Your SlideShare is downloading. ×
Bab 1 konsep akuntansi syariah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Bab 1 konsep akuntansi syariah

896
views

Published on


0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
896
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
44
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. AKUNTANSI SYARIAH KONSEP DAN SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH Dosen Pengasuh H.M. TAJUS SUBQI, S.E., M.M. FAKULTAS SYARIAH PRODI S-1 MUAMMALAH INSTIKA GULUK-GULUK SUMENEP 1
  • 2. A. KONSEP AKUNTANSI SYARIAH Inti dan Tujuan Studi Akuntansi Islam Studi disini sangat berkaitan dengan kajian-kajian ideologi Islam, serta penetapan kaidah-kaidah dasar akuntansi menurut Islam. Juga berkaitan dengan studi-studi tentang implementasi ide-ide itu pada jaman modern, terutama di perusahaan atau lembaga-lembaga yang akan menerapkan hukum Islam dalam transaksinya, seperti bank-bank Islam, perusahaan-perusahaan asuransi Islam, serat lembaga- lembaga investasi dan permodalan islami. 2
  • 3. Kajian ini dimaksudkan: 1. Mengungkap inti konsep akuntansi Islam, serta menjelaskan kemampuan dan peranannya dalam berbagai krisis yang terus menerus 2. Menyelesaikan persoalan-persoalan akuntansi yang meluas di masyarakat 3. Membuktikan bahwa syariat Islam telah mencakup kaidah-kaidah akuntansi yang selama ini belum diketahui oleh pakar akuntansi modern 3
  • 4. Manfaat dan Signifikansi Studi Akuntansi Islam 1. Menunjukkan bahwa Islam itu meliputi Agama, negara, ibadah dan muamalah, yang mengatur aturan-aturan universal, yang meliputi seluruh fenomena kehidupan, yang mengatur urusan-urusan keduniaan dan akhirat. Juga tidak bertentangan sama sekali dengan lingkungan, waktu, situasi dan kondisi. 2. Mengemukakan pokok-pokok pikiran akuntansi yang islami serta menjelaskan dasar-dasar dan kaidah-kaidah pokoknya yang terpenting, dengan cara membandingkannya dengan kaidah akuntansi positif. 4
  • 5. 3. Sebagai bantahan terhadap orang-orang yang ragu terhadap Islam, dan orang-orang yang menolak untuk berpegang kepada kaidah-kaidah dasar Islam. 4. Bertambah antusiasnya para pemimpin negara-negara Islam dan Arab dalam merealisasikan hukum Islam 5
  • 6. Metode Studi Akuntansi Islam 1. Metode Istinbath (Eduksi) yaitu menyimpulkan dari sumber-sumber hukum Islam yang mukhtamat  Al-Qur’an, yaitu undang-undang Islam, yang terkandung di dalamnya hukum-hukum ibadah dan muamalah  As-Sunnah, yaitu sebagai penjabar, penjelas, dan perinci hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an 6
  • 7.  Ijtihad-ijtihad ahli fiqih dan ulama untuk meletakkan undang-undang dan peraturan-peraturan yang lebih rinci yang selalu disesuaikan dengan waktu dan tempat  Hasil-hasil praktek empirik sejak awal berdirinya Daulah Islamiah.  Kebiasaan yang sedang berlaku di masyarakat dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat Islam 7
  • 8. 2. Metode Tahili (Analitis) yaitu membandingkan kaidah-kaidah dan dasar-dasar akuntansi islami dengan teori-teori akuntansi positif, dengan membahas segi-segi persamaan dan perbedaannya. 3. Metode Tathbiqi (Aplikasi) yaitu membahas segi-segi implementasi terhadap dasar- dasar dan kaidah-kaidah akuntansi Islam di lingkungan perusahaan atau lembaga-lembaga yang ingin mengaplikasikan syariat Islam, serta pembahasan terhadap kendala-kendala yang kadangkala menghambat proses pertumbuhan dan perluasan implementasi tersebut 8
  • 9. Persamaan Akuntansi Syari’ah dengan Akuntansi Konvensional Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal sebagai berikut: a. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi; b. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan; c. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal; d. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang; e. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan; g. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan. 9
  • 10. 5. Perbedaan Akuntansi Syari’ah dengan Akuntansi Konvensional menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut: a. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok (kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas; b. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap (aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barang-barang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock), selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang; 10
  • 11. c. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagai sumber harga atau nilai; d. Konsep konvensional mempraktikkan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin, sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan bahaya dan resiko; 11
  • 12. e. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok) dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau dicampurkan pada pokok modal; 12
  • 13. f. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli, sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata laba itu diperoleh. 13
  • 14. B. SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH Hal-hal yang perlu dikemukakan disini adalah 1. Pengaruh Islam terhadap perkembangan akuntansi pada masa Nabi Muhammad SAW, masa kekhalifahan dan masa sekarang 2. Memahami dasar pemikiran yang digunakan oleh berbagai pakar dalam mengembangkan teori dan praktik akuntansi syariah 14
  • 15. Sebelum berdirinya peradaban Islam, hanya ada dua peradaban besar yaitu bangsa romawi dan bangsa persia. Pada saat itu telah digunakan akuntansi dalam bentuk perhitungan barang dagangan oleh para pedagang. Dari sejak pergi berdagang sampai pulang kembali (Adnan dan Labatjo, 2006). Perhitungan dilakukan untuk mengetahui perubahan- perubahan, untung dan rugi. Selain itu orang yahudi banyak melakukan perdagangan menetap dan mencatat piutang mereka (Syahatah, 2001). Pada masa Rasulullah praktik akuntansi mulai berkembang setelah ada perintah Allah melalui Alqur’an untuk mencatat transaksi tidak tunai (Alqur’an 2:282) dan membayar zakat (Alqur’an 2:43) 15
  • 16. Kondisi setelah berdiri dan berkembangnya Pemerintahan Islam Penyebaran Islam telah memperluas penggunaan angka arab (ditandai dengan adanya angka nol) ke berbagai wilayah di dunia. Kewajiban mencatat transaksi tidak tunai (lihat QS 2:282) telah mendorong umat Islam peduli terhadap pencatatan dan menimbulkan tradisi pencatatan transaksi dikalangan umat. Ini juga mendorong berkembangnya partnership. 16
  • 17. Kewajiban membayar zakat telah: mendorong pemerintah Islam untuk membuat laporan keuangan Baitul Maal secara periodik, dan Mendorong pedagang Muslim untuk mengklasifikasikan hartanya sesuai ketentuan zakat dan membayarkan zakatnya jika telah memenuhi nishab (batas minimal kena zakat) dan haul (1 th) 17
  • 18. Peran akuntan menjadi penting dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan kekayaan pemerintah dan pedagang. “… . he who learn accounting will make an appropriate decision …This means that the trader or any other person cannot express an appropriate opinion or make the right decision without the assistance of the information recorded in the books” Imam Ash-Shafi’ie dalam Shahata (1993) 18
  • 19. Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam Zaid (2000) menyatakan bahwa pada zaman Rasululullah cikal bakal pengembangan akuntansi dimulai dari fungsi-fungsi pemerintahan agar mencapai tujuannya, dan penunjukkan orang-orang yang kompeten. Hawary (1988) mengungkapkan bahwa pemerintahan Rasulullah memiliki 42 pejabat yang digaji yang terspesialisasi dalam peran dan tugas tersendiri. 19
  • 20. Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam Perkembangan pemerintahan Islam hingga meliputi Timur Tengah, Afrika dan Asia di zaman Khalifar Umar bin Khatab, telah meningkatkan penerimaan dan pengeluaran negara. Para sahabat merekomendasikan perlunya pencatatan untuk pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran negara Khalifah Umar Bin Khatab mendirikan lembaga yang bernama Diwan (dari kata dawwana=tulisan) 20
  • 21. Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam Reliabilitas laporan keuangan pemerintahan dikembangkan oleh Kalifah Umar bin Abdul Aziz (681- 720M) dengan kewajiban mengeluarkan bukti penerimaan uang (Imam, 1951) Kalifah Al Waleed bin Abdul Malik (705-715 M) mengenalkan catatan dan register yg terjilid dan tidak terpisah seperti sebelumnya (Lasheen, 1973) 21
  • 22. Praktek Akuntansi Pemerintahan Islam Evolusi perkembangan pengelolaan buku akuntansi mencapai tingkat tertinggi pada masa Daulah Abbasiah. Akuntansi diklasifikasikan pada beberapa spesialisasi a.l: akuntansi peternakan, akuntansi pertanian, akuntansi bendahara, akuntansi konstruksi, akuntansi mata uang, pemeriksaan buku (auditing) (Al-Kalkashandy, 1913) dan sistem pembukuan menggunakan model buku besar. 22
  • 23. Buku Besar Jaridah Al-Kharaj (merupakan pembukuan pemerintah Terhadap hutang pada individu). Jaridah An Nafaqat (merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat pengeluaran negara). Jaridal AL Mal (merupakan pembukuan yang digunakan untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran zakat). Jaridah Al Musadareen (merupakan pembukuan yang Digunakan penerimaan sita/denda tidak sesuai syariah) 23
  • 24. Berbagai laporan akuntansi yang ikut dikembangkan pada masa Daulah abbasiah ** Laporan Al Khitmah (menunjukkan total pendapatan dan pengeluaran yang dibuat setiap bulan (Bin Jaffar, 1981 dalam zaid, 2001). Al Khitmah Al Jame’ah (Laporan Keuangan komprehensif Berisikan laporan laba rugi dan neraca yang dilaporkan Pada akhir tahun. Dalam perhitungan dan penerimaan zakat. Utang zakat Diklasifikasikan dalam tiga (3) laporan keuangan yaitu : collectable debts, doubtful debts, uncolectable debts (Lasyin, dalam zaid, 2001) 24
  • 25. Hubungan peradaban Islam dengan buku Pacioli ** Luca Pacioli (1494) menerbitkan buku dengan judul Summa de Arithmetica Geometria, Proportioni et Proportionalita . Buku tersebut membahas lima bagian yang banyak membahas tentang ilmu Matematika. Salah satu bab membahas tentang pembukuan yg dilakukan di Venice lebih dari 200 thn sebelumnya Dan masih digunakan pada masa itu. Pada masa itu metode ini dikenal dengan metode Venice. Melalui buku tersebut Pacioli dianggap sebagai orang pertama yang menggagas tata buku berpasangan ( double entry Bookkeeping ). 25
  • 26. Sebuah sistem baru yang dianggap sebagai revolusi dalam seni pencatatan dalam bidang ekonomi dan Bisnis. Pacioli kemudian disebut “Bapak Akuntansi”. Tapi buku Summa de arithmetic ini menimbulkan banyak pertentangan dikalangan para peneliti. Have (1976) dalam Zaid (2001) “ perkembangan akuntansi tidak Terjadi di Itali kuno” Zaid (2001) “ Pacioli bukanlah penemu melainkan Pencatat kejadian pada saat itu ” Belkaoui (2000) “ Pacioli bukanlah penemu double Entry bookkeping” 26
  • 27. Kemiripan Praktek akuntansi Kekalifahan Islam dengan buku Pacioli Istilah Zornal (sekarang journal) telah lebih dahulu digunakan oleh kekhalifahan Islam dengan Istilah Jaridah untuk buku catatan keuangan Penggunaan kalimat “In the name of God” diawal buku catatan keuangan, telah lebih dahulu digunakan oleh kekhalifahan Islam dengan kalimat “In the name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful” Double Entry yang ditulis oleh Pacioli, telah dipraktikkan dalam pemerintahan Islam 27
  • 28. Dalam sejarah Islam, lebih dari satu abad sebelum buku Pacioli diterbitkan, telah ada manuskrip tentang akuntansi Yang ditulis oleh Abdullah bin Muhammad bin Kiyah Al Mazindarani dengan judul Risalah Falakiyah Kita As Siyaqaat Pada tahun 1363 M. Antara lain : 1. Harus mencatat pemasukan di halaman sebelah Kanan dengan mencatat sumber pemasukannya. 2. Harus mencatat pengeluaran dihalaman sebelah Kiri dan menjelaskan pengeluaran tsb. 28
  • 29. Pendekatan-Pendekatan dalam Mengembangkan akuntansi Syariah  Pendekatan berbasis Akuntansi Kontemporer (induktif)  Pendekatan deduktif dari ajaran Islam  Pendekatan hybrid 29
  • 30. Pendekatan berbasis Akuntansi Kontemporer (Induktif)  Pendekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan barat yang sesuai dengan organisasi bisnis orang Islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah.  Tujuan akuntansi Islam berdasarkan pendekatan ini adalah untuk pengambilan keputusan (decision usefulness) dan memelihara kekayaan institusi (stewardship). 30
  • 31. Pendekatan Induktif Argumen yang mendukung: Pendekatan ini dapat diterapkan pada masyarakat dan relevan dengan institusi yang memerlukan ( Rashid, 1987) Sesuai dengan prinsip Ibaha ( Abdelgader, 1994) Argumen yang menentang: Ini tidak bisa diterapkan pada masyarakat yang kehidupannya mesti berlandaskan pada wahyu. (Gambling & Karim, 1991) Ini merusak karena mengandung asumsi yang tidak Islami (Anwar, 1987) 31
  • 32. Pendekatan Deduktif dari ajaran Islam Adnan & Gaffikin (1997) serta Triyuwono (2000) berpandangan bahwa tujuan akuntansi syariah adalah pemenuhan kewajiban zakat (pertanggungjawaban melalui zakat) Pendekatan ini diawali dengan menentukan tujuan berdasarkan prinsip Islam yang terdapat dalam Alqur’an dan Sunah. Pendekatan deduktif dipelopori oleh beberapa pemikir akuntansi syariah antara lain Iwan Triyuwono, Akhyar Adnan, Gaffikin dan beberapa pemikir lainnya. 32
  • 33. Pendekatan Deduktif Argumen yang mendukung: ini akan meminimalisir pengaruh pemikiran sekular terhadap tujuan dan akuntansi yang dikembangkan (Karim ,1995) Argumen yang menentang: pendekatan ini sulit dikembangkan dalam bentuk praktisnya (Rashid, 1987) 33
  • 34. Pendekatan Hybrid Pendekatan ini didasarkan pada prinsip syariah yang sesuai dengan ajaran Islam dan persoalan masyarakat yang akuntansi syariah mungkin dapat membantu menyelesaikannya (Hameed, 2000) Tujuan akuntansi syariah dalam pendekatan ini menurut Hameed adalah mewujudkan pertanggungjawaban Islam. 34
  • 35. Penerapan Pendekatan Hybrid Pendekatan hybrid secara parsial telah diterapkan di lingkungan beberapa perusahaan konvensional. Hal ini dapat dilihat dari laporan keuangan dan non keuangan perusahaan maupun disclosure perusahaan yang memperhatikan tidak hanya masalah ekonomi melainkan juga masalah sosial dan lingkungan. Lembaga yang memperhatikan ini adalah GRI dan ACCA.  GRI bergerak dalam mengkaji dan membuat standar pelaporan perusahaan dengan konsep triple bottom line (ekonomi, sosial dan lingkungan) (lihat www.globalreporting.org )  ACCA adalah organisasi profesi akuntan di UK yang banyak mendorong pengungkapan lebih luas hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup. 35
  • 36. Penerapan Pendekatan Hybrid Pendekatan hybrid mengapresiasi apa yang telah dikembangkan di Barat, dan menganggap itu perlu diaplikasikan dalam akuntansi syariah (Yaya & Hameed, 2003) Aspek selanjutnya yang perlu dilakukan oleh mengembangkan triple bottom line (economic, sosial, environmental) menjadi four bottom line (economic, sosial, environmental & syariah compliance) (Yaya & Hameed, 2003) 36

×