2        Kedamaian, di Manakah Kau Berada?                              Sanksi Pelanggaran Pasal 72             Undang-Und...
3Kedamaian,di Manakah Kau Berada?Catatan dan Pembicaraan Sepanjang Penziarahan Hidup           Seeking Peace           Not...
4        Kedamaian, di Manakah Kau Berada?                        Seeking Peace              Notes and Conversations along...
5P   ikirkanlah sejenak makna kata “damai”. Tidakkah    kelihatan aneh ketika para malaikat menggemakandamai, sementara du...
7       Ucapan TerimakasihB    elasan orang membantu sampai buku ini selesai     dicetak, tetapi aku ingin menyampaikan te...
8     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Cornell, Pastor Benedict Groeschel, Thick Nath Hanh,Molley Kelly, Frances Kieffer, ...
9                       Daftar IsiUcapan Terimakasih ..............................................     7Kata Pengantar .....
10      Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Damai Karena Tak Ada Perang ..................................              ...
Daftar Isi          11Bagian VHidup yang Berkelimpahan ................................... 245     Jaminan Keselamatan ......
13             Kata Pengantar                    Oleh: Madeleine L’Engle2S  halom. Damai. Suatu damai yang tidak pasif, te...
14    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Pada akhir suatu abad yang kita ketahui jauh dari damai,menyenangkan sekali me...
Kata Pengantar     15menunjukkan ketegangan tanpa harapan. Tanpamelihat dia, aku mulai mencoba mengirimkan damaikasih Alla...
16   Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
KATA PENGANTAR                                                      17                 Pendahuluan                   Oleh:...
18     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Mereka malahan marah dan frustrasi, sehingga apa yangdikerjakannya tidak sungguh-s...
Pendahuluan       19atau Gereja kita maka boleh jadi suatu perang sedangberlangsung dalam diri kita juga. Dengan demikian ...
20   Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
21                 Bagian                    IMengupayakan Damai  “Harapan adalah yang tersisa bagi kita          di masa ...
22    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Mengupayakan DamaiK     ita hidup dalam suatu dunia yang tidak damai;     wala...
Mengupayakan Damai         23     Melihat secara manusiawi segala hal itu, rasanya sia-sia menulis sebuah buku tentang dam...
24     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Ketika mengerjakan buku ini aku melihat iklan denganfoto seorang wanita di at...
Mengupayakan Damai        25galangan kapal di Maine, banyak orang tidak menyukaitindakannya. Phillip menyatakan bahwa berd...
26    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?rohani “Bagaimana Caranya” dapat diperoleh di toko-tokobuku, namun pengalaman hidup...
27                    Bagian                     II         Berbagai Makna        “Hanya jika Anda telah berdamai         ...
28     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?            Berbagai MaknaM      ulai dari kartu-kartu ucapan sampai sisipan      ...
Berbagai Makna         29    mengucapkannya, saya merasa damai dengan diri saya    sendiri, dan antara saya dan Anda. Saya...
30     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?                         Damai            Karena Tak Ada PerangB    agi banyak ora...
Berbagai Makna           31      Jika jutaan rakyat Asia mati kelaparan, sedang diAmerika Utara dan di tempat lain ada jut...
32     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     menghendaki perdamaian, aku harus mewakili damai     di semua bidang kehidupa...
Berbagai Makna     33                    Damai              Dalam Kitab SuciS   alah satu cara mempelajari makna damai ada...
34     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Pada tahun 600 SM tentara Babilon menyerang Yudeadan membawa tawanan dari Yer...
Berbagai Makna      35mengajari anak-anak bangsa musuh dengan permainanYahudi, bekerja lembur untuk bangsa asing itu! – it...
36     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?                         Damai               Sebagai Tujuan SosialD      unia penu...
Berbagai Makna         37terjadi pada kehidupan orang lain dan pemisahan yangsering kali disebabkan oleh pertengkaran mere...
38     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?memberi komentar tentang kaum muda yang merindukandunia yang lebih baik itu kadang...
Berbagai Makna          39                      Damai         Dalam Hidup PeroranganS   ylvia Beels bergabung dengan komun...
40     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Suatu ketika di situlah ia memutuskan, bahwa sebelumia dapat menyumbangkan sesuatu...
Berbagai Makna          41    ikatan di antara kami yang mengantar kami ke dalam    perkawinan. Banyak anak muda akan ke p...
42     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?karena perang, dia dan Matthew memutuskan untukmelakukan aborsi.           Waktu a...
Berbagai Makna          43     diriku. Aku segera tahu bahwa aku memperoleh     pengampunan. Suatu mukjizat, suatu karunia...
44    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     kesibukan itu membunuh akar kebijaksanaan batin     yang mestinya dapat membua...
Berbagai Makna     45             Damai TuhanD     amai sejati bukan sekadar tujuan luhur yang      dijunjung tinggi dan d...
46     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Banyak orang yang menyebut diri sebagai orangKristiani dewasa ini melupakan h...
Berbagai Makna     47menyatakan dengan jelas bahwa masalahnya bukanlahkata-kata ibadat ataupun sekadar wujud kesalehanbela...
48    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?                    Damai        yang Mengatasi PemahamanB    eberapa pembaca mungk...
Berbagai Makna           49      Misteri dan realitas hidup yang bahagia dalam Tuhantidak dapat dipahami tanpa menerima, m...
50   Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
51                       Bagian                        III        Berbagai Paradoks“Aku seorang tentara Kristus. Aku tak b...
52    Kedamaian, di Manakah Kau Berada?        Berbagai ParadoksK    ita telah melihat bahwa walaupun kerinduan akan     d...
Berbagai Paradoks         53Bukan Damai Tapi Pedang          Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang     untuk membawa dam...
54     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?kata-kata-Nya “Segala sesuatu yang kamu kehendakisupaya orang perbuat kepadamu, pe...
Berbagai Paradoks    55satu sama lain, tetapi antara “sang pencipta melawan siperusak; perang antara hasrat akan kehidupan...
56     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?    Aku percaya bahwa daya yang tampil dari yang baikdan yang jahat sungguh nyata ...
Berbagai Paradoks       57    Kami memaklumkan perang kepada segala macam       bentuk kekejaman kepada orang lain termasu...
58     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?          Setelah mengalami pertobatan, saya dibaptis pada     pertengahan usia em...
Berbagai Paradoks          59     adalah kasih.” Saya tak dapat mengadili atau memandang     rendah orang lain, bagaimana ...
60     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?            Kekerasan KasihD     amai sejati memerlukan senjata, dan juga      men...
Berbagai Paradoks         61iman kita dengan kata-kata, dan gambaran menderitasecara fisik demi iman kelihatannya sangat b...
62     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Demikianlah cinta Kristus merupakan daya bagikebenaran dan kekudusan, yang me...
Berbagai Paradoks    63pezinah, pencuri. Tetapi dalam perjumpaan rohani denganpenghuni penjara aku mendapatkan betapa penj...
64     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?          Anda bertanya apakah saya dapat menulis     sesuatu tentang damai, damai...
Berbagai Paradoks        65     saya lakukan dan memberi ampunan agar saya     memperoleh kesempatan kedua itu….     Nada ...
66     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?             Tak Ada Hidup                    Tanpa KematianS   ewaktu mengerjakan...
Berbagai Paradoks         67pengasingan dan rasa takut. Namun jika kita maumenyadari artinya kehidupan, kita harus dapatme...
68     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     menciptakan berbagai teknik untuk memberikan     kompensasi demi menekan atau...
Berbagai Paradoks         69dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dua tahun lagi iaharus berpisah dengan istrinya, Elizabeth...
70     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     anak-anak dalam kolese, suatu keluarga yang     menyayangi, suatu komunitas y...
Berbagai Paradoks         71          Adalah damai ketika tak ada lagi dominasi, di    mana ketidak-adilan dibongkar, keti...
72     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?           Bila aku merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil     Yohanes 14:27 “Dam...
Berbagai Paradoks          73terpikir oleh kami sebelumnya: materialisme, rumahpribadi, sebab-sebab perang. Pada 1960 kami...
74     Kedamaian, di Manakah Kau Berada?     Tidak ada yang istimewa dalam cerita Laurel itu. Namunperjuangannya yang bias...
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Kedamaian 1250301025-phpapp01
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Kedamaian 1250301025-phpapp01

2,155

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,155
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
96
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Kedamaian 1250301025-phpapp01"

  1. 1. 2 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
  2. 2. 3Kedamaian,di Manakah Kau Berada?Catatan dan Pembicaraan Sepanjang Penziarahan Hidup Seeking Peace Notes and Conversations along the Way Johann Christoph Arnold Kata Pengantar oleh Madeleine L’Engle Pendahuluan oleh Thich Nat Hanh Penerbit DIOMA – Malang
  3. 3. 4 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Seeking Peace Notes and Conversations along the Way DM 220048 Copyright terjemahan Indonesia ada pada Penerbit Dioma © 2008 PENERBIT DIOMA (Anggota IKAPI) Jl. Bromo 24 Malang 65112 Telp. (0341) 326370, 366228; Fax. (0341) 361895 E-mail: info@diomamedia.com Website: www.diomamedia.com Diterjemahkan dari buku ‘SEEKING PEACE NOTES AND CONVERSATIONS ALONG THE WAY’, by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation, 1998 All rights reserved Published under agreement with The Plough Publishing House, Woodcrest Community, Rifton NY 12471, USA Darvell Community, Robertsbridge TN32 5DR, UK © 1998 by The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation Cetakan pertama, Januari 2009 Penerjemah: Bambang Kussriyanto Editor: L. Heru Susanto Pr Tata letak: Yosef Benny Widyokarsono Desain sampul: Ginanjar Pratama ISBN 10 : 979 - 26 - 0024 - 8 ISBN 13 : 978 - 979 - 26 - 0024 - 7 Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari Penerbit. Dicetak oleh Percetakan DIOMA Malang Isi di luar tanggung jawab Percetakan
  4. 4. 5P ikirkanlah sejenak makna kata “damai”. Tidakkah kelihatan aneh ketika para malaikat menggemakandamai, sementara dunia terus-menerus dilanda Perangdan ketakutan akan Perang? Tidakkah Anda menganggapsuara-suara malaikat itu keliru, dan bahwa janji itumengecewakan dan palsu? Ingatlah sekarang, bagaimana Tuhan kita sendiribicara tentang damai. “Damai Kutinggalkan padamu,damai-Ku Kuberikan padamu,”1 kata-Nya kepada paramurid-Nya. Apakah Tuhan memaknai damai itu sepertiyang dipahami para murid-Nya. Apakah Tuhanmemahami damai itu seperti yang kita pikirkan: KerajaanInggris berdamai dengan negara-negara tetangga, paraburon penguasa daerah berdamai dengan Raja, kepalarumah tangga menghitung penghasilannya dengantenteram, hatinya tenang, menyajikan anggur terbaik dimeja kepada seorang sahabat, istrinya menyanyi untukanak-anak? Para murid-Nya tidak mengenal keadaanseperti itu: mereka melakukan perjalanan sampai jauh,menderita di darat dan di laut, disiksa, dipenjarakan,dikecewakan, mengalami kematian sebagai martir. Laluapa maksud Tuhan? Jika Anda bertanya demikian,ingatlah bahwa Dia juga berkata, “bukan seperti yangdiberikan dunia ini, yang Kuberikan kepadamu.” Dengandemikian, Tuhan memberikan kepada para umat-Nyadamai, tetapi bukan damai yang diberikan dunia. T.S Eliot Cuplikan dari: Pembunuhan di Katedral1 Yoh.14:27
  5. 5. 7 Ucapan TerimakasihB elasan orang membantu sampai buku ini selesai dicetak, tetapi aku ingin menyampaikan terimakasihkhususnya kepada editorku Chris Zimmerman;sekretarisku: Emmy Maria Blough, Hanna Rimes dan EllenKeiderling, dan seluruh staf dari Plough Publishing House. Terima kasih juga kepada mereka yang telah memberiizin kepadaku menggunakan anekdot dan surat-surat, danmereka yang membantuku dengan berbagai caramengerjakan buku ini: Mumia Abu- Jamal, ImamMuhammed Salem Agwa, Dale Aukerman, DanielBerrigan, Philip Berrigan, Rabbi Kenneth L.Cohen, Tom
  6. 6. 8 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Cornell, Pastor Benedict Groeschel, Thick Nath Hanh,Molley Kelly, Frances Kieffer, Suster Ann La Forest,Madeleine L ’Engle, Pendeta William Marvin, Elizabeth McAlister, Bill Peke. Uskup Samuel Ruiz Garcia, dan AssataShakur – juga banyak anggota komunitasku, Bruderhof. Atas segalanya, terima kasih pada istriku - Verena.Tanpa dukungan dan semangat darinya, buku ini tak akanpernah bisa kutulis.
  7. 7. 9 Daftar IsiUcapan Terimakasih .............................................. 7Kata Pengantar .................................................... 13Pendahuluan ......................................................... 17Bagian IMengupayakan Damai .......................................... 21Bagian IIBerbagai Makna ................................................... 27
  8. 8. 10 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Karena Tak Ada Perang .................................. 30 Damai Dalam Kitab Suci ............................................ 33 Damai Sebagai Tujuan Sosial ...................................... 36 Damai Dalam Hidup Perorangan ................................ 39 Damai Tuhan ............................................................. 45 Damai yang Mengatasi Pemahaman ............................ 48Bagian IIIBerbagai Paradoks ................................................. 51 Bukan Damai Tapi Pedang .......................................... 53 Kekerasan Kasih ........................................................ 60 Tak Ada Hidup Tanpa Kematian ................................. 66 Kebijaksanaan Orang Bodoh ....................................... 75 Kekuatan dari Kelemahan .......................................... 82Bagian IVBerbagai Batu Pijakan .......................................... 91 Kesederhanaan .......................................................... 101 Kesunyian ................................................................. 107 Kepasrahan ................................................................ 115 Doa ........................................................................... 127 Percaya ...................................................................... 138 Pengampunan ............................................................ 149 Bersyukur .................................................................. 157 Ketulusan .................................................................. 166 Kerendahan Hati ....................................................... 175 Ketaatan .................................................................... 187 Keputusan ................................................................. 196 Penyesalan ................................................................. 205 Keyakinan ................................................................. 216 Realisme .................................................................... 226 Pelayanan .................................................................. 235
  9. 9. Daftar Isi 11Bagian VHidup yang Berkelimpahan ................................... 245 Jaminan Keselamatan ................................................. 256 Kepenuhan ................................................................ 265 Kegembiraan .............................................................. 275 Tindakan ................................................................... 285 Keadilan .................................................................... 294 Harapan .................................................................... 304
  10. 10. 13 Kata Pengantar Oleh: Madeleine L’Engle2S halom. Damai. Suatu damai yang tidak pasif, tetapi aktif. Suatu damai yang bukan hanya karenaberhentinya kekerasan, tetapi meliputi dan lebih darimengatasi kekerasan. Damai sejati.2 Madeleine L’Engle adalah seorang penulis novel dan buku rohani Amerika. Mendapat banyak gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas, khususnya di bidang sastra dan yang terakhir doktor dalam teologi dari Berkeley Divinity School. Di masa tuanya ia mengisi waktu sebagai pustakawan pada Katedral (Gereja Episcopal) Santo Yohanes Suci di Manhattan. Lahir pada 1918 di New York City dan meninggal pada 6 September 2007 di Connecticut pada usia 88 tahun.
  11. 11. 14 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada akhir suatu abad yang kita ketahui jauh dari damai,menyenangkan sekali membaca buku yang bagus dari JohannChristoph Arnold: Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Ia mengutip definisi kakeknya tentang damai: “damai rohaniantara kita dengan Allah; tidak ada kekerasan sepenuhnya,melalui hubungan damai dengan sesama dan berlakunyatatanan sosial yang adil dan damai.” Namun setiap pagi jikaaku mendengarkan berita, sepertinya kita makin jauh danlebih jauh lagi dari ketiga ambang damai itu. Kita memerlukanbuku ini untuk membimbing jalan kita menuju Shalom. Pada suatu sore di masa Puasa sepuluh tahun yang lalu,di Gereja Katedral Santo Yohanes Suci di Manhattan, akumendengarkan Pastor Canon Edward West bicara tentangdamai yang kita cari. Ia menggunakan perumpamaan yangtidak lazim tentang kereta bawah tanah. Kebanyakan dari kami yang hadir pada malam hariitu menumpang kereta bawah tanah untuk pergi keKatedral dan untuk pergi dan pulang kerja. Iamenunjukkan kepada kami, jika kita lihat sesamapenumpang kereta bawah tanah, kebanyakan dari merekatampak seolah-olah tak dicintai seorang pun. Dan itupada umumnya benar. Kemudian pastor melanjutkan, jikakita mau berkonsentrasi tanpa menyolok mata kepadaseseorang di antara mereka, dan diam- diam kitamenyatakan dengan yakin dalam hati bahwa dia itu anakyang dikasihi Allah, dan entah bagaimana keadaan disekitarnya, dapat tinggal dalam damai Allah, mungkinkita akan melihat perbedaannya. Damai tidak selalumerupakan sesuatu yang Anda “buat”; damai adalahanugerah yang Anda sampaikan pada seseorang. Di kesempatan lain ketika aku menumpang keretabawah tanah lagi, aku melirik seorang wanita di pojokyang bertopang dagu dengan tangan terkepal, wajahnya
  12. 12. Kata Pengantar 15menunjukkan ketegangan tanpa harapan. Tanpamelihat dia, aku mulai mencoba mengirimkan damaikasih Allah kepadanya. Aku tidak bergerak. Aku tidakmemandang dia. Aku hanya mengikuti saran PastorCanon West, dan aku heran karena wanita itu tampakberubah lebih santai. Kepalan tangannya dibuka;tubuhnya lebih lentur; garis-garis kecemasan hilang dariwajahnya. Saat itu adalah saat yang penuh syukurbagiku, dan aku sendiri merasa diliputi dan dipenuhioleh kedamaian juga. Itulah yang kucoba kuingat bila aku menumpangkereta bawah tanah atau naik bus, atau berjalan di jalananyang padat, atau berdiri antre di depan kasir supermarket.Jika damai Tuhan ada di hati kita, dan kita membawanyaserta, kita dapat memberikannya kepada mereka yang adadi sekitar kita. Bukan karena keutamaan dan kemauankita. Melainkan oleh Roh Kudus yang bekerja melalui kita.Kita tidak memberikan apa yang kita tak punya, tetapijika Roh bertiup menembus awan kelabu, dan masuk kehati kita, maka kita pun dapat dijadikan-Nya wahanadamai, dan dengan demikian damai di hati kita jugabertambah. Makin banyak damai yang kita sebarkan, makinbanyak pula damai yang kita peroleh. Dalam buku Kedamaian, di Manakah Kau Berada?ini Christoph Arnold menceritakan banyak kisah sepertiitu, baik sebagai selingan maupun penjelasan tentangdamai yang diamanatkan agar kita upayakan. Buku inipenting dan indah, suatu buku yang sungguh perlu untukmembantu kita membawa damai Tuhan di pengujungmilenium baru ini. Goshen, Connecticut Musim Panas 1998
  13. 13. 16 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
  14. 14. KATA PENGANTAR 17 Pendahuluan Oleh: Thich Nhat Hanh3D alam Khotbah di Bukit, Yesus berkata : “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akandisebut anak-anak Allah.”4 Untuk mengupayakan damai,Anda sendiri harus punya hati yang damai. Dan jika Andapunya kedamaian itu, Anda anak Allah. Sayangnya banyakorang yang mengupayakan damai justru tidak damai hatinya.3 Thich Nhat Hanh adalah seorang bhiksu Zen Buddhisme, lahir di Vietnam 1926. Menjadi promotor Damai di berbagai forum. Pada tahun 1967 dicalonkan untuk menerima Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Mengajar ilmu perbandingan agama. Tinggal di Dordogne, Perancis, dalam Biara Village des Pruniers (Plum Village).4 Mat 5:9
  15. 15. 18 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Mereka malahan marah dan frustrasi, sehingga apa yangdikerjakannya tidak sungguh-sungguh menghasilkan damai.Kita tak dapat merasakan bahwa mereka itu telahmenyentuh Kerajaan Allah. Untuk memelihara damai, hatikita sendiri harus berdamai dengan dunia. Dengan saudara-saudara kita. Kebenaran inilah yang merupakan inti daribuku Christoph Arnold yang kita sambut ini, Kedamaian,di Manakah Kau Berada? Kita sering memikirkan damai sebagai keadaan dimana tak ada perang; sehingga jika negara-negara yangkuat mengurangi persenjataan mereka, kita mungkinakan mendapatkan damai. Tetapi jika kita merenunglebih dalam tentang senjata-senjata itu, kita melihatdalam batin kita ada prasangka, ketakutan dan sikapacuh tak acuh. Sekalipun kita pindahkan semua senjatadan bom itu ke bulan, akar peperangan dan sebab-sebabadanya bom itu masih tetap ada di sini, dalam hati danbatin kita, yang membuat kita cepat atau lambat akanmembuat senjata dan bom yang baru. Yesus berkata, “Ada tertulis, “Jangan membunuh, siapayang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkatakepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranyaharus dihukum ... siapa yang berkata, ‘Jahil!’ harus diserahkanke dalam neraka yang menyala-nyala.”5 Mengupayakan Damaiberarti lebih dari sekadar meniadakan senjata. Awalnyaharuslah mencabuti akar perang yang ada dari antara kitadan dari hati semua orang lelaki dan perempuan. Bagaimana kita mengakhiri lingkaran kekerasan?Arnold menyatakan bahwa sebelum kita berdamai denganorang lain dan dengan dunia, kita harus berdamai dengandiri kita sendiri. Itu sungguh benar. Jika kita sendiriberperang melawan orang tua kita, melawan keluarga kita5 Mat 5:21-22
  16. 16. Pendahuluan 19atau Gereja kita maka boleh jadi suatu perang sedangberlangsung dalam diri kita juga. Dengan demikian langkahdasar yang harus dilakukan dalam mengupayakan damaiadalah kembali pada diri kita sendiri dan menciptakankeselarasan di antara unsur-unsur yang ada dalam diri kita:perasaan kita, persepsi kita, keadaan mental kita. Sambil membaca buku ini, usahakanlah mengenaliunsur-unsur yang saling bertentangan dalam diri Anda danapa yang menjadi penyebabnya. Usahakanlah agar Andalebih menyadari apa yang menyebabkan kemarahan danperpisahan, dan apa yang bisa mengatasi hal itu. Cabutlahakar kekerasan dalam kehidupan Anda dan belajarlahhidup dengan memerhatikan orang lain dan berbelas kasih.Upayakan damai. Jika Anda punya damai di hati Anda,maka damai dengan orang lain pun jadi niscaya. Village des Pruniers, Perancis Musim Semi 1998
  17. 17. 20 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
  18. 18. 21 Bagian IMengupayakan Damai “Harapan adalah yang tersisa bagi kita di masa yang sulit.” (Pepatah Irlandia)
  19. 19. 22 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Mengupayakan DamaiK ita hidup dalam suatu dunia yang tidak damai; walaupun ada pembicaraan terus-menerus tentangdamai, nyatanya hanya sedikit saja damai yang ada.Begitu sedikitnya damai yang sesungguhnya, sehinggaketika aku memberitahu seorang sahabat dekat tentangbuku ini, ia menyatakan bahwa menulis tentang damaitidak hanya sesuatu yang naif, tetapi juga sesuatu yangbertentangan dengan kenyataan. Tak seorang pun menyangkal adanya kekerasan yangmemengaruhi hidup orang di seluruh dunia, mulai daritempat-tempat yang bergejolak seperti Chiapas, IrlandiaUtara, Timor Timur, Irak dan Tepi Barat, sampai ke jalanandi kota-kota kita. Juga dalam kehidupan pribadi, sekalipundi tempat-tempat yang paling damai di luar kota, setiaphari situasi tidak-damai terwujud – dalam kekerasanrumah tangga, dalam berbagai bentuk kecanduan yangtidak sehat, dalam ketegangan yang merusak memecahkanteman usaha, sekolah dan gereja-gereja. Kekerasan juga tersembunyi di balik wajahmasyarakat yang kita anggap telah mendapat pencerahan.Ada di balik kerakusan, penipuan dan ketidak-adilanyang menggerakan lembaga-lembaga keuangan besar danlembaga-lembaga budaya kita. Ada di balik prasangka-prasangka yang mengikis perkawinan Kristiani yangterbaik sekalipun. Ada pada sikap munafik yangmenggerogoti kehidupan rohani dan menodai ungkapanpelaksanaan agama yang paling saleh sekalipun hinggamenjadi tidak kredibel lagi.
  20. 20. Mengupayakan Damai 23 Melihat secara manusiawi segala hal itu, rasanya sia-sia menulis sebuah buku tentang damai. Tetapi kita jugamendengar jeritan kerinduan akan damai tertuju ke surga.Suatu jeritan kerinduan dari relung hati yang paling dalam.Sebutlah dengan nama lain sesuka Anda, apakahkeselarasan, ketenteraman, kesatuan, ketenangan jiwa,kerinduan akan semua itu ada pada setiap orang. Tak adayang suka mendapat masalah, sakit kepala dan sakit hati.Setiap orang menginginkan damai, bebas dari kecemasandan keraguan, kekerasan dan perpecahan. Setiap orangmenghendaki ketenangan dan keamanan. Sementara orang dan organisasinya (misalnyaInternational Fellowship of Reconciliation) memusatkanperhatian pada perdamaian global. Tujuannya adalahmencapai kerjasama politik dalam skala internasional.Yang lain (misalnya Greenpeace) mengusahakanpeningkatan keselarasan antara manusia dan makhlukhidup lainnya, dan kesadaran akan adanya hubungantimbal balik dengan lingkungan. Yang lain mencari damai dengan mengubah gayahidup: dengan pindah kerja, pindah tempat tinggal darikota ke pinggiran kota (dan dari pinggiran kota kepedalaman), mengurangi anggaran belanja, melakukanpenyederhanaan, atau apa pun untuk meningkatkan mutukehidupan mereka. Ada anak muda yang setelah tinggaldi luar negeri kembali pada komunitasku, sesudahmeluncur liar dengan pergerakan uang yang begitu cepatdan hubungan-hubungan zinah, ia rindu sekali untuk dapatbangun pagi hari dan berdamai dengan diri sendiri dandengan Tuhan. Yang lain masih bertahan pada kehidupanmereka sekarang: senang dan kecukupan, sehingga merekabilang tak memerlukan apa-apa lagi, tapi kukira di balikapa yang tampak itu mereka tak punya damai sejati.
  21. 21. 24 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Ketika mengerjakan buku ini aku melihat iklan denganfoto seorang wanita di atas kapal. Ia meringkuk di sebuahkursi, memandang jauh ke seberang telaga pada matahariyang sedang tenggelam. Tertulis di situ: “Suatu impiantentang pekerjaan, anak-anak yang baik. Perkawinan yangbahagia. Dan perasaan kosong sama-sekali yang sedangmengancam.” Ada berapa banyak orang yang berbagi denganketakutan yang tak terungkapkan dari wanita itu? Pada tingkatan tertentu kita semua mengusahakanhidup sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Suatukehidupan yang selaras, gembira, adil dan damai. Masing-masing dari kita memimpikan kehidupan tanpa sakit danpenderitaan, yang dikeluhkan orang setelah hilangnyaTaman Eden (menurut Kitab Suci). Kerinduan akan tempat dan waktu seperti itu adasejak dulu dan selalu di mana saja. Beberapa ribu tahunyang lalu, Nabi Yesaya mengimpikan kerajaan damai dimana singa berbaring dengan anak domba.6 Dan setelahberabad-abad kemudian, bagaimana gelapnya cakrawala,dan betapapun sengitnya peperangan, lelaki danperempuan menaruh harapan kepada visi Nabi itu. Ketika aktivis antiperang Phillip Beriggan7 belumlama berselang diadili dan dijatuhi hukuman karenaketerlibatannya dalam pembangkangan sipil di suatu6 Yes 11:6-97 Phillip Berrigan adalah seorang aktivis antiperang kelahiran Two Harbors, Minnesota, 1923. Ia ditahbiskan menjadi pastor Katolik pada 1955 dan setelah 18 tahun berkarya ia meninggalkan imamat pada 1973. Dalam banyak aksinya menentang perang Phil terkesan anarkis. Pada tahun 1999 ia ditahan dan dijatuhi hukuman penjara 30 bulan. Ia dilepaskan dari penjara pada Desember 2001. Selama hidupnya ia dipenjara 11 tahun karena aksi-aksinya. Pada 6 Desember 2002 ia meninggal pada usia 79 tahun meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
  22. 22. Mengupayakan Damai 25galangan kapal di Maine, banyak orang tidak menyukaitindakannya. Phillip menyatakan bahwa berdasarkannorma apa pun mereka “membentuk suatu panggungabsurd.” Tetapi ia menambahkan bahwa ia lebih suka dipenjara karena keyakinannya daripada mati “di pantaiseperti itu”. Berapa banyak dari kita yang bisa berkatabegitu? Phillip berumur tujuh puluh tahun waktu itu,tetapi ia terus saja melakukan kampanye tak jemu-jemumelawan industri senjata nuklir dengan kekuatan yangtak sesuai dengan usianya. Komunitasku, Bruderhof, juga sering dituduh tidakrealistis. Yah. Kami memang meninggalkan lorongkehidupan yang cocok bagi kebahagiaan kelas-menengah.Kami meninggalkan rumah dan kekayaan, karier, rekeningbank, reksa-dana bersama dan masa pensiun yang nyaman.Sebaliknya kami berusaha hidup bersama menurut contohumat Kristiani Perdana. Kami memperjuangkan kehidupanmelalui pengorbanan dan disiplin dan saling melayani. Caraini bukanlah suatu damai yang diberikan dunia. Apa itu damai, dan apa itu realitas? Untuk apa kamihidup dan apa yang hendak kami wariskan kepada anak-anak dan cucu-cucu kami? Walaupun mungkin kitabahagia, apa yang kita punya sesudah perkawinan dananak-anak. Sesudah punya mobil dan pekerjaan? Haruskahyang kita wariskan adalah realitas dunia yang berisik olehsenjata, dunia kebencian antar-kelas sosial dan keluhankeluarga, dunia di mana tak ada cinta dan orang menusukdari belakang, ambisi egois dan penghinaan? Atau adakahrealitas yang lebih besar, di mana semua itu diatasi olehkuasa Sang Pangeran Perdamaian? Dalam halaman-halaman berikut kuusahakan untuktidak menguraikan pokok-pokok masalah ini, juga tidakmenyajikan argumentasi yang kokoh. Buku pedoman
  23. 23. 26 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?rohani “Bagaimana Caranya” dapat diperoleh di toko-tokobuku, namun pengalaman hidup damai tidaklah serapi itu.Seringkali hidup ini acak-cakan tidak karuan.Bagaimanapun setiap pembaca akan mendapatkan tempatyang cocok bagi dia, berbeda-beda dalam pencariannya.Aku juga akan berusaha menghindari jangan hanya tinggalpada akar situasi tidak-damai. Orang dapat memusatkanseluruh buku untuk membahas pokok persoalan, tetapi halitu dapat membuat pembaca terlalu tertekan. Tujuankusangat sederhana saja, yaitu menyajikan batu loncatan disepanjang jalan dan harapan secukupnya agar Anda selaluMengupayakan Damai.
  24. 24. 27 Bagian II Berbagai Makna “Hanya jika Anda telah berdamai dengan diri Anda sendiribarulah Anda dapat menciptakan damai di dunia.” (Rabbi Sincha Bunim)
  25. 25. 28 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai MaknaM ulai dari kartu-kartu ucapan sampai sisipan pembatas buku, dari papan reklame sampai handuklap piring, kebudayaan kita berlimpah dengan bahasadamai. Kata-kata seperti “damai dan kehendak baik”tampaknya sangat luas penggunaannya, sehingga begitudisusutkan menjadi slogan klise. Di dalam surat-menyurat, banyak di antara kita memberikan sebagaipenutup surat pribadi dengan kata “Peace” atau “Damai”.Pada tataran lain, banyak pemerintahan Negara danmedia massa berbicara tentang batalion “penjagaperdamaian” bersenjata berat ditempatkan di wilayah-wilayah yang porak-poranda oleh perang di seluruh dunia.Di dalam gereja-gereja, para pastor dan pendeta menutupibadat dengan “Pergilah dalam damai,” dan walaupunkata-kata itu dimaksudkan sebagai bagian dari berkat,tetapi lebih sering dipahami sebagai isyarat untuk bubardan sampai ketemu dalam ibadat hari Minggu berikutnya. Muhammad Salem Agwa, Imam utama (Mubaliqh,guru Islam) di New York City menunjukkan bahwa paraMuslim yang baik menyapa satu sama lain waktu berjumpadengan kata-kata Assalamu’alaikum. Namun katanya,juga di antara mereka salam damai itu seringkali jatuhmenjadi kelaziman basa-basi yang disampaikan hanyadengan sedikit kesadaran akan tanggungjawab bersamayang terkandung di dalamnya: Saya menggunakan Assalamualaikum sebagai sapaan sehari-hari, tetapi artinya bukan sekadar “Selamat Pagi” atau “Selamat Sore”. Sapaan itu berarti “Damai dan berkat dari Allah atas dirimu.” Ketika saya
  26. 26. Berbagai Makna 29 mengucapkannya, saya merasa damai dengan diri saya sendiri, dan antara saya dan Anda. Saya mengulurkan tangan untuk membantu Anda. Saya datang kepada Anda untuk menyampaikan damai kepada Anda. Dan sementara itu, sampai kita bertemu lagi, itu berarti bahwa saya berdoa agar Allah memberkati Anda dan mengasihani Anda dan mempererat hubungan saya dengan Anda sebagai saudara. Dunia niscaya akan berbeda keadaannya seandainyakita sungguh-sungguh berdamai dengan siapapun yangkita sapa sepanjang hari, jika kata-kata kita lebih daribasa-basi kesopanan belaka dan sungguh-sungguh timbuldari dalam hati kita. Dalam kenyataannya, seperti yangtak henti-hentinya ditunjukkan oleh orang-orang yangtak ber-Tuhan, beberapa konflik yang begitu banyakmenumpahkan darah sepanjang sejarah umat manusiaadalah karena kita tak berhenti bertengkar mengenaiperbedaan agama. Tak heran para Nabi zaman duluberkata, “Mereka mengobati luka umatku denganberkata, ‘Damai, damai’ padahal tak ada damai.”88 Yer 6:14; 8:11
  27. 27. 30 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Karena Tak Ada PerangB agi banyak orang damai berarti secara nasional keadaan aman, stabil, tertib dan teratur. Berhubungan denganpendidikan, kebudayaan dan kewajiban kewarganegaraan,kemakmuran dan kesehatan nyaman dan tenang. Damaiadalah kehidupan yang sentosa. Tapi dapatkah damaididasarkan pada hal-hal yang didistribusikan kepada semuaorang? Jika kehidupan yang sentosa berarti ada pilihan yangtak terbatas dan konsumsi berlebihan pada sedikit orangyang punya privilege (hak-hak khusus) saja, dan selanjutnyaitu pasti berarti kerja keras dan kemiskinan yang meruyakbagi jutaan orang yang lain. Inikah damai? Di penghujung awal Perang Dunia Kedua, kakekku,Eberhard Arnold9, menulis: Cukupkah sikap yang membela ketenangan? Kukira tidak memadai. Bila ribuan orang dibunuh secara tidak adil, tanpa proses pengadilan di bawah pemerintahan baru Hitler, bukankah itu sudah berarti perang? Jika ratusan ribu orang dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi, direnggut kemerdekaannya, dicopot martabat kemanusiaannya, bukankah itu perang?9 Eberhard Arnold adalah pendiri Komunitas Bruderhof berdasarkan Khotbah di Bukit. Penulis, filsuf, teolog Kristiani. Lahir di Prusia pada 1888. Meninggal 1935. Komunitasnya dilanjutkan oleh putranya, dan kemudian oleh cucunya, yang adalah penulis buku ini.
  28. 28. Berbagai Makna 31 Jika jutaan rakyat Asia mati kelaparan, sedang diAmerika Utara dan di tempat lain ada jutaan ton gandumditumpuk, bukankah itu perang? Jika ribuan perempuan melacurkan tubuhnya danmenghancurkan kehidupan mereka demi uang; jika jutaanbayi digugurkan setiap tahun, bukankah itu perang? Jika orang dipaksa bekerja sebagai budak karenamereka tak dapat memberikan susu dan roti kepadaanak-anak mereka, bukankah itu perang? Jika orang-orang kaya hidup di dalam villa-villa yangdikelilingi kebun-kebun, sedang di kawasan lainkeluarga-keluarga hanya punya satu kamar untuk tinggalbersama, bukankah itu perang? Jika orang menyimpan uang dalam jumlah besardalam rekening bank sementara yang lain tidak cukupmendapat uang untuk kebutuhan dasar mereka,bukankah itu perang? Jika pengemudi yang ceroboh menyebabkan ribuanorang mati oleh kecelakaan di jalan setiap tahun,bukankah itu perang? Aku tak dapat mewakili suatu aliran yang sukaketenteraman yang mengatakan bahwa tak ada peranglagi. Pernyataan itu tidak benar; perang sudah ada hari-hari ini.... Aku tidak setuju dengan sikap sukaketenteraman yang wakil-wakilnya justru berpegangpada akar-akar penyebab perang : para tuan tanah dankapitalis. Aku tidak percaya kepada sikap pembelaketenangan yang ditunjukkan oleh para pengusaha yangjustru menghabisi pesaingnya sampai bangkrut atau parasuami yang tidak dapat hidup dalam damai dan dalamkasih justru dengan istrinya sendiri.... Aku lebih suka sama sekali tidak menggunakanistilah “pacifism” (penyuka ketenangan). Tetapi aku maumemajukan perdamaian. Yesus berkata, “Berbahagialahorang yang membawa damai!” Jika aku memang
  29. 29. 32 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? menghendaki perdamaian, aku harus mewakili damai di semua bidang kehidupan. Di dalam khazanah politik, damai mungkinmengambil bentuk perjanjian dagang, kompromi danperjanjian damai. Perjanjian semacam ini biasanya sedikitlebih dari perimbangan kekuatan yang rapuh, yangdirundingkan dengan tegang dan acapkali malahmenanamkan benih-benih konflik baru yang lebih burukdaripada konflik-konflik yang sedang diusahakan untukdipecahkan. Ada banyak contohnya, mulai dari PerjanjianVersailles yang mengakhiri Perang Dunia Pertama tetapimenghasilkan nasionalisme yang menyulut Perang DuniaKedua, hingga Konferensi Yalta, yang mengakhiri PerangDunia Kedua tetapi menyebabkan ketegangan yangmengarah pada Perang Dingin. Gencatan senjatabukanlah suatu jaminan yang mengakhiri kebencian. Semua orang setuju bahwa damai merupakanjawaban atas perang, tapi damai macam apa? RabbiKenneth L. Cohen menulis: Kegelapan terjadi karena tak ada cahaya, tetapi damai bukan sekadar karena permusuhan berhenti. Perjanjian mungkin ditandatangani, para duta besar berganti, dan tentara dipulangkan ke barak-barak kembali, namun tetap saja tak ada damai. Damai mempunyai implikasi metafisik dan kosmis. Damai lebih dari sekadar tak ada perang. Sesungguhnya, damai bukan berarti sesuatu tidak ada, tetapi lebih merupakan penegasan mutlak dari sesuatu yang seharusnya ada.
  30. 30. Berbagai Makna 33 Damai Dalam Kitab SuciS alah satu cara mempelajari makna damai adalah dengan melihat apa yang dikatakan Kitab Suci. Didalam Perjanjian Lama mungkin tidak ada konsep yanglebih kaya daripada kata Ibrani untuk damai: Shalom.Shalom sulit diterjemahkan karena cakupan konotasinyabegitu dalam dan luas. Maknanya tidak tunggal,walaupun orang dapat menerjemahkannya sebagaisesuatu yang lengkap, mendalam dan menyeluruh.Jangkauannya lebih jauh dari “damai” seperti yangumumnya kita ketahui dalam bahasa kita. Shalom memang berarti berakhirnya perang ataukonflik, tetapi juga berarti persahabatan, senang, amandan sehat; kemakmuran, kelimpahan, ketenangan,keselarasan dengan alam, bahkan keselamatan. Dansemuanya itu untuk semua orang, bukan hanya untuksekelompok orang pilihan saja. Shalom akhirnya adalahberkat, karunia dari Allah. Damai bukan berasal dariusaha manusia. Shalom berlaku untuk orang perorangan,tetapi juga berlaku untuk hubungan-hubungan di antaraorang-orang, bangsa-bangsa, dan antara Tuhan danmanusia. Selain itu, Shalom sangat erat kaitannya dengankeadilan, karena Shalom adalah kesukaan atau perayaandari hubungan manusia yang dibenarkan. Dalam buku He Is Our Peace, Howard Goeringermelukiskan makna yang lebih dalam dari Shalom:Kasih kepada musuh.
  31. 31. 34 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Pada tahun 600 SM tentara Babilon menyerang Yudeadan membawa tawanan dari Yerusalem ke tempatpengasingan/pembuangan. Situasinya begitu sulit sehinggaYeremia menuliskan suratnya yang hebat ini kepada paratawanan di Babilon yang membenci musuh mereka: “Carilah shalom di kota di mana Aku mengirim kamudalam pembuangan, dan berdoalah kepada Allah demimereka, sebab dalam Shalom mereka kamu akanmendapatkan shalommu.”10 Dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia:”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu akubuang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebabkesejehteraannya adalah kesejahteraanmu.” Para tawanan dipaksa hidup sebagai orang buangandan mereka memerhatikan kebudayaan Yahudi merekaruntuh. Karena membenci orang yang menawan mereka,rindu kembali ke tanah air mereka, dan kecewa padakegagalan Tuhan dalam melindungi mereka, orang-orangitu tidak percaya pada perkataan Yeremia. Bagaimanamungkin orang gila suruhan Tuhan itu menyuruh merekamengasihi orang yang menawan mereka, menyuruhmereka berbuat baik kepada musuh, dan menyuruhmereka memintakan agar Tuhan memberkati parapenganiaya itu dengan shalom? Seperti dugaan kita, Surat Yeremia itu tidak populer,bukan best seller. Kaum buangan yang menderita tidakbisa memahami bagaimana kesejahteraan mereka dankesejehteraan musuh mereka terjalin menjadi satu takterpisahkan. Membayangkan bagaimana mereka disuruhmelayani bangsa yang menawan mereka dengan semangatkebaikan hati, merawat bangsa lawan yang sakit,10 Yer 29:7
  32. 32. Berbagai Makna 35mengajari anak-anak bangsa musuh dengan permainanYahudi, bekerja lembur untuk bangsa asing itu! – itusemua jelas–jelas bodoh! Tidak masuk akal. Bukan hanyadi mata kaum cerdik pandai dunia, tetapi juga bagi umatyang paling religius sekalipun. Damai merupakan tema sentral dalam Perjanjian Baru,di mana kata eirene paling sering dipakai. Dalam konteksbiblis, eirene jauh melebihi makna klasik kata Yunani itu:“tenteram,” dan meliputi berbagai konotasi dari shalom.Di dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus adalah pembawatanda dan sarana damai dari Allah. Paulus menyatakanKristus adalah perdamaian kita.11 Di dalam Dia segalasesuatu didamaikan. Dalam Kabar Gembira Kerajaan Allahitulah segalanya dijadikan benar.11 Ef 4:12
  33. 33. 36 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai Sebagai Tujuan SosialD unia penuh dengan para aktivis yang memperjuangkan tujuan-tujuan yang beharga: adayang membela lingkungan hidup dan yang membela paragelandangan, para aktivis antiperang dan pejuang keadilansosial, para pembela kaum wanita yang teraniaya dan kaumminoritas yang tertindas. Pada tahun enam puluhan banyakorang dari berbagai kalangan keagamaan turun ke jalanbersama Martin Luther King12. Dalam tahun sembilanpuluhan banyak orang berjuang menghapus hukumanmati. Komunitas saya sangat gigih memperjuangkan halitu, yang dalam arti yang lebih luas lagi, berjuang melawanketidakadilan dalam sistem peradilan Amerika.Keprihatinan yang kami lontarkan baik di dalam maupundi luar negeri menunjukkan dengan jelas bahwa politiktertib hukum lebih terkait dengan kekerasan danketakutan daripada dengan perdamaian. Beberapa pria dan wanita yang kukenal dalam karyaini adalah yang paling dedikatif di antara orang-orangyang pernah kujumpai, dan sedikit pun aku takmeremehkan prestasi mereka. Namun perpecahan yang12 Martin Luther King Jr adalah seorang pastor Gereja Baptist yang menjadi penjuang gerakan hak-hak sipil Amerika Serikat. Orator ulung. Lahir pada tahun 1929. Pada tahun 1964 menerima Hadiah Nobel Perdamaian (yang termuda dalam sejarah). Pada tahun 1968 mati ditembak orang (belakangan terungkap pembunuhnya sesama pendeta). Kematiannya menimbulkan huru-hara di 60 kota karena para pengagumnya marah. 300.000 orang hadir ketika ia dimakamkan.
  34. 34. Berbagai Makna 37terjadi pada kehidupan orang lain dan pemisahan yangsering kali disebabkan oleh pertengkaran mereka sendiri,tampak jelas menyedihkan. Mengenang kembali tahun enampuluhan, suatu masadi mana banyak orang disebut pecandu damai, timbulbeberapa gagasan. Para penggemar kelompok band TheBeatles yang dengan rindu menyanyi; “Beri peluang padadamai” berulang-ulang tak dapat diremehkan; akumerasakan mereka itu sungguh-sungguh spiritual. Tidakseperti mayoritas besar anak muda sekarang, pria maupunwanita, banyak kaum muda angkatan enam-puluhan dantujuh-puluhan menerjemahkan harapan dan impian merekamenjadi tindakan. Mereka mengadakan demonstrasi danmengorganisir acara-acara rapat umum; membentukkelompok-kelompok dan melakukan aksi mogok; merekamelakukan aksi duduk dan pendudukan, berbagai protesdan melaksanakan proyek pengabdian masyarakat. Takseorang pun menuduh mereka itu tak berperasaan. Namunsulit melupakan kemarahan yang mengubah wajah beberapaorang yang paling keras menyerukan damai di tahun-tahunitu, juga perbuatan anarki dan sinisme yang kemudianmelanda seluruh wilayah. Apa yang terjadi ketika idealisme luntur, ketika pawaiberakhir, ketika Musim Panas Cinta usai? Apa yang terjadiketika kelompok-kelompok damai dan hubungan-hubungan cinta lalu cerai-berai? Apakah damai hanyamenjadi komoditi budaya berupa suatu simbol yang disablonpada T-Shirt atau dicetak menjadi stiker tempelan dibemper mobil? Dalam buku The Long Loneliness DorothyDay 13, radikal legendaris yang mendirikan Catholic Worker13 Dorothy Day adalah seorang wartawati Amerika. Seorang Katolik yang saleh. Lahir pada 1897. Ia menjadi Katolik pada 1927 dan
  35. 35. 38 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?memberi komentar tentang kaum muda yang merindukandunia yang lebih baik itu kadang melakukan hal yang samadengan kaum nihilis (golongan yang yakin bahwa tatanansosial adalah buruk sehingga perlu dirusakkan tanpamemberi alternatif yang konstruktif) dan egois juga. Kaummuda mengidealkan perubahan, kata Dorothy, tetapijarang bersedia untuk mengubah diri mereka sendiri.Mengutip Rabbi Cohen lagi: Orang dapat melakukan arak-arakan untuk perdamaian dan memilih perdamaian, dan mungkin punya pengaruh kecil terhadap keprihatinan dunia. Tetapi orang kecil yang sama dapat merupakan raksasa di mata seorang anak di rumah. Jika damai hendak ditumbuhkan, mulainya haruslah dari orang perorangan. Damai dibangun bata demi bata. mendirikan Gerakan Catholic Worker pada 1933. Gerakannya pada dasarnya pro-perdamaian, tetapi kadang-kadang juga anarkis. Dorothy keluar masuk penjara karena aktivitas gerakannya. Anti free-sex pada tahun 1960-an. Ia meninggal pada 1980. Pada tahun 2000 dicalonkan menjadi orang kudus oleh Keuskupan Agung New York. Dorothy oleh banyak orang sudah dianggap orang kudus ketika ia masih hidup.
  36. 36. Berbagai Makna 39 Damai Dalam Hidup PeroranganS ylvia Beels bergabung dengan komunitas kami dari London ketika ia gadis muda sebelum Perang DuniaKedua meletus. Sekarang dalam usia sembilan puluhtahunan ia menceritakan sikap di dalam gerakanperdamaian di masa mudanya dulu – suatu sikap antipembunuhan tetapi tidak menentang ketidakadilansosial. Sikap itu mengecewakan dirinya dan membuatnyapenasaran dan mencari sesuatu yang lebih lagi. Sebuah film perang yang kulihat ketika umurku sembilan tahunan membuatku ketakutan, dan sejak itu aku tak pernah menganggap perang sebagai sesuatu yang baik, walaupun alasannya mungkin baik. Sesudah aku menikah, suamiku Raymond dan aku bergabung dengan Left Book Club dan membaca semua buku mereka. Kami bertemu secara berkala dengan suatu kelompok teman, membicarakan gagasan-gagasan dalam buku-buku ini. Kami mencari dan mencari lagi untuk mendapatkan jalan dalam labirin gagasan manusia – perang, damai, politik, moral konvensional lawan cinta bebas – tapi kami tidak juga lebih dekat untuk menemukan suatu masyarakat yang adil dan damai. Di kemudian hari, dalam proses persalinan yang sulitdan lama ketika melahirkan anaknya yang pertama, Sylviamenyadari bahwa kehidupan pribadinya diwarnai olehkesulitan-kesulitan seperti yang dilawannya dalammasyarakat. Kendati kariernya dalam musik menjanjikan,namun perkawinannya goyah dan hatinya dalam kemelut.
  37. 37. 40 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?Suatu ketika di situlah ia memutuskan, bahwa sebelumia dapat menyumbangkan sesuatu bagi perdamaian dunia,ia perlu menemukan damai dalam dirinya dan orang lain(tak lama kemudian suami Sylvia meninggal karenapenyakit jantung, tetapi mereka dapat berdamaimenjelang kematiannya). Maureen Burn, seorang anggota komunitas yang lain,memperoleh kesimpulan yang sama setelah bertahun-tahunmenjadi aktivis antiperang, mula-mula di Edinburgh dankemudian di Birmingham, di mana uang, hubungan sosialdan kepribadian yang ceria membuatnya sangat terkenaldan menjadi pengikut kelompok pacifisme yang efektif: Aku selalu seorang yang idealis dan pemberontak. Walaupun waktu itu aku masih anak-anak, Perang Dunia Pertama menakutkan aku. Kami diberi tahu bahwa Pemimpin (Kaiser) Jerman telah memulai perang, dan ketika umurku sepuluh tahun aku menulis surat kepadanya memohon agar ia menghentikan perang. Aku selalu menentang perang. Suamiku, Matthew, seorang pejabat kesehatan publik yang cukup dikenal, juga seorang pengikut pacifisme. Setelah mengalami tinggal dalam parit perlindungan dalam Perang Dunia Pertama, ia menjadi sangat antimiliter dan pejuang keadilan sosial. Persamaan minat kami dalam mempelajari Revolusi Rusia 1918, karya-karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy 14 dan perjuangan Mahatma Gandhi15 dari India menciptakan14 Leo Tolstoy sastrawan dan filsuf Rusia. Karyanya antara lain Anna Karenina dan War and Peace. Bersama Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr dianggap paling berpengaruh pada abad ke-20. Lahir pada 1828, meninggal pada 1910. Hidupnya dipengaruhi oleh Sakyamuni Buddha dan Santo Fransiskus Assisi, dan Khotbah di Bukit. Seorang pecinta perdamaian yang antikekerasan.15 Mohandas K. Gandhi atau Mahatma Gandhi dilahirkan pada 1869 di Porbandar, India, adalah tokoh yang memperjuangkan prinsip
  38. 38. Berbagai Makna 41 ikatan di antara kami yang mengantar kami ke dalam perkawinan. Banyak anak muda akan ke pergi ke Moskow pada tahun-tahun itu, dan karena kami tertarik pada cita-cita komunis “dari setiap orang berdasarkan kemampuannya, untuk setiap orang berdasarkan kebutuhannya,” aku ingin juga pindah ke Rusia dengan anak-anakku yang masih kecil.... Hanya kemudian Matthew berkata, “sebuah bom yang dijatuhkan seorang komunis sama jahatnya dengan bom yang dijatuhkan kapitalis,” dan aku mengubah pendirianku. Matthew selalu menghilang pada Hari Angkatan Bersenjata. Aku tidak tahu ke mana ia pergi. Ia berpendapat bahwa parade militer besar-besaran di Cenotaph merupakan penghinaan terhadap prajurit- prajurit tak dikenal yang mati dan dikuburkan, yang tak pernah mendapatkan tanda jasa. Setelah perang ibunda Matthew memberi tahu aku bahwa Matthew suatu ketika pernah berkata bahwa ia tak akan berbuat sesuatu lagi bagi masyarakat yang begitu bobrok, di mana bahkan pemuka agama pun mengkhotbahkan pembunuhan kepada kaum muda…. Dalam Perang Dunia Kedua, selama pengeboman atasInggris, banyak kota di Inggris mulai melakukan evakuasianak-anak dan keluarga Burn harus mendapatkan tempatbagi keempat anak mereka, sedang yang bungsu belumgenap setahun umurnya. Pekerjaan Matthew sementaraitu mengharuskan dirinya tetap tinggal di kota, danMaureen tidak tahu harus pergi ke mana. Pada hari-hariitu juga Maureen tahu bahwa ia hamil, mengandunganaknya yang ke lima. Dalam keadaan yang tak menentu satyagraha atau perlawanan pada tirani dengan pemogokan, dan ahimsa atau antikekerasan yang mengantarkan India pada kemerdekaan dari penjajahan Inggris pada 1945. Ia meninggal pada tahun 1948 di usia 78 tahun karena ditembak.
  39. 39. 42 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?karena perang, dia dan Matthew memutuskan untukmelakukan aborsi. Waktu aku pulang sesudahnya, suamiku menyarankan agar aku pergi ke rumah saudariku Kathleen untuk beristirahat beberapa hari. Kathleen tinggal di Bruderhof.16 Aku menulis padanya apakah aku bisa datang dan tinggal di sana untuk beberapa hari, dan dia menjawab boleh. Aku tidak membayangkan kejutan yang sedang menungguku di sana. Aku membaca beberapa literatur mereka, aku lupa judul bukunya. Di dalamnya dikatakan dengan tegas bahwa aborsi adalah suatu pembunuhan: membunuh kehidupan baru dalam rahim dan di mata Tuhan hal itu tak dapat dibenarkan, sama dengan pembunuhan yang terjadi di medan perang. Sampai saat itu aku adalah seorang yang rasional dan tidak menganggap aborsi begitu mengerikan. Tapi setelah itu hatiku kemelut dan aku merasakan untuk pertama kalinya betapa mengerikan tindakan yang telah kulakukan. Biasanya aku tidak gampang-gampang menangis tetapi pada saat itu yang kulakukan adalah menangis dan terus menangis. Aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan dan aku berharap seandainya saja waktu bisa diputar berbalik dan aku dapat membatalkan tindakanku itu. Aku hanya seorang tamu dalam komunitas itu, tetapi saudariku mengantarkan diriku pada salah seorang pendeta di situ, dan aku menceritakan semuanya. Ia mengundangku ikut dalam suatu persekutuan, di mana mereka berdoa untuk16 Bruderhof berarti tempat untuk para saudara. Didirikan pada tahun 1920 oleh Eberhard Arnold di Jerman sebagai suatu komunitas yang menghayati cara hidup orang kristen perdana dan Khotbah di Bukit dari Yesus Kristus (Mat 5-7). Tentang komunitas ini berangsur- angsur diuraikan dalam buku ini.
  40. 40. Berbagai Makna 43 diriku. Aku segera tahu bahwa aku memperoleh pengampunan. Suatu mukjizat, suatu karunia. Aku merasa penuh dengan kegembiraan dan damai, dan dapat memulai suatu hidup baru. Tidak ada yang lebih penting atau lebihmenyedihkan dari hidup dan hati kita sendiri yang kitatahu tidak-damai. Bagi sebagian dari kita, itu berartikita masih dikuasai rasa benci atau dendam; bagi yanglain karena pengkhianatan, pengasingan, ataukebingungan; yang lain lagi merasa kosong dan tertekanjiwanya. Dalam makna yang terdalam, semua itumerupakan kekerasan dan karena itu harus dihadapidan diatasi. Thomas Merton17 menulis: Ada sebentuk kekerasan zaman ini yang begitu luas tersebar, sehingga biarpun para idealis yang berjuang untuk damai dengan metode antikekerasan pun mudah kerasukan aktivisme dan kerja berlebihan. Ketegangan dan tekanan kehidupan modern merupakan suatu wajah, mungkin wajah yang paling umum, dari kekerasan pada diri seseorang. Membiarkan diri terbawa hanyut oleh begitu banyak urusan mendesak yang saling bertabrakan, menyerah pada begitu banyak tuntutan, mengikat diri pada begitu banyak proyek, berhasrat membantu setiap orang dalam segala hal, adalah sama saja dengan menyerah pada kekerasan hidup. Lebih dari itu, orang bahkan bekerja sama dengan kekerasan itu. Aktivis yang sangat sibuk mengebiri karyanya atas nama damai. Kesibukannya yang luar biasalah yang menghancurkan buah dari pekerjaannya, karena17 Thomas Merton lahir di kalangan jemaat Gereja Inggris pada 1915. Ia menjadi Katolik pada 1938 dan tinggal di Amerika Serikat. Pada tahun 1941 menjadi biarawan trapis dan menulis banyak buku keagamaan yang bersifat mistik. Pada 1949 ia ditahbiskan menjadi imam. Ia cinta perdamaian dan menentang Perang Vietnam. Sejak 1960 memengaruhi banyak aktivis Katolik. Ia meninggal pada 1968.
  41. 41. 44 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? kesibukan itu membunuh akar kebijaksanaan batin yang mestinya dapat membuat pekerjaannya berbuah. Banyak orang merasa terpanggil memperjuangkanalasan-alasan damai, tetapi kebanyakan dari mereka laluterpukul mundur begitu mereka sadar bahwa mereka takdapat memberikan damai sebelum mereka sendirimemiliki damai dalam diri mereka. Karena tak dapatmenemukan keselarasan dalam hidup mereka, dengansegera mereka minggir dari perjuangan itu. Malahan ada beberapa kejadian yang sangat tragis,di mana seseorang yang sangat menderita setelahmenyadari ilusi mereka lalu bunuh diri. Penyanyi lagu-lagu rakyat Phil Ochs, seorang aktivis perdamaian padatahun enam puluhan melakukannya; begitu pula MitchSnyder, pendiri Pusat Kegiatan Kreatif Non-Kekerasan.Seorang pembela gelandangan yang sangat dihormatidi Washington DC.
  42. 42. Berbagai Makna 45 Damai TuhanD amai sejati bukan sekadar tujuan luhur yang dijunjung tinggi dan dikejar dengan sungguh-sungguh. Damai sejati juga tidak begitu sajadidapatkan atau dimiliki. Damai membutuhkanperjuangan. Damai ditemui dengan melakukanpertarungan dasar dalam kehidupan: hidup lawan mati,baik lawan buruk, benar lawan salah. Memang, damaiitu karunia, tetapi damai juga merupakan hasil dariusaha yang sangat bersungguh-sungguh. Beberapa ayatdi dalam Mazmur menyatakan bahwa di dalam prosesuntuk memperoleh damai itulah maka damai ituditemukan. Damai semacam itu merupakan hasil dariusaha menghadapi dan mengatasi konflik, bukanmenghindari konflik. Karena begitu berakar dalamkebenaran, damai sejati (yaitu damai Allah) mengusikhubungan-hubungan yang penuh kepalsuan,menggoyang sistem- sistem yang tidak benar, danmenelanjangi kebohongan yang dijadikan dasar daridamai yang palsu. Damai sejati mencabuti akar danbenih-benih situasi yang tidak damai. Damai Allah tidak secara otomatis mencakupketenangan batin, ketiadaan konflik atau taksiran-taksiran damai duniawi lainnya. Seperti kita lihat darikehidupan Kristus, damai yang sempurna justruditegakkan dari penolakan-Nya atas dunia dan atas damaiyang ditawarkan dunia. Dan damai yang sempurna ituberakar pada kesediaan-Nya untuk mengorbankan diridengan cara yang paling mengerikan: mati di kayu salib.
  43. 43. 46 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Banyak orang yang menyebut diri sebagai orangKristiani dewasa ini melupakan hal ini, atau menutup matasepenuhnya pada kenyataan itu. Jika pun kitamenghendaki damai, kita memperjuangkan damai yangdasarnya adalah keinginan kita sendiri. Kita menghendakidamai yang gampangan. Tetapi damai tidak terwujuddengan cepat atau gampang jika diharapkan punya dayauntuk bertahan lama. Damai itu bukan semata-matakesejahteraan atau keseimbangan psikologis, suatu perasaanyang hari ini ada dan besok tiada. Damai Tuhan lebih darisuatu tingkat kesadaran. Dorothy Sayers menulis: Aku yakin adalah suatu kesalahan besar mewartakan Kekristenan sebagai sesuatu yang indah dan populer, bahwa tak ada yang diserang di dalamnya.... Kita tak dapat memejamkan mata pada fakta bahwa Yesus yang lemah lembut itu begitu tegas pendirian-Nya dan begitu tajam menyerang dalam kata- kata-Nya sehingga Ia didorong keluar dari tempat ibadat, dilempari batu, dikejar-kejar dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya ditangkap sebagai penghasut dan musuh masyarakat. Apa pun damai-Nya itu, yang jelas bukanlah damai yang timbul dari sikap bersahabat yang tak acuh pada keadaan. Hendak aku katakan bahwa kendati aku berimankepada Kristus dan kendati bahasa buku ini yang olehsementara orang dianggap agak gerejawi, aku tidak yakinbahwa orang harus menjadi Kristiani untuk mendapatkandamai Yesus itu. Memang kita tidak dapat melalaikanpernyataan Yesus: “Dia yang tidak mengumpulkanbersama-sama Aku, ia mencerai-berikan,” dan “Siapatidak bersama Aku melawan Aku.”18 Tetapi apa artinyaperkataan itu bagi Yesus sendiri? Bukankah Dia18 Mat 12:30
  44. 44. Berbagai Makna 47menyatakan dengan jelas bahwa masalahnya bukanlahkata-kata ibadat ataupun sekadar wujud kesalehanbelaka? Ia menghendaki sikap yang lembut dan penuhbelas kasihan – demi cinta kasih.19 Dia berkata biarpunhanya segelas air untuk orang yang kehausan akandihargai “dalam Kerajaan Surga”.20 Yesus adalah seorang pribadi, bukan suatu konsepatau karangan teologi, dan kebenaranNya menjangkaulebih luas dari sekadar yang dapat dipahami oleh pikirankita yang terbatas. Dalam kasus tertentu jutaanpengikut Buddha, para Muslim, orang Yahudi, bahkanmereka yang tidak mengenal Allah dan yangmenyangkal Allah (ateis) melaksanakan cinta yangdiperintahkan Yesus agar dilakukan 21, lebih mantapdaripada banyak orang yang menyebut dirinya Kristiani.Maka tidaklah pada tempatnya bagi kita untuk menilaiapakah mereka memiliki damai Kristus atau tidak.19 Mat 9:13; 12:7.20 Mat 10:4221 Yoh 15:12
  45. 45. 48 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Damai yang Mengatasi PemahamanB eberapa pembaca mungkin dapat menimba manfaat jika di sini aku melanjutkan kajian atas berbagaipemahaman akan damai, dan membahas apakah damaiitu suatu status (keadaan) ataukah cara hidup. Yanglain mungkin hanya ingin tahu apakah yangkumaksudkan ketika aku mengatakan bahwa orangmengupayakan damai. Apakah mereka berusaha agarlebih akrab dengan orang lain, ataukah mereka hausakan damai untuk diri mereka sendiri? Apakah merekarindu akan kepercayaan dan cinta kasih, akan sesuatuyang lebih baik daripada hanya menarik diri dan diamsaja? Sesuatu yang berbeda sama sekali? Intinya, apaitu damai? Suatu gagasan dari buku-buku kakekkumembantuku. Ia menulis tentang damai tiga dimensi:kedamaian jiwa bersama Tuhan; hubungan yang rukundan damai tanpa kekerasan dengan orang lain; danditegakkannya tatanan sosial yang adil dan damai. Namun pada akhirnya, masalahnya bukanlahmengenai definisi yang terbaik, sebab definisi tidakmembantu kita mendapatkan damai itu. Untukmendapatkan makna damai itu kita harus mengalaminyadalam kenyataan praktis, bukan hanya sesuatu yang adadalam kepala kita, juga bukan hanya dalam hati kita,melainkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sadhu Sundar Singh, seorang mistikus Kristiani dariIndia dari permulaan abad yang lalu menulis:
  46. 46. Berbagai Makna 49 Misteri dan realitas hidup yang bahagia dalam Tuhantidak dapat dipahami tanpa menerima, menghayati, danmengalaminya. Jika kita berusaha memahaminya denganpikiran saja, usaha kita itu tidak berguna. Seorang ilmuwan memegang burung di tangannya.Ia melihat burung itu punya kehidupan. Lalu ia ingintahu di bagian tubuh yang mana dari burung itu terletakkehidupannya. Maka ia mulai mengiris-iris burung itu.Hasilnya, kehidupan yang dicarinya itu hilang. Merekayang berusaha memahami misteri hidup sejati secaraintelektual niscaya menemui kegagalan seperti itu. Hidupyang dicarinya akan lenyap dalam analisisnya. Seperti air tak akan tenang sebelum mencapaikepenuhannya, jiwa pun tak akan damai sebelumtinggal dalam Tuhan.
  47. 47. 50 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?
  48. 48. 51 Bagian III Berbagai Paradoks“Aku seorang tentara Kristus. Aku tak bisa berperang.” St. Martinus dari Tours
  49. 49. 52 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Berbagai ParadoksK ita telah melihat bahwa walaupun kerinduan akan damai begitu mendalam, suatu kelaparan universal,namun damai sulit dirumuskan. Memang begitulahkebanyakan hal yang bersifat rohani. Elias Chacour,seorang imam Palestina, teman baikku, memberikankomentar tentang hal ini dalam bukunya Blood Brothers.Ketika bicara tentang agama-agama besar dari Timur iamenunjukkan bagaimana para pemikir mereka (kontrasdengan banyak pemikir dalam budaya Barat) merasanyaman dengan berbagai paradoks dan bersediamenerimanya dan hidup dengan paradoks-paradoks itudan tidak berusaha menyingkirkannya. Barangsiapa membaca Injil tentu tahu betapa Yesusjuga mengandalkan paradoks dan perumpamaan untukmelukiskan kebenaran yang sangat dalam. Bagi pikiranrasional, suatu paradoks tampak bertentangan(kontradiktif), namun justru karena sifatnya itu, paradoksmemaksa kita melihat kebenaran di dalamnya denganmata yang baru. Dalam pengertian ini aku menulis bagianberikut, masing-masing bagian merupakan suatu papanloncatan ke arah pengertian yang lebih dalam atas damai.
  50. 50. Berbagai Paradoks 53Bukan Damai Tapi Pedang Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, dan anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Yesus dari NazarethK etika Matius mencatat kata-kata Yesus ini dalam bab kesepuluh dari Injilnya22, ia memberikan argumenyang disukai generasi-generasi Kristiani untukmempertahankan penggunaan kekuatan dalam berurusandengan orang lain. Tetapi sesungguhnya apa yangdimaksud oleh Yesus? Yang pasti ia tidak bermaksudmembenarkan atau memajukan kekerasan denganmenggunakan senjata. Bahkan sekalipun Ia mengusirpara penukar uang dari Bait Allah dengan cambuk 23,namun Ia kemudian menegur Petrus karena telahmemotong telinga seorang prajurit dengan pedang danberkata, “Barang siapa menggunakan pedang, akanbinasa oleh pedang,”24 dan apa yang dilakukannya sampaihembusan napas terakhir di kayu salib, mencerminkan22 Mat 10:34-3523 Yoh 2:1224 Mat 26: 52
  51. 51. 54 Kedamaian, di Manakah Kau Berada?kata-kata-Nya “Segala sesuatu yang kamu kehendakisupaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikianjuga kepada mereka.”25 Bagiku jelas bahwa pedang yang dimaksudkanYesus bukanlah pedang yang merupakan senjatamanusia. Di dalam surat Rasul Paulus kita membacatentang pedang Roh Kudus yang dibandingkan denganpedang pemerintah, yang kadang-kadang disebutpedang yang fana atau pedang kemurkaan Allah 26Paulus menyatakan bahwa Allah Bapa menarik RohKudus dari dunia karena pria dan wanita tidak taatkepada-Nya; sebaliknya, Ia menyerahkan merekakepada “pedang” pemerintahan dunia, yangkelangsungan dan wewenangnya berakar dalamkekuatan tentaranya. Tetapi Gereja tentu tidak bolehmenggunakan senjata fisik, Gereja harus setia kepadasatu kekuatan saja: Kristus, dan pengikut-pengikutNyahanya boleh menggunakan pedang Roh Kudus. Di tempat lain dalam Kitab Suci pedang digunakansebagai lambang kebenaran. Seperti senjata fisik yangdilukiskannya, pedang, ini memotong segala sesuatu yangmengikatkan kita pada dosa. Pedang itu membersihkandan menonjolkan (penulis Surat kepada orang Ibranimenyebutnya “memisahkan sendi-sendi dan sumsum)27,namun maksudnya bukanlah menghancurkan ataumembunuh. Mengutip penyair Phillip Britts dari Bruderhof,damai adalah “persenjataan kasih dan penebusan.... bukanpersenjataan dunia, tapi persenjataan hasrat akankebenaran.” Perangnya bukan pergumulan antarmanusia25 Mat 7:1226 Rm 13:427 Ibr 4:12
  52. 52. Berbagai Paradoks 55satu sama lain, tetapi antara “sang pencipta melawan siperusak; perang antara hasrat akan kehidupan melawanhasrat kematian; perang antara cinta melawan kebencian;antara persatuan melawan perceraian.” Di dalam Injil tertulis, “sejak tampilnya YohanesPembaptis sampai sekarang, kerajaan surga diserong danorang yang menyerong mencoba mengusainya.” 28Walaupun ini merupakan salah satu di antara wejanganYesus yang sulit, arti kata “diserong” cukup sederhana.Kita tak dapat duduk dan menunggu surga, demikerajaan damai dari Allah, agar jatuh ke pangkuan kita.Kita harus merebutnya dengan penuh hasrat. ThomasCahill menyatakan: “yang penuh hasrat, habis-habisandan di luar batas punya kesempatan lebih baik untukmerebut surga daripada mereka yang puas diri, ragu-ragu dan yang lengket dengan dunia.” Yang menarik,kosa kata Kristiani tidak sendirian menggunakan bahasakekerasan untuk melukiskan jalan damai. Menurutseorang nara sumber Muslim kata jihad tidak hanyaberarti perang suci Islam, tetapi juga perang spiritualyang terjadi dalam diri setiap orang. Banyak orang Kristiani sekarang menyepelekanperang spiritual. Di satu pihak mereka menganggap halitu semacam imajinasi; di lain pihak ada yang merasabahasa yang digunakan untuk melukiskannya terlalukonfrontatif, terlau kasar, dan yang lebih buruk lagi,terlalu kuno. Namun perang kosmis antara malaikatAllah dan cecunguk setan terus berlangsung hingga saatini, kendati makin kurang saja yang percaya tentang halitu. Mengapa hanya karena kita tidak dapat melihatnyakita menganggap hal itu hanya rekaan pikiran?28 Mat 11:12
  53. 53. 56 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Aku percaya bahwa daya yang tampil dari yang baikdan yang jahat sungguh nyata seperti daya-daya fisik yangmembentuk alam semesta, namun karena kita tidak bisamengetahuinya, kita tidak dapat menyaksikanpertempuran besar yang terjadi di antara mereka.Sebagaimana cahaya tidak dapat berbagi ruang dengankegelapan, maka baik dan jahat tidak dapat ada bersanadalam damai, dan karena itu kita harus memutuskanuntuk ikut di pihak mana. Sekitar dua puluh lima tahun lalu, sebagai tetuakomunitas Bruderhof, ayahku29 menyusun suatu dokumenyang berulangkali dilihat orang lagi selama bertahun-tahun. Suatu “kesepakatan” yang ditanda-tangani olehsemua anggota komunitas kami ketika ditulis (dandisetujui oleh setiap anggota terbaru), karena seringmembantu kami mempertajam fokus kami pada akar suatumasalah tertentu yang sedang kami hadapi. Kami memaklumkan perang kepada segala pelecehan terhadap semangat seperti anak-anak yang diajarkan Yesus. Kami memaklumkan perang kepada segala kekejaman emosional dan fisik terhadap anak-anak. Kami memaklumkan perang kepada semua usaha untuk menguasai jiwa orang lain. Kami memaklumkan perang kepada segala kebesaran manusia dan semua bentuk pameran kehebatan. Kami memaklumkan perang kepada kebanggaan palsu termasuk kebanggaan kolektif. Kami memaklumkan perang kepada semangat dendam, kebencian dan keengganan untuk memaafkan.29 Yang dimaksud adalah J. Heinrich Arnold (1913-1982).
  54. 54. Berbagai Paradoks 57 Kami memaklumkan perang kepada segala macam bentuk kekejaman kepada orang lain termasuk kekejian terhadap pendosa. Kami memaklumkan perang kepada semua keingintahuan tentang sihir atau kegelapan setan. Salah satu risiko terbaru di dalam berperang melawanyang jahat adalah salah menerapkan sesuatu perlawanansifat pada tatanan fisik manusia, dengan menciptakankubu antara “orang baik” dan “orang jahat. Kita seringbicara tentang Tuhan dan gerakan yang berlawanandengan setan dan dunia, namun kenyataannya adalahgaris pemisah antara baik dan jahat itu juga melewatisetiap hati manusia. Dan siapa yang akan kita adili selaindiri kita sendiri? Gandhi suatu ketika mengajar, “jika Anda membenciketidakadilan, tirani, keserakahan dan kerakusan,bencilah semua itu dalam diri Anda lebih dulu.” Setiaporang membentuk suasana tertentu di sekelilingnya. Ketika“bertarung demi kebaikan” janganlah lupa berhentisebentar, di sana atau di sini, dan bertanya pada diri sendiri,apakah suasana yang terbentuk itu penuh ketakutan atausuasana kasih yang menyingkirkan rasa takut. Ada godaan untuk membawa pertarungan itu ke luarmelawan orang lain daripada ke dalam melawan dirisendiri. Karena ngeri pada keadaan dunia dan cara hiduporang lain, kita mungkin dipenuhi perasaan bahwa kitabenar (jika bukan pembenaran diri). Namun bukannyamengajak orang lain menuju hidup baru dengan menarikhatinya, kita hanya memisahkan diri dari mereka,membuat jarak. Padahal, pertarungan itu seharusnyaterlaksana dalam hati kita dulu. Tentang ini seorang pelayan umat, Glenn Swinger,baru-baru ini menulis kepadaku:
  55. 55. 58 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Setelah mengalami pertobatan, saya dibaptis pada pertengahan usia empat puluhan. Saya mengakui setiap dosa yang saya ingat, memperbaiki hubungan yang salah dengan orang lain dan berusaha melihat betapa dalam saya telah menentang Allah. Saya merasa mendapat pengampunan, yang membawa kegembiraan dan perdamaian. Tetapi ayah Anda, yang membaptis saya, berkata “Sekarang pertarungan yang sesungguhnya dimulai.” Saya pada waktu itu tidak benar-benar mengerti masalahnya, tetapi saya berkata pada diri saya sendiri agar waspada. Sedikit demi sedikit ternyata kembali lagi pada cara hidup saya yang lama, dan berangsur-angsur setan kecil kesombongan, iri hati dan kecemburuan masuk lagi dalam hidup saya. Memang, pengalaman baptis mengubah diri saya, saya tidak menyangkal. Namun saya belum mengalahkan diri saya sendiri. Diri saya sendiri masih merupakan pusat dari semua pengalaman batin saya. Saya menghayati kehidupan yang hebat dengan kekuatan saya sendiri, dengan kemampuan saya sendiri. Saya tidak “berjaga dan berdoa” sehingga pencobaan masuk ke dalam hati saya.... Akhirnya cinta pertama saya dengan Kristus berantakan. Kemudian muncullah sikap munafik, dan saya mengalami sakitnya tuntutan keadilan. Saya diminta lengser dari tugas saya sebagai pelayan jemaat dan pengajar. Saya meninggalkan Bruderhof selama empat bulan, dan selama itu saya dapat melihat dosa-dosa saya dan menyesalinya. Setelah pulang kembali dan menerima maaf dari saudara-saudara yang tempo hari saya tinggalkan, saya mendapatkan kebebasan baru, cinta dan perdamaian. Perjuangan masih timbul setiap hari, tetapi selama beberapa tahun saya belajar sesuatu dari 1 Kor 13:13; “demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya
  56. 56. Berbagai Paradoks 59 adalah kasih.” Saya tak dapat mengadili atau memandang rendah orang lain, bagaimana pun keadaannya. Orang yang kaya membuat jarak antara dirinya dan Lazarus, dalam kehidupan selanjutnya kedudukan mereka dibalik.30 Ada dua kekuatan dasar yang bekerja dalam diri kita, baik dan jahat, dan dalam pertarungan di antara keduanya kita diadili dan berkali-kali memperoleh pengampunan. Di dalam pertarungan yang terus berlangsung inilah kita mengalami damai sejati. Pengamatan Glenn Swinger sangat menentukanpemahaman atas paradoks. “Aku datang ke dunia bukanmembawa damai, tetapi pedang”, karena menyentuhmaknanya yang paling dalam. Pedang Kristus adalahkebenaran, dan kita harus membiarkannya memotongtandas dan berulang kali kapan saja dosa bertumbuhdalam hidup kita, menegarkan diri dan melindungi dirikita terhadap pedang itu berarti menutup diri kita padakerahiman dan kasih Allah.30 Luk 16:19-31
  57. 57. 60 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Kekerasan KasihD amai sejati memerlukan senjata, dan juga mengucurkan darah, tetapi bukan dalam maknayang sekadar kita bayangkan. Kristus melarang kitamenggunakan kekerasan terhadap orang lain, namunia jelas meminta kita sedia menderita di tangan oranglain. Dia sendiri “memberikan perdamaian kepada kitamelalui darahnya,”31 seperti dikatakan dalam PerjanjianBaru, dan selama berabad-abad pria dan wanitamengikuti teladanNya, dan bersedia mengorbankandirinya demi iman mereka. Pentingnya kematian seseorang demi iman mungkinmerupakan suatu hal yang paling sulit dijelaskan.Kebanyakan dari kita gemetar ngeri membayangkanpemandangan orang yang dibakar, ditenggelamkan, dandibelah. Namun para saksi mata berulang kali menulistentang damai yang diperlihatkan oleh para martir itupada saat-saat terakhir mereka. Buku The Chronicle of The Hutterian Brethren, suatusejarah era Reformasi yang memuat catatan tentangbanyak martir, menggambarkan orang- orang yangmenyongsong kematian mereka sambil menyanyi gembira.Seorang di antaranya, Conrad, anak muda yang akandihukum mati, tetap tenang dan begitu mantap sehinggaorang-orang yang menonton berharap tak ingin bertemudia lagi, anak muda itu membuat mereka resah. Bagi kebanyakan orang kematian sepertinya takakan berakhir. Kita tidak lagi diminta mempertahankan31 Lih Kol 1:20
  58. 58. Berbagai Paradoks 61iman kita dengan kata-kata, dan gambaran menderitasecara fisik demi iman kelihatannya sangat berlebihan.Bersamaan dengan itu tidaklah dirasakan menyakitkanlagi untuk mempertimbangkan iman bagi mereka yangtelah siap menderita demi keyakinan-keyakinan mereka,juga bagi kita sendiri jika kita telah siap melakukanhal yang sama. Setiap orang bisa mengendalikanemosinya dan dapat tetap berdiri teguh menghadapikesulitan-kesulitan setiap hari. Namun supaya tetapdamai menghadapi perjuangan keras termasukmenghadapi kematian, diperlukan lebih dari sekadarmaksud baik. Di suatu tempat pasti ada cadangankekuatan yang sangat besar. Uskup Agung dari El Salvador Oscar Romeromenyentuh rahasia damai ini ketika ia berpidato, taklama sebelum ia mati tentang pentingnya “menerimakekerasan cinta.” Romero dibunuh pada tahun 198032karena lantang membela kaum miskin. Kekerasan cinta ... membiarkan Kristus tergantung pada salib; kekerasan itulah yang harus kita lakukan pada diri kita sendiri untuk mengatasi egoisme kita dan ketidakadilan yang kejam di antara kita. Kekerasan itu bukan kekerasan pedang atau kekerasan kebencian. Itu adalah kekerasan persaudaraan, kekerasan yang melebur persenjataan menjadi hal yang tidak menyakitkan demi karya perdamaian.32 Oscar Romero adalah Uskup Agung San Salvador . Lahir 1917. Ditahbis menjadi imam tahun 1942. Pada tahun 1966 menjadi rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Salvador. Tahun 1975 menjadi Uskup Santiago. Menjadi Uskup Agung San Salvador 1977. Ia memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang ketidak adilan dan membela kaum miskin. Untuk itu ia memajukan Teologi Pembebasan. Pada 1980 ia ditembak sesudah homili dan meninggal. Tahun 1997 ia dicalonkan menjadi orang kudus.
  59. 59. 62 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Demikianlah cinta Kristus merupakan daya bagikebenaran dan kekudusan, yang melawan hinggamendasar semua yang tidak suci dan bertentangan dengankebenaran. Kasih semacam itu jelas sangat berbeda denganyang diajarkan pengarang Marianne Williamson dari aliranNew Age yang populer, yang menyatakan bahwa untukmemperoleh damai, yang perlu kita lakukan adalahmengasihi diri kita sebagaimana adanya dan “menerimaKristus yang telah ada dalam diri kita.” Tidak mengherankan bahwa banyak orang menyukaikhotbah Marianne. Kita tahu bahwa setiap orangKristiani harus memanggul salibnya sendiri, tetapi kitatidak ingin membahas soal itu. Kita lebih menyukaireligiositas gereja modern yang hangat bersahabat dansuka cita yang dijanjikan para malaikat di Betlehem33daripada kedamaian yang telah dimenangkan Yesusdengan susah payah di Golgotha. Kita mengakui hasilkarya Yesus ketika Ia mati - “Bapa, ke dalam tanganMukuserahkan jiwaKu” 34, tetapi melupakan sakratulmautyang dialamiNya di taman Getsemani pada malam yangpanjang dan sepi sebelumnya 35. Kita lebih menyukaikebangkitan tanpa penyaliban. Belakangan ini suatu ayat dalam Kitab Yeremiamenyentuhku: “Bukankah kata-kataku seperti api,seperti palu yang memukul hancur batu karang?”36 Tuhanhanya bermaksud menggambarkan kerasnya hati manusia.Biasanya kita menggambarkan kekerasan hati itu padawujud orang terpidana: pembunuhan, pemerkosaan,33 Luk 2:1434 Luk 23:4635 Mat 26:36-46 par36 Yer 23:29
  60. 60. Berbagai Paradoks 63pezinah, pencuri. Tetapi dalam perjumpaan rohani denganpenghuni penjara aku mendapatkan betapa penjahat yangpaling keji sekalipun punya hati yang lembut, karena iasangat sadar akan dosa-dosanya. Betapa ingin akumengatakan hal seperti itu pada orang-orang lain yangkulayani – orang “baik-baik” yang penuh dengan ego dancitra diri yang dibangun dengan cermat. Sebab mungkinjustru hati yang paling keras adalah hati mereka yangtertimbun oleh hal-hal semacam itu. Sekalipun kita sadar akan kekurangan-kekurangandan perjuangan kita, seringkali kita menolak kekerasancinta. Kita mencari damai sejati dan abadi dan tahubahwa damai itu menuntut pengorbanan dari kita, tapidengan cepat kita menawar pengorbanan itu sekecil-kecilnya. Seorang anak muda dalam jemaatku suatuketika berkata, “Saya berjuang terus untuk mendapatkankedamaian, tetapi kemudian saya bertanya pada diri sayasendiri, ‘untuk apa kamu bersusah payah seperti itu?Apakah sungguh ada gunanya?’ Tentu saja aku tak dapatmemberikan suatu jawaban bagi dirinya. Tetapi ketikamengenangkan hal itu aku dapat kembali mengajukanpertanyaan kepadanya: jika damai tidak berharga bagimu,bagaimana mungkin kamu berusaha mencarinya? Walaupun kedengaran aneh, mereka yang palingyakin bahwa mereka tidak mempunyai kedamaiankadang-kadang berada sangat dekat untuk mendapatkankedamian itu. Robert (nama samaran) adalah seorangterpidana di suatu penjara negara. Ia melakukankejahatan yang mengerikan dan berulangkali ia tersiksaoleh kenangan tentang apa yang telah dilakukannyasehingga ia merasa tak tahan hidup sehari lagi. Kadang-kadang, situasi seperti itu membuatnya merasa damai.Dalam sepucuk suratnya ia menulis:
  61. 61. 64 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Anda bertanya apakah saya dapat menulis sesuatu tentang damai, damai Tuhan. Saya ingin mendapatkannya, tapi saya merasa tidak layak. Perasaan bahwa saya tidak layak itu adalah karena saya rasa damai yang Anda bicarakan itu justru berada di luar seluruh hidup saya. Saya mencari damai dalam banyak cara melalui para wanita, nenek saya, melalui prestasi, melalui narkotika, dan kadang-kadang melalui kekerasaan dan kebencian; melalui seks, perkawinan, anak-anak, uang dan harta. Saya tak memperoleh damai dari semua hal itu. Namun sungguh aneh. Walaupun saya tak pernah mengalami kedamaian, tetapi saya mengenalnya dan saya tahu rasanya. Saya melukiskannya sebagai kemampuan untuk bernapas dan tidur. Sepanjang hidup saya (dan masih sering saya alami) saya merasa tercekik atau tenggelam sehingga saya harus terus berjuang untuk bisa bernapas dan beristirahat. Saya merindukan damai semacam itu. Saya tahu … bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkan damai seperti itu adalah melalui Kristus, namun damai itu tetap menolak saya. Saya tidak mengalami damai karena apa yang telah saya lakukan dan apa yang dialami orang lain karena tindakan saya itu. Saya menyesal, sungguh. Saya mohon untuk mendapat kesempatan kedua, di luar penjara dari baja dan beton buatan manusia, dan di luar penjara dosa dari setan. Saya tahu bahwa Tuhanlah yang dapat memberikan hal itu dan di situlah kutaruh iman dan harapanku. Jika Tuhan akhirnya menjawab doa saya setelah semua derita, kegelisahan dan usaha saya ini, niscaya saya akan merasakan kedamaian. Begitu pula saya merasa damai karena tahu bahwa ada orang yang mengasihi saya begaimana pun saya ini dan apa pun yang telah
  62. 62. Berbagai Paradoks 65 saya lakukan dan memberi ampunan agar saya memperoleh kesempatan kedua itu…. Nada surat yang ditulis Robert serasa tak punyaharapan, tetapi aku (dan teman-teman lain yangberkunjung kepadanya) memerhatikan perubahan yangpasti pada dirinya sejak ditangkap tiga tahun sebelumnya.Bukan karena dia telah mencapai “pencerahan” danmantap; sejujurnya tak seorang pun bisa mengatakanbahwa Robert memperoleh kedamaian itu. Tapi Robertsangat lapar akan kedamaian itu. Dan karena ia akanberjuang keras melalui penyesalan yang sesungguhnya, iamungkin lebih dekat dengan Tuhan daripada kami semua. Dalam suatu paragraf tentang damai dalam sebuahnaskah Hindu kuno, Bhagawad Gita37, dikatakan: Bahkanpara pembunuh dan pemerkosa ... dan kaum fanatik yangpaling kejam sekalipun dapat mengenal penebusan melaluikekuatan cinta, jika saja mereka bersedia menerimarahmatnya, yang sekalipun pahit namun menyembuhkan.Melalui transformasi yang menyakitkan mereka akanmemperoleh kebebasan, dan hati mereka akan menemukankedamaian.” Dan di dalam surat Kepada Orang Ibrani kitabaca, “Memang didikan dan ajaran pada waktu diberikantidak mendatangkan suka cita, tetapi duka cita. Tetapikemudian ia menghasilkan buah kebenaran yangmemberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”38Robert mungkin tidak mengenal kedua naskah itu. Tetapidi dalam usaha perjuangannya, ia mengalami kebenarandari keduanya. Ia menghayati kekerasan cinta.37 Bhagavad Gita adalah naskah dari abad ke-3 Seb.M yang merupakan petikan dari Mahabaratha, episode Bhisma Parwa, berisi pembicaraan antara Krisna dan Arjuna mengenai tugas seorang senapati perang dan Pangeran ketika Arjuna ragu melawan kakeknya sendiri, Bhisma dalam perang.38 Ibr 12:11
  63. 63. 66 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tak Ada Hidup Tanpa KematianS ewaktu mengerjakan buku ini, dua perkataan Yesus dalam Injil Yohanes secara khusus memperdalampemahamanku tentang damai: “jikalau biji gandumtidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu bijisaja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyakbuah.” Dan “barang siapa (demi Aku) tidak mencintainyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untukhidup yang kekal.”39 Begitu pula tak ada perdamaian abadi tanpaperjuangan, sebagaimana tak ada hidup sejati tanpakematian. Karena kita tidak berhadapan dengan ancamanmaut, kita tak dapat memahami fakta yang penting ini.Kita lupa bahwa untuk memahami damai Yesus, kitapertama-tama harus memahami penderitaanNya.Kesediaan untuk menderita memang penting, tetapi tidakmemadai. Penderitaan itu juga harus dialami. Sebagaimanapernah dituliskan oleh ayahku: “Mengalami, biarpunsedikit, cita–rasa yang dipersembahkan ‘demi Tuhan’ sangatmenentukan bagi hidup rohani kita.” Bagi kebanyakan dari kita, cita rasa yangdipersembahkan “demi Tuhan” mungkin tampak negatifdan tak berhubungan dengan damai. Sebab hal itu terkaitdengan duka cita, bukan suka cita; penderitaan, bukankebahagiaan; pengorbanan diri, bukan pemeliharaan diri.Hal itu berkaitan dengan kesepian, penyangkalan,39 Yoh 12:24-25
  64. 64. Berbagai Paradoks 67pengasingan dan rasa takut. Namun jika kita maumenyadari artinya kehidupan, kita harus dapatmenemukan makna itu dari semua hal ini! Penderitaan,seperti dikatakan oleh psikiater terkenal Viktor Frankl“tak dapat dihapus dari paket kehidupan. Tanpapenderitaan, hidup manusia tidak sempurna.” Banyak orang berusaha menghabiskan waktunyamenghindari kebenaran ini; mereka adalah orang-orang yang paling bahagia di dunia ini. Yang lainmemperoleh damai dan kepunahan dengan menerimahal ini. Mary Poplin, seorang Amerika yang tinggalbersama para Misionaris Suster-suster Cinta Kasih diKalkuta pada 1996, berkata: Para misionaris memandang pencobaan dan hinaan sebagai saat untuk memeriksa diri, untuk membangun kerendahan hati dan kesabaran untuk mencintai musuh – itulah kesempatan-kesempatan untuk bertambah kudus. Bahkan penyakit pun sering ditafsirkan sebagai cara untuk mendekatkan diri pada Tuhan, cara Tuhan mewahyukan diri dengan lebih jelas, dan peluang untuk merenungkan masalah-masalah karakter dengan lebih mendalam lagi. Kita telah membuang banyak waktu dalam hidup kita dalam usaha untuk memperingan dan menghindari penderitaan, dan ketika penderitaan itu datang, kita tak tahu harus berbuat apa. Kita bahkan tidak mengerti bagaimana menolong orang lain yang menderita. Kita melawan penderitaan, melemparkan kesalahan kepada perorangan dan sistem sosial serta berusaha melindungi diri sendiri. Jarang di antara kita menganggap penderitaan sebagai karunia dari Allah, yang memanggil kita untuk menjadi lebih suci. Sementara kita sering berkata bahwa krisis dan masa penderitaan membangun karakter, kita justru menghindar dari keduanya sejauh mungkin dan berusaha terus
  65. 65. 68 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? menciptakan berbagai teknik untuk memberikan kompensasi demi menekan atau mengatasi penderitaan. Banyak bacaan sekuler kita menunjukkan bahwa ibu Teresa dan para misionaris secara psikologis cacat, karena menerima penderitaan dan rasa sakit. Setelah bekerja bersama mereka, aku kira pandangan sekuler itu meleset jauh sekali dari kebenaran. Kita orang Amerika jarang sekali memikul tanggungjawab atas penderitaan kita sendiri. Dan tanpa memandang situasi, setiap kita adalah yang paling miskin dalam hal pilihan untuk menanggapi penderitaan. Bagi para misionaris itu, penderitaan bukan hanya suatu pengalaman fisik, tetapi juga suatu penjumpaan spiritual yang mendorong mereka untuk mempelajari tanggapan-tanggapan baru, untuk mengusahakan pengampunan, untuk berpaling kepada Allah, untuk bertindak seperti Kristus, dan untuk bersyukur karena penderitaan memberikan hasil yang baik pada diri mereka. Dan akhirnya penderitaan itu membuat mereka melakukan tindakan. Begitu pula kesaksian orang seperti Philip Berrigan40,yang tidak hanya menerima derita di dalam kehidupanmereka, tetapi juga merangkulnya. Philip tahu lebihbanyak tentang makna kehilangan nyawa “demi Aku”daripada kebanyakan orang Kristiani sekarang. Baginyamenjawab panggilan Kristus untuk hidup sebagai murid-Nya berarti penganiayaan dari penjara di masa yang satuke penjara yang lain di masa lainnya pula. Pada tahun1960-an, Daniel, saudaranya juga ditangkap karenamemprotes Perang Vietnam dan selama sebelas tahunmeringkuk dalam penjara. Musim gugur yang lalu aku mengunjungi Philip disuatu penjara di kota Maine di mana ia ditahan karenapembangkangan sipil. Beberapa minggu kemudian ia40 Lih. Catatan kaki no. 7
  66. 66. Berbagai Paradoks 69dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Dua tahun lagi iaharus berpisah dengan istrinya, Elizabeth McAlister danketiga anak mereka. Ini bukan yang pertama kali merekaberpisah. Tapi baik Phillip maupun Elizabeth tidak kecilhati. Dalam sepucuk surat yang ditulis Elizabethuntuknya, Elizabeth merenungkan dasar perjuanganperdamaian mereka, yang sering salah dimengerti dandikritik karena terlalu dipolitisir, dengan menunjukkanoptimismenya dan iman yang tak pernah padam. Sungguh tidak adil – pada umur tujuh puluh tiga tahun kamu untuk kesekian kalinya masuk penjara demi keadilan dan demi perdamaian. Dan kamu mendapatkannya tanpa melalui pengadilan. Tapi apalagi yang kita harapkan jika jutaan orang lainnya juga dipenjara di seluruh dunia, dan banyak di antara mereka itu disiksa, kelaparan, hilang, keluarga mereka diancam? Sungguh tidak adil – kita tidak dapat menikmati rumah yang kita bangun bersama; mengagumi mawar yang kita tanam sedang mekar bunganya; makan buah yang kamu rawat; membanggakan anak-anak yang kita besarkan. Tapi apa lagi yang kita harapkan, jika jutaan orang lainnya tak punya rumah, jutaan orang menjadi pengungsi karena perang, mengalami wabah kelaparan dan penindasan – jiwa mereka telah kusut karena penat dan takut melihat keindahan di sekeliling mereka; harapan dan hati mereka hancur luluh karena anak- anak mereka mati setiap harinya...? Sungguh tidak adil – kita tak dapat menghadiri bersama wisuda Frida dan Jerrry. Mereka merindukan dirimu di samping mereka untuk ikut ambil bagian dalam kebanggaan, prestasi dan awal yang baru bagi mereka. Mereka ingin mendengarkan kata-kata kebijaksanaanmu, kehangatan hatimu, kehadiranmu dalam tahap baru kehidupan mereka. Namun apa lagi yang bisa kita harapkan jika ada begitu banyak
  67. 67. 70 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? anak-anak dalam kolese, suatu keluarga yang menyayangi, suatu komunitas yang peduli, namun bukan lagi merupakan buah impian, sebaliknya menjadi k orban-korban kelembagaan yang mengharapkan mereka asal lulus saja, korban-korban dari sikap melalaikan masa depan yang merupakan warisan masyarakat untuk mereka? Sungguh tidak adil – kita tidak dapat bersama-sama mengantar Kate menjelang kelulusan Sekolah Menengah Atas dan menjadi seorang wanita muda…. Sungguh tidak adil – komunitas yang selama bertahun-tahun kamu abdi dalam membangun dan membangun ulang tak lagi kamu dampingi, doa, karya, impian, dan tawa yang tertuang dari karunia, visi dan rahmat yang khusus diberikan padamu. Tapi apalah yang kita harapkan jika komunitas seperti itu dicurigai, diancam, digerogoti, ketika pemberangusan nyaris tuntas, ketika rakyat dijadikan pengecut, dapat dibeli, dicerai-beraikan dan dijadikan pelaksana kepunahan mereka sendiri? Rasa damai dan teguh pendirian yang mengalir dariorang-orang seperti Philip dan Elizabeth tidak dihargaidan juga tidak dipahami dalam masyarakat kita. Cita rasaitu adalah buah dari kemerdekaan Kristus yang paradoks,yang berkata: “Tak seorang pun dapat mengambilhidupKu, namun Aku menyerahkannya atas keinginanKusendiri. Aku berkuasa untuk mengambilnya kembali.” Bagi Philip, pengorbanan berpisah dari orang-orangyang disayanginya merupakan bagian dari kematian yangharus diderita, palang halang di jalan menujuperdamaian. Yang didapatnya bukanlah damai yangdiberikan dunia, namun seperti tulisannya dari penjarapada bulan September 1997, ia memandang damai yanglebih besar dan lebih dalam:
  68. 68. Berbagai Paradoks 71 Adalah damai ketika tak ada lagi dominasi, di mana ketidak-adilan dibongkar, ketika kekerasan telah menjadi sisa masa lalu, ketika pedang telah hilang dan mata–bajak banyak tersedia. Adalah damai ketika semua orang diperlakukan sebagai saudara, lelaki dan perempuan, dengan penghargaan dan martabat, ketika setiap kehidupan dianggap suci, dan di mana ada masa depan bagi anak-anak. Dunia seperti itulah yang untuk membantu perwujudannya Allah berkenan memanggil kita. Di negeri kita untuk menanggapi panggilan seperti itu bisa berarti masuk penjara, mempertaruhkan reputasi, pekerjaan, penghasilan, atau bahkan dirampok oleh keluarga dan teman sendiri. Namun dalam suatu negara kriminal yang setiap hari menyiapkan bencana nuklir, tantangan itu sungguh-sungguh berarti kemerdekaan, komunitas teman dan kerabat yang baru. Sesungguhnya, artinya adalah kebangkitan. Bagi kebanyakan dari kita proses kematian yangharus kita tempuh untuk dapat berbuah benar-benar biasasaja. Kita tidak berhadapan dengan regu tembak (sepertigambaran Dostoevsky) atau pengadilan federal (sepertiPhilip Berrigan dan saudaranya), sebab yang kita dapathanyalah sedikit lebih sulit dari persoalan hidup sehari-hari saja: soal mengatasi kesombongan, berteriak kepadaseseorang yang berbuat salah, meredam kebencian,mendiamkan anggota keluarga atau rekan yang marahatau frustrasi. Tidak ada sesuatu yang heroik dalammemilih melakukan hal-hal ini. Namun “jika benih tidak jatuh di tanah” kita takakan pernah menemukan damai sejati atau pun dapatmenyampaikannya kepada orang lain. Laurel Arnold, jemaat gerejaku yang kukenal sejakakhir 1950-an berkata:
  69. 69. 72 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Bila aku merenungkan kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes 14:27 “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu,” – aku teringat betapa sering ayat ini dibacakan pada upacara pemakaman, namun tetap berada di luar diriku. Aku dibesarkan di suatu lingkungan yang terlindung dan tersendiri agar menjadi wanita yang benar, saleh dan kritis. Aku ingin menjadi seorang ternama, mungkin seorang penulis yang terkenal, dan aku bekerja keras dan dihargai di universitas. Aku ingin populer, namun aku mengadili teman-teman yang juga ingin dikenal. Aku sangat idealistis dan mencintai aliran pacifisme, tapi aku benar-benar orang kulit putih kelas menengah yang buta terhadap ketidak-adilan sosial dan permainan politik. Selama perang aku mengajar di New York City, sementara Paul, suamiku, menjadi pelaut. Setelah perang, kami tergugah melihat realitas kehidupan orang lain. Paul telah menyaksikan kerusakan yang mengerikan di kota-kota yang terkena bom di Eropa; aku tersandung orang-orang yang mabuk di jalanan dan aku peduli pada anak-anak yang tak pernah bermain di rerumputan. Kami kira kami dapat membantu seorang pecandu alkohol dan merengkuhnya dalam keluarga kami, tapi ia kabur mencuri uang dari toko kami. Kami menawarkan diri kepada majelis gereja kami untuk menjadi misionaris dan dikirim ke Afrika. Walaupun kemudian kami meninggalkan bidang misi, kami makin terlibat dalam kegiatan gereja. Namun kami tidak menemukan hubungan dari hati ke hati yang kami cari, karena semua kegiatan bersifat dangkal dan gosip belaka. Kami ingin menghayati kehidupan yang mengikuti Yesus setiap hari, bukan hanya pada hari Minggu saja. Kemudian, kami tertarik pada cita- cita persaudaraan, dan kami mulai mempelajari berbagai persoalan dan bidang-bidang kehidupan yang belum
  70. 70. Berbagai Paradoks 73terpikir oleh kami sebelumnya: materialisme, rumahpribadi, sebab-sebab perang. Pada 1960 kamibergabung dengan Bruderhof.... Adalah mudah untukmenyerahkan rumah, mobil dan penghimpunan hartabersama; kami bisa mengerti. Namun kesukaan kamimenyampaikan pendapat, cara-cara berprinsip untukmenanggapi berbagai hal, pertimbangan berdasarkankebenaran pribadi; sikap seperti bos, dan keyakinandiri yang menggilas orang lain, semua itu masih sulituntuk dikorbankan. Untuk masa yang panjang akuberusaha agar tidak bertindak menurut aturan,melainkan supaya lebih dibimbing oleh Roh; berusahaagar tidak mencari citra diri “baik” atau ramah, danlebih bersikap tulus dan jujur. Sulit! Tentu saja ada suka duka yang seimbang dankesetiaan pada Tuhan selama itu, berusahamenimbang-nimbang, mendapatkan ampunan dankesempatan untuk permulaan yang baru. Aku masihtak suka dianggap salah – tak ada orang yang suka –tapi aku mendapatkan rahmat, kasih dalam kerahimanAllah. Pada usia tujuh puluh empat, tak ada waktuuntuk rileks dan bermalas-malasan. Ada begitubanyak hal yang masih perlu kupelajari, begitu banyakyang harus ditanggapi.... Ada orang yang di dalam doa bersyukur kepadaAllah karena telah menjadi putraNya. Aku tidak seyakinitu. Apakah aku sungguh-sungguh siap mati? Yang pastiaku tidak hidup “dengan tenang”, seperti dalam lagu yangkita nyanyikan “Peace I ask of Thee, O River.” Adakegelisahan dan kerinduan tertentu pada diriku. Kukirakita semua merupakan bagian dari makhluk yangmengeluh yang disebut dalam Surat untuk Jemaat Roma8. Walau kulihat diriku sendiri mudah goyah, sedang Allahbegitu setia sepanjang hidupku, di sanalah kudapatkaniman dan kedamaianku.
  71. 71. 74 Kedamaian, di Manakah Kau Berada? Tidak ada yang istimewa dalam cerita Laurel itu. Namunperjuangannya yang biasa-biasa saja – tugas umum sepanjanghayat untuk belajar hidup dalam damai dengan Tuhan,dengan tetangga, dan diri sendiri – tidaklah kalah pentingdibanding kemartiran yang heroik. Kakekku menulis: Sejauh terkait dengan umat manusia seluruhnya, hanya satu hal yang berharga bagi Kerajaan Allah: Kesediaan kita untuk mati. Namun kesediaan ini perlu dibuktikan dalam hal-hal yang remeh-remeh dalam hidup sehari-hari, sehingga kita dapat memperlihatkan keberanian dalam masa-masa yang kritis dalam sejarah. Maka kita harus sepenuhnya mengatasi sikap dan perasaan yang kecil-kecil, supaya dapat menyerahkan cara pribadi kita seluruhnya dalam menanggapi hal-hal, yaitu rasa takut, khawatir dan kegelisahan batin kita – pendeknya, ketidakpercayaan kita. Sebaliknya, kita memerlukan iman. Iman yang walaupun sebesar biji sesawi, namun punya peluang untuk tumbuh menjadi besar. Itulah yang kita perlukan, tak kurang, tak lebih.

×