Tugas matakuliah pengantar ilmu hukum

1,797 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,797
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
17
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas matakuliah pengantar ilmu hukum

  1. 1. TUGAS MATAKULIAH PENGANTAR ILMU HUKUMKarni Ilyas: Bismar Gemar Pakai Istilah BarangBesar Kecil NormalTEMPO.CO, Jakarta - Ternyata sosok yang gemar menggunakan istilah "barang" bukan SutanBhatoegana seorang. Pemimpin RedaksiTVOne Karni Ilyas mengatakan mantan hakim agung BismarSiregar memiliki kegemaran serupa. Bedanya, Bismar gemar menggunakan istilah "barang" ketikamenangani kasus pelecehan seksual."Saya ingat sekali Bismar suka menggunakan kata barang ketika menangani kasus pelecehan seksual,"kata Karni ketika dihubungi Tempo, Kamis, 19 April 2012.Karni menyatakan salah satu kasus yang dia ingat Bismar menggunakan kata barang adalah kasuspelecehan seksual di Medan. Dalam kasus itu, Bismar menggunakan istilah barang untuk badanperempuan yang dilecehkan agar sang pelaku bisa dikenai pasal penipuan."Jadi, perempuan dan pria dalam kasus itu sesungguhnya saling suka. Namun, karena sang priakemudian meninggalkan (menipu) perempuan yang telah dipakai, yang perempuan menuntut dia. Nah,Bismar kemudian menggunakan istilah barang untuk tubuh perempuan itu agar kasusnya bisa diusutsebagai kasus penipuan," ujar Karni sambil tertawa.Karni mengaku sempat memperingatkan Bismar bahwa ia bisa saja dimanfaatkan kalau terus-terusanmenggunakan istilah barang dalam kasus pelecehan seksual. Namun, ujar Karni, Bismar justru tetappercaya diri menggunakan istilah barang itu.Menurut Karni, Bismar adalah orang yang peduli terhadap keadilan dan pluralitas. Kata Karni, Bismarmenghormati orang dari berbagai suku ataupun ras. "Contohnya, terkadang ia suka melanjutkanucapanassalamualaikum dengan ucapan halleluyah," ujar Karni.Mantan hakim agung Bismar Siregar meninggal hari ini pukul 12.25 ini. Ia mengembuskan nafas terakhirsetelah terbaring koma selama empat hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Rencananya,jenazah dimakamkan di TPU Jeruk Purut.Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2012/04/19/063398329/Karni-Ilyas-Bismar-Gemar-Pakai-Istilah-Barang. Dikutip (di download) pada tanggal 2 Nopember 2012 pukul 12.15 WIB.
  2. 2. Bismar Siregar dan Hukum IslamDiterbitkan April 30, 2012 Artikel Pengamat DitutupKaitkata:Bismar Siregar dan Hukum Islam, M Bambang PranowoOleh M Bambang PranowoBismar Siregar, pendekar hukum Indonesia, telah meninggalkan kita, bangsa Indonesia, untuk selama-lamanya, Kamis (19/4) pekan lalu di Jakarta.Bagi masyarakat hukum di Indonesia, sosok pria kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 15 September 1928,ini menarik karena selama menjadi hakim, beliau telah memutuskan perkara dengan pertimbanganpertimbangan yang “tidak biasa”dilakukan oleh penegak hukum saat itu. Bagi Bismar, keputusan hakimharus ditetapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan keadilan yang komprehensif: tidak hanyamempertimbangkan fakta hukum yang terjadi, tapi juga pertimbangan hati nurani.Setiap memutuskan perkara, Bismar selalu bertanya kepada hati nuraninya, apakah orang yang akandivonisnya jahat atau tidak. Setelah itu Bismar akan mencari pijakan hukum untuk melatarbelakangikeputusannya. Lebih jauh lagi,tidak hanya nurani dan UU, Bismar juga akan mencari rujukan Alquranuntuk memperkuat keputusan hukumnya. Bagi Bismar, hati nurani, Islam dengan Alquran, merupakanrujukan hukum yang final dalam mempertimbangkan keputusan hukumnya.Meski demikian, sebagai seorang hakim yang berkedudukan di Indonesia, Bismar pun tetapberpegangan pada UU yang berlaku di negaranya. Bismar mencoba menafsirkan dan mengakomodasipijakan-pijakan hukum tersebut untuk kemudian “menyintesiskannya” dalam bentuk ketetapan hukumyang diputuskan hakim. Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, Bismar selalu menyatakan bahwahukum yang tertinggi adalah hukum Allah. Keadilan yang tertinggi juga keadilan Allah.Kendati demikian, karena kita hidup dalam dunia yang menggunakan hukum positif yang dibuat olehmanusia, tugas hakim adalah bagaimana mengimplementasikan hukum-hukum tersebut agarmendapatkan keadilan secara maksimal dan tidak bertentangan dengan esensi keadilan yang inginditegakkan Allah. Barangkali, dalam konteks inilah, ketika menjabat Ketua Pengadilan Tinggi Medan(1983), Bismar pernah menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepada pria yang menghamili seorangperempuan yang kemudian tidak jadi dinikahinya. Keputusan Bismar tersebut dianggap kontroversialkarena alasan penghukuman itu adalah si pria melakukan penipuan.
  3. 3. Bismar menafsirkan bahwa “kemaluan perempuan sebagai barang yang berharga” dan pria yang tidakbertanggung jawab tersebut telah “mengambil” barang tersebut dengan janji-janji yang kemudian tidakditepatinya. Meski keputusan Bismar ini akhirnya dibatalkan Mahkamah Agung karena alasannyadianggap aneh dan tidak tepat, Bismar telah menunjukkan komitmennya untuk selalu mengikutituntunan hati nurani dan agamanya untuk menghukum si pria yang tidak bertanggung jawab itu.Apa yang diputuskan Bismar merupakan hasil ijtihad hukum yang luar biasa di tengah sistem hukumIndonesia yang masih mengikuti paradigma Barat (yang menganggap “hubungan badan yang dilakukansuka sama suka” tanpa menikah tidak bisa dianggap melanggar hukum). Putusan hakim Bismar itumemang akhirnya dianulir. Tapi,cobalah tanyakan kepada setiap orang, khususnya perempuan di manapun di seluruh dunia, esensi hukum yang menjatuhkan vonis tiga tahun penjara kepada pria ingkar janjitersebut sebenarnya lebih mendekati keadilan.Sayangnya, dalam konteks hukum positif, nurani dan keadilan itu bisa dianulir dengan alasan—yangironisnya—konon karena pertimbangan hukum itu pula! Dalam kasus lain hakim Bismar juga pernahmenjatuhkan hukuman mati kepada Albert Togas (1976). Albert, karyawan PT Bogasari, terbuktibersalah karena membunuh Nurdin Kotto, staf ahli PT Bogasari,dengan cara mutilasi. Padahal Nurdintelah banyak membantu Albert sebelumnya ketika dia masih jadi pengangguran.Dalam perenungan Bismar, orang seperti Albert adalah manusia yang sangat jahat, yang tidak punyarasa perikemanusiaan dan tidak tahu membalas budi seseorang. Karena itu, manusia jahat seperti Alberthanya pantas untuk dihukum mati karena bisa merusak struktur bangunan moral dan kemanusiaan dimasyarakat. Dalam Alquran disebutkan bahwa orang yang membunuh orang yang tidak bersalah samaartinya dengan membunuh seluruh umat manusia (QS 5:32).Dalam ajaran moral Kong Hu Cu juga disebutkan bahwa orang yang tidak tahu membalas budi, apalagimembalas pemberian susu dengan air tuba (racun), moralnya jauh lebih hina dari anjing. Orang sepertiitu, kata Kong Hu Cu,pantas untuk disingkirkan. Keputusan Bismar memang tampak kejam.Tapi, lebihkejam lagi jika orang jahat dan tidak punya rasa kemanusiaan seperti Albert dibiarkan atau dihukumringan karena hal itu bisa merusak bangunan moral dan kemanusiaan. Hal yang sama terlihat ketikaBismar menghukum 10 kali lipat dari tuntutan jaksa terhadap pengedar narkoba.
  4. 4. Dua terdakwa pengedar narkoba yang dituntut masing-masing 10 dan 15 bulan penjara oleh jaksadijatuhkan vonis 10 dan 15 tahun oleh Bismar. Saat itu keputusan Bismar dianggap kontroversial karenamenghukum puluhan kali lipat dibanding tuntutan jaksa.Tapi, coba bayangkan sekarang,seandainyahakim memutuskan hukuman seperti apa yang dilakukan Bismar terhadap pengedar narkoba, niscayakondisi peredaran narkoba di Indonesia tidak seperti sekarang. Indonesia sekarang ini telah menjadisurga pengedar narkoba karena hukumnya terlalu lemah dan tidak menimbulkan efek jera terhadapmafia obat terlarang yang telah merusak moral bangsa.Dengan demikian, hakim Bismar dengan hati nuraninya yang dilandasi ajaran Islam telah memberikanwarning kepada bangsa Indonesia akan bahaya narkoba di masa depan jika penegak hukum tidakbersikap tegas dan menghukum seberat-beratnya terhadap pengedar narkoba! Saat ini peringatanBismar yang diabaikan tersebut telah menjadi kenyataan. Bismar kini telah tiada. Sebagai hakim yanglurus dan tidak bisa dibeli, Bismar tetap tegak dengan pendiriannya dalam memutuskan hukuman. BagiBismar, hakim adalah perpanjangan tangan Tuhan di muka bumi.Dengan demikian, kata Bismar, kerusakan sebuah negara bergantung hakimnya. Jika hakimnya maudisuap dan bisa dibeli, niscaya Allah akan menghancurkan bangsa tersebut. Sebaliknya jika hakimnyalurus dan adil, rezeki dan kemakmuran akan menyertai bangsa tadi. Di mana posisi bangsa Indonesiasaat ini? Anda pasti tahu jawabannya! (Sumber: Seputar Indonesia, 27 April 2012).Tentang penulis:M Bambang Pranowo, guru Besar UIN Ciputat; Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian.Sumber: http://gagasanhukum.wordpress.com/2012/04/30/bismar-siregar-dan-hukum-islam/ Dikutip(di download) pada tanggal 2 Nopember 2012 pukul 12.18 WIB.
  5. 5. Kamis, 10 November 2011 09:40 Heroisme Juris: Lari dari Kegilaan“Met juristen, geen revolutie maken.” (Soekarno) “Tidak ada revolusi bersama ahli hukum (juris)”.Terjemahan bebas atas kutipan Soekarno ini menyiratkan karakteristik ahli hukum yang terlalu hati-hati,konservatif dalam mengambil keputusan, atau bahkan takut pada perubahan yang radikal. Ahli hukumseakan-akan dibatasi oleh silogisme dan deduksi logis yang tertutup dalam konsep-konsep, doktrin-doktrin, atau undang-undang. Ketika seorang juris keluar dari batasan-batasan itu, ia dapat dicap tidaktaat asas.Kondisi ini menjadikan perubahan yang drastis adalah kemustahilan dalam alam pikiran ahli hukum. Ahlihukum, pada akhirnya, hanya mengulang penerapan hukum dengan mengatasnamakan asas-asas.Padahal sejatinya, yang baku adalah asas. Sedangkan penafsiran atas keadaan-keadaan yang barubersifat dinamis.Para juris pada saat ini dapat dikatakan sedang terjangkit kegilaan, ketika mereka terus menerus taatasas demi prosedural belaka, tanpa adanya terobosan, dan pada saat yang bersamaan mengharapkanterwujudnya keadilan yang sejati. Padahal, menurut Albert Einstein, melakukan hal yang samaberulangkali dan mengharapkan hasil yang berbeda adalah sebuah kegilaan.Lepas dari KegilaanBismar Siregar, seorang hakim di Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, pernah menerobos kegilaan ini ditahun 1983. Ia menganalogikan kehormatan perempuan sebagai barang seperti tertulis dalam Pasal 378KUHP mengenai penipuan. Bagi Bismar Siregar, kegilaan pada saat itu tersebut perlu untuk memberikankeadilan yang sesuai dengan rasa keadilan dan bukan sekedar keadilan formal (Tempo, 15 Oktober1983).Upaya Bismar Siregar melepaskan diri dari kegilaan justru dianggap “gila”. Bahkan OC Kaligismenertawakan interpretasi Bismar Siregar (Tempo, 15 Oktober 1983). Hal ini dapat dimaklumi karenainterpretasi analogi “diharamkan” dalam hukum pidana. Ditambah pula anggapan bahwa menyamakankehormatan perempuan dengan barang adalah pelecehan terhadap kehormatan perempuan itu sendiri.
  6. 6. Mungkin bagi seorang OC Kaligis logika yang dibangun Bismar adalah logika gila karena menyamakankehormatan perempuan dengan barang.Upaya lain untuk lepas dari kegilaan ahli hukum bisa dilihat dari kiprah Mahkamah Konstitusi (MK). MK,lembaga yang lahir dari Amandemen UUD 1945, tampil menjadi lembaga yang menegakkan keadilansubstansial, dan melakukan terobosan hukum untuk menyelamatkan hak konstitusional warga negara.Salah satu terobosannya, penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pada Pemilu 2009 sebagai penggantibagi warga yang tidak memiliki kartu pemilih dan tidak tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap. MKmelepaskan diri dari kegilaan dalam sistem pemilu kita selama ini yang menggunakan acuan daftarpemilih dalam memberikan hak konstitusional warga negara dalam menggunakan hak pilih.Upaya dari Bismar Siregar dan MK menegaskan bahwa heroisme juris dalam dunia hukum kita justrumencuat ketika mereka lepas dari kegilaan; kegilaan akan logika prosedural dan formal yang telahdibangun selama bertahun-tahun. Meski usaha untuk lepas dari kegilaan, justru kadang dianggap gilaoleh para penganjur kepastian hukum dan formalisme hukum.Pendidikan HukumLalu, bagaimana heroisme juris layaknya Bismar Siregar dan hakim-hakim MK dapat dibangun? It’s allabout value. Calon juris di masa datang harus ditanamkan nilai yang tak sekedar nekat terobos sana-sini.Yang dibutuhkan adalah penanaman akan nilai-nilai keadilan substansial kepada calon juris. Pencariankeadilan oleh calon juris harus disadari bukan hanya proses deduksi logis dari peraturan perundangankepada fakta yang ada.Usaha untuk mencetak heroisme juris ini berawal pada kurikulum pendidikan hukum. Pendidikan hukumharus mampu menanamkan nilai-nilai yang lebih emansipatoris, sekaligus memiliki paradigma yang jelasdan berpihak kepada pencari keadilan substansial.Sayangnya, pendidikan hukum saat ini tak memiliki paradigma seperti itu. Paradigma yang dibanguntetaplah positivisme, dengan berusaha membebasnilaikan hukum. Hukum menjadi berjarak dengan parapencari keadilan. Sejak era otonomi kampus, beberapa fakultas hukum malah lebih pusing memikirkanbagaimana kurikulumnya dapat sinergis dengan pasar kerja.Jika demikian adanya, maka juris Indonesia di masa datang adalah juris berparadigma pasar. Hukumyang dipakai adalah hukum permintaan dan penawaran. Tolok ukur keadilannya pun menjadi sekedarmasalah siapa mendapat apa. Bagaimana mungkin mengharapkan heroisme dari juris seperti itu?Karena itu, revolusi pendidikan hukum adalah agenda utama. Revolusi pendidikan hukum niscaya dapatmencetak juris yang lepas dari kegilaan. Inilah tahap awal dari pembibitan mental heroisme juris dalampencarian keadilan dengan berusaha lepas dari kegilaan berdalih kepastian hukum.Ketika revolusi pendidikan hukum dimulai maka generasi berikutnya akan memulai perubahan radikaldalam dunia hukum. Dan ketika itu pula, kata-kata Soekarno akan dijungkirbalikkan: met juristen,revolutie maken.Sumber: http://www.fokal.info/fokal/component/fokalmagazine/article/382-heroisme-juris-lari-dari-kegilaan.html. Dikutip (di download) pada tanggal 2 Nopember 2012 pukul 12.24 WIB.
  7. 7. Kaligis: Bismar Siregar Hakim Bersih, Profesional, dan TegasRay Jordan - detikNews foto: Bismar SiregarJakarta - Pengacara senior OC Kaligis punya kenangan tersendiri dengan sosok Bismar Siregar, kala diamasih menjadi seorang pengacara muda. Bagi Kaligis, Bismad adalah sosok hakim tegas dan profesional."Pertama sebagai cendekiawan, kedua sebagai hakim dia benar-benar profesional, saya ingat waktu diajadi hakim di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, nggak pernah mesti ragu-ragu ambil keputusan,karena dia cendekiawan dan pertimbangan hukumnya bagus. Makanya lihat aja pasti banyak yangdatang karena dia orang yang baik dan sebagai hakim juga namanya bersih," kata kaligis saat melayatjenazah Bismar di rumah duka, Jl Cilandak I No 25 A, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (19/4/2012).Kaligis mengganggap Bismar sebagai sosok sahabat. Dia yakin banyak orang menganggap Bismarsahabat. Kaligis pun mencontohkan sebuah kasus yang pernah diputus Bismar."Saya kira dia memutuskan ada pertimbangan hukum, jadi ada legal reason. Pernah dulu pasal 378 diabilang barang dari wanita itu bisa disita. Tapi tujuannya itu kan bagus bahwa kalau yang begituan itudikenakan tindakan pidana, kalau zinah atau segala macam. Terus saat ditanya bagaimana caranya, sitaaja. Lalu saya komentari kalau disita itu mau disimpan dimana? Nah dia bilang di rumah penyimpananbarang bukti, dan saat kembali ditanyakan siapa yang pegang itu? Tapi ya saya tahu tujuannya itu.Almarhum mau mengatakan kalau itu tindakan pidana," kenangnya.Menurut dia, Bismar menutup usia dengan track record yang sangat baik. "Beliau di Mahkamah Agungkarirnya selesai dengan baik dan nggak ada masalah," pungkasnya.Bismar meninggal pada hari ini pukul 12.20 WIB di RS Fatmawati. Bismar dirawat di rumah sakit pelatmerah sejak Senin 16 April. Dia mendadak pingsan saat melukis di rumahnya.(van/ndr)Sumber: http://news.detik.com/read/2012/04/19/191652/1896754/10/. Dikutip (di download) padatanggal 2 Nopember 2012 pukul 12.38 WIB.

×