• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Hubungan antara ilmu dengan kebudayaan
 

Hubungan antara ilmu dengan kebudayaan

on

  • 1,771 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,771
Views on SlideShare
1,771
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
16
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Hubungan antara ilmu dengan kebudayaan Hubungan antara ilmu dengan kebudayaan Document Transcript

    • http://sondis.blogspot.com/2013/04/hubungan-antara-ilmu-dengan-kebudayaan.html Hubungan antara Ilmu dengan Kebudayaan Kebudayaan adalah hasil karya manusia, yang meliputi hasil akal, rasa, dan kehendak manusia. Oleh karena itu maka kebudayaan tidak pernah berhenti, terus berlangsung sepanjang jaman, merupakan suatu proses yang memerlukan waktu yang panjang untuk memenuhi keinginan manusia untuk lebih berkualiatas. Apabila kebudayaan adalah hasil karya manusia, maka ilmu sebagai hasil akal pikir manusia juga merupakan kebudayaan. Namun ilmu dapat dikatakan sebagai hasil akhir dalam perkembangan mental manusia dan dapat dianggap sebagai hasil yang paling optimal dalam kebudayaan manusia. Unsur kebudayaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bagian suatu kebudayaan yang dapat digunakan sebagai satuan analisis tertentu. Dengan adanya unsur tersebut, kebudayaan di sini lebih mengandung makna totalitas dari pada sekedar penjumlahan unsur-unsur yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu dikenal adanya unsurunsur yang universal yang melahirkan kebudayaan universal. Menurut C. Kluckhohn ada tujuh unsur dalam kebudayaan universal, yaitu sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencarian hidup, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, serta kesenian. (Widyosiswoyo, 1996). Ilmu adalah bagian dari pengetahuan.Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu, memerlukan suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai obyek formal dan obyek material. Karena pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan, maka ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendiriya juga merupakan salah satu unsur kebudayaan (Daruni, 1991). Selain ilmu merupakan unsur dari kebudayaan, antara ilmu dan kebudayaan ada hubungan pengaruh timbal-balik. Perkembangan ilmu tergantung pada perkembangan kebudayaan, sedangkan perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan sosial dan kebudayaan, saling tergantung dan saling mendukung. Pada beberapa kebudayaan, ilmu dapat berkembang dengan subur. Disini ilmu mempunyai peran ganda yakni: 1. 2. Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung pengembangan kebudayaan. Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak bangsa http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya Pengertian kebudayaan Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
    • Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lainlain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Komponen Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu : Kebudayaan material Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci. Kebudayaan nonmaterial Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional. Lembaga social Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier
    • Sistem kepercayaan Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi. Estetika Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut. Bahasa Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain. Bahasa Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem Kepercayaan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun
    • hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut: ... sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.[3] Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti "10 Firman" dalam agama Kristen atau "5 rukun Islam" dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga memengaruhi kesenian. Sistem ilmu dan pengetahuan Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error). Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi: pengetahuan tentang alam pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia pengetahuan tentang ruang dan waktu http://wayangoneone.blogspot.com/2012/12/filsafat-ilmu-ilmu-pengetahuandan.html Filsafat Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Budaya Ilmu (science) termasuk pengetahuan (knowledge). Yang dimaksud dengan ilmu ialah pengetahuan yang diperoleh dengan cara tertentu yang dinamakan metode ilmiah. Bidang yang ditelaah oleh ilmu itu tidak terbatas kepada obyek atau kejadian yang bersifat empiris. Artinya, obyek atau kejadian tersebut dapat ditangkap oleh panca indera manusia atau alat-alat pembantu panca indera. Bidang-bidang di luar jangkauan pengalaman manusia tidak termasuk dunia empiris, contohnya masalah tentang Tuhan, akhirat, surga dan neraka, dan sebagainya. Dengan demikian terkandung makna bahwa bidang ilmu itu terbatas (Tjokronegoro dan Sudarsono, 1999).
    • Pengertian pengetahuan lebih luas daripada ilmu. Pengetahuan adalah produk pemikiran. Berpikir merupakan suatu proses yang mengikuti jalan tertentu dan akhirnya menuju kepada suatu kesimpulan dan membuahkan suatu pendapat atau pengetahuan. Dengan menerapkan pengetahuan, manusia dapat meringankan kerja dan beban penderitaannya sehingga kesejahteraan data lebih baik (Tjokronegoro dan Sudarsono, 1999). Ilmu pengetahuan adalah suatu pengertian yang dinamis dan oleh karena itu sulit untuk didefinisikan. Hal definisi ini bergantung kepada lingkungan tempat manusia itu berada dan sejarahnya yang lampau (Tjokronegoro dan Sudarsono, 1999). Menurut Leonard Nash (dalam The Nature of Natural Sciences, 1963 cit. Soemitro, 1990), ilmu pengetahuan adalah suatu institusi sosial (social institution) dan juga merupakan prestasi perseorangan (individual achievement). Jacob (1993) memaparkan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu institusi kebudayaan, suatu kegiatan manusia untuk mengetahui tentang diri sendiri dan alam sekitarnya dengan tujuan untuk mengenal manusia sendiri, perubahan-perubahan yang dialami dan cara mencegahnya, mendorong atau mengarahkannya, serta mengenal lingkungan yang dekat dan jauh darinya, perubahan-perubahan lingkungan dan variasinya, untuk memanfaatkan, menghindari dan mengendalikannya. Istilah teknologi berasal dari perkataan Yunani technologia yang artinya pembahasan sistematik tentang seluruh seni dan kerajinan. Teknologi yaitu usaha manusia dalam mempergunakan segala bantuan fisik atau jasa-jasa yang dapat memperbesar produktivitas manusia melalui pemahaman yang lebih baik, adaptasi dan kontrol, terhadap lingkungannya. Teknologi merupakan penerapan. Oleh karena itu, teknologi berbeda dalam dimensi ruang dan waktu Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat. Dahulu Ratu Isabella (Italia) di abad XVI perlu waktu 5 bulan dengan sarana komunikasi tradisional untuk memperoleh kabar penemuan benua Amerika oleh Columbus. Tapi di sisi lain, tidak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya. Beberapa varian tanaman pangan hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian (Ahmed, 1999)
    • Di sinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk ditengok kembali. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin (Ahmed, 1999). Pola hubungan pertama adalah pola hubungan yang negatif, saling tolak. Apa yang dianggap benar oleh agama dianggap tidak benar oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula sebaliknya. Dalam pola hubungan seperti ini, pengembangan iptek akan menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran agama dan pendalaman agama dapat menjauhkan orang dari keyakinan akan kebenaran ilmu pengetahuan. Orang yang ingin menekuni ajaran agama akan cenderung untuk menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Pola hubungan pertama ini pernah terjadi di zaman Galileio-Galilei. Ketika Galileo berpendapat bahwa bumi mengitari matahari sedangkan gereja berpendapat bahwa matahari lah yang mengitari bumi, maka Galileo dipersalahkan dan dikalahkan. Ia dihukum karena dianggap menyesatkan masyarakat (Furchan, 2009). Pola hubungan ke dua adalah perkembangan dari pola hubungan pertama. Ketika kebenaran iptek yang bertentangan dengan kebenaran agama makin tidak dapat disangkal sementara keyakinan akan kebenaran agama masih kuat di hati, jalan satu-satunya adalah menerima kebenaran keduanya dengan anggapan bahwa masing-masing mempunyai wilayah kebenaran yang berbeda. Kebenaran agama dipisahkan sama sekali dari kebenaran ilmu pengetahuan. Konflik antara agama dan ilmu, apabila terjadi, akan diselesaikan dengan menganggapnya berada pada wilayah yang berbeda. Dalam pola hubungan seperti ini, pengembangan iptek tidak dikaitkan dengan penghayatan dan pengamalan agama seseorang karena keduanya berada pada wilayah yang berbeda. Baik secara individu maupun komunal, pengembangan yang satu tidak mempengaruhi pengembangan yang lain. Pola hubungan seperti ini dapat terjadi dalam masyarakat sekuler yang sudah terbiasa untuk memisahkan urusan agama dari urusan negara/masyarakat (Furchan, 2009). Pola ke tiga adalah pola hubungan netral. Dalam pola hubungan ini, kebenaran ajaran agama tidak bertentangan dengan kebenaran ilmu pengetahuan tetapi juga tidak saling mempengaruhi. Kendati ajaran agama tidak bertentangan dengan iptek, ajaran agama tidak dikaitkan dengan iptek sama sekali. Dalam masyarakat di mana pola hubungan seperti ini terjadi, penghayatan agama tidak mendorong orang untuk mengembangkan iptek dan pengembangan iptek tidak mendorong orang untuk mendalami dan menghayati ajaran agama. Keadaan seperti ini dapat terjadi dalam masyarakat sekuler. Karena masyarakatnya sudah terbiasa dengan pemisahan agama dan negara/masyarakat, maka. ketika agama bersinggungan dengan ilmu, persinggungan itu tidak banyak mempunyai dampak karena tampak terasa aneh apabila dikaitkan (Furchan, 2009). Pola hubungan yang ke empat adalah pola hubungan yang positif. Terjadinya pola hubungan seperti ini mensyaratkan tidak adanya pertentangan antara ajaran agama
    • dan ilmu pengetahuan serta kehidupan masyarakat yang tidak sekuler. Secara teori, pola hubungan ini dapat terjadi dalam tiga wujud: ajaran agama mendukung pengembangan iptek tapi pengembangan iptek tidak mendukung ajaran agama, pengembangan iptek mendukung ajaran agama tapi ajaran agama tidak mendukung pengembangan iptek, dan ajaran agama mendukung pengembangan iptek dan demikian pula sebaliknya (Furchan, 2009). GBHN 1993-1998 menyatakan tentang kaitan pengembangan iptek dan agama, bahwa pola hubungan yang diharapkan adalah pola hubungan ke tiga, pola hubungan netral. Ajaran agama dan iptek tidak bertentangan satu sama lain tetapi tidak saling mempengaruhi. Pada Bab II, G. 3. GBHN 1993-1998, yang telah dikutip di muka, dinyatakan bahwa pengembangan iptek hendaknya mengindahkan nilainilai agama dan budaya bangsa. Artinya, pengembangan iptek tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Tidak boleh bertentangan tidak berarti harus mendukung. Kesan hubungan netral antara agama dan iptek ini juga muncul apabila kita membaca GBHN dalam bidang pembangunan Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tak ada satu kalimat pun dalam pernyataan itu yang secara eksplisit menjelaskan bagaimana kaitan agama dengan iptek. Pengembangan agama tidak ada hubungannya dengan pengembangan iptek (Furchan, 2009). Akan tetapi, kalau kita baca GBHN itu secara implisit dalam kaitan antara pembangunan bidang agama dan bidang iptek, maka kita akan memperoleh kesan yang berbeda. Salah satu asas pembangunan nasional adalah Asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berarti “… bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional dijiwai, digerakkan, dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral,dan etik dalam rangka pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila” (Bab II, C. 1.) (Furchan, 2009). Di bagian lain dinyatakan bahwa pembangunan bidang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diarahkan, antara lain, untuk memperkuat landasan spiritual, moral, dan etik bagi pembangunan nasional. Dari sini dapat disimpulkan bahwa, secara implisit, bangsa Indonesia menghendaki agar agama dapat berperan sebagai jiwa, penggerak, dan pengendali ataupun sebagai landasan spiritual, moral, dan etik bagi pembangunan nasional, termasuk pembangunan bidang iptek tentunya. Dalam kaitannya dengan pengembangan iptek nasional, agama diharapkan dapat menjiwai, menggerakkan, dan mengendalikan pengembangan iptek nasional tersebut (Furchan, 2009). Hubungan Agama dan Pengembangan Iptek Dewasa Ini Pola hubungan antara agama dan iptek di Indonesia saat ini baru pada taraf tidak saling mengganggu. Pengembangan agama diharapkan tidak menghambat pengembangan iptek sedang pengembangan iptek diharapkan tidak mengganggu pengembangan kehidupan beragama. Konflik yang timbul antara keduanya diselesaikan dengan kebijaksanaan (Furchan, 2009). Dewasa ini iptek menempati posisi yang amat penting dalam pembangunan nasional jangka panjang ke dua di Indonesia ini. Penguasaan iptek bahkan dikaitkan dengan
    • keberhasilan pembangunan nasional. Namun, bangsa Indonesia juga menyadari bahwa pengembangan iptek, di samping membawa dampak positif, juga dapat membawa dampak negatif bagi nilai agama dan budaya yang sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang telah memilih untuk tidak menganut faham sekuler, agama mempunyai kedudukan yang penting juga dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itulah diharapkan agar pengembangan iptek di Indonesia tidak akan bertabrakan dengan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa (Furchan, 2009). Kendati pola hubungan yang diharapkan terjadi antara agama dan iptek secara eksplisit adalah pola hubungan netral yang saling tidak mengganggu, secara implisit diharapkan bahwa pengembangan iptek itu dijiwai, digerakkan, dan dikendalikan oleh nilai-nilai agama. Ini merupakan tugas yang tidak mudah karena, untuk itu, kita harus menguasai prinsip dan pola pikir keduanya (iptek dan agama) (Furchan, 2009). Tulisan ini saya jadikan referensi dari sumber KLIK yang saya jadikan slide presentasi mata kuliah Filsafat Ilmu dan Logika. Untuk menDOWNLOAD paper presentasinya dapat di unduh di sini Hermawan Prabowo ~Yang MudA Yang LuAr BiAsA~ Berikut tampilan slide-slide presentasi Hubungan antara Filsafat, IPTEK dan Budaya. Selamat membaca...
    • ------------------------------------Hubungan Antara Ilmu dengan Kebudayaan Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur darikebudayaan. Kebudayaan di sini merupakan seperangkat system nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yangmencerminkan aspirasi dan cita -cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Pengembangan kebudayaan nasional merupakan bagian dari
    • kehidupan suatu bangsa, baik disadari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit atau tidak.I l m u d a n k e b u d a y a a n b e r a d a d a l a m p o s i s i y a n g s a l i n g t e r g a n t u n g d a n s a l i n g mempengaruhi. Pada satu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung darikondisi kebudayaannya. Sedangkan di pihak lain, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan. Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur social dan tradisikebudayaan, kata Talcot Parsons, mereka saling mendukung satu sama lain: dalam beberapatipe masyarakat ilmu dapat berkembang dengan pesat, demikian pula sebaliknya, masyarakattersebut tak dapat berfungsi dengan wajartanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmudan penerapan.Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyai peranan ganda.Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangankebudayaan nasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa. Pada kenyataannya kedua fungsi ini terpadu satu sama laindan sukar dibedakan.P e n g k a j i a n p e n g e m b a n g a n k e b u d a y a a n n a s i o n a l k i t a t i d a k d a p a t d i l e p a s k a n d a r i pengembangan ilmu. Dalam kurun dewasa ini yang dikenal sebagai kurun ilmu dan teknologi,k e b u d a y a a n k i t a p u n t a k terlepas dari pengaruhnya, dan mau tidak mau harus i k u t memperhitungkan faktor ini. Sayangnya yang lebih dominan pengaruhnya terhadap kehidupankita adalah teknologinya yang merupakan produk dari kegiatan ilmiah. Sedang hakikatkeilmuan itu sendiri yang merupakan sumber nilai yang konstruktif bagi pengembangankebudayaan nasional pengaruhnya dapat dikatakan minimal sekali.Dalam pembentukan karakter bangsa, sekiranya bangsa Indonesia bertujuan menjadi bangsa yang modern, maka ketujuh sifat (kritis, rasional, logis, objektif, terbuka, menjunjungkebenaran pengabdian universal) akan konsisten sekali. Bangsa yang modern akan menghadapi berbagai permasalahan dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan, ilmu/teknologi, pendidikan, dll, yang membutuhkan cara pemecahan masalah secara kritis, rasional, logis,objektif dan terbuka. Sedangakan sifat menjunjung kebenaran dan pengabdian universal akanm e r u p a k a n f a k t o r y a n g p e n t i n g d a l a m p e m b i n a a n b a n g s a , d i m a n a s e s e o r a n g l e b i h menitikberatkan kebenaran untuk kepentingan nasional dibandingkan kepentingan golongan.Dalam hal ini ilmu dalam hakikatnya bersifat mempersatukan.Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan dari kebudayaanyang bersifat konvensional kea rah kebudayaan yang bersifat aspirasi dan tujuan nasional.D a l a m hal ini ilmu juga mengajari tentang keberanian moral untuk m e m p e r t a h a n k a n kebudayaan asli bangsa Indonesia. Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kebudayaan Ilmu, teknologi dan buda ya, ketigan ya merupakan hal yang b e r p e n g a r u h d a l a m kehidupan manusia. Penerapan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan technical know-how, tetapi selayaknya dan semestinya didukung oleh pengetahuan mengenai budaya yangcukup mengenai tempat di mana teknologi itu diterapkan, karena ilmu merupakan salah satukomponen atau unsur yang penting dalam kebudayaan. Penerapan teknologi tanpa pengetahuansocial-budaya dapat mempunyai dua akibat, kemungkinan satu, penerapan itu tidak berhasil.Kemungkinan lainnya, sekalipun penerapannya berhasil, akibat sampingan begitu tinggi, sehingga efek social yang muncul mungkin jauh lebih besar daripada manfaat yang dibawaoleh teknologi itu.Teknologi menjadi tempat dimana dipertaruhkan dua kepentingan ilmu pengetahuanyaitu unsur kebenaran pengetahuan dan manfaat pengetahuan. Hubungan diantara keduanya penuh dengan dilema sehingga menganggap bahwa pengembangan ilmu selalu harusdihubungkan kegunaannya, mungkin akan membuat perkembangan ilmu justru tidak produktif.Teknologi akan lebih berperan dalam membangun ‖unsur material‖ kebudayaan manusia.Bila pada milenium pertama manusia bergumul antara dua aktivitas yaitu merenung dan berpikir, setelah itu manusia terlibat dalam pergulatan
    • baru yaitu berpikir dan bertindak.Teknologi memiliki suatu potensi merubah kesadaran intelektual dan moral dari individumanusia. Teknologi berperan besar terhadap komponen kebudayaan lain maupun terhadap manusia secara individu. Pada tingkat tertentu teknologi mengkondisikan ‖kebudayaan baru‖.Contonya adalah teknologi komputer dengan jaringan internetnya telah mengkondisikanmanusia baik secara individu maupun sosial secara berbeda dengan manusia atau masyarakattanpa komputer.A d a p u n s e c a r a s k e m a t i s h u b u n g a n a n t a r a i l m u , t e k n o l o g i , d a n k e b u d a y a a n d a p a t disajikan sebagai berikut: I l m u T e k n o l o g kebudayaan teknologi ilmu budaya --------------------------------------------------http://www.bisosial.com/2012/11/teori-kebudayaan-realis.html Kebudayaan adalah kedua-duanya, yaitu sebuah konsep dan entitas empiris. Kebudayaan adalah konsep dimana ia bangunan dari Antropologi dan kebudayaan sebuah entitas empiris yang menunjukkan cara mengorganisir fenomena-fenomena. Beberapa antropolog mempertahankan bahwa kebudayaan merupakan konsep dan realita yang berbentuk konstruk, bukan sebagai satu entitas yang bisa diamati tapi nyata karena tidak berbeda dalam mengamatinya.
    • Menurut kaum realis terhadap pendidikan adalah dengan menanamkan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan tertentu yang dipilih kebudayaan maka sistem pendidikan akan melatih individu untuk merubah kebudayaannya. ---------------------------------------------http://azisaf.wordpress.com/2013/09/08/idealisme-dan-budaya-permisif/ Di dunia ini, barangkali tidak ada hal baik yang direspon dengan sempurna positif. Hal yang paling benar sekalipun, yang ditujukan untuk kemaslahatan umum, dan meski sudah dikuatkan dengan justifikasi yang bertanggungjawab, selalu menyisakan reaksi-reaksi negatif. Kanjeng Nabi Muhammad adalah figur paling teladan. Namun sejarah mencatat, reaksi penerima dakwah Nabi jauh dari kelemahlembutannya: mungkin tak terhitung bagaimana beliau dinista, dianiaya, dan dilukai oleh segenap musyrikin Quraisy, Thaif, dan YahudiMadinah. Maka benar jika Imam as-Syafii pernah mengatakan: ―Ridhan-nas ghayatun la tudrak,kerelaan semua manusia adalah hal yang mustahil tercapai.‖ Sehebat apapun dirimu, selalu ada celah untuk dikritik; dan memang tiada manusia yang sempurna. Sebaik apapun dirimu, seteguh apapun pendirianmu pada kebenaran yang kamu yakini, selalu ada suarasuara nyinyir—apalagi jika dirimu dirasa menyinggung harga dirinya. Suara-suara nyinyir itu pun beragam. Ia bisa mengambil bentuk menyerang pribadimu. Semisal dirimu hendak berupaya untuk menyampaikan nasehat baik, maka respon itu membalikkannya: ―Siapa kamu? Lihat dirimu! Ngaca!‖ Argumentasi pembalikan semacam ini memang kadang benar, namun kadang perlu juga direnungkan kembali. Ia benar untuk mengingatkan para pemberi nasehat agar tak jarkoni (iso ngajar, ora iso nglakoni). Namun, dalam beberap hal, pola argumentasi dengan menyerang pribadi semacam itu juga perlu direnungkan: ―Lha kalau nasehat mesti melihat siapa yang bicara, lantas adakah yang mampu mendatangkan orang sempurna untuk menjadi penceramah?‖ Maka sungguh konyol kiranya, jika demikian yang terjadi: budaya yang berkembang akan semakin permisif, serba boleh, sebab tak ada yang mau dan mampu memberi nasehat tentang kebaikan, karena memang tak ada yang sempurna! Pendapat yang saya yakini benar adalah: sesungguhnya kebaikan adalah kebaikan, terlepas dari mulut siapa ia muncul. Bukankah pepatah pernah bilang ―ambillah mutiara walau keluar dari mulut anjing?‖ Bukankah hadis Nabi juga berkata, ―al-hikmah dhallatul-mu`min, ainama wajadaha akhadzaha‖ (kebijaksanaan adalah ―barang hilang‖ orang beriman: di mana dan dari mana ia menemukannya, hendaklah ia mengambilnya)?
    • Saya akui, cara pandang semacam ini bukan hal yang mudah untuk dibiasakan. Mungkin sudah bawaan manusia bahwa, ego untuk merasa lebih berharga dibanding yang strata sosialnya lebih rendah cenderung menguasai pola pikir yang sehat. Saya sendiripun tidak jarang terkuasai oleh ego dan ambisi itu. Itu memang tantangan bagi setiap orang yang berusaha, meski sedikit, untuk menyebarkan kebaikan dan hal positif, meski dalam taraf yang kecil dan kerap diremehkan orang. Namun, idealisme semacam itu, sebagaimana saya katakan tadi, biarpun kecil, tetaplan penting untuk senantiasa ada, walau harus menghadapi para pe-nyinyir. Diantara suara nyinyir itu adalah dengan menyerang sikap idealisme itu sendiri. Ke-nyinyiran itu mengambil bentuk realisme, yakni berpegang pada kenyataan: bahwa apa yang kamu katakan sebagai salah itu sudah menjadi budaya, lazim, dan kaprah. Maka arogansinya: ―Mbok ya jadi orang yang biasa saja, nggak usah sok-idealis begitu!‖ Dalam komentar seperti ini, idealisme sudah menjadi barang langka dan ia dipandang dengan negatif. Ada juga yang lebih halus dalam berkomentar, meski dengan model yang sama: ―Idealisme itu boleh, nggak dosa, tapi mbok ya jangan kebablasan!‖ Oh, adakah itu yang disebut dengan idealisme yang kebablasan? Dalam pandangan saya, jika suatu idealisme hidup di tengah-tengah budaya permisif, maka idealisme akan cenderung dipandang negatif. Pola budaya permisif semacam ini, menurut saya, tidak boleh dilestarikan, atau malah dicarikan pembenaran. Di sinilah konsep amar makruf nahi munkar itu memiliki eksistensi penting. Mungkin ada yang mempersoalkan cara penyampaiannya, namun mempersoalkan cara tidak boleh diartikan menegasikan pentingnya amar makruf itu sendiri. Amar makruf adalah alat kontrol sosial. Coba bayangkan, jika seumpama Nabi dulu berdakwah, lalu orang Quraisy nyinyirdengan mengatakan, ―Wahai Muhammad, sudahlah, terima realita, nggak perlu sok-idealis begitu!‖ Atau bayangkan, ketika para cendekiawan sudah susah payah meracik konsep tentang etika, moralitas, dan akhlak, lalu ilmu itu dipakai untuk menebarkan kebaikan, tapi para penyokong permisifisme meresponnya dengan nyinyir, ―Aduh, itu cuma wacana dan teori!‖ Tentu saja kita tidak ingin sikap sinis kepada idealisme semacam itu mendominasi budaya pergaulan kita, bukan? Bagi saya, kalau kita tak mampu berbuat kebaikan, paling tidak kita tak usah memaki nasehat-nasehat baik itu. Kalau kita tak punya lilin, maka mbok ya jangan mematikan lilin itu, sebab kamu akan menambah gelap kamar kita http://anannur.wordpress.com/tag/idealisme-realisme/ FILSAFAT PENDIDIKAN ESSENSIALISME A. PENDAHULUAN Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan terapan
    • dari filsafat umum, maka salama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran. Pelompokkan filsafat pendidikan digolongkan dua kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan ―progresif‖ dan filsafat pendidikan ― Konservatif‖. Yang pertama didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau. Yang kedua didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme, dan sebagainya. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. B. PEMBAHASAN Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley (18741946), George Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831), Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell. Pandangan Ontologi Essentialisme 1. Sintesa ide idealisme dan realisme tentang hakikat realita berarti essensialisme mengakui adanya realita obyektif di samping pre-determinasi, supernatural dan transcendal. 2. Aliran ini dipengaruhi penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern baik Fisika maupun Biologi. Karena itu realita menurut analisa ilmiah dapat dihayati dan diterima oleh Essensialisme. Jadi, Semesta ini merupakan satu kesatuan yang mekanis, menurut hukum alam obyektif (Kausalitas). Manusia adalah bagian alam semesta dan terlihat, tunduk pada hukum alam. 3. Penapsiran Spiritual atas sejarah. Teori filsafat Heggel yang mensitesakan science dengan
    • religi dalam kosmologi, berarti sebagai interpretasi sepiritual atas sejarah perkembangan realita semesta. Hukum apakah yang mengatur tiap fase perubahan dan tiap peristiwa sejarah, perubahan-perubahan social, dijawab problem itu secara prinsip: ―Bahwa sejarah itu adalah pikiran Tuhan – pikiran yang di ekspresikan, dinamika abadi yang merubah dunia, yang mana ia secara sepiritual adalah realitas‖. 4. Faham Makrokosmos dan Mikrokosmos. Makrokosmos adalah keseluruhan alam semesta raya dalam suatu deign dan kesatuan menurut teori kosmologi. Mikrokosmos ialah bagian tunggal, suatu fakta yang terpisah dari keseluruhan itu, baik pada tingkat umum, pribadi manusia, ataupun lembaga. Pandangan Epistemologi Essentialisme Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi Essentialisme. Sebab, jika manusia mampu menyadari realita dirinya sebagai mikrokosmos dalam makrokosmo, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkat/kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestaan itu. Dari berdasarkan kualitas itulah dia memproduksi secara tepat pengetahuannya dalam bidang-bidang: Ilmu alam, Biologi, Sosial, Estetika, dan Agama. 1. Kontraversi jasmaniah-rohaniah Perbedaan Idealisme dengan realisme ialah karena yang pertama menganggap bahwa rohaniah adalah kunci kesadaran tentang realita. Manusia hanya mengetahu melalui ide atau rohaniah. Sebaliknya realis berpendapat bahwa kita hanya mengetahui sesuatu realita di dalam dan melalui jasmani 2. Pengetahuan a. Idealisme • Kita hanya mengerti rohani kita sendiri. Tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk mengerti realita yang lain (Personalisme) • Menurut Hegel: ―Substansi mental tercermin pada hukum logika (Mikrokosmos) dab hukum alam (Makrokosmos). Hukum dialegtika berfikir, berlaku pula hukum perkembangan sejarah dan kebudayaan manusia (Teori Dinamis). • Saya sebagai finite being (Makhluk terbatas) mengetahui hukum dan kebenaran universal sebagai realisasi resonasi jiwa saya dengan Tuhan. (Teori Absolutisme) b. Realisme Realisme dalam pengetahuan sangat dipengaruhi oleh Newton dengan ilmu pengetahuan alamnya, cara menafsirkan manusia dalam realisme adalah: • Teori Associationisme: Teori ini sangat dipengaruhi oleh filsafat empirisme John Locke, atau ide-ide dan isi jiwa adalah asosiasi unsure-unsur penginderaan dan pengamatan. Penganut teori ini juga menggunakan metode introspeksi yang dipakai oleh kaum idealis (T.H. Green) • Teori Behaviorisme: Aliran behaviorisme berkesimpulan bahwa perwujudan kehidupan mental tercermin pada tingkah laku. • Teori Connectionisme: Teori Connectionisme menyatakan semua makhluk hidup, termasuk manusia terbentuk tingkah lakunya oleh pola-pola connections between (Hubunganhubungan antara) stimulus (S) dan Respone (R). Pandangan Axiologi Essentialisme Pandangan ontologi dan epistemologinya amat mempengaruhi pandangan axiology ini. Bagi aliran ini, nilai-nilai, seperti juga kebenaran berakar dalam dan berasal dari sumber objektif. Watak sumber ini dari mana nilai-nilai berasal, tergantung pada pandangan-pandangan idealisme dan realisme, sebab Essentialisme terbina oleh kedua sayap tersebut. Teori Nilai
    • 1. Menurut Idealisme a. Idealisme: ―Menurut aliran ini bahwa hukum etika adalah kosmos, karena itu seseorang dikatakan baik hanya jika ia secara active berada di dalam dan melaksanakan hukum-hukum itu‖. b. Idealisme Modern: ―Idealisme lebih di ungkapkan oleh E. Kant: Bahwa manusia yang baik adalah manusia yang bermoral‖. c. Teori Sosial Idealisme: ―Disini E. Kant menekankan akan adanya rasa sosialis, kekluargaan, patriotisme, dan nasionalisme. Yang dimaksud E. Kant adalah adanya kemerdekaan individu agar bisa bersosialisasi dengan manusia lainnya. d. Teori Estetika: ―Bahwa yang disebut nilai adalah suatu keindahan‖ (E. Kant). 2. Menurut Realisme a. Etika Determinisme: ―Semua unsur semesta, termasuk manusia adalah satu kesatuan dalam satu rantai yang tak berakhir dan dalam kesatuan hukum kausalitas. Seseorang tergantung seluruhnya pada sebab-akibat kodrati itu dan yang menentukan keadaannya sekarang, baik ataupun buruk. b. Teori Sosial: Teori ini lebih menekankan kepada unsure ekonomi, social, politi dan Negara. Free man (Bertrand Russel). Dan lebih menekankan kepada kehidupan sekarang. c. Teori Estetika: Menurut paham ini bahwa keindahan itu tidak hanya sesuatu yang bagus, namun ada pula yang buruk. Prinsip dan karakteristik essensialisme Aliran filsafat essensialisme pertama kali muncul sebagai reaksi atas simbolisme mutlak dan dogmatisme abad pertengahan. Filsafat ini menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia. Esesensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan Progresisvisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Menurut Esesensialisme, nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsurangsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan di dalamnya telah teruji dalam gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip Essensialisme adalah : 1). Esensialisme berakar pada ungkapan realisme objektif dan idealisme objektif yang moderen, yaitu alam semesta diatur oleh hukum alam sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaannya. 2). Sasaran pendidikan adalah mengenalkan siswa pada karakter alam dan warisan budaya. Pendidikan harus dibangun atas nilai-nilaiyang kukuh, tetap dan stabil 3). Nilai (kebenaran bersifat korespondensi ).berhubungan antara gagasan dengan fakta secara objekjtif. 4). Bersifat konservatif (pelestarian budaya) dengan merefleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman renaissance. Ciri-ciri Filsafat Pendidikan Esesensialisme, yang disarikan oleh William C. Bagley adalah sebagai berikut : 1) Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam jiwa. 2) Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia. 3) Oleh karena kemampuan untuk mendisiplinkan diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.
    • 4) Esesensialisme menawarkan teori yang kokoh kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah. Apabila terdapat sebuah pertanyaan di masa lampau tentang jenis teori pendidikan yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat demokrasi di dunia, maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi pada hari ini. Pandangan Esensialisme di Bidang Pendidikan 1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar. Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia melalui indera merperlukan unsur apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, tidak berarti bahwa mereka itu sudah mempunyai bentuk, ruang dan ikatan waktu. Bentuk, ruang dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi kepada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah kepada budi. Budi membentuk, mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri. Pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas: 1. Determinisme mutlak, menunjukkan bahwa belajar adalah mengalami hal-hal yang tidak dapat dihalang-halangi adanya, jadi harus ada, yang bersama-sama membentuk dunia ini. Pengenalan ini perlu diikuti oleh penyesuaian supaya dapat tercipta suasana hidup yang harmonis. 2. Determinisme terbatas, memberikan gambaran kurangnya sifat pasif mengenai belajar. Bahwa meskipun pengenalan terhadap hal-hal yang kausatif di dunia ini berarti tidak dimungkinkan adanya penguasaan terhadap mereka, namun kemampuan akan pengawas yang diperlukan. Pada prinsipnya, proses belajar menurut Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses belajar sebagai proses absorbtion (menyerap) apa yang berasal dari luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara. 2. Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Kurikulum itu bersendikan alas fundamen tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamenfundamen yang telah ditentukan. Menurut Essensialisme: ―Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan pengetahuan, kecakapan- kacakapan dan sikap yang berlaku di dalam kebudayaaan yang demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak‖. 3. Peranan Sekolah menurut Essensialisme Sekolah berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan membina kemampuan penyesuaian diri
    • individu kepada masyarakatnya dengan menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu pengetahuan. 4. Penilaian Kebudayaan menurut Essensialisme Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembagalembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan. 5. Teori Pendidikan a. Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adalah berharga untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan. Keterampilan-keterampilan, sikap-sikap, dan nilai-nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari sebuah pendidikan. Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan. b. Metode Pendidikan 1) Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered). 2) Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka haru dipaksa belajar. Oleh karena itu pedagogi yang bersifat lemah-lembut harus dijauhi, dan memusatkan diri pada penggunaan metode-metode tradisional yang tepat. 3) Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas; dan penguasan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca. c. Kurikulum 1) Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran akademik yang pokok. 2) Kurikulum Sekolah Dasar ditekankan pada pengembangan keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan matematika. 3) Kurikulum Sekolah Menengah menekankan pada perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, humaniora, serta bahasa dan sastra. Penguasaan terhadap matamata pelajaran tersebut dipandang sebagai suatu dasar utama bagi pendidikan umum yang diperlukan untuk dapat hidup sempurna. Studi yang ketat tentang disiplin tersebut akan dapat mengembangkan kesadaran pelajar, dan pada saat yang sama membuat mereka menyadari dunia fisik yang mengitari mereka. Penguasaan fakta dan konsep-konsep pokok dan disiplindisiplin yang inti adalah wajib. d. Pelajar Siswa adalah makhluk rasional dalam kekuasaan fakta dan keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berpikir. Sekolah bertanggungjawab atas pemberian pelajaran yang logis atau dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa. e. Pengajar 1) Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas. 2) Guru berperanan sebagai sebuah contoh dalam pengawalan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan-gagasan. C. KESIMPULAN Esesensialisme merupakan gerakan pendidikan yang bertumpu pada mazhab filsafat idealisme dan realisme. Meskipun kaum Idealisme dan kaum Realis berbeda pandangan filsafatnya, mereka sepaham bahwa: a. Hakikat yang mereka anut memberi makna pendidikan bahwa anak harus menggunakan
    • kebebasannya, dan ia memerlukan disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya sebelum dia sendiri dapat mendisiplinkan dirinya; dan b. Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya mengandung makna pendidikan bahwa generasi muda perlu belajar untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya dan kesejahteraan sosial. Bagi aliran ini ―Education as Cultural Conservation‖, pendidikan sebagai pemelihara kebudayaan. Karena dalil ini maka aliran Essentialisme dianggap para ahli sebagai ―Conservative road to culture‖, yakni aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Essentialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan demikian, ialah essensia yang mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia. Kebudayaan sumber itu tersimpul dalam ajaran para filosof ahli pengetahuan yang agung, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka bersifat kekal, monumental. Essensialisme merupakan paduan ide-ide filsafat Idealisme dan Realisme. Praktek filsafat pendidikan essensialisme dengan demikian menjadi lebih kaya dibandingkan jika ia hanya mengambil posisi sepihak dari salah satu aliran yang ia sintesiskan. Sintesa idealisme dan realisme tentang hakikat realita berarti essensisalime mengakui adanya realita obyaktif di samping pre-determinasi, supernatural, dan transcendal. Tidak semua idealis dan realis dapat digolongkan essensialis dalam prinsip pendidikan. Namun essensialis merupakan pemahaman yang bersumber dari pendekatan idealis dan realis atau kombinasi kedua aliran itu. Pada prinsipnya, proses belajar menurut Essensialisme adalah melatih daya jiwa potensial yang sudah ada dan proses belajar sebagai proses absorbtion (menyerap) apa yang berasal dari luar. Yaitu warisan-warisan sosial yang disusun dalam kurikulum tradisional, dan guru berfungsi sebagai perantara. Menurut Essensialisme: ―Kurikulum yang kaya, yang berurutan dan sistematis yang didasarkan pada target yang tidak dapat dikurangi sebagai suatu kesatuan pengetahuan, kecakapan-kacakapan dan sikap yang berlaku di dalam kebudayaaan yang demokratis. Kurikulum dibuat memang sudah didasarkan pada urgensi yang ada di dalam kebudayaan tempat hidup si anak‖. Peranan Sekolah berfungsi sebagai pendidik warganegara supaya hidup sesuai dengan prinsip-prinsip dan lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakatnya serta membina kembali tipe dan mengoperkan kebudayaan, warisan sosial, dan membina kemampuan penyesuaian diri individu kepada masyarakatnya dengan menanamkan pengertian tentang fakta-fakta, kecakapan-kecakapan dan ilmu pengetahuan. Kebudayaan menurut Essensialisme sebagai teori pendidikan dan kebudayaan melihat kenyataan bahwa lembaga-lembaga dan praktik-praktik kebudayaan modern telah gagal dalam banyak hal untuk memenuhi harapan zaman modern. Maka untuk menyelamatkan manusia dan kebudayaannya, harus diusahakan melalui pendidikan. Pendidikan menurut Essensialisme adalah membantu peserta didik berpikir rasional, tidak terlalu berakar pada masa lalu, memperhatikan hal-hal yang kontemporer, memuatkan keunggulan, bukan kecukupan pemilikan nilai-nilai tradisional. Teori ini mementingkan mata pelajaran dari pada proses. Banyak aliran aliran filsafat pendidikan, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan, oleh karena itu dalam praktek pengembangan kurikulum penetapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara efektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. DAFTAR PUSTAKA
    • Allan C. Ornstein and Daniel U. Levine, 1989, Foundation of Education, Boston : Houghton Mifflin Company Jumali, M.dkk, 2004, Landasan Pendidikan, Surakarta : Muhammadiyah University Press http://moefdhil.wordpress.com/2008/06/19/aliran-aliran-dalam-filsafat-pendidikan, diakses pada tanggal 28 bulan Mei 2010 http://www.mupeng.com/threads/16434-Filsafat-Aliran-Essensialisme, diakses pada tanggal 2 bulan Juni 2010 http://fadliyanur.blogspot.com/2008/05/aliran-esensialisme.html, diakses pada tanggal 2 bulan Juni 2010 http://pokjawasdepagblora.wordpress.com/2009/01/07/filsafat-idealisme-dan-realisme/ Teori Tentang Belajar Filsafat Idealisme dan Realisme Januari 7, 2009 oleh kadiupi A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah FILSAFAT dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”. Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup iku menentukan arah dan tujuan proses pendidikan. Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya. Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.
    • Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuksikaphidupnya. http://www.mail-archive.com/mayapadaprana@yahoogroups.com(1/1/09) Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangpribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat. Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran filsafat. Aliran-aliran utama filsafat adalah sebagai berikut : Aliran Materialisme,yang mengajarkan bahwa hakikat realitas kesemestaan, termasuk makhluk hidup dan manusia, ialah materi, Aliran Idealisme/Spritualisme, yang mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia dan Aliran Realisme, yang menggambarkan bahwa ajaran materialis dan idealisme yang bertentangn itu, tidak sesuai dengan kanyataan. Sesungguhnya, realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah benda ( materi ) semata – mata. Realitas adalah perpaduan benda materi dan jasmaniah dengan yang nonmateri ( spiritual, jiwa, dan rohani ).Makalah ini akan membahas masalah ide dan realitas yang merupakan bagian dari aliran-aliran filsafat untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Administrasi Pendidikan. 2. Masalah Apa itu ide dan Realitas, mengapa dipelajari . 3. Sitematika uraian :
    • a. Pengertian Idealisme, materialisme dan realisme. b. Pembahasan ketiga aliran filsafat tersebut. c. Pentingnya mempelajari ketiga aliran filsat itu. B. ISI PEMBAHASAN 1. Pengertian Idealisme, materialisme dan realisme. Aliran Idealisme/Spritualisme, yang mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia yang menentukan hidup dan pengertian manusia. Idealisme: adalah aliran filsafat yg menekankan „idea" (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu yg dilakukan oleh manusia tidaklah selalu harus berkaitan dgn hal2 yg bersifat lahiriah, tetapi harus berdasarkan prinsip kehorhanian (idea). Oleh sebab itu, Idealiseme sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan. 1. Aliran Materialisme,yang mengajarkan bahwa hakikat realitas kesemestaan, termasuk makhluk hidup dan manusia, ialah materi. 3. Aliran Realisme, yang menggambarkan bahwa ajaran materialis dan idealisme yang bertentangn itu, tidak sesuai debngan kanyataan. Sesungguhnya, realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah benda ( materi ) semata – mata. Realitas adalah perpaduan benda ( materi dan jasmaniah ) dengan yang nonmateri ( spiritual, jiwa, dan archive.com/mayapadaprana@yahoogroups.com/ ( 1 Januari 2009 ) b. Pembahasan ketiga aliran filsafat tersebut. 1. Aliran Filsafat Idealisme rohani)http://www.mail-
    • Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea. Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi. Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari. Kadangkala dunia idea adalah pekerjaan norahi yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita yang arealnya merupakan lapangan metafisis di luar alam yang nyata. Menurut Berguseon, rohani merupakan sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang lebih jauh jangkauannya, yaitu intuisi dengan melihat kenyataan bukan sebagai materi yang beku maupun dunia luar yang tak dapat dikenal, melainkan dunia daya hidup yang kreatif (Peursen, 1978:36).
    • Aliran idealisme kenyataannya sangat identik dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang demikian seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna (idea), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki. Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan. Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan secara alami pikiran yang keadaannya secara metafisis yang baru berupa gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi gerakan tersebut untuk menemukan hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil adaptasi individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, adanya hubungan rohani yang akhirnya membentuk kebudayaan dan peradaban baru (Bakry, 1992:56). Maka apabila kita menganalisa pelbagai macam pendapat tentang isi aliran idealisme, yang pada dasarnya membicarakan tentang alam pikiran rohani yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita, di mana manusia berpikir bahwa sumber pengetahuan terletak pada kenyataan rohani sehingga kepuasaan hanya bisa dicapai dan dirasakan dengan memiliki nilai-nilai kerohanian yang dalam idealisme disebut dengan idea. Memang para filosof ideal memulai sistematika berpikir mereka dengan pandangan yang fundamental bahwa realitas yang tertinggi adalah alam pikiran (Ali, 1991:63). Sehingga, rohani dan sukma merupakan tumpuan bagi pelaksanaan dari paham ini. Karena itu alam nyata tidak mutlak bagi aliran idealisme. Namun pada porsinya, para filosof idealisme mengetengahkan berbagai macam pandangan tentang hakikat alam yang sebenarnya adalah idea. Idea ini digali dari bentukbentuk di luar benda yang nyata sehingga yang kelihatan apa di balik nyata dan usaha-usaha yang dilakukan pada dasarnya adalah untuk mengenal alam raya. Walaupun katakanlah idealisme dipandang lebih luas dari aliran yang lain karena pada prinsipnya aliran ini dapat menjangkau hal-
    • ihwal yang sangat pelik yang kadang-kadang tidak mungkin dapat atau diubah oleh materi, Sebagaimana Phidom mengetengahkan, dua prinsip pengenalan dengan memungkinkan alat-alat inderawi yang difungsikan di sini adalah jiwa atau sukma. Dengan demikian, dunia pun terbagi dua yaitu dunia nyata dengan dunia tidak nyata, dunia kelihatan (boraton genos) dan dunia yang tidak kelihatan (cosmos neotos). Bagian ini menjadi sasaran studi bagi aliran filsafat idealisme (Van der Viej, 2988:19). Plato dalam mencari jalan melalui teori aplikasi di mana pengenalan terhadap idea bisa diterapkan pada alam nyata seperti yang ada di hadapan manusia. Sedangkan pengenalan alam nyata belum tentu bisa mengetahui apa di balik alam nyata. Memang kenyataannya sukar membatasi unsur-unsur yang ada dalam ajaran idealisme khususnya dengan Plato. Ini disebabkan aliran Platonisme ini bersifat lebih banyak membahas tentang hakikat sesuatu daripada menampilkannya dan mencari dalil dan keterangan hakikat itu sendiri. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu bersifat dinamis dan tetap berlanjut tanpa akhir. Tetapi betapa pun adanya buah pikiran Plato itu maka ahli sejarah filsafat tetap memberikan tempat terhormat bagi sebagian pendapat dan buah pikirannya yang pokok dan utama. Antara lain Betran Russel berkata: Adapun buah pikiran penting yang dibicarakan oleh filsafat Plato adalah: kota utama yang merupakan idea yang belum pernah dikenal dan dikemukakan orang sebelumnya. Yang kedua, pendapatnya tentang idea yang merupakan buah pikiran utama yang mencoba memecahkan persoalan-persoalan menyeluruh persoalan itu yang sampai sekarang belum terpecahkan. Yang ketiga, pembahasan dan dalil yang dikemukakannya tentang keabadian. Yang keempat, buah pikiran tentang alam/cosmos, yang kelima, pandangannya tentang ilmu pengetahuan (Ali, 1990:28). 2. Aliran Filsafat Materialisme Masalah fundamental yang besar dari semua filsafat, teristimewa dari filsafat yang akhir-akhir ini, ialah masalah mengenai hubungan antara pikiran dengan keadaan. Sejak zaman purbakala, ketika manusia, yang masih sama sekali tidak tahu tentang susunan tubuh mereka sendiri, di bawah rangsang khayal-khayal impian [2-1] mulai percaya bahwa pikiran dan perasaan mereka bukanlah aktivitas-aktivitas tubuh mereka, tetapi, aktivitas-aktivitas suatu nyawa yang tersendiri yang mendiami tubuhnya dan meninggalkan tubuh itu ketika mati – sejak waktu itu manusia didorong untuk memikirkan tentang hubungan antara nyawa dengan dunia luar. Jika pada waktu seseorang meninggal dunia nyawa itu meninggalkan
    • tubuh dan hidup terus, maka tidak ada alasan untuk mereka-reka kematian lain yang tersendiri baginya. Maka itu timbul ide tentang kekekal-abadian, yang pada tingkat. perkembangan waktu itu sama sekali tidak nampak sebagai penghibur tetapi sebagai takdir yang terhadapnya tiada berguna mengadakan perlawanan, dan sering sekali, seperti dikalangan orang-orang Yunani, sebagai malapetaka yang sesungguhnya. Bukannya hasrat keagamaan akan suatu penghibur, tetapi kebingungan yang timbul dari ketidaktahuan umum yang lazim tentang apa yang harus diperbuat dengan nyawa itu, sekali adanya nyawa itu diakui, sesudah tubuh mati, menuju secara umum kepada paham tentang kekekal-abadian perorangan. Dengan cara yang persis sama, lahirlah dewa-dewa pertama, lewat personifikasi kekuatan-kekuatan alam. Dan dalam perkembangan agama-agama selanjutnya dewa-dewa itu makin lama makin mengambil bentuk-bentuk diluar-keduniawian, sehingga akhirnya lewat proses abstraksi saja hampir bisa mengatakan proses penyulingan, yang terjadi secara wajar dalam proses perkembangan intelek manusia, dari dewa-dewa yang banyak jumlahnya itu, yang banyak sedikitnya terbatas dan saling-membatasi, muncul di dalam pikiran-pikiran manusia ide tentang satu tuhan yang eksklusif dari agama-agama monoteis. Jadi masalah hubungan antara pikiran dengan keadaan, hubungan antara jiwa dengan alam – masalah yang terpenting dari seluruh filsafat – mempunyai, tidak kurang daripada semua agama, akar-akarnya di dalam paham-paham kebiadaban yang berpikiran-sempit dan tiada berpengetahuan. Tetapi masalah itu untuk pertama kalinya dapat diajukan dengan seluruh ketajamannya, dapat mencapai arti pentingnya yang sepenuhnya, hanya setelah umat manusia di Eropa bangun dari kenyenyakan tidur yang lama dalam Zaman Tengah Nasrani. Masalah kedudukan pikiran dalam hubungan dengan keadaan, suatu masalah yang, sepintas lalu, telah memainkan peranan besar juga dalam skolastisisme Zaman Tengah, masalah: yang mana yang primer, jiwa atau alam – masalah itu, dalam hubungan dengan gereja, dipertajam menjadi : Apakah Tuhan menciptakan dunia ataukah dunia sudah ada sejak dulu dan akan tetap ada di kemudian hari? Jawaban-jawaban yang diberikan oleh para ahli filsafat ke masalah ini membagi mereka ke dalam dua kubu besar. Mereka yang menegaskan bahwa jiwa ada yang primer jika dibandingkan dengan alam, dan karenanya, akhirnya, menganggap adanya penciptaan dunia dalam satu atau lain bentuk – dan di kalangan para ahli filsafat, Hegel, misalnya, penciptaan ini sering menjadi lebih rumit dan mustahil daripada dalam agama Nasrani – merupakan kubu
    • idealisme. Yang lain, yang menganggap alam sebagai yang primer, tergolong ke dalam berbagai mazhab materialisme. Dua pernyataan ini, idealisme,dan materialisme, mula-mula tidak mempunyai arti lain daripada itu; dan disinipun kedua pernyataan itu tidak digunakan dalam arti lain apapun. Kekacauan apa yang timbul bila sesuatu arti lain diberikan kepada kedua pernyataan itu akan kita lihat di bawah ini. Tetapi masalah hubungan antara pikiran dengan keadaan mempunyai segi lain lagi – bagaimana hubungan pikiran kita tentang dunia di sekitar kita dengan dunia itu sendiri ? Dapatkah pikiran kita mengenal dunia yang sebenarnya? Dapatkah kita menghasilkan pencerminan tepat dari realitas di dalam ide-ide dan pengertian-pengertian kita tentang dunia yang sebenarnya itu? Dalam bahasa filsafat masalah ini dinamakan masalah identitas pikiran dengan keadaan, dan jumlah yang sangat besar dari para ahli filsafat memberikan jawaban yang mengiyakan atas pertanyaan ini. Hegel, misalnya, pengiyaanya sudah jelas dengan sendirinya; sebab apa yang kita kenal di dalam dunia nyata adalah justru isi-pikirannya – yang menjadikan dunia berangsur-angsur suatu realisasi dari ide absolut yang sudah ada di sesuatu tempat sejak dahulukala, lepas dari dunia dan sebelum dunia. Tetapi adalah jelas, tanpa bukti lebih lanjut, bahwa pikiran dapat mengetahui isi yang sejak semula adalah isipikiran. Adalah sama jelasnya bahwa apa yang harus dibuktikan disini sudah dengan sendirinya terkandung di dalam premis-premisnya. Tetapi hal itu sekali-kali tidak merintangi Hegel menarik kesimpulan lebih lanjut dari pembuktiannya tentang identitas pikiran dengan keadaan yaitu bahwa filsafatnya, karena tepat bagi pemikirannya, adalah satu-satunya yang tepat, dan bahwa identitas pikiran dengan keadaan mesti membuktikan keabsahannya dengan jalan umat manusia segera menerjemahkan filsafatnya dari teori ke dalam praktek dan mengubah seleruh dunia sesuai dengan prinsip-prinsip Hegel. Ini adalah suatu khayalan yang sama-sama terdapat pada Hegel dan pada hampir semua ahli filsafat. Di samping itu masih ada segolongan ahli filsafat lainnya – mereka yang meragukan kemungkinan pengenalan apapun, atau sekurang-kurangnya pengenalan yang selengkaplengkapnya, tentang dunia. Di dalam golongan ini, diantara para ahli filsafat yang lebih modern, termasuk Hume dan Kant, dan mereka telah memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan filsafat. Apa yang menentukan dalam menyangkal pandangan ini sudah dikatakan oleh Hegel, sejauh ini mungkin dari pendirian idealis. Tambahantambahan materialis yang diajukan oleh Feuerbach, adalah lebih bersifat cerdik daripada
    • mendalam. Penyangkalan yang paling kena terhadap pikiran aneh ini seperti terhadap semua pikiran filsafat yang aneh lainnya ialah praktek, yaitu eksperimen dan industri. Jika kita dapat membuktikan ketepatan konsepsi kita tentang suatu proses alam dengan membikinnya sendiri, dengan menciptakannya dari syarat-syaratnya dan malahan membuatnya berguna untuk maksud-maksud kita sendiri, maka berakhirlah sudah ―konsepsi‖ Kant yang tak terpahami itu tentang ―benda-dalam-dirinya‖ Zat-zat kimia yang dihasilkan di dalam tumbuhtumbuhan dan di dalam tubuh binatang tetap merupakan ―benda-dalam-dirinya‖ itu sampai ilmu kimia organik mulai menghasilkan zat-zat itu satu per satu; sesudah itu ―benda-dalamdirinya‖ menjadi benda untuk kita, seperti, misalnya, alizarin, zat warna dari tumbuhtumbuhan Rubiantinetorum, yang kita tidak susah-susah lagi menghasilkannya di dalam akarakar tumbuh-tumbuhan itu di ladang, tetapi membuatnya jauh lebih murah dan sederhana dari tir batubara. Selama 300 tahun sistim tata surya Copernikus merupakan hipotesa dengan kemungkinan benarnya seratus, seribu atau sepuluh ribu lawan satu, meskipun masih tetap suatu hipotesa. Tetapi ketika Leverrier, dengan bahan-bahan yang diberikan oleh sistim itu, bukan hanya menarik kesimpulan tentang keharusan adanya suatu planet yang tidak diketahui, tetapi juga menghitung kedudukan yang mesti ditempati oleh planet itu di langit, dean ketika Gallilei benar-benar menemukan planet itu, [2-2] maka terbuktilah kebenaran sistim Copernikus itu. Jika, sekalipuni demikian, kaum Kantian Baru sedang mencoba menghidupkan kembali paham Kant di Jerman dan kaum agnostik menghidupkan kembali paham Hume di Inggris (dimana paham itu sesungguhnya belum pernah lenyap), maka, mengingat bahwa secara teori dan praktek bantahan terhadap paham-paham itu sudah lama dicapai, hal ini secara ilmiah merupakan kemunduran dan secara praktis hanya merupakan cara kemalu-maluan dalam menerima materialisme dengan diam-dima, sambil mengingkarinya di depan dunia. Tetapi selama periode yang Panjang ini, yaitu sejak Descartes sampai Hegel dan sejak Hobbes sampai Feuerbach, para ahli filsafat sekali-kali tidak didorong, seperti yang mereka pikirkan, oleh kekuatan akal murni semata. Sebaliknya, yang betul-betul sangat mendorong mereka maju ialah kemajuan yang perkasa dan semakin cepat dari ilmu-ilmu alam dan industri. Di kalangan kaum materialis hal ini terang-benderang terlihat dipermukaan, tetapi sistim-sistim idealis juga semakin banyak mengisi diri dengan isi materialis dan mencoba secara panteis mendamaikan pertentangan antara pikiran dengan materi. Jadi, akhirnya, mengenai metode dan isi sistim Hegelian hanyalah mewakili materialisme yang dijungkirbalikkan secara idealis.
    • Jalan evolusi Feuerbach ialah jalan evolusi seorang Hegelian – memang, tidak pernah seorang ortodoks Hegelian yang sempurna – menjadi seorang materialis; suatu evolusi yang pada tingkat tertentu mengharuskan adanya pemutusan hubungan seluruhnya dengan sistim idealis dari pendahulunya. Dengan kekuatan yang tak tertahan, Feuerbach akhirnya didorong menginsafi, bahwa adanya ―ide absolut‖ pra-dunia dari Hegel, ―adanya terlebih dulu kategori2 logis‖ sebelum dunia ada, adalah tidak lain daripada sisa2 khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar-dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasa dengan panca indera, yang kita sendiri termasuk di dalamnya, adalah satu2nya realitas; dan bahwa kesadaran serta pemikiran kita, betapa diatas-panca-inderapun nampaknya, adalah hasil organ tubuh yang materiil, yaitu otak. Materi bukanlah hasil jiwa, tetapi jiwa itu sendiri hanyalah hasil tertinggi dari materi. Ini sudah tentu adalah materialisme semurni-murninya. Tetapi setelah sampai sedemikian jauh, Feuerbach tiba2 berhenti. Dia tidak dapat mengatasi purbasangka filsafat yang lazim, purbasangka bukan terhadap barangnya tetapi terhadap nama materialisme. Dia berkata: ―Bagi saya materialisme adalah dasar dari bangunan hakekat dan pengetahuan manusia; tetapi bagi saya materialisme bukanlah seperti bagi ahli fisiologi, seperti bagi sarjana ilmu2 alam dalam arti yang lebih sempit, misalnya, bagi Moleskhott, dan memang suatu keharusan menurut pendirian dan pekerjaan mereka, yaitu bangunan itu sendiri. Ke belakang saya setuju sepenuhnya dengan kaum materialis; tetapi ke depan tidak.‖ Disini Feuerbach mencampurbaurkan materialisme yang merupakan pandangan-dunia umum yang bersandar pada pengertian tertentu tentang hubungan antara materi dengan pikiran. dengan bentuk khusus dalam mana pandangan-dunia ini dinyatakan pada tingkat sejarah tertentu, yaitu dalam abad ke-18. Lebih daripada itu, dia mencampurbaurkannya dengan bentuk yang dangkal, yang divulgarkan, dalam mana materialisme abad ke-18 hidup terus hingga hari ini di dalam kepala2 para ahli ilmu2 alam dan fisika, bentuk yang dikhotbahkan oleh Bükhner, Vogt dan Moleskhott pada tahun limapuluhan dalam perjalanan keliling mereka. Tetapi. sebagaimana idealisme mengalami sederet tingkat2 perkembangan, begitu juga materialisme. Dengan setiap penemuan yang membuat zaman, sekalipun di bidang ilmu2 alam, materialisme harus mengubah bentuknya, dan setelah sejarah juga dikenakan perlakuan materialis, maka disinipun terbuka jalan raya perkembangan yang baru. Materialisme abad yang lampau adalah terutama mekanis, sebab pada waktu itu, di antara semua ilmu2 alam hanya ilmu mekanika, dan memang hanya ilmu mekanika benda2 padat – langit dan bumi – pendek kata, ilmu mekanika gravitasi telah mencapai titik akhir
    • tertentu. Ilmu kimia pada waktu itu baru berada dalam masa kanak2nya, dalam bentuk phlogistis. [2-3] Biologi masih berlampin; organisme2 tumbuh2an dan hewan baru saja diperiksa secara kasar dan dijelaskan sebagai akibat sebab2 mekanik semata. Seperti hewan bagi Descartes, begitu juga manusia bagi kaum materialis abad ke-18 adalah suatu mesin. Penerapan secara eksklusif norma2 mekanika ini pada proses2 yang bersifat kimiawi dan organik – yang di dalamnya hukum2 mekanika memang berlaku tetapi didesak kebelakang oleh hukum2 lain yang lebih tinggi – merupakan keterbatasan khusus yang pertama tapi yang pada waktu itu tak terhindarkan dari materialisme klasik Perancis. Keterbatasan khusus yang kedua dari materialisme ini terletak dalam ketidakmampuannya memahami alam semesta sebagai suatu proses, sebagai materi yang mengalami perkembangan sejarah yang tak putus2nya. Ini sesuai dengan tingkat ilmu2 alam pada waktu itu, dan dengan cara berfilsafat secara metafisik, yaitu antidialektik, yang bertalian dengan tingkat ilmu2 itu. Alam, sejauh yang sudah diketahui, berada dalam gerak yang kekal-abadi. Tetapi menurut ide2 pada waktu itu, gerak itu berlangsung, juga dengan kekal-abadi, dalam lingkaran dan karenanya tidak pernah berpindah dari tempatnya: gerak itu berulang-ulang menghasilkan hasil yang itu2 juga. Pandangan itu pada waktu itu tidak dapat dielakkan. Teori Kant tentang asal-usul tata surya [2-4] baru saja dikemukakan dan masih dianggap sebagai suatu barang ajaib belaka. Sejarah perkembangan bumi, geologi, masih sama sekali belum diketahui, dan konsepsi bahwa makhluk2 alam yang bernyawa di hari ini adalah hasil guatu rentetan perkembangan yang panjang dari yang sederhana ke yang rumit, pada waktu itu sama sekali tidak dapat dikemukakan secara ilmiah. Oleh sebab itu pendirian yang tidak historis terhadap alam tidak dapat dielakkan. Semakin kuranglah alasan kita untuk mencela para ahli filsafat abad ke-18 tentang hal itu, karena hal yang sama terdapat pada Hegel. Menurut Hegel, alam, sebagai ―penjelmaan‖ semata diri ide, tidak mampu berkembang dalam waktu hanya mampu memperbesar kelipatgandaannya dalam ruang, sehingga alam bersamaan dan berdampingan satusamalain memperlihatkan semua tingkat perkembangan yang terkandung di dalamnya, dan ditakdirkan mengalami pengulangan yang kekal-abadi dari proses-proses yang itu2 juga. Hal yang tak masuk akal ini, yaitu perkembangan dalam ruang, tetapi yang lepas dari waktu – syarat fundamental bagi semua perkembangan – dipaksakan oleh Hegel pada alam justru ketika geologi, embriologi, fisiologi tumbuh2an dan hewan, serta ilmu kimia organik sedang dibangun, dan ketika dimana-mana berdasarkan ilmu2 baru ini sedang tampil ramalan2 gemilang dari teori evolusi yang datang
    • kemudian (misalnya; Goethe dan Lamarck). Tetapi sistim menuntutnya; maka itu metode, demi kepentingan sistim, harus menjadi tidak jujur terhadap dirinya sendiri. Konsepsi tidak-historis yang sama berkuasa juga di bidang sejarah. Di bidang itu perjuangan melawan sisa2 Zaman Tengah memburemkan pandangan. Zaman Tengah dianggap sebagai interupsi sejarah belaka selama seribu tahun kebiadaban umum. Kemajuan besar yang dibuat dalam Zaman Tengah – peluasan wilayah kebudayaan Eropa, bangsabangsa besar yang berdayahidup sedang terbentuk di wilayah itu damping-mendampingi, dan akhirnya kemajuan teknik yang luar biasa pada abad ke-14 dan ke-15 – semua ini tidak dilihat. Jadi tidak dimungkinkan adanya pengertian rasionil tentang saling-hubungan kesejarahan yang besar, dan sejarah paling banyak menjadi suatu kumpulan contoh-contoh dan ilustrasi2 untuk digunakan oleh para ahli filsafat. Penjaja2 yang melakukan pemvulgaran, yang di Jerman pada tahun limapuluhan berkecimpung dalam materialisme, sama sekali tidak mengatasi keterbatasan guru2 mereka itu. Seluruh kemajuan ilmu2 alam yang sementara itu telah dicapai bagi mereka hanyalah bukti2 baru saja yang dapat digunakan untuk menentang adanya pencipta dunia; dan, memang, mereka sama sekali tidak menjadikan pengembangan teori itu lebih jauh sebagai usaha mereka. Walaupun idealisme sudah tidak bisa berkembang lagi dan mendapat pukulan yang mematikan dari Revolusi 1848, ia mempunyai kepuasan melihat bahwa materialisme untuk waklu itu sudah tenggelam lebih dalam lagi. Tidak dapat disangkal bahwa Feuerbach adalah benar ketika dia menolak memikul tanggungjawab atas materialisme itu; hanya dia semestinya tidak mencampurbaurkan ajaran2 pengkhotbah2 berkelilling itu dengan materialisme pada umumnya. Tetapi, disini, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, semasa hidup Feuerbachpun, ilmu2 alam masih berada dalam proses pergolakan yang hebat, pergolakan yang baru selama limabelas tahun yang akhir2 ini mencapai kesimpulan relatif yang membawa kejelasan. Bahan2 ilmiah baru telah diperoleh dalam ukuran yang belum pernah terdengar hingga kini, tetapi penetapan saling-hubungan, dan dengan demikian soal membawa ketertiban ke dalam kekacauan penemuan2 yang dengan cepatnya susul-menyusul, baru akhir2 ini menjadi mungkin. Memang benar bahwa Feuerbach semasa hidupnya masih sempat menyaksikan ketiga penemuan yang menentukan – penemuan sel, transformasi energi dan teori evolusi, yang diberi nama menurut Darwin. Tetapi bagaimana seorang ahli filsafat yang kesepian, yang hidup dalam kesunyian desa, dapat secara memuaskan mengikuti
    • perkembangan2 ilmiah guna menghargai menurut sepenuh nilainya penemuan2 yang sarjana2 ilmu2 alam sendiri pada waktu itu masih membantahnya atau tidak tahu bagaimana menggunakannya sebaik-baiknya? Kesalahan tentang ini semata-mata terletak pada syarat2 yang menyedihkan yang terdapat di Jerman, yang mengakibatkan tukang2 tindas-kutu eklektis yang melamun telah menempati mimbar2 filsafat, sedangkan Feuerbach yang menjulang tinggi diatas mereka semua, harus tinggal diudik dan membusuk disuatu desa kecil. Maka itu bukanlah salah Feuerbach bahwa konsepsi historis tentang alam, yang kini sudah mungkin dan yang menyingkirkan segala keberatsebelahan materialisme Perancis, tetap tak tercapai olehnya. Kedua, Feuerbach memang tepat dalam menyatakan bahwa materialisme alam-ilmiah yang eksklusif adalah sesungguhnya dasar dari bangunan pengetahuan manusia, tetapi bukan bangunan itu sendiri. Karena kita tidak hanya hidup di dalam alam, tetapi juga di dalam masyarakat manusia, dan inipun, tidak kurang daripada alam, mempunyai sejarah perkembangannya dan ilmunya. Oleh sebab itu soalnya ialah membikin ilmu tentang masyarakat, yaitu jumlah keseluruhan dari apa yang dinamakan ilmu-ilmu sejarah dan filsafat, selaras dengan dasar materialis, dan membangunnya kembali di atas dasar itu. Tetapi tidak ditakdirkan bahwa Feuerbachlah yang melakukan hal yang demikian itu. Meskipun ada ―dasar‖nya, dia disini tetap terikat oleh belenggul2 idealis yang tradisionil, suatu kenyataan yang dia akui dengan kata2 berikut ini : ―Kebelakang saya setuju dengan kaum materialis, tetapi kedepan tidak!‖ Tetapi disini Feuerbach sendirilah yang tidak maju ―kedepan‖, ke lapangan sosial, yang tidak dapat melampaui pendiriannya tahun 1840 atau 1844. Dan lagi ini terutama disebabkan oleh pengasingan diri yang memaksa dia, yang, diantara semua filsuf, adalah yang paling cenderung kepada pergaulan, kemasyarakatan, untuk menghasilkan pikiran2 dari kepalanya yang kesepian itu dan bukan sebaliknya, yaitu dari pertemuan2 yang bersahabat dan bermusuhan dengan orang2 lain yang sekaliber dengan dia. Kelak akan kita lihat secara mendetail seberapa banyak dia tetap seorang idealis di dalam bidang itu. Hanya perlu ditambahkan lagi disini bahwa Starcke mencari idealisme Feuerbach di tempat yang salah. ―Feuerbach adalah seorang idealis; dia percaya akan kemajuan umat manusia.‖ (hlm. 19). ―Dasar, bangunan bawah dari keseluruhannya, bagaimanapun tetap idealisme. Realisme bagi kami tidaklah lain daripada suatu perlindungan terhadap penyelewengan2, sementara kami mengikuiti kecenderungan2 ideal kami. Bukankah kasih, cinta dan kegairahan akan kebenaran dan keadilan merupakan kekuatan2 ideal?‖ (hlm. VIII).
    • Pertama, idealisme disini tidak mengandung arti lain daripada pengejaran tujuan2 ideal. Tetapi, ini seharusnya paling2 menyangkut idealisme Kant dan ―imperatif kategoris‖nya, sebaliknya, Kant sendiri menyebut filsafatnya ―idealisme transcendental‖; dan sekali-kali bukan karena dia di dalamnya juga mempersoalkan cita2 etika, tetapi karena alasan2 yang lain samasekali, sebagaimana Starcke akan ingat. Takhayul bahwa idealisme filsafat bersendikan kepercayaan akan cita2 etika, yaitu cita2 sosial, timbul diluar filsafat, dikalangan kaum filistin Jerman, yang mengapalkan diluar kepala beberapa bagian kebudayaan filsafat yang mereka perlukan dari syair2 Skhiller. Tidak seorangpun yang lebih keras mengecam ―imperatif kategoris‖ Kant yang impoten, impoten karena dia menuntut hal yang tidak mungkin, dan karenanya tidak pernah menjadi kenyataan – tidak seorangpun yang lebih kejam mencemoohkan kegairahan filistin yang sentimental akan cita2 yang tak dapat direalisasi yang diajukan oleh Skhiller daripada justru Hegel, orang idealis yang sempurna itu. (Lihat misalnya, bukunya Fenomenologi). Kedua, kita sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa segala sesuatu yang membikin manusia bertindak harus melalui otak mereka – bahkan makan dan minum, yang mulai sebagai akibat dari rasa lapar atau rasa haus hanya disampaikan melalui otak dan berakhir sebagai hasil rasa puas yang juga disampaikan melalui otak. Pengaruh2 dunia luar terhadap manusia menyatakan dirinya di dalam otaknya, dicerminkan di dalamnya sebagai perasaan, pikiran, rangsang, kemauan – pendek kata, sebagai ―kecenderungan2 ideal‖, dan dalam bentuk ini menjadi ―kekuatan2 ideal‖. Maka itu, jika seseorang harus dianggap idealis karena dia mengikuti ―kecenderungan2 ideal‖ dan mengakui bahwa ―kekuatan2 ideal‖ mempunyai pengaruh terhadap dia, maka sietiap orang yang agak normal perkembangannya adalah seoreang idealis sejak lahirmya dan jika demikian apakah masih bisa ada seorang materialis? Ketiga, keyakinan bahwa kemanusiaan, sekurang-kurangnya pada saat sekarang ini, dalam keseluruhannya bergerak menurut arah yang maju tidak mempuniai sangkut paut apapun dengan antagonisme antara materialisme dan idealisme. Kaum materialis Perancis, tidak kurang daripada orang2 deis seperti Voltaire dan Rousseau menganut keyakinan itu dalam derajat yang hampir fanatik, dan kerapkali telah membuat pengorbanan perorangan yang paling besar untuk keyakinan itu. Jika pernah ada orang yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada ―kegairahan akan kebenaran dan keadilan‖ – menggunakan kata2 itu dalam arti yang baik – maka orang itu adalah Diderot, misalnya. Oleh sebab itu, jika Starcke
    • menyatakan bahwa semua itu adalah idealisme, maka ini hanya membuktikan bahwa bagi dia kata materialisme, dan seluruh antagonisme antara kedua aliran itu telah hilang segala artinya. Kenyataannya ialah bahwa Starcke, walaupun barangkali secara tidak sadar, dalam hal ini memberi konsesi yang tidak dapat diampuni kepada prasangka filistin yang tradisionil mengenai perkataan materialisme, yang diakibatkan oleh pemfitnahan kata itu dalam waktu lama oleh pendeta2. Perkataan materialisme oleh si filistin diartikan kerakusan, kemabukan, mata-keranjang, nafsu berahi, kesombongan, kelobaan, kekikiran, ketamakan, pengejaran laba dan penipuan bursa – pendeknya, segala kejahatan busuk yang dia sendiri lakukan secara sembunyi2. Perkataan idealisme diartikannya kepercayaan akan kebajikan, filantropi universal dan secara umum suatu ―dunia yang lebih baik,‖ yang dia sendiri banggakan dimuka orang lain, tetapi yang dia sendiri hanya percaya selama dia berada dalam kesusahan atau sedang mengalami kebangkrutan sebagai akibat dari ekses2 ―materialis‖nya yang biasa. Waktu itulah dia menjanjikan lagu kesayangannya: Manusia itu apa ? – Setengah binatang, setengah malaikat. Adapun tentang hal2 lainnya, Starcke dengan bersusahpayah membela Feuerbach terhadap serangan2 dan ajaran2 para asisten profesor yang berteriak2, yang kini di Jerman memakai nama ahli filsafat. Bagi orang2 yang berminat akan tembuni dari filsafat klasik Jerman, ini sudah tentu merupakan soal yang penting; bagi Starcke sendiri mungkin nampaknya peritu. Tetapi, kami tak akan menyusahkan pembaca dengan itu. 3. Aliran Filsafat Realisme Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya memberikam dua pengenalan. Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya
    • Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama “Akademia” yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama c. Pentingnya mempelajari ketiga aliran filsat itu. Dalam mempelajari Administrasi Pendidikan tidak bisa lepas dari filsafat Administrasi Pendidikan yang harus dikaji, sehingga masalah ide dan realitas yang dibahas dalam filsafat itu perlu diketahui, sehingga dalam menentukan arah tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak didik itu sendiri. Aliran filsafat idealisme terbukti cukup banyak memperhatikan masalah-masalah pendidikan, sehingga cukup berpengaruh terhadap pemikiran dan praktik pendidikan. William T. Harris adalah tokoh aliran pendidikan idealisme yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Bahkan, jumlah tokoh filosof Amerika kontemporer tidak sebanyak seperti tokoh-tokoh idealisme yang seangkatan dengan Herman Harrell Horne (1874-1946). Herman Harrell Horne adalah filosof yang mengajar filsafat beraliran idealisme lebih dari 33 tahun di Universitas New York. Belakangan, muncul pula Michael Demiashkevitch, yang menulis tentang idealisme dalam pendidikan dengan efek khusus. Demikian pula B.B. Bogoslovski, dan William E. Hocking. Kemudian muncul pula Rupert C. Lodge (1888-1961), profesor di bidang logika dan sejarah filsafat di Universitas Maitoba. Dua bukunnya yang mencerminkan kecemerlangan pemikiran Rupert dalam filsafat pendidikan adalah Philosophy of Education dan studi mengenai pemikirian Plato di bidang teori pendidikan. Di Italia, Giovanni Gentile Menteri bidang Instruksi Publik pada Kabinet Mussolini pertama, keluar dari reformasi pendidikan karena berpegang pada prinsip-
    • prinsip filsafat idealisme sebagai perlawanan terhadap dua aliran yang hidup di negara itu sebelumnya, yaitu positivisme dan naturalisme. Idealisme sangat concern tentang keberadaan sekolah. Aliran inilah satu-satunya yang melakukan oposisi secara fundamental terhadap naturalisme. Pendidikan harus terus eksis sebagai lembaga untuk proses pemasyarakatan manusia sebagai kebutuhan spiritual, dan tidak sekadar kebutuhan alam semata. Gerakan filsafat idealisme pada abad ke-19 secara khusus mengajarkan tentang kebudayaan manusia dan lembaga kemanuisaan sebagai ekspresi realitas spiritual. Bagi aliran idealisme, anak didik merupakan seorang pribadi tersendiri, sebagai makhluk spiritual. Mereka yang menganut paham idealisme senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan ekspresi dari keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya sebagai makhluk spiritual. Tentu saja, model pemikiran filsafat idealisme ini dapat dengan mudah ditransfer ke dalam sistem pengajaran dalam kelas. Guru yang menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. Sejak idealisme sebagai paham filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa realitas adalah pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya pengajaran secara individual. Pola pendidikan yang diajarkan fisafat idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya. Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan.
    • Guru dalam sistem pengajaran yang menganut aliran idealisme berfungsi sebagai: (1) guru adalah personifikasi dari kenyataan si anak didik; (2) guru harus seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dari siswa; (3) Guru haruslah menguasai teknik mengajar secara baik; (4) Guru haruslah menjadi pribadi terbaik, sehingga disegani oleh para murid; (5) Guru menjadi teman dari para muridnya; (6) Guru harus menjadi pribadi yang mampu membangkitkan gairah murid untuk belajar; (7) Guru harus bisa menjadi idola para siswa; (8) Guru harus rajib beribadah, sehingga menjadi insan kamil yang bisa menjadi teladan para siswanya; (9) Guru harus menjadi pribadi yang komunikatif; (10) Guru harus mampu mengapresiasi terhadap subjek yang menjadi bahan ajar yang diajarkannya; (11) Tidak hanya murid, guru pun harus ikut belajar sebagaimana para siswa belajar; (12) Guru harus merasa bahagia jika anak muridnya berhasil; (13) Guru haruslah bersikap dmokratis dan mengembangkan demokrasi; (14) Guru harus mampu belajar, bagaimana pun keadaannya. C. KESIMPULAN 1. Ide/Spirit manusia adalah sesuatu yang menentukan hidup dan pengertian manusia yang dibahas dalam aliran filsafat Idealisme: objek yang menekankan pengertian berpandangan manusia bahwa tidaklah bersifat kerohanian dan lahiriah, (idea). sumber segala selalu (dunia yg sebagai Idealisme dilakukan berkaitan harus sebab roh) pengetahuan. sesuatu harus tetapi Oleh ”idea" dgn hal2 berdasarkan itu, oleh Idealiseme yg prinsip sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan.
    • 2. Realitas adalah hakekat kesemestaan, termasuk makhluk hidup dan manusia yang merupakan perpaduan ide dan materi yang dibahas dalam aliran filsafat Realisme yang menggambarkan bahwa ajaran materialis dan idealisme yang bertentangn itu, tidak sesuai debngan kanyataan. Sesungguhnya, realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah benda ( materi ) semata – mata. Realitas adalah perpaduan benda ( materi dan jasmaniah ) dengan yang nonmateri ( spiritual, jiwa, dan rohani) 3. Ide dan realitas perlu dipelajari untuk menentukan arah pendidikan kemana proses pembentukan anak didik dibawa, sehingga akan sesuai dengan ftrah manusia. DAFTAR REFERENSI http://www.mail-archive.com/mayapadaprana@yahoogroups.com/msg03855.html, 1 Januari 2009 mayapadaprana@yahoogroups.com Subject: [Mayapada Prana] Filsafat Idealisme, 29 Desember 2008. Hamzah Ya’kub , Filsafat Ketuhanan, Bandung, 1984. Google.Plato dan Pengertian Filsafat.com, 23 Des. 2008) Pusat Bahasa Departemen P dan K., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta.2002. http://onisur.wordpress.com/tag/realisme-sosialis/ Muhammad Zein, Filsafat Pendidikan Islam, Diktat, 1985. http://onisur.wordpress.com/tag/realismesosialis/ September 18, 2013
    • 50 Tahun Manikebu: Kisah Abadi Emansipasi Oleh: Benni E. Matindas T epat 50 tahun silam, September 1963, jurnal bulanan Sastra terbit dengan memuat pernyataan sikap sekelompok seniman, budayawan dan cendekiawan yang pada masa itu terhitung melawan arus. Pernyataan tersebut diberi tajuk Manifes Kebudayaan. Kemudian lebih terkenal dengan akronim “Manikebu”, yang justru diberikan oleh lawan mereka – tentu saja dengan muatan nada menista. Dan memang Manikebu langsung diserang habis-habisan bukan saja oleh para intelektual di kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ormas seniman dan budayawan di bawah Partai Komunis Indonesia/PKI), juga oleh sejumlah intelektual dari dunia akademik maupun birokrasi yang seperti biasanya memang mesti menjilat pada penguasa. Bahkan Manikebu diposisikan sedemikian rupa sampai bisa jadi santapan pengganyangan aksi-aksi massa yang kendati tak mengerti samasekali apa masalah kebudayaan yang mereka teriakkan dengan caci-maki dan kutuk itu. Puncaknya, Presiden Sukarno sendiri, yang juga mengutuk keras, mengumumkan larangan resmi atas Manikebu! Itu memang pertarungan. Walau perhadapannya berupa, di satu pihak sekelompok kecil seniman dan cendekiawan yang hanya berusaha menyelamatkan diri, sehingga dalam segala hal berada dalam posisi serta sikap mempertahankan diri, berhadapan dengan kelompok seniman yang, dengan didukung kekuasaan politik besar, sangat bernafsu mengganyang serta mengenyahkan lawannya. Kelompok kecil Manikebu mulanya hanya berusaha mempertahankan pandangan diri mereka yang diyakininya sebagai masih mengandung kebenaran yang penting, tapi pandangan itupun diganyang, tak diberi hak hidup. Dan para pemilik pandangan itupun mesti diganyang habis. Keharusan Mengabadikan Dialog Kini, rentetan peristiwa yang sudah lebih bersifat politis itu terasa telah sangat jauh berlalu. Masih pada hari-hari itu saja beberapa penanda tangan Manikebu sudah menempuh usahausaha untuk menunjukkan – dengan pelbagai argument yang memang sah nan logis – bahwa pihaknya sebetulnya tidak sepenuhnya anti terhadap apa yang didukung atau diperjuangkan lawannya. Sehingga ketika tepat dua tahun berikutnya terjadi peristiwa G30S yang disusul pengganyangan luarbiasa keji telengas atas orang-orang PKI beserta Lekra, dan para Manikebuis yang memang cuma segelintir sangat kecil itu sudah merasa cukup ‗terbalaskan‘, mereka pun tak lagi merasa perlu buat ‗memperpanjang masalah‘. Sesungguhnya peristiwa Manikebu, sebagai sebuah entitas sejarah, bagi kita kini maupun generasi-generasi nanti tentu butuh disimak. Terlebih lagi, bukan saja pembelajaran dari sejarah memang merupakan kebutuhan alamiah yang penting, melainkan pula karena ini mengenai [tidak kurang dari:] gagasan-gagasan filsafat. Mengenai dunia pemikiran, bukan semata soal kasak-kusuk politik. Mengenai kebenaran. Ya, mengenai fondasi-fondasi yang di atasnya peradaban bangsa kita dipertaruhkan tinggi-rendahnya, kerdil atau unggul berjaya. Lagi pula pertarungan ide-ide di sekitar peristiwa tersebut memang belum pernah diselesaikan secara memadai. Realisme-Sosialis vs Humanisme Universal
    • Terdapat sederet faktor yang menyebabkan Manikebu tak hendak dikenang sebagai sejarah perhadapan filsafat Realisme-Sosialis versus Humanisme Universal (pada masa itu masih menggunakan istilah dari kebiasaan warisan bahasa Belanda: Humanisme Universil). Kehendak negatif itu bersumber dari para Manifestan sendiri, dan itulah yang harus terwujud karena pihak seberangnya (Lekra) sudah tak ada, tak bisa bersuara, sudah diberangus dan bahkan dihabisi dalam arti harfiah seiring dan untuk berdirinya rezim militerisme Orde Baru. Kelompok Manikebuis yang kemudian menjadi penulis-tunggal sejarah tersebut tak hendak mengenang Manikebu sebagai sejarah pertarungan filsafat Realisme Sosialis vs Humanisme Universal, itu disebabkan sederet faktor yang berjalin-berkelindan. Dapat disebut pertama ialah, kondisi ideologis dari para ideolog utama Manikebuis yang masih hidup cukup panjang setelah 1965, yakni HB Jassin, Wiratmo Soekito, Arief Budiman dan Goenawan Mohamad (Trisno Sumardjo telah wafat April 1969). Pasang-naik sangat tingginya apresiasi terhadap filsafat kiri, dan dengan sendirinya juga terhadap Realisme Sosialis, melanda dunia intelektual hingga beberapa dekade. Neo-Marxisme, New-Left, Mazhab Frankfurt, Falsafah Teori Kritis, Teologi-Teologi Pembebasan, dan seterusnya, bahkan sejumlah pemikir besar tegas memasang label Marxis Ortodoks, semuanya tampil begitu agung dan berpengaruh kuat. Merasuk ke semua bidang dan disiplin ilmu. Bahkan PBB sejak akhir 1960-an mencetuskan sederet resolusi berhaluan kiri; antaranya The New International Economic Order untuk melawan kapitalisme. Sebagai kaum intelektual papan atas, dan yang berkejujuran ilmiah, para Manifestan tentu mengapresiasi dan terbuka terhadap karya-karya pemikiran penting tersebut, dengan kadar yang berbeda-beda. Arief Budiman [saat menandatangani Manifes masih bernama Soe Hok Djin] kemudian sudah kokoh sebagai eksponen Sosialisme, dengan kadar yang bahkan boleh dipastikan melebihi Pramudya Ananta Toer dan mungkin Nyoto sekalipun. Wiratmo Soekito sejak awal pegandrung eksistensialisme Sartre, sementara Sartre untuk masa yang cukup lama itu selalu berbaris terdepan dalam aksi-aksi massa kaum Marxis Eropa. HB Jassin pun sejak jauh sebelumnya memang memiliki pandangan kritis terhadap Humanisme Universal, dengan atau tanpa memosisikan falsafah Humanisme Universal tersebut dalam genre Liberal yang berhadapan dengan Realisme Sosialis yang berada dalam genre Marxisme. Goenawan Mohamad pelahap bacaan penting dan secara kodrati cenderung berpihak pada kaum kalah serta terpinggirkan itu sudah pasti amat mengapresiasi pemikiran-pemikiran radikal pro-kaum tertindas, dengan kadar serta caranya sendiri. Ini terbaca jelas pada sangat banyak tulisannya. Ditambah sejumlah pernyataannya yang eksplisit tak lagi membela Humanisme Universal (– apalagi ditambah dengan: [1] Pandangan filosofisnya sendiri yang selalu condong menolak universalisme; [2] Pengaruh Post-Modernisme padanya telah harus membuatnya tak lagi memandang Humanisme yang mengandalkan pemikiran rasional itu sebagai ideologi suci nan herois sebagaimana awal kehadirannya beberapa abad silam). Sejak awalnya, motif perlawanan mereka, sebagaimana jelas dari sangat banyak ungkapan HB Jassin dan Goenawan Mohamad di kemudian hari, hanya terutama terhadap rezimentasi proses kreatif – yang merupakan pengekangan kreativitas – yang mereka tuding ―politik sebagai panglima‖. Demikianlah motif utama perlawanan para seniman di seberang Lekra dan penguasa ini. Selebihnya, ya, sederhana saja yaitu memang pada dasarnya sudah ada apriori negatif yang amat tegas terhadap kelompok yang dipandang ―anti-Tuhan‖. Manifestan lain tak disebut di sini karena ―nyaris tak terdengar‖ dalam soal argumentasi ideologis Realisme-Sosialis vs Humanisme Universal. Dan mengingat kenyataan mereka adalah para intelektual berkaliber di atas rata-rata maka bolehlah disimpulkan bahwa sikap diam mereka bermakna: apresiasi terhadap ideologi yang dulu diperjuangkan lawan mereka.
    • Bur Rasuanto, misalnya, sementara puisi-puisinya yang ditulis di era ‘66 saja sudah jelas bernada pro-rakyat kecil [memang rakyat tak hanya ‗milik‘ Lembaga Kebudayaan Rakyat], disertasi doktornya kemudian pun mengangkat tema pro-keadilan sosial. Penentangan radikal terhadap ekonomi liberal. Dalam hal bentuk, sejumlah puisi Bur Rasuanto pun, sebagaimana Taufiq Ismail, tak ada bedanya dengan karya-karya paling umum dari para penulis Lekra dan simpatisannya. [Malah banyak telaah yang mengatakan puisi-puisi Sitor Situmorang – eksponen LKN (ormas seniman PNI yang Sukarnois, yang waktu itu jamak bergandengan tangan dengan Lekra) – di kala itu justru lebih liris]. Itulah mengapa di kemudian hari, terhadap HB Jassin yang menabalkan eksistensi angkatan baru dalam sejarah kesusastraan Indonesia, yakni Angkatan 66, dan menggolongkan karya-karya Taufiq Ismail dan Bur Rasuanto ke dalam situ, Putu Oka Sukanta yang pengarang ex-Lekra mengajukan kritik berganda-bertingkat: gaya Taufiq dalam puisi-puisi era ‗66 itu tak beda dengan karya-karya penulis Lekra yang dulu diejek ―sloganistis‖, itu artinya HB Jassin membuat penggolongan angkatan bukan berdasar gaya seni yang samasekali baru, melainkan hanya berdasar golongan politik si seniman, dan dengan demikian Jassin pun sudah melakukan apa yang dulu ditolaknya dari sikap Lekra yakni menjadikan politik sebagai panglima atau ukuran berkesenian. Itulah penjelasan tentang tak hendaknya lagi kelompok Manikebuis melanjutkan polemik ideologis terhadap Realisme-Sosialis. Juga bahkan untuk sekadar merenda kenangan indah tentang Humanisme Universal-nya mereka sendiri. Terutama karena memang sejak dulu di antara mereka sendiri sudah terdapat pandangan kritis bercampur kurang jelas mengenai paham tersebut. Jadi memang pihak Manifestan sungguh tak hendak membahasnya dalam dialog kritis yang berhadap-hadapan frontal. Malah sebaliknya, terlebih pasca-rezim Orde Baru, orang-orang Lekra-lah, bersama amat banyak simpatisan mudanya, yang gencar membuka lagi front tersebut. Dialog kritis Realisme-Sosialis vs Humanisme Universal, juga dialog kritis setiap kita dari perspektif manapun terhadap masing-masing ideologi tersebut sebagai konsep estetika maupun falsafah umum, itu harus diteruskan. Sebab, sekali lagi, ini tidak sebatas soal sejarah yang sudah selesai bersama waktu dan kita tinggal bercermin ke belakang supaya lebih bijak melangkah ke depan. Ini pun bukan semata soal politik yang selesai dengan menang atau kalah (Pramudya Ananta Toer dibuang ke Pulau Buru, lainnya dipenjara, banyak aktivis Lekra di daerah terbunuh). Ini adalah soal ide-ide, hal yang abadi dan mengabadikan. Di Pulau Buru pun Pramudya tetap menelorkan karya-karya abadi yang sekaligus terbukti dibutuhkan zaman. Butuh Humanisme Universal Istilah ―humanisme universal‖ tak tercantum secara eksplisit dalam teks kepala Manifes. Istilah itu dicantum [konon oleh Wiratmo Soekito] dalam penjelasan. Tapi para Manifestan sendiri, sejak waktu itu, sebelum pasang naiknya apresiasi terhadap paham lawannya (Realisme-Sosialis dan Marxian pada umumnya), sudah punya paling sedikit dua pandangan tak positif terhadap apa yang disebut Humanisme Universal itu. (1) Ada kritik terhadap kekurangan paham itu (yakni: melemahkan nasionalisme yang padahal sedang dibutuhkan). Ini sudah ditegaskan antara lain oleh HB Jassin sejak lama sebelum Manikebu. (2) Masih ada keraguan. Pandangan yang belum matang, belum selesai secara asasi, mengenai paham ini. Sudah di tahun 1980-an Wiratmo Soekito menilai sikap diri
    • mereka dulu: naïf dan amatiran. Mengenai nilai humanisme, belum jelas apakah mutlak berasumsi semua manusia baik sementara kenyataan menunjukkan sering justru sangat jahat.1 Sekarang kritik terhadap Humanisme Universal telah bertambah dengan yang lebih asasi: (1) Sejumlah falsafah yang menolak universalitas; [2] Telaah-telaah falsafah Post-Modernisme yang mendekonstruksi pengandalan selama ini pada rasionalitas; sementara Humanisme dianggap mengandalkan rasionalitas. Apakah lantas sekarang kita sudah harus meletakkan Humanisme hanya sekadar sebagai barang rongsokan warisan masa lampau yang tak lagi dibutuhkan? Salah! Juga salah bila menganggap kondisi di Indonesia pada era 1960-an itu tidak seperti Eropa di masa awal kehadiran Humanisme sehingga beberapa Manifestan menyatakan bahwa bahkan Manikebu sebetulnya tak butuh Humanisme. Humanisme [Petrarca, Erasmus, hingga Pencerahan/Kant] harus dilihat pertama-tama dan terutama sebagai upaya pembebasan manusia dari kungkungan ideologis. Entah itu kungkungan ideologis dari kepercayaan agama, takhayul, tradisi adat yang dehumanistis, nilai budaya yang subhumanistis, tradisi tatanan kekuasaan yang memonopoli sistem kesadaran manusia, segala pola pikir yang hidup dalam masyarakat yang mengalienasi manusia, dan sebagainya. Manusia harus dibebaskan, dan dengan itulah manusia dapat mandiri dan menjadi dewasa dalam artian bisa mencapai taraf optimal daya-dayanya maupun kebahagiaan eksistensialnya. Pembebasan manusia dengan tujuan demikian itu tak pernah tak dibutuhkan dalam zaman manapun. Di masa lampau di Eropa, Humanisme dibutuh untuk emansipasi manusia dari kungkungan tradisi kekuasaan gereja yang memonopoli alam pikiran, dari belenggu takhayul, dan dari budaya feodalisme. Di masa Manikebu, manusia Indonesia harus dibebaskan dari dominasi ideologi partai komunis dengan segala paham utopis melanturnya yang merekomendasikan totaliterisme hingga memenjara dan membonzai kreativitas seni. Dibebaskan dari dominasi ideologi Serba-Revolusionisme. Hanya dengan emansipasi itulah manusia Indonesia dapat mandiri dan menjadi dewasa. Dalam rumusan Manikebu: “perdjoangan untuk menjempurnakan kondisi hidup manusia‖, sehingga sanggup “mengembangkan martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia ditengah-tengah masjarakat bangsa-bangsa‖. Di masa sekarang manusia harus diemansipasi dari budaya industrialisme yang me-reifikasi, budaya konsumerisme yang sangat merapuhkan kemanusiaan, budaya komoditisasi yang sampai memperdagangkan politik, hukum, cinta dan hati nurani. Di zaman sekarang manusia harus diemansipasi dari kepercayaan agama yang dehumanistis. Pendek kata, humanisme tetap dibutuh! Humanisme harus dihayati terutama sebagai jalan pembebasan manusia, bukan terutama soal rasionalitas. Rasio selamanya hanya alat bagi manusia dan kemanusiaan, rasionalitas hanya alat dalam Humanisme. Dengan pembebasan seturut Humanisme rasio manusia dapat dikembangkan seoptimalnya melalui apa yang disebut pendewasaan dan pemandirian manusia demi kesejahteraan dan kebahagiaan puncak umat manusia. Bahkan bila memang betul ada masalah pada sistem rasio manusia – sebagaimana diungkap Heidegger dan terutama Derrida – itu harus dilihat sebagai: rasio kita yang sudah bermasalah, dan karenanya harus dibebaskan dari ideologisasi oleh [kata Derrida:] struktur bahasa, demi tujuan Humanisme: kebenaran, kemandirian, dan pencapaian kedewasaan puncak kemanusiaan. Itu harus dibebaskan, termasuk rasio Derrida sendiri yang kentara sudah
    • terideologisasi ketika ia memperlakukan bahasa sebagai metafisika [yang padahal dikutuknya] yang dikira niscaya membelenggu semua manusia. Hanya manusia yang tak kreatif yang memang akan dibelenggu, disesatkan dan diperbudak bahasanya. Tapi bahasa tetap merupakan alat yang mengabdi pada kepentingan manusia kreatif. Pembebasan dengan spirit Humanisme itu tetap dibutuh. Malah semakin di masa kini, untuk membebaskan manusia dari belenggu dominasi ideologi dan budaya yang semakin sukar dilawan. Di masa Manikebu, bahkan sesungguhnya lawan mereka (PKI) pada dasarnya sedang memperjuangkan proses pembebasan seturut Humanisme dengan menggunakan metode kritis Marxian yakni materialisme-historis-dialektis. Sedang di masa kita sekarang banyak intelektual setuju dengan pembebasan bermetode Neo-Marxis yang diusul Horkheimer dan Adorno sebagai jalan paling memadai: dialektika-negatif. S udah benar beberapa Manikebuis seperti Wiratmo Soekito mengangkat – dengan nekat2 – Humanisme Universal. Dan tak perlu diberi klausul seperti diajukan HB Jassin (dan disetujui hingga kini oleh banyak orang) demi ―kepentingan nasional‖ yang masih dalam masa perjuangan. Klausul seperti itu hanyalah dalih salah kaprah yang sama persis dengan dalih yang diajukan rezim totaliterisme Orde Baru untuk menunda penegakan ide-ide universal HAM dan Demokrasi demi ―stabilitas nasional‖ agar bisa menjamin ―pembangunan nasional bagi kesejahteraan rakyat‖; yang pada akhirnya terbukti tak mencapai semuanya baik kesejahteraan rakyat maupun sistem politik yang matang dan stabil. Bahkan tata politik yang anti-demokrasi itulah yang menyeret perekonomian bangsa ini menjadi amat rentan krisis, lantaran tumbuhnya budaya tak unggul sehingga ekonomi masyarakat lemah daya saingnya, kerdil daya inovatif, dan perekonomian daerah kerdil inisiatif. Yang dilakukan Bung Karno lebih tepat. Bukan nasionalisme yang mengoreksi atau memberi klausul atau menjadi premis khusus terhadap Humanisme Universal sebagai premis umum, melainkan sebaliknya Humanisme Universal itulah yang bila Nasionalisme diletakkan di dalamnya maka nasionalisme itu akan terkoreksi dan terarahkan menjadi benar, hakiki, tak sempit. Sejak 1930-an Sukarno menjelaskan koreksi atas nasionalisme itu dengan istilah sosio-nasionalisme. Dalam Pancasila, Humanisme Universal dikukuhkan sebagai Sila-II setelah Ketuhanan. Klausul untuk menunda Humanisme Universal demi perjuangan bangsa, itu bukan saja secara teoretis keliru tapi pula bukti sejarah sudah terlalu banyak menunjukkan fakta bahwa bebas dari bangsa asing ternyata masuk ke dalam penjajahan oleh bangsa sendiri yang sering lebih keji sekaligus lebih rakus tanpa kompensasi. Kalau tidak mendahulukan pembebasan masyarakat dari segala belenggu ideologi dan budaya yang membuat kita tetap tak berdaya. Dan sebetulnya, sebagaimana Lenin pun sangat tahu – bersama Rosa Luxemburgh, John Hobson – penjajahan oleh bangsa asing itu (imperialisme, kolonialisme, neo-kolonialisme) tak lain adalah penjajah dalam bangsa mereka sendiri melalui kapitalisme (sampai kapitalisme-birokrat) yang berkembang sedemikian rupa sampai harus meluaskan wilayah jajahannya ke bangsa-bangsa lainnya. Jadi, jelas, kapitalisme dan imperialisme serta neo-kolonialisme adalah kondisi historis yang selamanya cenderung menjadi kondisi obyektif manusia di bangsa manapun, jika pembebasan seturut Humanisme Universal tak berjalan atau gagal. Dan dalam konteks dikotomi Humanisme Universal vs Sosialisme, Marxisme/Realisme-Sosialis, ingin ditegaskan: Humanisme Universal adalah pula proyek Marxis, dengan metode Marxian ataupun lain.
    • Cacat Fatal Humanisme Tujuan Humanisme Universal adalah arah hakiki kemanusiaan. Tetapi, meski sedemikian mutlaknya ia dibutuh, ia masih buntu! Selama ini, menyerahkan pengoperasian Humanisme kepada jalan Kant, Marx, sampai Habermas, niscaya buntu belaka. Pembebasan yang utuh tak pernah mungkin dicapai dengan semua jalan mereka, bahkan sekadar membayangkan di atas paparan teorinya masing-masing. Teori Kant maupun semua Kantian serta Neo-Kantian tidak untuk praktis dan kurang memadai sebagai praxis pembebasan. Jalan Hegel maupun semua Hegelian serta NeoHegelian cuma sejenis mistik fatalisme sejarah, yang karenanya harus membiarkan bahkan merestui sebagai kehendak Roh Absolut kehadiran segala tiran yang dengan cara-cara primitif sangat kasar melancarkan proyek-proyek yang mengalienasi manusia bahkan melenyapkan manusia dalam arti harfiah! Bagaimana dengan jalan Marx yang begitu memukau dan meyakinkan? Materialismehistoris-dialektis Marx, maupun semua barisan derivatnya sampai Althusser, sudah terbukti tak pernah tak buntu dan akan selamanya buntu. Dalam kehidupan sehari-hari dengan mata telanjang pun kita selalu menyaksikan bahwa orang-orang yang paling gampang hanyut tergulung dan teralienasi dalam mekanisme pasar kapitalisme yang sarwa-komoditisasi itu ialah para persona-massa (bukan elite kultural) dengan ciri khas kurang cukupnya kadar daya kreatif serta daya kritis – pokoknya ini adalah soal kuasanya budaya – tetapi jalan yang lantas dirancang Karl Marx bukannya metode kultural yang terarah (socio-cultural engineering) melainkan menyerahkannya pada proses alamiah para buruh yang lapar dan diharap makin beringas – proses materialisme-historis yang dibayangkannya berlangsung secara niscaya sebagaimana hukum fisika dan karenanya dibanggakannya sebagai ―ilmiah‖/scientific. Teori hukum alam-nya Marx tersebut gampang dipatahkan Schumpeter dengan yang lebih alamiah: buruh yang lapar itu bila dikasih makan dan dijamin biaya sekolah serta kesehatan anakistrinya pasti akan lebih beringas menghalau tuntutan sesama buruh yang masih lapar…! Terhadap telaah Schumpeter tersebut, pihak Marxian akan menangkis, dengan penjelasan Marxisme bahwa itu juga gara-gara budaya alienatif sudah mencekam si buruh. Betul! Tapi, sekali lagi, kemampuan Marx menjelaskan atau mengkonstatasi kondisi alienasi tersebut sudah sejak dulu terbukti tidak serta-merta merupakan kemampuan memberi jalan emansipasinya yang feasible dan tepat. Mengapa? Ya, itu tadi, tak konsisten melihat pada, dan lantas mengandalkan, faktor budaya. Dengan menemukan teori bahwa kondisi ekonomi masyarakat melahirkan budayanya sendiri [infrastruktur membuahkan suprastruktur], Marx dalam proses kreatif penyusunan teorinya itu mengalami euforia sampai hanyut terjerumus pada kekeliruan hermeneutis: sedemikian kuasanya infrastruktur [sampai bisa mengarahkan suprastruktur: hukum, politik, negara, budaya, agama, cinta, dan segalanya] maka untuk selanjutnya andalkan saja infrastruktur yang berlangsung secara alamiah tanpa pengarahan selain dialektika. Kentara di sini betapa Marx, dalam euforianya tadi, jadi balik lebih percaya pada gurunya dalam falsafah sejarah beserta dialektika (Hegel), dibanding gurunya dalam materialisme (Feuerbach). Ia begitu percaya pada proses sejarah yang niscaya berlangsung alamiah dan niscaya berlangsung secara dialektis/reaktif-negatif (antitesis) yang diajar Hegel. Ia sudah kurang percaya pada teori Feuerbach tentang proses yang berarah proyektif. Buruh yang lapar dan melarat memproyeksikan angannya (suprastrukturnya) untuk memiliki kekayaan melimpah serta kenikmatan istimewa [bukan: sosialisme ―sama rata sama rasa‖]. Buruh yang disesak dalam kemelaratan sampai mengalami kesakitan fisik akan berangan untuk jangan ada lagi
    • rudapaksa dan segala bentuk ketaknyamanan fisik di dunia ini, maka tak ada revolusi dan segala pemaksaan dalam angannya. Angannya bisa apa saja, pendeknya tidak niscaya mengarah pada jalan satu-satunya: revolusi sosialisme. Bisa juga yang memang bersifat ―reaktif‖, sehingga bolehlah dibilang sebagai ―buah dialektika‖, yaitu: angan dan bahkan tekad untuk ―kelak jangan lagi ditindas melainkan menindas [sebagai salahsatu wujud kenikmatan istimewa yang diangankan]‖. [Di kemudian hari Sartre mengkritik keniscayaan teori hitam-putihnya proses dialektika.] Faktor kenikmatan istimewa itulah yang menggagalkan atau sekadar menjadikan tidak idealnya pelbagai proyek kolektivisme dalam setiap eksperimen sosialisme sejak kelompok komunis purba dalam sejarah awal gereja Kristen maupun agama-agama lainnya, kemudian kelompok-kelompok Robert Owen dsb, hingga kamp-kamp kerja komunis di negara-negara Marxis, sampai koperasi unit desa di negeri awak. Dan teori tentang kenikmatan istimewa itu tak cukup lagi dihadapi dengan teori para sosialis mutakhir yang mengatakan bahwa ―sosialisme adalah tatanan asli alamiah manusia sedang individualisme hanyalah bentuk keliru dari perkembangan yang baru terjadi kemudian‖, karena sesungguhnya kenikmatan istimewa adalah buah niscaya dari kondisi paling ideal dari sistem kesadaran homo sapiens – yakni: kreativitas – di samping hasil dari personalitas manusia yang luarbiasa kompleks dan serba-mungkin itu. Apa sebenarnya yang terjadi pada sang infrastruktur sampai ia ―mengkhianati‖ jalan satusatunya yang ditakdirkan oleh Hegel maupun Marx itu? Makhluk manusia adalah sosok yang dilintasi kecenderungan-kecenderungan berarah baik dari semestanya. Kecenderungan berarah baik itu, pada banyak pribadi tidak dirawat ataupun dikembangkan oleh orang tuanya, guru-gurunya, budayanya dan para patronnya, sehingga sudah mulai ditinggalkan sejak pelbagai pengalaman di sepanjang proses pertumbuhan dan jalan usianya, yang berakibat jadi berkurangnya ia dalam hal potensi mencapai keunggulan serta pelbagai kebajikan. Sehingga mereka gampang hanyut dan tenggelam oleh pelbagai pengaruh eksternal, kesadarannya jadi gampang terdominasi dan teralienasi. Tetapi fitrahnya sebagai makhluk manusia tetap, dan itulah yang setiap saat dengan mudahnya dapat digerakkan oleh pelbagai ajaran yang benar dan baik ataupun sekadar ingatan bawah sadar mengenai nilai kebaikan dan pelbagai kebajikan. Dengan demikian ia mulai memiliki arah tertentu dalam setiap sikap dan tindak yang bersifat alamiah, termasuk ketika ia berangan-angan dan membentuk suprastruktur. Ada kala nilai yang mengarahkannya itu lebih dalam kadar kebajikan dibanding apa yang digariskan/diharapkan Hegel maupun Marx, adakalanya masih di bawah [tetapi akan berkembang terus melalui interaksi kultural dengan individu lain dan masyarakat lain], yang pasti ia sudah tak dapat dipastikan oleh takdir yang diteorikan Hegel dan Marx. Pokoknya ini soal daya budaya. Maka cukup sering terjadi sebaliknya dari teori ―infrastruktur membentuk suprastruktur‖-nya Marx. Sebagaimana diungkap Weber, sebelumnya oleh Friedrich List, dan kemudian oleh banyak Weberian: suprastruktur mengarahkan infrastruktur. Dasar kekeliruan Marxisme itu memang berpangkal dari Marx yang sudah mengelirukan dasar filsafatnya. Ia meradikalkan materialisme sedemikian rupa sampai mengira serta yakin bisa lepas otonom dari hakikat materi/partikel yang selamanya berada menyatu dengan kecenderungan berarah tetap – yang kurang-lebih bisa kita identifikasi sebagai ―ide bawaan‖ atau ide apapun.3 Penjelasan tentang kegagalan jalan pembebasan Marxisme di atas tadi adalah pula penyingkapan tentang kekeliruan utama Marxisme.4 Banyak kalangan yang sebetulnya sudah lama tiba pada kesimpulan umum bahwa kekeliruan Marx terjadi sejak ia memerosotkan
    • humanismenya menjadi semata-mata ekonomisme. Tetapi sifat holistis teorinya itu, ditambah tujuannya yang mulia, membuat orang berusaha melupakan kesimpulan tersebut dan tetap berharap pada jalan Marxisme. Sekarang, dengan penjelasan di atas – tentang keutamaan persoalan budaya tapi dipaksa menjadi ekonomi belaka demi dasar falsafah materialisme – kiranya telah cukup menerangkan secara tuntas. Habermas, seorang eksponen Marx Café, menawarkan jalan pembebasan dan pencapaian kebenaran, di tengah sistem kesadaran manusia yang sudah terdominasi segala ideologi. Yaitu aksi komunikasi bahasa, menuju masyarakat komunikatif. Aksi komunikasi bahasa menghalau atau mensubstitusi teknologisasi yang selama ini telah merancukan sistem pengetahuan dan pranata kehidupan sosial, sebab bahasa dikembalikan posisinya ke atas sains dan teknologi. Bahasa pun diandalkan Habermas karena – berdasar ilham dari penelitian psikologi Piaget, teori psikologi moral Kohlberg, teori sistem sosial Parsons, dan pelbagai hasil penelitian anthropologi – diyakini mengandung secara built in kebajikan-kebajikan moral yang menjamin berlangsungnya proses komunikasi ideal, tanpa distorsi, bebas dari pendominasian. Tapi jalan Habermas belum memadai. Kita boleh membenarkan bahwa bahasa dan berkomunikasi adalah sesuatu yang mengandung unsur-unsur etika yang baik, tetapi bahasa tetaplah sebagai alat yang dapat setiap saat diperalat oleh segala kepentingan jahat, jadi alat dari konsep keliru, ataupun bahkan sekadar kesia-siaan. Komunikasi, sebagaimana kenyataannya sejak dulu, tetap merupakan sarana yang memberi kesempatan untuk upaya pembebasan dari belenggu dominasi kesadaran tetapi juga untuk pembelengguan kesadaran serta pengerdilan jiwa. Komunikasi hanya akan dapat menjadi proses pelumeran segala dominasi jika para komunikan memiliki daya kritis dengan kadar tertentu yang dibuahkan dari kecerdasan kreatif. Komunikator tak memaksakan pendominasian atas orang lain karena faktor kreativitas dalam jiwanya senantiasa membuat dia bersikap terbuka pada setiap kemungkinan kebenaran dari luar dirinya. Lagi, dia adalah insan yang tidak menganggap posisi berkuasa dan mendominasi itu sebagai nilai kebahagiaan utama yang harus dikejar atau dipertahankan. Dan daya kreatif hanya bisa tumbuh dan berkembang dalam spirit humanisme dimana manusia terposisi sebagai subyek melalui sikap dan tindak peduli sesama. Bukan obyek yang melemahkan sendiri potensi-potensinya sehingga kemudian terdominasi dan tak bisa berkembang daya kreatif dan daya kritisnya. Kritik atas Realisme-Sosialis Realisme-Sosialis adalah kredo berkesenian yang mengamanahkan setiap karya seni untuk hanya diabdikan bagi kepedulian pada kehidupan real masyarakat dimana sebagian besar rakyat terbenam dalam kemiskinan dan keterasingan akibat kungkungan ketidakadilan struktural, agar seniman dapat memenuhi tanggung jawabnya dengan menjadi bagian dari perjuangan-kelas demi pembebasan kaum tertindas dan mencapai tatanan sosialisme – tata sosial tanpa kelas yang meraih kemakmuran bersama setingginya dalam budaya yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Ideologi Realisme-Sosialis awalnya digagas serta dikembangkan oleh para pemimpin komunis (termasuk Lenin) beserta ahli-ahli propaganda partai komunisme. Kemudian, di tangan György Lukacs, mencapai puncak kematangannya sebagai konsep estetika yang
    • mudasir, koherens dan komprehensif. Lukacs sampai pada peletakan proses kreatif seniman realis di dalam sistem obyektif kesadaran manusia dengan mekanisme kodrati berarah etik yang benar. Kehidupan manusia secara eksistensial adalah proses yang berlangsung bersama dan di dalam proses sosialnya yang real. Proses kesadaran si seniman menyatu dengan realitas sosial dalam kesatuan mekanisme dialektis yang mentransformasi kesadaran serta realitas sosial itu. Sehingga pekerjaan berkeseniannya itu – sebagai proses pembebasan diri dan sesama warga masyarakat – menyempurnakan kemanusiaannya secara niscaya. Lukacs pun mendeskripsi anatomi proses bekerjanya karya sastra dalam sistem kesadaran masyarakat manusia (yang teralienasi) hingga terkondisinya pembebasan. Amanah bagi sastrawan untuk menjadi realis bersifat mutlak penting, karena mereka adalah segelintir elit budaya yang diandalkan untuk bisa membuat terobosan transformasi kesadaran tatkala masyarakat umumnya termasuk kebanyakan seniman sudah tergulung hanyut oleh budaya kapitalisme yang sedemikian kuat merasuki sistem kesadaran manusia. Dialog kritis akan kita tujukan pada Lukacs, karena posisi teorinya sebagai pilar filosofis paling kuat dari kubu estetika kiri. Di luar soal bahwa Lekra dulu tidak seutuhnya menggunakan Lukacs, termasuk dalam menghadapi kelompok Manikebu; juga di luar soal Lukacs sendiri pun menolak banyak garis utama politik kebudayaan partai komunis seperti PKI, di antaranya hal rezimentasi politis dalam pengarahan produksi karya-karya seni. Sekilas teori Lukacs benar belaka, di samping bercita mulia. Lebih tepatnya, karena sifat mulianya itu sehingga cita kita terdorong untuk segera membenarkannya. Tapi ia, di samping banyak benarnya dan penting, ada sejumlah kekeliruan fundamental. Kita, demikian juga seniman, sebagai manusia, realitas adalah memang realitas sosial kita sendiri. Tetapi sumber isi kesadaran maupun arah kesadaran kita manusia, terlebih lagi seniman, tentu saja tidak hanya realitas sosial kita itu. Sebab jika begitu maka kita tak beda dengan binatang. Kesadaran (consciousness) membedakan kita dari umumnya makhluk lain, dengan kesadaranlah maka manusia dapat melampaui kondisi historisnya, menjadi pengubah histori, pembuat historinya sendiri, bahkan melampaui kondisi obyektifnya. Terlebih lagi seniman yang berfungsi sebagai pemasok bahan baku kesadaran, yang diambilnya – dengan kepekaan khas senimannya – dari alam imajinasinya yang bisa saja sudah melayang sangat jauh dari pangkalan realitasnya. Makin jauh makin hebatlah ia sebagai seniman; meski tidak berarti yang mengambil bahan baku kesadaran itu langsung dari daratan real kehidupan masyarakat bukan seniman yang hebat. Seniman tak boleh dipaksa untuk hanya mengambil subject matter proses kreatifnya dari satu sumber tertentu saja – entah itu realita sosialnya maupun Tuhannya, entah itu Revolusi Sosial yang kendati menjanjikannya ―sorga tanpa kelas di muka bumi‖ maupun Pembangunan Nasional yang pula menjanjikannya ―masyarakat adil dan makmur‖. Seniman bisa saja merasakan getaran sublime yang luarbiasa ketika ia memilih subject matter dari sesuatu dalam imajinasi liarnya yang kendati sangat abstrak dan samasekali belum dikenalnya, atau memilih cuma sehelai daun kecil yang jatuh ditiup angin dan terbiar di tanah, dan menunda untuk memilih kekasih pujaan hatinya sebagai subject matter karya seninya. Tapi dengan memilih hal-hal kecil seperti itu – yang bagi penilaian umum yang sudah terbelenggu parameter-parameter pasar kapitalisme menjadi kelihatan sepele – bukan berarti ia tak menjalankan fungsi serta tanggung jawab sosialnya. Lukisan sekuntum bunga mekar tak kalah jasanya bagi penyejahteraan rakyat dibanding lukisan petani revolusioner yang mengangkat bedil bukan cangkul. Malah bisa lebih hakiki. Justru dengan memilih apa yang
    • tidak digarap kebanyakan orang maka seniman sejati tampil merintis tapal-tapal batas terbaru dan terjauh bagi kemungkinan pencapaian kemajuan peradaban masyarakatnya. Juga, dengan begitu, sebelum hasil karyanya berfungsi sosial, langkah proses kreatifnya itu sendiri sudah meneladankan jalan pembebasan manusia dari alienasi dan segala bentuk lain keterkungkungan ideologis. Sementara yang memilih subject matter dari realitas sosial yang ada, apalagi jika dipaksa secara politik untuk menghasilkan karya dalam bentuk yang sedemikian rupa harus eksplisit realitas sosial maupun sosialis, mereka justru sering sudah tak lagi menjalankan fungsi kesenimanannya yang hakiki, yang harus meretas kebaruan dan pembaruan. Si seniman pun sudah tak berbeda dengan misalnya pematung yang berkarya seturut order proyek, sekadar cari uang [ – yang justru sangat dikutuk oleh Karl Marx Sang Dewa Realisme-Sosialis: kerja yang bukan lagi menjadi self-actualization untuk penyempurnaan kemanusiaan diri, melainkan cuma diperintah pasar!]. Membuat patung atau ornamen penghias taman di rumah orang kaya, atau penyair yang dibayar untuk merangkai kata-kata indah seturut ukuran keindahan pemesannya buat diukirkan pada prasasti peresmian gedung baru. Tentu saja itu tetap sah sebagai karya seni, tetapi di sisi lain, sisi yang lebih hakiki, itu hanyalah semacam excuse sejenak untuk berhenti ataupun menyimpang dari jalannya proses pemajuan peradaban yang diperankan oleh seni yang harus terus-menerus berkreasi merambah ufuk-ufuk baru terjauh. Seniman yang menjadikan realitas sebagai sumber ilham serta mewujudkan karya seninya secara eksplisit realis, diejek: bukan si penyair yang menulis puisi penciptaan realitas baru berdasar realitas yang ada, melainkan realitas yang ada itulah yang menuliskan puisi buat si penyair…. Semua pemaksaan atas wujud karya seni untuk harus berbentuk atau bercorak tertentu hanyalah menghasilkan jiplakan yang bukan saja tanpa karakter tapi pula tanpa nyawa, apalagi untuk mengharapkannya menjadi sumbangsih demi meluaskan cakrawala pencapaian peradaban baru yang lebih memenuhi kebutuhan umat manusia. Tatkala ekor penjiplakan dari senirupa propagandis partai komunis Uni Soviet dan RRC itu memanjang sampai ke negeri kita, awalnya memang sempat ada kesan takjub pada karya-karya poster serba raksasa itu karena baru, juga baru dalam hal ide tentang buruh dan tani yang biasanya memelas kini tampil herois nan garang. Tetapi karena karya itu hanya jiplakan dari jiplakan, selalu cuma begitu-begitu saja, maka segera menimbulkan jenuh, kembung dan rasa mual – persis seperti perasaan HB Jassin yang diungkapkan dalam suratnya yang ditujukan kepada Pramudya Ananta Toer. T ema garapan seniman bukan dan tak boleh hanya satu-satunya saja: perjuangan revolusi kelas tertindas. Jika tak mau memilih tema ―kecil nan sepele‖, bisa juga yang besar lainnya, yang boleh jadi bertentangan dengan tema revolusi pertentangan kelas, misalnya tema perdamaian. Itupun mulia. Meski orang Lekra akan mengatakan ―berdamai dengan kapitalis adalah bunuh diri‖, kita tak perlu buru-buru membalas ―berdamai dengan kapitalisme memang ada kemungkinan beberapa dari kita terbunuh, tetapi berdamai dengan totaliterisme yang atheis sudah pasti semua kita langsung terbunuh jasmani dan rohani!‖ Keperluan terpenting kita adalah kreativitas. Dengan itulah semua tujuan inti dan terbaik dari revolusi sosial maupun perdamaian dapat terwujud benar-benar lebih pasti dan pasti lebih benar.
    • Tema ―kecil‖, ―sepele‖, bahkan abstrak tak dikenal, semuanya penting dan besar bagi kemanusiaan sejati. Tema kecil sepele, tentang sehelai daun kecil yang lepas dari dahan, setitik embun pagi yang amat gampang sirna, bila digarap dengan penuh cinta akan sangat besar hasilnya bagi peradaban. Gerakan seni budaya Romantik – dari mana Karl Marx justru tumbuh – berangkat dari situ. Dari tengah-tengah kegelisahan para seniman yang merasa gerah dikepung gersangnya industrialisasi yang menggusur keasrian alam negeri mereka. Tema sepele dan abstrak jangan pernah dikira sebagai sekadar mbalelo seniman terhadap mainstream politik ―Revolusi‖, ―Pembangunan‖, ―Keagungan Agama‖. Dan jangan lagi mengira bahwa apa yang dibilang ―l‘art pour l‘art‖ itu ada landasan obyektifnya, walau bisa saja si seniman berucap begitu. Berkarya seni adalah perwujudan etis oleh manusia sebagai makhluk yang merefleksikan kecenderungan-kecenderungan berarah baik dan bajik dari sistema semesta. ―Seni tercipta di ruang illahi,‖ ujar Rabindranath Tagore di India, juga diyakini Li Po, penyair dari pedalaman Tiongkok. Mungkin kata-kata tersebut kedengaran berlebihan, tetapi berkesenian sebagai aktivitas berarah tertentu yang diterima masyarakat dengan nilai baik itu pastilah memiliki hulu terdalam kebaikan serta kebajikan. [] Catatan: [1] Wiratmo Sukito, ―Trisno Sumardjo dan Manifes Kebudayaan‖ (makalah), sebagaimana dikutip dalam Goenawan Mohamad, Peristiwa “Manikebu”: Kesusastraan Indonesia dan Politik di Tahun 1960-an, Refleksi, TEMPO, Mei 1988, hlm.29. [2] Lihat cacatan akhir no.1. [3] Bab 5 manuskrip asli buku yang kemudian terbit sebagai: Benni E. Matindas, Meruntuhkan Benteng Atheisme Modern, Yogyakarta: Andi, 2010. Terjadi kesalahan dalam proses editing buku ini, berkenaan file dalam komputer, sehingga banyak menyimpang dari naskah asli. [4] Di samping kesalahan-kesalahan teori Marx yang lain, yang kurang relevan dibahas dalam diskusi filsafat seni sekitar peristiwa Manikebu ini. Seperti teori upah/nilai surplus Marx yang harus jadi keliru lantaran dibangun di atas teori nilai/harga Adam Smith yang salah kaprah (Benni E.Matindas, Paradigma Baru Politik Ekonomi, Jakarta: Bina Insani, 1998, hlm.220-231).