Laporan praktikum gel pyroksikam

11,500 views
11,236 views

Published on

Published in: Education
1 Comment
7 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
11,500
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
244
Comments
1
Likes
7
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan praktikum gel pyroksikam

  1. 1. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 1 I. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Mahasiswa dapat menyusun rancangan formula, pembuatan, evaluasi dan kemasan gel serta mendiskusikan berdasarkan karakteristik fisika kimianya. 2. Mahasiswa dapat membuat sediaan gel yang telah dirancang dan mengevaluasi sediaan yang telah dibuat. II. DASAR TEORI 2.1.Anatomi dan Fisiologi Kulit Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh yang sempurna terhadap pengaruh luar, baik pengaruh fisik maupun pengaruh kima. Dimana kulit berfungsi sebagai sistem epitel pada tubuh untuk menjaga kelurnya substansi-substansi penting dalam tubuh. Meskipun kulit relatif permeabel terhadap senyawa kimia namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh senyawa senyawa kimia namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh senyawa senyawa obat/bahan yang berbahaya yang dapat menimbulkan efek terapetik / efek toksik baik yang bersifat setempat/.sistemik. (Aiache.1993)Dari suatu penelitian diketahui bahwa pergerakan air melalui lapisan kulit yang tebal tergantung pada pertahanan stratum corneum yang berfungsi sebagai ratelimiting barier pada kulit (Swarbick dan Boylan. 1995) Secara mikroskopis kulit tersusun dari berbagai lapisan yang berbeda beda dari luar dalam epidermis, lapisan dermis, subkutan (Aiache.1993) Gambar 1. Struktur kulit. Terdiri dari lapisan epidermis (1), dermis (2), subkutis(3), folikel rambut (4), kelenjar sebaseus(5) dan kelenjar keringat (6). (Aiache.1993)
  2. 2. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 2 2.2.Absorbsi perkutan Absorbsi perkutan adalah masuknya molekul obat dari kulit ke dalam jaringan dibawah kulit kemudian masuk ke dalam sirkulasi darah dengan mekanisme difusi pasif. Istilah perkutan menunjukan bahwa penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda beda.(Aiache, 1993). Penentuan molekul dari bagian luar ke bagian dalam kulit secara nyata dapat terjadi baik melalui penetrasi transpidermal dan transpendegeal(Swarbick dan Boylan. 1995). Untuk memasuki sistem sistemik, tahapan pada absorpsi perkutan dapat melalui penetrasi pada permukaan stratum corneum di bawah gradien konsentrasi, difusi melalui stratum corneum, epidermis dan dermis, kemudian masuknya molekul ke dalam mikrosirkulasi (Aiache.1993) (Ansel. 2008) Tahapan ini dapat digambarkan pada gambar 2. Gambar 2. Mekanisme penghantaran obat melalui rute transdermal mulai dari pelepasan obat sampai menuju jaringan target (Aiache.1993) a. Penetrasi Transepidermal Sebagian obat berpenetrasi melintasi stratum korneum melalui ruang intraseluler dan ekstraseluler. Pada kulit normal, jalur penetrasi umumnya melalui transepidermal dibandingkan transapendegeal. Pada prinsipnya masuknya penetran ke dalam stratum korneum adalah adanya koefisien partisi dari penetran obat – obatan yang bersifat hidrofilik akan berpartisi melalui jalur transseluler sedangkan obat – obat yang bersifat lipofilik akan masuk kedalam stratum korneum melalui intraseluler (Swarbick dan Boylan. 1995). b. Penetrasi Transapendegeal Penetrasi melalui rute transapendegeal adalah penetrasi melalui kelenjar folikel yang ada pada kulit. Dimana penetrasi transapendegeal akan membawa senyawa obat melalui kelenjar keringat dan kelenjar rambut yang berhubungan dengan kelenjar sabapeus. Pada rute ini, dapat menghasilkan difusi yang cepat dan segera setelah penggunaan obat karena dapat menghilangkan waktu yang diperlukan obat untuk melewati stratum korneum (Swarbrick et al, 1995).
  3. 3. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 3 2.3.Definisi Gel Sediaan semi padat meliputi salep, pasta, krim dan gel. Sifat umum sediaan ini adalah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Gel merupakan system semi padat yang terdiri dari suspense yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organic yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (Ansel. 2008). Gel pada umumnya memilki karakteristik yaitu strukturnya yang kaku. Gel dapat berupa sediaan yang jernih atau buram, polar atau non polar dan hidroalkoholik tergantung konstituennya. Gel biasanya terdiri dari gom alami (tragacanth, guar atau xanthan), bahan semi sintesis ( methylcellulose, carboxymethylcellulose atau hydroxyethylcellulose ), bahan sintesis ( carbomer ). Viskositas gel pada umumnya sebanding dengan jumlah dan berat molekul bahan pengental yang ditambahkan. Gel dapat dikelompokkan menjadi : lipophilic gels dan hydrophilic gels. Lipophilic gel (oleogel) merupakan gel dengan basis yang terdiri dari parafin cair. Polletilen atau minyak lemak yang ditambah dengan silica koloid sabun – sabun alumunium atau seng. Sedangkan hydrophilic gels, basisnya terbuat dari air, gliserol atau propilen glikol yang ditambah dengan gelling agent seperti amilum, turunan selulosa, carbomer dan magnesium, aluminium silikat (Ansel. 2008) Keuntungan sediaan gel meliputi elastic, kemampuan penyebarannya pada kulit baik ; daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori ; mudah dicuci dengan air ; pelepasan obatnya baik. 2.4.Definisi Piroksikam Piroksikam merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivate enolat (Clarke, 2004). AINS mampu mengahmbat sintesis mediator nyeri prostaglandin dan sangat bermanfaat sebagai anti nyeri. Khasiat AINS sangat ditentykan kemampuan menghambat sintesis prostaglandin melalui hambatan aktifitas COX (Lelo, Azna et al, 2004). Dari berbagai uji klinik pada penderita osteoarthritis ditunjukkan bahwa AINS baik yang non selektif maupun yang selektif menghambat aktifitas COX-2 berkhasiat dalam mengurangi nyeri rematik (Kumar, 2011) Makin lebih selektif suatu AINS menghambat COX-1 makin berkurang khasiatnya sebagai antiinflamasi dan sebaliknya dengan sediaan yang makin lebih selektif menghambat COX-2. Penggunaan COX-2 sebagai obat analgetika tunggal akan menunjukkan efek mengatap. Waktu paruh dalam plasma lebih dari 45 jam sehingga dapat diberikan hanya sekali sehari. Absorbs berlangsung cepat dilambung, terikat 99% pada protein plasma. Kira – kira sama dengan kadar cairan sinovia. Efek samping tersering adalah gangguan saluran cerna, antara lain yang berat adalah tukak lambung. Efek samping tersering adalah pusing, tinnitus, nyeri kepala dan eritema kulit. Piroksikam tidak dianjurkan diberikan pada wanita hamil, pasien tokak lambung dan pasien yang
  4. 4. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 4 sedang minum antikoagulan indikasi piroksikam hanya untuk penyakit inflamasi sendi misalnya arthritis momatoid, osteoarthritis, sponditis ankilosa. Dosis 10-20 mg sehari (Syarif. 2007) Piroksikam merupakan antiinflamasi non steroid (AINS) emmpunyai sifat tidak larut dalam air, asam-asam encer dan sebagian besar pelarut organic, sehingga perlu diupayakan untuk menaikkan kelarutannya dengan penambahan surfaktan (Kumar, 2011). Prinsip kelarutan piroksikam adalah stabilitas yang sangat baik pada pH 7,5 dengan pKa 6,3. Factor yang mempengaruhi laju degradasi antara lain pH, dapar, suhu, media reaksi dan adanya bahan tambahan seperti surfaktan (Kumar, 2011) Pada penelitian ini bentuk sediaan terpilih adalah gel mempunyai kadar air yang tinggi sehingga dapat mengurangi kondisi panas dan tegang yang sifatnya setempat dan timbulnya kulit meradang. Gel diaplikasikan langsung pada kulit yang mengalami gangguan dan setelah kering akan meninggalkan lapisan tipis tembus pandang, elastic dengan daya lekat tinggi, yang tidak menyumbat pori sehingga tidak mempengaruhi pernafasan kulit. Pelepasan obat pada sediaan gel sangat bagus. Bahan obat dilepaskan dalam waktu yang singkat dan hmapir sempurna (voight, 1971). Sediaan dalam bentuk gel lbih banyak digunakan karena rasa dingin dikulit, mudah mongering membentuk lapisan film sehingga mudah dicuci dengan air (Massey. 2010) III.EVALUASI PRODUK REFEREN 3.1.Feldene Gel Komposisi : Piroksikam Indikasi : Kondisi yang ditandai oleh nyeri/rasa sakit dan meradang seperti osteoartritis (artrosis, penyakit sendi degeneratif), setelah trauma (terpukul, terbentur, dll) atau kelainan muskuloskeletal akut, termasuk tendinitis, tenosinovitis, periartritis, keseleo, ketegangan otot, dan sakit pinggang. Kontra Indikasi : Hipersensitifitas. Pasien yang bila mengkonsumsi Aspirin atau obat-obat anti radang non steroid lainnya bisa mengalami gejala- gejala asma, rhinitis, angioedema, atau biduran/kaligata. Perhatian : Jangan digunakan pada mata, mukosa, luka terbuka pada kulit. Efek Samping : Iritasi lokal, eritema (kemerahan pada kulit karena pelebaran pembuluh-pembuluh darah), ruam kulit, desquamasi pitiroid pada bagian yang diberi gel. Perubahan warna kulit yang bersifat ringan dan sementara. Indeks keamanan pada wanita hamil : Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila
  5. 5. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 5 hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. Kemasan : Gel 0,5 % x 25 gram. Dosis : Gunakan 1 gram pada bagian yang sakit 3-4 kali sehari. Pabrik : Pfizer 3.2.Scandene Gel Komposisi : Piroxicam / Piroksikam. Indikasi : Kondisi yang memerlukan obat dengan aktifitas anti peradangan, seperti osteoartritis, artrosis, penyakit sendi degeneratif, kelainan muskuloskeletal akut, dan kaku otot karena traumatik (terkilir, dll). Perhatian : Hindari kontak dengan mata, mukosa, dan luka kulit terbuka. Hamil, menyusui, dan anak-anak. Efek Samping : Iritasi lokal, gatal-gatal, ruam kulit, eritema (kemerahan kulit karena pelebaran pembuluh-pembuluh darah), kulit bersisik dan mengelupas. Perubahan warna kulit yang bersifat ringan dan sementara. Indeks keamanan pada wanita hamil : Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin ( teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita atau penelitian pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin. Kemasan : Gel 0,5 % x 20 gram. Dosis : Gosokkan sebanyak 1 gram pada dareah yang sakit 3 atau 4 kali sehari. Penyajian : Tak ada pilihan Pabrik : Tempo Scan Pacific 3.3.Pirofel Gel Komposisi : Piroksikam Indikasi : Osteoartritis, kelainan muskuloskeletal akut atau setelah traumatik (terpukul, terbentur, teriris, dll) termasuk tendinitis (radang urat), tenosinovitis, periartritis, otot tegang, keseleo, dan nyeri pinggang. Kontra Indikasi : Pasien yang bila mengkonsumsi Aspirin atau obat-obat anti radang non steroid lainnya dapat mengalami gejala-gejala asma, rinitis, angioedema, dan urtikaria (biduran/kaligata).
  6. 6. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 6 Perhatian : Hindari kontak dengan mata, permukaan mukosa, luka kulit terbuka, dermatosis atau infeksi ; Hamil dan menyusui ; Anak- anak. Efek samping : Iritasi lokal ringan sampai sedang, eritema, gatal-gatal, dermatitis, perubahan warna kulit (ringan tetapi bersifat sementara). Kemasan : Gel 0,5 % x 20 gram. Dosis : Oleskan 1 gram pada bagian yang sakit 3-4 kali sehari. (Anonim. 2009)
  7. 7. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 7 IV.PEMILIHAN BAHAN AKTIF No Bahan Aktif Efek Utama Efek Samping Karakteristik Fisika Karakteristik Kimia Sifat lain 1 PiroksikamAnti inflamasi ((Farmakolog i dan Terapi, hal 240), anti radang akut, analgetis, antipiretis, serangan encok (obat – obat penting). Eritema kulit (Farmakologi dan Terapi hal 240), iritasi lokal, reaksi kulit yang serius termasuk nekrolisis toksik epidermal, sterens jhonson sindrom (obat- obat penting,Ed.36 hal 117-118) Serbuk, hampir putih atau coklat terang atau kuning terang, tidak berbau, bentuk monohidrat berwarna kuning, kelarutan : sangat sukar larut dalam air, dalam asam encer dan sebagian besar pelarut organik; sukar larut dalam etanol dan dalam larutan alkali yang mengandung air (Farmakope Indonesia IV, hal 683). - Piroksika m hanya dianjurka n oleh spesialis rematolog is, dan ini pun sebagai terapi kedua bila obat lain tidak berhasil. 2 Diklorofen ak Menurunka n panas dan menghilang kan nyeri. Mual gastritis, eritema kulit, dan sakit kepala. Organoleptis putih, agak kuning, higroskopis, dan serbuk kristal. Larut dalam alkohol, sangat mudah larut dalam aseton, dan praktis tidak larut dalam eter, air serta Stabilitas pada cahaya: mudah teroksidas i, stabilitas pada
  8. 8. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 8 mudah larut dalam metanol. udara: higroskop is pH 1 % b/v dalam air 7-8,5 3. Ibu profen Analgesik dan anti inflamasi yang tidak terlalu kuat (Farmakolo gi dan Terapi, ) Eritema kulit Serbuk, hablur putih hingga hampir putih, berkilau khas lemah. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol,dalam metanol, aseton,dan dalam kloroform, serta sukar larut dalam etil asetat. Pemberia n ibu profen dengan aspirin dapat menganta gonis efek aspirin terhadap trombosit sehingga meniadak an sifat kardiopro tektif aspirin. 4. Na- diklofenak Aktivitas sebagai antiinflama si,analgetik & antipiretik. Metabolis me terutama melalui hati. - Pencernaan : gangguan pada saluran cerna bagian atas (20% pasien) tukak lambung, perdarahan saluran. -Saraf : sakit kepala (3-9% pasien), depresi, insomnia, cemas. -Ginjal : (kurang dari 1% pasien)
  9. 9. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 9 terganggu fungsi ginjal(azotemia, proteinuria,nefr otik sindrom dll), -Kardiovaskular : retensi cairan, hipertensi, (3- 9% pasien), -Pernapasan : asma (kurang dari 1% pasien), - Darah:lekopenia, trombositopenia, hemolitik anemia (kurang dari 1% pasien). -Hati : hepatitis, sakit kuning (jarang), peningkatan SGOT terjadi pada 2 % pasien, Lain-lain : ruam, pruritus, tinnitus, reaksi sensitivitas (1- 3% pasien). 5. Asam salisilat (Farmakolo gi dan Terapi, ) Analgesik, anti piretik, dan antiinflams i (Farmakolo gi dan Terapi, ) Sangat iritatif, memberikan efek piretik sehungga pada keracunan berat terjadi demam dan hiperhidrolisis, Hablur ringan, tidak berwarna atau serbuk berwarna putih; hampir tidak berbau; rasa agak Kelarutan : larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) p: mudah larut dalam Menyeba kan iritatif pada lambung.. (Farmako logi dan Terapi, )
  10. 10. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 10 hepatotoksik, mengganggu pernafasan, memperpanjang masa pendarahan, iritasi saluran cerna..(Farmako logi dan Terapi, ) manis dan baerbau tajam (Farmakope Indonesia Edisi III). kloroform p dan dalam eter p; larut dalam larutan amonium asetat p, dinatrium hidrogen fosfat p, kalium sitrat p dan natrium sitrat p.(Farmakope Indonesia Edisi III).  Alasan Pemilihan Bahan Aktif (Piroksikam) 1. Digunakan bahan aktif piroksikam karena memiliki BM lebih kecil dan sifatnya yang lebih nonpolar daripada turunan oksikam lainnya, sehingga piroksikam memiliki kemampuan menembus kulit lebih besar dibandingkan turunan oksikam lainnya (Soebagio, Boesro dkk, 2011) 2. Efek yang ditimbulkan piroksikam lebih cepat dari golongan anti inflamasi lain (FI IV, 1995) 3. Dibandingkan dengan plasebo NSAId lain (Massey et al, 2010) - Piroksikam memiliki proporsi dari partisipan diamati telah sukses terobati sebesar 68% dengan plasebo 47% - Ibuprofen proporsi dari partisipan diamati telah sukses terobati sebesar 55% dengan plasebo 33% - Indometasin proporsi dari partisipan diamati telah sukses terobati sebesar 68% dengan plasebo 47% - Diklofenak proporsi dari partisipan diamati telah sukses terobati sebesar 68% dengan plasebo 47%  Target organ yang dituju : Dermis  Tujuan terapi : Lokal  Bentuk sediaan yang dipilih : Gel Alasannya: 1. Pada penggunaan oral piroksikam dapat memberikan efek samping sperti gangguan GI, sakit kepala. Maka dari itu, untuk mengatasi efek samping tersebut piroksikam dapat digunakan secara transdermal (Soebagio, Boesro dkk, 2011)
  11. 11. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 11 2. Tingkat difusi piroksikam ke dalam membran, absorbsinya lebih besar jika dalam bentuk gel (mudah berpenetrasi kedalam membran atau sel target) (FI IV, 1995) 3. Bentuk sediaan gel lebih acceptable karena mempunyai efek dingin ketika digunakan (Massey et al, 2010) 4. Baik digunakan pada kondisi meuskuletal otot (nyeri otot, reumatik, nyeri sendi) (Massey et al, 2010) 5. Eficacy dapat dikontrol (Massey et al, 2010) 6. Turunan piroksikam yang lain, biasanya digunakan secara oral, misalnya tenoksikam yang Kemungkinan efek samping: neuralgia, anoreksia, efek ultserogennoe, insomnia, depresi atau kecemasan tinggi, edema perifer, visual, reaksi alergi pada kulit. Obat ini tidak cocok untuk radang perut dan kanker pencernaan, diabetes, pelanggaran hati dan gagal ginjal, gagal jantung, hipertensi arteri, kehamilan dan menyusui (http://lekarstwo.ru/en/preparati/tenoxicam.html)  Dosis dan Perhitungan Kandungan piroksikam 0,5% (Martindale, 1982) Pemberian : 3 x 4/hari, oleskan tipis-tipis pada bagian yang nyeri Sediaan yang akan dibuat 10 gram mengandung piroksikam 0,5% = 0,5% x 10 gram = 0,05 gram = 0,5 mg
  12. 12. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 12 V. PEMILIHAN 5.1 Piroksikam (Martindale) BM : 331,35 Struktur : C15H13N3O4S Pemerian : Serbuk putih kuning, atau coklat terang atau kuning terang, tidak berabau bentuk monohidrat berwarna kuning. Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, asam encer dan pelarut organic Sedikit larut dalam alcohol dan larutan alkali berair. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup, tidak tembus cahaya Fungsi : Analgesik, antiinflamasi non steroid (AINS), antiradang kuat, antipiretis, serangan encok Konsentrasi : 0,5 5.2 TEA (HPE, 754) (FI IV, 1203) BM : 101,19 Struktur : C6H15NO3 149.19 Pemerian : Serbuk halus, putih, sedikit berbau khas, higroskopis Kelarutan : Sukar larut dalam air, dapat bercampur dengan etanoldengan eter dan dengan air dingin Inkompabilitas : Trietanolamina akan bereaksi dengan asam mineral untuk membentuk kristal garam dan ester. Dengan asam lemak lebih tinggi, trietanolamina membentuk garam yang larut dalam air dan memiliki karakteristik sabun. Trietanolamina juga akan bereaksi dengan tembaga untuk membentuk garam kompleks. Trietanolamina dapat bereaksi dengan reagen seperti
  13. 13. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 13 tionil klorida untuk menggantikan gugus hidroksi dengan halogen. Produk dari reaksi-reaksi ini sangat beracun, menyerupai mustard nitrogen lainnya. Titik didih : 335°C Titik lebur : 208°C Fungsi : Alkalizing Agent Konsentrasi : 2-4% Alasan : TEA merupakan alkalizing agent, diaman dapat membantu kelarutan dari bahan aktif (Piroksikam) dan meningkatkan pH dari Gelling agent (Carbopol). Tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mudah mengalami hidrolisis dan oksidasi (Piroksikam mudah mengalami oksidasi) 5.3 Propilen Glikol (HPE, 592) Struktur : C3H8O2 76.09 Pemerian : Cairan kental jernih tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton dan dengan kloroform, larut dlam eter, dan dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapitidak bercampur dengan minyak lemak. Inkompabilits : Dengan reagen oksidadi (contoh : potassium permanganat) Titik didih : 1880 C Titik lebur : 990 C Fungsi : Pelarut Nipagin dan Nipasol Konsentrasi : 5-20% Alasan : Propilen Glikol merupakan pelarut yang digunakan untuk melarutkan nipagin dan nipasol. Karena, nipagin dan nipasol mudah larut dalam propilen glikol yaitu Propilen Glikol : Nipagin (5 :1), Propilen Glikol : Nipasol (3,9 : 1)
  14. 14. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 14 5.4 Karbopol (HPE, 111) Pemerian : Serbuk halus, putih, sedikit berbau khas, higroskopis Kelarutan : Setelah netralisasi dengan alkali hidroksida, atau amina larut dalam air, dalam etanol, dan dalam gliserol Fungsi : Gelling Base Konsentrasi : 0,5- 2% pH : 2,5 – 4,0 untuk 0,2% w /v system disperse 5.5 Alkohol 95% (Farmakope IV, hal 65) Struktur : C2H6O 46.07 Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudak bergerak, bau khas, rasa panas. Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam Kloroform P dan dalam Eter P. Titik Didih : 78.15°C Titik Lebur : 14°C Fungsi : Pelarut, Skin Penetran, Antimikroba Konsentrasi : 10-90%
  15. 15. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 15 5.6 Nipagin (Metil Paraben) (HPE, 443) BM : 152, 15 Struktur : C8H8O3 152.15 Pemerian : Kristal tak berwarna atau bubuk kristal putih, tidak berbau, rasa sedikit terbakar. Kelarutan : etanol 1 dalam 2, eter 1 dalam 10, gliserin 1 dalam 60, pencahar praktis tidak larut, air 1 dalam 400 Fungsi : Pengawet Konsentrasi : untuk topical 0,02 – 0,3 % pKa : 8.4 at 22°C Alasan : Untuk mencegah tumbuhnya kapang dan kamir, dank arena kelarutannya lebih baik dibanding nipasol 5.7 Nipasol (Propil Paraben) (HPE, 596) BM : 180,21 Struktur : C10H12O3 180.20 Pemerian : bubuk putih, Kristal, tidak berbau dan tawar Kelarutan : mudah larut dalam aseton, dan eter. Air 1 dalam 4350 pada suhu 50o C, etanol (95%) 1 dalam 1,1, gliserin 1 dalam 250 Titik didih : 295o C Fungsi : Pengawet Konsentrasi untuk pemakain topical 0,01 – 0,6%
  16. 16. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 16 pKa : 8.4 at 22°C Alasan :Untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan dalam pemakaiannya bersamaan dengan metal paraben untuk hasil lebih optimal 5.8 Aquadest Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa, sisa penguapan tidak lebih dari 0,001% b/v pemanasan dilakukan diatas air hingga kering. 6 FORMULA R/ Piroksikam 0,5146% TEA 1,457% Propilen Glikol 5% Karbopol 0,82% Alkohol 95% 44,36% Nipagin 0,15% Nipasol 0,075% Aquadest 47,592% Bahan Fungsi Skala 1kemasan (20gram) Skala 1Batch (100gram) Piroksikam Bahan Aktif 0,10292 0,5146 TEA Alkalizing Agent 0,2914 1,097 Propilen Glikol Solvent 1 5 Karbopol Gelling Base 0,164 0,82 Alkohol 95% Solvent 8,872 44,36 Nipagin Pengawet 0,03 0,15 Nipasol Pengawet 0,015 0,075 Aquadest Solvent 9,5184 47,592
  17. 17. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 17 Prosedur Kerja 1. Pembuatan Skala Kecil (20 gram) 2. Pembuatan Skala Besar (100 gram) (1) Siapkan mortir, masukkan air 4,5mL tambahkan alkohol 95% sebanyak 8,8ml , timbang carbopol (0.164 gram) taburkan Carbopol diatas air, tunggu hingga terbasahi semua (3) Larutkan keduanya dalam 1 ml propilenglikol, aduk ad larut, campurkan ke no. (2) Timbang Nipasol 0,015 gram Timbang Nipagin 0,03 gram (2) Timbang piroksikm (0.103 gram) , larutkan dalam TEA (0.3 gram) dan air (4ml ) (4) Campur 1&2 sampai terbentuk massa gel yang sempurna (6) Masukkan Gel dalam tube 20 gram, beri etiket dan masukkan ke kemasan sekunder (3) Larutkan keduanya dalam 5 ml propilenglikol, aduk ad larut, campurkan ke no. (2) Timbang Nipasol 0,075 gram Timbang Nipagin 0,15 gram (2) Siapkan mortir, masukkan air 22,6 mL tambahkan alkohol 95% sebanyak 44,36 ml , timbang carbopol (0.41 gram) taburkan Carbopol diatas air, tunggu (2) ) Timbang piroksikam (0.26 gram), larutkan dalam TEA (1,097ml) dan air (20 ml )
  18. 18. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 18 7 EVALUASI SEDIAAN 1. Uji organoleptis Uji ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah suatu sediaan sudah seseuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dan uji ini merupakan uji awal sediaan yang telah dibuat. Uji organoleptis meliputi bentuk sediaan, warna dan bau. (Muharni.2008). 2. Uji viskositas uji viskositas dilakukan untuk mengetahui besarnya tahanan suatu cairan untuk mengalir. Jika semakin tinggi viskositas, maka semakin besar tahanannya. Alat: Viskotester VT-04 Prosedur pengujian: 1) Sejumlah sediaan ditempatkan dalam wadah tertentu 2) Alat dirangkai dengan memasang rotor dengan ukuran tertentu 3) Celupkan rotor pada sediaan hingga bagian bawah rotor tertutup rata oleh sediaan 4) Alat dinyalakan, biarkan rotor berputar 5) Amati angka yang tertera pada jarum penunjuk angka hingga harum penunjuk konstan 6) Angka tersebut menunjukkan nilai viskositas sediaan. (Muharni.2008). 3. Uji pH Uji pH dilakukan untuk mengukur pH (derajat keasaman) sediaan dan untuk menguji apakah sediaan sudah memenuhi syarat pH yang sesuai dengan kondisi pH kulit. Alat: kertas indikator pH Prosedur: (4) Campur 1&2 sampai terbentuk massa gel yang sempurna (6) Lakukan pengujian pH, Viskositas dan Daya Sebar sediaan, bandingkan dengan spesifikasi yang diinginkan.
  19. 19. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 19 1) Timbang 1 gram sediaan, larutkan dalam 10 ml akuades 2) Celupkan kertas indikator pH kedalam larutan 3) Keluarkan kertas, cocokkan perubahan warna kertas dengan standar ukuran beberapa pH pada kemasan indikator pH (Muharni.2008). 4. Uji Daya Sebar Uji ini dilakukan untuk mengetahui luas permukaan daya sebar sediaan pada kulit. Prosedur: 1) Timbang 1 gram sediaan, letakkan pada pusat diameter lempeng kaca, tutup dengan lempeng kaca selanjutnya 2) Diamkan selama 1 menit, ukur diameter persebaran sediaan 3) Tambahkan beban 5 gram diatas permukaan kaca 4) Diamkan selama 1 menit, ukur diameter persebaran sediaan 5) Ulangi perlakuan (4-5) dengan penambahan beban 5 gram tiap menit sampai diameter sudah tidak bertambah lagi. (Muharni.2008). 5. Uji homogenitas Uji ini bertujuan untuk mengetahui homogenitas bahan aktif dan bahan tambahan lainnya dalam sediaan. Prosedur: 1) Sejumlah sampel sediaan dioleskan pada lempeng kaca sampai merata 2) Amati secara visual homogenitasnya (semua bahan tercampur merata dalam sediaan) (Muharni.2008). 6. Uji daya lekat Uji ini bertujuan untuk mengetahui lama perlekatan sediaan pada kulit. Prosedur: 1) Timbang 0,25 gram sediaan 2) Letakkan pada kaca obyek, tutup dengan kaca obyek lain 3) Beri beban 1 kg selama 5 menit 4) Pasang gelas obyek pada alat uji 5) Tambahkan beban 80 gram pada alat uji 6) Catat waktu pelepasan sediaan dari gelas obyek (Muharni.2008).
  20. 20. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 20 7. Uji iritasi kulit -Tujuan : dapat mengidentifikasi kemungkinan adanya alergi pada kulit. -Prosedur : Menggunakan metode micotine test and erythema dengan penambahan sodium lauril sulfat. Metode ini dilakukan dengan methyl nicotine yang merupakan vasodilator poten ditambahkan ke kulit lengan pada konsentrasi 1,4-13,7%. Efek dari vasodilator ini diapat diamati dengan memperhatikan erythema dan menggunakan Laser Droplet Velocimetry (LDV). Analisis yang sama dapat dilakukan dengan menmabahkan sodium lauril sulfat pada kulit lengan (Paye et al). 8. Uji stabilitas sediaan -Tujuan : mengukur kestabilan sediaan dalam kondisi lingkungan. -Posedur : uji stabilitas sediaan dapat dilihat berdasarkan ada atau tidaknya flokulasi, creaming dan coalescent. Pengujian proses ini dilakukan selama 1 minggu dengan menyimpan sediaan krim pada wadahnya, lalu amati setelah 1 minggu apakah terdapat perubahan pada sediaan, misalnya terpisahnya fase minyak dengan air, mengendapnya bahan-bahan pada bagian bawah (Paye et al). 9. Uji penetapan kadar Uji ini dilakukan untuk menetapkan kadar bhan aktif dalam sediaan. Alat: spektrofotmeter uv-vis Prosedur: 1) Larutkan sebanyak 100 gram sediaan dalam 100ml buffer fosfat (pH 6,8) 2) Kocok labu yang telah berisikan larutan sediaan diatas tersebut selama 2 jam menggunakan alat mechanical shaker. 3) Saring larutan, hitung kadar dengan alat spektrofotmetri pada panjang gelombang 276nm menggunakan blanko buffer fosfat (pH 6,8) 10. Uji difusi membran 1) Siapkan Membran (lebar fiat:35mm, diameter:21mm, panjang: 30mm) 2) Buat larutan Bufer fosfat pH 7.4 3) Membran direndam dlm bufer fosfat (6-8jam) diapit ke sel dialisis 4) 100ml bufer fosfat dlm beakerkompartemen reseptor 5) 1mg sediaan dioleskan merata pd membran 6) Kompartemen donor & reseptor dibiarkan kontak 7) Pd interval waktu tertentu, pipet 5ml lar komp.reseptor, ganti dg lar bufer fosfat yg baru. 8) Lakukan Penetapan konsentrasi obat dg spektrofotometri pd λ =276nm (uji penetapan kadar no.9 diatas)
  21. 21. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 21 11. Uji mikrobiologi -Tujuan : Mengetahu jumlah cemaran pada sediaan yang disebabkan oleh mikroba, misalnya pada bakteri dan jamur. -Prosedur 1: sampel dengan berat 100 mg masukan ke dalam sumuran petri yang berisi agar multer hilter yang telah ditumbuh bakteri laalu diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Selanjutnya diukur diameter daerah penghambatan bakteri. Dengan cara yang sama dilakukan penanaman basis tanpa obat sebagai blanko.untuk pembandingan dilakukan penanaman sediaan baku yaitu larutah hidrokortison 2% dalam larutan dapar phosphat. atau dapat ditambahkan dengan tryptic soy agar (TSA) untuk menganalisa bakteri dan sabouraund chloramphenicol agar untuk yeast dan jamur. Untuk bakteri diinkubasi pada suhu 30C – 35C selama 5 hari, dan untuk yeast dan jamur diinkubasi pada suhu 20C -25C selama 5-7 hari, biasanya digunakan untuk mengetahui adanya Candida albicans. (Paye et al).
  22. 22. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 22
  23. 23. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 23
  24. 24. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 24 HASIL PRATIKUM 1. Pengamatan Organoleptis Bau : Tidak ada bau Warna : Kuning Bening Bentuk: Gel yang homogen 2. Salep hidrofilik ointment (20gram) pH indicator : 7 Visikositas : 160 dPa0 S Uji daya sebar : Waktu (menit) Diameter (cm) Menit 1 4cm Menit 2 + Beban 5gram 4,2cm Menit 3 + Beban 10gram 4,3cm Menit 4 + Beban 15gram 4,3cm 3. Salep hidrofilik ointment (100gram) pH indicator : 7 Visikositas : 160 dPa0 S Uji daya sebar : Waktu (menit) Diameter (cm) Menit 1 4cm Menit 2 + Beban 5gram 4,2cm Menit 3 + Beban 10gram 4,3cm Menit 4 + Beban 15gram 4,3cm
  25. 25. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 25 IX . PEMBAHASAN PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini kami melakukan pembuatan dan evaluasi sediaan gel dengan menggunakan bahan aktif piroksikam yang merupakan salah satu AINS dengan struktur baru yaitu oksikam, derivat enolat. AINS mampu menghambat sintesis mediator nyeri prostaglandin dan sangat bermanfaat sebagain anti nyeri. Adapun alasan dibuat dalam bentuk sediaan gel adalah untuk memberikan suasana dingin pada saat pemakaian secara topikal. Gel, kadang- kadang disebut jeli dan merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel organik yang kecil atau molekul organik yang besar, yang terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah, gel digolongkan sebagai sistem dua fase. Pada pembuatan sedian gel ini digunakan bahan aktif piroksikam yang berupa serbuk, hampir putih atau coklat terang atau kuning terang , tidak berbau dan berbentuk monohidrat berwarna kuning. Kelarutan piroksikam sangat sukar larut dalam air, dalam asam encer dan sebagian besar pelarut organik; sukar larut dalam etanol dan dalam larutan alkali yang mengandung air. Natrium Diklofenak juga berfungsi sebagai analgesik antiinflamasi karena mengandung gugus fenil amino asetat yang dapat menghambat jalur siklooksigenase. Dalam hal ini kami menyiapkan 2 formulasi sediaan gel untuk mengantisipasi kegagalan dalam pembuatan sediaan. Adapun formulanya sebagai berikut : Formula I : R/ Piroksikam 0,5146 % TEA 1,457 % Nipagin 0,15 % Nipasol 0,075 % Propilen glikol 5 % Karbopol 0,82 % Alkohol 95% 44,36 % Aquadest 47,592 % Formula II : R/ Piroksikam 0,5 % CMC Na 4% Alkohol 95% 44,5% Aquadest 50% Kami menggunakan formula I dalam proses pembuatan sediaan gel piroksikam karena pada formula ini dapat membentuk sediaan gel seperti yang diharapkan. Adanya karbopol pada
  26. 26. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 26 formula tersebut dapat memberikan bentuk sediaan gel yang transparan dan zat aktifnya homogen. Selain itu penggunaan carbopol lebih efisien dalam hal pembuatan dan waktunya singkat.. Sebenarnya pada formula ini telah dimodifikasi dengan adanya penambahan propilen glikol, nipagin dan nipasol, dimana nipagin dan nipasol ini digunakan sebagai pengawet dan pelarutnya adalah propilen glikol. Pada formula 1 sebelum mengalami perbaikan kami tidak menggunakan pengawet karena dalam formula telah terdapat alkohol 95% dimana alkohol dengan persentase melebihi 20% dapat dijadikan sebagai pengawet, namun karena alkohol mudah menguap maka kami menambahnya dengan nipagin dan nipasol. Pada sediaan ini juga digunakan karbopol sebagai gelling agent karena karbopol dalam konsentrasi sedikit sudah dapat memberikan viskositas yang baik untuk sediaan gel ini. Penambahan alkohol dilakukan karena karbopol yang didispersikan dalam air membentuk dispersi koloid yang bersifat asam dengan viskositas rendah harus dinetralisasi dengan alkohol untuk menghasilkan gel dengan viskositas tinggi. Sedangkan untuk menjaga stabilitas sediaan gel, ditambahkan nipagin dan nipasol sebagai pengawet untuk mencegah kontaminasi mikroba serta digunakan aquadest sebagai fase kontinu dari gel. Prosedur pertama dalam pembuatan gel piroksikam adalah menimbang bahan-bahan yang diperlukan yaitu piroksikam, karbopol, nipagin, nipasol, alkohol 95%, propilen glikol dan aquadest . Kemudian masukkan sebagian air dan alkohol ke dalam mortir lalu taburkan karbopol merata di atas permukaan air. Tutup permukaan mortir karena mengandung alkohol yang mudah menguap, biarkan hingga mengembang. Setelah karbopol mengembang lalu gerus karbopol sampai terbentuk gel dan tidak terdapat gelembung udaranya. Sedangkan pada cawan porselen , masukkan bahan-bahan lain seperti piroksikam, TEA dan aquadest lalu panaskan pada pemanasan lemah (600 C). Setelah itu masukan campuran nipagin dan nipasol yang telah dilarutkan dengan propilen glikol sebelumnya, aduk hingga homogen. Lalu campuran tersebut masukkan ke dalam gel karbopol perlahan-lahan sambil terus diaduk. Gerus campuran tersebut hingga bening kuning pucat. Setelah pembuatan gel selesai, kemudian dilakukan pengujian terhadap sedíaan tersebut. Evaluasi sediaan dimaksudkan untuk menguji apakah sediaan yang dibuat telah sesuai dengan kriteria atau persyaratan yang berlaku untuk sediaan gel serta untuk menjaga kestabilan sedíaan. Diantaranya adalah tes organoleptis, uji pH, uji viskositas dan uji daya sebar. Data Organoleptis dari sedían yang kami buat yaitu :  Bentuk : gel  Warna : bening kuning pucat  Homogenitas : sediaan homogen Uji selanjutnya adalah uji pH. Uji ini dilakukan karena sediaan gel piroksikam ini untuk penggunaan topikal, maka sediaan harus mempunyai tingkat keasaman atau pH dalam rentang pH dari permukaan kulit. Hal ini dikarenakan sediaan yang terlalu asam akan menyebabkan iritasi pada kulit, sedangkan sediaan yang terlalu basa akan membuat kulit menjadi keringpada uji pH
  27. 27. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 27 dengan menggunakan kertas indikatot pH didapatkan pH sedíaan sebesar 7. pH ini masuk dalam rentang persyaratan dalam pembuatan gel piroksikam ini, yaitu pH nya antara 6.2-7.1. sediaan kami cocok dan tidak iritatif jika digunakan secara topikal pada kulit. Selanjutnya uji viskositas, dilakukan dengan menggunakan viskotester VT-04 dimana spindel yang digunakan adalah spindel nomor 2, yang disesuaikan dengan jumlah dan tingkat kekentalannya. Pada uji viskositas ini, diperoleh nilai 160 dPas. Nilai viskositas ini sesuai untuk sediaan gel karena viskositas yang baik untuk sediaan gel adalah dalam rentang 150-250 dPa0 s. Yang terakhir uji daya sebar, uji ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan penyebaran salep pada kulit dan mengetahui kelunakan dari salep untuk menyebar pada kulit. Uji ini dilakukan dengan meletakkan 1 gram sediaan di tengah cakram berskala dan kemudian ditutup dengan cakram penutup dan diberi beban. Beban yang diberi adalah sebesar 50 gram dan didiamkan 1 menit kemudian diukur penyebarannya. Hal ini dilakukan berkali kali dengan setiap penambahan 5 gram hingga diperoleh diameter penyebaran yang konstan. Hasil uji daya sebar yang dilakukan adalah diameter penyebarannya sebesar 4,2 cm dengan berat beban 30 gram. Berdasarkan Garg, et.al, rentang daya sebar yang disyaratkan untuk sediaan topikal adalah sebesar 5-7 cm. Untuk itu dapat disimpulkan jika daya sebar dari gel yang dibuat tidak sesuai dengan persyaratan yang diinginkan. Pada uji daya sebar, diperoleh data daya sebar gel yang dihasilkan adalah sebagai berikut: No Beban (gram) Daya sebar (cm) 1 - 4 2 5 4.2 3 10 4,3 4 15 4,3 Kesimpulan: daya sebar = 4,2 Pada proses pembutan sediaan gel piroksikam dengan menggunakan formula 1 awalnya kami mengalami kegagalan karena sediaan gel yang didapatkan bergelembung, zat aktif tidak homogen dan sediaan tidak bening. Kemungkinan penyebab terjadinya hal ini adalah pemanasan piroksikam yang terlalu lama dengan suhu yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan piroksikam rusak. Selain itu penyebab piroksikam tidak larut adalah terlalu kecilnya jumlah alkohol yang ditambahkan untuk melarutkan piroksikam sehingga piroksikam tetap menggumpal dan sediaan menjadi tidak bening. Penyebab yang lain adalah kesalahan pada gel yang dibuat, karena gel yang digunakan masih mengandung banyak gelembung udara sehingga sediaan juga mengandung gelembung udara serta kurang tepatnya jumlah karbopol yang digunakan sehingga gel yang dibentuk kurang sempurna. KESIMPULAN
  28. 28. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 28 1. Gel merupakan sistem semi padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel organik yang kecil atau molekul organik yang besar, yang terpenetrasi oleh suatu cairan 2. Pada praktikum ini digunakan piroksikam sebagai bahan aktif karena piroksikam berfungsi sebagai analgesik antiinflamasi untuk sedian topikal 3. Uji yang dilakukan adalah uji organoleptis, uji pH, uji viskositas dan uji daya sebar. 4. Pada uji organoleptis didapatkan hasil yng sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. 5. Pada uji pH diperoleh pH sediaan yaitu 7 yang sesuai dengan rentang yang dipersyaratkan yaitu 6.2-7.1 6. Hasil dari uji viskositas diperoleh viskositas salep yang dibuat sebesar 150 dPa.s. Adapun persyaratan viskositas untuk sediaan semisolida topikal adalah sebesar 170-250 dPa.s. 7. Hasil uji daya sebar yang dilakukan adalah diameter penyebarannya sebesar 5,3 cm dengan berat beban 550 gram. Berdasarkan Garg, et.al, rentang daya sebar yang disyaratkan untuk sediaan topikal adalah sebesar 5-7 cm. Untuk itu dapat disimpulkan jika daya sebar dari gel yang dibuat sesuai dengan persyaratan yang diinginkan.
  29. 29. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 29 Daftar Pustaka Anonim. 2009. Informasi Spesialite Obat. Jakarta Aiache. 1993. Biofarmasetika, diterjemahkan oleh Widji Soerartri Edisi II. Jakarta : Airlangga Press Ardhie Muhandari Ari. 2004. Dermatitis dan Peran Steroid Dalam Penyimpanan. Jakarta : Dexa Media Ansel C, Howard. 2008 Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim, Edisi IV Jakarta : UI-Press Clarke, E. G. C., Moffat, A. C., Osselton, M. D., Widdop, B. 2004. Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons. London : Pharmaceutical Press. Departemen Kesehatan. 1979. Farmakope Indonesia Edisi ketiga. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Departemen Kesehatan. 1995. Farmakoe Indonesia Edisi keempat. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Kumar, Vivek R. dan Satish Kumar. 2011. Formulation and evaluation of Mimosa pudica gel. Int. J. Pharm Pharm. Scie. 3(1): 55-57. Massey et. al. 2010. Topical NSAIDs for Acut Pain in Adults.Http://www.thecochranelibrary.com Paye Marc. Barel O, Andre. Maibach I. Howard (Editor). Handbook of Cosmetic Science and Technology, Second Edition. New York : Lomdon Rowe J, Raymond. Sheskey J, Paul. Quinin E, Marian. 1986. Handbook of Pharmaceutical Excipients. London. Saputri, Muharni. 2008. Evaluasi mutu betametason 0,1% produksi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Medan : Universitas Sumatra Utara Sweetman, C sean. 2009. The Complete Drug Prefence, Martindale Ed 36.London.Chicago:Pharmaceutical Press. Syarif Amir, Estuningtyas A, Setiawati A, Muchtar A, Arif A, Bahry B, Suyatna D.Frans. 2007. Farmakologi dan terapi edisi 5. Jakarta : Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
  30. 30. Laporan Pratikum Farmasetika Sedian Semi Solida – Gel Piroksikam Page 30 Voigt, R., 1971, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi diterjemahkan oleh Soedani Noeroen, Edisi kelima, Ypgyakarta : Gadjah Mada University Press

×