Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
Mutlaq
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply
Published

 

Published in Education
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
283
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
9
Comments
0
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. NAMA : SHINTA ARI HERDIANA NIM : 1001120553 MATA KULIAH : USHUL FIQH MUTLAQ DAN MUQAYYAD PENGERTIAN MUTLAQ Mutlaq secara bahasa artinya tidak terikat, kebalikan muqayyad. Secara istilah mutlaq adalah lafadz yang mencakup pada jenisnya tetapi tidak mencakup seluruh afrad di dalamnya. Contoh firman Allah berikut ini : )3:‫والَّذِينَ يُظاهِرونَ من نِسائِهم ثُم يعُود ُونَ ِلما قَالُوا فَتَحْ رير رقَبَة من قَبل أَن يَتَماسَّا (المجادلة‬ ُ َ َ َّ ْ ِ َ ْ ِ َ ْ ِ ْ ْ ِ ٍ َ ُ ِ َ َ “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.” Lafadz “raqabah” (hamba sahaya) termasuk lafadz mutlaq yang mencakup semua jenis raqabah(hamba sahaya) tanpa diikat atau dibatasi sesuatu yang lain. Maksudnya bisa mencakup raqabah laki-laki atau perempuan, beriman atau tidak beriman. Jika dilihat dari segi cakupannya, maka lafadz mutlaqadalah sama dengan lafadz ‘am. Namun keduanya tetap memiliki perbedaan yang prinsip, yaitu lafadz‘am mempunyai sifat syumuli (melingkupi) atau kulli (keseluruhan) yang berlaku atas satuan-satuan, sedangkan keumuman dalam lafadz mutlaq bersifat badali (pengganti) dari keseluruhan dan tidak berlaku atas satuansatuan tetapi hanya menggambarkan satuan yang meliputi. Hukum yang datang dari ayat yang berbentuk mutlaq, harus diamalkan berdasarkan kemutlaq-annya, sebagaimana contoh ayat 3 surat al-Mujadalah di atas. Dengan demikian kesimpulan hukumnya adalah bahwa seorang suami yang men-dzihar istrinya kemudian ingin menarik kembali ucapannya, maka wajib memerdekakan hamba sahaya, baik yang beriman ataupun yang tidak beriman. Pengertian Muqayyad Muqayyad secara bahasa artinya sesuatu yang terikat atau yang diikatkan kepada sesuatu. Pengertian secara istilah ialah suatu lafadz yang menunjukkan hakikat sesuatu yang 1
  • 2. terikat dengan suatu seperti sifat. Contohnya ialah lafadz “raqabah mukminah” (hamba sahaya yang beriman) yang terdapat dalam firman Allah : َ َ ِ ُ َ ْ َ َ )33:‫ومن قَتَل مؤْ منًا خطأ ً فَتَحْ رير رقَبة مؤْ منَة (النساء‬ ٍ ِ ُ ٍَ َ ُ ِ “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman”. Kata “raqabah” (hamba sahaya) dalam ayat ini memakai qayid atau ikatan yaitu mukminah. Maka ketentuan hukum dari ayat ini ialah siapa pun yang melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa seseorang tanpa sengaja, maka dikenai denda atau diyat, yaitu harus memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Oleh karena itu, setiap ayat yang datang dalam bentuk muqayyad, maka harus diamalkan berdasarkanqayid yang menyertainya, seperti ayat raqabah di atas. Membawa Hukum Mutlaq kepada Muqayyad Apabila nash hukum datang dengan bentuk mutlaq dan pada sisi yang lain dengan bentukmuqayyad, maka menurut ulama ushul ada empat kaidah di dalamnya, yaitu: 1. Jika sebab dan hukum yang ada dalam mutlaq sama dengan sebab dan hukum yang ada dalammuqayyad. Maka dalam yang mutlaq tadi harus hal ditarik ini hukum atau yang dibawa ditimbulkan kepada hukum oleh ayat ayat yang berbentuk muqayyad. Contoh: a. Ayat mutlaq: Surat al-Maidah ayat 3 tentang darah yang diharamkan, yaitu: )3:‫حرمت علَيكم الميتَةُ والدَّم ولَحْ م الخنزير (المائدة‬ ِ ِِْْ ُ َ ُ َ َْْ ُُْ َ ْ َ ُِ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi...” Ayat ini menerangkan bahwa darah yang diharamkan ialah meliputi semua darah tanpa terkecuali, karena lafadz “dam” (darah) bentuknya mutlaq tidak diikat oleh sifat atau hal-hal lain yang mengikatnya. Adapun sebab ayat ini ialah “dam” (darah) yang di dalamnya mengandung halhal bahaya bagi siapa yang memakannya, sedangkan hukumnya adalah haram. 2
  • 3. b. Ayat Muqayyad: Surat al-An’am ayat 145, dalam masalah yang sama yaitu “dam” (darah) yang diharamkan. ُ َ ْ َّ ِ ُ َ ْ َ ٍ ِ َ )541:‫قُل َل أَجد ُ فِي ما أُوحي إِلَي محرما علَى طاعم يطعمهُ إَل أَن يكونَ ميتَةً أَو دَما مسفُوحا (األنعام‬ ً ْ َ ً ْ َْ َ ً َّ َ ُ َّ َ ِ ِ َ ْ َ “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir”. Lafadz “dam” (darah) dalam ayat di atas berbentuk muqayyad, karena diikuti olehqarinah atau qayid yaitu lafadz “masfuhan” (mengalir). Oleh karena itu darah yang diharamkan menurut ayat ini ialah “dam-an masfuhan” (darah yang mengalir). Sebab dan hukum antara ayat al-An’am ayat 145 ini dengan surat al-Maidah ayat 3 adalah sama yaitu masalah darah yang diharamkan. Berdasarkan kaidah bahwa “Apabila sebab dan hukum yang terdapat dalam ayat yang mutlak sama dengan sebab dan hukum yang terdapat pada ayat yang muqayyad, maka pelaksanaan hukumnya ialah yang mutlak dibawa atau ditarik kepada muqayyad.” Dengan demikian hukum yang terdapat dalam ayat 3 surat alMaidah yakni darah yang diharamkan harus dipahami darah yang mengalir sebagaimana surat al-An’am ayat 145. 2. Jika sebab yang ada dalam mutlaq dan muqayyad sama tetapi hukum keduanya berbeda, maka dalam hal ini yang mutlaq tidak bisa ditarik kepada muqayyad. Contoh: a. Ayat mutlaq : Surat al-Maidah ayat 6 tentang tayammum, yaitu: َ ِْ ُْ )6:‫....فَتَيَمموا صعيدًا طيِبًا فَامسحوا بِوجوهكم وأ َْيدِيكم منهُ....( المائدة‬ َِ ُ َّ َ ُْ ِ ُ ُ ُ َ ْ “Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah...” Lafadz “yad” (tangan) dalam ayat di atas berbentuk mutlaq karena tidak ada lafadz lain yang mengikat lafadz “yad” (tangan). Dengan demikian kesimpulan dari ayat ini ialahkeharusan menyapukan tanah ke muka dan kedua tangan, baik itu hingga pergelangan tangan atau sampai siku, tidak ada masalah. Kecuali jika di 3
  • 4. sana ada dalil lain seperti hadits yang menerangkan tata cara tayammum oleh Nabi yang memberikan contoh mengusap tangan hanya sampai pergelangan tangan. b. Ayat Muqayyad: Surat al-Maidah ayat 6 tentang wudhu’, yaitu: )6:‫يا أَيُّها الَّذِينَ آمنُوا إذَا قُمتُم إلَى الصَلة فَاغسلُوا وجوهكم وأ َْيديكم إلَى المرافق ...(المائدة‬ ِ ْ ْ ِ َ َ َ ِ ِ َ َ ْ ِ ْ ُ َ ِ َ ْ ُ َ ُ ُ ِ ْ ِ َ َّ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku...” Lafadz “yad” (tangan) dalam ayat ini berbentuk muqayyad karena ada lafadz yang mengikatnya yaitu “ilal marafiqi” (sampai dengan siku). Maka berdasarkan ayat tersebut mencuci tangan harus sampai siku. Sebab dari ayat di atas adalah sama dengan ayat mutlaq yang sebelumnya yaitu keharusan bersuci untuk mendirikan shalat, akan tetapi hukumnya berbeda. Ayat mutlaq sebelumnya menerangkan keharusan menyapu dengan tanah, sedang ayat muqayyadmenerangkan keharusan mencuci dengan air. Maka ketentuan hukum yang ada pada ayatmutlaq tidak bisa ditarik kepada yang muqayyad. Artinya, ketentuan menyapu tangan dengan tanah tidak bisa dipahami sampai siku, sebagaimana ketentuan wudhu’ yang mengharuskan membasuh tangan sampai siku. Dengan demikian ayat mutlaq danmuqayyad berjalan sesuai dengan ketentuan hukumnya sendiri-sendiri tidak bisa dijadikan satu. 3. Jika sebab yang ada pada mutlaq dan muqayyad berbeda, tetapi hukum keduanya sama, maka yang mutlaq tidak bisa dipahami dan diamalkan sebagaimana yang muqayyad. Contoh: a. Mutlaq Surat al-Mujadalah ayat 3 tentang kafarah dzihar yang dilakukan seorang suami kepada istrinya. َّ َ )3:‫والذِينَ يُظاهِرونَ من نِسائِهم ثُم يعُود ُونَ ِلما قَالُوا فَتَحْ رير رقَبَة من قَبل أَن يَتَماسَّا ...(المجادلة‬ ُ َ َ َّ ْ ِ َ ْ ِ َ ْ ِ ْ ْ ِ ٍ َ ُ ِ َ “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.” 4
  • 5. Lafadz “raqabah” (hamba sahaya) dalam masalah dzihar ini berbentuk mutlaqkarena tidak ada lafadz yang mengikatnya. Sehingga seorang suami yang sudah terlanjur men-dzihar istrinya dan ingin ditarik ucapannya, maka sebelum mencampurinya harus memerdekan hamba sahaya atau budak, baik yang beriman ataupun yang tidak. b. Muqayyad Surat an-Nisa’ ayat 92 tentang kafarah qatl (pembunuhan) yang tidak sengaja, yaitu : َ َ ِ ُ َ ْ َ َ )39:‫ومن قَتَل مؤْ منًا خطأ ً فَتَحْ رير رقَبة مؤْ منَة (النساء‬ ٍ ِ ُ ٍَ َ ُ ِ “dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.” Lafadz “raqabah” (hamba sahaya) dalam ayat ini berbentuk muqayyad dengan diikat lafadz “mukminah” (beriman), maka hukumnya ialah keharusan untuk memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Karena sebabnya berbeda, satu masalah kafarah dzihar dan yang lain kafarah qatl, walaupun hukumnya sama-sama memerdekakan hamba sahaya, namun tetap diamalkan sesuai dengan ketentuannya masing-masing. Ayat mutlaq berjalan berdasarkan kemutlaq-annya, sedang yangmuqayyad berjalan berdasarkan kemuqayyadannya. 4. Jika sebab dan hukum yang ada pada mutlaq berbeda dengan sebab dan hukum yang ada padamuqayyad, maka yang mutlak tidak bisa dipahami dan diamalkan sebagaimana yangmuqayyad. Contoh: a. Mutlaq Masalah had pencurian yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 38 yang berbunyi : َ ْ َّ )33:‫والسَّارق والسَّارقَةُ فَاقطعُوا أ َْيديَهما جزَ اء بما كسبَا نكَاَل منَ اّللِ ( المائدة‬ ِ ً َ َ َ َِ ً َ َُ ِ ِ َ ُ ِ َ “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” Lafadz “yad” dalam ayat di atas berbentuk mutlaq, yakni keharusan memotong tangan tanpa diberi batasan sampai daerah mana dari tangan yang harus dipotong. 5
  • 6. b. Muqayyad Masalah wudhu’ yang dijelaskan dalam surat al-Maidah ayat 6, yaitu: َ َّ )6:‫يَا أَيُّها الَّذينَ آمنُوا إِذَا قُمتُم إِلَى الصَلةِ فَاغسلُوا وجوهكم وأ َْيديَكم إِلَى المرافِق (المائدة‬ ِ َ ُْ ِ َ َُْ ُ ُ ِ ْ ْ ْ َ ِ َ َْ “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku.” Lafadz “yad” dalam ayat wudhu’ ini berbentuk muqayyad karena diikat dengan lafadz “ilal marafiqi” (sampai dengan siku). Ketentuannya hukumnya adalah kewajiban mencuci tangan sampai siku. Dari dua ayat di atas terdapat lafadz yang sama yaitu lafadz “yad”. Ayat pertama berbentukmutlaq, sedangkan yang kedua berbentuk muqayyad. Keduanya mempunyai sebab dan hukum yang berbeda. Yang mutlaq berkenaan dengan pencurian yang hukumannya harus potong tangan. Sedangkan yang muqayyad berkenaan masalah wudhu’ yang mengharuskan membasuh tangan sampai siku. Dari sini dapat disimpulkan bahwa yang mutlaq tidak bisa dipahami menurut yang muqayyad. 6