Your SlideShare is downloading. ×
0
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Diagnosis dan manajemen toksoplasmosis pada ibu hamil

1,024

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,024
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
76
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Sofie Rifayani Krisnadi
  • 2. Pendahuluan Indonesia negara tropis Insidensi toksoplasmosis tinggi Umumnya ibu hamil sudah terpapar toksoplasmosis sebelum kehamilan. KENDALA : Sarana laboratorium mahal dan kurang memadai  penapisan dan diagnosis tidak akurat, merugikan ibu hamil dan janinnya.
  • 3. Transmisi penyakit
  • 4. • Infeksi aktif umumnya hanya SATU KALI • Risiko terkena janin HANYA bila infeksi pertama kali terjadi saat ibu hamil atau 2-3 bulan sebelum hamil. • Imunitas yang didapat umumnya SEUMUR HIDUP • Parasit tinggal dalam otot, jantung atau otak sebagai infeksi laten umumnya TIDAK AKTIF dan TIDAK BERBAHAYA • REAKTIVASI hanya pada pasien dengan daya tahan tubuh rendah (immunocompromised ), kemoterapI, kortikosteroid, HIV/AIDS dan transplantasi jaringan . Toksoplasmosis
  • 5. Toksoplasmosis dalam kehamilan BUKAN penyebab abortus berulang BUKAN penyebab infertilitas Hanya infeksi primer dalam kehamilan yang menyebabkan penularan janin Membentuk kekebalan yang melindungi kehamilan berikutnya.
  • 6. Manifestasi Klinis Umumnya berlangsung tanpa diketahui. Bila gejala ada (10-20%), biasanya tidak spesifik, ringan atau sedang, Lesu, cepat lelah, nyeri otot, sakit menelan, demam ringan (Flu like syndrome) Pembesaran kelenjar di belakang leher (monositosis, seperti gejala mononukleosis) . Gejala ini dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan dan sering diabaikan.
  • 7. Transmisi ke Janin Infeksi 6-9 bulan sebelum hamil – imunitas sudah terbentuk, jarang sekali janin terinfeksi 2–3 bulan sebelum konsepsi < 1% risiko tertular, angka keguguran tinggi Trimester pertama 10 - 15% risiko tertular, penyakit berat, kecacatan tinggi Trimester kedua - 25% risiko tertular Trimester ketiga - 60%, derajat penyakit pada janin ringan, sering tanpa gejala.
  • 8. Diagnosis Tidak dapat dari gejala klinis Pemeriksaan laboratorium menjadi andalan. Diagnosis pasti, ditemukannya parasit Spesimen: cairan serebrospinal, darah atau urin. Pemeriksaan lain: PCR, untuk cairan amnion
  • 9. Pemeriksaan Serologis WHO : Sabin-Feldman dye test sebagai standar emas. Hanya sedikit laboratorium yang menyediakan fasilitas ini. Alternatif lain: ELISA/EIA (enzyme immune assay), HA (hemagglutination), IFA (indirect fluorescent antibody test), dan ISAGA (immunosorbent agglutination assay)
  • 10. Tujuan pemeriksaan laboratorium Untuk memastikan fetus terinfeksi atau tidak Pemeriksaan dilakukan pada trimester pertama. Bila risiko infeksi fetus ada, tindakan klinik dan pemeriksaan lanjutan harus dilakukan sesuai dengan fasilitas yang ada.
  • 11. KENYATAAN SAAT INI Pemeriksaan toksoplasmosis TIDAK rutin dilakukan Infeksi dicari apabila ibu mengalami keguguran/kematian janin/cacat pada janin Ibu hamil dengan IgG positif rendah dan IgM negatif menunjukkan ibu telah terpapar infeksi. IgM positif dipercaya sebagai marker kejadian infeksi akut. IgM yang negatif diinterpretasikan sebagai tidak ada infeksi akut, sehingga tidak relevan untuk memberi terapi pada IgG yang positif dengan IgM negatif
  • 12. Strategi pemeriksaan toksoplasmosis pada ibu hamil. Tujuan pemeriksaan Pemeriksaan yang diperlukan Bukti ibu terinfeksi IgG assay Apakah saat ini terinfeksi IgM, IgA assay Kapan infeksi terjadi (dihubungkan dengan kehamilan) IgG Avidity
  • 13. Profil serologis toksoplasmosis primer paparan  bulan
  • 14. Imunoglobulin M (IgM) Imunoglobulin M (IgM) sebagai petanda infeksi akut Muncul seminggu setelah individu terinfeksi Akan naik dengan cepat pada bulan kedua atau ketiga, dan akan menghilang umumnya kurang dari satu tahun < 0,89 IU : Negatif 0,9 – 1,09 : Equivokal > 1,1 : Positif
  • 15. Imunoglobulin G IgG mulai muncul minggu kedua dan kadar tertinggi antara bulan ke-5 dan ke-6 dan menurun perlahan serta menetap dalam tubuh untuk waktu yang lama, Dapat terdeteksi seumur hidup Melindungi kehamilan berikutnya Pemeriksaan serum tunggal IgG menyebabkan interpretasi yang salah mengenai saat kejadian infeksi. Saat ini telah lazim dipakai pemeriksaan aviditas IgG (IgG avidity).
  • 16. Imunoglobulin G < 6 IU/mL : Negatif 7-8 IU/mL: Equivocal – ulangi dalam 2 minggu, pada fase akut kenaikan 3-4 kali lipat > 9 IU/mL : Positif – mengindikasikan infeksi akut atau infeksi kronis, tergantung IgM dan IgG Avidity
  • 17. Interpretasi hasil pemeriksaan serologis toksoplasmosis (laboratorium biasa) Hasil IgG Hasil IgM Relevansi klinik Negatif Negatif Belum pernah terinfeksi T.gondii.  KIE Laboratorium serial tiap bulan (setidaknya trimester 2) Bila serokonversi, potensial transmisi infeksi pada janin. Positif Negatif Pada trimester satu atau ke dua, umumnya menunjukkan infeksi sudah terjadi sebelum kehamilan.a Negatif Positif atau ekuifokal Awal infeksi akut Atau positif palsu Ulangi pada lab yang direferensikan (Sabin Feldman) Positif Positif atau ekuifokal Infeksi akut atau infeksi kronis, periksa IgGAvidity
  • 18. Serodiagnosis IgM positif atau IgG naik 4X lipat dalam 2-3 minggu menunjukkan saat ini terinfeksi IgM yang tinggi menunjukkan infeksi terjadi dalam 3 bulan terakhir Tingginya titer tidak menunjukkan beratnya penyakit
  • 19. Uji Aviditas Cara untuk konfirmasi diagnosis untuk pasien dengan IgM positif atau ekuifokal Memanfaatkan afinitas terhadap IgG (rendah pada awal infeksi akut, dan meningkat setelah beberapa minggu/bulan)
  • 20. Infeksi Fetus Pemeriksaan dilakukan apabila ibu terdiagnosis toksoplasmosis. Pemeriksaan darah fetus atau cairan amnion untuk IgM dan IgG toksoplasma fetus Apabila infeksi fetus telah ditegakkan, terapi atau tindak lanjut opsi manajemen harus dilakukan Pemeriksaan neonatus tetap dilakukan untuk mengeksklusi toksoplasmosis neonatus atau apabila fasilitas diagnosis untuk fetus tidak ada.
  • 21. Ultrasonografi fetus Pemeriksaan ultrasonografi direkomendasikan untuk ibu hamil yang terdiagnosis/diduga infeksi akut Mencari kelainan pada janin: hidrosefalus, kalsifikasi pada otak dan hepar, splenomegali dan asites.
  • 22. Ultrasonografi fetus USG fetus harus dilakukan pada ibu hamil terinfeksi, penting untuk diagnostik dan prognostik. Tanda infeksi fetus didapatkan 65% pada trimester I, hanya 20% pada trimester II. Tidak dapat dipakai untuk penapisan, karena hanya mendeteksi kelainan berat. Tetap dilakukan meskipun hasil PCR amniosentesis negatif.
  • 23. TERAPI Ibu terdiagnosis toksoplasmosis akut, harus segera diberi terapi (spiramisin) Antibiotika menghindarkan transmisi pada janin. Bila Fetus terinfeksi, tambahkan antibiotika lain untuk mengurangi keparahan cacat kongenital  Bila neonatus terinfeksi berikan antibiotika (1 thn) untuk mengurangi kebutaan/ kecacatan otak. .
  • 24. Spiramisin Direkomendasikan untuk mengobati toksoplasmosis pada ibu hamil Terbukti menurunkan transmisi vertikal (terkonsentrasi pada plasenta, tempat transfer T.gondii menginfeksi janin) Spiramisin mempunyai efek protektif pada trimester pertama, dan insidensi infeksi kongenital berkurang sekitar 60% Tidak dapat dipakai untuk terapi pada fetus yang terinfeksi Pengobatan diberikan selama kehamilan
  • 25. Spiramisin Dosis yang dipakai adalah 1 Gram ( 3Million Unit) setiap 8 -12 jam Bila transmisi ke fetus (+) / PCR+ terapi spiramisin diganti dengan pirimetamin, sulfadiazine dan asam folinik pada kehamilan usia 18 minggu. Ada kontroversi tentang efektivitas spiramisin dalam mencegah infeksi kongenital EMSCOT (European Multicentre Study on Congenital Toxoplasmosis) melakukan penelitian dan membuktikan spiramisin efektif dalam mencegah penularan pada janin
  • 26. Pirimetamin, Sulfadiazin dan Asam folinik Tidak diperkenankan untuk sebelum usia kehamilan 18 minggu. Efek samping: depresi sumsum tulang (reversibel, bertahap dan tergantung dosis). Diberikan Asam folinik (BUKAN ASAM FOLAT), untuk reduksi dan pencegahan toksisitas pirimetamin terhadap darah.
  • 27. Drug Toxo during pregnancy Remarks Spiramycin 6-9 MIU/day in 2 or 3 divided doses for 3 wks followed by 2 wks intervals until parturition safest amongst the antitoxoplasma agents Pyrimethamine in combination with sulphonamides After 16 weeks -pyrimethamine 25 mg/day with sulphadiazine 1-2 gm gid alternating with the cycles of spiramycin 6-9 MIU/day for 3 weeks until parturition Pyrimethamine is teratogenic. used in pregnancy only if potential benefit justifies the risk to foetus.
  • 28. Bagan alur pemeriksaan serologis toksoplasmosis pada ibu hamil
  • 29. Bagan alur terapi ibu hamil dengan toksoplasmosis
  • 30. Bagan alur diagnosis toksoplasmosis pada fetus
  • 31. PUSTAKA ACUAN 1. Montoya JG, Liesenfeld O. Toksoplasmosis. Lancet 2004;363:1965-76. 2. Jones J, Lopez A, Wilson M. Congenital toksoplasmosis.Am Fam Physician 2003;67: 2131-8. 3. Jones JL, Lopez A, Wilson M, Schulkin J, Gibbs R.Congenital toksoplasmosis; a review. Obstet Gynecol Surv 2001;56:296-305 4. Liesenfeld O, Montoya JG, Tathineni NJ, Davis M, Brown BW Jr, Cobb KL, et al. Confirmatory serologic testing for acute toksoplasmosis and rate of induced abortions among women reported to have positif Toxoplasma immunoglobulin M antibody titers. Am J Obstet Gynecol 2001;184:140-5. 5. Willis MS, Southern P, Latimer MJ. Toxoplasma infection: making the best use of laboratory tests. Infect Med 2002;19:522-32.
  • 32. PUSTAKA ACUAN 6. Ijpelaar H. Serodiagnosis of toxoplasmosis using the IMMULITE toxoplasma IgM (u-Capture) assays, an international evaluation. DPC, Diagnostic product corporation, Los Angeles, 2005. 7. Wilson M, Remington JS, Clavet C, Varney G, Press C,Ware D. Evaluation of six commercial kits for the detection of human immunoglobulin M antibodies to Toxoplasma gondii. J Clin Microbiol 1997;35:3112-5. 8. Montoya JG, Liesenfeld O, Kinney S, Press C,1 and RemingtonJS. VIDAS Test for Avidity of Toxoplasma-Specific Immunoglobulin G for Confirmatory Testing of Pregnant Women J Clin Microbiol 2002;40: 2504–8. 9. Investigation of toxoplasma infection in pregnancy,QSOP 59.Issued by Standards Unit, Department for Evaluations, Standards and Training Centre for Infections , Issue no: 2 Issue date: 04.03.2010, Issued by: for Standards Unit, Department for Evaluations, Standards and Training Page: 1 – 14.
  • 33. PUSTAKA ACUAN 10. Montoya JG and RemingtonJS. Management of Toxoplasma gondii Infection during Pregnancy CID 2008:47 (15 August). 11. Gilbert R, Gras L, European Multicentre Study on Congenital Toxoplasmosis. Effect of timing and type of treatment on the risk of mother to child transmission of Toxoplasma gondii. BJOG 2003; 110:112–20. 12. Desmonts G, Couvreur J. Congenital toxoplasmosis: a prospective study of the offspring of 542 women who acquired toxoplasmosis during pregnancy. In: Thalhammer O, Pollak A, Baumgarten K, eds. Perinatal medicine: proceedings of the 6th European Congress, Vienna. Stuttgart, Germany: Georg Thieme Publishers, 1979:51–60. 13. Couvreur J, Desmonts G, Thulliez P. Prophylaxis of congenital toxoplasmosis: effects of spiramycin on placental infection. J Antimicrob Chemother 1988; 22:193–200. 14. Thiebaut R, Leproust S, Chene G, Gilbert R. Effectiveness of prenatal treatment for congenital toxoplasmosis: a meta-analysis of individual patients’ data. Lancet 2007; 369:115–22.

×