Your SlideShare is downloading. ×
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Gaharu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Gaharu

14,449

Published on

Published in: Education, Business, Technology
0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
14,449
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
280
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1.
    • Judul Kegiatan : Teknologi Peningkatan Produksi Gaharu 2. Judul UKP : Teknologi Peningkatan Produktivitas dan Kualitas HHBK
  • 2.
    • 3. Pendahuluan
    • Gaharu merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang mempunyai peranan penting untuk meningkatkan pendapatan masyarakat disekitar hutan. Di Kalimantan Timur terdapat 3 jenis pohon penghasil gaharu antara lain Aquilaria microcarpa, A. beccariana dan A. malaccensis . Populasi pohon penghasil gaharu tersebut di hutan semakin berkurang dan langka. Hal ini disebabkan penebangan pohon gaharu untuk mendapatkan gubal gaharu tidak terkendali.
    • Selama ini produksi gubal gaharu mengandalkan pohon gaharu dari alam dimana tidak diketahui secara pasti kapan proses terbentuknya gaharu pada pohon tersebut. Oleh karena itu untuk mengurangi ketergantungan produksi gubal gaharu dari alam, maka dilakukan rekayasa pembentukan gaharu dengan cara penyuntikan (inokulasi) menggunakan mikroorganisme (jamur). Berdasarkan hasil penelitian tahun 2004, rakayasa penyuntikan dengan mikroorganisme ( Fusarium sp .) pada pohon penghasil gaharu menggunakan inokulan padat dan inokulan cair, menunjukkan adanya indikasi kuat terbentuknya gubal gaharu.
  • 3.
    • 4. Tujuan dan sasaran
    • Tujuan :
    • Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyediakan data/informasi mengenai proses pembentukan gaharu dan menghasilkan paket teknologi penyuntikan dengan menggunakan mikroorganisme ( Fusarium sp. ) dalam bentuk inokulan padat dan cair pada pohon penghasil gaharu.
    • Sasaran :
    • Sasarannya adalah tersedianya data/informasi mengenai proses pembentukan gaharu dan paket teknologi penyuntikan dengan menggunakan mikroorganisme ( Fusarium sp .) dalam bentuk inokulan padat dan cair pada pohon penghasil gaharu.
  • 4.
    • 5. Metodologi
    • Lokasi penelitian meliputi Kabupaten Berau (Desa Labanan Jaya dan Makmur), Kabupaten Kutai Kartanegara (Desa Sei Merdeka, Samboja) dan Kotamadya Samarinda (Desa Lempake dan Sempaja).
    • Dalam penelitian ini dilakukan 2 cara penyuntikan dengan menggunakan inokulan padat dan cair pada pohon gaharu dari tanaman dan alam antara lain :
      • 5.1. Melakukan pengeboran pada batang berbentuk spiral hingga tinggi bebas cabang, atau setinggi 3,2 m.
      • 5.2. Melakukan pengeboran dan penggergajian arah vertikal hingga ketinggian 4,2 meter.
  • 5.
    • 6.1. Telah dilakukan penyuntikan (inokulasi) pada pohon penghasil gaharu ( Aquilaria malaccensis, A. microcarpa dan A. beccariana ) milik masyarakat sebanyak 30 pohon yang terdiri dari 18 pohon berasal dari tanaman dan 12 pohon berasal dari alam (tumbuh secara alami).
    • 6.2. Penyuntikan pada batang pohon berbentuk spiral dan vertikal. Spiral dengan cara pengeboran saja, sedangkan vertikal gabungan antara pengeboran dan penggergajian. Inokulan yang digunakan adalah inokulan padat dan cair.
    Pemanenan gubal gaharu akan dilakukan 2 (dua) tahun setelah penyuntikan dengan cara memanen sekitar 25% dari hasil penyuntikan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Berblok (RAB) dan Uji Lanjutan menggunakan Uji LSD. 6. Ringkasan hasil kegiatan.
  • 6.
    • 6.3. Pemanenan gubal gaharu hasil penyuntikan (inokulasi) akan dilakukan 2 tahun setelah inokulasi yaitu tahun 2007.
    • 6.4. Hasil sementara pengukuran 3 bulan setelah inokulasi jaringan kayu yang terinfeksi dengan menggunakan inokulan padat panjang berkisar 1,8 – 5,1 cm dan lebar 1,1 – 3,2 cm, sedangkan menggunakan inokulan cair panjang berkisar 2,3 – 4,3 cm dan lebar 0,9 – 3,1 cm. Hasil pengukuran panjang dan lebar merupakan hasil rata-rata dari 3 kali pengukuran pada pohon gaharu berasal dari tanaman.
    • 7.1. Keterbatasan jumlah pohon penghasil gaharu ( Aquilaria spp .) untuk kegiatan penelitian, baik pohon gaharu yang berasal dari alam (tumbuh alami) maupun pohon gaharu yang berasal dari tanaman (hasil penanaman).
    7. Permasalahan
  • 7.
    • 7.2. Meskipun ada indikasi kuat terbentuknya gaharu dari hasil penyuntikan (inokulasi) dengan menggunakan inokulan padat dan cair. Namun pembentukan gaharu tersebut perambatannya sangat lambat. Di samping itu hanya jenis jamur Fusarium sp . saja yang digunakan sebagai inokulum pembentuk gaharu.
    • 7.3. Penyuntikan (inokulasi) pada pohon gaharu dari alam belum optimal, karena pohonnya tinggi dan sulit untuk dijangkau.
    • 7.4. Terjadi gangguan pada pohon yang diinokulasi, khusus pohon gaharu dari alam seperti pengambilan inokulum dan lilin penutup lubang
  • 8. 8.1. Perlu dilakukan inventarisasi pohon penghasil gaharu (Aquilaria spp.), baik pohon gaharu dari tanaman maupun pohon gaharu alam yang dimiliki masyarakat sekitar hutan. Di samping itu perlu juga dilakukan inventarisasi pohon gaharu untuk mengetahui potensi gaharu di alam seperti di hutan sekunder, hutan produksi dan kawasan konservasi (hutan lindung, Taman Nasional). Hal ini dimaksudkan untuk pengembangan penelitian gaharu, selama pohon gaharu hasil penanaman belum tersedia. 8.2. Melakukan budidaya pohon gaharu yang representative, mudah dijangkau dan jauh dari kemungkinan gangguan dari manusia dan lainnya. Hal ini mengingat dalam kenyataan di lapangan banyak pohon-pohon yang ditebang oleh masyarakat, meskipun pohon tersebut tidak mengandung gaharu. Di samping itu pengambilan inokulan padat dan lilin penutup lubang. 7.4. Terjadi gangguan pada pohon yang diinokulasi, khusus pohon gaharu dari alam seperti pengambilan inokulum dan lilin penutup lubang 8. Langkah tindak lanjut
  • 9.
      • 8.3. Karena proses pembentukan gaharu sangat lambat perlu dicoba beberapa jenis jamur yang di dapat dari pohon gaharu (tanaman dan alam serta gaharu dari para pengumpul). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan jenis jamur untuk menginfeksi jaringan kayu dan perambatan gubal gaharu.
  • 10. Lampiran 1b. Matrik Daftar Kegiatan Penelitian Setiap UKP LIngkup P3HKA dan Rencana Tahun 2007.
    • Melakukan pemanenan gubal gaharu hasil penyuntikan (inokulasi) pohon gaharu tahun 2005 (pemanenan 2 tahun setelah inokulasi). Pemanenan selanjutnya akan dilakukan secara bertahap yaitu 3, 4, dan 5 tahun setelah inokulasi.
    • Melakukan pengamatan dan pengukuran dari uji coba jenis jamur tahun 2006.
    • Melakukan penyuntikan (inokulasi) pada pohon gaharu dari tanaman dan alam milik masyarakat.
    Teknologi Peningkatan Produksi Gaharu/ Ir. Ngatiman, MP Peningkatan Budidaya HHBK Untuk Mendukung Usaha Kecil Menengah/Teknologi Peningkatan Produktivitas dan Kualitas HHBK KETERANGAN USULAN 2007 RPTP 2006/ PELAKSANA PROGRAM/UKP
  • 11.
      • Gambar 1. Penyuntikan secara spiral (pengeboran) pada pohon gaharu ( A. microcarpa ) dari tanaman
  • 12.
      • Gambar 2. Penyuntikan secara vertikal (kombinasi) pengeboran dan penggergajian) dari alam
  • 13. (a) (b)
      • Gambar 3. Inokulan Cair (a) dan inokulan padat (b) sebagai bahan penyuntikan (inokulasi) pada pohon gaharu.
  • 14. C P Gambar 4. Hasil pembentukan gaharu 3 bulan setelah inokulasi dengan menggunakan inokulan cair (C) dan padat (P).
  • 15. a. b. c. d. e. Gambar 5. Jaringan kayu yang telah diinokulasi selama 1,5 tahun dari pohon gaharu alam, a. perambatan pembentukan gubal, b. garis gubal atas, c. garis gubal yang terbentuk kearah horizontal, d. lubang inokulasi yang berisi inokulum, e. jaringan kayu yang terinfeksi.
  • 16. a . b . c . d .
    • Gambar 6. Hasil inokulasi
    • dengan
    • penggergajian :
    • a. Lubang gergajian.
    • . Jaringan kayu yang
    • terinfeksi.
    • . Garis gubal.
    • . Perambatan gubal.
  • 17. TERIMA KASIH

×