Makalah ekologi

3,972 views
3,840 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,972
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
107
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah ekologi

  1. 1. MAKALAH EKOLOGISAMPAH DAN LIMBAH PENYEBAB KERUSAKAN EKOSISTEM BUMI Oleh : 1. Wiwin Cahyanti B1J010173 2. Intan Eka MS B1J010175 3. Ardianti Maya N B1J010201 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDERMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012
  2. 2. I. PENDAHULUAN Semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yangberbentuk padat, lumpur (sludge), cair maupun gas yang dibuang karena tidakdibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. Walaupun dianggap sudah tidak berguna dantidak dikehendaki, namun bahan tersebut kadang–kadang masih dapatdimanfaatkan kembali dan dijadikan bahan baku. Pembagian limbah antara laindibagi berdasarkan sumbernya, seperti : - Limbah kegiatan kota (masyarakat) - Limbah industri - Limbah pertambangan - Limbah pertanian.Berdasarkan fasanya/bentuknya: - Limbah padat - Limbah berlumpur (sludge) - Limbah cair - Limbah padat.Berdasarkan sifat bahayanya: - Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) - Limbah domestik : dihasilkan dari aktivitas primer manusia. (Enri Damanhuri dan Tri Padmi, 2010) Penanganan limbah secara keseluruhan agar limbah tersebut tidakmengganggu kesehatan, estetika, dan lingkungan. Penanganan tersebut mencakupcara memindahkan dari sumbernya, mengolah, dan mendaur-ulang kembali.Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, danberkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Karaktersampah dapat dikenali sebagai berikut: (1) tingkat produksi sampah, (2) komposisidan kandungan sapah, (3) kecenderungan perubahannya dari waktu ke waktu.Karakter sampah tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan penduduk,pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran serta gaya hidup dari masyarakatperkotaan. Sumber sampah berasal dari kegiatan penghasil sampah seperti pasar,rumah tangga, pertokoan (kegiatan komersial/perdaganan), penyapuan jalan, taman,atau tempat umum lainnya, dan kegiatan lain seperti dari industri dengan limbah
  3. 3. yang sejenis sampah. Sampah yang dihasilkan manusia sehari-hari kemungkinanmengandung limbah berbahaya, seperti sisa batere, sisa oli/minyak rem mobil, sisabekas pemusnah nyamuk, sisa biosida tanaman, dsb (Pramono, 2004). Berdasarkan data-data BPS tahun 2000, dari 384 kota yang menimbulkansampah sebesar 80.235,87 ton setiap hari, penanganan sampah yang diangkut kedan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sebesar 4,2 %, yangdibakar sebesar 37,6 %, yang dibuang ke sungai 4,9 % dan tidak tertangani sebesar53,3 %. Pertambahan penduduk yang disertai dengan tingginya arus urbanisasi keperkotaan telah menyebabkan semakin tingginya volume sampah yang harusdikelola setiap hari. Hal tersebut bertambah sulit karena keterbatasan lahan untukTPA sampah. Pengangkutan sampah ke TPA juga terkendala karena jumlahkendaraan yang kurang mencukupi dan kondisi peralatan yang telah tua. Masalahlainnya adalah pengelolaan TPA yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yangramah lingkungan (Rabinovitch, 1992). Para ahli lingkungan merekomendasikan agar pengelolaan TPAmenggunakan sistem sanitary landfill, namun demikian dari sekian banyak TPA yangada, umumnya menggunakan sistem open dumping atau controlled dumping.Sampai saat ini paradigma pengelolaan sampah yang digunakan adalah kumpul–angkut dan buang, dan andalan utama sebuah kota dalam menyelesaikan masalahsampahnya adalah pemusnahan dengan landfilling pada sebuah TPA. Pengelolakota cenderung kurang memberikan perhatian yang serius pada TPA tersebut,sehingga muncullah kasus-kasus kegagalan TPA. Pengelola kota tampaknyaberanggapan bahwa TPA yang dipunyainya dapat menyelesaikan semua persoalansampah, tanpa harus memberikan perhatian yang proporsional terhadap saranatersebut. TPA dapat menjadi bom waktu bagi pengelola kota. Dilihat dari komposisisampah, maka sebagian besar sampah kota di Indonesia adalah tergolong sampahhayati, atau secara umum dikenal sebagai sampah organik. Sampah yang tergolonghayati ini untuk kota-kota besar bisa mencapai 70 % dari total sampah, dan sekitar28 % adalah sampah non-hayati yang menjadi obyek aktivitas pemulung yang cukuppotensial, mulai dari sumber sampah (dari rumah-rumah) sampai ke TPA. Sisanya(sekitar 2%) tergolong B3 yang perlu dikelola tersendiri (Pramono, 2004). Berdasarkan data tahun 2008, jenis penanganan sampah yang berlangsungdi Indonesia adalah sebagai
  4. 4. berikut :- Pengurugan: 68,86%- Pengomposan: 7,19%- Open burning: 4,79%- Dibuang ke sungai: 2,99%- Insinerator skala kecil: 6,59%- Non-pengurugan: 9,58% (Wibowo dan Djajawinata, 2002) Sampah yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagikehidupan dan kesehatan lingkungan, terutama kehidupan manusia. Masalahtersebut dewasa ini menjadi isu yang hangat dan banyak disoroti karenamemerlukan penanganan yang serius. Beberapa permasalahan yang berkaitandengan keberadaan sampah, di antaranya :- Masalah estetita (keindahan) dan kenyamanan yang merupakan gangguan bagipandangan mata.- Sampah yang terdiri atas berbagai bahan organik dan anorganik apabila telahterakumulasi dalam jumlah yang cukup besar, merupakan sarang atau tempatberkumpulnya berbagai binatang yang dapat menjadi vektor penyakit, seperti lalat,tikus, kecoa, kucing, anjing liar, dan sebagainya. Juga merupakan sumber dariberbagai organisme patogen, sehingga akumulasi sampah merupakan sumberpenyakit yang akan membahayakan kesehatan masyarakat, terutama yangbertempat tinggal dekat dengan lokasi pembuangan sampah.- Sampah yang berbentuk debu atau bahan membusuk dapat mencemari udara.- Timbulan lindi (leachate), sebagai efek dekomposisi biologis dari sampah memilikipotensi yang besar dalam mencemari badan air sekelilingnya, terutama air tanah dibawahnya.- Sampah yang kering akan mudah beterbangan dan mudah terbakar.- Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran airbuangan dan drainase. (Enri Damanhuri dan Tri Padmi, 2010)
  5. 5. II. PEMBAHASAN Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan peran serta masyarakat dalampengelolaan persampahan, yaitu di antaranya :- Tingkat penyebaran penduduk yang tidak merata- Belum melembaganya keinginan dalam masyarakat untuk menjaga lingkungan- Belum ada pola baku bagi pembinaan masyarakat yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaan- Masih banyak pengelola kebersihan yang belum mencantumkan penyuluhan dalam programnya- Kehawatiran pengelola bahwa inisiatif masyarakat tidak akan sesuai dengan konsep pengelolaan yang ada. (Wibowo dan Djajawinata, 2002) Saat ini pengurangan sampah hanya dilakukan melalui kegiatan pemulungansampah (oleh pemulung). Program daur ulang di Indonesia yang telah dilaksanakansejak tahun 1986 baru dapat mencapai 1,8%. Kondisi ini belum cukup untukmengurangi laju pertumbuhan jumlah sampah yang akan meningkat lima kalinyapada tahun 2020. Para pemulung melaksanakan kegiatan pemungutan sampahhampir di seluruh subsistem pengelolaan sampah. Berdasarkan penelitian BPPTtahun 1990 komponen sampah yang mempunyai nilai tinggi untuk dimanfaatkankembali adalah sampah kertas, logam dan gelas. Sampah memberikan nilaiekonomis, baik sampah organik yang dapat didaur ulang maupun sampah anorganikyang tidak dapat didaur ulang. Dilihat dari jumlah sampah yang dihasilkan denganasumsi semua sampah dapat dimanfaatkan baik untuk daur ulang ataupun yanganorganik, dan dengan perkiraan residu 5% dari total sampah serta perkiraan jumlahkeluarga, nilai ekonomis sampah tahun 2020. Pendapatan daerah akan bertambahsebesar Rp. 187.951.800 jika sampah dikelola dengan baik. Kontribusi terbesardiberikan sampah plastik lalu diikuti sampah sayur-mayur, meskipun kalau dilihatdari jumlahnya, sampah sayur mayur menempati posisi pertama. Nilai ekonomis persatuan unit yang lebih kecil, membuat konstribusi sampah sayur mayur lebih kecildibandingkan sampah plastik (Oswari Teddy et al. 2006).
  6. 6. Sampah berbahaya adalah semua sampah yang mengandung bahanberacun bagi manusia, flora, dan fauna. Sampah ini pada umumnya terdiri atas zatkimia organik maupun anorganik serta logam-logam berat, yang kebanyakanmerupakan buangan industri. Sampah jenis ini sebaiknya dikelola oleh suatu badanyang berwenang dan dikeluarkan ke lingkungan sesuai dengan peraturan yangberlaku. Sampah jenis ini tidak dapat dicampurkan dengan sampah kota biasa.Komposisi sampah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor: − Cuaca: di daerah yang kandungan airnya tinggi, kelembaban sampah juga akancukup tinggi − Frekuensi pengumpulan: semakin sering sampah dikumpulkan maka semakintinggi tumpukan sampah terbentuk. Tetapi sampah organik akan berkurang karenamembusuk, dan yang akan terus bertambah adalah kertas dan dan sampah keringlainnya yang sulit terdegradasi − Musim: jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang sedangberlangsung − Tingkat sosial ekonomi: Daerah ekonomi tinggi pada umumnya menghasilkansampah yang terdiri atas bahan kaleng, kertas, dan sebagainya − Pendapatan per kapita: masyarakat dari tingkat ekonomi rendah akanmenghasilkan total sampah yang lebih sedikit dan homogen dibanding tingkatekonomi lebih tinggi. − Kemasan produk: kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akanmempengaruhi. Negara maju cenderung tambah banyak yang menggunakan kertassebagai pengemas, sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyakmenggunakan plastik sebagai pengemas. (Wibowo dan Djajawinata, 2002) Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah tangga dewasa ini, khususnya dikota, tidak terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. Bila bahan tersebut tidaklagi digunakan, maka bahan tersebut akan menjadi limbah, yang kemungkinan besartetap berkategori berbahaya, termasuk pula bekas pewadahannya seperti bekas cat,tabung bekas pewangi ruangan. Bahan-bahan tersebut digunakan dalam hampirseluruh kegiatan di rumah tangga, yaitu: − di dapur, seperti pembersih saluran air, soda kaustik, semir, gas elpiji, minyak tanah, asam cuka, kaporit atau desinfektan, spiritus / alkohol
  7. 7. − di kamar mandi dan cuci, seperti cairan setelah mencukur, obat-obatan, shampo anti ketombe, pembersih toilet, pembunuh kecoa − di kamar tidur, seperti parfum, kosmetik, kamfer, obat-obatan, hairspray, air freshener, pembunuh nyamuk − di ruang keluarga, seperti korek api, alkohol, batere, cairan pmbersih − di garasi/taman, seperti pestisida dan insektisida, pupuk, cat dan solven pengencer, perekat, oli mobil, aki bekas. (Pramono, 2007) Di lingkungan pedesaan serta di lingkungan yang terlihat asri, penggunaanbahan berbahaya agaknya juga sulit dihindari, seperti penggunaan pestisida dalamkegiatan pertanian, yang dampaknya disamping akan menghasilkan residu yangterbuang pada badan penerima alamiah, namun dapat pula masih tersisa padamakanan yang dikonsumsi sehari-hari seperti dalam sayur mayur dan buah-buahan.Kegiatan agrowisata, seperti adanya lapangan golf dan sebagainya menambahintesifnya penggunaan bahan biosida yang umumnya resistan dan bersifatbiokumulasi serta mendatangkan dampak negatif dalam jangka panjang bagimanusia yang terpaparnya. Pada dasarnya bahan berbahaya tidak akanmenimbulkan bahaya jika pemakaian, penyimpanan dan pengelolaannya sesuaidengan ketentuan yang berlaku. Pencampuran dua atau lebih dapat pulamenimbulkan masalah. Efek pada kesehatan manusia yang paling ringan umumnyaakan terasa langsung karena bersifat akut, seperti kesulitan bernafas, kepala pusing,lamban, iritasi mata atau kulit. Oleh karenanya, pada kemasan bahan-bahantersebut biasanya tertera aturan penyimpanan, misalnya tidak terpapar padatemperatur atau diletakkan agar tidak terjangkau oleh anak-anak. Melihat permasalahan diatas, untuk mengelola persampahan hal pertamayang harus diperhatikan adalah kebijakan dari pemerintah yang dibuat denganpendekatan menyeluruh sehingga dapat dijadikan payung bagi penyusunankebijakan ditingkat pusat maupun daerah. Belum adanya kebijakan pemerintahtersebut menyulitkan pengelolaan persampahan. Kebijakan strategis yang telahditetapkan oleh pemerintah baru pada tahap aspek teknis yaitu dengan melakukanpengurangan timbulan sampah dengan menerapkan Reduce, Reuse dan Recycle(3R), dengan harapan pada tahun 2025 tercapai “zero waste“. Pendekatanpengelolaaan persampahan yang semula didekati dengan wilayah administrasi,
  8. 8. dapat diubah dengan melalui pendekatan pengelolaan persampahan secara regionaldengan menggabungkan beberapa kota dan kabupaten dalam pengelolaanpersampahan. Hal ini sangat menguntungkan karena akan mencapai skalaekonomis baik dalam tingkat pengelolaan TPA, dan pengangkutan dari TPS ke TPA(Pramono, 2007). Secara ideal konsep hierarhi urutan prioritas penanganan limbah secaraumum, yaitu :Langkah 1 Reduce (pembatasan): mengupayakan agar limbah yang dihasilkansesedikit mungkinLangkah 2 Reuse (guna-ulang): bila limbah akhirnya terbentuk, maka upayakanmemanfaatkan limbah tersebut secara langsungLangkah 3 Recycle (daur-ulang): residu atau limbah yang tersisa atau tidak dapatdimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau diolah untuk dapatdimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber enersiLangkah 4 Treatment (olah): residu yang dihasilkan atau yang tidak dapatdimanfaatkan kemudian diolah, agar memudahkan penanganan berikutnya, atauagar dapat secara aman dilepas ke lingkunganLangkah 5 Dispose (singkir): residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas kelingkungan secara aman, yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman sepertimenyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkansecara baikLangkah 6 Remediasi: media lingkungan (khusunya media air dan tanah) yangsudah tercemar akibat limbah yang tidak terkelola secara baik, perlu direhabilitasiatau diperbaiki melalui upaya rekayasa yang sesuai, seperti bioremediasi dansebagainya. (Doddy Ari S, Diana S, 2005) Manfaat dari upaya tersebut dalam jangka panjang antara lain adalah :− Berkurangnya secara drastis ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.− Lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana dan prasaranapersampahan.− Terciptanya peluang usaha bagi masyarakat dari pengelolaan sampah (usahadaur ulang dan pengomposan).
  9. 9. − Terciptanya jalinan kerjasama antara pemerintah kabupaten/kota dan antarapemerintah dan masyarakat/swasta dalam rangka menuju terlaksananya pelayanansampah yang lebih berkualitas.− Adanya pemisahan dan pemilahan sampah baik di sumber timbulan maupun ditempat pembuangan akhir dan adanya pemusatan kegiatan pengelolaan akan lebihmenjamin terkendalinya dampak lingkungan yang tidak dikehendaki. (Enri Damanhuri dan Tri Padmi, 2010)
  10. 10. III. PENUTUP Berdasarkan permasalahan diatas didapatkan kesimpulan bahwa :1. Melakukan pengenalan karekteristik sampah dan metoda pembuangannya,2. Merencanakan dan menerapkan pengelolaan persampahan secara terpadu (pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir)3. Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program zero waste pada masa mendatang,4. Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan.
  11. 11. DAFTAR PUSTAKADoddy Ari S, Diana S, 2005. Kajian Potensi Ekonomis Dengan Penerapan 3R (Reduce, Reuse Dan Recycle) Pada Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Kota Depok, Prosiding Seminar Ilmiah PESAT Universita Gunadarma, Depok.Enri Damanhuri dan Tri Padmi. 2010. Diktat kuliah TL-3104 Pengelolaan sampah. Program Studi Teknik Lingkungan FTSL ITBOswari Teddy et al. 2006. Potensi Nilai Ekonomis Pengelolaan Sampah Di Kota Depok. Jurnal ekonomi & bisnis no.2, jilid 11Pramono, Sigit, S., 2004. Studi Mengenai Komposisi Sampah Perkotaan Di Negara- Negara Berkembang. Jurusan Teknik Sipil Unversitas Gunadarma-Jakarta.Pramono, Sigit, S., 2007. Studi Sistem Pengumpulan Sampah Perkotaan Di Indonesia. Jurusan Teknik Sipil Unversitas Gunadarma-Jakarta.Rabinovitch, Jonas. 1992. Curitiba: towards sustainable urban development. Environment and Urbanization Vol. 4 No. 2, p62-73.Wibowo, Arianto dan Djajawinata, Darwin T. 2002. Penanganan Sampah Perkotaan Terpadu. Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas

×