Lukisan gua sebagai karya seni religius
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,045
On Slideshare
2,045
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
10
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. Lukisan Gua Sebagai Karya Seni ReligiusMakalah untuk Ujian Akhir Semester Mata KuliahKebudayaan IndonesiaOleh :Irsyad Leihitu1106056674FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYAUNIVERSITAS INDONESIA
  • 2. 1. PENDAHULUANPada umumnya lukisan gua atau biasa disebut juga dengan seni cadas adalahkebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat prasejarah dari seluruh dunia. Di indonesia, senicadas ini berkembang pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, yaitutahap lanjutan dari masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Ciri – cirimanusia yang hidup dimasa ini adalah semi nomaden, dimana manusia prasejarah masa lalumulai hidup semi menetap dan bertempat tinggal di gua – gua alam, tidak seperti dimasa laluyang hidup nomaden dengan mengikuti kemana mangsa atau buruanya pergi. Karenamemiliki waktu luang yang banyak di gua, manusia prasejarah pun mengisi waktu luangnyadengan menumpah kan ide dan ekspresinya melalui lukisan-lukisan yang di buat diataskanvas berupa dinding batu pada gua maupun tebing. Namun, lukisan ini bukan hanyalukisan yang dibuat dengan iseng oleh sang pembuatnya, namun lukisan ini juga mengandungunsur-unsur spiritual dan religus dari yang mereka yakini bahwa terdapat kekuatan besaryang bukan berasal dari dalam diri mereka baik itu alam, hewan, mau pun roh nenek moyangmereka. Hasil-hasil karya yang diciptakan oleh masyarakat masala lalu antara lain adalahberupa cap tangan, hewan – hewan, alat transportasi, maupun gambar manusia itu sendiriyang tentunya sangat bervariasi.2. ISITimbulnya sistem kepercayaan itu ditandai dengan adanya lukisan-lukisan yangterdapat pada dinding-dinding gua. Pada dasarya manusia pada masa prasejarah di dalamtahap berburu dan meramu tingkat lanjut memiliki kepercayaan bahwa terdapat kekuatan lainyang lebih besar dari kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri. Kepercayaan tersebutmereka refleksikan pada lukisan di gua-gua yang disebut rock art. Seni cadas tersebut bisaditemukan pada situs-situs gua yang terdapat di Indonesia. Di Indonesia seni cadas adalahsuatu hasil budaya yang baru dicapai pada masa berburu tingkat lanjut dan ditemukantersebar di daerah Kalimantan, Sulawesi Selatan, Flores, Kep. Maluku, dan Papua.
  • 3. Situs-situs yang terdapat di Sulawesi Selatan adalah kompleks Gua Maros, KabupatenMaros. Kompleks Gua Maros merupakan objek arkeologi yang sering diteliti, bahkan palingbanyak diteliti oleh para ahli yang berasal dari dalam/luar negeri. Selain kompleks Maros, diSulawesi terdapat juga kompleks Pangkajene yang juga memiliki gua-gua yang dilukisan ini.Maros dan Pangkep adalah 2 kabupaten dari 20 kabupaten yang tergabung di wilayahProvinsi Sulawesi Selatan. Di sepanjang jalan yang menghubungkan kedua kabupaten itubanyak ditemukan gua-gua beserta peninggalan-peninggalan yang berupa artefak prasejarah.Gua-gua itu, diantaranya adalah: Leang Pattae, Cacondo, Uleleba, Balisao dan Pattakare. Paraarkeolog yang melakukan penelitian di gua-gua tersebut, khususnya yang ada di KabupatenMaros dan Pangkep, menemukan berbagai peninggalan zaman prasejarah yang tidak hanyaberupa peralatan dari batu dan tulang-tulang, tetapi juga lukisan-lukisan kuno. AnalisisKosasih (1983) menyebutkan bahwa lukisan itu dibuat ketika kehidupan manusia sudahmenetap, karena ketika manusia prasejarah masih nomaden (berpindah-pindah tempat)keselamatan relatif tidak terjamin, sehingga lukisan tidak ditemukan.Sedangkan situs di kepulauan Maluku lukisan dinding gua adalah J. Roder pada tahun1937, walaupun mungkin masyarakat sekitar sudah mengenal sebe sebelum Rodermenemukannya. Roder menemuan lukisan gua sebanyak 100 buah di Pulau Seram, padadinding karang di atas Sungai Tala. Lukisan yang ditemukan berupa gambar-gambar rusa,burung, manusia, perahu, lambang matahari, dan mata.Selain ditemukan di Pulau Seram, diMaluku lukisan cadas juga ditemukan di Kepulauan Kei, pada tebing batu karang denganketinggian 5-10 meter dari atas permukaan laut. Lukisan-lukisan yang ditemukan diKepulauan Kei pada umumnya hanya berupa garis lurus saja, tetapi ada yang diberi warnapada bagian dalamnya, khususnya untuk gambar manusia. Kecuali manusia dengan berbagaiadegan (menari, berperang, memegang perisai, dan jongkok dengan kedua tangan terangkat),ada pula pola topeng, burung, perahu, matahari, dan bentuk geometrik. Gaya lukisan yangditemukan mirip dengan lukisan yang ditemukan di Pulau Seram, Papua Barat, dan Timor,bahkan lukisan di Australia bagian selatan.Di Kampung Dudumahan, pantai utara PulauNuhu Rowa, yang masih satu gugusan dengan Kepulauan Kei, ditemukan lukisan denganpola berbeda jika dibandingkan dengan pola yang pernah dilaporkan Heekeren sebelumnya.Situs lukisan gua di Dudumahan tidak saja menampilkan pola manusia, tetapi juga ikan, kura-kura, topeng, perahu, matahari, dan bentuk geometrik. Salah satu yang dianggap unik adalahpola manusia berjenis kelamin wanita dengan alat kelamin mencolok. Lukisan seperti ini
  • 4. biasanya memiliki makna unsur kesuburan, sama halnya dengan lukisan kelamin perempuandi Gua Wa Bose, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.Gambar 1. Lukisan berupa cap tangan dan matahari dari Kepulauan Kei di MalukuGambar 2 & 3. Lukisan yang menyerupai manusia yang memegang tameng dari KepulauanKei di MalukuSedangkan lukisan gua yang ada di kepulauan Papua pada umumnya mirip denganlukisan-lukisan yang ada di Kepulauaan Kei, meskipun ada beberapa bentuk yang berbedaatau khusus. Misalnya di daerah Kokas, Roder menemukan lukisan cap tangan dan kakidengan latar belakang warna merah. Demikian juga hasil penelitian W.J. Cator di daerahNamatone telah menemukan pola yang sama. Bentuk lain yang dijumpai pada kedua situs iniadalah pola manusia, ikan, kadal dan perahu dengan pola distilir. Lukisan tangan dan kakimenurut cerita setempat, merupakan bekas jejak nenek moyang mereka ketika memasuki guayang gelap, dalam melakukan perjalanan dari arah timur ke barat. Kemudian Salah satu situsdi Desa Marsi adalah Situs Tanjung Bitsyari. Di situs ini ditemukan lukisan antropomorfik,
  • 5. ikan dan titik-titik bewarna merah dan kuning. Sementara itu, motif yang lebih beragamdengan bentuk buaya, sontong, kadal, kuskus, geometris, matuto dan tombak dijumpai diSitus Omborecena, Desa Maimai. Selain itu seni cadas yang terdapat di Papua bagian barat,yakni disekitar Teluk Seireri dan Danau Sentani, telah diteliti oleh K.W. Gailis.Lukisan Cadas ini jika diteliti dengan seksama, hanya memiliki tiga warna yangmasyarakat prasejarah dimasa lalu gunakan, antara lain adalah yang berwarna merah, hitam,dan putih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, perbedaan warna-warna tersebut memilikiurutan waktu. Para ahli menyatakan bahwa lukisan yang berwarna merah adalah lukisan yangpaling tua diantara warna-warna lainya, hal ini dibuktikan menggunakan teknik pertanggalanyaitu C14 atau carbon 14 yang mengambil sisa atau unsur arang yang terdapat pada lukisanuntuk mengetahui umur dari lukisan tersebut. Teknik pertanggalan ini tidak hanya digunakanmenelitik lukisan, tetapi juga untuk menentukan umur temuan-temuan arkeologi lainyaseperti tulang-belulang, fosil kayu, dan lain-lain kecuali batu. Sedangakan lukisan cadas yangberwarna putih adalah lukisan yang memiliki umur yang paling muda diantara kedua warnamerah dan hitam tersebut.