1

Sa nd hur P a nt e l
Lilik Rosida Irmawati

Keragaman Seni Pertunjukan Sandhur
Upacara ritual yang berkaitan dengan pro...
2

Daramista, Lenteng, ada Lede’ atau Ledeg
yaitu untuk acara selamatan desa, tari ini
disertai kuda lumping Di Saronggi t...
3

ukhuwah Islamiah dan bersama-sama
mencari ridho, pertolongan dan perlindungan
Allah SWT.
Tujuan Pementasan
Sandhur Pant...
4

menimbulkan sikap iri dari seseorang yang
tidak ber-agama (si kafir). Si kafir berniat
mencelakakan Sandhur, supaya San...
5

yang dibawakan sesuai dengan pengaturan
komposisi,
dengan
gerakan-gerakan
sederhana, dari posisi duduk berubah ke
posis...
6

mempelajari dan melaksanakan ritual yang
dianggap telah ketinggalan dan tidak sesuai
dengan situasi dan kondisi jaman. ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Sandur Pantel

334 views
166 views

Published on

Upacara ritual yang berkaitan dengan prosesi perjalanan hidup manusia pada era millenium ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat, terutama masyarakat tradisional. Walaupun telah hidup di jaman modern, masyarakat petani ataupun masyarakat nelayan tradisional menggunakan upacara ritual sebagai sarana berhubungan dengan makhluk-makhluk gaib ataupun media komunikasi dengan Zat Tunggal, pencipta alam semesta. Setiap melakukan upacara ritual, media kesenian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh proses kegiatan. Masyarakat di dataran pulau Madura menyebutnya Sandhur atau Dhamong Ghardham.

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
334
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sandur Pantel

  1. 1. 1 Sa nd hur P a nt e l Lilik Rosida Irmawati Keragaman Seni Pertunjukan Sandhur Upacara ritual yang berkaitan dengan prosesi perjalanan hidup manusia pada era millenium ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat, terutama masyarakat tradisional. Walaupun telah hidup di jaman modern, masyarakat petani ataupun masyarakat nelayan tradisional menggunakan upacara ritual sebagai sarana berhubungan dengan makhluk-makhluk gaib ataupun media komunikasi dengan Zat Tunggal, pencipta alam semesta. Setiap melakukan upacara ritual, media kesenian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh proses kegiatan. Masyarakat di dataran pulau Madura menyebutnya Sandhur atau Dhamong Ghardham. Sandhur atau Dhamong Ghardam merupakan ritus yang ditarikan, dengan berbagai tujuan antara lain ; untuk memohon hujan, menjamin sumur penuh air, untuk menghormati makam keramat, membuang bahaya penyakit atau mengenyahkan musibah/bencana. Ada pun bentuk ritual ini berupa tarian dan nyanyian diiringi oleh musik. Gerakan tarian dalam pelaksanaan ritual tidak lebih dari penyesuaian irama tubuh disesuaikan dengan gerakan tari daerah setempat. Irama tubuh muncul spontan dari nyanyian atau musik. Adakalanya satu atau dua peserta mengalami kesurupan (trance), karena memang dikondisikan oleh pawang/dukun sebagai mediator dalam berhubungan dan berdialog dengan makhluk dari alam lain. Ada pun tempat-tempat yang sering diadakan upacara ritual ini di persimpangan jalan, yang bertujuan membuang pengaruh negatif, antara lain ; rokat dangdang ; ruwatan persimpangan, rokat somor, , rokat bhuju’ ; ritus di makam keramat, rokat tekos jhaghung ; ruwatan melawan tikus pemakan jagung. Prosesi tersebut biasanya dipimpin oleh seorang dukun, yang bertugas membacakan doa-doa dalam bahasa Madura dan Arab secara bergantian. Sebagian dari prosesi Dhamong Ghardam ada yang mempergunakan alat-alat musik selama ritual, seperti musik tong-tong atau pun musik Saronen. Sebagian dari para pelaku ritus tidak memasukkan unsur musik selama proses ritual, karena merupakan ketetapan bentuk baku. Pelanggaran dalam penyelenggaraan akan menyebabkan musibah (sakit). Daerah-daerah yang mempunyai kesenian ini hampir menyebar di dataran Madura bagian timur, diantaranya ; Batuputih, terdapat berbagai ritus ; rokat dangdang, rokat somor, rokat bhuju’, rokat tekos jhagung. Di Pasongsongan, terdapat Sandhur Lorho’. Di Guluk-Guluk terdapat Sandhuran Duruding, yang dilaksanakan ketika panen jagung dan tembakau, berupa nyanyian lakilaki atau perempuan atau keduanya sekaligus, tanpa iringan musical. Musik langsung dimainkan oleh para peserta, dengan cara menirukan bunyi dari berbagai alat musik. Di desa Pakondang dan desa Kalebengan, Rubaru, ada Ratep, yaitu prosesi mendatangkan hujan. Di desa
  2. 2. 2 Daramista, Lenteng, ada Lede’ atau Ledeg yaitu untuk acara selamatan desa, tari ini disertai kuda lumping Di Saronggi terdapat Cahe atau jahe, berbentuk pohjian untuk mendatangkan hujan yang ditarikan dengan musik Saronen. Kesenian ini merupakan bentuk kesenian yang mengandung berbagai unsur budaya, yaitu budaya Hindu, Budha, Jawa dan Islam. Hal itu dapat dibuktikan dengan syair-syair yang menggunakan bahasa Jawa kuno, Madura ataupun Bahasa Arab. Begitu pula bentuk pelaksanaan selama proses ritual, berbagai sesajen, air suci, tari pemujaan serta doa dalam bentuk nyanyian. Dalam berbagai upacara ritual (terutama ritual minta hujan), para pawang/dukun memanggil roh-roh leluhur untuk turun dan memasuki tubuh orang sehingga kesurupan (trance). Walau pun mempunyai tujuan yang sama, Sandhur dan Dhamong Ghardam memiliki perbedaan yang terletak pada proses pelaksanaannya. Sandhur lebih menekankan pada unsur seni, dengan memadukan berbagai kepiawaian baik dalam permainan musik, seni suara (tembang) atau pun gerakan tarian. Sedangkan Dhamong Ghardam atau Ghardam, lebih mencuat dalam proses upacara ritual. Konon, Sandhur akan dipentaskan apabila ritual-ritual Dhamong Ghardam atau Ghardam tidak berhasil dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Sandhur Pantel Pembuka Pintu Langit Sandhur Pantel adalah sebuah bentuk seni tradisional berasal dari desa Ambunten Barat, kecamatan Ambunten. Seni tradisi ini hidup dalam masyarakat tradisional dan merupakan sebuah upacara (prosesi) ketika berhubungan dengan Dzat Tungg!l, penguasa alam semesta. Kesenian Sandhur ini adalah sebuah ungkapan kekecilan dan kekerdilan serta ketidakmampuan manusia ketika menghadapi berbagai masalah, musibah dan cobaan. Sandhur merupakan sebuah jembatan, ketika berhubungan dengan Tuhan Penguasa alam semesta. Bentuk kesenian ini digunakan sebagai media untuk menolak dan mengusir serta menjauhkan bencana yang direfleksikan dalam bentuk puji-pujian, rangkuman doadoa yang diiringi oleh nyanyian (tembang), ragam gerak tarian serta diiringi oleh musik. Untuk merefleksikan kehendak yang terkandung tersebut, maka diadakanlah kesenian Sandhur Pantel dianggap mampu membuka pintu langit dan Tuhan Penguasa alam semesta mengulurkan kasih sayangnya. Kesenian Sandhur Pantel dipentaskan adalah untuk memenuhi hajat orang banyak, komunitas tertentu atau pun secara individual. Pementasan Sandhur Pantel dipentaskan adalah untuk memohon agar hujan segera turun apabila kemarau panjang datang serta sumber air sangat kecil. Kedua, apabila para nelayan berkurang hasil tangkapan ikannya (rokat pangkalan), ketiga untuk sebuah acara rokat anak (rokat pandabha), dan terakhir pementasan Sandhur Pantel dilaksanakan untuk proses penyembuhan. Makna yang lebih mendalam dari pesanpesan yang disampaikan adalah manusia haruslah menjaga keselarasan dan keharmonisan dengan lingkungan alam. Apabila manusia sudah meninggalkan dan tidak mempedulikan lagi pada lingkungan sosial, lingkungan alam bahkan tidak ada rasa takut dan tunduk kepada Sang Pencipta, maka akan terjadi berbagai musibah. Melalui media Sandhur, manusia diingatkan kembali kedudukannya sebagai makhluk yang lemah dan dhoif. Di samping itu melalui media Sandhur Pantel manusia merekatkan tali
  3. 3. 3 ukhuwah Islamiah dan bersama-sama mencari ridho, pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Tujuan Pementasan Sandhur Pantel dilaksanakan dengan tujuan pertama adalah mendatangkan hujan ketika terjadi kemarau panjang. Dalam pelaksanaan prosesi ritual meminta hujan, bentuk yang digunakan adalah berupa nyanyian, tarian, melantumkan puji-pujian serta melafalkan doa. Dan diiringi oleh alunan alat musik (gending). Tujuan kedua adalah rokat anak yang lebih populer dengan istilah rokat pandhaba. Pementasan ini dilakukan agar kelak si anak selamat serta jauh dari bermacam gangguan. Misalnya gangguan dari makhluk lain, gangguan dari segi materi maupun gangguan-gangguan lain yang akan menghadang dalam kehidupannya kelak. Rokat pandhaba ini ada bermacam-macam, yaitu ; pandhaba tang anteng, sepasang suami istri yang mempunyai tiga anak yang terdiri dari dua laki-laki satu putri, begitu pula sebaliknya. Kedua, adalah pandhaba macan, sepasang suami istri dengan satu anak (anak tunggal), pandhaba pangantan, yaitu hanya mempunyai dua anak, laki-laki dan perempuan. Yang terakhir adalah pandhaba, yaitu ketika sepasang suami istri mempunyai anak berjumlah lima orang dan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Tujuan ketiga diadakannya pementasan Sandhur Pantel adalah rokat pangkalan, rokat pangkalan biasanya diadakan ketika hasil tangkapan ikan berkurang. Acara ini biasanya dilakukan di pantai atau pemukiman para nelayan.. Para nelayan beranggapan, ketika hasil penangkapan ikan sedikit, maka Sandhur Pantel perlu dipentaskan agar tangkapan ikan bertambah banyak. Bentuk pementasan dalam rokat pangkalan tidak jauh berbeda dengan bentuk yang dipentaskan pada acara-acara lainnya. Tujuan keempat pementasan Sandhur Pantel adalah proses penyembuhan penyakit, seringkali Sandhur Pantel diundang oleh seseorang dalam upaya penyembuhan penyakit. Acara ini biasanya digelar ketika penyakit yang menjangkiti orang tersebut tidak kunjung sembuh, walaupun telah melakukan pengobatan. Hal ini dilakukan karena keluarga si sakit telah menempuh berbagai cara pengobatan, misal pengobatan secara medik, pengobatan tradisional maupun pengobatan alternatif. Namun hasil yang didapatkan dari pengobatan tersebut tidak membuahkan hasil. Sebagai upaya terakhir, maka keluarga si sakit mengundang dan menggelar seni Sandhur Pantel. Akibat sugesti yang sangat kuat, terjadi keajaiban. Penyakit yang menjangkiti si sakit ternyata bisa disembuhkan. Sebagaimana kesenian tradisional, kesenian ini diperoleh secara turun menurun dari generasi ke generasi. Para pelaku kesenian ini menerima warisan secara utuh serta tidak berani membuat perubahan. Karena adanya sebuah anggapan, perubahan dalam bentuk apa pun akan menyebabkan musibah (sakit) terutama kepada para pelaku. Prosesi Ritual Konon, Jalinan cerita yang terdapat dalam kesenian tradisional ini berasal dari tamsil kisah nabi Zakaria. Pada suatu masa di desa Ambunten Barat hiduplah seorang anak bernama Sandhur, anak remaja tersebut adalah seorang muslim yang sangat taat. Walaupun Sandhur hanya seorang penggembala kambing, namun kesalehannya telah menjadi buah bibir. Hal tersebut
  4. 4. 4 menimbulkan sikap iri dari seseorang yang tidak ber-agama (si kafir). Si kafir berniat mencelakakan Sandhur, supaya Sandhur tidak menyebarkan agama Islam kepada penduduk. Karena si kafir akan kehilangan wibawa di mata penduduk yang mengkultuskannya. Ketika Sandhur sedang menggembalakan kambing-nya di gunung, si kafir telah berencana melakukan pembunuhan terhadap Sandhur. Namun niat jahat tersebut tidak cepat terlaksana, karena Sandhur yang dicari-cari hilang bagaikan di telan bumi. Secara gaib, Sandhur diselamatkan oleh Sang Pencipta dengan cara dimasukkan ke dalam sebuah pohon besar. Proses ini yang dikisahkan sebagai Sandurrelang. Si kafir sama sekali tidak putus-asa ketika kehilangan jejak Sandhur buruannya. Niat untuk membunuh semakin membakar. Perasaan marah, geram semakin membulatkan tekad untuk tidak melepaskan Sandhur, manusia yang paling dibencinya. Setelah melakukan meditasi, ada suara gaib yang memberitahukan persembunyian Sandhur. Ternyata Sandur tidaklah jauh dari tempat dimana si kafir memusatkan pikirannya. Setelah mengetahui persembunyian Sandhur, tanpa berfikir panjang lagi si kafir mengambil gergaji. Tanpa membuang waktu lagi, pohon besar tersebut langsung di gergaji dan dipotong di bagian tengah. Jalinan kisah hilangnya Sandur, “Sandur hilang – Sandur-elang, Sandurelang” yang menjadi ruh dari kesenian ini. Pada acara pembukaan, kisah ini menggambarkan Sandurrenang, namun dalam penutupannya adalah Sandurelang. Tujuan akhir setelah melafalkan bait-bait yang ada adalah untuk membebaskan diri dari semua penyakit, semua mara-bahaya dan musibah. Hal itu sesuai dengan tamsil, ketika Sandur dapat raib karena pertolongan Allah SWT. Demikian pula harapan yang terpendam dalam setiap kalbu pewaris kesenian ini, melalui lafal-lafal doa semua permohonan akan didengarkan dan terkabul atas kehendak Allah SWT. Sandhur Pantel merupakan perpaduan seni gerak (tari), seni musik dan seni suara (tembang). Dalam setiap pementasan sandur Pantel dimainkan oleh pria dan wanita, terdiri dari 13 penabuh laki-laki, 5 penembang wanita (cerita ditembangkan), 1 orang “penegas” (ketua, memberikan improvisasi berdasarkan cerita baku) dan 14 orang sebagai penari. Ada pun gerakan tarian pada Sandhur Pantel ada 14 gerakan tari dan durasi pementasan kurang lebih 5 s/d 6 jam. Pementasan Sandhur Pantel biasanya dilaksanakan pada malam hari, dibagi dalam dua babak. Dengan komposisi lingkaran, paling belakang adalah para penabuh, di depan penabuh adalah penembang wanita dalam posisi duduk (posisi duduk berganti posisi berdiri) ketika para penari merubah posisi duduk ke posisi berdiri ataupun dalam gerak ragam melingkar. Di depan penembang wanita, ketua dari seni Sandhur Panthel membantu memberikan improvisasi lagu ataupun penegasan cerita (berdasarkan cerita baku). Sedangkan posisi terdepan dalam bentuk lingkaran, adalah para penari berjumlah 14. Dalam setiap pementasan, pembukaan acara di buka dengan gending Mantre Anom, dilanjutkan dengan melantumkan doa pujian bis-jabis adualla, bat-tobat adialla, wuattalla, alim mas-taiman, alim mastaiman, hilangan monhardham, hilangan tobat, adujabis, alan-alan adi tobat, tobattobat, sandhurrennang, sandhurrennang, pak lamo, alim mastah kafirullah, buju’ambang minta dikkir. Tarian-tarian
  5. 5. 5 yang dibawakan sesuai dengan pengaturan komposisi, dengan gerakan-gerakan sederhana, dari posisi duduk berubah ke posisi melingkar ataupun berubah ke posisi berdiri. Pementasan pertama biasanya ber-durasi sekitar 3 s/d 4 jam, setelah pementasan itu dilanjutkan lagi dengan melantumkan baitbait pujian dan doa, para penari pada babak kedua melakukan gerak ragam yang sama, adapun bait-bait yang dilantumkan adalah, hardham, hardham renang, nedham, alam adi tobat, hardham, set-iset farhong, nangrennang farhong, farhong rennnang. mengganggu kehidupan manusia yang di rokat (ruwat), yaitu dengan cara memberikan pakaian yang masih baru. Adapun pakaian yang dikenakan pada saat pementasan ialah, para penembang wanita memakai kain panjang dipadu dengan kebaya sono’, (kebaya tanpa kancing depan), para penari memakai busana pesa’, celana komprang hitam, baju longgar hitam, di bagian pinggang dililitkan kain panjang yang di lipat. Sementara itu para nayaga (pengrawit), biasanya memakai seragam yang sama. Dalam setiap pementasan, selalu disediakan sesaji yang dijadikan satu dalam sebuah nyiru (ancak). Dalam (nyiru) ancak yang dihiasi oleh janur, disediakan berbagai macam sajian, antara lain kelapa gading, bermacam jajan pasar (kue basah), kue kering (rengginang, kripik, peyek), nasi dan panggang ayam (dibungkus, dibentuk kerucut), serta roncean jagung dan kacang. Selain itu disediakan pula bahan pakaian (kain) untuk rampatan (sesaji pakaian). Adapun bahan pakaian yang disediakan dalam bentuk pakaian anak-anak, remaja, orang dewasa serta sarung dan kain panjang. Semua bahan pakaian tersebut mempunyai warna yang berbeda, yaitu merah, kuning, putih, hitam dan hijau. Tidak ketinggalan dalam ancak tersebut disajikan pula roncean kembang. Di lingkungan masyarakat tradisional yang masih mempercayai ritual Sandhur, Sandhur Panthel digunakan sebagai media penghubung dengan Sang Pencipta. Biasanya setiap tahun dalam bulan-bulan tertentu selalu mengundang pementasan. Karena apabila lalai tidak mengundang pementasan Sandhur, maka timbul kekhawatiran adanya berbagai macam musibah. Hal itu ditandai dengan bambu yang ditancapkan di samping rumah mulai mengering (di tengah bambu ada sebutir kelapa gading, di bawah kelapa gading ada ancak kecil berisi kembang). Bambu tersebut sebagai anjer (tanda) untuk mengundang pementasan Sandhur Panthel apabila waktunya telah tiba. Untuk bahan pakaian dan kain panjang, dipersiapkan yang masih baru. Setelah pementasan, semua bahan pakaian di simpan kembali. Apabila akan diadakan pementasan lagi, maka semua bahan pakaian tersebut di cuci untuk selanjutnya dipergunakan kembali dalam pementasan. Konon, semua bahan pakaian, sarung dan kain panjang haruslah baru, karena ini diperuntukkan bagi makhluk dari alam lain agar tidak Sampai saat ini Sandhur Panthel sering dipentaskan dalam bulan-bulan tertentu, dan hanya dimainkan dalam komunitas terbatas, hanya dalam lingkungan masyarakat desa Ambunten Barat, kecamatan Ambunten. Tidaklah mengherankan apabila dalam satu generasi mendatang bentuk seni tradisional ini akan punah, hal ini disebabkan pelestarian budaya ini sangat sulit. Generasi muda penerus kesenian ini enggan untuk Sandhur dan Perkembangannya
  6. 6. 6 mempelajari dan melaksanakan ritual yang dianggap telah ketinggalan dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi jaman. Dan saat ini hanya tinggal satu kelompok (group) yang masih tetap eksis melestarikan seni tradisional ini. Itu pun hanya terbatas pada generasi tua.

×