Kebahayaan b3

1,258 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,258
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
29
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Physical hazard - burns from fire burns from an acid Health hazard - blindness from methanol (methyl alcohol) liver damage from carbon tetrachloride lung damage from asbestos & smoke kidney damage from ethylene glycol (antifreeze)
  • Chloracne Characteristic acne induced by chlorinated compounds Physical dermatitis Fiberglass Hair Loss Loss due to chemical agent Hypopigmentation Loss of skin pigmentation Hyperpigmentation Increase in skin pigmentation
  • Kebahayaan b3

    1. 1. TINGKAT KEBAHAYAAN LIMBAH B3
    2. 2. LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN KARENA SIFAT & KARAKTERISTIKNYA SIFAT TOKSISITASNYA
    3. 3. Toksisitas : tingkat atau daya racun dari suatu bahan Toksikan : bahan yang mempunyai toksisitas
    4. 4. <ul><li>NIOSH : The National Institute for Occupational Safety and Health Suatu substansi bersifat racun bila secara demonstratif mempunyai kemampuan untuk : </li></ul><ul><li>- menimbulkan kanker, tumor, atau pengaruh neoplastik pada manusia, atau pada hewan percobaan </li></ul><ul><li>menyebabkan terjadinya perubahan permanen dari satu keturunan atau perubahan genetis yang permanen </li></ul><ul><li>cacat fisik hingga menimbulkan kematian dan dapat mengakibatkan perubahan atau kelainan seksual pada manusia </li></ul>
    5. 5. Bentuk serangan toksikan - Toksisitas fisika - Toksisitas kimia - Toksisitas fisiologi , <ul><li>Toksisitas Fisika </li></ul><ul><li>bentuk serangan cenderung dalam bentuk </li></ul><ul><li>penghancuran dan peradangan. </li></ul><ul><li>Contoh : kasus dermatitis yang terjadi pada kulit, kekeringan, kulit pecah-pecah, dan lain-lain. </li></ul><ul><li>Salah satu penyebab adalah radiasi. Radiasi menyebabkan kehancuran lapisan mukosa pada kulit. </li></ul>
    6. 6. <ul><li>Toksisitas kimia </li></ul><ul><li>Kerusakan akibat reaksi kimia lebih luas. Persenyawaan kimia dapat menyebabkan rusaknya jaringan dan bahkan kematian pada sel-sel. </li></ul><ul><li>Bahan kimia anorganik seperti Hg dapat menyebabkan terhalangnya proses metabolisme tubuh, sehingga mempengaruhi sistem faal yang berlanjut dapat menyebabkan kematian. </li></ul>
    7. 7. <ul><li>Toksisitas fisiologis </li></ul><ul><li>keberadaan suatu toksikan dapat mempengaruhi kerja enzim-enzim fisiologis tubuh, malahan akan memutus kerja enzim sehingga reaksi metabolisme tubuh akan gagal . </li></ul><ul><li>Hal ini merupakan dasar tumbulnya berbagai penyakit. </li></ul>
    8. 8. Bahan Kimia Berbahaya ? <ul><li>Bahan kimia berbahaya secara fisik atau kesehatan </li></ul>semua bahan KIMIA harus dianggap berbahaya (beracun, mudah terbakar) sampai diketahui sifat-sifatnya dengan jelas.
    9. 9. LIMBAH B3 (MENGANDUNG BAHAN KIMIA TERTENTU) MENJADI BEGITU PENTING LIMBAH B3 MEMBERIKAN EFEK TOKSIK KEPADA MANUSIA TIDAK TIMBUL BEGITU SAJA DALAM WAKTU SINGKAT, MELAINKAN DAPAT MENEMPUH WAKTU YANG LAMA
    10. 10. DIPERLUKAN WAKTU BERPULUH –PULUH TAHUN UNTU MEMAHAMI AKIBAT YANG DITIMBULKAN OLEH LIMBAH B3 TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN EPIDEMIOLOGI TOKSIKOLOGI KIMIA ANALITIK DAPAT DIKETAHUI KETERKAITAN ANTARA KEHIDUPAN MAHLUK HIDUP DENGAN PAPARAN BAHAN KIMIA BERACUN
    11. 11. KASUS PENCEMARAN LIMBAH B3 DDT : EFEK TOKSIK PADA POPULASI BURUNG MERKURI : EFEK KERACUNAN MERKURI PADA POPULASI MANUSIA DI JEPANG KASUS PCB (Polychlorinated bi phenyls) DAN DIOKSIN
    12. 12. PENETAPAN TOKSISITAS AKUT : LD50. LD50 : DOSIS TOKSIKAN YANG MENGHASILKAN 50% RESPONS KEMATIAN PADA POPULASI ORGANISME UJI PENETAPAN TOKSISITAS KRONIK : LOEL (LOWEST OBSERVED EFFECT LEVEL) NOEL (NO OBSERVED EFFECT LEVEL) UJI TOKSIKOLOGI TOKSISITAS AKUT (PENGARUH PEMAPARAN DLM JANGKA WAKTU SINGKAT) TOKSISITAS KRONIK (PENGARUH PEMAPARAN DLM. JANGKA PANJANG
    13. 13. Contoh bahan kimia beracun 4 Pusing dan koma Hati dan ginjal Syaraf pusat, leukeumia Hidrokarbon alifatik (bensin, kerosin) Hidrokarbon terhalogenasi (CCl4, CHCl3) Alkohol Bahan pelarut <ul><li>Syaraf, ginjal, dan darah </li></ul><ul><li>Syaraf, ginjal </li></ul><ul><li>Hati, ginjal, darah </li></ul><ul><li>Kanker </li></ul><ul><li>Iritasi, kanker </li></ul><ul><li>Metabaolisme karbohidrat, lemak, </li></ul><ul><li>protein </li></ul>Pb (TEL, PbCO3) Hg Cd Cr As P Logam / metaloid Akibat keracunan dan gangguan Jenis bahan Jenis zat beracun
    14. 14. Leukeumia Paru-paru Kandung kencing Paru-paru Paru-paru Hati, paru-paru, syaraf pusat, darah Benzene Asbes Bensidin Kroom Naftilamin Vinil khlorida Karsinogen Sesak napas, kekurangan oksigen Pusing, sesak napas Sesak napas, kejang, hilang kesadaran Sesak napas, otak, jantung, syaraf, hilang kesadaran Aspiksian sederhana (N2,Ar,He) Aspiksian kimia - HCN - H2S - CO Gas-gas beracun Akibat keracunan dan gangguan Jenis bahan Jenis zat beracun
    15. 15. JALAN MASUK ZAT KIMIA KE DALAM TUBUH <ul><li>Zat kimia dapat masuk ke dalam tubuh melalui </li></ul><ul><ul><li>saluran pencernaan (tertelan) </li></ul></ul><ul><ul><li>kulit (kontak dengan kulit) </li></ul></ul><ul><ul><li>melalui saluran pernafasan (terhirup). </li></ul></ul>
    16. 16. Target Organs Lungs Kidney Intestines Blood System Bone Marrow Brain CNS Heart Liver Skin
    17. 17. a. Saluran Pencemaan <ul><li>Zat kimia yang tertelan masuk ke kerongkongan kemudian kelambung terus ke usus dan diserap masuk ke dalam aliran darah dan selanjutnya tersebar ke seluruh tubuh. Kerusakan dapat terjadi pada setiap bagian dari saluran pencenaan serta organ-organ dalam tubuh tergantung dari jenis bahan kimia tersebut. </li></ul>
    18. 18. b. Kontak dengan kulit <ul><li>Bagian kulit yang sering terpapar bahan kimia adalah tangan dan lengan bawah. </li></ul><ul><li>Zat kimia tersebut dapat merusak kulit diserap atau kedua- duanya. </li></ul><ul><li>Kerusakan dapat berupa bercak-bercak atau bintik berwarna kemerahan luka bakar dan peradangan kulit. Beberapa zat kimia dapatmenembus permukaan kulit dan merusak jaringan di bawah kulit sedangkan beberapa zat kimia lain dapat diserap ke dalam aliran darah kemudian sampai ke organ-organ tertentu. </li></ul>
    19. 19. <ul><li>Kulit yang tidak normal lebih mudah menyerap bahan kimia dari pada kulit yang sehat. </li></ul><ul><li>Selaput mata lebih sensitif terhadap bahan kimia dibandingkan dengan kulit yang lain. </li></ul>
    20. 20. Saluran Pernafasan <ul><li>Saluran pemafasan dapat dibedakan menjadi saluran konduksi (sebagai penghantar udara pemafasan) dan saluran respirasi yang berfungsi untuk pertukaran udara (0 2 2 dan 002). </li></ul><ul><li>Keracunan bahan kimia di industri sebagian besar disebabkan oleh penghirupan zat kimia di lingkungan kerja. Hal ini disebabkan oleh permukaan paru yang sangat luas dan kemampuan menyerap zat kimia lebih banyak melalui pembuluh darah kapiler yang terdapat dalam jaringan paru yang berbatasan dengan alveoli. </li></ul><ul><li>Bahan kimia yang masuk melalui pernafasan dapat berupa gas uap mist fume dan debu halus yang tidak dapat dilihat oleh mata. </li></ul><ul><li>Bahaya bahan kimia yang masuk melalui saluran pernafasan dapat berupa iritasi pada mukosa hidung dan saluran pernafasan dan dapat pula merusak jaringan paru. </li></ul><ul><li>Apabila zat kimia tersebut masuk ke dalam aliran darah akan menimbulkan kerusakan pada organ tertentu. </li></ul>
    21. 21. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT BAHAYA SUATU ZAT <ul><li>Tingkat bahaya suatu zat ditentukan oleh : </li></ul><ul><ul><li>faktor toksisitas </li></ul></ul><ul><ul><li>dosis </li></ul></ul><ul><ul><li>respon individu. </li></ul></ul><ul><li>Tingkat bahaya menunjukkan besar kecilnya resiko yang timbul pada pamaparan kimia dengan mempertimbangkan ketiga faktor tersebut diatas. </li></ul>
    22. 22. 40 F.Eff Uji toksisitas selain LC 50 juga digunakan LD 50 ( lethal dose fifty ) yg diawali pada tahun 1927 untuk menentukan toksisitas akut <ul><li>Response yang ditunjukkan organisme uji : </li></ul><ul><li>- tidak menunjukkan kematian </li></ul><ul><li>- terjadi sejumlah kematian apabila doses dinaikkan </li></ul><ul><li>- terjadi peningkatan jumlah kematian apabila dosis </li></ul><ul><li>terus ditingkatkan, hingga seluruh organisme mati </li></ul>TINGKAT TOKSISITAS DITENTUKAN DENGAN UJI a. Lethal Concentration fifty : LC 50 mg/l b. Lethal Dose fifty : LD 50 mg/kg
    23. 23. Toxic Dose (TD) : merupakan dosis dari suatu bahan yang dipaparkan pada suatu populasi dan pada tingkat dosis tersebut sudah dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan tubuh hewan percobaan Effective Dose (ED) : merupakan dosis dari suatu bahan dan pada tingkat dosis tersebut sudah dapat menimbulkan efek biologis yang ringan untuk pertama kalinya pada hewan percobaan Nilai LD50 tidaklah ekuivalen dengan toksisitas tetapi nilai ini dapat diinterpretasikan ke dalam nilai TD, ED.
    24. 24. KLASIFIKASI TOKSISITAS BAHAN KIMIA > 100,000 > 15,000 Relatively Harmless 6 10,000 – 100,000 5,000 – 15,000 Practically non-toxic 5 1,000 – 10,000 500 – 5,000 Slightly Toxic 4 100 – 1,000 51 - 500 Moderately Toxic 3 10 - 100 1 - 50 Highly toxic 2 < 10 < 1 Extremely toxic 1 LC50 (ppm) 4 hours inhalation (rat) LD50 (mg/kg) Single oral dose (rat) Descriptive Term Toxicity rating
    25. 25. b. Dosis <ul><li>Dosis untuk pemaparan tunggal dan berulang tergantung dari lamanya pemaparan. </li></ul><ul><li>Pada dosis rendah dan pemaparan berulang beberapa zat tertentu mempunyai sifat akumulatif di dalam tubuh. Gejala-gejala baru kelihatan setelah beberapa lama. </li></ul><ul><li>Sedangkan untuk dosis tinggi pemaparan tunggal saja sudah dapat menimbulkan gejala-gejala. </li></ul>
    26. 26. c. Respon individu <ul><li>Respon individu terhadap suatu zatkimia berbeda-beda dan ada berbagai faktor yang mempengaruhi kerentanan individu terhadap efek suatu zat kimia. </li></ul>
    27. 27. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan Individu <ul><li>1. usia </li></ul><ul><li>Efek terhadap anak-anak lebih serius dibandingkan dengan orang muda. </li></ul><ul><li>2. status Kesehatan dan Emosi </li></ul><ul><li>Penderita bronchitis kronik atau asma lebih rentan terhadap zat iritan. </li></ul><ul><li>Penderita diabetes militus lebih rentan terhadap efek aseton. </li></ul><ul><li>Stress atau depresi dapat peningkatkan efek bahan kimia. </li></ul><ul><li>Kebiasaaan merokok dan minuman keras berlebihan. </li></ul><ul><li>Perokok berat lebih rentan terhadap efek karsini genik asbestos sedangkan pecandu minuman keras mempengaruhi proses detoksikasi zat kimia dalam tubuh. </li></ul><ul><li>3. Kelainan Genetik </li></ul><ul><li>Beberapa kelainan genetik dapat mempengaruhi kerentanan individu terhadap suatu zat kimia al : </li></ul><ul><li>- status atopi </li></ul><ul><li>- defisiensi enzim glucose phosphate dehydrogenase (GPD) </li></ul><ul><li>defisiensi alfa antitriosin yang terdapat dalam serum. </li></ul><ul><li>4. Status gizi </li></ul><ul><li>Defisiensi protein zat besi atau kalsium akan menyebabkan absorbsi timah hitamoleh tubuh meningkat, Intereksi Beberapa Zat kimia. Pemaparan dua zat kimia atau lebih akan menimbulkan efek yang lebih berbahaya dari pada efek masing-masing zat kimia. </li></ul><ul><li>5. Aktivitas fisik </li></ul><ul><li>Kerja beratakan menyebabkan seseorang bemafas lebih dalam dan lebih cepat. Keadaan ini akan menyebabkan lebih banyak udara yang terkontaminasi masuk kedalam paru sehingga dosis yang terpapar akan meningkat. </li></ul>
    28. 28. Routes of Exposure Ingestion Absorption/ Penetration Inhalation
    29. 29. Target Organs Lungs Kidney Intestines Blood System Bone Marrow Brain CNS Heart Liver Skin
    30. 30. Toxicity Rating LD 50 in mg compound/kg body weight of test animal Chemical LD 50 Chemical LD 50 Sucrose 29,700 Ethyl Alcohol 14,000 NaCl 3,000 Vitamin A 2,000 Vanillin 1,580 Aspirin 1,000 Chloroform 800 Copper Sulfate 300 Caffeine 192 Phenobarbital 162 DDT 113 Sodium nitrite 85 Nicotine 53 Aflatoxin B1 7 Sodium cyanide 6.4 Strychnine 2.5
    31. 31. Lungs Region Particulate Size Nasopharyngeal mouth, nose , throat, pharynx 5 - 30  m Larynx , Trachea Bronchial Region Alveolar region Water Soluble 1-5  m >.5 <1  m  m Organics
    32. 32. Skin Responses <ul><li>Acute </li></ul><ul><ul><li>Local reversible reaction with redness/swelling/itching </li></ul></ul><ul><li>Cumulative </li></ul><ul><ul><li>Exposure (continuous) that leads to irritation not seen with single exposure </li></ul></ul><ul><li>Corrosive </li></ul><ul><ul><li>Local irreversible reaction with redness/swelling/ulceration and necrosis </li></ul></ul><ul><li>Phototoxicity </li></ul><ul><ul><li>Irritation resulting from UV exposure </li></ul></ul><ul><li>Allergic responses </li></ul><ul><ul><li>Itching/swelling/redness/ulceration due to exposure to allergen. First contact does not usually produce response </li></ul></ul>
    33. 33. Eyes <ul><li>Acids </li></ul><ul><ul><li>Sulfuric acid (removes water and generates heat) </li></ul></ul><ul><ul><li>Hydrochloric (severe at pH 1, minimal at pH 3) </li></ul></ul><ul><li>Alkalies </li></ul><ul><ul><li>NaOH, KOH, and NH4OH - worst of the hydroxides </li></ul></ul><ul><ul><li>CaO forms clumps on eye </li></ul></ul><ul><li>Organics </li></ul><ul><ul><li>Lacrimators </li></ul></ul><ul><ul><li>Systemics </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Naphthalene, phenothiazine, methanol </li></ul></ul></ul>
    34. 34. Nervous System <ul><li>Fluoroacetate </li></ul><ul><li>Triethyltin </li></ul><ul><li>Hexachlorophene </li></ul><ul><li>Lead </li></ul><ul><li>Thallium </li></ul><ul><li>Tellurium </li></ul><ul><li>Organomercury </li></ul><ul><li>Acrylamide </li></ul><ul><li>Carbon disulfide </li></ul><ul><li>n-Hexane </li></ul><ul><li>Organophosphates </li></ul><ul><li>DDT </li></ul><ul><li>2,4,5-T </li></ul>
    35. 35. Liver Toxicity <ul><li>Acute </li></ul><ul><ul><li>Carbon Tetrachloride </li></ul></ul><ul><ul><li>Chloroform </li></ul></ul><ul><ul><li>Trichloroethylene </li></ul></ul><ul><ul><li>Tannic acid </li></ul></ul><ul><ul><li>Kepone </li></ul></ul><ul><li>Biotransformation </li></ul><ul><ul><li>Carbon tetrachloride to chloroform </li></ul></ul><ul><li>Chronic </li></ul><ul><ul><li>Cirrhosis </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ethyl alcohol </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Aflatoxin B1 </li></ul></ul></ul><ul><ul><li>Carcinogen - </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Vinyl chloride </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Carbon tetrachloride </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Arsenic </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Aflatoxin B1 </li></ul></ul></ul>
    36. 36. Kidney Toxicity <ul><li>Heavy metals </li></ul><ul><ul><li>Hg, Cd, Cr, Au, Pb, Ag </li></ul></ul><ul><li>Halogenated compounds </li></ul><ul><ul><li>Carbon tetrachloride, 2,4,5-T, </li></ul></ul><ul><ul><li>ethylene dibromide </li></ul></ul><ul><li>Miscellaneous </li></ul><ul><ul><li>Ethylene glycol, carbon disulfide </li></ul></ul>
    37. 37. Bone Marrow <ul><li>Arsenic </li></ul><ul><li>Lead </li></ul><ul><li>Bromine </li></ul><ul><li>Methyl Chloride </li></ul><ul><li>Ionizing Radiation </li></ul><ul><li>Benzene </li></ul>
    38. 38. Blood Components <ul><li>Clotting </li></ul><ul><ul><li>Aspirin </li></ul></ul><ul><ul><li>Benzene </li></ul></ul><ul><ul><li>Tetrachlorethane </li></ul></ul><ul><li>White Blood Cells </li></ul><ul><ul><li>Naphthalene </li></ul></ul><ul><ul><li>Benzene </li></ul></ul><ul><ul><li>Phosphorous </li></ul></ul><ul><li>Red Blood Cells </li></ul><ul><ul><li>Arsine </li></ul></ul><ul><ul><li>Warfarin </li></ul></ul><ul><ul><li>Pb </li></ul></ul><ul><li>Oxygen Transport </li></ul><ul><ul><li>Carbon Monoxide </li></ul></ul>
    39. 39. <ul><li>KARAKTERISTIK LIMBAH B3 : </li></ul><ul><li>MUDAH MELEDAK: </li></ul><ul><li>LIMBAH YANG PADA SUHU DAN TEKANAN STANDAR (25 °C, 760 mmHg) DAPAT MELEDAK ATAU MELALUI REAKSI KIMIA ATAU FISIKA DAPAT MENGHASILKAN GAS DENGAN SUHU DAN TEKANAN TINGGI, YANG DENGAN CEPAT DAPAT MERUSAK LINGKUNGAN SEKITARNYA </li></ul>
    40. 40. <ul><li>MUDAH TERBAKAR : </li></ul><ul><li>Berupa cairan, mengandung alkohol < </li></ul><ul><li>24% volume dan/atau pada titik nyala < </li></ul><ul><li>60 °C akan menyala apabila terjadi kontak </li></ul><ul><li>dengan api, percikan api, atau sumber </li></ul><ul><li>nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg </li></ul>
    41. 41. <ul><ul><li>Bukan berupa cairan , yang pada suhu </li></ul></ul><ul><li>dan tekanan standar dapat menyebabkan </li></ul><ul><li>kebakaran melalui gesekan, penyerapan </li></ul><ul><li>uap air, atau perubahan kimia secara </li></ul><ul><li>spontan, dan apabila terbakar dapat </li></ul><ul><li>menyebabkan kebakaran yang terus </li></ul><ul><li>menerus </li></ul>
    42. 42. <ul><li>Merupakan limbah bertekanan yang mudah terbakar </li></ul><ul><li>Merupakan limbah teroksida </li></ul>
    43. 43. <ul><li>BERSIFAT REAKTIF : </li></ul><ul><ul><li>Pada keadaan normal tidak stabil, dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan </li></ul></ul><ul><ul><li>Dapat bereaksi hebat dengan air </li></ul></ul><ul><ul><li>Bila bercampur dengan air, berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yg. membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan </li></ul></ul>
    44. 44. <ul><li>Limbah sianida, sulfida, atau amonia yang pada pH 2.0 – 12.5 dapat menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan </li></ul><ul><li>Mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar </li></ul><ul><li>Menyebabkan kebakaran karena </li></ul><ul><li>melepas atau menerima oksigen </li></ul><ul><li>peroksida yg tidak stabil pada </li></ul><ul><li>suhu tinggi </li></ul>
    45. 45. <ul><li>Beracun : </li></ul><ul><ul><li>menyebabkan kematian atau sakit yg serius apabila masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut. </li></ul></ul><ul><ul><li>Penentuan sifat racun menggunakan baku mutu TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure). Bila nilainya < dari nilai ambang batas , maka perlu dilakukan uji toksikologi. </li></ul></ul>
    46. 46. <ul><li>MENYEBABKAN INFEKSI : </li></ul><ul><ul><li>limbah laboratorium atau limbah </li></ul></ul><ul><ul><li>lainnya yang terinfeksi kuman </li></ul></ul><ul><ul><li>penyakit yang dapat menular </li></ul></ul>
    47. 47. <ul><li>6. KOROSIF : </li></ul><ul><ul><li>menyebabkan iritasi atau terbakar </li></ul></ul><ul><ul><li>pada kulit menyebabkan proses </li></ul></ul><ul><ul><li>pengkaratan dan korosi lempeng baja </li></ul></ul><ul><ul><li>(SAE 1020) dengan laju korosi > 6.35 </li></ul></ul><ul><ul><li>mm/tahun pada suhu pengujian 55°C </li></ul></ul><ul><ul><li>pH 2 untuk limbah bersifat asam </li></ul></ul><ul><ul><li>pH 12.5 untuk limbah bersifat </li></ul></ul><ul><ul><li>basa </li></ul></ul>
    48. 48. <ul><li>PEMAPARAN : </li></ul><ul><li>TOKSIKAN YANG MASUK KEDALAM MAHLUK HIDUP DAPAT MENGALAMI PROSES SBB: </li></ul><ul><li>EKSKRESI </li></ul><ul><li>BIOTRANSFORMASI : METABOLISME TOKSIKAN MENJADI MOLEKUL YG BERSIFAT LEBIH POLAR SHG. LEBIH MUDAH DIEKSKRESIKAN </li></ul><ul><li>DIAKUMULASI DALAM SEL </li></ul>
    49. 49. TOKSIKOLOGI LIMBAH B3 KARENA EFEK TOKSIK SULIT DIDETEKSI DALAM EKOSISTEM, MAKA DIGUNAKAN PENDEKATAN DENGAN BIOMARKER RESPONS BIOMARKER DAPAT BERUPA RESPONS BIOKIMIAWI ATAUPUN FISIOLOGIK
    50. 50. Terima Kasih TERIMA KASIH

    ×