Makalahku Kelahiran PGRI
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Makalahku Kelahiran PGRI

on

  • 3,721 views

Makalah Kelahiran PGRI

Makalah Kelahiran PGRI

Statistics

Views

Total Views
3,721
Views on SlideShare
3,721
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
49
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Makalahku Kelahiran PGRI Makalahku Kelahiran PGRI Document Transcript

  • KELAHIRAN PGRI Disusun guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah : PSP PGRI Disusun Oleh : Nama NPM Kelas : Suci Lintiasri : 12120432 : 2i PROGRAM STUDI S1 PGSD FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI SEMARANG 2013
  • KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu. Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Kelahiran PGRI", yang menurut saya dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari sejarah agama islam. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca. Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat. Semarang, 26 Maret 2013 Penyusun 2
  • DAFTAR ISI Kata Pengantar 2 Bab I Pendahuluan 4 Latar Belakang 4 Rumusan Masalah 4 Tujuan 4 Bab II Pembahasan 5 Sejarah kelahiran PGRI 5 Pelaksanaan konggres PGRI 8 Tujuan dan jati diri PGRI 15 Penetapan PGRI Sebagai Organisasi Perjuangan 16 PGRI pada era reformasi 19 Bab III Penutup 21 Kesimpulan 21 Saran 21 Daftar Pustaka 22 3
  • BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang PGRI adalah organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan yang berfokus pada bidang keguruan. PGRI sebagai tempat berhimpunnya segenap guru dan tenaga kependidikan lainnya merupakan organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang berdasarkan Pancasila, bersifat independen, dan non politik praktis, secara aktif menjaga, memelihara, mempertahankan, dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa yang dijiwai semangat kekeluargaan, kesetiakawanan sosial yang kokoh serta sejahtera lahir batin, dan kesetiakawanan organisasi baik nasional maupun internasional. Organisasi perjuangan huru-guru pribumi pada zaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Tahun 1932 nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana sejarah kelahiran PGRI pada zaman kemerdekaan? 2. Bagaimana pelaksanaan konggres PGRI? 3. Apa saja tujuan dan jati diri PGRI? 4. Bagaimana penetapan PGRI Sebagai Organisasi Perjuangan dalam Memasuki Era Baru Awal Abad XXI? C. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah memberikan wawasan dan sedikit ilmu pengetahuan agar kiranya pembaca lebih mendalami sejarah kelahiran PGRI dan kiprah perjuangan PGRI. 4
  • BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Kelahiran PGRI Sebelum pecah perang dunia kedua ketika Indonesia berada dalam kekuasaaan Pemerintah Kolonial Belanda berbagai macam organisasi guru berdiri. Kehidupan organisasi guru tersebut diwarnai dengan berbagai macam pengaruh dari luar, baik yang bersifat kebijaksanaan pemerintahan kolonial maupun kondisi masyarakat waktu itu Oraganisasi guru yang lahir waktu itu diwarnai, antara lain oleh hal-hal berikut : 1. Kesadaran korps dengan segala aspek-aspeknya. 2. Kebangkitan Nasional yang menggandrungi kemerdekaan bangsa yang disadari keharusan adanya persatuan bangsa akan tetapi belum dapat menemukan bentuk wadahnya yang cocok. 3. Politik devide et impera oleh pemerintah kolonial. Kesadaran nasional, kesadaran kan persatuan dan kesadarankorps profesi guru sudah lahir pada guru sebelum perang. Anggota Budi Oetomo waktu itu kebanyakan dan lahir dari lingkungan guru-guru. Logis memang hal ini tidak lepas karena di negara terbelakang dan atau jajahan manapun di masa lalu warga masyarakat umum yang dianggap terdidik adalah orang-orang terdidik atau bersekolah sesuai dengan keperluan untuk dijadikan aparat pemerintahan kolonial dan yang keduanya adalah guru-guru. Rakyat umum cukup hanya bias baca tulis saja. Pada tahun 1912 berdirilah suatu organisaasi guru yang besifat uni, yaitu PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda) yang keanggotaannya meliputi guru-guru tanpa memandang ijazah, status, tempat kerja, keyakinan agama, dan lain-lain. Salah satu kegiatan PGHB yang menonjol di bidang sosial adalah didirikannya perseroan asuransi “Bumi Putra” langsung di bawah pimpinan PGHB. Ketua Pengurus Besar PGHB pertama dan pendiri perseroan asuransi “Bumi Putra” tersebut adalah Sdr. Karta Hadi Soebroto. Perseroan tersebut akhirnya berdiri sendiri lepas dari kaitan gerakan kaum guru. Sungguh menyedihkan bahwa dari kelahiran persatuan yang bulat itu akhirnya harus mengalami masa perpecahan dalam bentuk organisasi-organisasi yang berdasarkan ijazah, lapangan kerja, dan lain-lain. 5
  • Mulai tahun 1919-an lahir berbagai organisasi guru, yaitu : 1. PGB (Persatuan Guru Bantu) 2. PNB (Perserikatan Normal School) 3. KSB (Kweek School Band) 4. SOB (School Opziener Bond) 5. PGD (Persatuan Guru Desa) 6. VOB (Vaks Onderwijzer Bond) 7. PGAS (Persatuan Guru Ambacht School) 8. HKSB (Hoogere Kweek School Bond) 9. NIOG (Netherlands Indische Onderwijzer Genootschap) 10. OVO (Onderwijzer Vaks Organisative/lulusan HIK) 11. COV (Christelijke Onderwijzer Vereeniging) 12. KOB (Katholieke Onderwijzer Bond) 13. COB (Chinese Onderwijzer Bond) 14. Vereeniging van leeraen voor het Middelbaaronderwijs, dan sebagainya. Usaha-usaha untuk mengatasi keadaan organisasi yang sudah berkelompok-kelompok ini dalam bentuk federasi, termasuk mengaktifakn terus PGHB yang pada tahun 1932 diganti PGI (Persatuan Guru Indonesia) ternyata tidk berhasil menolong keadaan secara efektif. Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, praktis tidak ada satupun organisasi masyarakat yang tampil kecuali organissasi bentukan Jepang. Di Jakarta, antara lain ada satu bentuk perserikatan guru dengannama “Guru” dipimpib oleh Sdr. Amin Singgih didampingi oleh beberapa orang Kepala Sekolah yaitu Saudara-saudara Adam Bachtiar, Soebroto, Ny. Woworuntu, Dan lain-lain tapi tidak terbentuk organisasi yang jelas. Guru-guru dan tokoh-tokoh aktivis organisasi di lingkungan kegururan lebih banyak mengambil kesempatan bergerak sebagai pemimpin organisasi PETA, Keibodan, Seinendan, Fujinkai, (bagi guru wanita) dan sebagainya yang kesemuanya itu akhirnya berhikmah menjadi sarana mempercepat proses pertumbuhan kesadaran nasional, pembentukan rasa kesatuan bangsa dan rasa lebuh gandrung akan Kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa secepatcepatnya. 6
  • Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, oleh Bung Karno dan Bung Hatrta atas nama Bangsa Indonesia merombak perikehidupan masyarakat bangsa dalam berbagai bidang kehidupan. Selanjtnya, hidup sebagai bangsa yang dijajah menjadi negara yang merdeka, berdiri sendiri, bertanggung jawab mengurus rumah tangganya sendiri di antara kehidupan bangsa-bangsa dunia. Tantangan yang pertama dikhadapi adalah merebut kekuasaan pemerintah dari tangan tentara pendudukan Jepang dan mempertahankan/menegakkan kemerdekaan dari serangan tentara kolonial Belanda dengan perlindungan tentara Sekutu yang berusaha ingin kemballi berkuasa di bumi nusantara. Disamping itu, kita juga harus menyususn dan menata kehidupan berpemerintahan dan bernegara sebagaimana layaknya suatu bangsa yang merdeka. Dalam suasana yang masih banyak diwarnai oleh trauma menjadi bangsa yang terjajah, gelora revolusi merebut dan memepertahankan kemerdekaan berkobar dimana-mana dalam setiap dada rakyat Indonesia. Negara Republik Indonesia sudah merdeka yang diproklamsikan oleh Nung Karno dan Bung Hatta mewakili bangsa Indonesia merombak perikehidupan bangsa Indonesia . Bangsa kita hidup dari penjajahan kolonial Belanda, sekarang menjadi bangsa yang merdeka, berdiri sendiri bertanggung jawab dan berumah tangga sendiri. Setelah pengumuman kemerdekaan RI masih ada tantangan dari penjajah Jepang dan kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Melalui pertempuran di Surabaya dengan sekutu, NICA_Belanda ingin membonceng tentara sekutu Inggris. Perang kemerdekaan RI, kegiatan yang bersifat nasional, regional, ataupun lokal, tetapi tujuannya tetap satu demi tegaknya kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Di saat memuncak Gelora Revolusi, maka pada tanggal 23 November sampai dengan 25 November 1945 dibukalah Kongres PGRI pertama di Surakarta. Tempat pembukaannya adalah di Gedung Sana Harsana (Pasar Pon) dan tempat kongresnya di Gedung Van Deventer School, sekarang ditempati SMP Negeri 3 Surakarta. Pada waktu kongres mendapat sambutan miltraliyur Belanda dari kapal udara yang mengadakan operasi militernya dengan sasaran gedung RRI Surakarta. Organisasi PGRI yang baru lahir itu bersifat : 1) unitaristis, 2) independen, 3)non partai politik serta keanggotaannya tanpa pandang perbedaan ijasah, status, tempat kerja, jenis kelamin, dan keyakinan agama dan lain sebagainya. Kehadiran PGRI sebagi wadah dan sarana PGRI yang sedang berevolusi Kemerdekaan, merupakan manifestasi akan keinsyafan dan rasa tangggung jawab kaum guru Indonesia dalam memenuhi kewajiban akan pengabdiannya serta partisispasinya kepada perjuangan menegakkan untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. 7
  • Guru-guru sadar kan tugasnya, bahwa pendidikan adalah sarana utama dalam pembangunan bangsa dan negara, mereka melaksanakan dwifunsi dalam baktinya yaitu : di garis belakang mendidik dan mengajar di sekolah-sekolah biasa, sekolah peralihan, sekolah pengungsian. Disampingnya kerja sama dengan para bapak/ibu mendirikan dapur umum dan mempersiapkan makanan tahan lama untuk para pejuang di garis depan. Kecuali itu mereka menjadi pemimpin /komandan barisan tentara : BKR, TKR, TRI/TNI, BARA, API, BBRI, Hizbullah, Sabilillah, Laskar Rakyat, LASWI, KRIS, PMIU dan para pejuang lainnya. Jika kita meneliti dalam mukadimah AD/ART PGRI dan meneliti kehidupannya organisasi, sejak kelahirannya sampai sekarang dapat disimpulkan sebagai berikut : a. PGRI lahir karena hikamah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17Agustus 1945, merupakan manifestasi aspirasi kaum guru Indonesia, untuk mengambil bagian dan bertanggung jawab sesuai dengan bidang profesinya sebagai pendidik bangsa demi tercapainya cita-cita kemerdekan. b. PGRI mempunyai commited kepada NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. c. PGRI berbatang tubuh suatu organisasi berlandaskan proklamasi. Suatu organisasi pemersatu kaum guru bersifat : 1) unitaristis, 2) independen, 3) non partai politik. Juga merupakan sarana, wahana, usaha kepentingan kaum guru, bagi pengembangan profesinya, pendidikan pada umumnya serta pengembanagan kepada tanah air dan bangsa. d. PGRI adalah suatu organisasi profesi guru yang lahir dan mewariskan jiwa, semanagat, dan nilai-nilai 1945 secara teru-menerus kepada setiap generasi bangsa Indonesia. B. Pelaksanaan Kongres PGRI Lahirnya guru berawal dari lahirnya PGRI. Dimana tepat 100 hari setelah kemerdekaan, di saat memuncak Gelora Revolusi, maka pada tanggal 23 November sampai dengan 25 November 1945 dibukalah : 1. Kongres PGRI pertama di Surakarta. Tempat pembukaannya adalah di Gedung Sana Harsana (Pasar Pon) dan tempat kongresnya di Gedung Van Deventer School, sekarang ditempati SMP Negeri 3 Surakarta. Pada waktu kongres mendapat sambutan miltraliyur Belanda dari kapal udara yang mengadakan operasi militernya dengan sasaran gedung RRI Surakarta. Organisasi PGRI yang baru lahir itu mempunyai sifat sekaligus asas bagi PGRI : 8
  • 1) Unitarististik PGRI menetapkan unitaristik sebagai asas perjuangan karena PGRI ingin menyatukan semua potensi yang ada. Organisasi PGRI tidak memberlakukan adanya diskriminasi yaitu tidak membeda-bedakan latar belakang seorang guru baik itu agama, suku bangsa, jenis kelamin, kedudukan, berbeda tempat dan jenjang pengabdian, berbeda aspirasinya. Kebhinekaan ini merupakan potensi bangsa yang dipadukan sebagai perekat bangsa. 2) Independent PGRI merupakan organisasi yang mandiri dan tidak bergantung pada pihak manapun. Asas ini memotivasi organisasi untuk mampu dan mau berdiri sendiri diatas kaki sendiri sehingga kemandirian ini akan mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan, dedikasi yang tinggi, serta semangat kerja keras. 3) Non partai politik PGRI sebagai suatu organisasi yang tidak mengikatkan diri pada salah satu kekuatan social politik yang ada pada PGRI memberikan kebebasan kepada anggotanya dalam menyalurkan aspirasinya. Guru-guru sadar akan tugasnya bahwa pendidikan adalah sarana utama dlam pembangunan bangsa dan Negara, mereka melaksanakan dwi fungsi dalam kerjanya, yaitu :di garis belakang mendidik dan mengajar di sekolah-sekolah biasa, sekolah peralihan, sekolah pengungsian. Di samping itu, mereka juga melakukan kerjasama dengan masyarakat mendirikan dapur umum dan mempersiapkan maknn untuk para pejuang di garis depan. Kecuali itu mereka menjadi pemimpin/ komandan barisan tentara :BKR, TKR, TRI,/ TNI, BARA, API, Hiazbullah, Sabilillah, Pesindo, Laskar Rakyat, PMI dan para pejuang lainnya. Sejak kelahiran PGRI dapat disimpulkan bahwa hakekat berdirinya : a. PGRI lahir karena hikmah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dan juga merupakan manifestasi aspirasi kaum guru indonesia. Untuk mengambil bagian dan tanggung jawab sesuai dengan bidang dan profesinya sebagai pendidik bangsa demi tercapainya cita-cita kemredekaan. b. PGRI mempunyai komitmen kepada NKRI yang berdasarkan pancasila dan UUD 45. 9
  • c. PGRI berbatang tubuh suatu organisasi berlandaskan proklamasi, suatu organisasi pemersatu kaum guru. Juga merupakan suatu wahana untuk kepentingan kaum guru, bagi pengembangan profesi, pendidikan pada umumnya serta pengabdian kepada tanah air dan bangsa. d. PGRI adalah suatu organisasi profesi guru yang lahir, dan mewariskan jiwa, semangat dan nilai-nilai 1945 secara terus menerus kepada setiap generasi bangsa Indonesia. 2. Kongres PGRI II dan III Kongres PGRI II dilaksanakan di Surakarta tahun 1946 dan kongres PGRI III dilaksanakan di Madiun tahun 1948. Kedua kongres ini merupakan kongres yang dilaksanakan saat memuncaknya perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajahan Belanda yang berusaha merebut kembali daerah jajahannya dan melaksanakan politik adu domba, memecah belah wilayah Indonesia dan melemahkan semangat perjuangan bangsa Indonesia. Melalui kongres PGRI II di Surakarta dan Kongres PGRI III di Madiun, PGRI telah menggariskan haluan dan sifat perjuangannya, yaitu: 1. Mempertahankan NKRI 2. Meningkatkan tingkat pendidikan dan pengajaran nasional sesuai dengan dasar falsafah Negara Pancasila dan UUD 1945 3. Tidak bergerak dalam lapangan politik 4. Sifat dan siasat perjuangan PGRI :  Bersifat korektif konstruktif terhadap pemerintah  Bekerjasama dengan pekerja lainnya  Bekerjasama dengan badan-badan lainnya, parpol, organisasi pendidikan, badan-badan perjuangan. 5. Bergerak ditengah-tengah masyarakat Keputusan Kongres PGRI II adalah wujud dari tanggung jawab nasional PGRI dalam upaya memperbaiki sistem pendidikan kolonial ke arah sistem pendidikan nadional. Perjuangan 10
  • PGRI menjadikan berlakunya Pendidikan Nasional terus berlangsung. Melalui pemikiran tokohtokoh PGRI dalam pertemuan dengan pemerintah antara lain : H.Basyuni Suryamiharja, Drs.Gazali Dunia, Prof.Dr.Winarno Surahmat, Dra. Mien,Warmaen, Ki Suratman, Dr.Anwar Yasin.M.Ed. Akhirnya melalui perjuangan panjang pada tahun 1989 Pemerintah dengan persetujuan DPR RI menetapkan Undang-Undang Ri Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mulai diundangkan pada tanggal 27 Maret 1989. Kongres III menegaskan garis perjuangan PGRI yang secara jelas dcantumkan dalam asas dan tujuan PGRI serta menjadi identitasnya . Garis perjuangan tersebut merupakan haluan bagi PGRI dan menjadi pedoman bagi organisai serta anggotanya dalam mewujudkan cita-cita. Sikap dan pola pikir , jiwa, dan semangat bangsa Indonesia dalam perjuangan merebut, memperjuangkan, dan mengisi kemerdekaan melalui berbagai forum organisasi PGRI dirumuskan kemudian diputuskan menjadi ”Jati Diri PGRI”. Jati Diri PGRI menjadi identitas dan kepribadian organisasi PGRI diwujudkan dalam sikap perilaku anggotanya antara lain : 1. Sikap nasionalisme 2. Persatuan dan Kesatuan 3. Demokrasi 4. Kekeluargaan 5. Disiplin 6. Tak kenal menyerah 3. Kongres PGRI IV Kongres PGRI IV dilaksanakan pada tanggal 26-28 Februari 1950 di Yogyakarta (ibukota RI sementara pada saat itu) dan Mr.Asaat ditunjuk sebagai pemangku jabatan Republik Indonesia. Sambutan dari Mr.Asaat pada saat pembukaan Kongres IV sangat mengesankan, membakar semangat juang PGRI, isinya adalah : a. Persatukanlah, isilah dan sempurnakan makna ikrar resmi berdirinya NKRI b. Memuji PGRI karena merupakan pencerminan semagat juang para guru sebagai pendidik rakyat dan pendidik bangsa.. c. Menganjurkan agar PGRI sesuai dengan tekad dan kehendak para pendirinya. 11
  • Tekad dan semangat yang menggelora, rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh mewarnai suasana Kongres PGRI IV. Mereka datang dengan tekad bulat untuk mempertsatukan diri, bernaung di bawah panji-panji PGRI. Sejarah perjuangan Indonesia berdasarkan perjanjian Linggarjati pada tanggal 23 Maret 1947 secara de facto diwilayah RI meliputi Sumatra, Jawa dan Madura.Kemudian muncul perjanjian Renville pada 17 Januari 1948 wilayah RI menjadi semakin sempit. Pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia Serikat. Saat itu terdapat dua golongan dalam masyarakat yaitu golongan non Cooperator (golongan yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda) dan golongan Cooperator (golongan orang-orang yang bekerjasama dengan Belanda). Di kalangan guru pun kedua anggota ini ada. Dalam suasana penuh kecurigaan inilah Kongres PGRI IV berlangsug. Secara aklamasi kongres IV PGRI mengeluarkan keputusan penting yaitu Mempersatukan seluruh guru di tanah air Indonesia dalam satu wadah organisasi guru yang dinamakan PGRI. Tekad yang bulat disatukan untuk : a. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. b. Menghilangkan rasa kecurigaan dan rasa kedaerahan di kalangan guru. 4. Kongres PGRI V Kongres PGRI V dilaksanakan di Bandung pada tanggal 19-24 Desember 1950. Dalam kongres PGRI V di Bandung timbul Masalah mengenai penyesuaian gaji pegawai dan penghargaan kepada golongan non cooperator yang dengan tegas menentang Belanda saat perang. Adapun usaha yang dilakukan antara lain : a. Menyelesaikan pelaksanaan penyesuaian gaji pegawai berdasarkan PP yang ditetapkan b. Menyelesaikan upaya pemberian penghargaan kepada kepada golongan Cooperator dan Non Cooperator c. Mendesak Pemerintah agar menyusun peraturan gaji baru d. Mendudukkan wakil PGRI dalam panitia penyusunan peraturan gaji baru Upaya konsolidasi dan hasil yang dicapai pada kongres PGRI V antara lain : a. 47 cabang PGRI di sulawesi dan Kalimantan masuk ke dalam barisan PGRI 12
  • b. Ada 2500 guru yang berrsedia digaji berbeda menurut ketentuan Swapraja/Swatantra tertolong dsan akhirnya digaji secara sama dan seragam dari pusat. c. Pada bulan April 1951 tuntutan PGRI kepada Pemerintah tentang honor kenaikan dikabulkan. d. Mulai dilakukan konferensi daerah secara teratur Selain itu, kongres PGRI V menandung dua momentum yang penting yaitu :  Menyambut lustrum PGRI  Wujud rasa syukur dan suka cita yang mendalam karena SGI/PGI (Serikat Guru Indonesia/Persatuan Guru Indonesia) meleburkan diri ke dalam PGRI.  Gejala Separatisme Politik devide et impera yangdiciptakan oleh penjajah Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Oleh karena itu untuk menampung aspirasi rakyat Indonesia ada kasakkusuk akan didirikan organisasi yaitu : a. Ikatan PS/PSK Ikatan Direktur SMP/SMA b. Ikatan guru CVO/OVO c. Mendirikan IGN,IGM, PGII.  Usaha-usaha PGRI menghadapi Separatisme Upaya yang dilakukan adalah : a. PB PGRI lebih meningkatkan konsolidasi organisasi ke cabang daerah. b. Membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan, jiwa semangat juang ‟45, melalui berbagai kegiatan. c. Menjelaskan hasil-hasil perjuangan PGRI. Hasil yang dicapai antara lain : 1) Keberhasilan PGRI dalam menyelesaikan PS/PSK yaitu berhasil mengecilkan wilayah PS/PSK menerima uang jalan tetap dan kedudukannya dalam PGP baru yang lebih baik. 2) Pengurangan maksimum jam mengajar dalam seminggu dan perbaikan honorarium. 3) Perbaikan nasib rekan-rekan guru yang berijazah CVO/DVO. 13
  • C. Tujuan dan Jati Diri Organisasi PGRI PGRI bertujuan : 1. Mewujudkan cita-cita Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mempertahankan, mengamankan, serta mengamalkan pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 2. Berperan aktif mencapai tujuan nasional dalam mencerdaskan bangsa dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya 3. Berperan serta mmengembangkan system dan pelaksanaan pendidikan nasional 4. Mempertinggi kesadaran dan sikap guru, meningkatkan mutu dan kemampuan profesi guru dan tenaga kependidikan lainnya 5. Menjaga, memelihara, membela, serta meningkatkan harkat dan martabat guru melalui peningkatan kesejahteraan anggota serta kesetiakawanan organisasi. Jati diri PGRI: Jati diri PGRI adalah organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan. Sedangkan sifat PGRI adalah Unitaristik: tidak mengandung perbedaan ijazah, tempat kerja, kedudukan, agama, suku, golongan, gener, dan asal usul. Independen: kemandirian dan kemitrasejajaran dengan pihak lain. Non partai politik: bukan bagian atau berafiliasi dengan partai politik. Semangat: demokrasi, kekeluargaan, keterbukaan, tanggung jawab etika, moral, serta hukum. 1. Dasar Jatidiri PGRI a. Dasar Historis PGRI berdasarkan hakekat kelahirannya merupakan bagian dari perjuangan semesta rakyat Indonesia, melalui profesi k menyebarkan semangat perjuangan dalam merebut, menegakan, menyelamatkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia 17 agustus 1945 yang berdasarkan pncasila dan UUD1945. b. Dasar Ideologis Politis Secara ideologis-politis, PGRI berkewajiban untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan melalui pembangunan nasional di bidang pendidikan serta terikat dengan pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. 14
  • c. Dasar Sosiologis dan IPTEK Dalam pengabdian nya, PGRI selalu bersifat responsive, adaptif, inoatif dan permisif selektif terhadap keadaan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Ciri Jatidiri PGRI Jati diri PGRI memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Nasionalisme PGRI mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa yang merupakan modal dasar untuk mencapai cita-cita proklamasi 1945, PGRI terikat untuk memperjuangkan, mempertahankan dan melestarikan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945. Sifat patriotism dan kepeloporan adalah jiwa dan semangat PGRI galam melaksanakan misinya. b. Demokrasi PGRI adalah organisasi yang demokratis. Kedaulatan tertinggi organisasi, berada di tanagan anggota yang dilaksanakan dengan sistem perwakilan, melalui kongres. c. Kemitraan PGRI sebagai organisasi pejuang pendidik dan pendidik pejuang membela hak dan nasib pekerja pada umumnya dan guru pada khususnya. Untuk itu diperlukan pemantapan jiwa karsa dan kebersamaan yang kuat demi peningkatan kesejahteraan bersama. d. Unitarisme PGRI adalah satu-satunya wadah, bagi guru Indonesia tanpa membedakan latar belakang, tingkat dan jenis pendidikan, tempat dan lingkungan kerja, status dan asal-usul serta adat istiadat. e. Profesionalisme 15
  • PGRI mengutamakan karya dan kekaryaan dalam usaha mempertinggi kesadaran, sikap, mutu, dan kemampuan profesionalnya. f. Kekeluargaan PGRI menumbuhkan, mengembangkan rasa senasib dan sepenanggungan, memiliki jiwa gotong royong, saling asah, asih serta asuh antara sesama anggota. g. Kemandirian Dalam melaksanakan misinya PGRI bertumpu pada kepercayaan, dan kemampuan diri sendiri, tanpa keterikatan dan ketergantungan pada pihak lain. Namun demikian PGRI selalu membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan pihak lain. h. Non Partai Politik PGRI tidak mempunyai hubungan organisasi dengan kekuatan sosial politik manapun. i. Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai „45 PGRI konsekuen berusaha menegakan dan melestarikan jiwa semangat nilai-nilai 1945 sebagai jiwa kejuangan bangsa kepada generasi penerus. D. Menetapkan PGRI Sebagai Organisasi Perjuangan dalam Memasuki Era Baru Awal Abad XXI 1. Visi dan Misi PGRI a. Visi PGRI Berdasarkan kondisi dan tantangan masa depan yang harus dihadapi serta tujuan dan cita-cita perjuangan organissi maka PGRI harus menjadi organisasi guru yang kuat, berwibawa, terpercaya, solid. Professional, mempunyai peran penting dalam pengambilan kebijaksanaan pembangunan pendidikan, pengembangan keguruan dan ilmu pendidikan di Indonesia. 16
  • PGRI berkewajiban membina dan meningkatkan kemampuan profesionalisme anggotanya agar menjadi tenaga kependidikan yang memiliki profesionalitas yang tinggi, demokratis, memperoleh kehormatan dan penghargaan sesuai harkat martabatnya, sejahtera lahir batin, bertanggung jawab, bermoral, berdedikasi tinggi terhadap profesinya serta berperan aktif dalam menggalang persatuan dan kerjasama guru dan organisasi guru baik kawasan regional maupun global. b. Misi PGRI 1. Menjaga, mempertahankan dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, membela dan mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta mewujudkan cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. 2. Menyukseskan pembangunan nasional khusunya pembangunan pendidikan dan kebudayaan yang berlandaskan pada asas demokrasi keterbukaan, pengakuan dan penghormatan atas hak asasi manusia memotivasi untuk mampu berdiri diatas kaki sendiri, penuh percaya diri, bebas dari sifat ketergantungan pada siapa pun juga. 3. Non politik Sebagai organisasi PGRI terikat atau meningkatkan diri pada salah satu kekuatan sosial politik maupun PGTI memberikan kebebasan kepada individu anggotanya untuk menyalurkan aspirasi politiknya tanpa meninggalkan asas dan jati dri PGRI. 4. Kejuangan PGRI sebagai organisasi perjuangan mengemban amanat cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dilandasi jiwa, semangat, menegakkan nilai-nilai 945 dengan penuh rasa tanggung jawab, menegakkan dan melaksanakan secara aktif hakekat dan perwujudan cita-cita nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 945 17
  • 5. Manfaat PGRI berusaha memeberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi organisasi maupum masyarakat tanpa harus merugikan dan mengganggu hak dan kepentingan orang lain. 6. Kebersamaan dan kekeluargaan Asas kebersamaan menimbulkan sikap saling menghargai, saling memahami, saling asih, saling asah, dan saling asuh. Asas kekeluargaan memberikan pedoman agar saling menghormati dan saling tenggang rasa, yang muda menghormati yang tua, yang tua menjadi teladan yang muda, konsekuen, menegakkan moral dan akhlak. 7. Kesetiakawanan social Kepekaan terhadap keadaan lingkungan, kehidupan anggota dan penderitaan orang lain, semangat rela berkorban untuk kepentingan orang lain anggota yang sangat memerlukan. 8. Keterbukaan Sikap keterbukaan untuk menumbuhkan rasa memiliki, mawas diri merasa termotivasi, berpartisipasi dan rasa tanggung jawab diantara sesama anggota, sesama pengurus dan diantara anggota pengurus menumbuhkan kepercayaan, menghindarkan kecurigaan dan meningkatkan kepedulian. Keterbukaan adalah salah satu wujud kejujuran dan tegaknya keadilan. 9. Keterpaduan dan kemitraan Sesama rekan seperjuangan sesama organisasi kemasyarakatan, sesama pengabdi masyarakat, bangsa dan negara dikembangkan sikap kemitraan yang saling menguntungkan, saling membantu, saling bekerja sama bahu membahu. Keterpaduan dengan berbagai dimensi kehidupan merupakan hal yang esensial untuk mewujudkan 18
  • rasa kemitraan yang saling menunjang antara sesama anggota dan dengan pemerintah serta segenap lapisan masyarakat. 10. Demokrasi Asas demokrasi yang berdasarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dan asas-asas universal, keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan bebas berpendapat, bebas menyalurkan pendapat bebas membela dan mempertahankan hak asasi sendiri akan tetapi berkewajiban pula untuk menegakkan dan menghormati hak asasi orang lain. E. PGRI Pada Era Reformasi 1. Kongres PGRI XVIII di Bandung Kongres PGRI XVIII diselenggarakan pada tanggal 25- 28 Nopember 1998 di Lembang Bandung dengan tema “Reformasi Pendidikan dan PGRI dalam Memasuki Era Baru Abad 21”. Berbeda dengan kongres-kongrs sebelumnya, kongres PGRI XVIII mempunyai cirri khusus: berlangsungnya dalam suasana gegap gempitanya semangat reformasi. Berdasarkan AD/ART PGRI, kongres adalah forum tertingggi organisasi dan pemegang kedaulatan anggota dengan semangat reformasi kali ini dipercepat 8 bulan dari waktu seharusnya. Fungsi dan tugas kongres adalah mengevaluasi laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar (PB), menyempurnakan AD/ART, menetapkan program umum organisasi, dan memilih PB yang baru. 2. Hal-hal yang muncul dan berkembang dalam kongres PGRI XVIII Seluruh aktifitas selama kongres berlangsung dapat direkam berbagai hal yang muncul dan berkembang antara lain sebagai berikut: a. Kongres PGRI XVIII merupakan kongres terakhir di penghujung abad XX yang penuh keprihatinan dan ketidakpastian. Krisis ekonomi, krisis politik dan krisis kepercayaan yang mengakibatkan jatuhnya pemerintahan orde baru. 19
  • b. Kongres PGRI XVIII menyepakati visi dan misi bersama, dengan mengadakan reformasi diri baik secara kelembagaan, wawasan maupun tujuan. Guru di masa depan adalah bagian dari masyarakat madani yang memiliki martabat, harkat dan status sosial yang memadai serta mempunyai kemampuan dalam melaksanakan tugasnya. c. Dalam sejarah PGRI sesudah 53 tahun berkiprah ada satu hal yang menarik dari peristiwa sejarah itu. Kongres PGRI XVIII memutuskan PGRI kembali ke jati dirinya semula yaitu sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan. Adapun sifat PGRI adalah unitaristik, independent, dan tidak berpolitik praktis. d. Pemilihan PB masa bakti XVIII merupakan klimaks Pemilihan dilaksanakan dengan pemungutan suara (voting) secara bebas, langsung dan rahasia mengingat jumlah suara begitu besar (741) suara untuk memudahkan dari 27 propinsi dibagi 4 kelompok, masing-masing tempat pemungutan suara (TPS). 20
  • BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan adanya PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sebagai Organisasi perjuangan PGRI membela dan mempertahankan Republik Indonesia dan PGRI dinyatakan sebagai organisasi perjuangan karena PGRI mengemban amanat cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945, menjamin, menjaga dan mempertahankan keutuhan dan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mempunyai andil besar dalam pendidikan di Indonesia. B. Saran Dari uraian yang telah dipaparkan di atas penulis mempunyai saran, agar kita sebagai penerus bangsa terlebih guru dan calon-calon pendidik harus mampu meneruskan semangat juang para guru terdahulu yang telah berkorban dan berjuang demi Tanah Air dan Bangsa, mampu mengembangkan dan meningkatkan martabat profesinya dan banyak belajar dari pengalaman sejarah guru terdahulu agar tidak melupakan jasa-jasa yang telah mereka berikan kepada kita. Seperti dalam pidato Rh. Kusnan “Guru bukan penghias alam yang tidak dapat dipakai kalau perlu dan dibuang kalau sudah layu dan tidak berguna lagi. Guru ialah pembentuk jiwa, pembangun masyarakat.” 21
  • DAFTAR PUSTAKA Drs. Sulistiyo, M.Pd. 2002. Mengenal Perjuangan PGRI Jawa Tengah. Semarang : Badan Penerbit PGRI Jawa Tengah. Taruna, S.H., dkk. 2007. Pendidikan Sejarah Perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia (PSP PGRI). Semarang : IKIP PGRI Semarang Press Hadiatmadja, dkk. 1998. Pendidikan Sejarah Perjuangan PGRI (PSP-PGRI). Semarang : IKIP PGRI Semarang Press http://www.google.com http://www.duniabelajar.web.id/2011/09/sejarah-berdirinya-pgri.html 22