Your SlideShare is downloading. ×
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Laporan Pembuatan coffeine dari teh
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Laporan Pembuatan coffeine dari teh

1,779

Published on

Laporan Pembuatan coffeine dari teh

Laporan Pembuatan coffeine dari teh

Published in: Data & Analytics
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,779
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
75
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Pembuatan Coffein dari Teh | 1 Laporan Praktikum COFFEINE Disusun Oleh : Atika Fitria Ningrum (1512032) Sekolah Tinggi Manajemen Industri Jl. Letjen Suprapto No.26 – Cempaka Putih, Jakarta Pusat 10510 Telp : (021)42886064 Ext. 119, 115 dan 107 Fax : (021) 42888206
  • 2. Pembuatan Coffein dari Teh | 2 PEMBUATAN COFFEINE DARI THE  PRINSIP PERCOBAAN EKSTRAKSI,yaitucara pemisahan suatu zat cair dari campurannya (merupakan zat padat atau cair) yang berdasarkan daya larut dalam pelarut tertentu (pelarut sebagai pemisah).  MAKSUD DAN TUJUAN  Untuk Mengetahui Cara Pembuatan Coffeine dari Teh  Untuk Mengetahui Cara Kristalisasi  Untuk Mengetahui Sifat Fisika dan Kimia dari Coffeine  Untuk Mengetahui Cara Ekstraksi Coffein dari Campurannya dalam Teh  LANDASAN TEORI Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Kafein memiliki berat molekul 194,19 gr/gmol dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6,9 (larutan kafein 1% dalam air). Secara ilmiah, efek langsung dari kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung, serta memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia), dan denyut jantung tak beraturan (tachycardia) (Hermanto, 2007). Banyak senyawa nitrogen dalam tumbuhan mengandung atom nitrogen basa dan karena itu dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan itu dengan asam encer. Senyawa ini disebut alkaloid yang artinya mirip alkali. Setelah ektraksi, alkaloid bebas dapat diperoleh dengan pengolahan lanjutan dengan basa dalam air (Khopkar, 2010). Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, tersier atau siklik. Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui, dan alkaloid merupakan golongan senyawa metabolit sekunder terbesar dari tanaman, Tidak ada satupun definisi yang memuaskan tentang alkaloid, tetapi alkaloid umumnya mencakup senyawasenyawa
  • 3. Pembuatan Coffein dari Teh | 3 bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya sebagai bagian dari sistem siklik. Secara kimia, alkaloid adalah golongan yang sangat heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang sederhana seperti coniiene sampai ke struktur pentasiklik strychnine. Banyak alkaloid adalah terpenoid di alam dan beberapa adalah steroid. Lainnya adalah senyawa-senyawa aromatik, contohnya colchicine (Utami, 2008). Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja, karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah (Suparni, 2009). Pada sistem heterogen, reaksi berlangsung antara dua fase atau lebih. Jadi pada sistem heterogen dapat dijumpai reaksi antara padat dan gas, atau antara padat dan cairan. Cara yang paling mudah untuk menyelesaikan persoalan pada sistem heterogen adalah menganggap komponen-komponen dalam reaksi bereaksi pada fase yang sama. Kesetimbangan heterogen ditandai dengan adanya beberapa fase. Antara lain fase kesetimbangan fisika dan kesetimbangan kimia. Kesetimbangan heterogen dapat dipelajari dengan 3 cara : a. Dengan mempelajari tetapan kesetimbangannya, cara ini digunakan untuk kesetimbangan kimia yang berisi gas. b. Dengan hukum distribusi Nersnt, untuk kesetimbangan suatu zat dalam 2 pelarut. c. Dengan hukum fase, untuk kesetimbangan yang umum. Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan aktivitas zat terlarut dalam satu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain diketahui, asalkan kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien distribusi diantaranya: 1. Temperatur yang digunakan. Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat sehingga volume titrasi menjadi kecil, akibatnya berpengaruh terhadap nilai k.
  • 4. Pembuatan Coffein dari Teh | 4 2. Jenis pelarut. Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka akan sangat mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh pada perhitungan nilai k. 3. Jenis terlarut. Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higroskopis, maka akan mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat tersebut), akibatnya mempengaruhi harga k. 4. Konsentrasi. Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga k. Harga K berubah dengan naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga k tergantung jenis pelarutnya dan zat terlarut. Menurut Walter Nersnt, hukum diatas hanya berlaku bila zat terlarut tidak mengalami disosiasi atau asosiasi, hukum di atas hanya berlaku untuk komponen yang sama. Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi, analisis dan penentuan tetapan kesetimbangan. Hukum Distribusi Nernst ini menyatakan bahwa solut akan mendistribusikan diri di antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, sehingga setelah kesetimbangan distribusi tercapai, perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua fasa pelarut pada suhu konstan akan merupakan suatu tetapan, yang disebut koefisien distribusi (KD), jika di dalam kedua fasa pelarut tidak terjadi reaksi-reaksi apapun. Akan tetapi, jika solut di dalam kedua fasa pelarut mengalami reaksi-reaksi tertentu seperti assosiasi, dissosiasi, maka akan lebih berguna untuk merumuskan besaran yang menyangkut konsentrasi total komponen senyawa yang ada dalam tiap- tiap fasa, yang dinamakan angka banding distribusi (D). Teknik ekstraksi, tiga metode dasar pada ektraksi cair adalah : ekstraksi bertahap (batch), ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paing sederhana. Caranya cukup dengan menambahkan pelarut pengektraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. Setelah ini tercapai, lapisan didiamkan dan dipisahkan. Metode ini sering digunakan untuk pemisahan analitik. Kesempurnaan ektraksi akan tergantung pada banyaknya ektraksi yang dilakukan. Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ektraksi yang dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut sedikit-sedikit. Ektraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar. Alat yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong pemisah (Day, 2002).
  • 5. Pembuatan Coffein dari Teh | 5 Ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat dengan pelarut. Ekstraksi menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solut) diantara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih, baik untuk zat organik atau anorganik, untuk analisis makro maupun mikro. Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia, dan anorganik di laboratorium. Alat yang digunakan berupa corong pisah (paling sederhana), alat ekstraksi soxhlet, sampai yang paling rumit berupa alat counter current craig. Secara umum, ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat terlarut dari larutannya di dalam air oleh suatu pelarut lain yang tidak bercampur dengan air. Tujuan ekstraksi ialah memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Proses ekstraksi dengan pelarut digunakan untuk memisahkan dan isolasi bahan- bahan dari campurannya yang terjadi di alam, untuk isolasi bahan-bahan yang tidak larut dari larutan dan menghilangkan pengotor yang larut dari campuran. Berdasarkan hal di atas, maka prinsip dasar ekstraksi ialah pemisahan suatu zat berdasarkan perbandingan distribusi zat yang terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling melarutkan. Perbandingan distribusi ini disebut koefisien distribusi (K). Ekstraksi digolongkan menjadi dua macam ekstraksi yaitu: 1). Ekstraksi jangka pendek atau disebut juga proses pengocokan Hampir dalam semua reaksi organik, dalam proses pemurniannya selalui melalui proses ekstraksi (penarikan senyawa cair yang akan dimurnikan dari pelarut air oleh pelarut organik dengan cara mengocoknya dalam corong pisah). Pelarut organik yang biasa dipakai untuk melarutkan senyawa organik / ekstraksi ialah eter. Hal ini dikarenakan eter merupakan pelarut yang memiliki sifat inert, mudah melarutkan senyawa-senyawa organik, dan titik didihnya rendah sehingga mudah untuk dipisahkan kembali dengan cara destilasi sederhana. Cara ekstraksi ini biasa dipergunakan dalam : Ø Pembuatan ester, untuk memisahkan ester dari pencampurnya. Ø Pembuatan anilin, nitrobenzen, kloroform, dan preparat organik cair lainnya.Bahan yang akan dipisahkan dalam suatu campuran akan terdistribusi diantara pencampurnya dan pelarutnya membentuk dua fasa/lapisan. Dengan demikian ekstraksi jangka pendek merupakan proses pengocokan yang dilakukan dengan menggunakan corong pisah, setelah dikocok dengan kuat dengan mencampurkan pelarut yang lebih baik bila didiamkan larutan akan membentuk dua
  • 6. Pembuatan Coffein dari Teh | 6 lapisan. Cara melakukan ekstraksi jangka pendek (pengocokan) menggunakan corong pisah: 2). Ekstraksi jangka panjang Ekstraksi jangka panjang biasa dilakukan untuk memisahkan bahan alam yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan atau hewan. Senyawa organik yang terdapat dalam bahan alam seperti kafein dari daun teh dapat diambil dengan cara ekstraksi jangka panjang dengan menggunakan suatu alat ekstraksi yang disebut alat soxhlet. (Nurul, 2011). Kafein digunakan pada penyakit tertentu, seperti neuralgia migrain dan terjadi kelelahan, digabungkan dengan anmalgetik seperti aspirin. Dosis yang terlalu besar menyebabkan insomnia, kurang tidur/istirahat dan tokirdodia ( Ahmad, 1992 ). Kafein dari teh kering terdapat 3%, bahan inilah yang menimbulkan rasa nikmat dari teh, pada hakikatnya, kafein menyabar merata pada semua bagian tanaman, tetapi kadarnya berbeda. Daun yang muda banyak mengandung kafein yaitu sebesar 3-4%, sedangkan daun-daun yang ke-5 dan ke-6 mengandung 1,5% serta daun yang paling ujung pangkal mengandung 0,5% kafein 9 Sujarwo, 1964 ). Rumus molekul kafein yang terdapat dalam teh berhubungan dengan asam urie yang ditunjukkan reaksi oksida dengan potasium warat dan asam hidroklit, kafein memberikan dimetialoxan dan molulea dalam basilan molekul yang sama struktur dari produk yang berlebihan dan dikonvemasikan dalam senyawa dimetilurea dan asam meksosalit hidrilisis dan dipertegas sintesis dua susunan ( Firna, 1985).  BAHAN BAKU  Bahan Baku Utama Teh Teh didefinisikan sebagai pohon kecil, tumbuh di alam bebas, daunnya berbentuk jorong atau bulat telur yang pucuknya dilayukan dan dikeringkan untuk dibuat minuman. Teh umumnya tumbuh pada ketinggian 200 – 2300 m. Biasanya tumbuhan teh tumbuh ditempat yang sejuk dan diperbukitan. Daun teh terbagi menjadi dua kelompok Varasamica dari asam dan Varsineosi dari Cina. Perbedaan dari dua kelompok daun teh tersebut adalah dilihat dari bentuk daunya. Untuk kelompok Varasamica daunya besar dan ujung daunnya runcing, Sedangkan kelompok Varasineosi bentuk daunya kecil dan ujungnya tumpul tidak lancip. a. Sifat Fisis dari Teh o Titik didih 80 o C
  • 7. Pembuatan Coffein dari Teh | 7 o Mudah larut dalam pelarut organik o Mempunyai sifat non eksplosit o Kadar karbon rendah o Mengandung coffeine o Berwarna hitam bila sudah dioleh o Berbau wangi b. Sifat Kimia dari Teh o Reaktifitasnya rendah o Dapat dipisahkan dari komponennya dengan metode ekstraksi o Mudah larut dalam air terutama air panas. c. Kegunaan Teh o Sebagai zat anti oksidasi dan bersifat merangsang saraf otak o Sebagai bahan baku minuman penyegar dan untuk menyerap kolesterol  Alkohol Alkohol adalah kelompok senyawa yang mengandung satu atau lebih gugus fungsi hidroksil (-OH) pada suatu senyawa alkana. Alkohol dapat dikenali dengan rumus umumnya R-OH. Alkohol merupakan salah satu zat yang penting dalam kimia organik karena dapat diubah dari dan ke banyak tipe senyawa lainnya. Reaksi dengan alkohol akan menghasilkan 2 macam senyawa. Reaksi bisa menghasilkan senyawa yang mengandung ikatan R-O atau dapat juga menghasilkan senyawa mengandung ikatan O-H. Nama Iupac Alkohol diambil dari nama alkana induknya, tetapi dengan akhiran OL suatu angka awalan. Yang dipilih srendah mungkin digunakan jika digunakan. OH CH3-OH CH3-CH2-CH2-OH CH3–CH–CH3 (Metanol) (1 – Propanol) (2 – Propanol) Gugus OH yang berpioritas lebih rendah diberi nama dengan awalan hidroksil seperti nama dalam contoh.
  • 8. Pembuatan Coffein dari Teh | 8 OH O O CH3 – CH – C - OH HO - CH2 - CH2 - CH (Asam 2 – Hidroksi Propana) (3 – Hidroksi Propanol) a. Sifat Fisis Alkohol o Titik didih 78,3 o C o Alkohol berbobot molekul rendah larut dalam air o Mudah terbakar o Bersifat polar karena mengandung gugus OH o Tidak berwarna ( Jernih) o Hidrokarbon suatu alkohol bersifat hidrofob (menolak molekul – molekul air) b. Sifat Kimia Alkohol o Mudah terbakar o Alkohol adalah asam atau basa yang sangat lemah o Reaksi eliminasi alkohol (CH3)3 COH H2SO4 (CH3)2 C = CH2 + H2O t-butil alkohol Metripropena CH3CH2OH H2SO4(P) CH2 = CH2 + H2O Etanol etana o Oksidasi alkohol Oksidasi alkohol dapat dioksidator oleh oksidator oksidator KmnO4 atau K2Cr2O oksidator dengan K2Cr2O2 atau KmnO4 dalam suasana asam (H2SO4) alkohol primer mula-mula feroksidasi menjadi aldehida dan teroksidasi selanjutnya menjadi asam karboksilat c. Kegunaan Alkhol o Digunakan untuk minuman keras (etanol) o Digunakan sebagai zat pembunuh kuman (2 – propanol) o Digunakan sebagai bahan bakar dan pelarut (metanol) o Alkohol berfungsi sebagai pengikat coffeine dari teh  Natrium Hidroksida (NaOH) NaOH merupakan zat padat higroktis, basah leleh, berwarna putih mudah larut dalam air dan griserol, merupakan elektrolit dan basa kuat.
  • 9. Pembuatan Coffein dari Teh | 9 a) Sifat Kimia Natrium Hidroksida (NaOH) Bereaksi dengan asam (HCl) membentuk garam. NaOH + HCl NaCl + H2O b) Kegunaan NaOH NaOH pada pembuatan Coffeine untuk menjernihkan  Asam Sulfat ( H2SO4) Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak. Merupakan salah satu senyawa terpenting dari belerang dalam teknik asam sulfat dapat dibuat dengan dua cara yaitu : A. Proses Kontak B. Proses bilik / Kamar Timbal Persamaan dari proses diatas adalah menggunakan SO2 sebagai bahan dasar untuk membuat asam sulfat. Dimana SO2 dihasilkan dari pembakaran belerang / pemanggangan pyrit (FES2). Perbedaan keduanya proses ini terletak pemakaia jenis katalisnya. Pada proses kontak digunakan katalisator FE2O3, V2O5, Pt dan pada proses timbal digunakan katalisator gas Mg dan NO2 Belerang adalah zat padat yang pada temperatur kamar melebur 119o C. Fungsi H2SO4 dalam pembuatan Coffeine dari teh adalah untuk mengisolasi Coffeine dari teh. a. Sifat Fisis H2SO4 o Memilki aroma khas yaitu belerang o Bersifat korosif dan bersifat hidrokofis o Berbentuk cair dan berat jenis 1,84 25 /ML , titik didih 240℃ titik leleh 10 ℃ b. Sifat Kimia H2SO4 o Merupakan asam kuat o H2SO4 bersifat encer tidak bereaksi dengan Bi, Hg, Cu, dan logam mulia H2SO4 (encer) + Fe FeSO4 + H2
  • 10. Pembuatan Coffein dari Teh | 10 o H2SO4 pekat dalam keadaan panas akan mengoksidasi logam-logam 2H2SO4 (P) + Cu CuSO4 + SO2 + 2H2O o Merupakan oksidator dengan reduksi terkuat c. Kegunaan H2SO4 o Bahan pembuatan pupuk amonium sulfat o Industri obat o Untuk pembuatan zat warna  Magnesium Oksida (MgO) MgO dibuat dengan cara memanaskan magnosit maupun hidroksinya MgCO3 MgO + CO2 Mg(OH) MgO + H2O MgO dapat dijumpai sebagai mineral periklasa dan dibuat dengan memanaskan magnesium adalah Oksigen atau lewat peruraian garam-garam Mg-nya seperti Mg (OH)2, MgCO3, Mg(NO3)2, MgC2O4 dan garam-garam lain dari asam organik. a. Sifat Fisis Magnesium Oksida (MgO) o Berwarna putih o Bersifat keras dan tahan api o Titik leleh 2800 ℃ b. Sifat Kimia Magnesium Oksida (MgO) o Pijar bila dicampur dengan larutan magnesium klorida, akan membentuk bubur bersifat plastik. o Bersifat basa lemah disebabkan gaya tarik ion-ion oksidanya terhadap proton-proton molekul air.  Chlorofrom (CHCl3) Jika etanol direaksikan dengan Cl2 dan KOH atau dengan CHLOR maka mula-mula etanol dioksidasi menjadi metana. Etana ini kemudian bereaksi dengan Cl2 sehingga terbentuk Trichlorentana atau CCl3-CHO. Dalam lingkungan KOH maka diubah menjadi Kalium Metanoat dan Cholorofrom. CH3-CH2OH + Cl2 CH3-CHO + 2HCl
  • 11. Pembuatan Coffein dari Teh | 11 CH3-CHO + 3Cl2 CHCl3 + HCOOK CCl3 – CHO – KOH CHCl3 + HCOOK Chlorofrom dapat juga dibuat dari asetan Cl3 dan KOH CH3 – CO – CH3 + 3Cl2 CCl3 – CO – CH3 + 3HCl CCl3 – CO – CH3 + KOH CHCl3 + CH3COOK a. Sifat Fisis Chlorofrom (CHCl3) o Suatu zat cair yang manis baunya dan mudah menguap o Mempunyai titik didih 61 ℃ o Jika uap Chlorofrom dihisap maka bersifat membius b. Sifat Kimia Chlorofrom (CHCl3) o Merupakan pelarut organik yang dapat melarutkan Lipida o Tidak larut dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol atau eter c. Kegunaan Chlorofrom (CHCl3) Chlorofrom banyak digunakan sebagai obat bius dan sebagai pelarut organik  PRODUK  COFFEINE Coffeine merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia 1,3,7 – trimetil santina (C8H10N8O2) atau dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air). Zat ini didapatkan pada tahun 1820 oleh Runge Pelletries dan Capentau dari kopi adalah identik dengan tiena dari teh. Coffein merupakan zat alkohol yaitu suatu zat yang dapat membuat orang mabuk. Coffein merupakan senyawa heteroaromatik yang mempunyai unsur nitrogen yang terikat pada gugusan karbonilnya yang mempunyai struktur bangun sebagai berikut: O CH C N CH3 N C C H
  • 12. Pembuatan Coffein dari Teh | 12 C C N O N Kristal Coffein dari larutannya dalam air berupa jarum-jarum bercahaya sutra, bila tidak mengandung air. Coffein mencair pada 236,5o C dan mensublimasi pada temperatur yang lebih rendah. Dalam air panas zat ini mudah larut sedangkan pada air dingin sukar larut. a. Sifat Fisis Coffeine o Merupakan kristal putih berupa jarum-jarum bercahaya sutra o Bila tak mengandung air coffein mencair pada 236,5o C dan menyublimasi pada temperatur rendah o Mudah larut dalam air panas tetapi sukar larut pada air dingin b. Sifat Kimia Coffeine Coffein mudah larut dalam pelarut organik seperti alkohol dan khlorofrom c. Kegunaan Coffeine o Untuk mengiatkan pekerjaan susunan syaraf sentral dan mempertinggi tenaga jantung o Dalam ilmu kedokteran digunakan dalam keadaan bebas dan dalam bentuk senyawa-senyawa rangkap contohnya dengan natrium salisilat
  • 13. Pembuatan Coffein dari Teh | 13  DIAGRAM ALIR PROSES
  • 14. Pembuatan Coffein dari Teh | 14  DESKRIPSI PROSES ALAT DAN BAHAN  Alat – alat yang digunakan : Θ Corong Pemisah Θ Kertas saring Θ Gabus Θ Erlenmeyer hisap Θ Klem Θ Statif Θ Piring porselin Θ Bunzen Θ Pompa vakum  Bahan – bahan yang digunakan : Θ Teh Θ Alkohol Θ MgO Θ H2SO4 Θ Khlorofrom Θ NaOH  PROSEDUR PRAKTIKUM 1. Kedalaman alat ekstraksi dimasukan 50 gr teh dan 200 cc alkohol 2. Proses ekstraksi ini berlangsung selama 2 jam (sampai cairan yang kembali kelabu jernih) 3. Setelah ekstraksi cairan ditambah 25 gram MgO dan dibuat suspensi dalam 150 cc air pada piring porselin 4. Kemudian dipanaskan diatas bonzen hingga suspensi menjadi kering seperti tepung 5. Tepung yang terjadi direbus dengan 250 cc air lalu disaring dengan saringan pengisap 6. Kemudian tepung direbus lagi dengan air 150 cc sebanyak 3x 7. Pada tiap – tiap penuaringan filtratnya dijadikan satu 8. Kemudian dalam cairan ini dimasukan 15% larutan asam sulfat 25 cc dan cairan direbus hingga volumenya mancapai 1/3 dari volume awal
  • 15. Pembuatan Coffein dari Teh | 15 9. Setelah perebusan saring kembali untuk menghilangkan kotoran – kotoran yang masih ada 10. Filtratnya yang didapat dikocok 3 kali dengan khlorofrom setiap 25 cc pemakaiannya 11. Larutan chlorofrom yang akan kuning diberi larutan NaOH encer agar warnanya agak muda 12. Kemudian diteteskan kepiring porselin yang sedang dipanasi diatas bonzen, sehingga didapat kristal coffeine 13. Kristal coffeine yang didapat berupa jarum – jarum putih yang mengkilap, mempunyai 1 mol air kristal dengan titik lebur 236o C dan menyublin pada suhu 180 o C 14. Timbang kristal yang didapat dan hitung rendemen praktisnya. 15. Hasil yang didapat kira – kira 2 gram  RANGKAIAN ALAT PRAKTIKUM  Proses Penyaringan dengan Saringan Penghisap 1 2 3 4 5 6 7 Keterangan Gambar : 1. Corong Pemisah 2. Piring porselin 3. Kakitiga 4. Bonzen 5. Klem 6. Statif
  • 16. Pembuatan Coffein dari Teh | 16  Pemisahan Coffein dari Larutannya Keterangan Gambar: 1. Corong Pemisah 2. Piring Porselin 3. Kakitiga 4. Bonzen 5. Klem 6. Statif
  • 17. Pembuatan Coffein dari Teh | 17  Alat Untuk Ekstraksi Coffein A B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 Keterangan Gambar : 1. Kondensor 2. Klem 3. Soxlet 4. Kertas Saring 5. Hols 6. Labu didih 7. Waterbath / Heater 8. Statif 9. Selang Air Masuk 10. Selang Air Keluar A. Teh didalam hols B. Etanol dan ekstrak
  • 18. Pembuatan Coffein dari Teh | 18  DATA PRAKTIKUM  DATA PENGAMATAN o Tepung yang didapat direbus dengan air 200 ml sampai mendidih kemudian disaring dengan penyaring vacuum pada saat masih keadaan panas (mendidih) dan dilakukan hal sama dengan air sebanyak 150 cc sebanyak 3 x o Filtratnya dijadikan satu dan ditambah 25 ml H2SO4 15 % kemudian direbus hingga volumenya menjadi 1/3 volume awal o Kemudian disaring dengan penyaring vacuum untuk menghilangkan kotoran – kotoran yang masih ada o Dimasukan kedalam corong pemisah dan diberi Chlorofrom 25cc tiap pengocokan sebanyak 3x o Cairan pada lapisan bawah ditampung sedangkan lapisan atas dikocok lagi  DATA PERHITUNGAN  Secara teoritis : Berat kristal coffein = 2gr  Vawal : 200 ml  Hasil praktikum : -Berat cawan + isi = 239,27 gr -Berat cawan kosong = 238,14 gr _ -Berat kristal coffein = 1, 13 gr  Rendemen Coffein = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑢𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠 x 100 % = 1,13 𝑔𝑟 2 𝑔𝑟 x 100 % = 56,5 %
  • 19. Pembuatan Coffein dari Teh | 19  PEMBAHASAN Pada praktikum ekstraksi kafein ini bahan baku yang digunakan adalah teh, karena teh mengandung kafein paling banyak dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya seperti kopi dan coklat. Untuk mengekstraksi teh, teh ini dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam ekstraktor. Kemudian diisi dengan alcohol sebagai pelarutnya. Digunakan alkohol sebagai pelarutnya karena mempunyai sifat yang sama dengan sampel, yaitu bersifat polar, sehingga dapat melarutkan kafein yang terdapat di dalam teh. Pada proses ekstraksi digunakan alat ekstraktor, dimana pada percobaan ini alat ekstraktor yang berisi teh dengan pelarut alkohol bekerja dengan cara pemanasan yang dilakukan dimana akan terjadi sirkulasi selama pemanasan. Semakin sering terjadi sirkulasi maka akan semakin banyak kafein yang dihasilkan. Sirkulasi ini terjadi karena pelarut alkohol yang berada pada labu bulat akan menguap akibat pemanasan. Alat ekstraktor ini dilengkapi dengan cooler yang akan mendinginkan alkohol yang menguap dan akan turun ke dalam ekstraktor hingga akhirnya jatuh ke dalam alas bulat kembali. Setelah selesai diekstraksi, larutan campuran kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi suspensi dari MgO dan air. Tujuan dari penambahan MgO tersebut untuk mengikat klorofil dan mengikat air, agar kafein menjadi terlindungi pada saat pengeringan sehingga tidak pecah-pecah yang menyebabkan kerusakan pada strukturnya. Kemudian campuran dituangkan dalam cawan porselin kemudian dikeringkan. Pengeringan disini bertujuan untuk menghilangkan kandungan alkohol dari campuran. Tepung yang terbentuk direbus dengan 200 cc air. Hal ini bertujuan untuk melarutkan coffein dan juga untuk memurnikan campuran dari pengaruh alkohol yang masih ada dalam MgO. Setelah itu disaring dengan saringan penghisap. Tepung direbus kembali hingga menghasilkan filtrate. Fitrat yang mengandung kafein kemudian ditambahkan dengan 15% larutan H2SO4 25cc. Penambahan asam ini dimaksudkan untuk mengoksidasi larutan dan menurunkan pH larutan sehingga kafein tidak mengalami kerusakan. Pada suasana pH yang tinggi,kafein sangat mudah rusak, sehingga untuk mendapatkan kafein yang baik, penambahan asam seperti asam sulfat untuk menurunkan pH harus dilakukan. Setelah itu diakukan pengisatan sampai 1/3 volume semula. Hal ini dilakukan agar larutan tersebut jenuh dan memenuhi syarat kristalisasi dan zat-zat dan air yang tercampur pada kafein menjadi terpisah melalui proses ini.
  • 20. Pembuatan Coffein dari Teh | 20 Proses pemanasan ini sangat berperan dalam mendukung difusivitas yaitu masuknya pelarut air menembus bahan padat daun teh dan melarutkan kafein dari daun karena perbedaan konsentrasi yang besar antara pelarut dn bahan. Difusivitas ini memerlukan perbedaan temperatur dan tekanan yang signifikan yang dapat di peroleh melalui pendidihan larutan. Hasilnya adalah sari daun teh tersebut larut dengan warna larutan coklat tua dan ampas daun teh diatasnya, sedangkan H2SO4, menjadi endapan putih di dasar larutan sehingga tidak mengganggu larutan yang di inginkan. Larutan yang tertinggal dimasukkan ke dalam corong pisah. Di dalam corong pisah dilakukan pencucian dengan CHCl3 dengan cara pengocokan corong pemisah yang berisi larutan dan kloroform agar kloroform dapat terdistribusi dengan cepat dan keduanya tercampur sempurna. Dibukanya kran pada saat pengocokan agar mengeluarkan gas didalamnya, karena jika tidak dikeluarkan dapat memberikan tekanan. Pemisahan larutan ini dikarenakan sifat kepolarannya. Penggunaan kloroform (CHCl3) sebagai pencuci karena CHCl3 bersifat semipolar yang dapar mengikat kotoran-kotoran dan zat-zat lain yang ada pada kafein sekaligus berikatan dengan air. Penggunaan kloroform sebagai pelarut ke dua adalah karena kloroform tidak bercampur dengan air dan mudah menguap sehingga pada akhir percobaan dapat terpisah dengan ekstrak kafein. Selain itu, kafein dan kloroform sama-sama bersifat non polar. Pada saat larutan berada di dalam corong pemisah ini terlihat bahwa air dan kloroform tidak dapat bercampur. Air berada di bagian atas, sedangkan kloroform yang kerapatannya lebih tinggi berada di bawah nya. Mulanya kafein hanya terkonsentrasi pada air. Namun setelah corong pemisah di kocok, kafein akan terdistribusi menempati kedua bagian pelarut dan mencapai kesetimbangan sebagian antara fasa bagian atas (dalam air) dan fasa yang lebih rendah (kloroform). Kafein merupakan zat organik yang dapat larut dalam pelarut organik kloroform dan memiliki gugus karbonil yang hidrofilik sehingga juga larut dalam air. Larutan yang telah dikocok dalam corong pemisah terbagi menjadi 3 lapisan. Lapisan atas berwarna cokelat tua yang mengandung zat sisa, lapisan tengah berwarna coklat muda adalah kafein yang masih bercampur dengan zat sisa sedangkan lapisan bawah yang berwarna bening adalah larutan kafein. Terbentuknya 3 lapisan ini disebakan massa jenis. Semakin kecil massa jenis maka akan berada di lapisan paling atas. Larutan kafein dikeluarkan ke dalam gelas beker agar kafein
  • 21. Pembuatan Coffein dari Teh | 21 terpisah dari zat-zat lainnya. Larutan atas ditambah kloroform agar kafein yang masih tertinggal di nlarutan dapat terpisah secara sempurna. Sehingga, kafein terikat dengan kloroform dan dapat dikeluarkan ke gelas beker. Larutam kafein yang telah dipisahkan, ditambahkan NaOH encer. Penambahan NaOH untuk menjernihkan larutan coffein yang berwarna kuning dari pengaruh Kloroform. Kemudian larutan terbagi menjadi dua lapisan, lapisan yang paling bawah berisi kafein yang akan dievaporasi diatas piring porselin hingga menyisakan kristal kafein. Hasil kristal kafein yang didapat adalah 1,13 gram. Pembahasan secara singkat : a) Penambahan MgO bertujuan untuk mengikat coffeine dan etanol b) Campuran dituangkan dalam cawan porselin kemudian dikeringkan. Pengeringan disini bertujuan untuk menghilangkan kandungan alkohol dari campuran c) Tepung yang terbentuk direbus dengan 200 cc air. Hal ini bertujuan untuk melarutkan coffein dan juga untuk memurnikan campuran dari pengaruh alkohol yang masih ada dalam MgO d) Filtrat dicuci / dengan 150 cc sebanyak 3 x untuk pencucian coffein dan juga bertujuan untuk menarik kandungan coffein dalam MgO e) Pemanasan larutan menjadi 1/3 volume awal dilakukan untuk menjenuhkan larutan f) Penambahan Chlorofrom bertujuan untuk mengikat coffein dalam air g) Penambahan NaOH untuk menjernihkan larutan coffein yang berwarna kuning dari pengaruh Klorofrom  KESIMPULAN Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :  Coffein mudah larut dalam keadaan panas sehingga dalam praktek ini harus berlangsung pada suhu tinggi  Metode kristalisasi digunakan pemanasan  Operasi pemisahan yang digunakan yaitu ekstraksi, filtrasi, dekantasi dan kristalisasi  Dalam praktek ini didapat coffein sebesar 1,13 gr dan rendemennya 56.5 %.
  • 22. Pembuatan Coffein dari Teh | 22  TUGAS 1. Analisa 9 kesalahan Jawab :  Proses ekstraksi yang berlangsung kurang dari 4 jam, sehingga persentase yang didapat pada rendeman caffeine tidak maximum  Saat penuangan chlorofrom kedalam cairan ekstraksi, tidak sesuai takaran prosedur karena kekurangan ketelitian saat praktikum  Ekstraksi tidak sesuai prosedur hanya dilakukan selama 2 jam dikarenakan keterbatasan waktu.  Penyaringan sering bocor pada prosedur nomor 5 karena kurang benar menaruh kertas saring pada corong.  Pada langkah terakhir yaitu proses penetesan larutan ke piring porselin hingga menjadi kristal, suhunya tidak terkontrol dengan baik, bahkan kadang terlalu tinggi hingga kristal coffein tersebut kemungkinan banyak yang menyublim. 2. Tujuan pemanasan 1/3 volume?  Pemanasan larutan menjadi 1/3 volume awal dilakukan untuk menjenuhkan larutan. 3. Mengapa Menggunakan Etanol teknis? Dapatkah diganti dengan etanol Ea? Alasan? Karena Etanol teknis memilihi kemurnian yang sangat tinggi, sehingga baik di gunakan sebagai pelarut saat percobaan coffein. Dikarenakan coffein sukar larut dalam etanol, saat etanol teknis di panaskan maka coffein teknis dapat cepat melarutkan coffein. Dapat, akan tetapi etanol Ea sulit untuk melarutkan coffein jadi memperlambar proses pelarutan. Hasilnya pun tidak akan sesuai yang di inginkan. 4. Fungsi masing-masing bahan?  Fungsi Etanol : Hal ini berdasarkan sifat kelarutan kafein yang agak sukar larut dalam etanol, tetapi jika suhunya dinaikkan kelarutannya bisa bertambah. Pada metode sokhletasi, penggunaan etanol diharapkan akan mempercepat proses ekstraksi, karena etanol mempunyai titik didih ±70oC, sehingga lebih cepat mendidih bila dibandingkan dengan air. Sedangkan pada metode perkolasi, etanol digunakan untuk mencegah kontaminan bakteri atau jamur selama proses.
  • 23. Pembuatan Coffein dari Teh | 23  Fungsi Kloroform : Kafein larut baik dalam kloroform sehingga untuk memperoleh ekstrak kafein yang maksimal digunakan pelarut ini. ( sebagai Pelarut yang dapat melarutnya lipida)  Fungsi H2SO4 : untuk mengendapkan MgO yang tidak tersaring dengan menbentuk garam.  NaOH : untuk menghilangkan warna alaminya juga untuk menetralkan kelebihan H2SO4  MgO : MgO dapat memisahkan kofein dari senyawa – senyawa yang tidak diinginkan misalnya tanin LAMPIRAN  DAFTAR PUSTAKA http://choalialmu89.blogspot.com/2010/10/percobaan-v-ekstraksi-kafein-dari- daun.html Ahmad, Mustafa, 1992, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.

×