Your SlideShare is downloading. ×
  • Like

Loading…

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Fisiologi sistem pencernaan

  • 15,219 views
Published

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
  • tolong jelaskan bagaimana hubungan sistem pencernaan terhadap konsentrasi seseorang... mohon dijawab secepatnya
    Are you sure you want to
    Your message goes here
No Downloads

Views

Total Views
15,219
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
467
Comments
1
Likes
4

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN ( DIGESTIVE SYSTEM ) Dr. Razi S., MS
  • 2.
    • Pada sistem pencernaan ini selain proses pencernaan dan proses penyerapan, ada berbagai mekanisme lain yang berperan untuk melunakkan makanan, mendorongnya sepanjang saluran cerna, mencampurnya dengan empedu dari hati dan dengan enzim-enzim pencernaan
    • Sistem gastrointestinal merupakan jalan masuknya makanan, vitamin, mineral dan cairan ke dalam tubuh
    • Bahan makanan diuraikan menjadi unit-unit yang dapat diserap, menembus mukosa kemudian masuk ke pembuluh limfe dan pembuluh darah
  • 3.  
  • 4.  
  • 5. PERISTALSIS
    • Jawaban refleks karena teregangnya dinding saluran cerna oleh isi lumen
    • Timbul kontraksi sirkularis di belakang rangsang dan relaksasi didepannya
    • Bergerak dalam arah oral ke kaudal  mendorong isi lumen dengan kecepatan 2 – 25 cm/detik
    • Dapat meningkat atau menurun oleh persarafan ekstrinsik, tetapi kejadiannya tidak tergantung persarafan ekstrinsik
  • 6.  
  • 7.
    • Bila ada regangan lokal maka terjadi pelepasan serotonin  merangsang pleksus mienterikus, sehingga timbul 2 keadaaan yang bersamaan :
    • - neuron kolinergik yang berjalan retrograd
    •  mengaktifkan neuron yang melepaskan
    • zat P dan asetilkolin  terjadi kontraksi
    • otot polos
    • - neuron kolinergik yang berjalan antegrad
    •  mengaktifkan neuron yang melepaskan
    • NO, VIP dan ATP  terjadi relaksasi otot
    • polos
  • 8.
    • Kecuali di esofagus dan bagian proksimal lambung, otot polos gastrointestinal mempunyai irama potensial membran yang spontan antara -65 mV dan -45 mV  disebut Irama Listrik Dasar = Basic Electrical Rhythm (=BER), yang dicetuskan oleh sel interstisial Cajal (Sel Pacu Mesenkim Stelata)
    • BER jarang menimbulkan kontraksi tetapi dapat meningkatkan tegangan otot
    • BER berperan dalam mengkoordinasi peristalsis dan aktivitas lainnya
    • Setelah vagotomi dan transeksi dinding lambung  peristalsis dinding lambung menjadi tidak teratur
  • 9. Persarafan Gastrointestinal
    • Intrinsik  sistem saraf enterik
    • a) Pleksus mienterikus (= Pleksus Auerbach)
    •  mempersarafi lapisan otot polos
    • longitudinal dan sirkularis
    • b) Pleksus submukosa (= Pleksus Meissner)
    •  mempersarafi epitel kelenjar, sel
    • endokrin intestinal dan pembuluh darah
    • submukosa
    •  neurotransmiter saraf intrinsik : asetil kolin,
    • norepinefrin, serotonin, GABA, ATP, NO, CO,
    • berbagai peptida dan polipeptida
  • 10.
    • Ekstrinsik  sistem saraf otonom
    • a) parasimpatis :
    • - kolinergik
    • - meningkatkan kegiatan otot polos usus
    • - melalui eferen vagal dan eferen sakral
    • - berakhir di pleksus mienterikus dan submukosa
    • b) simpatis :
    • - menurunkan kegiatan otot polos usus sehingga sfingter
    • berkontraksi
    • - serat postganglion banyak berakhir pada neuron
    • postganglion kolinergik  norepinefrin menghambat
    • sekresi asetilkolin dengan cara menggiatkan reseptor
    • presinaptik alfa2
    • - ada yang berakhir langsung pada sel otot polos
    • - mempersarafi pembuluh darah  vasokonstriksi (juga
    • ada persarafan intrinsik dengan VIP dan NO sebagai
    • transmiter)
  • 11. Mulut dan Esofagus
    • Mastikasi
    • = Pengunyahan
    • - memecahkan partikel makanan besar dan
    • mencampur makanan dengan sekret
    • kelenjar saliva  merupakan aksi
    • pembasahan dan homogenisasi
    • - jumlah optimal 20-25 kali, tergantung jenis
    • makanan
  • 12.
    • Saliva
    • - ada 3 pasang kelenjar saliva :
    • * parotis  encer, 20% dari total saliva
    • * submandibularis (submaksilaris)  agak kental, 70% dari
    • total saliva
    • * sublingualis  kental, 5% dari total saliva
    • - disekresi sekitar 1500 mL/hari, dengan pH 7,0-8,0,
    • mengandung lipase lingual dan alfa –amilase
    • - defisiensi saliva  xerostomia
    • - Fungsi saliva :
    • * memudahkan penelanan
    • * mempertahankan mulut tetap lembab
    • * pelarut untuk molekul-molekul yang merangsang indera
    • pengecap
    • * membantu proses bicara dengan memudahkan gerakan
    • bibir dan lidah
    • * mempertahankan mulut dan gigi tetap bersih
  • 13.
    • - aldosteron meningkatkan konsentrasi K+
    • dan menurunkan konsentrasi Na+ saliva
    • - sekresi saliva meningkat pada :
    • * rangsangan parasimpatis  disertai
    • vasodilatasi pada kelenjar karena
    • pelepasan VIP  dihambat oleh atropin
    • dan penghambat kolinergik
    • * makanan dalam mulut  refleks sekresi
    • saliva
    • * penglihatan, bau makanan, pikiran tentang
    • makanan  pengeluaran saliva
  • 14. Menelan ( deglutition )
    • Suatu respons refleks
    • Diawali gerakan volunter mengumpulkan isi mulut di lidah dan mendorongnya ke kebelakang menuju farings  mencetuskan serangkaian gelombang kontraksi involunter pada otot-otot farings yang mendorong makanan ke dalam esofagus
    • Aferen : - N.Trigeminus, N. Glosofaringeus, N.Vagus
    • Integrasi : - Nukleus traktus solitarius
    • - Nukleus ambigus
    • Eferen : - N.Trigeminus, N.Fasialis, N.Hipoglosus
    •  ke otot-otot faring dan lidah
    • Inhibisi pernafasan dan penutupan glotis merupakan bagian dari respons refleks ini
    • Menelan sulit bila mulut terbuka
    • Segmen di batas farings-esofagus melemas secara refleks waktu menelan
  • 15. Sfingter Esofagus Bawah (Lower Esophageal Sphincter = LES)
    • Secara toniuk aktif, waktu menelan melemas
    • Aktivitas tonik LES antara waktu makan  mencegah refluks isi lambung ke esofagus
    • Terdiri dari 3 komponen :
    • * Otot polos esofagus  sfingter intrinsik
    • * Serat bagian krural diafragma dan otot rangka  sfingter
    • ekstrinsik
    • * Serat oblik dinding lambung
    • Pelepasan asetilkolin N.Vagus menyebabkan sfingter intrinsik kontraksi, sedang bila ada pelepasan NO dan VIP  relaksasi
    • Kontraksi sfingter ekstrinsik dipengaruhi N.Frenikus, diselaraskan dengan pernafasan dan otot dada serta otot abdomen
    • Gastrin dosis besar menyebabkan tonus LES meningkat, bila dosis kecil  tak terjadi
  • 16. Gangguan motorik esofagus
    • AKALASIA
    • - suatu keadaan terkumpulnya banyak makanan dalam
    • esofaagus sehingga esofagus menjadi sangat melebar
    • - pleksus mientrikus esofagus tidak ada, juga ada
    • gangguan pelepasan NO dan VIP  tonus istirahat LES
    • meningkat dan relaksasi sfingter tak sempurna sewaktu
    • menelan
    • - pengobatan : * dilatasi pneumatik sfingter
    • * miotomi otot esofagus
    • * penghambatan pelepasan asetilkolin
    • * penyuntikan toksin botulinum
    • INKOMPETENSI LES
    • - didapatkan refluks isi lambung  gastro-esophageal
    • reflux disease
    • - ada kelemahan pada sfingter intrinsik atau ekstrinsik atau
    • keduanya
  • 17. Aerofagia dan gas usus
    • Udara tertelan waktu makan-minum  aerofagia
    • Udara yang tertelan :
    • - sebagian keluar kembali  sendawa = ructus
    • - sebagian diserap
    • - sebagian besar menuju kolon
    • Di kolon :
    • - oksigen diserap
    • - ditambah dengan : hidrogen, hidrogen sulfida,
    • karbon dioksida, metana (dibentuk oleh bakteri
    • kolon dari karbohidrat dan zat lain)
    • - dikeluarkan sebagai flatus (kentut)  baunya sebagian
    • besar disebabkan oleh sulfida
    • Gas dalam saluran cerna dapat menyebabkan :
    • - mules
    • - borborigmi (suara keroncongan)
    • - rasa tak enak diabdomen
  • 18. Lambung (gaster)
    • Mukosa mengandung banyak kelenjar dalam
    • Pada pilorus dan kardia  sekresi mukus
    • Pada korpus dan fundus ada :
    • - sel parietal (oksintik)  mensekresi HCl dan
    • faktor intrinsik
    • - Chief cell (sel zimogen, sel peptik) 
    • mensekresi pepsinogen
    • Sekresi lambung :
    • - liur lambung sekitar 2500 mL/hari
    • - mengandung : HCl, mukus, pepsin, lipase, faktor
    • intrinsik, kation (Na, K, Mg), anion (HPO 4 2- ,
    • SO 4 2- )
  • 19.  
  • 20.
    • Pengosongan lambung
    • - makanan masuk lambung  ada relaksasi reseptif  fundus dan
    • korpus melemas
    • - peristaltik akan mendorong makanan ke pilorus
    • - kontraksi antrum diikuti oleh kontraksi berurutan daerah
    • pilorus dan duodenum
    • - kontraksi segmen pilorus lebih lama dari kontraksi duodenum sehingga
    • mencegah regurgitasi  oleh rangsangan CCK dan sekretin
    • Pengaturan sekresi lambung
    • - pengaruh sefalik
    •  diinduksi aktivitas SSP melalui N.Vagus
    •  adanya makanan dalam mulut
    •  respons emosi
    • - pengaruh lambung  respons lokal dan respons terhadap gastrin
    • - pengaruh usus  efek umpan balik hormonal dan refleks pada sekresi
    • lambung yang dicetuskan dari mukosa usus halus  refleks
    • enterogastrik
  • 21.  
  • 22.  
  • 23. USUS HALUS
    • Terdiri dari : duodenum, jejunum dan ileum, berakhir di katup ileosekum
    • Panjang sekitar 285 cm
    • Mukosa mengandung : nodulus limfatik soliter dan nodulus limfatik agregat (bercak Peyer)
    • Didapatkan kelenjar usus tubular sederhana (kriptus Lieberkuhn) dan di duodenum ada kelenjar Brunner
    • Disepanjang usus halus ada tonjolan berbentuk jari yang panjangnya 0,5-1 cm yang disebut vilus. Pada vilus ujung bebasnya ada mikrovili. Mikrovili dan glikokaliks  brush border. Adanya hal tersebut menyebabkan permukaan absorbtif usus bertambah 600 X
    • Sepanjang usus halus disekresi musin  mengalami hidrasi dan membentuk gel  mukus
  • 24.
    • Motilitas usus
    • - ada 3 jenis :
    • * peristalsis
    • * kontraksi segmentasi  kimus maju
    • mundur
    • * kontraksi tonik  relatif lebih lama,
    • mengisolasi satu segmen usus dengan
    • segmen lain
    • - Bila ada obstruksi  terjadi peristaltic rush
  • 25.  
  • 26. Kolon
    • Lapisan otot eksternalnya berkumpul menjadi 3 pita longitudinal  taenia koli  lebih pendek dari bagian lain sehingga dinding kolon membentuk kantong-kantong yang menonjol keluar diantara taenia  dinamakan haustra
    • Tidak dijumpai vili
    • Motilitas dan sekresi
    • - bila makanan meninggalkan lambung, maka sekum akan
    • melemas, sehingga terjadi peningkatan peningkatan
    • pemindahan kimus melalui katup ileosekum  dinamakan
    • refleks gastroileum
    • - jenis kontraksi :
    • * peristaltik
    • * kontraksi segmentasi
    • * kontraksi kerja massa  mendorong isi kolon dari satu
    • bagian ke bagian lain sampai ke rektum
  • 27.
    • Penyerapan
    •  Na+ secara aktif diangkut keluar  air
    • mengikuti gradien osmotik
    •  ada sekresi K + dan HCO 3 – ke dalam kolon
    • Bakteri usus :
    • - di kolon dalam jumlah besar
    • - antara lain Escherichia Coli, Enterobacter
    • aerogenes, Bacteriodes fragilis
    • - sebagian mensintesa : Vit K, B kompleks
    • asam folat , pigmen (dari pigmen empedu,
    • yang menyebabkan tinja berwarna coklat)
  • 28.  
  • 29.  
  • 30. Defekasi
    • Peregangan rektum oleh feses  menyebabkan terjadinya kontraksi refleks otot rektum  sfingter melemas
    • Ada 2 macam sfingter ani :
    • - sfingter ani internus :
    • * bersifat involunter
    • * simpatis bersifat eksitasi, parasimpatis bersifat inhibisi
    • - sfingter ani eksternus :
    • * suatu otot rangka
    • * dipersarafi oleh N.Pudendus
    • * Dipertahankan dalam keadaan kontraksi tonik
    • Defekasi normal : 1 – 3 kali sehari  bila susah defekasi  konstipasi  bila > 3 X sehari  diare
  • 31.  
  • 32. PENGATURAN SENTRAL FUNGSI VISERA
    • 1. MEDULLA OBLONGATA
    • Ada pusat-pusat yang vital seperti mengatur refleks otonom untuk peredaran darah, jantung dan paru  bila rusak, fatal untuk tubuh
    • Ada pusat untuk refleks otonom lain seperti : menelan, batuk, bersin, muntah.
    • Muntah adalah contoh cara integrasi refleks viseral di medulla oblongata  dimulai dari salivasi dan mual, kemudian terjadi peristaltik terbalik yang mengeluarkan isi usus halus bagian atas ke dalam lambung. Glotis menutup untuk mencegah aspirasi ke dalam trachea. Pernafasan tertahan pada tengah-tengah inspirasi, otot-otot dinding perut berkontraksi sehingga tekanan intra abdomen meningkat, bila sfingter esofagus bawah dan esofagus relaksasi maka isi lambung terdorong keluar
    • Pusat muntah ada di formatio reticularis di medulla oblongata  terdiri dari beragam kelompok neuron yang tersebar dan mengendalikan komponen-komponen yang berbeda.Jalur aferen ke medulla oblongata melalui saraf simpatis dan vagus, juga melalui diensefalon dan sistem limbik.
    • Di medulla oblongata ada sel-sel kemoreseptor yang dapat memicu muntah bila dirangsang oleh zat kimia tertentu dalam darah  terletak di area postrema  ada reseptor dopamin D2 dan reseptor 5-HT3 (serotonin)  antagonisnya merupakan zat antiemetik yang efektif
  • 33.
    • 2. Hipotalamus
    • Terdapat hubungan saraf antara hipotalamus dan hipofise, dan ada hubungan vaskuler dengan lobus anterior hipofise  mengatur sekresi hormon-hormon hipofise
    • Jaras aferen dan eferen hipotalamus berhubungan dengan sistem limbik dan nukleus di otak tengah, pons dan otak belakang
    • Perangsangan hipotalamus menimbulkan respons otonom
    • Irama sirkadian dikendalikan oleh nukleus suprakiasmatik di hipotalamus
    • Pada hipotalamus ada pusat lapar dan pusat kenyang
    • Pusat lapar di bagian lateral, di dasar nukleus berkas otak depan medial pada pertemuannya serat palidohipotalamik
    • Pusat kenyang di bagian medial, di nukleus ventromedial, perangsangannya menyebabkan berhenti makan, berfungsi menghambat pusat lapar
    • Neuropeptida Y, bila disuntikkan ke hipotalamus akan meningkatkan masukan makanan, zat penghambatnya akan menurunkan masukan makanan.Polipeptida lain yang meningkatkan masukan makanan : Oreksin A, Oreksin B, Hormon Melanin Concentrating. Yang menurunkan masukan makanan : Pro-opiomelanokortin (POMC), Cocaine and Amphetamine Regulated Trancript (CART), Corticotropin Releasing Hormon (CRH), Amfetamin, Serotonin
  • 34.
    • Ada 4 hipotesis tentang mekanisme aferen yang terlibat dalam pengaturan masukan makanan :
    • 1. Hipotesis lipostatik
    •  jaringan adiposa menghasilkan sinyal humoral yang
    • sebanding dengan jumlah lemak
    •  bekerja pada hipotalamus untuk menekan
    • masukan makanan dan meningkatkan
    • pengeluaran energi
    •  sel-sel lemak menghasilkan leptin (suatu protein) yang
    • bekerja sebagai umpan balik untuk besarnya
    • simpanan lemak tubuh
    • 2. Hipotesis peptida usus
    •  makanan di traktus gastrointestinal menyebabkan
    • pelepasan satu/lebih polipeptida yang bekerja pada
    • hipotalamus untuk menghambat masukan makanan
  • 35.
    • 3. Hipotesis glukostatik
    •  penggunaan glukosa di hipotalamus
    • menghasilkan sensasi kenyang
    •  bila pemakaian glukosa di pusat kenyang
    • rendah, maka selisih glukosa arterio-venosa
    • rendah, sehingga kegiatan se l-sel di pusat
    • kenyang menurun, pusat lapar tak dihambat
    • dan menjadi terasa lapar
    •  Bila pemakaian glukosa oleh sel-sel tinggi,
    • maka pusat lapar dihambat, sehingga terasa
    • kenyang
    •  hipoglikemi merupakan suatu rangsang untuk nafsu
    • makan
    •  pada diabetes melitus, glukosa darah tinggi tetapi
    • pemakaian oleh sel rendah, dimana hal ini
    • menimbulkan nafsu makan (polifagia)
  • 36.
    • 4. Hipotesis termostatik
    •  turunnya suhu tubuh di bawah titik tertentu
    • akan merangsang nafsu makan dan naiknya
    • suhu tubuh di atas titik tersebut akan
    • menghambat nafsu makan
    • 5. Faktor-faktor lain :
    •  cuaca : masukan makanan meningkat pada
    • cuaca dingin dan menurun pada cuaca panas
    •  peregangan traktus gastrointestinal akan
    • menghambat nafsu makan
    •  kontraksi lambung yang kosong (kontraksi lapar)
    • akan merangsang nafsu makan
    •  penglihatan dan penciuman dapat
    • mempengaruhi masukan makanan
  • 37.
    • Haus
    •  minum diatur oleh osmolitas plasma dan
    • volume cairan ekstraseluler (CES)
    •  ambilan cairan meningkat bila : tekanan
    • osmotik plasma efektif meningkat, volume CES
    • berkurang, faktor-faktor psikologis
    •  osmolalitas bekerja melalui osmoreseptor yang
    • terletak di hipotalamus anterior
    •  menurunnya volume CES merangsang rasa
    • haus melalui jalur lain yang terpisah, sebagian
    • melalui sistem renin-angiotensin, dimana
    • angiotensin II bekerja pada organ subfornis
    • pada diensefalon untuk membangkitkan area-
    • area saraf yang berkaitan dengan haus
  • 38. Fungsi hati
    • Pembentukan dan sekresi empedu
    • Metabolisme nutrien dan vitamin
    • Inaktivasi beberapa zat seperti : toksin, steroid, hormon lain
    • Sintesis protein plasma seperti : protein pengikat, albumin, faktor pembekuan
    • Imunitas  oleh sel Kupffer
  • 39.  
  • 40. Sirkulasi splanchnic
    • Darah dari usus, pankreas, limpa  vena porta  hati  vena hepatika  vena cava inferior
    • Visera dan hati menerima sekitar 30% darah dari curah jantung
  • 41.
    • karbohidrat lipid protein
    • Mulut: pencernaan mekanik & cairan ludah (enzim saliva)
    • poli/oligo/disakarida lipid prot & polipeptida
    • Lambung: enzim pepsin & lipase; asam lambung (HCl)
    • poli/oligo/disakarida lipid/trigliserida prot & polipeptida
    • Usus halus: cairan pankreas (tripsin, kimotripsin, karboksipeptidase, amilase, lipase, ribonuklease, deoksiribonuklease, kolesterol esterase); cairan empedu/hati; enzim kelenjar usus (aminopeptidase, dipeptidase, sukrase, mltase, laktase, fosfatase, glukosidase); bakteri usus halus
    • monosakarida gliserol,as.lemak asam amino (gluk,frukt,galaktosa) as.fosfat
  • 42. Pencernaan karbohidrat
    • Dicerna oleh alfa-amilase saliva dan pankreas (alfa-dekstrin, maltosa dan maltriosa)
    • Oligosakaridase terdapat di membran mikrovili usus halus
    •  - alfa-dekstrinase = isomaltase
    • - maltase yang merubah maltosa menjadi
    • glukosa dan glukosa
    • - sukrase yang merubah sukrosa menjadi
    • glukosa dan fruktosa
    • - laktase yang merubah laktosa menjadi
    • glukosa dan galaktosa
    • - trihalase yang merubah trehalosa menjadi
    • glukosa dan glukosa
  • 43.
    • Defisiensi oligosakaridase  diare,kembung, flatulens
    • Laktase  tinggi waktu lahir dan menurun pada anak-anak dan dewasa
    • Penyerapan :
    • - diserap melalui dinding usus halus, semuanya
    • diserap sebelum mencapai ujung ileum  dari sel
    • mukosa  kapiler  vena porta
    • - Glukosa dan Na + menggunakan kotransporter
    • yang sama (=simport) yaitu Sodium Dependent
    • Glucose Transporter (SGLT = Kotransporter
    • Glukosa-Na + )
    • - Konsentrasi Na + tinggi di lumen usus halus 
    • mempermudah influks glukosa ke dalam sel epitel,
    • bila rendah akan menghambat influks tersebut
  • 44.
    • - Glukosa dan Na + bergerak bersama  di dalam
    • sel glukosa di lepas, Na + masuk ke ruang
    • interseluler, glukosa diangkut oleh Glut2 ke
    • interstisium lalu masuk ke kapiler.
    • - Mekanisme transport galaktosa seperti
    • mekanisme transport glukosa.
    • - Fruktosa diserap dengan difusi fasilitasi dari
    • lumen usus ke enterosit melalui Glut5 dan ke
    • interstisium melalui Glut2  sebagian fruktosa
    • diubah menjadi glukosa di dalam sel mukosa
    • - Pentosa diserap dengan difusi sederhana
    • - Insulin sedikit berpengaruh pada transport
    • glukosa
    • - Bila kotransporter glukosa-Na + cacat sejak lahir terjadi
    • malabsorpsi glukosa/galaktosa  diare hebat yang sering
    • menyebabkan kematian
  • 45. Pencernaan protein
    • Di lambung protein dipecah oleh pepsin menjadi polipeptida
    • Prekursor inaktif (proenzim) pepsin dinamakan pepsinogen dan diaktifkan oleh asam lambung (HCl lambung). Ada 2 kelompok pepsinogen :
    • - pepsinogen I  didaerah yang mensekresi asam
    • - pepsinogen II  di daerah pilorus
    • Pada lambung juga didapatkan gelatinase yang mencairkan gelatin.Pada hewan muda didapatkan kimosin (=rennin) yang berfungsi sama, tetapi tidak didapatkan pada manusia
    • pH optimum pepsin 1,6 – 3,2  kerja berhenti di duodenum dan jejunum bila bercampur getah pankreas yang alkali
  • 46.
    • Di usus halus protein dicerna oleh
    • - endopeptidase : tripsin, kimotripsin dan
    • elastase
    • - eksopeptidase : karboksipeptidase pankreas
    • Tripsinogen diubah menjadi tripsin oleh enteropeptidase (enterokinase ) yang terdapat di brush-border.
    • Kimotripsinogen diubah menjadi kimotripsin oleh tripsin
    • Proelastase diubah menjadi elastase oleh tripsin
    • Prokarboksipeptidase dIubah menjadi karboksipeptidase oleh tripsin
  • 47.
    • Pencernaan akhir terhadap asam amino ada di 3 tempat : - lumen usus halus
    • - brush border
    • - sitoplasma sel mukosa
    • Penyerapan :
    • - Paling sedikit ada 7 sistem transport yang
    • berbeda yang mengangkut asam amino ke dalam
    • enterosit 
    • 5 memerlukan Na+ (seperti pada glukosa)
    • 2 memerlukan Cl- (tak perlu Na + )
    • - Keluar enterosit melalui paling sedikit 5 sistem
    • transport (2 bergantung Na + , 3 lainnya tidak
    • memerlukan Na + )  kemudian masuk ke
    • pembuluh darah
  • 48.
    • - Penyerapan di duodenum dan jejunum
    • cepat, di ileum lambat
    • - Protein yang dicerna :
    • 50 % dari makanan
    • 25 % dari getah pencernaan
    • 25 % dari deskuamasi sel-sel mukosa
    • - 2 – 5 % protein tak diserap usus halus 
    • masuk ke kolon dan dicerna oleh kuman
    • - Protein di feses bukan berasal dari
    • makanan tetapi dari kuman dan debris
    • seluler
  • 49. Pencernaan asam nukleat
    • Di dalam usus halus diurai menjadi nukleotida oleh nuklease pankreas
    • Oleh enzim permukaan lumen sel mukosa, nukleotida diurai menjadi nukleosida dan asam fosfor, kemudian menjadi unsur gula dan basa pirimidin dan purin
    • Penyerapan  dengan transport aktif
  • 50. Pencernaan lipid
    • Lipase lingual disekresi oleh kelenjar Ebner pada permukaan dorsal lidah  mencerna sekitar 30 % trigliserida makanan
    • Lipase lambung kurang berperan, lipase lingual aktif di lambung
    • Di duodenum, lipase pankreas mencerna lemak menjadi asam lemak bebas dan monogliserida (pada lemak yang telah diemulsi)
    • Prokolipase (dalam getah pankreas) dalam lumen usus oleh tripsin diaktifkan menjadi kolipase  yang memudahkan terbukanya bagian aktif lipase pankreas
    • Lipase pankreas lain adalah lipase yang diaktifkan garam empedu  yang mengkatalisis hidrolisa ester kolesterol, ester vitamin yang larut dalam lemak, fosfolipid dan trigliserida
  • 51.
    • Di usus halus lemak diemulsifikasi oleh garam empedu, lesitin dan monogliserida  membentuk misel
    • Pada hewan pankreatektomi dan penderita kerusakan bagian eksokrin pankreas  terjadi steatorea : feses berlemak, bergumpal,berwarna seperti tanah liat  ada defisiensi lipase
    • Penyerapan :
    • - Dulu dikira lipid masuk ke enterosit dengan
    • proses difusi pasif  sekarang ditemukan
    • bukti adanya peran karier (pembawa)
  • 52.
    • - Di enterosit :
    •  asam lemak yang atom karbonnya kurang dari 10-12 
    • langsung masuk darah portal
    •  asam lemak yang atom karbonnya lebih dari 10-12 
    • diesterifikasikembali menjadi trigliserida, dan bersama
    • ester kolesterol dan dilapisi protein, kolesterol dan
    • fosfolipid membentuk kilomikron  masuk peredaran
    • limfatik
    • - Asam lemak rantai pendek (SCFA=Short Chain Fatty Acid)
    • dibentuk dan diserap di kolon  selain sebagai sumber
    • energi, juga ada pengaruh trofik terhadap sel epitel kolon
    • dan anti peradangan.
    • - 2-5 karbon asamlemak dibentuk oleh kegiatan bakteri kolon
    • - Kolesterol diserap tergabung dalam kilomikron
    • - Sterol tumbuhan kurang baik penyerapannya 
    • mengurangi penyerapan kolesterol melalui kompetisi untuk
    • esterifikasi dengan asam lemak
  • 53. Penyerapan Air dan Elektrolit
    • Setiap hari diserap sekitar 8800 mL air dari 2000 mL yang masuk dan 7000 mL sekresi mukosa  air bergerak sebagai respons perbedaan osmotik (Na + )
    • Cl- masuk enterosit dari cairan interstisial melalui kotransporter Na + -K + -2 Cl - di membran basolateral  kemudian disekresi ke lumen usus halus melalui kanal yang diatur oleh berbagai kinase protein
    • K + di sekresi sedikit ke lumen usus, tetapi sebagian besar melalui difusi
  • 54. Penyerapan Vitamin dan Mineral
    • Vitamin yang larut dalam air penyerapannya cepat
    • Vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K) tergantung penyerapan lemak
    • Vitamin B12 diikat faktor intrinsik yang disekresi lambung, kemudian diserap di mukosa ileum ( yang lain kebanyakan di usus halus bagian atas)
    • Vitamin B12 dan asam folat penyerapannya tidak tergantung Na+  vitamin larut air lainnya diserap oleh karier yang merupakan kotransporter Na +
    • 30-80% kalsium yang dimakan diserap melalui transport aktif dan difusi pasif di usus halus bagian atas  transport aktif difasilitasi oleh 1,25 dihidroksikolekalsiferol (metabolit vitamin D yang dibentuk di ginjal, yang meningkat bila kadar kalsium plasma menurun) dan juga difasilitasi oleh protein dan dihambat oleh fosfat dan oksalat
    • Penyerapan magnesium difasilitasi oleh protein
  • 55.
    • Penyerapan zat besi :
    • - diserap 3-6 % dari jumlah yang dimakan
    • - faktor dalam makanan yang mempengaruhi
    • penyerapan : asam fitat dalam sereal, fosfat dan oksalat
    • - lebih mudah diserap dalam bentuk ferro (Fe 2+ ),tetapi
    • dalam makanan kebanyakan dalam bentuk ferri (Fe 3+ )
    • - di brush border ada Fe 3+ reduktase  mengubah ferri
    • menjadi ferro
    • - dalam sitoplasma enterosit  Fe 2+ dioksidasi menjadi
    • Fe 3+ dan berikatan dengan apoferitin menjadi feritin
    • - penyerapan zat besi meningkat bila persediaan tubuh
    • menurun atau eritropoiesis meningkat
  • 56.
    • - feritin merupakan bentuk utama cadangan
    • besi dalam jaringan  molekul feritin dapat
    • berkumpul dalam deposit yang mengandung
    • sampai 50 % besi  dinamakan hemosiderin bila
    • berlebihan dinamakan hemosiderosis
    • - Bila banyak dan merusak jaringan dinamakan
    • hemokromatosis, adalah sindrom yang ditandai
    • dengan : * pigmentasi kulit
    • * pankreas rusak disertai diabetes
    • * sirosis hati
    • * karsinoma hati
    • * Atrofi gonad
    • Besi dalam tubuh : 70% dalam hemoglobin, 3% dalam mioglobin dan 27% dalam feritin
  • 57. HORMON GASTROINTESTINAL
    • Merupakan polipeptida biologik aktif yang disekresi oleh sel saraf dan kelenjar di mukosa
    • Bekerja secara parakrin, tetapi juga measuki sirkulasi
    • Ada 2 kelompok :
    • - Gastrin  Gastrin dan Kolesistokinin
    • - Sekretin  Sekretin, GIP (Gastric Inhibitory Peptide), VIP (Vasoactive Intestinal Polypeptide), Motilin, Neurotensin, Zat P, GRP, Somatostatin, Glukagon, Guanilin.
    • Sel enteroendokrin :
    • - Telah diindikasi sekitar 15 jenis
    • - Umumnya mensekresi satu hormon saja
    • - Yang menghasilkan serotonin dinamakan sel
    • enterokromafin
    • - Yang menghasilkan senyawa amin dinamakan sel APUD
    • (Amine Precursor Uptake and Decarboxylase)  suatu sel
    • neuroendokrin.
  • 58. GASTRIN
    • Dibentuk oleh sel G di dinding lateral kelenjar pada bagian antrum mukosa lambung, juga oleh sel TG di lambung dan usus halus, dan pada janin ditemukan di pankreas
    • Tumor penyekresi gastrin  gastrinoma
    • Menunjukkan adanya makroheterogenitas dan mikroheterogenitas  bentuk berbeda untuk kegiatan yang berbeda
    • Efek fisiologi :
    • - Merangsang sekresi asam lambung dan pepsin
    • - Merangsang pertumbuhan mukosa lambung, usus
    • halus dan usus besar  efek tropik
    • - Merangsang gerakan lambung
    • - Merangsang sekresi insulin  bila setelah makan
    • protein, tidak setelah makan karbohidrat
  • 59.
    • Sekresi meningkat pada :
    • - adanya peptida dan asam amino di lumen
    • lambung
    • - peregangan lambung
    • - peningkatan impuls vegus lewat GRP (Gastrin
    • Releasing Polypeptide)  tak dihambat atropin
    • Sekresi dihambat pada :
    • - adanya asam di antrum
    • - pelepasan somatostatin
    • - peningkatan sekresi sekretin, GIP, VIP, Glukagon,
    • Kalsitonin  merangsang sekresi asam  gastrin
    • menurun
  • 60. KOLESISTOKININ - PANKREOZIMIN
    • CCK-PZ  CCK
    • Menunjukkan makroheterogenitas dan mikroheterogenitas
    • Dihasilkan oleh :
    • - Sel I di usus bagian atas
    • - Saraf di ileum distal dan kolon
    • - Neuron di otak  berhubungan dengan pengaturan
    • masukan makanan, kecemasan dan analgesia.
    • Efek :
    • - Menyebabkan kontraksi kandung empedu dan sekresi
    • getah pankreas
    • - Menguatkan kerja sekretin
    • - Menghambat pengosongan lambung
    • - Efek tropik pada pankreas
    • - Meningkatkan sekresi enterokinase
    • - Meningkatkan gerakan usus halus dan kolon
    • - Menguatkan kontraksi sfingter pilorik  mencegah refluks
    • . Sekresi meningkat bila hasil pencernaan kontak dengan mukosa usus halus (khususnya peptida dan asam amino, juga asam lambung)
  • 61. SEKRETIN
    • Disekresi oleh sel S yang ada di kelenjar mukosa bagian atas usus halus.
    • Meningkatkan sekresi bikarbonat oleh sel-sel duktus pankreas dan saluran empedu  sekresi liur pankreas cair dan alkalis
    • Menguatkan kerja CCK
    • Menurunkan/menghambat sekresi asam lambung dan gerakan lambung
    • Menyebabkan kontraksi sfingter pilorus
    • Sekresi meningkat oleh produk pencernaan protein dan oleh asam lambung yang membasahi mukosa usus halus bagian atas  pengaturan umpan balik
    • Merangsang sekresi insulin  dinamakan Glucose-dependent Insulinotropic Polypeptide.
  • 62. VIP (Vasoactive Intestinal Polypeptide)
    • Terdapat dalam saraf saluran cerna
    • Efek :
    • - Merangsang sekresi elektrolit dan air di
    • usus
    • - Relaksasi otot polos dan sfingter
    • - Dilatasi pembuluh darah perifer
    • - Inhibisi sekresi asam lambung
    • - Memperkuat kerja asetilkolin di kelenjar
    • saliva
  • 63. MOTILIN
    • Disekresi oleh sel enerokromafin dan sel Mo di lambung, usus halus dan kolon
    • Bekerja pada reseptor G-protein coupled neuron enterik di duodenum dan kolon  menyebabkan kontraksi otot polos di lambung dan usus
    • Mengatur motilitas gastrointestinal antara makan
    • Eritromisin berikatan dengan reseptor motilin  digunakan dalam pengobatan penderita dengan motilitas gastrointestinal yang menurun
    • NEUROTENSIN
    • Dihasilkan oleh neuron dan sel di mukosa ileum
    • Pelepasan dirangsang oleh asam lemak
    • Menghambat gerakan gastrointestinal dan meningkatkan aliran darah ileum