Puisi Saya

19,057 views
18,736 views

Published on

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • hati saya ber detakak detak
    karena saya lagi jatuh cinta
    dengan sese orang
    dia cerdas,ganteng, dan
    tampan.saya menyukainya

    mimpi saya dia
    saya melihat dia
    waktu di rumah
    saya mengigat terus
    hanya satu satunya
    yang ku cintai
    saya menyukainya
    I love u.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
19,057
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
12
Actions
Shares
0
Downloads
79
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Puisi Saya

  1. 1. LULUS Bertahun–tahun aku menunggu Dengan harap–harap cemas Bisakah aku meraih harapanku Siang dan malam memeras otak Giat belajar tak pernah henti Tibalah detik–detik ujian menanti Dengan tenang jari–jemariku mulai mengisi Detik demi detik, hari demi hari Akhirnya tibalah. Saat–saat yang kutunggu Kubuka amplop tertutup dan kubaca Alhamdullillah aku lulus Senang selalu hatiku Bambang Saptoaji
  2. 2. KECEWA Beribu harapan darimu Semua janji – janji manismu Ternyata semua palsu Sedih hati ini bagai disayat sembilu Mana janjimu, semuanya palsu Oh …….. betapa teganya kau menyakiti hatiku Hatiku sakit, hatiku luka, hatiku pedih Semoga cukup aku saja yang kau sakiti Jangan mencari mangsa yang lain Bambang Saptoaji
  3. 3. PERINGATAN UNTUK KAMI F.Zulaidah.H Ya Allah Begitu banyak peristiwa–peristiwa Yang terjadi di negeri kami Dan peristiwa itu sangat memilukan Situ Gintung . . . . Setelah kau tumpahkan air bah Dan menelan banyak korban Kini . . . Peristiwa tragis itu terulang kembali Pesawat Herkules terjatuh Ya Allah Apakah ini peringatan untuk kami Atau hukuman Begitu banyak manusia–manusia Yang Engkau ambil kembali Ya Allah Ampuni segala dosa–dosa kami Segala kesombongan kami Ampuni dosa–dosa orang yang telah mendahului kami Dan berilah ketabahan pada orang–orang yang ditinggalkan Amien . . .
  4. 4. KETIKA CINTA BERSYUKUR Butiran air mata takkan cukup tertuang Dalam lembaran hidup manusia Segala bentuk dan rasa Menjadi bumbu hidup yang nikmat Ketika mata menatap dunia Ketika hidup menghirup kasih saying Ketika cinta merasuki relung jiwa Tak ada yang abadi Hanya ungkapan syukur yang berlimpah Menemani sisa hidup untuk sejatinya Tangan menadahkan sejuta harapan Untuk bisa berjalan pada sejuta kenikmatan Ikhlas dan tawakkal Adalah bekal yang selalu berpegang pada kita Berjanjilah bahwa takkan habis sudah Ketika cinta mensyukuri karunia-Nya Sunarwati
  5. 5. HIDUP Hidup Bahagia, senang, sedih, gembira Itulah hidup . . . Tapi kenapa terkadang kita lupa Pada Nya !!! Namun waktu terus berjalan Seakan kita tidak bisa mengulang Menghentikan jarum jam ini Yang terus dan terus . . . . berputar Yang kita tetap, dan terus berjuang Dan memperjuangkan hidup ini .. . .. . Menjadi lebih berarti lagi Bagi hidup kita sendiri Kita berpijak di atas bumi ini Dan tetap bertahan sampai saat ini Hanya karena kemurahan, keikhlasan, kebaikan Sang Pencipta Ismawati
  6. 6. LARA Duka dan lara Adlah satu kata Yang tak terpisah Dalam anugrah Cinta Lara dan nestapa Itu yang dirasa baginya Yang putus cinta Nestapa dan air mata Selalu melanda baginya Mereka yang merasa dunia ini hampa Sumarni
  7. 7. T A N YA Apa aku tak pantas untuk di cinta Apa aku tak pantas untuk tertawa Apa aku tak pantas untuk mengenal asmara Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa asmara yang kurasa Selalu berakhir dengan air mata Kenapa! Kenapa ! Oh Kenapa! Kenapa selalu berakhir dengan Tanya Ya . . . . Tuhan lindungilah hambamu Dalam hidupku yang penuh dengan nestapa Untuk menerangi jiwa ragaku Yang sedang dilanda asmara Sumarni
  8. 8. GURUKU Guruku adalah guruku . . . Harus digugu dan ditiru Untuk bangsaku . . . Penerus bangsa Yang mampu memahami Hakekat hidup adalah ibadah Agar menjadi bangsa yang berakhlaq karimah Berpedoman pada norma dan nilai yang benar Berwawasan luas Bersaing di dunia global Menguasai ilmu dan ekonomi Guruku . . . Harus digugu dan ditiru untuk bangsaku Agar mampu hidup beradaptasi Jadi inspirator . . . Jadi pemimpin . . . Pemimpin yang bermartabat tinggi Untuk penerus bangsa ini Baroroh Barid
  9. 9. BULANKU Bulanku kutatap engkau Kau bersembunyi di balik awan Kau bersembunyi dibalik ranting–ranting Ku selalu menatapmu Dibalik kabut yang menyelimutimu Mengapa engkau tidak bergeming Kapan engkau tersenyum padaku Mengobati kerinduanku Ku kau selalu sabar Menunggumu . . . Menantimu Sampai engkau muncul kembali Suharmono
  10. 10. RASAKU Sunyi mendera ranting bougenville Kering serasa meronta Menyusup dalam jantung Mengalir dalam darah Slalu kucoba menegakkan ranting terombang Seribu kucoba Serasa sejuta ku ditentang Hujatku bagai laron di waktu hujan Sekali tampak lalu menghilang karena bosan Tangisku bagai aliran Sungai Kapuas Sekali mendera lalu kering karena tidak puas Kala ranting bougenvell tak berdaya Kala ranting tak lagi terasa Lalu kuberpikir pantaskah aku menghujatmu Hanya karena inginku bukan maumu Yeni Lego Mintarsih
  11. 11. LUKA Luka luka dan luka Luka lara . . . Luka nestapa . . . Lukaku kau tidak akan tahu Luka tak terperih Luka tak tertahan Hanya aku yang tahu Hanya engkau yang tau Hanya bintangku . . . Pengobat lukaku Hanya bintangku . . . Gairahku . Dan hanya padaNya . . . Pelipur laraku Siti Nurbaya
  12. 12. KUSUMA BANGSA Aku hidup . . . hari ini Ada suatu doa yang harus aku raih Aku jalani hidup ini Dengan harapan . . . . semua orang bisa melihat Aku terus melangkah meraih cita – cita Aku coba bertahan karena hidup ini terlalu berat Tetapi aku tidak putus asa Karena aku coba untuk terus melangkah Demi bangsa ini Bangsa Indonesia tercinta Aku terus melangkah dan melangkah Aku ingin menjadi kusuma bangsa Yang selalu berguna bagi semua orang Oh Tuhan . . . Jadikan diriku . . . Untuk menjadi bangsa ini Ingin sesuatu yang baru Demi masa depanku, masa depan bangsaku Aku mau tersenyum untukmu Bangsa Indonesia Maya Yustiana
  13. 13. KISAH HIDUPKU Saat aku bangun . . . Saat aku kembali melihat Hari yang baru . . . Saat aku boleh merasakkan udara yang segar . . . Aku kembali bersujud padaMu Tuhan . . . Detik berganti menit Menit berganti jam Jam berganti hari . . . Waktu terus berlalu . . . Aku terus melangkah Menjalani hidup ini Saat aku senang aku coba tunjukkan Saat aku sedih aku coba untuk tunjukkan Tetapi aku ingin hidup ini penuh arti Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa Menjalani hidup ini . . . Aku terus melangkah Raih cita – cita yang mulia Aku ingin semua orang bisa melihat Bahwa aku bisa Tuhan, tanya kepadaMu Aku terus berserah Aku coba jalani apa yang menjadi kehendakMu Trima kasih Tuhan . . . Aku mau kisah hidupku berarti buat orang lain Buat orang yang ada disekitarku Elsih S
  14. 14. PERASAAN SENANG Bunga melati berwarna putih Baunya harum semerbak sekali Sungguh senang hatiku ini Tadi malam dia datang lagi PERASAAN SEDIH Mungkin aku bukan pujangga . . . Yang pandai merangkai kata . . . Mungkin aku tak selalu ada di hatimu . . . Ku ingin kau tahu isi dihatiku . . . Ku tak akan jerah cegah hati ini . . . Hingga dunia tak bermentari . . . Satu yang ku pinta yakini dirimu . . . Hati ini milikmu . . . Semua yang kulakukan untukmu lebih dari Kata cinta untukmu . . . Anik Rahmawati
  15. 15. PERASAAN MARAH/JENGKEL Saat ku diam terpangkuh Kau datang menghampiri kau coba Ganggu diriku Kau tersenyum menatapku . . . lalu aku palingkan Wajahku dari dirimu Walau kau coba paksakan aku tetap ku tak mau Seribu cara tlah kau coba tuk keinginanmu . . . Oh . . . jangan, jangan lagi . . . . jangan lagi . . . Buang jauh rasa cintamu padaku . . . Anik Rahmawati
  16. 16. BERDUKA CITA Ketika itu . . . Kulihat kerumunan masa yang memenuhi rumahku Aku hanya terbengong–bengong . . . Menyaksikan dan bertanya dalam hati Apa gerangan yang terjadi . . . Disana sini banyak air mata Mengalir membasahi pipi . . . Mereka menjerit, meratapi . . . seseorang yang terbujur kaku Sekujur tubuhnya ditutupi dengan kain putih Aku bertanya kesana kemari Mengapa semua menangis, meratap dan menjerit . . . Siapakah yang terbujur kaku itu? Bolehkah aku melihatnya . . . Apakah aku kenal dengannya . . . Tanpa kusadari, seseorang telah membimbingku Ku buka kain itu, ku tatap wajah kaku itu Oh Tuhan kenalkan aku dengannya . . . Aku pun menjerit . . . ayah . . . ayah . . . Mengapa engkau meninggalkan kami Tuhan . . . mengapa begitu cepat Engkau memanggil ayah kami Tuhan ampunilah segala dosa ayah kami Semoga Tuhan, Engkau terima ayah disisiMu Tabahkanlah hati kami yang telah ditinggalkan Lilik Rufiati
  17. 17. GADISKU Mei Suryani Wajahmu yang mungil, lucu dan cantik Kutimang dank u buai di setiap tidurmu Ku beri kehangatan dalam dekapanku Ku tuntun kau agar dapat warna dalam hidupmu, Tak terasa Waktu terus bergulir Detik menjadi menit dan berubah menjadi jam Jam terus berlalu kehari dan Minggu Minggu berganti bulan dank e tahun Kini kau telah dewasa Saat kita berada pada satu meja Kutatap dirimu dalam, dalam Kau melirik, tersenyum dan bertanya . . . Mengapa? Aku tersentak dalam lamunan Tak . . . apa Wajahmu lebih cantik saat kamu berjilbab Ku membayangkan saat kecil Tak terasa menetas air mataku Ya . . . Allah. Kini aku hanya bisa berdoa Jadikanlah ia wanita yang terbaik menurutmu Jadikanlah ia pemimpin umatmu Dengan ridhomu, aku memohon
  18. 18. TANAMAN Di tembok Dekat tangga semen yang retak Di muka pintu Rumahku yang teduh dan naung Telah tumbuh Tanaman kecil Bagus dan molek warnanya Bagai kupu – kupu Barangkali sesekor burung mungil Telah menyebarkan biji - biji kecil Di sini Bagai menebarkan kasih saying Salam dan selamaat pagi Aku bangun Dengan muka cerah Dan senang hati pagi itu Sebab Tanaman kecil pun Ingin tumbuh menikmati hidup Kusiram ia setiap pagi Kupindahkan ke pot Ku sayangi dan kepelihara setiap hari Agar segar dan tetap berseri Tasri
  19. 19. PERASAAN SENANG Datanglah Nyatakanlah cintamu Bila kau benar – benar menginginkanku Aku disini duduk manis menantimu Karena kau telah memilih diriku Dan kau membuat diriku terbang PERASAAN BERSALAH Cinta . . . Sedang apakah dirimu Seminggu tak ada kabar Sebulan tanpa cerita Dimanakah dirimu berada Cinta . . . Jangan pernah tinggalkan aku Walau aku yang bersalah Kupikir ku bisa tanpamu Tapi aku tak sekuat itu Cinta . . . Kini aku sadari Kaulah yang terbaik Dan tak ada yang mampu Gantikan cintamu
  20. 20. PERASAAN SEDIH Deras hujan yang turun Mengingatkanku pada dirimu Aku masih disini untuk setia Selang waktu berganti Aku tak tahu engkau dimana Tapi aku mencobauntk setia Sesaat malam datang Menjemput kesendirianku Dan bila pagi datang Ku tahu kau tak disampingku Tapi aku mencoba untuk setia Rika Rahmawati B
  21. 21. Purnama tampakkan wajah manismu Temani hati bahagiaku Agar aku dapat mencandai senyummu Aku yang ceria memandangmu Aku dendang sebuah pantun cintaku Bawa dan peluk aku di dalam dekapan manismu Agar terlelap hingga pagi menjelang Sesal hati ini . . . Dimana aku kan bawa gundahku Menepikah Ketengah Ataukah aku harus menantang derasnya Arus hidup yang terus berpolemik Semua asa membawaku sesal Semua derita membuatku tangis Dan aku disini di atas pusara maut Biarkan dan pandanglah diriku Berpacu dengan roda–roda takdirku Dengan sejuta marahku Kukejar dirimu walau nafasku terpencar Kubanting semau masalahmu Kuumpat dengan kata – kata jorok nan menjijikkan Pergi . . . Jauh . . . Bangsaat . . .
  22. 22. Jalanmu tertutup tak menuju kearah ini Tanpa sesal kubuang muka manisku Hanya wajah angker Senyum kecut yang kupunya Noor Dianingsih
  23. 23. PAHIT Yermas Irianningsih Pedih kurasakan . . . Apa yang ku rasa . . . Tak bisa kupahami . . . Bila kusendiri . . . Terasa hidup ini tak berarti . . . Hinakah aku Hidup di dunia ini Tak seorangpun . . . Yang dapat mengerti aku . . . Memang hidup . . . Tak seperti yang aku kira Selalu ada cobaan untuk menjalaninya Tuhan . . . Bukakan pintu hatiku . . . Untuk selalu memulaikan nama-Mu Hanya engkaulah . . . Yang dapat membantuku . . . Untuk melepaskan semua bebanku Sekarang . . .ku bisa tersenyum . . . Walau hati ini terluka . . . Kini ku merasa bahagia . . . Meski hanya sesaat . . .
  24. 24. ANDAI KUDAPAT MEMILIH Sudah berapa lagu yang kunyanyikan Sudah berapa mobil yang kukejar Sudah berapa jendela yang kuketuk Mengharap iba kasihan Hanya demi sekeping recehan Tapi . . . Aku tak boleh berhenti Kaki kecilku tak boleh berhenti berlari Bibir mungilku tak boleh berhenti bernyanyi Jika ku masih ingin melihat esok pagi Andai kudapat memilih . . . Akan kutanya pada Tuhan Mengapa kau tempatkan ruhku Pada ragaku ini Mengapa kau tulis takdirku segelap ini Andai kudapat memilih . . . Kuingin seperti mereka Berlari riang di koridor sekolah Dengan kaki berbalut sepatu indah Andai kudapat memilih Kau boleh ambil recehanku Kau boleh ambil gitar tuaku Kalau kau mau kau boleh ambil Separuh hidupku Asal aku dapat merasakan hidup Seperti mereka
  25. 25. Walau hanya sekejap Nuratin
  26. 26. BUNGA MAWAR DI TAMANKU Lihat bunga mawarku Tumbuh subur di tengah taman Kelopaknya mekar bagai mahkota Warnanya pun merah merona Harumnya semerbak mewangi Membuat taman tambak indah berseri Siapapun ingin mendekati bunga mawarku Tuk menyentuh dan mencium wanginya Setitik embun membasahi bunga mawarku Bagaikan pelangi di pagi hari Segar harum wangi di tamanku Kuhirup udara segar Kucium mawar itu Alangkah gembiranya Aku pagi itu Choiru Madjidah
  27. 27. SUARA HATI Di kala senja mulai meredup Hawa sunyi tlah kurasakan Tiada kurasa angin malam tlah kuhirup Hingga dingin malam tak kauhiraukan Hening . . . Sunyi . . . Suka . . . Duka . . . Nestapa nan lara sirli berganti Sungguh kurasakan suatu derita Itulah hidup . . . Bagai fatamorgana . . . Yang tiada hanyalah bayangan semu Kurasa sungguh kurasakan Berat kaki berpijak Tuk mengerti sebuah arti kehidupan Erat terasa tanganku kurentangkan Tuk mendayu lautan kehidupan Sungguh tak kuasa ku tepis semua ini Hingga tak sanggup kurajut satu keinginan Ketenangan, ketentraman yang hadir dalam batin Itulah suara hati yang terkubur dan terhembaskan Hilang msnah tak tahu arah Hancur luluh . . . Pedih, perih yang kurasa Bertabur jadi satu Nisaul Khoi
  28. 28. DUNIA MENANGIS Ku Terawang Gemerlap lampu kota Banyak puing–puing di sudut kota Kumal, kotor baju lekatmu Kusut . . . kusam raut wajahhmu Semua penuh tantangan yang ada . . . dan pasti ada Diskotik, narkobah, pemulung, peminum, pencopet Juga penghianat Disini harapan–harapan musnah Dengan nafas yang terengah–engah Dengan hati yang penuh nestapa Oh . . . . Setetes, seteguh harapan yang tak mungkin kau miliki Hidup yang penuh liku–liku Amarah . . . dosa . .. . jinakan Maka jangan kau dekati musuh–musuhmu yang bisa membuat kamu jatuh Sana Sini . . .pebuh cobaan Kehancuran yang tidak berguna juga tiada berharga Tuhan . . . Tuhanku . . . Sedetik tak kau ku lepas doaku pada Mu Hilangkah dunia yang penuh kesedihan Dengan bertawakal pada Mu Tuhan Tak henti doaku untuk hidup dunia Sebagai pengobat rindu jiwaku
  29. 29. Buanglah jauh – jauh dosa dan kejahatan dan Raihlah . . . raihlah Hidup di masa depan Rini Juliastuti
  30. 30. CINTA MEMBARA Tak kusangka aku melewati jalan ini Sepi . . . Gelap . . . dan Senyap . . . Aku merangkah dalam keraguan Meraba–raba mencari celah cahaya Hatiku gundah Semakin lama semakin resah Ketika aku diam, kulihat sepasang mata penuh gairah Menatapku begitu tajam, sinarnya merah bagai darah! Tetapi, tak kudengar kata amarah atau cacian! Yang kudengar justru desahan nafas lemah, terengah – engah Meronta, memohon Sesuatu kepadaku Tubuhku terkulai tak berdaya, diantara kesunyian yang menghimpit Tak keluar jawaban apapun dari mulutku Dalam keraguan, ketegaranku punah seperti asap Kekuatan terlucuti Aku telanjang tanpa keberanian Aku telanjang tanpa kuasa Aku telanjang tanpa kesucian Aku telanjang tanpa kebenaran Aku telanjang tanpa kata – kata Bibirku rapat terkatup Lidahku kaku tak bergerak Mataku terpejam dalam kepasrahan Ketika aku diam dan pasrah
  31. 31. Kuhirup bau nafas harum seseorang Aku terbuai . . . Aku terlena dalam desahnya Aku tak mampu bergerak Nafasnya menyengat hatiku Begitu sakit . . . jauh ke dalam, dan . . . Sengatannya memberikan jawaban, tentang sebuah cinta Yang dalam saat sejenak . . . Telah melupakan tempat tinggalnya Telah melupakan kebenarannya Telah melupakan kebahagian yang sejati Telah melupakan kehormatannya Untuk rela merebahkan kepala Di atas pangkuan cinta baru yang tak pasti Kini cinta itu bergayut pada titik kejenuhanku Dia memberikan angan – angan yang penuh tanda Tanya Dia memberikan harapan – harapam dalam mimpiku Tetapi sekaligus, dia menyerangku dengan kemunafikan Dan mencengkeramku dengan kedukaan Puisi ini tercipta akibat dari satu peristiwa nyata, yang saat ini masih berlangsung tetapi perjalannya masuk pada proses keberakhiran Endang Sri Sundari
  32. 32. DIBAWAH TELAPAK KAKI IBU Di bawaah telapak kakimu, Ibu Terhampar taman Firdaus Yang tak terpermadani indahnya Bagi kami anak – anakmu Sejak dari rahimmu Kami terpelihara dalam ketulusan Tiada rasa letih bagimu Kau berjuang menghadap maut Sejak kami kanak – kanak Tiada daya bagi kami Sampai kaki – kaki kami kukuh Kami akan berbakti padamu, Ibu Menyusuri jalan raya dunia Tiada henti kau dekap kami Dengan sayap kelembutan Kau selalu menjadi surga Bagi kami anak – anakmu Ibu, begitu banyak pengorbananmu Bagi kami anak – anakmu Akan selalu mendo,akan, Ibu Sampai akhir waktu Hingga hayatmu Suliatin
  33. 33. TANPA JUDUL Ketika sang surya menampakkan keindahnya Terpaku aku menatapnya Sinarnya yang terang membuat sejuk hati dan pikiran ini Terlarut . . . terbawa oleh suasana yang indah Namun tiba – tiba aku teringat suatu kejadian Yang membuat aku marah !!! membuat aku geram!!! Dan akhirnya tak kurasa aku menahan air mata Air mataku jatuh terurai . . . Terjatuh aku lemas . . . Mengingat kejadian yang membuat aku sakit . . .!!! Membuat aku gelap mata, hingga melakukan hal – hal yang bodoh Oh . . . Tuhan terima kasih kuucapkan syukur padamu Karena kami engkau telah menunjukkan aku kejalan yang benar Betapa indah jalan hidup yang telah kau berikan padaku . . . Biarlah kubuang . . . kupendam . . . dan kulupakan Semua kejadian – kejadian yang amat perih dan sedih Biarlah kujalani hariku yang sekarang, hari yang indah Sejuk dan menyenangkan, sedamai pagi ini Seperti indahnya mentari . . . Sri Muliani
  34. 34. RASA SESAL Memang kuakui sering ku menggoda dia Membuat marahpun aku pernah Tapi . . . Dia tak melampiaskan rasa marah padaku Malah dia menutupi kemarahan padaku Terkadang ku berpikir Meski dia memberikan segalanya padaku Apa yang dapat kubalaskan padamu? Sempat kubicara tentang hal itu Tapi dia . . .tak mengharapkan hal itu Kalau dia tak ingat pada diriku Apa selanjutnya yang akan terjadi padaku Keadaan ekonomi yang kurang membaik Untuk mereka disana saja tak ada Apalagi . . . buatku disini! Mungkinkah aku putur di tengah jalan? Aku rasanya disini tergantung padanya Kini kumenyesal atas semua yang kulakukan padanya Tapi . . . itu untuk kebaikan dia agar dia bersikap dewasa Waktu disini rasanya hanya sebentar Ya Allah kuatkanlah imanku Dan tabahkan hati Tak mungkin aku paksakan disini
  35. 35. LAMUNAN Dalam kesunyian malam Hembusan angin Yang kian membaut Dalam lamunan Hanya bayanganmu yang menggoda Dalam mimpi – mimpi yang akan jadi kenyataan Kuteringat akan pelukanmu Yang begitu hangat dalam dekapanmu Sentuhanmu, belaianmu Membuat aku Takkan lupa akan dirimu Itulah yang ada pada benakku Dikala kusendiri tanpa ada Yang menemaniku dismpingku Sri Indah Yati
  36. 36. HARAPAN SEORANG IBU Ya Allah aku bersyukur kepadaMu! Karena aku tlah Engkau karuniai beberapa anak untukku! Aku mohon dan slalu kumohon kepadaMu! Agar selalu Engkau bombing langkah – langkah anakku! Ya Allah aku takut apakah aku bisa menjalankan amanatMU? Maka dari itu bombing dan beri petunju untukku? Sehingga aku dapat dengan baik menjalankan amanatMu! Dan di suatu hari anak – anak akan bisa menjadi kebanggaanku!! Ya Allah sekali agi aku mohonkan kepadaMu! Agar Engkau menjaga langkah anak – anakku! Ya Allah berilah kemudahan dalam hidup mereka! Agar tidak ada penyesalan diakhir hidupnya!! Ya Allah trima kasih atas rahmatmu! Engkau tlah membimbing aku dan anak – anakku! Akhirnya anakku menjadi baik karena ridhoMu! Dan semoga Allah selalu melindungi dan membimbing setiap langkah anakku! Zhuriyah
  37. 37. CINTA Cinta adalah tanda rahasia Ketuhanan Cinta menimbulkan rasa pilu dan kepedihan Rasa sakit yang menghambur ke seluruh badan dan tulang Cinta bisa datang dari manapun Baik bumi dan langit Cinta berlabuh dan berakhir di hadirat Illahi Apa yang disebut cinta Adakah kamu dapat menerangkannya? Cinta dapat menerangkan apa itu cinta Ketahuilah . . . Wahai kau yang menginginkan cinta Takkan pernah kau dapat yang kau cari Walau segenap bukit kau cari Karena ia ada di hati Cinta . . . Hari ini ada mungkin esok kan pergi Begitu yang terjadi silih berganti Bagi pendamba cinta sejati Carilah dalam relung hati Di dalam kesunyian dan kesepian Saat kau sendiri Duduk terpekur menghadap Illahi Robbi Endang Eka S
  38. 38. Di saat malam telah tiba hatiku sunyi Aku meratapi hidupku dari dulu tiada bahagia Selalu disisihkan mulai kecil sampai sekarang Setiap malam aku bersujud berdoa supaya Hidupku merasakan kebahagiaan Ibu kenapa aku selalu engkau sisihkan Apakah aku ini bukan anak yang kamu kandung . . .? Ibu kenapa engkau selalu memarahiku, selalu engkau Memarahi tanpa sebab yang pasti selalu . . . selalu bersalah Hidupku beranjak dewasa Alhamdulillah aku sudah bekerja Aku bekerja di sekolahan melamar jadi TU tapi kepala sekolah Menyarankan aku mengajar. Aku mengajar bekerja pagi sampai sore Meskipun aku sudah besar masih diomeli betapa malang nasibku Setiap malam aku merasakan kesendirian Pagi mengajar malam dirumah setiap hari berganti hari Itu yang saya lakukan, dan akhirnya hatiku merasakan Bapak ibuku selalu mengusirnya tidak satu dua cowok Aku mengenal cowok yang tak direstui oleh kedua Orang tuaku tapi sampai sekarang aku berjalan Setiap keluarpun aku beck strit kenapa uku begini . . .! Ingin aku terus terang tapi tidak berani Kenapa ibu bapakku tidak mengerti perasaanku Aku bangga mempunyai cowok dia, dia memperhatikan aku Aku bisa bermanja, bercanda dengan dia, dia segalanya buatku Aku sering curhat dengan dia, seandainya aku Berpisah aku tidak tahu, aku ingin hanya kematianlah
  39. 39. Yang bisa memisahkan diriku dan dia Ibu bapak maafkan anakmu ini bukanya anakmu ini tidak Berbakti tapi kenapa bu . . . pak kalian tidak mau memahamiku Dwi Nur Lia
  40. 40. MENCARI KEPASTIAN Suatu hari ketika aku penuh dengan keceriaan Bagiku tugas yang berat untuk mengemban tugas Tugas yang sangat berat kata orang Untuk menempuh liku – liku Dan . . . aku putuskan pada waktu itu Berangkatlah aku dengan bayangan – bayangan Indah Sesampai di tujuan aku tertunduk malu Apakah aku harus maju terus Apakah aku kembali melawan arus? Tidak! Aku tidak akan kembali lagi! Tidak! Aku tidak boleh putus asa Semilir dingin bisikan yang tak bersuara Sejenak aku . . . berhenti detak jantungku Membara api tuk meraih harapan Sesampai di tujuan Ketika itu . . . mereka mendekat dengan mata yang berbinar – binar Apa yang di kata oleh mereka apa yang terjadi pada diriku Mereka mendekat lagi dan merapat dengan penuh Perasaan yang panas lalu . . . dia berkata Bohoong . . . Bohoong kamu!! Pembohong . . .dan puaslah mereka dan puaslah aku untuk mencari kepastian Karyadi
  41. 41. BUAH HATIKU Si kecil buah hatiku Kau begitu lucu dan menggemaskan Tangismu, tawamu member warna kehidupan Kehadiranmu member bahagia dihati Sungguh suatu anugrah, karunia yang tak ternilai Kau cahaya hatiku Tatkala kau sakit Tangismu, sedihmu Turut menusuk kalbu bundamu Seakan turut merasakan sakitmu Tumbuhlah, buah hatiku Kepakkan sayapmu Gapai cita – citamu kelak kemudian hari Jangan kau kecewakan orang tuamu Siti Nuriyati
  42. 42. DALAM KESENDIRIANKU Sepi, sendiri tergugahku akan kisahmu Kau curahkan semua duka deritamu Dalam lantunan dawaiku menari Senyapnya malam bangkitku akan bayangmu Mungkinkah semua ini akan berakhir Kisah cinta yang tiada bertepi Malam . . . sampai kapanku harus begini Kau coba tu selalu sabar menanti Kekasih yang sanggup mengerti Ingin . . .hatiku bersamamu Namun semua terjadi dalam hidupku Kegagalan yang aku alami Biarlahkanku jalani kisah hidupku Kesendirian temaniku dalam lamunanku Akhir kata ku pamit Selamat malam wahai sayangku
  43. 43. OBSESI GILA Terkembang gulita senyap Kidung kenari ruang beratap Saput kelamika menada Lantun puitis simfoni cinta Roman layar hitam Tatap singgasana larut Pekik . . . kalbuku . . . Gelitik . . . penaku Dua malam tawa berdetik Kilas kamu lanjut terbenak Sembari nur atas memutih Sambut logika bak pujangga Obsesi . . . faham Gagal cinta . . . pasti Mimpi gila . . . kali Redup mata kanda Harusku tutup pena janda Terucap akhir kata Met boboX’s yaa . . .
  44. 44. TERSIMPAN DALAM ANGANKU Terhanyut dalam kesesalan Kurendam semua dalam anganku Tak mungkin akan kusesali Kisah hidup ini yang tiada berarti Haruskah aku akan berlari Menggapai mimpi indah yang kau beri Namun ku pedih untuk mencari Langkah hasratpun lelah tuk meniti Mungkin semua cobaan Terawal ku lewati Kebesaranmukanku raih hingga kini Akhirnya tlah ku telusuri Jika kesedihan hidup hingga kini Tak kuasa namun harus pergi Tinggalkan masa lalu wwahai sahabat Salam akhir maafku Endah Apriliyana
  45. 45. PENCARIAN SAHABAT SEJATI Ratih Sariwijaya Tuhan . . . Kenapa tak ada yang mau mengerti aku Kenapa aku harus menderita Kenapa tak ada sahabat . . . untukku Untuk bisa memahami, mengerti dan menemani Tuhan . . . Kenapa setiap orang yang aku anggap sahabat Menjadi musuh dalam hidupku Selalu membuat sedih, resah, dan menangis Tuhan . . . Salahkah aku bila ingin disayangi Salahkah aku bila ingin dilindungi Salahkah aku bila ingin seorang sahabat Salahkah aku ingin mengeluh padamu Tuhan . . . Maafkah aku bila aku salah Aku mengeluh karna aku terluka Aku mengeluh karna aku ingin ‘ . . . “Seorang sahabat sejati” Tuhan . . . Maafkanlah aku bila aku sering marah padamu Dan selalu menuntut apa yang aku inginkan
  46. 46. JALAN TERANG YANG KU TUJU Aku tak tahu Kenapa tak ada yang saying padaku Kenapa tak ada yang memeprhatikanku Kenapa mereka harus mengacuhkan aku Kenapa mereka tak peduli denganku Tuhan . . . Apa salahku Apa yang harusku perbuat Apa yang harus aku lakukan Kenapa harus begini Kenapa harus aku yang menderita Tuhan . .. Tunjukkan jalan tterang untukku Agar aku tak tersesat Dari kegelapan dunia ini Dan berikan ketenangan pada diriku
  47. 47. DOA UNTUK ANANDA Kubaca surat sebening air Surat itu tentang perjuangan ananda Tetapi apa hendak di kata Peristiwa itu memang harus terjadi Kuterbangun tengah malam Dekat sujudmu selaput tahajjud mendengar Kupanjatkan doa untuk anandaku Permata hatiku, belaian jiwaku Bertambah gelisah hati ini Ketika hari itu telah tiba Kupeluk anandaku Kudoakan agar bisa berjuang di medan laga Tuk menggapai cita–cita Oh . . . anandaku selamat berjuang Oh . . . anandaku doaku selalu menyertaimu Engkau agar menjadi anak sholihah Anak yang berguna bagi bangsa dan Negara Amin . . . amin . . . Ya Rabbal alamin Panca Indrayani
  48. 48. KAWAN Hari – hari kita lalui bersama Suka duka kia lalui Susah senang kita bersama Serasa . . . Jarak begitu dekat Serasa . . . Kita tak terpisahkan Kita seperti saudara Tapi sekarang . . . Bagai petir di siang hari Persahabatan kita Pertemanan kita Bubar . . . bar . . . bar Bubar . . . bar . . . bar Kini engkau jauh dariku Walaupun engkau dekat padanganku Serasa . . . Hilang tanpa arti Ya Allah Ya Rabb Apa salahku Ya Allah Ya Rabb Ampuni hamba Bila hamba melukai hatinya Puji Astuti
  49. 49. MALAM Suatu malam yang sunyi sepi Hayalan – hayalanku melambung mengingatkanku lagi Lembar demi lembar kejadian itu muncul lagi Dia membuatku bahagia sekarang telah meninggalkanku Dia yang kusanjung sekarang cuma tinggal nama Tuhan inilah kebagianku yang sesaat saja Apakah aku bersalah memperolehnya, kebhagian yang Cuma sementara Malam apakah aku salah untuk melampiaskan kejengkelanku Aku terlalu mempercayainya ternyata sebegitunya terhadap aku Adakah yang indah dari hidupku, aku bukannya menyalahkan hidup Hidup ini adalah yang harus diperjuangkan Tuhan tuntun aku dalam hidup ini Malam tenggelamkan aku dalam hidup ini Adakah yang baik untuk diriku Aku harus menutup lembar demi lembar dalam ingatanku Esok hari harus kutatap dengan ceria Tuhan aku hanya minta kepadamu menuntun hidup ini Dwi Nastiti
  50. 50. WARTINI, LEDEK PASAR TURI Gemulai tangan, diiringi gamelan Menari dikitari lelaki, diujung jalan pasar turi Dihembus angin telanjang, terpandang ruang kedinginan Wartini, perempuan ledek terjatuh dalam kidung Penghasilan Sorot lampu kuning menerang Menatap wajah tergores pupur dan bibir bergincu Berselendang biru tua tanpa baju Berjoget kesana kemari berpasangan lelaki tua Hingga tergelincir kesemak –semak tubuh Wartini, ledek pasar Turi Memerdekakan hati jadi penari Buat laki – laki sapi Masnu’ah
  51. 51. CATATAN SEORANG ISTRI Ketika badai meniup mesra Ketika rumah tangga dalam prahara Cinta datang tiba – tiba Pelita harapan berkelap kelip Di dalam batin gelisah saja Bak menanti suatu yang hendak tiba . . . Bertambah gelisah hati yang gundah Sangsi, kecewa, meradang resah Benci, dendam . . . rindu cinta . . . Apa hendak dikata Jika rasa datang membabi buta Siapa yang kuasa menepiskannya Ketika hati seorang istri terluka Kemana hendak melampiaskanya Kemana mencari tempat berlabuh Kemana luka dicari obatnya Kemana temukan tinta’tuk mencatatnya Agar hati tetap bertasbih Subhanallah . . . Astaqhfirllah . . . Inalillah . . . Allahu Akbar . . . Laillahailallah . . . Lahaula wala quwata illabillah . . . Tetap! Tetap keagungkan namaMu Karena ini semua ujian dari Mu
  52. 52. Meski berat kulalui episode ini Namun aku harus mampu melewatinya Tangga demi tangga Harus kupijak dengan segala ketegaran jiwa Siti Sri Suhartini
  53. 53. KEDUA ORANG TUAKU Detak waktu yang berlalu Membawa diri meraih sejuta mimpi dan angan Sampai mati ku tak akan melupakanmu Kau pastikan langkah Diiringi terik sang surya Membasuh kulit dan dadamu Dalam hitam putih hidupmu Semua yang kulihat ada pada dirimu Jadikanku yang terbaik untukmu Dukamu kauselimuti dengan senyummu Terik mentari jadi saksi langkahmu Lelah hatimu yang tak dapat kulihat Andai saja dapat kurasa letih jiwamu karena sifatku Kehidupanmu jadi keteladanan bagiku Kasih sucimu hanya untukmu Untuk anak dan cucumu Yang tak akan hilang dan tak akan bisa sirna Apa yang dapat kupersembahkan untukmu Doalah yang dapat ku panjatkan Ku serahkan apapun yang kumampu Ayah . . . Ibu Engkau surga hatiku Satu hati untukku selamanya Suprijatin
  54. 54. HANYA AKU YANG TAHU Aku hanya tahu mengeji Tanpa mencermin diri sendiri Aku hanya tahu mencaci Tanpa melihat keburukan sendiri Aku hanya tahu mengata Tanpa meneliti isi hatinya Aku hanya tahu membantah Tanpa memikirkan kesusahannya Aku hanya tahu mengutuk Tanpa melihat kebaikannya Aku hanya tahu menuduh Tanpa usul periksa Aku hanya tahu menghina Tanpa mengetahui rahasianya Aku hanya tahu memarahinya Tanpa mengetahui hal sebentar Aku hanya tahu mengata Aku hanya tahu menghina Tanpa menyadari Tiada beda antara kita Solichah
  55. 55. WAJAH Engkau dapat mengatakan banyak hal Walaupun tanpa mengucapkan sepatah kata Hanya dengan memandang wajahmu Banyak arti yang dapat kau sampaikan Engkau tersenyum dengan wajah berbinar Tampaklah engkau sangat senang Gembira dan bersuka cita Tapi apabila alismu engkau angkat Dahi engkau kerutkan dan bibirmu cemberut Maka ada sesuatu yang membuatmu Marah, jengkel, emosi dan sedih Siapa saja yang melihat mimic wajahmu Orang akan mengetahui perasaanmu Orang akan mengetahui pikiranmu Agar memperoleh arti tanpa suara Anggraini
  56. 56. KESUNYIAN Kesunyian itu hanya ada di hatiku Rasa yang sunyi itu adalah kebehagiaanku Keputusan itu adalah pedangku Sedangkan cinta itu adalah hidupku Haruskah aku percaya Allah masih menyayangiku? Dimana Cintaku? Kesunyian ini terasa membunuhku Sayap – sayapnya begitu biadab mencumbuiku Kesunyian ini begitu menyiksaku Kelopak – kelopaknya bermekaran meracuni benakku Kemana cintaku? Ya Allah maafkanlah aku Karena cintaku membutakanku . . . Iin Indayani
  57. 57. LIMA KALI BERCINTA Dalam dingin yang menusuk tulang Ku terlelap dalam selimut tebal Disaat kesunyian yang dingin Ku terbangun dalam aadzan yang memanggil Bangunlah, mari kita bercinta dalam Subuh Terasa sejuk dalam lubuk hati yang dalam Waktu beranjak dan terus beranjak, dan beranjak Sang suryapun terus bergerak di atas kepalaku Duhai kekasihku marilah kita bercinta di waktu Dhuhur Ketika air wudhu membasahi muka Kesegaran dalam jiwa serasaa di dalam surga Untuk kesekian kalinya ku bercinta dan bersujud dalam waktu Ashar Bercinta dalam sehari lima kali Ya, aku bercinta kembali dalam Magrib yang tenang Kekasihku, Engkau air yang mengguyur sanubariku Engkaulah bulan purnama penerang malam Duhai, belahan jiwa, waktu memanggil kita Ya, kita, aku, hambamu, kekasihmu Kau panggil aku pada saat bercinta Bercinta pada waktu Isyak Dalam sujud, kepasrahan dan ketaqwaan Duhai kekasihku akankah esok aku bisa bercinta Siti Fatimah B
  58. 58. PUTUS ASA Kupejamkan mataku . . . Kurasakan jiwaku ini melayang Meninggalkan ragaaku Yang terhempas Aku melihat awan putih Langit berwarna biru Kuhempaskan jiwaku Kesalah satu awan disana Kicau burung – burung bersahut – sahutan Terdengar riang ditelingaku Dari bawah sana Aku memandangnya Semua masalahku terserap kedamaian Kurasa aku siap membuka mataku kembali Namun, apa yang terjadi . . .? Ketika kubuka mataku Yang ada hanyalah keputusasaan Agustin Sulistiyorini
  59. 59. NYANYIAN DUKA Menjulang dalam hidup Kugenggam kerajaan dunia Kau singkirkan kerikil – kerikil Yang merintangi langkahku Kau puaskan kerabatmu Seakan tak ada orang hidup selain dirimu Puji – pujian demikian besar Selama 32 tahun Ketika reformasi bergelora Kau turun tahta Kau jalani hidup dengan nyanyian duka Nyanyian mengusut, menghasut, menyudut Hingga kau tergolek tak berdaya Hidup tidak, matipun tidak Namun nyanyian duka itu terus bergelora Hingga kau tiada I Putu Ambara M
  60. 60. BADAI Kepada siapa sunyi ini kubagikan? Setelah kota di dalam hatiku hancur dihantam badai Hujan . . . hanya gerimis Kelam, pekat dan angin bersautan di antara reruntuhan Dinding – dinding tua Kemana langkah ini mesti kuarahkan? Seperti raja yang kehilangan mahkota Kupikul duka rakyat diantara harapan dan putus asa Ya Allah . . . Di pintu gerbang ini aku berdoa Tapi tidak tahu apa yang harus kupinta Karena aku tahu bukan? Sesuatu yang paling aku harapkan Ternyata badai yang mematikan Diah Sukma R
  61. 61. MUNGKINKAH Malam pekat menghujan kota Malang Desir angin dan lolong anjing menusuk tulang Geliat hati saling bicara Mengoyak rasa hilangkan duka Malam sunyi bergerak menurut waktu Di ujung jalan kita duduk tertegun Sebuah rencana tak berakar muncul sebagai tujuan Diiringi aroma bunga tersebar di sepanjang jalan Mengacak – acak lembar demi lembar pikiran kita Kaki pagi mulai melangkah, jemari lentik membuka Gorden menyongsong fajar, menguak cakrawala Mengharap kasih belahan jiwa Selaksa rasa telah tercipta, sejuta duka tertimbun sementara Namun . . . Esok mungkin tak lagi, pagi ini kita bangun sedangkan Mereka masih tidur Mungkin, esok tak lagi, bersama kita merendah mimpi Ririn Ambarwati
  62. 62. SEBUAH HATI Aku adalah seorang wanita Yang punya harga diri dan kasih Aku bukanlah pelukis Yang bisa menjadikan lukisan itu nyata Aku bukanlah pujangga Yang bisa merangkai kata Yang bisa menjadikan kalimat itu indah Tetapi aku hanya mempunyai sebuah hati Yang sedikit demi sedikit kutitipkan kepadamu Semoga engkau menerima Winda Harmawati
  63. 63. AKU TENGGELAM Aku tenggelam dalam kesombongan Dalam pekat malam yang mengerikan Aku berteriak, meminta tolong Tapi apakah yang aku dapatkan? Semua membisu, mulutnya terkunci Tangan dan kakinya enggan menyapa Aku berlari dan terus berlari . . . Mencari pintu lain, yang terbuka . . . Tapi semua terkunci, terikat rapat Laknat!!! Sebuah kesombongan yang mencekikku . . . Sebuah kegoisan, yang memikamku . . . Aku masih berlari . . . tak bertujuan . . . Menunggu . . . sapa malaikat . . .mungkin . . . Ridwan . . . Malik . . . atau siapa Aku tak begitu mengerti Matahari condong ke barat Aku mengikutinya, aku tak sengaja Apa ini keliru, langkahku berakhir??? Dalam jalan gelap ini . . . Aku bersimpuh . . . menangis . . . Aku . . . tak sanggup lagi !! Estu Mulyawati
  64. 64. SEPI MALAM INI Sepi malam ini, dalam kelam tanpa sinar Sepi . . . sepi mala mini pohonpun tiada bergerak Ku tunggu dering teleponmu Kutunggu dengan iringan detak . . . detik . .. . jam dindingku Maafkan kata yang tak sempat terucap Maafkan diamku yang tak kau suka Sungguh . . . aku ingin mencintaimu dengan sederhana Tanpa romatisme yang membara Tanpa pesona yang memabukkan Sungguh . . . aku ingin mencintaimu penuh kesederhanaan Seperti angin yang berhembus di pematang sawah Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Seperti Khadijah dan Muhammad Saling merindu di kala jauh Saling member dikala sedih Aeh, semoga kau mengerti Dalam malam yang sepi Aku tunggu jawab . . .mu Latifah
  65. 65. TERHENTI Empat tahun lalu aku kuliah Aku berharap kuliahku baik – baik saja Aku senang bisa bertemu dengan teman – teman Sepropesiku Tetapi . . . kenyataan berkata lain Aku berhenti . . . Kuliahku berhenti karena suatu hal Namun akupun tak patah semangat Sekarang aku bisa kuliah lagi Dengan rasa senang, gembira tanpa aku sadari Melanjutkan sampai saat ini Adi Rumpoko
  66. 66. AKU SEORANG WANITA Aku seorang wanita Yang punya hati dan perasaan Mungkin aku kelihatan kasar Tetapi jiwaku tetap wanita Aku seorang wanita Yang tidak bisa terbang lincah Janganlah aku dibiarkan melamun Jangan biarkan daku menangis meraung – raung Aku seorang wanita Aku mungkin jahat dan hina Namun aku tetap wanita yang perlu belaian kasih saying Aku seorang wanita Yang lemah segalanya Janganlah engkau salahkan aku Kalau aku melupakan perasaan aku Aku seorang wanita Yang punya harga diri dan amarah Wahai semua jejaka Jangan engkau mempermainkan jiwa wanita Aku seorang wanita Yang selalu menunggu dan menanti Sepi sunyi senyap selalu ada Harapan penantian kasih tak kunjung tiba Aninda
  67. 67. AKU SEORANG WANITA Aku seorang wanita Yang punya hati dan perasaan Mungkin aku kelihatan kasar Tetapi jiwa ku tetap wanita Aku seorang wanita Yang tidak bisa bersendirian Janganlah aku dibiarkan tanpa teman Jangan biarkan daku duka tanpa keluhan Aku seorang wanita Aku mungkin jahat dan hina Namun aku tetap wanita Yang perlu belaian kasih saying Aku seorang wanita Yang lemah segalanya Anganlah engkau salahkan daku Jika kalau aku meluapkan perasaanku Aku seorang wanita Mungkin aku kuat dan tabah Dalam hadapi dugaan hidup Namun hati wanita Tuhan saja yang Mengetahuinya Aku seorang wanita Yang memerlukan teman hidup Bukan karena aku tidak beramarah Tapi karena perlukan kasih dan cinta Aku seorang wanita Yang Tuhan karuniakan kelembutan Walau bagaimana hatiku membara Namun jiwaku tidak sampai Membenci manusia
  68. 68. Mudjiarti LULUS Bertahun – tahun aku menunggu Dengan harap – harap cemas Bisakah aku meraih harapanku Siang dan malam memeras otak Giat belajar tak pernah mati Tibalah detik – detik ujian menanti Dengan tenang jari – jemariku malas mengisi Detik demi detik, hari demi hari Akhirnya tibalah saat – saat yang kutunggu Kubuka amplop tertutup dan kubaca Alhamdulillah aku lulus Senang selalu hatiku KECEWA Beriba harapan darimu Semua janji – janji manismu Ternyata semua palsu Sedih hatimu bagai disayat sembilu Mana janjimu, semuanya palsu Oh . . . betapa leganya kau menyakiti hatiku Hatiku sakit, hatiku luka, hatiku pedih M. Saptaputra

×