Your SlideShare is downloading. ×
Implikasi chaotic behavior pada model crowdsourcing
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Implikasi chaotic behavior pada model crowdsourcing

472
views

Published on


0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
472
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. IMPLIKASI CHAOTIC BEHAVIOUR PADA PENERAPAN MODEL CROWDSOURCING <br />Soetam Rizky Wicaksono<br />Program Studi S3 Teknologi Pembelajaran<br />Universitas Negeri Malang<br />NIM : 110121609138/DTEP 105023<br />Latar Belakang<br />Penerapan collaborative learning di dalam pembelajaran online saat ini merupakan sebuah tren yang sedang berkembang di dalam kajian pendidikan (Greenhow & Belbas, 2007:364). Hal tersebut dikarenakan penerapannya di masa sekarang mengusahakan keterlibatan yang lebih banyak dari para siswa dibandingkan peran pengajar atau lazim disebut sebagai student centered learning. Salah satu penerapan collaborative learning dalam pembelajaran berbasis online yang dianggap inovatif dan cukup berhasil adalah model crowdsourcing (Engstrom & Dewet, 2010, Borst, 2010). <br />Namun demikian, model crowdsourcing yang dapat digolongkan ke model pembelajaran konstruktif, karena didalamnya memiliki kebebasan dan ketidakteraturan di dalam menyelesaikan sebuah masalah, memiliki beberapa kendala di dalam implementasinya. Model crowdsourcing yang lazim diterapkan dengan media berjenis wiki, dapat berhasil dengan pantauan seorang super moderator yang dapat mengarahkan para pembelajar menjadi para individu yang bersemangat dan saling membantu satu sama lain (Engstrom & Dewet, 2010), namun juga sebaliknya dapat menjadikan para individu berlaku “anarkis” di dalam proses pembelajaran ataupun patah semangat di tengah proses yang sedang berjalan. <br />Makalah ini berusaha mengkaji secara teoritis kendala yang mungkin terjadi di dalam penerapan model crowdsourcing, khususnya dari perilaku para pembelajar. Perilaku individu yang di dalam sebuah sistem dapat tiba-tiba menjadi tidak terkendali dan saling berpengaruh satu sama lain, dapat segera menghancurkan model tersebut. Tetapi dengan penanganan yang tepat, kendala tersebut seharusnya dapat dijadikan sebuah kekuatan, bukan lagi sebuah kelemahan yang harus dihindari.<br />Kajian Pustaka<br />
    • Crowdsourcing
    Crowdsourcing merupakan model yang terbuka bagi kelompok masyarakat tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu, memecahkan masalah yang kompleks atau menyumbangkan ide segar untuk topik tertentu (Howe, 2006). Penerapan model ini terhadap sebuah pemecahan masalah secara kolaboratif merupakan sebuah terobosan sekaligus dapat menjanjikan solusi yang jauh lebih luas cakupannya dibandingkan dengan model kolaborasi biasa (Engstrom & Dewet, 2010;Kittur,Lee & Kraut, 2009).<br />Pada dasarnya, penerapan model crowdsourcing diharapkan dapat menjadikan pengembangan model online learning yang lebih moderat, serta didukung adanya kompetisi secara sehat dan reward yang bersifat sebagai reinforcement bagi mahasiswa, akan dapat meningkatkan motivasi mahasiswa dalam proses pembelajaran (Borst, 2010:131). Sehingga diharapkan bahwa selain terjadi peningkatan motivasi, juga terjadi peningkatan kualitas sumber belajar secara signifikan setiap saat dengan adanya pengembangan konten yang dilakukan sendiri oleh para pembelajar.<br />Di dalam penerapan crowdsourcing dapat terjadi sebuah model kolaborasi yang baik dengan adanya moderator yang dianggap sederajat pengetahuannya dan pengasumsian bahwa tiap kontributor solusi adalah sama relasinya. Namun pada saat penerapan crowdsourcing didalamnya memiliki seorang atau lebih moderator yang “super” dan sangat disegani, maka penerapannya dapat berubah menjadi sebuah kekacauan yang harus sangat dihindari di dalam implementasinya (Kittur & Kraut, 2008). Pada saat hal tersebut terjadi maka dapat dipastikan perilaku para pembelajar yang seharusnya saling melengkapi sumber belajar akan menjadi kacau dan tak terkendali.<br />
    • Chaotic Behavior
    Kekacauan perilaku dalam sebuah situasi secara umum hanya terjadi sesekali dan tidak berulang. Kekacauan tersebut dapat berupa tindakan yang tidak terduga, sebagai contoh pembelajar yang tiba-tiba putus asa dan berhenti sesaat, namun pada kurun waktu tertentu dapat kembali aktif dan bersemangat. Perilaku seperti ini, merupakan salah satu bagian dari chaos theory yakni sebuah studi yang mempelajari perilaku yang tak terduga di dalam sebuah sistem yang pasti, sederhana dan memiliki batas tertentu (Kellert, 2006:5).<br />Chaos sendiri didefinisikan sebagai ketergantungan sensitif terhadap sebuah kondisi awal (Smith, 1998:1). Chaos juga tidak boleh diasumsikan dengan keadaan acak, namun lebih diarahkan kepada suatu kondisi yang dinamis tapi tidak linier dari suatu sistem (Kellert, 2006:4). Chaos yang secara resmi diperkenalkan pada tahun 1989 (Smith, 1998:186) akhirnya berkembang menjadi sebuah teori yang tidak hanya berlaku di ilmu sains, namun juga ilmu sosial.<br />Di dalam chaos theory, perilaku yang menyebabkan chaos dinyatakan sebagai chaotic behavour (Kellert, 2006:6). Chaotic behavior tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dapat terjadi di dalam sebuah kelompok. Hal tersebut dapat terjadi jika perilaku chaos seseorang menyebabkan orang lain terganggu dan sekaligus menjadikan anggota lain dari kelompok tersebut juga memunculkan perilaku yang tak terduga atau chaotic behavour yang saling terpengaruh satu sama lain (Warren, Franklin & Streeter, 1998:368).<br />Pembahasan<br />Chaotic behavior di dalam sebuah lingkungan, khususnya di dalam penerapan model crowdsourcing bisa terjadi dikarenakan beberapa sebab antara lain :<br />
    • Adanya moderator yang bersifat sangat super (Greenhow & Belbas, 2007), sehingga dapat menyebabkan para pembelajar menyerah atau putus asa, disebabkan mereka merasa bahwa sang moderator dapat membatalkan seluruh konten tanpa alasan yang jelas.
    • 2. Kondisi para pembelajar yang secara umum bersikap skeptis mengenai potensi keberhasilan kolaborasi jarak jauh (Weaver et al, 2010:858). Hal tersebut dikarenakan persepsi pembelajar yang umumnya berasumsi bahwa proses belajar dengan model kolaborasi hanya akan berhasil jika para anggota tim saling bertatap muka secara langsung. Potensi chaos yang dapat dihasilkan adalah pembelajar dapat saling menyalahkan satu sama lain jika terjadi ketidakberhasilan di dalam proses kolaborasi.
    • 3. Tidak adanya reward yang sepadan bagi para pembelajar secara sepadan (Borst, 2010:139). Hal tersebut terbukti dapat melemahkan motivasi ekstrinsik para pembelajar di dalam mengikuti model crowdsourcing sekaligus dapat menyebabkan keputusasaan dalam proses selanjutnya.
    Dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa implikasi dari chaotic behavior di dalam penerapan crowdsourcing adalah perilaku keputusasaan yang dapat timbul secara tidak terduga dan dapat langsung berpengaruh kepada pembelajar lain. Namun demikian, potensi munculnya chaotic behavior secara teoritis dapat dicegah dengan beberapa tindakan preventif berikut ini :<br />
    • Memberikan reward yang sepadan bagi para pembelajar sehingga mereka mendapatkan motivasi ekstrinsik yang konstan di dalam menjalani model pembelajaran crowdsourcing (Borst, 2010). Reward yang dimaksud lebih berupa apresiasi, nilai dalam subyek mata kuliah ataupun penghargaan non uang, sebab hal tersebut jauh lebih memiliki efek positif dibandingkan penghargaan berupa uang di dalam pelaksanaan model crowdsourcing (Kittur, Lee & Kraut, 2009).
    • 4. Memberikan arahan kepada moderator agar tidak berlaku superior, namun lebih bertindak secara rasional dalam memutuskan apakah sebuah konten dapat disetujui atau tidak di dalam hasil pembelajaran crowdsourcing.
    • 5. Memberi motivasi kepada para pembelajar bahwa model kolaborasi dengan model crowdsourcing yang umumnya diterapkan tanpa tatap muka secara langsung dapat berjalan dengan baik. Hal tersebut agar menghilangkan sikap skeptis dari para pembelajar mengenai keberlanjutan penerapan model ini.
    Kesimpulan<br />Dari uraian yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa chaotic behavior yang paling menonjol dan potensial terjadi di dalam penerapan model crowdsourcing adalah sikap putus asa. Namun demikian, sesuai dengan definisinya, chaotic behavior hanya muncul sesekali dan umumnya tidak berulang, dengan asumsi pada saat munculnya perilaku tersebut langsung segera diberi penanganan yang tepat.<br />Di sisi lain, chaotic behavior hingga saat ini masih diakui sangat sulit pengukurannya secara kuantitatif (Warren, Franklin & Streeter, 1998). Namun demikian, kemunculannya dapat segera ditengarai keberadaannya dan seharusnya dapat segera diatasi. Khususnya dalam penerapan model crowdsourcing yang didalamnya terdiri dari berbagai kelompok dan bersifat kolaboratif, kemunculan chaotic behavior harus segera ditangani agar hasil belajar dapat lebih optimal.<br />Daftar Pustaka<br />Borst, Irma, 2010, Understanding Crowdsourcing, ERIM PhD Series in Research in Management, Erasmus Universiteit Rotterdam: Rotterdam<br />Engstrom, Mary .E and Dusty Jewett, 2010, Collaborative Learning the Wiki Way, Tech Trends, vol. 49, number 6, pp 12 - 15<br />Greenhow, Christine & Brad Belbas, 2007, Using activity-oriented design methods to study collaborative knowledge-building in e-learning courses within higher education dalam Computer-Supported Collaborative Learning (2007) 2: hal. 363–391<br />Howe, J. 2006. The rise of crowdsourcing, Wired. 14(6), http://www.wired.com/wired/archive/14.06/crowds.html, akses terakhir 10 September 2011<br />Kellert, Stephen H, 2006, Borrowed knowledge : chaos theory and the challenge of learning across disciplines, The University of Chicago Press:Chicago<br />Kittur, Aniket ; Bryant Lee, and Robert E. Kraut, 2009, Coordination in collective intelligence: the role of team structure and task interdependence, dalam Proceedings of the 27th international conference on Human factors in computing systems (CHI '09), ACM, New York, NY, USA, hal. 1495-1504<br />Kittur, Aniket & Robert E. Kraut, 2008, Harnessing the wisdom of crowds in wikipedia: quality through coordination dalam Proceedings of the 2008 ACM conference on Computer supported cooperative work (CSCW '08), ACM, New York, NY, USA, hal. 37-46. <br />Smith, Peter, 1998, Explaning Chaos, Cambridge University Press: Cambridge<br />Warren, Keith Cynthia Franklin, and Calvin L Streeter, 1998, New directions in systems theory: Chaos and complexity dalam  Social Work 43, no. 4, (July 1): 357-372<br />Weaver, Debbie et al, 2010, Off campus students’ experiences collaborating online, using wikis dalam Australasian Journal of Educational Technology 2010, 26(6), hal. 847-860<br />