Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN                                                                                ...
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Modul filsafat manusia
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Modul filsafat manusia

9,479

Published on

0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
9,479
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
335
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Modul filsafat manusia"

  1. 1. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 1 MODUL 1 PENGERTIAN FILSAFAT MANUSIATujuan Instruksional UmumSetelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis pengertian filsafat manusia.Tujuan Instruksional KhususSetelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis filsafat manusia yangmeliputi sebagai berikut:• Filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia• Ciri-ciri filsafat manusia• Kedudukan manusia dalam humanisme (filsafat humanistik)Materi PembahasanPengertian Manusia Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa Arabnya, yang berasal dari kata nasiya yangberarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karenamanusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya.Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalamkenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan hakekatmanusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan makhluk yang lain. Manusia dalammemiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah.Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis, dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yangsesudahnya dengan melengkapi sisi transendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuanpencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. (Musa Asy’ari, FilsafatIslam, 1999) Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perspektif, ada yangmengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini diyakini oleh para filosuf. Sedangkanyang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyataan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikanbahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut. Ada yang lain menilai tentang manusiaadalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja.Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”, seperti binatang iamemerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harusmenyesuaikan alam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arifmemiliki akal budi dan mengungguli makhluk yang lain. Manusia juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebutdikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya. Salah satu bagian yang lain manusiajuga disebut sebagai homo ludens (makhluk yang senang bermain). Manusia dalam bermain memiliki ciri khasnya dalamsuatu kebudayaan bersifat fun. Fun disini merupakan kombinasi lucu dan menyenangkan. Permainan dalam sejarahnyajuga digunakan untuk memikat dewa-dewa dan bahkan ada suatu kebudayaan yang menganggap permainan sebagairitual suci. (K. Bertens, Panorama Filsafat Modern, 2005) Marx menunjukan perbedaan antara manusia dengan binatang tentang kebutuhannya, binatang langsungmenyatu dengan kegiatan hidupnya. Sedangkan manusia membuat kerja hidupnya menjadi objek kehendak dankesadarannya. Binatang berproduksi hanya apa yang ia butuhkan secara langsung bagi dirinya dan keturunannya,sedangkan manusia berproduksi secara universal bebas dari kebutuhan fisik, ia baru produksi dari yang sesungguhnyadalam kebebasan dari kebutuhannya. Manusia berhadapan bebas dari produknya dan binatang berproduksi menurutukuran dan kebutuhan jenis produksinya, manusia berproduksi menurut berbagai jenis dan ukuran dengan objek yang
  2. 2. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 2inheren, dikarenakan manusia berproduksi menurut hukum-hukum keindahan. Manusia dalam bekerja secara bebas danuniversal, bebas dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung, universal dikarenakan ia dapat memakaibeberapa cara untuk tujuan yang sama. Dipihak yang lain ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salahsatu kebutuhan. Oleh sebab itu menurut Marx manusia hanya terbuka pada nilai-nilai estetik dan hakekat perbedaanmanusia dengan binatang adalah menunjukan hakekat bebas dan universal. (Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx,1999). Antropologi adalah merupakan salah satu dari cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakekat manusiadan sepanjang sejarahnya manusia selalu mempertanyakan tentang dirinya, apakah ia sedang sendirian, yang kemudianmenjadi perenungan tentang kegelisahan dirinya, ataukah ia sedang dalam dinamika masyarakat denganmempertanyakan tentang makna hidupnya ditengan dinamika perubahan yang kompleks, dan apakah maknakeberadaannya ditengah kompleksitas perubahan itu? Pertanyaan tentang hakekat manusia merupkan pertanyaan kunoseumur keberadaan manusia dimuka bumi. Dalam jawaban tentang manusia tidak pernah akan selesai dan dianggaptidak pernah sampai final dikarenakan realitas dalam sekeliling manusia selalu baru, meskipun dalam subtansinya tidakberubah. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999) Manusia menurut Paulo Freire merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki hubungan dengan dunia.Manusia berbeda dari hewan yang tidak memiliki sejarah, dan hidup dalam masa kini yang kekal, yang mempunyai kontaktidak kritis dengan dunia, yang hanya berada dalam dunia. Manusia dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannyauntuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas, keterarahan, temporaritas dan transendensi) yangmenjadikan makhluk berelasi dikarenakan kapasitasnya untuk meyampaikan hubungan dengan dunia. Tindakan dankesadaran manusia bersifat historis. Manusia membuat hubungan dengan dunianya bersifat epokal, yang menunjukandisini berhubungan disana, sekarang berhubungan masa lalu dan berhubungan dengan masa depan. Manusiamenciptakan sejarah juga sebaliknya manusia diciptakan oleh sejarah. (Denis Collin, Paulo Freire Kehidupan, Karya danPemikirannya, 2002). Dalam abad pertengahan, manusia dipandang sebagai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang melebihimakhluk-makhluk lainnya, pandangan yang sejalan dengan keyakinan agama serta menganggap bahwa bumi tempatmanusia hidup merupakan pusat dari alam semesta. Tapi pandangan ini digoyahkan oleh Galileo yang membuktikanbahwa bumi tempat tinggal manusia, tidak merupakan pusat alam raya. Ia hanya bagian kecil dari planet-planet yangmengitari matahari. Manusia dibedakan dari hewan dikarenakan kemampuannya untuk melakukan refleksi (termasuk operasi-operasi intensionalitas, keterarahan, temporaritas dan transendensi) yang menjadikan makhluk berelasi dikarenakankapasitasnya untuk menyampaikan hubungan dengan dunia. Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya. Manusia secara individu tidakpernah menciptakan dirinya, akan tetapi bukan berarti bahwa ia tidak dapat menentuk jalan hidup setelah kelahirannyadan eksistensinya dalam kehidipan dunia ini mencapai kedewasaan dan semua kenyataan itu, akan memberikan andilatas jawaban mengenai pertanyaan hakekat, kedudukan, dan perannya dalam kehidupan yang ia hadapi. (Musa asy’ari,Filsafat Islam,. 1999). Hakekat manusia selalu berkaitan dengan unsur pokok yang membentuknya, seperti dalam pandanganmonoteisme, yang mencari unsur pokok yang menentukan yang bersifat tunggal, yakni materi dalam pandanganmaterialisme, atau unsur rohani dalam pandangan spritualisme, atau dualisme yang memiliki pandangan yangmenetapkan adanya dua unsur pokok sekaligus yang keduanya tidak saling menafikan yaitu materi dan rohani, nyaknipandangan pluralisme yang menetapkan pandangan pada adanya berbagai unsur pokok yang pada dasarnyamencerminkan unsur yang ada dalam macro kosmos atau pandangan mono dualis yang menetapkan manusia padakesatuannya dua unsur, ataukah mono pluralism yang meletakkan hakekat pada kesatuannya semua unsur yangmembentuknya. Manusia secara individu tidak pernah menciptakan dirinya , akan tetapi bukan berarti bahwa ia tidakdapat menentukan jalan hidup setelah kelahirannya dan eksistensinya dalam kehidupan dunia ini mencapai kedewasaandan semua kenyataan itu, akan memberikan andil atas jawaban mengenai pertanyaan hakekat, kedudukan, dan perannyadalam kehidupan yang ia hadapi. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999)Hakekat Manusia
  3. 3. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 3 Masalah manusia adalah terpenting dari semua masalah. Peradaban hari ini didasarkan atas humanisme,martabat manusia serta pemujaan terhadap manusia. Ada pendapat bahwa agama telah menghancurkan kepribadianmanusia serta telah memaksa mengorbankan dirinya demi tuhan. Agama telah memaksa ketika berhadapan dengankehendak Tuhan maka manusia tidak berkuasa. (Ali Syariati, Paradigma Kaum Tertindas, 2001). Bagi Iqbal ego adalahbersifat bebas unifed dan immortal dengan dapat diketahui secara pasti tidak sekedar pengandaian logis. Pendapattersebut adalah membantah tesis yang dikemukakan oleh Kant yang mengatakan bahwa diri bebas dan immortal tidakditemukan dalam pengalaman konkrit namun secara logis harus dapat dijadikan postulat bagi kepentingan moral. Hal inidikarenakan moral manusia tidak masuk akal bila kehidupan manusia yang tidak bebas dan tidak kelanjutankehidupannya setelah mati. Iqbal memaparkan pemikiran ego terbagi menjadi tiga macam pantheisme, empirisme danrasionalisme. Pantheisme memandang ego manusia sebagai non eksistensi dimana eksistensi sebenarnya adalah egoabsolut. Tetapi bagi Iqbal bahwa ego manusia adalah nyata, hal tersebut dikarenakan manusia berfikir dan manusiabertindak membuktikan bahwa aku ada. Empirisme memandang ego sebagai poros pengalaman-pengalaman yang silihberganti dan sekedar penanaman yang real adalah pengalaman. Benak manusia dalam pandangan ini adalah bagaikanpanggung teater bagai pengalaman yang silih berganti. Iqbal menolak empirisme orang yang tidak dapat menyangkaltentang yang menyatukan pengalaman. Iqbal juga menolak rasionalisme ego yang diperoleh melalui penalaran dubiummethodicum (semuanya bisa diragukan kecuali aku sedang ragu-ragu karena meragukan berarti mempertegaskeberadaannya). Ego yang bebas, terpusat juga dapat diketahui dengan menggunakan intuisi. Menurut Iqbal aktivitas egopada dasarnya adalah berupa aktivitas kehendak. Baginya hidup adalah kehendak kreatif yang bertujuan yang bergerakpada satu arah. Kehendak itu harus memiliki tujuan agar dapat makan kehendak tidak sirna. Tujuan tersebut tidakditetapkan oleh hukum-hukum sejarah dan takdir dikarenakan manusia kehendak bebas dan berkreatif. (Donny GrahalAdian, Matinya Metafisika Barat, 2001) Hakekat manusia harus dilihat pada tahapannya nafs, keakuan, diri, ego dimana pada tahap ini semua unsurmembentuk kesatuan diri yang aktual, kekinian dan dinamik, dan aktualisasi kekinian yang dinamik yang berada dalamperbuatan dan amalnya. Secara subtansial dan moral manusia lebih jelek dari pada iblis, tetapi secara konseptualmanusia lebih baik karena manusia memiliki kemampuan kreatif. Tahapan nafs hakekat manusia ditentukan oleh amal,karya dan perbuatannya, sedangkan pada tauhid hakekat manusia dan fungsinya manusia sebagai ‘adb dan khalifah dankesatuan aktualisasi sebagai kesatuan jasad dan ruh yang membentuk pada tahapan nafs secara aktual. (Musa Asy’ari,Filsafat Islam, 1999) Bagi Freire dalam memahami hakekat manusia dan kesadarannya tidak dapat dilepaskan dengan dunianya.Hubungan manusia harus dan selalu dikaitkan dengan dunia dimana ia berada. Dunia bagi manusia adalah bersifattersendiri, dikarenakan manusia dapat mempersepsinya kenyataan diluar dirinya sekaligus mempersepsikan keberadaandidalam dirinya sendiri. Manusia dalam kehadirannya tidak pernah terpisah dari dunia dan hubungannya dengan duniamanusia bersifat unik. Status unik manusia dengan dunia dikarenakan manusia dalam kapasitasnya dapat mengetahui,mengetahui merupakan tindakan yang mencerminkan orientasi manusia terhdap dunia. Dari sini memunculkan kesadaranatau tindakan otentik, dikarenakan kesadaran merupakan penjelasan eksistensi penjelasan manusia didunia. Orientasidunia yang terpusat oleh refleksi kritis serta kemampuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sinimanusia sebagai suatu proses dan ia adalah makhluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memilikikemampuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih. (Siti Murtiningsih,Pendidikan sebagai Alat Perlawanan, 2004) Manusia dalam konsep Al-Quran mengunakan kensep filosofis, seperti halnya dalam proses kejadian Adammengunakan bahasa metaforis filosofis yang penuh makna dan simbol. Kejadian manusia yakni esensi kudrat ruhaniahdan atributnya, sebagaimana dilukiskan dalam kisah Adam dapat diredusir menjadi rumus;Keberadaan Manusia Manusia mampu mengetahui dirinya dengan kemampuan berpikir yang ada pada dirinya. Manusiamenghasilkan pertanyaan tentang segala sesuatu. Filsafat lahir karena berbagai pertanyaan yang diajukan oleh manusia.Ketika Manusia mulai menanyakan keberadaan dirinya, filsafat manusia lahir dan mempertanyakan,“Siapakah KamuManusia?” Manusia bisa memikirkan dirinya, tapi apakah tujuan pertanyaan yang diajukannya. Keberadaan dirinyadiantara yang lain yang membuat menusia perlu mendefinisikan keberadaan dirinya. Apabila pernyataan bahwa manusia
  4. 4. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 4dapat mengatur dirinya untuk dapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat dirimanusia. Hakikat diri manusia tidak akan muncul ketika tidak terdapat pembanding diluar dirinya. Sesuatu yang baik danburuk pada manusia menunjukkan dirinya ada dinilai diantara keberadaan yang lain. Watak manusia merupakan suatukumpulan corak-corak yang khas, atau rangkaian bentuk yang dinamis yang khas yang secara mutlak terdapat padamanusia. Manusia berada dengan yang lain menciptakan kebudayaan. Suatu kebudayaan manusia tidak mungkin adatanpa bahasa. Bahasa melakukan nilai tentang keberdaan manusia berupa wujud yang dapat diterjemahkan melalui kata-kata. Filsafat mengarahkan penyelidikannya terhadap segi yang mendalam dari makhluk hidup karena terdapat penilaiandari yang lain sebagai pembanding. Pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada padasetiap individu yang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama malakukan penilaian diantara individu manusia. Menurut Adelbert Snijders, filsafat manusia adalah suatu refleksi atas pengalaman yang dilaksanakan denganrasional, kritis serta ilmiah, dan dengan maksud untuk memahami diri manusia dari segi yang paling asasi. Sedangkantujuan filsafat manusia adalah untuk memahami diri manusia dari segi yang paling dasar. Dengan demikian, AdelbertSnijders, mengajak kepada manusia untuk mengetahui apa dan siapa sebenarnya manusi. Manusia adalah makhluk unikyang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Hal ini dikarenakan, manusia selain dibekali dengan nafsu juga dibekali denganakal pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.Watak Sifat Manusia Filsafat manusia menduga bahwa suatu watak manusia suatu kumpulan atau corak-corak yang khas, ataurangkaian bentuk yang dinamis yang khas yang secara mutlak terdapat pada manusia. Kategori manusia secarafundamental dari semua kebudayaan memiliki kesamaan. Suatu kebudayaan manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa.Semua kebudayaan diatur untuk dapat menyelamatkan solidaritas kelompok yang dengan cara memenuhi tuntutan yangdi ajukan oleh semua orang, yaitu dengan mengadakan cara hidup teratur yang memungkinkan pelaksanaan kebutuhanvital mereka.Filsafat Manusia Fisafat manusia atau antropologi filsafat adalah bagian integral dari sistem filsafat, yang secara spesifikmenyoroti hakikat atau esensi manusia. Secara ontologisme filsafat manusia sangat penting karena mempersoalkansecara spesifik persoalan asasi mengenai esensi manusia. Filsafat manusia sebagaimana juga ilmu-ilmu tentang manusia mengkaji secara material gejala-gejala manusia,yaitu menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekpresi manusia. Ini berarti bahwa gejalaatau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian untuk filsafat manusia maupun untuk ilmu-ilmu tentang manusia. Setiap cabang ilmu-ilmu tentang manusia mendasarkan penyelidikannya pada gejala-gejala empiris, yangbersifat objektif dan bisa diukur dan gejala itu kemudian diselidiki dengan menggunakan metode yang bersifatobservasional dan atau eksperimental. Sebaliknya filsafat manusia tidak membatasi diri pada gejala empiris. Bentuk ataujenis gejala apapun tentang manusia sejauh bisa dipikirkan dan memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional, bisamenjadi bahan kajian filsafat manusia. Aspek-aspek, dimensi-dimensi atau nilai-nilai yang bersifat metafisis, spritual dan universal dari manusia yangtidak bisa diobservasi dan diukur melalui metode-metode keilmuan, bisa menjadi bahan kajian terpenting bagi filsafatmanusia. Aspek itu suatu hal yang hendak dipikirkan, dipahami dan diungkap maknanya oleh filsafat manusia. Filsafat manusia tidak mungkin hanya menggunakan metode yang bersifat obsrervasional dan eksperimentalkarena luas cakupannya. Observasi dan eksperimentasi hanya mungkin dilakukan, kalau gejalanya bisa diamati (empiris),bisa diukur (misalnya dengan menggunakan metode statistik) dan bisa dimanupulasi (misalnya di dalam eksperimen-eksperimen di laboratorium). Sedangkan aspek dan dimensi metafisis, spritual dan universal hanya bisa diselidiki denganmenggunakan metode yang lebih spesifik, misalnya melalui sintesis dan refleksi. Sintesis dan refleksi bisa dilakukan sejauh gejalanya bisa dipikirkan. Dan karena apa yang bisa dipikirkan jauhlebih luas daripada apa yang bisa diamati secara empiris, maka pengetahuan atau informasi tentang gejala manusia didalam filsafat manusia, pada akhirnya, jauh lebih ekstensif (menyeluruh) dan intensif (mendalam) daripada informasi atauteori yang didapatkan oleh ilmu-ilmu tentang manusia.
  5. 5. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 5 Filsafat Manusia secara umum bertujuan menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atauekspresi-ekspresi manusia sebagaimana pula halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies). Adapun secaraspesifik bermaksud memahami hakikat atau esensi manusia. Jadi, mempelajari filsafat manusia sejatinya adalah upayauntuk mencari dan menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu. Filsafat manusia suatu cara atau metode pemikiran yang bertanya tentang sifat dasar dan hakekat dari berbagaikenyataan yang tampil dimuka kita. Filsafat mencoba menerangi pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: apa arti hidupdan kegiatan, kebebasan dan cita? Apakah yang dikatakan kalau bicara tentang dunia, alam semesta, manusia danAllah? Filsafat manusia adalah bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia sendiri. Filsafat manusia disebut jugaantropologi filosofis yang mempelajari manusia sepenuhnya, roh serta badannya, jiwa serta dagingnya. Apakah alasanmempelajari filsafat manusia. manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan dan kewajiban untuk menyelidiki arti yang dalam dari ”yangada” . ”kenalilah dirimu sendiri”. Ia mengerti dirinya secara mendalam sebelum mengatur sikapnya dalam hidup ini. Iaharus memiliki pandangan yang cukup tentang apa hakikat kodrat manusia itu. Apa sebenarnya manusia itu, apa yangmenjadi khas dari sifat manusiawi, apa yang menjadikan manusia itu berkedudukan di atas makhluk-makhluk lain dan apayang merupakan martabatnya.Filsafat Manusia dan Ilmu-Ilmu lain Ilmu-ilmu pengetahuan tentang manusia, miring dengan ilmu tentang alam, berusaha menemukan hukum-hukum perbuatan manusia, sejauh perbuatan itu dapat dipelajari secara inderawi atau dapat dijadikan objek introspeksi.Filsafat mengarah kepada penyelidikan terhadap segi yang lebih mendalam dari manusia. Kesenian, kesusasteraan dan sinema mempergunakan bahasa yang lebih konkret daripada ilmu-ilmupengetahuan dan filsafat. Sejarah mengisahkan kepada kita bagaimana orang-orang zaman dahulu hidup. Teologimengajarkan kita banyak tentang manusia, sejarahnya, tujuannya karena ia bertugas untuk meneruskan dan memperjelasapa yang Tuhan sabdakan tentang Diri-Nya sendiri dan tentang asal dan tujuan akhir manusia. Obyek kajiannya tidak terbatas pada gejala empiris yang bersifat observasional dan atau eksperimental, tetapimenerobos lebih jauh hingga kepada gejala apapun tentang manusia selama bisa atau memungkinkan untuk dipikirkansecara rasional. Metodenya: (1) Sintesis, yakni mensintesakan pengetahuan dan pengalaman kedalam satu visi yangmenyeluruh tentang manusia; (2) Refleksi, yakni mempertanyakan esensi sesuatu hal yang tengah direnungkan sekaligusmenjadikannya landasan bagi proses untuk memahami diri sendiri (self understanding). Cirinya: (1) Ekstensif, yakni mencakup segala aspek dan ekspresi manusia, lepas dari kontekstualitas ruangdan waktu. Jadi merupakan gambaran menyeluruh (universal) tidak fragmentaris tentang realitas manusia; (2) Intensif,yakni bersifat mendasar dengan mencari inti, esensi atau akar yang melandasi suatu kenyataan; dan (3) Kritis, atau tidakpuas pada pengetahuan yang sempit, dangkal dan simplistis tentang manusia. Orientasi telaahnya tidak berhenti pada“kenyataan sebagaimana adanya” (das Sein) tetapi juga berpretensi untuk mempertimbangkan “kenyataan yangseharusnya atau yang ideal (das Sollen). Manfaatnya, secara: (1) Praktis, mengetahui tentang apa atau siapa manusia dalam keutuhannya, sertamengetahui tentang apa dan siapa diri kita ini dalam pemahaman tentang manusia tersebut; dan (2) secara Teoritis, untukmeninjau secara kritis beragam asumsi-asumsi yang berada di balik teori-teori dalam ilmu-ilmu tentang manusia. Jadi, objek formal filsafat itu adalah inti manusia, strukturnya yang fundamental. Ia hanya diketahui melaluiusaha daya pikir saja. Manusia yang dimaksud adalah struktur metafisiknya, yaitu semua yang terbentuk dari badan danjiwa. Diharapkan dengan mempelajari filsafat manusia, seseorang akan menyadari dan memahami tentangkompleksitas manusia yang takkan pernah ada habisnya untuk senantiasa dipertanyakan tentang makna dan hakikatnya.Sejauh “misteri” dan “ambiguitas” manusia ini disadari dan dipahami, seseorang akan menghindari sikap sempit dan tinggihati.
  6. 6. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 6Soal / TugasJawablah pertanyaan berikut ini!1. Apakah arti Manusia secara filsafat2. Apakah arti filsafat manusia yang batasan kajiannya?3. Apakah perbedaan filsafat manusia dengan ilmu-ilmu yang mengkaji tentang manusia?4. Jelaskanlah tentang hakekat manusia ?5. Apakah watak dan keberadaan manusia ?Daftar Pustaka:1. Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia. Cet. Ke 3. Bandung. Remaja Rosdakarya.2. Franz Magnis Suseno. 2009. Menjadi Manusia. Jokyakarta. Kanisius.3. Kartanegara, Mulyadi. 2005. The Best Chicken Soup of The Philosophers (terj. Ahmad Fadhil). Jakarta. Himah4. Rapar, Jan Hndrik. 2005. Pengantar Filsafat. Cet. Ke-10. Jokyakarta. Kanisius.5. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula (terj.) Cet. Ke-1. Jokyakarta. Kanisius.
  7. 7. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 7 MODUL 2 METODE DAN KEDUDUKAN FILSAFAT MANUSIATujuan Instruksional UmumSetelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis metode dan kedudukan filsafat manusia.Tujuan Instruksional KhususSetelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis metode dan kedudukanfilsafat manusia yang meliputi sebagai berikut:• Filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia• Ciri-ciri filsafat manusia• Mengenal manusia melalui filsafatMateri PembahasanFilsafat Manusia dan Ilmu Tentang Manusia Perbedaan antara filsafat manusia dengan ilmu-ilmu tentang manusia. Ilmu tentang manusia tidak mampumenjawab pertanyaan–pertanyaan mendasar tentang manusia, seperti: Apakah esensi atau hakikat manusia itu bersifatmaterial atau spiritual? Siapakah sesungguhnya manusia itu dan bagaimana kedudukannya di dalam alam semesta rayayang maha luas ini? Apakah arti, nilai atau makna hidup manusia itu? Apakah ada kebenaran pada manusia? Kalau ada,sampai sejauh mana pertanggungjawaban yang harus dipikul oleh manusia itu? Apakah sebenarnya yang menjadi tujuanasasi dari hidup manusia itu? Apakah yang sebenarmya dilakukan manusia di dalam dunia yang serba tidak menentu ini?Bagaimana sebaiknya manusia bersikap dan berperilaku, sehingga bukan saja tidak merugikan diri sendiri tetapi jugatidak merugikan orang lain dan lingkungan sekitarnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan mendasar lainnya.Metode Filsafat Filsafat bersifat interogatif. Ia mengajukan persoalan-persoalan dan mempertanyakan apa yang tampak sebagaisudah jelas. Ilmu pengetahuan mengemukakan pertanyaan. Filosuf memberikan pertanyaan ke jantung hal-hal atausampai ke akar persoalan. Metodenya bersifat diagonal atau menurut ungkapan dialektik. Plato melalui diskusi antaraguru dan murid kemudian dikemukaan persoalan yang setapak demi setapak demi mencapai pemecahan. Dialektikmerupakan hasil pengumpulan, penjumlahan, dan penilaian kritik dari semua opini yang didapatkan dari sesuatu masalahyang telah dikemukaan. Aristoteles selalu memulai dulu dengan mengemukaan apa yang telah dia katakan tentangmasalah oleh para pendahulunya. Pada Hegel, dialektik menjadi cara yang mulai dengan memperlawankan dua ide yangsaling bertentangan lalu mendamaikan mereka dengan unsur ketiga yang mengandung kedua ide itu dan merupakansintesis daripadanya. Metode filosuf pada aliran Descartes disebut aliran filsafat bersifat refleksif. Sang filosuf hendaknyapenuh perhatian terhadap gejala-gejala terutama dalam arti luas. Mulai dari Husserl di Jerman, metode filsafatdiklasifikasikan fenomologis. Filsafat ingin menjelaskan gejala-gejala secara objektif mungkin menurut bagaimana gejalaitu menampilkan diri terhadap kesadaran. Keterbatasan metode observasi dan eksperimentasi tidak memungkinkan ilmu-ilmu tentang manusia untukmelihat gejala manusia secara utuh dan menyeluruh. Hanya aspek dan bagian tertentu manusia yang bisa disentuh olehilmu-ilmu tersebut. Psikologi sebagai suatu ilmu, misalnya lebih menekankan pada aspek psikis dan fisiologis manusiasebagai suatu organisme dan tidak bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman subjektif, spritual dan eksistensional.Antropologi dan sosiologi lebih memfokuskan pada gejala budaya dan pranata sosial manusia dan tidak bersentuhandengan pengalaman dan gejala individual. Bahkan dalam suatu cabang ilmu itu sendiri bisa terjadi spesialisasi-spesialisasi dalam menelaah sub-sub aspek gejala manusia.
  8. 8. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 8 Banyak aspek positif yang bisa dipetik dari hasil penelitian ilmu tentang manusia, baik secara praktis maupuansecara teoritis. Berbeda dengan ilmu-ilmu tentang manusia, Filsafat manusia yang menggunakan metode sintesis danreflektif itu mempunyai ciri-ciri ekstensif, intensif dan kritis. Penggunaan metode sintesis dalam filsafat manusia yangmensistensiskan pengalaman dan pengetahuan kedalam satu visi. Penggunaan metode refleksi dalam filsafat manusiatampak dari pemikiran filsafat dasar yang menunjukan dua hal, yaitu :1. pertanyaan tentang esensi suatu hal, misalnya apakah esensi keindahan itu, apakah esensi kebenaran itu, apakahesensi manusia itu dst.2. pada proses pemahaman diri (self-understanding) berdasarkan pada totalitas gejala dan kejadian manusia yangsedang direnungkannya. Dengan demikian ada kemungkinan dalam filsafat manusia terdapat keterlibatan pribadi dan pengalamansubjektif dari beberapa filosuf tertentu pada setiap apa yang dipikirkannya dan bersikap objektif. Tugas seorang ilmuanadalah mengamati, mengukur (dengan statistik), menjelaskan dan memprediksikan dalam bentuk bahasa ilmiah,ditambah dengan angka-angka, tabel-tabel atau grafik-grafik. Kemungkinan untuk terlibat atau tidak netral, relatif sangatkecil karena nilai-nilai yang sifatnya subjektif dan manusiawi tidak dapat dirumuskan secara statistik dalam bentuk angkaatau grafik. Ada suatu yang khusus dari filsafat manusia yang tidak dapat di dalam ilmu-ilmu tentang manusia. Kalau ilmuadalah netral dan bebas nilai, ilmu berkenaan dengan das sain (kenyataan sebagaimana adanya). Nilai dari manapunasalnya dan apapun bentuknya, diupayakan untuk tidak dilibatkan dalam kegiatan keilmuan. Nilai dipandang sebagaisuatu yang "subjektif" dan "tidak bisa diukur", sehingga keberadaannya dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkansecara ilmiah. Sebaliknya, dalam filsafat manusia, bukan hanya das Sein yang dipertimbangkan, tapi juga das Sollen(kenyataan yang seharusnya). Ini berarti bahwa nilai selain dipandang subjektif tapi juga ide, mewarnai kegiatan filsafatmanusia. Nilai-nilai, apakah itu nilai personal, sosial, moral, religius ataupun kemanusiaan, bukan barang haram atauterlarang di dalam filsafat manusia. Itulah sebabnya kita tidak perlu heran kalau Karl Marx menganjurkan kepada parafilosul bahwa tugas mereka sekarang bukan lagi menerangkan dunia (das sein), tetapi mengubah dunia (das sollen). Kitatidak perlu heran kalau Nietzsche mengajak kita untuk mendobrak kebudayaan yang lembek, mapan, bodoh dan cepatpuas diri (berasal dari moral budak), dan menggantinya dengan kebudayaan yang adikuasa, megah, kompetitif, perkasa,hebat dan berani (berasal dari moral Tuhan) Menurut aliran Descartes, banyak orang beranggapan bahwa metode filsafat harus bersifat terutama reflektif,artinya sang filsul hendaknya penuh perhatian terhadap fenomena-fenomena, khususnya kehidupan psikologis, sebabtidak hanya mepertimbangkan fenomena-fenomena tetapi ia juga mengerti kodrat dasar-dasar yang mungkin tanpak darifenomena itu. Husserl, mengklasifikasikan metode filsafat fenomenologis, yang ingin menjelaskan secara objektifmenampilkan diri terhadap kesadaran. Disamping itu metode filsafat juga dikatakan induktif, abstraktif dan eidetik. Disebutinduktif karena ia menyimpulkan dari suatu fenomena atau beberapa fenomena struktur yang dasariah. Disebut abstraktifkarena dalam suatu fenomena atau beberapa fenomena ia membedakan apa yang esensial dari apa yang tidak esensial.Disebut eidetik sejauh hasil dari pemahaman itu adalah persis kodrat atau bentuk fenomena itu (eidos).Ciri-ciri Filsafat Manusia Ciri filsafat manusia adalah ekstensif, intensif dan kritis. Ciri ekstensif dapat disaksikan dari luasnyajangkauan atau menyeluruhnya objek kajian, gambaran menyeluruh atau sinopsis tentang realitas manusia. Filsafatmanusia mencakup segenap aspek dan eksistensi manusia serta lepas dari kontektualitas ruang dan waktu (universal),maka ia tidak mungkin bisa mendeskripsikan semuanya itu secara rinci dan detail. Tidak mungkin, misalnya filsafatmanusia mengurai sampai sekecil-kecilnya perbedaan antara individu yang satu dengan individu yang lain, antarakelompok sosial yang satu dengan kelompok sosial yang lain. Filsafat manusia hanya menggambarkan realitasmanusia secara garis besarnya saja, ia cukup puas dengan gambaran umum tentang manusia dan gambaranmenyeluruh tentang dimensi-dimensi tertentu dari manusia. Dalam filsafat manusia terdapat dua aliran, yaitu aliranmaterialisme dan spiritualisme.
  9. 9. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 9 Materialisme adalah secara tegas menyatakan bahwa manusia pada asasnya adalah materi sehingga kitadapat menjelaskan setiap gejala dan pengalaman manusia berdasarkan hukum-hukum alam, mekanika, kimia, biologidan lain-lain sebaiknya, filsafat spiritualisme mengajarkan bahwa hakikat manusia berdasarkan jiwa dan roh dan tidakbisa diukur dengan mengacu kepada hukum alam, hanya melalui interpretasi-interpretasi yang murni kualitatif danintrospektif untuk memahami gejala dan esensi manusia secara benar. Dalam perkembangan filsafat manusia mengalami perubahan sehingga menerima aliran baru filsafateksistensialisme dan vitalisme Henry Bergson, yang juga memasukan aspek manusia sebagai makhluk sosial,makhluk biologis dan makhluk budaya yang mendasari keberadaan alam semesta dan manusia. Ciri kedua filsafat manusia adalah Intensif (mendasar) yaitu mencari inti, hakikat, akar, struktur dasar yangmelandasi kenyataan manusia. Sebagaimana pendapat Leenhouwers " walaupun ilmu pengetahuan mencaripengertian dengan menerobos realitas sendiri, pengertian itu hanya dicari di tataran empiris dan eksperimental. Ilmupengetahuan membatasi kegiatannya hanya pada fenomena-fenomena langsung atau tidak langsung yang dialami olehpancaindera, ia tidak memberi jawaban perihal kausalitas yang paling dalam. Ciri kritis dari filsafat manusia berhubungan dengan dua metode yang dipakai (sintesa dan refleksi) dan duaciri yang terdapat dari hasil filsafat (ekstensif dan intensif). Karena itu tujuan filsafat manusia adalah untuk memahamidiri manusia sendiri (pemahaman diri), maka hal apa saja (apakah berupa ilmu pengatahuan, kebudayaan dan ideologi)tak luput dari kritik filsafat. Filsafat manusia akan berusaha membongkar kekuatan-kekuatan yang ada di balikkecenderungan tersebut. Ia sangat peka pada masalah-masalah yang berkenaan dengan (pemahaman diri) manusia. Ciri khas filsafat manusia seringkali menimbulkan kesan, bahwa para filosuf yang membahas hakikatmanusia adalah "tukang kecam" yang gemar menentang ilmu pengetahuan. Ilmu, dimata filsafat merupakanpengetahuan yang dangkal dan keliru, namun tidak sepenuhnya benar karena filsafat manusia menempatkan informasiilmiah sebagai titik tolak pemikirannya. Filsafat manusia menyoroti gejala dan kejadian manusia secara sintesis dan reflektif dan memiliki ekstensif,intensif dan kritis. Kalau betul demikian, maka dengan mempelajari filsafat manusia berarti kita dibawa ke dalam suatupanorama pengetahuan yang sangat luas, dalam dan kritis yang menggambarkan esensi manusia. Panoramapengetahuan seperti itu paling tidak mempunyai manfaat ganda yakni manfaat praktis dan teoritis. Secara praktis filsafat manusia bukan saja berguna untuk mengetahui apa dan siapa manusia secaramenyeluruh, melainkan juga untuk mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusiayang menyeluruh itu. Pemahaman yang demikian pada gilirannya akan memudahkan kita dalam mengambilkeputusan-keputusan praktis atau dalam menjalankan berbagai aktivitas hidup sehari-hari. Dalam mengambil makna dan arti dari setiap peristiwa yang setiap saat kita jalani, dalam menentukan arahdan tujuan hidup kita yang selalu saja tidak gampang untuk kita tentukan secara pasti. Sedangkan secara teoritisfilsafat manusia mampu memberikan kepada kita pemahaman yang esensial tentang manusia, sehingga padagilirannya kita bisa meninjau secara kritis asumsi-asumsi yang tersembunyi di balik teori-teori yang terdapat di dalamilmu – ilmu tentang manusia.Kedudukan Manusia dan Humanisme Humanis akan lebih mudah dipahami kalau kita meninjaunya dari dua sisi; sisi historis dan sisi aliran filsafat.Humanisme dari sisi historis berari suatu gerakan intelektual dan kesusasteraan yang pertama kali muncul di Italia padaabad ke-14. Gerakan ini sebagai motor pengerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa, seperti tokohnyaDante, Petrarca, Boccaceu dll. Dari sisi kedua humanisme berarti paham filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusiasehingga manusia sentral dan penting. Manusia dipandang sebagai ukuran dari penilaian dan referensi utama darisetiap kejadian. Humanisme sebagai suatu gerakan intelektual dan kesusasteraan merupakan aspek dasar gerakanrenaissance (abad ke-14-ke-16) untuk membangun manusia dari tidur panjang abad pertengahan yang dikuasai olehdogma-dogma gerejani. Pikiran manusia yang menyimpang dari dogma tersebut adalah pikiran sesat dan harusdicegah dan dikendalikan. Oleh sebab itulah gerakan humanisme muncul yang bertujuan melepaskan diri dari belenggugereja dan membebaskan akal budi dari kukungan yang mengikat. Melalui pendidikan liberal mereka mengajarkan
  10. 10. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 10bahwa manusia pada prinsipnya adalah makhluk bebas dan berkuasa penuh atas eksistensinya sendiri dan masadepannya. Maka dalam batas-batas tertentu kekuatan-kekuatan dari luar yang membelenggu kebebasan manusiaharus dipatahkan. Humanisme menempatkan pendidikan liberal yang ditandai dengan kehidupan demokratis (pada abadpertengahan dianggap kaum kafir). Kendati kebebasan menjadi tema penting humanisme tapi bukan kebebasanabsolut melainkan kebebasan sebagai antitesis dari determinisme abad pertengahan, kebebasan yang berkaraktermanusiawi dalam batas-batas alam, sejarah dan masyarakat. Konsep kebebasan aliran naturalisme. Kendati merekamenentang kekuatan gereja tidak berarti mereka anti agama, semangat menjunjung nilai, martabat dan kebebasanmanusia disertai dengan kesadaran bahwa mereka tidak mungkin bisa menolak keluhuran dan kekuasaan Tuhan. Yang terbaik untuk menjelaskan gejala alam bukan dengan mengacu kepada ajaran gereja, melainkan padaeksperimentasi dan perhitungan-perhitungan matematis. Manusia ditinjau dari aspek naturallistik (tubuh) yaitu makhlukalamiah (fisis) yang dikuraniai pancaindera sehingga mampu mengadakan observasi empiris. Ditinjau dari aspekrohaniah manusia mempunyai akal budi sehingga sanggup mengadakan perhitungan matematis. Humanisme adalah aliran filsafat yang hendak menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia. Realitas,manusia adalah hak milik manusia sehingga setiap kejadian, gejala dan penilaian apapun harus selalui dikaitkandengan keberadaan, kepentingan dan kebutuhan manusia. Manusia adalah pusat realitas sehingga segala sesuatuyang terdapat di dalam realitas harus dikembalikan kepada manusia. Jika humanisme diartikan sebagai aliran filsafat,maka marxisme, pragmatisme dan eksistensialisme dapat dikatgorikan dalam humanisme. Sesungguhnya gejala dan kejadian manusia adalah kaya akan ketidak terbatasan. Berkembangnya ilmu-ilmutentang manusia yang diikuti oleh munculnya spesialisasinya menjadi bukti dari "kekayaan" manusia yang tidak terbatas.Kritik Scheler, sangat relevan sampai sekarang. Pemahaman tentang manusia memang tidak akan pernah tuntas.Manusia seperti yang diungkapkan oleh filosuf modern Prancis, Merleau Ponty, adalah makhluk "ambigu", yaitu makhlukyang bermakna ganda. Setiap kali kita mengungkap satu aspek atau dimensi dari gejala manusia, setiap kali pula kitaluput melihat aspek-aspek lain dari gejala itu. Setiap kali kita berhasil menjawab sebuah pertanyaan tentang dimensimanusia, setiap kali itu pula muncul pertanyaan-pertanyaan baru tentang dimensi lain yang juga menuntut segera kita carijawabannya.Mengenal Manusia Melalui Filsafat Filsafat ialah tertib atau metode pemikiran yang berupa pertanyaan kepada diri sendiri tentang sifat dasar danhakikat berbagai kenyataan yang tampil dimuka. Filsafat manusia merupakan bagian dari filsafat yang mengupas apaartinya manusia. Filsafat manusia mempelajari manusia sepenuhnya, sukma serta jiwanya. Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan hak istimewadari sampai batas tertentu memiliki tugas menyelidiki hal-hal secara mendalam. Manusia dapat mengatur dirinya untukdapat membedakan apa yang baik dan buruk baginya yang harus diperoleh dari hakikat diri manusia.Kesulitan Bagi Suatu Filsafat Manusia Filsafat berpretensi mengatakan apa yang paling penting bagi manusia. Para filosuf mangatakan danmenimbulkan berbagai pendapat. Bagi Platon dan Platin misalnya, manusia adalah suatu makhluk ilahi. Bagi Epicura danLekritius sebaliknya manusia yang berumur pendek lahir karena kebetulan dan tidak berisi apa-apa. Descartesmengambarkan manusia sebagai terbetuk dari campuran antara dua macam bahan yang terpisah, badan dan jiwa. Perlunya dan Kemungkinan Filsafat Manusia, Filsafat mengajukan pertanyaan dan mengupasnya. Filsafatbertanya pada diri sejak ribuan tahun apakah manusia itu, dan darimana datangnya manusia, tempat apakah yangdidudukinya dalam alam semesta yang luas, darimana manusia datang dan untuk apakah ia ditakdirkan.Watak Sifat Manusia, Obyek Filsafat Manusia Filsafat manusia menduga bahwa suatu watak manusia suatu kumpulan corak-corak yang khas, atau rangkaianbentuk yang dinamis yang khas yang secara mutlak terdapat pada manusia. Kategori manusia secara fundamental darisemua kebudayaan memiliki kesamaan. Suatu kebudayaan manusia tidak mungkin ada tanpa bahasa. Semuakebudayaan diatur untuk dapat menyelamatkan solidaritas kelompok yang dengan cara memenuhi tuntutan yang diajukan
  11. 11. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 11oleh semua orang, yaitu dengan mengadakan cara hidup teratur yang memungkinkan pelaksanaan kebutuhan vitalmereka.Perbedaan Filsafat Manusia dengan Ilmu-Ilmu yang Bersangkut-paut Dengannya Ilmu yang mengemukakan kesimpulan-kesimpulan dengan bahasa matematika, yang menunjukkan bahwamereka dalam objeknya mencapai secara langsung hanya apa yang dapat diukur dan dapat dihitung jumlahnya. Filsafatmengarahkan penyelidikannya terhadap segi yang mendalam dari makhluk hidup. Filsafat bertanya apakah yang palingmendasar memberi corak yang khas pada manusia, apakah yang menyebabkan ia bertindak sebagaimana yang ialakukan .Titik Tolak dan Objek yang Tepat pada Filsafat Manusia Fisafat selalu tergantung dari konteks kebudayaan dimana dia berkembang, namun dia tetap merupakansesuatu yang sama sekali berlainan dengan jumlah atau perpaduan segala pengetahuan dari suatu zaman. Filsafat tidakdituntut untuk mempergunakan kesimpulan-kesimpulan sebagai titik tolak yang wajib bagi pemikirannya. Makaseharusnya bertolak dari pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada pada setiap individuyang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama.Soal / TugasJawablah pertanyaan berikut ini!1. Apakah metode filsafat manusia yang digunakan! Jelaskan2. Apakah kedudukan manusia dan humanisme?3. Apakah perbedaan filsafat manusia dengan ilmu-ilmu yang mengkaji tentang manusia?4. Jelaskanlah ciri-ciri filsafat manusia tersebut?5. Apakah paham humanisme ituDaftar Pustaka:1. Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia. Cet. Ke 3. Bandung. Remaja Rosdakarya.2. Franz Magnis Suseno. 2009. Menjadi Manusia (Aristoteles). Jokyakarta. Kanisius.3. Kartanegara, Mulyadi. 2005. The Best Chicken Soup of The Philosophers (terj. Ahmad Fadhil). Jakarta. Himah4. Rapar, Jan Hndrik. 2005. Pengantar Filsafat. Cet. Ke-10. Jokyakarta. Kanisius.5. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula (terj.) Cet. Ke-1. Jokyakarta. Kanisius.
  12. 12. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 12 MODUL 3 TUJUAN MANUSIATujuan Instruksional UmumSetelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis tujuan manusia secara filsafat.Tujuan Instruksional KhususSetelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis tujuan manusia secarafilsafat yang meliputi sebagai berikut:• Hakikat tujuan manusia• Mencari nikmat sebanyak-banyaknyaMateri PembahasanTujuan Manusia Apabila manusia melakukan sesuatu, ia selalu melakukannya karena ada tujuannya, sebuah nilai. Apabilamanusia mau mengatur kehidupannya secara nalar, maka pertanyaan kunci baginya adalah: Apakah tujuan manusia itu?Setiap tindakan yang mengarah ke pencapaian tujuan itu masuk akal dan setiap tindapan yang tidak menunjangtercapainya tujuan manusia tidak masuk akal. Inilah prinsip Filosul Aristoteles. Hidup kita akan terarah apabila kita melakukan sedemikian rupa hingga kita mencapai tujuan kita. Kehidupanmodern ditentukan oleh agama, apa yang diperintahkan oleh agama dilaksanakan sedangkan yang dilarang dihentikan.Sedangkan filosuf Aristoteles berpendapat bahwa dia tidak menolak ajaran agama, Namun Aritoteles memilikipertimbangan bahwa ia tidak berspekulasi, tidak berandai-andai dan tidak mengandaikan ajaran apapun termasuk agama. Menurut Aristoteles, manusia sebagai makhluk berpikir dapat mengetahui bagaimana dia seharusnya hidup,melalui pendekatan analitis dan langkah-langkah logis. Dia bertolak dari sebuah fakta: Apapun yang dilakukan manusiaselalu dilakukan demi tujuan. Kita melakukan sesuatu dengan satu maksud. Kita makan untuk menghilangkan rasa lapar,kita nonton TV karena hiburan, kita nipu untuk dapat uang dll. Dapat juga manusia melakukan dua tujuan yangkontradiksi, seperti kita merasa lapar, mau makan tapi puasa karena itu tidak makan.Menurut Aristoteles tujuan manusia itu ada dua, yaitu: 1. Tujuan manusia sementara: tujuan ini hanyalah sarana untuk lebih lanjut, seperti orang mengikuti kuliah untuk lulus sarjana sedangkan tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan pekerjaan atau meningkatkan jabatan kerja. 2. tujuan akhir manusia, adalah suatu tujuan apabila kita dapat mencapainya kita akan merasakan kepuasan. Tujuan akhir mestinya sesuatu yang kalau tercapai tidak ada lagi yang masih diminati, selama belum tercapai, manusia belum akan puas dan tetap masih mencari. Apakah tujuan akhir itu? Menurut Aristoteles adalah "Kebahagiaan" kalau seseorang sudah bahagia tidak adayang masih diinginkan selebihnya. Sebaliknya ia belum bahagia apapun yang diperolehnya dia tidak akan merasa puas.Disatu pihak, kebahagiaan selalu dicari demi dirinya sendiri dan bukan demi sesuatu yang lain. Dipihak lain kebahagiaanmencukupi dirinya sendiri, kalau sudah bahagia tidak ada yang perlu ditambah. Aristoteles seorang filosuf yang pertama mengkaji tentang tujuan manusia, yaitu "kebahagiaan", etikanyadisebut "eudemonisme", dalam bahasa Yunani "eudaimonia" = bahagia). Pertanyaan selanjutnya adalah Bagaimanamanusia harus hidup, jawabannya adalah manusia harus menata kehidupannya sedemikian rupa hingga ia menjadisemakin bahagia. Aristoteles memberi tolak ukur yang jelas secara akal, aturan moralitas bukan sesuatu yang tidak dapatdimengerti, sesuatu yang diharuskan diluar, melainkan sesuatu yang sangat masuk akal, yang perlu kita perhatikan agarkita dapat mencapai apa yang menjadi tujuan terakhir kita, kebahagiaan. Kita hendaknya hidup secara bermoral karenaitulah jalan ke pada kebahagiaan. Tujuan moralitas adalah mengantar manusia ke tujuan akhirnya, kebahagiaan. Apakahhidup yang kita jalani berhasil dapat diukur pada tingkat kebahagiaan yang kita capai di dalamnya. Berdasarkan pendapatfilosuf Aristoteles ada tiga hal yang harus kita perhatikan, yaitu:
  13. 13. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 13 Pertama, kebahagian sebagai tujuan manusia tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Agama sendiri justrumenegaskan bahwa tujuan akhir itu menghasilkan kebahagiaan. Orang masuk sorga atau dekat dengan Tuhan adalahorang yang mendapatkan kebahagiaan, khususnya agama Timur. Agama Budha misalnya mau menunjukkan jalanmengurangi penderitaan. Lao-Tzu mengajarkan bahwa manusia harus mencapai dao-nya, jalannya dan implikasinyaadalah bahwa ia akan bahagia semakin ia menemukannya. Ki Suryamentaram memahami etikanya sebagai ngelmukebegdjan, sebagai ilmu yang menuju ke kebahagiaan. Kedua, kalau kebagiaan merupakan tujuan akhir manusia, maka sekaligus menjadi jelas bahwa beberapa halyang umumnya dianggap menjadi tujuan tidak memadai. Aristoteles menyatakan dua tujuan akhir yang salah, yaitu;"Uang dan Nama tersohor". Uang atau kekayaan hanyalah sarana untuk bisa bebas dari kekurangan dan lebihmenguasai hidupnya sendiri dan mudah memenuhi segala yang diinginkan. Kekayaan merupakan sarana bukan tujuanpada dirinya sendiri. Kekayaan tidak menjamin kebahagiaan. Maka, orang yang mengarahkan seluruh hidupnya denganuang tidak mencapai tujuan. Ia justru tidak bahagia. Nama tersohor agak berbeda. Sepintas nama tersohor kelihatanseperti tujuan pada dirinya sendiri, tetapi Aristoteles menegaskan bahwa mendapat nama tersohor merupakan sesuatudalam pandangan orang lain, bukan sesuatu pada diri orang yang bersangkutan. Orang bisa tersohor meskipun kurangbermutu. Kalau dia tersohor karena bermutu dan prestasinya, maka mutu dan prestasi itu yang perlu diusahakan, bukanama tersohor. Tersohor tergantung pada adanya ciri-ciri yang ada pada kita, maka tidak merupakan tujuan, yangdiusahakan adalah ciri-ciri yang dikagumi itu dan bukan agar kita tersohor. Ketiga, perlu diperhatikan bahwa kebahagian tidak bisa langsung diusahakan. Kebahagian itu bukan sasaranyang bisa langsung kita bidik. Kebahagiaan adalah suatu yang lebih bersifat "diberikan" daripada direbut. Hidup macamapakah yang menghasilkan kebahagiaan? Apakah kebahagaan dapat dicapai dengan mengejar rasa nikmat danmenghindari rasa sakit. Berikutnya kita akan lihat cara hidup yang mana yang oleh Aristoteles secara positif dianggapmenghasilkan kebahagiaan.Manusia Mencari Nikmat Sebanyak-banyaknya : Persahabatan Etika Aristoteles bukan yang bernada egois, yang tidak mengatakan kita hendaknya selalu berusaha untukmenjadi bahagia. Kita sudah melihat bahwa kebahagiaan justru tidak dapat diusahakan secara langsung. Kebahagiaantercapai dengan mengambil cara hidup yang mengembangkan kerohanian dan keterlibatan sosial manusia. Bukandengan sikap egois, melainkan dengan komitmen pada komunitas, dengan bersedia bertanggung jawab atas kemajuanmasyarakat manusia akan menjadi bahagia. Tak mungkin orang melibatkan diri dalam urusan masyarakat dan hanya memikirkan dampaknya pada dirinyasendiri. Tentu ia harus meminati masyarakat dalam bahasa kita sekarang, ia harus seorang nasionalis dan seorang yangsosial, yang mau memajukan masyarakatnya ke dalam dan ke luar. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dialektis. Apabilalangsung diusahakan, kebahagiaan mengelak. Tetapi orang yang tampa pamrih melibatkan diri dalam memajukan ataumenyelamatkan sesama, dialah yang akan bahagia. Jadi etika kebahagiaan, "eudemonisme" Aristoteles , justru tidakegosentris. Aristoteles membedakan persahabatan pada tiga macam, yaitu persahabatan atas dasar salingmenguntungkan, atas dasar saling menikmati, dan atas dasar saling menyenangi dan mencintai. Dua bentuk pertamabelum melampaui egoisme. Apabila dua orang bersahabat karena persahabatan itu menguntungkan keduanya ataukarena masing-masing memperoleh nikmat daripadanya, persahabatan hanya merupakan sarana saja. Persahabatansemacam ini bisanya tidak bertahan dan rawan pertengkaran dan perasaan tidak puas. Persahabatan dari arti sebenarnya adalah persahabatan demi sahabat. Persahabatan karena dua sehabatsaling mencintai. Aristoteles menulis bahwa "rupa-rupanya keutamaan di antara pada sahabat adalah cinta”. Baru dalampersahabatan atas dasar cinta manusia betul-betul membuka diri kepada orang lain dan justru di dalam keterbukaan itumenjadi diri, manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia memerlukan orang lain, ia adalah makhluk sosial, berbeda dari ternakyang bersama-sama berada direrumputan. Begitu dari sahabat harus disadari bahwa ia ada dan itu terdiri dalam hidupbersama dan dalam kebersamaan dalam bicara dan berpikir. Sebagai makhluk yang secara hakiki sosial manusiamasing-masing hanya mencapai dirinya sendiri apabila ia tidak hanya berkisar pada dirinya sendiri, melainkan meminatiorang lain, hal mana juga dijelaskan mengapa berpolitik membawa manusia ke kebahagiaan. Dalam persahabatan orangmeminati orang lain demi dia sendiri dan bukan hanya sebagai sarana bagi nikmatnya sendiri.
  14. 14. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 14 Dalam cinta tumbuh persahabatan sejati, kita menjadi diri kita yang sebenarnya, mengembangkan diri bukandengan mengitari diri kita sendiri, dengan memikirkan kita sendiri dan dengan prihatin atas segala hal yang kita alami atauyang lepas dari tangan kita, melainkan dengan mencintai. Mencintai orang lain memang amat penting bagi perkembangankita sendiri, tetapi cinta yang mengembangkan itu hanya nyata dan demikian hanya mengembangkan kita, apabila cintaitu sungguh-sungguh. Aristoteles menegaskan bahwa persahabatan mendalam tidak mungkin dan tidak perlu denganbanyak orang. Itulah perbedaan dengan kebaikan hati yang tidak perlu terbatas, namun merupakan sikap sepihak.Kemampuan untuk mencintai bagi Aristoteles merupakan tanda bahwa orang memiliki keutamaan tinggi bahwa ia seorangutama. Orang berbudi luhur tidak mencari untung atau nikmat dari persahabatan. Ia lebih bahagia memberikan kepadasahabat daripada menerima darinya. Meskipun dalam situasi sulit ia tentu akan menerima bantuannya.Persahabatan dan Cinta Diri Apakah persahabatan harus dipertahankan apabila sahabat berubah. Apabila sahabat yang dahulunya berbudiluhur menjadi orang bersemangat rendah dan buruk, persahabatan tidak mungkin dipertahankan. Begitu pula,persahabatan waktu mereka masih anak-anak belum tentu bisa, lalu juga tidak perlu dipertahankan apabila merekamenjadi dewasa. Karena mereka berubah dalam proses menjadi dewasa. Dari situ Aristoteles mempertanyakan "CintaDiri" Dua macam cinta diri, Yang pertama adalah kalau orang menginginkan uang, kedudukan terhormat dan nikmatjasmani bagi dirinya sendiri. Cinta diri semacam ini sudah pantas mendapat nama buruk. Kerana cinta seperti itu adalahcinta orang buruk. Tetapi Aristoteles memperlihatkan bahwa orang yang bersikap demikian sebenarnya justru tidakmencintai dirinya karena dengan mengejar tiga hal itu ia justru tidak beruntung, melainkan merugi. Orang itu "melayaninafsu-nafsunya dan bagian jiwa yang tidak berakal". Orang yang berkeutamaan mencintai yang luhur dan indah dan inidiarahkan oleh akal budi, tentu ia menginginkan yang luhur dan indah itu bagi dirinya sendiri dan itu baikPersahabatan dan Ketaktergantungan Persahabatan mengurangi independensi kita, ini berlaku bagi dewa bukan manusia kata Aristolteles. Manusiatidak seluruhnya mandiri dan kerana itu kebahagian tidak diperoleh dengan berusaha untuk sama sekali mandiri, justruorang berbuat baik membutuhkan orang lain. Manusia berarti bahwa mamahami hidupnya, yang perlu berkomunikasidengan orang lain. Manusia tidak mungkin bahagia sendirian, dia perlu sahabat.Soal / TugasJawablah pertanyaan berikut ini!1. Apakah tujuan manusia menurut Aristoteles?2. Bagaimana pendapat Arsitoles bahwa kebahagian menjadi tujuan hidup manusia?3. Apakah hubungan tujuan moralitas dengan kebahagiaan?4. Apakah yang perlu diperhatikan untuk menca[ai tujuan kebahagiaan?5. Kenapa kita harus mencari nikmat sebanayk-banyaknya sebagai tujuan manusia?Daftar Pustaka:1. Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia. Cet. Ke 3. Bandung. Remaja Rosdakarya.2. Kartanegara, Mulyadi. 2005. The Best Chicken Soup of The Philosophers (terj. Ahmad Fadhil). Jakarta. Himah.3. Rapar, Jan Hndrik. 2005. Pengantar Filsafat. Cet. Ke-10. Jokyakarta. Kanisius.4. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula (terj.) Cet. Ke-1. Jokyakarta. Kanisius.
  15. 15. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 15 MODUL 4 FILSAFAT MANUSIA DAN KEBIJAKSANAANTujuan Instruksional UmumSetelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis hubungan filsafat manusia dan kebijaksanaan.Tujuan Instruksional KhususSetelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis hubungan filsafatmanusia dan kebijaksanaan yang meliputi sebagai berikut: • Filsafat manusia dan politik • Kebijakan dan rasionalitasMateri PembahasanFilsafat dan Politik Ada tiga cara hidup yang menjadi tujuan pada dirinya sendiri, yaitu: hidup yang mengejar nikmat, filsafat danpolitik. Nikmat sebagai tujuan hidup ditolak oleh Aristoteles maka tinggal hidup berfilsafat dan hidup berpolitik. Anggapanini kelihatan kurang masuk akal. Hanya segelintir di antara kita yang sempat berpolitik aktif dan lebih sedikit sekali yangberfilsafat. Apakah itu berarti orang lain tidak bisa bahagia atau hidup mereka salah arah. Menurut Aristoteles pada saatmenulis buku Etika Nikomacheia, politik dalam arti yang dia maksud sudah merupakan sebuah nostalgia. Yang dimaksudadalah berpolitik dalam polis, dalam negara kota Yunani, dimana orang masih dapat saling mengenal. Padahal, waktuAristoteles mengajar di Athena, seluruh Yunani hanya menjadi sebuah propinsi dalam kerajaan raksasa Iskandar Agung. Jadi, Aristoteles memang tidak dapat diikuti secara harfiah. Tetapi itu tidak berarti bahwa keyakinan Aristotelesbisa dilupakan. Sebaliknya, apabila kita berusaha mengerti apa yang sebenarnya dia maksud, kita akan melihat bahwa iatetap masih memberikan petunjuk amat berharga kepada kita di abad ke 21 ini.Pengembangan Diri Manusia tidak menjadi bahagia dengan malas-malas mau menikmati, melainkan dengan berbuat sesuatu.Manusia menjadi bahagia melalui aktivitasnya, dengan menggerakkan diri untuk mencapai sesuatu dengan bertindak.Kalau kita menggantikan kata ”bahagia” dengan ”bermakna”, maka menurut Aristoteles manusia akan mengalami hidupbermakna dan itulah ini kebahagiaan yang dapat dicapai dalam hidup ini, bukan apabila ia pasif-pasif saja, apabila segalaapa telah tersedia baginya tinggal menikmati, melainkan dengan mengembangkan diri dan manusia mengembangkan diridalam tindakan. Namun, bagaimana manusia bertindak? Bukan dengan membatasi diri pada fungsi yang juga dimilikikambing, melainkan dengan bertindak sesuai dengan kekhasannya sebagai manusia. Manusia menjadi bahagia dengan mengembangkan diri, dengan membuat nyata kemampuan dan bakatnya.Misalnya apabila ia berbakat musik dan bila melalui latihan keras dan tertib, maka ia akan berhasil menjadi pemusik yangunggul. Jadi, menurut Aristoteles, kita hendaknya hidup sedemikian rupa hingga kita mengembangkan diri.Pengembangan diri sampai hari ini merupakan tujuan penting pendidikan yang bermutu. Mengembangkan diri berarti:Dengan menghadapi tantangan yang membuat diri kita menjadi nyata dari sesuatu yang hanya mungkin kita menjadinyata. Identitas kita terbangun, kita menjadi orang, kita memperoleh profil yang khas. Barangkali itu berat, sekurang-kurangnya sering tidak mudah, tetapi mengembangkan diri berhadapan dengan segala macam tantangan terasa amatmemuaskan dan penuh makna. Maka, Aristoteles menyarankan agar bahwa kita hendaknya senantiasa berusaha untukmengembangkan diri. Manusia tidak berkembang dengan merancang kehidupannya sebagaimana kita merencana studi kita. Kita kanbelum mengetahui diri kita. Tentu, apabila kita merasa mempunyai bakat menjadi penyanyi, maka sebaiknya kitamengambil langkah-langkah untuk mengembangkan kemampuan menyanyi kita secara profesional. Tetapi kita tidakhanya berkembang menurut rencana kita. Persoalannya hidup tidak dapat seluruhnya direncanakan dan apabila itu
  16. 16. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 16dicoba, kita berada dalam bahaya menjadi sempit, karena fokus ekslusif pada sebuah rencana kita sendiri membatasi diripada suatu yang sudah kita pahami. Jadi tidak ada yang baru. Yang betul-betul mengembangkan kita adalah tantanganyang kita hadapi. Tantangan itu tidak pernah dapat kita rencanakan atau kita pilih saja. Tantangan dapat muncul dalamsegala situasi. Berhadapan dengan tantangan itu kita teransang untuk mengambil sikap, dan sikap itulah yangmengambangkan kita, yang membuat kita sadar akan kemampuan baru kita. Bukan dengan memandang pusarnya sediirimanusia berkembang, melainkan dengan berani berhadapan dengan apa yang menantangnya, yang menuntutketerlibatan, dimana kita harus membuktikan diri. Tantangan itu dapat muncul dalam hidup kita sebagai mahasiswa atausebagai pekerja atau sebagai anggota keluarga kita atau sebagai warga negara ataupun di tengah jalan. Orang tidakmenjadi pemimpin dengan membaca buku ”how to become e leader” melainkan dengan melakukan tugas-tugasnyasecara terbuka dan dengan berani menghadapi tantangan yang mau menggagalkannya. Lama kelamaan kemampuanuntuk memimpin akan berkembang dan menjadi nyata. Suatu tantangan merangsang kemampuan kita yang masihtersembunyi, yang tentu lantas perlu kita kembangkan secara aktif. Yang penting hanya ini: Orang tidak berkembangdengan memandang, merenungkan dan merefleksikan diri (meskipun kadang-kadang perlu) melainkan dengan melihat keluar dengan menjawab apa yang dalam situasi tertentu diharapkan dari kita. Mengembangkan diri juga berarti menerima diri. Kita akan mengalami bahwa kita mempunyai keterbatasan.Kita tentu akan selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri, tetapi kita juga perlu menerima bahwa adakemungkinan kita dibatasi baik oleh situasi di luar diri kita, maupun oleh keterbatasan kita sendiri. Oleh sebab itu orangdiajari sikap menurut falsafat Jawa ”narima” adalah tanda watak yang kuat, ulet dan tidak cepat putus asa. Orang yangtahu ”narima” tahu diri, tetapi akan berusaha ke depan begitu situasi mengizinkannya.Manusia Berfilsafat Mengapa Aristoteles berpendapat bahwa filsafat dan kehidupan politik merupakan kegiatan yangmembahagiakan manusia? Filsafat adalah kegiatan orang yang ber-theoria. Tetapi kita harus berhati-hati. BagiAristoteles, seperti juga Plato, kata theoria bukanlah teori dalam arti modern, sebagai pandangan ”teoretis” tentang salahsatu masalah, seperti teori evolusi adalah pandangan tersusun tentang evolusi, melainkan bagi orang Yunani theoriaberati ”memandang”, merenungkan realitas yang abadi dan realitas yang tak berubah, realitas ilahi. Jadi, dalam theoriamanusia mengarahkan diri ke realitas yang abadi, realitas yang mengatasinya. Dengan ber-theoria manusia memperoleh”sophia”, kebijaksanaan. Jadi manusia yang ber-theoria mencintai (philei) kebijaksanaan, karena itu ia adalah seorang”phi-sophos” seorang pencita kebijaksanaan, seorang filosof, Jadi filsafat adalah kegiatan memandang penuh kagum halyang abadi-ilahi. Mengapa memandang yang abadi adalah khas bagi manusia? Karena manusia beda dari binatang,memiliki logos, akal budi, yang terungkap dalam bahasa. Logos itu adalah unsur ilahi dalam manusia. Dalam bagianterakhir bukunya Etika Nikomacheia, Aristoteles menjelaskan mengapa orang menjadi bahagia dalam filsafat. Filsafatadalah tempat di mana manusia mengangkat rohnya di atas alam yang berubah, melampaui wilayah keniscayaan fisik.Jadi mengatai keterbatasannya sebagai makhluk di waktu dan tempat tertentu. Orang yang berfilsafat, yang merenungkanyang abadi tak berubah, amat bahagia karena ia membuat nyata unsur ilahi yang ada di dalamnya. Bagi Aristoteles filsafat memenuhi fungsi yang sekarang kita berikan kepada agama, tetapi perlu diperhatikanbahwa filsafat Timur tidak mengenal perpisahan tajam antara agama dan filsafat. Kesatuan itu memang pecah karenamunculnya agama monoteis, Yahudi, Kristen dan Islam di panggung dunia. Terhadap wahyu Allah, spekulasi filsosofismanusia yang terpandaipun kalah. Maka, bagi manusia Barat (Yahudi dan Kristiani) dan dunia Islam, renungan filosofistentang yang ilahi tergeser oleh ketaatan yang mengarahkan seluruh hidup pada wahyu yang diberikan Allah kepadamanusia. Apalagi, monoteisme membuka perspekstif yang sama sekali baru dengan penegasan bahwa hidup tidakselesai dengan kematian, melainkan masing-masing orang beda dari binatang, diciptakan untuk mencapai eksistensi yangmantap dan definitif sesudah kematian, entah di surga atau di neraka. Menurut Jurgen Habermas, munculnya agama monoteisme secara definitif memotong sebagian dari fungsifilsafat. Orang tidak lagi lari ke filsafat untuk mencari makna hidupnya maupun penjelasan tentang tujuan manusia padaumumnya. Ia merasa telah menemukannya dalam agama. Filsafat sudah sejak ratusan tahun menerima keterbatasannyaitu dan sekarang tidak lagi mengklaim bisa memberikan arahan dasar bagi manusia dalam mencari makna hidupnya. Apakah itu berarti bahwa Aristoteles pada filsafat sudah usang? Sebetulnya filsafat menurutnya lebih daripadarenungan hal-hal ilahi. Filsafat adalah usaha roh manusia untuk memahami eksistensi, dunia dan untuk menjalani
  17. 17. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 17kehidupannya tidak seperti kerbau, tanpa tahu dan peduli, melainkan dengan peduli, kritis, bermoral, cerdas. Manusiahanya manusia apabila ia merefleksikan eksistensinya apabila ia mengadapi kuasa yang ada, baik kuasa politik maupunkuasan agama, ideologi, ilmu pengetahuan dan lain-lain secara dewasa, rasional, kritis dalam perspektif penegakankeadilan dan pemanusiaan kondisi masyarakat. Seluruh alam ilmu pengetahuan, lalu komunikasi tentang kehidupandalam semua dimensi (keluarga, kampung, negara dan dunia) seperti terjadi dalam media (pers, radio, TV dan internet)merupakan dimensi khas manusia.Sikap filosofis Aristoteles menuntut keterbukaan, keinginan untuk belajar terus dan tak pernah berhenti ingin tahu, sikapkritis, sikap diskursif yang menguji gagasannya sendiri dalam diskursus dengan semua yang terlibat dan sikap rendah hatikarena seorang ”filosof” selalu akan tahun bahwa banyak sekali yang belum dipahaminya.Politik Dimensi kedua yang khas bagi manusia adalah politik. Disini pun dunia kita jauh berbeda dari dunia Arsitoteles.Dia memikirkan ”polis”, negara-negara kota khas Yunani. Dalam polis setiap warga negara dapat ikut serta mengurusmasyarakat. Karena itu dalam polis kegiatan politik memang terbuka bagi segenap warga. Bagi laki-laki Yunani, terjundalam pengurusan polis menjadi puncak cita-citanya untuk menjadi seorang terhormat. Mengapa Aristoteles menganggap kegiatan berpolis itu khas bagi manusia? Karena berpolitk merupakanpuncak kesosialan manusia dan kesosialan merupakan ciri yang khas bagi manusia. Manusia dan hanya manusia adalahzoon politikon, makhluk sosial. Tuhan (theos) tidak sosial (karena Tuhan hanya satu dan mencukup diri), tetapi binatangpun tidak sosial melainkan hanya hidup sesuai dengan insting dan dorongan indvidualnya masing- masing. Sosial bagiAristoteles berarti lebih daripada sekedar ada kerja sama, seperti halnya semut dan banyak jenis binatang lain. Hidupsecara sosial bagi Aristoteles berarti bekerja sama berdasarkan diskursus rasional bersama, pertimbangan dan debat, jadidalam kesadaran kritis. Dalam arti ini memang hanya manusialah yang sosial. Maka, untuk menjadi bahagia manusiaperlu membuat nyata hakekat sosialnya itu. Politik bukan bidang di mana kita menyatakan sifat sosial kita, melainkan bidang yang justru abstrak. Hanyasegelintir warga masyarakat dapat berpolitik dalam arti yang sebenarnya. Kita yang kebanyakan, kecuali berpartisipasidalam beberapa tindakan demokratis dan mengikuti perkembangan politik dengan prihatin melalui media, hampir tidakbisa dikatakan berpolitik. Tetapi, Aristoteles tidak boleh dimengerti dalam arti terlalu sempit. Yang mau dikatakannyaadalah: manusia adalah makhluk yang dapat menjalankan kehidupannya hanya dalam kebersamaan, dalam berpikir danberefleksi bersama, dalam perdebatan rasional dan dalam bertindak berdasarkan pertimbangan kritis bersama.Kesepakatan kita sekarang bahwa suatu negara harus diatur secara demokratis masih tetap berdasarkan pertimbanganitu. Karena kita semua secara kodrati terdorong untuk menyelesaikan masalah kita bersama-sama, maka tidak pantaskalau warga negara kebanyakan hanya menjadi objek penentuan beberapa elit. Maka, yang sebenarnya dimaksudAristoteles adalah keterlibatan penuh manusia dalam urusan masyarakatnya, dalam dimensi-dimensi yang terbukabaginya, tetapi tanpa mengesampingkan dimensi apapun mereka yang tidak langsung berpolitik tetap diharapkanmemperhatikan apa yang terjadi dalam masyarakat. Itu pun dengan penuh tanggung jawab. Epikuros pernah mengajar bahwa orang untuk bisa bahagia harus menarik diri dari urusan publik danmengembangkan diri dalam lingkungan akrab teman sealiran. Berlawanan dengan privatisme itu, Aristoteles menegaskanbahwa manusia karena hakekatnya yang sosial perlu melibatkan diri dalam urusan masyarakat bahwa ia harus beranimemikul tanggung jawab demi kemajuan masyarakat dan bahwa keterlibatan yang tentu tidak tanpa risiko itu justrumembahagiakan. Berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam semua dimensi kehidupan masyarakat tentu sesuaidengan kemungkinan kita masing-masing yang sangat berbeda. Itu juga cita-cita demokrasi deliberatif yang dipaparkanHabermas. Ada dua dimensi hakiki kehidupan manusia, yaitu dimensi roh atau rasionalitas dan dimensi sosial. Dimensirasionalitas dikembangkan dengan menjalankan hidup kita dalam semua segi dengan sadar, reflektif, terbuka dan kritis.Dimensi sosialitas kita kembangkan dengan ikut bertanggung jawab dalam urusan masyarakat.Kebijaksanaan dan Rasionalitas Dalam bahasa Yunani ”Kebijaksanaan” berasal dari kata ”sophia” dan ”phronesis”. Sophia yang artinyakebijaksanaan dalam arti kemampuan manusia untuk memandang yang ilahi, yang abadi. Sedangkan ”phronesis” adalah
  18. 18. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 18kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari dalam arti kelakuan yang bijaksana, kemampuan untuk memecahkanmasalah yang dihadapi secara bijaksana. Sophia tumbuh dari perhatian pada idea-idea, kemampuan untuk memahami hakekat realitas dan tidak padalahiriah belaka, bagaimana tatanan yang seharusnya yang mampu melihat ide dan memimpin masyarakat yangsebenarnya. Phronesis disebut juga kebijaksanaan praktis tidak terkait dengan sophia (kebijaksanaan akibat filsafat) dannegara jangan dipimpin oleh para filsosof. Negara harus dipimpin oleh orang yang bijaksana dalam menjalankan urusanantar manusia, khususnya urusan negara dan kebijaksanaan dalam kehidupan nyata, phronesis tidak ada kaitan dengansophia.Phronesis, juga dibedakan dengan Episteme. Episteme adalah ketajaman pengetahuan ilmiah, mampu menghitung,berkalkulasi, menarik kesimpulan logis. Maka Episteme membutuhkan sikap eksak ketepatan ilmu-ilmu alam, ketajamanberpikir yang dibutuhkan dalam sains. Sedangkan phronesis adalah kebijaksanaan manusia dalam bertindak yang tidakdapat dipastikan secara sains. Manusia bertindak menurut pertimbangannya dalam masalah baik dan buruk bagimanusia, bukan menurut hukum alam. Orang menjadi bijaksana karena belajar dari pengalaman dan kebiasaan dalam bertindak, Phronesis membuatmanusia menjadi pandai dan benar dalam membawa diri dan dalam berkomunikasi dengan orang lain.Soal / TugasJawablah pertanyaan berikut ini!1. Apakah gunanya berfilsafat menurut Aristoteles?2. Apakah arti berpolitik menurut Aristoteles dan bagaimana dengan kondisi sekarang?3. Apakah kebijaksanaan itu! Jelaskanlah menurut pendapat Aristoteles?4. Bagaimana kedudukan rasionalitas dan fungsi manusia?Daftar Pustaka:1. Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia. Cet. Ke 3. Bandung. Remaja Rosdakarya.2. Franz Magnis-Suseno. 2009. Menjadi Manusia. Jokyakarta. Kanisius.3. Kartanegara, Mulyadi. 2005. The Best Chicken Soup of The Philosophers (terj. Ahmad Fadhil). Jakarta. Himah.4. Rapar, Jan Hndrik. 2005. Pengantar Filsafat. Cet. Ke-10. Jokyakarta. Kanisius.5. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula (terj.) Cet. Ke-1. Jokyakarta. Kanisius.
  19. 19. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 19 MODUL 5 ESENSI MANUSIA: FILSUF ATHUR SCHOPENHAUR (1788-1868)Tujuan Instruksional UmumSetelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis esensi manusia menurut filsuh Athur Schopenhauer(1788-1868)..Tujuan Instruksional KhususSetelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis esensi manusiamenurut filsuh Athur Schopenhauer (1788-1868)..yang meliputi sebagai berikut: • Dunia sebagai kehendak • Kebijaksanaan hidup • Kebijaksanaan dari kematian dan tragedy wanita • Evaluasi kritis terhadap pemikiran SchopenhauerMateri PembahasanDunia sebagai kehendak Filsafat Schopenhauer adalah kejelasan dan kekonkretannya. Kita harus hidup terlebih dahulu, baru kemudianberfilsafat (prium vivere, deinde philosophary). Dia mengomentasi filsafat Hegel yang mengabaikan kekuatan irrasional(nonrasio atau nonintelek), yakni kehendak. Dimata, Hegel, katanya "hidup tidak membiarkan kita berkata sepatah punselain tentang kebaikan" (de vivis nil nisi bonum). Akan tetapi dia memuji semangat Hegel dalam mencari kebenaran.Katanya "hidup teramat pendek, tapi kebenaran berlaku lama dan berumur panjang, oleh sebab itu, mari kita bicaratentang kebenaran" Schopenhauer pun menyerang materialisme. Ia tidak henti-hentinya bertanya, "bagaimana kita bisamenjelaskan bahwa jiwa adalah materi, kalau kita mengetahui materi melalui jiwa, melalui diri kita sendiri? Dunia sebagaikehendak dilihat sebagai berikut.1. Kehendak Untuk Hidup Hampir tanpa kecuali, semua filosuf sebelum Schopenhauer memandang kesadaran atau intelek atau rasiosebagai hakikat jiwa. Manusia disebut hewan yang berakal, sebagai "animale rarionale". Schopenhauer mengkritikanggapan tersebut. Kesadaran dan intelek pada dasarnya hanya merupakan permukaan jiwa kita. Seperti dulu banyakorang tidak mengetahui hakikat bumi kecuali permukaanya, demikian pula filosuf sampai sekarang baru mengetahuipermukaan jiwa, yakni intelek atau kesadaran, tetapi tidak mengetahui hakikat jiwa yang sesungguhnya. Dibawah intelek sesungguhnya terdapat kehendak yang tidak sadar, suatu daya atau kekuatan hidup abadi,suatu kehendak dari keinginan yang kuat. Intelek kadang-kadang memang mengendalikan kehendak, tapi hanya sebagaipembantu yang mengantar tuannya. "Kehendak adalah orang kuat yang buta mengendong orang lumpuh yang melek" Orang yang berebut makanan, mengadakan hubungan seksual atau perbuatan anak-anak misalnya, merekatidak mengandalkan refleksi. Sumber dari perbuatan mereka adalah kehendak yang setengah sadar untuk hidup."Manusia kelihatannya saja ditarik dari depan, yang benarnya, mereka didorong dari belakang". Mereka mengiradibimbing oleh apa yang mereka lihat: kenyataannya mereka didorong oleh apa yang mereka rasakan – yakni, oleh naluri-naluri yang beradanya tidak mereka sadari. Intelek hanyalah "the minister of foreign affairs", alam menciptakan intelekuntuk melayani kehendak individu. Oleh sebab itu, intelek dirancang hanya untuk mengetahui hal-hal yang bersangkut-paut dengan kehendak. Kehendak adalah satu-satunya unsur yang permanen dan tidak dapat berubah di dalam jiwa.Kehendak merupakan pemersatu kesadaran, pemersatu ide-ide dan pemikiran-pemikiran serta mengikatnya dalam satukesatuan yang harmonis. Kehendak adalah pusat organ pikiran".
  20. 20. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 20 Karakter atau watak merupakan kontinuitas tujuan dan sikap dan ia terletak di dalam kehendak, bukan di dalamintelek. Bahasa sehari-hari dengan tepat sekali menunjukkan pada "hati" dan bukannya pada "kepala" Kehendak baiklebih mendalam dan lebih dapat dipercaya daripada "pikiran yang jernih" Semua agama menjanjikan ganjaran untukkeunggulan kehendak atau hati, tapi tidak untuk keunggulan kepala dan intelek. Tubuh pun merupakan hasil dari kehendak. Darah yang didorong oleh kehendak, kehendak untuk mengetahuiuntuk membangun otak. Intelek bisa letih, kehendak selalu terjaga. Intelek perlu tidur, kehendak bekerja dalam tidur.Letihnya intelek karena ia berada di dalam otak, tetapi bagi urat-urat yang tidak berhubungan dengan hati, tidak pernahmerasakan rasanya lelah. Dalam tidur otak memerlukan makanan, namun kehendak tidak memerlukan apapun untukdimakan. Dalam tidur segenap kekuatan kekuatan dari kehendak diarahkan untuk melindungi dan memperbaikiorganisme. Tidur adalah sepenggal kematian yang dipinjam untuk menjaga dan memperbaharui bagian-bagian darikehidupan kita yang sudah aus. Jadi, Kehendak adalah hakikat manusia, akan tetapi apakah kehendak pun merupakanhakikat dari segala-galanya, yakni segalanya yang ada di permukaan bumi ini? Semakin rendah bentuk kehidupan, semakin kecil peran intelek. Akan tetapi tidak demikian halnya dengankehendak. Intelek mengejar segenap tujuannya melalui cahaya pengetahuan, tapi tidak demikian halnya dengankehendak, kehendak berusaha secara buta dan tuli. Ketidaksadaran, bagaimanapun adalah kondisi asli dan alami darisegala sesuatu. Hewan perilaku mereka secara kebetulan bukan hasil penalaran. Perilaku-perilaku mereka adalahekspresi-ekspresi dari kehendak, bukan dari intelek. Kehendak, tentu saja adalah kehendak untuk hidup dan kehendakuntuk memaksimumkan kehidupan. Sedangkan musuh abadi dari kehendak untuk hidup adalah kematian. Akan tetapibisakah kehendak untuk hidup mengalahkan kematian.2. Kehendak Untuk Reproduksi Kehendak tidak memerlukan pengetahuan, ia bekerja dalam kegelapan, karena pada dasarnya ia tidak sadar,demikian organ-organ reproduktif sesungguhnya merupakan titik pusat dari kehendak dan membentuk kutub yangberlawanan dengan otak yang diwakili oleh pengetahuan. Kehendak adalah prinsip yang menopang kehidupan, iamenjamin kehidupan abadi.Kebijaksanaan Hidup Orang yang mengejar kekayaan seringkali diejek dengan berbagai sebutan: mata duitan, serakah, perampok.Adalah alamiah kalau manusia mengejar seuatu yang gampang dipertukarkan dengan benda-benda karena akanmempermudah kehidupannya. Hanya saja kehidupan yang sepenuhnya dicurahkan untuk mengejar kekayaan padaprinsipnya kehidupan yang tidak berguna, kecuali bagaimana kekayaan itu diubah menjadi kenikmatan. Hal itu tidakmudah karena memerlukan seni, peradaban dan kebijaksanaan. Mengejar kepuasan indrawi tidak akan memberikankenikmatan untuk jangka panjang, orang perlu paham tentang tujuan hidup, disamping seni untuk mencapai tujuan-tujuantersebut. Laki-laki seribu kali lebih bergairah untuk menjadi kaya dibandingkan untuk menjadi berbudaya, meskipunsangat pasti bahwa keberadaannya (is) jauh lebih bisa memberikan kebahagiaan daripada apa yang dimilikinya (have).Seorang manusia yang tidak mempunyai kebutuhan mental dinamakan tidak berbudaya, ia tidak tahu apa yang harusdilakukan dengan waktu luangnya, ia bingung mencari sensasi-sensai baru dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnyaia ditaklukkan oleh kebosanan yang selalu membayang-bayanginya. Bukan kekayaan melainkan kebijaksanaanlah yang merupakan jalan. Manusia adalah makhluk yangberkehendak (yang sumbernya terletak pada sistem reproduksi) dan baru kemudian sebagai subjek dari pengetahuanmurni (yang sumbernya adalah otak). Filsafat berfungsi sebagai alat untuk memurnikan kehendak, hiduplah sebelummembaca buku-buku, bacalah teks sebelum membaca komentar, satu karya tulis jenius lebih baik daripada seribukomentar. Sangat berguna mengejar peradaban karena kebahagian kita tergantung pada apa yang ada dalam kepalakita, bukan pada apa yang kita miliki di dalam kantong kita. Menurut Aristoteles " bahagia berarti menjadi diri yangsederhana". Jenius adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan yang tidak banyak unsur kehendaknya (will-less knowledge).Bentuk paling rendah dari seluruh kehidupan berasal dari kehendak, tampa pengetahuan manusia kebanyakan adalahsebagian besar kehendak sedikit pengetahuan, jenius adalah sebagian besar pengetahuan dan sedikit kehendak. Pada
  21. 21. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 21manusia jenius, aktivitas reproduktif berada jauh di luar aktivitas intelektual. Jenius adalah keunggulan yang tidak normaldari perasaan dan sikap lekas marah terhadap kekuatan reproduktif. Itulah sebabnya ada permusuhan yang sengit antarajenius dengan wanita, Wanita merupakan simbol dari reproduksi dari tunduknya intelek pada kehendak. Wanita bisa sajapunya bakat, tapi tidak jenius karena selalu tetap subjektif. Bersama wanita segala sesuatu adalah personal dandipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi, sebaliknya, jenius adalah objektivitas yang paling lengkap. Jeniusadalah daya atau kekuatan yang meninggalkan kepentingan sendiri, menghapus keinginan dan tujuan sendiri, menundakeperibadiannya untuk sementara waktu, sehingga bisa menjadi subjek yang sungguh-sungguh mengatahui dan visinyatentang dunia yang jelas. Oleh sebab itu ekspresi dari seorang jenius adalah : pada wajah jenius unggulnya pengetahuanatas kehendak.Kebijaksanaan dari Kematian dan Tragedi Wanita Satu-satunya penakluk akhir dan radikal atas kehendak adalah menghentikan sumber kehidupan, yaitukehendak untuk reproduksi. Kepuasan yang timbul akibat dorongan reproduktif harus dikutuk karena kepuasan seperti itumerupakan penegasan yang paling kuat atas nafsu untuk hidup. Beranak pinak dengan demikian bisa disebut kejahatan. Jika kita berpikir tentang rusuhnya kehidupan, maka kita melihat bahwa semuanya itu bersumber dari keinginandan kesengsaraan, yang memaksa seluruh kekuatannya untuk memenuhi kebutuhannya yang tak terbatas, dan untukmenangkis penderitaannya yang bermacam-macam. Yang terutama melakukan kejahatan itu adalah wanita, karena ketika pengetahuan telah sampai pada tiadanyakehendak, persona yang bodoh dari perempuan menggoda lagi laki-laki untuk beranak pinak. Anak-anak muda tidakcukup cerdas untuk melihat betapa singkatnya pesona wanita tersebut dan ketika akal sehat mulai berfungsi lagi, ia sudahlama terperosok. Pemujaan terhadap wanita merupakan produk dari Kristianitas dan sentimentalitas Jerman. Sebaliknya,pemujaan itu merupakan sebab dari gerakan romantik yang memuja perasaan, naluri dan kehendak di atas intelek. OrangAsia tahu lebih baik tentang inferioritas wanita dan mereka tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Kalau undang-undangmemberi hak yang sama dengan laki-laki, mereka pun seharusnya mempunyai intelek-intelek yang maskulin. Orang-orang Asia pun menunjukkan keunggulan dalam masalah perkawinan daripada orang-orang Eropa, mereka menerimapoligami sebagai suatu yang normal dan wajar, sementara orang-orang Eropa, meskipun mempraktikkannya, menutup-nutupi kenyataan itu dengan pelbagai alasan dan ungkapan yang tidak masuk akal. Sungguh absurd memberikan kepadaperempuan hak yang sama dengan laki-laki, khususnya dalam bidang kekayaan. Semua wanita dengan sedikitpengecualian, cenderung untuk menghambur-hamburkan uang, karena mereka hidup untuk hari ini, olah raga merekaadalah adalah berbelanja. Mereka mengira bahwa bekerja adalah tugas laki-laki sedangkan tugas mereka hanyamembelanjakan hasil keringat suaminya. Korupsi besar-besaran yang memuncak dalam bentuk revolusi Perancisdisebabkan oleh kemewahan dan keroyalan wanita pada masa Louis XII. Oleh sebab itu, semakin kurang kita berhubungan dengan wanita, semakin baiklah hidup kita. Hidup terasalebih aman, lebih menyenangkan dan lebih halus tanpa wanita. Biarkanlah para lelaki memahami jerat yang dipasangpada kecantikan wanita, maka komedi absurd reproduksi (pasti) akan berakhir. Perkembangan intelegensi akanmemperlemah kehendak untuk bereproduksi dan dengan demikian suatu ras akan punah. Dan, dengan begitu,penderitaan hidup akan berakhir.Evaluasi kritis terhadap pemikiran Schopenhauer Tanggapan terhadap pemikiran Schopenhauer berkisar pada diagnosa medis terhadap zaman dan manusianyasendiri. Zaman dimana dia hidup adalah zaman setelah Aleksander Agung (Yunani) dan setelah Caesar (Romawi)meninggal, pada zaman itu Eropa (Yunani – Romawi) dibanjiri keyakinan dan sikap Oriental (Timur). Ciri utama keyakinandan sikap Timur adalah tekanan kepada kehendak sebagai suatu kekuatan eksternal, yang kekuatannya lebih besar didalam alam ketimbang di dalam manusia. Keyakinan dan sikap ini pada akhirnya membawa kita kepada doktrin tentangketidakberdayaan dan keputusasaan manusia. Perang Napoleon membuat lelah jiwa Eropa, yang ekspresi kelelahannyadisuarakan oleh Schopenhauer. Eropa menderita sakit yang sangat pada pada tahun 1815.
  22. 22. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 22 Diagnosa terhadap manusianya bisa dimulai dari pengakuan Schopenhauer bahwa kebahagiaan manusiatergantung pada keberadaannya dan bukan pada lingkungan luarnya. Pesimisme adalah tuduhan yang dilancarkan olehorang-orang yang pesimis. Pesimisme berhubungan dengan usia, setelah berusia tiga puluhan tidak ada pemisisme, hanya terdapat padadiri anak-anak yang merasa mewah dan dirinya penting. Dengan sendirinya akan hilang begitu anak dewasa. Bagaimanamungkin seorang laki-laki bisa menolak feminisme yang telah hidup dan berkembang hampir sepanjang hidup umatmanusia? Schopenhauer berhasil mengajarkan kepada kita tentang keniscayaan jenius dan nilai seni, ia melihat bahwakebaikan yang tertinggi adalah keindahan dan bahwa kenikmatan yang paling mendalam terletak pada penciptaan karyaseni dan kesenangan pada yang indah. Bersama Goethe dan Carlyle, ia menentang usaha Hegel, Marx dan Buckle untukmenhapuskan jenius sebagai faktor fundamental dalam sejarah manusia. Dalam suatu zaman ketika semua orang besarhendak dikubur, ia justru mengajarkan sekali lagi pemujaan pada para pahlawan dan dengan segala kegagalannya iaberhasil menambahkan nama lain kepada mereka. Yang sangat mengesankan adalah kemampuan Schopenhauer dalam membuka mata para psikolog padakekuatan naluri yang paling dalam, halus dan ada di mana-mana. Intelektualisme yakni konsepsi tentang manusiasebagai hewan yang melulu berpikir, hewan yang mampu hanya menggunakan rasio atau intelek dalam mengejar setiaptujuan hidupnya – jatuh sakit bersama Rouusseaum terbujur kaku bersama Kant dan kehilangan jiwa bersamaSchopenhauer. Setelah dua abad analisis introspektif, filsafat akhirnya menemukan adanya deminasi keinginan,dibelakang pemikiran dan dibelakang intelek. Filsafat menemukan naluri dan setelah satu abad materialisme, fisikamenemukan energi, dibelakang materi. Kita berhutang budi pula pada Schopenhauer, karena ia berhasil mengungkapkanrahasia hati kepada kita, menunjukkan bahwa filsafat adalah keinginan kita dan pemikiran bukanlah perhitungan abstraksemata-mata tentang peristiwa inpersonal, melainkan alat tindakan dan keinginan yang fleksibel.Soal / TugasJawablah pertanyaan berikut ini!1. Gambarkanlah tentang dunia sebagai suatu kehendak dalam pandangan berbagai filsuf?2. Jelaskanlah apa arti dan makna kebijaksaaan dalam filsafat manusia?3. Bagaimana fenomena wanita menurt filsuf Schopenhauer?4. Jelaskanlah sedikit kritik tehadap pemikiran Schopenhauer?Daftar Pustaka:1. Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia. Cet. Ke 3. Bandung. Remaja Rosdakarya.2. Kartanegara, Mulyadi. 2005. The Best Chicken Soup of The Philosophers (terj. Ahmad Fadhil). Jakarta. Himah3. Rapar, Jan Hndrik. 2005. Pengantar Filsafat. Cet. Ke-10. Jokyakarta. Kanisius.4. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula (terj.) Cet. Ke-1. Jokyakarta. Kanisius..
  23. 23. Dr. Syahrial Syarbaini, MA., Modul FIl-MAN 23 MODUL 6 BAHASA DAN KEHIDUPANTujuan Instruksional UmumSetelah perkualiahan ini mahasiswa diharapan dapat menganalisis bahasa dan kehidupan manusia.Tujuan Instruksional KhususSetelah pembahasan dalam modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menganalisis bahasa dan kehidupanmanusia meliputi sebagai berikut: • Arti isyarat, lambang dan struktur internnya • Perbedaan fundamental bahasa binatang dengan manusia • Asimilasi, memulihan dan repruduksi merupakan kegiatan-kegiatan yang khas makhluk hidup • Perbedaan sehubungan dengan reaksi, antara makhluk hidup dengan mesin • Makhluk hidup bukanlah suatu yang sederhana. • Arti dualisme Plato dan tantangan Aristoteles? • Tanggapan filosuf abad pertengahan dan kontemporer tentang badan dan jiwa • Badan manusia didefinisikanMateri PembahasanBahasa Berbicara adalah suatu gejala yang sudah dikenal dengan dan jelas sehingga secara relatif mudah dipelajarioleh setiap orang baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain. Kita tetap sedang berbicara dengan seseorangataupun mendengarkan seseorang sedang berbicara. Bahkan apabila kita sedang mendengarkan apa-apa, kita tak henti-hentinya berbicara dalam diri kita sendiri. Perkuliahan yangan ejekan-ejekan yang kita ucapkan dalam hati kita sendiriyang terjadi pada waktu kita sedang membaca dengan berdialog intensif dan tanpa suara dengan sang penulis . Bila kita sedang sendirian kita tidak hentinya berbicara di dalam hati. Meskipun dalam lamunan itu kita tidakbicara dengan orang lain, setidaknya kita berbicara dengan diri sendiri untuk menyalahkan, membenarkan, memuji ataumenentramkan diri. Demikian pembicaraan menyertai segala aktivitas kita, mengemukan atau menafsirkan setiap gerakkita, memenuhi saat istirahat kita dan bergema sampai ke dalam liku-liku bawah sadar kita. Karena berbicara mengisi eksistensi manusia dan memberi ciri khas kepadanya, daya bicara itu selalu menjadiobjek observasi serta refleksi bagi filosuf. Manusia telah diciptakan menurut Tuhan agar menguasai bumi, manusia bisaberbicara dengan lidahnya serta isyarat dengan tangannya, maka ia melebihi binatang-binatang. Kemampuan berbicarapada manusia merupakan lambang atau alat dari roh, alat yang memungkinkannya untuk mengukur segala benda danmengisyaratkan segala realitas. Pada zaman ini penuturan serta bahasa, seperti halnya mitos dan simbol telah menjadi pokok-pokokpengamatan yang sangat disukai dalam berbagai penyelidikan dan pembahasan, bukan saja di kalangan para filosuftetapi juga dikalangan para psikolog dan antropolog. Para filosuf komtemporer, seperti M. Merleau Ponty dan PaulRicoveur (Leahy: 208:40-42) menjelaskan bahwa bahasa tidak hanya mengemukan pikiran, tetapi juga membentuknya,mempelajari bermacam-macam lambang yang dapat dipakai untuk mengutarakan pengalaman. Manusia hidup dalam suatu alam semesta simbolik. Bahasa, mitos, seni dan agama merupakan bagian-bagiandari semesta itu. Perilaku manusia memang telah didefinisikan sebagai ”perilaku simbolik”, menggunakan simbol-simbolmanusia memberikan arti kepada hidupnya, serta secara kultural mendefinisikan pengalaman-pengalamannya yang diaturdengan kelompok tempat dia dilahirkan dan tempat dia menjadi anggota aktif melalui proses penerimaan pengatahuan.Berkat bahasalah manusia menghadiri dunia dan dunia menghadiri pikiran. Bahasa mewahyukan ”ada” dari dunia. ”ada”dari manusia dan ”ada dari pikiran (2008:41).

×