0
SISTEM INOVASI: PENDEKATAN DAN PENADBIRAN Tatang A. Taufik BPPT Diskusi Sistem Inovasi – DRN, 9 Maret 2006
OUTLINE <ul><li>INOVASI :  </li></ul><ul><ul><li>Pengertian </li></ul></ul><ul><ul><li>Perkembangan perspektif </li></ul><...
1. INOVASI
A. BEBERAPA DEFINISI INOVASI <ul><li>Inovasi adalah aplikasi komersial yang pertama kali dari suatu produk atau proses yan...
B. ESENSI PENGERTIAN <ul><li>“ proses’ (dan/atau “hasil”) pengembangan dan/atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, ketera...
C. INOVASI Inovasi Teknologis Jasa  (Services) Organisasional Barang  (Goods) Proses Produk Sistem Pengertian “Teknokratik”
D. PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TENTANG INOVASI Technology Push: Rangkaian “Sekuensial Linier” Dorongan Kemampuan 1960an – 1970...
E. MODEL INOVASI  CHAIN-LINK   Riset – Penciptaan Pengetahuan (Knowledge Creation) Kebutuhan Pasar Analisis Persaingan Inv...
MODEL INOVASI Sains Dasar Pengembangan Teknologi Manufaktur Pemasaran Penjualan Technology Push Demand Pull Kebutuhan Kons...
G. BEBERAPA FENOMENA PENTING <ul><li>Inovasi seringkali bukan  technology push (driven)  atau  demand pull (driven)  secar...
H. BEBERAPA FENOMENA PENTING (OECD, 1999) <ul><li>Inovasi merupakan suatu proses kreatif dan interaktif yang melibatkan le...
I. FAKTOR PENDORONG PENTING <ul><li>Perkembangan/kemajuan teknologi  (technical novelty). </li></ul><ul><li>Perubahan kebu...
J. PERGESERAN PANDANGAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN <ul><li>Kebijakan inovasi, dengan kerangka pendekatan sistem.  </li></ul><...
2. SISTEM INOVASI
A. SISTEM INOVASI: Beberapa Definisi <ul><li>Freeman (1987):  jaringan lembaga  di sektor publik dan swasta yang interaksi...
B. SISTEM INOVASI: Beberapa Definisi <ul><li>Nelson dan Rosenberg (1993): Sistem inovasi merupakan  sehimpunan aktor  yang...
C. REVIEW : PENGERTIAN SISTEM INOVASI DAN KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Sistem Inovasi :  suatu kesatuan dari sehimpunan aktor...
D. SKEMATIK GENERIK SISTEM INOVASI Sistem Pendidikan dan Litbang Pendidikan dan Pelatihan Profesi Pendidikan Tinggi dan Li...
E. SISTEM INOVASI: ESENSI PENGERTIAN <ul><li>Pengertian istilah “sistem inovasi” pada dasarnya meliputi konteks “inovasi d...
F. SISTEM INOVASI (OECD) Sistem Pendidikan dan Pelatihan Sumber : OECD (1999). Konteks Ekonomi Makro dan Regulasi Infrastr...
G. SISTEM INOVASI (OECD, 1999): Kecenderungan Perubahan  yang secara bersama Mempengaruhi Kondisi-kondisi bagi Inovasi yan...
H. SISTEM INOVASI (Meyer-Stamer, 1998): Tekanan pada Kapabilitas Teknologi <ul><li>Keterampilan produsen meniru dan berino...
I. SISTEM INOVASI: Fungsi Sistem ( Johnson dan Jacobson, 2001)   <ul><li>Menciptakan pengetahuan baru. </li></ul><ul><li>M...
J. SISTEM INOVASI:  Aktivitas dalam Sistem ( Liu dan White, 2001)   <ul><li>Melakukan kajian tentang sistem inovasi dengan...
K. SISTEM INOVASI:  Beberapa Perkembangan  <ul><li>1980an – 1990an, menyangkut isu-isu: </li></ul><ul><ul><li>inovasi dan ...
L. SISTEM INOVASI: Model Skematik  Triple Helix Sumber : Disesuaikan seperlunya dari  Etzkowitz dan Leydesdorff (2000). Pe...
M. SISTEM INOVASI:   Dari Konteks “Nasional” ke “Daerah” ~ Mengapa <ul><li>Kesadaran bahwa  kedekatan spasial  ( spatial p...
N. SISTEM INOVASI:   Dari Konteks “Nasional” ke “Daerah” ~ Mengapa  (lanjutan) <ul><li>Inovasi merupakan proses sosial, ya...
O. SID: Suatu Perspektif Klaster Industri 1-A Klaster Industri 2-C Klaster Industri 3-B Klaster Industri 1-Z Klaster Indus...
3. PENADBIRAN INOVASI (INNOVATION GOVERNANCE)
A. REVIEW : PENGERTIAN KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Kebijakan inovasi  (innovation policy)  merupakan kelompok kebijakan yang...
B. ILUSTRASI KETERKAITAN KEBIJAKAN BAGI KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI  <ul><li>Kebijakan Pendidikan </li></ul><ul><li>Pengeta...
C. KERANGKA PEMETAAN INSTRUMEN KEBIJAKAN INOVASI Karakteristik Pengaruh/Dampak Tatanan Kelembagaan (Institutional Setting)...
D. SIN: Elemen Esensial “Generik” <ul><li>Daya dukung pihak penyedia; </li></ul><ul><li>Daya serap pihak pengguna; </li></...
E. ORGANISASI PENADBIRAN INOVASI  (INNOVATION GOVERNANCE) Tingkat 1 Kebijakan lintas bidang tingkat tinggi Tingkat 2 Koord...
F. MENGAPA PERLU PERAN “PEMERINTAH” DALAM SISTEM INOVASI <ul><li>Kegagalan Pasar  (Market Failures); </li></ul><ul><li>Keg...
G. ILUSTRASI KERAGAMAN PENADBIRAN KEBIJAKAN “VERTIKAL” DI BEBERAPA NEGARA  Sumber : Arnold, et al. (2004, 2003). Desain ke...
H. ILUSTRASI BATASAN ANTARA BADAN/ORGANISASI   tidak ada badan terpisah tidak ada badan terpisah 7 Dewan Riset Inggris NUT...
I. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Industri Perguruan Tinggi Lembaga Nasional dan Lab. Nasional Sumber : D...
J. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Industri Max Planck Gesellschaft Mission oriented National Research Cen...
K. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Industri Perguruan Tinggi Sumber : Disesuaikan seperlunya dari  Jawahar...
L. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Joint Venture  dan UKM Akademi Sains, Lembaga, dan Lab. Nasional, dan P...
M. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Perusahaan-perusahaan Industri (UKM) Academic Sinica Sumber : Disesuaik...
N.CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Perusahaan-perusahaan Multinasional  (MNCs) Perguruan Tinggi (NUS & NTV)...
O. KELEMBAGAAN DALAM SISTEM INOVASI Sumber : Taufik (2005). Menko Ekonomi DPR Depkeh & HAM DRN <ul><li>10 BUMNIS (dulu) : ...
P. “STRUKTUR ORGANISASI” PENADBIRAN  (GOVERNANCE)  KEBIJAKAN DI DAERAH  Kebijakan, Program, Kegiatan dan Organisasi  serta...
4. TANTANGAN DAN ISU KEBIJAKAN INOVASI
A. TANTANGAN KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Merumuskan konsep  KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI  (INNOVATION POLICY FRAMEWORK)   </li...
B. KRITERIA KEBIJAKAN <ul><li>Efektivitas. </li></ul><ul><li>Efisiensi. </li></ul><ul><li>Memiliki daya bangkitan yang sig...
C. TIGA DIMENSI PENTING KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Dimensi ”penadbiran kebijakan”  (policy governance) , bahwa kebijakan in...
D. ISU KOORDINASI - KOHERENSI KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Fragmentasi “sektoral”; </li></ul><ul><li>Dikotomi “Pusat/Nasional...
E. ISU KEBIJAKAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DI INDONESIA   <ul><li>Kelemahan kerangka umum.  </li></ul><ul><li>Kele...
5. AGENDA KEBIJAKAN INOVASI
A. PERTIMBANGAN KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Beberapa aspek pertimbangan agenda : </li></ul><ul><li>Tema kebijakan i...
B. HEKSAGON KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi dan bisnis. </li></ul><ul><li...
C. ILUSTRASI PRAGMATISASI DARI RPJM 2004-2009 Bab-bab Lain  Bab-bab Lain  Bab 22 RPJM 2004 - 2009 Program  Penelitian dan ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Diskusi Sistem Inovasi DRN

4,585

Published on

sistem inovasi, sistem inovasi daerah, kebijakan inovasi, inovasi, kebijakan teknologi, dewan riset nasional, governance

Published in: Technology, Business
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
4,585
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
296
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Diskusi Sistem Inovasi DRN"

  1. 1. SISTEM INOVASI: PENDEKATAN DAN PENADBIRAN Tatang A. Taufik BPPT Diskusi Sistem Inovasi – DRN, 9 Maret 2006
  2. 2. OUTLINE <ul><li>INOVASI : </li></ul><ul><ul><li>Pengertian </li></ul></ul><ul><ul><li>Perkembangan perspektif </li></ul></ul><ul><li>SISTEM INOVASI </li></ul><ul><li>PENADBIRAN (GOVERNANCE) </li></ul><ul><ul><li>Kebijakan Inovasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Kelembagaan </li></ul></ul><ul><li>ISU KEBIJAKAN INOVASI NASIONAL </li></ul><ul><li>AGENDA KEBIJAKAN INOVASI </li></ul>
  3. 3. 1. INOVASI
  4. 4. A. BEBERAPA DEFINISI INOVASI <ul><li>Inovasi adalah aplikasi komersial yang pertama kali dari suatu produk atau proses yang baru (lihat misalnya Clark dan Guy, 2001); </li></ul><ul><li>Inovasi merupakan suatu proses kreatif dan interaktif yang melibatkan kelembagaan pasar dan non-pasar (OECD, 1999); </li></ul><ul><li>Innovation is a locally driven process, succeeding where organizational conditions foster the transformation of knowledge into products, processes, systems, and services. (Malecki, 1997; Dikutip dari Jelinek dan Hurt, 2001). </li></ul><ul><li>Inovasi adalah transformasi pengetahuan kepada produk, proses dan jasa baru; tindakan menggunakan sesuatu yang baru (Rosenfeld, 2002); </li></ul><ul><li>Inovasi merupakan eksploitasi yang berhasil dari suatu gagasan baru ( the successful exploitation of a new idea; (Mitra, 2001 dan the British Council , 2000), atau dengan kata lain </li></ul><ul><li>Inovasi merupakan (“proses atau hasil”) mobilisasi pengetahuan, keterampilan teknologis dan pengalaman untuk menciptakan produk, proses dan jasa baru ; </li></ul><ul><li>Inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi (UU No. 18 tahun 2002). </li></ul>
  5. 5. B. ESENSI PENGERTIAN <ul><li>“ proses’ (dan/atau “hasil”) pengembangan dan/atau pemanfaatan/mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem yang baru . </li></ul><ul><li>proses di mana gagasan, temuan tentang produk atau proses diciptakan, dikembangkan dan berhasil disampaikan kepada pasar ~ pengertian “teknokratik”. </li></ul><ul><li>Kreativitas tentang perubahan ( pembaruan, perbaikan ) </li></ul><ul><li>(Potensi) nilai komersial ( nilai kegunaan/kemanfaatan ). </li></ul>Inovasi: Inovasi produktif (productive innovation). Kata Kunci:
  6. 6. C. INOVASI Inovasi Teknologis Jasa (Services) Organisasional Barang (Goods) Proses Produk Sistem Pengertian “Teknokratik”
  7. 7. D. PERKEMBANGAN PERSPEKTIF TENTANG INOVASI Technology Push: Rangkaian “Sekuensial Linier” Dorongan Kemampuan 1960an – 1970an Riset Dasar Litbang Riset Terapan Manufaktur/Produksi Penjualan/Distribusi Demand Pull: Rangkaian “Sekuensial Linier” Tarikan Kebutuhan 1970an – 1980an “ Permintaan” Riset Terapan Riset Dasar Market Driven: Rangkaian Proses “Interaktif dan Iteratif” dan sebagai Proses Pembelajaran 1980an – . . . . Manufaktur/Produksi Litbang Penjualan/Distribusi
  8. 8. E. MODEL INOVASI CHAIN-LINK Riset – Penciptaan Pengetahuan (Knowledge Creation) Kebutuhan Pasar Analisis Persaingan Invent Pembuktian Konsep Prototyping Desain detail Uji produk Redesain Produksi Pasar Distribusi Dukungan klien Siklus Pengembangan Produk Proses Transfer (Beragam) Sumber : Diadopsi dari Kline dan Rosenberg (1986).
  9. 9. MODEL INOVASI Sains Dasar Pengembangan Teknologi Manufaktur Pemasaran Penjualan Technology Push Demand Pull Kebutuhan Konsumen Pengembangan Manufaktur Penjualan MODEL LINIER Gagasan Baru Pengembangan Gagasan Pengembangan Teknologi Baru Pembuatan Prototipe Manufaktur Pemasaran & Penjualan Pasar (Market Place) Kebutuhan Masyarakat dan Pasar Kemajuan Teknologi dan Produksi MODEL INTERAKTIF Sumber : Diadopsi dari Dodgson dan Bessant (1996). F. ILUSTRASI PERKEMBANGAN PERSPEKTIF: MODEL INTERAKTIF
  10. 10. G. BEBERAPA FENOMENA PENTING <ul><li>Inovasi seringkali bukan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam – putih” yang tegas, namun lebih merupakan proses di antaranya dan kombinasi keduanya . </li></ul><ul><li>Walaupun inovasi muncul sebagai kejadian (event) yang mengubah sesuatu secara signifikan, inovasi bukan merupakan kejadian sesaat dan/atau tidak terjadi/muncul dengan sendirinya. Inovasi merupakan suatu proses . </li></ul><ul><li>Inovasi lebih merupakan proses kompleks dan dinamis (dan adakalanya terkesan sporadis) yang sering menunjukkan paradoks. Walaupun inovasi didorong oleh kompetisi (persaingan), inovasi tidak berkembang tanpa kerjasama (co-operation) , adakalanya bahkan antara perusahaan yang saling bersaing. Inovasi tak lagi semata hanya bergantung pada bagaimana perusahaan, perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja, namun pada bagaimana mereka bekerjasama. </li></ul><ul><li>Inovasi merupakan proses pembelajaran sosial (social learning) . Para inovator dan adopters (pengguna) sama-sama perlu melalui proses belajar, baik menyangkut isu teknis maupun kemanfaatan dan hal penting lain, serta membutuhkan “interaksi” yang efektif bagi keberhasilan inovasi. </li></ul><ul><li>Iklim persaingan yang sehat memberikan tekanan persaingan yang efektif dalam mendorong kebutuhan akan inovasi dan keberhasilannya akan semakin bergantung pada bagaimana berbagai elemen penting, baik pelaku usaha, lembaga litbang, perguruan tinggi dan pembuat kebijakan berkolaborasi. Di sisi lain, sifat inovasi (iptek atau litbang) yang mengandung “barang publik/ public goods ” (setidaknya “sebagian”) berpotensi membawa kepada “kegagalan pasar” (market failures) . Karenanya, intervensi tertentu seringkali dipandang perlu untuk mendorongnya . </li></ul>
  11. 11. H. BEBERAPA FENOMENA PENTING (OECD, 1999) <ul><li>Inovasi merupakan suatu proses kreatif dan interaktif yang melibatkan lembaga-lembaga pasar dan non-pasar. </li></ul><ul><li>Inovasi bergantung pada kemajuan saintifik. </li></ul><ul><li>Inovasi membutuhkan lebih dari sekedar litbang. SDM merupakan faktor yang sangat kunci. Produksi barang dan jasa semakin knowledge-intensive, tetapi tak selalu berarti lebih R&D intensive. </li></ul><ul><li>Perusahaan merupakan aktor utama, tetapi tidak bertindak sendiri. </li></ul>Semakin penting untuk dipahami: Inovasi pada dasarnya merupakan hasil dari KEWIRAUSAHAAN, KREATIVITAS INTELEKTUAL, DAN UPAYA KOLEKTIF.
  12. 12. I. FAKTOR PENDORONG PENTING <ul><li>Perkembangan/kemajuan teknologi (technical novelty). </li></ul><ul><li>Perubahan kebutuhan/keinginan atau “selera” konsumen. </li></ul><ul><li>Perubahan dalam segmen pasar atau kemunculan segmen pasar yang baru. </li></ul><ul><li>Tekanan persaingan yang semakin ketat. </li></ul><ul><li>Perubahan atas faktor produksi (kelangkaan relatif) dan faktor ekonomi tertentu (misalnya nilai tukar mata uang). </li></ul><ul><li>Peraturan/kebijakan pemerintah. </li></ul>
  13. 13. J. PERGESERAN PANDANGAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN <ul><li>Kebijakan inovasi, dengan kerangka pendekatan sistem. </li></ul><ul><li>Kebijakan inovasi merupakan proses pembelajaran yang perlu diarahkan pada pengembangan sistem inovasi yang semakin mampu beradaptasi. </li></ul><ul><li>Kebijakan inovasi tak lagi hanya menjadi ranah monopoli Pemerintah ”Pusat,” tetapi juga Pemerintah ”Daerah.” </li></ul>Era Sistem Inovasi (1980an – sekarang). Inovasi dalam kerangka pendekatan sistem proses interaktif-rekursif (feedback loop/chain link model) dari kompleksitas dan dinamika pengembangan ( discovery , invensi, litbang maupun non litbang), pemanfaatan, dan difusi serta pembelajaran secara holistik. <ul><li>Tekanan kebijakan pada sisi permintaan sangat dominan (demand driven). </li></ul><ul><li>Kebijakan teknologi dan/atau kebijakan iptek berkembang, namun yang bersifat satu arah/sisi (one-side policy) masih dominan. </li></ul>Era Demand pull (1970an – 1980an). <ul><li>Tekanan kebijakan pada sisi penawaran sangat dominan (supply driven). </li></ul><ul><li>Kebijakan sains/riset sangat dominan. </li></ul><ul><li>Kebijakan teknologi/iptek mulai berkembang. </li></ul>Era Technology push (tahun 1960an – tahun 1970an). Inovasi sebagai proses sekuensial linier ( pineline linear model). Tidak/belum ada upaya khusus intervensi. Era di mana inovasi belum memperoleh perhatian khusus (terutama masa sebelum 1960an). Sebagai residual (faktor ”marjinal”) pertumbuhan/ kemajuan (model-model pertumbuhan neo-klasik dan sebelumnya). Implikasi Kebijakan Era Cara Pandang
  14. 14. 2. SISTEM INOVASI
  15. 15. A. SISTEM INOVASI: Beberapa Definisi <ul><li>Freeman (1987): jaringan lembaga di sektor publik dan swasta yang interaksinya memprakarsai, mengimpor (mendatangkan), memodifikasi dan mendifusikan teknologi-teknologi baru. </li></ul><ul><li>Lundvall (1992): elemen dan hubungan-hubungan yang berinteraksi dalam menghasilkan, mendifusikan dan menggunakan pengetahuan yang baru dan bermanfaat secara ekonomi . . . . suatu sistem nasional yang mencakup elemen-elemen dan hubungan-hubungan bertempat di atau berakar di dalam suatu batas negara. Pada bagian lain ia juga menyampaikan bahwa sistem inovasi merupakan suatu sistem sosial di mana pembelajaran (learning) , pencarian (searching) , dan penggalian/eksplorasi (exploring) merupakan aktivitas sentral, melibatkan interaksi antara orang/masyarakat dan reproduksi dari pengetahuan individual ataupun kolektif melalui pengingatan (remembering) . </li></ul>
  16. 16. B. SISTEM INOVASI: Beberapa Definisi <ul><li>Nelson dan Rosenberg (1993): Sistem inovasi merupakan sehimpunan aktor yang secara bersama memainkan peran penting dalam mempengaruhi kinerja inovatif (innovative performance) . </li></ul><ul><li>Metcalfe (1995): Sistem inovasi merupakan sistem yang menghimpun institusi-institusi berbeda yang berkontribusi , secara bersama maupun individu, dalam pengembangan dan difusi teknologi-teknologi baru dan menyediakan kerangka kerja (framework) di mana pemerintah membentuk dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. Dengan demikian, ini merupakan suatu sistem dari lembaga-lembaga yang saling berkaitan untuk menciptakan, menyimpan, dan mengalihkan (mentransfer) pengetahuan, keterampilan dan artifacts yang menentukan teknologi baru. </li></ul><ul><li>Himpunan lembaga-lembaga pasar dan non-pasar di suatu negara yang mempengaruhi arah dan kecepatan inovasi dan difusi teknologi (OECD, 1999). </li></ul>
  17. 17. C. REVIEW : PENGERTIAN SISTEM INOVASI DAN KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Sistem Inovasi : suatu kesatuan dari sehimpunan aktor, kelembagaan, hubungan, interaksi dan proses produktif yang mempengaruhi arah perkembangan dan kecepatan inovasi dan difusinya (termasuk teknologi dan praktik baik/terbaik), serta proses pembelajaran. </li></ul><ul><li>Kebijakan inovasi (innovation policy) merupakan kelompok kebijakan yang mempengaruhi kemajuan-kemajuan teknis dan bentuk inovasi lainnya, yang pada dasarnya bertujuan : </li></ul><ul><ul><li>Membangun/mengembangkan kapasitas inovatif setiap “simpul” (fungsi/kegiatan/proses) dalam sistem inovasi; </li></ul></ul><ul><ul><li>Meningkatkan/memperlancar aliran pengetahuan dalam dan antarfungsi/kegiatan/proses dalam sistem inovasi (ini juga berarti meningkatkan proses pembelajaran dalam sistem); dan </li></ul></ul><ul><ul><li>Memperkuat hubungan dan keterkaitan rantai nilai vertikal dan horisontal antar- fungsi/kegiatan/proses produksi, litbang, adopsi dan difusi (termasuk komersialisasi) dan fungsi/kegiatan/proses penunjang dalam sistem inovasi. </li></ul></ul>
  18. 18. D. SKEMATIK GENERIK SISTEM INOVASI Sistem Pendidikan dan Litbang Pendidikan dan Pelatihan Profesi Pendidikan Tinggi dan Litbang Litbang Pemerintah Sistem Industri Perusahaan Besar UKM “Matang/ Mapan” PPBT Intermediaries Lembaga Riset Brokers Konsumen (permintaan akhir) Produsen (permintaan antara) Permintaan (Demand) Framework Conditions Kondisi Umum dan Lingkungan Kebijakan pada Tataran Internasional, Pemerintah Nasional, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota Perbankan Modal Ventura Supra- dan Infrastruktur Khusus HKI dan Informasi Dukungan Inovasi dan Bisnis Standar dan Norma Potensi jangkauan kebijakan publik … Catatan : RPT = Riset dan Pengembangan Teknologi (Research and Technology Development) PPBT = Perusahaan Pemula (Baru) Berbasis Teknologi. Alamiah SDA (Natural Endowment) <ul><li>Budaya </li></ul><ul><li>Sikap dan nilai </li></ul><ul><li>Keterbukaan terhadap pembelajaran dan perubahan </li></ul><ul><li>Kecenderungan terhadap Inovasi dan kewirausahaan </li></ul><ul><li>Mobilitas </li></ul><ul><li>Kebijakan Ekonomi </li></ul><ul><li>Kebijakan ekonomi makro </li></ul><ul><li>Kebijakan moneter </li></ul><ul><li>Kebijakan fiskal </li></ul><ul><li>Kebijakan pajak </li></ul><ul><li>Kebijakan perdagangan </li></ul><ul><li>Kebijakan persaingan </li></ul>Kebijakan Industri/ Sektoral Kebijakan Keuangan Sistem Politik Pemerintah Penadbiran (Governance) Kebijakan RPT Kebijakan Promosi & Investasi Infrastruktur Umum/ Dasar
  19. 19. E. SISTEM INOVASI: ESENSI PENGERTIAN <ul><li>Pengertian istilah “sistem inovasi” pada dasarnya meliputi konteks “inovasi dan difusinya.” </li></ul><ul><li>Kata “sistem” dalam istilah sistem inovasi menunjukkan cara pandang yang secara sadar memperlakukan suatu kesatuan menyeluruh (holistik) dalam konteks “inovasi dan difusi.” </li></ul><ul><li>Terdapat lima tekanan perhatian yang diberikan pada bahasan tentang sistem inovasi, yaitu: </li></ul><ul><ul><li>Basis sistem sebagai tumpuan bagi proses inovasi beserta difusi inovasi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Aktor dan/atau organisasi (lembaga) yang relevan dengan perkembangan inovasi (dan difusinya), seperti misalnya pelaku bisnis, perguruan tinggi, lembaga litbang, pembuat kebijakan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kelembagaan, hubungan/keterkaitan dan interaksi antar pihak yang mempengaruhi inovasi dan difusinya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Fungsionalitas , yaitu menyangkut kegunaan/peran kunci dari elemen, interaksi dan proses inovasi dan difusi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Aktivitas , yaitu menyangkut upaya/proses atau tindakan penting dari proses inovasi dan difusi. </li></ul></ul>
  20. 20. F. SISTEM INOVASI (OECD) Sistem Pendidikan dan Pelatihan Sumber : OECD (1999). Konteks Ekonomi Makro dan Regulasi Infrastruktur Komunikasi Pengelolaan dan Keuangan Korporasi Kondisi Pasar Produk dan Faktor KINERJA NEGARA Pertumbuhan, penciptaan kerja, daya saing Kapasitas Inovasi Nasional Sistem Inovasi Daerah Kondisi Klaster Industri Jaringan Inovasi Global Sistem Inovasi Nasional Kapabilitas & Jaringan Perusahaan Science system Lembaga Litbang lain Lembaga Pendukung Pengembangan, difusi & pemanfaatan pengetahuan
  21. 21. G. SISTEM INOVASI (OECD, 1999): Kecenderungan Perubahan yang secara bersama Mempengaruhi Kondisi-kondisi bagi Inovasi yang Berhasil <ul><li>Inovasi semakin bergantung pada interaksi yang efektif antara basis sains dan sektor bisnis. </li></ul><ul><li>Pasar yang lebih kompetitif dan perubahan iptek yang semakin cepat mendorong perusahaan-perusahaan berinovasi semakin cepat pula. </li></ul><ul><li>Jaringan dan kolaborasi antar perusahaan kini semakin penting dibanding dengan di masa lampau, dan semakin melibatkan jasa layanan yang semakin sarat pengetahuan (knowledge-intensive) . </li></ul><ul><li>Usaha kecil dan menengah (UKM), terutama “perusahaan pemula (baru) berbasis teknologi/PPBT” (new technology-based firms/NTBFs) mempunyai peran yang semakin penting dalam pengembangan dan difusi teknologi baru. </li></ul><ul><li>Globalisasi ekonomi membuat sistem inovasi berbagai negara menjadi semakin saling bergantung (interdependent) . </li></ul>
  22. 22. H. SISTEM INOVASI (Meyer-Stamer, 1998): Tekanan pada Kapabilitas Teknologi <ul><li>Keterampilan produsen meniru dan berinovasi. </li></ul><ul><li>Kondisi ekonomi, politik, administratif dan hukum yang mempengaruhi ada-tidaknya insentif bagi berkembangnya kapabilitas teknologi. </li></ul><ul><li>Dukungan langsung, baik lembaga pemerintah ataupun non pemerintah (tergantung tingkat pembangunan, keadaan persaingan, dan karakteristik cabang teknologi di negara yang bersangkutan). </li></ul><ul><li>Dukungan tak langsung, seperti misalnya sistem pendidikan. </li></ul>Kapabilitas teknologi: kapasitas untuk memahami komponen teknologi dalam pasar, melakukan penilaian, memilih teknologi yang dibutuhkan, memanfaatkannya, menyesuaikan dan memperbaikinya, serta mengembangkan teknologi tersebut. Secara umum, kapabilitas teknologi dipengaruhi oleh:
  23. 23. I. SISTEM INOVASI: Fungsi Sistem ( Johnson dan Jacobson, 2001) <ul><li>Menciptakan pengetahuan baru. </li></ul><ul><li>Memandu arah proses pencarian penyedia dan pengguna teknologi, yaitu mempengaruhi arah agar para pelaku mengelola dan memanfaatkan sumber dayanya. </li></ul><ul><li>Memasok/menyediakan sumber daya, yaitu modal, kompetensi dan sumber daya lainnya. </li></ul><ul><li>Memfasilitasi penciptaan ekonomi eksternal yang positif (dalam bentuk pertukaran informasi, pengetahuan dan visi). </li></ul><ul><li>Memfasilitasi formasi pasar. </li></ul>
  24. 24. J. SISTEM INOVASI: Aktivitas dalam Sistem ( Liu dan White, 2001) <ul><li>Melakukan kajian tentang sistem inovasi dengan menelaah “aktivitas” dalam sistem, yang terkait dengan “penciptaan (creation) , difusi, dan eksploitasi inovasi teknologi dalam suatu sistem.” Mereka berfokus pada bagaimana aktivitas mendasar (fundamental activities) dari proses inovasi diorganisasikan, didistribusikan, dan dikoordinasikan. </li></ul><ul><li>Menekankan bahwa aktivitas tersebut lebih dari sekedar sistem litbang, termasuk input terhadap riset dan penggunaan dari output riset. </li></ul><ul><li>Beberapa aktivitas mendasar tersebut adalah: </li></ul><ul><ul><li>Riset (dasar, pengembangan, dan rekayasa); </li></ul></ul><ul><ul><li>Implementasi (manufaktur); </li></ul></ul><ul><ul><li>Penggunaan akhir/ end-use (pelanggan dari produk atau output proses); </li></ul></ul><ul><ul><li>Keterkaitan/ linkage (menyatukan pengetahuan yang saling komplementatif); dan </li></ul></ul><ul><ul><li>Pendidikan. </li></ul></ul>
  25. 25. K. SISTEM INOVASI: Beberapa Perkembangan <ul><li>1980an – 1990an, menyangkut isu-isu: </li></ul><ul><ul><li>inovasi dan pembangunan ekonomi, </li></ul></ul><ul><ul><li>pembelajaran (learning), infrastruktur iptek dan perilaku perusahaan, </li></ul></ul><ul><ul><li>analisis tingkat makro dan meso, dan </li></ul></ul><ul><ul><li>cakupan nasional dan fitur sistem. </li></ul></ul><ul><li>Model Triple Helix (Etzkowitz dan Leydesdorff, 2000; dan Leydesdorff dan Etzkowitz, 1998) </li></ul>
  26. 26. L. SISTEM INOVASI: Model Skematik Triple Helix Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Etzkowitz dan Leydesdorff (2000). Pemerintah Industri Akademia Tri-literal network dan Organisasi Hybrid Hubungan/interaksi antar kelembagaan dalam “pusaran spiral” sebagai “proses transisi tanpa akhir dan dinamis”
  27. 27. M. SISTEM INOVASI: Dari Konteks “Nasional” ke “Daerah” ~ Mengapa <ul><li>Kesadaran bahwa kedekatan spasial ( spatial proximity) memudahkan banyak pihak untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan yang tacit dan kapasitas untuk pembelajaran secara lebih terlokalisasi. </li></ul><ul><li>Inovasi (selain berupa hal yang lebih bersifat teknokratik, juga organisasional dan institusional) sering terjadi dalam konteks institusional, politis, dan sosial tertentu yang mendukung, yang biasanya bersifat erat dengan lingkungan lokalitas tertentu. </li></ul><ul><li>Proses pembelajaran yang terlokalisasi (localized learning process) sangat erat terkait dengan ( ditentukan/dipengaruhi oleh) sehimpunan kelembagaan daerah/setempat (termasuk misalnya keberadaan organisasi yang memperkuat jaringan, dan berkembangnya kualitas interaksi dan kolaborasi serta kebijakan daerah yang mendukung). </li></ul><ul><li>Pembelajaran yang terlokalisasi terfasilitasi oleh sehimpunan kelembagaan daerah yang serupa. Ini misalnya karena lebih kuatnya dukungan kelembagaan (dalam arti luas) dalam mengembangkan agenda bersama (common agenda) dan kolaborasi yang meningkatkan kapasitas untuk bertindak (collective/joint action) . Ini tentu sangat penting dalam mendorong sinergi positif dan eksternalitas ekonomi. </li></ul>
  28. 28. N. SISTEM INOVASI: Dari Konteks “Nasional” ke “Daerah” ~ Mengapa (lanjutan) <ul><li>Inovasi merupakan proses sosial, yang sangat dipengaruhi oleh interaksi antar pihak. Hubungan, jaringan dan kedekatan sosial umumnya lebih kuat pada tataran setempat (yang lebih terlokalisasi). Situasi demikian tentu sangat penting bagi perkembangan atau penguatan modal sosial (social capital) , termasuk dalam bentuk hubungan dan rasa saling percaya, komunikasi dan interaksi yang produktif, budaya berpikir terbuka, dan sebagainya. </li></ul><ul><li>Perusahan yang berklaster di suatu daerah memiliki kesamaan budaya daerah yang memudahkan proses pembelajaran. “Warisan budaya” (cultural heritage) yang positif dan kecenderungan sifat path dependence tentang pengetahuan/teknologi dan inovasi turut mempengaruhi proses interaksi yang lebih intensif di tingkat “lokal”. </li></ul><ul><li>Dalam konteks daya saing, keunggulan global semakin ditentukan/dipengaruhi oleh keunggulan lokal. Seperti diungkapkan oleh Porter, bahwa: “keunggulan daya saing yang bertahan lama dalam suatu ekonomi global akan semakin terletak pada ”hal-hal yang bersifat lokal”, yaitu pengetahuan (knowledge), hubungan, dan motivasi, yang tidak dapat (sulit) disaingi oleh para pesaing jauh (distant rivals) .” </li></ul>
  29. 29. O. SID: Suatu Perspektif Klaster Industri 1-A Klaster Industri 2-C Klaster Industri 3-B Klaster Industri 1-Z Klaster Industri: Klaster Industri 3 Klaster Industri 1 Sektor I Sektor II Sektor III Daerah C Daerah A SID SID Sistem Inovasi Nasional SID : Sistem Inovasi Daerah.
  30. 30. 3. PENADBIRAN INOVASI (INNOVATION GOVERNANCE)
  31. 31. A. REVIEW : PENGERTIAN KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Kebijakan inovasi (innovation policy) merupakan kelompok kebijakan yang mempengaruhi kemajuan-kemajuan teknis dan bentuk inovasi lainnya, yang pada dasarnya bertujuan : </li></ul><ul><ul><li>Membangun/mengembangkan kapasitas inovatif setiap “simpul” (aktor/fungsi/kegiatan/proses) dalam sistem inovasi; </li></ul></ul><ul><ul><li>Meningkatkan/memperlancar aliran pengetahuan dalam dan antarfungsi/kegiatan/proses dalam sistem inovasi (ini juga berarti meningkatkan proses pembelajaran dalam sistem); dan </li></ul></ul><ul><ul><li>Memperkuat hubungan dan keterkaitan rantai nilai vertikal dan horisontal antar- aktor/fungsi/kegiatan/proses produksi, litbang, adopsi dan difusi (termasuk komersialisasi) dan aktor/fungsi/kegiatan/proses penunjang dalam sistem inovasi. </li></ul></ul>
  32. 32. B. ILUSTRASI KETERKAITAN KEBIJAKAN BAGI KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Kebijakan Pendidikan </li></ul><ul><li>Pengetahuan dan Keterampilan </li></ul><ul><li>Kreativitas </li></ul><ul><li>Profesionalisme </li></ul><ul><li>Kewirausahaan </li></ul><ul><li>Kebijakan Ekonomi Makro </li></ul><ul><li>Moneter </li></ul><ul><li>Fiskal </li></ul><ul><li>Perdagangan </li></ul><ul><li>Kebijakan Industri </li></ul><ul><li>Investasi </li></ul><ul><li>Perpajakan - Subsidi </li></ul><ul><li>Insentif </li></ul><ul><li>Regulasi - Deregulasi </li></ul>Kebijakan Litbang Kebijakan Daerah Kemajuan Industri: Daya Saing, Kapasitas Inovatif, Tingkat Difusi, Pembelajaran, Kewirausahaan Kebijakan Inovasi Perbaikan Bisnis yang Ada Perkembangan Investasi Perkembangan Bisnis Pemula yang Inovatif Kebijakan Sains Kebijakan Teknologi
  33. 33. C. KERANGKA PEMETAAN INSTRUMEN KEBIJAKAN INOVASI Karakteristik Pengaruh/Dampak Tatanan Kelembagaan (Institutional Setting) Lingkup Tujuan Eksplisit Implisit Faktor Kontekstual Sisi Obyek/Aktor yang Dipengaruhi Sisi Penyediaan (Supply Side) Sisi Permintaan (Demand Side) Bidang Keterkaitan (Linkage Area) Spesifik Fungsional Harus semakin jelas exit policy -nya Dampak Fungsi dan Variabel Sistem Inovasi Fungsi, Aktivitas dan Aktor Sistem Inovasi Tujuan Kebijakan Isu Kebijakan Agenda Strategis
  34. 34. D. SIN: Elemen Esensial “Generik” <ul><li>Daya dukung pihak penyedia; </li></ul><ul><li>Daya serap pihak pengguna; </li></ul><ul><li>Kelembagaan antarmuka (interface) dan keterkaitan para pihak yang saling menguntungkan; </li></ul><ul><li>Infrastruktur yang terspesialisasi; </li></ul><ul><li>Pendanaan/pembiayaan inovasi dan/atau pendanaan/pembiayaan berisiko; </li></ul><ul><li>Kebijakan yang mendukung. </li></ul>
  35. 35. E. ORGANISASI PENADBIRAN INOVASI (INNOVATION GOVERNANCE) Tingkat 1 Kebijakan lintas bidang tingkat tinggi Tingkat 2 Koordinasi yang berpusat pada misi kementerian Tingkat 3 Koordinasi & pengembangan kebijakan yang lebih rinci Tingkat 4 Pelaku riset dan inovasi Pemerintah Dewan kebijakan Dewan Riset dan Akademi Badan Teknologi dan Inovasi Badan-badan Program Pendukung Produsen: Perusahaan, Pertanian, Rumah sakit, dsb. Perguruan Tinggi Lembaga Litbang Kontraktor Program Departemen/Kementerian Industri, dll. Departemen/Kementerian Riset dan Teknologi Departemen/Kementerian Sektoral lainnya
  36. 36. F. MENGAPA PERLU PERAN “PEMERINTAH” DALAM SISTEM INOVASI <ul><li>Kegagalan Pasar (Market Failures); </li></ul><ul><li>Kegagalan Pemerintah (Government Failures); </li></ul><ul><li>Kegagalan Sistemik (Systemic Failures). </li></ul><ul><li>Termasuk: </li></ul><ul><li>Dukungan aktivitas inovatif (litbang + 6 aktivitas inovatif ~ Frascati Manual) </li></ul><ul><li>Memahami kegagalan yang berkembang dalam sistem inovasi; </li></ul><ul><li>Memberikan advis kepada pembuat kebijakan (advisory) ; </li></ul><ul><li>Menyuarakan “isu” urgen (advocacy) ; </li></ul><ul><li>Mendorong perbaikan penadbiran inovasi dan kebijakan inovasi; </li></ul><ul><li>Mendorong proses pembelajaran dalam sistem inovasi. </li></ul><ul><li>Fungsi publik tertentu untuk mendorong perkembangan sistem inovasi (berkembangnya fungsi-fungsi dalam sistem inovasi secara efektif dan efisien). </li></ul>Perlu “aktor” yang berperan dalam meningkatkan upaya efektif agar SI “berfungsi” semakin baik
  37. 37. G. ILUSTRASI KERAGAMAN PENADBIRAN KEBIJAKAN “VERTIKAL” DI BEBERAPA NEGARA Sumber : Arnold, et al. (2004, 2003). Desain kebijakan Desain program Manajemen program Administrasi program M = Kementerian yang bertanggung jawab atas kebijakan teknologi dan inovasi Stat e SEN- TER M Belanda Sektor Swasta M Inggris M Kanada M Semi-publik Denmark NRC M Norwegia TEKES M Finlandia Enterprise Ireland M Irlandia VINNOVA M Swedia
  38. 38. H. ILUSTRASI BATASAN ANTARA BADAN/ORGANISASI tidak ada badan terpisah tidak ada badan terpisah 7 Dewan Riset Inggris NUTEK/ALMI VINNOVA Swedish Research Council Swedia SENTER STW, SENTER NWO Belanda Innovation Norway RCN RCN Norwegia Enterprise Ireland IDA Ireland Enterprise Ireland 2 Dewan Riset Science Foundation Ireland Irlandia TEKES/Ministry of Industry TEKES Academy of Finland Finlandia Min Economic & Business Affairs MSTI (tidak ada badan terpisah) 6 Dewan Riset Danish Research Agency Denmark Industry Canada, pelaku setempat Canadian Foundation for Innovation 3 Dewan Riset Kanada Pengembangan Bisnis Litbang/Inovasi Riset Dasar/Terapan Negara
  39. 39. I. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Industri Perguruan Tinggi Lembaga Nasional dan Lab. Nasional Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Jawahar (2002). Amerika Serikat Pemerintah Industri Fokus Riset Dasar Riset Terapan Pengembangan Produk & Proses Teknologi Industri Aktivitas Manufaktur Technical Services Pendanaan
  40. 40. J. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Industri Max Planck Gesellschaft Mission oriented National Research Centres Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Jawahar (2002). Perguruan Tinggi Fraun Hofer Gesellschaft Jerman Pemerintah Industri Fokus Riset Dasar Riset Terapan Pengembangan Produk & Proses Teknologi Industri Aktivitas Manufaktur Technical Services Pendanaan
  41. 41. K. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Industri Perguruan Tinggi Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Jawahar (2002). Lembaga-lembaga Nasional (Tsukuba Science Park) Jepang Pemerintah Industri Fokus Riset Dasar Riset Terapan Pengembangan Produk & Proses Teknologi Industri Aktivitas Manufaktur Technical Services Pendanaan
  42. 42. L. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Joint Venture dan UKM Akademi Sains, Lembaga, dan Lab. Nasional, dan Perguruan Tinggi Industri Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Jawahar (2002). Kementerian dan Lembaga-lembaga Provinsi BUMN dan BUMD China Pemerintah Industri Fokus Riset Dasar Riset Terapan Pengembangan Produk & Proses Teknologi Industri Aktivitas Manufaktur Technical Services Pendanaan
  43. 43. M. CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Perusahaan-perusahaan Industri (UKM) Academic Sinica Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Jawahar (2002). Perguruan Tinggi Industrial Technology Research Institute Seluruhnya Institute for Information Industry (III) Metal Industry Devpt. Centre (MIDC ) Bio-Technology Devpt. Centre (BDC) Science based Industrial Park (Host for Hi-Tech industries) Taiwan Pemerintah Industri Fokus Riset Dasar Riset Terapan Pengembangan Produk & Proses Teknologi Industri Aktivitas Manufaktur Technical Services Pendanaan
  44. 44. N.CONTOH ILUSTRATIF: Peta Peran Lembaga dalam SIN Perusahaan-perusahaan Multinasional (MNCs) Perguruan Tinggi (NUS & NTV) Sumber : Disesuaikan seperlunya dari Jawahar (2002). Lembaga Pengembangan Teknologi Nasional Science Parks Singapura Pemerintah Industri Fokus Riset Dasar Riset Terapan Pengembangan Produk & Proses Teknologi Industri Aktivitas Manufaktur Technical Services Pendanaan
  45. 45. O. KELEMBAGAAN DALAM SISTEM INOVASI Sumber : Taufik (2005). Menko Ekonomi DPR Depkeh & HAM DRN <ul><li>10 BUMNIS (dulu) : </li></ul><ul><li>PT. DI </li></ul><ul><li>PT. PAL </li></ul><ul><li>PT. PINDAD </li></ul><ul><li>PT. K. STEEL </li></ul><ul><li>PT. INKA </li></ul><ul><li>Perum Dahana </li></ul><ul><li>PT. INTI </li></ul><ul><li>PT. BHARATA </li></ul><ul><li>PT. BBI </li></ul><ul><li>PT. LEN </li></ul>BUMN Keuangan BUMN lain Dep/ Kementerian Lain Lembaga Litbang Departemen Balitbang Industri Balitbangtan LPND Ristek BPPT LAPAN BSN BAKOSURTANAL LIPI BATAN BAPETEN Pusat, Balai/ UPT BPTP, Balai/UPT Pusat, Balai/ UPT Depkeu AIPI Perguruan Tinggi Swasta Lembaga Litbang Swasta Depdiknas Balitbang Diknas Perg. Tinggi Negeri Lemlitbang Departemen Lain Pusat, Balai/ UPT PRESIDEN PUSPIPTEK Menko & Dep./ Kementerian Lain KPP/ BAPPENAS Kementerian BUMN Dep/ Kementerian Lain KRT
  46. 46. P. “STRUKTUR ORGANISASI” PENADBIRAN (GOVERNANCE) KEBIJAKAN DI DAERAH Kebijakan, Program, Kegiatan dan Organisasi serta Jaringan di Luar Daerah, Nasional & Internasional Keterangan: Instruksi, Sumber Daya Saran (Advis) / Pelaporan Hasil Koordinasi dan Integrasi Horisontal (Kerjasama) Instruksi, Sumber Daya, Saran/ Pelaporan, Hasil, Koordinasi dan Integrasi Horisontal & Vertikal (Kerjasama) Tingkat 4 Pelaku litbang/ inovasi Tingkat 1 Kebijakan lintas bidang tingkat tinggi Tingkat 2 Koordinasi yang berpusat pada misi Perangkat Daerah (Badan/Dinas/ Kantor, dll.) Tingkat 3 Koordinasi Implementasi Gubernur/ Bupati/Walikota DPDS Kegiatan Kegiatan Kegiatan Produsen Perguruan Tinggi Lembaga Litbang/ UPTD, dll. Kontraktor Program Badan/Dinas/ Kantor Sektoral Badan/Dinas/ Kantor Lintas Sektor Organisasi Perangkat Daerah lainnya DPRD DRD Tim Ahli Tim/Gugus Tugas Asisten, Ka. Bappeda & Ka. Perangkat Daerah tertentu Konsumen Litbang Swasta/Non-pemerintah
  47. 47. 4. TANTANGAN DAN ISU KEBIJAKAN INOVASI
  48. 48. A. TANTANGAN KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Merumuskan konsep KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI (INNOVATION POLICY FRAMEWORK) </li></ul><ul><ul><li>yang menjadi acuan bersama, </li></ul></ul><ul><ul><li>diterjemahkan ke dalam tindakan dengan sasaran yang jelas dan terukur, </li></ul></ul><ul><ul><li>secara konsisten diimplementasikan, </li></ul></ul><ul><ul><li>dipantau dan dievaluasi, serta </li></ul></ul><ul><ul><li>diperbaiki secara terus-menerus. </li></ul></ul>Proses dan produk kebijakan inovasi yang baik pada dasarnya merupakan proses dan produk pembelajaran
  49. 49. B. KRITERIA KEBIJAKAN <ul><li>Efektivitas. </li></ul><ul><li>Efisiensi. </li></ul><ul><li>Memiliki daya bangkitan yang signifikan (significant leveraging effects). </li></ul><ul><li>Kelayakan cakupan (adequacy of scope). </li></ul><ul><li>Memenuhi kaidah pasar (conforming to the market mechanisms). </li></ul><ul><li>Konsistensi. </li></ul><ul><li>Koherensi. </li></ul><ul><li>Keterbukaan dan akuntabilitas. </li></ul><ul><li>Komitmen kebijakan. </li></ul>
  50. 50. C. TIGA DIMENSI PENTING KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Dimensi ”penadbiran kebijakan” (policy governance) , bahwa kebijakan inovasi dapat ditentukan pada beragam tataran (lokal, daerah, nasional dan internasional), di mana koherensi dan komplementasi satu dengan lainnya sangatlah penting. </li></ul><ul><li>Dimensi sektoral di mana terdapat beragam faktor yang akan memberikan pengaruh umum serupa walaupun dengan tingkat yang berbeda dan pengaruh yang mungkin bersifat spesifik sektor. Karenanya, respons kebijakan yang dikembangkan perlu mempertimbangkan hal ini. </li></ul><ul><li>Interaksi dengan bidang kebijakan lainnya, di mana kebijakan inovasi seringkali perlu diimplementasikan melalui kebijakan lainnya (mis.: selain kebijakan litbang/kebijakan teknologi). Karenanya, konsepsi inovasi dan sistem inovasi perlu semakin ”lekat/terpadu” dalam beragam kebijakan terkait lainnya. </li></ul>
  51. 51. D. ISU KOORDINASI - KOHERENSI KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Fragmentasi “sektoral”; </li></ul><ul><li>Dikotomi “Pusat/Nasional” – “Daerah”; </li></ul><ul><li>Tumpang-tindih dan inkonsistensi antar “bidang/ aspek”; </li></ul><ul><li>Perkembangan sistem pemerintahan; </li></ul><ul><li>Kebutuhan proses pembelajaran kebijakan yang lebih baik; </li></ul><ul><li>Kebutuhan respons kebijakan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi atas dinamika perubahan dan tantangan. </li></ul>
  52. 52. E. ISU KEBIJAKAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DI INDONESIA <ul><li>Kelemahan kerangka umum. </li></ul><ul><li>Kelemahan kelembagaan dan daya dukung iptek/litbang serta rendahnya kemampuan absorpsi UKM. </li></ul><ul><li>Kelemahan keterkaitan, interaksi dan kerjasama difusi inovasi (termasuk praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang). </li></ul><ul><li>Persoalan budaya inovasi. </li></ul><ul><li>Kelemahan fokus, rantai nilai, kompetensi dan sumber pembaruan ekonomi dan sosial. </li></ul><ul><li>Tantangan global. </li></ul>
  53. 53. 5. AGENDA KEBIJAKAN INOVASI
  54. 54. A. PERTIMBANGAN KERANGKA KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Beberapa aspek pertimbangan agenda : </li></ul><ul><li>Tema kebijakan inovasi yang mendasar (fundamental) dan luas; </li></ul><ul><li>Bersifat universal bagi konteks nasional dan daerah serta kondisi sektoral/industrial pada umumnya di Indonesia; </li></ul><ul><li>Bidang-bidang yang saling berkaitan dan bersifat cross-cutting issues ; </li></ul><ul><li>Merupakan faktor kunci (sangat penting) bagi prakarsa-prakarsa berdasarkan situasi saat ini dan antisipasi ke depan; </li></ul><ul><li>Dapat menjadi agenda kolaboratif pada tataran nasional dan daerah. </li></ul>
  55. 55. B. HEKSAGON KEBIJAKAN INOVASI <ul><li>Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi inovasi dan bisnis. </li></ul><ul><li>Memperkuat kelembagaan dan daya dukung iptek/litbang dan mengembangkan kemampuan absorpsi UKM. </li></ul><ul><li>Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi inovasi, praktik baik/terbaik dan/atau hasil litbang. </li></ul><ul><li>Mendorong budaya inovasi. </li></ul><ul><li>Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan sistem inovasi dan klaster industri nasional dan daerah. </li></ul><ul><li>Penyelarasan dengan perkembangan global. </li></ul>4 5 1 6 2 3
  56. 56. C. ILUSTRASI PRAGMATISASI DARI RPJM 2004-2009 Bab-bab Lain Bab-bab Lain Bab 22 RPJM 2004 - 2009 Program Penelitian dan Pengembangan lmu Pengetahuan dan Teknologi Program Difusi dan P emanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Program Penguatan Kelembagaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi 4 5 1 6 2 3 Kerangka Kebijakan Inovasi
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×