Mendidik Anak Menjadi Mujahid Islam yang TangguhKETIKA berita tentang tentara Salibis yang telah bersiap untuk meluluhlant...
Lalu Abu Qudamah pun memberinya tiga anak panah, lantas anak itu mulai membidik.“Bismillah,” ucapnya. Kemudian anak panah ...
Maka orang berjejal-jejal saling dorong untuk masuk ke dalam parit api itu, disebabkankeyakinan mutlak mereka terhadap aki...
Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah, majulahpaling depan niscaya kalian akan men...
1. Bagaimana dia bisa memberikan pendidikan dan pengajaran terbaik pada anak-anaknya,   meliputi pemahaman akidah yang ben...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Menjadi mujahid yang tangguh

461

Published on

Didiklah generasi ini menjadi generasi yang bermoral dan tangguh, jadikanlah generasi selanjut mengikuti ketangguhan kita, jadilah seorang mujahidin dan mujahidah !!!

karena jihad tidak akan berkahir sampai kiamat itu tiba,

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
461
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Menjadi mujahid yang tangguh"

  1. 1. Mendidik Anak Menjadi Mujahid Islam yang TangguhKETIKA berita tentang tentara Salibis yang telah bersiap untuk meluluhlantakkan Islam sampaikepadanya, Abu Qudamah ASy-Syami bergerak cepat menuju mimbar masjid. Dalam pidatoyang emosional dan bertenaga, Abu Qudamah membakar semangat masyarakat muslim untukmempertahankan tanah air mereka, dengan jihad fi sabilillah. Tak lama setelah dia meninggalkanmasjid, menuruni lorong sempit dan gelap, tiba-tiba seorang wanita menghentikan langkahnyadan berkata, “Assalamu‟alaikum wa rahmatullah!” Abu Qudamah berhenti, dan tidakmenjawabnya.Wanita itu mengulangi lagi salamnya, seraya menambahkan, “Hal demikian bukanlah tindakanyang seharusnya dilakukan orang shalih.” Lalu wanita itu berjalan selangkah mendekatibayangan Abu Qudamah. “Aku mendengar engkau di masjid memotivasi orang-orang berimanuntuk pergi berjihad, dan yang aku punya hanyalah ini,” tuturnya seraya menyeragkan dua buahkuncir yang dipotong dari rambutnya. Wanita itu meneruskan, “Ini bisa digunakan sebagai talikendali kuda. Semoga Allah menetapkan diri sebagai salah seorang yang pergi berjihad.Pada hari berikutnya ketika penduduk perkampungan muslim telah bersiaga untuk berkonfrontasidengan laskar Kristen, tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke kerumunan dan berdiri di hadapankuda yang ditunggangi Abu Qudamah. “Demi Allah, aku memohon kepada engkau agarmengizinkanku untuk bergabung ke dalam pasukan,” terang anak kecil itu. Tak ayal, beberapamujahid yang lebih tua menertawakan anak tersebut. “Nanti kuda akan menginjak-injak engkau,”ejek yang lain.Akan tetapi Abu Qudamah menatap dalam-dalam kedua matanya, lalu bocah kecil itu berkatalagi, “Demi Allah, izinkan aku untuk bergabung.” Abu Qudamah menimpali, “Tapi dengan satusyarat, jika engkau terbunuh, maka engkau akan membawaku ke surga bersama orang-orangyang engkau masukkan ke dalam syafaat (syahid)mu.” Anak itu lantas tersenyum sembariberucap, “Itu adalah janji.”…Dia menggapai tingkatan ketakwaan maksimal, yang mana dia rela mengorbankan rambutnya,ketika hari ini banyak wanita memperindah rambut mereka untuk meniru orang-orang kafir…Tatkala dua pasukan bertemu dan tensi pertempuran semakin meninggi, anak kecil yangdibonceng di belakang Abu Qudamah itu meminta, “Demi Allah aku meminta kepadamu untukmemberiku tiga anak panah!” Abu Qudamah menjawab, “Engkau akan menyia-nyiakannya.”Anak itu mengulangi lagi, “Demi Allah, aku meminta kepadamu untuk memberiku anak panah.”
  2. 2. Lalu Abu Qudamah pun memberinya tiga anak panah, lantas anak itu mulai membidik.“Bismillah,” ucapnya. Kemudian anak panah pertama itu melesat dan membunuh seorang tentaraRomawi. “Bismillah,” ucapnya kedua kali. Lalu anak panah kedua melesat dan menewaskanseorang tentara Romawi lagi. “Bismillah,” ucapnya lagi. Kemudian anak panah terakhir itu punmenyungkurkan seorang tentara Romawi lainnya.Tak lama setelah itu, sebuah anak panah melesat menembus dada anak kecil itu, membuatnyajatuh terpelanting dari kuda. Sontak Abu Qudamah pun loncat dari kudanya dan mendekati anakitu, lalu mengingatkannya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, “Jangan melupakanjanji!” kemudian anak itu meraih sakunya, dan mengeluarkan sebuah kantong seraya berujar,“Tolong kembalikan ini kepada ibuku.” “Siapa ibumu?” tanya Abu Qudamah. Anak itu berkatadengan terengah-engah, “Wanita yang kemarin memberimu dua buah kuncirnya.”Demikian kisah teladan mujahid Islam yang dikisahkan Ibnul Jauzi dalam Shifat Ash-Shafwah.Kisah wanita yang memotong kuncirnya tersebut dikomentari Ibnul Jauzi sbb: “Wanita ininiatnya baik, namun caranya keliru karena dia tidak tahu bahwa perbuatannya itu –yaknimemotong kuncirnya– terlarang, karenanya dalam hal ini kita hanya menyoroti niatnya saja.”(Shifat Ash-Shafwah, 1/459) Renungkanlah wanita tersebut; bagaimanadia menggapai tingkatan ketakwaan maksimal, yang mana dia rela mengorbankan rambutnya,ketika hari ini banyak wanita memperindah rambut mereka untuk meniru orang-orang kafir. Dandia juga pasrah mengorbankan anaknya, ketika dewasa ini para wanita justru sanggup matiasalkan anak-anak mereka bersama mereka. Ya, wanita dalam kisah di atas menghabiskanhidupnya dalam ketaatan kepada Allah, dan ketika ujian itu datang, dia dengan mudahnyamelewatinya. Bukan hanya dirinya yang sanggup melewati ujian tersebut. Anak lelaki yang telahdidiknya pun bersinar dengan kemilau keimanan seperti ibunya.…Sejarah Islam diwarnai dengan banyak wanita beriman yang sukses mencetak mujahidtangguh dan para pembela Islam. Mereka patut ditiru. Mereka adalah teladan sempurna…Sejarah Islam diwarnai dengan banyak wanita beriman yang sukses mencetak pribadi-pribaditangguh dan para pembela Islam. Mereka patut ditiru, karena mereka adalah teladan sempurna.Kita mungkin pernah mendengar kisah tentang seorang pemuda dengan seorang raja kafir. Yaituketika seluruh penduduk desa berbondong-bondong memeluk Islam dikarenakan syahidnyapemuda tersebut, maka raja memerintahkan supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api.Lalu setiap penduduk ditanya tentang agamanya, jika dia telap setia kepada agama raja, makadibiarkan. Akan tetapi jika dia tetap beragam dengan agama si pemuda (percaya kepada Allah),maka akan dimasukkan ke dalam parit api itu.
  3. 3. Maka orang berjejal-jejal saling dorong untuk masuk ke dalam parit api itu, disebabkankeyakinan mutlak mereka terhadap akidah sang pemuda yang syahid. Sehingga tiba giliranseorang wanita menggendong bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat olehpengikut-pengikut raja untuk dimasukkan ke dalam parit api itu, wanita itu hampir menurutimereka untuk murtad, karena merasa kasihan kepada anaknya yang masih bayi. Tiba-tiba bayiitu berkata dengan suara lantang, “Bersabarlah wahai ibuku, karena engkau sedangmempertahankan yang benar.” Akhirnya, wanita mukminah itu masuk ke dalam parit apibersama bayi yang digendongnya.Mengenai hal ini, Allah berfirman,“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orangmukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyaikerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruj 8-9).…Melalui pembinaan Al-Khansa yang dikenal sebagai ibunda para syahid, keempat anaklelakinya tampil menjadi pahlawan Islam yang terkenal. Ia mendorong keempat anak lelakinyatentang kemuliaan gugur syahid di medan Al-Qadisiyah…Dan salah satu sosok mukminah yang sudah tak asing lagi adalah Al-Khansa yang dikenalsebagai ibunda para syahid. Dia menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As-Sulami. Daripernikahan itu dia mendapatkan empat orang anak lelaki. Dan melalui pembinaan danpendidikan tangan-tangannya, keempat anak lelakinya ini tampil menjadi pahlawan-pahlawanIslam yang terkenal. Hal itu dikarenakan dorongannya terhadap keempat anak lelakinya yangtelah gugur syahid di medan Al-Qadisiyah.Sebelum peperangan dimulai, terjadilah perdebatan sengit di rumah Al-Khansa. Di antara keempat putranya telah terjadi perebutankesempatan mengenai siapakah yang akan ikut berperang melawan tentara Persia, dan siapakahyang harus tinggal di rumah bersama ibunda mereka. Keempatnya saling tunjuk menunjukkepada yang lainnya untuk tinggal di rumah. Masing-masing ingin turut berjuang melawanmusuh fi sabilillah.Rupanya, pertengkaran mereka itu telah terdengar oleh ibunda mereka, Al-Khansa. Maka Al-Khansa mengumpulkan keempat anaknya dan berkata:“Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan. Kalian telahberhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnyakalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan dari seorang perempuan yang sama. Tidakpantas bagiku untuk mengkhianati bapakmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencorengarang di kening keluargamu.
  4. 4. Jika kalian telah melihat perang, singsingkanlah lengan baju dan berangkatlah, majulahpaling depan niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat. Negeri keabadian.Wahai anakku, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu RasulAllah. Inilah kebenaran sejati, maka untuk itu berperanglah dan demi itu pula bertempurlahsampai mati.Wahai anakku, carilah maut niscaya dianugrahi hidup.”Pemuda-pemuda itu pun keluar menuju medan perang. Mereka berjuang mati-matian melawanmusuh, sehingga banyak musuh yang terbunuh di tangan mereka. Akhirnya nyawa merekasendirilah yang tercabut dari tubuh-tubuh mereka. Ketika ibunda mereka, Al-Khansa, mendengarkematian anak-anaknya dan kesyahidan semuanya, sedikit pun dia tidak merasa sedih dan kaget.Bahkan ia berkata, “Alhamdulillah yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku.Semoga Allah segera memanggilku dan berkenan mempertemukan aku dengan putra-putrakudalam naungan Rahmat-Nya yang kokoh di surgaNya yang luas.”…Ketika Al-Khansa, mendengar kesyahidan semua anaknya, sedikitpun dia tidak merasa sedihdan kaget. Bahkan ia berkata, “Alhamdulillah, Allah telah memuliakanku dengan syahidnyaputra-putraku…Inilah mengapa Al-Khansha dijuluki ibunda para syahid (ummu syuhada). Namun bukan gelarsebagai Ummu Syuhada ini yang dia cari, melainkan keridhaan dari Allah SWT. Diberi gelarataupun tidak adalah sama baginya, dia akan tetap memotivasi anaknya untuk tetap tegar dimedan perang, dan rela melepas mereka semua pergi menuju kampung abadi dengan gelarsebagai syuhada.MENCETAK PARA MUJAHID TANGGUHSeandainya semua ibu dewasa ini memiliki orientasi hidup dan prinsip sebagaimana para ibundadalam kisah di atas, maka dunia Islam akan melihat para pahlawan dan pejuang yang siapmemperjuangkan Islam. Namun, pada zaman ini, peran ibu seolah tergantikan olehpara pembantu, baby sitter, atau dititipkan di tempat penampungan anak (day care). Betapabanyak ibu yang lebih fokus dan ambisius pada karier mereka sehingga perhatian dan kasihsayang pada anak pun berkurang bahkan hilang. Tidak jarang pula dijumpai banyak para ibuyang memiliki banyak waktu bersama anak namun merasa bingung apa yang harus dilakukanuntuk mengasah potensi buah hatinya.Dua kondisi tersebut menunjukkan minimnya pemahaman seorang ibu tentang perannya danoptimalisasi perannya, yaitu berusaha melahirkan generasi mulia; generasi para mujahid.Tentunya, menjadi ibu pencetak mujahid meniscayakan proses pembelajaran, di antaranyaadalah:
  5. 5. 1. Bagaimana dia bisa memberikan pendidikan dan pengajaran terbaik pada anak-anaknya, meliputi pemahaman akidah yang benar, syariat yang komprehensif, dan akhlak terpuji. pendidikan dan pengajaran terbaik pada anak-anaknya, meliputi pemahaman aqidah yang benar, syariat yang komprehensif, dan akhlak terpuji…2. Bagaimana agar anak-anaknya selalu memberikan respon positif kepada ibu mereka.3. Bagaimana menampilkan pesona sejati ibu shalihah dan anak-anak yang shaleh serta shalihah?4. Bagaimana ibu dan anak-anaknya dicintai Allah dan Rasul-Nya 5. Bagaimana ibu menemukan rahasia metodologi dan epistemologi dalam mencetak generasi mujahid, berdasarkan manhaj ahlussunnah wal jama‟ah dan paradigma tha`ifah manshurah (kelompok yang selamat).6. Terakhir, bagaimana menghadirkan suasana „perjuangan setiap hari di rumah. Dalam artian, anak-anak harus diberi pemahaman bahwa antara kebenaran dan kebatilan senantiasa bertarung, dan kebenaran harus bisa melenyapkan kebatilan, dalam setiap ranah kehidupan. Hadirkan suasana „perjuangan setiap hari di rumah. Anak-anak harus diberi pemahaman bahwa antara kebenaran dan kebatilan senantiasa bertarung. Dan kebenaran harus bisa melenyapkan kebatilan…Guna merealisasikan hal-hal di atas, syariat Islam kaffah (integral) memberikan peranti-perantiyang dibutuhkan oleh ibu untuk belajar menjadi pencetak generasi mujahid. Pertama, ilmu Allahdengan Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Kedua, teladan yang baik bagipara manusia, khususnya muslim dan muslimah dalam mendidik generasi mujahid, yakniRasulullah, para shahabat dan shahabiyah, tabi‟in dan tabi‟ut-tabi‟in, serta para ulama Salafus-Shaleh lainnya. Sementara hal-hal teknisnya bisa diketahui dan dipelajari dari berbagai majlisilmu dan buku-buku keislaman yang bermanhaj lurus.Demikianlah, semoga dalam waktu dekat kita akan menyaksikan munculnya para mujahid daripara ibunda seperti Al-Khansha dan lainnya. Sehingga mereka dapat tampil memberanguskebatilan, kemaksiatan kemusyrikan, hal-hal bid‟ah, atau meruntuhkan hukum thaghut yangberkuasa. Amin!Sebarkan artikel ini, mudah-mudahan kita dapat mencetak mujahid yangtangguh untuk bangkit dari penindasan ini., TAKBIR,ALLAHU AKBAR !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

×