Your SlideShare is downloading. ×
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Implimentasi e learning
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Implimentasi e learning

205

Published on

Published in: Business, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
205
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. http://indrayani.staff.ipdn.ac.id/?p=56E-learning : Konsep, dan Strategi Pembelajaran di Era Digital (Implementasi pada PendidikanTinggi)20NOVPernah dipublikasi pada Jurnal Ilmiah Visioner Pada Tahun 2007I. PENDAHULUANSeiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin pesat,kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjaditidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawapengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baiksecara isi (contents) dan sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima olehmasyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning khususnya di lembagapendidikan (sekolah, training dan universitas).Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakankegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yangdisajikan secara reguler di kelas (Wildavsky, 2001; Lewis, 2002). Namun, beberapa perguruantinggi lainnya menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif bagi mahasiswa yang karena satudan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka. Dalam kaitan ini, e-learningberfungsi sebagai option (pilihan) bagi mahasiswa.Kecenderungan untuk mengembangkan e-learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran diberbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan dibidang teknologi komunikasi dan informasi.Infrastruktur di bidang telekomunikasi yangmenunjang penyelenggaraan e-learning tidak lagi hanya menjadi monopoli kota-kota besar,tetapi secara bertahap sudah mulai dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota ditingkat kabupaten.Artinya, masyarakat yang berada di kabupaten telah dapat menggunakanfasilitas internet.Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi diIndonesia semakin kondusif dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri DepartemenPendidikan Nasional (SK Mendiknas) tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggikonvensional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (dual mode). Dengan iklim yangkondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasanpara dosen untuk (a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan bahan belajar elektronik, (b)mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukaneksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikanmateri perkuliahan.II. PENGERTIAN DAN MANFAAT E-LEARNING
  • 2. Pembelajaran elektronik atau e-learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson,2001). Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaranelektronik, antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atauweb-based learning.Ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-learning), yaitu: (a)kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (“jaringan” dalam uraian inidibatasi pada penggunaan internet. Jaringan dapat saja mencakup LAN atau WAN). (WebsiteeLearners.com), (b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pesertabelajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan layanan tutor yangdapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan (Newsletter of ODLQC, 2001). Disamping ketiga persyaratan tersebut di atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, sepertiadanya: (a) lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning, (b) sikap positifdari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c)rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar, (d)sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar, dan (e)mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN)sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuklayanan belajar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001).Manfaat pembelajaran elektronik menurut Bates (1995) dan Wulf (1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:(1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur(enhance interactivity).(2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and placeflexibility).(3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).(4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating ofcontent as well as archivable capabilities).Dengan demikian diharapkan penerapan e-learning di perguruan tinggi dapat memberikanmanfaat antara lain :- Adanya peningkatan interaksi mahasiswa dengan sesamanya dan dengan dosen- Tersedianya sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas- E-learning yang dikembangkan secara benar akan efektif dalam meningkatkan kualitas lulusandan kualitas perguruan tinggi- Terbentuknya komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerimaserta tidak terbatas dalam satu lokasi- Meningkatkan kualitas dosen karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas danbahkan tidak terbatas
  • 3. III. PROGRAM E-LEARNINGKonsep keberhasilan program e-learning selain ditunjang oleh perangkat teknologi informasi,juga oleh perencanaan, administrasi, manajemen dan ekonomi yang memadai. Perlu jugadiperhatikan peranan dari para fasilitator, dosen, staf, cara implementasi, cara mengadopsiteknologi baru, fasilitas, biaya, dan jadwal kegitan (Natakusumah, 2002).Secara konsep, dosen e-learning harus mempunyai kemampuan pemahaman pada materi yangdisampaikannya, memahami strategi e-learning yang efektif, bertanggung jawab pada materipelajaran, persiapan pelajaran, pembuatan modul pelajaran, penyeleksian bahan penunjang,penyampaian materi pelajaran yang efektif, penentuan interaksi mahasiswa, penyeleksian danpengevaluasian tugas secara elektronik. Studio pengajar perlu dikelola lebih baik dari padaruangan kelas biasa. Dosen harus dapat menggunakan peralatan, antara lain menggunakan audio,video materials, dan jaringan komputer selama pembelajaran berlangsung. Menurut Koswara(2006) kemampuan baru yang diperlukan dosen untuk e-learning, antara lain perlu:a. Mengerti tentang e-learning,b. Mengidentifikasi karakteristik mahasiswa,c. Mendesain dan mengembangkan materi kuliah yang interaktif sesuai dengan perkembanganteknologi baru,d. Mengadaptasi strategi mengajar untuk menyampaikan materi secara elektronik,e. Mengorganisir materi dalam format yang mudah untuk dipelajari,f. Melakukan training dan praktek secara elektronik,g. Terlibat dalam perencanaan, pengembangan, dan pengambilan keputusan,h. Mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, attitude dan persepsi para mahasiswanya.Sementara itu untuk menghindari kegagalan e-learning, program-program yang perludikembangkan berkaitan dengan kebutuhan pengguna khususnya mahasiswa antara lain :- Berkaitan dengan informasi tentang unit-unit terkait dengan proses pembelajaran : tujuan dansasaran, silabus, metode pengajaran, jadwal kuliah, tugas, jadwal dosen, daftar referensi ataubahan bacaan dan kontak pengajar- Kemudahan akses ke sumber referensi : diktat dan catatan kuliah, bahan presentasi, contoh uianyang lalu, FAQ (frequently ask question), sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas,situs-situs bermanfaat dan artikel-artikel dalam jurnal online- Komunikasi dalam kelas : forum diskusi online, mailing list diskusi, papan pengumuman yangmenyediakan informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan batas waktupengumpulannyaSalah satu contoh perguruan tinggi yang telah menerapkan e-learning secara baik danberorientasi pada implementasi kampus digital adalah Universitas Bina Nusantara (Ubinus).Sistem yang dikembangkan disebut dengan Multi Canel Learning (MCL), dan e-learningmerupakan salah satu chanelnya. MCL di Universitas Bina Nusantara merupakan model sistempembelajaran berbasis teknologi informasi yang terdiri dari 3 aktivitas utama yaitu : (1) aktifitasdalam kelas (classroom); (2) aktifitas belajar mandiri (self study); dan (3) aktifitas e-learning.Saat ini, seluruh mata kuliah telah menggunakan MCL dengan komposisi aktifitas classroom dan
  • 4. se-learning yang terus diatur mengarah pada e-learning.Untuk mendukung operasional MCL,Ubinus menggunakan Learning Management System buatan sendiri yang dapat diakses melaluialamat http://www.ubinus.ac.id (lihat gambar 1 berikut).Gambar 1.Learning Management System UBINUS (http://www.ubinus.ac.id)IV. EFEKTIFITAS E-LEARNINGProgram e-learning yang efektif dimulai dengan perencanaan dan terfokus pada kebutuhan bahanpelajaran dan kebutuhan mahasiswa. Teknologi yang tepat hanya dapat diseleksi ketika elemen-elemen ini dimengerti secara detil. Kenyataannya, kesuksesan program e-learning berhubungandengan usaha yang konsisten dan terintegrasi dari mahasiswa, fakultas, falilitator, stafpenunjang, dan administrator.- Mahasiswa. Sehubungan dengan konteks pendidikan, peran utama dari mahasiswa adalah untukbelajar dengan sukses, merupakan tugas yang penting, sehingga perlu didukung oleh keadaanlingkungan yang baik, membutuhkan motivasi, perencanaan dan kemampuan untuk menganalisadengan menggunakan instruksi atau modul yang terbaik. Ketika instruksi disampaikan padasuatu jarak tertentu, menghasilkan tantangan tambahan karena mahasiswa sering terpisah darikebersamaan latar belakang dan interes lainnya, mempunyai hanya sedikit kesempatan untukberinteraksi dengan dosen diluar kelas, dan harus bergantung pada hubungan teknis untukmenjembatani gap pemisah mahasiswa di dalam kelas.- Lembaga/Universitas. Kesuksesan semua usaha e-learning bergantung juga pada tanggungjawab lembaga/universitas.Fakultas bertanggung jawab pada pemahaman materi danpengembangan pemahaman tersebut sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa.
  • 5. - Fasilitator. Fakultas merasa lebih efisien bila berhubungan dengan fasilitator setempat yangbertindak sebagai jembatan antara mahasiswa dan fakultas.Supaya lebih efektif, seorangfasilitator harus mengerti kebutuhan para mahasiswa yang dilayani dan harapan yang diinginkanfakultas.Lebih penting lagi, fasilitator harus mengikuti arahan yang sudah ditentukan olehfakultas.Mereka perlu menyiapkan peralatan, mengumpulkan tugas para mahasiswa, melakukantes, dan bertindak sebagai instruktur setempat.- Staf Penunjang. Kebayakan kesuksesan program e-learning berhubungan juga denganpenunjangan fungsi-fungsi pelayanan seperti registrasi mahasiswa, perbanyakan danpenyampaian materi kuliah, pemesanan buku teks, penjagaan copyright, penjadwalan,pemrosesan laporan, pengelolaan sumber daya teknis, dll.Staf penunjang merupakan kebutuhanutama untuk menciptakan keadaan, sehingga e-learning tetap pada jalur yang benar.- Administrator. Meskipun administrator biasanya ikut dalam perencanaan suatu program e-learning, mereka sering kehilangan kontak dengan manajer teknis ketika program sedangberoperasi.Administrator e-learning yang efektif bukan hanya sekedar memberikan ide, tetapiperlu juga bekrjasama dan membuat konsensus dengan para pembangun, pengambil keputusan,dan pengawas. Mereka harus bekerja sama dengan personel teknis dan staf penunjang,meyakinkan bahwa sumberdaya teknologi perlu dikembangkan secara efektif untuk keperluanmisi akademis kedepan. Lebih penting lagi bahwa didalam mengelola suatu akademik perlumerealisasikan bahwa kebutuhan dan kesuksesan para mahasiswa e-learning merupakantanggung jawab utama.V. STRATEGI E-LEARNINGStrategi penggunaan e-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapatmeningkatkan daya serap dari mahasiswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasiaktif dari mahasiswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa; meningkatkankualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasidengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan;memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer,tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalampengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harusmenunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja;memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknikevaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan mahasiswa.Materi dari pendidikan dan pelatihan dapat diambil dari sumber-sumber yang valid dan denganteknologi e-learning, materi bahkan dapat diproduksi berdasarkan sumber dari tenaga-tenaga ahli(experts).Misalnya, tampilan video digital yang menampilkan seorang ahli mekanikmenunjukkan bagaimana caranya memperbaiki suatu bagian dari mesin mobil. Dengan animasi 3dimensi dapat ditunjukkan bagaimana cara kerja dari mesin otomotif dua langkah.
  • 6. Menurut Koswara (2006) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan denganmenggunakan teknologi e-learning adalah sebagai berikut :Learning by doing. Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari;contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator), dimana seorang calonpenerbang dapat dilatih untuk melakukan penerbangan suatu pesawat tertentu seperti iaberlatih dengan pesawat yang sesungguhnyaIncidental learning. Mempelajari sesuatu secara tidak langsung. Tidak semua hal menarikuntuk dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang mahasiswa dapatmempelajari sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yangsebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari geografi dengancara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata.Learning by reflection. Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasantentang subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk mengembangkansuatu ide/gagasan dengan cara memberikan informasi awal dan aplikasi akan“mendengarkan” dan memproses masukan ide/gagasan dari mahasiswa untuk kemudiandiberikan informasi lanjutan berdasarkan masukan dari mahasiswa.Case-based learning. Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadimengenai subyek yang hendak dipelajari. Strategi ini tergantung kepada nara sumber ahlidan kasus-kasus yang dapat dikumpulkan tentang materi yang hendak dipelajari.Mahasiswa dapat mempelajari suatu materi dengan cara menyerap informasi dari narasumber ahli tentang kasus-kasus yang telah terjadi atas materi tersebut.Learning by exploring. Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadapsubyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk memahami suatu materidengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harusmenyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa.Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Mahasiswa diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapaitujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan haltersebut. Mahasiswa kemudian menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuantersebut.VI. DISTANCE LEARNINGMason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringaninformasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun,teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin.
  • 7. Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan biladigunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat pentingbagi kesejahteraan ekonomi.Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan Computer-based MultimediaCommunication (CMC) sebagai cara penyampaian materi e-learning bersifat sinkron(synchronous) dan asinkron (asynchronous). Sinkron artinya bahwa dosen dan mahasiswaberinteraksi secara waktu nyata (real time), beberapa perlatan yang menggunakan cara iniharganya relatif mahal. Penyampaian materi dengan asinkron tidak secara bersamaan, dosenmenyampaikan instruksi melalui video, komputer atau lainnya, dan mahasiswa merespon padalain waktu.Misalnya instruksi disampaikan melalui web atau dan feedback disampaikan melaluie-mail.Pengelompokan sinkron dan asinkron dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.Tabel 1.Pengelompokan Penyampaian Materi PembelajaranNama Sinkron AsinkronVideo Videoconferencing Videotape, Broadcast videoAudio Audioconferencing Audiotape, RadioData Internet chat, desktop videoconferencing E-mail, CD-ROMDengan menggunakan pendekatan yang terintegrasi , salah satu kegiatan dosen adalahmenyeleksi dengan cermat berbagai teknologi yang akan digunakan sehingga dapat memenuhikebutuhan para mahasiswa dalam memahami materi secara efektif dan ekonomisDari ramalan dan pandangan para cendekiawan di atas masuknya pengaruh globalisasi,pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner,serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga dan kompetitif’. Demikian juga di Indonesiaarah penyerapan tenaga kerja akan ditentukan oleh kompetensi yang dibuktikan oleh sertifikatkompetensi, yang diberikan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang terakreditasi ataulembaga sertifikasi kepada peserta didik dan masyarakat yang dinyatakan lulus setelah mengikutiuji kompetensi tertentu (pasal 61 ayat 3). Dalam mengantisipasi perkembangan global dankemajuan teknologi komunikasi, maka pendidikan jarak jauh diakomodasikan dalam sisdiknas,sebagai paradigma baru pendidikan.Pendidikan jarak jauh tersebut dapat diselenggarakan padasemua jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang berfungsi untuk memeberi layanan pendidikankepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atauregular (pasal 31 ayat 1 dan 2).Penerapan awal e-learning di Indonesia dimulai ketika universitas terbuka (UT) muncul (dapatdiakses pada alamat http://www.ut.ac.id sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2), saat itulah e-learning dimulai. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalahtidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internetsangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk realtime (waktu nyata) atau tidak.Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatuchatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting.Yang tidak
  • 8. real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board.Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupuntidak 100%.Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan kedalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di downloadoleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukandengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satuproses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.Gambar 1.Pembelajaran Online Universitas Terbuka (http://www.ut.ac.id)Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut:1. Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harusmampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswadapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dansebagainya.2. Interaksi dalam group; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untukmendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group iniuntuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya.3. Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasimengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya.4. Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugasyang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test padaakhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning.5. Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidakterbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dansebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database.6. Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahanbacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsungterlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswalainnya melalui web.VII. KESIMPULANKeberhasilan e-learning ditunjang oleh adanya interaksi maksimal antara dosen danmahasiswa, antara mahasiswa dengan berbagai fasilitas pendidikan, antara mahasiswadengan mahasiswa lainnya, dan adanya pola pembelajaran aktif dalam interaksi tersebut.
  • 9. Bila pembelajaran bebasis pada web, maka diperlukan adanya pusat kegiatan mahasiswa,interaksi antar kelompok, administrasi penunjang sistem, pendalaman materi, ujian,perpustakan digital, dan materi online. Dari sisi Teknologi informasi; dunia Internetmemungkinkan perombakan total konsep-konsep pembelajaran yang selama ini berlaku.Teknologi informasi dan telekomunikasi yang murah dan mudah akan menghilangkanbatasan ruang dan waktu yang selama ini membatasi dunia pendidikan. Beberapakonsekuensi logis yang terjadi antara lain adalah:1. Mahasiswa dapat dengan mudah mengambil matakuliah dimanapun tanpa terbataslagi pada batasan institusi & negara;2. Mahasiswa dapat dengan mudah berguru dan berdiskusi dengan para tenaga ahliatau pakar di bidang yang diminatinya;3. Materi kuliah bahkan dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru duniatanpa tergantung pada perguruan tinggi dimana mahasiswa belajar. Berbagaipeluang tersebut diatas masih menghadapi tantangan baik dari biaya, kesiapaninfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukungterhadap kelangsungan e-learning.DAFTAR PUSTAKAAli, M.. 2004. E-learning in Indonesian Education System. A paper presented at Seminar-Workshop on E-learning : The Seventh Programming Cycle of APEID Activities, 30 August-6September 2004 in Tokyo and Kyoto, JapanBates, A. W. (1995). Technology, Open Learning and Distance Education. London: Routledge.Brown, Mary Daniels. 2000. Education World: Technology in the Classroom: Virtual HighSchools, Part 1, The Voices of Experience. http://www.education-world.com/a_tech/tech052.shtml ( 16 September 2002).Koswara, E. 2005. Konsep Pendidikan Tinggi Berbasis E-learning : Peluang dan Tantangan.Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia ITB, 3-4 Mei2005Moore, M.G. & Kearsley, G. (1996). Distance education: A sistems view. New York:Wadsworth Publishing Company.Moore, M.G.; et al. (1990). The effects of distance learning: A summary of the literature.Research Monograph No. 2. University Park, PA: The Pennsylvania State University, AmericanCenter for the Study of Distance Education. (ED 330 321)Natakusumah, E.K. (2002); Multimedia sebagai sarana pembelajaran; Lokakayra Multimediasebagai sarana pembelajaran metode learning based; DUE-Like TPB ITB, 13 Nopember 2002.Natakusumah, E.K. (2002); Teknologi informasi pada pendidikan jarak jauh, Orasi Ilmiah padaWisuda STMIK Bandung, 12 Januari 2002, Grand Aquila Hotel, Nusantara Ball Room,Bandung.Newsletter of Open and Distance Learning Quality Council, October 2001.http://www.odlqc.org.uk/odlqc/n19-e.html (16 September 2002)
  • 10. Rosenberg, M.J. 2001. e-learning : Strategies for Delivering Knowledge in The Digital Age. TheMcGraw-Hill Companies Inc.Siahaan, S. 2004. E-learning (Pembelajaran Elektronik) Sebagai Salah Satu AlternatifPembelajaran http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/42/ sudirman.htm (3 November 2006)Verduin, J.R. & Clark, T.A. (1991). Distance education: The foundations of effective practice.San Francisco, CA: Jossey-Bass Publishers.Willis, B. (1993). Distance education: A practical guide. Englewood Cliffs, NJ: EducationalTechnology Publications.Wulf, K. (1996). Training via the Internet: Where are We? Training and Development 50 No. 5.(20 September 2006).

×