwa Rama-dhan adalah satu-satunya bulan yang dapat memberikan peluang waktu yang paling efektif kepada kita untuk melakukan pembinaan keluarga. Marilah kita manfaatkan momentum Ramadhan, dengan satu tekad bah-wa bulan Ramadhan adalah bulan untuk keluarga dengan segala upaya pembinaannya untuk menciptakan kerukunan, kedamaian dan kebahagi-aan keluarga. Apabila tekad ini kita manfaatkan semaksimal mungkin, kemudian kita ulang terus pada tahun-tahun yang akan datang, maka insyaAllah, walaupun keluarga kita hidup di era yang serba modern se-karang ini, tidak akan terpengaruh oleh dampak negatif yang ditimbul-kannya. InsyaAllah kemantapan dan kerukunan rumah tangga yang di-peroleh selama satu bulan di bulan Ramadhan akan dapat mengutuhkan dan mempertautkan kembali kerenggangan hubungan keluarga, sebagai akibat terdesak oleh pekerjaan rutin sehari-hari. 79 AAJJAARRAANN PPUUAASSAA TTEENNTTAANNGG KKEESSAABBAARRAANN enurut kamus Bahasa Indonesia, “Sabar berarti tahan akan cobaan hidup dan tidak mudah mengeluh jika ada tragedi yang menimpa.” Dilihat dari segi bentuknya, sabar terbagi menjadi dua. Perta-ma, sabar yang bersifat fisik, yaitu kesabaran yang bersifat M 15
  • 47. 47 jasmani, mi-salnya kesabaran dalam menahan rasa lapar, haus, sakit dan sebagai-nya. Kedua, sabar yang bersifat rohani, misalnya sabar dalam menahan amarah, sabar dalam mengendalikan hawa nafsu, sabar dalam menahan rasa iri dan dengki dan sebagainya. Kalau kita buka Al-Qur’an, ternyata di dalam Al-Qur’an sangat menaruh perhatian terhadap sikap sabar ini, karena disamping punya nilai yang tinggi, sikap sabar juga merupakan cerminan akhlak yang ba-ik. Menurut filsafat Islam, sikap sabar itu ada lima macam, yaitu : 1. Ash-shabru fil ‘ibadah (sabar dalam beribadah) Yaitu tekun dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan syarat dan rukunnya. Betapapun sibuknya ia dalam aktivitas sehari- hari, seo-rang muslim yang sabar tidak akan menghalanginya untuk selalu me-nunaikan panggilan ibadah. Firman Allah SWT. : 80 °¸^y²½—v¿µ¿x«[™¯© ³z_‡[¼ ¹¸j¼²¼v¿z¿Á„˜«[¼ º¼vœ«^ “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap ke-ridhaan-Nya” (QS. Al-Kahfi ayat 28). ¸À¬—z_‡[¼ º½¬ˆ«^©¬·[z¯Ç¼ “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabar kamu dalam mengerjakannya” (QS. Thaha ayat 132). 2. Ash-sabru ‘indal musiibah (sabar ketika ditimpa musibah) Yaitu teguh hati ketika mendapat musibah dan selalu berusaha mengatasinya dengan sabar dan optimis. Kita hidup di dunia ini memang tidak pernah sunyi dari berbagai ma-cam persoalan dan problema hidup. Banyak kejadian- kejadian yang menimpa ummat manusia, termasuk kita, seperti rasa ketakutan, ter-jadi bencana alam, kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Lebih luas lagi, di tanah air kita, tahun-tahun terakhir ini banyak ke-jadian-kejadian yang menimpa bangsa dan negara kita. Kebakaran hutan yang telah menelan korban kekayaan sumber daya alam ter-masuk perkebunan rakyat yang merupakan sumber kehidupan mere-ka, malahan rumah tempat tinggal merekapun habis terbakar. Gunung merapi meletus dan banjir di beberapa daerah, inipun ba-nyak mengakibatkan kerusakan dan kerugian tidak hanya berupa 81 kekayaan, namun juga telah banyak menelan korban jiwa. Berjangkitnya muntaber di beberapa kota dan daerah pedesaan sa-ngat menggelisahkan masyarakat karena terdapat korban muntaber yang cukup banyak, hingga meninggal dunia.
  • 48. 48 Hama tanaman berupa belalang dan jenis serangga lainnya di bebe-rapa daerah banyak menyerang areal tanaman yang cukup luas se-hingga petani banyak menderita kerugian dan terancam bahaya kela-paran. Krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan krisis moral makin brutal sehingga masyarakat makin bertambah takut dan ber-tambah sengsara. Pembunuhan massal terjadi dengan alasan tukang santet dan seba-gainya yang banyak menelan korban dan menimbulkan kecemasan masyarakat di daerah yang menjadi basis kejadian tersebut. Kejadian-kejadian atau musibah tersebut di atas bagi kita orang muslim merupakan cobaan dari Allah SWT. yang harus segera disi-kapi dengan cara mengintrospeksi diri sendiri dan segera mendekat-kan diri kepada Allah untuk memohon ampunan atas segala kesalah-an dan dosa serta memohon pertolongan-Nya dengan penuh kesa-baran. Firman Allah SWT. : –½k«[¼½s«[µ¯ÆÁ„^°¨³½¬_´«¼ az°g«[¼  ³×[¼ ª[½¯×[µ¯‰¤³¼ µ¿z_ˆ«[z„^¼ “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan. Dan 82 berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah ayat 155). 3. Ash-shabru fil jihaadi (sabar dalam perjuangan) Yaitu menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan mengalami masa naik-turun. Bagi seseorang yang sukses dalam perjuangan, ia akan selalu berusaha mempertahankan dan meningkatkan kesukses-annya. Sebaliknya, bagi seseorang yang gagal dalam perjuangannya, ia tidak akan putus asa, tetapi selalu berusaha sampai mencapai ha-sil yang diinginkan. Firman Allah SWT. : ´¬_~°¸´¿v¸´«´ÀŸ[¼v·jµ¿x«[¼ “Dan orang-orang yang bejihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut ayat 69). 4. Ash-shabru ‘anil ma’siat (sabar terhadap maksiat) Yaitu mengendalikan diri agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiat-an. Upaya pengendalian diri ini tentu memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi. Tanpa kesabaran tidak mungkin kemaksiatan dapat di-hindari, karena tarikan kemaksiatan ini sangat kuat dan sangat menggiurkan. 5. Ash-shabru ‘indad dun-yaa (sabar dalam menjalani kehidupan dunia) Yakni tidak hanyut terhadap gemerlapannya dunia yang penuh tipu daya. Seseorang yang sabar, ia akan selalu berusaha meraih sukses dengan cara yang halal dan baik (halalan thayyibah).
  • 49. 49 83 Berbagai latihan mental telah ditempakan oleh puasa Rama-dhan, diantaranya dapat mendidik manusia agar berjiwa besar, sanggup mengatasi segala macam kesulitan dan cobaan hidup. Puasa juga dapat menumbuhkan sifat sabar yang maha hebat pada diri seseorang. Se-orang muslim yang rajin dan tekun berpuasa, ia akan terbiasa menahan sabar, baik sabar dalam menahan segala penderitaan hidup, sabar da-lam menghadapi segala macam pergantian musim panca roba kehidup-an. Sebab berpuasa itu pada hakikatnya adalah menahan kesabaran. Rasulullah SAW. mengatakan : z_ˆ«[¡ˆ³¯½ˆ«[ “Puasa adalah separuh dari sabar (HR. Turmidzi dan Ibnu Majah). Dalam hadit lain disebutkan : ²°¿×[¡ˆ³z_ˆ«[ “Sabar adalah separuh dari iman” (HR. Bukhari dan Muslim). Tindakan-tindakan kesabaran yang diajarkan puasa antara lain sebagai berikut : 1. Orang yang sedang berpuasa dilatih untuk tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah. Walau cuaca dan udara panas menyengat tu-buh dan mengeringkan kerongkongan, sehingga rasa haus dahaga begitu terasa. Namun orang yang sedang berpuasa, tidak akan 84 menghiraukan keadaan ini. Ia akan tetap berpuasa dan tetap menja-lankan ibadah dengan penuh kesabaran. 2. Karena puasa pada hakikatnya adalah menahan diri , maka maksud menahan diri disini tentu tidak saja menahan diri dari makan dan mi-num, dari hubungan seksual di siang hari, tetapi juga menahan diri dari segala macam yang dapat merusak bahkan melenyapkan nilai puasa. Maka orang yang sedang berpuasa, ia akan berusaha mena-han segala bentuk kemaksiatan, perbuatan yang sia-sia dan juga akan berusaha menahan kesabaran terhadap berbagai gunjingan, hasutan, fitnahan dan segala macam perbuatan dzalim orang lain. Ia terima semua itu dengan sabar dan penuh tawakkal kepada Allah SWT. Buah dari latihan yang seperti ini akan menjadikan seseorang menjadi manusia yang militan dan tahan uji. 3. Satu sikap yang sangat positif dari pelaksanaan puasa adalah dimana seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa, yang didasari keimanan yang mantap, biasanya tetap teguh dalam menja-lani ibadah ini, walau mungkin kedaan fisiknya terasa payah, cuaca-nya sangat panas, tubuhnya kurang sehat dan sebagainya, tetapi de-ngan penuh tawakkal dan sabar ia tetap jalankan puasa dengan te-nang tanpa ada keluhan sedikitpun. Sikap berpuasa yang seperti ini akan melatih seseorang selalu tegar dalam menghadapi kehidupan, selalu optimis dalam menjalankan segala macam perjuangan dan jihad dalam membela kepentingan Islam.
  • 50. 50 85 PPUUAASSAA RRAAMMAADDHHAANN DDIITTIINNJJAAUU DDAARRII SSEEGGII KKEESSEEHHAATTAANN auh sebelum berkembangnya ilmu kesehatan, lebih dari 14 abad yang silam, Rasulullah SAW. telah menyatakan : [½oˆb[½¯½‡ “Berpuasalah, (kata Rasulullah), agar kamu sehat”. Pernyataan Rasulullah ini mengundang pro dan kontra dika-langan masyarakat, terutama para ahli kesehatan. Ada yang berpenda-pat bahwa puasa justeru sangat merugikan kesehatan. Namun pendapat ini tidak argumentatif, tidak cukup alasan, sehingga banyak ditentang oleh para ahli kesehatan yang lain yang cenderung mendukung pernya-taan Rasulullah SAW. tersebut. Para ahli kesehatan umumnya sepakat bahwa puasa sangat berguna bagi kesehatan. Menurut Dr. Abdul Aziz Ismail seorang pakar kesehatan dari Mesir mengatakan, “Puasa telah dapat digunakan seba-gai obat untuk mencegah berbagai penyakit pada umumnya. Semakin tinggi kemajuan ilmu pengetahuan, semakin tersingkaplah rahasia dan hikmah-hikmah puasa, yaitu bermanfaat sebagai upaya pencegahan atau pengobatan terhadap penyakit-penyakit tertentu, misalnya penyakit usus, kencing manis dan dianggap cukup memadai sebagai perawatan bagi penyakit buah pinggang yang kronik”. 86 Menurut pakar kesehatan yang lain, Dr. Alexis C. Peraih hadiah Nobel dalam ilmu pengobatan dan pembedahan, mengatakan : “Banyak-nya makanan yang dimakan manusia secara tetap dan teratur setiap hari dapat merusak kestabilan kerja organ-organ tubuh yang penting”. Kemudian pakar kesehatan kita Dr. Med Ahmad Ramali pun berujar : “Bagi hygiene pun memerlukan puasa. Istirahat yang diberikan kepada tiap-tiap alat pencernaan di siang hari selama sebulan tiada lain dimak-sudkan dalam rangka menambah tenaganya semata, seperti tanah ladang yang dibiarkan beberapa lamanya agar kesuburannya memberi hasil yang memuaskan. Sebab alat-alat tubuh manusia itu sudah dijadi-kan demikian, hingga istirahat baginya berarti menambah tenaganya be-kerja dan kekuatan menahan payah. Makin baik kerja perut besar dan perut panjang, makin sehat tubuh itu”. Dari beberapa pendapat tentang puasa dan hubungannya de-ngan kesehatan, dapatlah kita simpulkan bahwa puasa dan kesehatan sangat terkait dengan persoalan perut. Kita menyadari memang, persoalan perut adalah persoalan yang penting bagi kesehatan. Segala macam penyakit pada umumnya timbul dikarenakan persoalan perut. Seperti penyakit maag disebabkan oleh ketidakteraturan waktu makan. J 16
  • 51. 51 Penyakit kencing manis terjadi aki-bat terlalu banyak dan seringnya mengkonsumsi yang manis-manis se-hingga terjadi penumpukkan zat gula dalam tubuh. Soal kegemukan, di- karenakan kelebihan kolestrol (zat lemak). Penyakit darah tinggi (hyper-tensi), penyakit usus buntu, types dan sebagainya, pada umumnya di-sebabkan oleh persoalan perut. Oleh karenanya tepat sekali apa yang dikatakan oleh salah satu bait dalam pepatah Arab yang terkenal, yang pada intinya menganjurkan agar kita mampu mengendalikan tuntutan perut : “Perut itu pangkalnya penyakit, dan berpantang (mengurangi 87 makanan/minuman) merupakan penawar/penyembuhannya)”. Kalau kita ibaratkan mesin, maka perut kita ini tak obahnya laksana sebuah mesin. Secara logika, kalau sebuah mesin dipakai terus-terusan tanpa adanya istirahat, maka sudah barang tentu mesin terse-but akan cepat rusak. Agar tidak cepat rusak tentu kita perlu mengistira-hatkan perut kita dalam bekerja memproses makanan yang masuk. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan, selama satu bulan pe-nuh, maka alat pencernaan kita diberi kesempatan untuk beristirahat, guna melakukan perbaikan-perbaikan (service), barangkali ada bagian-bagian yang sudah aus atau rusak, maka tentu perlu diperbaiki. Menurut Dr. H. Muhammad Th. dalam bukunya Pendekatan Ke-sehatan terhadap Ibadah Puasa” menerangkan bahwa : “Proses makan pada manusia dapat ditelaah dari sudut mekanis secara sederhana se-bagai berikut : Makanan dikunyah secukupnya di mulut, kemudian dite-lan dengan melewati pipa yang disebut oesophogus sampai ke dalam lambung. Di lambung makanan ditampung dan dicerna selama kurang lebih empat jam. Selama empat jam itulah makanan dicerna dan dipersi-apkan pada kondisi keasaman tertentu serta mengamankannya dari ke- mungkinan infeksi, yang seterusnya sedikit demi sedikit disalurkan ke usus halus sampai ke lambung kososng . Di usus halus makanan disem-purnakan pencernaannya selama kurang lebih empat jam pula. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa setelah kita menikmati makanan atau sete-lah makanan masuk ke perut kita, maka alat pencernaan kita terus be-kerja dan baru akan selesai setelah kurang lebih delapan jam kemudi-an”. Sebagai ilustrasi barangkali dapat kita gambarkan contoh 88 berikut ini. Secara umum kegiatan sarapan atau makan kita di luar bulan Ramadhan adalah sebagai berikut : Makan pagi kita laksanakan sekitar jam 07.00. Setelah selesai makan pagi, pencernaan perut kita bekerja selama 8 jam untuk melumatkan makanan pagi dan berakhir pada jam 15.00. Jam makan siang kita laksanakan pukul 14.00. Setelah sele-sai makan siang, pencernaan perut kita bekerja lagi selama 8 jam untuk melumatkan makanan siang, padahal pelu-matan makanan pagi belum selesai dan memerlukan waktu 1 jam lagi, sehingga untuk melakukan proses pencernaan perut kita bekerja hingga ke pukul 23.00. Jam makan sore/malam kita lakukan sekitar pukul 20.00. Setelah selesai makan malam, pencernaan perut kita beker-jam selama 8 jam lagi untuk memproses makanan malam, hingga selesai sampai
  • 52. 52 jam 04.00 ditambah pekerjaan melu-matkan makanan siang yang belum selesai selama kurang lebih 3 jam, berarti akan berakhir sampai ke pukul 07.00 pagi, sementara makan pagi hari berikutnya kita mulai jam 07.00. Contoh di atas baru masalah makan/sarapan rutin tiap hari. Belum lagi makanan dan minuman tambahan, seperti jajan ke warung/ kedai, makan bakso, ke pesta, perayaan, selamatan dan menikmati ma-kanan selingan lainnya. Jika sudah demikian kenyataannya, maka dapat-lah kita simpulkan bahwa pencernaan perut kita (jika tidak ada syari’at puasa) tidak pernah istirahat, bekerja terus menerus, berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya. 89 Dengan diperintahkannya berpuasa di bulan Ramadhan, me-ngandung hikmah yang sangat besar bagi kesehatan melalui upaya pengistirahatan pencernaan perut kita. Pada bulan Ramadhan ini jam makan kita mengalami perubah-an, yang dapat kita gambarkan sebagai berikut : Makan Sahur misalnya kita laksanakan pukul 04.00. Pada saat ini makanan masuk ke perut kita dan berproses selama 8 jam hingga berakhir ke pukul 12.00 siang. Karena siang hari kita berpuasa, maka makan siang tidak ada. Sejak jam 12.00 ini perut kita istirahat (tidak bekerja) selama kurang lebih 6 jam hingga ke pukul 18.00 menjelang saat ber-buka puasa. Waktu istirahat selama kurang lebih 6 jam sehari di kali 30 hari berjumlah 180 jam ini menurut sebagian besar para ahli kesehatan, cukup efektif untuk mengistirahatkan pencernaan agar diperoleh kese-hatan. Puasa disamping memberikan kesempatan kepada pencernaan untuk beristirahat, berpuasa juga memberikan kesempatan kepada se-jumlah energi yang tersimpan dalam tubuh kita, yang di luar Ramadhan cenderung tidak terpakai, untuk dimanfaatkan sehingga tidak akan ter-jadi penimbunan (kelebihan) energi. Ketika perut kita istirahat bekerja selama kurang lebih enam jam setiap hari selama bulan Ramadhan, pada saat inilah kelebihan atau cadangan energi dipergunakan oleh tubuh kita, sehingga cadangan energi yang telah dipergunakan akan digantikan dengan cadangan 90 yang baru, sehingga terjadilah mobilisasi energi, sebab tanpa berpuasa ada kemungkinan terjadinya penimbunan energi, baik berupa penimbun-an zat lemak, penimbunan zat gula dan sebagainya yang cenderung berdampak merugikan bagi kesehatan. Melalui puasa dengan pendekatan kesehatan ini, seyogyanya setiap kita yang sedang menjalankan ibadah puasa, hendaknya menye-derhanakan berbagai hidangan pada saat berbuka dan makan sahur. Janganlah waktu malam hari dipergunakan untuk membalas rasa lapar dan dahaga di siang hari, sehingga makan dan minum sepuas-puasnya. Sederhanakanlah makan dan minum kita, karena Allah sangat
  • 53. 53 menyukai kesederhanaan dan benci terhadap hal-hal yang sifatnya berlebihan. Firman Allah SWT. : `o¿×¹³É [½Ÿzb×¼ [½^zƒ[¼[½¬§¼ µÀŸz°«[ “Hendaklah kamu makan dan minum dan jangan melebihi batas, se-sungguhnya Allah tidak menyukai mereka yang melebihi batas” (QS. Al-‘Araf ayat 31). Jika kita dapat menahan hawa nafsu kita dengan menyederhanakan makan dan minum kita, insyaAllah puasa Ramadhan kita tahun ini akan membawa keberkatan dan sejuta manfaat terutama dari segi peme-liharaan kesehatan tubuh kita. 91 PPEERRIINNTTAAHH MMEEMMBBAACCAA MMEERRUUPPAAKKAANN IINNTTII NNUUZZUULLUULL QQUURR’’AANN udah menjadi tradisi bagi kita ummat Islam, dimana setiap tanggal 17 di bulan Ramadhan diadakan peringatan Nu-zulul Qur’an. Ada kalanya peringatan Nuzulul Qur’an diisi dengan ceramah-ceramah agama, diskusi atau seminar keIslaman. Ada pula yang mem-peringatinya dengan berbagai perlombaan, seperti MTQ, lomba adzan, lomba pidato, syarhil Qur’an, lomba melukis kaligrafi, lomba busana muslim dan muslimah dan sebagainya. Disamping itu ada pula yang memperingatinya dengan menga-dakan kegiatan bakti sosial, seperti khitanan massal, pengumpulan dan pembagian pakaian layak pakai, audensi ke panti asuhan, kerja bakti atau gotong royong membersihkan tempat-tempat ibadah dan seba-gainya. Berbicara tentang Nuzulul Qur’an berarti membicarakan sepu-tar peristiwa turunnya Kitab Suci Al-Qur’an. Menurut Syekh Muhammad Khudhari Biek dikatakan bahwa, Al-Qur’an diturunkan pada malam Senin tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum Hijrah, atau pada tanggal 6 Agustus 610 M. Kalau kita perhatikan ayat yang pertama kali turun : 92 ¥¬r¾x«[©^y°~^Çz£[ “Bacalah atas nama Tuhanmu, yang telah menjadikan” (QS. Al- ‘Alaq ayat 1). Ayat pertama surah Al-‘Alaq ini merupakan firman Allah yang bersifat perintah. Memang, dari sekian banyak firman Allah dalam Al-Qur’an, jika diklasifikasikan menurut nilai kandungan S 17
  • 54. 54 maknanya, terdiri dari : firman Allah yang bersifat perintah (amar), firman Allah yang ber-sifat larangan (nahi) dan firman Allah yang bersifat tantangan yang per-lu dijawab dan dilaksanakan, misalnya tentang himbauan, anjuran, kete-ladanan, berita/informasi, sejarah dan sebagainya. Dari ayat pertama turun dengan kata Çz£[ (bacalah), ini me-rupakan perintah yang layak untuk dikerjakan, dan biasanya firman Allah yang bernada perintah ini merupakan sesuatu yang mengandung risiko nyata dan langsung apabila perintah itu diabaikan atau tidak dilaksana-kan. Sebagai manusia yang dilengkapi akal pikiran, kata Iqra’ atau bacalah pada ayat di atas, tentu akan merangsang pikiran kita untuk merenungkan sejenak, dan dari hasil perenungan ini mungkin timbul di benak kita beberapa pertanyaan yang selanjutkan kita cari jabawannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, antara lain : 1. Mengapa Allah memerintahkan kepada manusia untuk membaca ; 2. Apa latar belakang diturunkannya kata Iqra’ atau perintah membaca sebagai perintah yang pertama kali diserukan Allah kepada manusia; 93 3. Apa pengertian membaca ; 4. Apa hubungan membaca dengan pengabdian kepada Allah; 5. Apa hubungan membaca dengan kebahagiaan hidup; 6. Apa hubungan membaca dengan ilmu dan teknologi; 7. Apa hubungan membaca dengan sejarah peradaban manusia; Dari beberapa pertanyaan di atas, mari kita coba temukan ja-wabannya. Pertanyaan pertama, mengapa Allah memerintahkan kepada manusia untuk membaca. Jawabannya, karena membaca merupakan esensi manusia untuk mengenal dirinya, Tuhannya dan lingkungan seki-tarnya. Dengan membaca ia akan tahu dan mengerti bagaimana melaku-kan kontak atau interaksi dengan Allah melalui sarana ibadah. Dengan membaca , ia lebih mengerti bagaimana berkomunikasi yang baik de-ngan sesama manusia dan lingkungannya. Dengan membaca ia akan mampu bertindak sebagai Khalifatul Ardhi (pengelola di bumi) yang di-beri tugas oleh Allah untuk mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber kekayaan alam demi kepentingan bersama. Lalu, apa latar belakang diturunkannya perintah membaca se-bagai perintah yang pertama kali diserukan Allah kepada manusia. Ja-wabannya, karena membaca erat sekali kaitannya dengan tugas pokok manusia sebagai abdi Allah , seperti yang diungkapkan dalam ayat : ²¼v_˜À«×[³×[¼µk«[d¤¬r¯¼ “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia, melainkan hanya untuk mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat ayat 56). 94 Dengan membaca, maka manusia akan tahu dan mengerti ter-hadap tugas pokoknya ini. Tanpa membaca, manusia tidak
  • 55. 55 akan tahu dan mengerti apa hakikat pengabdian manusia kepada Allah. Apa sebenarnya pengertian membaca itu. Membaca, tentu tidak semata diartikan seperti membaca buku, surat kabar, majalah, tabloid dan sebagainya. Tetapi termasuk juga dalam pengertian membaca, ada-lah membaca alam, membaca kehidupan, membaca pesan-pesan Tuhan, membaca kebesaran dan keagungan Tuhan, membaca sifat-sifat Allah dan Rasul-Nya, dan sebagainya. Pendeknya, membaca disini mencakup ruang lingkup yang sangat luas, yang meliputi membaca hakikat ketu- hanan, membaca apa-apa yang diciptakan Allah dan membaca segala macam produk sebagai hasil budaya dan kreatifitas manusia. Kemudian, apa hubungan membaca dengan kebahagiaan hi-dup. Bahagia, merupakan gejala jiwa dan proses rohani yang bersifat abstrak, individual dan temporer serta sangat subyektif. Rasa bahagia akan muncul apabila manusia mampu mengadakan hubungan yang harmonis dengan Tuhannya, dengan sesama manusia dan dengan alam sekitarnya. Menciptakan hubungan yang harmonis diperlukan aktivitas membaca. Dengan kata lain, kemampuan seseorang dalam membaca firman-firman Allah, dalam membaca lingkungannya, memegang peranan penting untuk meraih kebahagiaan hidup. Perintah membaca hubungannya dengan ilmu dan teknologi, dimaksudkan agar manusia dapat mengetahui dan memahami serta me-nguasai sebatas kemampuan maksimal manusia terhadap sesuatu yang ada di permukaan bumi ini, terhadap sesuatu yang ada di alam raya ini, yang kesemuanya tidak lain ditujukan untuk kepentingan kehidupan manusia itu sendiri. 95 Semakin banyak kita membaca, semakin banyak yang kita keta-hui. Dengan bermodalkan akal pikiran yang diberikan Tuhan, kemudian diasah dengan kegiatan membaca, insyaAllah ilmu pengetahuan dan teknologi akan semakin maju dan berkembang. Pendayagunaan potensi bumi dan ruang angkasa menjadi semakin besar manfaatnya bagi ke-maslahatan manusia. Jika dulu sarana angkutan yang digunakan manu-sia hanya memakai tenaga binatang/hewan, seperti unta, gajah dan kuda, maka dengan berkembangnya kegiatan membaca, sarana angkut-an ini akan berubah ke sarana yang lebih praktis, mudah, cepat dan a- man, seperti adanya mobil, kereta api, kapal laut, pesawat terbang dan sebagainya. Jika di zaman Rasulullah belum ada sarana angkutan udara, kecuali Bouraq yang diciptakan Allah untuk membawa terbang Rasulullah ketika peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Maka ketika manusia dikemudian hari dapat membaca rahasia dibalik peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut, maka terciptalah Bouraq-Bouraq modern menghiasi dirgantara dengan tekno-logi canggih. Disamping itu, dengan hikmah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, kemajuan teknologi ruang angkasa pun bermunculan, dimana manusia sudah mampu menjamah bulan. Jika setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Nabi ditanya bagaimana keadaan Masjidil Aqsha, berapa jumlah pintunya dan sebagainya, lalu Allah membukakan hijab sehingga Nabi dapat me-lihat dengan jelas, seolah-olah berada di depan mata, padahal ketika itu beliau berada di Mekkah, sehingga dengan mudah dan lancar Nabi dapat menjelaskannya, peristiwa ini ternyata menjadi bahan bacaan bagi manusia masa kini, untuk mengupayakan bagaimana caranya agar yang jauh dapat dilihat di
  • 56. 56 depan mata, maka terciptalah teknologi teropong, terciptalah teknologi komunikasi berupa radio dan televisi. Banyaklah lagi manfaat dari kegiatan membaca terhadap ilmu dan teknologi dan kesemuanya itu ditujukan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. 96 Apa hubungan membaca dengan perkembangan peradaban manusia. Tidak bisa kita pungkiri bahwa membaca mempunyai peranan penting bagi perkembangan peradaban manusia dari zaman ke zaman. Sejarah mencatat, bahwa kejayaan Islam yang diperoleh tempo dulu yang mana kota Cordova dan Baghdad dijadikan pusat kebudayaan du-nia, yang berlangsung berabad-abad lamanya, dikarenakan kepedulian ummat Islam ketika itu dalam menggali dan memahami Al-Qur’an. Ke-mampuan membaca ummat Islam ketika itu sungguh sangat luar biasa, sehingga mereka mampu memadukan antara agama, ilmu dan teknologi saling melengkapi ke arah pembentukan peradaban dengan wajah ke-budayaan yang Islami yang mampu menjawab tantangan zaman. Aktivitas membaca melibatkan unsur fisik dan non fisik. Unsur fisik seperti mata untuk melihat sesuatu yang akan dibaca, telinga untuk mendengar berita/informasi sebagai pelengkap bacaan, hidung untuk mencium sesuatu sehingga dapat merangsang daya pikir dan imajinasi, lidah untuk menuangkan ide, gagasan dan interpretasi sebagai reaksi dari hasil membaca dan kulit untuk membuktikan sentuhan-sentuhan yang ditimbulkan oleh proses membaca. Unsur non fisik melibatkan akal sebagai sumber daya pikir dan pikiran merupakan produk berpikir dan hati merupakan perenungan ke arah pemahaman sesuatu. Perpaduan antara unsur fisik dan non fisik inilah akan mencip-takan kualitas membaca yang dapat melahirkan konsep- konsep cemer-lang yang sangat berguna bagi kemajuan peradaban manusia. 97 MMEENNYYIINNGGKKAAPP RRAAHHAASSIIAA HHUURRUUFF DDAANN BBIILLAANNGGAANN DDAALLAAMM AALL--QQUURR’’AANN l-Qur’anul kariem merupakan undang-undang Tuhan yang keadilannya abadi untuk segala bangsa dan segala za-man. Di dalam Al-Qur’an mengandung hikmah dan kebi-jaksanaan yang dijelmakan Tuhan dari langit turun ke bumi sebagai obat dan penghibur manusia. Al-Qur’an dengan ayat-ayatnya yang diturunkan dari Arasy de-ngan keadaan yang suci murni, laksana bintang yang gemerlapan meng-hiasi langit dan bumi, membawa obor penerang jalan keutamaan menuju keridhaan Allah SWT. Al-Qur’an dengan kalimat dan susunan kata-katanya, ketika ia tampil dengan nada keras, maka wujudnya laksana gelombang samu-dera yang bergulung menggunung membuat orang menjadi takut dan kecut. Namun, manakala ia tampil dengan nada yang lembut dan halus, maka wujudnya laksana A 18
  • 57. 57 angin Sorga yang berhembus pelahan dengan kesejukannya yang luar biasa, yang dapat membelai dan merayu jiwa, sehingga menjadi berbunga-bunga dan mengeluarkan bau yang harum semerbak bak penghias taman-taman Sorga yang indah megah penuh pesona, yang dapat membangkitkan selera, mengembangkan senyum, dan menampakkan gelak tawa penuh riang gembira. Begitulah keberadaan Al-Qur’an, di dalamnya tersimpul kekuat-an gaib yang merupakan mu’jizat terbesar diantara mu’jizat-mu’jizat 98 yang lain, yang pernah dianugerahkan Allah kepada Nabi dan Rasul. Kalau kita perhatikan secara cermat, ternyata huruf-huruf yang terdapat dalam Al-Qur’an, terutama rangkaian huruf yang terdapat pada awal surah-surah tertentu, misalnya Surah Al- Baqarah ayat pertama de-ngan bacaan “Alif-Laam-Miim”, surah Ibrahim ayat pertama dengan ba-caan “Alif-Laam-Raa”, dan beberapa surah lainnya, mengandung sesu-atu yang serba rahasia yang kita pada umumnya sering pasrah saja dengan satu perkataan “Wallahu a’lam” dan hanya Allah yang tahu apa maksud dan maknanya. Rangkaian huruf yang terdapat di awal surah seperti contoh di atas, sebagian para ahli tafsir menyatakan bahwa huruf- huruf tersebut merupakan bagian dari Asma’ullah (nama-nama Allah) yang telah dite-tapkan-Nya dalam garis kegaiban ilmu-Nya. Sebagian lagi berpendapat bahwa huruf-huruf itu merupakan penegasan dari makna Al-ismul-a’zhan, yaitu Nama Allah yang Agung. Ada lagi sebagian para ahli tafsir berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut merupakan alat dan perlengkapan bagi para Malaikat untuk membangun mahligai-mahligai di dalam taman Surgawi. Kemudian sebagian lagi berpendapat bahwa huruf-huruf yang terdapat di awal surah tersebut, seperti pada ayat pertama Surah Al-Baqarah : µÀ¤c°¬«Âv·¹ÀŸ`¿y×`c¨«[©«w °«[ “Alif-Laam-Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tiada mengandung keraguan di da-lamnya” . 99 Dengan pengertian bahwa, Allah berfirman dengan ungkapan huruf Alif-Laam-Miim tanpa ada keraguan sedikitpun. Dan Kami (Allah) menan-tang sekiranya ada sekelompok manusia yang mencoba membuat huruf-huruf lain yang semisal Alif-Laam-Miim ini, yang sepintas lalu begitu mu-dah membuatnya, tetapi sesungguhnya Alif-Laam-Miim mengandung makna dan simbol- simbol rahasia yang sulit bahkan tidak dapat dijang-au atau dibuka tabir rahasianya oleh manusia. Makanya itu sudah ba-ang tentu tak seorang manusiapun yang sanggup membuatnya. Hal ini sudah dibuktikan oleh sejarah, seperti yang diungkapkan oleh ayat Al-Qur’an berikut ini : [½bÈŸ³v_—Ŭ—´«|³°¯`¿yÁŸ°c´§²[¼ ã[²¼uµ¯°§ÆÓv¸ƒ[½—u[¼ ¹¬g¯µ¯ºy½^
  • 58. 58 [½¬˜ bµ«¼ [½¬˜ b°«²Ÿ µÀ£v‡°c´§²[ ºyko«[¼}´«[·u½£¼Ác«[y´«[[½¤bŸ µ¿z ¨¬«av—[ “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu, dan ajaklah penolong- penolongmu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti kamu tidak akan dapat membuatnya, maka peliharalah dirimu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah ayat 23 dan 24). 100 Masih terkait dengan upaya menyingkap makna simbolik huruf-huruf yang terdapat di awal surah tertentu dalam Al-Qur’an, belakangan ini ada seseorang yang mencoba menyingkap dan mengungkapkan arti dari tanda-tanda yang berupa huruf dan bilangan dalam Al-Qur’an, seperti yang telah diteliti oleh Rasyad Khalifah dengan menggunakan ra-sio yang serba elektronis yang kemudian menghasilkan sejumlah angka-angka dengan satu asumsi bahwa dari angka-angka tersebut me-nunjukan kelebihan yang bersifat kuantitas atau berdasarkan volume perhitungan terhadap huruf-huruf tersebut. Dari hasil penelitian dan penghitungan yang telah dilakukan, ternyata, Alif-Laam-Miim yang terdapat pada surah Al- Baqarah ayat 1, mempunyai urutan jumlah yang berjenjang, yaitu huruf Alif berjumlah 4.592 kali muncul di dalam surah Al-Baqarah. Selanjutnya huruf Laam sebanyak 3.204 kali dan huruf Miim sebanyak 2.195 kali. Demikian juga huruf Alif-Laam-Miim yang terdapat pada ayat 1 surah Ali ‘Imran, terda-pat penjumlahan dimana huruf Alif sebanyak 2.578, Laam sebanyak 1.885 dan huruf Miim sebanyak 1.251. Kemudian pada ayat 1 surah Al- Ankabuut yang berbunyi Alif-Laam-Miim, jumlah Alif-nya sebanyak 784, Laam-nya sebanyak 554 dan Miim-nya sebanyak 344. Demikian juga Alif-Laam-Miim yang terdapat pada surah Ar- Ruum, dimana jumlah Alif sebanyak 547, Laam sebanyak 396 dan Miim sebanyak 318. Kemudian pada surah Ar-Ra’du ayat 1 berbunyi Alif-Laam-Miim-Raa. Huruf Alif berjumlah 625, huruf Laam berjumlah 479, huruf Miim berjumlah 260 dan huruf Raa berjumlah 137. Dari lima surah contoh perhitungan terhadap ayat pertama di atas, terdapat perimbangan yang sama, dimana huruf pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, jumlahnya berurutan dari yang paling banyak sampai yang paling sedikit dalam urutan terbesar dari sekian banyak 101 huruf yang terdapat pada surah bersangkutan. Dari perhitungan ini dapat kita simpulkan, ternyata huruf- huruf awal di permulaan surah tertentu menunjukan bahwa huruf- huruf terse-but merupakan huruf-huruf yang terbanyak muncul pada surah bersang-kutan. Jadi, kalau dalam surah Al-Baqarah dimulai dengan huruf Alif-Laam-Miim berarti huruf Alif-Laam-Miim ini merupakan huruf yang terbanyak muncul (jumlahnya) pada surah Al-Baqarah dengan perim-bangan berjenjang. Demikian juga dengan surah-surah yang lain, seper-ti yang sudah dicontohkan.
  • 59. 59 Selanjutnya Rasyad Khalifah melakukan penelitian pula tentang rahasia bilangan 19 (sembilan belas). Kalau kita baca surah Al-Muddatstsir ayat 18 sampai 31, dimana pada ayat 30 berbunyi : z„—»˜b¸À¬— “Di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga)” Angka 19 yang disebutkan pada ayat di atas merupakan hujatan Tuhan terhadap mereka yang telah lancang menyatakan bahwa Al-Qur’an ha-nyalah sebuah rekayasa manusia, dalam hal ini Muhammad SAW. Kemudian, kalau kita coba menghitung jumlah huruf yang terdapat pada kalimat : °Ànz«[µ°nz«[ã[°^ yang saban hari kita ucapkan manakala mengerjakan perbuatan yang 102 baik, ternyata jumlah hurufnya ada 19. Demikian juga dengan kata : ã^×[º½£×¼ª½n× yang kalimat ini sering kita ucapkan sebagai ungkapan jujur kita akan ketidakberdayaan di hadapan Allah SWT. ternyata jumlah hurufnya juga ada 19. Apa rahasia di balik angka 19 ? Ternyata berdasarkan perhi-tungan bahwa, kata “Allah” yang terdapat dalam Al-Qur’an, muncul dengan perulangan sebanyak 2.698 kali, yang apabila dibagi 142, maka hasilnya 19. Demikian juga kata “Ar-Rahmaan” tersebut di dalam Al-Qur’an sebanyak 57 kali, yang apabila dibagi 3, hasilnya 19. Kemudian kata “Ar-Rahiim” dalam Al-Qur’an terdapat perulangan kata sebanyak 114 kali, yang apabila dibagi 6, hasilnya 19. Seterusnya, huruf “Qaf” yang terdapat pada surah Qaaf berjumlah 57 huruf, yang apabila dibagi 3, hasil baginya adalah 19. Demikian juga huruf “Kaf-Ha-Ya-‘Ain-Shaad” pada awal surah Maryam berjumlah 798 huruf, yang apabila dibagi 42, maka hasilnya 19. Selanjutnya huruf “Nuun” dalam surah Al- Qalam berjumlah 133 huruf, yang apabila dibagi 7, maka hasilnya 19. Kedua huruf “Yaa dan Siin” pada surah Yasiin yang sering kita baca, berjumlah 285 huruf, yang apabila dibagi 15, maka hasilnya 19. Demikian juga kedua huruf “Haa dan Miim” pada setiap surah yang diawali dengan hu-ruf tersebut, berjumlah (seluruhnya) 2.166 huruf, yang apabila dibagi 114, maka hasilnya 19. Seterusnya huruf “Ain-Siin-Qaaf” pada surah Asy-Syuraa’ berulang sebanyak 209 kali, yang apabila dibagi 11, maka hasilnya 19. Terakhir, “Alif- Laam-Miim-Raa” dalam surah Ar-Ra’du ber-jumlah 1.501 huruf, yang apabila dibagi 79, maka hasilnya 19. 103 UUPPAAYYAA KKEE AARRAAHH TTAADDAABBBBUURR AALL--QQUURR’’AANN19
  • 60. 60 eperti yang kita maklum bahwa salah satu keajaiban dunia yang terjadi pada bulan Ramadhan adalah diturunkannya mu’jizat terbesar kepada Rasulullah SAW. yaitu Al-Qur’anul Kariem. Firman Allah SWT. : ²[z¤«[¹ÀŸª|³[Âx«[²Œ¯yz¸ƒ “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah ayat 185). Mungkin sudah tidak diragukan lagi bahwa pada setiap tibanya bulan Ramadhan, setiap kita sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an, baik melalui kelompok-kelompok Ta-darrus maupun yang dikerjakan sendiri di rumah. Walaupun mungkin se-tiap kita cukup bervariasi. Ada yang sempat khatam beberapa kali. Ada yang cuma khatam satu kali. Bahkan ada yang belum sempat khatam. Kendati demikian, apapun keadaannya, yang jelas pada bulan Rama-dhan ini kecenderungan ummat untuk lebih giat membaca Al-Qur’an, lebih nampak terlihat, baik secara individu maupun kelompok. Kalau kita cermati secara teliti, nampaknya kebiasaan membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini boleh dibilang merupakan suatu 104 tradisi relegius ummat Islam yang berlangsung secara turun temurun, dari generasi ke generasi yang cenderung bersifat statis dan monoton. Artinya, apa yang dilakukan oleh kakek dan nenek kita tempo dulu di dalam membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, demikian juga yang dilakukan oleh ayah dan ibu kita, seperti juga halnya yang dikerjakan oleh kita dan anak cucu kita pada hari ini dan seterusnya mungkin akan berlanjut pada generasi-generasi yang akan datang. Dalam menyikapi Al-Qur’an, nampaknya kita masih cenderung memilih kuantitas ketimbang kualitas. Kita masih memandang Al-Qur’an hanya sebagai bacaan yang apabila dibaca akan mendapat pahala se-hingga kita berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya, padahal fungsi Al-Qur’an tentu tidak hanya sekedar bahan bacaan. Menurut Allah, selain sebagai Al-Qur’an (bacaan), tidak kurang dari 10 nama sekaligus merupakan fungsi diturunkannya Al-Qur’an. 1. Al-Qur’an sebagai Al-Kitab. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan pegangan hidup yang wajib diimani oleh seluruh kaum mus-limin; 2. Al-Qur’an sebagai Al-Furqan. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan sarana pembeda yang sangat jelas dan tegas untuk menentu-kan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang haq dan mama yang bathil; 3. Al-Qur’an sebagai Al-Huda. Maksudnya Al-Qur’an merupakan pedoman hidup, petunjuk ummat ke arah pencapaian mardha-tillah/keridhaan Allah SWT; 4. Al-Qur’an sebagai Al-Dzikru. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan penata aturan yang memuat peringatan- peringatan bagi orang- 105 orang yang mempunyai akal dan hati; S
  • 61. 61 5. Al-Qur’an sebagai Al-Hikmah. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan pengendali dan pandangan hidup bagi manusia terhadap selu-ruh aktivitas hidup dan kehidupannya; 6. Al-Qur’an sebagai Al-Hukmu. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan peraturan dan perundang-undangan yang dibuat dan ditetap-kan Allah untuk dipatuhi dan ditaati oleh segenap ummat Islam. Jika seseorang melanggar hukum negara karena ketidaktahu-annya, ia tetap menanggung risiko berupa sangsi hukum. Se-dangkan orang yang melanggar hukum agama karena belum tahu, maka oleh Allah akan diampuni. Tetapi jika karena keeng-ganan belajar, keengganan menuntut ilmu, maka tentu siksa Allah sangat pedih; 7. Al-Qur’an sebagai Mauidzah. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan penasehat ulung yang dapat memberikan pengaruh besar ter-hadap diri pribadi seseorang; 8. Al-Qur’an sebagai Al-Burhan. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan bukti kebenaran yang harus digali dan dikembangkan; 9. Al-Qur’an sebagai An-Nuu. Maksudnya, Al-Qur’an merupakan cahaya yang mampu menerangi akal dan hati manusia dari ke-gelapan moral dan akhlak, dari kegelapan ilmu dan teknologi, dan sebagainya; 10. Al-Qur’an sebagai Ash-shifa. Maksudnya, Al-Qur’an merupaan obat penyembuh segala macam penyakit yang diderita oleh manusia, terutama penyakit-penyakit rohani; Semua fungsi Al-Qur’an di atas tentu tidak akan memberikan manfaat bagi kita selama kita belum mempunyai kecenderungan untuk lebih berupaya meningkatkan pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an. 106 Bagaimana bacaan suci ini dapat menjadi petunjuk dan cahaya bagi akal dan hati manusia, jika kandungannya tidak dimengerti. Ba-gaimana ia dapat menjadi kendali diri dan pandangan hidup, jika isinya tidak dipahami. Apa yang dapat dijadikan tuntunan, nasehat dan per-ingatan, jika belum menghayati isi dan kandungannya. Walhasil, jika kita tengok ke dalam diri kita masing-masing dan memberikan pernyataan secara jujur, ternyata apa yang kita kerjakan selama ini untuk memper- banyak bacaan Al-Qur’an, masih belum mampu menjawab akan fungsi dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an. Melalui momentum Ramadhan tahun ini, sebagai langkah awal kita untuk memberantas kebodohan terhadap petunjuk dan tuntunan Al-Qur’an, marilah kita tingkatkan upaya pemahaman Al- Qur’an. Bentuklah perkumpulan-perkumpulan dan berbagai studi yang di dalamnya dilaku-kan kegiatan upaya pemahaman Al- Qur’an. Fungsikan dan tingkatkan aktivitas handil-handil kematian, handil maulid, handil qurban, kelompok-kelompok yasinan/tahlilan dan berbagai majelis ta’lim lainnya ke arah penggalian dan pemahaman Al-Qur’an, sehingga fungsi dan tujuan Al-Qur’an benar0benar dapat menyentuh ummat secara kaffah/menyelu-ruh. Jika beberapa hari yang lewat di bulan Ramadhan ini, perhatian kita lebih terfokus pada kegiatan Tadarrus Al-Qur’an, maka alangkah baiknya, sisa hari yang masih ada di bulan Ramadhan ini, kita tingkatkan untuk melakukan Tadabbur Al- Qur’an, yakni melakukan kegiatan untuk lebih memahami dan menggali isi kandungan Al-Qur’an. Ingatlah peringatan Rasulullah SAW. :
  • 62. 62 ¶z^vc¿°«¼²[z¤«[Çz£µ°«−¿¼ 107 “Neraka Wail bagi orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan tidak men-tadabburkannya”. Pada suatu malam Rasulullah SAW. meminta izin kepada istri-nya (Aisyah) untuk tidak menemaninya tidur bersama, karena beliau bermaksud akan melakukan shalatul lail (shalat malam). Setelah beliau melakukan shalat malam, ketika menjelang subuh, Bilal bin Rabah da-tang menjemput beliau untuk bersama-sama shalat subuh berjamaah. Ketika itu dilihat oleh Bilal, Rasulullah sedang menagis tersedu, sehingga iapun bertanya, “Ya Rasulullah. Mengapa anda menagis? Apa yang yang engkau sedihkan? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik yang telah lalu, sekarang maupun yang akan datang”. Rasulullah menjawab, “Wahai Bilal sahabatku. Malam ini aku telah menerima wah-yu. Demi setelah mendengar wahyu tersebut, aku terharu, sehingga aku-pun menagis”. Wahyu Allah yang barusan turun tersebut adalah : −À«[Øcr[¼ Šy×[¼a½°«[¥¬rÅŸ²[ ã[²¼z§x¿µ¿x«[ ]_«×[Å«¼×d¿× y¸´«[¼ ÁŸ²¼z¨ c¿¼ °¸^½´jŬ—¼ [u½˜£¼¯À£ [x·d¤¬r¯´^y Šy×[¼a½°«[¥¬r y´«[][x—´¤Ÿ©´o_~Ø^ “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang- orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk 108 atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang pencip-taan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS. Ali Imran ayat 190 dan 191). Setelah membacakan ayat ini di hadapan Bilal bin Rabah, Rasulullah SAW. bersabda : “Celakalah bagi orang-orang yang membacanya, tetapi tidak mau memikirkannya”. Perintah untuk memikirkan dan merenungi kandungan ayat di atas merupakan miniatur dari perintah untuk memahami keseluruhan isi Al-Qur’an. Sejarah telah membuktikan, bahwa ketinggian peradaban Islam yang pernah diraih adalah karena kepedulian kaum muslimin ketika itu untuk selalu membaca, memahami dan menggali Al- Qur’an yang kemu-dian menjadi pegangan bagi keseluruhan sikap hidup mereka. Jika sikap yang seperti ini dimiliki dan dikembangkan oleh ummat Islam di masa kini, maka tidak mustahil kejayaan Islam akan dapat kita raih kembali. InsyaAllah.
  • 63. 63 109 AALL--QQUURR’’AANN SSEEBBAAGGAAII PPEERRIINNGGAATTAANN asih dalam suasana Nuzulul Qur’an, marilah kita ber-sama-sama mengkaji salah satu dari Fungsi Al-Qur’an yaitu Adz-Dzikru atau Al-Qur’an Sebagai Peringatan. Sebagai peringatan, Al-Qur’an berfungsi sebagai rambo- rambo yang memberikan petunjuk kepada manusia mengenai hal- hal mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang untuk dilakukan. Mana yang pantas untuk diperbuat dan mana yang kurang pantas untuk diperbuat. Dengan fungsi Al-Qur’an sebagai peringatan inilah para Nabi dan rasul menyampaikan risalah Allah untuk menyeru manusia ke jalan yang benar dengan berpegang teguh kepada ajaran tauhid yang haq. Firman Allah dalam Al- Qur’an : °¨´¯ÆÔƒµ°« µÀ°«˜¬«z§w×[½·²[ °¤c¿²[ “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Yaitu bagi siapa diantara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus” (QS. At-Takwir ayat 27 dan 28). Sebagai pemberi peringatan, Al-Qur’an hanya memberikan per-ingatan kepada orang-orang yang memang berkenan diberi peringatan. Sedangkan bagi mereka yang enggan dan tidak memperdulikannya, 110 sungguh tidak ada paksaan bagi mereka. Seseorang yang diberi peringatan, kemudian sadar bahwa ia diperingatkan, seterusnya segera memperbaiki kesalahan, kekhilafan dan dosanya, orang ini berarti telah mendapat hidayah dari Allah SWT. Tetapi bagi mereka yang enggan diberi peringatan dan tidak memper-dulikan peringatan tersebut, orang ini berarti tidak mendapat hidayah dari Allah SWT. Inilah rupanya kondisi orang-orang kafir yang digambar-kan Allah dalam Al-Qur’an : °¸byx³[Æ°¸À¬—ÆÓ½~[¼z §µ¿x«[²[ ²½´¯Ì¿×°·yx´b°«¯[ “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka. Kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, reka tidak juga akan beriman” (QS. Al-Baqarah ayat 6). M 20
  • 64. 64 Lalu apa risiko yang didapat bagi mereka yang tidak memperdulikan peringatan Allah, tidak lain, kecuali : °À”—][x—°¸«¼ “Dan bagi mereka, siksa yang amat berat” (QS. Al-Baqarah ayat 7). Azab dan siksaan Allah terhadap mereka yang enggan dan tidak memperdulikan peringatan Allah ini ternyata tidak saja di akhirat kelak, tetapi di dunia inipun sudah nampak terlihat. 111 Sejak dulu hingga sekarang ini tidak sedikit orang yang kena siksa Allah di dunia ini, lantaran ia mengabaikan peringatan Allah yang tertulis dalam kitab-Nya Al-Qur’anul Kariem. Lihatlah bagaimana keadaan negeri Sodom yang dihuni oleh kaum Tsamud seketika hancur berantakan diterpa topan dan badai yang maha dahsyad karena mereka menentang peringatan Allah. Demi-kian juga Fir’aun yang gagah perkasa dan berkuasa, tiba-tiba hanyut di telan oleh keganasan arus sungai Nil karena berani-beraninya melawan peringatan Allah dengan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Perhatikanlah bagaimana ketika Nabi Nuh mengajak kaumnya kepada kebenaran yang kemudian ditolak mentah- mentah dengan nada yang congkak dan sombong, yang hingga kemudian Allah mendatang-kan banjir besar yang menenggelamkan dan menghanyutkan mereka dan harta mereka, lantaran tidak mengindahkan peringatan Allah melalui Nabi dan Rasul-Nya. Sepanjang sejarah manusia, sejak dulu hingga sekarang, telah berulang-ulang bencana terjadi menimpa ummat lantaran mereka mem-bangkang dan melanggar peringatan Allah. Mula-mula hukuman Allah ditimpakan kepada yang bersangkut-an, namun lama kelamaan hukuman Allah justeru semakin meluas yang berakibat terhadap orang lain yang berada di sekitarnya. Ibarah sebuah pribahasa akibat setitik nila rusak susu sebelanga (sekaleng). Tidak sedikit Al-Qur’an mengungkapkan orang-orang yang coba-coba mengingkari peringatan Allah. Akhir dari drama keingkaran-nya ini, tidak lain hanyalah siksa dan kemelaratan yang amat sangat 112 yang Allah tampakkan di dunia ini dan terlebih-lebih di akhirat nanti. Dalam Al-Qur’an banyak contoh-contoh yang dikemukakan me-ngenai hal ini. Diantaranya kasus orang-orang Yahudi yang senantiasa melanggar peringatan Allah sehingga Tuhan menimpakan kepada me-reka sebuah bencana yang menyeluruh terhadap kaum itu berupa pengusiran di mana-mana, pengejaran, kekalahan dan kehancuran, menjadi kaum yang dikutuk Tuhan dari zaman ke zaman. Hal ini dijelas-kan Allah dalam surah Al-Maidah ayat 13 :
  • 65. 65 ´¬˜j¼ °¸´˜«°¸£gÀ¯°¸Œ¤³°_Ÿ »À£°¸^½¬£ “Karena mereka (bangsa Yahudi) melanggar janji, lantas Kami jatuhkan laknat (kutuk) kepada mereka dan Kami jadikan hati mereka itu keras membatu”. Melanggar janji adalah salah satu wujud mengingkari peringat-an Allah, sebab Allah memperingatkan kepada kita agar memenuhi janji. Firman Allah dalam Al-Qur’an : ×½Ï¯²§v¸˜«[²[ v¸˜«^[½Ÿ¼[¼ “Dan penuhilan janji, sesungguhnya tiap-tiap janji itu akan dipertang-gungjawabkan” (QS. Al-Isra’ ayat 34). Disamping masalah janji, Allah juga memperingatkan kepada 113 kita agar dalam menjatuhkan hukuman hendaklah didasarkan atas motif keadilan. Firman Allah SWT. : ªv˜«^[¼°¨ob²[}´«[µÀ^°c°¨n[w[¼ “Apabila kamu menghukum diantara manusia, hendaklah menghukum dengan adil” (QS. An-Nisa ayat 58). Dalam hubungan ini, H. Husin Nafarin, MA dalam bukunya Bunga Rampai Dari Timur Tengah jilid 2 halaman 14 diceritakan bahwa, “Di pinggiran negeri Mesir terdapat sebuah desa dengan kepala desa-nya yang kaya raya dan disenangi penduduk. Dia mempunyai seorang anak laki-laki yang manja. Ketika anak ini menginjak usia remaja, dia merengek minta dibelikan sebuah mobil. Mobilpun dibelikan. Kepadanya diajarkan menyeter oleh seorang pegawai kepala desa itu. Pada suatu hari dikala anak itu membawa mobilnya dan masih dalam tarap belajar, dengan kecepatan yang tinggi menabrak seorang anak kecil di pinggir jalan raya. Anak kecil itu meninggal seketika. Hebohlah masyarakat desa dan berita itu sampai pula kepada kepala desa tadi. Dengan sigap kepa-la desa itu segera bertindak. Pegawainya yang mengajarkan puteranya menyetir segera pula ia panggil. Disodorkannya sejumlah uang 200 found Mesir sebagai imbalan agar si pegawai itu yang mengakui menab-rak anak kecil itu. Si pegawai itu tidak berani membantah. Pengadilan berjalan mulus, si pegawai dijatuhi hukuman penjara beberapa tahun. Tak ada yang berani angkat bicara tentang peristiwa yang sebenarnya. Tetapi hari-hari terus berganti, siang malam terus bertukar. Masa berpu-luh tahun tidak terasa. Sang anak manja tadi sudah kawin dan mempu-nyai anak. Anaknya kini telah empat orang dan yang paling besar sudah berusia enam tahun. Hari-hari berlalu dengan indahnya. Pada suatu hari 114 anak kepala desa itu tadi berjalan-jalan dengan keempat puteranya . Matahari sudah condong ke barat, cahayanya menembus pepohonan dan dedaunan menambah keindahan tepian sungai Nil yang di lewatinya. Tetapi, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi lewat dan entah bagaima-na menabrak putera pertama anak kepala desa tadi, meninggal seketika. Mayatnya diangkut ke rumahnya. Besoknya baru dimakamkan. Banyak para
  • 66. 66 pelayat menyatakan turut berduka cita . Seorang sahabat anak ke- pala desa itu bertanya, “Apakah kamu tidak menuntut keadilan hukum kepada orang yang menabrak puteramu ini? Anak kepala desa itu menggeleng-gelengkan kepalanya , “Tidak” katanya, “Aku tidak menun-tut apa-apa. Mudah-mudahan dengan peristiwa ini aku terlepas dari hukuman dan siksa Tuhan di akhirat kelak terhadap peristiwa puluhan tahun yang lalu, ketika itu aku menabrak seorang anak kecil di pinggir jalan. Tuhan masih mengingatkan hal ini kepadaku, meskipun orang-orang dan aku sendiri sudah melupakannya. Inilah keadilan Tuhan ter-hadap para makhluk-Nya”. Kalau kita ingin mengkaji lebih dalam dan mencoba merenung-kannya akan makna peringatan Allah yang diungkapkan-Nya dalam Al-Qur’an berikut cerita-cerita kebinasaan di zaman Nabi dan Rasul seba-gai balasan bagi mereka yang lalai terhadap peringatan Allah, maka je-laslah kiranya bahwa tidak ada gunanya sama sekali berpaling dari per- ingatan Allah. Suatu saat siksaan Allah pasti akan datang dan menimpa kita, bahkan orang lainpun juga kena akibatnya. Ingatlah peringatan Al-lah SWT. : ¨´‹»„À˜¯¹«²Ÿ¾z§wµ—Šz—[µ¯¼ z„nµ°«]yª£Å°—[»°À¤«[¯½¿¶z„o³¼ 115 ©cb[©«x§ª£ [zÀˆ^d´§v£¼Å°—[Á´b ©«x§¼ Å´b¯½À«[©«x§¼ ¸cÀ´Ÿ´c¿[ ¹^yd¿^µ¯Ì¿°«¼ z~[µ¯¾|k³ Ť^[¼vƒ[ºzr×[][x˜«¼ “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia : Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?. Allah berfirman : Demiki-anlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan. Dan demikianlah Kamu membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat danlebih kekal” (QS. Thaha ayat 124 s/d 127). Mengingat betapa fatalnya orang yang melupakan peringatan Allah ini, maka marilah kita bersama-sama memperhatikan segala peri-ngatan Allah yang diungkapkan-Nya dalam Al-Qur’an. Marilah kita re-nungkan dan pikirkan segala kejadian-kejadian yang pernah menimpa orang-orang terdahulu, baik yang kejadiannya berada jauh di belakang kita, maupun kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar kita. Dan jadikan-lah semuanya sebagai penyadar jiwa kita, sehingga kita lebih berhati- hati terhadap setiap peringatan Allah SWT. 116
  • 67. 67 KKAAIITTAANN NNUUZZUULLUULL QQUURR’’AANN DDEENNGGAANN LLAAIILLAATTUULL QQAADDAARR ada suatu hari Rasulullah SAW. bercerita di hadapan para sahabat tentang kaum Yahudi pada zaman purbakala yang berjuang mempersembahkan darma baktinya kepa-da negara selama 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan. “Pada malam hari mereka ini beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Dan pada siang hari mereka memanggul senjata untuk berperang melawan musuh, demi mempertahankan kemerdekaan tanah airnya. Bayangkan selama 83 tahun 4 bulan mereka lakukan tanpa mengenal lelah sedikitpun”. Mendengar cerita ini, para sahabat tertegun kagum dan dalam hatinya ada perasaan iri. Demikian juga sebenarnya yang dialami Rasul-ullah, beliaupun juga merasa kagum dan sedikit iri terhadap prestasi yang ditunjukkan oleh kaum Yahudi tersebut. Kenapa bisa begitu? Kare-na Rasulullah sadar sesadar-sadarnya akan kemampuan dirinya dan um-matnya yang rasanya tidak mungkin bisa menyamai prestasi yang diukir oleh kaum tersebut, sebab dari segi usia, umur ummat Muhammad pada umumnya pendek-pendek, jauh lebih pendek dari umumnya usia ummat di zaman Nabi dan Rasul terdahulu. Sehingga dengan umur yang relatif pendek ini mana mungkin bisa memperoleh amal ibadah yang banyak. Berkenaan dengan ini, dalam salah satu doa pernah beliau ungkapkan, yang seolah-olah beliau minta pertimbangan dan kebijaksa-naan Allah terhadap ummatnya yang mempunyai umur pendek ini. “Ya 117 Allah, Engkau telah jadikan ummatku pendek-pendek umurnya dan sedikit amalnya”. Demikian ungkapan pengaduan Rasulullah SAW. Sebagai jawaban dari ungkapan pengaduan Rasulullah ini, ke-mudian turun ayat Al-Qur’an yang tersimpul dalam surah Al- Qadar yang intinya memberikan dispensasi berupa penghargaan kepada ummat Mu-hammad yang gemar beribadah pada malam Qadar dengan ganjaran pahala seribu bulan. Berbicara tentang Lailatul Qadar barangkali kita sering mende-ngarnya, bahkan mungkin sudah melekat erat dalam ingatan kita ma-sing-masing. Namun demikian, nyatanya kita sampai hari ini masih be-lum tahu persis bahkan tidak akan pernah tahu apa sebenarnya hakikat Lailatul Qadar itu, lantaran masalahnya amat ghaib sehingga sampai hari ini Lailatul Qadar masih dipandang sebagai sesuatu yang misteri. Apa yang kita tahu tentang Lailatul Qadar hanya sebatas apa yang telah ditunjukan di dalam berbagai nash, baik dalam Al- Qur’an maupun sunnah Rasulullah SAW. Secara etimologis, Lailatul Qadar terdiri dari dua kata, Lailah artinya malam dan Al-Qadar artinya takdir, kekuasaan, kebesaran, ke-muliaan, kesuciaan dan sebagainya. Jadi Lailatul Qadar artinya malam kekuasaan, malam kebesaran, malam kemuliaan, malam kesucian dsb. P 21
  • 68. 68 Berdasarkan isi kandungannya, Lailatul Qadar itu terjadi, lan-taran pada malam itu diturunkan Al-Qur’an, seperti yang dinyatakan oleh ayat berikut ini : yv¤«[»¬À«ÅŸ¹´«|³[Ô³[ 118 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadar ayat 1). Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita, kapan Al- Qur’an itu diturunkan. Jawabannya dapat kita lihat pada ayat berikut ini : ²[z¤«[¹ÀŸª|³[Âx«[²Œ¯yz¸ƒ “Bulan Ramadhan itu, bualn yang di dalamnya diturunkan Al- Qur’an” (QS. Al-Baqarah ayat 185). Jadi, dapat kita simpulkan, bahwa Lailatul Qadar itu terjadi pada bulan Ramadhan, karena pada bulan ini diturunkannya Al-Qur’an. Seandainya pada bulan Ramadhan itu tidak terjadi penurunan Al-Qur’an, mungkin tidak akan ada istilah Lailatul Qadar. Jadi, keagungan Lailatul Qadar itu dinyatakan oleh Allah karena Allah ingin memberikan isyarat kepada manusia betapa kemuliaan dan keagungan Al-Qur’an. Tentang turunnya Al-Qur’an ini, dikalangan para ulama Islam berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa surah Al- Qadar ayat 1 tentang turunnya Al-Qur’an di malam Qadar itu adalah saat diturunkan-nya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah, atau dari langit ke tujuh, di sebelah kanan Arays (kerajaan Tuhan) ke langit pertama, langit bumi, yang selanjutnya diwahyukan kepada Rasul-ullah SAW. secara berangsur-angsur. Menurut pendapat ini dikatakan bahwa Al-Qur’an turun tiga kali. Pertama diturunkan ke Lauhul Mahfudz, kemudian disimpan beberapa lama, seterusnya diturunkan lagi ke Baitul Izzah pada malam qadar, dan dari Baitul Izzah diturunkan secara ber-angsur-angsur kepada Rasulullah SAW. yang diawali dengan lima ayat 119 dari surah Al-Alaq yang terjadi pada malam 17 Ramadhan tahun ke 41 masa kelahiran Rasulullah SAW. Dan pada malam 17 Ramadhan inilah dikenal dan diperingati peristiwa Nuzulul Qur’an. Pendapat sebagian para ulama ini didasarkan atas ayat Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. seperti berikut ini : ’½ o¯m½«ÁŸ vÀk¯²[z£½·−^ “Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauhul Mahfudz” (QS. Al-Buruuj ayat 21 dan 22). ²Œ¯yz¸ƒÅŸyv¤«[»¬À«ÅŸ²Óz¤«[ª|³Ç ¯½k³ª|³Ç°f ºvn[¼»¬°jÀ³v«[Æ°~Å«É
  • 69. 69 “Al-Qur’an itu diturunkan pada malam Lailatul Qadar dalam bulan Rama-dhan ke langit dunia secara keseluruhan, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas). º|˜«[dÀ^ÅŸ™‹½Ÿz§x«[µ¯²Óz¤«[−ˆŸ Ŭ—¹^ª|´¿−¿z_j−˜kŸÀ³v«[Æ°«[µ¯ °¬~¼¹À¬—ã[Ŭ‡Å_´«[ “Al-Qur’an itu dibedakan dari dzikir, maka ditempatkan dalam Baitul 120 Izzah di langit dunia. Lantas Jibril menurunkannya kepada Nabi SAW.” (HR. Hakim, dari Ibnu Abbas). Menurut yang tertulis dalam kitab Al-Itqan jilid 1 halaman 68 disebutkan bahwa, “Tampaknya banyak ulama yang condong kepada pendapat tersebut”. Kemudian Zarkasyi dalam kitab Al- Burhan jilid 1 halaman 229, menyebutkan bahwa, “Pendapat tersebut lebih masyhur dan lebih besar. Banyak orang yang berpendapat seperti itu”. Se-lanjutnya Ibnu Hajar dalam kitab Al- Fathul Bari memandang bahwa “Pendapat tersebut shahih dan mu’tamad”. Walaupun sebagian besar ulama sependapat dengan pernyata-an di atas, ternyata ada pula beberapa ulama yang menentang pen-dapat tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Muhammd Abduh seo-rang Guru Besar Universitas Al-Azhar Mesir, seperti yang tertulis dalam Tafsir Al-Manar juz II yang ditulis oleh seorang muridnya sendiri Mu-hammad Rasyid Ridha berpendapat bahwa, “Tidak ada satupun riwayat yang sah tentang turunnya Al-Qur’an ke Baitul Izzah sebelum diwahyu-kan kepada Rasulullah SAW. Semua riwayat yang ada itu hanyalah meru- pakan upaya untuk mengaitkan keutamaan bulan Ramadhan, sedangkan Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskannya”. Sementara Muhammad Rasyid Ridha sendiri dalam Tafsir Al-Manar tersebut menyatakan bahwa, “Yang dimaksud dengan diturun-kannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan itu, sebagaimana yang dinyata-kan dalam surah Al-Baqarah ayat 185 adalah yang pertama kali turun pada suatu malam bulan Ramadhan yang disebut Lailatul Qadar atau dengan kata lain Nuzulul Qur’an itu adalah Lailatul Qadar”. Kemudian, Dr. Subhi As-Shalih dalam kitabnya Mabahits fi 121 Ulumil Qur’an menyatakan tidak setuju kepada pendapat yang menga-takan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam tiga kali, walaupun didasar-kan atas sumber-sumber riwayat yang benar, karena turunnya Al-Qur’an secara demikian itu termasuk sesuatu yang ghaib yang hanya dapat di-terima berdasarkan keyakinan akan kebenaran kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekarang bagaimana dengan pendapat kita? Barangkali seke-dar memberikan gambaran pemikiran, mari kita kembalikan kepada po-kok persoalan. Apakah Lailatul Qadar itu terjadi pada saat turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah, atau pada saat turunnya Al-Qur’an secara
  • 70. 70 berangsur-angsur kepada Rasulul-lah SAW. yakni pada saat turunnya wahyu pertama surah Al-Alaq di Goa Hira’. Walapun Rasulullah tidak pernah menerangkan kapan awal ditu-runkannya ayat Al-Qur’an, namun Al-Qur’an sendiri mengisyaratkan bah-wa Al-Qur’an turun atau diwahyukan kepada Rasulullah SAW. secara ber-angsur-angsur dan dimulai pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke 41 ma-sa kelahiran Rasulullah SAW. Firman Allah dalam Al-Qur’an : »¬°j²[z¤«[¹À¬—ª|³×½«[¼z §µ¿x«[ª£¼ ØÀbzb¹´¬by¼¦u[ÌŸ¹^d_g´«©«x§ ºvn[¼ “Berkatalah orang-orang yang kafir : Mengapa Al-Qur’an itu tidak ditu-runkan kepadanya sekali turun saja?, demikianlah (Al- Qur’an Kami 122 turunkan secara berangsur-angsur) untuk memperteguh hatimu (hai Muhammad) dan Kami membacakannya secara tartil (perlahan-lahan dan jelas)” (QS. Al-Furqan ayat 32). Kemudian dalam ayat lain : ³v_—Ŭ—´«|³[Ô¯¼ ã^°c´¯[°c´§²[ µ˜°k«[Ťc«[¯½¿ ²£z «[¯½¿ “Jika kamu beriman kepada Allah dan apa yang Kami (Allah) turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari furqan, yaitu di hari berte-munya dua pasukan” (QS. Al-Anfal ayat 41). Yang dimaksud dengan apa yang Kami turunkan pada ayat di atas adalah lima ayat yang turun pertama kali, yaitu lima ayat pada su-rah Al-Alaq. Sedangkan hari furqan adalah suatu hari dimana terjadinya perubahan besar antara zaman kebatilan dengan zaman kebenaran yang ditandai turunnya lima ayat pertama pada surah Al-Alaq tersebut. Kemudian tentang bertemunya dua pasukan maksudnya adalah terjadi-nya perang Badar, yaitu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa turunnya Al-Qur’an pertama kali melalui Malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. adalah pada tanggal 17 Ramadhan yang kita kenal dan kita peringati sebagai Nuzulul Qur’an. Kalau kita hubungkan dengan Lailatul Qadar, beberapa hadits Rasulullah menerangkan bahwa Lailatul Qadar itu terjadi di sekitar 123 sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan terutama di malam-malam ganjil. Bahkan ada hadits yang menerangkan pada malam ke 27 terjadinya Lai-latul Qadar. Hadits yang menerangkan tentang Lailatul Qadar adalah sebagai berikut :
  • 71. 71 :ª£yv¤«[»¬À«µ—O†Nã[ª½~y³z_rÇ »¬À« zr[¼×[z„˜«[ÅŸ²Œ¯yz¸ƒÅŸÅ· °r¼Ç µ¿z„—¼»fØf¼Ç µ¿z„—¼ÂvnÉ µ¿z„—¼™b¼Ç µ¿z„—¼™_~¼Ç µ¿z„—¼ ²Œ¯yµ¯»¬À«zrÓ¼Ç “Rasulullah SAW. telah memberitakan kepadaku tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda, Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan, dalam sepuluh hari terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan atau malam terakhir” (HR. Ahmad dari Ubadah bin Shamit). Kemudian : ™^«[»¬À«·zocÀ¬Ÿ¸¿zoc¯²§µ¯ µ¿z„˜«[¼ 124 “Siapapun mengintainya (menjaga Lailatul Qadar) maka hendaklah mengintainya pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Ahmad dari Ibnu Umar). Kalau kita perhatikan penjelasan Al-Qur’an tentang Nuzulul Qur’an dan penjelasan Hadits tentang Lailatul Qadar di atas, mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata Nuzulul Qur’an dengan Laila-tul Qadar merupakan dua peristiwa yang terpisah atau sendiri-sendiri, namun keduanya mempunyai hubungan rentetan sejarah dalam penu-runan Al-Qur’an. Lailatul Qadar adalah peristiwa yang berkaitan dengan turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah yang peristiwanya terjadi pada sekitar sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sedangkan Nuzulul Qur’an adalah peristiwa yang berkenaan dengan turunnya lima ayat pertama surah Al-Alaq, yang terjadi pada malam 17 Ramadhan. 125 MMEENNGGIINNTTAAII LLAAIILLAATTUULL QQAADDAARR22
  • 72. 72 eperti yang kita ketahui bersama, bahwa Lailatul Qadar itu terjadi lantaran pada malam itu diturunkan Al-Qur’an. Firman Allah SWT. : yv¤«[»¬À«ÁŸ¹´«|³[Ô³[ “Sesungguhnya Kami turunkan (Al-Qur’an) itu pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadar ayat 1). Kalau kita amati ayat ini, nampaknya memberikan pernyataan kepada kita bahwa malam kemuliaan itu hanya terjadi satu kali, yakni pada saat turunnya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah pada bulan Ramadhan sekitar sepuluh hari terakhir di bulan tersebut. Firman Allah SWT. : ²[z¤«[¹ÀŸª|³[Âx«[²Œ¯yz¸ƒ “Bulan Ramadhan itu, bulan yang di dalamnya diturunkan Al- Qur’an” (QS. Al-Baqarah ayat 185). Kemudian sabda Rasulullah SAW. : 126 zr¼×[z„˜«[µ¯zb½«[ÅŸyv¤«[»¬À«[¼zob ²Œ¯yµ¯ “Carilah Lailatul Qadar itu, pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim). Mungkin timbul pertanyaan. Kalau Lailatul Qadar itu hanya ter-jadi satu kali, lalu bagaimana dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun berikutnya hingga di tahun-tahun di saat kita hidup sekarang dan yang akan datang, apakah tidak ada lagi Lailatul Qadar? Lailatul Qadar memang hanya terjadi satu kali, tidak sebelum dan tidak pula sesudahnya. Akan tetapi keagungannya, keberkahannya, kemuliaannya dan keutamaannya selalu diabadikan Allah sepanjang tahun (tahun-tahun berikutnya di bulan Ramadhan) hingga hari kiamat. Tegasnya, kalau boleh kita bilang bahwa Lailatul Qadar yang terjadi di bulan Ramadhan tahun ini, hanyalah semacam malam peringatan (ulang tahun) dari peristiwa turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah. Dan dalam peringatan Lailatul Qadar ini, Allah akan memberikan penghargaan bagi siapa saja yang memperingati Lai- latul Qadar itu dengan mengisinya berbagai ibadah kepada Allah dan melakukan amal kebaikan kepada sesama manusia, maka perbuatannya ini bernilai pahala yang berlipat ganda dengan perbandingan 1 : 1000. Maksudnya satu kebajikan bernilai seribu bulan. Misalnya, apabila kita mengerjakan shalat Tarawih tepat pada malam Lailatul Qadar, maka ni-lainya sama atau lebih dari mengerjakan shalat Tarawih selama 1000 bulan atau selama 83 tahun 4 bulan. 127 Barangkali sekedar memberikan ilustrasi logis untuk menambah pemahaman kita tentang Lailatul Qadar ini, kita ambil S
  • 73. 73 contoh, misalnya tentang Hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Kita tahu bahwa hari prokla-masi Kemerdekaan RI yang diikrarkan oleh bung Karno dan Hatta pada tanggal 17 Agusutus 1945, adalah hari yang sangat bersejarah, hari yang sangat menentukan bagi masa depan bangsa dan negara, hari yang selalu dikenang dan diingat oleh bangsa Indonesia sepanjang za-man, hanya terjadi satu kali, yaitu pada saat ikrar proklamasi itu dibaca-kan. Adapun pada tanggal 17 Agustus tahun-tahun berikutnya hanyalah sekedar peringatan atau Hari Ulang Tahun (HUT). Melalui moment peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. biasanya Bapak Presiden akan memberikan sejumlah penghargaan ke-pada rakyat Indonesia yang berprestasi dan berjasa terhadap negeri ini dengan memberikan gelar anugerah teladan. Mereka yang disebut te-ladan ini diundang ke Jakarta untuk mengikuti upacara HUT Proklamasi Kemerdekaan RI dan menerima Tanda Kehormatan (Tanda Jasa) yang akan diberikan oleh Bapak Presiden. Begitulah cara Presiden memuliaan moment Proklamasi Kemerdekaan RI. Begitu pula cara Allah memuliakan Lailatul Qadar (saat turunnya Al-Qur’an), dengan memberikan penghar-gaan kepada hamba-Nya yang berprestasi dalam amaliah ibadahnya dengan ganjaran pahala lebih baik daripada seribu bulan. Firman Allah SWT. : z¸ƒ¡«[µ¯zÀryv¤«[»¬À« “Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS. Al-Qadar ayat 3). 128 Alangkah mulia dan istimewanya Lailatul Qadar itu. Ia menda-tangkan rahmat dan ni’mat yang tiada taranya kepada ummat Muham-mad SAW. sehingga tak satupun diantara kita yang tidak suka dengan kedatangan malam yang mulia dan penuh berkah itu. Dan oleh karena keagungan dan kemuliaan malam Qadar ini, wajar kiranya jika malam jatuhnya Lailatul Qadar itu selalu dipertanyakan dan nyaris mengun-dang berbagai perbedaan pendapat. Dari beberapa hadits yang kami kumpulkan, lebih banyak men-jelaskan bahwa malam seribu bulan itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Aisyah berkata, “Nabi selalu ber- i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Beliau bersabda, Jagalah Malam Qadar itu pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan” (HR. Muttafak ‘alaih). Kemudian dari Abi Sa’id diriwayatkan bahwa “Nabi SAW. mene-mui para sahabatnya di pagi hari tanggal 20 Ramadhan. Lalu beliau me-ngabarkan, Sesungguhnya aku (kata Nabi) pernah diperlihatkan oleh Allah akan Lailatul Qadar, tetapi aku lupa (pada malam ke berapa terja- dinya). Tapi carilah ia pada sepuluh hari terakhir di malam yang ganjil (di bulan Ramadhan)” (HR. Muttafak ‘alaih). Selanjutnya, dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa, “Salah seorang sahabat Nabi bermimpi menemukan Lailatul Qadar pada tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan. Kemudian Nabi bersabda, Aku melihat mimpimu bertepatan dengan tujuh hari ter-akhir di bulan Ramadhan. Barangsiapa menunggu kedatangan Malam Qadar, maka tunggulah pada tujuh hari terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Muttafak ‘alaih). Ibnu Umar menegaskan, “Temuilah malam Qadar itu pada malam sepuluh akhir Ramadhan. Jika kamu lelah dan lemah, maka sisa tujuh malam terakhir jangan sampai diabaikan” (HR. Ahmad, Muslim, Thayalisi dari Ibnu Umar).
  • 74. 74 Dari beberapa keterangan hadits di atas, diisyaratkan bahwa 129 Lailatul Qadar itu terjadi sekitar malam yang ganjil, pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Penanggalan yang pasti memang tidak disebutkan. Hal ini tentunya membawa hikmah yang besar bagi kita kaum muslimin agar selalu mengintai Lailatul Qadar pada setiap malam di bulan Ramadhan, terlebih-lebih pada sepuluh hari terakhir dengan ba-nyak beribadah kepada Allah dan banyak berbuat kebajikan kepada se-sama manusia. Rasulullah SAW. ketika memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau bersama-sama dengan keluarga berupaya me-ningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Hal ini diterangkan oleh beberapa hadits, diantaranya : −À¬«[ÅÀnÇzr[¼Ù[z„˜«[−ru[wɲ§ y|Ï°«[vƒ¼¹¬·Ç•¤¿Ç¼ “Nabi SAW. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir, maka beliau menghidupkan malam itu dengan membangunkan seluruh anggota kelu-arganya serta mengencangkan sarungnya” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah. Rasulullah sebagai teladan bagi kita tentunya kita akan beru-paya mencontoh beliau kendati tidak sesempurna yang Rasulullah laku-kan. Namun kita tetap berusaha semaksimal mungkin untuk meningkat-kan amal ibadah kita kepada Allah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini dengan cara antara lain : Tetap rajin dan tekun melakukan Qiyamul Ramadhan (shalat Tarawih) dan shalat-shalat sunnat lainnya; tetap bahkan meningkatkan tadarrus Al-Qur’an; ber-i’tikaf di masjid; memperbanyak bacaan tasbih, tahmid dan tahlil; lebih memperdalam Al-Islam; meningkatkan perbuatan/amal kebajikan, seperti bersedekah, 130 berinfaq dan perbuatan baik lainnya. Inilah cara yang tepat dalam meng-intai Lailatul Qadar. Bukan cara yang tepat apabila Lailatul Qadar diintai dengan cara seperti berjaga-jaga semalaman penuh yang hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang sama sekali tidak ada tuntunannya da-lam Islam, misalnya : sambil menjaga Lailatul Qadar dilakukan main kartu, main domino, main catur, bergurau, pergi ke pantai-pantai, ke puncak, ke tanah lapang, ke tempat- tempat yang dianggap keramat, dan sebagainya. Bukan seperti ini yang dianjurkan oleh Islam, tetapi yang dianjurkan adalah dengan mengisi dan meningkatkan amal ibadah kita dalam rangka meningkatkan taqarrub kita kepada Allah SWT. untuk mengharap ridha-Nya serta pengampunan-Nya.. Rasulullah SAW. sudah menjanjikan : ¹«z › ^cn[¼ ³°¿É yv¤«[»¬À« ¯£µ¯ ¹_³wµ¯¯v¤b¯ “Barangsiapa yang beribadah pada saat Lailatul Qadar karena iman serta mengharap ridha-Nya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
  • 75. 75 Dalam hubungannya dengan hadits di atas, maka tepat sekali jika Rasulullah menganjurkan sebagaimana hadits beliau : »¬À«»¬À«ÂÇd°¬—²Éd¿ÇyÇ ã[ª½~y¿ :d¬£ ©³É °¸¬«[ :Å«½£ :ª£ I¸ÀŸª½£Ç¯yv¤«[ 131 Å´—¡—Ÿ½ ˜«[`ob½ — “Saya bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana pendapat anda seandainya saya tahu malam turunnya Lailatul Qadar itu, apakah yang saya ucapkan waktu itu?. Nabi menjawab : Katakanlah, Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah aku ini” (HR. Aisyah). Banyak orang yang tahu dan mengerti akan kemuliaan dan keutamaan Lailatul Qadar, namun ternyata hanya sedikit orang yang mau berusaha untuk meraih kemuliannya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah. Orang yang mengabaikan kesempatan untuk beribadah sebanyak-banyaknya pada malam Lailatul Qadar, sama artinya dengan membuang kesempatan emas yang sangat berharga serta menjauhi diri-nya dari segala kebaikan. Rasulullah SAW. bersabda : µ¯zÀr»¬À«¹ÀŸ¼°§zŒnv£z¸„«[[x·²É ×¼ ¹¬§zÀs«[¯znv¤Ÿ¸¯znµ¯z¸ƒ¡«Ç ¯¼zo¯×É·zÀr¯zo¿ “Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepadamu dan di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja terhalang darinya maka terhalang dari segala kebaikan. Dan tidaklah terhalang darinya kecuali orang yang terhalang (enggan beribadah)” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik). 132 Maksud hadits ini adalah, jika seseorang tidak memperdulikan kedatangan Lailatul Qadar sehingga enggan beribadah, maka secara logis orang ini tidak akan tertarik dengan segala macam ibadah dan perbuatan kebajikan lainnya, di bulan yang lain. Kenapa demikian? Karena di bulan Ramadhan saja, yang apabila beribadah dan melakukan perbuatan kebajikan mendapat pahala yang berlipat ganda, apalagi di saat turunnya Lailatul Qadar, ia sudah enggan melakukannya, apatah lagi pada bulan-bulan yang lain, yang ganjaran pahalanya lebih rendah dibandingkan dengan bulan Ramadhan, maka tentu ia tidak akan mengerjakannya. Orang yang seperti ini tentu sangat merugi. Marilah kita intai Lailatul Qadar dengan amalan-amalan yang baik, apakah itu membaca Al-Qur’an, membaca Tasbih, Tahmid dan Tahlil, melakukan shalat-shalat sunnah dan sebagainya. Semoga kita termasuk orang yang beruntung, yang sempat berjumpa dengan Lailatul Qadar dan mengisinya dengan amal ibadah yang banyak.
  • 76. 76 133 SSEEBBUUAAHH PPEEMMAAHHAAMMAANN TTEENNTTAANNGG LLAAIILLAATTUULL QQAADDAARR ailatul Qadar merupakan sebutan dari satu malam di bulan Ramadhan, karena pada malam itu diturunkan Al-Qur’an, dan selanjutnya sebutan Lailatul Qadar itu terus diberlaku-kan sepanjang tahun di salah satu malam di bulan Ramadhan. Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Demikian pernyataan yang diungkapkan Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Qadar ayat 3 : z¸ƒ¡«Çµ¯zÀryv¤«[»¬À« Makna seribu bulan pada ayat di atas mengandung dua pengertian. Seribu bulan bisa diartikan berdasarkan perhitungan kalender yaitu se-kitar 83 tahun 4 bulan. Seribu bulan bisa juga diartikan sebagai simbol/ kiasan yang mengandung makna keutamaan atau nilai yang luar biasa dan tidak bisa ditaksir dengan angka-angka. Barangkali sama halnya dengan sebuah ungkapan, Kami menyampaikan ribuan terimakasih. Pernyataan ribuan terimakasih bukan menyatakan jumlah (kuantitas), tetapi hanyalah sebuah ungkapan yang mengandung pengertian tak terhingga (sebanyak-banyaknya). Demikian juga dengan istilah cerita seribu satu malam. Seribu satu malam disini bukan diartikan secara per-hitungan hari, tetapi suatu ungkapan yang menggambarkan bahwa ce-rita tersebut terus bersambung seolah- olah tidak ada habis-habisnya. 134 Jadi bukan berarti cerita tersebut akan berakhir pada malam yang ke 1001. Satu malam sama dengan seribu bulan. Secara matematis me-mang sukar diterima. Namun kalau kita renungkan, mungkin saja keja-dian satu malam, peristiwa satu malam, akan meninggalkan kesan yang abadi sepanjang tahun. Atau peristiwa yang hanya dialami satu malam, bisa bernilai macam-macam. Bisa saja satu malam rasanya seperti satu bulan, satu tahun dan sebagainya. Kenapa demikian? Karena seringkali keberadaan hari tidak diukur dengan memperlihatkan bilangan angka dan jumlahnya, namun sering diukur dengan memperhatikan kesan- kesan yang ditinggalkannya. Acapkali satu bulan berlalu begitu tidak terasa, sehingga kita bilang, “rasanya satu bulan sudah berlalu tak terasa. Rasanya baru ke maren saja”. Sebaliknya, terkadang semalam saja rasanya seperti satu bulan, semalam saja L 23
  • 77. 77 keindahannya luar biasa, kesannya masih terasa sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Demikian halnya dengan Lailatul Qadar, walaupun kejadiannya hanya satu malam, tapi keindahannya, keberkahannya dan kemuliannya serta kesannya terus berlangsung dari tahun ke tahun dan dari zaman ke zaman. Mengapa? Karena pada saat Lailatul Qadar itu adalah saat diturunkannya kitab suci Al-Qur’an. Tiada keni’matan, tiada keindahan yang lebih besar, tiada kebaikan yang lebih sempurna dibandingkan pa-da saat-saat diturunkannya Al-Qur’an. Malam yang penuh berkah ini se-nantiasa membekas dan nilainya terus menjalar sepanjang zaman. Kalau kita dengar cerita orang tua-tua dulu tentang Lailatul Qadar. Kata mereka, disaat turunnya Lailatul Qadar itu tampak pepohon-an, rumah-rumah, gedung-gedung dan gunung- gunung merunduk, 135 seolah-olah sujud. Bumi seolah bermandikan cahaya dari langit, tapi tak seperti sinar lampu, juga tang serupa cahaya matahari. Pintu langit terbuka lebar, seolah siap menerima dan menampung segenap doa dan permohonan terhadap mereka yang berdoa, sehingga tak seorangpun yang berdoa ketika itu, melainkan doanya akan diijabah/dikabulkan oleh Allah SWT. pada saat itu juga. Sehingga dikatakan, jika seseorang yang ditemui Lailatul Qadar pada malam itu, kemudian ia berdoa minta sejum-lah harta kekayaan, maka seketika itu pula harta kekayaan tersebut turun dari langit secara tiba-tiba. Turunnya Lailatul Qadar itu, katanya, hanya terjadi dalam seke-jap. Maksudnya, orang yang ditemui Lailatul Qadar hanya sesaat saja. Namun demikian, walaupun hanya sesaat, tapi memberi kebahagiaan yang luar biasa serta memberikan kesan yang tak mudah dilupakan se-panjang hayat. Lailatul Qadar itu, katanya pula, hanya dapat disaksikan oleh orang-orang tertentu yang dikehendaki Allah. Sekelompok orang yang berkumpul dalam suatu majelis, mungkin hanya satu orang yang dapat melihat turunnya Lailatul Qadar, sedangkan yang lainnya tak me-lihat apa- apa. Demikianlah panjang lebar orang tua-tua kita bercerita tentang Lailatul Qadar. Begitukah gambaran Lailatul Qadar? Entahlah. Wallahu ‘alam. Yang jelas begitulah kebanyakan pemahaman orang tua- tua kita tentang Lailatul Qadar, dan hingga sampai hari ini pemahaman yang seperti ini mungkin masih ada. Kalau kita cermati gambaran tentang Lailatul Qadar di atas, ada satu kalimat yang barangkali dapat kita kembangkan lebih jauh guna memperkaya pemahaman kita tentang malam kemuliaan ini, yaitu pada kalimat Lailatul Qadar itu hanya terjadi dalam sekejap, namun 136 memberikan kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kesyahduan serta dapat memberikan kesan yang abadi di hati orang yang melihat-nya. Dalam kehidupan se hari-hari, mungkin kita pernah menemui satu kejadian, satu peristiwa yang tidak pernah kita temui sebelumnya, dan peristiwa tersebut bagi kita adalah suatu peristiwa yang luar biasa, yang sangat berkesan, sehingga sampai kapanpun kita selalu menge-nangnya.
  • 78. 78 Kalau kita hubungkan dengan kalimat tentang lailatul Qadar di atas, maka tidak berlebihan kiranya kalau kita katakan bahwa peristiwa yang kita alami tersebut merupakan penjelmaan dari peristiwa Lailatul Qadar. Syekh Ali Ath-Thantawi , seorang ulama terkenal dari Universi-tas Al-Azhar Mesir, pernah bercerita. Kata beliau, “Dulu, ketika aku ber-ada di Mesir, jauh dari keluarga. Waktu itu aku masih muda belia . Usia-ku baru sekitar sebelas tahun. Di sana, yang namanya godaan tak ter-hitung banyaknya sedang berada di sekelilingku. Perempuan-perempu-an berpakaian setengah telanjang dan merangsang birahi hampir ada di mana-mana. Melihat kondisi yang seperti aku hampir saja melakukan dosa dengan berbuat maksiat. Namun Alhamdulillah, setelah ku hadap- kan hatiku pada Allah dan aku meminta padanya, Oh Tuhanku, tuntutan ini ada di dalam jiwaku, sedangkan jalan-jalan dosa terbuka lebar di de-pan mataku. Tak kuasa rasanya aku tanpa pertolongan-Mu ya Allah. Aku lihat berulang kali diriku ini. Aku terus bermohon dan terus bermohon dengan sepenuh pengharapan. Ya Allah! Ya Allah! Ya Allah! Apa yang terjadi. Demi Allah, setelah itu aku merasakan godaan-godaan itu seke-tika lenyap dari jiwaku. Bagaikan gambar-gambar film yang memudar 137 sedikit demi sedikit. Kemudian aku merasa tenteram dan tenang. Aku merasakan suatu kenikamatan rohani yang sama sekali berbeda dengan nikmatnya kontak fisik. Bahkan suatu kenikmatan yang luar biasa , suatu kenikamatan yang langgeng, mendalam, yang melahirkan keternte-raman batin. Mungkin inilah dia Lailatil Qadar, pikirku”. Banyak orang yang telah mendengar Surah Thaha, bahkan se-bagian kitapun barangkali pernah mendengarnya bahkan mungkin per-nah membacanya. Akan tetapi pernahkan membawa kesan yang luar biasa terhadap kita bacaan surah tersebut, sebagaimana ketika Umar bin Khattab mendapat kesempatan mendengar bacaan Surah Thaha tersebut dan seketika berubah pendiriannya. Umar yang tadinya bodoh, kafir, kasar dan banyak melakukan dosa, dan bahkan ketika itu ia ber- niat ingin membunuh Muhammad, demi mendengar ayat pertama surah Thaha, seketika berubah menjadi Umar yang genius, Umar yang sang-gup dan berani berjuang membela agama Islam. Umar yang sanggup memimpin belasan negara seorang diri. Dialah yang menjadi Hakim yang sangat adil, sehingga tidak saja disegani kawan, tetapi lawanpun menye-ganinya. Dialah yang menjadi Menteri Keuangan yang sangat jujur dan sukses di dalam memimpin prajuritnya di medan perang bersama Ra-sulullah SAW. Dialah pemimpin yang peduli kepada rakyatnya, sehingga iapun rela memikul sekarung gandum di punggungnya kemudian seba-gian dimasaknya untuk seorang fakir miskis rakyatnya. Dengan peristiwa sekejap, dapat merubah kepribadian Umar secara total. Peristiwa seke-jap itulsh dia Lailatul Qadar. Pernah seorang santri yang menurut pernyataannya, ia hampir putus asa untuk menuntut ilmu, karena selalu di hadapkan pada banyak persoalan, sehingga ia sering mengalami kegagalan. Kini ia sudah tidak berhasrat lagi menuntut ilmu (sekolah) . Namun, seketika ia pergi mandi 138 ke sebuah kali, di sela rerumputan, ia melihat seekor semut yang terce-bur ke dalam air dan sedang menggapai-gapai berjuang menyelamatkan dirinya agar tak tenggelam. Kemudian, ia ambil sebilah lidi dan meng-ulurkan lidi itu ke dekat semut. Semut itupun
  • 79. 79 mencoba memanjat lidi, tapi jatuh dan jatuh lagi. Berkali-kali sang semut berusaha, namun sela-lu gagal. Sampai yang ke dua puluh kalinya ia memanjat sebilah lidi, semut itu akhirnya berhasil juga menaiki sebilah lidi sehingga terbebas-lah ia dari maut. Kejadian yang sesaat ini ternyata sangat berpengaruh terhadap seorang santri tadi. Ia berpikir, semut yang kecil saja tidak pernah menyerah dalam perjuangan hidup, tak pernah putus asa dalam meraih keberhasilan. Kenapa aku yang sebesar ini, yang telah diberikan Allah akal pikiran, justeru menyerah begitu saja. Tidak, aku tidak boleh menyerah, aku tidak boleh putus asa, aku tidak boleh lemah, aku harus kuat berjuang dan terus berjuang , sampai aku berhasil. Dan terbukti, berkat kejadian yang sesaat ini, akhirnya seorang santri tersebut ber-hasil menyelesaikan studinya dan menjadi seorang ulama besar. Waktu yang sekejap inilah saat ketika seseorang mendapatkan Lailatul Qadar. Lailatul Qadar yang hanya terjadi sesaat itu, apakah dengan mudah kita peroleh? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Ini tergantung apakah Allah menghendakinya atau tidak. Karena peristiwa yang sekejap ini merupakan karunia Allah yang Ia berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Tapi jangan lupa, bahwa seorang nelayan kalau ia meng-inginkan mendapat ikan yang banyak, ia harus turun ke laut dan mene-barkan jalanya. Seorang pekerja, ia harus aktif bekerja, bukan nong-krong di rumah atau di kedai bersenda gurau. Artinya, kalau mengingin-kan bertenu dengan Lailatul Qadar tentu kita harus berusaha mencari- nya, bukan dia yang mencari kita. Kita cari Lailatul Qadar di masjid-mas-jid sambil ber-I’tikaf. Kita jelang lailatul Qadar dengan banyak beribadah. Kita songsong Lailatul Qadar dengan banyak membaca Al- Qur’an dan 139 menghayati isi dan kandungannya. Kita sambut Lailatul Qadar dengan bergabung bersama-sama kaum muslimin melakukan Qiyamul Rama-dhan, berdzikir memuji Allah dan melakukan amal kebajikan lainnya. InsyaAllah dengan upaya seperti ini, kita pasti akan menemukan Lailatul Qadar, dalam arti ibadah dan amal kebajikan yang kita lakukan akan me-dapat ganjaran pahala seribu bulan. Disamping itu juga, dengan banyak beribadah dan melakukan kebajikan, kita akan merasakan betapa manis-nya beribadah kepada Allah SWT. Betapa damai dan tenteramnya berta-qarrub kepada Allah SWT. Mudah-mudahan segala ibadah dan amal ke-bajikan kita tersebut, dapat menyadarkan kita, dapat menggugah hati dan pikiran kita , sehingga hikmah dari ibadah dan amal kebajikan kita ini akan selalu membekas dan terus membekas sepanjang masa, kendati bulan Ramadhan sudah berlalu. Sehingga seseorang yang dulunya tidak begitu rajin beribadah, akan meningkat ibadahnya. Seseorang yang dulunya gemar berbuat maksiat, menjadi tidak lagi melakukan maksiat. Jadi, dapat kita katakan bahwa seseorang itu apakah menemu-kan Lailatul Qadar atau tidak, dapat dilihat dari pribadi dan peningkatan amaliah ibadahnya setelah Ramadhan. Adakah perubahan positif dalam dirinya. Sama halnya mungkin, seseorang yang telah menunaikan ibadah haji. Mabrur tidaknya haji seseorang, akan tercermin dari perubahan tingkah laku dan kepribadiannya setelah ia kembali di tanah air/ kampung halaman.
  • 80. 80 140 AANNJJUURRAANN BBEERR II’’TTIIKKAAFF DDII MMAASSJJIIDD alah satu kegiatan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. menjelang akhir Ramadhan adalah ber-I’tikaf di mas-jid. Beliau bersabda : zr[½Ù[z„˜«[¡¨c˜À¬ŸÅ˜¯¡¨c—[µ¯ “Siapapun yang ber-I’tikaf bersamaku, hendaklah ia ber-I’tikaf dalam sepuluh hari terakhir (di bulan Ramadhan)” (HR. Bukhari dari Abu Sa’id) Ber-i’tikaf di masjid artinya bertahan beberapa hari di masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan cara mem-perbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al- Qur’an, tafakkur, berdoa, mempelajari Islam, membaca puji-pujian kepada Allah, istighfar dan se-bagainya. Ber-i’tikaf berarti melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfa-at dalam rangka taqarrub ila Allah , bukan sekedar duduk-duduk sambil ngobrol atau cuma duduk bermenung diri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam melakukan i’tikaf dan ia merupakan kriteria yang akan menentukan sah tidaknya i’tikaf. 1. Orang yang akan melakukan i’tikaf, jelas harus yang beragama Islam; 141 2. Sudah sampai umum atau baligh serta mempunyai pikiran yang waras. Karenanya i’tikaf tidak dianjurkan bagi anak- anak, terle-bih-lebih bagi orang gila; 3. Suci dari hadats besar maupun kecil, seperti janabat,haidh dan Nifas. Jadi orang yang akan melakukan i’tikaf harus dalam kea-daan suci, tidak berhadats besar dan dianjurkan dalam keada-an berwudlu. Sabda Rasulullah SAW. : `´j×¼Îo«vk°«[−nÇ× “Masjid itu tidak aku halalkan bagi orang yang haid dan junub” (HR. Abu Dawud dari Aisyah). Mungkin timbul pertanyaan di benak kita. Apakah i’tikaf itu ha-nya boleh dilaksanakan di masjid saja. Bagaimana kalau masjid jauh dari tempat tinggal, apakah boleh melaksanakannya di mushalla, langgar atau surau. Apakah boleh juga dilaksanakan di rumah. Menurut nash Al-Qur’an, barangkali tidak bisa disangsikan lagi bahwa tempat melaksanakan i’tikaf adalah masjid. Firman Allah dalam Al-Qur’an : S 24
  • 81. 81 vj°«[ÅŸ²½ §—°c³Ç¼ “Sesungguhnya kamu ber-i’tikaf dalam masjid” (QS. Al-Baqarah ayat 187). Kendati demikian, persoalannya sekarang adalah pengertian masjid itu 142 sendiri yang seperti apa. Menurut hemat kami, pengertian masjid ber-dasarkan ayat di atas nampaknya masih bersifat umum, karena tidak dii-kuti dengan nama masjid tertentu. Oleh karenanya masjid disini bisa di-artikan tempat sujud. Kalau demikian dapat disimpulkan bahwa i’tikaf bi-sa atau boleh dilaksanakan di mushalla, langgar, surau, dan sebagainya, tidak mutlak harus di masjid. Seperti yang telah kami sebutkan di atas bahwa ber-i’tikaf adalah sebuah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Untuk mela-kukan kegiatan ini tentu sangat diperlukan suasana yang tenang, khid-mad dan aman. Hal ini dimaksudkan agar dalam melakukan i’tikaf benar-benar terkonsentrasi hanya kepada Allah. Oleh karenanya bagi siapa yang ingin melakukan i’tikaf hendaknya pandai-pandai memilih tempat yang cocok di antara tempat-tempat yang tersedia di masjid. Carilah tempat yang jauh dari gangguan anak-anak, jauh dari kebisingan kendaraan yang lalu lalang dan sebagainya. Dalam melakukan i’tikaf, Rasulullah SAW. sebagaimana yang te-lah dijelaskan oleh beberapa hadits, dikatakan bahwa Rasulullah SAW. ketika melakukan i’tikaf beliau mencari salah satu ruangan atau tempat yang ada di masjid, yang sekiranya aman dan memungkinkan melakukan itu, kemudian beliau bentangkan selembar alas tidur berupa tikar, dan terkadang pula beliau gantungkan selembar tikar lagi sebagai pembatas. Salah satu hadits yang menjelaskan hal ini adalah : »_£ÅŸ¡¨c—[°¬~¼¹À¬—ã[Ŭ‡Å´«[²É zÀˆn»˜£¸bv~Ŭ—¼»À§zb 143 “Sesungguhnya Nabi SAW. ber-i’tikaf di Kubah Turki dan tergantung di pintunya selembar tikar” (HR. dari Sa’id Al-Khudri). Seiring dengan hadits di atas, sebuah hadits riwayah di sebut-kan bahwa Rasulullah SAW. menganjurkan agar membuat ruangan khu-sus untuk ber-i’tikaf. Dengan demikian disunnatkan bagi setiap muslim yang akan melaksanakan i’tikaf untuk memilih dan mengambil tempat tertentu di dalam masjid dan menyiapkan berbagai sarana yang diper-lukan secukupnya, dan selama ber- i’tikaf diharapkan tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah dan tidak mengganggu kepentingan umum”. Seseorang yang berkeinginan untuk melakukan i’tikaf hendak-nya dimulai dengan memantapkan niat kepada Allah. Kemudian, menyi-apkan segala perbekalan selama ber-i’tikaf, termasuk sarana ibadah, seterusnya bersedia tinggal di masjid beberapa hari sesuai dengan kei-nginan dan kemampuan kita masing-masing. Kalau menurut Rasulullah, seyogyanya sudah dilaksanakan sejak malam ke 21 hingga malam ter-akhir di bulan
  • 82. 82 Ramadhan. Atau paling tidak sejak malam ke 23 hingga malam terakhir, yang total waktunya antara 7 s/d 10 hari. Jika ternyata jumlah waktu i’tikaf di atas masih dirasa berat bagi kita, tidak mengapa jika i’tikaf kita laksanakan hanya beberapa hari, tiga hari, dua hari atau hanya satu hari sekalipun, yang penting kegiatan ber-i’tikaf di masjid pada bulan Ramadhan ini, jangan sampai kita lupakan. Seseorang yang sedang ber-i’tikaf, hendaknya tetap berada di masjid (tempat melakukan i’tikaf) selama waktu yang diniatkan. Kalau-pun juga harus ke luar, hanya untuk keperluan- keperluan yang sangat penting, misalnya berwudlu, mandi, mencuci pakaian, memasak, buang air besar/kecil dan sebagainya. 144 Seandainya tidak bisa juga karena terbentur kegiatan rutin atau tugas yang harus dilaksanakan, seperti bekerja, urusan keluarga dan masyarakat, maka ber-i’tikaf tidak harus seharian penuh berada di mas-jid. Aturlah waktu sedemikian rupa, saat mana harus berada di masjid dan saat mana harus melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Yang paling baik di dalam ber-i’tikaf memang menyediakan waktu beberapa hari untuk menetap di masjid, termasuk kegiatan rutin sehari-hari, seperti makan, mandi, ganti pakaian dan sebagainya. Walaupun dalam ber-i’tikaf dibolehkan ke luar masjid untuk me-lakukan kegiatan rutin dan tugas sehari-hari, namun untuk yang satu ini, yaitu melakukan hubungan suami isteri, selama masa ber’tikaf (sesuai yang diniatkan), hendaknya jangan dilakukan. Allah SWT. berfirman : vj°«[ÅŸ²½ §—°c³Ç¼µ·¼zƒ_b×¼ “Janganlah kamu pergauli isteri-isterimu, sementara kamu sedang ber-i’tikaf di masjid” (QS. Al-Baqarah ayat 187). Marilah kita manfaatkan malam-malam terakhir di bulan Ra-madhan ini untuk melakukan i’tikaf di masjid, mushalla atau tempat iba-dah lainnya, sebagai upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan harapan semoga kita mendapat ampunan dari-Nya. 145 PPUUAASSAA,, IINNFFAAQQ,, SSHHAADDAAQQAAHH DDAANN ZZAAKKAATT FFIITTHHRRAAHH ak bisa dipungkiri, dalam hidup ini kita memerlukan harta. Harta bagi kita merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan hidup dan kehidupan kita. Mengingat beta-pa pentingnya harta ini, Islam menganjurkan pemeluknya agar selalu berusaha untuk mencari harta dengan cara-cara yang baik dan halal. Setelah harta itu T 25
  • 83. 83 diperoleh, hendaknya dipergunakan sebagai bekal dan sarana bagi kesempurnaan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah SWT. Sebab bagaimanapun juga suatu ibadah yang kita laksanakan, tidak akan bisa sempurna atau bernilai maksimal tanpa dukungan harta. Segala macam bentuk ibadah selalu ada keterkaitan dengan harta. Se-perti ibadah shalat, di dalam melaksanakan shalat diperlukan sajadah, sarung, mukena, peci dan sebagainya. Melakukan puasa, diperlukan sejumlah makanan dan minuman untuk berbuka. Apalagi zakat, harta justeru yang menjadi obyek yang dizakati. Haji juga, sangat memerlukan harta, sebab orang yang akan pergi haji membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tanpa kecukupan biaya, mana mungkin orang bisa pergi haji. Cinta kepada harta, boleh-boleh saja. Tetapi hati yang kelewat cinta kepada harta pada gilirannya nanti justeru akan memperbudak dan akan menjajah dirinya sendiri. Kalau sudah begini keadaannya, maka tak ayal lagi, pasti hartanya kelak akan menyeret ia ke lembah yang sangat nista dan penuh derita. Karena harta yang ia miliki hanya dipergunakan untuk memperturutkan dan memuaskan hawa nafsu. Di sinilah awal mu- lanya atau cikal bakal sumber sengketa dan malapetaka. 146 Tengoklah di sekeliling kita, tidak sedikit nilai yang tinggi dan luhur dikalahkan dan dirusakkan oleh nilai yang rendah dan tak terpuji karena harta. Persaudaraan putus, pertikaian terjadi di mana-mana, terjadi saling menyakiti, saling menganiaya dan berbuat dzalim bahkan saling membunuh, dikarenakan harta. Melihat kenyataan ini, maka kita memerlukan puasa, dalam arti pengendalian diri, dalam rangka menjaga agar keterpautan hati kita kepada Allah tidak akan dikalahkan, tidak akan diperbudak dan tidak akan dijajah oleh harta. Dengan berpuasa, mudah-mudahan dapat mendidik diri kita masing-masing agar pandai bersyukur. Dengan berpuasa, insyaAllah da-pat melatih kita agar mampu mengendalikan hawa nafsu. Dengan ber-puasa diharapkan dapat menyadarkan kita betapa sedih dan menderita-nya orang-orang yang saban hari diserang lapar dan dahaga, lantaran kemiskinan dan kefakiran. Dengan kesadaran ini tentunya akan menggu-gah jiwa kita masing-masing untuk segera berbuat dan bertindak dalam rangka mengasihi, menyayangi dan menolong mereka yang papa, yang fakir dan yang miskin dan anak yatim, baik berupa infaq, shadaqah mau-pun zakat, karena dari sejumlah harta yang kita miliki itu terdapat seba-gian yang merupakan hak mereka yang wajib kita berikan atau kita kelu-arkan. Firman Allah dalam Al-Qur’an : ¯¼zo°«[¼−ÎÔ¬«¥n°¸«[½¯[ÅŸ¼ “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang memin-ta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS.Adz- Dzariyat ayat 19). 147 Kemudian : −_£µ¯°¨´£{y°¯[½¤ ³[Ó½´¯[µ¿x«[¸¿Ô¿ »— ƒ×¼»¬r×¼¹ÀŸ™À^ׯ½¿ÁbÈ¿²[
  • 84. 84 ²½°¬”«[°·²¼z ¨«[¼ “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang- orang kafir itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Baqarah ayat 254). Puasa, infaq, shadaqah dan zakat, baik zakat maal maupun za-kat fithrah, mempunyai hubungan yang sangat erat. Bahkan memperba-nyak shadaqah pada bulan Ramadhan mempunyai nilai tersendiri di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW. bersabda : ²Œ¯yÅŸ»£v‡»£vˆ«[−ŒŸÇ “Seutama-utama shadaqah adalah shadaqah di bulan Ramadhan” (HR. Turmidzi dari Anas r.a). °§»ÏÀs«[Рb»£vˆ«[¼ »´j¯Àˆ«[ y´«[Æ°«[ÆÅ ¿ 148 “Puasa itu perisai dan shadaqah itu dapat memadamkan dosa, laksana air memadamkan api” (HR. Turmudzi dari Mu’adz bin Jabal r.a). Fungsi utama infaq dan shadaqah adalah untuk mensucikan diri kita dari sifat kebakhilan. Sebab, kebakhilan merupakan sifat yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam nista dan dosa. Dengan banyak berinfaq dan shadaqah pada bulan Ramadhan ini mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit bakhil, sebab orang yang terhindar dari penyakit bakhil, dia termasuk kaum yang berjaya. Firman Allah SWT. : ²½o¬ °«[°·©Ï«¼Ÿ¹ ³pƒ¢½¿µ¯¼ “Dan barangsiapa yang terhindar dari kebakhilan, maka mereka itulah kaum yang berjaya” (QS. At-Taghabun ayat 16). Sifat bakhil hanya akan hilang apabila seseorang mebiasakan diri untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah. Sebab, kecintaan terha-dap sesuatu tidak akan berhenti kecuali dengan memaksa diri untuk me-merangi hawa nafsu ke arah perbuatan-perbuatan baik. Apabila terdengar bisikan hati yang menganjurkan kepada kita untuk melakukan kebajikan, maka segeralah menggunakan kesempatan itu, sebab bisikan ini mungkin bisikan Malaikat. Kalau kita lambat, ja-ngan-jangan muncul lagi bisikan yang kedua yakni bisikan Syetan yang berupaya mencegah kita untuk berbuat baik. Bulan Ramadhan beberapa hari lagiu akan berakhir, dan ketika 149
  • 85. 85 bulan suci ini akan meninggalkan kita, masih ada satu kewajiban lagi yang bersifat pribadi yang harus kita tunaikan, yakni mengeluarkan atau membayar zakat fithrah. Dalam hal ini, kita sebagai pimpinan rumah tangga, sebagai penanggung jawab seluruh keluarga, berkewajiban me-ngeluarkan zakat fithrah untuk kita sendiri dan seluruh anggota keluarga kita, termasuk para pembantu rumah tangga, dengan catatan apabila mempunyai kecukupan atau kelebihan persediaan makanan untuk ma-lam Idul Fitri dan siang Idul Fitri nanti. Rasulullah SAW. bersabda : ²½³½°bµ°—z «[»£v‡[¼uÇ “Keluarkanlah zakat fithrah atas semua orang yang menjadi tanggungan kalian” (HR. Ad-Daruquthni dan A-Baihaqi). Zakat fithrah adalah zakat yang diwajibkan atas kaum muslimin dan muslimat sehubungan dengan selesainya melaksanakan puasa Ra-madhan baik terhadap orang dewasa, laki-laki dan wanita, anak-anak , remaja, budak belian maupun yang merdeka. Maksud zakat fithrah ini adalah untuk mensucikan orang yang telah berpuasa selama sebulan di bulan ramadhan, dari kemungkinan-kemungkinan perbuatan yang kurang baik, misalnya perkataan yang ti-dak senonoh, terpandang sesuatu yang haram, tersentuh barang yang haram, dan sebagainya. Adapun yang dikeluarkan dalam zakat fithrah adalah berupa beras, gandum, jagung, sagu, kurma, anggur, keju dan sebagainya se-banyak satui sha’ atau satu sukat, yang merupakan makanan pokok yang dimakan oleh seseorang atau masyarakat. 150 Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya : “Rasulullah SAW. telah mewajibkan zakat fithrah dari Ramadhan sebanyak satu sukat dari kurma atau satu sukat dari padi, atas hamba dan orang yang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Umar r.a). Karena di negara kita makanan pokok masyarakat sebagian besar adalah beras, maka yang dikeluarkan zakatnya adalah berupa beras, yaitu sekitar tiga sepertiga liter. Tentang penyerahannya, para fuqaha sepakat bahwa zakat fithrah itu dapat diserahkan kepada yang berhak menerimanya pada bu-lan Ramadhan terutama di akhir-akhir bulan tersebut sampai menjelang atau sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fithri. Hal ini sesuai dengan hadits dari Ibun Umar, ia berkata : “Kami diperintahkan oleh Rasulullah SAW. tentang zakat fithrah, agar dibayarkan sebelum orang-orang ke luar pergi shalat (shalat Idul Fithri)”. Kemudian kata Imam Syafi’ie : “Diperbolehkan membayar zakat fithrah mulai awal Ramadhan, hingga menjelang dilaksanakannya shalat Idul Fithri. Jika membayar zakat fith-rah setelah shalat Idul Fithri, maka fungsinya berubah menjadi sha- saqah”. Siapakah yang berhak menerima zakat fithrah? Seperti juga pada penerima zakat harta, maka mereka inipun berhak atas zakat fithrah. Namun yang lebih diutamakan adalah para fakir dan miski. “Rasulullah SAW. telah mewajibkan zakat fithrah untuk mensucikan orang yang telah berpuasa dari perkataan yang tidak
  • 86. 86 bermanfaat dan perbu-atan yang keji dan ia merupakan hak bagi orang-orang miskin”. Kemudian pada hadits yang lainnya, Rasulullah SAW, bersabda : 151 °¬~¼¹À¬—ã[Ŭ‡ã[ª½~yŠzŸ ¯½À«[[x·ÅŸ°·½´›Ç :ª£¼z «[º§{ “Rasulullah SAW. telah mewajibkan zakat fithrah, sabdanya : Penuhilah kebutuhan mereka (fakir miskin) pada hari ini” (HR. Baihaqi dari Daruquthni dari Ibnu Umar r.a). Jadi jelaslah bahwa yang diutamakan dalam penyerahan zakat fithrah adalah kepada para fakir dan miskin, baik secara langsung maupun dengan perantaraan Badan Amil. 152 EEKKSSIISSTTEENNSSII ZZAAKKAATT DDAALLAAMM PPEERRSSAAUUDDAARRAAAANN IISSLLAAMM gama Islam adalah agama yang selain mengatur hubung-an manusia dengan Tuhannya secara vertical (Hablun mi-na Allah), ia juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya secara horizontal (Hablun minan naas) termasuk hubungan dengan seluruh makhluk lainnya di alam semesta ini (Hablun mina ‘alam). Hubungan yang bersifat vertikal biasanya diwujudkan dalam bentuk ibadah kepada Allah berdasarkan tata cara yang sudah diatur menurut tuntunan agama. Sedangkan hubungan yang bersifat horizontal meliputi komunikasi manusia, baik dengan dirinya sendiri, dengan kelu-arga, tetangga, masyarakat dan sesama hamba Allah serta lingkungan hidup sekitarnya. Sejauhmana upaya kita melakukan hubungan vertikal dan hori-zontal, hal ini terkait erat dengan akhlakul karimah atau akhlak yang baik, yang mulia. Kenapa? Karena untuk dapat dikatakan seseorang itu berakhlak mulia, maka ia hendaknya dapat menjaga keserasian hubung-an kedua aspek tersebut. Sebab, menjalin atau mementingkan salah sa-tunya saja tidaklah cukup. A 26
  • 87. 87 Seseorang yang menjalin hubungan vertikal saja tanpa mengindahkan hubungan horizontal, bisa mengakibatkan seseorang akan tersisih dari pergaulan masyarakat. Sebaliknya, dengan hanya menjalin hubungan horizontal sementara hubungan vertikal dia-baikan, seseorang akan cenderung kepada atheis dan sekuler. 153 Dalam kaitannya dengan Hablun minan Naas sebagai upaya pengamalan akhlakul karimah ini, Rasulullah SAW. menyatakan dalam salah satu hadits beliau : Œ˜^¹Œ˜^v„¿²À´_«§ µ¯Ì°(«¯Ì°«[ “Seorang mu’min bagi mu’min lainnya adalah laksana sebuah bangunan yang kokoh, dimana sebagian yang lain menjadi penguat bagi yang lain-nya”. Kemudian , sabda beliau lagi : ˜b¼ °¸°n[zb(°·u[½b(ŸµÀ´¯Ì°«[−g¯ Å—[vb½Œ—¹´¯Å¨cƒ[wÉvk«[−g°§°¸  Å°o«[¼z¸«^vk«[zÎ~ “Perumpamaan seorang mu’min dalam hubungan persaudaraan mereka adalah laksana organ tubuh yang satu. Apabila ada diantara organ tu-buh yang lain menderita sakit, maka seluruh tubuh tersebut merasakan sakitnya”. Kedua hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa dalam rangka penerapan akhlakul karimah , kita berkewajiban menjalin hu-bungan yang akrab dengan sesama muslim, terlebih- lebih bagi mereka yang miskin, papa tak berharta, kita wajib menyantuni dan membantu mereka. 154 Tersebutlah suatu riwayat, dimana ketika Rasulullah sedang berbincang-bincang dengan para sahabat, beliau mengingatkan : “Ingatlah selalu kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Ulurkanlah tanganmu terhadap mereka, sebab mereka itu mempunyai satu keraja-an, dimana mereka mempunyai kekuasaan di dalamnya”. Mendengar ucapan Rasulullah ini, seorang sahabat bertanya : “Apa yang engkau maksudkan dengan kerajaan anak yatim dan dan fakir miskin itu ya Rasulullah?”. Rasulullah menjawab : “Kelak nanti di hari kiamat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin disuruh Allah untuk mencari orang- orang yang telah memberi makan, minum dan pakaian kepada mereka sewaktu di dunia dulu. Setelah ia temukan, maka ditariknyalah orang itu dan dimbingnya (atas izin Allah) masuk ke dalam Sorga. Inilah yang di-maksudkan dengan kerajaan anak yatim dan fakir miskin, wahai para sa-habat”. Alangkah indahnya pernyataan Rasulullah ini. Siapapun kita pasti tergiur mendengarnya dan cepat-cepat bertindak. Apa tindakan yang tepat untuk menyantuni anak yatim dan memberikan bantuan ter-hadap fakir miskin? Tak lain adalah dengan menafkahkan sebagian harta yang kita miliki yang memang merupakan hak mereka atas harta kita, yaitu berupa zakat, disamping amal kebajikan lainnya seperti infaq dan shadaqah.
  • 88. 88 Eksistensi zakat hubungannya dengan persaudaraan dalam Is-lam merupakan dua hal yang saling menunjang. Betapa tidak, zakat yang berfungsi sebagai pembersih harta yang dimiliki seseorang, ter-simpul di dalamnya suatu pengertian bahwa zakat dapat membersihkan si pemiliknya dari sifat tamak, kikir dan bakhil. Dan dapat membersihkan di penerima zakat (anak yatim dan fakir miskin) dari perasaan rendah diri, iri hat i dan dengki, yang kesemuanya sering menjadi penyebab 155 stagnasi sosial sehingga terjadi bentrokan-bentrokan, adalah karena adanya kesenjangan antara golongan yangb berpunya dengan golongan yang tak berpunya. Maka apabila hal-hal tersebut terkikis habis dengan adanya zakat, maka sudah pasti yang muncul adalah persaudaraan ummat. Walaupun sasaran zakat lebih di arahlan kepada anak yatim dan fakir miskin yang golongan mereka ini hanya sebagian dari masya-rakat, namun mereka ini adalah golongan potensial, dalam arti mereka ini turut menentukan terhadap kestabilan sosial, jika mereka ini benar-benar terbina dengan baik. Disini, zakat merupakan prasarana yang amat besar pengaruhnya terhadap pembinaan mereka, karena salah sa-tu faedah zakat adalah supaya kaum muslimin suka melakukan tolong menolong dan merasa adanya persamaan dikalangan mereka, sehingga tidak ada lagi terdapat dikalangan mereka itu orang yang terlantar, orang yang kelaparan dan orang yang dihinakan sesamanya. Yang kaya menjamin yang miskin dan yang miskin tidak suka menadahkan tangan untuk meminta belas kasihan orang kaya, karena tanpa dimintapun ia sudah diberi bantuan. Tidak ada lagi orang yang terlalu boros dan royal, sementara banyak orang- orang miskin di sekitarnya yang tak sempat makan beberapa hari. Karena ia tahu bahwa di dalam hartanya itu ada hak bagi anak yatim, janda-janda tua dan fakir miskin yang mereka ini adalah saudara kita sendiri. Dengan memberikan bantuan berupa zakat terhadap mereka ini akan melahirkan sebuah persahabatan dan persau-daraan yang kuat, yang tidak mudah tergoyahkan oleh badai yang dahsyat sekalipun. Apa yang kami kemukakan di atas adalah sekelumit pendaya-gunaan zakat di lihat dari sisi persatuan ummat. Kini yang menjadi per-soalan kita adalah bagaimana mengefektifkan zakat sehingga berfungsi 156 seperti itu. Inilah yang harus kita pikirkan dan kita rembukkan bersama. Barangkali sudah sekian lama kita berzakat, dan sudah sekian rupiah kita keluarkan zakat itu. Tetapi dari segi ini, kelihatannya belum banyak memberikan kontribusi bagi persatuan dan persaudaraan um-mat. Masih terlihat jurang pemisah yang dalam antara yang miskin de-ngan yang kaya. Dalam hubungan ini menurut hemat kami, penyebab utamanya adalah karena tidak ada koordinasi yang didukung oleh sistem manajerial yang baik. Sementara penanganan zakat yang berla-ku dan sering dilaksanakan nampaknya masih bersifat individual, baik sasaran maupun pengelolaannya. Semuanya sering dilakukan sesuai de- ngan selera para Muzakki. Kalaupun ada organisasi-organisasi sosial yang turut menangani masalah zakat, namun masih sedikit ummat Islam yang memanfaatkan organisasi tersebut, disamping terkadang karena organisasi tersebut kurang mendapat kepercayaan masyarakat. Salah satu hikmah puasa Ramadhan yang tengah kita laksana-kan ini adalah menumbuhkembangkan benih kasih
  • 89. 89 sayang terhadap anak yatim, fakir miskin dan orang-orang yang tak berkecukupan, yang saban hari dirundung kemelaratan dan kesengsaraan. Dengan berpuasa tertanam perasaan senasib sepenanggungan. Terbukalah mata hati dan pikiran, betapa tidak enaknya lapar, betapa tersiksanya haus dan daha-ga. Sehingga dari sumber hikmah puasa ini, terpancarlah air kehidupan dari mereka yang berkelebihan kepada mereka yang berkekurangan, yang diwujudkan dalam bentuk zakat, bai, zakat harta maupun zakat fithrah. Kalau di bulan Ramadhan ini, kita diajarkan untuk bersifat teng-gang rasa di dalam duka, maka dibulan Syawwal yang sebentar lagi akan kita jelang, kita semua berbagi suka, berbagi kebahagiaan. Sehingga 157 di hari yang fitri nanti, tak seorangpun sesama kita yang menderita. Semuanya berbahagia, semuanya bergembira. Itulah harapan kita, dan itulah pula harapan mereka. Kalau kita ingin mencoba mengevaluasi pelaksanaan dan pe-nanganan potensi dana ummat berupa zakat ini, terutama di daerah kita sendiri, nampaknya belum menunjukkan penanganan yang optimal. Badan-badan Amin Zakat kita lebih banyak menerima atau mengum-pulkan zakat fithrah dan sedikit sekali yang menerima atau mengumpul-kan zakat harta, disamping karena memang diantara para Muzakki (si pembayar zakat) masih banyak yang merasa enggan menyerahkan za-katnya kep[ada Badan Amil Zakat, dan nampaknya lebih suka menanga-ninya sendiri. Banyak faktor memang yang melatari adanya kondisi se- perti ini. Disamping itu, kita lihat penyaluran zakat, terutama zakat fith-rah, nampaknya masih bersifat tradisional dan lebih mengarah kepada keperluan konsumtif. Belum nampak kita lihat perubahan- perubahan po-sitif, baik mengenai tata caranya maupun sistem manajerialnya. Pena-nganan Badan Amil Zakat masih bersifat rutinitas tahunan yang cende-rung statis dan formalitas belaka, sehingga belum terpikirkan bagaimana upaya-upaya pembaharuan dan peningkatan kualitas agar Badan Amil Zakat benar-benar berfungsi maksimal sebagai penghimpun dana um- mat yang manfaatnya tidak saja bersifat konsumtif, tetapi juga bersifat ekonomis produktif. Gambaran umum tentang penerimaan dan penyaluran zakat fithrah selama ini dapat kita uraikan secara sederhana sebagai berikut. Pada menjelang Idul Fithri atau beberapa hari sebelum Idul Fithri, di tiap-tiap masjid, langgar, surau, mushalla dan di tempat-tempat lainnya, dibentuk Panitia Badan Amil Zakat. Setelah panitia terbentuk dan sete-lah menyiapkan segala sesuatunya, Badan Amil Zakat menerima atau 158 mengumpulkan zakat fithrah, baik yang berbentuk beras maupun yang berbentuk uang. Pada malam hari Raya (Idul Fithri), semua penerimaan zakat fithrah tersebut disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Setelah ini semua maka selesailah tugas Badan Amil Zakat. Sistim pelaksanaan Badan Amil Zakat didalam menerima dan menyalurkan zakat fithrah, di mana tempat boleh dikatakan hampir sa-ma. Dan dari tahun ke tahun pelaksanaannya begitu- begitu saja. Ada satu pertanyaan pernahkah kita datang menjengok ke tem-pat rumah si fakir dan si miskin pada malam hari raya tersebut. Pernah-kah kita menanyakan apa sesungguhnya yang mereka butuhkan dalam merayakan Idul Fithri dan kebutuhan bagi
  • 90. 90 kelangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Adakah terlihat pancaran kebahagiaan yang ter ukir dari wajah mereka. Kalau ada, mungkin masih bersifat semu, sebab apa yang ia butuhkan tidak sesuai dengan yang ia terima. Bagaimana ia akan berbahagia, kalau yang ada di rumahnya hanya beras dan beras, sementara keperluan pakaian isteri dan anak-anaknya untuk berhari raya belum ada. Belum lagi keperluan makanan dan minuman yang la-yaknya disipkan oleh orang-orang yang berpunya untuk menyambut hari raya. Belum lagi keinginan untuk mengkhitankan anaknya. Semuanya kandas, semuanya gagal, lantaran ketiadaan biaya. Pernahkah kita mengamati, siapa-siapa yang menerima zakat fithrah tahun sebelumnya dan tahun tadi. Adakah perubahan jumlah di-antara, si pakir dan si miskin. Mungkin dari tahun ke tahun para pene-rima zakat fithrah hanya itu-itu saja orangnya. Kalau sudah demikian, artinya dapat kita katakan bahwa Badan Amin Zakat kita selama ini be-lum berperan dalam upaya pengentasan kemiskinan, sebagai perwujud-an nyata dari eksistensi zakat fithrah dalam menggalang persaudaraan. 159 Melihat kenyataan-kenyataan ini barangkali kita perlu merubah pola, teknis dan sasaran penanganan zakat ke arah usaha-usaha yang lebih mengena dan produktif. Kalau dulu, penyaluran zakat, terutama zakat fithrah hanya be-rupa beras dan atau uang, maka untuk tahun depan kita tingkatkan berupa paket lebaran yang berisi tidak saja beras dan uang, tetapi juga berisi ikan, gula, tepung, kue, minuman dan pakaian, yang jumlahnya di sesuaikan dengan jumlah anggota keluarga serta disesuaikan dengan tingkat kemiskinannya. Disamping itu, dari pengumpulan dana yang ada, baik zakat fithrah maupun zakat harta, disisihkan pula sebagian untuk digunakan kepada kegiatan usaha yang produktif. Dari fakir miskin dan anak yatim yang akan menerima zakat, dipilih satu dua orang atau beberapa kepala keluarga untuk diberikan bantuan modal atau dana usaha untuk menun-jang mata pencahariannya berupa alat-alat usaha, misalnya : alat-alat pertukangan; alat-alat pertanian; alat-alat perbengkelan; alat-alat meu-bel; alat-alat salon; alat-alat sablon dan percetakan dan sebagainya, yang disesuaikan dengan ketrampilan dan bakat yang dimiliki mereka.. Penyerahan alat atau sarana usaha ini dilakukan bersamaan dengan penyerahan paket lebaran. Untuk melakukan pola kerja penerimaan dan penyaluran zakat seperti ini, tentunya memerlukan persiapan yang matang dan terprog-ram. Bentuklah Panitia atau Badan Amil Zakat beberapa bulan sebelum Idul Fithri. Buatlah selebaran yang menarik, yang dapat menggugah ke-inginan para Muzakki (insan pembayar zakat) untuk menyalurkan zakat-nya melalui Badan Amil Zakat. Jika dalam satu kawasan lingkungan ma-syarakat terdapat lebih dari satu buah mushalla/masjid, yang biasanya 160 masing-masing mushalla/masjid tersebut membentuk Badan Amil Zakat sendiri, padahal jaraknya berdekatan, mungkin masih satu RT. satu RW. Dan sebagainya. Nah, untuk lebih efesiennya mungkin akan lebih baik jika digabungkan saja ke dalam satu Badan Amil Zakat. Hal ini dimaksud-kan agar serapan perolehan dana berupa zakat dalam lingkungan terse-but lebih banyak dan penyalurannya nanti tidak terjadi tumpang tindih. Panitia atau Badan Amil Zakat yang sudah dibentuk jauh sebe-lumnya, paling tidak sebulan sebelum Ramadhan, dan sudah
  • 91. 91 dipersiap-kan segala sesuatunya, maka begitu memasuki bulan Ramadhan, Badan Amil Zakat ini sudah siap menerima zakat dari para Muzakki. Jika dana zakat sebagian sudah terkumpul, terutama zakat harta, jika memungkin-kan sebagian dananya bisa digunakan untuk melaksanakan kegiatan Khitanan Massal bagi anak yatim dan anak fakir miskin. Mungkin juga se-bagian dana zakat tersebut dapat digunakan untuk membeli sejumlah potong kain untuk dibuat pakaian bagi anak yatim dan anak fakir misikin. Pendeknya, lakukanlah persiapan jauh-jauh hari dan susun program yang baik dan laksanakanlah dengan penuh semangat dan ikhlas karena Allah, sehingga jika dapat terlaksana dengan baik dan lancar, maka insyaAllah akan kita dapati perubahan besar dan positif di kalangan ma-syarakat Islam dan persaudaraan Islam akan lebih erat dan lebih akrab. 161 BBEERRSSIIAAPPLLAAHH UUNNTTUUKK MMUUDDIIKK udah merupakan suatu kebiasaan yang mentradisi di ka-langan masyarakat kita, dimana pada saat- saat menjelang Idul Fithri, mereka sibuk mempersiapkan diri untuk mela-kukan mudik lebaran, utamanya bagi mereka yang tinggal di perantau-an, sehingga moment Idul Fithri merupakan kesempatan terbaik untuk pulang kampung guna mempererat kembali hubungan kekeluargaan yang barangkali sudah lama kurang terjalin, atau untuk melepaskan be-ban kerinduan dengan sanak keluarga yang sudah berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun terpendam. Saat merayakan Idul Fitri inilah merupakan saat yang tepat untuk kumpul keluarga. Sebab biasa-nya pada Idul Fithri tersebut seluruh keluarga yang berada di perantau-an pada pulang kampung semua. Bagi kite yang tengah tinggal di perantauan, mudik lebaran me-rupakan sesuatu yang penting dan merupakan salah satu bagian kebu-tuhan kita. Karenanya tidak mustahil untuk kepentingan ini jauh-jauh hari sudah kita persiapkan, terutama yang berkenaan dengan penyediaan sejumlah dana, misalnya dengan cara menabung sedikit demi sedikit. Bahkan demi untuk kepentingan mudik lebaran, ada yang rela menjual barang-barang berharga atau barang-barang apa saja miliknya, yang penting ia bisa mudik. Ada juga yang menjelang akhir Ramadhan, mere-ka kerja keras cari duit, sehingga waktu yang ada nyaris habis tak ber-sisa. Pendeknya, banyaklah tindakan yang dilakukan dalam upaya mem-persiapkan untuk mudik lebaran. Kesempatan mudik dalam satu kali setahun pada Idul Fithri ini, 162 oleh segenap keluarga di kampung halaman terhadap keluarga pemu-dik, merupakan saat yang ditunggu-tunggu dan tentu sangat membaha-giakan, terlebih-lebih bagi orangtua yang menanti anak- anaknya.S 27
  • 92. 92 Mudik lebaran sering dijadikan barumeter keberhasilan seseo-rang. Kalau sipemudik kelihatan mentereng, badannya gemuk, penuh senyum di wajahnya dan oleh-olehnya banyak, maka sipemudik diang-gap sukses di perantauan. Sebaliknya, kalau sipemudik kelihatan kumal, badannya kurus, nampak muram di wajahnya dan oleh-olehnya sedikit, bahkan tak bawa oleh-oleh sedikitpun, maka sipemudik dianggap terlan-tar di perantauan. Penilaian ini tentu tidak terlalu benar dan tidak pula salah, sebab menilai keberhasilan seseorang tidak bisa hanya dilihat dari segi penampilan semata. Disamping itu, seseorang yang akan mu-dik lebaran, biasanya akan berusaha semaksimal mungkin agar mudik lebaran nanti tidak mengecewakan keluarga, walaupun sebenarnya di rantau orang ia tidak begitu beruntung. Alangkah senangnya seseorang yang apabila mudik lebaran su-dah siap segala sesuatunya dan disambut oleh sanak keluarga dengan penuh suka cita dan senyum kebanggaan. Sebaliknya, alangkah mende-ritanya seseorang yang apabila mudik lebaran belum mempunyai perbe-kalan yang cukup dan memadai, sehingga ia disambut oleh sanak kelu-arga dengan sejumlah tanda tanya dan kekecewaan bahkan tudingan yang menyakitkan. Puasa Ramadhan yang sedang kita jalankan ini, merupakan se-buah upaya dalam rangka menggapai derajat taqwa, untuk bekal kita di akhirat nanti, sebab taqwallah merupakan sebaik-baik bekal untuk mudik ke alam baqa Kelak. Firman Allah SWT. : 163 ¾½¤c«[u[|«[zÀr²Ÿ[¼u¼|b¼ “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa” (QS.Al-Baqarah ayat 197). Surah Al-Ghasyiyah yang sering dibaca oleh Imam pada saat shalat Jum’at dan Idul Fithri di rakaat yang kedua, dalam surah ini diceri-takan tentang keadaan manusia ketika kembali (mudik) kepada Tuhan : °¸^n´À¬—²[°f °¸^¿[Ô´À«[²[ “Sesungguhnya kepada Kamilah tempat kembali mereka , kemudian se-sungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka” (QS. Al-Ghasyiyah ayat 25 dan 26). Di dalam Al-Qur’an, tidak kurang dari 16 kali Allah SWT. mengi-ngatkan kepada kita bahwa, “Dialah tempat kembali kita semua”. Kalau pada lebaran nanti, kita semua pada pulang ke kampung, menemui orang-orang yang kita sayangi, sanak saudara handai tolan, dengan membawa beban berat berupa oleh-oleh untuk diberikan kepa-da mereka. Kita berangkat dengan menggunakan kendaraan darat, laut maupun udara dengan perasaan suka cita, menempuh perjalanan jauh dan cukup melelahkan, dan ini kita lakukan hampir setiap tahun, setiap menjelang Idul Fithri. Pernahkah kita menyadari bahwa, setiap saat, suka maupun tidak, jika sudah sampai waktunya, kita harus
  • 93. 93 mudik ke kampung halaman yang abadi, menemui Allah yang kita cintai, dengan membawa beban berat berupa amal baik dan amal jahat, yang keduanya 164 akan kita persembahkan ke khadirat Allah SWT. untuk diperiksa dan di-berikan ganjaran yang setimpal, dengan titik finish ke Sorga atau Nera-ka. Setiap saat ketika maut menjemput kita, siap tidak siap, kita harus pergi tanpa kembali, dengan mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan menuju aalam akhirat, alam keabadian. Stasion pertama kita adalah kematian. Allah SWT. menjelaskan kepada kita, dua macam bentuk kematian bagi manusia yang taqwa dan yang durjana sebagai-mana firman-Nya : ©^yÅ«[Á˜jy[ »´Ï°°«[ ´«[¸c¿Ô¿ Á¬ru[¼ ¾u_—ÁŸÁ¬ruŸ »À‹z¯»À‹[y Ác´j “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam jamaah hamba- hamba-Ku dan masuklah ke dalam Sorga-Ku” (QS. Al-Fajar ayat 27-30). °¸·½j¼²½^zŒ¿»¨Ï¬°«[°¸cŸ½b[w[¡À¨Ÿ ã[‘s~[Ô¯[½˜_b[°¸³^©«w °·y^u[¼ °¸«°—[‘_nŸ ¹³[½‹y[½·z§¼ “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut 165 mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengi-kuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa-apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka” (QS. Muhammad ayat 27-28). Dari stasion kematian, kemudian perjalanan dilanjutkan hingga sampai ke stasion hari kebangkitan, saat mana kita dibangunkan dari alam kubur. Firman Allah SWT. : °¸^yÅ«[e[vj×[µ¯°·[wŸy½ˆ«[ÅŸt ³¼ ²½¬´¿ “Dan ditiup sangkakala, tiba-tiba mereka (bangkit) dari kubur dan akan bersegera kepada Tuhan mereka” (QS. Yasiin ayat 51). Stasion terakhir, merupakan stasion penentu, adalah pada saat penghisaban, yang dari hasil penghisaban ini diambil putusan untuk me-nemtukan balasan yang akan diterima, Sorga atau Neraka. Dan inilah tempat mudik kita yang terakhir.
  • 94. 94 Kita sudah bekerja sepanjang tahun, mengumpulkan uang yang sebagiannya kita gunakan untuk biaya mudik lebaran, yang mungkin ha-nya berlangsung beberapa hari di kampung halaman. Sekarang timbul pertanyaan, Sudahkah kita mempersiapkan segala bekal untuk mudik ke alam baqa, yang waktunya tidak terhingga? Kita sudah bekerja puluhan tahun, menghabiskan masa muda kita untuk hari tua nanti. Sudahkah kita persiapkan bekal kita di dunia ini untuk bekal di akhirat nanti?. 166 KKEEMMBBAALLII KKEEPPAADDAA FFIITTHHRRAAHH dul Fithri yang sebentar lagi kita rayakan, merupakan hari kemenagan ummat Islam, karena telah selesai melaksanakan perintah Allah berpuasa di bulan Ramadhan. Dengan merujuk hadits Rasulullah SAW. yang menyatakan bah-wa apabila ibadah puasa dilaksanakan dengan baik, maka akan diam-puni oleh Allah SWT. segala dosa-dosa yang telah lalu, artinya dengan berpuasa yang baik, kita akan dikembalikan ke fithrah semula. ¹«z › ^cn[¼ ³°¿É ²Œ¯y ¯‡µ¯ ¹_³wµ¯ ¯v¤b¯ “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah SWT. akan diampuni dosa- dosanya yang terdahulu” (HR. Ahmad dan Ash-habussunan dari Abu Hurairah). Istilah kembali kepada fithrah dicetuskan, karena memang pada asal muasalnya ke hadiran manusia ke permukaan bumi ini adalah fith-rah, suci. Dari kesucian inilah manusia mengawali kehidupannya di dunia ini yang terus berlangsung hingga sampai ke penghujung akhir hidup-nya. Dalam perjalanan hidup manusia, walaupun ia berangkat dari dasar kesucian, dalam perjalanan kehidupannya tidak mustahil 167 seseorang terpercik lumpur kemaksiatan, tersandung kerikil dan batu cadas kemungkaran dan sebagainya, sehingga kesuciaan dirinya terno-da oleh kotoran-kotoran tersebut. Sebab dalam kondisi kehidupan se-perti sekarang ini yang semakin berat dan konflik, bisa saja membuat seseorang lalai dan menyimpang dari ketentuan Allah. Desakan ekonomi, sulitnya mencari pekerjaan, dapat menjadikan lemahnya iman seseorang, sehingga antara halal dan haram seolah-olah tidak ada pem-batas yang jelas lagi. Karena tuntutan kebutuhan dan kemajuan zaman, kita sadari maupun tanpa kita sadari, mungkin kita sudah terseret oleh arus zaman, sehingga apa yang seharusnya dijauhi, terpaksa didekati. Apa yang seharusnya dibenci, terpaksa disukai. Akhirnya, jadilah manu-sia penuh noda alias tidak suci lagi. Prilakunya sudah menyimpang dari fithrah kemanusiaan. Ia bahkan laksana binatang yang rela memangsa sesamanya. Ia menjadi teman Iblis dan Syetan yang berjalan di permu-kaan bumi dengan angkuh dan sombong, takabbur dan bengis. Hatinya menjadi keras sekeras batu ampar di dasar bumi dan jauh dari rasa ka-sih sayang terhadap sesama. Kehidupannya sudah mulai melupakan Tuhan I 28
  • 95. 95 dan mengabaikan Sunnah Nabinya. Kalau sudah begini keadaan- nya, ia sudah berada jauh dari fithrah semula. Oleh karenanya, sebelum terlambat, marilah kita bersegera kembali kepada fithrah. Kehidupan manusia didasarakan atas tiga fithrah, yaitu fithrah ber-Tuhan, fithrah penciptaannya dan fithrah bersosial. Menurut Al-Qur’an, menjelang seorang bayi lahir ke dunia ini, ia sudah ditanamkan naluri ke-Tuhanan. Firman Allah SWT. : °·y½¸“µ¯¯u[Á´^µ¯©^yxr[w[¼ d«[ °¸ ³[Ŭ—°·v¸ƒ[¼ °·d¿yw 168 ³v¸ƒÅ¬^ [½«£ °¨^z^ “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak- anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menja-wab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf ayat 172). Merupakan fithrah manusia bahwa ia diciptakan Allah paling sempurna dan paling mulia, dibandingkan dengan makhluk yang lain. Firman Allah SWT. : °¿½¤bµn[ÁŸ²³×[´¤¬rv¤« “Sungguh telah Kami ciptakan manusia sebaik-baik bentuk” (QS. At-Tiin ayat 4). z_«[ÅŸ°¸´¬°n¼ ¯u[Á´^´¯z§v¤«¼ °¸´¬ŒŸ¼ d_À«[µ¯ °¸´£{y¼ zo_«[¼ ØÀŒ b´¤¬rµ°¯zÀg§Å¬— “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang ba-ik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra’ ayat 70). 169 Tak seorangpun manusia di dunia ini yang dapat hidup sendiri-an. Merupakan fithrahnya bahwa manusia memerlukan orang lain untuk melakukan interaksi, sosialisasi dan komunikasi. Manusia sejak lahir hingga meninggal dunia selalu hidup di dalam masyarakat. Aristoteles menegaskan bahwa makhluk hidup (manusia) yang tidak hidup di dalam masyarakat, ia tak obahnya laksana Malaikat atau seekor hewan. Sehubungan dengan fithrah bersosial ini, Allah berfirman : Åg³[¼z§wµ¯°¨´¤¬r³[}´«[¸¿Ô¿ [½Ÿy˜c«−ÎÔ_£¼^½˜ƒ°¨´¬˜j¼
  • 96. 96 “Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal” (QS.Al-Hujurat ayat 13). Perjalanan hidup kita sebagai manusia hendaknya tidak lepas dari ketiga fithrah tersebut. Apabila kita lalai atau kurang perhatian, bisa berakibat keluar dari fithrah. Seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan, ia akan menjadi atheis. Suatu ketika seseorang mulai meng-abaikan akan harkat dan martabat kemanusiaannya, sehingga terkadang berbuat dzalim kepada orang lain atau melakukan tindakan di luar batas kemanusiaan (tidak manusiawi), maka derajat kemanusiaannya turun ke derajat binatang. Firman Allah SWT. : ²½¬ œ«[°·©Ï«¼[−‹[°·−^ ¯˜³×§©Ï«¼[ 170 Sebagaimana fithrah kejadiannya, disamping punya kelebihan, manusia terlahir dengan memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Untuk menutupi kekurangan dan kelemahan ini, kita membutuhkan orang lain yang ada di sekitar kita. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dengan kehidupan manusia lainnya, bahkan makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Semoga dengan menjalankan ibadah puasa, kualitas iman kita semakin bertambah, mentalitas akhlak kita semakin mantap, dan seba-gai buah dari iman yang kuat dan akhlak yang terpuji ini, akan mema-nenkan perbuatan yang baik, perbuatan amal shaleh serta suka tolong menolong, bersikap ramah, rendah hati dan santun terhadap sesama. Jika hasil puasa membuahkan sikap dan prilaku yang seperti ini, maka tidak mustahil ibadah puasa kita dapat mengantarkan kita kepada kefithrahan yang hakiki dan utuh, sehingga di hari lebaran nanti kita benar-benar kembali kepada fithrah, kembali kepada kesucian. 171 RREENNUUNNGGAANN DDII PPEENNGGHHUUJJUUNNGG RRAAMMAADDHHAANN udah hampir satu bulan kita berpuasa, menahan lapar dan dahaga, mengendalikan nafsu dan panca indera, me-nundukkan hati dan pikiran, memperbanyak ibadah dan meningkatkan sabar. InsyaAllah puasa kita tidak sia-sia. Sebab, tidak pernah diragukan S 29
  • 97. 97 lagi bahwa apabila bulan Ramadhan dengan segala keistimewaannya ini, kita manfaatkan dengan baik pasti menghasilkan sesuatu yang maksimal. Seperti yang kita ketahui bahwa diwajibkannya puasa Rama-dhan adalah dalam rangka mencapai predikat taqwa. Kenapa predikat ini yang akan dicapai? Karena taqwa inilah yang dapat mengantarkan sese-orang memasuki Sorga-Nya. Firman Allah SWT. : À¤b²§µ¯³u_—µ¯ey½³Åc«[d´k«[©¬b “Inilah Sorga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang se-lalu bertaqwa” (QS. Maryam ayat 63). Jadi, apabila bulan Ramadhan ini kita manfaatkan dan kita la-yani dengan baik, maka insyaAllah predikat muttaqien sekaligus meraih Sorga akan dapat kita peroleh. Rasulullah SAW. bersabda : ¹¬rv¿× ²¿z«[¹«ª¤¿ ]^»´k¬« 172 ²½°Îˆ«[×É “Sorga itu mempunyai pintu yang dinamakan Rayyan. Tidak akan mema-sukinya kecuali orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Predikat muttaqien sekaligus meraih Sorga adalah gelar ter-tinggi di dalam Islam. Untuk meraihnya diperlukan beberapa jenjang yang harus dilewati sebelumnya, yaitu : 1. Penguasaan terhadap Islam, diperoleh gelar Muslim; 2. Penguasaan terhadap Iman, diberi gelar Mu’min; 3. Penguasaan terhadap Ihsan, memperoleh sebutan Muhsin dan; 4. Penguasaan terhadap Ikhlas, diberi julukan Mukhlis. Setelah empat gelar ini menyatu dalam realitas hidup dan kehidupan se-seorang, barulah Muttaqien dapat diraih. Muttaqien secara singkat dan sederhana berarti orang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sedikit agak rinci. Muttaqien itu dapat pula kita katakan adalah orang yang imannya 24 karat atau 100%. Tidak melakukan hal-hal yang syirik. Tidak melaku-kan perbuatan maksiat. Jujur dan benar dalam ucapan dan bertingkah laku terpuji dalam setiap aktivitas hidup dan kehidupan. Sebagai ilustrasi, barangkali ada baiknya kita ungkap satu riwa-yat, dimana suatu ketika di zaman Khalifah Umar bin Khatthab r.a. beliau bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menghalau kam-bing di padang rumput. Kepada anak gembala tersebut Umar 173 menanyakan siapa pemilik kambing-kambing tersebut. Sang anak menja-wab dengan jujur bahwa kambing-kambing tersebut adalah milik maji-kannya. Kemudian Umar mencoba menawarkan jasa untuk membeli kam-bing tersebut barang satu ekor. “Sudilah kiranya wahai anak muda kamu menjualnya kepada saya satu
  • 98. 98 ekor saja”, kata Umar. Sang anak menja-wab, “Ma’af, saya tidak bisa melakukannya, kecuali jika tuan berhubung-an langsung dengan majikan saya”. Umar terus membujuknya, “Kan ti-dak apa-apa. Cuma satu ekor kok. Lagi pula, majikanmu tidak akan me-ngetahuinya. Bilang saja nanti, kambing tersebut telah dimakan srigala”. Mendengar bujukan Umar ini, sang anak terdiam, dan ia nampak berpi-kir. Ia berpikir bukan mau menjual kambing tersebut, atau mengguna-kan kesempatan di dalam kesempitan. Tetapi ia berpikir dan bingung terhadap sikap Umar yang menurutnya tidak pantas diucapkan oleh orang yang percaya kepada adanya Tuhan. Akhirnya sang anakpun balik bertanya kepada Umar, “Kalau begitu”, katanya. : Di mana Allah berada? Iã[µ¿ÈŸ Begitulah gambaran sikap dan pendirian seorang Muttaqien se-jati. Punya kesempatan untuk mendapatkan keuntungan duniawi, ia tidak mau melakukannya, karena ia tahu dan sadar bahwa hal ini bukan haknya. Di dalam menempuh perjalanan hidup dan kehidupan ini, seo-rang Muttaqien senantiasa tidak pernah sunyi dari berbagai rintangan, halangan dan tantangan. Terkadang seorang Muttaqien bisa tegar menghadapinya. Tetapi ia juga tidak jarang nyaris tergelincir, karena tak sanggup mengahadapi berbagai tantangan dan cobaan hidup ini. Pang-gung sejarah telah membuktikan bahwa Muttaqien sejati selalu tegar terhadap cobaan apa saja. Tantanagan kemunsyrikan , tantangan 174 kemaksiatan, tantangan kedzaliman dan tantangan demi tantangan la-innya tak pernah menggoyahkan mereka. Lihatlah Ibrahim a.s. ketika belasan tahun sudah berhadapan dengan kemusyrikan dan kedzaliman. Demikian juga Musa a.s. masih muda belia sudah berhadapan dengan kemusyrikan dan kemaksiatan di bawah panji-panji Fir’aunisme. Terakhir Rasulullah Muhammad SAW. telah membuktikan keunggulannya mengha- dapi kemusyrikan, kemaksiatan dan kedzaliman di bawah panji- panji Qu-raisyiyah, seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu-abu lainnya. Ibrahim a.s Musa a.s dan Muhammad SAW. adalah tiga profil anak manusia yang Al-lah jadikan mascot atau contoh terbaik Muttaqien sejati. Bila kita lihat realitas kehidupan sekarang ini, maka apa yang telah di hadapi oleh Ibrahim a.s. Musa a.s. dan Muhammad SAW. nam-paknya juga kita hadapi sekarang ini. Malah mungkin porsinya sudah le-bih besar dan bervariasi. Tantangannyapun mungkin sudah sangat konf-lik dan sulit dikenali. Rupanya memang sudah sunnatullah, dimana seo-rang Muttaqien berada, baik perorangan maupun kelompok/masyarakat mereka selalu diuji dan diuji. Tantangan kemusyrikan hari ini, malah mungkin sudah lebih be-sar skalanya jika dibandingkan dengan zamannya Ibrahim a.s. Demikian juga tantangan kedzaliman dengan berbagai manivestasinya mungkin lebih hebat daripada zamannya Musa .as. Kemaksiatan apalagi, judi de-ngan berbagai alasan dan variasinya, pencurian dengan berbagai dalih dan tekniknya. Perzinahan dengan berbagai momentumnya. Pelanggar-an adat dan hukum kemasyarakatan, kriminalitas dan sebagainya, volu- menya mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan zamannya Muhammad SAW. Melihat kenyataan-kenyataan ini, maka
  • 99. 99 Muhammad Quthb menulis dalam bukunya “Jahiliyah abad 20” dalam pengantarnya beliau menulis bahwa : 175 Jahiliyah modern adalah jahiliyah ilmiah yaitu jahiliyah yang lahir dari hasil penelitian, studi dan berbagai pandangan teori; Jahiliyah modern adalah suatu tatanan yang berakar mendalam, yang muncul dari kemajuan material yang dibanggakan, kekua-saan dan kekuatannya, kesombongan dan keangkuhannya; Jahiliyah modern adalah jahiliyahnya kedengkian yang diatur, dipelajari, dicernakan dan diarahkan untuk menghancurkan ma-nusia atas dasar dan azas ilmiah; Jahiliyah modern adalah jahiliyah yang lebih luas, lebih ganas dan lebih kejam; Jahiliyah modern adalah jahiliyah yang tak ada tolok banding-nya dalam sejarah; Di tengah-tengah dunia seperti inilah sekarang kita berada dan kita berkiprah. Menghadapi berbagai tantangan, apapun corak dan ragamnya. Betapapun hebat dan dahsyatnya, sebagai seorang Muttaqien tentu kita harus menghadapinya dengan segala daya dan upaya. Kita jawab segala tantangan dengan kata-kata dan bahasa yang kita miliki. Kita belokkan kemusyrikan dengan ketauhidan. Kita palingkan kemaksiatan kepada ke-taatan. Kita arahkan berbagai kejahatan, kedzaliman kepada kebaikan. Dan inilah tugas suci yang diperintahkan Allah kepada kita, karena kita adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk tugas yang satu ini, yaitu amar ma’tuf nahi mungkar. Firman Allah SWT. : ²¼z¯Èb }´¬«djzr[»¯[zÀr°c´§ ²½´¯Ìb¼ z¨´°«[µ—²½¸´b¼ ¼z˜°¬^ 176 ã^ “Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman ke-pada Allah” (QS. Ali Imran ayat 110). Ramadhan sebentar lagi akan berlalu dan meninggalkan kita. Kemudian syawwalpun akan menjelang kita. Ramadhan berarti seluruh dosa kita telah terhapus dan terbakar. Syawwal berarti peningkatan. Sei-rama dengan itu, marilah kita songsong masa depan dengan meningkat-kan segala daya dan upaya, segfala usaha dan dana, segala pikir dan dzikir serta kekuatan- kekuatan lainnya, dan mari kita arahkan semuanya demi kepentingan Islam dan kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai ini.
  • 100. 100 177 MMAAKKNNAA BBEERR HHAARRII RRAAYYAA dul Fithri bermakna kembali kepada fithrah, kembali kepada kesucian, seperti seorang bayi yang baru lahir. Setelah Idul Fithri nanti (pada bulan-bulan berikutnya), kita hendaknya tetap menjaga dan memeliha kesucian tersebut. Janganlah setelah Idul Fithri nanti kita kotori lagi jiwa kita dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia, yang tidak bermanfaat, yang mubadzir, terlebih-lebih perbuatan yang melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Jangan setelah puasa Ramadhan usai, seperti ayam yang lepas kandang, setelah dikurung satu bulan, begitu dilepas sepuas-puasnya memperturutkan hawa nafsu. Jadikanlah Idul Fithri sebagai penyempurna ibadah puasa kita. Sebab hikmah berpuasa di bulan Ramadhan tidaklah akan sempurna, kecuali kalau kita mampu mengikutsertakan fakir miskin dan anak yatim dalam makan dan minum, sebagaimana kita telah mengikuti mereka da-lam lapar dan haus selama satu bulan di bulan Ramadhan. Kita harus bersama mereka, baik disaat duka maupun suka. Jadikanlah Idul Fithri nanti sebagai hari perjumpaan sesama hati, baik yang kaya maupun yang tak punya, baik para pejabat maupun rakyat biasa. Jadikanlah Hari raya nanti sebagai hari persaudaraan um-mat, karena antara mu’min yang satu dengan yang lainnya adalah bersaudara : º½r[²½´¯Ì°«[°³[ 178 “Sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara” (QS. Al-Hujurat ayat 10). Ibadah puasa yang tengah kita jalankan ini hendaknya mampu menjadi generator atau daya penggerak semangat membangun ummat, dengan prinsip persatuan. Kita ucapkan takbir, tahlil dan tahmid di Hari Raya nanti secara bersama-sama , menunjukkan perasaan hati yang satu, senasib sepe-nanggungan bagi kita semua. Perasaan yang membekas, ikatan jiwa yang memberikan daya penggerak, yang mampu memperindah suasana, mempersegar dan memberikan kenyamanan serta memberikan rasa aman dan tenteram bagi segenap insan beriman. Oleh karena itu, sebagai aplikasi dari perasaan senasib sepe-nanggungan ini maka di Hari Raya nanti, marilah kita berbagi I 30
  • 101. 101 suka kepa-da saudara-saudara kita yang miskin papa tak berharta. Janganlah memberikan makanan dan minuman kepada anak-anak kita, sementara anak-anak tetangga tak mempunyai makanan dan minuman sedikitpun. Hendaklah kita sadar, bahwa sesungguhnya pakaian baru dan mahal-mahal yang dikenakan oleh anak-anak kita, yang kita anggap sebagai pakaian kebanggaan itu, sesungguhnya bukanlah pakaian Hari raya, ka-lau di kiri kanan tentangga kita masih banyak yang menderita. Masih banyak anak- anak mereka yang tak punya pakaian baru buat ber Hari Raya. Memang kalau dibandingkan dengan gajah, burung pipit akan menjadi seperti semut. Tapi burung pipit akan menjadi seperti gajah, bila bergandengan dengan semut. Maksudnya, untuk menolong orang lain tidak harus menunggu kaya terlebih dahulu. Asal kita punya kelebihan, kita harus menolong orang lain yang berkekurangan. Ingatlah, bila kita 179 mampu memberikan kebahagiaan kepada saudara-saudara kita berupa bantuan material, maka insyaAllah Allah akan membahagiakan kita dengan pemberian-Nya yang tak terduga- duga. Idul Fithri yang sebentar lagi akan kita rayakan, hendaknya juga kita jadikan peluang kesempatan yang baik untuk menjalin hubungan persahabatan dengan cara saling kunjung mengunjungi sambil saling maaf memaafkan. Mungkin pada masa-masa yang lalu hubungan kita kurang lancar, kurang terjalin baik, karena mungkin disebabkan kesi-bukan-kesibukan yang menyita waktu, atau karena terjadi kesalahpa-haman sehingga mengakibatkan terjadinya konflik, maka pada moment Idul Fithri nanti kita jadikan ajang untuk saling maaf memaafkan dan menjalin hubungan kembali. Firman Allah SWT. : −_o^×[Ó½ ¤f¯µ¿[»«x«[°¸À¬—d^z‹ }´«[µ¯−_n¼ ã[µ¯ “Ditimpakan kehinaan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali bila mereka merawat hubungan dengan Allah dan hubungan de-ngan sesama manusia” (QS. Ali Imran ayat 112). Kalau hubungan dengan Allah tidak terpelihara dengan baik, demikian juga hubungan sesama manusia, maka ia telah tenggelam dalam kehancuran, yang berakibat meluas hingga dapat menghancurkan moralitas ummat. Oleh kerena itu, marilah kita jalin silaturrahmi dengan baik dan kokoh melalui moment Idul Fithri nanti. 180 BBAAHHAANN RRUUJJUUKKAANN Al-Ghazali, Imam, Rahasia Puasa dan Zakat, Kharisma Bandung, 1996; Abu bakar Aceh, Prof.Dr. Sejarah Al-Qur’an, Ramadhani Solo, 1986;] Arwanie Faishal, Ramadhan, Puasa, Lailatul Qadar, I’tikaf, Fikahati Aneska, jakarta, 1993;
  • 102. 102 Abdullah Syahatah, Dr. Dkk. Mengapa Ibadah Puasa Diwajibkan, Bulan Bintang Jakarta, 1976; Ali Ath-Thontowi, Menemukan Lailatul Qadar, Pustaka Progressif Surabaya, 1993; Aspihan Djarman, Drs. H. Panggilan Allah Kepada Orang-orang Yang Beriman jilid 1 dan 2, Kalam Mulia Jakarta, 1994; A. Chodri Ramli, Risalah Puasa Ramadhan, Hukum-hukum Puasa dan Hikmahnya, Pustaka Progressif Surabaya, 1985; Achmad Sunarto, Kumpulan Khutbah Jum’at Sepanjang Masa, Pustaka Amani Jakarta; ------------------- Khuthbah Pedomn Muslim, Pustaka Amani Jakarta,1991; Abu Faris, Himpunan Khutbah Jum’at Teladan, Pustaka Amani Jakarta, 1991; 181 Ahmad Solihin, H.dkk, Khuthbah Pilihan “Akhlak”, Sinar Baru Algensindo Bandung, 1996; Artani Hasbi, Drs.H.dkk, Membentuk Pribadi Muslim (Jilid 1 dan 2), Bina Ilmu Surabaya, 1987; Abu H.F Ramadhan, BA. Tarjamah Duratun Nasihin, Mahkota Surabaya, 1987; Ahmad Al-Adawiy, Muhammad, Pedoman Juru Da’wah, Pustaka Amani Jakarta, 1993; Anwar Harjono, Dr. Da’wah dan Masalah Sosial Kemasyarakatan, Media Da’wah Jakarta, 1987; Akhyar Rosyidi, Warisan Tokoh-tokoh Muslim, Bintang Pelajar Surabaya, 1994; Ahmad Azhar Basyir, MA. Keluarga Sakinah Keluarga Surgawi, Titian Ilahi Press Yogyakarta, 1994; Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, Bina Ilmu Surabaya, 1979; Aserani Kurdi, S.Pd, Petunjuk Jalan Lurus (Kumpulan Bahan Kultum Praktis), Media Da’wah Jakarta, 1997; Abu Muslim, Mengintip Misteri Malam Kemuliaan, Indah Surabaya, 2000; A. Musta’in Syafi’ie, Drs.KH.MA. Mutiara Hikmah Al-Qur’an Tafsir Al-Qur’an Aktual, Al-Mawardi Prima Jakarta, 2001 182 Abdullah bin Jarullah, Ed. Fenomena Syukur (Berdzikir dan Berpikir), Risalah Gusti Surabaya, 1996; Asma’ Umar Hasan Fad’aq, Mengungkap Makna dan Hikmah Sabar, Lentera Jakarta, 1999; Bey Arifin, H. Hidup Sesudah Mati, Kinta Jakarta, 1994; Didin Hafidhuddin, KH. M.Sc. et al. Ramadhan Bulan Seribu Bulan, Pustaka Zaman Jakarta, 2000;
  • 103. 103 Ebrahim, Dr.MA. dkk. Jahiliyah Modern, Risalah Bandung, 1986; Imron Abu Amar, Drs. Khutbah Jum’at Populer, Pustaka Amani Jakarta, 1984; Imam Munawwir, Drs. Kebangkitan Islam Dari Masa Ke Masa, Pustaka Proggressif Surabaya, 1980; Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqih Muslimah, Pustaka Amani Jakarta, 1994; Kariman Hamzah, Islam Berbicara Soal Anak, Gema Insani Press Jakarta, 1991; Lukman Saksono, Ph.D Minst.PM. Jalan Pintas Meraih Gelar, Al- Ma’arif Bandung, 1988; LEMHANAS, Disiplin Nasional, Balai Pustaka Jakarta, 1997; 183 M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Prof.Dr. Pedoman Puasa, Bulan Bintang Ja-karta, 1963; M. Farid Anwar, BA. Himpunan Khutbah Jum’ah, Amin Surabaya, 1986; Moh. Rifa’i, H. Risalah Jum’at, Wicaksana Semarang, 1988; Mustafa Mahmoud, Dr. Rahasia Al-Qur’an, Media Idaman Surabaya, 1989; Muhammad Qutb, Salah Paham Terhadap Islam, Pustaka Salman ITB. Bandung, 1982; M.S. Khalil, Drs. Kunci Untuk Mencari Ayat Al-Qur’an, Bina Ilmu Surabaya, 1984; Masrap Suhaemi, A.H.dkk. Terjemah Bulughul Maram, Al-Ikhlas Surabaya, 1993; Muhammad bin Abdul Aziz Al-Khudhairi, Sabar, Darul Haq Jakarta, 2001; M. Baharun, Sorotan Cahaya Ilahi, Pustaka Progressif Surabaya, 1995; Naparin, Husin, MA. Bunga Rampai Dari Timur Tengah Jilid 1 dan 2, Bina Ilmu Surabaya, 1989; Nasruddin Razak, Drs. Dienul Islam, Al-Ma’arif Bandung, 1982; Nurcholis Madjid, Dr. Dkk. Puasa Titian Menuju Rayyan, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2000; 184 Rahman, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kesehatan, Al-Mawardi Prima Jakarta, 2000; Ramlan Mardjoned, H. I’tikaf dan Lailatul Qadar, Media Da’wah Jakarta, 2000; Rusli Amin. KH. MA. Rumahku Surgaku, Al-Mawardi Prima Jakarta, 2001;
  • 104. 104 Syahrin Harahab, Prof.Dr.MA. Nasihat Para Ulama Hikmah Puasa, Srigunting Jakarta, 2001; Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Keistimewaan-keistimewaan Al-Qur’an, Mitra Pustaka Yogyakarta, 2001; Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah jilid 3, Al-Ma’arif Bandung, 1997; Subhi As-Shalih, Dr. Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Pustaka Firdaus Jakarta, 1993; Yunan Nasution, M. Khutbah Jum’at jilid 1, 2, 4 dan 5, Bulan Bintang Jakarta, 1976; Yusuf Al-Qardhawi, Dr. Fiqih Puasa, Srigunting Jakarta, 1997; Zaini Dahlan, MA. Dkk. Dalil-dalil Naqli (Shiyam), Depag RI. 1985; Z.S. Nainggolan, MA. Pandangan Cendekiawan Muslim Tentang Moral Pancasila, Moral Barat dan Moral Islam, Kalam Mulia jakarta, 1997; Dan sejumlah teks khuthbah, artikel dan majalah/tabloid/buletin. 185 RRIIWWAAYYAATT SSIINNGGKKAATT PPEENNYYUUSSUUNN Aserani Kurdi, S.Pd dilahirkan di Barabai-HST. Kal.-Sel. tanggal 03 Februari 1963. Pendidikan formal yang ia tempuh : SDN Seroja Barabai (1977); SMEPN Ga- nesya Barabai (1981); SMEAN Barabai (1984) dan FKIP Unlam Banjarmasin (1993). Selain pendidikan formal, ia juga gemar mengikuti pendi- dikan nonformal berupa penataran, kursus dan diklat. Ilmu- ilmu ke-Islaman ia peroleh melalui berbagai pengajian, be- lajar ke rumah guru, literatur Islam dan berbagai organisasi Islam diantaranya PII (Pelajar Islam Indonesia), IRM (Ikat- an Remaja Muhammadiyah), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan Muhammadiyah. Organisasi yang aktif ia ikuti sekarang adalah Muhammadiyah pada Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Daerah Muham- madiyah Tabalong. Disamping gemar menulis, ia juga aktif dalam da’wah Islamiyah di daerahnya. Karya Tulis yang sudah dan sedang digarapnya antara lain : Apresiasi Juz ‘Amma; Petunjuk jalan Lurus (Kumpulan Bahan Kultum Praktis); Menyingkap Misteri Lailatul Qadar (Sebuah Upaya Pemahaman); Kumpulan Khuthbah Jum’at Pilihan; Kum- pulan Khuthbah Jum’at Tanjung Bersinar yang digarap ber- sama dengan Drs.H.Birhasani (Kabag Sosial PEMDA Ta- balong) dan sejumlah diktat/bahan pelajaran Ekonomi, Ma- najemen dan Asuransi untuk siswa SMK Bisnis Manajemen. Tugasnya kini adalah sebagai Guru pada SMK Negeri 1 Tanjung-Tabalong Kal-Sel. sejak Maret 1994. 186 AAsseerraannii KKuurrddii,, SS..PPdd
  • 105. 105 ÆÆBBzz¿¿iiBBÍÍBBJJYY ii¿¿ MMAARRHHAABBAANN YYAA RRAAMMAADDHHAANN (Kumpulan Bahan Kultum) Sekitar Ramadhan Bahan Praktis dalam Kegiatan Kultum Menjelang Berbuka Puasa, Kultum antara Shalat Tarawih dan Witir, Kuliah Subuh dan Pesantren Ramadhan Cetakan ke 3 Edisi Revisi Oktober 2002 M / Sya’ban 1423 H I Judul : MARHABAN YA RAMADHAN (Kumpulan Bahan Kultum Sekitar Ramadhan) Penyusun : Aserani Kurdi, S.Pd Desain Sampul /Setting/Lay out : Pengetikan : ROLISA Computer Jln. Mabuun Indah II No.34 RT.IV Tanjung Kalimantan Selatan Penerbit/Pencetak : Cetakan : III, Oktober 2002 Edisi Revisi ii Kupersembahkan buat : Almarhum ayah tercinta Haji Kurdi Ibu tersayang Hajjah Djariah Isteri dan anak tercinta Rabiatul Adawiyah, Robby Cahyadi, Lika Amalia Asrini dan Risa Mutia Asrini Para Pendidik Dan Generasi Muslim dan Ummat Islam
  • 106. 106 KKAATTAA PPEENNGGAANNTTAARR 2 lhamdulillah, atas izin Allah SWT. dapatlah tulisan ini dise-lesaikan walau dalam bentuk yang sangat sederhana. Buku yang ada di hadapan anda ini berjudul “MARHABAN YA RAMADHAN (Kumpulan Bahan Kultum Sekitar Ramadhan) merupakan kumpulan tulisan yang berkenaan dengan keutamaan Ramadhan seba-gai bahan dalam Kegiatan Kultum, baik pada saat kegiatan berbuka pua-sa bersama, shalat tarawih dan witir, kuliah subuh dan pesantren Rama-dhan. Pada cetakan yang ke tiga ini, terdapat beberapa perbaikan, tambahan materi dan perubahan tampilan dari cetakan sebelumnya. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang banyak membantu dalam penyelesaian buku ini, terutama kepada Bapak Haji C. Sugiarto, S.E Pimpinan BRI Cabang Tanjung yang telah membantu dalam pendanaan pencetakan buku ini. Juga kepada Tim Penggerak PKK Kabupaten Tabalong yang telah mem-berikan dukungan moril dan materiil dalam pencetakan buku ini. Akhirnya, tegur sapa dari semua pihak demi perbaikan tulisan ini kami haturkan banyak terimakasih. Semoga persembahan kami yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin. Tanjung, 02 Sya’ban 1423 H 09 Oktober 2002 M Penyusun, iii DDAAFFTTAARR IISSII HHAALL :: KATA PENGANTAR ........................................................................... iii DAFTAR ISI ....................................................................................... iv 1. Marhaban Ya Ramadhan ............................................................. 1 2. Konsep Dasar Puasa ................................................................... 6 3. Puasa Dalam Lintasan Sejarah .................................................... 13 4. Puasa Adalah Panggilan Keimanan ............................................. 18 5. Puasa dan Pengendalian Hawa Nafsu ......................................... 22 6. Puasa dan Penyucian Jiwa ........................................................... 29 7. Puasa Menanamkan Kedisiplinan ................................................. 34 8. Tingkatan Puasa .......................................................................... 39 9. Pribadi Muttaqien Yang Diinginkan Puasa ................................... 44 10. Taqwa Sebagai Standar Nilai ....................................................... 51 A
  • 107. 107 11. Nilai Filosufis Puasa Ramadhan ................................................... 57 12. Puasa Sebagai Terapi Psikosomatis ............................................ 63 13. Jejak Puasa Dalam Memperbaiki Masyarakat ............................... 68 14. Puasa Ramadhan Menciptakan Kerukunan Rumah Tangga ......... 76 15. Ajaran Puasa Tentang Kesabaran ................................................ 80 16. Puasa Ramadhan Ditinjau Dari Segi Kesehatan ........................... 86 17. Perintah Membaca Merupakan Inti Nuzulul Qur’an ...................... 92 18. Menyingkap Rahasia Huruf dan Bilangan Dalam Al-Qur’an .......... 98 19. Upaya Ke arah Tadabbur Al-Qur’an ............................................. 104 20. Al-Qur’an Sebagai Peringatan ...................................................... 110 21. Kaitan Nuzulul Qur’an Dengan Lailatul Qadar .............................. 117 22. Mengintai Lailatul Qadar ............................................................... 126 23. Sebuah Pemahaman Tentang Lailatul Qadar ................................ 134 24. Anjuran Ber-I’tikaf di Masjid .......................................................... 141 iv 25. Puasa, Infaq, Shadaqah dan Zakat Fithrah .................................. 146 26. Eksistensi Zakat Dalam Persaudaraan Islam ............................... 153 27. Bersiaplah Untuk Mudik ............................................................... 162 28. Kembali Kepada Fithrah ............................................................... 167 29. Renungan Di Penghujung Ramadhan .......................................... 172 30. Makna Ber Hari Raya ................................................................... 178 BAHAN RUJUKAN ................................................................................ 181
  • 108. 108 V Kepada Yth. Bapak H.ADI BACHRUN Pimpinan Percetakan “SARI MURNI” di- Barabai Assalaamu’alaikum Wr. Wb. Ringkas saja. Kalau cetakan buku “Marhaban Ya Ramadhan (Kumpulan Bahan Kultum Sekitar Ramadhan) yang saya pesan sudah selesai, maka serahkan saja buku ter- sebut kepada yang membawa surat ini, untuk di bawa ke Tanjung. Mengenai sisa biaya cetaknya, insyaAllah akan dilunasi setelah buku ini di pasarkan (sekitar pertengahan puasa nanti). Demikian, atas perhatian dan kerja sama yang baik, saya haturkan terimakasih. Tanjung, 4 Nopember 2002 Wassalaam,
  • 109. 109 Aserani Kurdi

×