Strategi Dual TIK   Tatang Taufik
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Strategi Dual TIK Tatang Taufik

on

  • 4,610 views

Pokok pikiran tentang strategi dual pengembangan kemampuan industri TIK di Indonesia

Pokok pikiran tentang strategi dual pengembangan kemampuan industri TIK di Indonesia

Statistics

Views

Total Views
4,610
Views on SlideShare
4,602
Embed Views
8

Actions

Likes
1
Downloads
134
Comments
0

2 Embeds 8

http://www.slideshare.net 7
http://www.slideee.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Strategi Dual TIK   Tatang Taufik Strategi Dual TIK Tatang Taufik Presentation Transcript

  • Disampaikan dalam Seminar SISTEM INOVASI NASIONAL “ Kebijakan publik dalam memacu kapasitas inovasi industri” Hotel Crowne Plaza, Jakarta, 19 – 20 Juli 2006 Strategi Dual Pengembangan Kemampuan Industri TIK Nasional Tatang A. Taufik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
  • OUTLINE
    • PENDAHULUAN
    • PENDEKATAN
    • KONVERGENSI KEDUA KONSEP
    • INDUSTRI TIK
    • GAMBARAN INDUSTRI TIK NASIONAL
    • STRATEGI DUAL
    • CATATAN PENUTUP
  • I. PENDAHULUAN
  • PENDAHULUAN
    • TIK merupakan salah satu bidang penting ~ salah satu prioritas (fokus utama) iptek; salah satu prioritas dalam KPIN.
    • Perkembangan TIK yang cepat; TIK sebagai enabler (ICT-enabled industries) dan sektor produktif dalam pembangunan (ICT-enabling industries) .
    • Pasar yang besar dan potensi industri nasional. ~ Digital/knwoledge divide : persoalan nyata & bentuk “baru” dari masalah “lama.”
    • Bagian dari suatu kajian eksploratif ~ menggunakan konsep klaster industri dan sistem inovasi.
  • II. PENDEKATAN
  • PENDEKATAN
    • Dua “konsep” dikaji sebagai alat pendekatan dalam kajian : “klaster industri” dan “sistem inovasi”
    • Pemetaan (mapping) tentang TIK nasional dilakukan berdasarkan kompendium beragam kajian terdahulu dan upaya serupa yang relevan. Tinjauan kebijakan (direncanakan) dilakukan terutama dalam kerangka penguatan sistem inovasi dan/atau peningkatan daya saing klaster industri TIK.
    • Beberapa hasil indikatif dirangkum sebagai bahan tinjauan strategis dan pemetarencanaan kolaboratif (collaborative roadmapping) .
    • Kertas kerja yang secara ringkas menyampaikan hasil sementara kajian eksploratif yang tengah dilaksanakan berkaitan dengan peningkatan kemampuan industri TIK nasional.
  • III. KONVERGENSI KONSEP KLASTER INDUSTRI DAN SISTEM INOVASI
  • KLASTER INDUSTRI
    • Klaster industri :
      • kelompok industri spesifik yang dihubungkan oleh jaringan mata rantai proses penciptaan/peningkatan nilai tambah ; atau
      • jaringan dari sehimpunan industri yang saling terkait (industri inti/ core industries – yang menjadi “fokus perhatian,” industri pendukungnya/ supporting industries , dan industri terkait/ related industries ), pihak/lembaga yang menghasilkan pengetahuan/ teknologi (termasuk perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pengembangan dan rekayasa/litbangyasa), institusi yang berperan menjembatani/ bridging institutions (misalnya broker dan konsultan), serta pembeli, yang dihubungkan satu dengan lainnya dalam rantai proses peningkatan nilai ( value adding production chain).
    • Catatan :
      • “ Inti, pendukung, atau terkait” sama pentingnya , bukan menunjukkan yang satu lebih penting dari yang lain;
      • Pelaku dengan beragam skala usaha (kecil, menengah, besar) berperan pada posisi masing-masing yang paling tepat .
  • SISTEM INOVASI
    • Sistem inovasi secara umum memiliki pengertian sebagai suatu kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, hubungan interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktek baik/terbaik) serta proses pembelajaran .
    • Malerba (2002b) mendefin i sikan apa yang disebutnya sectoral system of innovation and production sebagai :
      • . . . a sectoral system of innovation and production is a set of new and established products for specific uses and the set of agents carrying out market and non-market interactions for the creation, production and sale of those products. Sectoral systems have a knowledge base, technologies, inputs and demand. . . .
  • HIMPITAN CARA PANDANG DALAM KEDUA KONSEP
    • Pendekatan sistem yang menggunakan telaahan secara holistik tentang konteks telaahan tertentu;
    • Peran aktor (dan kelembagaan) dalam proses penciptaan nilai;
    • Dinamika interaksi antaraktor (termasuk kompetisi dan kooperasi);
    • Pentingnya pengetahuan dan pembelajaran (inovasi dan difusi) dalam menentukan kemajuan/keberhasilan individu dan sistem;
    • Implikasi pergeseran peran dan kebutuhan reformasi kebijakan.
  • TINJAUAN TENTANG KEDUA KONSEP PENDEKATAN
    • Dalam konteks tematik (sektor/industri) dan lokasi (geografis) yang semakin fokus, maka cara pandang klaster industri dan sistem inovasi pada esensinya adalah sama (menunjukkan “konvergensi” dalam konsep/perspektif, terutama dalam konteks peningkatan daya saing).
    • Dari perspektif kebijakan publik :
      • Kebijakan pemerintah yang baik membutuhkan kerangka (policy framework) yang sesuai dan menjadi “acuan” bagi keterpaduan keseluruhan instrumennya secara konsisten;
      • Kebijakan pemerintah perlu sesuai dengan “status perkembangan” sistem sehingga dapat menjadi sistem yang lebih adaptif dengan perkembangan ke depan;
      • Instrumen kebijakan perlu semakin memenuhi kaidah kebijakan yang baik dalam mengatasi isu/persoalan kebijakan yang sesuai dengan tantangan dinamika pasar (mengatasi kegagalan pasar/ market failures tertentu), government failures , dan kegagalan sistemik;
      • Pembelajaran kebijakan menjadi faktor yang semakin penting bagi keberhasilan kebijakan dari waktu ke waktu dalam menumbuhkembangkan sistem.
  • IV. PERKEMBANGAN INDUSTRI TIK
  • KARAKTERISTIK UNIK TIK
    • TIK bersifat pervasive dan cross-cutting
    • TIK merupakan enabler yang penting dalam penciptaan jaringan
    • TIK mendorong diseminasi informasi dan pengetahuan
    • Zero or declining marginal costs untuk produk-produk digital
    • Peningkatan efisiensi dalam produksi, distribusi dan pasar
    • Penting bagi model bisnis inovatif dan keseluruhan industri baru
    • TIK dapat memfasilitasi disintermediation
    • TIK memiliki cakupan global
  • PENDORONG PENTING BISNIS TIK Broad market applications Rapid technology changes Regulatory Power of internet & freedom of wireless Business environment
    • Independent regulatory body
    • Certification authority
    • PKI
    market changes & competition ICT business Broader business opportunities & innovative ideas Sumber : Sudarwo (2002).
  • SIMPLIFIKASI ELEMEN DALAM PERKEMBANGAN KLASTER INDUSTRI DAN SISTEM INOVASI “SEKTOR” TIK Produk TIK H/W & SW Komponen & modul Integrasi sistem
    • Telekomunikasi
    • Produksi
    • Sektor pemanfaatan TIK
    • Dll.
    Daya Saing & Kohesi Sosial Barang modal Pasar : Rantai Nilai Produksi Kapasitas Litbang (Re)Investasi Knowledge/Technology Supply Chain Infrastruktur TIK Inovasi, Difusi & Pembelajaran Inovasi, Difusi & Pembelajaran Inovasi, Difusi & Pembelajaran Edukasi
  • V. GAMBARAN RINGKAS INDUSTRI TIK NASIONAL
  • TIPOLOGI STRATEGI TIK NASIONAL Sumber: Diadopsi dari Digital Opportunity Initiatives (2001). PENDEKATAN STRATEGIK TIK sebagai Sektor Produksi TIK sebagai Enabler Pembangunan Sosial-Ekonomi Pilihan Strategi yang bersifat Non mutually exclusive Fokus Pasar Ekspor (Costa Rica & India) Kapasitas Nasional dan Fokus Pasar Domestik (Brazil) Fokus Tujuan Pembangunan (Afrika Selatan & Estonia) Fokus Positioning Global (Malaysia) Strategi TIK/ICT Nasional
  • SKEMA INDUSTRI TIK D I y z 1 x z 1 z
  • BEBERAPA HAL PENTING
    • Kebutuhan TIK domestik (D) yang luas dan besar, masih didominasi oleh impor (z1 dan z2, baik produk dan teknologi) yang sangat tinggi untuk beragam kebutuhan (industri maupun barang-barang konsumsi). Kebutuhan industri TIK domestik dan aplikasi TIK dalam perekonomian dan sosial belum dapat dipenuhi oleh kemampuan TIK nasional. Industri TIK nasional sejauh ini sangat bergantung pada kemampuan asing (kapital, teknologi, dan beragam “produknya”).
    • Ekspor (y) yang cukup besar terutama dalam bentuk elektronika konsumsi. Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Korea selatan, dan Malaysia adalah di antara negara tujuan ekspor utama (“konvensional”) di bidang TIK dari Indonesia selama ini.
    • Sebenarnya telah mulai berkembang ekspor (umumnya dalam bentuk sotfware ) sebagai bagian dari outsourcing perusahaan internasional (di luar negeri dan/atau MNCs), namun masih terbatas. Sementara ini, data statistik tentang hal seperti ini belum dapat dihimpun dengan sistematis.
  • BEBERAPA HAL PENTING (lnajutan)
    • Beberapa kajian tentang kinerja (dan komparasi tentang kinerja) menyangkut sistem inovasi menunjukkan beragam kelemahan sistem inovasi nasional (termasuk dalam konteks TIK di Indonesia).
    • Walau masih terbatas, kemampuan litbang mulai berkembang namun keterkaitan antara knowledge pool dengan industri (produksi) dan pemanfaatan akhir masih lemah. Penerimaan (acceptance) produk litbang TIK oleh industri TIK dalam negeri (ICT-enabling industries) dinilai masih sangat rendah. Sementara kapasitas absorptif oleh komunitas pengguna akhir TIK (ICT-enabled industries) masih sangat terbatas. Lingkungan bisnis, dan ekonomi, serta sosio-kultural dan politik belum kondusif bagi percepatan perkembangan TIK nasional.
    • Dukungan SDM TIK berkualitas (baik untuk industri TIK maupun sebagai pengguna) masih relatif terbatas.
    • Kebutuhan ekstensifikasi bagi pasar TIK domestik dan fokus pada relung pasar ekspor TIK tertentu perlu menjadi pertimbangan bagi langkah strategis pengembangan industri TIK nasional.
  • VI. STRATEGI DUAL Dengan mempertimbangkan karakteristik TIK dan perkembangan industri TIK nasional, strategi dual dinilai perlu dikembangkan sebagai langkah strategis pengembangan kemampuan industri TIK untuk dua konteks dinamika “pasar” yang berbeda.
  • STRATEGI DUAL
    • Penguatan basis klaster industri domestik sejalan dengan penguatan sistem inovasi yang relevan. Dari perspektif kebijakan ini berarti bahwa
      • Kebijakan klaster perlu sejalan dengan kebijakan inovasi TIK (dan sebaliknya).
      • Kerangka kebijakan (policy framework) yang jelas dan menjadi acuan semua pihak (terutama para penentu kebijakan sektoral dan lintas tingkatan pemerintahan).
      • Adopsi sistem terbuka (open system) di bidang TIK (prinsip: interoperable, user-centric, collaborative, sustainable and flexible) perlu didorong. Walaupun demikian, mengingat kondisi Indonesia, pengembangan open source software perlu menjadi suatu prioritas nasional dalam mengembangkan pilihan yang fair dan kompetitif bagi masyarakat.
  • STRATEGI DUAL
    • Orientasi pada pasar dalam negeri ditekankan pada
      • Pengarustamaan (mainstreaming) TIK dalam pembangunan (kebijakan pembangunan).
      • Peningkatan penerimaan pasar (market acceptance) bagi produk-produk domestik.
      • Perluasan kerjasama antara basis pengetahuan dan industri, dan antara keduanya dengan industri “pengguna” kunci.
      • Pengembangan pembiayaan berisiko dan kemudahan perijinan bagi bisnis, pewirausaha dan produk baru TIK yang inovatif.
      • Program payung nasional bagi dukungan pengembangan inovasi di bidang TIK.
      • Percepatan penguasaan teknologi bagi kelompok TIK yang menentukan bidang strategis nasional (misalnya pertahanan, industri telekomunikasi, transportasi, kesehatan dan pertanian).
  • STRATEGI DUAL
    • Orientasi pasar luar negeri ditekankan pada
      • Pengembangan kerjasama dan jaringan internasional.
      • Pengembangan pasar potensial “baru” (non-konvensional).
      • Pengembangan “produk” kultural dan digital multimedia.
    Mengingat langkah pragmatis akan memerlukan konsensus dan tindakan kolaboratif para stakeholder kunci, maka pengembangan strategi dual tersebut selanjutnya perlu dituangkan antara lain dalam peta-petarencana yang bersifat kolaboratif (collaborative roadmapping) .
  • VII. CATATAN PENUTUP
  • CATATAN PENUTUP
    • Konsep klaster industri dan sistem inovasi dalam perkembangannya semakin konvergen dan ibarat mata uang bersisi ganda dalam upaya peningkatan daya saing. Keterkaitan antara keduanya semakin kuat jika konteks dimensi bidang/sektor dan lokasi-geografisnya semakin fokus.
    • Dengan karakteristik TIK dan industri TIK serta peluang pasar yang dihadapi, strategi dual dipandang perlu digali lebih lanjut sebagai suatu alternatif strategi pengembangan kemampuan industri TIK nasional ke depan.
    • Dari sisi politik teknologi, relevansi “nasionalisme” dalam pembangunan industri TIK sangat memegang kunci bagi keberhasilan peningkatan kemampuan industri TIK nasional. Dari perspektif kebijakan esensinya adalah bahwa peningkatan kemampuan industri TIK nasional sangat membutuhkan keseimbangan antara kepentingan “kesejahteraan” pengguna akhir (sekedar sebagai pasar pengguna) dan kepentingan nasional untuk pembangunan basis kemampuan industrinya di bidang yang sangat strategis di masa depan
  • LAMPIRAN
  • KLASTER INDUSTRI Analisis Berdasarkan The Four-Diamond Porter Institusi Pendukung (Supporting Institutions) Industri Inti (Core Industry) Pembeli (Buyer) Industri Pemasok (Supplier Industry) Industri Terkait (Related Industry) Industri Pendukung (Supporting Industry)
  • TEORI/KONSEP YANG RELEVAN DENGAN KLASTER INDUSTRI Manfaat Bagi Pelaku Bisnis Manfaat bagi Perguruan Tinggi/ Lembaga Litbang Manfaat Bagi Perkembangan Inovasi Manfaat bagi Pembuat Kebijakan dan Stakeholders lain Potensi Daya Saing Atas Perkembangan Kapasitas inovasi Kolaborasi Sinergis Sesuai Kompetensi MANFAAT PLATFORM KLASTER INDUSTRI Keterkaitan dan Dukungan bagi Peningkatan Rantai Nilai Tambah Peran dan Intervensi yang Lebih Tepat EKONOMI EKSTERNAL PATH DEPENDENCE LINGKUNGAN INOVASI KOMPETISI KOOPERATIF PERSAINGAN/ RIVALITAS EFISIENSI KOLEKTIF TINDAKAN KOLEKTIF Teori/ Konsep Industrial District
  • SISTEM INOVASI Sistem Pendidikan dan Litbang Pendidikan dan Pelatihan Profesi Pendidikan Tinggi dan Litbang Litbang Pemerintah Sistem Industri Perusahaan Besar UKM “Matang/ Mapan” PPBT Intermediaries Lembaga Riset Brokers Konsumen (permintaan akhir) Produsen (permintaan antara) Permintaan (Demand) Framework Conditions Kondisi Umum dan Lingkungan Kebijakan pada Tataran Internasional, Pemerintah Nasional, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota Perbankan Modal Ventura Supra- dan Infrastruktur Khusus HKI dan Informasi Dukungan Inovasi dan Bisnis Standar dan Norma Catatan : RPT = Riset dan Pengembangan Teknologi (Research and Technology Development) PPBT = Perusahaan Pemula (Baru) Berbasis Teknologi. Alamiah SDA (Natural Endowment)
    • Budaya
    • Sikap dan nilai
    • Keterbukaan terhadap pembelajaran dan perubahan
    • Kecenderungan terhadap Inovasi dan kewirausahaan
    • Mobilitas
    • Kebijakan Ekonomi
    • Kebijakan ekonomi makro
    • Kebijakan moneter
    • Kebijakan fiskal
    • Kebijakan pajak
    • Kebijakan perdagangan
    • Kebijakan persaingan
    Kebijakan Industri/ Sektoral Kebijakan Keuangan Kebijakan Promosi & Investasi Infrastruktur Umum/ Dasar Sistem Politik Pemerintah Penadbiran (Governance) Kebijakan RPT
  • SALAH SATU PERSPEKTIF TENTANG PENGERTIAN KLASTER INDUSTRI DAN SISTEM INOVASI Klaster Industri 1-A Klaster Industri 2-C Klaster Industri 3-B Klaster Industri 1-Z Klaster Industri: Klaster Industri 3 Klaster Industri 1 Sektor I Sektor II Sektor III Daerah C Daerah A SID SID Sistem Inovasi Nasional SID : Sistem Inovasi Daerah.
  • PERGESERAN PANDANGAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
    • Kebijakan inovasi, dengan kerangka pendekatan sistem.
    • Kebijakan inovasi merupakan proses pembelajaran yang perlu diarahkan pada pengembangan sistem inovasi yang semakin mampu beradaptasi.
    • Kebijakan inovasi tak lagi hanya menjadi ranah monopoli Pemerintah ”Pusat,” tetapi juga Pemerintah ”Daerah.”
    Era Sistem Inovasi (1980an – sekarang). Inovasi dalam kerangka pendekatan sistem proses interaktif-rekursif (feedback loop/chain link model) dari kompleksitas dan dinamika pengembangan ( discovery , invensi, litbang maupun non litbang), pemanfaatan, dan difusi serta pembelajaran secara holistik.
    • Tekanan kebijakan pada sisi permintaan sangat dominan (demand driven).
    • Kebijakan teknologi dan/atau kebijakan iptek berkembang, namun yang bersifat satu arah/sisi (one-side policy) masih dominan.
    Era Demand pull (1970an – 1980an).
    • Tekanan kebijakan pada sisi penawaran sangat dominan (supply driven).
    • Kebijakan sains/riset sangat dominan.
    • Kebijakan teknologi/iptek mulai berkembang.
    Era Technology push (tahun 1960an – tahun 1970an). Inovasi sebagai proses sekuensial linier ( pineline linear model). Tidak/belum ada upaya khusus intervensi. Era di mana inovasi belum memperoleh perhatian khusus (terutama masa sebelum 1960an). Sebagai residual (faktor ”marjinal”) pertumbuhan/ kemajuan (model-model pertumbuhan neo-klasik dan sebelumnya). Implikasi Kebijakan Era Cara Pandang
  • SALAH SATU VERSI TENTANG PERGESERAN PANDANGAN TENTANG SISTEM INOVASI 4 th Generation Theories of Innovation 5 th Generation Theories of Innovation Main characteristic: Systems integration and networking theory (SIN) Parallel processes, collaborating companies, collaborative innovation networks Main characteristic: Integrated theory of innovation Parallel development with integrated development teams 3 rd Generation Theories of Innovation Main characteristic: Sequential Interactive Process 1 st Generation Theories of Innovation 2 nd Generation Theories of Innovation Main characteristic: Demand-pull (linear) Main characteristic: Technology-push (linear) Sumber : HUT Dipoli – Roadmap, Tapio Koskinen, Markku Markkula – 2005 (Bahan Presentasi - www.dipoli.tkk.fi) From Linear to Sequential...
  • SISTEM INOVASI: Model Skematik Triple Helix Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Etzkowitz dan Leydesdorff (2000). Pemerintah Industri Akademia Tri-literal network dan Organisasi Hybrid Hubungan/interaksi antar kelembagaan dalam “pusaran spiral” sebagai “proses transisi tanpa akhir dan dinamis”
  • INDUSTRI ICT MENURUT OECD Komputer dan aktivitas terkait 72 Telekomunikasi 6420 Penyewaan mesin dan peralatan perkantoran (termasuk komputer) 7123 Perdagangan besar (wholesaling) mesin, peralatan supplies * 5150 Jasa ICT: Peralatan kontrol proses industri 3313 Instrumen dan appliances untuk mengukur, mengecek, menguji, menavigasi dan maksud lain, kecuali peralatan proses industri 3312 Penerima televisi dan radio, perekaman suara atau video atau perlengkapan reproduksi dan barang-barang terkaitnya 3230 Pemancar televisi dan radio dan perlengkapan untuk telepon dan telegraf 3220 Electronic valves and tubes dan komponen elektronik lain 3210 Insulated wire and cable 3130 Mesin/peralatan kantor, akuntansi, dan kumputasi 3000 Manufaktur ICT Keterangan Kode ISIC
  • INDUSTRI ICT DALAM INDIKATOR YANG DISUSUN BPS DAN BPPT Industri pengukuran, pengatur, dan pengujian elektronik 33123 Industri radio, TV, alat-alat rekaman suara dan gambar dan sejenisnya 32300 Industri alat komunikasi 32200 Industri tabung dan katup elektronik serta komponen elektronik 32100 Industri mesin kantor, komputasi, dan akuntansi elektronik 30003 Industri media rekam dari plastik 25203 Industri reproduksi film dan video 22302 Industri reproduksi rekaman 22301 Industri penerbitan dalam media rekaman 22130 Keterangan Kode
  • PRIORITAS PENGEMBANGAN INDUSTRI TI LOKAL: A, C & D, DENGAN FOKUS A Cakupan Pasar Domestik Ekspor Paket Jasa Jenis Produk C A D B E Sumber: KTIN (2001)
  • PENGELOMPOKAN PELAKU KLASTER INDUSTRI TELEMATIKA MENURUT PERANNYA (KPIN, 2005) :
    • Kelompok “Industri Inti” adalah:
      • Industri Perangkat (Devices)
      • Jaringan
      • Aplikasi (Content).
    • Kelompok “Industri Pendukung” adalah:
      • Software Aplikasi
      • Peralatan Telekomunikasi
      • Komponen TI.
    • Kelompok “Industri Terkait” adalah:
      • Jasa Layanan Nilai Tambah (Broadband Internet, Multimedia).
  • GAMBARAN SEBARAN PERUSAHAAN DI BIDANG TELEMATIKA 172 388 JUMLAH KESELURUHAN 8 14 Jumlah 3 1 Irian Jaya 5 13 Sumatera Utara WILAYAH LAINNYA: 164 374 Jumlah 21 33 Batam 5 2 Bali 15 25 Jawa Timur 10 5 Jawa Tengah & DIY 50 150 Jawa Barat 55 86 DKI Jaya 8 70 Banten WILAYAH STUDI: Teknologi Informasi Elektronika JUMLAH PERUSAHAAN WILAYAH
  • LOKASI PENGEMBANGAN INDUSTRI TELEMATIKA Sumber : KPIN (2005).
  • LOKASI PENGEMBANGAN INDUSTRI ELEKTRONIKA KONSUMSI Sumber : KPIN (2005).
  • SALAH SATU POTENSI WILAYAH PENGEMBANGAN INDUSTRI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Jakarta Cikampek Padalarang Bogor Bandung Cilegon Cikande Rangkasbitung Pamanukan Koridor JKT-CKP Rencana Koridor CIPULARANG Pusat R&D
    • Potensi Pengembangan strategis
    • Perluasan fungsi pelabuhan Pamanukan (30 km dr CKP)
    • Pendalaman dan perluasan investasi Waduk Jatiluhur Cirata dan PLTA Saguling
    • Penetapan dan pengembangan Bandung sbg Pusat R&D
    • Pengembangan Purwakarta sbg Dormitory Town dan kota antara (interface city)
    • Pengembangan “mixed land use” industri, pemukiman, agro industri pada koridor Cipularang
    • Perencanaan pro-aktif memperbaiki jaringan pelayanan dan jalan sekunder antar kawasan industri sepanjang koridor JKT-CKP dan koridor JKT-CLG
    Sumber air dan Tenaga Listrik Koridor JKT-CLG Purwakarta Sumber : Bahan Paparan Deperin (2004). Pusat Pem
  • CONTOH SKEMA KLASTER INDUSTRI ICT DI FINLANDIA
  • KLASTER INOVATIF ICT DI SPANYOL (1997)
  • POSISI DAYA SAING KLASTER KOMUNIKASI DI WILAYAH RESEARCH TRIANGLE NEGARA BAGIAN NORTH CAROLINA – AMERIKA SERIKAT
  • Perbandingan Beberapa Variabel Sistem Inovasi Indonesia dan Beberapa Negara ASEAN Lain Menurut KAM Bank Dunia
  • KOMPARASI KINERJA MENURUT INDIKATOR EKONOMI PENGETAHUAN (KAM BANK DUNIA)
  • Contoh Komparasi Kinerja TIK Menurut KAM Bank Dunia
  • TIK (ICT) ?
    • TIK (ICT) : bidang yang terdiri atas perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), jaringan (networks), dan media untuk menghimpun, menyimpan, mengolah, memindahkan, dan menyajikan informasi (voice, data, text, images) . [didefinisikan dalam the Information & Communication Technology Sector Strategy Paper of the World Bank Group ( April 2002, http://info.worldbank.org/ict/ICT_ssp.html)];
    • Sektor TIK : kombinasi manufaktur dan jasa yang produknya terkait dengan penghimpunan, pemindahan atau penampilan/penyajian data dan informasi secara elektronik (WPIIS in 1998; OECD, ISIC Rev.3).
    • TIK : didefinisikan sebagai ‘ konvergensi telekomunikasi dan komputasi ( the convergence of telecommunications and computing) ’ (Gibbs and Tanner, 1997).