TAFSIR
QS. AN-NAJM ( BINTANG )
Surah ke-53 :62 ayat
Tugas Mata Kuliah : Tafsir
Dosen Pengampu : Edi Bachtiar, M.Ag
ZAINAL ...
TERJEMAHAN & TAFSIR
- QS. AN-NAJM (BINTANG) -
Surah ke-53 :62 ayat.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha...
Tafsir :
Dalam ayat ini, selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Muhammad diajari oleh Jibril as yang sangatlah kuat ...
( Ayat 26 – 30 )
CELAAN-CELAAN ALLAH SWT KEPADA KAUM MUSYRIKIN YANG
MENGHARAPKAN SYAFA’AT DARI MALAIKAT
[26] Dan berapa ba...
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).[32]
(Yaitu) orang-orang yang ...
Apakah ia tahu keadaan si kafir ini? Tahukah ia keadaan yang gaib?.Ia hampir saja menjadi seorang mukmim
dan mengikuti pet...
Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia telah membinasakan kaum Nuh sebelum kaum `Ad dan Samud,
mereka lebih zalim darip...
ASBABUN NUZUL QS. AN-NAJM
[32] (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesal...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Resume Tafsir QS. An Najm

695

Published on

Resume Tafsir QS, An Najm ini sebagai tugas mata kuliah Tafsir

Published in: Spiritual
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
695
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
43
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Resume Tafsir QS. An Najm"

  1. 1. TAFSIR QS. AN-NAJM ( BINTANG ) Surah ke-53 :62 ayat Tugas Mata Kuliah : Tafsir Dosen Pengampu : Edi Bachtiar, M.Ag ZAINAL ABIDIN DAKWAH ELK BPI 412090
  2. 2. TERJEMAHAN & TAFSIR - QS. AN-NAJM (BINTANG) - Surah ke-53 :62 ayat. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ALLAH SWT BERSUMPAH BAHWA WAHYU YANG DITURUNKAN KEPADA NABI MUHAMMAD SAW ADALAH BENAR ( Ayat 1 – 4 ) [1] Demi bintang ketika terbenam, [2] kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, [3] dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.[4] Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Tafsir : Dalam ayat pertama, Allah SWT menerangkan bahwa Ia bersumpah dengan makhluk Nya yang besar yakni bintang yang beredar pada porosnya, tidak saling bentrokan satu dengan yang lainnya. Bintang-bintang itu merupakan petunjuk bagi manusia dalam hutan dan padang pasir, di tempat kediaman dan dalam perjalanan, di kampung dan di kota, dan juga di lautan, bintang-bintang itu besar sekali faedahnya bagi kehidupan manusia. Sumpah Allah tersebut mengingatkan manusia bahwa di sana ada alam tinggi dan benda-benda yang perkasa yang harus mereka ketahui supaya mereka dapat meyakini besarnya suatu sumber kekuasaan dan indahnya ciptaan Allah SWT. Rasulullah SAW adalah seorang Rasul yang diberi petunjuk oleh Allah, dia mengikuti kebenaran. Dia bukan seorang yang menyesatkan (dan bukanlah pula ia berjalan pada jalan yang ia sendiri tidak mengetahuinya). Dia bukan pula seorang yang sesat yang berpaling dari kebenaran dengan suatu tujuan tertentu.Keadaan beliau yang seperti itu, bukan saja setelah beliau diangkat menjadi Rasul, tetapi juga sebelumnya.Oleh sebab itulah Allah memberikan kepadanya petunjuk dan syariat untuk memberikan sinar kepada orang-orang yang sesat baik Yahudi maupun Nasrani yang sebenarnya mereka mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengamalkannya.Orang yang mungkin keliru atau tersesat ialah orang yang menurutkan hawa nafsunya. Nabi Muhammad SAW hanyalah mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, tidak ditambah-tambah dan tidak pula dikurangi menurut apa yang diwahyukan kepadanya. ( Ayat 5 – 18 ) [5]yang diajarkan kepadanya oleh (jibril) yang sangat kuat, [6] yang mempunyai akal yang cerdas; dan (jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli, [7] sedang dia berada di ufuk yang tinggi. [8] Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, [9] maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). [10] Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. [11] Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. [12] Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? [13] Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,[14] (yaitu) di Sidratil Muntaha.[15] Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, [16] (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. [17] Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. [18] Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
  3. 3. Tafsir : Dalam ayat ini, selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Muhammad diajari oleh Jibril as yang sangatlah kuat ilmu maupun amalnya.Kemudian Nabi mempelajarinya dan mengamalkannya.Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Muhammad itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan legenda-legenda orang- orang dahulu. Jelaslah bahwa Muhammad itu bukan diajari oleh seorang manusia, tapi ia diajari oleh Jibril as yang sangat kuat. Allah SWT menerangkan bahwa Jibril mempunyai kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Seperti dalam riwayat bahwa ia telah pernah membalikkan perkampungan Nabi Luth kemudian mereka diangkat ke langit lalu dijatuhkan ke bumi. Juga ia telah pernah menghembus kaum Samud hingga berterbanganlah mereka. Dan apabila ia turun ke bumi hanya dibutuhkan waktu sekejap mata. Lagi pula ia dapat berubah bentuk dengan berbagai rupa. Kebanyakan manusia menyangka bahwa ia telah menggambarkan apa yang dilihatnya, padahal hatinya belum yakin terhadap apa yang telah ia lihat, tidak demikian penglihatan dan keyakinan Muhammad terhadap Jibril meskipun kedatangannya kepada Muhammad kerap kali beda-beda bentuknya, karena Muhammad telah mengetahui bentuk yang aslinya, yaitu di gua Hira ketika menerima wahyu pertama, walaupun kemudian Jibril menampakkan diri lagi dengan rupa yang lain. Allah SWT menerangkan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad sudah pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan mikraj ke Sidratil Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.Di tempat itulah (di dekat Sidratil Muntaha) letak Surga.Ia merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang takwa dan orang-orang yang mati syahid. Allah SWT menjelaskan tatkala Rasulullah melihat Jibril di sana, ia tidak berpaling dari memandang semua keajaiban Sidratil Muntaha, sesuai dengan apa yang telah diizinkan Allah SWT kepadanya untuk dilihat. Dan ia tidak pula melampaui batas kecuali apa yang telah diizinkan kepadanya. Dengan melihat Sidratil Muntaha itu, berarti Muhammad telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang merupakan keajaiban-keajaiban dari kekuasaan-Nya. ( Ayat 19 – 25 ) [19] Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap al Lata dan al Uzza, [20] dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? [21] Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? [22] Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. [23] Itu tidak lain hanyalah nama- nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. [24] Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?[25] (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. Tafsir : Dalam ayat ini, Allah SWT bertanya kepada orang-orang musyrik, apakah setelah mereka mendengar tanda-tanda Allah baik kesempurnaan-Nya maupun keagungan-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan setelah mendengar keadaan malaikat dengan kedudukan dan kemampuan mereka yang tinggi, masih saja menjadikan berhala-berhala yang hina keadaannya itu sebagai sekutu bagi Allah, sedangkan mereka mengetahui kebesaran Nya? Allah SWT melanjutkan bahwa orang-orang musyrik itu juga menyembah Manah yang ketiga yakni yang terakhir sebagai anak perempuan Allah. Dalam ayat ini, Allah menolak anggapan, mereka yang menyatakan bahwa Allah mempunyai anak perempuan dan mereka mempunyai anak laki-laki yang disebabkan oleh persangkaan mereka bahwa perempuan itu lemah mempunyai kekurangan sedangkan laki-laki itu sempurna.Pembagian itu tidak adil, kurang pantas dan tidak sempurna sebab mereka menganggap bahwa Tuhan mereka mempunyai apa-apa yang mereka sendiri membencinya.Dan untuk mereka apa-apa yang mereka sukai. Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa mereka menamakan berhala-berhala itu tuhan, padahal itu hanyalah nama-nama yang tidak mempunyai arti sama sekali. Mereka mengira dan berkeyakinan bahwa berhala-berhala itu mempunyai hak untuk diiktikafi demi ibadat kepadanya dan sebagai tempat menyajikan binatang kurban. Mereka tidak mempunyai alasan atau mereka tidak dapat menjelaskan sebab dari apa mereka katakan dan mereka lakukan. Mereka hanya meniru orang-orang yang terdahulu yang selanjutnya mereka akan diikuti pula oleh anak cucu mereka.Maka sudah seharusnyalah mereka menyadari kesalahan mereka.Akan tetapi, mereka masih tetap berpaling dari kebenaran. Sama sekali berhala-berhala itu tidak ada gunanya, ia tidak akan membantu apa-apa karena berhala-berhala itu adalah benda mati yang keras bagai batu. Dan bahwasanya segala apa yang ada di dunia dan di akhirat adalah milik Allah SWT. Dan berhala-berhala itu tidak memiliki apa-apa. Allah telah membuat mereka berputus asa akan mendapat kebaikan dari ibadat mereka kepada berhala dan pendekatan diri mereka kepadanya.
  4. 4. ( Ayat 26 – 30 ) CELAAN-CELAAN ALLAH SWT KEPADA KAUM MUSYRIKIN YANG MENGHARAPKAN SYAFA’AT DARI MALAIKAT [26] Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). [27] Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. [28] Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.[29] Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. [30] Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. Tafsir : Kemudian Allah SWT menerangkan dalam ayat ini tentang berapa banyak malaikat di langit yang tidak dapat menolong manusia dengan suatu pertolongan pun, kecuali bila Allah SWT memberikan izin kepada mereka untuk orang yang dikehendaki-Nya yaitu orang yang ikhlas dalam perkataan dan perbuatannya. Apabila keadaan malaikat demikian halnya, sedangkan mereka tergolong dalam alam rohani yang dekat kepada Tuhan, maka bagaimana dengan berhala-berhala yang hanya berupa benda mati tidak mempunyai roh dan kehidupan itu? Jelasnya berhala-berhala itu sama sekali tidak ada manfaatnya. Orang-orang yang tiada beriman kepada hari akhirat dan apa-apa yang terjadi setelah itu mengenai alam akhirat sebagaimana apa yang telah disampaikan para Rasul; mereka itu menambah kekafiran mereka dengan kebodohan perkataan mereka yang menganggap bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Tuhan (Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan). Perkataan mereka itu mengandung dua dosa: Yaitu pengakuan bahwa Tuhan mempunyai anak, dan bahwa anak Tuhan yang mereka katakan itu perempuan, dengan pengakuan yang demikian itu mereka merasa bangga telah melebihi Tuhan, karena mereka mempunyai anak laki-laki. Mereka hanya terpengaruh oleh persangkaan yang menjauhkan mereka dari kebenaran.Sesungguhnya suatu pengetahuan yang benar haruslah berdasarkan keyakinan.bukan hanya perkiraan atau persangkaan. Adapun orang musyrikin itu hanyalah mengikuti persangkaan dalam menamakan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan, bukan dengan analisa ilmiah sama sekali. Muhammad diperintahkan oleh Allah SWT untuk tidak terlalu menghiraukan sikap orang-orang kafir yang berpaling dari Allah SWT, karena mereka memang hanya menginginkan kesenangan duniawi yang merupakan tujuan hidup dan cita-cita mereka.Dalam keadaan seperti mereka itu, sudah tidak ada lagi jalan untuk beriman. Maka Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya Muhammad saw untuk tidak usah merasa kasihan atau bersedih hati atas keadaan mereka itu. Allah SWT menegaskan bahwa sesungguhnya Dia Maha Mengetahui akan orang-orang yang melakukan kegiatannya dalam memikirkan tanda-tanda kekuasaan Nya di alam semesta ini serta memikirkan apa-apa yang terkandung dalam seruan Rasul Nya sehingga ia mendapat petunjuk ke jalan kebenaran yang menyelamatkannya pada hari kebangkitan dengan mendapat keridaan Tuhannya. Allah SWT akan memberikan balasan kepada semua makhluk Nya tanpa memandang kedudukannya di dunia, sesuai keluasan ilmu Nya, dengan mengutamakan orang-orang yang melakukan kebaktian kepada Nya. ( Ayat 31 – 32 ) ORANG=ORANG YANG MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR MENDAPAT AMPUNAN DAN PEMBALASAN YANG BAIK DARI ALLAH SWT [31] Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan
  5. 5. memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).[32] (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan- kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. Tafsir : Ayat ini menyatakan bahwa semua yang ada di langit dan yang ada di bumi, adalah milik Allah, semua berada dalam genggaman Nya dan di bawah kekuasaan Nya. Dia menjadikannya, Dia pemiliknya dan Dia yang mengaturnya, Dia akan membalas menurut ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu. Orang-orang yang berbuat baik diberi ganjaran kebaikan dengan dimasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai dan memberi kesenangan kepadanya yang tidak terlintas di hati manusia, Ia membalas orang- orang jahat dengan kejahatan yang dilakukannya dari bermacam-macam syirik dan maksiat-maksiat karena hatinya tertutup oleh dosa-dosa besar dan kecil. Dan sifat-sifat orang yang baik ialah mereka yang menjauhkan dirinya dari dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh, berzina, dan lain-lain, meskipun mereka melakukan dosa-dosa kecil yang kemudian ingat segera, serta dengan segera mereka bertobat sambil menyesali perbuatan-perbuatan dosa kecil yang mereka lakukan, namun mereka imbangi banyak perbuatan yang baik karena perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa- dosa) perbuatan yang buruk. Ada pula yang menyatakan: "Dosa-dosa besar adalah dosa-dosa yang diancam oleh Allah dengan neraka atau dengan amarah-Nya atau dengan laknat, azab atau mewajibkan had di dunia atau karena yang melakukannya tidak merasa khawatir dan tidak menyesal atas tindakannya itu, atau tindakannya itu menyebabkan kerusakan besar, walaupun menurut pandangan manusia kecil. Selanjutnya ayat 32 ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Luas ampunan-Nya, dan Dia akan mengampunkan dosa-dosa kecil dengan menjauhi dosa besar dan Dia mengampunkan dosa-dosa besar bila pelakunya tobat yang sesungguhnya, serta diiringi penyesalan atas perbuatannya. Ia Maha Mengetahui siapa-siapa dari kamu yang bersih dirinya dari kejahatan dan siapa-siapa pula yang menjerumuskan dirinya dalam kejahatan dan melumurkan dirinya dengan dosa.Sesungguhnya larangan menyucikan diri hanya terjadi bila yang mendorong seseorang untuk itu adalah riya', takabur atau bangga, tetapi kalau bukan itu sebabnya, maka menyucikan diri tidak terlarang. ( Ayat 33 – 41 ) KEHANCURAN ORANG YANG MENDUSTAKAN KEBENARAN DAN PERTANGGUNG-JAWABAN MASING-MASING MANUSIA ATAS PERBUATANNYA [33] Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quraan)?[34]serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi?[35] Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)?[36] Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?[37]dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?[38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,[39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,[40] dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).[41] Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, Tafsir : Menurut Mujahid dan Ibnu Zaid ayat ini turun pada peristiwa Walid bin Mugirah; dia telah mendengar bacaan Nabi dan selalu mendampingi beliau dan menerima nasihat-nasihat dari padanya sehingga hatinya tertarik kepada Islam dan Nabi juga mengharapkan keimanannya. Kebetulan seorang musyrik yang mengetahui keadaan Walid mencelanya, mengatakan, "apakah akan engkau tinggalkan agama nenek moyangmu? Kembalilah kepada agamamu dan terus berpegang kepadanya, saya akan menanggung semua yang mengkhawatirkanmu di akhirat nanti, dengan imbalan engkau berikan kepadaku.“ Walid menyetujui ajakan ini, lalu ia menarik kembali keinginannya memeluk agama Islam. Dengan demikian jadilah dia seorang sesat yang nyata dan dia telah menyerahkan sebagian imbalan yang disetujuinya kepada orang yang dijanjikannya dan ditahan bagian yang lain.
  6. 6. Apakah ia tahu keadaan si kafir ini? Tahukah ia keadaan yang gaib?.Ia hampir saja menjadi seorang mukmim dan mengikuti petunjuk-petunjuk Rasul, lalu salah seorang dari setan-setan manusia menggodanya agar ia jangan menerima bujukan-bujukan yang menghimbaunya dan ia hendaknya kembali saja kepada agama nenek moyangnya. Seseorang akan memikul dosa-dosanya bila Walid bin Mugirah sudi menyumbangkan sedikit dari hartanya, Ia menerima gagasan tersebut, tetapi ia hanya memberikannya sekali saja, dan tidak diberikannya apa-apa sesudah itu. Apakah ia mengetahui sesuatu yang gaib, bahwa temannya itu dapat memikul dosa- dosanya yang ditakutinya pada Hari Kiamat nanti? Kemudian Allah menegaskan bahwa syariat-syariat terdahulu yang mereka ketahui tidak membenarkan tentang pemikulan dosa oleh orang lain.Setiap orang yang mengerjakan dosa karena kekafirannya atau karena kemaksiatannya maka dia sendiri yang memikul dosanya, dan tidak akan dipikul oleh orang lain. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa atas perbuatan yang baik manusia itu hanya memperoleh ganjaran dari usahanya sendiri.Amal perbuatan seseorang akan diperlihatkan di hari Mahsyar sehingga semua orang melihatnya. Ini berarti penghormatan bagi orang-orang baik dan penghinaan bagi orang-orang jahat. Allah akan membalas amal perbuatan seseorang dengan balasan yang lebih sempurna dengan melipat-gandakan baginya sesuatu perbuatan baik, sampai dengan tujuh ratus kali dan membalas suatu kejahatan dengan yang serupa atau dimaafkan Nya. ( Ayat 42 – 55 ) [42]dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu),[43] dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,[44] dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,[45] dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.[46]dari air mani, apabila dipancarkan.[47] Dan bahwasanya Dia-lah yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati),[48] dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan,[49] dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi'ra, [50] dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Aad yang pertama,[51] dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan Nya (hidup).[52] Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling zalim dan paling durhaka,[53] dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah.[54]lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya.[55] Maka terhadap ni'mat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu? Tafsir : Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa kepada Nya lah tempat kembali segala sesuatu pada Hari Kiamat dan Ia akan menghisab yang kecil dan besar, lalu Ia memberi pahala atau siksa sesuai dengan perbuatan mereka masing-masing. Dan menegaskan pula bahwa sesungguhnya Dia lah yang menjadikan mati hidup. Dia lah yang menciptakan pria dan wanita serta menjadikan jantan dan betina untuk binatang dengan "air mani dipancarkan ke dalam rahim". Dia lah yang memberikan kekayaan atau kemiskinan orang-orang yang dikehendaki Nya di antara hamba Nya, sesuai dengan kesanggupan dan usaha masing-masing. Ayat tersebut menunjukkan kekuasaan yang sempurna, bahwa nutfah (setetes mani) adalah sesuai bagian-bagiannya menurut kenyataan. Dari nutfah ini Allah jadikan bermacam-macam anggota, tabiat yang berlain-lainan dan laki-laki atau perempuan, dari sebab itulah maka tidak seorangpun yang mengaku dapat membuatnya, sebagaimana tidak ada yang mengaku menjadikan langit dan bumi selain dari pada Allah. Dalam ayat ini Allah menyatakan, bahwa Dialah Tuhan yang memiliki bintang Syi'ra, yang sangat gemerlapan, yang terbit beriringan dengan bintang Jauza' di pertengahan musim panas.Mengkhususkan sebutan bintang ini dari planet-planet angkasa lainnya yang lebih besar dan lebih gemerlapan, karena bintang ini disembah pada zaman jahiliah, yang menyembahnya adalah kabilah Himyar dan Khuza'ah.Di antara bangsa Arab ada yang memuja bintang tersebut dan mengakui pengaruhnya terhadap alam semesta dan mereka membicarakan tentang masalah-masalah yang gaib ketika bintang itu terbit. Bintang Syi'ra ini ada dua, satu di antaranya berada di sebelah Syam (Palestina) dan yang lain berada di sebelah Yaman. Dia lah Allah, yang membinasakan kaum `Ad yang pertama yaitu kaum Nabi Hud as dan yang dimaksud dengan kaum `Ad yang kedua ialah kaum Iram bin Sam bin Nuh. Kaum `Ad kedua ini golongan manusia yang sangat kuat lagi sangat durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah membinasakan mereka dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan tujuh hari terus menerus. Dia membinasakan kaum Samud dan tidak membiarkan mereka hidup, bahkan mereka disiksa dengan azab Tuhan yang sangat dahsyat.
  7. 7. Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia telah membinasakan kaum Nuh sebelum kaum `Ad dan Samud, mereka lebih zalim daripada kedua kaum ini, karena mereka adalah orang-orang yang pertama-tama membuat kelaliman dan kedurhakaan dan "barangsiapa" mengadakan suatu perbuatan yang jahat, maka dia memikul dosanya dan pengikutnya. Dia telah memusnahkan kaum Luth dengan menjungkir-balikkan negeri mereka dan menurunkan azab kepada mereka berupa hujan batu yaitu batu-batu yang terbakar, sambil menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar, bertubi-tubi. Allah menyatakan dalam bentuk pertanyaan kepada manusia tentang nikmat-Nya yang manakah, yang masih diragukan.Pada hakikatnya musibah yang menimpa itu dapat membawa manusia kepada kesadaran bagi manusia yang memperhatikannya.Semua nikmat itu adalah bukti yang nyata atas keesaan Allah. ( Ayat 56 – 62 ) [56] Ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu.[57] Telah dekat terjadinya hari kiamat.[58] Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.[59] Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?[60] Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?[61] Sedang kamu melengahkan(nya)?[62] Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia). Tafsir : Sesungguhnya Nabi Muhammad adalah pemberi peringatan terhadap orang yang menyimpang dari petunjuk Nya. Nabi Muhammad, seperti para Rasul sebelumnya, menyampaikan seruan kepada manusia, tetapi sebagian manusia mendustakan Kerasulan Nya, maka Allah menyiksa mereka dengan azab yang pedih. Kehancuran dan kebinasaan yang menimpa mereka sesuai dengan kedustaan dan keingkaran mereka terhadap nikmat-nikmat yang terus menerus datang dari Tuhan mereka. Allah menerangkan bahwa Hari Kiamat sudah dekat masanya dan nerakapun telah tersedia, di mana tiap manusia akan menerima balasan sesuai dengan perbuatannya, maka waspadalah, agar kamu tidak termasuk di antara orang-orang yang binasa, yaitu pada suatu hari yang tidak berguna pada waktu itu harta dan anak, kecuali orang yang datang menghadapi Allah dengan hati yang bersih, pada hari seorang anggota keluarga tidak dapat memberi manfaat kepada anggota keluarga lainnya sedikitpun dan mereka tidak mendapat pertolongan apapun. Tidak ada seorangpun yang mengetahui waktu tibanya Hari Kiamat selain dari Dia, maka bersiap-siaplah untuk menghadapi hari itu sebelum datangnya secara tiba-tiba, dalam keadaan kamu tidak mengira-ngiranya, di mana kamu akan menyesali suatu kesalahan yang tidak ada gunanya, dari itu beramallah selama masih ada kesempatan untuk beramal. Dengan ayat ini Allah mengungkapkan tiga macam dasar agama yaitu: 1. Keesaan Allah SWT, 2. Pengukuhan kerasulan Nabi Muhammad SAW, 3.Pengukuhan tentang adanya pengumpulan dan kebangkitan pada Hari Kiamat. Apakah layak bagi kamu, sesudah keterangan yang jelas itu bahwa manusia merasa heran terhadap Alquran ini, sedang Alquran itu membawa petunjuk untuk kamu ke jalan yang benar dan mengantar kamu ke jalan yang lurus; atau kamu masih memandangnya rendah dengan mencemoohkan dan berpaling dari padanya?. Kemudian Allah menyatakan kewajiban mengagungkan dan khusyuk ketika mendengar Alquran.Ayat ini memerintahkan manusia supaya tunduk kepada Allah dengan ikhlas karena Allah menurunkan Alquran kepada manusia melalui Rasul-Nya, tugasnya memberi petunjuk dan membawa berita gembira hendaklah manusia menyambut Alquran itu dengan meninggalkan penyembahan terhadap berhala yang tidak membawa kemanfaatan dan kemudaratan.
  8. 8. ASBABUN NUZUL QS. AN-NAJM [32] (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.[33] Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quraan)? [34]serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? [35] Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? [36] Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? [37]dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? [38] (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, [39] dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, [40] dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).  Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah, bahwa Nabi saw. berangkat menuju ke salah satu medan peperangan. Datanglah seorang lelaki yang bermaksud ikut, tetapi ia tidak mempunyai kendaraan untuk berangkat perang. Ia bertemu dengan seorang temannya lalu berkata, "Berikanlah aku kendaraan." Maka si teman itu menjawab, "Aku akan memberikan kepadamu untaku yang terbaik ini dengan syarat, hendaknya kamu mau memikul dosa-dosaku." Lalu lelaki itu menjawab, "Baiklah saya setuju." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Ceritakanlah kepada-Ku tentang orang yang berpaling." (Q.S. An Najm, 33) Ibnu Abu Hatim juga mengetengahkan hadis ini melalui Daraj Abu Samah yang menceritakan, bahwa suatu pasukan berangkat ke medan perang lalu seorang lelaki meminta kepada Rasulullah saw. hewan kendaraan untuknya. Rasulullah menjawab, "Aku tidak memiliki hewan kendaraan untukmu." Kemudian lelaki itu pergi dengan hati yang sedih lalu ia bersua dengan seorang lelaki yang unta kendaraannya sedang diistirahatkan di hadapannya, "'Maukah engkau bila menaiki kendaraanku ini dan menyusul pasukan (kaum muslimin) dengan membawa pahala kebaikanmu?" Maka lelaki yang tidak berkendaraan itu mengatakan, "Ya." Maka ia berangkat dengan kendaraan untanya, lalu turunlah firman-Nya, "Ceritakanlah kepada-Ku tentang orang yang berpaling." (Q.S. An Najm, 33) sampai dengan firman-Nya, "Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna." (Q.S. An Najm, 41)  Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Zaid yang menceritakan, bahwa ada seorang lelaki masuk Islam, lalu ia ditemui oleh sebagian orang yang telah memberikan pinjaman kepadanya. Lalu orang itu berkata kepadanya, "Apakah kamu lupa akan utangmu kepada orang-orang tua itu sehingga kamu membiarkan mereka kehilangan, sedangkan kamu menduga bahwa mereka masuk neraka." Lelaki itu menjawab, "Sesungguhnya aku takut kepada siksaan Allah." Orang itu berkata, "Berikanlah kepadaku sesuatu, maka aku bersedia menanggung semua azab yang ditimpakan kepadamu." Lelaki itu memberinya sesuatu yang dimaksud. Tetapi orang itu berkata, "Berikanlah kepadaku lebih dari itu." akhirnya keduanya saling tawar menawar. Lelaki itu memberinya sesuatu yang dimintanya, lalu menuliskan hal itu dan memanggil saksi untuk itu. Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tadi, yaitu firman-Nya, "Ceritakanlah kepada-Ku tentang orang yang berpaling serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi." (Q.S. An Najm, 33-34) [41] Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,  Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, bahwa mereka lewat dengan gaya yang sombong di dekat Rasulullah saw. yang pada saat itu sedang mengerjakan salat. Maka Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan mereka, yaitu, "Sedangkan kalian melengahkannya." (Q.S. An Najm, 61) [61] Sedang kamu melengahkan(nya)?  Syaikhain dan Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Mas'ud r.a. Teks hadis ini berdasarkan apa yang diketengahkan oleh Imam Hakim, yaitu, bahwa Ibnu Mas'ud telah menceritakan, aku melihat bulan terbelah menjadi dua bagian di Mekah, yaitu sebelum Nabi saw. keluar meninggalkannya (berhijrah ke Madinah). Lalu orang-orang kafir Mekah mengatakan, "Dia (Muhammad) telah menyihir bulan." Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, "Telah dekat (datangnya) hari kiamat dan telah terbelah bulan." (Q.S. Al Qamar, 1) Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Anas r.a. yang telah menceritakan, bahwa orang-orang kafir Mekah meminta suatu mukjizat dari Nabi saw. (sebagai bukti kenabiannya), maka terbelahlah bulan di Mekah sebanyak dua kali, lalu turunlah firman-Nya, "Telah dekat (datangnya) hari kiamat dan telah terbelah bulan." (Q.S. Al Qamar, 1) sampai dengan firman-Nya, "(Ini adalah) sihir yang kuat/terus-menerus." (Q.S. Al Qamar, 2)

×