Your SlideShare is downloading. ×
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Pemanfaatan rizobakteri sebagai penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (xanthomonas oryzae pv. oryzae) di lapangan

790

Published on

Hasil Kajian penelitian oleh Laboratorium PHP Lambuya yang dipimpin oleh Kepala Laboratorium PHP Lambuya, Abd. Rahim, SP., MP. …

Hasil Kajian penelitian oleh Laboratorium PHP Lambuya yang dipimpin oleh Kepala Laboratorium PHP Lambuya, Abd. Rahim, SP., MP.
Telah diseminarkan pada Gelar Teknologi/ Seminar Hasil Kajian

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
790
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
12
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 PEMANFAATAN RIZOBAKTERI SEBAGAI PENGINDUKSI KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) DI LAPANGAN Oleh : Abd. Rahim, Yonathan, D. Tulak I. PENDAHULUAN Hawar daun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae merupakan salah satu penyakit utama pada padi sawah di Indonesia (Hifni dan Kardin, 1998). Di Indonesia kehilangan hasil akibat penyakit ini dapat mencapai 30 – 50% khususnya pada varietas-varietas rentan seperti pada varietas IR64. Penyakit ini semakin berkembang jika pertumbuhan tanaman padi tidak optimal karena kondisi lahan yang kurang subur. Di Sulawesi Tenggara serangan penyakit hawar daun bakteri telah dilaporkan di sentra pertanaman padi seperti di Kabupaten Konawe, Kolaka, Konawe Selatan (Khaeruni et. al. 2011). Upaya pengendalian penyakit HDB yang umum dilakukan adalah penggunaan varietas tahan (Rao et al,.2003). Penggunaan varietas tahan belum memberikan hasil yang memuaskan karena XOO mempunyai tingkat keragaman patotipe yang tinggi yang disebabkan oleh faktor lingkungan, varietas yang digunakan dan tingkat mutabilitas gen yang tinggi (Keller et al,.2000), Hasil penelitian Rahim et. al (2012), menunjukkan bahwa dari enam varietas komersial yang diuji di lapangan, belum ada yang tahan terhadap XOO patotipe IV. Oleh karena itu pengendalian hayati berupa penggunaan rizobakteri indigenous penginduksi ketahanan tanaman dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pengendalian penyakit hawar daun bakteri yang ramah lingkungan.
  • 2. 2 Beberapa penelitian mengemukakan bahwa penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteri(PGPR) mampu memacu pertumbuhan tanaman sekaligus mengendalikan patogen tanaman sehingga mengurangi pemakaian senyawa kimia sintesis secara berlebihan, baik dalam penyedia hara tanaman (biofertilizer) maupun dalam pengendalian patogen tanaman(bioprotectan) (Sutariati, 2006; Khaeruni et. al. 2010). Rhizobakteri selain mampu mengendalikan pathogen tular tanah juga dilaporkan dapat menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit virus dan penyakit filosfer lainnya. Hasil kajian Syair (2012), menunjukkan bahwa penggunaan rizobakteri isolat P1.1a dan PKLK5 yang diisolasi dari pertanaman padi sehat mampu memacu pertumbuhan dan menginduksi ketahanan tanaman padi IR64 terhadap penyakit HDB pada skala rumah kasa. Oleh karena itu, untuk evaluasi kemampuan rizobakteri indigenous sebagai agensia pemacu pertumbuhan dan penginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit HDB di skala lapangan perlu dilakukan untuk dapat dijadikan acuan rekomendasi sebagai salah satu strategi pengendalian penyakit HDB pada tanaman padi di Sulawesi Tenggara.
  • 3. 3 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilaksanakan persawahan petani yang memiliki sejarah endemik dengan penyakit HDB di Desa Puday Kecamatan Wonggeduku Kab. Konawe. Penelitian akan berlangsung dari bulan Maret sampai Juni 20123. Rancangan Percobaan Penelitian di desain menggunakan Rancangan Faktorial yang diatur dalam Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama adalah jenis rizobakteri (R), yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu: Tanpa isolat rizobakteri (R0) ; isolat P11a (R1), isolat PKLK5 (R2), dan kombinasi isolate P11a dan PKLK5 (R3). Faktor kedua adalah Varietas Tanaman Padi yaitu : varietas IR64 (V1) dan, varietas Cisantana (V2), sehingga terdapat 8 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 24 unit (petak) percobaan. Pelaksanaan Penelitian (1) Biopriming benih dengan rizobakteri Tahapan ini dilakukan biopriming pada benih padi IR64 dan Cisantana dengan rizobakteri sesuai dengan perlakuan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (Syair et. al., 2012). (2) Persiapan lahan Lahan terlebih dahulu diolah dengan traktor lalu diratakan dengan garuh dan dibuat petakan percobaan sebanyak 24 unit dengan ukuran 200 cm (p) x 150 cm (l) x 30 cm (t). Jarak antara petak dalam lajur yang sama 30 cm, sedangkan jarak antar lajur 100 cm (lihat lay out percobaan).
  • 4. 4 (3). Penanaman Benih. Benih yang telah diberi perlakuan biopriming terlebih dahulu diperam selama 2 hari hingga membentuk tunas kecambah. Benih selanjutnya ditanam di pot plastik berdiameter 15 cm yang telah diisi dengan tanah bercampur pupuk kandang (4:1 v/v) yang telah disterilkan. Bibit yang telah siap pindah tanam dicabut dan dibersihkan perakarannya dari sisa tanah yang melekat lalu direndam dalam suspensi rizobakteri selama 30 menit sesuai perlakuan sebelum penanaman dilakukan, sementara bibit tanpa perlakuan rizobakteri hanya direndam dalam air bersih dengan waktu yang sama. Setelah perendaman bibit dalam suspensi risobakteri selesai, langsung dilakukan penanaman maksimal 2 anakan perlubang sesuai perlakuan dengan jarak tanaman 20 x 20 cm. (4). Inokulasi Patogen Xanthomonas oryzaepvoryzae yang digunakan dalam penelitian ini ialah isolat XOO patotipe IV hasil isolasi dari pertanaman padi di Sulawesi Tenggara (Koleksi Lab. IHPT Unhalu). Penyiapan dilakukan dengan mensupensikan isolat murni XOO umur 48 jam dalam akuades sterildengan konsentrasi 108 CFU /ml. Inokulasi dilakukan pada tanaman yang berumur 45 hari setelah tanam dengan 2 jenis metode pelukaan dengan gunting yang telah direndam dalam suspensi patogen (5). Pengamatan Pengamatan terhadap respon perlakuan ditentukan pada 5 rumpun tanaman yang menyebar secara diagonal pada setiap unit/petak perlakuan, sehingga secara keseluruhan terdapat 120 rumpun tanaman. Parameter yang diamati meliputi :
  • 5. 5 (a) Jumlah anakan Jumlah anakan yang terbentuk diamati pada setiap tanaman sampel di setiap unit percobaan pada saat 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam. (b) Tingkat intensitas penyakit hawar daun bakteri dihitung menggunakan metode Abbot (1925) dalam Sudantha et al.,(2006) dengan menggunakan rumus : I = (A/B) x 100% Keterangan : I = Intensitas serangan (%), A = panjang daun yang bergejala hawar pada daun sampel, B = panjang keseluruhan daun sampel Pengamatan dilakukan pada umur 2, 3 dan 4 minggu setelah inokulasi pada 5 lembar daun pada 5 tanaman uji pada setiap unit perlakuan. (c) Jumlah anakan Jumlah anakan yang terbentuk diamati pada setiap tanaman sampel di setiap unit percobaan pada saat 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah semai pada (d) Hasil Panen. Hasil panen yang di amati meliputi : jumlah malai, berat malai pada saat panen, berat gabah kering panen dan berat gabah per 1000 butir Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam, apabila dalam analisis ragam terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada taraf nyata α = 5 %.
  • 6. 6 II. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL Dari hasil analisa data terhadap setiap perlakuan yang didasari oleh hasil pengamatan dilapang,didapatkan hasil sebagai berikut : a. Pengaruh setiap perlakuan terhadap rata-rata jumlah anakan Hasil pengamatan terhadap jumlah anakan pada setiap perlakuan umur 2 mst – 6 mst dapat dilihat pada tabel lampiran 1 – 3 dan hasil analisis sidik ragamnya pada tabel lampiran 1a – 3a.Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa,tidak terjadi perbedaan nyata pada umur 2 mst terhadap jumlah anakan pada setiap perlakuan,namun pada umur 4 mst terjadi perbedaan nyata,dimana perlakuan kombinasi isolat (R3) terhadap varietas uji (V1) dengan rata-rata jumlah anakan 17.800 memberikan pengaruh nyata terhadap perlakuan V2R3,V1R1,V1R2,V2R0 dan V1R0, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2R2 dan V2R1,sehingga diindikasikan ada hubungan interaksi antar keduanya.Pada umur 6 mst,terjadi pengaruh nyata terhadap isolat R1 pada varietas V2 dengan beberapa isolat lainnya,yaitu V1R1 dan V1R0, namun tidak berbeda nyata dengan V1R3,V1R2,V2R2 dan V2R3. Apabila dikonversi setiap isolat terhadap jumlah anakan dan pengaruhnya terhadap varietas uji (lihat tabel.a.2), nampak bahwa, pada umur 4 mst isolat R3 memberikan pengaruh nyata terhadap isolat R0,yaitu 16.0333, tapi tidak berbeda nyata dengan isolat R1 dan isolat R2.Sedangkan pada umur 6 mst,terlihat bahwa, isolat R1 memberikan pengaruh nyata terhadap R0,yaitu 18.7667 dan R0 15.6667,namun tidak berbeda nyata dengan R2 dan R3.
  • 7. 7 Terhadap varietas,keduanya tidak menunjukkan perbedaan nyata,baik varietas IR.64 (V1) maupun varietas cisantana (V2). Hasil uji DMRT taraf 0,05 pengaruh setiap isolat terhadap perlakuan kelompok rata-rata jumlah anakan dan pengaruh nyata antar isolat serta pengaruhnya terhadap varietas, disajikan pada tabel a.1 dan tabel a.2 di bawah ; Tabel a.1. Pengaruh setiap perlakuan terhadap rata-rata jumlah anakan , umur 2 mst, 4 mst dan 6 mst Perlakuan DMRT Rata2 Perlakuan Rata2 JA. 4 mst V1R3 17.800 a V2R2 15.333 ab V2R1 DMRT 0.05 Perlakuan Rata2 JA.6 mst DMRT 0.05 V2R1 20.000a 2=2.737 V1R3 19.267ab 2=3.003 15.067 ab 3=2.686 V1R2 19.000ab 3=3.147 V2R3 14.267 b 4=2.948 V2R2 18.333ab 4=3.235 V1R1 13.933 b 5=3.003 V2R3 17.933abc 5=3.295 V1R2 13.267 b 6=3.042 V1R1 17.533abc 6=3.369 V2R0 13.000 b 7=3.070 V1R0 16.467cb 7=3.369 V1R0 12.933 b 8=3.091 V2R0 14.867c 8=3.392 JA. 2 mst 0.05 V2R3 6,9000 a V1R1 6.8000 a 2=8617 V1R2 6.7000 a 3=9030 V2R1 6.7000 a 4=9284 V2R2 6.6000 a 5=9456 V1R3 6.5000 a 6=9578 V1R0 6.4667 a 7=9666 V2R0 8=9734 6.0667 a Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05 - V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5.
  • 8. 8 Tabel a.2. Konversi setiap isolat (R) terhadap rata-rata jumlah anakan dan pengaruhnya terhadap varietas uji umur 4 mst dan 6 mst. Isolat(R) rata2 jlh anakan DMRT Isolat(R) Rata2 jlh anakan DMRT 4 mst 0.05 6 mst 0.05 R3 R1 R2 R0 16.0333a 14.5000ab 14.3000ab 12.9667b 2=1.284 3=1.346 4=1.383 Varietas rata2 jlh anakan 4 mst DMRT 0.05 V1 V2 14.4833a 14.4167a 2=1.368 R1 R2 R3 R0 Varietas V1 V2 18.7667a 18.6667ab 18.6000ab 15.6667b rata2 jlh anakan 6 mst 18.0667a 17.7833a 2=2.460 3=2.578 4=2.651 DMRT 0.05 2=1.502 Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05 - V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5. b. Pengaruh setiap perlakuan isolat terhadap perkembangan HDB (IS) pada varietas uji Hasil pengamatan intensitas serangan (tabel lampiran4 - 6) dan hasil analisis sidik ragam (tabel lampiran 4a – 6a) menujukkan bahwa, terjadi perbedaan nyata pada setiap minggu pengamatan,kecuali pada pengamatan 87 hst tidak memberikan pengaruh nyata antar varietas.Pada umur 59 hst dan 73 hst terjadi pengaruh nyata dan sangat nyata antar setiap perlakuan,baik perlakuan kelompok,kombinasi perlakuan,varietas,isolat dan interaksinya. Hasil uji DMRT taraf 0,05 pengaruh setiap perlakuan terhadap perkembangan HDB (IS) pada varietas uji,disajikan pada tabel b.1 ;
  • 9. 9 Tabel b.1. Pengaruh setiap perlakuan terhadap perkembangan HDB (IS) pada varietas uji,umur 59 hst,73 hst dan 87 hst. Perlakuan V2R0 V1R0 V1R2 V1R3 V1R1 V2R3 V2R1 V2R2 Ket. : - Rata2 DMRT Perlakuan Rata2 DMRT Perlakuan Rata2 IS (%) 0.05 IS (%) 0.05 IS (%) 59 Hst 73 Hst 87 Hst 10.5467a V1R0 23.783a V2R0 40.500a 9.6100ab 2=1.816 V2R0 21.533a 2=3.479 V1R0 34.647b abc b 8.6633 3=1.903 V1R2 14.647 3=3.646 V1R1 22.953c bc b 8.4133 4=1.957 V1R1 14.390 4=3.794 V2R3 19.743cd bc b 8.3267 5=1.993 V2R2 13.673 5=3.818 V1R2 19.123cd bc b 7.6733 6=2.019 V2R3 13.270 6=3.867 V2R2 18.827cd cd b 7.2100 7=2.037 V1R3 12.913 7=3.903 V2R1 18.640cd d b 5.6233 8=2.051 V2R1 12.507 8=3.930 V1R3 18.300d Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05 V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5. DMRT 0.05 2=4.015 3=4.207 4=4.325 5=4.405 6=4.462 7=4.503 8=4.535 Tabel b.2. Konversi setiap isolat terhadap intensitas serangan (%) HDB dan pengaruhnya terhadap varietas,umur 59 Hst,73 Hst dan 87 Hst. Isolat(R) IS(%) 59 Hst DMRT 0.05 R0 R3 R1 R2 10.0783a 8.0433b 7.7683b 7.1433b 2=1.284 3=1.346 4=1.383 Varietas IS(%) 59 Hst DMRT 0.05 V1 V2 8.7533a 7.7633b 2=9080 Isolat(R) IS(%) 59 Hst DMRT 0.05 R0 R2 R1 R3 22.658a 14.160b 13.448b 13.092b 2=2.460 3=2.578 4=2.651 Varietas IS(%) 59 Hst DMRT 0.05 V1 V2 16.4333a 15.2458a 2=1.740 Isolat(R) IS(%) 59 Hst DMRT 0.05 R0 R1 R3 R2 37.573a 20.797b 19.022b 18.975b 2=2.839 3=2.975 4=3.058 Varietas IS(%) 59 Hst DMRT 0.05 24.4275a 23.7558a 2=2.007 V2 V1 Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05 - V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5. Hubungan antara perlakuan kelompok(tabel b.1) dan konversi setiap isolat serta pengaruhnya terhadap varietas (tabel.b.2),nampak bahwa,pada umur 59 Hst, konversi isolat R2 memberikan intensitas serangan HDB terendah dibanding isolat lainnya,yaitu 7.1433%, dan berdasarkan hasil
  • 10. 10 analisis DMRT menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dengan isolat R0.namun tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R1 da R3.Apabila dihubungkan dengan perlakuan pada tabel .b.1, terlihat pengaruh nyata antara isolat R2 pada varietas cisantana (V2) memberikan intensitas serangan terendah,yaitu 5,6233% dibanding perlakuan V2R3, V1R1, V1R3, V1R2, V1R0 dan V2R0.Pengaruh nyata lainnya terjadi pada varietas,dimana intensitas serangan HDB pada varietas cisantana (V2) lebih rendah dibanding varietas IR 64 (V1). Umur 73 HST intensitas serangan terendah terjadi pada varietas cisantana dengan isolat P11a (V2R1) yaitu 12,51%, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3, V2R3, V2R2, V1R1 dan V1R2. Intensitas serangan tertinggi terjadi pada semua varietas yang diujikan tanpa isolat (V1R0 dan V2R0) yang masing-masing menunjukkan angka seranganX. oryzaepv. oryzae yaitu 23,8% dan 21,5% yang berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat nampak ketiga isolat,yaitu R1,R2 dan R3 tidak menunjukkan perbedaan nyata,tetapi isolat R3 menunjukkan intensitas serangan yang lebih rendah. Pengamatan 87 HST menunjukkan bahwa perlakuan V1R3 memperlihatkan intensitas penyakit terendah yaitu 18,30% yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan V1R2, V2R1, V2R2, V2R3, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pada pengamatan ini persentase intersitas serangan tertinggi terjadi pada perlakuan V2R0 yaitu 40,5% yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap
  • 11. 11 isolat,nampak isolat R2 menunjukkan intensitas`serangan yang lebih rendah, yaitu 18.975% diikuti isolat R3 19.022, R1 20.797 dan R0 37.573. c. Pengaruh perlakuan isolat terhadap jumlah malai, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji. Hasil pengambilan sampel terhadap jumlah malai,berat malai, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji serta sidik ragamnya pada semua perlakuan dapat dilihat pada tabel lampiran 7ab, 8ab,9ab dan 10ab..Hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa, dari 5 parameter perlakuan yang diujikan yang nyata dan sangat terhadap jumlah malai,menunjukkan perbedaan nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan.Pengaruh yang sangat nyata lainnya terjadi pada berat malai dan berat gabah kering panen,yaitu parameter perlakuan kelompok,isolat dan interaksinya.Sedangkan pada berat gabah 1000 biji tidak memberikan pengaruh yang nyata antar parameter uji, kecuali pada perlakuan isolat. Hasil uji DMRT taraf 0.05 pengaruh nyata antara perlakuan isolat terhadap jumlah malai, berat malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji disajikan pada tabel.c.1 dibawah.
  • 12. 12 Tabel.c.1. Pengaruh setiap perlakuan isolat terhadap jumlah malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji. Perlakuan Jlh malai DMRT Perlakuan Berat malai DMRT 0.05 (g) 0.05 a a V2R2 45.200 V2R2 25.4000 ab V1R3 23.6667 2=1.792 V1R3 42.800a 2=3.196 V2R1 23.0667b 3=1.878 V2R1 42.733a 3=3.348 b a 4 =1.931 4=3.443 V2R3 21.8000 V2R3 42.133 c b V2R0 17.8667 V2R0 37.867 5=1.967 5=3.507 c bc 6=1.992 6=3.552 V1R2 17.7333 V1R2 36.933 c cd 7=2.010 7=3.585 V1R1 16.4667 V1R1 34.233 c d V1R0 16.2000 8=2.025 V1R0 32.467 8=3.610 Perlakuan Brt gabah DMRT Perlakuan Brt gabah DMRT krg panen (g) 0.05 1000 bj (g) 0.05 V2R3 28.000a V2R1 1686.67a V2R3 1683.33a 2=92.0 V2R2 27.667ab 2=3.072 V1R2 1603.33ab 3=96.0 V1R1 27.667ab 3=3.219 67bc ab V1R3 1556. 4=99.1 V1R3 27.667 4=3.310 V2R2 1525.00bcd 5=100.9 V1R2 26.667ab 5=3.371 bcd ab V1R1 1505.00 6=102.2 V2R1 26.667 6=3.415 7=103.2 7=3.446 V2R0 1488.33cd V2R0 24.667ab d b V1R0 1435.00 8=103.9 V1R0 24.333 8=3.470 Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05 - V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5. Tabel. c.2. Isolat Konversi setiap isolat terhadap jumlah malai,berat malai,berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji serta pengaruhnya terhadap varietas. JM DMRT 0.05 R3 22.7333a R2 21.5667 a 19.7667 b R0 17.0333 c Var. JM R1 Isolat R1 2=1.267 3=1.328 R2 R3 4=1.365 R0 DMRT 0.05 Var. BM (g) 42.433a 40.900 a 40.333 a 33.350 b DMRT 0.05 R3 2=2.260 3=2.368 4=2.434 Isolat BGKP (g) 1620.00a R1 1595.83a 2=65.03 R2 R0 1564.17 a 1461.67 b DMRT 0.05 3=68.14 4=70.06 Isolat BG1000 Biji(g) R3 27.833a DMRT 0.05 R2 27.167a 2=2.172 R1 27.167 a 3=2.276 24.500 b 4=2.340 R0 BM DMRT Var. BGKP DMRT Var. BG 1000 DMRT (g) 0.05 (g) 0.05 Biji(g) 0.05 V2 22.0333a V2 39.7750a V2 1595.83a V2 26.7500a V1 18.5167b 2=8961 V1 38.7333a 2=1.598 V1 1525.00b 2=45.98 V1 26.5833a 2=1.536 Ket. : - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama,tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 0,05 - V1 = varietas IR64, V2 = varietas Cisantana, R0 = tanpa isolat rizobakteri, R1 = isolat P11a, R2 = isolat PKLK5, R3 = kombinasi isolate P11a dan PKLK5. - JM=jumlah malai,BM=berat malai,BGKP=berat gabah kering panen,BG=berat gabah 1000 biji.
  • 13. 13 Tabel.c.1 diatas memperlihatkan jumlah malai tertinggi terjadi pada perlakuan V2R2 dengan rata-rata jumlah malai 25,40 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3 namun berbeda nyata dengan perlakuan V2R1 dan V2R3, sedangkan perbedaan yang sangat nyata terjadi pada perlakuan V1R0, V1R1, V1R2 dan V2R0.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (lihat tabel c.2) nampak bahwa,isolat R3 memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap isolat R1 dan R0,yaitu rata-rata jumlah malai 22.7333,namun tidak berbeda nyata dengan isolat R2. Terhadap varietas, keduanya memberikan pengaruh yang sangat nyata,dimana varietas cisantana (V2) berbeda sangat nyata dengan varietas IR 64 (V1). Pengaruh isolat terhadap berat malai pada masing – masing perlakuan (lihat tabel.c.1) memperlihatkan bahwa , perlakuan V2R2 memberikan pengaruh yang sangat nyata dengan perlakuan V2R3,V1R2,V2R0 dan V1R0,dengan nilai rata-rata 45.200,tapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3,V1R1 dan V2R1. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat,nampak bahwa, isolat R1 memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap isolat R0,dengan nilai ratarata 42.433,tapi tidak menunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R2 dan isolat R3.Pada uji berat malai ini,kedua varietas tidak menunjukkan perbedaan nyata. Berat gabah kering panen,memperlihatkan perlakuan V2R1 memberikan rata-rata berat gabah kering panen 1686.67 gram yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan V2R3 dan V1R2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V2R0 danV1R0 yang menunjukkan nilai rata-rata terendah yaitu
  • 14. 14 1488.33 gram dan 1435,0 gram. Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (lihat tabel c.2) nampak bahwa,isolat R3 memberikan pengaruh yang nyata terhadap R0,yaitu 1620.00 gram,tapi tidak mnunjukkan perbedaan nyata dengan isolat R1 dan R2. Pada uji berat gabah kering panen ini,kedua varietas memperlihatkan pengaruh nyata,dimana varietas cisantana (V2) memberikan pengaruh nyata terhadap varietas IR 64 (V1). Pengaruh isolat terhadap berat gabah 1000 biji (lihat tabel .c.1) memperlihatkan, perlakuan V2R3 memberikan nilai rata-rata tertinggi, yaitu 28,000 gram yang berbeda tidak nyata dengan hampir semua perlakuan yang diujikan, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V1R0 yang menunjukkan berat gabah 1000 biji terendah dengan nilai rata-rata 24,333 gram.Apabila dihubungkan dengan konversi setiap isolat (tabel.c.2),nampak isolat R3 memperlihatkan pengaruh nyata terhadap isolat R0,yaitu 27.833 gram,sedangkan isolat R0 memperlihatkan berat gabah 1000 biji terendah, yaitu 24.500 gram.Dengan isolat R2 dan R1 tidak menunjukkan perbedaan nyata. Pada uji berat gabah 1000 biji ini,kedua varietas tidak memberikan pengaruh nyata. A. Pembahasan Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa semua varietas padi yang diinokulasikan X. oryzaepv. oryzae(XOO) memperlihatkan gejala penyakit hawar daun bakteri (HDB),tergantung ketahanan varietas dan perlakuan isolat. Gejala ini ditandai dengan munculnya bercak memanjang dengan tepi bergelombang dari ujung daun yang berkembang sepanjang tepi daun kemudian
  • 15. 15 berkembang menjadi hawar daun dan warna berubah menjadi kuning pucat (Mew, 1988; Liu et al., 2006, Agustiansyah, 2011). Pengamatan penyakit hawar daun bakteri hasil inokulasi Xoo terhadap varietas uji,mencakup,pengaruh setiap isolat terhadap jumlah anakan, perkembangan intensitas serangan,jumlah malai,berat malai, berat gabah kering panen, berat gabah 1000 biji dan pengaruhnya terhadap varietas. Hasil pengamatan pada tabel.a.1 menunjukkan bahwa, pada pengamatan 2 MST tidak memberikan pengaruh nyata terhadap semua perlakuan yang diujikan. Namun pada pengamatan 4 MST jumlah anakan tertinggi ditunjukkan pada perlakuan V1R3 yaitu dengan rata-rata 17,800 yang berbeda sangat nyata dengan perlakuan tanpa isolat rizobakter. Sedangkan pada pengamatan 6 MST jumlah anakan tertinggi diperlihatkan pada perlakuan V2R1 dengan rata-rata jumlah anakan 20,000 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R2, V1R3 dan V2R2, tetapi berbeda sangat nyata dengan perlakuan V2R0 yang menunjukkan jumlah anakan terendah dengan rata-rata 14,867.Apabila setiap isolat dikonversi dan dihubungkan dengan kombinasi perlakuan, nampak bahwa,pada umur 4 Mst,kombinasi isolat P11a dan PKLK5 memperlihatkan pengaruh nyata terhadap perlakuan tanpa rhizobakteri,namun pada umur 6 Mst,isolat P11a memperlihatkan rata-rata jumlah anakan tertinggi,yaitu 18.7667,tapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan kombinasi isolat dan isolat PKLK5. Dari hal tersebut,dapat diindikasikan bahwa,diantara isolat-isolat rizobakter yang digunakan, isolat P11a memberikan respon jumlah anakan terhadap varietas cisantana dan kombinasi isolat P11a + PKLK5 terhadap varietas IR.64. Hasil penelitian Thakuria et al.,
  • 16. 16 (2004) menyatakan bahwa secara langsung rizobakter berkemampuan dalam menyediakan dan memobilisasi penyerapan unsur hara dari dalam tanah, melarutkan fosfor dan menghasilkan hormon tumbuh sehingga dapat memacu pertumbuhan tanaman. Sedangkan rhizobakteri yang memiliki kemampuan memacu pertumbuhan tanaman digolongkan sebagai rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman (Tanuta, 2006). Selain itu penurunan jumlah anakan yang diakibatkan oleh inokulasi X. Oryzaepv. Oryzae dengan pelukaan daun dengan menggunakan gunting yang telah dicelupkan suspensi patogen terlebih dahulu memungkinkan patogen dapat masuk dan menginfeksi jaringan tanaman dengan cepat sehingga dapat mengganggu metabolisme dalam sel dan jaringan tanaman yang berpengaruh terhadap pembentukan anakan dan jumlah daun. Hasil pengamatan menunjukkan, terjadi pengaruh pada setiap perlakuan pada umur 59 HST dimana pada varietas cisantana dengan isolat PKLK5 (V2R2) menunjukkan intensitas penyakit terendah, yaitu 5,6233%, sedangkan untuk varietas cisantana tanpa isolat (V2R0) menunjukkan intensitas penyakit tertinggi yaitu 10,5467%. Namun hal ini tidak berbeda nyata dengan varietas IR64 tanpa isolat (V1R0) yang menunjukkan intensitas penyakit yaitu 9,6100%. Hal ini menunjukkan bahwa, tingkat ketahanan tanaman padi varietas cisantana yang lebih baik dengan perlakuan rizobakter dibandingkan pada tanaman padi tanpa perlakuan rizobakter yang mengindikasikan bahwa perlakuan rizobakter pada benih mampu menginduksi ketahanan tanaman secara sistemik terhadap serangan X. oryzaepv. oryzae pada umur tersebut. Induksi ketahanan sistemik ialah
  • 17. 17 fenomena terjadinya peningkatan ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen setelah terjadi rangsangan dari luar. Ketahanan ini adalah perlindungan tanaman bukan untuk mengeliminasi patogen tetapi lebih pada aktivitas dari mekanisme pertahanan tanaman (Sticher et al.,1997; Van loon et al., 1998; Durrant nan Dong, 2004). Hasil penelitian Valled et al., (2004) menjelaskan terjadi peningkatan ketahanan tanaman jagung terhadap penyakit bulai yang diinduksi dengan perlakuan pada benih sebelum tanam. Intensitas penyakit pada petak yang diberi perlakuan sebesar 17%, sementara yang tidak diberi perlakuan,hasilnya mencapai 39%, peningkatan ketahanan tanaman tersebut berkaitan dengan terjadinya peningkatan akumulasi asam salisilat di dalam jaringan tanaman, hal ini dibuktikan dengan terjadinya peningkatan kandungan asam salisilat pada tanaman jagung yang memperlihatkan ketahanan terhadap penyakit bulai setelah diinduksi melalui perlakuan pada benih sebelum ditanam. Hasil pengamatan intesitas penyakit (lihat tabel b.1) pada umur 73 HST menunjukkan bahwa, intensitas penyakit terendah terjadi pada perlakuan varietas cisantana dengan isolat P11a (V2R1) yaitu 12,507%, dimana perlakuan tersebut lebih tahan terhadap serangan X. oryzae pv. oryzae meskipun tidak berbeda nyata dengan beberapa perlakuan lainnya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rahim et al., (2010) melaporkan bahwa varietas padi cisantana lebih tahan terhadap infeksi X. oryzaepv. oryzae dibandingkan dengan varietas inpari 10 dan IR64. Tingkat ketahanan varietas yang diuji terhadap serangan X. oryzaepv. oryzae diduga dipengaruhi oleh struktur morfologi permukaan daun dimana varietas
  • 18. 18 cisantana memiliki permukaan daun yang halus dibandingkan dengan varietas IR64, serta pengaruh dari pemberian isolat rizobakter pada varietas yang diujikan di lapangan dimana penelitian lainnya menjelaskan bahwa perlakuan interaksi rizobakteri P11a dengan inokulasi X. oryzae pv. oryzae menggunakan metode pencelupan, secara nyata mampu menginduksi ketahanan tanaman padi terhadap penyakit hawar daun dengan keparahan penyakit 17,22% (Fitriani, 2013). Hasil pengamatan pada umur 87 HST menunjukkan bahwa perlakuan V1R3 memperlihatkan intensitas penyakit terendah yaitu 18,30% dimana perlakuan ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan V2R1 dan beberapa perlakuan lainnya. Apabila masing-masing isolat dikonversi berdasarkan umur tanaman,terlihat bahwa,pada umur 59 Hst ,isolat PKLK5 (R2) menunjukkan intensitas serangan terendah dibanding isolat lainnya,yaitu 7.1433%, Hal ini sinkron dengan interaksi antara varietas dengan isolat,dimana isolat PKLK5 memberikan respon positif terhadap varietas cisantana (V2) dalam menekan intensitas serangan X00. Umur 73 Hst, terlihat konversi isolat R3 memberikan intensitas serangan terendah, yaitu 13,092%, tapi tidak berbeda nyata dengan isolat P11a (R1) dan isolat PKLK5 (R2),namun apabila dilihat dari interaksi antara varietas dengan isolat,nampak bahwa, isolat P11a (R1) memberikan respon ketahanan Xoo terhadap varietas cisantana (R2). Sedangkan pada umur 87 Hst,memperlihatkan konversi isolat PKLK5 (R2) memberikan intensitas terendah,yaitu 18,975%. Hal ini mengindikasikan bahwa pada pengamatan ini pengaruh interaksi antara varietas dengan isolat rizobakteri yang diberikan dapat bersimbiosis
  • 19. 19 dengan baik sehingga dapat menurunkan tingkat intensitas seranganX. oryzaepv. oryzaepenyebab penyakit HDB. Berdasarkan hasil sidik ragam (dilihat pada tabel 1) pada variabel pengamatan jumlah malai menunjukkan berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan. Hasil pada tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah malai tertinggi diperlihatkan pada perlakuan V2R2 yaitu 25,40 yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan V1R3 yaitu 23,67 namun berbeda sangat nyata dengan perlakuan V1R0 dan V2R0. Sedangkan pada pengamatan berat gabah kering panen perlakuan V2R3 menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu 1683,33 g yang berbeda sangat nyata terhadap perlakuan semua varietas tanpa isolat rizobakter. Pada pengamatan Berat gabah 1000 biji hasil terbaik ditunjukkan pada perlakuan V2R3 yaitu 28,00 yang berbeda sangat nyata dengan perlakuan V1R0 yaitu 24,30. Hal ini membuktikan bahwa pemberian isolat rizobakter sangat berpengaruh terhadap produksi tanaman padi yang terserang X. oryzae pv. oryzae. Serangan X. oryzaepv. oryzae pada tanaman padi yang menyebabkan penyakit HDB akan menghambat pertumbuhan pada tanaman padi, karena adanya pengurangan jumlah daun dan dapat mengganggu terjadinya proses fotosintesis sehingga secara tidak langsung menurunkan produksi melalui pengurangan jumlah malai yang terbentuk, berat gabah kering panen dan berat gabah 1000 biji. Penurunan produksi yang diakibatkan oleh serangan X. oryzaepv. oryzae dapat mencapai 50% sehingga perlu dilakuan pemantauan secara berkala untuk mewaspadai terjadinya serangan X. oryzae pv. oryzae yang dapat menurunkan produksi tanaman padi (Manik, 2005).
  • 20. 20 V. KESIMPULAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut : 1. Perlakuan rizobakteri mampu menginduksi ketahanan tanaman padi IR64 dan Cisantana terhadap X. oryzaepv. oryzaejuga 2. Perlakuan rizobakteri mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi di lapangan 3. Perlakuan campuran rizobakteri PKLK5 dan P11.a, cenderung meningkatkan induksi ketahanan padi varietas IR64 terhadap X. oryzae pv. oryzaedi lapangan dibandingkan perlakuan rizobakteri secara tunggal, perlakuan ini juga cenderung memperlihatkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang lebih baik dibandingkan pada perlakuan rizobakteri secara tunggal. B. Saran Perlu dilakukan sosialisasi kepada petani padi sawah untuk penggunaan rizobakter agar dapat menekan penurunan hasil produksi padi yang diakibatkan seranganX. oryzaepv. oryzaepenyebab hawar daun bakteri.
  • 21. 21 DAFTAR PUSTAKA Keller, B.C. Feuillet, and M. Messmer. 2000. Basic conceps an aplication in resistance breeding. Pp:01 – 160. In : A.J. Slusarenko, R.S.S. Fraser, L.C. van Loon (eds.). Mechanisms of Resistance to Plant Diseases.Kluwer Academic Publisher. London. Khaeruni A., G.A.K. Sutariati, S. Wahyuni. 2010. Karakterisasi dan uji aktifitas bakteri rizosfer lahan ultisol sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dan agensia hayati cendawan patogen tular tanah secara in-vitro. Jurnal Hama dan Penyakit Tanaman TropikaVol 10(2):123-130 Khaeruni A., T. Wijayanto, Syair. 2011. Determinasi Patotipe dan Virulensi Xanthomonas oryzae pv. oryzae, Serta Pencarian Sumber Gen Ketahanan Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri Pada Padi Lokal di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Laporan Kemajuan Penelitian Fundamental. Lembaga Penelitian Universitas Haluoleo. Kendari. Rahim, A. Khaeruni, T. Wijayanto. 2012. Reaksi ketahanan beberapa Varietas Padi Komersial Terhadap Xanthomonas oryzae pv. oryzae isolat Sulawesi Tenggara. Makalah pada Seminar Nasional Bidang Perlindungan Tanaman, Kendari, 21-22 Mei 2012. Rao, K.K,. K.K. Jena, and M.L. Narasu. 2003. Molecular Tagging of a New Bacterial Blight Resistence Gene in Rice Using RAPD and SSR Markers (On line) http//dspace.irri.org-8080/dspce/bitst-ream/123456789/1308/1/ Kameswara %20RAO,%20K,%20Molecular% 20tagging.pdf. Sutariati, G A K., 2006. Perlakuan Benih dengan Agens Biokontrol untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa, Peningkatan Hasil dan Mutu Benih Cabai, Cendawan Patogen. Agriplus. 15:272-281. Syair, Rahman A, Asniah, Khaeruni A. 2012. Pemanfaatan rizobakteri indigenous untuk memacu pertumbuhan dan menginduksi ketahanan padi IR64 terhadap penyakit hawar daun bakteri. Laporan hasil penelitian BOPTN Universitas Haluoleo

×