Kuasi eksperimen
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Kuasi eksperimen

on

  • 21,490 views

 

Statistics

Views

Total Views
21,490
Views on SlideShare
21,490
Embed Views
0

Actions

Likes
8
Downloads
915
Comments
6

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

15 of 6 Post a comment

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Mohon iji mengutip artikel Bp. Soetam,, Terimakasih
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Pa izin kutip dll ya...
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • silahkan.....
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Assalamu'alaikum..., izin mengutip, dll. ya??? Terimakasih sebelum dan sesudahnya..... Jazakumulloh Khairon Katsiron..... (rimay23@yahoo.co.id)..... :) ;) :D '_' ^_^
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
  • Pak Soetam, saya ingin bertanya mengenai kasus pengaruh frekuensi penayangan iklan terhadap minat beli yang menggunakan kuasi eksperimen...Terdapat dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang ditayangkan iklan 3 kali dan kelompok kontrol yang ditayangkan iklan 1 kali...Saya ingin bertanya, desain kuasi eksperimen mana yang lebih cocok untuk kasus ini, pretest-posttest atau posttest only? terima kasih :)
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kuasi eksperimen Document Transcript

  • 1. `Desain PenelitianMenggunakan QuasiExperiment Soetam Rizky Wicaksono NIM : 110121609138 Jujuk Ferdianto NIM : 110121609117 Edy Suprapto NIM : 110121609119 Program Studi Teknologi Pembelajaran Dosen Pembina :Prof. DR. Wayan Ardhana Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang Oktober 2011
  • 2. Desain Penelitian Menggunakan Quasi ExperimentA. Pendahuluan Eksperimen dapat diartikan sebagai sebuah tes atau pengujian, atau juga dapat diartikansebagai sebuah tes yang tidak terlalu tampak penyebabnya dan dapat diartikan pula sebagai percobaanatau manipulasi secara sengaja (Cook & Campbell, 1979). Percobaan tersebut dapat dilakukan dengansimulasi atau dengan tes secara riil. Namun tes secara riil dianggap lebih valid dibandingkan percobaanyang hanya dilakukan dengan menggunakan teknik simulasi. Di dalam melakukan percobaan tersebut dibutuhkan adanya efek perlakuan denganmenggunakan pembandingan dari satu percobaan dengan percobaan yang lain. Di dalam rancanganeksperimen, langkah yang dianggap terbaik adalah dengan menggunakan penugasan secara acak yangmemiliki konsep penafsiran ceteris paribus (segala sesuatu yang lain bersifat sama). Tetapi hal tersebutseringkali sulit diimplementasikan jika obyek penelitian yang dikenai adalah manusia. Khususnya dibidang pendidikan yang hampir seluruh obyek penelitiannya adalah pebelajar, maka penugasan secaraacak sangat sulit diimplementasikan. Dengan melihat kepada fenomena tersebut, maka dibutuhkan sebuah teknik eksperimen lainyang tidak menggunakan penugasan secara acak. Penugasan secara acak umumnya dilakukan denganmenggunakan teknik true experiment, sedangkan alternatif teknik yang tidak menggunakan penugasansecara acak disebut sebagai quasi experimental design(Scott & Usher, 2011). Teknik eksperimen iniumumnya dilakukan jika peneliti tidak memiliki kendali penuh terhadap obyek penelitian sehingga tidakmampu menerapkan penugasan obyek secara acak. Quasi experiment didefinisikan sebagai eskperimen yang memiliki perlakuan, pengukurandampak, unit eksperimen namun tidak menggunakan penugasan acak untuk menciptakan perbandingandalam rangka menyimpulkan perubahan yang disebabkan perlakuan(Cook & Campbell, 1979). Jenis inijuga seringkali disebut sebagai post-hoc research yang berarti bahwa peneliti dapat melihat efek yangterjadi dari sebuah variabel setelah kejadian tertentu (Salkind, 2006:234). Quasi experimentsesungguhnya dapat dikatakan mirip dengan true experiment jika dilihat dari pemanipulasian variabelindependen yang dilakukan (Ary et al, 2010:316). Beberapa perbedaan yang sangat signifikan dari quasi experiment bila dibandingkan dengantrue experiment adalah jika di dalam true experiment digunakan untuk menguji sebab-akibat yangsesungguhnya dari sebuah hasil relasi, sedangkan di dalam quasi experiment hanya melakukanpengujian tanpa adanya kendali penuh didalamnya (Salkind, 2006:10; Levy & Ellis, 2011). Namun hal inibukan berarti bahwa peneliti sama sekali tidak memiliki kendali terhadap obyek penelitian di dalamquasi experiment, tetapi yang dimaksudkan adalah kendali yang dimiliki tidak mutlak bisa digunakan.Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 1
  • 3. Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment Beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh desain quasi experiment adalah terlalu fokus terhadapkejadian yang tidak dapat diperkirakan dan tidak berkelanjutan sehingga dapat mengaburkan tujuan jikaterjadi perubahan yang tidak terduga akibat faktor fenomena ekonomi atau perkembangan politik. Danjuga kurang kuatnya pengukuran dalam hal asosiasi yang menjadikan beberapa efek yang terjadipengukurannya terbatas. Hal tersebut mengakibatkan beberapa efek seringkali “tidak terlihat” padasaat pengukuran terjadi (Caporaso, 1973:31-38). Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, penggunaan quasi experiment sangatdisarankan mengingat kondisi obyek penelitian yang seringkali tidak memungkinkan adanya penugasansecara acak. Hal tersebut diakibatkan telah terbentuknya satu kelompok utuh (naturally formed intactgroup), seperti kelompok siswa dalam satu kelas. Kelompok-kelompok ini juga sering kali jumlahnyasangat terbatas. Dalam keadaan seperti ini kaidah-kaidah dalam true experiment tidak dapat dipenuhisecara utuh, karena pengendalian variabel yang terkait subjek penelitian tidak dapat dilakukansepenuhnya. Sehingga untuk penelitian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pembelajaran,direkomendasikan penggunaan teknik quasi experiment di dalam implementasinya (Azam, Sumarno &Rahmat, 2006). Tidak adanya pengacakan dalam menentukan subjek penelitian memungkinkan untukmunculnya masalah-masalah yang terkait dengan validitas eksperimen, baik validitas internal maupuneksternal. Akibatnya, interpreting and generalizing hasil penelitian menjadi sulit untuk dilakukan. Olehkarena itu, pembatasan hasil penelitian harus diidentifikasi secara jelas dan subjek penelitian perludideskripsikan. Secara umum, pelaksanaan penelitian dengan menggunakan teknik quasi experiment dapatberhasil jika strategi berikut diterapkan didalamnya. Strategi tersebut antara lain (Robson et al,2001:30): menambahkan kelompok kontrol, melakukan pengukuran sebelum dan sesudah implementasiyang didalamnya dilakukan intervensi, secara bertahap memperkenalkan perlakuan terhadap kelompokobyek, menambahkan prosedur terbalik terhadap tiap perlakuan di tiap kelompok dan menggunakanpengukuran luaran tambahan.Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 2
  • 4. Desain Penelitian Menggunakan Quasi ExperimentB. Jenis Desain Quasi Experiment Terdapat beberapa jenis desain di dalam implementasi quasi experiment, yakni (Ary et al, 2010;Azam, Sumarno & Rahmat, 2006):1. Nonrandomized Control Group, Pretest–Posttest Design Disebut juga sebagai non eqivalent control group design dan dianggap sebagai desain yang paling banyak digunakan di dalam teknik quasi experiment (Salkind, 2006:235). Desain ini mirip dengan pre-test-posttest di dalam true experiment namun tidak memiliki penugasan acak didalamnya.Karena adanya pretest, maka pada desain penelitian tingkat kesetaraan kelompok turut diperhitungkan. Pretest dalam desain penelitian ini juga dapat digunakan untuk pengontrolan secara statistik (statistical control) serta dapat digunakan untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap capaian skor (gain score). Tabel 1: Skema Nonrandomized Control Group, Pretest–Posttest Design (Ary et al, 2010) Group Pretest Independent Variable Posttest E Y1 X Y2 C Y1 — Y2 Hal yang penting diperhatikan di dalam desain ini adalah jika posttest yang dilakukan ternyata tidak berpengaruh kepada subjek eksperimen akibat adanya pengaruh dari pretest sebelumnya. Sebab hasil posttest bisa jadi hanya merupakan pengaruh akibat dari adanya pretest. Misal: jika di dalam pretest terdapat pertanyaan, “Apakah Anda sering membaca harian Kompas?”, dan setelah terjadi perlakuan pada subjek eksperimen yang didalamnya mengharuskan mereka sering melakukan review terhadap artikel di harian Kompas, maka jawaban pada saat posttest untuk pertanyaan yang sama bisa menjadi bias. Tetapi bias yang terjadi antara hasil pretest dan posttest umumnya dapat dihindari jika tes yang dilakukan lebih bersifat sebagai achievement test, karena didalamnya akan menuntut subjek menjawab posttest berdasarkan hasil perlakuan eksperimen. Namun jika tes yang dilakukan lebih mengarah ke motivasi atau sikap, maka disarankan untuk tidak menggunakan desain jenis ini (Ary et al, 2010). Hasil yang mungkin terjadi di dalam desain ini antara lain (Vockell, 1983:177) : a. Kelompok yang mendapat perlakuan mendapatkan hasil posttest yang lebih baik (dianggap sebagai hasil yang terbaik dari eksperimen)Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 3
  • 5. Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment Dengan perlakuan Tanpa perlakuan Pretest Posttest Gambar 1. Contoh Kemungkinan Pertama b. Kelompok yang mendapat perlakuan mendapatkan hasil posttest yang sama baik atau sama meningkat dengan kelompok yang tidak mendapat perlakuan (diasumsikan sebagai hasil gagal dalam eksperimen karena perlakuan tidak memiliki pengaruh) Dengan perlakuan Tanpa perlakuan Posttest Pretest Gambar 2. Contoh Kemungkinan Kedua dan Ketiga Secara umum, desain ini cukup memadai untuk dilakukan di dalam situasi yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk melakukan penugasan secara acak dan lebih ditekankan kepada hasil posttest yang bersifat achievement sehingga efek dari eksperimen dapat lebih terlihat secara jelas. Umumnya desain jenis ini digabungkan dengan desain lain dari quasi experiment agar dapat mendapatkan hasil yang lebih optimal (Vockell, 1983:178)2. Counterbalanced Design Desain jenis ini umumnya menggunakan lebih dari satu intact class (kelas yang sudah terbentuk sebelumnya) lalu dirotasi perlakuannya pada interval waktu tertentu. Perbedaan utama antara jenis ini dengan jenis sebelumnya adalah bahwa seluruh kelompok akan mengalami perlakuan yang sama, tetapi dengan urutan yang berbeda-beda (lihat pada skema di tabel 2). Jenis ini lazim digunakan apabila seorang pembelajar ingin melihat perbandingan efek perlakuan yang sama kepada kelompok yang berbeda.Desain ini juga dapat digunakan jika perlakuan yang akan diterapkan lebih dari satu jenis.Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 4
  • 6. Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment Kelebihan dari desain ini dibandingkan desain pertama, yakni bahwa seluruh kelompok mendapat perlakuan yang sama, sehingga mengurangi risiko akan terjadinya kekecewaan dari satu kelompok karena merasa diperlakukan tidak adil di dalam proses eksperimen. Tetapi bisa juga terjadi bahwa jika perlakuan yang dikenakan harus secara berurutan atau sekuensial, maka hasil eksperimen pada kelompok tertentu (yang terkena perlakuan tidak urut) akan mendapatkan hasil yang berbeda. Risiko lain adalah kebosanan dari kelompok yang mendapat perlakuan, jika perlakuan yang diberikan dianggap terlalu banyak. Tabel 2: Skema Counterbalanced Design (Ary et al, 2010) Experimental Treatments Replication X1 X2 X3 X4 1 Group A B C D 2 Group B A D B 3 Group C D A C 4 Group D C B A3. One-Group Time-Series Design Desain jenis ini hanya dilakukan pada satu kelompok dengan perlakuan yang diulang-ulang. Skema di tabel 3 menunjukkan contoh perlakuan pada desain jenis ini dengan melakukan observasi yang sama secara berulang-ulang (dilambangkan dengan Y) dan kemudian diselingi dengan perlakuan (dilambangkan dengan X) pada waktu tertentu, kemudian dilakukan observasi lagi secara berulang- ulang. Tabel 3: Skema One-Group Time-Series Design (Ary et al, 2010) Y1 Y2 Y3 Y4 X Y 5 Y6 Y7 Y8 Di dalam penerapan desain ini, ancaman terhadap validitas yang mungkin terjadi adalah adanya perubahan yang radikal yang bisa terjadi hanya pada saat perlakuan pertama dilakukan, sehingga dapat menimbulkan bias di perlakuan yang sama pada periode berikutnya. Namun dengan adanya pola data yang dapat dibaca secara mudah, seharusnya ancaman tersebut dapat dihilangkan dengan mudah (Vockell, 1983). Hasil yang mungkin diperoleh dari desain ini tampak pada gambar 3, yakni : a. Kemungkinan pertama (A) Perlakuan khusus (X) benar-benar mempengaruhi variabel dependen b. Kemungkinan kedua (B) Perlakuan khusus (X) hanya mempengaruhi variabel dependen secara temporer c. Kemungkinan ketiga (C)Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 5
  • 7. Desain Penelitian Menggunakan Quasi Experiment Perlakuan khusus (X) bukan pengaruh utama variabel dependen, tetapi lebih karena faktor maturasi d. Kemungkinan keempat (D) Terjadi kejadian khusus di rentang waktu eksperimen sehingga hasilnya tidak beraturan. Gambar 3. Ilustrasi Kemungkinan Luaran Pada Desain One-Group Time-Series Design (Ary et al, 2010) Desain jenis ini memiliki keuntungan yakni mampu mendeteksi adanya kelemahan faktor maturasi dan regresi. Tetapi di sisi lain, memiliki kelemahan di faktor sejarah, misal : di saat eksperimen dilakukan, pada tahapan tertentu (misal Y5) tiba-tiba terjadi kejadian di luar dugaan seperti perubahan cuaca, perubahan perilaku akibat peristiwa tertentu dan lainnya.4. Control Group Time-Series Design Desain jenis ini merupakan pengembangan dari desain jenis sebelumnya dengan menggabungkan desain jenis ketiga dengan desain jenis pertama. Penggabungan tersebut diharapkan dapat mengatasi kelemahan di desain jenis yang ketiga sehingga faktor sejarah dapat dideteksi dan dihilangkan sebagai ancaman validitas internal. Tabel 4: Skema Control Group Time-Series Design (Ary et al, 2010) Group Exp. Y1 Y2 Y3 Y4 X Y5 Y6 Y7 Y8 Cont. Y1 Y2 Y3 Y4 - Y5 Y6 Y7 Y8Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 6
  • 8. Desain Penelitian Menggunakan Quasi ExperimentC. Faktor Bias Mengukur Perubahan Dalam Eksperimen (Borg& Gall, 1983:720:726) Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan di dalam proses pengukuran yang terjadi padapenelitian yang menggunakan desain berjenis eksperimen. Beberapa faktor tersebut dapatmenyebabkan bias di dalam hasil eksperimen antara lain:1. Ceiling effect Seringkali jangkauan nilai yang digunakan di dalam pelaksanaan tes sulit untuk dilakukan. Sebagai contoh jika terdapat skala 0-100 dan seorang siswa memiliki peningkatan nilai dari 85 ke 90, bukan berarti lebih baik peningkatannya dibanding seorang siswa yang memiliki peningkatan nilai dari 40 ke 60. Sehingga seakan-akan bahwa siswa yang mendapatkan nilai 90 memiliki perkembangan lebih baik dibandingkan siswa yang mendapatkan nilai akhir 60.2. Regression effect Terdapat kemungkinan bahwa siswa yang mendapatkan nilai lebih rendah pada saat pre-test nantinya akan mendapatkan nilai lebih tinggi pada saat posttest dan begitu pula sebaliknya. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya faktor keberuntungan dan kemungkinan besar bahwa keberuntungan tersebut tidak terulang lagi. Asumsi lain yang terjadi adalah adanya perlakuan yang dianggap sama rata untuk tiap peningkatan nilai tes, misal : peningkatan dari nilai 90 ke 95 seharusnya tidak dianggap sama dengan peningkatan dari nilai 40 ke 45.3. Simpangan pengukuran yang berulang Seringkali keefektifan pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dalam rentang waktu tertentu bisa menyebabkan adanya simpangan yang besar dari satu pengukuran ke pengukuran lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan analisa kelompok perlakuan dikali dengan waktu pengujian agar didapat rasio yang signifikan pada perbedaan antara pre-test dengan posttest.Soetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 7
  • 9. Desain Penelitian Menggunakan Quasi ExperimentDaftar PustakaAry, Donald et al, 2010, Introduction to Research in Education 8th edition, Wardswoth Cengage LearningAzam, Prof. Nurfani SU, Apt, DR. Sumarno & DR Adi Rahmat, 2006, Metodologi Penelitian Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Penelitian Kuasi Eksperimen dalam PPKP, Direktorat Ketenagaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan NasionalBorg, Walter R. & Meredith Damien Gall, 1983, Educational Research, an Introductionfourth edition, LongmanCaporaso, James .A, 1973, Quasi-Experimental Approaches to Social Science dalam Quasi-Experimental Approaches (ed. James A. Caporaso & Leslie L. Roos Jr), Northwestern University PressCook, Thomas .D & Donald T. Campbell, 1979, Quasi Experimentation Design & Analysis Issue for Field Settings, Houghton Mifflin Company:BostonLevy, Yair & Timothy J. Ellis, 2011, A Guide for Novice Researchers on Experimental and Quasi- Experimental Studies in Information Systems Research, Interdisciplinary Journal of Information, Knowledge, and Management Volume 6, 2011Robson, Lynda et al, 2001, Guide to Evaluating the Effectiveness of Strategies for Preventing Work Injuries: How to Show Whether a Safety Intervention Really Works, National Institute for Occupational Safety and HealthSalkind, Neil .J, 2006, Exploring Research sixth edition, Pearson InternationalScott, David & Robin Usher, 2011, Researching Education 2nd edition, Continuum International Publishing GroupVockell, Edward L, 1983, Educational Research, MacMillan PublishingSoetam, Jujuk, Edy – 26 Oktober 2011 Hal. 8