Your SlideShare is downloading. ×
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Sindroma anti phospholipid
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Sindroma anti phospholipid

209

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
209
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Sindroma Antifosfolipid Antibodi dalam Kehamilan Sudah benar dan Tepatkah Penanganannya? Sofie Rifayani Krisnadi
  • 2. Definisi • Sindroma antifosfolipid merupakan sindroma dengan karakteristik adanya trombosis vaskuler (arterial atau vena) dan /atau morbiditas kehamilan yang berhubungan dengan tingginya antibodi terhadap plasma protein yang berikatan dengan fosfolipid anion ( antibodi antifosfolipid – aPL). • Istilah kurang tepat (autoantibodi yang timbul bukan antibodi terhadap fosfolipid, tetapi antibodi terhadap protein plasma yang mempunyai afinitas untuk fosfolipid anion)
  • 3. Kriteria Klinis Satu atau lebih episode trombosis vena, arterial atau pembuluh darah kecil dan /atau morbiditas kehamilan o trombosis : dibuktikan dengan pemeriksaan imaging atau histologi o morbiditas kehamilan : konsensus Internasional Kriteria Laboratoris Adanya aPL pada 2 atau lebih pemeriksaan dengan jarak minimal 12 minggu dan tidak lebih dari 5 tahun sebelum terjadinya manifestasi klinis o IgG dan/atau IgM anticardiolipin antibodi dengan titer moderat atau tinggi (>40 unit GPL atau MPL atau >99th persentil) o Antibodi 2- glikoprotein 1 IgG atau IgM isotipe dengan titer > 99th persentil o Adanya aktivitas lupus antikoagulan
  • 4. MASALAH • Menganggap Kasus jarang (??) atau tidak dicari • Diagnosis belum benar (kriteria klinis, laboratoris) • Pemeriksaan salah kaprah, selalu diutamakan TORCH • Pengelolaan belum benar, pemakaian aspirin tanpa dasar yang kuat • Tidak mengajurkan heparin pada yang memerlukan • Himpunan belum punya PROTAP
  • 5. Menapis APS • Riwayat satu kali atau lebih episode trombosis atau tromboemboli yang tidak dapat diterangkan (BUKAN HANYA PADA BIDANG OBSTETRI) • Satu kali atau lebih morbiditas kehamilan yang spesifik untuk APS (lihat penjelasan selanjutnya)
  • 6. Presentasi Klinis APS • Trombosis vena dalam (32%) • Trombositopenia (22%) • Livido retikularis (20%) • Stroke (13%) • Tromboflebitis superfisialis (9%) • Emboli pulmonal (9%) • Kematian fetus (8%) • Transient ischemic attack (7%) • Anemi hemolitik (7%)
  • 7. Terminologi Luaran Obstetri Buruk • Abortus : keluarnya hasil kehamilan < 20 minggu. Abortus trimester pertama s/d 13 minggu, trimester kedua 14-20 minggu. • Abortus berulang (recurrent pregnancy loss/RPL) abortus > 2 X tanpa harus berurutan. • Keguguran preembrionik (preembryonic loss) dari konsepsi s/d akhir minggu keempat gestasi. • Keguguran Embrionik (embryonic loss) dari 5 – 9 minggu. • Miyakis S, Lockshin MD, Atsumi T, et al. International consensus statement on an update of the classification criteria for definite antiphospholipid syndrome (APS). J Thromb Haemost 2006; 4:295.
  • 8. Terminologi Luaran Obstetri Buruk • Kematian janin (fetal demise) kematian janin dalam rahim > 10 minggu kehamilan, • Persalinan preterm bila janin lahir (hidup atau mati) > 20 minggu dan < 37 minggu kehamilan • Lahir mati (stillbirth) kelahiran janin mati setelah 20 minggu Miyakis S, Lockshin MD, Atsumi T, et al. International consensus statement on an update of the classification criteria for definite antiphospholipid syndrome (APS). J Thromb Haemost 2006; 4:295.
  • 9. Morbiditas APS (Obstetri) • Kematian janin lambat (late fetal death), > 10 minggu dengan morfologi normal. • Preeklamsi berat/eklamsi dini (early severe preeclampsia/eclampsia), < 34 minggu. • PJT (fetal growth restriction) yang tidak diketahui penyebabnya. • Tromboemboli vaskuler (arteri dan vena) yang berkaitan dengan kehamilan (pregnancy related maternal thromboembolic disease) Miyakis S, Lockshin MD, Atsumi T, et al. International consensus statement on an update of the classification criteria for definite antiphospholipid syndrome (APS). J Thromb Haemost 2006; 4:295.
  • 10. Yang Belum Benar • Keguguran berulang di bawah 8 minggu sering diprioritaskan untuk diagnosis APS • Preterm < 34 minggu pada preeklamsi berat/eklamsi sering diabaikan penyebabnya • IUGR tanpa sebab yang jelas sering diabaikan untuk pemeriksaan APS (tiba-tiba oligohidramnion) • Tromboemboli yang berhubungan dengan kehamilan jarang dicari
  • 11. Kesalahan Diagnosis • Abortus 3 kali berturut-turut atau tidak berturutan < 10 minggu  RPL  KONTROVERSI • Pemeriksaan Laboratorium (belum standar, inklusi pasien dengan positif rendah, tidak diulang, heterogenitas populasi untuk penentuan kontrol • TORCH (?) • Luput menapis PENYEBAB LUARAN OBSTETRI BURUK (DM, SLE, Penyakit ginjal, dll) • aPL tanpa gejala
  • 12. Ketidaksamaan Manajemen • BELUM ADA MANAJEMEN STANDAR • Mengacu pada literatur yang ada
  • 13. TUJUAN TERAPI • Mencegah komplikasi trombosis • Memperbaiki hasil persalinan • Sulit karena penelitian yang baik sedikit dan gejala klinis yang kompleks.
  • 14. Aspirin dosis rendah (50 – 100 mg) • Antiplatelet • Meningkatkan produksi interleukin-3 yang menstimulir pertumbuhan trofoblast dan ekspresi βhCG. • Meningkatkan keberhasilan kehamilan. • Dapat dihentikan setelah kehamilan 36 minggu (ideal nya harus sudah dihentikan 7 – 10 hari sebelum persalinan untuk meniadakan kemungkinan perdarahan perioperatif. • Pada ibu hamil dengan riwayat komplikasi trombus arteri yang berat seperti stroke atau infark miokard, aspirin diberikan terus menerus selama kehamilan dan persalinan. • Tidak ada bukti aspirin dosis rendah meningkatkan cacat bawaan (penutupan duktus arterious preterm) atau perdarahan pascasalin.
  • 15. Heparin  Efek heparin dalam mencegah trombosis dan  komplikasi kehamilan adalah dengan: • Efek antitrombosis termasuk potensiasi  efek antitrombin   dari antitrombin dan efektor  antrombin endogen  lainnya,  meningkatkan kadar inhibitor faktor Xa  dan menghambat  agregasi trombosit.  • Mengikat antibodi antifosfolipid   menjadi tidak aktif  • Pada hewan percobaan  mengaktivasi komplemen,  menghambat faktor jaringan. 
  • 16. Glucocorticoid • Tidak dipakai  • aPL relatif resisten terhadap terapi  imunosupresif • Sedikit bukti dapat mempengaruhi koagulasi • Meningkatkan komplikasi obstetri (PROM,  PTL, IUGR, infeksi, preeklamsi, osteopeni)
  • 17. Manajemen Sebelum hamil • Pada  Ibu  dengan  riwayat  trombosis,  RPL,  IUFD,  Preeklamsi  DINI,    harus  dilakukan  PENAPISAN  thd  APS • Anamnesis  yang  baik  dan  rinci,  tentang  morbiditas  obstetri untuk mengeluarkan penyebab lain (serviks  inkompeten, PTL)  • Adanya  aPL  bukan  menunjukkan  diagnosis  APS  kecuali gambaran klinis sugestif • Perawatan multidisiplin
  • 18. Manajemen (lanjutan…) Antenatal • LD-ASA saja lebih baik dari plasebo pada APS (RCT, Low  risk) • LD-ASA  diberikan  sejak  sebelum  hamil    (  mencegah  kegagalan plasentasi) • Ibu  APS  dg  riwayat  trombosis  risiko  tinggi  dalam  kehamilan  dan  nifas,  harus  mendapat  pencegahan  LMWH (Enoxaparin 40 mg bid) • Warfarin  embriopati
  • 19. Manajemen terapetik kehamilan dengan APS Riwayat Klinis Terapi Antikoagulan Tidak  ada  trombosis,  tidak  ada  keguguran,  tidak  ada  luaran  kehamilan yang terganggu Aspirin  75  mg  sekali  sehari  sejak  prakonsepsi Riwayat trombosis Pada  terapi  warfarin  pemeliharaan:  ubah  ke aspirin dan LMWH (enoxaparin 40 mg 2  x  sehari)  segera  setelah  kehamilan  dikonfirmasi Tidak sedang terapi warfarin: aspirin 75 mg  sekali  sehari  sejak  prakonsepsi  dan  memulai  LMWH (enoxaparin  40  mg  sekali  sehari) setelah kehamilan dikonfirmasi.  Naikkan  dosis  LMWH  menjadi  2  x  sehari  pada kehamilan 16-20 minggu 
  • 20. Manajemen terapetik kehamilan dengan APS Riwayat Klinis Terapi Antikoagulan Abortus berulang <10 minggu Tanpa terapi antikoagulan sebelumnya : Aspirin  75  mg  sekali  sehari  sejak  prakonsepsi  Riwayat  keguguran  dengan  terapi  tunggal  aspirin  :  Aspirin  75  mg  sekali  sehari  sejak  prakonsepsi dan LMWH (enoxaparin 40 mg  sekali sehari) sejak kehamilan dikonfirmasi.  Pertimbangkan  pemberhentian  LWWH  pada kehamilan 20 minggu bila gelombang  arteri uterina tidak normal Keguguran  lambat,  kematian  neonatal  atau  luaran  terganggu  oleh  karena  preeklamsi,  PJT  atau  solusio Aspirin  75  mg  sekali  sehari  sejak  prakonsepsi dan LMWH (enoxaparin 40 mg  sekali sehari) sejak kehamilan dikonfirmasi
  • 21. Dalam Kehamilan: • Monitoring fetus dengan ketat.  • Doppler arteri uterina (20-24 minggu • Bila  Doppler  arteri  uterina  pada  usia  24  minggu  menunjukkan  notching pradiastolik    Pencitraan  perkembangan bulanan sejak 28 minggu • Pemeriksaan  yang  ketat  terhadap  tekanan  darah  dan  urinalisis  deteksi preeklamsi dini • Dapat merencanakan persalinan lebih baik
  • 22. PASCASALIN • Wanita dengan terapi warfarin jangka panjang dapat memulai kembali terapi ini postpartum (dimulai hari ke- 2-3) dan LMWH dihentikan bila international normalised ratio (INR) >2.0. • Wanita dnegna trombosis sebelumnya harus menerima heparin postpartum atau warfarin selama 6 minggu. • Wanita dengan riwayat trombosis harus menerima terapi heparin postpartum minimal 5 hari s/d 6 minggu, tergantung ada faktor risiko lain
  • 23. Prognosis • Belum banyak data di Indonesia • Umumnya tergantung keadaan ibu sebelum hamil. • Bila telah menderita penyakit trombosis sebelum kehamilan, luaran kehamilan baik untuk ibu dan janin lebih buruk. • Ibu APS dengan riwayat 2 kali keguguran, dapat mempunyai 70-80% anak hidup apabila diberi pengobatan dan pengelolaan yang baik. • Komplikasi persalinan preterm, preeklamsi atau pertimbuhan janin terhambat tetap dapat terjadi meskipun ibu APS mempunyai riwayat kehamilan/persalinan yang baik sebelumnya.
  • 24. KESIMPULAN & REKOMENDASI • Prevalensi APS dalam kehamilan di Indonesia belum diketahui • Kriteria penegakkan diagnosis belum seragam, masih sering semua jenis keguguran berulang dianggap APS bahkan diperiksa untuk TORCH • Diperlukan pemeriksaan laboratorium yang memadai untuk tegaknya diagnosis APS dan sebagai konsekwensi diagnosis, terapi yang diberikan harus benar. • Ada kesan keengganan para spesialis obstetri untuk terapi heparin dan hanya menggunakan aspirin dosis rendah, • sebaliknya banyak pemberian aspirin yang tidak berdasarkan diagnosis yang jelas. • Pengawasan dalam kehamilan harus lebih ketat sehingga bila diperlukan induksi kehamilan tidak terlambat dan luaran kehamilan dengan APS dapat lebih baik.
  • 25. TERIMAKASIH

×