ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI
Filed under: manajemen by Adik — 7 Komentar
20/01/2009
Dalam pengambilan keputusan investasi,...
Discounted cash flow (Internal Rate of Return)
Modified Internal Rate of Return (MIRR)
Profitability Index (PI)
Pay back M...
2. Menitik beratkan maslah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data aliran kas
dari investasi
3. Merupakan pendekatan...
CIF t : aliran kas masuk pada periode t
MIRR : modified IRR
n : usia proyek
k : biaya modal proyek/tingkat keuntungan diin...
1. Kalikan indeks harga dengan aliran kas yang diukur berdasarkan nilai rupiah riil untuk
mendapatkan arus kas dengan nila...
Umur ekonomis 3 th 2 th
Biaya tunai per tahun Rp 30.000.000 Rp 36.000.000
Apabila discount rate yang diperhitungkan 10 % m...
biaya Rp 2.000.000,-. Tingkat pajak yang berlaku 10% dan biaya penggunaan modal
sebesar 15%.
Diminta:
a. Berdasarkan data ...
(NPV), metode
Internal Rate of Return
(IRR), metode
Average Rate of Return
(ARR), dan metode Profitabilitas Indek (PI). Se...
perusahaan.
Analisis rasio mampu menjelaskan suatu kondisi keuangan yang dipakai sebagai
dasar perbandingan dari waktu ke ...
investasi yang umum berlaku, diadakan analisa untuk menentukan beberapa alternatif
pola investasi yang pantas untuk ditera...
nyaman, menarik, dapat digunakan dimana saja, dan terbatasnya sarana telepon,
merupakan peluang yang akan dimanfaatkan dal...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Analisis keputusan

3,489

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
3,489
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
49
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Analisis keputusan

  1. 1. ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI Filed under: manajemen by Adik — 7 Komentar 20/01/2009 Dalam pengambilan keputusan investasi, opportunity cost memegang peranan yang penting. Opportunity cost merupakan pendapatan atau penghematan biaya yang dikorbankan sebagai akibat dipilihnya alternatif tertentu. Misalnya dalam penggantian mesin lama dengan mesin baru, harga jual mesin lama harus diperhitungkan dalam mempertimbangkan investasi pada mesin baru. Dalam prinsip akuntansi yang lazim, biaya bunga modal sendiri tidak boleh diperhitungkan sebagai biaya. Dalam pengambilan keputusan investasi, biaya modal sendiri justru harus diperhitungkan. Analisis biaya dalam keputusan investasi lebih dititikberatkan pada aliran kas, karena saat penelimaan kas dalam investasi memilki nilai waktu uang. Satu rupiah yang diterima sekarang lebih berharga dibandingkan dengan satu rupiah yang diterima di masa yang akan datang. Oleh karena itu, meskipun untuk perhitungan laba perusahaan, biaya diperhitungkan berdasarkan asas akrual, namun dalam perhitungan pemilihan investasi yang memperhitungkan nilai waktu uang, biaya yang diperhitungkan adalah biaya tunai. PAJAK PENGHASILAN Karena keputusan investasi didasarkan pada aliran kas, maka pajak atas laba merupakan unsur informasi penting yang ikut dipertimbangkan dalam perhitungan aliran kas untuk pengambilan keputusan investasi. Jika suatau usulan investasi diperkirakan akan mengakibatkan penghematan biaya atau tanbahan pendapatan, maka disisi lain akan mengakibatkan timbulnya laba diferensial, yang akan menyebabkan tambahan pajak penghasilan yang akan dibayar oleh perusahaan. Oleh karena itu dalam memperhitungkan aliran kas keluar dari investasi, perlu diperhitungkan pula tambahan atau pengurangan pajak yang harus dibayar akibat adanya penghematan biaya atau penambahan pendapatan tersebut dan sebaliknya. KRITERIA PENILAIAN INVESTASI Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Informasi akuntansi dimasukkan dalam suatu model pengambilan keputusan yang berupa kriteria penilaian investasi untuk memungkinkan manajemen memilih investasi terbaik di antara alternatif investasi yang tersedia. Ada beberapa metode untuk menilai perlu tidaknya suatu investasi atau untuk memilih berbagai macam alternatif investasi. Pay back method Average return on investment Present value
  2. 2. Discounted cash flow (Internal Rate of Return) Modified Internal Rate of Return (MIRR) Profitability Index (PI) Pay back Method Dalam metode ini faktor yang menentukan penerimaan atau penolakan suatu usulan investasi adalah jangka waktu yang diperlukan untuk menutup kembali investasi. Oleh karena itu, dengan metode ini setiap usulan investasi dinilai berdasarkan apakah dalam jangka waktu tertentu yang diinginkan oleh manajemen , jumlah kas masuk atau penghematan tunai yang diperoleh dari investasi dapat menutup investasi yang direncanakan. Investas Pay back period = Kas masuk bersih Kelemahan pay back method: 1. Metode ini tidak memeperhitungkan nilai waktu uang. 2. Metode ini tidak memperlihatkan pendapatan selanjutnya setelah investasi pokok kembali. Kebaikan pay back method: 1. Untuk investasi yang besar resikonya dan sulit diperkirakan, maka metode ini dapat mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi. 2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat. 3. Metode ini merupakan alat yang paling sederhana untuk penilaian usulan investasi PV Investasi Pay back period = PV Kas masuk bersih Average Return on Investment Metode ini sering disebut Financial statement method, karena dalam perhitungannya digunakan angka laba akuntansi Rata-rata Laba sesudah pajak Rata-rata kembalian investasi = Rata-rata investasi Kriteria pemilihan investasi dengan metode ini adalah: Suatu investasi akan diterima jika tarif kembalian investasinya dapat memenuhi batasan yang telah ditetapkan oleh manajemen. Kelemahan metode rata-rata kembalian investasi: 1. Belum memperhitungkan nilai waktu uang.
  3. 3. 2. Menitik beratkan maslah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data aliran kas dari investasi 3. Merupakan pendekatan jangka pendek. Present Value Method Teknik net present value (NPV) merupakan teknik yang didasarkan pada arus kas yang didiskontokan. Ini merupakan ukuran dari laba dalam bentuk rupiah yang diperoleh dari suatu investasi dalam bentuk nilai sekarang. NPV dari suatu proyek ditentukan dengan menhitung nilai sekarang dari arus kas yang diperoleh dari operasi dengan menggunakan tingkat keuntungan yang dikehendaki dan kemudian menguranginya dengan pengeluaran kas neto awal. NPV = present value dari arus kas operasi – pengeluaran kas neto awal At Io = nilai investasi atau outlays NPV = -Io + ∑ ————– At = aliran kas neto pada periode t ( 1 + r ) t r = diacount rate t = umur proyek. Jikalau NPV dari suatu proyek positif, hal ini berarti bahwa proyek tersebut diharapkan akan menaikkan nilai perusahaan sebesar jumlah positif dari NPV yang dihitung dari investasi tersebut dan juga bahwa investasi tersebut diharpkan akan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi daripada tingkat keuntungan yang dikehendaki. Discounted Cash Flows Method (IRR) Pada dasarnya metode ini sama dengan metode present value, perbedaanya adalah dalam present value tarif kembalian sudah ditentukan lebih dahulu, sedangkan dalam discounted cash flow justru tarif kembalian yang dihitung sebagi dasar untuk menerima atau menolak suatu usulan investasi. Penentuan tarif kembalian dilakukan dengan metode trial and error, dengan cara sbb; 1. Mencari nilai tunai aliran kas masuk bersih pada tarif kembalian yang dipilih secara sembarang di atas atau dibawah tarif kembalian investasi yang diharapkan. 2. Mengiterpolasikan kedua tarif kembalian tersebut untuk mendapatkan tarif kembalian sesungguhnya. Modified Internal Rate of Return (MIRR) MIRR adalah suatu tingkat diskonto yang menyebabkan persent value biaya sama dengan present value nilai terminal,dimana nilai terminal adalah future value dari kas masuk yang digandakan dengan biaya modal. Nilai terminal CIFt (1 + k ) n-tΣ PV Biaya = = (1 + MIRR )n (1 + MIRR )n dimana:
  4. 4. CIF t : aliran kas masuk pada periode t MIRR : modified IRR n : usia proyek k : biaya modal proyek/tingkat keuntungan diinginkan Nilai terminal : future value dari aliran kas masuk yang digandakan dengan biaya modal/return diinginkan. Profitability Index (PI) PI adalah nilai tunai semua kas masuk yang diterima sesudah investasi awal dibagi dengan investasi awal. Nilai tunai penerimaan sesudah investasi awal PI = Investasi awal Bila ada beberapa alternatif proyek, manajemen sebaiknya memilih proyek yang memiliki PI lebih besar dari satu dan yang paling tinggi. Penilaian Investasi dengan Umur (Usia) Ekonomis Berbeda ¬ Untuk memilih usulan investasi yang memiliki umur ekonomis berbeda dapat dilakukan dengan dua pendekatan: Chain method atau Replacement method dan Equivalent annual cost. ¬ Langkah-langkah chain method: 1. Mencari angka kelipatan persekutuan terkecil yang dapat dibagi oleh kedua umur usulan investasi. 2. Menghitung present value biaya dari masing-masing usulan investasi ¬ Langkah-langkah equivalent annual cost : 1. Menghitung present value dari biaya usulan investasi dengan discount rate tertentu. 2. Mencari annuity factor dari discounted rate yang digunakan untuk menghitung present value investasi yang bersangkutan. 3. Membagi present value masing-masing usulan investasi (poin 1) dengan (poin 2). 4. Usulan investasi yang memiliki biaya ekuivalen tahunan terkecil merupakan usulan yang dipilih. Pengaruh Inflasi pd Capital Budgeting Apabila laju inflasi cukup signifikan, maka perlu diperimbangkan dalam keputusan capital budgeting. Ada dua komponen yang terpengaruh oleh inflasi, yaitu aliran kas masuk dan tingkat penghasilan (rate of return) atau cost of capital yang diinginkan. Oleh karena itu kedua komponen tersebut perlu disesuaikan. Pedoman penyesuaiannya adalah sbb:
  5. 5. 1. Kalikan indeks harga dengan aliran kas yang diukur berdasarkan nilai rupiah riil untuk mendapatkan arus kas dengan nilai nominal. 2. Hitung tingkat penghasilan nominal : (1 + tingkat inflasi ) ( 1 + tingkat penghasilan ) – 1 Soal Konflik NPV dan IRR Suatu perusahaan menghadapi dua pilihan investasi yang sifatnya mutually exclusive, yaitu proyek A dan B. Perkiraan aliran kas neto untuk kedua usulan adalah sebagai berikut: Proyek Aliran kas neto per tahun (Rp) Tahun 0 1 2 3 4 Proyek A (40.000.000) 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 Proyek B (40.000.000) 0 5.000.000 25.000.000 40.000.000 Apabila tingakt pengembalian yang disyaratkan 10%, buatlah keputusan manakah investasi yang layak diterima jika dinilai dengan metoda NPV dan IRR. Analisis Investasi Penggantian Kasus 1 Suatu perusahaan sedang mempertimbangkan penggantian salah satu mesin produksinya dengan mesin yang lebih baru dengan alasan untuk penghematan biaya (efisiensi). Mesin lama mempunyai umur ekonomis 10 tahun dan telah digunakan selama 5 tahun. Informasi tentang kedua mesin tersebut adalah sebagai berikut: Mesin Lama Mesin Baru Harga mesin Rp 160.000.000 Rp 210.000.000 Umur ekonomis 10 th 5 th Nilai sisa Rp 10.000.000 Rp 20.000.000 Harga jual mesin lama Rp 95.000.000 Penghematan penggunaan mesin baru diperkirakan Rp 40.000.000 per tahun. Tingkat keuntungan yang layak adalah Rp 20% dan tingkat pajak sebesar 30%. Apakah sebaiknya perusahaan mengganti mesin lama dengan mesin baru dengan menggunakan metoda NPV dan IRR. Kasus 2 Suatu perusahaan sedang mempertimbangkan membeli mesin baru, yaitu mesinA dan mesin B. Kedua mesin tersebut diharapkan memberikan return yang sama besar. Spesifikasi kedua mesin adalah sebagai berikut: Mesin A Mesin B Harga beli Rp 100.000.000 Rp 80.000.000
  6. 6. Umur ekonomis 3 th 2 th Biaya tunai per tahun Rp 30.000.000 Rp 36.000.000 Apabila discount rate yang diperhitungkan 10 % mesin mana yang akan dipilih. Dampak Inflasi Suatu perusahaan melakukan investasi pada jasa pengakutan. Investasi kendaraan senilai Rp 500.000.000,- dengan umur ekonomis 5 tahun. Kendaraan tersebut didepresiasi dengan garis lurus tanpa residu. Pendapatan rata-rata per tahun sebesar Rp 200.000.000,- dan biaya tunai per tahun Rp 40.000.000,-. Tingkat keuntungan yang dianggap layak adalah 14% dan pajak sebesar 20%. a. Apakah investasi tersebut layak dilakukan apabila dengan kiteria NPV dan IRR b. Apabila tingkat inflasi diestimasi 8% per tahun apakah investasi tesebut juga layak dilakukan. Soal Latihan: 1. Pada awal tahun 2000 manajemen PT Pantang Mundur merencanakan mengganti mesin lama dengan mesin baru. Alasan penggantian ini didasarkan pertimbangan penghematan biaya. Perbandingan biaya mesin lama dengan mesin baru dalam satu tahun adalah sebagai berikut. Keterangan Mesin Lama Mesin Baru Biaya bahan bakar 40.000 lt (premium) Rp 40.000.000 Biaya bahan bakar 30.000 lt (solar) Rp 16.500.000 Biaya pemeliharaan dan operasional Rp 15.000.000 Rp 10.000.000 Harga beli mesin lama adalah Rp 100.000.000 dan akumulasi depresiasinya Rp 80.000.000,-. Taksiran harga jual mesin lama sebesar Rp 15.000.000,-. Harga beli mesin baru ditaksir Rp 120.000.000 dengan umur ekonomis 10 tahun yang akan didepresiasi dengan garis lurus tanpa nilai residu. Tingkat pajak yang berlaku 15% dan tingkat keuntungan yang diharapkan 10%. Diminta: Berdasarkan data tersebut apakah rencana penggantian mesin dapat diterima. 2. PT Maju Terus mempertimbangkan untuk mengganti mesin A. Nilai buku mesin A adalah Rp 4.000.000,- dan memiliki sisa umur ekonomis 4 tahun tanpa nilai residu. Bila mesin A dijual pada saat sekarang, harga pasarnya sebesar Rp 1.000.000,-. Manajemen PT Maju Terus tidak berani membeli mesin baru yang memiliki umur panjang mengingat perkembangan teknologi yang peKsat. Oleh sebab itu manajemen PT Maju Terus mempertimbangkan membeli mesin B yang memiliki umur ekonomis 4 tahun. Harga mesin B Rp 10.000.000,- dengan nilai residu pada akhir tahun ke-4 sebesar Rp 1.000.000,- Dengan mesin baru biaya operasional per tahun Rp 7.000.000,- sedang dengan mesin A Rp 10.000.000,- . Bila manajemen tetap menggunakan mesin A pada akhir tahun ke-2 manajemen harus melakukan perbaikan besar yang diduga memerlukan
  7. 7. biaya Rp 2.000.000,-. Tingkat pajak yang berlaku 10% dan biaya penggunaan modal sebesar 15%. Diminta: a. Berdasarkan data diatas apakah rencana penggantian mesin dapat diterima bila digunakan kriteria investasi dengan net present value. b. Apabila tingkat inflasi sebesar 10%, bagaimana pengaruhnya terhadap rencana investasi tersebut. 3. Kasus Penggantian PT Alya merencanakan mengganti mesin lama dengan mesin baru dengan alasan penghematan. Mesin lama memiliki umur ekonomis 10 tahun dan saat ini masih dapat digunakan 5 tahun lagi. Pajak penghasilan 20%. Metode depresiasi dengan garis lurus. Informasi kedua mesin sebagai berikut: Keterangan Mesin Lama Mesin Baru Harga perolehan Rp 320.000.000 Rp 380.000.000 Umur ekonomis 10 tahun 5 tahun Nilai sisa Rp 20.000.000 Rp 20.000.000 Harga jual Rp 210.000.000 Tingkat keuntungan yang dianggap layak 20%. Penghematan penggunaan mesin baru sebesar Rp 80.000.000 per tahun. ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PROYEK PENGADAAN TRONTON PADA PT TATA SURYA Perusahaan mempunyai rencana untuk melakukan perluasan usaha dengan menambah divisi baru, yaitu divisi darat atau divisi tronton dengan mengadakan tronton. Dengan pengadaan tronton ini perusahaan dapat meningkatkan kualitas dari pelayanan jasa mereka dalam hal kecepatan produksi dan dapat memperluas pangsa pasar yang belum terjangkau maka perusahaan perlu mengadakan divisi baru. Untuk mengadakan tronton memerlukan dana yang cukup besar sehingga memerlukan suatu studi kelayakan secara mendalam dan penuh kehati-hatian. Penelitian ini diperlukan untuk mengkaji studi kelayakan bisnis atau proyek dari 7 aspek, yaitu aspek hukum, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis, aspek manajemen dan organisasi, aspek ekonomi dan sosial, aspek AMDAL, dan yang terpenting aspek keuangan dimana didalam aspek keuangan ini terdapat 5 analisis untuk penilaian kelayakan. 5 analisis yang digunakan untuk penilaian kelayakan investasi tersebut antara lain metode Payback Period (PP), metode Net Present Value
  8. 8. (NPV), metode Internal Rate of Return (IRR), metode Average Rate of Return (ARR), dan metode Profitabilitas Indek (PI). Setelah kelima analisis tersebut menunjukkan kelayakan suatu investasi baik dilihat dari sisi perhitungan analisis dan sisi keinginan investor, maka langkah terakhir dari penilaian kelayakan investasi pengadaan tronton ini adalah menganalisis keputusan pembiayaan investasi dangan metode atau rumus Net Advantage of Leasing (NAL). Sedangkan untuk analisis non keuangan (aspek hukum, aspek pasar, sampai dengan aspek AMDAL) digunakan metode deskriptif kualitatif. Data–data penelitian diperoleh dari interview dengan pihak perusahaan, dan observasi lapangan atau pelabuhan, serta dengan studi keperpustakaan untuk data pendukung. di keperpustakaan untuk data pendukung. Hasil penilaian kelayakan investasi pengadaan tronton (asumsi moderat) yakni: PP = 3 tahun 7 bulan 12 hari (dibawah umur ekonomis), NPV = Rp 285,472,127 (positif), IRR = 31.32% (diatas DF / Discount Factor ), ARR = 61% (diatas DF), dan PI = 4.1 (diatas 1). Dari kelima analsis menunjukkan investasi pengadaan tronton ini layak untuk. Begitu pula dengan keinginan investor dari investasi yang mengharapkan 5 tahun balik modal dan mendapat keuntungan 20%, hasil perhitungan menunjukkan layak. Setelah itu dari perhitungan pembiayaan investasi NAL = Rp (17,150,615) (negatif), jadi tronton sebaiknya tidak diperoleh dengan leasing melainkan menggunakan pinjaman. ANALISIS FUNDAMENTAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI PADA SAHAM BIASA PT. TELKOM TBK. Abstraksi Analisis Fundamental adalah analisis yang berbasis pada berbagai data riil untuk mengevaluasi atau memproyeksikan nilai dari suatu saham dengan menggunakan data-data keuangan, seperti pendapatan, laba, pertumbuhan, imbal hasil atau pengambilan atas ekuitas ( return on equity), margin laba,dan lain-lain sebagai sarana untuk menilai kinerja perusahaan dan potensi pertumbuhan perusahaan dimasa akan datang. Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang sangat penting bagi investor dan calon investor dalam melakukan analisis fundamental, atau posisi dan arah
  9. 9. perusahaan. Analisis rasio mampu menjelaskan suatu kondisi keuangan yang dipakai sebagai dasar perbandingan dari waktu ke waktu. Untuk itu penulis ingin mengetahui rasio likuiditas, rasio laverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio saham. Dengan melakukan perhitungan dan menganalisis data PT. Telkom Tbk. maka penulis mengambil kesimpulan bahwa perusahaan tersebut memiliki kondisi keuangan yang baik. Kemudian penulis melakukan analisis sekuritas dengan mengambil kesimpulan bahwa saham biasa PT. Telkom Tbk. Undervalued yang artinya harga saham tersebut terlalu murah, oleh karena itu layak dibeli ( Buy ) oleh Calon investor, atau bagi investor sebaiknya menahan ( Hold ) saham tersebut untuk menghindari capital lose. Analisa Pola Investasi PT. Telkom Studi Kasus: STKB-N Surabaya Master Theses from JBPTSBMITB / 2006-04-07 09:25:09 Oleh : Hanarso, Institut Teknologi Bandung Dibuat : 2006-04-07, dengan 0 file Keyword : Strategi Perusahaan, Bagi Hasil, Tradisional Kepala Subjek : Investment Nomor Panggil (DDC) : 332.6/MM 023 Tingginya tingkat pertumbuhan pembangunan sarana komunikasi di PT.TELKOM yang memerlukan dana yang besar, jelas tidak akan dapat menggunakan dana perusahaan yang terbatas. Dengan demikian perlu adanya pinjaman modal dari luar perusahaan atau mengikut sertakan peran swasta sebagai pemilik modal. Dalam mengantisipasi kondisi perusahaan yang demikian, pola investasi yang akan dipilih oleh perusahaan menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan di PT.TELKOM. Oleh karena itulah maka perlu adanya analisa pola investasi untuk dapat menentukan mana yang terbaik bagi perusahaan. Untuk menganalisa pola investasi di PT.TELKOM, di dalam masalah ini diambil sebagai bahan untuk pembahasan adalah STKB-N Surabaya. Pengambilan tersebut karena banyak investor yang tertarik untuk turut berperan serta dalam membangun sarana tersebut. Kebutuhan masyarakat terhadap sarana komunikasi yang lebih modern, nyaman, menarik, dapat digunakan dimana saja, dan terbatasnya sarana telepon, merupakan peluang yang akan dimanfaatkan dalam rencana usaha pembangunan STKB-N Surabaya. Permintaan akan unit satuan sambungan telepon (SST) untuk STKB-N Surabaya diperkirakan cukup tinggi. Berdasarkan data, untuk daerah Surabaya dan Malang, daftar tunggu telepon adalah sekitar 50.000 SST. Dengan asumsi 2 % dari daftar tunggu tersebut pindah pembeli STKB-N ditambah dengan lainnya, diramalkan setiap tahunnya dapat dijual sebanyak 2000 SST. STKB-N Surabaya. Sehingga dengan kapasitas sebanyak 6000 SST, akan terjual habis selama 3 (tiga) tahun. Dari beberapa itiacam pola
  10. 10. investasi yang umum berlaku, diadakan analisa untuk menentukan beberapa alternatif pola investasi yang pantas untuk diterapkan pada PT.TELKOM. Berdasarkan analisa tersebut, dihasilkan 3 (tiga) alternatif yang dapat diterapkan dalam pendirian STKB-N Surabaya, yaitu Pola Tradisional, Pola Bagi Hasil dan Pola Swasta Murni. Ketiga alternatif tersebut kemudian dianalisa baik secara kuantitatif yang berupa analisa finansial, dan kualitatif yang mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan strategi perusahaan. Pada Pola Tradisional dengan seluruh hasil pendapatan untuk PT.TELKOM, terlihat bahwa IRR yang dihasilkan cukup tinggi yaitu sebesar 39,36 % dan Payback Period selama 4,80 tahun dengan bunga pinjaman sebesar 20 %. Sedangkan pada Pola Bagi Hasil dengan pembagian persentase pendapatan pulsa dan sewa bulanan 56 % untuk investor dan 44 % untuk PT.TELKOM, perhitungan usaha / bisnis menghasilkan IRR sebesar 31,23 % dan Payback Period selama 8,34 tahun dengan interest factor sama dengan • MARR yaitu 29 %. Dan ditinjau dari sisi Investor, dengan IRR = MARR = 29 % diharapkan cukup menarik. Pada Pola Swasta Murni dengan pembagian persentase pendapatan pulsa dan sewa bulanan sebesar 50 % untuk investor dan 50 % untuk PT.TELKOM, dihasilkan IRR sebesar 29,02 % dan Payback Period selama 14,86 tahun. Sedangkan bunga kredit untuk Pola Bagi Hasil dan Pola Swasta Murni sebesar 24 %. Secara kuantitatif, berdasarkan perhitungan analisa inkremental, Pola Investasi yang paling menguntungkan PT.TELKOM adalah Pola Swasta Murni, disusul Pola Bagi Hasil dan yang terakhir adalah Pola Tradisional. Namun demikian, dengan keterbatasan sumber daya finansial maupun sumber-surrtber daya lainnya serta adanya peraturan-peraturan yang mempengaruhi baik eksternal maupun internal. Di dalam kondisi saat ini, alternatif pola investasi yang sebaiknya diambil oleh PT.TELKOM adalah Pola Bagi Hasil. Dan untuk tahap selanjutnya apabila memungkinkan dapat diterapkan Pola Swasta Murni. Untuk menentukan pola investasi yang akan diterapkan, sangat tergantung pada pihak manajemen perusahaan. Walaupun demikian, dalam masalah ini disarankan kepada PT.TELKOM untuk kondisi saat ini, sebaiknya memilih Pola Bagi Hasil dan memulai terobosan kearah pola investasi dengan sistem Pola Swasta Murni. Dan selama masih ada peluang untuk bekerjasama dengan Investor, sebaiknya tidak menggunakan Pola Investasi Tradisional. Deskripsi Alternatif : Tingginya tingkat pertumbuhan pembangunan sarana komunikasi di PT.TELKOM yang memerlukan dana yang besar, jelas tidak akan dapat menggunakan dana perusahaan yang terbatas. Dengan demikian perlu adanya pinjaman modal dari luar perusahaan atau mengikut sertakan peran swasta sebagai pemilik modal. Dalam mengantisipasi kondisi perusahaan yang demikian, pola investasi yang akan dipilih oleh perusahaan menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan di PT.TELKOM. Oleh karena itulah maka perlu adanya analisa pola investasi untuk dapat menentukan mana yang terbaik bagi perusahaan. Untuk menganalisa pola investasi di PT.TELKOM, di dalam masalah ini diambil sebagai bahan untuk pembahasan adalah STKB-N Surabaya. Pengambilan tersebut karena banyak investor yang tertarik untuk turut berperan serta dalam membangun sarana tersebut. Kebutuhan masyarakat terhadap sarana komunikasi yang lebih modern,
  11. 11. nyaman, menarik, dapat digunakan dimana saja, dan terbatasnya sarana telepon, merupakan peluang yang akan dimanfaatkan dalam rencana usaha pembangunan STKB- N Surabaya. Permintaan akan unit satuan sambungan telepon (SST) untuk STKB-N Surabaya diperkirakan cukup tinggi. Berdasarkan data, untuk daerah Surabaya dan Malang, daftar tunggu telepon adalah sekitar 50.000 SST. Dengan asumsi 2 % dari daftar tunggu tersebut pindah pembeli STKB-N ditambah dengan lainnya, diramalkan setiap tahunnya dapat dijual sebanyak 2000 SST. STKB-N Surabaya. Sehingga dengan kapasitas sebanyak 6000 SST, akan terjual habis selama 3 (tiga) tahun. Dari beberapa itiacam pola investasi yang umum berlaku, diadakan analisa untuk menentukan beberapa alternatif pola investasi yang pantas untuk diterapkan pada PT.TELKOM. Berdasarkan analisa tersebut, dihasilkan 3 (tiga) alternatif yang dapat diterapkan dalam pendirian STKB-N Surabaya, yaitu Pola Tradisional, Pola Bagi Hasil dan Pola Swasta Murni. Ketiga alternatif tersebut kemudian dianalisa baik secara kuantitatif yang berupa analisa finansial, dan kualitatif yang mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan strategi perusahaan. Pada Pola Tradisional dengan seluruh hasil pendapatan untuk PT.TELKOM, terlihat bahwa IRR yang dihasilkan cukup tinggi yaitu sebesar 39,36 % dan Payback Period selama 4,80 tahun dengan bunga pinjaman sebesar 20 %. Sedangkan pada Pola Bagi Hasil dengan pembagian persentase pendapatan pulsa dan sewa bulanan 56 % untuk investor dan 44 % untuk PT.TELKOM, perhitungan usaha / bisnis menghasilkan IRR sebesar 31,23 % dan Payback Period selama 8,34 tahun dengan interest factor sama dengan • MARR yaitu 29 %. Dan ditinjau dari sisi Investor, dengan IRR = MARR = 29 % diharapkan cukup menarik. Pada Pola Swasta Murni dengan pembagian persentase pendapatan pulsa dan sewa bulanan sebesar 50 % untuk investor dan 50 % untuk PT.TELKOM, dihasilkan IRR sebesar 29,02 % dan Payback Period selama 14,86 tahun. Sedangkan bunga kredit untuk Pola Bagi Hasil dan Pola Swasta Murni sebesar 24 %. Secara kuantitatif, berdasarkan perhitungan analisa inkremental, Pola Investasi yang paling menguntungkan PT.TELKOM adalah Pola Swasta Murni, disusul Pola Bagi Hasil dan yang terakhir adalah Pola Tradisional. Namun demikian, dengan keterbatasan sumber daya finansial maupun sumber-surrtber daya lainnya serta adanya peraturan-peraturan yang mempengaruhi baik eksternal maupun internal. Di dalam kondisi saat ini, alternatif pola investasi yang sebaiknya diambil oleh PT.TELKOM adalah Pola Bagi Hasil. Dan untuk tahap selanjutnya apabila memungkinkan dapat diterapkan Pola Swasta Murni. Untuk menentukan pola investasi yang akan diterapkan, sangat tergantung pada pihak manajemen perusahaan. Walaupun demikian, dalam masalah ini disarankan kepada PT.TELKOM untuk kondisi saat ini, sebaiknya memilih Pola Bagi Hasil dan memulai terobosan kearah pola investasi dengan sistem Pola Swasta Murni. Dan selama masih ada peluang untuk bekerjasama dengan Investor, sebaiknya tidak menggunakan Pola Investasi Tradisional.

×