Your SlideShare is downloading. ×
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

PDBK News Sulbar : Edisi Oktober 2013

252

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
252
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  1. Percayalah, bahwa adanya orang-orang yang terlahir sebagai penggerak perubahan dapat memunculkan pejuang-pejuang lain yang akan menggerakkan semesta untuk ikut serentak maju”. Lelaki tersebut saya kenal dengan panggilan Yusuf Rahmat, seorang Kepala desa di Desa Balla Kecamatan Balla Kabupaten Mamasa. Kabupaten yang termasuk jejeran 10 terjelek IPKM tahun 2007 melalui survei yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan. Mantan fasilitator PNPM Mandiri yang kemudian mencoba menyusuri jalannya “film kehidupan” dengan mencalonkan diri sebagai kepala Desa dan akhirnya di pilih oleh Tuhan dan masyarakat Desa Balla untuk memegang amanah sebagai Presiden Desanya.
  2. Dalam pandangan saya dia adalah salah seorang cendekiawan yang cukup langkah untuk ditemukan di daerah yang berlabel “KONDOSAPATA UWAI SIPALELEANG”. Memilih hidupnya untuk penjadi pelayan masyarakat desanya. “Saya tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk membantu kesehatan” ujarnya pada saat kalakarya tanggal 11 Juli 2013 lalu di Matana Hotel di atas bukit tinggi di bawah pepohonan rindang di Mamasa kala itu. Di sanalah menjadi awal dan permulaan saya berkenalan dan berinteraksi dengannya. Seingat saya dia adalah salah satu dari tiga penyampai aspirasi :  Kepala desa, dia baru, tertarik dengan dialog yang tidak diduganya bahwa acara bakal seperti ini; menurutnya kelemahan selama ini adalah komunikasi. Tidak terjadi dialog dari atasan dengan kepala desa, sehingga tidak jelas apa yang sebenarnya seharusnya diterima oleh desa yang dapat timbulkan kecurigaan - kecurigaan  camat, yang merasa bahwa kondisi mamasa ini karena alam, terus dukungan pusat kurang besar untuk Mamasa yang miskin dan tertinggal, sumber daya manusia msmasa memang lemah  staf pusk, yg pandai retorika, kalimat2nya bersayap nabrak sana sini, (biasa) mengembangkan kecurigaan bahwa pimpinan2 tdk terbuka dg dana, tdk adil, dan 'kami hanya bisa berdoa smg memproleh pimpinan yg berhatinurani dan jujur', ya matanya, ya gayanya, mencoba mengajak forum utk terjebak dlm 'Mamasa ini Seperti Benang Ruwet yg tdk jelas dari mana dan bagaimana mengurainya' dialog pada saat itu berkembang dengan tiga materi pancingan itu. isu2 yg mudah berkembang dan sering berkembang dlm komunitas masyarakat maupun level bawahan dr birokrasi, kmudian mendptkan salurannya dlm dialog bebas ini seperti ciri dialog yg bisa menyakitkan (krn sindiran2 liar), bhkan kmdn menimbulkan rasa sakit bersama (angka2 capaian yg jelek), dan penerimaan tanpa sarat sesama pendialog( yg baru mulai nampak dg smua lancar mnanggapi lawan dialog, tanpa nada mnyerang atau bertahan), dialog ini berjln spt tabiatnya dialog yang kemudian di arahkan oleh Suhu Pak Sawijan kpd upaya menghancurkan kebiasaan2 merasa lemah, tdk mampu kalau tdk ada bantuan, mnunjuk bhw yg salah org lain, mersa bahwa pimpinan sll memanfaatkan bawahan, pimpinan tdk adil bagi rejeki, kurang komunikasi, dan yg sejenisnya Pak Sawi mendramatisir kalimat2 yg berkembang utk mnyadari bhw sifat2 buruk itu tdk akan pernah mampu memajukan Mamasa, bahkan juga tdk akan mnjdkan mrk semua sbg kluarga dan
  3. pribadi maju, dg sifat2 spt itu mrk akan menghasilkan klg dan kturunan yg lemah dan tak maju, dlm bidang apapun sy tdk mngulangi apa yg bisa dilakukan oleh kawan2 propinsi Sulbar yg sangat gigih utk memanfaatkan gerakan pdbk ini menggebrak kebekuan hub antara prop-kab-sampai desa. mnrt saya mrk berhasil, meski blm maksimal. sy ingin laporkan bhw forum spakat utk perbaiki komunikasi. slain itu akan diluncurkan di desa Petugas Sahabat Kluarga Mamasa. Kades / Lurah akan mnugasi 3-4 orang Staf Kades/Kaur/Org dg tugas khusus utk kliling dr rumah ke rumah. Mereka akan ditugasi utk menyentuh slrh warga desa; dan melakukan identifikasi apakah dlm kluarga itu ada warga dg kbutuhan kesehatan. Kmudian secara berkala mereka melapor ke Bides bhw kluarga2 ttt memerlukan layanan Bides, jk di desa tdk ada Bides, mk Ptugas itu mngatur agar Bikor dpt melayani klg2 ttt dg mengunjungi atau pada hr buka posyandu. Pusk akan membantu mempermudah tugas teknis mengenali kbutuhan kesehatan klg, dan akan diprioritaskan dl utk khamilan, imunisasi, dan gizi; scara perlahan jk kelak petugas ini berjalan lancar akan dikembangkan kpd layanan lainnya. kmudian Pusk akan mngatur nakes yg jmlnya terbatas itu utk berfokus pd sasaran yg ditemukan oleh ptugas itu camat akan menghimpun kekuatan utk mndukung klancaran ptugas itu. Ptugas itu akan memakai Kostum/Rompi yg mncolok utk mudah dikenali dg Tulisan Punggung 'Sahabat Keluarga Mamasa' Kades dan Camat serta Ka Pusk sepakat utk memulai langkah ini, yg dinilai sebagai suatu upaya yg 'mungkin' utk dila kukan dan sebagai terobosan. forum yakin bhw tanpa terobosan maka Mamasa tetap akan mnjd Rangking 5 atau 6 di Sulbar, dan tertinggal dlm jajaran rangking Indonesia. sy tdk tahu apakah ini akan berhasil, tetapi forum2 non teknis membangun ksadaran, membangun komunikasi, mengurai dugaan2 diantara staf di lapangan, perlu dilakukan. Nampaknya jika upaya2 semacam ini kita lupakan, maka upaya2 terobosan kita spt BOK, Jampersal, Jamkesmas, bahkan SJSN akan mnjd isu liar yg melemahkan sendi2 kekompakan pasukan kesehatan di ujung sana, sementara pikiran2 menyimpang di lapangan mudah sekali menular.
  4. dialog mesti dibudayakan dialog lbh hidup jk digunakan angka2 / data2 yg spesifik ttg kinerja / capaian para pendialog Pasca Kalakarya beberapa minggu kemudian lelaki ini pun menindaklanjuti hasiul pertemuan dan dialog di Matana Tulisan Pertama Yusuf Rahmat (Kades Balla) “BERMULA DARI KEGIATAN LAKAKARYA” Pada 11 Juli 2013 Dinas Kesehatan Mamasa mengadakan Lakakarya Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehetan. Peserta yang hadir dari beberapa perwakilan kecamatan dan desa serta tenaga-tenaga medis yang ada di desa-desa yang diundang. Pemateri yang hadir dari Jakarta dan ditemani oleh beberapa Staff dari Dinas Kesehatan Prov. SulBar. Pak Sawijan, sosok yang menurut pandangan kami sangat bersahaja, cerdas tapi juga sangat humoris. Beliau sungguh luar biasa. Kata-kata beliau sangat menggugah nurani kami dan saat itu kami baru sadar bahwa sungguh selama ini kami alpa dalam memperhatikan masalah kesehatan khusunya di desa kami. Sepanjang kegiatan tersebut kami sangat terperangah melihat dan mendengar bagaimana keadaan atau kondisi kesehatan yang terjadi di Mamasa saat ini. Terjadi dialog yang baik dan bahkan dari pertemuan itu, sebuah gagasan yang disampaikan oleh Pak Sawijan untuk memulai gerakan “penyelamatan” akan situasi “kritis” yang saat ini melanda Mamasa dalam hal Kesehatan. (Trimah Kasih yang tak terhingga pak.!) Dalam hati berujar, “Ayo..bangun-lah, bangunlah generasimu, bangunlah desamu, bangunlah negerimu.!” Sahabat Keluarga Mamasa (SKM). Sebuah istilah yang sempat keluar dalam diskusi maupun dialog yang kemudian semua peserta menganggung, seolah setuju. SKM akan dibentuk, pertama-tama, untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat di desa, dalam menyelesaikan persoalan-persoalan disekitar masalah kesehatan. Tindak lanjut dari Lakakarya tersebut, kami, Camat Balla dan jajarannya, Kepala Puskesmas Balla, dan seluruh Kepala Desa se-Kec. Balla ( ada delapan desa dalam wilayah Kec. Balla), pada 19 Juli 2013, bertemu dalam sebuah pertemuan awal di Puskesmas Balla. Dalam pertemuan tersebut juga hadir Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa. Dalam perbincangan kami selama pertemuan, kami sepakat untuk membentuk apa yang pernah ditawarkan dalam Lakakarya yakni pembentukan Sahabat Keluarga Mamasa dimana dalam setiap desa yang ada di Kec. Balla mencari dua (2) orang kader (KPMD) yang akan bekerja sama dengan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Balla untuk, pertama-tama, melakukan pendataan tentang kondisi kesehatan masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, disepakati, bahwa kalau di masing-masing desa terbentuk kader yang dimaksud, maka sebelum melakukan pendataan terlebih dahulu dilakukan pelatihan atau pembekalan. Berselang satu minggu, melalui koordinasi dengan Camat, Kepala Puskesmas dan Kepala Desa se-Kec. Balla, akhirnya terbentuklah SKM di setiap desa (2 orang/desa). Pada Rabu, 25 Juli 2013, kami mengundang seluruh kader SKM beserta seluruh bidan yang ada disetiap desa dan beberapa tenaga medis yang ada di Puskesmas Balla untuk melakukan koordinasi sekaligus pembekalan/pelatihan kepada Kader SKM
  5. sebelum melakukan pendataan. Narasumber waktu itu adalh Kepala Puskesmas Balla. Setelah materi pembekalan selesai dilaksanakan, maka kami kemudian menyusun Rencana Tindak Lanjut untuk kegiatan pendatan. Waktu itu kami sepakat, bahwa pendataan dilakukan selama dua minggu ke depan, yakni di awal agustus. Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan setelah lebaran. Dan pertemuan koordinasi dan evaluasi direncakan akan dilakukan pada pertengahan Agustus 2013. Kami juga bersyukur karena, dalam pertemuan koordinasi dan pelatihan tersebut, seluruh kepala desa sepakat untuk menyediakn dana pengadaan seragam berupa rompi bagi Kader SKM yang akan melakukan pendataan. Dan untuk rencana ini, mudahanmudahan dalam waktu dekat ini rencana tersebut dapat segera terealisasi. Bersambung…………………………… Mamasa, 26 Juli 2013, Pukul 23:00 Demikian informasi awal tentang pembentukan Sahabat Keluarga Mamasa di Kecamatan Balla. Mamasa- Balla, 26 Juli 2013 Hormat Saya Yusuf Rahmat Demmandulu’ Kepala Desa Balla Satanetean, Kec. Balla, Kab. Mamasa Tulisan ke 2 “SAHABAT KELUARGA MAMASA” PROSES PENDATAAN RUMAH TANGGA MISKIN DAN KONDISI KESEHATAN WARGA DI KECAMATAN BALLA Pasca pertemuan/rapat koordinasi antara Tenaga Medis pada Puskesmas Kec. Balla dengan Kepala Desa se-Kecamatan Balla serta Kader Desa pada 25 Juli 2013 dimana dalam pertemuan tersebut disepakati untuk melakukan pendataan kondisi kesehatan warga dan pendataan rumah tangga miskin oleh Kader Desa bersama Bidan Desa se-Kecamatan Balla. Juga disepakati bahwa proses pendataan direncanakan akan dilakukan selama dua minggu kedepan dan setelah itu akan diadakan pertemuan/rakor untuk evaluasi dan perampungan data dari setiap desa. Namun karena terdapat beberapa kendala yang kami hadapi baik oleh Kader Desa maupun kami sebagai Kepala Desa maka rencana untuk pertemuan evaluasi dan pengumpulan data baru kami laksanakan pada Senin, 26 Agustus 2013 di Aula Kantor Kecamatan Balla yang dihadiri Kepala Desa, Bidan Desa serta Kader Desa. Rapat evaluasi dan pengumpulan data yang baru kami lakukan pada Senin, 26 Agustus 2013 membahas laporan perjalan Kader Desa selama melakukan pendatan serta hal-hal yang penting untuk dilaporkan yang ditemukan selama proses pendataan dilakukan. Beberapa Kader Desa sudah bisa merampungkan dan menyerahkan hasil pendataan mereka namun masih ada dua desa
  6. yang belum bisa menyerahkan hasil pendataannya karena mereka belum sempat mendatangi beberapa dusun di desa mereka akibat kondisi wilayah yang sulit dijangkau dan diperparah oleh kondisi jalan yang sangat buruk. Yang paling banyak mendapat perhatian adalah laporan dari Kader Desa selama perjalanan pendataan dilakukan yakni bahwa pelayanan kesehatan di setiap Pustu/Poskesdes yang ada di desa tidak maksimal karena tenaga medis yang bertugas sangat jarang didapatkan karena mereka menetap di luar wilayah desa bahkan diluar Kecamatan Balla. Hal ini berdampak pada terganggunya proses pelayanan bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan juga berdampak pada kegiatan pelayanan bagi ibu hamil,penimbangan bayi serta kegiatan imunisasi, dsb. Bahkan, menurut laporan dari warga, bahwa anak mereka tidak lagi diimunisasi karena petugas imunisasi yang ditempatkan di Poskesdes tidak pernah lagi dating. Dalam pertemuan itu, beberapa Bidan Desa yang hadir memberi beberapa alas an bahwa mereka tidak bisa tinggal menetap di desa karena mereka juga punya keluarga yang membutuhkan perhatian dan tidak mungkin mereka harus berpisah sementara suami juga bekerja pada instansi pemerintah dan anak-anak mereka juga sementara bersekolah. Kemudian alas an lain yakni beratnya medan yang mereka harus tempuh dalam memberikan pelayanan kesehatan karena kondisi jalan juga sangat buruk. Selain itu mereka juga mengeluh karena beberapa dari mereka harus melayani dua sampai tiga desa yang jaraknya berjauhan. Bahkan ketika tenaga medis yang seharusnya ada dan bertugas di Puskesmas Balla berhalangan masuk kantor selama beberapa hari maka mereka harus merelakan diri untuk berada di Puskesmas Balla dan meninggalkan Pustu/Poskesdes dimana mereka seharusnya bertugas. Mereka harus membantu pelayanan di Puskesmas Balla karena Tenaga Dokter tidak ada sementara Paramedis yang seharusnya bertugas setiap hari kerja justru jarang masuk kantor. Dari pertemuan yang kami lakukan ini, kami akhirnya mengeluarkan beberapa rekomendasi untuk rencana kerja kami selanjutnya yakni : 1. Memberi kesempatan selama 3 minggu kepada Kader Desa yang belum merampungkan pendataannya. 2. Dalam waktu dekat harus dilaksanakan rapat koordinasi dengan Kepala Puskesmas Balla serta Tenaga medis yang ada di Puskesmas Balla dengan Camat serta Kepala-kepala Desa untuk membahas laporan yang didaptkan Kader Desa selama proses pendataan dilaksanakan khususnya tentang kinerja Tenaga Medis yang ditempatkan di Pustu/Poskesdes yang tersebar di setiap desa. 3. Mempercepat pembuatan baju rompi untuk Kader Desa agar mereka juga punya bukti identitas yang dapat dipakai dan diperlihatkan kepada warga. ( Beberapa dari warga yang ditemui tidak bersedia memberikan data yang dibutuhkan karena menganggap bahwa Kader Desa ini tidak jelas identitasnya serta maksud/tujuan pendataan dilakukan) 4. Mengusahakan dan meminta kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cab. Mamasa untuk menempatkan program mereka di Kecamatan Balla yakni program bakti sosial berupa pengobatan gratis. ( Saat ini tidak ada Tenaga Dokter yang ditempatkan di Kecamatan Balla) 5. Rapat Evaluasi dan Pengumpulan Data bagi desa yang belum merampungkan datanya akan dilakukan pada Senin, 16 September 2013 di Aula Kantor Kecamatan.
  7. Dari beberapa rekomendasi yang telah kami rumuskan diatas, melalui koordinasi dengan Kepala Puskesmas Balla, Camat Balla dan seluruh Kepala Desa yang ada di Kec. Balla, maka pada Jumat, 6 September 2013, di Puskesmas Balla kami mengadakan pertemuan untuk membahas beberapa hal yang terkait dengan laporan Kader Desa yang diperoleh selama mereka melakukan pendataan. Poin penting yang kami setujui dan amini bersama adalah bahwa secara umum saat ini pelayanan kesehatan di Kecamatan Balla sangat buruk. Namun kami juga sepakat bahwa harus ada gerakan bersama untuk memulai dan melakukan perubahan dalam pelayanan kesehatan tersebut. Pemerintah Kecamatan, Desa bahkan sampai di Dusun-dusun harus saling bersinergi dengan Tenaga Kesehatan yang ada di Puskesmas Balla sampai di Pustu dan Poskesdes agar kondisi kesehatan warga di Kecamatan Balla tidak semakin terpuruk. Pada pertemuan tersebut kami sepakat bahwa pada Rapat Evaluasi antara Tenaga Medis,Kader Desa dan Kepala Desa yang direncanakan akan dilaksanakan pada Senin, 16 September 2013 diharapkan kehadiran dari semua petugas kesehatan yang bertugas di Kecamatan Balla untuk hadir dalam pertemuan tersebut, juga Camat dan seluruh Kepala Desa serta mengusahakan agar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa dapat dihadirkan. Juga kami mengusulkan agar “Sahabat Keluarga Mamasa” bukan hanya sebuah gerakan atau spirit saja tapi selain itu “Sahabat Keluarga Mamasa” diharapkan menjadi sebuah wadah organisasi yang memiliki struktur kepengurusan yang jelas dimana didalamnya berkumpul orang-orang yang peduli akan perubahan khususnya di bidang kesehatan. Dan kami ,mengusulkan agar ide ini dibawah dalam Rapat Evaluasi nantinya. CaTATAN SINGKAT : Melalui kerjasama dari berbagai pihak, terbentuklah sebuah ORGANISASI yang memiliki struktur kepengurusan yang jelas dimana didalamnya berkumpul orang-orang yang peduli akan perubahan khususnya di bidang kesehatan . Wadah tersebut bernama SAHABAT KELUARGA MAMASA (SKM) Misi utama SKM adalah menularkan “virus” kepedulian tentang kesehatan kepada semua lini kehidupan masyarakat di desa Balla yang sekarang ini pelan2 menyebar dan melakukan infeksi ke tingkat kecamatan. Penyebaran virus kepedulian yang diharapkan konsisten dalam penyebarannya Dalam misinya mengembangkan SKM telah membangun fondasi dalam bentuk forum yang diketuai oleh Kades Balla dan bersinergi dengan Kepala Puskesmas, Kader dan masyarakat dalam pelaksanaannya. Setelah melalui berbagai pertemuan dan dan diskusi, SKM yang inisiasinya dimulai oleh Kades Balla beberapa hari lalu telah melakukan pendataan masyarakat di desanya.
  8. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, penggerak SKM berharap SKM bias menjadi forum dan organisasi untuk menuju masrakat yang lebih baik… Tanggal 20 oktober 2013 lalu, saya kembali bertemu dengan Kepala desa yang kreatif ini. Bedanya dengan pertemuan pertama beliau telah dating bersama Timnya, lengkap dengan Kepala Puskesmas dan Camat barunya yang baru menjabat 7 hari. Camat yang belum serah terima jabatan namun dating berkalakarya. Apakah ini menjadi sebuah tanda kepedulian? Apa yang telah dilakukan oleh Kades Balla : yusuf Rahmat setidaknya telah menjadi langkah pertama perputaran roda pembelaran Tim yang biasanya di sampaikan oleh para suhu PDBK 2 tahun lalu. Pas 2 tahun lalu 27 Oktober 2011 di Aula Kantor Bupati Mamuju oleh Suhu berambut Putih, Pak TS.. Ajakan MARI Rajut Kreativitas, Membangun Kesadaran, Mewujudkan IMPIAN setidaknya nyetrum pada mereka yang berada dalam lingkaran Sahabat Keluarga Mamasa. Dalam beberapa bulan ini adalah perubahan yang mendasar yang saya perhatikan pada pak Yusuf.. Selain rambutnya yang sudah mulai agak pendek, kacamata juga sudah dilepas…Ada aura dan energi semangat untuk melakukan perubahan di wilayahnya. Mereka telah membuat program dan kegiatan..Hal yang paling penting tentunya dari semua itu adalah komitmen untuk konsisten terhadap sesuatu tersebut…………………
  9. KALAKARYA DESA BANGUN MANDAR : KECAMATAN SUMARORONG MAMASA Kalakarya Kesehatan Desa Bangun Mandar, kecamatan Sumarorong Kab Mamasa Para penggiat Sahabat Keluarga Mamasa 2 Camat Baru..............Insya Allah komitmen dengan Kesehatan; Semoga saja. Duduk sejak dimulainya kegiatan sampai selesai tanpa beranjak sedikitpun dari kursinya pada saat kalakarya kesehatan desa bangun mandar

×