Workshop Klaster Industri Kota Palu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Workshop Klaster Industri Kota Palu

on

  • 5,937 views

Pengenalan tentang bagaimana memprakarsai pengembangan klaster industri

Pengenalan tentang bagaimana memprakarsai pengembangan klaster industri

Statistics

Views

Total Views
5,937
Views on SlideShare
5,926
Embed Views
11

Actions

Likes
0
Downloads
304
Comments
2

1 Embed 11

http://www.slideshare.net 11

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • URUS API – ANGKA PENGENAL IMPORTIR
    - URUS API-P (ANGKA PENGENAL IMPORTIR PRODUSEN)
    - URUS API-U (ANGKA PENGENAL IMPORTIR UMUM)
    - URUS API PERUBAHAN
    - URUS APIP (Produsen) PMA BKPM
    - URUS APIU (Umum) PMA BKPM

    “Corporate Lega services”
    http://www.saranaijin.com
    Komplek Ruko Segitiga Atrium Blok A1 Lt 2 Jl. Senen Raya No. 135 Jakarta Pusat 10410
    Tep: +(62) 21- 34833034
    Fax : +(62) 21- 34833038
    Mobile: 081585427167
    Pin BB 285200BC
    Flexi 021-70940216
    Email: legal@saranaizin.com
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • kami suka info sangat berharga buat saya, salam sukses
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Workshop Klaster Industri Kota Palu Presentation Transcript

  • 1. PENGENALAN TENTANG BAGAIMANA MENGEMBANGKAN KLASTER INDUSTRI DI DAERAH Sosialisasi tentang Klaster Industri Palu, 6 September 2007 Dr. Tatang A. Taufik Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
  • 2. OUTLINE CATATAN PENUTUP KERANGKA STRATEGI PENGEMBANGAN CONTOH-CONTOH KLASTER INDUSTRI TANTANGAN PEMBANGUNAN KE DEPAN
  • 3. OUTLINE CATATAN PENUTUP KERANGKA STRATEGI PENGEMBANGAN CONTOH-CONTOH KLASTER INDUSTRI TANTANGAN PEMBANGUNAN KE DEPAN
  • 4. TANTANGAN : PEMBANGUNAN YANG BERBASIS PENGETAHUAN Daya Saing dan Kohesi Sosial Kesejahteraan/Kemakmuran & Peradaban Bangsa
    • UU No. 18/2002 :
    • Memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara
    • Meningkatkan daya saing
    • Meningkatkan kemandirian
    • Penjelasan :
    • Peningkatan pencerdasan bangsa dan kehidupan masyarakat
    • Mengembangkan perekonomian negara
    • Meningkatkan dan menyerasikan sosial budaya bangsa
    • Memperkuat pertahanan negara
    • UU No. 32/2004 :
    • Tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah (Pasal 2, Ayat 3); dan
    • Kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27, Ayat 1, butir g).
    Kemajuan Iptek, Inovasi Ekonomi Pengetahuan Ekonomi Jaringan Globalisasi Faktor-faktor Lokalitas Isu-isu Kontekstual  Kecenderungan dan Tantangan Universal
  • 5. TANTANGAN : PEMBANGUNAN YANG BERBASIS PENGETAHUAN Lesson Learnt Daya Saing dan Kohesi Sosial Kesejahteraan/Kemakmuran & Peradaban Bangsa Klaster Industri Sistem Inovasi Kemajuan Iptek, Inovasi Ekonomi Pengetahuan Ekonomi Jaringan Globalisasi Faktor-faktor Lokalitas Isu-isu Kontekstual  Kecenderungan dan Tantangan Universal
    • SDM yang terdidik, kreatif, dan terampil
    • Infrastruktur komunikasi yang dinamis
    • Sistem inovasi yang efektif
    • Pemerintahan, insentif ekonomi dan rejim kelembagaan yang mendukung
    Knowledge Economy Knowledge Society
    • Sistem informasi dan komunikasi
    • Pembelajaran seumur hidup dan budaya inovasi
    • Sistem inovasi yang efektif
    • Modal sosial
    • Kepemimpinan/kepeloporan dalam pemajuan sosial budaya masyarakat
    • Rejim kebijakan yang kondusif
  • 6. GERBANG INDAH NUSANTARA (Gerakan Membangun Sistem Inovasi dan Daya Saing Daerah di Seluruh Wilayah Nusantara) Gerakan bersama para pemangku kepentingan (setiap sektor ekonomi /& pembangunan, setiap tataran pemerintahan, setiap daerah/wilayah, dan “lintas bidang”) dalam mengembangkan/ memperkuat sistem inovasi (daerah dan nasional) sebagai landasan dan pilar peningkatan daya saing dan kohesi sosial dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi dan semakin adil.
  • 7. GERBANG INDAH (Gerakan Membangun Sistem Inovasi dan Daya Saing Daerah)
    • Ajakan & “wahana” untuk kolaborasi sinergis ~ saling komplementatif, mengisi, memperkuat
    • Konsep, pendekatan & peran aktor yang jelas & tegas
    • “ Kepemilikan” (ownership)
    • Keserentakan luas;
    • Implementatif
    • Voluntary
    • Keprakarsaan (pioneering)
  • 8. OUTLINE CATATAN PENUTUP KERANGKA STRATEGI PENGEMBANGAN CONTOH-CONTOH KLASTER INDUSTRI TANTANGAN PEMBANGUNAN KE DEPAN
  • 9. KLASTER INDUSTRI
    • Klaster industri :
      • kelompok industri spesifik yang dihubungkan oleh jaringan mata rantai proses penciptaan/peningkatan nilai tambah ; atau
      • jaringan dari sehimpunan industri yang saling terkait (industri inti/ core industries – yang menjadi “fokus perhatian,” industri pendukungnya/ supporting industries , dan industri terkait/ related industries ), pihak/lembaga yang menghasilkan pengetahuan/ teknologi (termasuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pengembangan dan rekayasa/litbangyasa), institusi yang berperan menjembatani/ bridging institutions (misalnya broker dan konsultan), serta pembeli, yang dihubungkan satu dengan lainnya dalam rantai proses peningkatan nilai ( value adding production chain).
    • “ Inti, pendukung, atau terkait” sama pentingnya , bukan menunjukkan yang satu lebih penting dari yang lain;
    • Pelaku dengan beragam skala usaha (kecil, menengah, besar) berperan pada posisi masing-masing yang paling tepat .
  • 10. SKEMATIK MODEL GENERIK KLASTER INDUSTRI Institusi Pendukung (Supporting Institutions) Industri Inti (Core Industry) Pembeli (Buyer) Industri Pemasok (Supplier Industry) Industri Terkait (Related Industry) Industri Pendukung (Supporting Industry)
  • 11. SISTEM INOVASI : SUBSISTEM DAN KETERKAITAN MULTIDIMENSI Klaster Industri 1-A Klaster Industri 2-C Klaster Industri 3-B Klaster Industri 1-Z Klaster Industri: Klaster Industri 3 Klaster Industri 1 Sektor I Sektor II Sektor III Daerah C Daerah A SID SID Sistem Inovasi Nasional SID : Sistem Inovasi Daerah.
  • 12. CONTOH : MEMBANGUN KEUNGGULAN DAYA SAING DAERAH Faktor Lokalitas & Konteks Global DAERAH ~ Makro
    • Himpunan SDM & Entitas Organisasi
    • Hubungan - Jaringan - Interaksi
    • Kolaborasi - Sinergi
    • SISTEM INOVASI - KLASTER INDUSTRI ~ Meso
    • SDM
    • Kompetensi
    • Spesialisasi
    • Organisasi/Perus. ~ Mikro
    Produk
  • 13. PEMAJUAN SISTEM
    • Sistem inovasi / klaster industri : cara pandang / pendekatan sistem.
    • “ Nilai” (value) merupakan esensi dari sistem produktif dan terjadinya “hubungan” dari berbagai aktivitas (bisnis dan non bisnis); hubungan “saling menguntungkan” merupakan dasar berlangsungnya hubungan yang produktif dan bertahan lama.
    • Dari perspektif sistem :
      • Elemen, aktor, proses/aktivitas dan hubungan/keterkaitan membentuk dan mempengaruhi dinamika perkembangan sistem;
      • Bagian terlemah menentukan kinerja sistem.
    • Peran pemerintah dibutuhkan karena :
      • Kegagalan pemerintah (distortif)
      • Kegagalan pasar (mis. eksternalitas, knowledge spillover )
      • Kegagalan sistemik (mis. fungsi-fungsi penting yang tidak berkembang, kelembagaan)
    • Pemajuan sistemik lebih merupakan proses evolusi dan memerlukan “gerakan bersama”.
  • 14. PENGEMBANGAN UKM
    • UKM : bagian mayoritas aktor bisnis, tetapi umumnya “tertinggal”
    • Seolah “terisolasi” dari sistem ekonomi dan sering diperlakukan “eksklusif”.
    • Intervensi pemerintah sering parsial, tidak konsisten dan terjebak “picking the winner”.
    • Sistem inovasi – klaster industri menawarkan paradigma yang lebih baik.
    • Pengembangan UKM di daerah perlu diletakkan dalam kerangka pemajuan ekonomi daerah secara keseluruhan.
    • Perbaikan kebijakan dilakukan tidak sekedar pada instrumennya saja tetapi juga “kerangka” kebijakannya ~ koherensi kebijakan.
    • Perbaikan kebijakan bukan sekedar versi birokrasi, melainkan rumusan dari para stakeholders kunci.
    • Agenda bersama pengembangan klaster industri bukan semata mengandalkan pada program/kegiatan pemerintah, tetapi kesungguhan aktor bisnis dan non bisnis melakukan perbaikan sesuai peran masing-masing.
  • 15. INOVASI, TECHNOPRENEURSHIP DAN MODERNISASI “SUMBER” PERKEMBANGAN EKONOMI Pengembangan Bisnis Baru Perbaikan Bisnis yang Ada (Existing) Investasi Dari Luar Keterkaitan Investasi (& perdagangan) Ke Luar Rantai Nilai Inovasi & Difusi Pengetahuan & Kompetensi Penyediaan pengetahuan/ teknologi Pembelajaran, termasuk Litbangyasa Daya Saing yang Lebih Tinggi Investasi untuk Inovasi ROI yang Lebih Tinggi Rantai Nilai Produksi Interaksi & Keterkaitan Faktor keunggulan lokalitas Siklus yang Makin Menguat (Dari vicious cycle menjadi virtuous cycle )
  • 16. MENGAPA KLASTER INDUSTRI: KONSEP KLASTER INDUSTRI DAN KEMANFAATANNYA Manfaat Bagi Pelaku Bisnis Manfaat bagi Perguruan Tinggi/ Lembaga Litbang Manfaat Bagi Perkembangan Inovasi Manfaat bagi Pembuat Kebijakan dan Stakeholders lain Potensi Daya Saing Atas Perkembangan Kapasitas inovasi Kolaborasi Sinergis Sesuai Kompetensi MANFAAT PLATFORM KLASTER INDUSTRI Keterkaitan dan Dukungan bagi Peningkatan Rantai Nilai Tambah Peran dan Intervensi yang Lebih Tepat EKONOMI EKSTERNAL PATH DEPENDENCE LINGKUNGAN INOVASI KOMPETISI KOOPERATIF PERSAINGAN/ RIVALITAS EFISIENSI KOLEKTIF TINDAKAN KOLEKTIF Teori/ Konsep Industrial District
  • 17. MANFAAT UMUM Pengakuan nasional dan internasional Meningkatkan produktivitas Memperbaiki infrastruktur keras dan lunak daerah Menciptakan keragaman sumber tenaga terampil yang lebih besar Aliansi strategis nasional maupun internasional Membantu mengurangi kekhawatiran persaingan antar-industri Berbagi informasi Kerjasama bisnis untuk memperkuat industrinya Mempengaruhi hubungan pemasok dan pembeli Memfasilitasi pengembangan tingkat kompetensi yang lebih tinggi Pemasaran bersama Memperoleh manfaat ekonomi dari skala (Membantu pencapaian skala ekonomi / economies of scale ) Menghimpun sumber daya kolektif Membantu pengembangan agenda bersama Meningkatkan pertambahan nilai Memungkinkan suatu kerangka bagi kolaborasi
  • 18. MANFAAT “PENDEKATAN KLASTER”
    • Keterlibatan dalam dialog konstruktif atau proses partisipatif antara pelaku bisnis, pemasok kunci, pembeli dan stakeholder kunci lain di daerah.
    • Memperkuat keterkaitan yang saling menguntungkan antar stakeholder , seperti misalnya antara penyelenggara pendidikan dengan industri, penyedia teknologi dengan pengguna, investor dan lembaga keuangan/pembiayaan dengan perusahaan yang ada atau yang baru, dan lainnya.
    • Penyediaan kerangka penyediaan infrastruktur yang lebih terarah sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
    • Memungkinkan investasi infrastruktur informasi yang terakseskan dan mempunyai daya dongkrak (leverage impact) signifikan untuk meningkatkan kinerja klaster.
    • Memfasilitasi penyesuaian sistem administratif layanan pemerintah daerah untuk mendorong peningkatan produktivitas klaster.
    Pendekatan klaster dapat mencapai suatu dampak yang signifikan pada pembangunan ekonomi daerah melalui: Sumber : Diadopsi dari Roelandt dan den Hertog (1998) :
  • 19. PERAN KI DALAM MEMBANGUN KEUNGGULAN DAYA SAING DAERAH
    • Investasi inward yang berkualitas
    • Capaian ekspor
    • Perusahaan yang mampu
    • bersaing secara global
    • Pengembangan/penumbuhan
    • perusahaan pemula (baru)
    • Peningkatan inovasi
    • Perkembangan perusahaan setempat
    Keunggulan Daya Saing Daerah Mendorong Perkembangan Ekonomi
    • Pengembangan infrastruktur
    • Spin-off / spin out litbang
    • dan pengetahuan
    • Capaian ekspor
    • Pasar tenaga kerja yang kompetitif
    • Industri berbasis pengetahuan/teknologi
    • Keterampilan tinggi
    Membangun Kekuatan Daerah Peningkatan Capaian dan Peningkatan Kapasitas Klaster-klaster Industri
  • 20. CONTOH MANFAAT BAGI UKM
    • Skala Ekonomi : Membuka peluang dan secara empiris sudah terbukti sebagai suatu alat ( means ) yang baik untuk mengatasi hambatan akibat ukuran (skala bisnis) UKM dan berhasil mengatasi persaingan dalam suatu lingkungan pasar yang semakin kompetitif . Pendekatan ini membantu upaya yang lebih fokus bagi terjalinnya jaringan bisnis, sehingga UKM individual dapat mengatasi masalah akibat ukuran (skala) dan memperbaiki posisi kompetitifnya;
    • Akses terhadap Sumber Produktif dan Pasar : Melalui kerjasama horizontal (misalnya bersama UKM lainnya yang menempati posisi yang sama dalam mata-rantai nilai/ value chain ) secara kolektif perusahaan-perusahaan dapat mencapai skala ekonomis melampaui jangkauan perusahaan kecil individual dan dapat memperoleh pembelian input dalam skala yang ekonomis, mencapai skala optimal dalam penggunaan peralatan, dan menggabungkan kapasitas produksi untuk memenuhi order skala besar;
  • 21. CONTOH MANFAAT BAGI UKM (lanjutan)
    • Spesialisasi / Kompetensi : Melalui kemitraan horizontal ataupun integrasi vertikal (dengan UKM lainnya maupun dengan perusahaan besar dalam mata-rantai nilai), perusahaan-perusahaan dapat memfokuskan ke bisnis intinya dan memberi peluang ekonomi eksternal atas ketersediaan tenaga kerja yang lebih terspesialisasi;
    • Proses Pembelajaran : Kerjasama antar-perusahaan juga memberi kesempatan tumbuhnya ruang belajar secara kolektif dimana terjadi pengembangan saling-tukar pendapat dan saling-bagi pengetahuan dalam suatu usaha kolektif untuk meningkatkan kualitas produk dan pindah ke segmen pasar yang lebih menguntungkan;
    • Efisiensi Kolektif (dari Ekonomi Eksternal dan Tindakan Kolektif) : Selain itu, jaringan bisnis di antara perusahaan, penyediaan jasa layanan usaha (misalnya institusi pelatihan, sentra teknologi, dan sebagainya) dan perumus kebijakan lokal, dapat mendukung pembentukan suatu visi pengembangan bersama di tingkat lokal dan memperkuat tindakan kolektif untuk meningkatkan daya saing UKM.
  • 22. OUTLINE CATATAN PENUTUP KERANGKA STRATEGI PENGEMBANGAN CONTOH-CONTOH KLASTER INDUSTRI TANTANGAN PEMBANGUNAN KE DEPAN
  • 23. CONTOH DI AMERIKA SERIKAT
  • 24. Contoh Klaster Anggur Kalifornia Sumber : California Wine Institute, Internet search, California State Legislature. Based on research by MBA 1997 students R. Alexander, R. Arney, N. Black, E. Frost, and A. Shivananda. Dikutip dari Porter (2001). Pendidikan, Riset, & Organisasi Perdagangan (mis. Wine Institute, UC Davis, Culinary Institutes) Petani anggur Pengolahan Minuman Anggur Grapestock Pupuk, Pestisida, Herbisida Peralatan panen anggur Teknologi Irigasi Perlengkapan pembuatan anggur Tong (Barrels) Label Botol Tutup botol dan gabus Humas (PR) dan Periklanan Penerbitan Khusus (mis. Wine Spectator, Trade Journal) Klaster Pangan Klaster Pariwisata Klaster Pertanian Kalifornia Badan Pemerintah (mis. Select Committee on Wine Production and Economy)
  • 25. CONTOH : KLASTER UTAMA DI ITALIA ASSE SEMPIONE textile BIELLA wool CARRARA marble PRATO textile AREZZO jewelry BRIANZA furniture MONTEBELLUNA Sky boots CARPI textile BOLOGNA motorcycles packaging CADORE eyewear PROVINCIA DI UDINE seats and tables SASSUOLO ceramic tiles ALTO LIVENZA furniture CANTÙ furniture OLGIATESE textile COMO silk LECCO metalworking LUMEZZANE taps, valves PESARO kitchen FERMO ASCOLI-PICENO Footwear VICENZA jewelry Main Italian districts according : - worforce (>10.000 employees) - turnover (>1.000 milion EURO) - number companies(> 500) Source: CENSIS, 1998. VIII Forum dei localismi Sumber : Balestri, et al., 1999.
    • 25-35 % tenaga kerja Manufaktur Italia
    • 60 % tenaga kerja Manufaktur di Veneto dan 8 % di Selatan
  • 26. CONTOH : “SENTRA INDUSTRI” (INDUSTRIAL DISTRICTS) UTAMA DI VENETO MONTEBELLUNA Sky boots CADORE eyewear VICENZA jewelry ARZIGNANO tanned leather POSSAGNO roof tiles BOVOLONE - CEREA Furniture MURANO glass RIVIERA DEL BRENTA footwear BASSANO furniture TURNOVER (Euro) NUMBER OF COMPANIES > 1.000 mil. 500-1.000 mil. < 500 mil > 1000 100-1000 less 100 SOURCE: CENSIS, CLUB DEI DISTRETTI INDUSTRIALI, CLUSTER COMPETITIVENESS BUSSOLENGO footwear GREZZANA red marble
  • 27. Ocean Engineering (St. John’s) Ag-Biotech / Nutraceuticals (Saskatoon) Fuel Cells (Vancouver) Medical Technologies (Winnipeg) ICT/Photonics (Ottawa) Biopharmaceuticals (Montreal) Life Sciences (Halifax) e-Business (New Brunswick, Sydney) Aluminum (Saguenay) Aerospace (Ottawa, Montreal) Nanotechnology (Edmonton) KANADA : NRC Cluster Initiatives Sustainable Infrastructure (Regina)
  • 28. CONTOH PETA POTENSI KLASTER INDUSTRI Sumber : Taufik (2004). Pendidikan dan Riset (Perguruan Tinggi & Lemlitbang Budidaya Mahkota Dewa dan Pare
    • Industri Bahan:
    • Jamu
    • Herbal Terstandar
    • Fitofarmaka
    Klaster Pertanian Lab Uji Asosiasi Profesi & Bisnis (Organisasi Perdagangan) Lembaga Keuangan Badan Pemerintah (Kebijakan/Regulasi. Mis.: Deptan, Deperindag, BPOM, Depkes, BSN, Ditjen HKI) Penyedia Jasa Kesehatan Penyedia Jasa Khusus Produk Biologis Produk Farmasi Produk Kesehatan dan Kosmetika Industri Terkait seperti: Obat Sintetis & Produk Kesehatan Lain Peralatan/ Perlengkapan Uji Penyimpanan dan Distribusi Peralatan/ Perlengkapan Produksi Pengemasan Sertifikasi / Label Humas (PR) dan Periklanan Benih/Bibit/ Tumbuhan Saprodi Alsintan Teknologi & Praktik Baik
  • 29. CATATAN : PRAKARSA NASIONAL
    • Bapenas : KPEL
    • Kementerian KUKM : Sentra bisnis dan BDSP
    • Deperin : KPIN ~ diagnostik (2005)
    • KNRT : Rusnas (6 tema)
    • BPPT : beberapa prakarsa di daerah
    • Lembaga “donor” : JICA, GTZ
  • 30. OUTLINE CATATAN PENUTUP KERANGKA STRATEGI PENGEMBANGAN CONTOH-CONTOH KLASTER INDUSTRI TANTANGAN PEMBANGUNAN KE DEPAN
  • 31. Contoh Kerangka Pentahapan Umum Pengembangan bagi Daerah Bersaing Atas Dasar Murahnya Tenaga Kerja dan/atau SDA di Daerah Pengembangan Posisi Spesifik dalam “Relung” Ekonomi tertentu: Pasar Lokal/Setempat, Segmen “Antardaerah dan Nasional dan/atau Regional/Internasional” Perluasan Produksi dalam Sektor Lain yang Memiliki Biaya Rendah atau Melimpahnya SDA Daerah Perluasan Pelayanan Pasar Lokal, Nasional, Regional (Antarnegara) dan/atau Internasional Menjadi “Pemain Utama” dalam Pasar Global Menjadi “Pemain Khusus” dalam Pasar Nasional, Regional dan/atau Internasional Membangun Klaster-klaster Industri Spesifik dan SID yang Kuat Posisi Saat Kini Tahap Awal Tahap Pengembangan Tahap Ekspansi Penghimpunan, Pemanfaatan, dan Pengembangan Potensi Spesifik Terbaik Setempat (Sosial, Ekonomi Budaya) Memprakarsai Pengembangan Klaster-klaster Industri Spesifik dan SID Memperkuat Klaster-klaster Industri Spesifik dan SID dalam Konteks Global Sumber : Taufik (2005).
  • 32. KERANGKA UMUM TAHAPAN PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI Implementasi Penggalian / Penentuan SDM, S Dana & SD lain Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Tugas, SDM & Hubungan Pengamanan Kesepakatan / Persetujuan Pemantauan, Evaluasi dan Perbaikan Pengelolaan Sinergi Mobilisasi SD & Pelaksanaan Aktivitas Pencapaian Milestones Penyusunan Kerangka dan Agenda Pengembangan Pengelolaan Keterlibatan & Komunikasi Pembelajaran & Kepemimpinan Konsensus Rencana Perencanaan Aksi Perumusan Strategi & Implikasi Kebijakan Kelembagaan Kolaborasi dan Struktur Operasional Aktivitas Awal Inisiatif / Prakarsa Pengembangan Konsensus Prakarsa Eksplorasi / Analisis Pengembangan Tim Prakarsa Inisiasi Pengelolaan Keberterimaan, Komitmen & Sinergi Positif Proses Pemetarencanaan (Roadmapping)
  • 33. DIAGRAM ALIR PROSES Penentuan Fokus Tematik Prakarsa KI Analisis isu Agenda Aksi Prioritas Matriks Kebijakan/Program/Kegiatan Kolaboratif Implementasi MONEV Umpanbalik (Feedback) Tindakan Non-interventif (Prakarsa Bisnis Murni) Intervensi Pemetaan Analisis Solusi
    • Pendefinisian ~ ISIC (KBLI)
    • Analisis Awal (IO)
    • Pohon Industri
    • Indikasi Kehendak Stakeholders
    • Champions
  • 34. Peta pelaku Analisis Lingkungan Usaha Analisis Perkuatan Lingkungan Usaha Prioritas tujuan Strategi alternatif Matriks rencana kegiatan Pohon tujuan CONTOH ANALISIS Agenda perkuatan Agenda perkuatan Agenda perkuatan Agenda perkuatan Results Hierarchy activities outputs purpose goal + - + - + - + -
  • 35. OUTLINE CATATAN PENUTUP KERANGKA STRATEGI PENGEMBANGAN CONTOH-CONTOH KLASTER INDUSTRI TANTANGAN PEMBANGUNAN KE DEPAN
  • 36. PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK (DARI BEBERAPA PENGALAMAN P2KT PUDPKM - BPPT)
    • Tantangan terbesar :
      • Perubahan paradigma (personil internal & mitra kerja dan pola sektoral yang masih sangat terkotak-kotak). Perlu perbaikan paradigma (pola pikir, sikap dan tindakan) segenap aktor/pelaku (pelaku bisnis, pihak non-pemerintah, pemerintah) dalam menjalankan peran masing-masing;
      • Komitmen;
      • Konsistensi;
      • Semakin siap dengan beragam paradoks dari perubahan.
    • Hambatan terbesar : struktur penganggaran & bureaucratic rigidity .
    • Faktor Keberhasilan yang penting :
      • Potensi lokal yang “khas/unik”;
      • Kehendak/motivasi kuat pelaku bisnis dan mitra kerja (terutama untuk berubah ke arah perbaikan);
      • Local champions ~ Individu setempat dengan kepeloporan yang tinggi;
      • Konteks (dan/atau faktor) kolaborasi dalam pengembangan UKM semakin menentukan keberhasilan di arena persaingan global (tetapi bukan karena euforia atau sentimentalisme atas “usaha kecil”);
      • Perlunya “platform bersama” (common platform) untuk membangun sinergi peningkatan daya saing UKM.
  • 37. PENUTUP
    • Faktor “lokalitas” sangat penting di era global. Agenda pembangunan ekonomi daerah/lokal perlu:
      • Bertumpu pada potensi terbaik setempat  potensi keunggulan
      • perlu memiliki fokus strategis
      • (yang sekaligus dapat) menjadi agenda kolektif multipihak untuk bersinergi
    • Perlu terus mendorong prakarsa lokal & proses partisipatif dalam pembangunan ~ pengembangan klaster industri.
    • Meningkatkan kesadaran agar pengetahuan/teknologi dan inovasi semakin menjadi elemen kunci pembangunan ekonomi setempat.
    • Pendekatan Klaster Industri merupakan suatu alternatif platform bersama (common platform) multi pihak bagi peningkatan daya saing industri dan daerah.
  • 38. Dr. Tatang A. Taufik Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Gedung BPPT II, Lt 21 Jl. MH. Thamrin 8, Jakarta 10340 Telp. (021)-3169813 Fax. (021)-3169811 E-mail: tatang@inn.bppt.go.id, tatang@ceo.bppt.go.id Terimakasih
  • 39. CONTOH KERANGKA ANALISIS DETERMINAN DAYA SAING: Untuk Konteks Lingkungan Bisnis dan Inovasi Sumber : adopsi dari Porter Konteks untuk Strategi Perusahaan dan Persaingan Industri Pendukung dan Terkait Kondisi Faktor (Input) Infrastruktur inovasi umum : ? Keluasan klaster dari ekonomi. Kondisi spesifik klaster : ? Kehadiran pemasok klaster setempat . Infrastruktur inovasi umum : ? Perlindungan HKI ? Keterbukaan thd perdagangan dan investasi ? Insentif untuk inovasi Kondisi spesifik klaster : ? Persaingan ketat industri setempat . Kondisi Permintaan Infrastruktur inovasi umum : ? Ketersediaan sejumlah lembaga iptek/litbangyasa, ilmuwan dan insinyur. ? Keunggulan dalam riset. Kondisi spesifik klaster : ? Ketersediaan peneliti spesialis yang berkualitas ~ engineering, pertanian, kepariwisataan, seni & kerajinan. Infrastruktur inovasi umum : ? Peraturan lingkungan yang ketat ? Pengadaan pemerintah yang mendorong inovasi Kondisi spesifik klaster : ? Permintaan pelanggan setempat yang canggih dan sangat menuntut bagi produk barang & jasa klaster. Pemerintah Infrastruktur inovasi umum : ? Peran pemda dalam & kebijakan bagi penguatan pemasok pengetahuan/ teknologi yang relevan bagi ekonomi daerah. Kondisi spesifik klaster : ? Insentif bagi keterkaitan bisnis dengan knowledge pool setempat .
  • 40. ANALISIS RANTAI NILAI AGRO : REVIEW
    • Perishable
    • Ketersediaan pasokan ~ mutu (rendah, tdk konsisten), kuantitatis (rendah, musiman)
    • Bulky
    • Keterbatasan faktor produksi
    • Skala bisnis
    • Kualitas SDM
    • Posisi tawar
    • Sosio kultural
    Aktor Bisnis Produk / Industri Faktor-faktor “makro – struktural” PEMBIBITAN/ PEMBENIHAN ----------------- . . . . BUDIDAYA ------------------ . . . . PASCAPANEN ------------------ . . . . PENGOLAHAN ------------------ . . . . AKTIVITAS PRODUKTIF LAIN ------------------ . . . . DISTRIBUSI ------------------ . . . . AKTIVITAS PRODUKTIF LAIN ------------------ . . . . TEKNOLOGI
  • 41. KETERSEDIAAN SUMBERDAYA LAHAN BIBIT / BENIH TANAMAN PRODUK PERTANIAN SEGAR PRODUK PERTANIAN SIAP SIMPAN PRODUK PERTANIAN OLAHAN KONSUMSI O U T P U T P R O S E S / P E L A K U T E K N O L O G I
    • PEWILAYAHAN KOMODITI
    • POTENSI SUMBER AIR
    • CITRA SATELIT
    • REMOTE SENSING
    • G I S
    • BIOTEKNOLOGI
    • KULTUR JARINGAN
    • REKAYASA GEN
    • KLONING DLL
    • HIDROPONIK
    • PUPUK BIOLOGIS
    • BIOPESTICIDE
    • MEKANISASI
    • DRIP IRRIGATION
    • . . .
    • . . .
    • . . .
    • . . .
    • . . .
    • . . .
    • TEKNOLOGI INFORMASI
    • COMPUTER SCIENCE
    • PACKAGING
    • TRANSPORTASI
    RANTAI NILAI INDUSTRI “GENERIK” BERBASIS PERTANIAN TEKNOLOGI PEMETAAN TEKNOLOGI PRODUKSI BIBIT UNGGUL TEKNOLOGI BUDIDAYA TEKNOLOGI PASCAPANEN TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEKNOLOGI PENDUKUNG PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAHAN ---------------------- . . . . PEMBIBITAN/ PEMBENIHAN --------------------- . . . . BUDIDAYA PERTANIAN ----------------------- . . . . PASCA PANEN / PENYIMPANAN ----------------------- . . . . PENGOLAHAN / PROCESSING ---------------------- . . . . DISTRIBUSI/ PEMASARAN ---------------------- . . . .
  • 42. TEKNOLOGI DALAM RANTAI NILAI AGRO
    • Perishable
    • Ketersediaan pasokan ~ mutu (rendah, tdk konsisten), kuantitatis (rendah, musiman)
    • Bulky
    • Keterbatasan faktor produksi
    • Skala bisnis
    • Kualitas SDM
    • Posisi tawar
    • Sosio kultural
    Aktor Bisnis Produk / Industri Faktor-faktor “makro – struktural” PEMBIBITAN/ PEMBENIHAN ----------------- . . . . BUDIDAYA ------------------ . . . . PASCAPANEN ------------------ . . . . PENGOLAHAN ------------------ . . . . AKTIVITAS PRODUKTIF LAIN ------------------ . . . . DISTRIBUSI ------------------ . . . . AKTIVITAS PRODUKTIF LAIN ------------------ . . . . TEKNOLOGI TEKNOLOGI APA (termasuk emerging technology ) YANG MEMILIKI POTENSI DAYA UNGKIT (LEVERAGE) KEMANFAATAN TERBESAR DAN BAGAIMANA PEMANFAATAN (DAN DIFUSINYA) ?
  • 43. CATATAN TERMINOLOGI : PENGERTIAN TENTANG DAYA SAING
    • Beragam definisi ~ perbedaan keberterimaan (acceptability) oleh berbagai kalangan (misalnya akademisi, praktisi, pembuat kebijakan).
    • PORTER (1990): “There is NO ACCEPTED DEFINITION OF COMPETITIVENESS . Whichever definition of competitiveness is adopted, an even more serious problem has been there is no generally accepted theory to explain it”.
    • “ Pembedaan” pada beragam tingkatan:
      • Perusahaan (mikro) : definisi yang paling “jelas.”
      • Industri (meso) : walaupun beragam, umumnya dapat dipahami: pergeseran perspektif pendekatan “sektoral”  pendekatan “klaster industri.”
      • Ekonomi (makro) : dipandang sangat penting, walaupun masih sarat perdebatan dan kritik (latar belakang teori).
    Kemampuan/daya tarik (attractiveness); kemampuan membentuk/menawarkan lingkungan paling produktif bagi bisnis, menarik talented people , investasi, dan mobile factors lain, dsb.; dan Kinerja berkelanjutan. Kemampuan suatu industri (a gregasi perusahaan ~ “sektoral”  “klaster industri” ) menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari industri pesaing asingnya Kemampuan suatu perusahaan mengatasi perubahan dan persaingan pasar dalam memperbesar dan mempertahankan keuntungannya (profitabilitas), pangsa pasar, dan/atau ukuran bisnisnya (skala usahanya) “ Tingkatan Analisis” / Dimensi “Sektoral” “ Konteks Telaahan” (Perbandingan) / Dimensi Teritorial / Spasial Negara / Daerah Rujukan : a.l. Porter & McFetridge (1995) Mikro ~ Perusahaan Meso ~ Industri “ Makro” ~ Ekonomi Memiliki pengertian yang berbeda, tetapi saling berkaitan
  • 44. DAYA SAING (KEUNGGULAN) DAERAH
    • Kemampuan daerah menciptakan/ mengembangkan dan menawarkan :
      • iklim/lingkungan yang paling produktif bagi bisnis dan inovasi,
      • daya tarik atau menarik “investasi,” talenta (talented people), dan faktor-faktor mudah bergerak (mobile factors) lainnya, serta
      • potensi berkinerja unggul yang berkelanjutan.
  • 45. PERBANDINGAN PENDEKATAN SEKTORAL DAN PENDEKATAN KLASTER Sumber : Porter (1997), Dikutip dari Roelandt dan den Hertog (1998). Mencari sinergi dan kombinasi baru Mencari diversifikasi dalam lintasan yang ada
    • Lingkup yang luas untuk perbaikan pada bidang yang menjadi perhatian bersama yang akan memperbaiki produktivitas dan meningkatkan bidang persaingan
    • Suatu forum untuk dialog swasta-pemerintah yang lebih konstruktif dan efisien
    Dialog dengan pemerintah seringkali mempunyai kecenderungan kepada subsidi, proteksi, dan pembatasan persaingan Sebagian besar partisipan bukanlah pesaing namun memiliki kebutuhan dan kendala serupa Sebagian besar partisipan adalah pesaing Melibatkan sederet industri yang berkaitan yang menggunakan teknologi, keterampilan, informasi, input, konsumen dan saluran serupa/bersama Berfokus pada pesaing langsung dan tak langsung Mencakup konsumen, pemasok, penyedia jasa, dan lembaga yang terspesialisasi Berfokus pada industri produk akhir (end product industries) Kelompok strategik dengan posisi jaringan yang paling saling melengkapi (komplementatif) dan tidak serupa Kelompok dengan posisi jaringan yang serupa Pendekatan Berbasis Klaster Pendekatan Sektoral
  • 46. PERBANDINGAN KONSEP SENTRA INDUSTRI DAN KLASTER INDUSTRI Dari konsep multi dan lintas sektor (multi- and cross-sectoral) Dari konsep industrial district ~ industri tunggal (sektor) Batasan Industri Konsep Pendekatan Segi Himpunan sebagai jaringan rantai nilai para pelaku dalam konteks tertentu baik pelaku industri tertentu yang berperan sebagai industri inti (core industries) , pemasok kepada pelaku industri inti, industri pendukung bagi industri inti, pihak/lembaga yang memberikan jasa layanan kepada pelaku industri inti. Himpunan para pelaku (produsen) di bidang usaha industri tertentu yang serupa. Catatan: untuk beberapa sentra industri, telah terdapat UPT (Unit Pelayanan Teknis)  LIK (Lingkungan Industri Kecil) Pendekatan yang lebih menyoroti “keterkaitan” (interdependency) atau rantai nilai sehimpunan aktivitas bisnis. Sentra industri/ bisnis dan/atau industrial district pada dasarnya merupakan bagian integral dari jalinan rantai nilai sebagai suatu klaster industri. Aspek keserupaan (similarity) dari sehimpunan aktivitas bisnis Klaster Industri Sentra Industri
  • 47. PERBANDINGAN KONSEP SENTRA INDUSTRI DAN KLASTER INDUSTRI (lanjutan) Nilai tambah dan daya saing serta hal positif lain yang terbentuk atas rangkaian rantai nilai keseluruhan industri + faktor sinergis lain Hal positif yang umumnya diperoleh lebih karena aglomerasi secara fisik para pelaku usaha Faktor penting yang menjadi pertimbangan Batasan lokasi/ wilayah Keterkaitan antara keduanya Segi Dimungkinkan terbentuknya klaster industri yang bersifat “lintas batas (cross-border) ” dalam konteks batasan kewilayahan tertentu Sentra industri tertentu hanya ada di suatu lokasi (desa/kelurahan) tertentu Dalam suatu klaster industri, suatu sentra industri dapat ditempatkan sebagai salah satu subsistem dalam rangkaian rantai nilai sistem industri tertentu Sentra industri dapat menjadi salah satu himpunan simpul (subgroup) dari suatu klaster industri, baik sebagai industri inti, pemasok, atau pendukung. Suatu sentra industri mungkin saja tidak/belum menjadi bagian dari klaster industri tertentu Klaster Industri Sentra Industri