• Save
Makalah Candi Borobudur
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Makalah Candi Borobudur

on

  • 8,777 views

Mau Save Request di sevends07@gmail.com

Mau Save Request di sevends07@gmail.com

Statistics

Views

Total Views
8,777
Views on SlideShare
8,777
Embed Views
0

Actions

Likes
4
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Makalah Candi Borobudur Makalah Candi Borobudur Document Transcript

  • CANDI BOROBUDURSEBAGAI SALAH SATU KEAJAIBAN DUNIA KARYA TULIS DISUSUN DAN DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SALAH SATU TUGAS STUDY TOUR KELAS II TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DISUSUN OLEH : KELAS II C MADRASAH TSANAWIYAH NEGRI (MTs) LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013/2014 i
  • MOTTO Demi pengabdian terhadap kebenaran, kita harus rela berkorban Bila pergi membawa bekal, bila mati membawa amal Serahkan hidupmu pada tuhan dan percayalah kepada-Nya Bencana ilmu adalah lupa Berdasarkan kemahiran dan kecakapan yang khusus maka dengan segenap potensi sanggup menghancurkan tawa dan menanggulangi segala bahaya apapun Pengalaman adalah guru yang mulia Ilmu adalah harta yang tak akan habis PERSEMBAHAN ii
  • Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmatdan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat menyelesaikan tugas ini. Karya tulis ini penulispersembahkan kepada :1. Bapak Kepala MTs. N Lebaksiu2. Dewan guru dan staf TU MTs N Lebaksiu3. Ayah Ibu dan Saudara yang tercinta4. Kakak dan Adik Kelas sealmamater5. Semua pihak yang turut membantu dan menyusun karya tulis ini6. Segenap pembaca yang setia membaca karya tulis ini PERSETUJUAN iii
  • Setelah membaca, meneliti, memahami serta membenahi hal-hal yang kurang dalam karya tulisini. Maka selaku pembimbing saya menyatakan bahwa karya tulis yang disusun oleh :Kelas : II CJudul : “Candi Borobudur Sebagai Salah Satu Keajaiban Dunia”Dapat saya setujui untuk dipergunakan memenuhi tugas study kenal budaya kelas II tahun2013/2014. Lebaksiu, April 2013 Pembimbing Saelan, S.Pd NIP 19690307 200003 100 1 PENGESAHAN iv
  • Karya tulis ini disusun oleh :Kelas : II CJudul : “Candi Borobudur Sebagai Salah Satu Keajaiban Dunia”Dapat kami terima dan disyahkan sebagai Karya Tulis yang dapat memenuhi tugas Study Toursiswa kelas II tahun pelajaran 2013/2014 pada MTs. Negeri Lebaksiu. Lebaksiu, April 2013 Kepala Sekolah, Drs. H. Mukhlasin, M.Pd NIP. 1962 1004 199103 1006 KATA PENGANTAR v
  • Alhamdulillah dengan rasa syukur kehadirat Alloh SWT, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga karyya tulis yang berjudul “Candi Borobudur Sebagai Salah Satu KeajaibanDunia” telah selesai kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran BahasaIndonesia kelas II semester II tahun 2013/2014. Karya tulis ini disusun dengan harapan dapat menjadi pelengkap dari sumber belajarsiswa, khususnya adik-adik kelas I dan kakak kelas III. Beberapa halyang disajikan dalam karyatulis ini, meskipun dengan tulisan dan bahasa yang sangat sederhana. Namun kami mengharapdapat dipahami isinya. Dalam menyusun karya tulis ini kami mendapat bantuan dari berbagai pihak, oleh karenaitu kami mengucapkan terima kasih kepada.1. Bapak Drs. H. Nyjgarin Hasan HDW selaku kepala sekolah MTs Negeri Lebaksiu yang telah member kesempatan kepada kami untuk melaksanakan karya wisata.2. Ibu Muhariroh,S.Pd selaku guru pembimbing karya tulis yang telah banyak memberikan bimbingan dan bantuan dalam menyusun karya tulis ini.3. Bapak Saelan,S.Pd selaku guru mata pelajaran Bahasa Indonesia4. Bpk/ Ibu guru MTs N Lebaksiu yang telah membantu pelaksanaan Karya Tulis ini Kami menyadari bahw karya tulis ini masih banyak kekurangannya, oleh karena itu kritikdan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan karya tulis ini. Akhirnya semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kami sebagai penyusun khususnya danpembaca pada umumnya. Lebaksiu, April 2013 Penulis DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL .............................................................................................. i vi
  • MOTTO .................................................................................................................. iiPERSEMBAHAN ................................................................................................... iiiPERSETUJUAN ..................................................................................................... ivPENGESAHAN ...................................................................................................... vKATA PENGANTAR ............................................................................................ viDAFTAR ISI........................................................................................................... viiBAB I : PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Alasan Pemilihan Judul............................................................................... 1 B. Tujuan Penulisan ......................................................................................... 1 C. Sumber dan Metode Pengumpulan Data..................................................... 1 D. Sistematika Penulisan ................................................................................. 2BAB II : SEJARAH CANDI BOROBUDUR ....................................................... 3 A. Lokasi Candi Borobudur ............................................................................. 4 B. Pembangunan Candi Borobudur ................................................................. 5 C. Penemuan Kembali ..................................................................................... 7 D. Rehabilitasi Candi Borobudur..................................................................... 11 E. Struktur Bangunan ...................................................................................... 12BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ................................................................................................. 15 B. Saran ........................................................................................................... 15DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 16 vii
  • BAB I PENDAHULUANA. Alasan Pemilihan Judul Penulis memilih judul karya tulis ―Sejarah Candi Borobudur‖ karena beberapa alasan antara lain : 1. Candi Borobudur merupakan bangunan kuno yang memiliki peradaban sastra yang tinggi 2. Candi Borobudur salah satu dari keajaiban dunia 3. Candi Borobudur merupakan bangunan kuno yang perlu dilestarikan bangunannya agar tidak rusak 4. Candi Borobudur merupakan sejarah dari bangsa Indonesia yang sangat berarti.B. Tujuan Penulisan Karya tulis ini disusun dengan tujuan : 1. Untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia 2. Memperkenalkan kepada pembaca dan masyarakat tentang sejarah Candi Borobudur. 3. Sebagai ajang latihan bagipenulis untuk menyusun karya tulis yang bersifat ilmiah 4. Membantu program pemerintah dalam ikut menyebarkan sejarah Candi Borobudur pada masyarakat luasC. Sumber dan Metode Pengumpulan Data Untuk penulisan karya tulis ini penulis emmerlikan data-data yang dapat digunakan sebagai acuan penulisan. Data-data yang penulis perlukan berasal dari : 1. Kepustakaan : data-data yang berasal dari kepustakaan adalah berupa bahan bacaan/ literature yang penulis peroleh dari perpustakaan sekolah. 2. Observasi : untuk memperoleh data-data dari observasi maka penulis melakukan pengamatan langsung terhadap fisik bangunan candi Borobudur. Data yang berasal dari bahan kepustakaan dan observasi tersebut kemudian penulis olah dengan metode : 1. Induksi : yaitu suatu merode untuk mengumpulkan data-data peristiwa yang bersifat khusus untuk kemudian disimpulkan sebagai sesuatu hal yang bersifat umum berlaku dalam masyarakat. 1
  • 2. Deduksi : adalah metode pengumpulan data yang berawal dari gejala-gejala pokok yang kemudian disusun dengan jalan pikiran logis untuk dapat ditarik kesimpulan.D. Sistematika Penulisan Karya tulis ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul B. Tujuan Penulisan C. Sumber dan Metode Pengumpulan Data D. Sistematika Penulisan BAB II : SEJARAH CANDI BOROBUDUR A. Lokasi Candi Borobudur B. Pembangunan Candi Borobudur C. Penemuan Kembali D. Rehabilitasi Candi Borobudur E. Struktur BangunanBAB III : PENUTUP A. Kesimpulan B. SaranDAFTAR PUSTAKA 2
  • BAB II SEJARAH CANDI BOROBUDUR Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentukstupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tigapelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini,dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddhatengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakramudra (memutar roda dharma).Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untukmemuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempatziarah untuk menuntun umat manusiaberalih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkaribangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tigatingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawanafsu),Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannyaini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnyapengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Duniamulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas StamfordRaffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat ituBorobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyekpemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah RepublikIndonesia danUNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umatBuddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untukmemperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggaldi Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.Nama BorobudurDalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi jugadigunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal darimasa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuranpemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari 3
  • kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku"Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumenbernamaborobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yangsama persis. 8 Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanyabangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yangditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tatabahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro);kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Rafflesjuga menduga bahwa istilah Budur mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawayang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba".Akan tetapi arkeolog lain beranggapanbahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa namaini kemungkinan berasal dari kataSambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di manadi lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya.Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyimenjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan"beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain dimana bara berasal dari bahasa Sanskertayang artinya kompleks candi atau biaradan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas".Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.A. Lokasi Candi BorobudurTerletak sekitar 40 kilometer (25 mil) barat laut dari Kota Yogyakarta, Borobudur terletak di atasbukit pada dataran yang dikeliling dua pasang gunung kembar; Gunung Sundoro-Sumbing disebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utaranya terdapatbukit Tidar, lebih dekat di sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta candi initerletak dekat pertemuan dua sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.Menurut legenda Jawa, daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggapsuci dalam kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai Taman pulau Jawa karena keindahan alamdan kesuburan tanahnya.Tiga candi serangkaiSelain Borobudur, terdapat beberapa candi Buddha dan Hindu di kawasan ini. Pada masapenemuan dan pemugaran di awal abad ke-20 ditemukan candi Buddha lainnya yaitu CandiMendut dan Candi Pawon yang terbujur membentang dalam satu garis lurus. 15 Awalnya didugahanya suatu kebetulan, akan tetapi berdasarkan dongeng penduduk setempat, dulu terdapat jalanberlapis batu yang dipagari pagar langkan di kedua sisinya yang menghubungkan ketiga candiini. Tidak ditemukan bukti fisik adanya jalan raya beralas batu dan berpagar dan mungkin inihanya dongeng belaka, akan tetapi para pakar menduga memang ada kesatuan perlambang dariketiga candi ini. Ketiga candi ini (Borobudur-Pawon-Mendut) memiliki kemiripan langgamarsitektur dan ragam hiasnya dan memang berasal dari periode yang sama yang memperkuat 4
  • dugaan adanya keterkaitan ritual antar ketiga candi ini. Keterkaitan suci pasti ada, akan tetapibagaimanakah proses ritual keagamaan ziarah dilakukan, belum diketahui secara pasti. 10Selain candi Mendut dan Pawon, di sekitar Borobudur juga ditemukan beberapa peninggalanpurbakala lainnya, diantaranya berbagai temuan tembikar seperti periuk dan kendi yangmenunjukkan bahwa di sekitar Borobudur dulu terdapat beberapa wilayah hunian. Temuan-temuan purbakala di sekitar Borobudur kini disimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur,yang terletak di sebelah utara candi bersebelahan dengan Museum Samudra Raksa. Tidakseberapa jauh di sebelah utara Candi Pawon ditemukan reruntuhan bekas candi Hindu yangdisebut Candi Banon. Pada candi ini ditemukan beberapa arca dewa-dewa utama Hindu dalamkeadaan cukup baik yaitu Shiwa, Wishnu, Brahma, serta Ganesha. Akan tetapi batu asli CandiBanon amat sedikit ditemukan sehingga tidak mungkin dilakukan rekonstruksi. Pada saatpenemuannya arca-arca Banon diangkut ke Batavia (kini Jakarta) dan kini disimpan di MuseumNasional Indonesia.B. Pembangunan Candi BorobudurLukisan karya G.B. Hooijer (dibuat kurun 1916—1919) merekonstruksi suasana di Borobudurpada masa jayanyaTidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan apakegunaannya. 19 Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenisaksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakanpada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800masehi. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaanwangsaSyailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya.Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kala itu beragamaHindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliranMahayana yang taat, akan tetapi melalui temuanprasasti Sojomerto menunjukkan bahwa merekamungkin awalnya beragama Hindu Siwa. 21 Pada kurun waktu itulah dibangun berbagai candiHindu dan Buddha di Dataran Kedu. Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, rajaberagama Siwa Sanjaya memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yangdibangun di perbukitan Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil) sebelah timur dariBorobudur. 23 Candi Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaandengan candi-candi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudahrampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunancandi Siwa Prambanansekitar tahun 850 M.Pembangunan candi-candi Buddha — termasuk Borobudur — saat itu dimungkinkan karenapewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha untuk membanguncandi. 24 Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran menganugerahkandesa Kalasan kepada sangha(komunitas Buddha), untuk pemeliharaan dan pembiayaan CandiKalasan yang dibangun untuk memuliakan Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan 5
  • dalam Prasasti Kalasan berangka tahun 778 Masehi. 24 Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog,bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuaikonflik, dengan dicontohkan raja penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanaipembangunan candi Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persainganantara dua wangsa kerajaan pada masa itu — wangsa Syailendra yang menganut Buddha danwangsa Sanjaya yang memuja Siwa — yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi pertempuranpada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko. Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi LaraJonggrang di Prambanan, candi megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang RakaiPikatan sebagai jawaban wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsaSyailendra, 26 akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dankebersamaan yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibatdalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.Tahapan pembangunan BorobudurPara ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Borobudur adalah stupa tunggal yang sangatbesar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang luar biasa besar dan berat inimembahayakan tubuh dan kaki candi sehingga arsitek perancang Borobudur memutuskan untukmembongkar stupa raksasa ini dan diganti menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa indukseperti sekarang. Berikut adalah perkiraan tahapan pembangunan Borobudur: 1. Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup struktur asli piramida berundak. 2. Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar. 3. Tahap ketiga: Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar, dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief Karmawibhangga. Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor dan runtuh. Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil berterawang dan hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak 6
  • longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli. Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu 4. Tahap keempat: Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta pelebaran ujung kaki.C. Penemuan kembaliFoto pertama Borobudur oleh Isidore van Kinsbergen (1873) setelah monumen ini dibersihkandari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra(payung)susun tiga.Setelah Perang Inggris-Belanda dalam memperebutkan pulau Jawa, Jawa dibawah pemerintahanBritania (Inggris) pada kurun 1811 hingga 1816.Thomas Stamford Raffles ditunjuk sebagaiGubernur Jenderal, dan ia memiliki minat istimewa terhadap sejarah Jawa. Iamengumpulkan artefak-artefak antik kesenian Jawa kuno dan membuat catatan mengenai sejarahdan kebudayaan Jawa yang dikumpulkannya dari perjumpaannya dengan rakyat setempat dalamperjalanannya keliling Jawa. Pada kunjungan inspeksinya di Semarang tahun 1814, ia dikabarimengenai adanya sebuah monumen besar jauh di dalam hutan dekat desa Bumisegoro. 28 Karenaberhalangan dan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal, ia tidak dapat pergi sendiri untuk mencaribangunan itu dan mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk menyelidikikeberadaan bangunan besar ini. Dalam dua bulan, Cornelius beserta 200 bawahannya menebangpepohonan dan semak belukar yang tumbuh di bukit Borobudur dan membersihkan lapisan tanahyang mengubur candi ini. Karena ancaman longsor, ia tidak dapat menggali dan membersihkansemua lorong. Ia melaporkan penemuannya kepada Raffles termasuk menyerahkan berbagaigambar sketsa candi Borobudur. Meskipun penemuan ini hanya menyebutkan beberapa kalimat,Raffles dianggap berjasa atas penemuan kembali monumen ini, serta menarik perhatian duniaatas keberadaan monumen yang pernah hilang ini.Hartmann, seorang pejabat pemerintah Hindia Belanda di Keresidenan Kedu meneruskan kerjaCornelius dan pada 1835 akhirnya seluruh bagian bangunan telah tergali dan terlihat. Minatnyaterhadap Borobudur lebih bersifat pribadi daripada tugas kerjanya. Hartmann tidak menulislaporan atas kegiatannya; secara khusus, beredar kabar bahwa ia telah menemukan arca buddha 7
  • besar di stupa utama. Pada 1842, Hartmann menyelidiki stupa utama meskipun apa yang iatemukan tetap menjadi misteri karena bagian dalam stupa kosong.Pemerintah Hindia Belanda menugaskan F.C. Wilsen, seorang insinyur pejabat Belanda bidangteknik, ia mempelajari monumen ini dan menggambar ratusan sketsa relief. J.F.G. Brumund jugaditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci atas monumen ini, yang dirampungkannyapada 1859. Pemerintah berencana menerbitkan artikel berdasarkan penelitian Brumund yangdilengkapi sketsa-sketsa karya Wilsen, tetapi Brumund menolak untuk bekerja sama. PemerintahHindia Belanda kemudian menugaskan ilmuwan lain, C. Leemans, yangmengkompilasi monografi berdasarkan sumber dari Brumund dan Wilsen. Pada 1873, monografpertama dan penelitian lebih detil atas Borobudur diterbitkan, dilanjutkan edisi terjemahannyadalam bahasa Perancis setahun kemudian. Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 olehahli engrafi Belanda, Isidore van Kinsbergen.Penghargaan atas situs ini tumbuh perlahan. Untuk waktu yang cukup lama Borobudur telahmenjadi sumber cenderamata dan pendapatan bagi pencuri, penjarah candi, dan kolektor"pemburu artefak". Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Karenamencuri seluruh arca buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkanoleh pencuri agar kepalanya terpenggal. Karena itulah kini di Borobudur banyak ditemukan arcaBuddha tanpa kepala. Kepala Buddha Borobudur telah lama menjadi incaran kolektor bendaantik dan museum-museum di seluruh dunia. Pada 1882, kepala inspektur artefak budayamenyarankan agar Borobudur dibongkar seluruhnya dan reliefnya dipindahkan ke museumakibat kondisi yang tidak stabil, ketidakpastian dan pencurian yang marak di monumen.Akibatnya, pemerintah menunjuk Groenveldt, seorang arkeolog, untuk menggelar penyelidikanmenyeluruh atas situs dan memperhitungkan kondisi aktual kompleks ini; laporannyamenyatakan bahwa kekhawatiran ini berlebihan dan menyarankan agar bangunan ini dibiarkanutuh dan tidak dibongkar untuk dipindahkan.Bagian candi Borobudur dicuri sebagai benda cinderamata, arca dan ukirannya diburu kolektorbenda antik. Tindakan penjarahan situs bersejarah ini bahkan salah satunya direstui PemerintahKolonial. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di HindiaBelanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur.Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca danbagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddhabersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tanggadan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratusmeter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kinidipamerkan di Museum Nasional di Bangkok.PemugaranBorobudur kembali menarik perhatian pada 1885, ketika Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologidi Yogyakarta, menemukan kaki tersembunyi. Foto-foto yang menampilkan relief pada kakitersembunyi dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini mendorong pemerintah HindiaBelanda untuk mengambil langkah menjaga kelestarian monumen ini. Pada 1900, pemerintahmembentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti monumen ini: Brandes, seorang 8
  • sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Vande Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum.Pemugaran dilakukan pada kurun 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpinTheodor van Erp. Tujuh bulan pertama dihabiskan untuk menggali tanah di sekitar monumenuntuk menemukan kepala buddha yang hilang dan panel batu. Van Erp membongkar danmembangun kembali tiga teras melingkar dan stupa di bagian puncak. Dalam prosesnya Van Erpmenemukan banyak hal yang dapat diperbaiki; ia mengajukan proposal lain yang disetujuidengan anggaran tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut,ia bahkan dengan teliti merekonstruksichattra (payung batu susun tiga) yang memahkotaipuncak Borobudur. Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masakejayaannya. Akan tetapi rekonstruksi chattra hanya menggunakan sedikit batu asli dan hanyarekaan kira-kira. Karena dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Van Erpmembongkar sendiri bagian chattra. Kini mastaka atau kemuncak Borobudur chattra susun tigatersimpan di Museum Karmawibhangga Borobudur.Akibat anggaran yang terbatas, pemugaran ini hanya memusatkan perhatian pada membersihkanpatung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam 15 tahun,dinding galeri miring dan relief menunjukkan retakan dan kerusakan. Van Erp menggunakanbeton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yangmenyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalahsehingga renovasi lebih lanjut diperlukan.Pemugaran kecil-kecilan dilakukan sejak itu, tetapi tidak cukup untuk memberikan perlindunganyang utuh. Pada akhir 1960-an, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepadamasyarakat internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi monumen ini. Pada1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesiadan UNESCOmengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyekbesar antara tahun 1975 dan 1982. Pondasi diperkokoh dan segenap 1.460 panel reliefdibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar danmemperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air ke dalam monumen. Lapisansaringan dan kedap air ditambahkan. Proyek kolosal ini melibatkan 600 orang untuk memulihkanmonumen dan menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi,UNESCO memasukkan Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Borobudur masuk dalam kriteria Budaya (i) "mewakili mahakarya kretivitas manusia yangjenius", (ii) "menampilkan pertukaran penting dalam nilai-nilai manusiawi dalam rentang waktutertentu di dalam suatu wilayah budaya di dunia, dalam pembangunan arsitektur dan teknologi,seni yang monumental, perencanaan tata kota dan rancangan lansekap", dan (vi) "secaralangsung dab jelas dihubungkan dengan suatu peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasanatau dengan kepercayaan, dengan karya seni artistik dan karya sastra yang memiliki maknauniversal yang luar biasa".Setelah pemugaran besar-besaran pada 1973 yang didukung oleh UNESCO, Borobudur kembalimenjadi pusat keagamaan dan ziarah agama Buddha. Sekali setahun pada saat bulan purnamasekitar bulan Mei atau Juni, umat Buddha di Indonesia memperingati hari suci Waisak, hari yangmemperingati kelahiran, wafat, dan terutama peristiwa pencerahan Siddhartha Gautama yang 9
  • mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi menjadi Buddha Shakyamuni. Waisak adalah hari liburnasional di Indonesiadan upacara peringatan dipusatkan di tiga candi Buddha utama denganritual berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Pawon dan prosesi berakhir di CandiBorobudur.Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak parah akibat sembilan bom. Pada 1991 seorangpenceramah muslim beraliran ekstrem yang tunanetra, Husein Ali Al Habsyie, dihukum penjaraseumur hidup karena berperan sebagai otak serangkaian serangan bom pada pertengahan dekade1980-an, termasuk serangan atas Candi Borobudur. Dua anggota kelompok ekstrem sayap kanandjatuhi hukuman 20 tahun penjara pada tahun 1986 dan seorang lainnya menerima hukuman 13tahun penjara.Sendratari "Mahakarya Borobudur" digelar di BorobudurMonumen ini adalah obyek wisata tunggal yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Pada1974 sebanyak 260.000 wisatawan yang 36.000 diantaranya adalah wisatawan mancanegaratelah mengunjungi monumen ini. 6 Angka ini meningkat hingga mencapai 2,5 juta pengunjungsetiap tahunnya (80% adalah wisatawan domestik) pada pertengahan 1990-an, sebelum Krisisfinansial Asia 1997. 7 Akan tetapi pembangunan pariwisata dikritik tidak melibatkan masyarakatsetempat sehingga beberapa konflik lokal kerap terjadi. 6 Pada 2003, penduduk dan wirausahaskala kecil di sekitar Borobudur menggelar pertemuan dan protes dengan pembacaan puisi,menolak rencana pemerintah provinsi yang berencana membangun kompleks mal berlantai tigayang disebut Java World. Upaya masyarakat setempat untuk mendapatkan penghidupan darisektor pariwisata Borobudur telah meningkatkan jumlah usaha kecil di sekitar Borobudur. Akantetapi usaha mereka untuk mencari nafkah seringkali malah mengganggu kenyamananpengunjung. Misalnya pedagang cenderamata asongan yang mengganggu dengan bersikerasmenjual dagangannya; meluasnya lapak-lapak pasar cenderamata sehingga saat hendak keluarkompleks candi, pengunjung malah digiring berjalan jauh memutar memasuki labirin pasarcenderamata. Jika tidak tertata maka semua ini membuat kompleks candi Borobudur semakinsemrawut.Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah.Bencana alam ini menghancurkan kawasan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, akan tetapiBorobudur tetap utuh. 42Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail of Civilizations (jejak peradaban) digelar diBorobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan,juga hadir perwakilan UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara, sepertiThailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja. Puncak acara ini adalah pagelaran sendratarikolosal "Mahakarya Borobudur" di depan Candi Borobudur. Tarian ini diciptakan dengan 10
  • berdasarkan gaya tari tradisional Jawa, musik gamelan, dan busananya, menceritakan tentangsejarah pembangunan Borobudur. Setelah simposium ini, sendratari Mahakarya Borobudurkembali dipergelarkan beberapa kali, khususnya menjelang peringatan Waisak yang biasanyaturut dihadiri Presiden Republik Indonesia.Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCOD. Rehabilitasi Candi BorobudurBorobudur sangat terdampak letusan Gunung Merapi pada Oktober adan November 2010. Debuvulkanik dari Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometer (17 mil) arah barat-baratdaya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai ketebalan 2,5 sentimeter (1 in) 44 menutupi bangunan candi kala letusan 3–5 November 2010, debu juga mematikan tanaman disekitar, dan para ahli mengkhawatirkan debu vulkanik yang secara kimia bersifat asam dapatmerusak batuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup 5 sampai 9 November 2010untuk membersihkan luruhan debu.Mencermati upaya rehabilitasi Borobudur setelah letusan Merapi 2010, UNESCO telahmenyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS untuk mendanai upaya rehabilitasi.Membersihkan candi dari endapan debu vulkanik akan menghabiskan waktu sedikitnya 6 bulan,disusul penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkansuhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatsetempat. Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem tata airdan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur air hujan. Restorasi berakhirNovember 2011, lebih awal dari perkiraan semula.Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:KamadhatuBagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasaioleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yangdiduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup strukturtambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecilstruktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberaparelief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memilikivolume 13.000 meter kubik. 11
  • RupadhatuEmpat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri reliefoleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empatlorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukirdekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masihterikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alambawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada cerukatau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha didalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan. 2 Pada pagar langkanterdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatumenuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empattingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkarini kaya akan hiasan dan ukiran relief.ArupadhatuBerbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hinggaketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakanArupadhatu (yang berarti tidakberupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan inimelambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentukdan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecilberterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupainduk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masingberjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar denganlubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnyaberbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutupberlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpawujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupastupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupaterbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddhayang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melaluipenelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesaiitu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yangsalah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yangdilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yangdibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian danketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk sertaterbebas dari lingkaran samsara.E. Struktur BangunanSekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untukmembangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dandisatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, 12
  • melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempeltanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satusama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasisetelah struktur bangunan dan dinding rampung.Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk wilayah dengan curahhujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiapsudut, masing-masing dengan rancangan yang unik berbentuk kepala raksasa kala atau makara.Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di ataspermukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa dengancandi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candilain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasidinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur miripdengan piramida berundak. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukanupacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Borobudur mungkin pada awalnyaberfungsi lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau candi. Stupa memang dimaksudkansebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha. Terkadang stupa dibangun sebagai lambangpenghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Sementara kuil atau candi lebih berfungsi sebagairumah ibadah. Rancangannya yang rumit dari monumen ini menunjukkan bahwa bangunan inimemang sebuah bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan strukturteras bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yangmerupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.Menurut legenda setempat arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yangdiketahui tentang arsitek misterius ini. Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawadan bukan berdasarkan prasasti bersejarah. Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyatmengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongenglokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi jajaranperbukitan Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan dongeng belaka.Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antaraujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari denganujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya. Tentu saja satuan inibersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada monumen ini.Penelitian pada 1977 mengungkapkan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini.Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat darisuatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan Borobudur. Rasio matematis inijuga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakinbahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna penanggalan, astronomi, dankosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di Kamboja.Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Dasarberukuran 123×123 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi 4 m (13 kaki). Tubuh candi terdiri ataslima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur7 m(23 kaki) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 m (6.6 kaki), menyisakanlorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan 13
  • menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yangterbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 m (110 kaki) dari permukaan tanah.Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah42 m (140 kaki) . Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawapengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yangdijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowongpintu dan ukiran makarayang menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara lazim ditemuidalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untukmembaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yangmenghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.ReliefPada dinding candi di setiap tingkatan — kecuali pada teras-teras Arupadhatu — dipahatkanpanel-panel bas-relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief dan pola hias Borobudurbergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief inisangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian duniaBuddha. 56 Relief Borobudur juga menerapkan disiplin senirupa India, seperti berbagai sikaptubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia muliaseperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang mencapai derajatkesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisitubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit condong padabagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki,sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkankeanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhangasambil menggenggam teratai bertangkai panjang.Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyatjelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakulartradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspekkehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawakuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran reliefBorobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana sertapersenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh parapeneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapalkayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan bahari purbakala. Replika bahterayang dibuat berdasarkan relief Borobudur tersimpan di Museum Samudra Raksa yang terletak disebelah utara Borobudur.Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa JawaKuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief inibermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka. Pembacaan cerita-ceritarelief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya,mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyatabahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi,artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar. 14
  • BAB III PENUTUPA. Kesimpulan Dari uraian diatas penulis menyimpulkan sebagai berikut : 1. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 tarikh masehi atau abad ke-8 2. Tahun 1882 ada usul untuk membongkar seluruh bangunan dan memindahkan seluruh relirf ke suatu museum 3. Pada abad ke-10 Candi Borobudur terbengkalai terlupakan 4. Tahun 1834 Residen Kedu memerintahkan untuk melakukan pembersihan sekitar candi sehingga tampak bangunan candi seluruhya.B. Saran-saran 1. Candi Borobudur agar dijaga dengan baik, keaslian dan kemurniannya 2. Batu bata yang telah rusak agar diperbaiki kembali 3. Patung-patung candi agar dijaga dan dilestarikan 4. Jangan buang sampah disekitar Borobudur untuk menjaga kebersihan Borobudur 15
  • DAFTAR PUSTAKADepartemen Agama R.I, Al-Quran dan Tafsirnya, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf, 1991Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995Yayasan Dhammadipa Arama : Riwayat Hidup Budha Gautama, Jakarta 1981Soedirman, Drs. Borobudur Salah Satu Keajaiban DuniaSoekarno, Dr. Candi Borobudur Pustaka Budaya umat Manusia, Yogyakarta : Pustaka Jaya, 1981.Mar Poerwanta, Candi Borobudur dan Taman Wisatanya, Alumni Bandung, 1985. 16