Your SlideShare is downloading. ×
Laporan ilmu tanah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Laporan ilmu tanah

3,737
views

Published on


0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
3,737
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu tanah adalah suatu ilmu yang mempelajari berbagai aspek tentang tanah seperti pembentukan, klasifikasi, pemetaan, karakteristik tanah (fisik, kimia, dan biologis), kesuburan tanah, serta tentang pemanfaatan dan pengelolaan tanah agar mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomasa dan produksi tanaman yang baik. Tanah adalah salah satu sumberdaya alam yang sangat penting. Karakteristik fisik tanah berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuh tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara.Tanah secara kimiawi berfungi sebagai penyuplai unsur hara dan unsurunsur esensial.Karakteristik secara biologi, tanah berfungsi sebagai habitat biota yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara dan zat-zat aditif bagi tanaman.Praktikum Ilmu Tanah akan dilakukan pengamatan tentang pencandraan bentang lahan, penyidikan profil tanah, sifat fisika dan kimia tanah, analisis lengas dan pH tanah, serta menganalisis tentang struktur tanah. Proses pembentukan tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor pembentukan tanah dibedakan menjadi dua golongan yaitu, faktor pembentukan tanah secara pasif dan aktif. Faktor pembentukan tanah secara pasif adalah bagian-bagian yang menjadi sumber massa dan keadaan yang mempengaruhi massa yang meliputi bahan induk, topografi dan waktu atau umur. Faktor pembentukan tanah secara aktif ialah faktor yang menghasilkan energi yang bekerja pada massa tanah, yaitu iklim (hidrofer dan atmosfer) dan makhluk hidup (biosfer).Pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor yang bekerjasama dalam berbagai proses, baik reaksi fisik (disintegrasi) maupun kimia (dekomposisi). B. Tujuan Praktikum Tujuan diadakannya praktikum Ilmu Tanah yaitu: 1. Mengidentifikasi kondisi lingkungan sebagai faktor pembentuk tanah 2. Mengenal dan mengetahui profil dan pedon tanah 1
  • 2. 2 3. Mengetahui sifat fisika dan kimia tanah 4. Mengetahui lengas dan pH tanah C. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum ilmu tanah acara identifikasi tanah dilaksanakan pada tiga lokasi sebagai berikut: 1. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret a. Tanggal : 2 November 2013 b. Pukul : 11.00 – 12.00 WIB 2. Jatikuwung a. Tanggal : 2 November 2013 b. Waktu : 08.00 – 10.00 WIB 3. Jumantono a. Tanggal : 2 November 2013 b. Pukul : 13.00 – 15.00 WIB 4. Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah a. Tanggal : 22 – 23 November 2013 b. Waktu : 1) Tanggal 22 November 2013 pukul 13.00 – 20.00 WIB 2) Tanggal 23 November 2013 pukul 06.00 – 15.00 WIB
  • 3. 3 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Bentang Lahan Bentang lahan ialah kenyataan kondisi di muka bumi yang dicirikan dengan bentuk, perbedaan tinggi, tinggi tempat, kemiringan, dan kondisi permukaanya. Bentang alam bisa datar, datar dengan relief mikro dan bisa juga datar yang berbatu-batu. Sehingga tidak dapat diketahui secara pasti klasifikasi tanahnya (Soil Survey Staff 2004). Landscape secara umum memiliki makna yang hampir sama dengan istilah bentang lahan yang merupakan hasil dari tektonisme dan vulkanisme berupa hamparan permukaan bumi yang memiliki ketinggian yang beranekaragam. Permukaan bumi yang tinggi lama-kelamaan mengalami pengikisan dan sebaliknya beberapa bagian yang rendah akan bertambah tinggi akibat sedimentasi yang berlangsung ribuan tahun lamanya. Bentang lahan dibedakan menjadi tiga yaitu dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan (Mu’in 2004) Dataran rendah merupakan bentang lahan yang memiliki ketinggian 0-200 meter dari permukaan laut, merupakan sedimen alluvial yang umumnya terbentang di sepanjang pantai yang merupakan daerah persawahan dan tanaman palawija. Dataran tinggi atau plateau yaitu bentang lahan yang datar tetapi ratarata berada lebih dari 200 meter dari permukaan laut. Dataran tinggi biasanya sejuk sehingga sangat baik untuk dikembangkan sebagai daerah pertanian sayursayuran dan perkebunan. Pegunungan adalah bentang alam yang ditandai oleh gunung-gunung dan perbukitan. Pada daerah ini tidak banyak kita temui bentangan yang data. Pegunungan relative subur sebab tanah vulkanis menutupi permukaannya, sehingga cocok untuk pertanian sayuran dan palawija serta usaha tanaman perkebunan (Mu’in 2004). Tanah sebagai produk alami yang bersifat heterogen dan dinamik, ciri dan perilaku tanah berbeda dari satu temat ke tempat lain dari waktu ke waktu. Ilmu tanah memandang tanah dari dua konsep utama, yaitu pendekatan pedologi yang merupakan hasil proses hancuran iklim terhadap bahan induk melalui prose bio- 4
  • 4. 4 fisik-kimia dan pendekatan edafologi yang merupakan habitat tumbuhan (Arsyad 2006). B. Ordo Tanah Entisol merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian tanah ini tidak hanya berupa bahan asal atau bahan induk tanah saja tetapi harus sudah terjadi proses pembentukan tanah yang menghasilkan epipedon okhrik. Pada Entisol mungkin juga ditemukan epipedon anthropik, horizon albik dan agrik.akumulasi garam, besi oksida dan lain-lain mungkin ditemukan tapi pada kedalaman lebih dari 1 meter (Utoyo 2011). Entisol mempunyai kejenuhan basa yang bervariasi, pH dari asam, netral sampai alkalin, KTKjuga bervariasi baik untuk horison A maupun C, mempunyai nisbah C/N < 20% di mana tanah yang mempunyai tekstur kasar berkadar bahan organik dan nitrogen lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang bertekstur lebih halus. Hal ini disebabkan oleh kadar air yang lebih rendah dan kemungkinan oksidasi yang lebih baik dalam tanah yang bertekstur kasar juga penambahan alamiah dari sisa bahan organik kurang daripada tanah yang lebih halus. Meskipun tidak ada pencucian hara tanaman dan relatip subur, untuk mendapatkan hasil tanaman yang tinggi biasanya membutuhkan pupuk N, P dan K (Moeliono 2009). Kata “Ent” berarti recent atau baru.Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol.Tanah jenis ini mempunyai sedikit atau belum banyak perkembangan profilnya sehingga tanah masih muda, baru tingkat permulaan dalam perkembangan tanah. Tidak ada horizon penciri lain kecuali epipedon okrik atau albik. Tanah entisols terjadi pada bahan aluvium yang muda.Kemungkinan ekuivalensinya adalah tanah aluvial, regosol, dan tanah glei humus rendah.Kandungan unsur haranya banyak bergantung dari bahan induk tadi, tetapi biasanya miskin akan hidrogen. Mengenai reaksi tanah adalah netral, agak asam sampai asam.Tanah regosol vulkan ternyata lebih kaya dari tanah regosol lainnya. Proses pembentukan tanah adalah bersifat alterasi lemah atau tanpa pembentukan. Berhubung dengan keadaan tekstur dan strukturnya demikian, maka tanah ini mempunyai permeabilitas, infiltrasi yang cepat sampai
  • 5. 5 sangat cepat, daya menahan air sangat rendah dan sangat pekat terhadap bahaya erosi (Soul Survey Staff 2000). Permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan bahan organik adalah dibutuhkan dalam jumlah yang besar, kandungan unsur hara tidak seimbang karena berasal dari alam, dan dekomposisinya. Laju dekomposisi bahan organik ditentukan oleh faktor dakhil bahan organiknya sendiri dan faktor luar atau faktor lingkungan (Notohadiprawiro 2000). Vertisols ditandai dengan jumlah tinggi lempung memperluas (> 30%). Dalam musim kemarau ini tanah menyusut dan meninggalkan retakan yang mendalam yang luas, ini menyusut dan pembengkakan menghasilkan gerakan tanah, masalah bagi struktur rumah. Lengket ketika basah keras ketika kering. Relatif tinggi memproduksi tanah, terutama dengan penambahan bahan organik dan manajemen yang baik. Dalam pengolahan tanahnya yang relatif cukup sulit, maka harus diketahui keadaan kelengasan tanah paa lapisan permukaan yang memungkinkan untuk dilakukan pengolahan tanah, karena sifat fisik tanah vertisol yang jelas adalah konsistensi yang keras, sehingga untuk mengolah tanah tidak dapat menggunakan cangkul. Penggunaan traktor dan lain-lain peralatan mekanik memungkinkan untuk melakukan persiapan lahan baik untuk pembibitan maupun penanaman (Utoyo 2007). Tanah Vertisol dicirikan mempunyai rekahan yang membuka dan menutup secara periodik. Sifat fisiknya yang konsisten keras, menjadikan tanah ini termasuk berat untuk diolah. Tanah ini diperkirakan meliputi 2% dari daratan di dunia (Sutanto 2002). Tanah produktif dengan cakrawala argilik atau natric (lempung silikat atau tanah liat silikat dengan akumulasi natrium lebih dari 15%). Sedang untuk kation jumlah tinggi dasar. Lebih lapuk daripada Inseptisols tetapi kurang dari Spodosols. Tanah ini cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tingkat kesuburannya (secara kimiawi) tergolong baik. pH-nya rata-rata mendekati netral. Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan (Sutanto 2002).
  • 6. 6 Proses pelapukan adalah berubahnya bahan penyusun tanah dari bahan pemyusun batuan. Sedangkan proses perkembangan tanah adalah terbentuknya lapisan tanah yang menjadi ciri, sifat dan kemampuan khas masing-masing jenis tanah. Proses pelapukan mengandung arti geologis destruktif dan proses perkembangan tanah mengandung arti pedologis kreatif. Contoh proses pelapukan adalah hancuran batuan secara fisik dan proses berubahnya felspat menjadi lempung kimia. Contoh proses perkembangan tanah adalah terbentuknya horison tanah, latosolisasi, podsolisasi, dan lainnya (Darmawijaya 2000). Tanah alfisol cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tingkat kesuburannya (secara kimiawi) tergolong baik. pH-nya rata-rata mendekati netral. Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan (Sutanto 2002). C. Profil Tanah Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi tempat tumbuh berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara, secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa porganik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti N, P,K,Ca, Mg, S, CU, Zn, Fe, Mn, B, Cl dan lainlain), dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktifitas tanah untuk mengehasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan (Hanafiah 2007). Profil tanah atau penampang tanah digunakan untuk mempelajari sifat-sifat morfologi tanah. Pembuatan profil tanah hendaknya dibuat pada tempat representative dari seluruh cakupan wilayah yang dipelajari. Profil tanah dibuat dengan cara menggali tanah ukuran tertentu dengan persyaratan lokasi tertentu (Raharjo 2012).
  • 7. 7 Selain dari profil tanah, pengamatan tanah dapat dilakukan pada singkapan tanah di pinggir jalan atau bekas galian tanah. Sebelum dilakukan pengamatan, singkapan atau galian tanah yang telah lama perlu dilakukan penyegaran terlebih dahulu dengan mengupas sekitar 10-25 cm pada permukaan penampang. Pengamatan tanah harus dilakukan pada penampang tanah yang segar. (Suwardi 2000). Pengamatan yang teliti perlu dilakukan untuk meyakinkan bahwa lokasi tersebut benar-benar alami. Ciri-ciri tanah yang sudah terganggu adalah sebagai berikut: 1. Horisonisasi tanah sudah tidak teratur, lapisan gelap dan lapisan-lapisan lainnya sudah terbalik-balik. 2. Ditemukan artefak seperti bongkahan arang, bekas pembakaran, ada bendabenda asing seperti: pecahan batu bata, pecahan kaca, pecahan genting, dan sebagainya (Suwardi 2000). Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya dari fraksi tanah halus. Berdasar atas perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu, liat maka tanah dikelompokkan kedalam beberapa kelas tekstur. Dalam klasifikasi tanah tingkat family kasar halusnya tanah ditunjukkan dalam kelas sebaran besar butir yang mencangkup seluruh tanah. Kelas besar butir merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah tetapi dengan memperhatikan pula banyaknya fragmen batuan atau fraksi tanah yang lebih besar dari pasir. Tanah-tanah bertekstur liat ukuran butirannya lebih halus maka setiap satuan berat mempunyai luas-luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah yang bertekstur halus lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah bertekstur kasar (Hardjowigeno 2003). D. Sifat Fisika Tanah Berbagai kondisi sifat fisik tanah pada berbagai penggunaan lahan menunjukkan hasil yang berbeda. Penggunaan lahan hutan mempunyai nilai bahan organic dan permeabilitas tanah termasuk paling tinggi. Sedangkan kadar air dan porositas termasuk sedang. Pada penggunaan lahan pemukiman mempunyai nilai sifat fisik tanah yang sedang hingga rendah, dengan kelas
  • 8. 8 permeabilitas sedang. Pada lahan sawah nilai porositas tanah dan kerapatan tanah paling tinggi. Sedang nilai kadar air dan permeabilitas tanah termasuk lambat (Setyowati 2007). Kadar bahan organik semakin ke bawah semakin sedikit karena proses dekomposisi di lapisan bawah lebih lambat dibandingkan dengan permukaan tanah atas. Aerasi tanah pada permukaan tanah lebih baik dibandingkan dengan lapisan bawah juga mempengaruhi akan banyaknya kandungan organik. Tingginya bahan organik di tiap permukaan tanah menyebabkan pori drainase lebih cepat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan tanah mempunyai kadar lempung yang tinggi (Herlambang 2000). Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan liat. Tekstur tanah dikelompokkan dalam 12 klas tekstur. Kedua belas klas tekstur dibedakan berdasarkan presentase kandungan pasir, debu dan liat (Hardjowigeno 2003). E. Sifat Kimia Tanah Perilaku kimiawi tanah didefinisikan sebagai keseluruhan reaksi fisikakimia yang berlangsung antar-penyusun tanah serta antara penyusun tanah dan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk pupuk atau pun pembenah tanah lainnya. Factor kecepatan semua bentuk reaksi kimia yang berlangsung dalam tanah mempunyai kisaran sangat lebar, yakni antara sangat singkat yang diperhitungkan dengan menit sampai luar biasa lama yang diperhitungkan dengan abad. Pada umumnya reaksi-reaksi yang terjadi dalam tanah diimbas oleh tindakan factor lingkungan tertentu (Sutanto 2002). Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian. Hal ini dikarenakan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah. Penetapan kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik. Bahan organik tanah sangat menentukan interaksi antara komponen abiotik dan biotik dalam ekosistem tanah. Kandungan bahan organik dalam bentuk C-organik di tanah harus dipertahankan tidak kurang dari 2%, agar kandungan bahan organik dalam tanah tidak menurun karena waktu akibat proses
  • 9. 9 dekomposisi mineralisasi maka sewaktu pengolahan tanah penambahan bahan organik mutlak harus diberikan setiap tahun (Supriyono 2009). Kandungan bahan organik antara lain sangat erat berkaitan dengan KTK (Kapasitas Tukar Kation) dan dapat meningkatkan KTK tanah. Tanpa pemberian bahan organik dapat mengakibatkan degradasi kimia, fisik, dan biologi tanah yang dapat merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah. Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir (Hardjowigeno 2003). F. Analisis Lengas Tanah Lengas tanah adalah air yang terdapat dalam tanah yang terikat oleh berbagai kakas (matrik,osmosis, dan kapiler). Kakas ini meningkat sejalan dengan peningkatan permukaan jenis zarah dan kerapatan muatan elektrostatik zarah tanah. Tegangan lengas tanah juga menentukan beberapa banyak air yang dapat diserap tumbuhan. Bagian lengas tanah yang tumbuhan mampu menyerap dinamakan air ketersediaan (Notohadiprabowo 2006). Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air (moisture) yang terdapat dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, secara umum dikenal 3 jenis, yaitu lengas tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan cairan, air tanah (soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah sampai lapisan kedap air, dan air tanah dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada di tanah bagian dalam (Yani 2007). koefisien air tanah yang merupakan koefisien yang menunjukkan potensi ketersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan tanaman, terdiri dari jenuh atau retensi maksimum dan kapasitas lapang. Jenuh atau retensi maksimum yaitu kondisi dimana seluruh ruang pori-pori tanah teris oleh air. Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori tanah mulai menipis
  • 10. 10 sehingga tegangan antara air udara meningkat hingga lebih besar dari gaya gravitasi. (Hanafiah 2007). Jumlah air tanah yang bermanfaat untuk tanaman mempunyai batas – bata tertentu. Seperti pada kekurangan air, kelebihan air dapat merupakan kesukaran. Air yang kelebihan itu tidaklah beracun, akan tetapi kekurangan udara pada tanah – tanah yang tergenanglah yang menyebabkan kerusakan. Tanaman dapat ditanam dengan memuaskan dalam larutan air bila aerasi diberikan dengan baik. Dalam kaitanya dengan daya penyimpanan air, tanah pasiran mempunyai daya pengikat terhadap lengas tanah yang relative rendah karena permukaan kontak antara tanah pasiran ini didominasi oleh pori – pori mikro satu. Oleh karena itu, air yang jatuh ketanah pasiran akan segera mengalami perkolasi dan air kapiler akan mudah lepas karena evaporasi (Mukhid 2010). G. Analisis pH Tanah Reaksi tanah adalah derajat kesaman tanah yang terdapat di larutan tanah. Tinggi rendahnya reaksi tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor pembentuk tanah. Selain itu, kedaan musim, tindakan cocok tanam, tempat pengambilan contoh, dan cara pengukuran tanah akan mempengaruhi nilai pH tanah. Cara penetapan pH tanah, antara lain dengan cara kalorimeter yaitu menggunakan indikator pH dan H2O atau KCl 1 Nsebagai larutan dan dengan cara elektrometer artinya dengan menggunakan alat pH dengan anoda dan katoda dicelupkan ke dalam larutan (Ahmat 2006). pH tanah menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih banyak dari OH- maka suasana larutan tanah menjadi asam, sebalikya bila konsentrasi OH- lebih banyak dari pada konsentrasi H+ maka suasana tanah menjadi basa. pH tanah sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman makanan ternak, bahkan berpengaruh pula pada kualitas hijauan makanan ternak. PH tanah yang optimal bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman makanana ternak adalah antara 5,6-6,0. Pada tanah pH lebih rendah komponen teknologi sinergis yang lain justru mampu meningkatkan hasil gabah (Pramono 2005).
  • 11. 11 H. Analisis Struktur Tanah Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil dari tanah akibat melekatnya butir-butir satu dengan yang lain. Satu struktur tanah disebut ped (terbentuk karena proses alami) tanpa adanya campur tangan manusia. Salah satu contoh struktur tanah yang ada adalah tanah granular (Nugroho, 2009). Struktur tanah didefinisikan sebagai susunan saling mengikat partikel-partikel tanah. Ikatan pertikel itu berwujud sebagai agregat tanah yang membentuk dirinya. Agregat tanah itu dinamakan pedon (Darmawijaya 2001). Komponen-komponen tanah yang mengikat fraksi pasir dan debu membentuk struktur yang tersusun adalah liat, bahan organic, dan seskuioksida. Bila ikatan antara partikel-partikel tanah lemah, tenaga mekanik akan mudah menceraiberaikan partikelp-artikel tanah dan akibatnya pori-pori tanah tertutup dan kontinuitas pori-pori tanah terganggu (Wahyuni 2009). Struktur lempeng mempunyai ketebalan kurang dari 1 mm sampai lebih dari 10 mm. prisma dan tiang antara kurang dari 10 mm sampai lebih dari 100 mm. Gumpal antara kurang dari 100 mm sampai lebih dari 50 mm. granuler kurang dari 5mm sampai lebih dari 50 mm. granuler kurang dari 1 mm sampai lebih dari 10 mm. remah kurang dari 1 mm sampai lebih dari 5mm (Hardjowigeno 2007).
  • 12. 12 III. ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA A. Pencandraan Bentang Lahan 1. Alat a. GPS b. Klinometer c. Altimeter 2. Bahan Lahan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret 3. Cara Kerja a. Mengamati bentuk wilayah dan cuaca. b. Menentukan posisi titik pengamatan pedon atau profil dengan GPS. c. Mengukur ketinggian tempat dengan altimeter. d. Mengukur kemirigan lereng lahan dengan klinometer. e. Mengamati fisiografi lahan, tutupan lahan dan vegetasi. f. Mengamati ada tidaknya genangan, potensi banjir dan erosi. g. Mengamati ada tidaknya batuan di permukaan lahan. B. Penyidikan Profil Tanah 1. Alat a. Cangkul b. Meteran (150 cm) c. Tali raffia d. Pisau Belati 2. Bahan Profil tanah di lahan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. 3. Cara Kerja a. Membuat irisan tegak pada tanah. b. Membedakan horizon-horizon atau lapisan-lapisan yang terlihat. c. Mengukur kedalaman atau ketebalan horizon atau lapisan. 13
  • 13. 13 d. Menentukan batas horizon atau lapisan dengan cara mengamati perbedaan warna irisan tanah tersebut atau memukul-mukul tanah dengan gagang pisau belati. e. Mengamati perakaran yang terlihat pada setiap horizon atau lapisan. f. Mengamati perbedaan pada tiap horizon atau lapisan. C. Sifat Fisika Tanah 1. Alat a. Lup b. Kertas saring c. MSCC d. Penetrometer 2. Bahan a. Tanah pada profil yang diamati b. Air 3. Cara kerja a. Tekstur tanah 1) Mengambil sempel tanah di setiap lapisan 2) Membasahi tanah dengan air lalu pijit-pijit dengan jari 3) Menentukan bagaimana tekstur tanah b. Struktur tanah 1) Mengambil sample masing-masing lapisan 2) Mengamati tanah dengan lup 3) Mengamati ukuran dan derajat struktur tanah dengan cara dipijit-pijit 4) Menentukan struktur, ukuran dan derajat tanah. c. Konsistensi tanah 1) Memeras, memijit dan atau memirit tanah dalam keadaan sebenarnya di lapangan. 2) Mengidentifikasi tingkat konsistensi tanah d. Ketahanan penetrasi 1) Cincin geser pembaca ditarik ke belakang sampai angka nol
  • 14. 14 2) Penetrometer ditusukkan ke dalam tanah secara tegak lurus bidang yang sudah disingkap hingga ujung penetrometer masuk sedalam tanda batas 3) Penetrometer dicabut tanpa menyentuh cincin geser pembaca yang terdorong ke depan. e. Warna tanah 1) Mengambil sampel dari masing-masing lapisan tanah 2) Menentukan warna tanah dengan mencocokkan sampel pada buku “Munsell Soil Colour Chart” D. Sifat Kimia Tanah 1. Alat a. Pipet b. Flakon c. Tisu d. Karton Marga e. Spidol f. pH stick 2. Bahan a. Profil tanah pada lahanyang diamati b. HCl 1,2 N c. KCNS 10% d. K4Fe(CN)6 0,5% e. H2O f. KCL 1 N g. H2O2 h. HCl 10% 3. Cara Kerja a. Aerasi dan drainase tanah 1) Mengambil bongkahan kecil dari masing-masing sample pada horizon. 2) Memberikan larutan HCL 1,2 N pada 2 bongkah tanah disetiap lapisan yang diletakkan di atas tisu 3-5 tetes
  • 15. 15 3) Melipat kertas saring dan ditekan hingga cairan dalam bongkah tanah terperas oleh tisu. 4) 3 bongkah ditetesi larutan KCNS 10% 3-5 tetes, dan 3 bongkah ditetesi larutan K4Fe(CN)6 0,5% 3-5 tetes. 5) Masing-masing ditekan dengan jari yang berbeda. 6) Mengamati perubahan yang terjadi dan mengidentifikasi reaksi reduksi dan oksidasi. b. Reaksi tanah 1) Mengambil bongkahan kecil dari masing-masing sample pada horizon dan memasukkan pada flakon. 2 bongkah tanah setiap horizon. 2) Bagian pertama ditambah H2O dan bagian kedua ditambah KCl lalu dikocok. 3) Mengamati pH masing-masing sampel dengan pH stick dan mencatat hasilnya pada tabel. c. Bahan organik tanah 1) Mengambil sampel dari masing-masing lapisan tanah 2) Menambahkan beberapa tetes H2O 10% 3) Mengamati reaksi perubahan yang terjadi d. Kadar kapur dalam tanah 1) Mengambil sedikit bongkahan tanah dari masing-masing lapisan tanah dan diletakkan diatas tisu. 2) Menambahkan beberapa tetes HCL 10% E. Analisis Lengas Tanah 1. Lengas Tanah Kering Angin a. Alat 1) Botol timbang 2) Oven 3) Eksikator 4) Penimbang b. Bahan 1) Bongkahan
  • 16. 16 2) Contoh tanah kering angina (ctka) Ø 0,5 mm dan Ø 2 mm c. Cara Kerja 1) Botol penimbang dan tutupnya ke dalam oven selama 30 menit, kemudian mendinginkannya ke dalam eksikator dan menimbang botol penimbang dengan tutupnya (a g) 2) Memasukkan ctka kurang lebih ⅔ tinggi botol penimbang lalu menimbangnya (b g) dengan masing-masing ctka dilakukan 2 kali pengulagan 3) Memasukkan ke dalam oven dengan keadaan terbuka bersuhu 105oC selama 4 jam. 4) Mendinginkan botol penimbang dan isinya pada eksikator dalam keadaan tertutup, kemudian melakukan penimbangan setelah dingin. 5) Melakukan penghitungan kadar lengas tanah - x 100% Nilai c-a adalah berat contoh tanah kering mutlak (ctkm) 2. Kapasitas Lapangan a. Alat 1) Botol semprong 2) Kain kasa 3) Statif 4) Gelas piala b. Bahan Ctka Ø 2 mm c. Cara Kerja 1) Membungkus atau menyumbat salah satu ujung botol dengan kain kasa 2) Memasukkan ctka ke dalam botol semprong dengan bagian yang tertutup kain kassa sebagai dasarnya 3) Memasang botol semprong pada statif dan diatur seperlunya 4) Merendam selama kurang lebih 48 jam 5) Mengangkat semprong dan membiarkan air menetes sampai tetes terakhir
  • 17. 17 6) Mengambil contoh tanahnya yang berada pada ⅓ bagian tengah semprong 7) Mengukur kadar lengas sebanyak dua kali 3. Lengas Maksimum a. Alat 1) Cawan tembaga yang dasarnya berlubang 2) Mortar porselen 3) Saringan Ø 2mm 4) Timbangan analitik 5) Spatel 6) Oven 7) Eksikator 8) Gelas arloji 9) Kertas saring 10) petridish b. Bahan 1) Ctka Ø 2mm 2) Aquades c. Cara Kerja 1) Menggerus ctka menjadi butir primer dan menyaringnya menjadi Ø2mm 2) Mengambil cawan berlubang yang dasarnya diberi kertas sading yang sudah dibasahi 3) Menimbang dengan gelas arloji sebagai alasnya (a g) 4) Memasukkan ctka yang telah digerus dalam cawan tembaga kurang lebih ⅓ nya lalu diketuk-ketukkan, menambahkan lagi ctka sampai ⅔ lalu diketuk-ketukkan lagi kemudian menambahkan lagi ctka sampai penuh, mengetuknya lagi dan meratakannya 5) Memasukkan cawan tersebut ke dalam perendam kemudian diisi air sampai permukaan air mencapai kurang lebih perendaman 12 jam tinggi dinding cawan,
  • 18. 18 6) Mengangkat cawan dan membersihkan sisi luarnya lalu meratakan tanah setinggi cawan dengan diperes secara hati-hati dan menimbangnya dengan diberi alas gels arloji (b g) 7) Memasukkan ke dalam oven bersuhu 105oC selama 4 jam, lubang pembuangan air pada oven harus terbuka 8) Memasukkan ke dalam eksikator kemudian ditimbang dengan diberi gelas arloji (c g) 9) Membuang tanah, membersihkan cawan dan kerta saring kemudian menimbangnya dengan diberi alas gelas arloji (d g) 10) Menghitung kadar lengasnya 4. Batas Berubah Warna a. Alat 1) Botol timbang 2) Colet 3) Botol pemancar 4) Cawan penguap 5) Oven 6) Eksikator 7) Spatel 8) Lempeng kaca 9) Papan kayu 10) Timbangan analitik b. Bahan 1) Ctka Ø 0,5 mm 2) Aquades c. Cara Kerja 1) Membuat pasta tanah dengan cara mencampur ctka Ø 0,5 mm dengan air pada cawan penguap
  • 19. 19 2) Meratakan pasta tanah pada kayu membentuk elips dengan ketinggian pada bagian tengah kurang lebih 3 mm dan semakin ke tepi semakin tipis 3) Membiarkan selmalam dab setelah ada perbedaan warna diambil tanahnya selebar 1 cm untuk analisis KL-nya F. Analisis pH Tanah 1. Alat a. Ctka Ø 0,5 cm 10 gram b. Reagen H2O (pH actual), KCl (pH potesial), dan NaF (analisis alofan), dengan perbandingan 1:2,5 2. Bahan a. Flakon b. Pengaduk kaca c. pH meter d. Timbangan 3. Cara Kerja a. Menimbang ctka sebanyak 5 gram dan memasukkan ke dalam dua buah flakon b. Menambahkan aquades 12,5 cc untuk analisis pH H2O, 12,5 cc KCl untuk pH KCl, dan 12,5 cc NaF untuk pH NaF c. Mengaduk masing-masing hingga homogeny selama 5 menit d. Mendiamkannya selama 30 menit e. Mengukur masing-masing pH G. Analisis Struktur Tanah 1. Bobot Volume a. Alat 1) Cawan pemanas 2) Lampu Bunsen 3) Pipet ukur 4) Benang 5) Timbangan analitik
  • 20. 20 6) Thermometer a. Bahan 1) Tanah bongkah asli (ring sampel) 2) Air 3) Lilin b. Cara Kerja 1) Mengikat bongkah tanah dengan benang dan menimbangnya (a gr) 2) Mencairkan lilin samai suhu 60oC, kemudian mencelupkan tanah ke dalam cairan lilin sampai terbungkus sempurna 3) Menimbang tanah berlilin (b gr) 4) Mengisi tabung ukur dengan aquades sampai volume tertentu (p cc) 5) Memasukkan tanah berlilin ke tabung ukur 6) Mencatat volume air setelah tanah dimasukkan (q cc) 2. Bobot Jenis c. Alat 1) Piknometer 2) Thermometer 3) Timbangan analitik 4) Kawat pengaduk 5) Corong kaca 6) Tabel BJ 7) Tisu d. Bahan 1) Ctka Ø 2 mm 2) Aquades e. Cara Kerja 1) Mengambil piknometer kosong dan kering kemudian menimbang beserta tutupnya (a gr)
  • 21. 21 2) Mengisi piknometer dengan aquades sampai penuh kemudian menutupnya hingga ada aquades yang keluar dan mengeringkan aquades yang menempel pada bagian luar piknometer dengan tisu dan menimbangnya 3) Mengukur suhu dengan thermometer dan menentukan BJnya dengan melihat table BJ sesuai suhu yang diukur 4) Membuang air dan membersihkannya hingga kering kemudian mengisi piknometer dengan tanah 5 gr dan memasang tutupnya serta menimbangnya (c gr) 5) Mengisi piknometer yang telah ditimbang dengan aquades hingga separuh volume 6) Mengaduknya sampai tidak ada gelembung udara dan membiarkannya semalam dalam keadaan piknometer tertutup sumbatnya 7) Membuang gelembungnya lalu mengisi piknometer dengan aquades sampai penuh dan menimbangnya (d gr) 8) Mengukur suhu dengan thermometer dan menentukan BJnya sesuai table (BJ2) 3. Porositas
  • 22. 22 IV. HASIL PENGAMATAN A. Jumantono (Alfisol) 1. Pencandraan Bentang Lahan Gambar 4.1.1 Foto Profil Tanah Jumantono Lokasi : Jumantono Hari, Tanggal : Sabtu, 2 November 2013 Pukul : 13.00 s.d 15.00 WIB Nomor Profil : Pedon Tinggi Tempat : 190 mdpl Arah Hadap : Barat Laut Surveyor : Kelompok 50 Keterangan: 1. Jalan 2. Tanaman kacang dan jagung 3. Bangunan 4. Pedon (Kelompok 55) 5. Lahan singkong 6. Lahan mangga Gambar 4.1.2 Denah Jumantono 23
  • 23. 23 Tabel 4.1.1 Deskripsi Lingkungan Jumantono No. Deskripsi Keterangan 1. Cuaca SU (Sunny) 2. Latitude 7o 37’ 49,6” LS 3. Longitude 110o 56’ 54,2” BT 4. Tinggi tempat 190 m dpl 5. Lereng 5.1 Arah Barat laut 5.2 Panjang 22% 6. Fisiografi lahan V (Vulkanik) 7. Genangan 7.1 Frekuensi RA (Jarang) 7.2 Durasi genangan EB (Ekstrrim singkat) 8. Tutupan lahan G (Rumput), S (semak), (T) pohon 9. Geologi QVL 10. Erosi 10.1 Tingkat erosi S (Erosi permukaan) 10.2 Tingkat bahaya erosi R (Rendah) 11. Batuan permukaan <0,1% 12. Vegetasi Rumput (Cyperus sp) 30%, Mangga (Mangivera indica)10%, Kelapa sawit (Elaeis guineensis) 10%, Jati (Tectona grandis) 5%, Rambutan (Nephelium nappaceum) 10%, Semak 15%, Singkong (Manihot utilissima) 5%, Jagung (Zea mays) 10%, Kacang tanah (Arachis hypogaea)5% Sumber : Boardlist
  • 24. 24 2. Penyidikan Profil Tanah Tabel 4.1.2 Deskripsi Umum Profil Tanah Alfisol No Deskripsi Keterangan 1. Metode observasi Small pit 2. Jeluk 3.1 Horizon A 0 cm – 28 cm 3.2 Horizon B1 28 cm – 48 cm 3.3 Horizon B2 48 cm – 75 cm 3.4 Horizon B3 75 cm – 85 cm 3. Horison 3.5 Batas 3.5.1 Horizon A C Jelas (Clear) 3.5.2 Horizon B1 G Berangsur (Gradual) 3.5.3 Horizon B2 D Baur (Diffuse) 3.5.4 Horizon B3 3.6 Topografi 3.6.1 Horizon A W Berombak (Wavy) 3.6.2 Horizon B1 W Berombak (Wavy) 3.6.3 Horizon B2 S (Smooth) 3.6.4 Horizon B3 4. Perakaran 4.1 Ukuran 4.1.1 Horizon A F Halus (Fine) 4.1.2 Horizon B1 VF Sangat halus (Very fine) 4.1.3 Horizon B2 VF Sangat halus (Very fine) 4.1.4 Horizon B3 VF Sangat halus (Very fine) 4.2 Jumlah 4.2.1 Horizon A M Banyak (Many) 4.2.2 Horizon B1 F Sedikit (Few) 4.2.3 Horizon B2 F Sedikit (Few) 4.2.4 Horizon B3 F Sedikit (Few) Sumber : Boardlist
  • 25. 25 3. Sifat Fisika Tanah Tabel 4.1.3 Pengamatan Sifat Fisika Tanah Alfisol No Deskripsi Keterangan 1. Tekstur CL Geluh Lempungan (clay loam) 2.1 Horizon A SiCL Geluh lempung debuan (Silty clay loam) 2.2 Horizon B1 L Geluh (Loam) 2.3 Horizon B2 L Geluh (Loam) 2.4 Horizon B3 2. Struktur 2.5 Tipe G Kersai (Granulair) 2.5.1 Horizon A ABK Gumpal menyudut (Angular blocky) 2.5.2 Horizon B1 ABK Gumpal menyudut (Angular blocky) 2.5.3 Horizon B2 SBK Gumpalan membulat (Sub angular 2.5.4 Horizon B3 blocky) 2.6 Ukuran VF Sangat halus (Very fine) 2.6.1 Horizon A M Sedang (Medium) 2.6.2 Horizon B1 M Sedang (Medium) 2.6.3 Horizon B2 M Sedang (Medium) 2.6.4 Horizon B3 2.7 Derajad 2.7.1 Horizon A W Lemah (Weak) 2.7.2 Horizon B1 W Lemah (Weak) 2.7.3 Horizon B2 W Lemah (Weak) 2.7.4 Horizon B3 W Lemah (Weak) 3. Konsistensi Lembab gembur 3.1 Horizon A Lembab teguh 3.2 Horizon B1 Lembab teguh 3.3 Horizon B2 Lembab teguh 3.4 Horizon B3 4. Warna 4.1 Horizon A 2,5 YR Dark redish brown 4.2 Horizon B1 2,5 YR Dark redish brown 4.3 Horizon B2 2,5 YR Dark redish brown 4.4 Horizon B3 2,5 YR Dark redish brown Sumber : Boardlist
  • 26. 26 4. Sifat Kimia Tanah Tabel 4.1.4 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Alfisol No Deskripsi Keterangan 1. Redoks 4.1 Horizon A O2 Baik 4.2 Horizon B1 O2 Baik 4.3 Horizon B O2 Baik 4.4 Horizon B3 O2 Baik 2. Penetrasi 2.1 Vertikal 2.1.1 Horizon A 1,5 kg/cm2 2.1.2 Horizon B1 1,75 kg/cm2 2.1.3 Horizon B2 3,5 kg/cm2 2.1.4 Horizon B3 4,5 kg/cm2 2.2 Horizontal 1 kg/cm2 3. Kadar 3.1 Bahan organik 3.1.1 Horizon A +++ Banyak 3.1.2 Horizon B1 +++ Banyak 3.1.3 Horizon B2 ++++ Sangat banyak 3.1.4 Horizon B3 ++ Sedikit 3.2 Kapur 3.2.1 Horizon A + Sangat sedikit 3.2.2 Horizon B1 0 Tidak ada 3.2.3 Horizon B2 0 Tidak ada 3.2.4 Horizon B3 0 Tidak ada 4. Konsentrasi 4.1 Jenis 4.1.1 Horizon A Konkresi 4.1.2 Horizon B1 Konkresi 4.1.3 Horizon B2 Konkresi 4.1.4 Horizon B3 4.2 Ukuran 4.2.1 Horizon A Kasar (coarse) 4.2.2 Horizon B1 Kasar (coarse) 4.2.3 Horizon B2 Kasar (coarse) 4.2.4 Horizon B3 4.3 Macam 4.3.1 Horizon A Mn Bermangan 4.3.2 Horizon B1 Mn Bermangan 4.3.3 Horizon B2 Mn Bermangan 4.3.4 Horizon B3 Sumber : Boardlist
  • 27. 27 5. Analisis Lengas Tanah Tabel 4.1.5 Lengas Tanah Kering Angin Tanah Alfisol Ctka Ø Ulangan a (gram) b (gram) c (gram) (mm) Bongkah 1 54,393 68,166 65,922 2 54,982 69,525 67,218 2 1 55,460 71,403 69,218 2 52,235 69,020 66,844 0,5 1 53,717 71,314 69,535 2 56,950 74,460 72,747 Sumber : Laporan Tabel 4.1.6. Kapasitas Lapangan Tanah Alfisol Ctka Ø (mm) Ulangan a (gram) b (gram) 2 1 54,393 67,992 2 54,982 67,014 Sumber: Laporan sementara Tabel 4.1.7Kadar Lengas Maksimum Tanah Alfisol Ctka Ø Ulangan a (gram) b (gram) c (gram) (mm) 2 1 45,587 90,978 68,638 Sumber : Laporan Sementara Tabel 4.1.8 Batas Berubah Warna Tanah Alfisol Ctka Ø Ulangan a (gram) b (gram) (mm) 0,5 1 52,524 2 52,524 Sumber : Laporan Sementara 60,856 60,472 KL (%) Rata-rata KL (%) 19,4 18,85 15,88 14,89 11,25 10,84 19,125 15,385 11,045 c (gram) 62,856 62,399 KL (%) 60,68 62,22 d (gram) KL (%) 45,195 93,62 c (gram) KL % Rata-rata KL (%) 58,222 57,901 46,22 46,97 46,595 6. Analisis pH Tanah Tabel 4.1.9 pH Tanah Alfisol Ctka Ø (mm) Ulangan 0,5 1 2 Rata-rata Sumber : Laporan sementara pH H2O 5,543 5,455 5,5 pH KCl 4,806 4,885 4,85 7. Analisis Struktur Tanah Tabel 4.1.10 Bobot Volume Tanah Alfisol Ctka Ø Ulangan a (gram) b (gram) (mm) Bongkah 1 1,530 1,753 2 1,196 1,397 Sumber : Laporan Sementara p (cc) q (cc) 10 10 12,5 11 Berat Volume 0,7514 0,945
  • 28. 28 Tabel 4.1.11 Bobot Jenis Tanah Alfisol Ct ka Ø (m m) 2 Berat Ula nga n a (gram) b (gram) c (gram) d (gram) 1 20,102 44,910 25,102 47,842 Suhu1 o C BJ1 Suhu2 o C BJ2 KL ratarata Berat Jenis 30 0,995 8326 0,997 18,4 11,3 Sumber : Laporan Sementara Tabel 4.1.12 Porositas Tanah Alfisol BV BJ n 0,85 11,383 92,54 % Sumber : Laporan Sementara ANALISIS DATA 1. Lengas Tanah Kering Angin Lengas tanah= (b-c) x100% (c-a) Ctka 0,5 mm (68,166-65,922) x100%=19,4% (65,922-54,393) (69,525-65,922) Ulangan 2= x100%=18,85% (67,218-54,982) 19,4+18,85 Rata-rata KL ctka 0,5 mm= =19,125% 2 Ctka 2 mm Ulangan 1= (71,403-69,218) x100%=15,88% (69,218-55,460) (69,020-66,844) Ulangan 2= x100%=14,89% (66,844-52,235) 15,88+14,89 Rata-rata KL ctka 2 mm= =15,385% 2 Ctka bongkah (71,314-69,535) Ulangan 1 = x100%=11,25% (69,535-53,717) (74,460-72,747) Ulangan 2= x100%=10,84% (72,747-56,950) 12,25+10,84 Rata-rata KL ctka bongkah= =11,045% 2 2. Lengas Maksimum (Kapasitas air Maksimum) Ulangan 1= b-a -(c-d) x100% (c-d) 90,978-45,587 -(68,638-45,195) KL maks. tanah= x100%=93,62 (68,638-45,195) Kadar Lengas Maksimum Tanah=
  • 29. 29 3. Batas Berubah Warna (BBW) (b-c) x100% (c-a) (60,856-58,222) KL Ulangan 1= x100%=46,22% (58,222-52,524) (60,472-57,901) KL Ulangan 2= x100%=46,97% (57,901-52,524) 46,22+46,97 rata-rata lengas tanah= =46,595% 2 4. Bobot Volume Kadar Lengas Tanah= Bobot Volume= BV ulangan 1 = 87xa 100xKL x(0,87x q-p - b-a ) 87x1,530 100x11,045 x(0,87x 12,5-10 - 1,753-1,530 ) =0,7514 BV ulangan 2= 87x1,196 100x11,045 x(0,87x 11-10 - 1,397-1,196 ) =0,945 5. Bobot Jenis Bobot Jenis= 100x c-a xBJ1 xBJ2 100+KL x BJ1 b- a - BJ2 d-c 100x 25,102-20,102 x0,995x0,997 BJ= 100+15,385 x(0,995 44,910-20102 - 0,997 47,842-25,102 ) =11,3 6. Porositas Tanah BV x100% BJ 0,85 n= 1x100% 11,383 n= 1- 7. Analisis pH Tanah
  • 30. 30 B. Fakultas Pertanian UNS (Entisol) 1. Pencandraan Bentang Lahan Gambar 4.2.1 Foto Profil Tanah Fakultas Pertanian UNS Lokasi : Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Hari, Tanggal : Sabtu, 2 November 2013 Pukul : 11.00 s.d 12.00 WIB Nomor Profil :3 Tinggi Tempat : 126 mdpl Arah Hadap : Barat Laut Surveyor : kelompok 55 Gambar 4.2.2 Denah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
  • 31. 31 Tabel 4.2.1 Deskripsi Lingkungan Fakultas Pertanian UNS No. Deskripsi Keterangan 1. Cuaca SU Cerah 2. Latitude 7o 33’ 36,6” LS 3. Longitude 110o 51’ 30” BT 4. Tinggi tempat 126 m dpl 5. Lereng 5.3 Arah Barat Laut 5.4 Panjang 33% curam 6. Fisiografi lahan A Alluvial 7. Genangan 7.3 Frekuensi NO Tidak pernah 7.4 Durasi genangan 8. Tutupan lahan G Rumput 9. Geologi Qa (Bahan alluvium) 10. Erosi 10.3 Tingkat erosi S Permukaan 10.4 Tingkat bahaya erosi R Rendah 11. Batuan permukaan 12. Vegetasi Lamtoro (Leucaena glauca) 30%, pohon beringin (Ficus benjamina) 10%, pohon mahoni (Swieteinia macrophylla)15%, pohon jati (Tectonagrandis)10%, pohon kedawung (Parkia roxburghii) 15%, pohon angsana (Pterocarpus indicus)15%, rumput (Cyperus rotundus) 5%. Sumber : Boardlist
  • 32. 32 2. Penyidikan Profil Tanah Tabel 4.2.2 Deskripsi Umum Profil Tanah Entisol No Deskripsi Keterangan 1. Metode observasi Small pit 2. Jeluk 2.1 Lapisan 1 0 cm - 20 cm 2.2 Lapisan 2 20 cm - 40 cm 2.3 Lapisan 3 40 cm -60 cm 3. Horison 3.1 Batas 3.1.1 Lapisan 1 D Baur (Diffuse) 3.1.2 Lapisan 2 D Baur (Diffuse) 3.1.3 Lapisan 3 D Baur (Diffuse) 3.2 Topografi 3.2.1 Lapisan 1 S Smooth 3.2.2 Lapisan 2 S Smooth 3.2.3 Lapisan 3 S Smooth 4. Perakaran 4.1 Ukuran 4.1.1 Lapisan 1 VF Sangat halus (Vey fine) 4.1.2 Lapisan 2 M Sedang (Medium) 4.1.3 Lapisan 3 F Halus (Fine) 4.2 Jumlah 4.2.1 Lapisan 1 2 Biasa (Common) 4.2.2 Lapisan 2 1 Sedikit (Few) 4.2.3 Lapisan 3 1 Sedikit (Few) Sumber : Boardlist
  • 33. 33 3. Sifat Fisika Tanah Tabel 4.2.3 Pengamatan Sifat Fisika Tanah Entisol No Deskripsi Keterangan 1. Tekstur SiL Geluh debuan (Silty loam) 1.1 Lapisan 1 SL Geluh pasiran (Sandy loam) 1.2 Lapisan 2 LS Pasir geluhan (Loamy sand) 1.3 Lapisan 3 2. Struktur 2.1 Tipe 2.1.1 Lapisan 1 ABK Gumpal menyudut (Angular blocky) 2.1.2 Lapisan 2 SBK Gumpal membulat (Sub angular blocky) 2.1.3 Lapisan 3 ABK Gumpal menyudut (Angular blocky) 2.2 Ukuran 2.2.1 Lapisan 1 F Halus (Fine) 2.2.2 Lapisan 2 F Halus (Fine) 2.2.3 Lapisan 3 F Halus (Fine) 2.3 Derajad 2.3.1 Lapisan 1 M Sedang (Medium) 2.3.2 Lapisan 2 M Sedang (Medium) 2.3.3 Lapisan 3 W Lemah (Weak) 3. Konsistensi Lembab sangat teguh 3.1 Lapisan 1 Lembab Gembur 3.2 Lapisan 2 Lembab sangat teguh 3.3 Lapisan 3 4. Warna 7,5 YR dark brown 4.1 Lapisan 1 4.2 Lapisan 2 7,5 YR dark brown 4.3 Lapisan 3 7,5 YR dark brown Sumber : Boardlist
  • 34. 34 4. Sifat Kimia Tanah Tabel 4.2.4 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Entisol No Deskripsi Keterangan 1. Redoks O2 (Baik) 1.1 Lapisan 1 O2 (Baik) 1.2 Lapisan 2 O1 (Sedang) 1.3 Lapisan 3 2. Penetrasi 1,5 kg/m2 2.1 Vertikal 2.2 Horisontal 2 kg/m2 2.2.1 Lapisan 1 2 kg/m2 2.2.2 Lapisan 2 2.2.3 Lapisan 3 3. Kadar 3.1 Bahan organik +++ Banyak 3.1.1 Lapisan 1 ++ Sedikit 3.1.2 Lapisan 2 + Sangat banyak 3.1.3 Lapisan 3 3.2 Kapur 0 Tidak ada 3.2.1 Lapisan 1 0 Tidak ada 3.2.2 Lapisan 2 0 Tidak ada 3.2.3 Lapisan 3 Sumber : Boardlist 5. Analisis Lengas Tanah Tabel 4.2.5 Lengas Tanah Kering Angin Tanah Entisol Ctka Ø Ula a (gram) b (gram) c (gram) (mm) 0,5 KL (%) ngan 1 44,54 2 56,78 2 1 56,42 2 55,54 Bongka 1 56,79 h 2 56,01 Sumber : Laporan Tabel 60,99 71,68 74,08 72,38 66,28 67,93 Tabel 4.2.6 Kapasitas Lapangan Tanah Entisol Ctka Ø Ulangan a b (mm) (gram) (gram) 2 1 44,54 64,67 2 56,79 64,93 Sumber : Laporan Sementara 59,71 70,48 73,19 71,56 65,47 67,07 c (gram) 61,201 61,98 8,46 8,73 5,30 5,16 9,27 7,84 Rata-rata KL (%) 8,59 5,23 8,56 KL (%) 20,81 56,92
  • 35. 35 Tabel 4.2.7Kadar Lengas Maksimum Tanah Entisol Ctka Ø Ulangan a (gram) b (gram) c (gram) (mm) 2 1 47,16 90,59 72,7 Sumber : Laporan Sementara d (gram) 46,52 65,87 KL % Tabel 4.2.8 Batas Berubah Warna Tanah Entisol Ctka Ø Ulangan a b c (mm) (gram) (gram) (gram) 0,5 1 44,54 59,22 58,49 2 56,79 64,85 63,86 Sumber : Laporan Sementara KL (%) Rata-rata KL (%) 5,23 13,9 9,56 6. Analisis pH Tanah Tabel 4.2.9 pH Tanah Entisol Ctka Ø Ulangan pH H2O (mm) 0,5 1 6,84 2 6,73 Rata-rata 6,78 Sumber : Laporan sementara pH KCl 5,87 5,74 5,81 7. Analisis Struktur Tanah Tabel 4.2.10 Bobot Volume Tanah Entisol Ctka Ø Ulangan a (gram) b (gram) (mm) Bongkah 1 1,74 1,92 2 2,26 2,50 Sumber : Laporan Sementara Tabel 4.2.11 Bobot Jenis Tanah Entisol Ctka Ulang Berat Ø an a b c d (mm) 2 1 22 50,5 26,9 53,5 3 9 Sumber : Laporan Sementara Tabel 4.2.12 Porositas Tanah Entisol BV BJ n 2,185 2,46 11,178 Sumber : Laporan Sementara p (cc) q (cc) 15 15 16 16 Berat Volume 2,1 1,27 Suhu 1 BJ 1 Suhu 2 BJ 2 26oC 0,99 68 24oC 0,99 73 Berat Jenis (g) 2,46
  • 36. 36 ANALISIS DATA 1. Lengas Tanah Kering Angin Lengas tanah= (b-c) x100% (c-d) Ctka 0,5 mm (60,991-59,708) x100%=8,457 (59,708-44,538) (71,680-70,484) Lengas tanah ulangan 2= x100%=8,725% (70,484-56,776) 8,457+8,725 Rata-rata lengas ctka 0,5 mm= =8,59% 2 Ctka 2 mm (74,077-73,189) Lengas tanah ulangan 1= x100%=5,296% (73,189-56,423) (72,377-71,550) Lengas tanah ulangan 2= x100%=5,164% (71,550-55,538) 5,296+5,164 Rata-rata lengas ctka 2mm= =5,23% 2 Ctka bongkah (66,275-65,470) Lengas tanah ulangan 1= x100%=9,273% (56,470-56,789) (56,01-67,066) Lengas tanah ulangan 2= x100%=7,839% (67,066-56,007) 9,273+7,839 Rata-rata lengas ctka bongkah= =8,56% 2 Lengas tanah ulangan 1= 2. Kapasitas Lapang (b-c) x100% (c-a) (64,67-61.201) Lengas tanah ulangan 1= x100%=20,810% (61,201-44,54) (64,67-61,98) lengas tanah ulangan 2= x100%=56,92% (61,98-56,79) 20,81+56,92 Rata-rata lengas tanah= =38,87% 2 Kadar Lengas Tanah= 3. Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum) b-a -(c-d) x100% (c-d) 90,59-47,16 -(72,7-46,52) KL maks. tanah= x100%=65,87% (72,7-46,52) Kadar Lengas Maksimum Tanah=
  • 37. 37 4. Batas Berubah Warna (BBW) (59,22-58,49) x100%=5,23% (58,49-44,54) (64,85 - 63,86) KL Ulangan 2= x100%=13,9% (63,86-56,79) 5,23+13,9 Rata-rata lengas tanah= =9,56% 2 KL Ulangan 1= 5. Bobot Volume Bobot volume= BV ulangan 1= 87xa 100xKL x(0,87x q-p - b-a ) 87x1,74 =2,1 100x0,0856 x(0,87x 16-15 - 1,92-1,74 ) 87x2,26 BV ulangan 1= =2,27 100x0,0856 x(0,87x 16-15 - 2,5-2,26 ) 2,1+2,27 BV rata-rata= =2,185 2 6. Bobot Jenis Bobot Jenis= BJ= 100 x c-a x BJ1 x BJ2 100+KL x (BJ1 b- a - BJ2 d-c ) 100x 26,99-22 x 0,996 8x 0,9973 100+0,0843 x 0,9968 50,53-22 -0,9973 53,5-26.99 7. Porositas Tanah BV n= 1x100% BJ 2,185 n= 1x100% 2,46 8. Analisis pH Tanah =2,46
  • 38. 38 C. Jatikuwung (Vertisol) 1. Pencandraan Bentang Lahan Gambar 4.3.1 Foto profil Tanah Jatikuwung Lokasi : Jatikuwung Hari, Tanggal : Sabtu,2 November 2013 Pukul : 08.00-09.00 WIB Nomor profil : Profil 1 Tinggi tempat : 160 m dpl Arah Hadap : Barat Nama surveyor : Kelompok 57 Gambar 4.3.2 Denah Jatikuwung Tabel 4.3.1 Deskripsi Lingkungan Profil Tanah Vertisol
  • 39. 39 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6 7 8 9 10 11 12 Diskripsi Cuaca Latitude Longitude Tinggi Tempat Lereng 5.1 Arah 5.2 Panjang Fisiografi lahan Genangan 7.1 Frekuensi 7.2 Durasi Genangan Tutupan lahan Geologi Erosi 10.1 Tingkat erosi 10.2 Tingkat bahaya erosi Batuan permukaan Vegetasi Sumber : Boardlist Keterangan SU (cerah/bersih) 07o 31’ 05,5” LS 110o50’ 43,6” BT 160 mdpl 250o (barat) 12% ,Sangat Miring V (Vulkanik) RA (kadang-kadang) BR (singkat) Rumput R (erosi alur) R (ringan/rendah) 1 Mangga (10%), rumput (85%), sulur (2%), putrimalu (3%)
  • 40. 40 2. Penyidikan Profil/Pedon Tanah Tabel 4.3.2 Diskripsi Umum Profil Tanah Vertisol No. Diskripsi Keterangan 1 Metode Observasi BC; Irisan lereng dibuat kemiringan < 60% 2 Jeluk 2.1 Horison A1 0 cm - 13 cm 2.2 Horison A2 13 cm - 27 cm 2.3 Horison B 27 cm - 40 cm 3 Horison 3.1 Batas 3.1.1 Horison A1 G (berangsur) 3.1.2 Horison A2 G (berangsur) 3.1.3 Horison B A (tajam) 3.2 Topografi 3.2.1 Horizon A1 W (berombak) 3.2.2 Horison A2 W (berombak) 3.2.3 Horison B W (berombak) 4 Perakaran 4.1 Ukuran 4.1.1 Horizon A1 F (halus) 4.1.2 Horison A2 VF (sangat halus) 4.1.3 Horison B VF (sangat halus) 4.2 Jumlah 4.2.1 Horizon A1 2 (biasa) 4.2.2 Horison A2 1 (sedikit) 4.2.3 Horison B 1 (sedikit) Sumber : Boardlist pada
  • 41. 41 3. Sifat Fisika Tanah Tabel 4.3.3 Pengamatan Sifat Fisika Tanah Vertisol No Diskripsi Keterangan 1 Tekstur 1.1 Horison A1 SiCL : Geluh lempung debuan 1.2 Horison A2 L : Geluh 1.3 Horison B SL : Geluh pasiran 2 Struktur 2.1 Tipe 2.1.1 Horison A1 SBK (gumpal membulat) 2.1.2 Horison A2 SBK (gumpal membulat) 2.1.3 Horison B SBK (gumpal membulat) 2.2 Ukuran 2.2.1 Horison A1 F (halus) 2.2.2 Horison A2 VF (sangat halus) 2.2.3 Horison B VF (sangat halus) 2.3 Derajat 2.3.1 Horison A1 3 (kuat) 2.3.2 Horison A2 3 (kuat) 2.3.3 Horison B 3 (kuat) 3 Konsistensi 3.1 Horison A1 Lembab-sangat teguh 3.2 Horison A2 Lembab-sangat teguh 3.3 Horison B Lembab-sangat teguh 4 Warna 4.1 Horison A1 7,5 YR 2,5/3 (very darkbrown) 4.2 Horison A2 7,5 YR 3/2 (dark brown) 4.3 Horison B 2,5 YR 4/2 (brown) Sumber : Boardlist
  • 42. 42 4. Sifat Kimia Tanah Tabel 4.3.4 Pengamatan Sifat Kimia Tanah Vertisol No Diskripsi Keterangan 1 Redoks 1.1 Horison A1 O3 (sangat baik) 1.2 Horison A2 O3 (sangat baik) 1.3 Horison B O1 atau R1 (sedang) 2 Penetrasi 2.1 Vertikal 2,5 kg/cm2 2.2 Horisontal 2.2.1 Horison A1 2.2.2 Horison A2 2 kg/cm2 2.2.3 Horison B 1,5 kg/cm2 3 Kadar 3.1 Bahan Organik 3.1.1 Horison A1 + (sangat sedikit) 3.1.2 Horison A2 ++++ (sangat banyak) 3.1.3 Horison B ++ (sedikit) 3.2 Kapur 3.2.1 Horison A1 0 (tidak ada) 3.2.2 Horison A2 0 (tidak ada) 3.2.3 Horison B 0 (tidak ada) 4 Konsentrasi 4.1 Jenis 4.1.1 Horison A1 0 (tidak ada) 4.1.2 Horison A2 0 (tidak ada) 4.1.3 Horison B 0 (tidak ada) 4.2 Ukuran 4.2.1 Horison A1 0 (tidak ada) 4.2.2 Horison A2 0 (tidak ada) 4.2.3 Horison B 0 (tidak ada) 4.3 Macam 4.3.1 Horison A1 0 (tidak ada) 4.3.2 Horison A2 0 (tidak ada) 4.3.3 Horison B 0 (tidak ada) Sumber :Boardlist
  • 43. 43 5. Analisis Lengas Tanah Tabel 4.3.5 Lengas Tanah Kering Angin Profil Tanah Vertisol Ctka Ø Ulangan A (gram) B (gram) C (gram) KL (%) (mm) 0,5 1 46,86 63,69 62,07 10,65 2 50,78 66,35 64,84 10,73 2 1 54,69 70,22 68,65 11,25 2 56,52 71,61 70,03 11,70 Bongka 1 52,62 66,93 65,29 12,94 han 2 55,38 68,61 67,15 12,40 Sumber :laporan sementara Tabel 4.3.6 Kapasitas Lapangan Tanah Vertisol Ctka Ø Ulangan A B (gram) C (gram) mm (gram) 2 mm 1 56,85 67,24 64,09 2 52,87 62,85 59,72 KL (%) 43,51 45,69 Rata-rata KL (%) 10,69 11,48 12,67 Rata-rata KL (%) 44,60 Sumber: laporan sementara Tabel 4.3.7 Kadar Lengas Maksimum Tanah Vertisol Ctka Ø A(gram) B(gram) C(gram) D(gram) (mm) 2 57,95 110,71 85,92 57,54 Sumber: laporan sementara Tabel 4.3.8 Batas Berubah Warna Tanah Vertisol Ctka Ø Ulangan A (gram) B (gram) C (gram) KL (mm) (%) 0,5 mm 1 56,85 61,87 61,12 17,56 2 52,87 58,75 57,88 17,37 Sumber :laporan sementara 6. Analisis pH Tanah Vertisol Tabel 4.3.9 pH Tanah Vertisol CtkaØ Ulangan pH H2O (mm) 1 6,74 0,5 2 6,91 Rata-rata 6,35 Sumber :laporan sementara pH KCl 5,96 6,04 6,47 KL (%) 86,36 Rata-rata KL (%) 14,47
  • 44. 44 7. Analisis Struktur Tanah Vertisol Tabel 4.3.10 Bobot Volume Tanah Vertisol Ctka Ø Ulangan A B P (cc) (mm) (gram) (gram) Bongkahan 1 2,87 3,14 20 2 1,93 2,14 20 Sumber : laporan sementara Q (cc) 21 20,5 Berat Volume 2,72 4,60 Tabel 4.3.11 Bobot Jenis Tanah Vertisol Ctka Ø (mm) Ulanga n A (gr) B (gr) 2 1 24 56,27 Sumber :laporan sementara Suhu 1 BJ 1 Suhu 2 BJ 2 KL ratarata Berat Jenis 30o 29,03 28o 59,22 44,6 1,63 Tabel 4.3.12 Tabel Porositas Tanah Vertisol BV BJ n 3,66 1,63 -120% Sumber :laporan sementara ANALISIS DATA 1. Lengas Tanah Kering Angin Bongkahan - Ulangan 1 : - - x100 % = Ulangan II : = 12,94% - = - = 12,40% Ctka 0,5 mm Ulangan 1 : - - x100 % = Ulangan II : = 10,65 % - = - = 10,73% Ctka 2 mm Ulangan I : - Ulangan II : - = = - = 11,25% = 11,70% 2. Kapasitas Lapang Ulangan I : - = - = 43,51%
  • 45. 45 - Ulangan II : - = - = 45,69% - 3. Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum) Kadar Lengas : - - - - = - - - - = 86,36% 4. Batas Berubah Warna (BBW) - Ulangan I : - Ulangan II : - - = = 17,56% - = = 17,37% - 5. Bobot Jenis Bobot Jenis = Bobot Jenis = - - - - = 6. Porositas n = (1-BV/BJ)x100% = (1-3,66/1,63)x100% = (1-2,20)x100% = -120% 7. Analisis pH Tanah Rata-rata pH H2O = Rata-rata pH KCL= 6,35 100%
  • 46. 46 V. PEMBAHASAN A. Jumantono 1. Pencandraan Bentang Lahan Pengamatan bentang lahan dengan cara pengidentifikasian lahan dilaksanakan di Jumantono, Karanganyar pada hari Sabtu, 2 November 2013. Tanah di lokasi Jumantono adalah jenis Alfisol. Tanah alfisol mempunyai karakteristik secara umum antara lain yaitu tanah sangat lapuk, tekstur berat kadang-kadang lekat, struktur gumpal, bahan organik rendah, pH agak masam sampai sedikit alkalis, kejenuhan basa sedang sampai tinggi, kadang-kadang mengandung konkresi kapur dan besi, bahan induk bahan kapur batu pasir berkapur atau bahan vulkanik, ketinggian tempat 0 – 400 m dpl. Kondisi cuaca pada saat pengamatan dalam keadaan hujan. Titik pengamatan profil terletak pada 7o 37’ 49,6” LS dan 110o 56’ 54,2” BT di ketinggian 190 m dpl. Lahan yang diamati mempunyai kemiringan 22 % yang berarti agak curam. Kemiringan lereng diukur dengan klinometer. Arah profilnyanya adalah barat laut. Fisiografi lahannya adalah vulkanik. Sistem hidrologi atau keadaan perairan di lokasi praktikum adalah bebas genangan dan tanpa banjir. Ini dikarenakan proses infiltrasi tanah berlangsung cepat karena mineral liat kaolin yang dikandung yang mempunyai sifat menahan air lebih rendah dibandingkan dengan mineral liat lainnya. Tutupan lahan yang paling dominan pada lokasi pengamatan adalah tutupan tanaman, yaitu antara lain jagung, mangga, kacang tanah, nangka, rambutan, jati, semak, rumput. Geologi merupakan penyusun dari bahan induk tanah yang nantinya berpengaruh terhadap jenis tanah. Bahan induk mempengaruhi proses serta sifat dan karakteristik dari tanah. Penentuan geologi atau bahan induk dapat didasarkan pada peta geologi. Pada praktikum kali ini tercatat bahwa geologinya adalah batuan gunung api lawu (braksi gunung api, tuff, lava). Erosi yang terjadi adalah erosi permukaan dengan tingkat erosi ringan. Vegetasi yang terdapat di lokasi diantaranya Rumput (Cyperus sp) 30%, Mangga (Mangivera indica)10%, Kelapa sawit (Elaeis guineensis) 10%, Jati 47
  • 47. 47 (Tectona grandis) 5%, Rambutan (Nephelium nappaceum) 10%, Semak 15%, Singkong (Manihot utilissima) 5%, Jagung (Zea mays) 10%, Kacang tanah (Arachis hypogaea)5%. 2. Penyidikan Profil Tanah Profil tanah adalah urutan susunan horison yang tampak dalam anatomi tubuh tanah. Profil tanah mempunyai tebal yang berlainan, mulai dari yang setipis selaput sampai setebal 10 m. Pada umumnya tanah makin tipis makin mendekati kutub dan makin tebal makin mendekati khatulistiwa. Dalam praktikum ini, pengamatan dilakukan dengan metode pengamatan parit yaitu dibuat galian pedon. Dalam pembuatan profil atau pedon, yang perlu diperhatikan adalah harus tegak (vertikal), baru, tidak terkena sinar matahari secara langsung. Pada pedon yang diamati mempunyai jeluk 85 cm. Kedalaman horizon A sedalam 0-28 cm, horizon B1 sedalam 2848 cm, horizon B2 sedalam 48-75 cm, dan horixon B3 sedalam 75 - 85 cm. Batas-batas lapisan dapat diketahui dengan beberapa cara, yaitu dengan memperhatikan perbedaan warna, menusuk-nusuk tanah dengan pisau belati atau dengan memukul-mukul tanah dengan gagang pisau belati sambil meremas gumpalan tanah untuk mengetahui konsistensi dan tekstur tanah serta perbedaannya. Batas lapisan tanah ini dinyatakan dalam ketegasannya dan bentuknya. Batas horizon dapat dibedakan menjadi tajam, jelas, berangsur, dan berbaur. Bentuk batas horizon dapat rata datar, rata miring, berombak, bergelombang, atau tak beraturan. Batas horizon A dan horizon B1 jelas, batas horizon B1 dan horizon B2 yaitu berangsur, dan batas horizon B2 dengan horizon B3 baur. Bentuk/topografi batas horizon A dan horizon B1, dengan horizon B1 dan horizon B2 adalah berombak, topografi horizon B2 dan horizon B3 smooth. Pada profil ini perakaran dijumpai di semua horizon. Horizon A jumlahnya banyak dan ukurannya halus, sedangkan horizon B1, Horizon B2 dan horizon B3 jumlahnya sedikit dengan ukuran sangat halus. Kondisi perakaran semakin ke bawah lapisan semakin sedikit karena dipengaruhi oleh bahan organik dan juga sifat fisik tanah.
  • 48. 48 3. Sifat Fisika Tanah Sifat fisika tanah yang diamati adalah tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, dan warna. Tekstur tanah didefinisikan sebagai perbandingan relatif (dalam persen) fraksi –fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur tanah penting untuk diketahui karena komposisi ketiga fraksi butir – butir tanah tersebut akan menentukan sifat fisika, sifat kimia dan kimia tanah. Horizon A teksturnya Geluh Lempungan (CL) karena agak kasar, membentuk bola agak teguh, akan membentuk gulungan bila di plirit tetapi mudah hancur serta melekat sedang. Horizon B1 bertekstur geluh lempung debuan (SiCL). Horizon B2 dan horizon B3 teksturnya sama yaitu geluh (L) dengan kriteria rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat serta melekat. Tekstur ini diamati dengan cara membasahi tanah dengan air lalu di pijit-pijit dan diraba. Pasir terasa kasar, debu terasa licin dan lempung terasa lengket dan liat. Semakin dalam lapisan tanah, tekstur semakin liat karena dipengaruhi kandungan bahan organik dalam tanah. Struktur berhubungan dengan agregasi partikel utama tanah (pasir, debu dan tanah liat) menjadi partikel senyawa, atau kelompok partikel utama, yang dipisahkan dari agregat yang berdekatan dengan permukaan yang lemah. Dari hasil pengamatan dapat dilihat sruktur dari masing-masing horison. Horison A tipe kersai (GR) dengan kriteria berbidang banyak, tidak beraturan, tidak membentuk permukaan di sekeliling ped, dan ukuran struktur halus, derajad sedang. Horison B1 dan horizon B2 tipe gumpal menyudut angular blocky (ABK) dengan kriteria berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip, dan struktur horizon B3 gumpalan tipe gumpal membulat atau sub angular blocky (SBK) dengan kriteria berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut membulat, ukuran struktur halus, derajad sedang. Pengamatan dengan cara memijit-mijit tanah dengan jari-jari tangan. Derajad lemah, tanah mudah hancur walaupun dipijit tanpa tenaga. Derajad sedang, tanah hancur saat dipijit dengan sedikit tenaga. Derajad kuat, tanah baru bisa hancur bila dipijit dengan tenaga yang lebih kuat.
  • 49. 49 Konsistensi tanah adalah salah satu sifat fisika tanah yang menunjukkan adanya daya kohesi dan adhesi dalam massa tanah pada berbagai kandungan air dan ketahanannya terhadap perubahan bentuk. Konsistensi profil dari horizon A sampai horizon B3 adalah lembab, yang berarti kandungan air mendekati kapasitas lapang. Pada horizon A mempunyai kategori gembur yang berarti bila diremas dapat bercerai, bila digenggam menggumpal, melekat bila ditekan, sedangkan pada horizon B1, B2 dan B3 mempunyai kategori teguh yaitu massa tanah hancur dengan tekanan yang sedang. Warna tanah adalah salah satu sifat tanah yang dengan mudah dilihat/diamati. Warna tanah digunakan untuk menaksir tingkat pelapukan yang terjadi (semakin merah warnanya semakin lanjut pelapukan tanahnya), untuk menilai keadaan aerasi dan drainasenya baik (warna merah atau kuning coklat menunjukkan aerasi dan dranase baik) dan untuk menaksir banyaknya kandungan mineral (warna kekuning-kuningan atau pucat berasal dari mineral kuarsa, warna merah berasal dari mineral besi). Dalam menentukan warna tanah digunakan MSCC (Munsell Soil Colour Chart) yang di dalamnya dikenal tiga komponen yaitu : Hue yang menunjukkan warna utama tanah, value yang menunjukkan derajad terangnya warna berkisar antara gelap sampai agak terang, dan chroma yang menunjukkan kekuatan/intensitas warna-warna yang akan meningkat dengan menurunnya proporsi sinar putih. Dalam praktikum ini, warna tanah dari tiap lapisan ditentukan dengan mengambil sebongkah tanah sebagai contoh. Bongkah tanah ini diletakkan pada bagan warna MSCC di mana ketiga sumbu komponen warna itu berada dan ditentukan berapa nilai hue, value dan chromanya. Dari pengamatan didapat horizon A 2,5 YR Dark redish brown, horizon B1, horizon B2 dan horizon B3 2,5 YR Dark redish brown. 4. Sifat Kimia Tanah Redoks atau Aerasi dan drainase tanah merupakan kemampuan tanah dalam hal tata udara dan air tanah. Baik buruknya aerasi dan drainase tanah dapat diketahui dengan menetesi dua sampel tanah dengan larutan HCl 1,2 N,
  • 50. 50 kemudian yang satu ditetesi KCNS 10% dan yang satunya ditetesi K4Fe(CN)6 0,5 %. Tanah yang ditetesi KCNS berwarna merah, yang ditetesi K4Fe(CN)6 berwarna biru. Jika dominan warna merah maka aerasi dan drainase baik. Jika dominan warna biru maka aerasi dan drainase buruk. Hasilnya, makin ke bawah tanah makin mengandung lempung, agregat mantap, tanahnya mengeras, air yang dapat diserap sedikit karena pori-porinya kecil, maka udara yang terkandungpun juga hanya sedikit menyebabkan aerasi dan draenasi buruk. Dalam praktikum, hasil pengamatan menunjukan bahwa horizon A, B1, B2, dan B3 mempunyai redoks yang baik, ini berarti tanah mengalami oksidatif kuat. Ketahanan penetrasi tanah atau daya topang tanah adalah kemampuan sistem tanah untuk memberikan reaksi terhadap tekanan atau beban yang diterimanya. Dari hasil pengamatan didapat untuk horizontalnya adalah 1 kg/cm2 sedangkan vertikal untuk horizon A adalah 1,5 kg/cm2, horizon B1 adalah 1,75 kg/cm2, horizon B2 adalah 3,5 kg/cm2 dan horizon B3 adalah 4,5 kg/cm2. Daya topang untuk setiap horizon berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh konsistensi tanah karena semakin lekat dan semakin teguh tanah berpengaruh pada tingkat daya mekanik selain itu banyak sedikitnya ketersediaan bahan organik dalam tanah juga mempengaruhi daya topang tanah. Konkresi merupakan peristiwa akumulasi senyawa-senyawa kimia pada tanah yang akhirnya berbentuk butiran atau pertikel tanah. Tingkat konkresi tanah berhubungan dengan kandungan Fe dan Mn pada tanah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bercak hitam dan merah. Pada pengamatan untuk jenis semua lapisan Mn, sedang untuk kelimpahan di horizon A tidak ada, horizon B1 kasar, horizon B2 kasar, dan horizon B3 sangat kasar. 5. Analisis Lengas Tanah Kadar lengas tanah adalah kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori di antara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi oleh air. Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang
  • 51. 51 poriakan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain, anasir iklim, kandungan bahan organik dan lempung tanah, relief, dan bahan penutup tanah. Pada perhitungan kadar lengas tanah kering angin digunakan ctka bongkah, 2 mm, dan 0,5 mm dengan dua kali perulangan. Hasil perhitungan rata-rata kadar lengas kering angin yang diperoleh adalah 11,045% ctka bongkah, 15,385% ctka 2 mm serta 19,125% untuk ctka 0,5 mm. kadar lengas pada ctka 0,5 mm lebih besar daripada ctka bongkah dan 2 mm karena pada ctka 0,5 mm memiliki luasan permukaan yang juga lebih besar daripada ctka 2 mm. Itulah yang menyebabkan kenapa ctka 0,5 mm lebih banyak menyerap air dibandingkan dengan ctka 2 mm. Pada perhitungan kadar lengas kapasitas lapangan dan kadar lengas maksimum hanya dilakukan dua kali pengulangan dengan satu macam ctka yaitu dengan ctka 2 mm. Kapasitas lapangan dihitung dengan rumus yang sama dengan perhitungan kadar lengas kering angin. Lengas maksimum Pada perhitungan ini didapat data berat cawan dan gelas arloji tanpa ctka sebesar 45,587 gram, berat cawan dan gelas arloji dengan ctka setelah direndam kurang lebih 12 jam sebesar 90,978 gram, berat cawan dengan ctka setelah dioven dan didinginkan sebesar 68,638 gram dan berat cawan dan gelas arloji tanpa ctka setelah dibersihkan adalah sebesar 45,195 gram. Nilai lengas maksimum yang diperoleh dari hasil perhitungan tersebut dengan rumus di atas adalah sebesar 93,62%. Selain kadar lengas kering angin, kapasitas lapangan dan kadar lengas maksimum, batas berubah warna juga dihitung. Hasil dari perhitungan batas berubah warna yaitu sebesar 46,595% yang berarti tanah alfisol di Jumantono memiliki pengharkatan batas berubah warna yang amat sangat tinggi. 6. Analisis pH Tanah Pada dasarnya penentuan pH ada dua macam, yaitu dengan H2O dan KCl. Penentuan pH dengan H2O disebut dengan pH aktual, sedangkan penentuan pH dengan KCl disebut dengan pH potensial. Pada pengamatan menggunakan pH meter dengan ctka 0,5 mm didapat data bahwa pada hasil
  • 52. 52 pengukuran pH dengan H₂O adalah 5,5 sedangkan pH dengan KCl yaitu 4,85. Ini berarti bahan organik yang terkandung pada masing-masing horison berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Hal itulah yang menyebabkan nilai pH aktual lebih tinggi dari pH potensial. Bahan organik itu juga dipengaruhi pula oleh geologi pembentuk tanah. Semakin banyak bahan organik maka tanah itu semakin subur. Bahan organik itu juga dipengaruhi pula oleh geologi pembentuk tanah. Semakin banyak bahan organik maka tanah itu semakin subur. Sebenarnya pH pada tanah Alfisol cenderung ke arah basa, namun data di lapangan menunjukkan bahwa pH masam dikarenakan tanah ini sudah mengalami beberapa pengaruh yang disebabkan oleh faktor alam maupun akibat campur tangan manusia. 7. Analisis Struktur Tanah Struktur tanah adalah ikatan antar partikel atau fraksi primer tanah yang membentuk suatu susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat organic maupun anorganik. Peranan penting struktur tanah yaitu teredianya air di dalam tanah, ketersediaan unsur hara dalam tanah, perombakan material organic di dalam tanah, suhu tanah, penetrasi perakaran tanaman serta aktivitas mikroorganisme atau biota tanah. Bobot jenis atau yang disebut particle density merupakan perbandingan antara bobot partikel tanah dengan volume partikel tanah. Bobot partikel tanah dicari dengan dikering ovenkan agar tidak ada air dalam pori-pori tanah. Dari perhitungan tersebut, didapatkan berat piknometer kosong dengan tutupnya 20,102 gram, piknometer berisi aquades penuh dan di tutup sebesar 44,910 gram, piknometer diisi dengan tanah 25,102 gram, piknometer setelah didiamkan semalaman ditambah dengan aquades hingga penuh seberat 47,842 gram. Hasil pengukuran suhu untuk mendapatkan berat jenis pertama adalam 30oC dan memiliki berat jenis pertama 0.995 didapatkan dari piknometer yang telah diisi air dengan aquades hingga penuh lalu melihat berat jenis pada tabel berat jenis. Berat jenis kedua adalah 0,997 yang didapatkan dari pengukuran suhu pada piknometer yang telah semalaman telah diendapkan yang didalamnya telah terisi tanah 5 gram dan aquades separuh volume lalu
  • 53. 53 ditambahkan aquades hingga penuh untuk mengukur suhu dengan termometer, suhunya sebesar 26oC. dari data tersebut diperoleh berat jenis 11,383. Bobot volume hamper seperti bobot jenis, bobot volume merupakan perbandingan antara bobot dengan volume tanah. Perbedaannya hanya pada pengukuran volume tanah, pori-pori dihitung juga sebagai bagian dari volume tersebut. Dengan melapisi bongkahan tanah kecil dengan paraffin atau lilin lalu dimasukkan dalam tabung yang telah berisi aquades yang telah diketahui volumenya. Angka rata-rata dalam penghitungan bobot volume didapat sebagai berikut; bongkahan tanah sebelum diberi paraffin atau lilin memiliki berat 1,363 gram. Bongkahan tanah yang telah dilumuri paraafin/lilin seberat 1,575 gram. Volume aquades sebelum dimasuki tanah 10 cc dan setelah bongkah tanah dimasukkan volume menjadi 11,75. Berat volume bongkah tanah jumantono adalah 0,85. Nilai porositas adalah prosentase pori-pori dalam tanah. Cara mengetahui porositas adalah dengan menganalisis berat jenis dan berat volume, sehingga diperoleh nilai porositas sebesar 92,54%. B. Fakultas Pertanian UNS 1. Pencandraan Bentang Lahan Pengamatan pencandraan bentang lahan dengan cara pengidentifikasian lahan dilaksanakan di sekitar kampus Fakultas Pertanian UNS pada hari Sabtu, 2 November 2013. Kondisi cuaca pada saat pengamatan dalam keadaan cerah. Titik pengamatan profil terletak pada 7o 33’ 36,6” LS dan 110o 51’ 30” BT di ketinggian 126 m dpl. Kemiringan lahan atau lereng sebesar 33% yang berarti curam. Lereng merupakan perbandingan antara perbedaan ketinggian tanah dengan jarak horisontal yang dinyatakan dalam persentase atau derajad. Pengukuran kemiringan lereng menggunakan klinometer dengan cara mengukur searah kemiringan lereng. Arah kemiringan (slope aspert) lereng diukur dengan menggunakan kompas. Arah profil menghadap ke barat laut. Fisiografi lahan di FP UNS adalah Alluvial, yaitu berupa hasil aliran/fluvial atau gravitas/koluvial.
  • 54. 54 Di lokasi praktikum tidak ditemukan daerah dengan kondisi tergenang air. Hal ini dikarenakan lokasi praktikum lebih tinggi serta banyaknya vegetasi yang terdapat pada lokasi, sehingga air yang berasal dari hujan atau sumber lainnya dapat langsung diserap oleh akar tanaman. Tutupan lahan yang paling dominan pada lokasi pengamatan adalah lamtoro (Leucaena glauca). Geologi merupakan penyusun dari bahan induk tanah. Bahan induk mempengaruhi proses serta sifat dan karakteristik dari tanah. Penentuan geologi atau bahan induk dapat didasarkan pada peta geologi. Pada praktikum kali ini tercatat bahwa geologinya adalah bahan aluvium. Erosi merupakan proses pemecahan dan pengikisan lapisan permukaan tanah oleh media (air, angin, dan es) yang kemudian diangkut dan diendapkan pada suatu tempat. Erosi yang terjadi di lokasi pengamatan adalah erosi permukaan yaitu dengan adanya sedikit tanah yang hilang tetapi tidak terbentuk saluran air. Tingkat bahaya erosinya rendah.. Vegetasi yang ditemukan antara lain Lamtoro (Leucaena glauca) 30%, pohon beringin (Ficus benjamina) 10%, pohon mahoni (Swieteinia macrophylla)15%, pohon jati (Tectonagrandis)10%, pohon kedawung (Parkia roxburghii) 15%, pohon angsana (Pterocarpus indicus)15%, rumput (Cyperus rotundus) 5%. 2. Penyidikan Profil Tanah Profil tanah adalah penampang melintang vertikal tanah yang terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk. Dalam pembuatan profil atau pedon perlu metode. Metode yang dimaksud adalah cara tanah dicandra atau diamati. Metode bisa berupa profil melintang ataupun dengan pengeboran atau pembuatan lubang pedon. Ukuran tanah juga diamati sebagai satu kesatuan profil pengamatan, yaitu ukuran lebar atau diameter dan kedalaman. Dalam praktikum kali ini, metode yang digunakan adalah irisan lereng yang dibuat pada kemiringan 33%. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa jeluknya sedalam 60 cm. Jeluk merupakan kedalaman profil tanah yang diukur dari permukaan tanah sampai pada batas akhir lapisan/horizon bawah. Pada profil tanah yang diamati terdapat tiga lapisan dengan masing-masing kedalaman pada lapisan 1
  • 55. 55 yaitu 0-20 cm, lapisan 2 yaitu 20-40 cm, dan lapisan 3 10-60 cm. Batas-batas lapisan yang meliputi ketegasan dan bentuk antara lapisan sama. Batas lapisan adalah baur dengan bentuk dari batas lapisannya adalah rata dengan sedikit atau beraturan. Penarikan batas dan garis horizon tanah ditentukan atau dilakukan dengan cara memukul-mukulkan gagang pisau belati ke profil tanah untuk membedakan suaranya. Suara yang berbeda menunjukkan adanya lapisan yang berbeda pula. Selain itu dapat juga dengan melakukan tusukkantusukkan pada profil tanah tersebut. Semakin ke dalam tanahnya semakin keras, hal ini disebabkan oleh konsistensi dan struktur tanahnya yang semakin kuat. Adanya tingkat kekerasan yang berbeda menunjukkan adanya lapisan yang berbeda. Pada profil ini perakaran dijumpai di tiap lapisan. Lapisan 1 jumlahnya biasa dan ukurannya sangat halus, pada lapisan 2 dan 3 jumlahnya sedikit. Lapisan 2 dengan ukuran sedang, lapisan 3 dengan ukuran halus. Kondisi perakaran semakin ke bawah horizon semakin sedikit karena akar tumbuhan menyerap air dan unsur hara (humus). 3. Sifat Fisika Tanah Pengamatan sifat fisika tanah meliputi tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, dan warna. Tekstur tanah adalah perbandingan relatif antara fraksifraksi yang menyusun suatu volume massa tanah. Fraksi penyusun massa tanah tersebut antara lain : pasir (sand), debu (silt), dan lempung (clay). Dalam penentuan tekstur tanah di lapangan digunakan cara kualitatif, yaitu dengan merasakan tingkat kasar, licin dan lengketnya tanah. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tekstur tanah yang didapat pada lapisan 1, lapisan 2 dan lapisan 3 berbeda. Pada lapisan 1 tekstur tanah geluh debuan (SiL), lapisan 2 bertekstur geluh pasiran (SL) sedang lapisan 3 memiliki tekstur pasir geluhan (LS). Struktur tanah digunakan untuk menunjukkan secara garis besar keseluruhan agregasi atau susunan butir-butir tanah. Profil dapat dikuasai oleh pola struktur tunggal. Seringkali dijumpai jumlah macam agregasi yang merupakan perkembangan dari horizon yang dengan mudah dapat dilihat dari
  • 56. 56 keadaan dan ciri seperti gerakan air, pemindah panas, aerasi, kerapatan massa dan gumpalan akan banyak dipengaruhi oleh struktur. Struktur tanah yang terlihat pada pengamatan, yaitu pada lapisan 1, lapisan 2 dan lapisan 3 mempunyai struktur tanah yang berbeda yakni lapisan 1 gumpal menyudut (Angular blocky), lapisan 2 gumpal membulat atau sub angular blocky (SBK) dan lapisan 3 gumpal menyudut atau angular blocky. Konsistensi tanah merupakan menggambarkan keadaan fisik tanah istilah yang digunakan untuk dengan kandungan air berbeda-beda seperti yang diperlihatkan oleh reaksi tanah atas tekanan-tekanan mekanik. Tekanan yang dilakukan dengan cara memeras, memijit dan atau memirit tanah dalam keadaan yang sebenarnya di lapangan. Konsistensi tanah dipandang sebagai kombinasi sifat yang dipengaruhi kekuatan mengikat antara butir-butir tanah.Pengamatan konsistensi tanah dimungkinkan untuk dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu pada kondisi tanah kering, lembab dan atau basah. Konsistensi tanah pada pengamatan tanah kali ini adalah terjadi pada kondisi tanah lembab. Lapisan 1, lapisan 2 dan lapisan 3 memiliki konsistensi yang berbeda-beda. Lapisan 1 sangat teguh, lapisan 2 gembur, dan lapisan 3 sangat teguh. Warna tanah adalah penampilan agregat atau massa tanah yang menyusun suatu tubuh tanah, sebagai hasil reaksi aneka senyawa kimia yang didukung oleh sustu lingkungan tertentu. Warna tanah dapat memberikan keterangan mengenai gatra pelikan tanah, tingkat peluruhan pelikan-pelikan tanah, kandungan bahan organik, gejolak musiman air tanah, keadaan pengatusan dan tata udara tanah, kesuburan tanah, perbedaan horizon, dan unjuk kerja dan penggunaan tanah. Pada lapisan 1 dan lapisan 2 memiliki warna yangsama ditunjukkan 2,5Y 5/3 yaitu light olive brown. 4. Sifat Kimia Tanah Sifat kimia tanah meliputi redoks (aerasi drainase), kadar bahan organik tanah, kadar kapur dan penetrasi. Aerasi adalah kemampuan sirkulasi udara dalam tanah. Sedangkan drainase menunujukkan kecepatan meresapnya air dari tanah. Dalam pengamatannya digunakan reagen HCl 1,2 N, KCNS 10%, dan K3Fe(CN)6 0,5 %. Dalam reaksinya akan membentuk warna merah dan
  • 57. 57 biru. Bila warna merah dominan dibanding warna biru maka aerasi dan drainasenya baik dan sebaliknya. Berdasarkan pengujian yang dilakukan diketahui intensitas aerasi dan drainase pada lapisan 2 dan lapisan dua baik (O2) karena timbul warna merah nyata disertai hijau (oksidatif kuat), sedangkan pada lapisan 3 sedang (O1) karena timbul warna merah nyatadisertai biru nyata (reduksi mutlak). Bahan organik merupakan salah satu komponen pokok dalam tanah karena bahan organik merupakan sumber sekaligus penyangga dari kesuburan tanah. Kadar bahan organik dalam analisis kualitatif ditunjukkan dengan adanya reaksi (proses pembuihan) pada tanah pada saat diberikan larutan H2O2 10% atau lebih. Dalam pemberian larutan ke contoh tanah, apabila semakin besar reaksi yang terjadi maka kadar bahan organik dalam tanah semakin tinggi. Demikian pula sebaliknya, apabila tidak terjadi reaksi apa-apa maka kadar bahan organik dalam tanah bisa dikatakan tidak ada. Kandungan bahan organik di lapisan 1 banyak karena buih-buih nampak banyak seperti busa, pada lapisan 2 terdapat sedikit bahan organic karena hanya sedikit buih yang tampak, sedangkan pada lapisan 3 terdapat banyak sekali buih-buih saat ditetesi oleh larutan H2O2 yang menandakan pada lapisan 3 terdapat bahan organik. Adanya ketidakseimbangan atau perbedaan bahan organik pada lapisan karena peningkatan bahan organik yang terbentuk dari sisa-sisa tanaman maupun organisme dalam tanah. Kadar kapur dalam tanah dapat dianalisis sebagai indikasi tingkat kandungan kapur yang bisa mempengaruhi reaksi kimia dalam tanah. Pengaruh kapur dalam tanah dapat meliputi proses pembentukan agregat tanah, pengikatan hara oleh tanah, dan parameter tanah lain yang berhubungan dengan kegiatan biologi dalam tanah. Dari hasil pengamatan tidak terdapat kadar kapur (CaCO3) pada seluruh lapisan. 5. Analisis Lengas Tanah Kadar lengas tanah adalah kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori di antara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi oleh air.
  • 58. 58 Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain, anasir iklim, kandungan bahan organik dan lempung tanah, relief, dan bahan penutup tanah. Pada perhitungan kadar lengas tanah kering angin digunakan ctka bongkah, 2 mm, dan 0,5 mm dengan dua kali perulangan. Hasil perhitungan rata-rata kadar lengas kering angin yang diperoleh adalah 8,56% ctka bongkah, 5,23 % ctka 2 mm serta 8,59 % untuk ctka 0,5 mm. kadar lengas pada ctka 0,5 mm lebih besar daripada ctka bongkah dan 2 mm karena pada ctka 0,5 mm memiliki luasan permukaan yang juga lebih besar daripada ctka 2 mm. Itulah yang menyebabkan kenapa ctka 0,5 mm lebih banyak menyerap air dibandingkan dengan ctka 2 mm. Pada perhitungan kadar lengas kapasitas lapangan dan kadar lengas maksimum hanya dilakukan dua kali pengulangan dengan satu macam ctka yaitu dengan ctka 2 mm. Kapasitas lapangan dihitung dengan rumus yang sama dengan perhitungan kadar lengas kering angin. Hasil rata-rata perhitungan yang didapatkan dari kapasitas lapangan sebesar 38,87%. Pada perhitungan ini didapat data berat cawan dan gelas arloji tanpa ctka sebesar 47,16 gram, berat cawan dan gelas arloji dengan ctka setelah direndam kurang lebih 12 jam sebesar 90,59 gram, beratcawan dengan ctka setelah dioven dan didinginkan sebesar 72,7 gram dan berat cawan dan gelas arloji tanpa ctka setelah dibersihkan adalah sebesar 46,52 gram. Nilai lengas maksimum yang diperoleh dari hasil perhitungan tersebut dengan rumus di atas adalah sebesar 65,875 %. Selain kadar lengas kering angin, kapasitas lapangan dan kadar lengas maksimum, batas berubah warna juga dihitung. Hasil dari perhitungan batas berubah warna yaitu sebesar 9,56% yang berarti tanah entisol di FP UNS memiliki pengharkatan batas berubah warna yang rendah. 6. Analisis pH Tanah Pada dasarnya penentuan pH ada dua macam, yaitu dengan H2O dan KCl. Penentuan pH dengan H2O disebut dengan pH aktual, sedangkan
  • 59. 59 penentuan pH dengan KCl disebut dengan pH potensial. Pada pengamatan menggunakan pH meter dengan ctka 0,5 mm didapat data bahwa pada hasil pengukuran pH dengan H₂O adalah 6,78 sedangkan pH dengan KCl yaitu 5,81. Ini berarti bahan organik yang terkandung pada masing-masing horison berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Hal itulah yang menyebabkan nilai pH aktual lebih tinggi dari pH potensial. Bahan organik itu juga dipengaruhi pula oleh geologi pembentuk tanah. Semakin banyak bahan organik maka tanah itu semakin subur. 7. Analisis Struktur Tanah Struktur tanah adalah ikatan antar partikel atau fraksi primer tanah yang membentuk suatu susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat organic maupun anorganik. Peranan penting struktur tanah yaitu teredianya air di dalam tanah, ketersediaan unsur hara dalam tanah, perombakan material organik di dalam tanah, suhu tanah, penetrasi perakaran tanaman serta aktivitas mikroorganisme atau biota tanah. Bobot jenis atau yang disebut particle density merupakan perbandingan antara bobot partikel tanah dengan volume partikel tanah. Bobot partikel tanah dicari dengan dikering ovenkan agar tidak ada air dalam pori-pori tanah. Setelah penghitungan, didapatkan berat piknometer kosong dengan tutupnya 22 gram, piknometer berisi aquades penuh dan di tutup sebesar 50,53 gram, piknometer diisi dengan tanah 26,99 gram, piknometer setelah didiamkan semalaman ditambah dengan aquades hingga penuh seberat 53,5 gram. Hasil pengukuran suhu untuk mendapatkan berat jenis pertama adalam 26oC dan memiliki berat jenis pertama 99,68 didapatkan dari piknometer yang telah diisi air dengan aquades hingga penuh lalu melihat berat jenis pada tabel berat jenis. Berat jenis kedua adalah 0,9973 yang didapatkan dari pengukuran suhu pada piknometer yang telah semalaman telah diendapkan yang didalamnya telah terisi tanah 5 gram dan aquades separuh volume lalu ditambahkan aquades hingga penuh untuk mengukur suhu dengan termometer, suhunya sebesar 24oC.bobot jenis tanah FP UNS yaitu 2,46 gram.
  • 60. 60 Bobot volume hamper seperti bobot jenis, bobot volume merupakan perbandingan antara bobot dengan volume tanah. Perbedaannya hanya pada pengukuran volume tanah, pori-pori dihitung juga sebagai bagian dari volume tersebut. Dengan melapisi bongkahan tanah kecil dengan paraffin atau lilin lalu dimasukkan dalam tabung yang telah berisi aquades yang telah diketahui volumenya. Angka rata-rata dalam penghitungan bobot volume didapat sebagai berikut; bongkahan tanah sebelum diberi paraffin atau lilin memiliki berat 2 gram. Bongkahan tanah yang telah dilumuri paraafin/lilin seberat 2,21gram. Volume aquades sebelum dimasuki tanah 15 cc dan setelah bongkah tanah dimasukkan volume menjadi 16 cc. Berat volume bongkah tanah jumantono adalah 1,685.Nilai porositas adalah prosentase pori-pori dalam tanah. Dari penghitungan tersebut diperoleh nilai porositas sebesar 11,178%. C. Jatikuwung 1. Pencandraan Bentang Lahan Pengamatan pencandraan bentang lahan dengan cara pengidentifikasian lahan dilaksanakan di Jatikuwung, Karanganyar pada hari Sabtu, 2 November 2013. Tanah di lokasi Jatikuwung adalah jenis tanah vertisol yang mempunyai karakteristik secara umum antara lain yaitu warna tanah kelabu tua sampai hitam, kandungan bahan organik relative rendah, tekstur liat berat(keras bila kering,lengket bila basah), ketinggian antara 0-200m dpl. Kondisi cuaca pada saat pengamatan dalam keadaan cerah. Titik pengamatan profil terletak pada 7o 31’ 9,9” LS dan 110o50’70,8” BT di ketinggian 179 m dpl. Lahan yang diamati mempunyai kemiringan 12 % yang berarti sangat miring. Kemiringan lereng diukur dengan klinometer. Arah profilnya adalah barat. Maksud dari penentuan arah profl adalah untuk mengetahui intensitas matahari yang mempengaruhi pembentukan tanah, karena dapat mempengaruhi pelapukan. Fisiografi lahan merupakan pencandraan tentang genesis tanah dan evolusi bentuk tanah, sedangkan plato merupakan bentang alam dengan bentuk kubah yang bagian puncaknya rata.
  • 61. 61 Hidrologi adalah keadaan atau kondisi air pada suatu lahan/daerah. Jatikuwung mempunyai hidrologi yang terbebas dari genangan dan tanpa banjir. Tutupan lahan yang paling dominan adalah rumput. Geologi di Jatikuwung yaitu QVM (batuan gunung api merapi). Batuan permukaan berjumlah 0,1% dari luas permukaan dan erosinya adalah erosi alur dengan tingkat erosi ringan. Erosi adalah kegiatan pengikisan tanah yang disebabkan oleh adanya agen penyebab erosi seperti angin dan air. Vegetasi yang ditemukan antara lain Mangga 10%, Rumput 85%, Putrimalu 5%. 2. Penyidikan Profil Tanah Profil tanah adalah penampang melintang vertikal tanah yang menunjukkan susunan horizon atau lapisan tanah serta terdiri dari solum tanah dan bahan induk tanah. Metode yang digunakan dalam pembuatan profil tanah adalah irisan pada lereng yang dibuat pada kemiringan <60%. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa jeluk tanah sedalam 45 cm. Jeluk merupakan kedalaman profil tanah yang diukur dari permukaan tanah sampai pada batas akhir lapisan bawah meliputi lapisan top soil dan lapisan sub soil. Pada profil tanah yang diamati terdapat dua horizon dengan masing-masing horizon terdiri atas dua lapisan. Kedalaman pada horizon A1 yaitu 0-15 cm, horizon A2 15-27 cm, dan horizon B 27-40 cm. Berdasarkan hasil pengamatan juga diketahui bahwa batas-batas lapisan yang meliputi ketegasan dan bentuk yaitu ketegasan batas antara horizon A1dan horizon A2 adalah berangsur, sedangkan batas antara horizon A2 dan horizon B adalah berangsur. Bentuk dari batas-batas masing-masing horizon semuanya adalah tajam. Penarikan batas dan garis horizon tanah ditentukan atau dilakukan dengan cara memukul-mukulkan gagang pisau belati ke profil tanah untuk membedakan suaranya. Suara yang berbeda menunjukkan adanya horizon yang berbeda pula. Selain itu dapat juga dengan melakukan tusukkantusukkan pada profil tanah tersebut. Semakin ke dalam tanahnya semakin keras, hal ini disebabkan oleh konsistensi dan struktur tanahnya yang semakin kuat. Adanya tingkat kekerasan yang berbeda menunjukkan adanya horizon yang berbeda.
  • 62. 62 Pada profil ini perakaran dijumpai di semua horizon. Horizon A1 jumlahnya biasa dan ukurannya halus, horizon A2 jumlahnya sedikit dengan ukuran sangat halus, dan horizon B jumlahnya sedikit dengan ukuran sangat halus. Kondisi perakaran semakin ke bawah lapisan semakin sedikit karena akar tumbuhan menyerap air dan unsur hara (humus), dan unsur hara paling banyak terdapat di horizon O. Perakaran ini penting bagi tumbuhan karena bila jumlah perakaran banyak maka daya serap tanaman terhadap unsur hara dan mineral dalam tanah menjadi tinggi dan itu berguna bagi pertumbuhan tanaman 3. Sifat Fisika Tanah Pengamatan pada sifat fisika tanah meliputi tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, dan warna. Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif dari pasir (sand), debu (silt), dan lempung (clay) atau merupakan kelompok partikel yang ukurannya lebih kecil dari kerikil. Tekstur tanah menunjukkan kasar atau halusnya suatu tanah dan juga menunjukkan daya tahan tanah terhadap air. Dari pengamatan diperoleh hasil bahwa pada horizon A1 geluh lempung debuan (SiCL), pada horizon A2 bertekstur (L), sedangkan pada horizon B bertekstur geluh pasiran (SL). Cara yang digunakan untuk mengetahui tekstur tanah ini adalah dengan membasahi tanah kemudian memijit-mijit dengan jari sambil merasakan unsur-unsur mana yang terkandung di dalamnya. Struktur tanah merupakan susunan ikatan-ikatan partikel tanah antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam struktur tanah ini yang diamati adalah tipe, ukuran, dan derajad strukturnya. Cara menentukan struktur tanah ini adalah dengan mengambil gumpalan tanah, dipecah dengan jari, kemudian pecahan tersebut merupakan agregat yang selanjutnya dari agregat tersebut dapat ditentukan tipe, ukuran, dan derajad strukturnya. Menurut hasil pengamatan didapat pada horizon A1, A2, dan B bertipe SBK yaitu gumpal membulat. Konsistensi tanah adalah derajad kohesi dan adhesi partikel tanah dan ketahanan atau resistensi tanah terhadap perubahan bentuk atau perpecahan. Pada praktikum ini didapatkan lahan di daerah tersebut berkonsistensi lembab
  • 63. 63 dengan kategori atau tingkat yang berbeda-beda. Konsistensi pada horizon A1, A2, dan B adalah lembab-sangat teguh, dimana ketika tanah ditekan dengan kuat antara ibu jari dan telunjuk dapat hancur. Konsistensi tanah ini ditentukan dengan meremas, memijit, dan memirit tanah dengan ibu jari dan telunjuk. Warna tanah merupakan ciri tanah yang paling jelas dan mudah untuk ditentukan. Cara menentukan warna tanah ini dengan menggunakan Munsell Soil Colour Chart (MSCC). Umumnya untuk tanah jenis vertisol pada bagian permukaannya mempunyai warna hitam, ini merupakan ciri khas tanah vertisol. Warna hitam atau gelap tersebut dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, dimana jika tanah tersebut memiliki kandungan bahan organik yang tinggi maka warnanya akan lebih gelap. Dari pengamatan diperoleh pada horizon A1 7,5 YR 2,5/3 (very darkbrown), horizon A2 7,5 YR 3/2 (dark brown) B2,5 YR 4/2 (brown). 4. Sifat Kimia Tanah Redoks atau Aerasi dan drainase adalah kemampuan sirkulasi udara dalam tanah, sedangkan drainase menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah. Dalam pengamatannya digunakan reagen HCl 1,2 N, KCNS 10%, dan K4Fe(CN)6 0,5 %. Dalam reaksinya akan membentuk warna merah dan biru. Bila warna merah dominan dibanding warna biru maka aerasi dan drainasenya baik dan sebaliknya. Pada pengamatan didapat aerasi dan drainase pada horizon A1 dan A2 sangat baik yang timbul warna merah nyata, B aerasi dan drainasenya sedang karena timbul warna biru nyata disertai merah merah nyata. Dilihat dari tekstur tanahnya semakin ke atas reduksi oksidasi semakin buruk. Bahan organik merupakan salah satu komponen pokok dalam tanah karena bahan organik merupakan sumber sekaligus penyangga dari kesuburan tanah. Kadar bahan organik dalam analisis kualitatif ditunjukkan dengan adanya reaksi (proses pembuihan) pada tanah pada saat diberikan larutan H2O2 10% atau lebih. Dalam pemberian larutan ke contoh tanah, apabila semakin besar/hebat reaksi yang terjadi maka kadar bahan organik dalam tanah semakin
  • 64. 64 tinggi. Demikian pula sebaliknya, apabila tidak terjadi reaksi apa-apa maka kadar bahan organik dalam tanah bisa dikatakan tidak ada. Kandungan bahan organik di horizon A1hanya beberapa buih kelihatan, horizon A2 adalah sangat banyak dengan adanya buih-buih membentuk busa tebal, dan horizon B adalah sedikit dengan buih yang tampak. Adanya ketidakseimbangan atau perbedaan bahan organik pada horizon karena peningkatan bahan organik yang terbentuk dari sisa-sisa tanaman maupun organisme dalam tanah. Dengan demikian semakin ke dalam kandungan bahan organiknya semakin sedikit, hal ini disebabkan karena aktivitas mikroorganisme semakin ke dalam semakin berkurang karena ikatan-ikatan partikel atau butir-butir tanah yang semakin kuat sehingga ruang udara yang menyediakan oksigen bagi kehidupan mikroorganisme tersebut juga terbatas. Pengaruh kapur terhadap tanah dapat meliputi proses pembentukan agregat tanah, pengikatan hara oleh tanah, dan parameter tanah lain yang berhubungan dengan kegiatan biologi dalam tanah. Analisis kadar kapur tanah secara kaulitatif atau yang biasa dilakukan di lapangan, yaitu meneteskan contoh tanah dengan larutan HCl 10 %. Apabila tanah mengandung kapur maka akan terjadi reaksi atau pembuihan. Semakin banyak kandungan kapur dalam tanah maka reaksi yang terjadi semakin besar atau hebat. Kadar kapur (CaCO3) pada horizon A terdapat sedikit kadar kapur, sedangkan pada horizon B1sampai B2 tidak terdapat kandungan kapur karena tidak terjadi reaksi setelah penetesan HCl 10% pada contoh tanah. Konkresi dapat terjadi karena adanya proses oksidasi-reduksi di mana terjadi konsentrasi dari bahan tanah. Tingkat konkresi tanah berhubungan dengan kandungan Fe dan Mn pada tanah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya bercak hitam dan merah kekuningan. Dari hasil pengamatan dapat diperoleh bahwa dari horizon A1 sampai horizon B tidak terlihat adanya konkresi karena tidak adanya bercak hitam yang menandakan adanya kandungan Mn. 5. Analisis Lengas Tanah Kadar lengas tanah adalah kandungan air yang terdapat dalam pori tanah. Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori di antara padatan tanah.
  • 65. 65 Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi oleh air. Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain, anasir iklim, kandungan bahan organik dan lempung tanah, relief, dan bahan penutup tanah. Pada perhitungan kadar lengas tanah kering angin digunakan ctka bongkah, 2 mm, dan 0,5 mm dengan dua kali perulangan. Hasil perhitungan rata-rata kadar lengas kering angin yang diperoleh adalah 12,67% ctka bongkah, 11,48% ctka 2 mm serta 10,69% untuk ctka 0,5 mm. kadar lengas pada ctka 0,5 mm seharusnya lebih besar daripada ctka bongkah dan 2 mm karena pada ctka 0,5 mm memiliki luasan permukaan yang juga lebih besar daripada ctka 2 mmyang menyebabkan kenapa ctka 0,5 mm lebih banyak menyerap air dibandingkan dengan ctka 2 mm, tetapi disaat penelitian dapat terjadi kekeliruan. Pada perhitungan kadar lengas kapasitas lapangan dan kadar lengas maksimum hanya dilakukan dua kali pengulangan dengan satu macam ctka yaitu dengan ctka 2 mm. Kapasitas lapangan dihitung dengan rumus yang sama dengan perhitungan kadar lengas kering angin. Hasil rata-rata perhitungan yang didapatkan dari kapasitas lapangan sebesar 44,60%. Sedangkan lengas maksimum dihitung dengan rumus yang berbeda dari perhitungan kadar lengas kering angina. Pada perhitungan lengas maksimum didapat data berat cawan dan gelas arloji tanpa ctka sebesar 57,95 gram, berat cawan dan gelas arloji dengan ctka setelah direndam kurang lebih 12 jam sebesar 110,71 gram, berat cawan dengan ctka setelah dioven dan didinginkan sebesar 85,92 gram dan berat cawan dan gelas arloji tanpa ctka setelah dibersihkan adalah sebesar 57,54 gram. Nilai lengas maksimum yang diperoleh dari hasil perhitungan tersebut dengan rumus di atas adalah sebesar 86,36%. Selain kadar lengas kering angin, kapasitas lapangan dan kadar lengas maksimum, batas berubah warna juga dihitung. Hasil dari perhitungan batas berubah warna yaitu sebesar 14,47 %
  • 66. 66 yang berarti tanah alfisol di Jumantono memiliki pengharkatan batas berubah warna sedang. 6. Analisis pH Tanah Pada dasarnya penentuan pH ada dua macam, yaitu dengan H2O dan KCl. Penentuan pH dengan H2O disebut dengan pH aktual, sedangkan penentuan pH dengan KCl disebut dengan pH potensial. Pada pengamatan menggunakan pH meter dengan ctka 0,5 mm didapat data bahwa pada hasil pengukuran pH dengan H₂O adalah 6,35sedangkan pH dengan KCl yaitu6,47. Ini berarti bahan organik yang terkandung pada masing-masing horison berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Hal itulah yang menyebabkan nilai pH aktual lebih tinggi dari pH potensial. Bahan organik itu juga dipengaruhi pula oleh geologi pembentuk tanah. Semakin banyak bahan organik maka tanah itu semakin subur 7. Analisis Struktur Tanah Struktur tanah adalah ikatan antar partikel atau fraksi primer tanah yang membentuk suatu susunan gumpalan yang disebabkan adanya perekat organic maupun anorganik. Peranan penting struktur tanah yaitu teredianya air di dalam tanah, ketersediaan unsur hara dalam tanah, perombakan material organic di dalam tanah, suhu tanah, penetrasi perakaran tanaman serta aktivitas mikroorganisme atau biota tanah. Bobot jenis atau yang disebut particle density merupakan perbandingan antara bobot partikel tanah dengan volume partikel tanah. Bobot partikel tanah dicari dengan dikering ovenkan agar tidak ada air dalam pori-pori tanah.Setelah dilakukan penghitungan, didapatkan berat piknomete kosong dengan tutupnya 24 gram, piknometer berisi aquades penuh dan di tutup sebesar 56,27 gram. Hasil pengukuran suhu untuk mendapatkan berat jenis pertama dan berat jenis kedua adalah sama, adalam kondisi suhu terukur dengan thermometer 28oC dan memiliki berat jenis 0,9963 yang didapatkan dari piknometer yang telah diisi air dengan aquades hingga penuh. Hingga didapatkan bobot jenis tanah sebesar 1,63.
  • 67. 67 Bobot volume hampir seperti bobot jenis, bobot volume merupakan perbandingan antara bobot dengan volume tanah. Perbedaannya hanya pada pengukuran volume tanah, pori-pori dihitung juga sebagai bagian dari volume tersebut. Dengan melapisi bongkahan tanah kecil dengan paraffin atau lilin lalu dimasukkan dalam tabung yang telah berisi aquades yang telah diketahui volumenya. Angka rata-rata dalam penghitungan bobot volume didapat sebagai berikut; bongkahan tanah sebelum diberi paraffin atau lilin memiliki berat 2,4 gram. Bongkahan tanah yang telah dilumuri paraafin/lilin seberat 2,64gram. Volume aquades sebelum dimasuki tanah 20 cc dan setelah bongkah tanah dimasukkan volume menjadi 20,75 cc. Berat volume bongkah tanah jumantono adalah 3,66 gram.Nilai porositas adalah prosentase pori-pori dalam tanah. Cara mengetahui porositas adalah dengan menganalisis berat jenis dan berat volume. Dari penghitungan tersebut diperoleh nilai porositas sebesar -120%.
  • 68. 68 VI. KOMPREHENSIF Pengamatan yang dilakukan pada praktikum ilmu tanah meliputi pencandraan bentang lahan, penyidikan profil tanah, sifat fisika tanah, sifat kimia tanah, analisis lengas tanah, analisis pH tanah, dan analisis struktur tanah. Pengamatan tersebut diamati karena memiliki hubungan yang saling terkait antara satu dengan yang lain. Pengamatan pencandraan bentang lahan meliputi keadaan medan atau fisiografi lahan dapat mempengaruhi aerasi dan drainase. Aerasi dan drainase semakin ke bawah semakinn buruk. Sedangkan kemiringan lahan akan berpengaruh pada proses pembentukan tanah yang akhirnya akan ikut menentukan sifat – sifat tanah itu sendiri. Kemiringan yang berpengaruh pada sifat bahan induk dan taraf erosi yang terjadi. Untuk mencegah terjadinya erosi yang berlebihan pada daerah ini maka timbul timbulan makro dibentuk berupa sengkedan. Lahan di Fakultas Pertanian dengan ketinggian 127 m dpl ini memiliki jenis tanah entisol dengan bentuk lahan alluvial, yang terletak antara Gunung Lawu dan sungai Bengawan Solo. Adanya sengkedan merupakan bukti adanya campur tangan manusia terhadap tanah, yang menyebabkan erosi tanah yang terjadi adalah erosi alur dalam tingkat yang sedang. Kondisi lahan yang bebas banjir terkait oleh adanya sengkedan yang berpengaruh pula genangan yang sifatnya bebas, karena apabila ada air dalam kapasias besar, maka air akan dengan mudah mengalir kebawah. Erosi yang bersifat sedang adanya batuan permukaan dalam kelas 2. Dari penyidikan profil, diketahui solum tanahnya termasuk dangkal. Jenis vegetasi yang terdapat adalah jati, asam, mahoni, bodi, lamtoro. Tanah di Jatikuwung merupakan tanah vertisol yaitu tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil, agak tebal (>50 cm), tekstur lempung berat, struktur di lapisan atas gumpal hingga kersai (granular) di lapisan bawah, konsistensi bila lembab dan plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak, umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Hal ini mengakibatkan tanah ditempat yang lebih tinggi menjadi bergelombang dan didataran membentuk bukit – bukit kecil yang cembung. Jenis ini berasal dari batu vulkanik gunung merapi bersifat basa. 69
  • 69. 69 Mempunyai jenis lempung berupa montmorilonit lempung dengan tipe kaolinit 2:1 yang dapat mengembang dan mengerut. Sehingga lahan mempunyai daya adsorbsi tinggi. Dan memiliki jenis vegetasi berupa rumput, pohon jati, mangga, lamtoro, kemangi, tanaman berbunga. Dari hasil pengamatan pada lahan di daerah Jumantono, jenis tanahnya merupakan tanah alfisol yaitu jenis tanah yang telah berkembang atau terjadi diferensiasi horizon, kedalaman dalam, konsistensi gembur hingga agak teguh, warna coklat merah hingga kuning. Berasal dari batuan induk aluvial, tekstur beraneka ragam pada umumnya berlempung, terbentuk struktur gumpal, konsistensi dalam keadaan lembab gembur hingga teguh, kesuburan sedang hingga tinggi. Tanah yang diamati termasuk tanah yang sudah mengalami pelapukan yang lanjut karena tidak ditemukannya retakan atau bunga kol, karena daerah tersebut banyak mengandung lempung dengan tipe kaolinit 1:1 yang tidak bersifat mengembang dan mengerut. Jenis vegetasi berupa kacang tanah, jagung, semak, pohon jati, singkong, mangga, dan lainnya. Sifat-sifat alfisol, memiliki horison argilik dan terdapat di kawasan yang tanahnya lembab paling sedikit dalam setengah tahun. Kebutuhan akan kejenuhan basa lebih dari 35% di dalam horison argilik alfisol berarti bahwa basa-basa yang terlepas karena terurai. Iklim yang menguntungkan dan tanah dengan kesuburan serta sifat fisika yang agak baik menjadikan alfisol salah satu ordo tanah yang paling produktif untuk pertanian. Dapat dikatakan semua profil tanah memperlihatkan perubahan warna dari suatu horison berikutnya. Tampakan ini paling nyata dalam tanah matang. Dalam tanah muda dan yang sangat tua tampakan seperti ini kurang nyata. Dalam tanah muda, waktu belum mencukupi untuk menghasilkan deferensiasi horison. Dalam tanah sangat tua, diferensiasi horison menghilang karena perlindian dan pelapukan yang telah sangat lanjut yang cenderung menyamaratakan tampakan diseluruh profil. Konsistensi berkaitan erat dengan struktur. Faktor – faktor yang menentukan struktur tanah, seperti tekstur, macam – macam lempung dan
  • 70. 70 kadarbahan organik juga ikut menentukan konsistensi tanah. Tanah bertekstur sama dapat berbeda konsistensinya karena berbeda macam lempungnya. Untuk kesuburannya tanah alluvial baik karena daerah dengan fisiologi tanah alluvial mempunyai daerah yang luas dan terdapat disepanjang aliran sungai. Selain itu tanah alluvial juga sangat produktif dan tingkat aerasi drainasenya yang baik, sehingga tanah jenis ini sangat baik untuk pertanian. Untuk kesuburan tanah alfisol agak baik karena tanah ini merupakan tanah tua yang telah lama mengalami pelapukan dan memiliki sifat fisika tanah yang baik pula. Untuk kesuburan tanah vertisol ini relatif rendah karena merupakan tanah dengan kandungan BO relatif rendah. Jadi tanah ini kurang baik untuk pertanian karena mengandung lempung dimana lempung dapat menahan air yang diterimanya dari lapisan diatasnya, karena susunan partikel tanah lempung yang teguh sehingga tanah jenis ini susah untuk meloloskan air kelapisan yang ada dibawahnya.
  • 71. 71 VII. KESIMPULAN A. Jumantono Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Tanah di Desa Sukosari, Jumantono, Karang Anyar keadaaan fisiografinya terletak diantara pegunungan vulkanik dan aktivitas fluvial dengan keadaan geologi lahan berupa formasi vulkanik mempunyai ketinggian 190 mdpl dengan kemiringan 22%, tanahnya relief yang bergelombang dan kemas muka tanah yang licin. 2. Erosi yang terjadi merupakan erosi permukaan dengan tingkat erosi ringan. 3. Tanah di lahan Jumantono kadang-kadang terjadi genangan (ketinggian banjir <1 cm). 4. Batuan permukaan < 0,1% dari luas permukaan. 5. Profil tanah yang diamati mempunyai empat horizon yaitu horizon A, B1, B2, dan B3 dengan ketegasan batas antar lapisan tanah yang jelas, berangsur, dan baur. Topografi dominasi berombak (wavy). 6. Perakaran yang terlihat dari atas ke bawah semakin sedikit dengan ukuran yang halus, disebabkan derajat tanah yang semakin ke bawah semakin kuat sehingga sulit ditembus akar. 7. Tekstur tanahnya rata-rata lempungan dengan struktur tanah adalah angular blocky yang berukuran yang sedang. 8. Penentuan warna tanah menggunakan Munsell Soil Colour Chart (MSCC), dan hasilnya adalah : a. Horizon A b. Horizon B1 c. Horizon B2 d. Horizon B3 9. Konsistensi tanah di Jumantono adalah lembab dengan kategori gembur, teguh. 10. Warna tanah di Jumantono dominan 2,5 YR Dark redish brown 72
  • 72. 72 11. Redoks baik. 12. Daya topang tanah vertikal rata-rata 2 kg/cm2 dan horizontal 1 kg/cm2 13. Tanah di lahan pengamatan tidak ada kadar kapur (CaCO3). 14. Bahan organik semakin ke dalam sedikit. 15. Dari lapisan atas ke bawah, terlihat adanya becak-becak yang semakin banyak dengan ukuran yang semakin membesar. 16. Lengas tanah kering angin semakin memiliki luasan permukaan yang luas, maka akan lebih banyak menyerap air. Kadar lengas tanah 0,5 mm adalah 19,125%, ctka 2mm 15,385% dan 11,045 pada ctka bongkah 17. Kapasitas lapangan tanah Jumantono sebesar 18. Lengas maksimum tanah Jumantono sebesar 93,63% 19. Batas berubah warna tanah Jumantono sebesar 46,595% yang berarti tanah di Jumatono memiliki harkat batas berubah warna yang amat sangat tinggi. 20. pH aktual adalah 5,5, sedangkan pH potensial adalah 4,85. pH aktual >pH potensial karena dipengaruhi oleh bahan organik yang terdapat di dalamnya. 21. Struktur tanah Jumantono memiliki bobot jenis 11,383, dan bobot volume 0,85 sehingga didapatkan niai porositas tanah sebesar 92,54%. B. Fakultas Pertanian UNS Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Tanah di FP UNS terbentuk dari hasil gravitasi atau koluvial dengan keadaan geologi lahan berupa formasi aluvial yang mempunyai ketinggian 126 mdpl dengan kemiringan 33 %, relief yang bergelombang dan kemas muka tanah yang licin. 2. Erosi yang terjadi merupakan erosi permukaan dengan tingkat erosi permukaan yang rendah. 3. Tanah di lahan FP UNS bebas gleisasi serta bebas genangan dan tanpa banjir (ketinggian banjir = 0 cm). 4. Profil tanah yang diamati mempunyai 3 lapisan tanah dengan ketegasan batas antar lapisan tanah yang baur.
  • 73. 73 5. Perakaran yang terlihat dari atas ke bawah semakin sedikit dengan ukuran yang halus, disebabkan derajat tanah yang semakin ke bawah semakin kuat sehingga sulit ditembus akar. 6. Tekstur tanahnya geluh pasiran dengan struktur tanah adalah angular blocky yang berderajat serta ukuran yang halus. 7. Konsistensi tanah di FP UNS adalah lembab dengan kategori sangat teguh. 8. Penentuan warna tanah menggunakan Munsell Soil Colour Chart (MSCC), dan hasilnya adalah lapisan 1 hingga lapisan 3 memiliki warna yang serupa yaitu 7,5 YR dark brown 9. Aerasi dan drainase baik. 10. Tanah di lahan pengamatan tidak ada kadar kapur (CaCO3). 11. Bahan organik sedang dan semakin ke bawah semakin banyak. 12. Lengas tanah kering angin semakin memiliki luasan permukaan yang luas, maka akan lebih banyak menyerap air. 13. Kapasitas lapangan tanah FP UNS sebesar 38,87% 14. Lengas maksimum tanah FP UNS adalah 65,875% 15. Batas berubah warna tanah FP UNS sebesar 9,56% yang berarti tanah entisol di FP UNS memiliki harkat batas berubah warna yang rendah. 16. pH aktual adalah 6,78, sedangkan pH potensial adalah 5,81. pH aktual >pH potensial karena dipengaruhi oleh bahan organik yang terdapat di dalamnya. C. Jatikuwung Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Tanah di Jatikuwung keadaaan fisiografinya terbentuk akibat hasil pengangkatan gas endogen dan mempunyai ketinggian 179 mdpl dengan kemiringan 12 %, tanahnya relief yang bergelombang dan kemas muka tanah yang licin. 2. Erosi yang terjadi merupakan erosi permukaan dengan tingkat erosi rendah. 3. Tanah di lahan Jatikuwung bebas gleisasi serta bebas genangan dan tanpa banjir (ketinggian banjir = 0 cm).
  • 74. 74 4. Batuan permukaan 0,1% dari luas permukaan. 5. Profil tanah yang diamati mempunyai tiga horizon dengan masing-masing dengan ketegasan batas antar lapisan tanah yang berangsur dan tajam, memiliki topografi lahan yang lembut. 6. Perakaran yang terlihat dari atas ke bawah semakin sedikit dengan ukuran yang halus, disebabkan derajat tanah yang semakin ke bawah semakin kuat sehingga sulit ditembus akar. 7. Tekstur tanahnya rata-rata lempung dengan struktur tanah adalah geluh lempung debuan, geluh dan geluh pasiran. 8. Penentuan warna tanah menggunakan Munsell Soil Colour Chart (MSCC), dan hasilnya adalah : a. Horizon A1 b. Horizon A2 c. Horizon B 9. Konsistensi tanah di Jatikuwung adalah lembab dengan kategori sangat teguh. 10. Warna tanah Jatikuwung memiliki tipe yang berbeda yaitu: a. Horizon A1 7,5 YR 2,5/3 (very darkbrown) b. Horizon A2 7,5 YR 3/2 (dark brown) c. Horizon B 2,5 YR 4/2 (brown) 11. Tanah di lahan pengamatan tidak ada kadar kapur (CaCO3). 12. Redoks pada lahan pengamatan di Jatikuwung adalahsangat baik. 13. Lengas tanah kering angin semakin memiliki luasan permukaan yang luas, maka akan lebih banyak menyerap air. Kadar lengas tanah 0,5 mm adalah 10,69%, ctka 2mm 11,48% dan 12,67% pada ctka bongkah 1. Kapasitas lapangan tanah Jatikuwung44,60% 2. Lengas maksimum tanah Jatikuwung sebesar 86,36% 3. Batas berubah warna tanah Jatikuwung sebesar 14,47% yang berarti tanah di Jatikuwung memiliki harkat batas berubah warna yang sedang. 4. pH aktual adalah 6,35, sedangkan pH potensial adalah 6,47. pH aktual <pH potensial karena dipengaruhi oleh bahan organik yang terdapat di dalamnya.
  • 75. 75 b. Struktur tanah Jumantono memiliki bobot jenis 1,63, dan bobot volume 3,66 sehingga didapatkan niai porositas tanah sebesar -120%.
  • 76. 76 DAFTAR PUSTAKA Arsyad S 2006. Konservasi Tanah dan Air. Cetakan Kedua. Bogor:Institut Pertanian Bogor Press Darmaga.. Darmawijaya 2000. Dasar-Dasar Teori Bagi Penelitian Tanah dan Pelaksanaan Penelitian. Yogyakarta: UGM Press. Hanafiah K2007. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hardjowigeno S 2003.Ilmu Tanah. Jakarta: Akademika Presindo. Herlambang J 2000.Peranan Berbagai Jenia Vegetasi Sehingga Tanaman Pagar dalam Menekan Aliran Permukaan dan Erosi Tanah Dilahan Kritis. J Pertanian dan Peternakan Vol.1 No.1 Hal 10-19. Moeliono M 2009. Desentralisasi Tata Kelola Hutan Politik, Ekonomi dan Perjuangan untuk Menguasai Hutan di Kalimantan Indonesia. Jakarta: Harapan Prima. Mu’in I 2004.Pengetahuan Sosial Geografi. Jakarta: Grafindo. Mukhid S 2010. Pengaruh Pemberian Lapisan Lempung Terhadap Peningkatan Lengas Tanah Pada Lahan Berpasir. Info Perpustakaan : Jurnalsaint dan Teknologi Notohadiprawiro T 2000.Ekologi Tanah. Yogyakarta: Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada. Pramono J, Seno Basuki dan Widarto 2005. Upaya Peningkatan Produktivitas Padi Sawah Melalui Pendekatan Pengolahan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu. J Penelitian Agronomi Vol.7 (1): 1-6. Raharjo P D 2012. Perekaman Visual Profil Tanah dan Objek Mikroskop dengan Menggunakan Teknologi Fotografi. Program Studi Manajemen Sumberdaya Lahan Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Setyowati D L 2007. Sifat Fisik Tanah dan Kemampuan Tanah Meresapkan Air Pada Lahan Hutan, Sawah, dan Permukiman. JGeografi Vol.4 No.2 Hal 4. Soil survey staff 2004. Kunci Taksonomi tanah edisi Kedua. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor: Badan Penelitian dan pengembngan Pertanian. Supriyono, et al 2009Kandungan C-Organik dan N-Total pada Seresah dan Tanah pada 3 Tipe Fisiognomi (Studi Kasus di Wanagama I, Gunung Kidul, DIY). J Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 p: 49-57. Sutanto R 2002.Pertanian Organik Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Yogyakarta: Kanisius.
  • 77. 77 Sutanto R 2005.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta: Kanisius Suwardi dan Hidayat W 2000. Penuntun Praktikum Morfologi dan Klasifikasi Tanah. Bogor: Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Utoyo B2007.Geografi Membuka Cakrawala Dunia. Bandung: PT Setia Purnama. Yani A2006.Geografi,menyingkap fenomena geosfer. Jakarta: PT. Grafindo media Pratama.