Report On The Achievement Of
The Millennium Dvelopment Goals
In West Sulawesi 2011

Health Sector
Dinas Kesehatan Provinsi...
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat
Jalan Kurungan Bassi No. 19 Mamuju 91511
Telpon / Fax : (0426) 21027 / 22579
Websi...
Pencapaian MDGs Bidang Kesehatan

DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI BARAT
TAHUN 2012
KATA PENGANTAR
BAB I
PENDAHULUAN
Komitmen para Kepala Negara dan Perwakilannya yang berasal dari 189 pada Sidang Umum Persatuan
Bangsa-Ba...
Penyusunan pencapaian MDGs berkaitan erat dengan Rencana Aksi Daerah Tujuan Pembangunan
Millenium atau RAD MDGs merupakan ...
MDG 1 : Menanggulangi Kemiskinan dan kelaparan
Sulawesi Barat telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan dari 20,74 pada...
MDG 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak
Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup
signifi kan dari ...
MDG 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak
Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup
signifi kan dari ...
STATUS PENCAPAIAN MDGs
Bidang Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat
TINJAUAN STATUS PENCAPAIAN MDGs KESEHATAN DI SULAWESI BARAT

Indikator

Acuan Dasar

Saat Ini

Target MDGs
Status
2015

Su...
Indikator

Acuan Dasar

Saat Ini

Target MDGs
Status
2015

Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu
Target 5A: Menurunkan Angk...
Tujuan 1 : Menangulangi Kemiskinan dan
Kelaparan

Rumah Suku Bunggu Mamuju Utara
TUJUAN 1:
MENANGGULANGI KEMISKINAN
DAN KELAPARAN
Keadaan Saat Ini
Keadaan gizi masyarakat telah menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik, hal ini
ditunjukkan dengan ...
Pemantauan pertumbuhan balita biasa dilakukan di posyandu maupun diluar posyandu secara teratur
setiap bulan untuk mmngeta...
Kotak 1-1.
Pencapaian Target MDG 1C di Kabupaten Majene
Kabupaten Majene adalah salah satu dari 5 (lima) kabupaten yang ad...
Tantangan
1.

Masih rendahnya pemahaman dan kesadaran tentang pola gizi seimbang dalam masyarakat, yang
disebabkan masih r...
Tujuan 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak

Posyandu di Kecamatan Bonehau Mamuju
Keadaan Saat Ini
Target yang akan dicapai pada tujuan ini
adalah: menurunkan Angka Kematian
Balita (AKBA) hingga dua per t...
Angka
kematian
balita
atau
AKABA
menggambarkan peluang untuk meninggal pada
fase antara kelahiran dan sebelum umur 5
tahun...
Persentase Imunisasi Campak di Provinsi Sulawesi Barat adalah perbandingan antara
banyaknya anak berumur 1 tahun yang tela...
Tantangan
1. Kurangnya pemahaman dan kesadaran orang tua tentang pola gizi berimbang dan
pola asuh anak yang benar.
2. Mas...
Tujuan 5 : Menurunkan Angka Kematian Ibu
Tujuan 5 : Menurunkan Angka Kematian Ibu
Tujuan 5 : Menurunkan Angka Kematian Ibu
Report on the achievement of mdgs west sulawesi health sector - data 2012
Report on the achievement of mdgs west sulawesi health sector - data 2012
Report on the achievement of mdgs west sulawesi health sector - data 2012
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Report on the achievement of mdgs west sulawesi health sector - data 2012

792 views
710 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
792
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
28
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Report on the achievement of mdgs west sulawesi health sector - data 2012

  1. 1. Report On The Achievement Of The Millennium Dvelopment Goals In West Sulawesi 2011 Health Sector Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2013
  2. 2. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat Jalan Kurungan Bassi No. 19 Mamuju 91511 Telpon / Fax : (0426) 21027 / 22579 Website: dinkes.sulbarprov.go.id Email : dinkessulbar@gmail.com
  3. 3. Pencapaian MDGs Bidang Kesehatan DINAS KESEHATAN PROVINSI SULAWESI BARAT TAHUN 2012
  4. 4. KATA PENGANTAR
  5. 5. BAB I PENDAHULUAN Komitmen para Kepala Negara dan Perwakilannya yang berasal dari 189 pada Sidang Umum Persatuan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September 2000 menghasilkan sebuah Deklarasi yang dikenal hingga kini dengan nama Deklarasi Millenium (Millenium Declaration). Kesepakatan tersebut dengan nyata mencerminkan suatu kepedulian dunia internasional terhadap Kehidupan manusia dimuka bumi ini, dimana semua Negara menyatukan visi dan misi untuk saling bersinergi untuk mencapai satu tujuan, yakni Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals). Bangsa Indonesia sesuai dengan landasan konstitusional harus mampu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dan turut andil dalam pembangunan secara global. Atas dasar hal tersebut maka Indonesia bertekad mencapai Tujuan Pembangunan Millenium dengan mengarahkan strategi dan kebijakan pembangunan pada kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup rakyat, seperti yang telah dijabarkan dalam rumusan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, dan perencanaan pembangunan yang berkesinambungan dalam dua dokumen perencanaan yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2005-2009 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN ) Tahun 2010-2014. Saat ini upaya percepatan pencapaian target Tujuan Pembangunan Milenium semakin dipacu oleh Pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2010 Tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, dan Inpres Nomor 3 Tentang Program Pembangunan Yang Berkeadilan, dimana salah satu penekanannya adalah Percepatan Pencapaian Target MDGs. Pada tingkat Nasional Percepatan Target MDGs secara implisit tertuang kedalam Peta Jalan Percepatan Tujuan Pembangunan Millenium, sedangkan untuk skala Provinsi dijabarkan dalam dokumen Rencana Aksi Daerah (RAD). Tujuan Penyusunan Pencapaian MDGs adalah agar Pemerintah Daerah memiliki acuan posisi pencapaian MDGs sampai dimana dan menjadi dokumen evaluasi dalam mencapai target MDGs yang lebih baik. Terutama target bidang pembangunan yang masih tertinggal dan mempertahankan capaian di atas rata-rata target MDGs Nasional.
  6. 6. Penyusunan pencapaian MDGs berkaitan erat dengan Rencana Aksi Daerah Tujuan Pembangunan Millenium atau RAD MDGs merupakan tahapan penyusunan dokumen perencanaan yang saling terkait dengan penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Selanjutnya Rencana Aksi Daerah MDGs akan menjadi pedoman dan acuan bagi SKPD di Provinsi Sulawesi Barat dalam rangka pembangunan manusia sebagai fokus. Penyusunan Evaluasi MDGs Bidang kesehatan Provinsi Sulawesi Barat dan disinkronkan dengan pencapaian target yang disusun ini akan diintegrasikan kedalam RPJMD Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2012 – 2017. Langkah-langkah percepatan target MDGs menjadi prioritas pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Barat, yang sangat membutuhkan sinergi kebijakan perencanaan di tingkat Provinsi dan Kabupaten yang diimplementasikan dalam program-program kerja setiap SKPD dengan indikator maupun target yang telah terukur serta indikasi dukungan pembiayaannya. Dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah Percepatan Pencapaian Pembangunan Millenium Provinsi Sulawesi Barat ini tidak seluruh tujuan (8 tujuan) MDGs dibahas, namun hanya tujuan yang berhubungan dengan kesehatan.
  7. 7. MDG 1 : Menanggulangi Kemiskinan dan kelaparan Sulawesi Barat telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan dari 20,74 pada tahun 2006 menjadi 13,24 pada tahun 2012. Prevalensi kekurangan gizi pada balita telah menurun dari 25,4 persen pada tahun 2007 menjadi 20,54 persen pada tahun 2010, sehingga Sulawesi Barat diperkirakan dapat mencapai target MDG sebesar 15,5 persen pada tahun 2015. Prioritas kedepan untuk menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan infrastruktur pendukung, dan memperkuat sektor pertanian. Perhatianan khusus melaui pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui intervensi desa Bangun Mandar; peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial. Gambar 1 : Angka Kemiskinan Provinsi Sulawesi Barat tahun 2006 - 2012
  8. 8. MDG 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifi kan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, sehingga target sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan dapat tercapai. Demikian pula dengan target kematian anak diperkirakan akan dapat tercapai. Namun demikian, masih terjadi disparitas regional pencapaian target, yang mencerminkan adanya perbedaan akses atas pelayanan kesehatan, terutama di daerah-daerah miskin dan terpencil. Prioritas kedepan adalah memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil. Angka kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Barat juga cenderung mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir. Gambar 2 : Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2007 - 2011 Gambar 3 : Angka kematian Balita Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2007 - 2011
  9. 9. MDG 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak Angka kematian bayi di Indonesia menunjukkan penurunan yang cukup signifi kan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, sehingga target sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 diperkirakan dapat tercapai. Demikian pula dengan target kematian anak diperkirakan akan dapat tercapai. Namun demikian, masih terjadi disparitas regional pencapaian target, yang mencerminkan adanya perbedaan akses atas pelayanan kesehatan, terutama di daerah-daerah miskin dan terpencil. Prioritas kedepan adalah memperkuat sistem kesehatan dan meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil. Angka kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Barat juga cenderung mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir. Gambar 2 : Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2007 - 2011 Gambar 2 : Angka kematian Balita Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2007 - 2011
  10. 10. STATUS PENCAPAIAN MDGs Bidang Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat
  11. 11. TINJAUAN STATUS PENCAPAIAN MDGs KESEHATAN DI SULAWESI BARAT Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDGs Status 2015 Sumber Tujuan 1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan Target 1C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun waktu 1990-2015 Prevalensi balita dengan berat badan 25,4 %(Riskesdas 2007) 20,5% (Riskesdas 2010) 15,50% rendah / kekurangan gizi 1.8a Prevalensi balita gizi buruk 10,0 %(Riskesdas 2007) 7,6% (Riskesdas 2010) 3,60% 1.8b Prevalensi balita gizi kurang 15,4 %(Riskesdas 2007) 13,6% (Riskesdas 2010) 11,90% Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 4A: Menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) hingga dua per tiga dalam kurun waktu 1990-2015 Angka Kematian Bayi (AKB)per 1000 15,2 (Profil Kesehatan 4,2 74 (SDKI 2007) 23 kelahiran hidup Sulbar 2010) Persentase anak usia 1 tahun yang 4,3 58 (SDKI 2007) 57,7 (Riskesdas 2010) Meningkat diimunisasi campak 1,8 Status: ● Sudah tercapai ►Akan tercapai ▼Perlu perhatian khusus ► Riskesdas ► ► Riskesdas Riskesdas ● SDKI, Profil ▼ SDKI, Riskesdas
  12. 12. Indikator Acuan Dasar Saat Ini Target MDGs Status 2015 Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu hingga tiga per empat dalam kurun waktu 1990-2015 Proporsi kelahiran yang ditolong 5,2 47,45 (Susenas 2009) 57,8 (Riskesdas 2010) Meningkat tenaga kesehatan terlatih Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015 - 1 kunjungan: 86,6 (SDKI 2007) ► ► 88,3 (Riskesdas 2010) Meningkat - 4 kunjungan: 61,3 (SDKI 2007) 24, 6 ( Riskesdas 2010) ▼ Sumber Susenas, Riskesdas SDKI, Riskesdas SDKI, Riskesdas SDKI, Riskesdas Unmet Need (kebutuhan keluarga 17,4 (SDKI 2007) 25,8 (Riskesdas 2010) Menurun ► berencana/KB yang tidak terpenuhi) Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun Angka kejadian, prevalensi dan 6,8 0,23 (Riskesdas 2007) 0,7 (Riskesdas 2010) ▼ Riskesdas tingkat kematian akibat Tuberkulosis 5,6 Status: ● Sudah tercapai ►Akan tercapai ▼Perlu perhatian khusus
  13. 13. Tujuan 1 : Menangulangi Kemiskinan dan Kelaparan Rumah Suku Bunggu Mamuju Utara
  14. 14. TUJUAN 1: MENANGGULANGI KEMISKINAN DAN KELAPARAN
  15. 15. Keadaan Saat Ini Keadaan gizi masyarakat telah menunjukkan kecenderungan yang semakin membaik, hal ini ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi kekurangan gizi pada anak balita atau balita dengan berat badan rendah. Sampai saat ini, Sulawesi Barat telah membuat kemajuan yang bermakna dalam upaya perbaikan gizi selama tiga terakhir ini yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi kekurangan gizi pada anak balita dari 25,4 persen pada tahun 2007 menjadi 20,54 persen pada tahun 2010. (Riskesdas 2010) Perkembangan keadaan gizi masyarakat yang dapat dipantau berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan (RR) program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan balita setiap bulan di posyandu. Keadaan status gizi masyarakat di Propinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011 menunjukkan jumlah balita yang ada sebanyak 119.374 balita dari jumlah tersebut jumlah balita yang datang dan ditimbang di posyandu sebanyak 81.800 balita dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak54.328 balita dan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) sebanyak 3.215 balita. Gambar 4 Prevalensi Kekurangan Gizi Pada Balita Tahun 2007 dan 2010 Sumber : riskesdas tahun 2007 dan 2010
  16. 16. Pemantauan pertumbuhan balita biasa dilakukan di posyandu maupun diluar posyandu secara teratur setiap bulan untuk mmngetahui adanya gangguan pertumbuhan. Perubahan berat badan anak dari waktu ke waktu merupakan petunjuk awal perubahan status gizi anak Gambar 5 Penimbangan Balita Sulawesi Barat Tahun 2007 - 2012 Berdasarkan hasil pencatatan pelaporan hasil penimbangan balita di Provinsi Sulawesi Barat dalam kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2007 sampai tahun 2012 sudah mengalami peningkatan walaupun belum signifikan . Hal ini dapat dilihat dari cakupan D/S provinsi Sulawesi barat tahun 2007 hanya 49,20 % dan meningkat menjadi70,07 % pada tahun 2012. Peningkatan ini belum bisa mencapai target nasional yaitu 75% . Usaha peningkatan cakupan D/S saat ini dilakukan melaui beberapa program pengembangan. Salah satu program yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan RI adalah Penanggulangan Daerah bermasalah Kesehatan yang melakukan intervensi utama terhadap indikator IPKM. Penimbangan balita dalam IPKM menjadi prioritas utama yang dilaksanakan oleh daerah. 4 Kabupaten bermasalah kesehatan di Sulawesi Barat (Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju dan Mamuju Utara) telah melaksanakan sweeping atau kejar timbang bagi balita yang tidak tertimbang di sarana pelayanan kesehatan.
  17. 17. Kotak 1-1. Pencapaian Target MDG 1C di Kabupaten Majene Kabupaten Majene adalah salah satu dari 5 (lima) kabupaten yang ada dalam wilayah Propinsi Sulawesi Barat, yang terletak di pesisir pantai barat Sulawesi Barat dan memanjang dari selatan ke utara kurang lebih 146 Km dari Kabupaten Mamuju (Ibukota Propinsi Sulawesi Barat). Kabupaten Majene yang beribukota di Kecamatan Banggae mempunyai luas wilayah 947,84 Km2. Secara administrasi wilayah Kabupaten Majene pada tahun 2011 terbagi atas 8 kecamatan, 40 desa/kelurahan (26 desa dan 14 kelurahan) dan 238 dusun/ lingkungan (125 dusun dan 113 lingkungan) Kabupaten Majene merupakan satu-satunya kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat yang memiliki prevalensi kekurangan gizi paling rendah pada balita. Berdasarkan hasil riskesdas 2007 prevalensi balita gizi kurang (BB/U) sebesar 19,6 persen masih diatas rata-rata nasional 18,4 persen. Selanjutnya anak balita ditimbang selama 6 bulan terakhir di kabupaten Majene mencapai 62,84 persen (Laporan PWS gizi per Juni 2012). Pelaksanaan penimbangan oleh Posyandui digiatkan oleh Puskesmas. Selain itu di beberapa wilayah terbentuk desa siaga yang mendorong masyarakatnya untuk aktif berpartisipasi dalam pembangunan kesehatan di wilayah masing – masing.
  18. 18. Tantangan 1. Masih rendahnya pemahaman dan kesadaran tentang pola gizi seimbang dalam masyarakat, yang disebabkan masih rendahnya pengetahuan, belum optimalnya pemanfaatan potensi pangan lokal, belum mantapnya sosialisasi kepada masyarakat. 2. Belum sinkronnya upaya penanganan masalah gizi dari aspek produksi, distribusi, ketahanan pangan keluarga dan pola konsumsi seimbang dalam keluarga. 3. Belum optimal pola diversifikasi pangan dan pemanfaatan serta pengolahan pangan lokal. 4. Belum tepatnya sasaran penerima bantuan bahan makanan untuk pemulihan gizi buruk dan gizi kurang pada 5. Terbatasnya akses anggota keluarga terhadap informasi tentang pentingnya gizi bagi pembentukan otak dan pertumbuhan anak. 6. Rendahnya tingkat ketahanan pangan keluarga. 7. Rendahnya akses keluarga terhadap informasi harga kebutuhan pokok di pasar. 8. Rendahnya akses masyarakat terhadap pangan. 9. Masih terdapat kesenjangan status gizi balita antar Kabupaten menjadi tantangan yang harus dihadapi Sulbar. 10. Rendahnya pemahaman penduduk, terutama di perdesaan tentang pentingnya gizi bagi anak. 11. Prevalensi kekurangan gizi pada anak balita yang tinggi di wilayah perdesaan terkait erat dengan kemiskinan, pendidikan yang rendah .
  19. 19. Tujuan 4 : Menurunkan Angka Kematian Anak Posyandu di Kecamatan Bonehau Mamuju
  20. 20. Keadaan Saat Ini Target yang akan dicapai pada tujuan ini adalah: menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) hingga dua per tiga dalam kurun waktu 1990 – 2010 dengan indikator (1) Angka Kematian Bayi (AKB) per 1.000 kelahiran hidup; (2) Angka Kematian Balita per 1.000 kelahiran hidup; dan (3) Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak. Angka Kematian Bayi atau AKB di Provinsi Sulawesi Barat adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum Gambar 4 mencapai usia 1 tahun per 1000 Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Barat kelahiran hidup pada tahun yang sama. Tahun 2007 - 2011 Angka Kematian Bayi (AKB) di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2011 sebesar 15,2/1000 kelahiran hidup meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2010 sebesar 15,1/1000 kelahiran hidup. AKB tahun 2010 dan tahun 2011 merupakan kejadian kematian bayi disarana kesehatan atau kejadian yang dilaporkan, sehingga angka tersebut tidak mencerminkan keseluruhan kematian bayi yang terjadi dalam kurun waktu 2010 dan 2011 di Provinsi Sulawesi Barat.
  21. 21. Angka kematian balita atau AKABA menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Berdasarkan laporan Dinas kesehatan 5 Kabupaten di Propinsi Sulawesi Barat, Angka kematian balita tahun 2007 sebesar 17,2 per 1.000 kelahiran hidup, tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 11,4 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 14,02 per 1000 kelahiran hidup, tahun 2010 menurun menjadi 16,42 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2011 menjadi 12,1/1000 Kelahiran hidup . Hal ini menandakan Angka Kematian Balita 3 tahun terakhir sifatnya fluktuatif Kasus kematian Balita berhubungan erat dengan kondisi lingkungan, perilaku, infeksi penyakit, status gizi dan imunitas serta mutu dari pelayanan kesehatan. Format pelaporan program KIA yang selama ini digunakan tidak bisa mengakomodasi jumlah kematian balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas sehingga data kematian balita (1 – 4 th) tidak bisa diketahui. Angka Kematian Balita
  22. 22. Persentase Imunisasi Campak di Provinsi Sulawesi Barat adalah perbandingan antara banyaknya anak berumur 1 tahun yang telah menerima minimal satu kali imunisasi campak terhadap jumlah anak berumur 1 tahun, dan dinyatakan dalam persentase. Indikator ini merupakan ukuran pemantauan untuk cakupan imunisasi dasar. Karena imunisasi campak diberikan pada usia 9-11 bulan, sehingga dapat menunjukkan kelengkapan imunisasi anak. Disamping itu imunisasi campak yang diberikan kepada anak, dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit campak, yang dapat memberikan dampak terhadap penurunan angka kematian balita. Cakupan imunisasi campak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ketersediaan tenaga kesehatan berkompeten, kualitas sistem pelayanan kesehatan anak, partisipasi masyarakat di suatu wilayah. Total jumlah bayi di provinsi Sulawesi barat adalah 24,999 jiwa, sementara yang di telah dimunisasi campak 23,031 jiwa atau sebesar 92,1 % dari total populasi
  23. 23. Tantangan 1. Kurangnya pemahaman dan kesadaran orang tua tentang pola gizi berimbang dan pola asuh anak yang benar. 2. Masih rendahnya peran orang tua, termasuk kaum bapak dalam mendukung program posyandu dan desa Siaga. 3. Masih kurangnya peran kader posyandu dan jejaring Siaga. 4. Peran anggota keluarga yang masih kurang terhadap upaya pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan kesehatan bayi dan balita. 5. Kurangnya kuantitas dan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan. 6. Belum semua bidan mengikuti pelatihan penanganan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia, Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), Manajemen Terpadu Bayi Muda dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBM/MTBS). 7. Masih kurangnya akses pelayanan kesehatan anak berkualitas di unit pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Pos Kesehatan Desa / Poskesdes).
  24. 24. Tujuan 5 : Menurunkan Angka Kematian Ibu
  25. 25. Tujuan 5 : Menurunkan Angka Kematian Ibu
  26. 26. Tujuan 5 : Menurunkan Angka Kematian Ibu

×