Filosofi ilmu dalam 3 kajian

20,809 views
20,587 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
20,809
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
218
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Filosofi ilmu dalam 3 kajian

  1. 1. FILOSOFI ILMU PENGETAHUAN DALAM 3 KAJIAN : 1. ALIENASI MANUSIA ATAS ILMU 2. URGENSI & IMPLEMENTASINYA PADA ARAS ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI MATERI UJIAN SEMESTER DARI MATA KULIAH FILSAFAT ILMU PROGRAM PASCASARJANA UNY JURUSAN PIPS Disusun oleh : SIGIT KINDARTO NIM. 12705259010 UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA PROGRAM PASCASARJANA PIPS KERJASAMA P2TK DENGAN UNY TAHUN 2012Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 1
  2. 2. 1. Ilmu Pengetahuan adalah hasil respon manusia terhadap realitas. Berikanlah analisis saudara terhadap beragam cara manusia dalam merespon realitas tersebut sehingga melahirkan perkembangan ilmu pengetahuan. Jawaban Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna lagi paripurna, kesempurnaannya tampak pada kecakapan dalam menghadapi pelbagai bentuk permasalahan hidup yang merupakan manifestasi dari kesucian fitrah insaniyah yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya, dan keparipurnaannya tampak pada kemampuannya menganalisa setiap permasalahan guna mendapatkan jalan keluar yang akurat tanpa menimbulkan problematika yang lebih parah dari sebelumnya, keparipurnaan ini merupakan bentuk manifestasi hikmah ‘aqliyyah yang menjadi bagian utama terbentuknya makhluk Tuhan yang teristimewa diantara seluruh makhluk yang tercipta di bumi. Kemampuan berpikir atau daya nalar manusialah yang menyebabkannya mampu mengembangkan pengetahuan. Dia mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, yang indah dan yang jelek. Secara terus menerus manusia diberikan berbagai pilihan. Dalam melakukan pilihan ini manusia berpegang pada pengetahuan. Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama, yaitu: pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, kemampuan berfikir menurut suatu kerangka berfikir tertentu. Kedua faktor diatas sangat berkaitan erat. Terkadang sebagian manusia begitu sulit untuk mengkomunikasikan informasi, pengetahuan dan segala yang ingin dikomunikasikannya. Hal ini salah satunya dikarenakan tidak terstrukturnya kerangka fikir. Kerangka fikirUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 2
  3. 3. akan terstruktur ketika obyek dari apa yang ingin dikomunikasikan jelas. Begitupun ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (emperi) dan dari akal (ratio). Sehingga timbul faham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme (Mikhael Dua : 2011). Aliran empirisme yaitu faham yang menyusun teorinya berdasarkan pada empiri atau pengalaman. Tokoh-tokoh aliran ini misalnya David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704), Berkley. Sedang rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Tokoh-tokoh aliran ini misalya Spinoza, Rene Descartes. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedang rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant adalah tokoh yang mensintesakan faham empirisme dan rasionalisme. Ilmu pengetahuan, diperoleh dari pemecahan suatu masalah keilmuan atau kehidupan / kebutuhan manusia. Tidak ada masalah, berarti tidak ada solusi. Tidak ada solusi berarti tidak memperoleh metode yang tepat dalam memecahkan masalah. Ada metode berarti ada sistematika ilmiah. Permasalahan merupakan obyek dari ilmu pengetahuan. Permasalahan apa yang coba dipecahkan atau yang menjadi pokok bahasan, itulah yang disebut obyek. Dalam arti lain, obyek dimaknai sebagai sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan lahir sebagai jawaban atas berbagai problema yang dihadapi oleh manusia untuk dicarikan solusi sebagai hakikat dari lahirnya ilmu pengetahuan. Seseorang yang ingin menemukan pengetahuan, maka sebagai langka awal dia terlebih dahulu harus mempelajari teori-teori pengetahuan dalam perkembangan pengetahuan. Karena itu, usaha yang harus dia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan, sebab pengetahauan tidak akan mengalami perkembangan danUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 3
  4. 4. perubahan apabila tujuan dari pengetahuan tersebut tidak diketahui dan dipahami. Karena pada prinsipnya ilmu adalah usaha untuk menginterpretasikan gejala-gejala atau fenomena – fenomena alami dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian, artinya fenomena ini baik berupa pengamatan empiric maupun penalaran rasio memerlukan teori sebagai landasan keterpahaman sesuatu yang disebut sebagai ilmu pengetahuan. Manusia dalam Menemukan Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan yang berkembang dewasa ini melahirkan berbagai hasil diantaranya dibidang teknologi yang bisa membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya. Pengetahuan dapat diperoleh kebenarannya dari dua pendekatan, yaitu pendekatan ilmiah dan non-ilmiah. 1) Penemuan Kebenaran Melalui Penelitian Ilmiah Cara mencari kebenaran yang dipandang ilmiah ialah yang dilakukan melalui penelitian. Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu pada manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada taraf setinggi ini disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, dan bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelasannya secara ilmiah. Pada setiap penelitian ilmiah melekat ciri-ciri umum, yaitu pelaksanaannya yang metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang logis dan koheren. Artinya dituntut adanya sistem dalam metode maupun hasilnya. Jadi susunannya logis. Ciri lainnya adalah universalitas. Setiap penelitian ilmiah harus objektif, artinya terpimpin oleh objek dan tidak mengalami distorsi karena adanya pelbagai prasangka subjektif. Agar penelitian ilmiah dapat dapat dijamin objektivitasnya, tuntutan intersubjektivitas perlu dipenuhi. Penelitian ilmiah juga harus diverifikasi oleh semua peneliti yang relevan. Prosedur penelitian harus terbukaUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 4
  5. 5. untuk diperiksa oleh ilmuwan yang lain. Oleh karena itu, penelitian ilmiah harus dapat dikomunikasikan. 2). Pada pendekatan non ilmiah ada beberapa pendekatan yakni intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan dan coba-coba dan pikiran kritis. a) Intuisi Intuisi adalah penilaian terhadap suatu pengetahuan yang cukup cepat dan berjalan dengan sendirinya. Biasanya didapat dengan cepat tanpa melalui proses yang panjang tanpa disadari. Dalam pendekatan ini tidak terdapat hal yang sistemik b) Penemuan Secara Spekulatif Cara ini mirip dengan cara coba dan ralat. Akan tetapi, perbedaannya dengan coba dan ralat memang ada. Seseorang yang menghadapi suatu masalah yang harus dipecahkan pada penemuan secara spekulatif, mungkin sejumlah alternatif pemecahan. Kemudian ia mungkin memilih satu alternatif pemecahan, sekalipun ia tidak yakin benar mengenai keberhasilannya. c) Otoritas atau Kewibawaan Pendapat orang-orang yang memiliki kewibawaan, misalnya orang-orang yang mempunyai kedudukan dan kekuasaan sering diterima sebagai kebenaran meskipun pendapat itu tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah. Pendapat itu tidak berarti tidak ada gunanya. Pendapat itu tetap berguna, terutama dalam merangsang usaha penemuan baru bagi orang-orang yang menyangsikannya. Namun demikian ada kalanya pendapat itu ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Dengan demikian pendapat pemegang otoritas itu bukanlah pendapat yang berasal dari penelitian, melainkan hanya berdasarkan pemikiran yang diwarnai oleh subjektivitas.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 5
  6. 6. d) Akal sehat adalah serangkaian konsep dan bagian konseptual yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi kemanusiaan(Conant dalam Kerlinger (1973, h. 3). Konsep merupakan kata yang dinyatakan abstrak dan dapat digeneralisasikan kepada hal-hal yang khusus. Akal sehat ini dapat menunjukan hal yang benar, walaupun disisi lainnya dapat pula menyesatkan. Manusia diberikan kelebihan dari makhluk lainnya berupa akal yang bisa digunakan salah satunya untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan. Dalam psikologi, dikenal konsep diri dari Freud (Jalaluddin Rakhmat, 1985) menyebut sebagai “id”, “ego”, dan “super-ego”. “Id” adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama) dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instik: libido (konstruktif) dan thanatos (destruktif dan agresif). “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar. “Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani, Adib (2009:244). Dalam agama, ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu). Jika kita mampu mengendalikan ketiga unsur yang ada dalam diri kita diatas dengan menggunakan akal sehat yang dalam artian yaitu akal yang dibarengi dengan melibatkan hati nurani. Kita bisa mengambil contoh penemuan berbagai alat-alat rumah tangga elektronik yang dapat memudahkan para Ibu-ibu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Penemuan ini tidak saja berdampak pada perubahan dalam pola kerja yang dilakukan oleh ibu rumah tangga, namun juga berdampak pada berubahnya pola perilaku dalam masyarakat yang cendrung suka yang praktis dan lebih bersifat materialistik. Segi hubungan masyarakatUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 6
  7. 7. dalam interaksi sehari-hari juga menjadi berubah diantaranya lebih individualistik dan kurang bersosialisasi dengan masyarkat sekitarnya. e) Prasangka Pengetahuan yang dicapai secara akal sehat biasanya diikuti dengan kepentingan orang yang melakukannya kemudian membuat orang mengumumkan hal yang khusus menjadi terlalu luas. Dan menyebabkan akal sehat ini berubah menjadi sebuah prasangka. f) Penemuan Coba- Coba (Trial and Error) Pengetahuan yang ditemukan dengan pendekatan ini tidak terkontrol dan tidak pasti. Diawali dengan usaha coba-coba atau dapat dikatakan trial and error. Dilakukan dengan tidak kesengajaan yang menghasilkan sebuah pengetahuan dan setiap cara pemecahan masalahnya tidak selalu sama. Sebagai contoh seorang anak yang mencoba meraba-raba dinding kemudian tidak sengaja menekan saklar lampu dan lampu itu menyala kemudian anak tersebut terperangah akan hal yang ditemukannya. Dan anak tersebut pun mengulangi hal yang tadi ia lakukan hingga ia mendapatkan jawaban yang pasti akan hal tersebut. g) Berpikir Kritis dan Rasional Telah banyak kebenaran yang dicapai oleh manusia sebagai hasil upayanya menggunakan kemampuan berpikirnya. Dalam menghadapi masalah, manusia berusaha menganalisisnya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sampai pada pemecahan yang tepat. Cara berpikir yang ditempuh pada tingkat permulaan dalam memecahkan adalah dengan cara berpikir analitis dan cara berpikir sintesis.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 7
  8. 8. Perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekarbercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin- menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan. Terlepas dari berbagai macam pengelompokkan atau pembagian dalam ilmu pengetahuan, sejak F.Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge is Power”, kita dapat mensinyalir bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia, baik individual maupun sosial menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984), adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu dasar-murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis. Koento Wibisono dkk. (1997) menyatakan, karena pengetahuan ilmiah atau ilmu merupakan “a higher level of knowledge”, maka lahirlah filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat menempatkan objek sasarannya: Ilmu (Pengetahuan). Bidang garapan filsafat ilmu terutama diarahkan pada komponen-komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu yaitu: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Hal ini didukung oleh Israel Scheffler (dalam TheUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 8
  9. 9. Liang Gie, 1999), yang berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu. Respon manusia terhadap Problema Kehidupan Interaksi antara ilmu pengetahuan denganproses kehidupan manusia maupun makhluk lainnya telah melahirkan pemikiran dan penemuan - penemuan baru sebagai respon atas berbagai problema yang menghinggapi kehidupan manusia. Kemampuan berpikir manusia yang dibarengi dengan kecerdikan menemukan solusi atas berbagai persoalan hidup dan kehidupan memicu kreativitas yang melahirkan ilmu / penemuan pengetahuan baru, sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang. Pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. Kenyataan sosial adalah hasil (eksternalisasi) dari internalisasi dan obyektivasi manusia terhadap pengetahuan –dalam kehidupan sehari-sehari. Atau, secara sederhana, eksternalisasi dipengaruhi oleh stock of knowledge (cadangan pengetahuan) yang dimilikinya. Cadangan sosial pengetahuan adalah akumulasi dari common sense knowledge (pengetahuan akal-sehat). Common sense adalah pengetahuan yang dimiliki individu bersama individu-individu lainnya dalam kegiatan rutin yang normal, dan sudah jelas dengan sendirinya, dalam kehidupan sehari-hari (Berger dan Luckmann, 1990: 34). Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia berfikir, dengan berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan memang sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas Berfikir, oleh karena itu sangat wajar apabila Berfikir merupakan konsep kunci dalam setiap diskursus mengenai kedudukan manusia di muka bumi, ini berarti bahwa tanpa Berfikir, kemanusiaan manusia pun tidak punya makna bahkan mungkin tak akan pernah ada.Berfikir jugaUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 9
  10. 10. memberi kemungkinan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dalam tahapan selanjutnya pengetahuan itu dapat menjadi fondasi penting bagi kegiatan berfikir yang lebih mendalam. Ketika Adam diciptakan dan kemudian ALLAH mengajarkan nama- nama, pada dasarnya mengindikasikan bahwa Adam (Manusia) merupakan Makhluk yang bisa Berfikir dan berpengetahuan, dan dengan pengetahuan itu Adam dapat melanjutkan kehidupannya di Dunia. Dalam konteks yang lebih luas, perintah Iqra (bacalah) yang tertuang dalam Al Qur’an dapat dipahami dalam kaitan dengan dorongan Tuhan pada Manusia untuk berpengetahuan disamping kata Yatafakkarun (berfikirlah/gunakan akal) yang banyak tersebar dalam Al Qur’an. Semua ini dimaksudkan agar manusia dapat berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dengan tahu dia berbuat, dengan berbuat dia beramal bagi kehidupan. semua ini pendasarannya adalah penggunaan akal melalui kegiatan berfikir. Dengan berfikir manusia mampu mengolah pengetahuan, dengan pengolahan tersebut, pemikiran manusia menjadi makin mendalam dan makin bermakna, dengan pengetahuan manusia mengajarkan, dengan berpikir manusia mengembangkan, dan dengan mengamalkan serta mengaplikasikannya manusia mampu melakukan perubahan dan peningkatan ke arah kehidupan yang lebih baik, semua itu telah membawa kemajuan yang besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia (sudut pandang positif/normatif). Kemampuan untuk berubah dan perubahan yang terjadi pada manusia merupakan makna pokok yang terkandung dalam kegiatan Berfikir dan berpengetahuan. Disebabkan kemampuan Berfikirlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dibanding makhluk lainnya, sehingga dapat terbebas dari kemandegan fungsi kekhalifahan di muka bumi, bahkan dengan Berfikir manusia mampu mengeksplorasi, memilih dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk kehidupannya. Semua itu, pada dasarnya menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusiaUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 10
  11. 11. sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari Alam ini.Berfikir dan pengetahuan merupakan dua hal yang menjadi ciri keutamaan manusia, tanpa pengetahuan manusia akan sulit berfikir dan tanpa berfikir pengetahuan lebih lanjut tidak mungkin dapat dicapai, oleh karena itu nampaknya berfikir dan pengetahuan mempunyai hubungan yang sifatnya siklikal.Gerak sirkuler antara berfikir dan pengetahuan akan terus membesar mengingat pengetahuan pada dasarnya bersifat akumulatif, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin rumit aktivitas berfikir, demikian juga semakin rumit aktivitas berfikir semakin kaya akumulasi pengetahuan. Semakin akumulatif pengetahuan manusia semakin rumit, namun semakin memungkinkan untuk melihat pola umum serta mensistematisirnya dalam suatu kerangka tertentu, sehingga lahirlah pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan) baru, disamping itu terdapat pula orang- orang yang tidak hanya puas dengan mengetahui, mereka ini mencoba memikirkan hakekat dan kebenaran yang diketahuinya secara radikal dan mendalam. Berger dalam pendekatan terhadap pemahaman realitas ini memiliki dimensi – dimensi subyektif dan obyektif. Manusia merupakan instrumen dalam menciptakan realitas sosial yang obyektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana ia mempengaruhinya melalui proses internalisasi (yang mencerminkan realitas subyektif). Proses ini berjalan dalam kerangka dialektika Hegel, yaitu adanya tesa, antitesa, dan sintesa antara diri (the self) dengan dunia sosio-cultural, Frans Parera menjelaskan bahwa tugas pokok pengetahuan adalah menjelaskan dialektika antara diri (self) dengan dunia sosiokultural melalui tahapan-tahapan tersendiriUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 11
  12. 12. 2. Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, dalam pendangan beberapa filosof, telah menyebabkan manusia terjebak dalam “Perangkap” yang dibuatnya sendiri, atau berada dalam “Keterasingan" atau yang disebut Sayyed Husein Nasr dengan “Nestapa Manusia Modern”. Berikanlah uraian saudara terhadap pandangan tersebut. Jawaban Paradoksal Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan dalam perkembangannya ternyata menimbulkan situasi yangparadoksal. Di satu sisi Ilmu Pengetahuan menjadi simbol keunggulan dan kecerdasan manusia, tetapi di sisi lain ilmu dapat menjadi sumber masalah yang yang dapat mengguncangkan pandangan – pandangan tradisional tentang kodrat kita sebagai manusia. Sebab – sebab terdalam dari kenyataan tersebut tidak dapat dipisahkan dari motif - motif perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya menjadi simbol pergumulan manusia mencari kebenaran, tetapi juga menjadi sebuah tugas untuk menyejahterakan manusia, disamping dalam kacamata modern ilmu pengetahuan menempatkan manusia sebagai tuan dan pemilik atas alam. Rene Descrates menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan adalah sebagai faktor subyek penyebab utama yang menumbuhkan kesadaran baru pada manusia tentang gagasan baru / inovasi mengenai alam. Meski tidak dijelaskan secara eksplisit motif – motif ekonomi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Descrates merintis jalan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi “proyek teknologi” bagi kepentingan bisnis. Ini berarti ilmu pengetahuan menyandang motif ekonomi untuk mempercepat proses produksi, konsumsi dan distribusi. Dengan kata lain ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti pada usaha untuk mengungkapkan kebenaran mengenai dunia, tetapi mengembangkan dirinya untuk mengubah alam sehingga alam memiliki manfaat yang lebih besar bagi kepentingan manusia.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 12
  13. 13. Kejahatan Intelektual Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat tersebut ternyata tidak serta merta membawa dampak positif dalam perkembangan moral yang religius dari manusianya. Terbukti dengan semakin menurunnya nilai-nilai moral yang dianut oleh setiap orang, bahkan membawa manusia ke jurang kenistaan diri yaitu maraknya sikap hedonisme, materialistik maupun individualistik. Seperti yang diungkapkan secara garis besar oleh Sayyed Hossein Nasr, yang mengambil contoh di dunia Barat, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan malah menyebabkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai religius yang mengakui keberadaan Tuhan yang menciptakan kehidupan. Bahkan dengan penemuan – penemuan baru ilmu pengetahuan manusia menampilkan wajah destruktifnya, hasrat untuk menerapkan perkembangan ilmu pengetahuan pada setiap kesempatan, sehingga terjadilah pemaksaan yang merajalela dan membabibuta. Akibatnya ilmu pengetahuan dan hasilnya menjadi tidak manusiawi lagi, bahkan justru memperbudak manusia sendiri yang telah merencanakan dan menghasilkannya.Bertrand Russell mencontohkan banyaknya ilmuwan yang terlibat dalam “kejahatanintelektual” mendukung kekuasaan politik, seperti Archimedes yang membantu saudara sepupunya menjadi seorang tirani di Sirakusa melawan Romawi, kemudian Albert Einstein yang menyarankan pembuatan bom atom yang digunakan dalam Perang Dunia ke 2 untuk menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima (Mikhael Dua, 2011: 17). Ilmu pengetahuan dipakai juga sebagai alat rekayasa sosial untuk tujuan – tujuan tertentu sehingga menjadi salah satu faktor tersembunyi berbagai bentuk ketidakadilan yang mengakibatkan kemiskinan dan penderitaan masyarakat. Dalam fungsinya sebagai alat rekayasa sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor utama bagi penghisapan terbuka maupun terselubung atas nama kemanusiaan. SifatUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 13
  14. 14. destruktif ini menimbulkan ketakutan bukan karena terjadinya peperangan yang masih ada harapan untuk jalan perdamaian melalui perundingan, tetapi penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor paling menentukan dalam perusakan lingkungan hidup dan karena itu hubungan kita dengan alam dan generasi penerus (yang akan datang) menjadi taruhan yang sulit diatasi.Kondisi ini membuat manusia sebagai pemikir dan penemu ilmu pengetahuan terperangkap dalam jaring – jaring semestinya tidak diarahkan untuk penebarnya sendiri, yang hancur akibat penemuan dan penelitian- penelitian yang telah dilakukannya. Inilah paradoksal ilmu pengetahuan. Kebesaran peradaban Barat yang sampai saat ini menghegemoni dunia Timur ternyata didirikan berlandaskan fondasi yang keropos.Secara kuantitatif pengetahuan akan dunia yang dimiliki Barat memang mengagumkan dengan perkembangan yang terus menerus berjalan, namun secara kualitatif pengetahuan tersebut sangatlah dangkal.Secara kuantitatif manusia telah menciptakan keajaiban-keajaiban yang luar biasa dengan nalar pikir dan pengetahuan yang mereka miliki dengan memunculkan penemuan-penemuan dalam dan melalui ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan bagi mereka dan umat manusia. Sayyed Hossein Nasr menerangkan bahwa Dunia menurut pandangan orang- orang modern (Barat) adalah dunia yang tidak memiliki dimensi transendental. Bahkan di dalam dunia yang nyata ini segala sesuatu yang tidak dapat ditangkap di dalam jaring sains modern secara kolektif diabaikan, dan secara ‘objektif’ dinyatakan tidak ada.” Manusia Barat dengan segala atribut pengetahuan yang telah mereka capai, mempersempit ruang gerak pikir dan kemanusiaan mereka dengan hanya menyisakan dimensi duniawi dalam diri mereka sebagai pengetahuan yang mereka anut dan terapkan, di sinilah letak kedangkalan kualitas pengetahuan yang telah mereka anggap melampaui segalanya itu.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 14
  15. 15. Kedangkalan kualitas pemikiran Barat ini yang hanya bersifat keduniawian menganggap bahwa apa yang tidak bisa di jelaskan secara ilmiah melalui penelitian adalah hal yang tidak penting dan hanya perlu dikesampingkan. Anggapan dunia Barat tentang apa yang telah mereka capai dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat,semata-mata merupakan hasil kerja keras mereka, tanpa adanya campur tangan Tuhan yang menciptakan kehidupan ini. Sehingga kepintaran yang mereka miliki tidak di imbangi dengan adanya keyakinan bahwa ada Zat yang lebih tinggi yang mengatur kehidupan ini. Maka yang terjadi adalah cerdas dari segi intelegensinya namun tidak cerdas spiritual dan emosionalnya. Akhirnya eksplorasi dan eksperimentasi yang dilakukan manusia harus memakan korban. Korban pertamanya tentu adalah bumi yang dengan kekayaan alam yang dikandungnya dikeruk sedemikian rupa tanpa belas kasih, hampir di manapun orang-orang Barat, terutama yang berperan dalam perang dunia baik I maupun II, menjejakkan kaki. Dengan semangat Gold, Glory, Gospel, mereka merambah hampir seluruh permukaan bumi. Sisa-sisa semangat ini sampai kini masih berakar kuat dalam diri manusia-manusia modern. Terlihat dengan aktivitas negara-negara maju yang saling berebut peran dalam kancah drama dunia dengan tujuan mendapatkan segala kekayaan alam yang tersedia di muka bumi. Dan yang terparah dari apa yang mereka hasilkan dengan industrialisasi yang dimulai sejak revolusi Industri adalah kerusakan dan pencemaran alam yang tidak bertanggung jawab sebagai ekses negatif dari apa anthroposentrisme yang telah mendarah daging dalam diri orang-orang Barat. Tidak ada lagi kembalinya tanggung jawab yang diemban, karena Tuhan telah ditiadakan, menjadikan manusia-manusia modern bertindak sesuka hati memperlakukan alam ini. Dan kini sepertinya ada semacam kesadaran semu, bahwa alamlah tempat kembali tanggung jawab itu ada. Katakutan pada bencana alam membuat manusia mengalamiUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 15
  16. 16. krisis spiritualitas lupa pada siapa mereka bergantung. Ketakutan yang mereka ciptakan sendiri akhirnya sedikit menyadarkan mereka. Perilaku yang diadopsi dari Barat akibat faktor kapitalisme tanpa menyadari dampak yang bisa ditimbulkan dari pemikiran tersebut. Eksploitasi terhadap alam yang dilakukan oleh manusia modern sekarang ini,kita bisa mengambil contoh di negara kita sendiri, sekarang banyak sekali terjadi bencana-bencana alam yang tak lain terjadi karena ulah manusia. Penebangan illegal logging (hutan secara liar, untuk membuka perkebunan-perkebunan baru, atau mengambil kayunya), pertambangan hasil-hasil bumi yang tidak lagi memperhatikan keseimbangan ekosistem lingkungan hidup. Kasus pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, lumpur Lapindo, tambang timah di Bangka Belitung, pertambangan di PT. Freeport, dan masih banyak kasus kerusakan alam yang disebabkan ulah manusia yang hanya memandang segala sesuatunya dari segi ekonomisnya. Jika kita mampu mengendalikan diri dalam mengolah hasil-hasil alam, kerusakan-kerusakan ekosistem bisa diminimalisir sehingga alam akan lebih bersahabat dengan kita. Namun yang sekarang terjadi manusia modern lebih memandang segala sesuatunya itu dari segi ekonomis yang menguntungkan tanpa menggunakan nilai-nilai religius yang ada dalam keyakinannya masing-masing. Tanpa menghadirkan Tuhan dalam kehidupannya seolah-olah manusia modern terjebak dalam perangkap yang mereka buat sendiri. Jika kita memandang masalah ini dalam kacamata Islam sebagai agama mayoritas yang kita anut, maka sudah saatnya kita merenungkan setiap kesalahan- kesalahan yang terjadi dewasa ini. Ketika Barat telah berhasil menciptakan sebuah peradaban fisik yang luar biasa kemajuannya, dunia Islam mengalami titik balik kemajuan dengan segala bentuk keterbelakangan yang dideritanya. Dan lebih khususnya lagi seorang dengan identitasUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 16
  17. 17. Islam akan benar-benar dihadapkan dengan berbagai permasalahan terkait dengan modernisme yang kiat menggerus identitas keislamannya. Saat ini perubahan destruktif telah melanda dunia Timur termasuk Islam yang ada di dalamnya. Modernisme bergerak terus dan semakin menipiskan hal-hal yang bersifat spiritual di dunia Timur, sedangkan Barat tidaklah begitu menerima dampak buruk modernisme kecuali krisis identitas dan ancaman bencana alam, dan untuk yang kedua ini tentu di manapun manusia berada tentu juga terancam dengan keberadaan ancaman amukan alam yang mulai memanas. Selain itu dunia Timur tidak pernah belajar dari kesalahan yang telah ada di Barat, atau memang tidak mampu melihat itu sebagai kesalahan, karena sudah menjadi ciri modernisme yang begitu menjanjikan keindahan. “Seharusnya Timur menjadikan Barat sebagai sebuah studi kasus, tetapi tidak sebagai teladan yang harus ditiru secara mentah-mentah.”. Saya setuju dengan pendapat dari Hossein Nasr, kita tidak seharusnya menerima secara langsung saja, apa yang ditemukan di dunia Barat, karena jelas sangat berbeda dengan kita dunia Timur yang memiliki banyak sekali nilai-nilai yang harus di junjung, baik itu agama, adat istiadat, kesopanan dan lainnya. Berbagai penemuan di dunia Barat selayaknya kita pilah mana yang bisa diterapkan dan mana yang tidak, sehingga tidak terjadi yang seperti sekarang ini. Kebanyakan kita hanya menjadi pemulung teori-teori Barat tanpa bisa menemukan teori-teori baru yang tentunya lebih relevan dengan budaya Timur kita. Suatu gambaran yang menunjukkan realitas kehidupan modern dimana menghadapi dunia yang mengecewakan, karena sulit untuk menyesuaikan diri dengan keadaan hidup sehari-hari. Manusia modern hidup dalam sebuah dunia sosial yang terdiri dari nilai-nilai yang berat sebelah dan bertentangan yang tidak dapat memberikan suatu kepastian akhir kehidupan. Manusia modern dihadapkan pada tanggung jawab dan pilihan di antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 17
  18. 18. DehumanisasiIlmu Pengetahuan Keberadaan teknologi sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan yang diciptakan manusia, menurut Heidegger bahwa manusia berada dalam kungkungan sistem teknologi yang telah diciptakannya, tanpa disadarinya. Teknologi modern mengembangkan diri dan memiliki kecederungan untuk menempatkan dirinya sebagai pusat kegiatan. Manusiapun tidak dapat melepaskan diri dari kondisi seperti itu dalam pengertian bahwa manusia seakan – akan terlempar atau terjebak dalam sebuah cara pandang instrumental teknologi (produk ilmu pengetahuan). Manusia tidak lagi menjadi manusia yang bebas sesuai dengan predikatnya sebagai manusia rasional. Dalam perspektif seperti ini dunia tidak pernah menjadi sesuatu yang dapat menjadi dirinya sendiri dan dapat didekati dengan cara reciprocal care. Heidegger merumuskan bahwa semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi maka manusia akan semakin menguasai alam dan manusia tidak lagi akan mampu menguasai akibat – akibat yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (Mikhael Dua, 2011: 63). Manusia semestinya merupakan subyek moral yang seharusnya bertanggungjawab terhadap seluruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun manusia tidak mampu mengontrol proses revealing teknologi, dimana realitas teknologi dapat menampakkan dirinya. Produk ilmu pengetahuan menyebabkan kita terjebak dalam jejaring teknologis yang mengontrol tingkah laku dan tindakan – tindakan manusia, yang oleh Herbert Marcuse dalam bukunya One Dimensional Man disebut sebagai produk pengetahuan menjadi sebuah miliu yang menentukan bagaimana peradaban sebuah masyarakat akan dibangun. Manusia memang diberi pengetahuan oleh Tuhan, yang mengejawantah kemudian dalam bentuk ilmu pengetahuan. Kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan setiap orang tidaklah sama. Alasan ini dapat diterima karena manusia memiliki latarUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 18
  19. 19. belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda-beda. Dengan latar belakang inilah maka manusia berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan, baik dalam proses yang sangat sederhana yang dapat dilihat dalam perkembangan sejarah manusia secara alami, maupun pada orang-orang yang lebih disebut dengan kaum intelek yang sengaja membawa misi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. (T. Jacob, 1996: 5) memaparkan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu institusi kebudayaan, suatu kegiatan manusia untuk mengetahui tentang diri sendiri dan alam sekitarnya dengan tujuan untuk mengenal manusia sendiri, perubahan-perubahan yang dialami dan cara mencegahnya, mendorong atau mengarahkannya, serta mengenal lingkungan yang dekat dan jauh darinya, perubahan-perubahan lingkungan dan variasinya, untuk memanfaatkan, menghindari dan mengendalikannya. Bagian pengenalan merupakan dasar yang diperlukan oleh bagian tindakan, sehingga terdiferensiasilah ilmu dasar dan ilmuterapan. Ilmu terapan lebih dapat dilihat hasilnya dan dapat dirasakan oleh siapapun juga, entah itu bermanfaat atau tidak, menguntungkan atau justru merugikan (berdampak negatif). Maka dalam permasalahan ini muncul perbedaan pendapat mengenai kenetralan dan keobjektifan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu diperlukan adanya hukum, adat, agama, dan etika untuk mengendalikanilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan usia manusia, artinya ilmu pengetahuan baru akan berhenti tatkala manusia sudah tidak ada, karena hanya manusia yang diberi ilmu. Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan berkembang mengikuti misi si pengembang, atau lebih dikenal kemudian dengan sebutan para ilmuwan. Sebenarnya setiap manusia mampu menciptakan ilmu, tetapi kenyataan praktis secara implisit manusia hanya mengakui hasil pengetahuan yang diciptakan oleh para ilmuwan. Artinya, yang mendapat pengakuan adalah pengetahuan ilmiah dan pengetahuan non ilmiah yang sudah dinobatkan sebagai ilmu pengetahuanUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 19
  20. 20. yang sah. Maka ilmu pengetahuan kemudian dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Ilmu sebagai hasil aktivitas manusia yang mengkaji berbagai hal, baik diri manusia itu sendiri maupun realitas di luar dirinya, sepanjang sejarah perkembangannya sampai saat ini senantiasa mengalami ketegangan dengan berbagai aspek lain dalam kehidupan manusia (Tjahyadi S., 1996: 125). Dalam prakteknya orang senantiasa memperbincangkan hubungan timbal-balik antara ilmu dan teknologi. Dalam dataran nilai, polemik yang muncul justru lebih kompleks, karena hal itu berhubungan erat dengan kedudukan dan peran ilmu dan teknologi dalam perubahan peradaban manusia, baik yang berhubungan dengan pergeseran nilai maupun dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap komponen-komponen pengetahuan manusia yang lain. Kerapkali munculnya polemik antara terjadinya gejala marginalisasi (penggeseran) nilai maupun aspek pengetahuan menjadi lain apabila dihadapkan dengan kebenaran ilmiah. Bukan itu saja, ternyata bila diadakan pengujian terhadap kebenaran ilmiah dengan parameter teknologi mutakhir, maka hasil yang dicapai dengan yang diharapkan akan berbeda. Meluas dan meningkatnya peran “ilmu” dan “teknologi” tidak dipungkiri telah membawa keterasingan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri dan masyarakat, atau yang oleh Herbert Marcuse dalam Sudarminta, (1983: 121-139) hal ini mengantar manusia pada suatu kondisi yang berdimensi satu. Dimensi satu itu dimaksudkan adalah dimensi teknologis, yang dapat dilihat dalam kehidupan sosio- budayanya. Manusia dan kebudayaannya telah “dikuasai” oleh ilmu dan teknologi. Apakah dengan ini maka ilmu telah menghilangkan kemanusiaan dan otonomi manusia? Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, para ilmuwan mengambil objek material sesuai dengan kebutuhan. Hasil terapan pengembangan ilmu pengetahuan lalu disebut dengan teknologi. Bahkan dalam kesejarahan, abad modern ini dikatakan saratUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 20
  21. 21. dengan teknologi, karena para ilmuwan berlomba-lomba mengembangkan ilmu pengetahuannya. Pengembangan ini dilakukan semata-mata memecahkan masalah kehidupan dan memenuhi kebutuhan manusia. Dahulu manusia dengan kepercayaan bahwa Tuhan telah menguasai dan mengatasi alam semesta. Manusia bisa menciptakan apa saja dari objek alam. Manusia bisa sampai ke bulan dengan teknologi. Sekarang dengan adanya teknologi, manusia yang dulunya menjadi subjek (pelaku) pengembangan ilmu pengetahuan, dirinya telah menjadi objek bagi kegiatannya itu. Kebudayaan ini menandakan bahwa telah terjadi pergeseran nilai dalam hidup manusia. Manusia telah menjadi korban teknologi. Kebanyakan manusia telah terjerumus ke dalam lubang yang telah dibuatnya sendiri. Apakah memang tuntutan jaman manusia harus mengalami demikian, atau ini merupakan isyarat bahwa mulai nampak keserakahan manusia? . Bukan berarti menakut-nakuti para awam, bahwa manusia merupakan korban teknologi. Teknologi diciptakan dengan tendensi memenuhi kebutuhan manusia, tetapi ketika para ilmuwan berusaha mewujudkannya, teknologi justru membawa dampak keresahan dan bayangan kehancuran hidup manusia, bahkan teknologi tidak jarang mulai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan murni. Maka benar bila dikatakan bahwa teknologi menciptakan dehumanisasi. Kalau demikian maka betapa kejamnya yang dinamakan teknologi tersebut. Kalau terjadi sesuatu terhadap alam sebagai akibat yang ditimbulkan teknologi, manusia masih bisa tenang. Namun ketika nilai-nilai vital dalam hidupnya mulai terusik, maka manusia respek terhadap gejala tersebut. Manusia tidak mau kehilangan kemanusiaannya. Tapi yang menciptakan teknologi tidak lain adalah manusia sendiri, maka mana yang harus dituding sebagai biang penyimpangan ini.3. Jelaskan urgensi dan implementasi pribumisasi (indigenousasi) Ilmu Sosial pada aras Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi. JawabanUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 21
  22. 22. a. Landasan Ontologi Pribumisasi Ilmu Sosial Kajian pribumisasi ilmu sosial beraras ontologis maksudnya adalah kajian mengenai sifat dasar dari kenyataan ilmu – ilmu sosial Indonesia, hal ini dikarenakan bahwa dominasi pengaruh Ilmu – Ilmu Sosial Eropa atau Amerika terhadap perkembangan Ilmu – Ilmu Sosial di Asia termasuk Indonesia dirasakan dalam kurun waktu yang telah lama, bahkan sejak sebelum kemerdekaan. Kondisi ini mengkaibatkan perkembangan ilmu – ilmu sosial di Indonesia khususnya dan Asia pada umumnya berada pada keadaan yang tergantung pada dinamika Barat (captive mind), hal ini tentu menimbulkan keprihatinan yang mendalam pada praktisi ilmu bidang ilmu – ilmu sosial (Nasiwan, 2012). Stagnasi ilmu – ilmu sosial ini menjadi pemicu bagi intelektual Asia – Indonesia untuk mengembangkan kajiannya. Untuk Merealisasikan keinginan tersebut pada tahun 1970-an Ismail Raji Al-Faruqi menyampaikan ide – ide tentang Islamisasi Ilmu – Ilmu Sosial Kontemporer. Langkah ini mendapat dukungan dari Naquib Al-Attas yang juga mendorong dilakukannya Islamisasi ilmu – ilmu secara luas dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam ilmu – ilmu komtemporer. Hal penting yang menjadi pandangan dua intelektual ini, Ismail Raji Al- Faruqi dan Naquib Al-Attas adalah : 1) Pengamatannya mengenai fenomena kebiasaan ilmuwan Asia yang menggunakan kaidah – kaidah Barat seperti metode, analisis, deskripsi, eksplanasi, generalisasi, konseptuaslisasi dan intepretasi. 2) Ilmuwan Asia – Indonesia telah berusaha untuk keluar dari kungkungan kebergantuan intelektual Barat, tetapi usaha yang dilakukannya belum terstruktur, melembaga dan sistematis.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 22
  23. 23. 3) Membangun suatu diskursus alternatif ilmu – ilmu sosial di luar arus besar diskursus Ilmu – Ilmu Sosial Barat. Menurut Syed Farid Alatas tingkat ketergantungan akademis di Asia dipandang pararel dengan tingkat ketergantungan ekonomi. Tingkat ketergantungan akademis itu diantaranya kebergantungan pada : 1) gagasan 4) bantuan riset dan pengajaran 2) media gagasan 5) investasi pendidikan 3) teknologi pendidikan 6) ketrampilan Prof. Kuntojoyo menjadi pionir bagi intelektual Indonesia yang berani melakukan gugatan akademis Barat. Hal yang telah dilakukannya adalah dengan membuka pemikiran pentingnya Ilmu Sosial Profetik. Kemudian ditindaklanjuti dengan hal yang bersifta praksis. Melalui prophetic education ini diyakini mampu melahirkan perspektif teoritis yang sesuai dengan konteks keindonesiaan / ketimuran sehingga dominasi intektual barat terhadap ilmu – ilmu sosial dapat dikurangi bahkan sampai taraf zero influence. Kemunculan pemikiran indigenousasi ilmu sosial mestinya menjadi inspirasi bagi akademisi / ilmuwan ilmu sosial untuk dapat mewujudkan terjadinya transformasi yang tak terbatas tidak hanya pada tataran pemikiran khususnya bagi pada pendidik – guru, untuk dapat merealisasikan terjadinya transformasi masyarakat Indonesia. Aktivitas sosial yang memiliki kesadaran bahwa ilmu adalah merupakan instrumen sangat dahsyat bagi transformasi bukan revolusi sosial. Semua Perubahan berawal dari ide – ide gemilang, kata – kata, diskusi – diskusi, forum – forum ilmiah. Dari kondisi inilah keinginan yang memisahkan diri dari ketergantungan dominasi Barat dalam ilmu – ilmu sosial dapat segera direalisasikan.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 23
  24. 24. 1) Urgensi Pribumisasi Ilmu Sosial Pribumisasi ilmu di Indonesia merupakan hal yang sangat penting dilakukan karena berbagai alasan yang mendasarinya.Pertama,selama ini ilmu- ilmu yang berkembang dan diterapkan di Indonesia merupakan hasil contekan atau tiruan dari teori-teori Barat dan daerah luar Indonesia yang secara nyata bisa saja teori tersebut tidak sesuai dengan realitas dan problematika yang terjadi di Indonesia yang terkenal plural dan senantiasa memegang tradisi sebelumnya.Ketidaksesuaian tersebut bila terpaksa diterapkan malah akan menimbulkan suatu masalah baru yang kompleks dan sulit dikendalikan.Sehingga peminjaman teori dari luar tidak memecahkan masalah yang terjadi malah semakin menambah beban masalah yang harus diselesaikan.Kedua,adanya penyalahgunaan fungsi utama teori-teori yang berkembang dalam masyarakat sebagai upaya untuk hegemoni kekuasaan dan upaya politis penguasa dalam hal pembangunan nasional bangsa, sedangkan pembangunan nasional yang dijalankan pada hakikatnya sebagai upaya kesejahteraan rakyat yang merupakan hak setiap warga negara. Maka penyalahgunaan makna ilmu sebagai upaya hegemoni tersebut diterapkan akan berakibat fatal bagi perjalanan eksistensi suatu bangsa dalam hal kesuksesan pencapaian pembangunan nasional. Ketiga,pribumisasi diperlukan sebagai langkah emansipasi dan nasionalisasi ilmu pengetahuan yang bersifat keindonesiaan yang sesuai dengan pribadi masyarakat Indonesia pada umumnya.Keempat,pribumisasi ilmu diperlukan sebagai cerminan pemikiran posisi Indonesia sebagai Negara Ketiga yang mampu mandiri dalam bidang akademis untuk menjawab tantangan globalisasi yang berkembang di berbagai belahan dunia tanpa dibayang-bayangiUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 24
  25. 25. pengaruh kolonialisasi bangsa lain yang diharapkan bisa membentuk ilmu sosialnya sendiri berdasarkan temuan lokal,diorganisasikan menurut cara penjelasan setempat atau interpretasi berdasarkan pemikiran pemikiran pribumi. 2) Implementasinya Pribumisasi Ilmu Sosial Implementasi pribumisasi ilmu sosial dalam kasanah Indonesia mestinya diformulasikan kepada Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika sebagai indikator realitas keindonesiaan. Inti dari Bhinneka Tunggal Ika itu adalah pengakuan terhadap keanekaragaman dan adanya kesatuan di antara keanekaan tersebut. Keanekaan dan kesatuan tidak dapat dipisahkan, tidak ubahnya dengan sekeping mata uang pada kedua belah sisinya. Keanekaragaman merupakan kenyataan obyektif, sedangkan kesatuan merupakan formulasi subyektif yang bertitik tolak dari keanekaragaman. Bhinneka Tunggal Ika merupakan yang tidak terbantahkan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Bhinneka Tunggal Ika dapat dijadikan ciri fundamental landasan implemantasi bagi pribumisasi ilmu – ilmu sosial di Indonesia. Ki Hajar Dewantara dalam ajarannya : ing ngarso sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karso (ditengah memberi semangat), dan tut wuri handayani (dibelakang memberi dorongan) adalah bentuk nyata pribumisasi dalam bidang pendidikan. Implementasi lain dari pribumisasi ilmu sosial bahwa penelitian, pengembangan dan penemuan – penemuan teoma baru haruslah didasarkan pada : Pertama, asas dan sumber ada (eksistensi) kesemestaan adalah Tuhan Yang Maha Esa, artinya ontologi ketuhanan religius yang bersifat supranatural dan transendental, yang dihayati subyek budi nurani (keyakinan iman) yang suprarasional. Kedua, alam semesta (MakrokosmosUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 25
  26. 26. sebagai ada tidak terbatas. Ketiga, adanya subyek pribadi manusia, individu, nasional dan umat manusia. Keempat, eksistensi tata budaya sebagai perwujudan unggul. Kelima, subyek manusia Indonesia sendiri. Oleh karena itu, pemribumian ilmu sosial di Indonesia menempatkan realitas manusia dan masyarakat dipahami sebagai kenyataan yang plural, namun sekaligus ada kerinduan untuk memahaminya sebagai suatu kesatuan yang organis. Manusia Indonesia dalam kajian keilmuan sebagai usaha pengembangan teoma ilmu pengetahuan dipandang sebagai manusia monopluralis yang terdiri dari kodrat, sifat kodrat, dan kedudukan kodrat. Susunan sifat kodrat manusia terdiri atas unsur jiwa dan raga. Sifat kodrat manusia terdiri atas unsur manusia, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial, manusia sebagai pribadi sekaligus sebagai makhluk Tuhan. Itulah sebabnya implementasi pribumisasi ilmu – ilmu sosial harus bersumberkan pada martabat dan potensi manusia Indonesia sendiri dengan mengedepankan pandangan, filosofi dan kultur budaya serta setting ketimuran yakni Pancasila sebagai landasan idiilnya. Meski sayangnya belum banyak konsep dan teori seperti ini yang khas dengan realitas pribumi. Untuk ilmuwan - ilmuwan sosial perlu terus di dorong untuk aktif dan konsisten dalam upaya pribumisasi ilmu-ilmu sosial, sehingga akan lahir konsep dan teori yang bersumber dari realitas sosial masyarakat. b. Landasan Epistemologi Pribumisasi Ilmu Sosial Maksud dari landasan Epistemologi dalam kajian pribumisasi ilmu sosial di Indonesia adalah pembahasan mengenai hakikat ilmu pengetahuan khususnyaUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 26
  27. 27. hakekat ilmu sosial. Hal ini bermakna bahwa dasar – dasar pemikiran filosofis mengenai hakikat pengetahuan yang menjadi landasan pemikiran pribumisasi ilmu sosial. Problematik fundamental epistemologi, menurut Harold H. Titus dalam Heri Santoso (2003 : 74) ada 3 (tiga) yaitu 1). Apakah sumber – sumber pengetahuan itu ?, dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana mengetahuinya ? 2). Apakah sifat dasar pengetahuan itu ? Ini merupakan persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena), dan 3). Apakah pengetahuan yang benar itu (valid) ? Bagaimana cara membedakan yang benar dan salah ? Ini merupakan persoalan pengujian kebenaran atau verifikasi. The Liang Gie (Heri Santoso, 2003 : 74) berpendapat bahwa epistemologi merupakan penyelidikan filsafati terhadap pengetahuan, khususnya tentang kemungkinan, asal mula, validitas, batas, sifat dasar, dan aspek pengetahuan lain yang berkaitan. Sumber kajian ilmu terdiri atas 4 (empat) hal yaitu otoritas, empiris (pengalaman) rasio, intuisi dan wahyu. Problematika mendasar dalam metode epistemologi pribumisasi ini adalah metode apa yang yang digunakan oleh para pemikir ilmu sosial untuk mewujudkan hakikat ilmu sosial dengan sifat pribumi yang memiliki validitas kebenaran. Secara umum ada 2 (dua) metode ilmiah yaitu metode analitik sintesa dan metode nondeduksi. Metode analitik sintesa merupakan gabungan metode analisis dan sintesa. Metode nondeduksi merupakan penerapan secara bergantian antara metode induksi dan deduksi. Perkembangan ilmu dalam pandangan epistemologi bahwa ilmu itu lahir, tumbuh dan berkembang dalam sosio-historis, kultural dan geografis tertentu dengan memperhatikan metode yang digunakannya. Oleh karena itu,Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 27
  28. 28. pemikir indigenousasi ilmu sosial Indonesia harus bercirikan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. 1) Urgensi Pribumisasi Ilmu Sosial Sebagaimana disebutkan di atas bahwa landasan epistemologi adalah keinginan untuk mengetahui hakikat kebenaran suatu ilmu pengetahuan, maka dalam bahasan ini akan dikupas urgensinya dari pribumisasi ilmu – ilmu sosial. Sumber pengetahuan pribumisasi ilmu sosial di Indonesia adalah Pancasila dengan prinsip – prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yaitu pertama, keyakinan tentang keberadaan Tuhan. Tuhan dianggap sebagai Mahasumber pengetahuan, sementara manusia sebagai subyek tahu diberkati dengan martabat luhur yang tinggi seperti panca indra, akal, rasa, karsa, cipta dan budi nurani. Kedua, secara teoritis teknis sumber pengetahuan dibedakan secara kualitatif bertingkat antara lain : (1) Sumber Primer, yang tertinggi dan terluas, orisinal, lingkungan alamiah, semesta, sosio – budaya, sistem kenegaraan dan dinamikanya. (2). Sumber Sekunder, bidang ilmu yang sudah ada / berkembang, kepustakaan, dokumentasi dan (3) Sumber Tersier, cendekiawan, ilmuwan, ahli, nara sumber dan guru. Namun yang paling esensial adalah penerimaan wahyu sebagai sumber kebenaran. Paradigma epistomologi dalam pribumisasi ilmu sosial adalah rasionalisme yang berpijak pada landasan institusi spiritual, empirisme yang berpijak metaempirisme atau dunia ghoib, berpegang pada etika agamawi yang dapat dijabarkan dalambentuk ideologi dalam batas – batas konsensus sosial, sikap obyektif partisipatif, berpindah dari aspek holistik menuju aspek parsial disipliner, agama menjadi satu dengan sains, sains mulai dengan keyakinan agamawi, sains menegakkan verifikasi kebenaran agamawi, asas konsistensiUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 28
  29. 29. logika berpijak pada asas kemutlakan dan kemampuan sains terbatas karena pengenalan diri dalam arti spiritual tidak dapat dijangkau melalui metodologi sain tetapi dengan ritus agamawi (Heri Santoso, 2003 : 78) Pandangan KH Said Agil Siraj, mengatakan bahwa pribumisasi ilmu pengetahuan di Indonesia sudah saatnya dilakukan. Ilmu pengetahua yang diperoleh dari dari luar digali secara epistemologi, kemudian dilakukan pembaharuan bahkan penemuan baru. Langkah pribumisasi ilmu pengetahuan ini mesti dilanjutkan untuk menemukan teori – teori baru baik di bidang sosial, humaniora maupun eksak.Ini menunjukkan bahwa manusia dan bangsa Indonesia belum memiliki komitmen dan intensitas yang kuat untuk menjadikan Pancasila dan kebudayaan luhur Indonesia untuk dikembangkan dalam tataran pendidikan di semua jenjangnya. Komitmen ini penting sebagai salah satu usaha pribumisasi ilmu pengetahuan. Salah satu penyebab komitmen ini belum tampak adalah adanya ketidakpercayaan diri atau penyakit suka kalau segala sesuatunya dihubungkan dengan yang bersifat asing (xenofilia). Kita patut tergerak / tergelitik dengan ungkapan intelektual Korea, Koh Young Hun, yang mengatakan Korea saja bisa, Apalagi Indonesia. Ini mestinya mendorong semua komponen bangsa untuk berpartisipasi diri mewujudkan tegaknya ilmu pengetahuan yang berpijak pada unsur dan kearifan lokal yang multikultur ini menjadi tuan di negerinya sendiri.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 29
  30. 30. 2) Implementasinya Pribumisasi Ilmu Sosial Implementasinyabahwa hakikat pribumisasi ilmu sosial dalam kasanah Indonesia menempatkan Pancasila danBinneka Tunggal Ika sebagai inti sumber hakikat kebenarannya. Pengetahuan memiliki tingkatan – tingkatan yaitu pertama pengetahuan sehari – hari, kedua pengetahuan yang lebih tinggi yang disebut ras sejati, waskita, sumurup, pangesti, ngelmu, wiweka dan waspada, dan ketiga pengetahua mistis seperti sunyata, prajna, lerem, makrifat, sirno, llang. Ketiga pengetahuan tersebut saling berhubungan timbal balik. Pengetahuan sehari – hari cenderung bersifat klasifikasi dan totalisasi sehingga batas obyek yang diketahui diperluas. Pengetahuan yang mengatasi pertemuan antara subyek dan obyek lebih merupakan pengalaman hakikat, disertai makna dan partisipasi dalam nilai hakikat itu. Unsur kognitif tidak ditolak tetapi dibatasi oleh isyarat yang merupakan batu loncatan dalam pemahaman arti alam bagi jalan hidup. Pemahaman ini menghanguskan kegelapan jiwa dan mnyatukan manusia dengan alam raya. Tujuan pengetahuan bukan teoritis melainkan peningkatan keinsyafan kedudukan manusia dalam tata alam. Tata alam itu berdimensi luas dan berarah. Dimensi arah dari tata alam yang dihayati manusia memberi petunjuk untuk mengambil sikap dan karya sendiri sesuai dengan hakikat. Pengetahuan itu bersifat per definitionem inkomunikabel dan kesadaran diri tanpa obyek yang bila diungkapkan justru tampak paradoks, seperti “tapaking kuntul nglayang, kodok ngemuli elenge, gumeder swaraning sepi”. Cara menghadapi kenyataan tanpa dualitas subyek dan obyek ini merupakan aliran khusus dalam alam pikiran Indonesia. Oleh karenanya paradigma ilmu sosial pribumi menempatkan ilmu sosial – yang merupakanUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 30
  31. 31. bagian dari pengetahuan ilmiah – dalam jenjang tertentu yaitu di atas pengetahuan sehari – hari, namun di bawah filsafat, mistik dan pengetahuan religius. Ilmu sosial hanyalah salah satu diantara banyak jenis pengetahuan dan pengetahuan dalam wacana pemikiran pribumi hanyalah salah satu unsur kebudayaan. Dengan demikian ilmu sosial hendaknya dipahami dalam konteks kebudyaan secara utuh. Persoalan pribumisasi ini apakah tidak menyebabkan ilmu sosial menjadi partikulatif naif, karena sebenarnya sifat dasar ilmu adalah bersifat universal. Upaya pribumisasi akan menemukan keunikan dan kekhasan yang digarap oleh ilmu sosial. Jawaban atas pertanyaan ini adalah (1)) Metode ilmu sosial itu bersifat universal artinya ilmu sosial tidak tergantung pada apa, siapa, kapan, dan dimana dikembangkan. (2) klaim universalisme ilmu sosial itu bersifat naif, karena ilmu sosial tumbuh dan berkembang untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Universalitas tidak harus mengorbankan unsur keunikan suatu budaya. Ini berarti bahwa universalitas dan partikulatif bukanlah suatu yang harus dipsiahkan. Partikularitas ada dalam kenyataan, sementara universalitas ada dalam gagasan dan cita – cita. Kelahiran pemikiran pribumisasi atau ilmu sosial pribumi tidak akan mengurangi universalitas ilmu, tetapi justru universalitas itu ada karena ada partikularitas atau keunikan tersendiri. Ilmu sosial pribumi merupakan aktualitas dari aspek – aspek universalitas ilmu tanpa harus mengabaikan aspek – aspek keunikan suatu masyarakat dengan kekhasan budayanya.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 31
  32. 32. c. Landasan Aksiologi Pribumisasi Ilmu Sosial Aksiologis secara etimologis berasal dari kata axios yang berarti nilai, dan logos yang berarti ilmu. Jadi aksiologis dapat diartikan sebagai ilmu atau teori yang mempelajari hakikat nilai. Landasan aksiologis yang dimaksud adalah pandangan tentang nilai yang mendasari asumsi – asumsi ilmu sosial yaitu nilai obyektif dan subyektif, metode untuk memperoleh nilai dan wujud dari nilai itu sendiri. 1) Urgensinya Nilai yang ingin dibangun dalam pribumisasi ilmu sosial di Indonesia mesti diarahkan nilai yang merupakan hasil interaksi antara subyek dengan obyek yang keduanya tidak dipisahkan. Meskipun kita harus menyadari bahwa diluar terdapat dua arus besar metode dalam memperoleh nilai yaitu subyektivitas yakni subyeklah yang menentukan kulaitas nilai dan obyektivitas maksudnya nilai tergantung pada fakta yang obyektif dan tidak boleh dimanipulasi oleh subyek (Heri Santoso, 2003 : 85). Netralitas ilmu dalam kajian aksiologis menjadi persolan tersendiri dalam upaya mewujudkan pribumisasi. Anggapan bahwa ilmu sosial itu bebas nilai mengacu pada gejala yang ditunjukkan oleh ilmu alam dengan mengedepankan hukum – hukum alam yang obyektif terhindar dari campur tangan kepentingan manusia. Ilmu sosial hendaknya juga seperti itu, postulat – postulanya mesti dapat diterapkan oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja secara obyekif. Tetapi pandangan lain menegaskan bahwa ilmu pada dasarnya khususnya ilmu sosial, tidak mungkin dilepaskan dari nilai. Ilmu tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, yang mau tidak mau tentu terkait dengan nilai. Ilmu dengan demikian tidak bebas nilai. Bahkan pandangan ini lebih tegas menyatakan bahwa ilmu pada dasarnya dikembangkan atas kepentingan, ilmuUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 32
  33. 33. sosial dimaksudkan dibangun demi kepentingan kritis antisipatoris bukan demi kepentingan teknis. Terkait dengan urgensi pribumisasi ilmu sosial pada landasan aksiologis bahwa wujud nilai yang mesti menjadi acuan bagi pengembangan ilmu – ilmu sosial adalah berdasarkan pada unsur – unsur nilai budaya luhur Indonesia sendiri. Akan sangat naif apabila postulat yang dijadikan pegangan ilmiah diambilkan dari wujud nilai asing yang tidak selaras dengan kondisi riil di Indonesia. 2) Implementasinya Prinsip Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan pengakuan terhadap pluralitas, namun ada kerinduan menyatukan dalam pandangan komprehensif dan proporsional. Kerangka berfikir Bhinneka Tunggal Ika inilah yang dijadikan cara pandang untuk memecahkan berbagai problema aksioma yang ada dalam kehidupan dan pengembangan ilmu sosial di Indonesia. Contoh adalah pandangan paradigma ilmu sosial pribumi dalam menjawab problema nilai obyektif dan subyektif. Paradigma ilmu sosial pribumi memandang nilai obyektif dan subyektif diakui keberadaan dan kebenarannya, namun secara hakiki keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, merupakan pasangan bukan lawan atau berlaku hukum paritas antar keduanya. Nilai obyektif lebih tepat untuk memaknai fenomana faktual dan empirik, sementara nilai subyektif lebih tepat untuk memaknai pengalaman batin dan metaempirik. Kebhinnekaan terletak pada pengakuan andanya nilaiUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 33
  34. 34. obyektif dan subyektif. Keekaan terletak pada pemahaman bahwa keduanya merupakan pasangan yang tidak terpisahkan, keduanya saling menegasikan. Problema netralitas nilai dalam perspektif paradigma ilmu sosial pribumi bahwa ilmu sosial tidak mungkin dilepaskan dari nilai. Argumentasinya adalah ilmu sosial pertama tumbuh dan berkembang dalam satu kerangka budaya yang lekat dengan pertimbangan nilai. Fenomena kemasyarakatan dalam kajian ilmu sosial berbeda dengan fenomena fisik yang bersifat mekanik. Ilmuwan sosial tidak dapat steril dari nilai dalam melakukan aktivitas ilmiahnya. Oleh karenanya ilmu sosial harus membatasi muatan emosional dengan menekankan muatan rasional dalam memutuskan suatu masalah. Tujuan ilmu sosial adalah menjelaskan, meramalkan dan mengontrol fenomena sosial untuk tujuan kemaslahatan umat manusia. Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk diamalkan dan demi kesejahteraan manusia. Saatnya kini ilmuwan Indonesia untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri dan xenofilia untuk menuju Indonesia Emas. Indonesia yang dalam teori pembangunannya menuju pada pengembangan ilmu pengetahuan yang tidak ahistori, penyebabnya adalah mengembangkan pengetahuan yang berbasis sudut pandang masyarakat sendiri akan dapat mengembangkan teori – teori pembangunan yang mempunyai akar sejarah kuat dalam masyarakat. Selain itu proses indigenousasi juga akan membebaskan masyarakat dari penunggalan kebenaran, karena akan menjadikan proses pembangunan menjadi tidak seragam dan akan sesuai dengan kondisi lingkungan, politik, ekonomi dan masyarakat setempat. Pengembangan perspektif masyarakat asli dalam pembangunan juga akan membawa pembangunan yang dijalankan adalah pembangunan yang bebasUjian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 34
  35. 35. kontrol dan kendali kepentingan masyarakat Barat, karena pembangunan berbasis pada kepentingan masyarakat sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran – pemikiran dari intelektual organik yang mau dan berkomitmen untuk hidup dan mengembangkan pengetahuan yang ada dalam masyarakat berbasis kearifan lokal yang multikultural. Dalam hal ini kemudian penulis (Heri Santoso dan Listiyono Santoso) mengartikan pribumisasi dalam 3 makna Implisit gerakan priibumisasi,yaitu:Pertama,Pribumisasi merupakan sikap ketidakpuasan terhadap ilmu sosial Barat yang dikembangkan di suatu kawasan,karena dianggap tidak mampu menjelaskan dan memecahkan problem masyarakat yang timbul.Kedua,Pribumisasi merupakan metode alternatif terhadap ketidakpuasan ilmuwan atas dominasi ilmu sosial barat kepada ilmu sosial pribumi.Ketiga,Dari kedua uraian diatas dapat dipahami bahwa makna terdalam pribumisasi adalah pencarian identitas ilmu-ilmu sosial Indonesia di tengah-tengah komunitas ilmu sosial lain.Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 35
  36. 36. DAFTAR PUSTAKAMikhael Dua. (2011). Kebebasan Ilmu Pengetahua dan Teknologi. Yogyakarta : Penerbit KanisiusMuhammad Adib. (2011). Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Heri Santoso & Listyono Santoso (2003). Filsafat Ilmu Sosial. Yogyakarta : Gama MediaH.M. Rasjidi. (1984). Persoalan – Persoalan Filsafat. Jakarta : Bulan Bintang.http://paparisa.unpatti.ac.iddiakses pada 20 Agustus 2012Jujun Sumantri. (2005). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Nasiwan. (2012). Menuju Indigenousasi Ilmu Sosial Indonesia. Yogyakarta : Fistrans Institute.Purwadi. (2007). Filsafat Jawa dan kearifan lokal. Yogyakarta: Panji Pustaka.Surajiyo. (2007). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.Win Usuluddin Bernadien. (2011). Membuka Gerbang Filsafat. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Titus, H.Harold., Smith S.M., & Nolan, T.R. (1984). Living issues in philosophy . (Terjemahan H.M Rasjidi). Jakarta: Bulan Bintang (Buku asli diterbitkan tahun 1979).Ujian Semester – Filsafat Ilmu PPs UNY – PIPS 2012 Page 36

×