Jurnal Politik Internasional

1,920 views
1,813 views

Published on

Explaining about Carbon Trading

Published in: Education
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
1,920
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jurnal Politik Internasional

  1. 1. 1 PERDAGANGAN KARBON SEBAGAI KONSEKUENSI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Abstrak Isu lingkungan hidup menjadi topik yang sangat diperdebatkan dalam berbagai forum internasional karena adanya gejala pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan. Mencairnya es kutub utara, permukaan laut yang naik, perubahan iklim yang tidak teratur, bencana alam yang melanda berbagai wilayah di permukaan bumi sangat mempengaruhi hakekat interaksi aktor-aktor Hubungan Internasional. Salah satu isu lingkungan yang dibahas dalam jurnal ini adalah isu perdagangan karbon. Perdagangan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membantu membatasi peningkatan CO2 di atmosfer. Pasar perdagangan karbon sedang mengalami perkembangan yang membuat pembeli dan penjual kredit karbon sejajar dalam peraturan perdagangan yang sudah distandardisasi. Perdagangan karbon merupakan salah satu isi Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi sebagai dampak dari pemanasan global. Kata Kunci: perdagangan karbon, isu lingkungan, mitigasi, protokol Kyoto, dan isu politik dunia. A.Pendahuluan Perdagangan karbon (Carbon Trading) merupakan kompensasi yang diberikan oleh negara-negara industri maju untuk membayar kerusakan lingkungan yang telah terjadi. Salah satunya asap karbondioksida (CO2) yang dihasilkan pabrik-pabrik di Eropa dan AS sudah terlalu sesak dan memenuhi atmosfer bumi, akibatnya naiknya suhu bumi atau “Global
  2. 2. 2 Warming” serta lubang dilapisan ozon yang makin luas. Salah satu cara untuk memperbaiki kerusakan ozon adalah dengan mempertahankan produksi karbon dari hutan-hutan di Indonesia, Asia Pasific, Amerika Selatan, ataupun Papua New Guinea. Kompensasi diperoleh dari pembayaran negara-negara maju atas kerusakan lingkungan yang dibuat. Jadi negara- negara yang maju industrinya harus membayar kompensasi kepada Negara yang memiliki luasan hutan yang besar terutama Brazil dan Indonesia atas polusi industrinya. Perdagangan karbon dunia semakin meningkat sejak ditandatangani Protokol Kyoto, di mana negara-negara di dunia sepakat untuk menekan emisi karbon dioksida rata-rata 5,2 persen selama 2008 hingga 2012. Di bawah kesepakatan Protokol Kyoto, negara industri maju penghasil emisi karbon dioksida diwajibkan membayar kompensasi kepada negara miskin dan atau berkembang atas oksigen yang dihasilkannya. Dalam rangka upaya mencegah pemanasan global yang mengancam kehidupan umat manusia tersebut PBB mengambil langkah inisiatif untuk menyelenggarakan pertemuan di Bali demi merumuskan langkah-langkah baru yang perlu disepakati dan diagendakan untuk dilaksanakan baik oleh negara maju, maupun negara berkembang. Menghasilkan suatu kesepakatan global dalam isu yang penuh konflik kepentingan tentu saja tidak mudah. Oleh sebab itu Konferensi PBB tentang perubahan iklim di Bali 2007 ini sangatlah menarik untuk dikaji dalam masalah isu-isu lingkungan hidup, dimana 187 negara dan diperkirakan anatara 15 ribu sampai 20 ribu pejabat pemerintah, aktivis lingkungan dalam dan luar negeri serta wartawan ikut berkumpul membahas dan mengikuti situasi perubahan iklim global serta cara mengatasinya.
  3. 3. 3 B.Perdagangan Karbon Perdagangan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membantu membatasi peningkatan CO2 di atmosfer. Pasar perdagangan karbon sedang mengalami perkembangan yang membuat pembeli dan penjual kredit karbon sejajar dalam peraturan perdangangan yang sudah distandardisasi. Pemilik industri yang menghasilkan CO2 ke atmosfer memiliki ketertarikan atau diwajibkan oleh hukum untuk menyeimbangkan emisi yang mereka keluarkan melalui mekanisme sekuestrasi karbon (penyimpanan karbon). Pemilik yang mengelola hutan atau lahan pertanian bisa menjual kredit karbon berdasarkan akumulasi karbon yang terkandung dalam pepohonan di hutan mereka. Atau bisa juga pengelola industri yang mengurangi emisi karbon mereka menjual emisi mereka yang telah dikurangi kepada emitor lain. Perdagangan karbon tidak hanya terbatas pada mekanisme sekuestrasi, tetapi juga adanya teknologi-teknologi baru yang bersifat mengurangi emisi, seperti kegiatan yang dilakukan dalam rangka mekanisme pembangunan bersih. C.Landasan pemikiran pentingnya perdagangan karbon  Kenaikan konsentrasi gas rumah kaca yang semakin besar percepatannya dalam 50 tahun terakhir. Per bulan Mei 2012, konsentrasi CO2 di atmosfer sudah mencapai batas psikologis 400 ppm (diukur di Kutub Selatan).  Dibutuhkannya mekanisme pendanaan mitigasi yang terukur, transparan, dan pro bisnis.  Perdagangan karbon lahir sebagai konsekuensi logis dari kewajiban penurunan emisi pada instalasi penyumbang emisi serta adanya kewajiban negara maju untuk menurunkan emisi, sedang negara berkembang belum diwajibkan.
  4. 4. 4 D.Isu Lingkungan Hidup dalam Politik Global Isu lingkungan merupakan masalah yang hangat dalam pembicaraan internasional. Persoalan lainnya yang menjadi isu global saat ini adalah kecendrungan penduduk yang terus bertumbuh, meskipun tingkat pertumbuhannya lebih rendah daripada dekade sebelumnya, yang dikaitkan dengan kemampuan bumi untuk menyediakan sumber daya agar penduduk dunia bisa hidup layak. Bahkan dikatakan bahwa pada masa akan datang bila tingkat konsumsi energi meningkat terus akan terjadi konflik antar bangsa dalam memperebutkan sumber daya yang tersedia. 1 Prioritas yang tinggi diberikan pada pertumbuhan ekonomi maka lingkungan hidup dikorbankan dan akibatnya sumber daya alam seperti hutan tidak dikelola secara berkelanjutan dan lingkungan hidup pun menjadi rusak. Akibatnya, ekspliotasi sumber daya alam diikuti oleh munculnya jumlah kemiskinan di berbagai daerah. Tidak jarang ketidakpuasan masyarakat lokal berkembang menjadi pemberontakan-pemberontakan bersenjata untuk memisahkan diri dari negara induk yang berujung pada tindakan represif oleh pemerintah pusat. Konflik perebutan kontrol atas sumber daya alam telah melanda banyak negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin karena kebijakan pemerintah yang mengabaikan tuntutan masyarakat lokal yang secara tradisional menggantungkan mata pencariannya dari sumber daya alam. E.Latar Belakang Konferensi Perubahan Iklim PBB 2007 Konferensi perubahan iklim PBB ini digelar untuk menemukan solusi pengurangan efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Selain itu, pembicaraan juga akan membahas mengenai cara membantu negara-negara miskin dalam mengatasi pemanasan global. 1 Jemandu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori & Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu, Hal. 314
  5. 5. 5 Saat ini dari negara-negara maju emiten karbon utama dunia yang menolak menjadi bagian dari Protokol Kyoto, hanya Australia dan Amerika Serikat yang menolak menandatangani Protokol Kyoto, namun dalam konferensi kali ini, delegasi Australia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri yang baru, Kevin Rudd, berjanji untuk meratifikasi Protokol Kyoto, yang akan menjadikan Amerika Serikat sebagai negara maju tunggal yang menolak ratifikasi tersebut. Dalam diskusi konferensi, ada dua pihak yang menentukan yakni penghasil emisi dan penyerap emisi. Permasalahan yang sedang dihadapi adalah memberi nilai pada karbon. Selama ini pembangkit listrik tenaga batu bara dinilai lebih murah dibanding pembangkit listrik tenaga geothermal, karena karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara tidak dihitung sebagai biaya yang harus ditanggung. Sementara untuk para pemilik lahan (hutan) yang menjadi penyerap karbon harus bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lahannya. Maka diperlukan pendapatan bagi pemilik lahan untuk memelihara lahannya. Jadi negara-negara berkembang bisa memelihara hutannya dengan kompensasi dari negara-negara maju, sehingga semua pihak bertanggung jawab untuk pengelolaan karbon di bumi. Inilah logika berpikir di belakang kebijakan REDD (Permenhut No. P. 68/Menhut-II/2008 tentang Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan2 , Permenhut No. P. 30/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan3 dan Permenhut No. P. 36/Menhut- II/2009 tentang Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung4 ), reforestation dan CDM (mekanisme pembangunan bersih). 2 www.dephut.go.id/files/P68_08.pdf 3 www.dephut.go.id/files/P30_09_r.pdf 4 www.dephut.go.id/files/P36_09.pdf
  6. 6. 6 Ada tiga mekanisme fleksibel yang diwadahi Protokol Kyoto : 1.Implementasi Bersama (Joint Implementation). Implementasi Bersama ini mengutamakan cara-cara yang paling murah atau paling menguntungkan. Kegiatan ini akan menghasilkan unit penurunan emisi atau Emission Rediction Unit (ERU). 2.Perdagangan Emisi (Emission Trading). Negara industri yang GRK-nya di bawah batas yang diijinkan dapat memperdagangkan kelebihan jatah emisinya dengan negara industri lain yang tidak dapat memenuhi kewajibannya. Namun, jumlah emisi GRK yang diperdagangkan dibatasi agar negara pembeli tetap memenuhi kewajibannya. 3.Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Management/CDM). Pada dasarnya adalah gabungan dari JI dan IET yang berlangsung antara negara Annex I dengan negara non-Annex I dengan persyaratan mendukung pembangunan berkelanjutan di negara non-Annex I. Negara industri melakukan investasi di negara berkembang untuk mencapai target penurunan emisinya. Sementara itu, negara berkembang berkepentingan dalam mencapai tujuan utama konvensi dan tujuan pembangunan berkelanjutan. Komoditas yang digunakan bukanlah ERU melainkan CER (Certified Emission Reduction) yaitu jumlah penurunan emisi yang telah disertifikasi. F.Persiapan Konferensi Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan dana Rp 28 miliar dalam enam bulan terakhir untuk mempersiapkan konferensi. Menurut Ketua Pelaksana Pertemuan Bali Agus Purnomo, dana tersebut merupakan hibah dari negara lain yang digunakan untuk melakukan persiapan, survei metodologi kehutanan, perubahan iklim, dan pertemuan pra-KPP di Bogor.
  7. 7. 7  Pertemuan Pra-Konferensi Joint Implementation Supervisory Committee (26-27 November) CDM Executive Board (28-30 November) Consultations on the Adaptation Fund (29-30 November) DNA Forum (29-30 November) Expert Group on Techonology Transfer (EGTT )(29-30 November)5  Pengamanan Konferensi Konferensi PBB tentang perubahan iklim juga mendapatkan penjagaan polisi PBB. Sebanyak 64 polisi PBB bertugas di areal utama konferensi, yaitu Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali. Selain melakukan pengamanan di BICC, pasukan polisi PBB yang dibantu oleh 140 anggota Polri juga melakukan pengamanan. Ketiga tempat ini dijadikan sebagai lokasi pertemuan utama konferensi. Pengamanan tamu VVIP atau setingkat presiden, telah diserahkan oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). 6 Aparat keamanan menerapkan kondisi siaga satu, 5.063 personel dikerahkan. 3.021 personel dari Polda Bali, 190 dari Polda Metro Jaya, 224 dari Polda Jatim, 200 dari Polda NTB, 340 dari Polda Jateng, 190 dari Polda DIY, 250 dari Polda Jabar, dan 648 personel dari Mabes Polri.7 . 5 Overview Schedule United Nation Climate Change Conference Nusa Dua, Bali, Indonesia 3-4 December 6 http://news.detik.com/read/2007/11/16/172645/853686/10/polisi-pbb-amankan-konferensi- perubahan-iklim-di-bali diakses 18 juni 2013 7 http://news.detik.com/read/2007/11/21/160247/855621/10/polri-pasukan-pbb-duet-jaga- konferensi-perubahan-iklim?nd771108bcj diakses18 juni 2013
  8. 8. 8 G.Langkah Awal Perdagangan Karbon Kebijakan dan langkah awal biasanya dimulai oleh pemerintah Biasanya dilakukan secara nasional atau mandatory Adanya peraturan dan kebijakan untuk pembatasan emisi Tidak selalu mulus pada langkah awalnya, dan banyak yang terganjal di parlemen atau ditolak kalangan bisnis Tapi ada juga yang dimulai oleh lembaga bisnis, dan bahkan NGO Dimulai berdasarkan kepentingan dari satu kelompok bisnis tertentu atau sub sektoruntuk meningkatkan efisiensi Dimulai dengan skala kecil, terukur, dan selalu mengutamakan peningkatan efisiensi energi, ketercukupan pasokan energi, dan menggunakan prinsip bisnis. H.Hasil Konferensi UNFCCC 2007 akhirnya berhasil menghasilkan Bali Road Map. Road Map ini menghasilkan kesepakatan aksi adaptasi, jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, transfer teknologi dan keuangan yang meliputi adaptasi dan mitigasi. Tujuan utama UNFCCC adalah “stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang akan mencegah gangguan antropogenik yang berbahaya dengan sistem iklim.” Bahkan jika Annex I berhasil dalam pertemuan putaran pertama mereka komitmen, pengurangan emisi yang jauh lebih besar akan diperlukan di masa depan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca atmosfer8 8 Grubb dan Depledge, 2001, hal 269
  9. 9. 9 Berikut poin-poin Bali Road Map, seperti disampaikan juru bicara the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) John Hay dalam pernyataan tertulis9 : 1. Adaptasi Tindakan penyesuaian terhadap dampak negatif perubahan iklim. Negara peserta konferensi sepakat membiayai proyek adaptasi di negara-negara berkembang, yang ditanggung melalui CDM yang ditetapkan Protokol Kyoto. Kesepakatan ini memastikan dana adaptasi akan operasional pada tahap awal periode komitmen pertama Protokol Kyoto (2008-2012) sebesar 37 juta euro. 2. Teknologi Anggota konferensi sepakat untuk memulai program strategis untuk alih teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negara-negara berkembang. Tujuan program ini adalah memberikan contoh proyek yang konkret, menciptakan lingkungan investasi yang menarik, termasuk memberikan insentif untuk sektor swasta untuk melakukan alih teknologi. 3. REDD (Reducing Emissions From Deforestation In Developing Countries) REDD fokus pada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah pengurangan emisi dari deforestasi. 9 http://news.detik.com/read/2007/12/15/220628/867662/10/poin-poin-bali-road-map diakses 15 juni 2013
  10. 10. 10 4. IPCC Para peserta mengakui Laporan Assessment Keempat dari the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai assessment yang paling komprehensif dan otoritatif. 5. Clean Development Mechanism/Mekanisme Pembangunan Bersih Mekanisme, dimana negara maju membangun proyek ramah lingkungan di negara non Annex I. Nantinya proyek tersebut menghasilkan kredit penurunan emisi berupa Certified Emissin Reduction (CER). 6. Negara Miskin Peserta sepakat memperpanjang mandat Grup Ahli Negara Miskin atau the Least Developed Countries (LDCs) Expert Group. Grup ini menyediakan saran kritis untuk negara miskin dalam menentukan kebutuhan adaptasi. Hal tersebut didasari fakta bahwa negara-negara miskin memiliki kapasitas adaptasi yang rendah. I.Perencanaan perdagangan karbon dalam 3 layer10 Multilateral carbon market •Masih dinegosiasikan • Kalau “robust” pasti akan “complicated” •Mensyaratkan kriteria lingkungan dan sumber daya internasional Bilateral and regional carbon market •Antara Indonesia dan beberapa negara •Diharapkan akan menjadi carbon offset internasional •Japan dan Australia adalah dua negara yang sangat berminat 10 National Council on Climate Change of Indonesia
  11. 11. 11 Domestic carbon market •Bersifat voluntary •Dikembangkan dan diperdagangkan di Indonesia •Simple dan robust •Bisa digunakan untuk NAMAs
  12. 12. 12 Kesimpulan Negara tropis dengan kawasan hutan yang luas, mempunyai potensi besar untuk andil dalam mekanisme perdagangan karbon dengan memasukkan hutan sebagai agen penyerap (sink) GRK. CDM adalah suatu mekanisme pengurangan GRK, khususnya bagi negara-negara berkembang, seperti dalam Protokol Kyoto selain mekanisme Joint Implementation dan Emission Trading. Sama halnya dengan REDD, negara-negara yang mempunyai hutan akan mendapatkan insentif dari adanya transaksi reduksi emisi untuk pembangunan sektor kehutanannya. Namun, yang harus lebih diwaspadai adalah jangan sampai CDM dan REDD yang memasukkan hutan dan lahan sebagai sink, akan menjadi bisnis komersial bagi negara-negara maju tanpa mau menekan jumlah polutan GRK yang dihasilkan dari industri- industri mereka. Manfaat perdagangan karbon Bentuk insentif pendanaan bagi kegiatan mitigasi perubahan iklim Dapat terjadi karena adanya kewajiban (compliance) atau keinginan (voluntary commitment) Bagi pembeli, lebih mudah dan murah dibanding menurunkan sendiri
  13. 13. 13 Daftar Pustaka Marsono, Joko. 2007. Bahan Kuliah Konservasi Ekositim, MKSDAL, Pascasarjana, Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada. Grubb dan Depledge, 2001, hal 269. Jemandu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori & Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu, Hal. 314. National Park Service. U.S. Department of Interior. 2006. Air Pollution- Its nature, sources, and effects. www.dephut.go.id/files/P68_08.pdf www.dephut.go.id/files/P30_09_r.pdf www.dephut.go.id/files/P36_09.pdf Overview Schedule United Nation Climate Change Conference Nusa Dua, Bali, Indonesia 3-4 December. http://news.detik.com/read/2007/11/16/172645/853686/10/polisi-pbb- amankan-konferensi-perubahan-iklim-di-bali diakses 18 juni 2013. http://news.detik.com/read/2007/11/21/160247/855621/10/polri pasukan-pbb-duet-jaga-konferensi-perubahan-iklim?nd771108bcj diakses18 juni 2013. http://news.detik.com/read/2007/12/15/220628/867662/10/poin-poin- bali-road-map diakses 15 juni 2013.

×