Makalah pertanian pupuk kompos skala rumah tangga

15,568 views
15,378 views

Published on

Makalah Pertanian Tentang Pembuatan Pupuk Kompos Skala Rumah Tangga.
SMA Negeri 1 Srengat Tahun Ajaran 2012/2013

Published in: Education
1 Comment
9 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
15,568
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
1
Likes
9
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah pertanian pupuk kompos skala rumah tangga

  1. 1. XII IIA 2 / Kelompok 3 1KATA PENGANTARRasa puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izin danpertolongan Nya penulis dapat menyelesaikan makalah “Pengomposan Skala Rumah Tangga”tepat pada waktunya.Makalah penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas pertanian tahun ajaran2012/2013.Tidak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada :1. Drs. Dwi Wahyu Hadi Santoso selaku Kepala SMAN 1 Srengat yang telahmenyediakan sarana maupun prasarana.2. Ibu Siti Istatik,S.Pd selaku pengajar mata pelajaran pertanian yang telahmembimbing dengan senang hati.3. Orang tua yang telah memberikan motivasi baik secara materil maupun nonmateril.4. Teman- teman yang telah mendukung dalam pembuatan laporan ini.Semoga amal baik beliau-beliau di atas mendapatkan balasan dari Allah SWT.Disamping itu, kami juga mohon kritik dan saran kepada berbagai pihak yang bersifatmembangun demi pembuatan laporan yang lebih sempurna di masa mendatang.Harapan kami, laporan ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca padaumumnya dan kepada adik-adik kelas Xdan XI IPA pada khususnya.Blitar, 1 April 2013Penulis
  2. 2. XII IIA 2 / Kelompok 3 2DAFTAR ISIHalaman Judul.......................................................................................................................... iMotto dan Persembahan ...........................................................................................................iiKata Pengantar.........................................................................................................................iiiDaftar Isi....................................................................................................................................ivBAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang ............................................................................................................11.2 Rumusan Masalah....................................................................................................... 21.4 Tujuan Penelitian ........................................................................................................ 21.5 Manfaat Penelitian ..................................................................................................... 21.6 Asumsi ........................................................................................................................ 21.7 Batasan Masalah.......................................................................................................... 2BAB II KAJIAN PUSTAKA2.1 Pengertian Kompos .................................................................................................... 32.2 Jenis-Jenis Kompos .................................................................................................... 32.2.1 Kompos Cacing .................................................................................................. 32.2.2 Kompos Bogase .................................................................................................. 42.2.3 Kompos Bogashi ................................................................................................ 62.3 Manfaat Kompos ........................................................................................................ 72.4 Terjadinya Kompos .................................................................................................... 82.5 Peralatan Pembuatan Kompos .................................................................................... 82.6 Pembuatan Kompos ................................................................................................... 92.7 Cara Pengomposan Skala Rumah Tangga ................................................................. 92.8 Faktor-Faktor Pembuatan Kompos....................................................................................................................................................10BAB III METODOLOGI PENGAMATAN3.1 Pendekatan Pengamatan .............................................................................................
  3. 3. XII IIA 2 / Kelompok 3 3163.2 Waktu dan Tempat Pengamatan .................................................................................163.3 Fokus Pengamatan .....................................................................................................163.4 Alat dan Bahan ...........................................................................................................173.5 Prosedur Pengamatan .................................................................................................183.6 Teknik Analisis Data ..................................................................................................18BAB IV HASIL DATA DAN PEMBAHASAN4.1 Tabel Hasil Pengamatan Pertumbuhan ......................................................................194.2 Analisis Data ..............................................................................................................19BAB V PENUTUP5.1 Kesimpulan .................................................................................................................215.2 Saran............................................................................................................................21LAMPIRAN .............................................................................................................................22DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................23
  4. 4. XII IIA 2 / Kelompok 3 4BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangKompos merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan bahan organikseperti tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya. Sedangkan proses pengomposanadalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnyaoleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar komposdapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang,pemberian air, yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.Menurut UUD 1945 pasal 33 ayat 3 juga disebutkan “Bumi, air dan kekayaan alamyang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnyauntuk kemakmuran rakyat”. Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan,sensitivitas terhadap lingkungan dan pemberian zat hara seperti pupuk kompos akansangat mempengaruhi pertumbuan tanaman.Selain itu seperti yang terlihat dalam masyarakat, perkembangan kreatifitaspengelolaan semakin maju searah dengan perkembangan penduduk. Pembuatan pupukkompos pun semakin mudah dilakukan. Pupuk kompos telah banyak mengalamiperbaikan - perbaikan, misalnya saja sampah organik yang digunakan memiliki nisbahC/N standar sehingga hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.Menurut pendapat penulis, pupuk kompos adalah pupuk yang terbuat dari kumpulanbahan – bahan organik sisa sampah rumah tangga, seperti percampuran sampah hijau dansampah cokelat.Pembuatan pupuk kompos ini, mempunyai banyak manfaat terutamadapat menggemburkan tanah sehingga menghasilkan tekstur tanah yang baik danmenghasilkan hasil panen yang berlimpah.Selain itu, juga dapat menghemat biaya dalampembuatan pupuk kompos.Dengan memperhatikan ulasan uraian yang ada di atas makalaporan ini berjudul “Laporan Hasil Pengamatan Proses Pembuatan Kompos OrganikSkala Rumah Tangga”.
  5. 5. XII IIA 2 / Kelompok 3 51.2 Rumusan MasalahBagaimanakah hasil proses pembuatan pupuk kompos skala rumah tangga daribahan limbah rumah tangga (limbah organik) dengan bioaktivator EM4 selama 6 minggu?1.3 Tujuan Pengamatan1.3.1 Untuk mengetahui hasil proses pembuatan pupuk kompos skala rumah tanggadari bahan limbah rumah tangga (limbah organik) dengan bioaktivator EM4selama 6 minggu.1.3.2 Untuk mengetahui teknik pembuatan pupuk kompos1.4Asumsi PengamatanPada pembuatan kompos kali ini akan berhasil karena bahan-bahan pengomposansudah dipilih dari yang kemungkinan besar bisa dibuat kompos dan kami sudahmembuatnya dengan mencampurkan larutan EM4 dengan dosis yang sesuai sehinggasudah sesuai dengan teknik membuat kompos.1.5Batasan MasalahDalam melakukan pengamatan, penulis juga mempunyai batasan masalah. Adapunbatasan masalah dalam pengamatan ini yaitu :1.5.1 Bahan kompos dari limbah rumah tangga (limbah organik).1.5.2 Bahan kompos sejumlah 1 timba
  6. 6. XII IIA 2 / Kelompok 3 6BAB IIKAJIAN PUSTAKA2.1 Pengertian KomposKompos didefinisikan sebagai berikut: kompos adalah hasil dekomposisi daricampuran bahan-bahan organik oleh pupulasi berbagai macam mikroba dalam konsisilingkungan yang hangat, lembab.Kompos adalah hasil pelapukan bahan organik (sisa-sisa tanaman.seresah) menjadisuatu bahan yang menyerupai tanah atau sering dikenal dengan sebutan humus (bungatanah). Kompos terjadi secara alamiah tetapi proses terjadinya dapat dipercepat melaluiaktivitas jasad renik (bakteri) pengurai.Dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah komposmerupakan bahan terbaik walaupun dalam prosesnya memerlukan waktu .Pemberiankompos ke dalam tanah secara kontinyu dapat tmemperbaiki sifat dan karakteristikkeadaan tanah secara umum.Kompos bukanlah suatu obat Thok Cer atau satu-satunya yang mujarabuntuk mengatasi semua masalah tanah. Dalam kehidupan manusia sehari-hari, komposdapat disepadankan dengan asuransi kesehatan atau semacam deposito berjangka.Sifat kompos dalam perbaikan kesuburan tanah agak berbeda dengan pupuk yangsecara umum diperdagangkan. Kandungan hara kompos secara relatif lebih rendah biladibandingkan dengan pupuk buatan pabrik, namum nilai kelengkapan kandungan harakompos berada dalam posisi yang lebih unggul.2.2 Jenis-Jenis Kompos2.2.1 Kompos CacingKompos cacing atau vermicompost adalah pupuk yang berasal dari kotorancacing (vermics). Pupuk ini dibuat dengan memelihara cacing dalam tumpukansampah organik hingga cacing tersebut berkembang biak di dalamnya danmenguraikan sampah organik dan menghasilkan kotoran. Proses ini dikenalsebagai vermiksisasi (Murbandono, 1994). Proses pembuatan kompos jenis initidak berbeda dengan pembuatan kompos pada umumnya; yang membedakan
  7. 7. XII IIA 2 / Kelompok 3 7hanya starternya yang berupa cacing.Kompos cacing dapat menyuburkan tanaman karena kotoran cacingmemiliki bentuk dan struktur yang mirip dengan tanah namun ukuran partikel-partikelnya lebih kecil dan lebih kaya akan bahan organik sehingga memilikitingkat aerasi yang tinggi dan cocok untuk dijadikan media tanam. Kompos cacingmemiliki kandungan nutrisi yang hampir sama dengan bahan organik yangdiurainya.Spesies cacing yang umum digunakan dalam proses ini diantaranya Eiseniafoetida, Eisenia hortensis, dan Perionyx excavatus, namun cacing biasa(Lumbricus terestris) juga dapat digunakan.2.2.2 Kompos BagaseKompos yang dibuat dari ampas tebu (bagase), yaitu limbah padat sisapenggilingan batangtebu.Kompos ini terutama ditujukan untuk perkebunantebu. Pabrik gula rata-rata menghasilkan bagase sekitar 32% bobot tebu yangdigiling.Sebagian besar bagase dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler, namunselalu ada sisa bagase yang tidak termanfaatkan yang disebabkan oleh stok bagaseyang melebihi kebutuhan pembakaran oleh boiler pabrik. Sisa bagase ini di masadepan diperkirakan akan bertambah seiring meningkatnya kemajuan teknologiyang mampu meningkatkan efisiensi pabrik pengolahan tebu,termasuk boiler pabrik.Limbah bagase memiliki kadar bahan organik sekitar 90%,kandungan N 0.3%, P2O5 0.02%,K2O 0.14%, Ca 0.06%, dan Mg 0.04%(Toharisman, 1991). Pemberian kompos campuran bagase, blotong, danabu boiler pabrik pengolahan tebu dapat meningkatkan ketersediaan hara N, P, danK dalam tanah, kadar bahan organik, pH tanah, serta kapasitas menahan air(Ismail, 1987). Hasil penelitian Riyanto (1995) menunjukkan bahwa pemberiankompos bagase 4-6 ton/ha dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK hingga50%.Bahan pembuatan kompos bagase yaitu bagase dan kotoran sapi yang
  8. 8. XII IIA 2 / Kelompok 3 8dimanfaatkan sebagai bioaktivator, dengan perbandingan volume 3:1. Penambahankotoran sapi selain sebagai bioaktivator juga untuk menurunkan rasio C/N. Bagasedan kotoran sapi ditumpuk berselingan dengan tebal bagase 30 cm dan tebalkotoran sapi 10 cm, lalu di tumpukan teratas diberikan jerami sebagai penutup.Pengomposan dilakukan dengan sistem windrowmenggunakan saluran udara yangterbuat dari bambu yang dipasang secara vertikal dan horizontal. Selama prosespengomposan, dilakukan penyiraman secara rutin diikuti dengan pemeriksaansuhu dan kelembaban. Tumpukan bagase dibalik setiap minggu atau ketikakelembaban melebihi 70%. Proses pengomposan membutuhkan waktu 3 bulanhingga kompos menunjukkan warna coklat tua hingga hitam.Hasil Analisis Kompos Bagasedengan Starter Kotoran SapiSifat kompos KandunganKadar air (%) 64.23pH 4.95C (%) 20.47N (%) 1.12Rasio C/N 18.00P2O5 (%) 0.08K2O (ppm) 75.29SO4 (%) 0.02Ca (%) 0.08Mg (ppm) 91.69Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi danHortikultura Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos bagase(kompos yang dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu(Saccharum officinarum L) meningkatkan penyerapan nitrogen secara signifikansetelah tiga bulan pengaplikasian dibandingkan dengan yang tanpa kompos,namun tidak ada peningkatan yang berarti terhadap penyerapanfosfor, kalium,dan sulfur. Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara bersamaantidak meningkatkan laju pertumbuhan, tinggi, dan diameter dari batang, namun
  9. 9. XII IIA 2 / Kelompok 3 9diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam tebu.2.2.3 Kompos BogashiBokashi adalah sebuah metode pengomposan yang dapat menggunakanstarter aerobik maupun anaerobik untuk mengkomposkan bahan organik, yangbiasanya berupa campuranmolasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi.Kompos yang sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposanberikutnya, sehingga proses ini dapat diulang dengan cara yang lebih efisien.Starter yang digunakan amat bervariasi, dapat diinokulasikan dari materialsederhana seperti kotoran hewan, jamur, sporajamur, cacing,ragi, acar, sake, miso, natto, anggur, bahkanbir, sepanjang materialtersebut mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan.Dalam proses pengomposan di tingkat rumah tangga, sampahdapur umumnya menjadi material yang dikomposkan, bersama dengan starter danbahan tambahan yang menjadi pembawa starter seperti sekam padi, sisa gergajikayu, ataupun kulit gandum dan batangjagung (Yusuf, 2000). Mikroorganismestarter umumnya berupa bakteri asam laktat, ragi, atau bakteri fototrofik yangbekerja dalam komunitas bakteri, memfermentasikan sampah dapur danmempercepat pembusukan materi organik.Umumnya pengomposan berlangsung selama 10-14 hari. Kompos yangdihasilkan akan terlihat berbeda dengan kompos pada umumnya; kompos bokashiakan terlihat hampir sama dengan sampah aslinya namun lebih pucat. Pembusukanakan terjadi segera setelah pupuk kompos ditempatkan di dalam tanah.Pengomposan bokashi hanya berperan sebagai pemercepat proses pembusukansebelum material organik diberikan ke alam.Pupuk Bokashi, menurut Wididana et al (1996) dapat memperbaikisifat fisika, kimia, danbiologi tanah, meningkatkan produksi tanaman dan menjagakestabilan produksi tanaman, serta menghasilkan kualitas dan kuantitashasil pertanian yang berwawasan lingkungan. Pupuk bokashi tidak meningkatkanunsur hara tanah, namun hanya memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah,sehingga pupuk anorganik masih diperlukan (Cahyani, 2003). Pupuk bokashi,
  10. 10. XII IIA 2 / Kelompok 3 10seperti pupuk kompos lainnya, dapat dimanfaatkan untuk meningkatkankandungan material organik pada tanah yang keras seperti tanah podzolik sehinggadapat meningkatkan aerasi tanah dan mengurangi bulk density tanah (Susilawati,2000, dan Cahyani, 2003). Berdasarkan hasil penelitian Cahyani (2003),Penambahan pupuk bokashi berbahan dasar arang sekam padi dapat meningkatkannilai batas cair dan batas plastis tanah latosol, namun terjadi peningkatan indeksplastisitas.Penambahan bokashi arang sekam padi juga berpengaruh terhadapkekuatan geser tanah dan peningkatan tinggi maksimum tanaman.Bokashi jugadapat digunakan untuk mengurangi kelengketan tanah terhadap alat dan mesinbajak sehingga dapat meningkatkan performa alat dan mesin bajak (Yusuf, 2000),dengan pengaplikasian bokashi sebelum pengolahan tanah dilakukan.2.3 Manfaat KomposKompos ibarat multivitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkankesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat. Kompos memperbaiki strukturtanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkankemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanahyang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitasmikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkansenyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman.Aktivitas mikroba tanah jugadiketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.Tanaman yangdipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yangdipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebihsegar, dan lebih enak.Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukantumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapanzat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yangdipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang,halaman menjadi asri dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan olehtumbuhan.Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek :
  11. 11. XII IIA 2 / Kelompok 3 11Aspek Ekonomi:1) Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah2) Mengurangi volume/ukuran limbah3) Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnyaAspek Lingkungan :1) Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah2) Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunanAspek bagi tanah/tanaman :1. Meningkatkan kesuburan tanah2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah3. Meningkatkan kapasitas serap air tanah4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah2.4 Terjadinya KomposSampah organic secara alami akan mengalami penguraian oleh berbagai jenismikroba, binatang yang hidup di tanah,enzim dan jamur. Proses penguraian inimemerlukan kondisi tertentu yaitu: suhu, udara dan kelembapan. Makin cocokkondisinya, makin cepatpembentukan kompos, dalam 4-6 minggu sudah jadi.Apabila sampah organic ditimbun saja, baru berbulan-bulan kemudian menjadikompos. Dalam proses pengomposan akan timbul panas karena aktifitas mikroba. Inipertanda mikroba menghancurkan bahan organic dan merubahnya menjadi kompos.Suhu optimal untuk proses pengomposan dan harus dipertahankan adalah 450– 650C.jika terlalu panas, harus dibolak-balik, setidaknya sekali dalam tujuh hari.2.5 Peralatan Pembuatan KomposDi dalam rumah (ruang keluarga, kamar makan) dan di depan dapur disediakandua tempat sampah yang berbeda warna untuk sampah organic dan sampah anorganik.Diperlukan bak plastic atau drum bekas untuk pembuatan kompos. Di bagian dasarnya
  12. 12. XII IIA 2 / Kelompok 3 12diberi beberapa lubang untuk mengeluarkan kelebihan air.Untuk menjaga kelembabanbagian atas dapat ditutup dengan karung goni atau anyaman bambu.Dasar bakpengomposan dapat tanah atau paving block, sehingga kelebihan air dapat merembes kebawah.Bak pengomposan tidak boleh kena air hujan, harus di bawah atap.2.6 Pembuatan KomposKompos merupakan hasil perombakan bahan organic oleh mikroba dengan hasilakhir berupa kompos yang memiliki nisbah C/N yang rendah.Bahan yang ideal untukdikomposkan memiliki nisbah C/N sekitar 30, sedangkan kompos yang dihasilkanmemiliki nisbah C/N < 20. Bahan organic yang memiliki nisbah C/N jauh lebih tinggidiatas 30 akan terombak dalam waktu yang lama, sebaliknya jika nisbah tersebut terlalurendah akan terjadi kehilangan N karena menguap selama proses perombakanberlangsung. Kompos yang dihasilkan dengan fermentasi menggunakan teknologimikroba efektif dikenal dengan nama bokashi. Dengan cara ini proses pembuatankompos dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan cara konvensional.Pengomposan pada dasarnya merupakan upaya mengaktifkan kegiatan mikrobaagar mampu mempercepat proses dekomposisi bahan organic. Yang dimaksud mikrobadisini adalah bakteri, fungi dan jasad renik lainnya. Bahan baku kompos organic adalahjerami, sampah kota, limbah pertanian, kotoran hewan/ ternak dan sebagainya. Carapembuatan kompos bermacam-macam tergantung pada keadaan tempat, budaya orang,mutu yang diinginkan, jumlah kompos yang dibutuhkan, macam bahan yang tersediadan selera si pembuat.2.7 Cara Pengomposan Skala Rumah Tangga1. Mencampur 1 bagian sampah hijau dan 1 bagian sampah coklat.2. Menambahkan 1 bagian kompos lama atau lapisan tanah atas (top soil) dandicampur. Tanah atau kompos ini mengandung mikroba aktif yang akan bekerjamengolah sampah menjadi kompos. Jika ada kotoran ternak ( ayam atau sapi ) dapatpula dicampurkan.3. Pembuatan bisa sekaligus, atau selapis demi selapis misalnya setiap 2 hari ditambahsampah baru. Setiap 7 hari diaduk.4. Pengomposan selesai jika campuran menjadi kehitaman, dan tidak berbau sampah.
  13. 13. XII IIA 2 / Kelompok 3 13Pada minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja menguraikan membuat kompos,sehingga suhu menjadi sekitar 40C. Pada minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembalinormal, kompos sudah jadi.5. Jika perlu diayak untuk memisahkan bagian yang kasar. Kompos yang kasar bisadicampurkan ke dalam bak pengomposan sebagai activator.Keberhasilan pengomposan terletak pada bagaimana kita dapat mengendalikan suhu,kelembaban dan oksigen, agar mikroba dapat memperoleh lingkungan yang optimaluntuk berkembang biak, ialah makanan cukup (bahan organic), kelembaban (30-50%)dan udara segar (oksigen) untuk dapat bernapas.Sampah organik sebaiknya dicacahmenjadi potongan kecil.Untuk mempercepat pengomposan, dapat ditambahkan bio-activator berupa larutan effective microorganism (EM) yang dapat dibeli di tokopertanian.2.8 Faktor-Faktor Pembuatan KomposSetiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungandan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebutakan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinyakurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ketempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk prosespengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain:Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30:1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakanN untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukupC untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikrobaakan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang tinggi,terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung kadar kayu tinggi (sisagergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk menurunkan rasio C/N diperlukanperlakuan khusus, misalnya menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman,1991) atau dengan menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandungbanyak senyawa nitrogen.
  14. 14. XII IIA 2 / Kelompok 3 14Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan udara.Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba denganbahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel jugamenentukan besarnya ruang antar bahan (porositas).Untuk meningkatkan luaspermukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukupoksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yangmenyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalamtumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan airbahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yangakan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukanpembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.Porositas Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukankompos.Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volumetotal. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigenuntuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigenakan berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.Kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang sangatpenting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh padasuplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahanorganik tersebut larut di dalam air.Kelembaban 40 - 60 % adalah kisaran optimum untukmetabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas mikroba akanmengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabilakelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnyaaktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yangmenimbulkan bau tidak sedap.Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubunganlangsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperaturakan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula prosesdekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukankompos.Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitaspengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian
  15. 15. XII IIA 2 / Kelompok 3 15mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yangtinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yangoptimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternakumumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akanmenyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh,proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH(pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandungnitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yangsudah matang biasanya mendekati netral.Kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses pengomposandan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akandimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan.Kandungan Bahan Berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandungbahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba.Logam-logam berat seperti Mg,Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logamberat akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.Lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristikbahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atautanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akanberlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benarmatang.Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan (Ryak,1992)KondisiKonsisi yang bisaditerimaIdealRasio C/N 20:1 s/d 40:1 25-35:1Kelembaban 40 – 65 % 45 – 62 % beratKonsentrasi oksigentersedia> 5% > 10%Ukuran partikel 1 inchi bervariasiBulk Density 1000 lbs/cu yd 1000 lbs/cu yd
  16. 16. XII IIA 2 / Kelompok 3 16pH 5.5 – 9.0 6.5 – 8.0Suhu 43 – 66oC 54 -60oCFaktor-faktor yang paling penting dalam pembuatan kompos adalah perbandingankarbon-nitrogen, ukuran partikel bahan, macam/jenis campuran bahan, kelembaban,aerasi, suhu, macam dan kemampuan jassad renik yang terlibat, penggunaan inokulan,penambahan bahan fosfat dan destruksi dari jasad renik patogen.Ada dua aspek yang berhubungan dengan kesehatan dalam penggunaan limbahpertanian dan kotoran manusia. Pertama proses pengomposan akan menyebabkanhilangnya sumber penularan penyakit dan kedua akan meningkatkan nutrisi apabilakembali ke tanah sebagai penyedia humus.Seperti diketahui kebutuhan lahan akan bahan organik terus meningkat sejalandengan menurunnya kesuburan tanah, rusaknya sifat-sifat fisik tanah, rendahnya dayaikat air hujan dan menurunnya persediaan bahan organik dalam tanah. Lebih-lebih lagiadanya kenyataan bahwa penanaman pupuk hijau semakin langka dan semakinmeningkatnya pemakaian pupuk buatan terutama lahan yang diusahakan secara intensif,seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.Selulosa adalah bahan organik alami yang jumlahnya kira-kira sepertiga dariseluruh bahan organik tumbuh-tumbuhan yang ada di dunia ini dan paling susahdidegradasi. Bahan ini akan membentuk kira-kira 60 % dari seluruh bahan apabila didaur ulang. Kalau dibiarkan, bahan ini akan menimbulkan limbah dalam jumlah yangsangat besar. Untuk meningkatkan produktivitasnya perlu adanya usaha untuk mendaurulang, salah satu caranya adalah dengan cara pengomposanSejumlah jasad renik mampu merombak selulosa. Diketahui bahwa ada lebihkurang 2.000 bakteri dan 50 jenis jamur yang terkait dengan proses pengomposan.Jamur mempunyai andil yang sangat penting dalam pemecahan selulosa dandikelompokkan berdasarkan toleransinya terhadap suhu. Ada kelompok thermophilik (40oC ), mesophilik (20-400C) dan ada juga yang termasuk dalam kelompokpsychrophilik (di bawah 200C). Adanya jasad renik perombak selulosa berkaitan eratdengan keberadaan bahan selulosa di alam.Dengan demikian jasad renik perombak selulosa merupakan salah satu faktorkeseimbangan di alam dan mempunyai kontribusi dalam kelanjutan kehidupan di bumi
  17. 17. XII IIA 2 / Kelompok 3 17ini.Seperti diketahui penambahan inokulan pada pembuatan kompos adalah bagiandari usaha untuk mempercepat proses pengomposan, karena sesungguhnya pada bahanmaterial pembentuk kompos sendiri sudah mengandung banyak jasad renik khususnyayang berperan dalam perombakan zat kimia lainnya.Salah satu cara untuk mendapatkan kompos secara tepat adalah denganmenggunakan aktivator yang berupa bahan yang mengandung nitrogen atau fosfor ataujuga berupa inokulan kapang unggul yang berperan memecah selulose dalam prosespembuatan kompos, agar waktu pembuatan kompos lebih diperpendek.Proses pembuatan komposnya sendiri harus berpegang pada sistem kerja bersamabeberapa mikroba yang mempunyai sifat-sifat fisiologis yang beragam dalam suatutatanan tertentu.Mengingat keadaan seperti tersebut di atas, maka kompos sebagai salah satu pupukalam akan merupakan bahan substitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupukhijau. Ditambah pula bahwa bahan - bahan organik untuk pembuatan kompos di lahanpertanian/perkebunan yang berupa jerami padi, pohon jagung, rumput-rumputkering,serabut kelapa,limbah pabrik kelapa sawit, penggilingan padi, eceng gondok dsb,cukup berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan. Di samping limbah cair yang berasaldari kotoran ternak, pabrik tepung tapioka, pembuatan tahu, tempe dsb yang semestinyadapat digunakan sebagai bahan pembuat kompos umumnya masih terbuang percuma.Dengan demikian kompos diharapkan dapat diandalkan sebagai bahan penyubur di lahanpertanian maupun perkebunan atau dapat digunakan dalam usaha reklamasi lahan bekasgalian tambang, atau penyubur di daerah rawa-rawa, peningkatan kadar pH di daerahlahan asam.Seperti diketahui di daerah tropik kandungan bahan organik di dalam tanahdiperkirakan hanya 1% saja.Di lahan yang ditanami, kandungan organik lahan tersebutmakin lama makin berkurang karena terjadi biodegradasi secara terus menerus.Untukmengatasinya paling tidak setahun sekali lahan tersebut perlu diberi tambahan bahanorganik, seperti kompos.Aktivitas mikrobiologis dalam tanah terjadi bukan saja oleh jasad renik yangtumbuh dan berkembang dalam kompos tetapi kehadirannya dapat menstimulir jasadrenik yang telah ada dalam tanah.Pemberian kompos dapat menstimulir aktivitas
  18. 18. XII IIA 2 / Kelompok 3 18amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen dan fosforilisasi, yang disebabkan oleh kerjaberbagai jasad renik dalam tanah. Oleh karena itu pemberian kompos ke dalam tanahakan meningkatkan produktivitas lahan secara permanen. Dan apabila para petani dilahan kritis dapat membuat dan menggunakananya sebagai bahan suplemen pupukanorganik diharapkan produktivitas lahan tersebut akan meningkat. Tentu sajapenggunaan bahan limbah yang berlimpah sebagai bahan pembuatan kompos, akanmengurangi penggunaan pupuk anorganik oleh para petani setempat yang harganyarelatif mahal.Kompos sebagai penyedia unsur hara utama nutrien tanah (NPK) dan sebagaipenyedia mikronutrien yang mengalami degradasi apabila lahan tersebut digarap secaraintensif dengan sasaran produktivitas tinggi.Kompos yang berbentuk koloidal dalamtanah dan bermuatan negatif dikoagulasikan oleh kation dan partikel tanah sehinggaberbentuk granular.Oleh karena itu kompos dapat memperbaiki struktur, tekstur dankelembutan tanah.
  19. 19. XII IIA 2 / Kelompok 3 19BAB IIIMETODE PENGAMATAN3.1 Pendekatan PengamatanDalam penelitian ini penulis mengggunakan pendekatan eksperimen karena lebihmudah dibuktikan secara langsung.Selain itu pengamatan ini dengan mengamati objeksecara actual.3.2 Waktu Dan Tempat PengamatanWaktu dan tempat yang telah ditetapkan untuk melakukan pengamatan ini yaitu:Waktu : 9 Febrari 2013 sampai dengan 31 April 2013Tempat : Dilaksanakan di salah satu rumah anggota kelompok yaitu Hafshah Zuhairohyang bertempat tinggal di desa Kauman RT 02 RW 02, Srengat, Blitar .3.3 Fokus PengamatanFokus dari pengamatan ini adalah pengamatan pembuatan pupuk kompos skalarumah tangga selama 6 minggu.3.3.1 Sumber dan Jenis Pengamatan:Sumber dan jenis pengamatan ini adalah dari sumber buku yangberhubungan dengan pembuatan pupuk kompos skala rumah tangga danmenggunakan tabel data untuk memudahkan pengamatan.3.3.2 Rancangan PengamatanPelaksanaan pengamatan ini dimulai pada tanggal 2013, dengan diawaliproses pembuatan larutan bioaktivator di sekolah. Kemudian dilanjutkan denganmenyusun kerikil,pasir,tanah,sampah hijau,sampah coklat,abu dapur,dan sekambakar ke dalam timba besar. Campuran tersebut ditambahkan dengan larutanbioaktivator.Kemudian penulis mengamati perkembangan kompos tersebut secararutin.Pengamatan dan perawatan dilakukan satu minggu sekali, dan untuk data
  20. 20. XII IIA 2 / Kelompok 3 20hasil pengamatan dimasukkan ke dalam tabel hasil pengamatan.Sedangkan prosesperawatan yang dimaksudkan di atas meliputi proses pembalikan untukpengendalian PH, serta pengendalian suhu.3.4 Alat Dan Bahan3.4.1 Alat dan bahan pada saat proses pembuatan kompos adalah sebagai berikut:Alat :- Timba besar 1 buah- Talenan 1 buah- Plastik 4 buah- Cangkul 1 buah- Pisau 2 buah- Nampan besar 1 buahBahan :- Batu kerikil- Sampah rumah tangga- Sampah cokelat yaitu kotoran kambing- Sekam bakar- Abu dapur- Larutan EM- Tanah humus3.4.2 Alat dan bahan pada saat pengemasan kompos adalah sebagai berikut:Alat :- Ember 1 buah- yakan 1 buah- Plastik pengemas 5 buah- Sarung tangan 1 pasang- Cetok 1 buahBahan:Kompos yang telah jadi
  21. 21. XII IIA 2 / Kelompok 3 213.5 Prosedur PengamatanDalam pengamatan ini, penulis melaksanakan prosedur pengamatan sebagai berikut:1. Menyiapkan seluruh alat dan bahan2. Memotong dan mencacah sampah rumah tangga atau sampah hijau menjadibagian –bagian kecil3. Menyusun kerikil,pasir,tanah humus, sampah hijau,sampah cokelat,abudapur,serbuk gergaji, kedalam timba besar yang sudah dilubangi bagiankiri,kanan,bawah dan bagian tutupnya.4. Menambahkan larutan EM yang telah diencerkan 1:10 dengan air5. Menutup timba besar rapat –rapat dengan tutup timba6. Meletakkan timba besar ditempat yang terlindung dari cahaya mataharilangsung,terlindung dari genangan air dan mempunyai lantai yang rata.7. Melakukan perawatan kompos dengan cara setiap 7 hari dilakukan pembaliksesuai keadaan kompos.8. Mencatat dan mendokumentasikan pengamatan yang dilakukan setiappengamatan3.6 Teknik Analisa DataUntuk pengamatan ini pengamat memilih menggunakan jenis data berupa tabelpengamatan kualitatif sehingga dapat dengan mudah menganalisa data yang diperoleh daripegamatan. Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatanpadatekstur,warna,kelembapan dan bau bakal kompos.. Hal ini dilakukanelama 6 Minggu, kemudian mencatat hasilnya pada tabel pengamatan setiap seminggu sekali.
  22. 22. XII IIA 2 / Kelompok 3 22BAB IVHASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN4.1 Tabel Hasil Pengamatan PengomposanBahan kompos: daun kemangi, daun bayam, kenikir, belimbing, kotoran kambing dan abudapur.Tanggal Mingggu Ke Warna Tekstur Kelembapan Ket.10 -02- 2013 0 Hijau Kasar LembabcenderungbasahPenambahanEM4, Berbaubusuk17 -02- 2013 1 Hijau Kasar Lembabsedikit basahSuhumeningkat,berbau busuk24-03- 2013 2 Hijau agakcoklatKasar Lembabsedikit basahSuhumeningkat,berbau3 -03-2013 3 Coklat Kasar >halusLembab Suhu turun,berbau10 -03-2013 4 Coklat Kasar >HalusLembab Suhu turun,tidak berbau17 -03-2013 5 Hitam Kasar <HalusLembab Suhu turun,tidak berbau24 -03-2013 6 HitamKecoklatanHalus Lembab Suhu normal,tidak berbau4.2 Analisi DataPada minggu ke-0 campuran kompos masih kasar dan berbau.Temperaturekompos meningkat setelah satu hari pengomposan, dan terdapat titik-titik air pada tutupember.Pada dua minggupertama tesktur calon kompos masih kasar.Tinggi permukaankompos sudah berubah.Sampah hijau mulai membusuk, aroma masih berbau busuk.Suhu
  23. 23. XII IIA 2 / Kelompok 3 23pada calon kompos meningkat.Pada minggu ke-3dan ke-4 tesktur sampah sudah mulai hancur. Sampah masihmengumpal, tinggi permukaan timbunan calon kompos semakin menurun.Pada mingguini suhu turun.Pada minggu ke-5 sampah yang membusuk masih terdapatgumpalan.Warnakompos mulai coklatkehitaman.Pada minggu ini suhumulai normal.Pada dua minggu terakhir yaitu minggu ke-6 dan ke-7sampah sudah hancur danadabeberapa kotoran kambing yang sedikit menggumpal. Warna kompos lebih hitam,tidak mengeluarkan aroma busuk dan suhu sudah normal.Tetapi masih terdapat titik-titikair pada tutup ember.Perubahan dari sampah hijau dan sampah coklat untuk menjadi komposmembutuhkan waktu yang lamajika tidak dibantu dengan larutan EM-4 sebagaikatalis.Campuran untuk pembuatan kompos berpengaruh pada hasil akhir pupuk kompostersebut. Jika bahan campuran sampah banyak mengandung air seperti buah-buahan makaakan menghasilkan cairan (jus) sebagai hasil samping dari pembusukan sampah. Tetapijika bahan yang digunakan sedikit bahan basah, cairan (jus) yang dihasilkan sangatsedikit.Komposisi sampah dan larutan EM yang digunakan harus seimbang agarmeghasilkan kompos yang sempurna. Jika tidak seimbang, kompos akan membutuhkanwaktu lama untuk kering dan tidak lembab. Sehingga memerlukan lebih banyak waktudalam proses pengemasan ataupun pemakaian selanjutnya.
  24. 24. XII IIA 2 / Kelompok 3 24BAB VPENUTUP5.1 KesimpulanKomposisi campuran sampah, jumlah larutan EM-4 dan jumlah sampah yangdigunakan berpengaruh pada keberhasilan pembuatan kompos skala rumah tangga. Waktupembalikan campuran calon kompos yang benar danteratur juga sangat mempengaruhikeberhasilan pengomposan. Karena berpengaruh pada kerja mikroorganisme untukpembusukan dan penguraikan sampah.5.2 SaranKomposisi dan jumlah bahan campuran kompos harus sebanding.Larutan EM yangdigunakan juga cukup sehingga kelembapan campuran sampah sesuai. Pemotongansampah-sampah sebaiknya dengan ukuran yang kecil-kecil agar mempercepat prosespembusukan oleh baktersi dan mikroorganisme lainnya. Pembalikan kompos setiapminggu dilaksanakan sedisiplin mungkin dan dapat merata untuk mendapatkan hasil yangmaksimal.
  25. 25. XII IIA 2 / Kelompok 3 25LAMPIRAN GAMBARMenyiapkan TempatPemupukantMencincang CampahHijauMencampur sampahMelembutkan SampahCoklatMencampur sampahMembakar Umput KayuMenyusun Bahan untukMembuat KomposMenutup WadahPembalikan Kompos Titik-Titik Air padaTutup WadahPengemasan Kompos
  26. 26. XII IIA 2 / Kelompok 3 26DAFTAR PUSTAKAhttp://kompos-menyuburkan.blogspot.com/ diakses pada Rabu, 20 Maret 2013http://llmu-tanah.blogspot.com/2012/06/pembuatan-kompos-organik.html diakses padaKamis, 21 Maret 2013http://siiojost.blogspot.com/2010/11/jenis-jenis-kompos.htmlhttp://www.scribd.com/doc/82514815/cara-pengomposanLKSPertanian Semester II

×