PROPOSAL UNTUK DOMPET DHUAFA                             Dari Institute Kesehatan KeluargaKonstitusi tertinggi bangsa Indo...
Manage care concept is a variety of techniques for influencing the clinical behavior of healthcare provider and/or patient...
Betapa efektifnya sebuah institusi RS, yang melayani 14 pasien perharinya. Mereka sangatbertanggung jawab terhadap pasienn...
4. Pelayanan Rujukan Bedah dan Operasi   5. Pelayanan Rujukan Kebidanan dan Kandungan   6. Pelayanan Rujukan Kesehatan Ana...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Proposal untuk dompet dhuafa

1,053

Published on

Inilah sasaran untuk mewujudkan mimpi Indonesia Sehat itu, Sistem Kesehatan Personal Terstruktur (SKPT). Pembenahan sistem harus dilakukan mulai dari unit pelayanan kesehatan personal di Puskesmas untuk pemerintah dan Medical Center untuk swasta. Swasta perlu mendapat perhatian, karena sebenarnya mereka-lah lini terdepan upaya kesehatan selama ini.

Published in: Health & Medicine
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,053
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Proposal untuk dompet dhuafa"

  1. 1. PROPOSAL UNTUK DOMPET DHUAFA Dari Institute Kesehatan KeluargaKonstitusi tertinggi bangsa Indonesia yakni UUD 1945 secara gamblang menyatakan bahwa“…setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatlingkungan hidup yang layak dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan …”. Dandisebutkan pula bahwa dalam rangka menopang hak tersebut “…negara mengembangkansistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dantidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan…”.Dua amanah konsitusi tersebut memberikan kepastian pijakan untuk dua sistem besar dalambidang kesehatan, yakni pelayanan dan pembiayaan (jaminan sosial). Ceritera yang dicita-citakan Deklarasi Alma Ata World Health Organization (WHO): Health For All in 2000 ternyatadianggap gagal, karena kesalahan dalam pendekatan pelayanan, pun pendekatan pembiayaandalam hal ini biaya berobat gratis.Berdasarkan WHO-WONCA working paper (November 1994; Ontario, Canada) dengan judul“Making medical practice and education relevant to people’s needs: the contribution of familydoctor”, seharusnya dilakukan perubahan orientasi pelayanan. Dari pelayanan “komunitaskonvensional”, dalam hal ini contohnya puskesmas atau medical center lainnya, ke pelayananpraktik kesehatan keluarga atau pendekatan pra-upaya kesehatan. Pendekatan pra-upaya lebihcenderung menitikberatkan manajemen “care” daripada “cure”.Seperti yang kita semua pahami bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan hanya akantercapai manakalapenduduk sadar, mau dan mampu untuk hidup sehat. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi,tentunya melalui proses yang memungkinkan mereka dapat hidup dalam budaya sehat, baikadat sehat, tradisi sehat maupun kebiasaan sehat, serta dalam lingkungan yang juga sama-samasehat, dan satu lagi yag penting penduduk pun memiliki kemampuan untuk menjangkaupelayanan kesehatan yang bermutu.Berdasarkan World Bank: Investing in Indonesia’s Health, Health Expenditure Review, 2008,tertulis… “Indonesia has made major improvements over the three decades in its healthsystem, but is struggling to achieve important health outcomes, especially among the poor” dan“….the performance of the current health system is inadequate for achieving today’s and futurehealth outcomes…”Dalam Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang sempat masuk dalam kontroversiMahkamah Konstitusi, menyatakan bahwa setiap individu akan dijamin pembiayaannya untukmemelihara kesehatan.Dengan sistem asuransi kesehatan (sosial), yang berbasis pendekatan pra-upaya inilah,kesehatan individu akan selalu dijaga agar tetap sehat dan diobati manakala sakit. Pendekatanini sekaligus memfasilitasi terjadinya proses intervensi tindakan prevensi dan penyehatanlingkungan individual. Di US, konsep ini dinamakan MANAGE CARE.
  2. 2. Manage care concept is a variety of techniques for influencing the clinical behavior of healthcare provider and/or patients, often by integrating the payment and delivery health care. Jadibiaya berobat gratis bukanlah manajemen “care” yang baik seperti layaknya program raskinatau program pemadam kebakaran. Begitu pula program asuransi-asuransi atau PJPK yangsekarang marak digalakkan. Apabila keinginan mengasuransikan seluruh rakyat dilakukan tanpapendekatan manage care concept, “bom waktu” kegagalan pembiayaan kesehatan hanyamenunggu waktunya saja untuk “meledak”.Manage care concept ideal haruslah menggunakan pendekatan paradigma sehat terutama dilini terdepan layanan kesehatan. Paradigma sehat berarti menjaga rakyat sehat agar tetapsehat. Namun tetap, kita tidak boleh melupakan pengobatan bagi yang sakit atau namanya”paradigm sakit”.Jangan sampai rakyat yang punya kebiasaan merokok, tetap merokok semaunya, dan jugajangan sampai terjadi jawaban ”...toh kalau sakit akibat merokoknya nanti akan diobatigratis….tis”.Inilah sasaran untuk mewujudkan mimpi Indonesia Sehat itu, Sistem Kesehatan PersonalTerstruktur (SKPT). Pembenahan sistem harus dilakukan mulai dari unit pelayanan kesehatanpersonal di Puskesmas untuk pemerintah dan Medical Center untuk swasta. Swasta perlumendapat perhatian, karena sebenarnya mereka-lah lini terdepan upaya kesehatan selama ini.Hitungan konkrit untuk pelaksanaan SKPT adalah diperbanyaknya dokter keluarga, “dokterumum” yang ditraining khusus bersama timnya (perawat keluarga, bidan keluarga, pengobattradisional keluarga dll. Mereka dipermudah tidak hanya dalam urusan perizinan, namun jugapermodalan dan pelatihan.Satu dokter keluarga akan menjadi “penjaga kesehatan” untuk 2.500 penduduk. Dia dan timnyaakan bekerja jauh di depan sebelum penduduknya jatuh sakit, melalui berbagai kegiatan pra-upaya, seperti melakukan medical check up rutin, melakukan edukasi individual, dan secaraperiodik melakukan kunjungan ke rumah.Apabila SKPT sudah berjalan baik, kasus-kasus spesialistik dapat terdeteksi sejak dini. Mestinya,jumlah penduduk yang dirujuk setiap bulannya ke rumah sakit atau pelayanan spesialistik tidaklebih dari 8% (dari rata-rata 2.500 penduduk yang sakit dalam satu bulan. Dan bisa mengontrolangka kesakitan yang normalnya sekitar 10%. Artinya dalam satu bulan “hanya” 250 orang sajayang sakit dari 2.500 penduduk yang dijaga kesehatannya.Jadi dari 250 penduduk yang sakit, mestinya yang dirujuk ke rumah sakit tidak boleh lebih dari8%, yaitu sekitar 20 orang sakit saja. Inilah hebatnya SKPT. Bila penduduk Jakarta sekitar 10juta jiwa, maka yang berobat ke RS sebulannya hanya 80 ribu pasien. Bila dibagi per rumah sakitjadi sekitar 350 pasien perbulan untuk rumah sakit di Jakarta yang berjumlah sekitar 200-anrumah sakit.
  3. 3. Betapa efektifnya sebuah institusi RS, yang melayani 14 pasien perharinya. Mereka sangatbertanggung jawab terhadap pasiennya. Dan untuk penduduk yang tidak sakit, bisamemanfaatkan rumah sakit menjadi rumah sehat, tempat untuk melakukan adat sehat, tradisisehat dan kebiasaan sehat. Sehingga capaian penduduk yang sadar, mau dan mampu untukhidup sehat berhasil melalui “pintu masuk” pra-upaya kesehatan keluarga.Untuk kita di Rumah Sehat Terpadu, langkah pertama adalah merekrut dokter keluarga denganmenempatkan atau memanfaatkan dokter umum di sekitar lingkungan RST atau di dalam RSTitu sendiri. Bila target adalah Desa Jampang, Kecamatan Kemang dengan jumlah penduduk2000 jiwa maka cukup dibutuhkan 1 dokter atau perawat atau bidan keluarga yang berputar, 1dokter di rawat jalan (sebagai penjaga gawang rumah sakit) dan sarana prasarana pendukung,seperti kendaraan dan alat yang bisa mobile.Jadi nantinya, sangat sedikit pasien yang berada di rawat jalan, yakni sehari 10 orang ke dokterumum dan Cuma 1 orang ke dokter spesialis. Pemanfaatan dana Zakat, Infaq maupunShodaqoh (ZIS) ditambah CSR bisa lebih banyak kearah pra-upaya, seperti PemeriksaanKesehatan Berkala untuk seluruh penduduk Jampang (untuk lab dibantu oleh PARAHITA), bisadilakukan onsite maupun di RST.Bila ternyata tidak sakit, masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas wakaf di RST untuk melakukankebiasaan sehat, seperti olahraga, mengunjungi teater zikr, dan memanfaatkan produk herbalRST. Nah permasalahannya kapan mereka bisa mandiri sebagai penduduk yang sadar, mau danmampu sebagaimana yang dicita-citakan Indonesia Sehat.Inilah gunanya dana ZIS. Penduduk Desa Jampang yang termasuk Keluarga Miskin (Gakin) harusmengikuti sejenis asuransi yang dikelola oleh RST, dalam hal ini Institut Kesehatan Keluargasebagai badan pelaksana di bawah RST. Asuransi RST bisa diikuti secara sukarela oleh seluruhmasyarakat Desa Jampang, namun diharapkan seluruhnya ikut. Karena yang mengikuti akanberhak mendapatkan fasilitas wakaf RST. Bila warga Jampang yang kaya sakit, dia bisa berobatdan dirawat di RST, sesuai dengan fasilitas RST sebagai rumah sakit tanpa kelas, semua samatidak ada perbedaan derajat.Adapun premi yang harus dibayarkan oleh peserta asuransi, adalah pembayaran premiterjangkau sesuai kondisi biaya asuransi sekarang. Yang kaya, premi dibayar oleh merekasendiri baik individu atau atas nama perusahaan atau jamkesda, sedangkan yang miskindibayarkan oleh dompet dhuafa. Uang yang masuk merupakan Dana Operasional RST yangdikelola secara professional oleh Institut Kesehatan Keluarga.Fasilitas tanpa kelas dari Asuransi RST ini, bisa diperoleh hanya di RST Parung, yakni untukpasien berupa: 1. Pelayanan Gawat Darurat 2. Pelayanan Kesehatan Keluarga 3. Pelayanan Rujukan Penyakit Dalam
  4. 4. 4. Pelayanan Rujukan Bedah dan Operasi 5. Pelayanan Rujukan Kebidanan dan Kandungan 6. Pelayanan Rujukan Kesehatan Anak 7. Pelayanan Penunjang Medik 8. Pelayanan Rawat Inap 9. Pelayanan Perawatan Intensif, dan 10. Pelayanan Pengobatan Tradisional dan AlternatifSedangakan yang tidak sakit,masyarakat Jampang bisa menggunakan: 1. Fasilitas Olahraga 2. Fasilitas Akupuntur 3. Fasilitas Bekam dan lain-lainSehingga konstitusi tertinggi bangsa Indonesia yakni UUD 1945 secara gamblang menyatakanbahwa “…setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatlingkungan hidup yang layak dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan …” akansegera terwujud. Amin

×