Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Tesis lisan kantola di kabupaten muna

on

  • 1,016 views

 

Statistics

Views

Total Views
1,016
Views on SlideShare
1,016
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
18
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Tesis lisan kantola di kabupaten muna Tesis lisan kantola di kabupaten muna Document Transcript

  • TESIS REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI DARWAN SARI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 i
  • TESIS REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI DARWAN SARI NIM 0990261032 PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI KAJIAN BUDAYA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 ii
  • REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Progam Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana DARWAN SARI NIM 0990261032 PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI KAJIAN BUDAYA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 iii
  • LEMBAR PENGESAHAN TESIS INI TELAH DISETUJUI TANGGAL 26 AGUSTUS 2011 Pembimbing I, Pembimbing II, Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. NIP. 19570113 198003 1 001 003 Dr. Sutamat Arybowo, M.A. NIP. 1955 0721 1983 03 1 Mengetahui: Ketua Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S. Sudewi,Sp.S(K) NIP. 19430521 198303 2 001 Prof. Dr.dr.A.A.Raka NIP. 19590215 1985 10 2 001 iv
  • Tesis ini Telah Diuji pada Tanggal, 26 Agustus 2011 Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana Nomor: 1442/UN.14.4/HK/2011, Tanggal 19 Agustus 2011 Ketua : Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. Anggota : 1. Dr. Sutamat Arybowo, M.A. 2. Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S. 3. Prof. Dr.I Gde Semadi Astra 4. Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. v
  • UCAPAN TERIMA KASIH Rasa syukur tanpa batas penulis panjatkan atas kekuasaan dan keridhaan Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penelitian dan penulisan tesis yang berjudul Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada Era Globalisasi dapat diselesaikan. Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, memiliki banyak kekurangan di sana sini namun hal tersebut sangatlah wajar karena terkait dengan proses dalam menuntut ilmu. Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan selesai, tanpa bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, seyogyanyalah penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada yang terhormat: Pertama, Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. selaku pembimbing I yang penuh perhatian telah memberikan bimbingan serta dorongan dalam menyelesaikan penulisan tesis ini. Kepada Dr. Sutamat Arybowo, M.A. selaku pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan kepada penulis selama ini. Kedua, kepada Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S, Prof. Dr. I Gde Semadi Astra, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., sebagai tim penguji juga banyak memberikan bantuan baik berupa komentar, kritik maupun saran atas bagianbagian tertentu atau keseluruhan naskah tesis ini. Ketiga, Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., juga pada Ketua dan Sekretaris Program Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S., dan Dr. I Wayan Redig, serta seluruh staf pengajar Program Magister (S2) Kajian Budaya, yang telah banyak mentransformasikan ilmu pengetahuan dan membantu penulis dalam melaksanakan studi selama ini. Keempat, kepada seluruh staf administrasi Program Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana, yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu yang selama ini telah banyak memberikan kemudahan kepada penulis dalam hal administrasi perkuliahan. Serta Direktorat Jendral Perguruan Tinggi yang vi
  • bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang telah memberikan bantuan beasiswa (BPPS KTL) Kelima, kepada rekan-rekan Program Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana, khususnya angkatan 2009 sebagai teman-teman diskusi dalam mengasah ketajaman analisis dan memperluas wawasan keilmuan. Keenam, kepada kedua sahabatku Rahmat Sewa Suraya dan Muh. Al Kausar telah bersama suka maupun duka. Juga ucapan terima kasih banyak kepada para informan yang telah bersedia meluangkan waktunya dan memberikan informasi. Ketujuh, kepada pihak keluarga dan juga pihak lain yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan studi dan penulisan tesis ini, yang namanya saya tidak bisa sebut satu demi satu. Jasa baik mereka akan selalu penulis kenang. Paling teristimewa kepada ibuku tercinta, penulis mengucapkan terima kasih banyak atas semua motivasi, dan do’anya untuk kesuksesan penulis dari sejak kecil hingga saat ini. Semoga setiap derap langkah kaki, ayunan tangan beliau selalu mendapat imbalan kebaikan dari Allah SWT, amin. Kedelapan, kepada Rektor Universitas Haluoleo di Sulawesi Tenggara Bapak Prof. Dr. Ir. Usman Rianse, M,S, dan Ketua ATL Pusat Dr. Pudentia MPPS, M.Hum. serta Ketua ATL Sulawesi Tenggara Dr. La Niampe, M.Hum. yang telah memberikan kesempatan dan membukakan jalan penulis untuk mendapatkan beasiswa, serta tak lupa penulis mengucapkan salam perjuangan kepada teman-teman dari Kajian Tradisi Lisan yang sekarang ini sementara melanjutkan studi. Kesembilan, Kepada keluarga besar Bapak Soedjiwo yang telah memberikan nasehat, dukungan, bantuan, serta doanya kepada penulis, dan kepada orang yang saya tuakan Dr. La Taena, M.Si., serta Kakanda saya Hadirman, S.Pd., M.Hum., Briptu Ismail Story, Hamirudin Udu, S.Pd.,M.Hum., Hardin Arin, S.Pd., juga penulis ucapkan terima kasih banyak atas segala do’a dan bantuannya demi tercapainya studi penulis. Kepada kakak saya Yani, S.Pd. terimakasih atas bantuan dan dukungannya dan ketiga adik saya, Awal Maulid vii
  • Sari, S.Pt., Siti Kadri Yanti Sari, S.Sos., Putri Suswani Sari, penulis ucapkan terima kasih banyak atas dukungannya semoga mereka juga lebih termotivasi untuk melanjutkan studi. Semoga semua amal kebaikan mereka mendapatkan balasan kebaikan pula dari Allah SWT, amin. Walaupun dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa pemikiran melalui komentar, kritik maupun saran, tanggung jawab terakhir tetap berada kepada penulis sendiri. Banyak atau sedikitnya kekurangan dan kesalahan dalam tesis ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri dan mohon ampunan atas segala kesalahan. Kepada-Nya jugalah penulis menyerahkan semua amal kebaikan pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua, amin. Denpasar, Agustus 2011 Penulis, viii
  • ABSTRAK Penelitian ini membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna pada era globalisasi. Pada dasarnya, tradisi lisan kantola, sebagai bentuk warisan budaya masyarakat Muna, telah menuju ambang kepunahan. Selain dampak negatif dari globalisasi, kemunduran nilai-nilai budaya lokal tidak lepas dari masyarakat Muna yang sudah makin jauh meninggalkan tradisi ini. Tiadanya dukungan pemerintah terhadap tradisi ini juga membuka celah kehancuran warisan budaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami upaya-upaya revitalisai tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Pemahaman terhadap aktivitas kultural ini dapat memberikan arah bagi pembentukan kembali ikatan sosial dan identitas masyarakat lokal. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (2) fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (3) makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Dalam pembahasan ini digunakan teori hegemoni, teori resepsi, teori dekontruksi, dan teori semiotika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen dan pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertunjukan tradisi lisan kantola yang dilaksanakan secara periodik merupakan media pengenalan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat sehingga membuka peluang bagi pertumbuhan, dan perkembangan tradisi lisan, termasuk tradisi lisan yang semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan yang sarat dengan nilai-nilai estetika berfungsi untuk menyebarkan aspek-aspek moral dan etika kepada masyarakat. Kantola merupakan pernyataan perasaan dan pendapat seseorang, disampaikan secara santun sehingga mudah dihayati dan dipahami. Segala aturan yang bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun ikatan sosial masyarakat. Penghargaan terhadap warisan budaya lokal bermakna pada pengembangan identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan kantola berkaitan dengan nilai-nilai dan sikap serta keyakinan-keyakinan yang tetap diyakini keberadaannya. Edukasi dalam tradisi lisan kantola sejalan dengan proses regenerasi dalam masyarakat Muna, yang mengarah pada peran-peran baru bagi generasi muda untuk tetap mempertahankan warisan budayanya. Kantola memiliki makna yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Muna. Inovasi membuka pelung terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian. Inovasi dapat pula memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika. Pelestarian budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jatidiri dan kekuatan budaya sendiri, kesadaran budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya lokal, yang mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal. Kata kunci: budaya global, budaya lokal, tradisi lisan kantola, revitalisasi. ix
  • ABSTRACT This research concerns with traditional revitalization of kantola is Munaness society in globalization era. Principally oral tradition of kantola as a cultural heritage of Munaness society has been being threaten of extinction. Besides as the negative impact of globalisation, the decline of local cultural values is not separated from Munaness people who had neglected this tradition. Less attention of government on this tradition supports the decline of this cultural heritage. The research aims with to understand the real efforts of revitalisation the oral tradition of kantola in Munaness society. The knowledge of this cultural activity can contributes to reform of social emotion and local society identity. The problems of the research are (1) the form of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisation era, (2) the function of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisasi era, (3) the meaning of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisasi era. In discussion, the writer uses the theories of hegemony, receptive, deconstruction, and semiotics. The research applies qualitative method with hermeneutic approach. Collecting was done through participative observation, indept interview, also library and document study. Results of the research shows that the presentation of kantola local tradition which done periodically functions as a social medium in raising people awareness in society that inspire them to maintain and develop kantola as an oral tradition, includes the other ones which had been eliminated by global cultural products. The oral tradition that contains full esthetic values functions to strengthen moral and ethic aspects in the society. Kantola is an emotional statemen and individual expression of people that uttered politely so the meaning of kantola lyrics can be easily recognized and anderstood. All social norms taken from traditional values can be a solidarity instrument to create the unity is the society. The appreciation to local culture heritage has certain meaning to the development on local people identity. The local tradition of kantola is close related to values and attitude also doctrines that people treat as a true. The education exists is local tradition of kantola is suitable with regeneration process is Munaness society, towards to new roles of young generation to maintain their cultural heritage. Kantola has a pragmatic meaning in daily life of Munaness society. Inovation gives upportunity to the understanding of past time tradition heritage that able to answer present problems. The inovation can also give the medium of moral and ethic socialization. The maintaining of culture can be viewed as self posessive of identity and the force of own culture, the awareness of culture must be raised to give appreciation on local culture, towards cultural sustainability. This phenomenon can happens through local culture revitalization based on local context. Key Words: global culture, local culture, oral tradition of kantola, revitalization. x
  • RINGKASAN Penelitian ini, membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Pada dasarnya tradisi lisan kantola, sebagai bentuk warisan budaya masyarakat Muna, telah menuju kepunahan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh negatif globalisasi yang berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya lokal. Masyarakat Muna, sebagai pendukung utama warisan budaya lokal ini, sudah makin jauh meninggalkan tradisi ini. Selain itu, tiadanya dukungan pemerintah terhadap keberadaan dan keberlanjutan tradisi lisan ini membuka celah kehancuran warisan budaya masyarakat Muna. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap upaya-upaya revitalisasi tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Pemahaman terhadap aktivitas kultural ini dapat memberikan arah bagi pembentukan kembali ikatan sosial dan identitas masyarakat lokal. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (2) fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (3) makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Dalam pembahasan ini digunakan teori hegemoni, teori resepsi, teori dekontruksi, dan teori semiotika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen dan pustaka. Tradisi lisan selalu berkembang di dalam suatu proses seiring dengan perkembangan masyarakat pendukungnya. Masyarakat pemilik budaya tersebut, termasuk pemerintah, harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-pengaruh globalisasi yang mengancam eksistensinya. Untuk itu diperlukan berbagai upaya mendorong pelestarian kesenian tradisional. Bab V memaparkan bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola. xi dalam penelitian ini
  • Pertunjukan tradisi lisan kantola secara periodik merupakan media pengenalan dalam menumbuhkan kesadaran dan apresiasi masyarakat sehingga membuka peluang bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan yang semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Pertunjukan tradisi lisan kantola, bukan hanya menampilkan aspek keindahan, tetapi juga pemaknaan yang arif pada semua disiplin. Di dalam pertunjukan ini terdapat nilai-nilai moral, pendidikan, dan sosial. Tradisi lisan kantola merupakan refleksi atau cerminan dari kondisi masyarakat Muna. Menghidupkan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi lisan berarti memberikan pandangan kepada mereka dalam memandang dunia dengan lebih manusiawi berlandaskan nilai-nilai budaya lokal. Pemberian pandangan ini menyangkut tanggapan mereka tentang makna dan tujuan hidup selama ini dibentuk oleh sistem kapitalisme. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran melalui pembelajaran sosial. Salah satu proses pembelajaran sosial yang sangat penting adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang perlunya mengadakan perubahan dari pandangan dunia kapitalisme global ke arah pandangan yang sesuai dengan nilai-nilai lokal. Revitalisasi berarti nilai-nilai budaya lokal harus terus diperbaharui, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Hal ini berarti bahwa budaya lokal harus diberi nafas baru dalam menghadapi gelombang pengaruh kapitalisme dan budaya global. Tradisi lisan telah menjadi korban perubahan dari budaya global yang berdampak pada keterpurukan dan kepunahan berbagai warisan budaya lokal. Globalisasi memberi ruang terhadap penciptaan produkproduk budaya yang universal, sehingga produk-produk budaya lokal akan terserap didalamnya. Globalisasi menjadikan universalitas sebagai tujuan utamanya sehingga menciptakan hegemonisasi budaya. Kemorosatan budaya lokal juga dipengaruhi oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat sekarang hanya tampil sebagai penikmat budaya ketimbang menjadi pelaku aktif, memandang tradisi lisan dari segi pragmatisme saja. Sikap pragmatis ini lebih jauh lagi memandang bahwa tradisi lisan ini bukan menjadi bagian dari hidup xii
  • mereka. Tradisi lisan berfungsi sebagai alat komunikasi semata dengan mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya yang melekat pada tradisi lisan tersebut. Sebagai aktivitas kultural yang mengandung aspek estetika dan moral, tradisi lisan berfungsi berdasarkan atas kemampuan tradisi lisan tersebut dalam menyebarkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya. Fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola yang dipaparkan dalam bab VI menggambarkan keterkaitan totalitas fungsi tradisi lisan dengan kehidupan masyarakat. Tradisi memiliki muatan normatif atau moral, yang merupakan pembentukan karakter pengikat masyarakat lokal. Tradisi terkait erat dengan proses interpretatif, di mana masa lalu dan masa sekarang saling terkait serta terhubungkan. Tradisi lisan kantola berkaitan erat dengan pemahaman nilai-nilai moral yang diselenggaran berdasarkan aturan-aturan yang bersumber dari ajaran-ajaran adat masyarakat setempat, terkait dengan struktur dan dinamika sosial masyarakat Muna. Tradisi ini berfungsi untuk tetap menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat ataupun tradisi yang melekat pada masyarakat. Kantola merupakan pernyataan perasaan dan pendapat seseorang, yang disampaikan secara santun, sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Komunikasi dengan menggunakan kantola lebih berkesan mudah dihayati, dipahami maksud serta pendapat seseorang. Kantola berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kecermatan berbahasa. Hal ini akan menumbuhkan sikap penghargaan terhadap orang lain dan sikap malu untuk berbuat kesalahan. Dalam masyarakat tradisional, yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat yang berlandaskan pada tradisi, sikap malu merupakan dasar yang paling hakiki dalam kehidupan masyarakat. Komunikasi verbal dalam mengungkapkan masalah-masalah kebenaran yang berlandaskan tradisi telah tergantikan dengan komunikasi yang sifatnya trival, dengan tidak lagi mengindahkan kaidah kesantunan berbahasa. Komunikasi kini berubah fungsi dari wacana penyampaian pesan dan makna menjadi semacam wacana ekstase yang merupakan sebuah bentuk komunikasi yang berlangsung begitu saja, tanpa memerlukan fondasi makna, kode, dan nilai moral. Padahal, xiii
  • untuk menyampaikan perasaan dan pendapat, kesantunan berbahasa sangat mutlak diperlukan untuk menangkap informasi yang ingin disampaikan. Tradisi lisan kantola, sebagai produk budaya lokal, fungsi sosial tradisi lisan ditujukan untuk membangun suasana kebersamaan yang berdampak positif pada penguatannya ikatan batin di antara sesama anggota masyarakat. Dengan demikian, bila dikatakan bahwa memudarnya tradisi lisan di masyarakat, merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial diantara mereka, dan sebaliknya. Perwujudan dari sistem budaya yang melekat pada masyarakat tradisional dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium), melalui upaya pengendalian sosial (social control). Pentingnya lembaga-lembaga atau pun sarana pengendalian sosial, bergantung pada konteks sosiokultur di mana pengendalian sosial tersebut beroperasi. Efektifitas pengendalian sosial juga bergantung pada perubahan-perubahan sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat. Muna, dengan karakteristik masyarakat dan budayanya yang berbeda dengan wilayah lain di nusantara, memiliki sturuktur adat yang bertumpu pada adat damowanu liwu. Konsep adat ini merupakan kebiasaan yang berlaku secara turuntemurun yang membentuk atau nilai-nilai yang dilaksanakan oleh masyarakat. Berdasarkan aturan kultural, norma, dan nilai-nilai tradisional, kehidupan sosial yang selaras dan harmonis dapat terwujud. Segala aturan yang bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun ikatan sosial masyarakat yang tercerai berai dalam alam perubahan yang ditimbulkan oleh globalisasi. Tata nilai kehidupan masyarakat tradisional sifatnya mengikat, bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dianut masyarakat modern yang menuntut kompromistis dan kebebasan. Tata nilai ini bertujuan untuk melestarikan dan memelihara tatanan moral yang kuat pada masyarakat dan keberadaan kearifan lokal sebagai identitas masyarakat. Budaya global telah memunculkan sikap yang kompromistis, individualistik, dan konsumtif. Nilai tradisional, yang mengacu pada tradisi, mulai tergantikan oleh sistem yang dihasilkan oleh budaya global. Melalui media massa, perubahan masyarakat yang tanpa arah akan mengancam integritas sosial, sistem xiv
  • normatif, dan keutuhan identitas lokal. Nilai-nilai tradisi lokal akan semakin jauh dari masyarakat. Perubahan pola hidup masyarakat tradisional tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Tata nilai yang bersumber dari adat istiadat tidak lagi mampu membendung terciptanya pola-pola hidup yang dianggapnya modern. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat tradisional akan berubah menjadi museum hidup (the living museum). Revitalisasi nilai-nilai budaya lokal merupakan langkah untuk memberdayakan budaya lokal dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik, dalam arti tidak terikat dengan sifat ketergantungan pada globalisasi. Makna revitalisasi dipaparkan pada Bab VII menunjukan pembentukan hubungan antara ketahanan identitas, budaya. inovasi, penghargaan dan edukasi terhadap terhadap lokalitas akan memberikan ruang bagi pembentukan identitas lokal. Warisan budaya lokal harus dilihat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Saat ini arus kapitalisme global semakin kuat, maka saat ini pula dirasakan mengecilnya peranan tradisi lisan di tengah masyarakat. Di balik proses pengerdilan itu tentunya bahasa dan sastra daerah ikut pula menyertainya. Tak berlebihan apabila dikemukakan bahwa akan terjadi pemudaran dan penghilangan seperangkat sistem kebudayaan lokal yang menjadi identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan sarat dengan norma-norma yang mengatur tata hidup masyarakat. Proses inovasi harus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang terdapat didalamnya. Inovasi membuka peluang terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian yang terus berubah tanpa dapat dihindari. Inovasi ini menuntut perubahan, baik dimanfaatkan yang lama atau dalam bentuk yang lain, tanpa menghilangkan tipikal tradisi lisan tersebut. Proses inovasi tradisi lisan harus lebih berkembang dalam rangka menanamkan sikap positif masyarakat dalam berprilaku. Inovasi dapat pula memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika yang dapat menuntun ke arah yang lebih bermakna. Warisan budaya lokal berupa tradisi lisan mampu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai solusi alternatif, dalam mengatasi persoalan-persoalan pelik yang melanda tanah air. Tradisi lisan terbukti xv
  • mampu melintasi zaman dan terbukti mampu memberikan solusi berbagai persoalan. Sadar budaya harus ditumbuhkan kembali untuk menanamkan pemahaman akan pentingnya kedudukan dan fungsi warisan budaya lokal. Kesadaran budaya yang tinggi dapat menimbulkan pengaruh positif masyarakat dalam menilai keberadaan warisan budaya yang dimilikinya. Penilaian itu berkaitan dengan apresiasi, tanggapan ataupun penerimaan warisan budaya sehingga tidak mudah tergiring oleh gelombang globalisasi. Masyarakat Muna mengalami perubahan pola hidup dan gaya hidup, yang sudah meninggalkan nilai-nilai tradisional yang dianut masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak akan lagi memiliki ketahanan budaya jika tidak mencari solusi alternatif dalam membendung perubahan zaman yang bergerak sangat dinamis. Ketahanan budaya dapat tercipta jika masyarakat berperan aktif dalam segala aktivitas kultural. Ketahanan budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jatidiri dan kekuatan budaya sendiri, sehingga dengan begitu tidak perlu merasa rendah diri jika berhadapan dengan kebudayaan lain. Untuk mencapai ketahanan budaya, diperlukan pengetahuan untuk memahami serta menghayatinya, dan pengetahuan itu perlu disampaikan dengan sengaja melalui upaya terarah dan terencana. Dengan membangun ketahanan budaya, masyarakat akan mampu mempertahankan budayanya sendiri dan merespon berbagai gejolak globalisasi. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, masyarakat akan kehilangan produk budaya lokal yang tak ternilai harganya. Kesadaran budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya lokal, yang selanjutnya mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal. xvi
  • GLOSARIUM adhati : Mahar perkawinan atau mas kawin pada masyarakat Muna, yang harus dibayar oleh pihak laki-laki. damowanu liwu : Membangun daerah. daseise damowanu liwu : Bersatu membangun daerah. doangka tewise : Biasa disebut kawin minta merupakan suatu bentuk perkawinan pada masyarakat Muna yang proses berlangsungnya ada kesepakatan antara kedua belah pihak antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Perkawinan seperti ini biasanya ada pelamaran dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. equilibrium facebook : Keseimbangan : Program dalam internet yang bisa menghubungkan manusia di seluruh belahan dunia untuk mencari teman atau sahabat. gambusu : Sejenis kesenian rakyat yang melantunkan pantun, yang pesertanya melantunkannya dalam bentuk nyanyian dengan menggunakan iringan musik tradisional (gambus, sejenis kecapi). Jenis kesenian ini biasanya dilakukan oleh laki-laki ataupun perempuan secara bersamaan, baik tua maupun muda yang jumlah pesertanya 1 atau 2 orang. handphone : Alat komunikasi jarak jauh yang menghubungkan orang yang satu dengan yang lainnya. kakawasano ompu kaomu : Tuhan yang Maha Esa : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna, yang paling tertinggi atau golongan bangsawan (Ode), biasanya pada zaman dahulu orang yang bergelar kaomu mereka yang berhak menjadi raja, xvii
  • kapitalau (semacam adipati di Jawa) atau jabatan lain yang menyangkut eksekutif. lulo : Merupakan salah satu tarian yang ada di Sulawesi Tenggara, Tarian ini milik etnik Tolaki hanya saja sekarang sudah sering dilakukan oleh semua etnik di Sulawesi Tenggara pada saat acara hajatan seperti pesta pernikahan. maradika : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna, yang paling terendah marginalisasi : Penyingkiran. Marginalisasi dan ketidakberdayaan komunitas lokal dapat merupakan akibat dari masalah yang bersifat struktural. modero : Sejenis kesenian rakyat yang saling berbalas pantun, namun pesertanya melantunkannya dalam bentuk nyanyian. Jenis kesenian ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, baik tua maupun muda, yang dilakukan dengan cara bergandengan tangan. Mereka membentuk dua barisan, barisan laki-laki dan barisan perempuan, yang membentuk sebuah lingkaran. pofeleigho : Biasa disebut kawin lari merupakan suatu bentuk perkawinan pada masyarakat Muna yang dipandang kurang baik dan tidak diinginkan oleh keluarga perempuan. sara : Pejabat Muna di Jaman Kerajaan simulasi : Proses penciptaan bentuk nyata melalui modelmodel yang tidak mempunyai asal-usul atau referensi realitasnya, sehingga memampukan manusia membuat yang supranatural, ilusi, fantasi, khayali, menjadi tampak nyata skizofrenia : Berasal dari dua kata, yaitu ‘skizo’ yang artinya retak atau pecah (split) dan ‘frenia’ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian. xviii
  • video game walaka : diuraikan per kata berdasarkan makna kamus bahasa inggris, video berasal dari kata vide yang berarti lihat. Game berarti permainan; binatang liar; perburuan; mengadakan permainan; memperolok-olokkan; bermain judi; berani; lumpuh. Video game adalah permainan anak-anak berupa benda elektronik yang disambungkan ke televisi untuk bisa dimainkan. Biasanya mengunakan tambahan kaset permainan yang diinginkan. : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna, yang golongan ke dua (biasanya dinamakan golongan Sara). Pada zaman dahulu, golongan ini adalah yang berhak menjadi perdana menteri, mengatur adat, menetapkan hukum bersama Raja, memilih dan mengangkat raja bahkan mencopot raja dari jabatannya jika dianggap melanggar hukum Negara dan adat serta agama. xix
  • DAFTAR ISI JUDUL.............................................................................................................i PRASYARATAN GELAR.............................................................................ii LEMBAR PERSETUJUAN...........................................................................iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI...............................................................iv UCAPAN TERIMAKASIH............................................................................v ABSTRAK.....................................................................................................viii ABSTRACT....................................................................................................ix RINGKASAN..................................................................................................x GLOSARIUM................................................................................................xvi DAFTAR ISI..................................................................................................xix DAFTAR GAMBAR....................................................................................xxiii DAFTAR TABEL.........................................................................................xxiv DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................xxv BAB I PENDAHULUAN................................................................................1 1.1 Latar Belakang...........................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................11 1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................11 1.3.1 Tujuan Umum .......................................................................................11 1.3.2 Tujuan Khusus ......................................................................................11 1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................12 1.4.1 Manfaat Secara Teoretis .......................................................................12 xx
  • 1.4.2 Manfaat Secara Praktis..........................................................................12 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI..........13 2.1 Kajian Pustaka .........................................................................................13 2.2 Konsep ....................................................................................................18 2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola ........................................................19 2.2.2 Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara...................................................26 2.2.3 Era Globalisasi.......................................................................................27 2.3 Landasan Teori.........................................................................................29 2.3.1 Teori Hegemoni ....................................................................................30 2.3.2 Teori Dekonstruksi................................................................................33 2.3.3 Teori Semiotika.....................................................................................35 2.3.4. Teori Resepsi........................................................................................38 2.4 Model Penelitian.......................................................................................43 BAB III METODE PENELITIAN.................................................................46 3.1 Rancangan Penelitian ...............................................................................46 3.2 Lokasi Penelitian .....................................................................................47 3.3 Jenis dan Sumber Data..............................................................................47 3.4 Penentuan Informan..................................................................................48 3.5 Instrumen Penelitian.................................................................................49 3.6 Teknik Pengumpulan Data.......................................................................49 3.6.1 Observasi Partisipasi .............................................................................49 3.6.2 Wawancara Mendalam .........................................................................50 3.6.3 Studi Dokumen dan Pustaka..................................................................51 xxi
  • 3.7 Teknik Analisis Data ...............................................................................51 3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data .....................................................52 BAB IV GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN DI KABUPATEN MUNA ...............................53 4.1 Sejarah Kabupaten Muna..........................................................................53 4.2 Letak Geografis........................................................................................61 4.3 Sistem Mata Pencaharian..........................................................................69 4.3.1 Pertanian dan Perkebunan......................................................................69 4.3.2 Pegawai Negeri Sipil.............................................................................73 4.3.3 Peternakan..............................................................................................74 4.3.4 Perikanan...............................................................................................74 4.4 Sistem Kekerabatan..................................................................................76 4.5 Sistem Religi dan Kepercayaan................................................................82 4.6 Bahasa dan Kesenian Tradisional.............................................................85 4.7 Keberadaan Tradisi Lisan.........................................................................87 BAB V BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA.............89 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Secara Periodik.................................91 5.2 Aktualisasi Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna..................100 5.3 Pelestarian Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna...................113 BAB VI FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA......122 6.1 Fungsi Tradisi..........................................................................................122 6.2 Fungsi Komunikasi..................................................................................129 xxii
  • 6.3 Fungsi Sosial............................................................................................132 6.3.1 Fungsi Pengendalian Sosial..................................................................134 6.3.2 Fungsi Kritik Sosial..............................................................................142 6.4 Fungsi Pelestarian....................................................................................150 BAB VII MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA..........160 7.1 Makna Identitas.......................................................................................160 7.2 Makna Edukasi........................................................................................172 7.3 Makna Inovasi.........................................................................................175 7.4 Makna Pelestarian Budaya......................................................................181 Refleksi..........................................................................................................186 BAB VIII PENUTUP....................................................................................189 8.1 Simpulan..................................................................................................189 8.2 Saran........................................................................................................191 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................193 xxiii
  • DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Model Penelitian.........................................................................43 Gambar 4.1 Masjid Pertama Di Kabupaten Muna..........................................60 Gambar 4.2 Gua Liangkabori.........................................................................64 Gambar 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Laki_Laki.........95 Gambar 5.2 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Perempuan........95 Gambar 5.3 Masyarakat yang Menyaksikan Pertunjukan Tradisi lisan Kantola Didominasi Generasi Tua.............................................104 xxiv
  • DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan/Desa pada Tiap Kecamatan..............................63 Tabel 4.2 Hari Hujan dan Curah Hujan Di Kabupaten Muna........................66 Tabel 4.3 Penduduk, Rumah Tangga, Penduduk per Rumah Tangga dan kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan......................................68 xxv
  • DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Pedoman Wawancara Lampiran 2 : Daftar Informan Lampiran 3 : Peta Lokasi Penelitian Lampiran 4 : Surat Pernyataan Pembimbing dan Penguji Lampiran 5 : Surat Keputusan Rektor Universitas Udayana Lampiran 6 : Pernyataan Keaslian xxvi
  • BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dewasa ini pola kehidupan sosial budaya sehari-hari masyarakat Muna telah menunjukkan berbagai pengaruh yang sangat kuat, yang disebut sebagai pola kehidupan global. Warga masyarakat mengalami berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup, bahkan pandangan hidup mereka. Maka, perubahan tersebut telah mengancam keberadaan tradisi lokal, antara lain warisan budaya, kebiasaan, nilai, identitas, dan simbol-simbol kehidupan masyarakatnya (Giddens 2003: 9-15). Globalisasi telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global yang semakin tinggi intesitasnya. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan atau panutan oleh masyarakat pendukungnya tidak jarang mengalami perubahan karena nilai-nilai budaya global dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin mempercepat proses perubahan tersebut (Nashir 1999:176). Menurut Giddens (2003:67); Arivia, 2004:25), globalisasi membawa prinsip budaya modernitas sehingga memunculkan segudang permasalahan sosial dan mengancam peradaban manusia. Melalui ideologi kultural konsumerisme, globalisasi telah banyak menimbulkan konflik, kesenjangan dan bentuk-bentuk stratifikasi baru. Globalisasi telah membersihkan hampir semua tatanan sosial tradisional dan mengiring umat manusia pada pola homogenitas kultural yang 1
  • 2 menentang nilai-nilai dan identitas parochial. Hal ini mengancam keberadaan budaya lokal yang mengantarkannnya menuju kepunahan. Pengaruh globalisasi tidak hanya terkait dengan teknologi dan ekonomi, tetapi juga mempengaruhi berbagai segi kehidupan. Pengaruh globalisasi ini, disatu sisi membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, namun disisi lain memberikan pengaruh negatif yang sangat signifikan pada aspek-aspek kebudayaan. Bukan hanya berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya lokal tetapi juga akan mengancam terjadinya kepunahan berbagai aspek kebudayaan, seperti tradisi lisan yang berkembang secara turun-temurun sebagai bentuk warisan budaya dari generasi sebelumnya. Tradisi lisan sebagai bagian dari kearifan lokal yang dapat diperhitungkan sebagai realitas nilai budaya alternatif dalam kehidupan global berada dalam dua sistem budaya yang harus dipelihara dan dikembangkan, yakni sistem budaya nasional dan sistem budaya lokal. Nilai budaya nasional berlaku secara umum untuk seluruh bangsa, sekaligus berada diluar ikatan budaya lokal manapun. Nilainilai kearifan lokal tertentu akan bercitra Indonesia karena dipadu dengan nilainilai lain yang sesungguhnya diwariskan dari nilai-nilai budaya lokal. Warisan budaya mempunyai cakupan pengertian yang luas, meliputi budaya yang bersifat kebendaan yang dapat diraba (tangible) dan yang tidak dapat diraba (intangible). Warisan budaya yang tak teraba (intangible) tercakup didalamnya hal-hal yang tertangkap panca indera lain diluar perabaan, seperti musik, pembacaan sastra maupun bahasa lisan (Sedyawati, 2008:207). Sastra lisan, melalui kaidah-kaidah irama bunyinya, dapat berperan serta dalam
  • 3 mendokumentasikan unsur-unsur kebudayaan tertentu sehingga dapat diwariskan pada generasi berikutnya. Tradisi lisan merupakan cikal bakal munculnya seni dan sastra dalam komunitas kehidupan Masyarakat Muna. Cerita-cerita yang acapkali dituturkan oleh orang tua kepada anak cucunya pada masa lalu merupakan bentuk tradisi lisan yang dikemudian hari berkembang menjadi sastra lisan. Namun, dalam proses selanjutnya perkembangan tradisi lisan cukup memprihatinkan. Hanya sebagian kecil saja yang dapat didokumentasikan dalam lembaran-lembaran kertas. Karya sastra yang berbau tradisi lisan tidak lagi sesuai dengan minat generasi muda yang cenderung menaruh minat pada hal-hal yang mengandung unsur budaya pop media elektronik. Perkembangan tradisi lisan hanya menjadi bagian terkecil dari perkembangan budaya pada satu komunitas. Hal itu tentu tidak lepas dari minat para pelaku budaya itu sendiri yang sudah semakin jauh meninggalkan tradisi tersebut. Hal ini diperparah lagi dengan tidak didukungnya tradisi lisan menjadi bagian integral dari proses perkembangan budaya dalam satu komunitas yang cenderung bergerak dinamis saat ini. Pemerintah sendiri seolah-olah mengabaikan pengenalan ataupun pembelajaran sastra lisan. Contoh yang paling kongkret dari ketiadaan dukungan tersebut adalah pengenalan tentang sastra lisan di sekolah-sekolah. Kurikulum yang dikembangkan hanyalah untuk mempelajari dan memberikan pemahaman umum terhadap karya sastra tulis. Pembelajaran dan pemahaman terhadap sastra lisan tidak memperoleh porsi yang seimbang. Inilah oposisi biner yang pertama
  • 4 diterapkan terhadap sastra yang sekaligus mensubordinasi sastra lisan sebagai sastra kelas dua (Ratna, 2006:328). Pemerintah selama ini tampaknya hanya berusaha untuk memajukan kebudayaan nasional. Padahal pemerintah diharapkan juga menggali dan memperkenalkan kekayaan khasanah kebudayaan lokal. Kenyataan di masyarakat terjadi frakmentasi antara satu produk budaya dengan produk budaya lainnya. Produk budaya yang dianggap sebagai antibudaya itulah yang dianggap sebagai kebudayaan nasional, walaupun kebudayaan nasional bersumber dari kolektivitas budaya-budaya lokal. Akibatnya timbul diskriminasi terhadap produk budaya lokal yang tersebar di seluruh wilayah pelosok nusantara. Terjadinya pemutusan tradisi selama rezim Orde Baru yang sangat hegemonik sentralistik dan menekankan keseragaman sehingga mengakibatkan keragaman budaya lokal sering terabaikan. Tidak mengherankan, banyak budaya lokal yang kemudian sedikit demi sedikit hilang, bahkan ada yang punah. Tradisi lisan memiliki peranan penting dan strategis dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena tradisi lisan sebagai salah satu bentuk budaya lokal memiliki hubungan batin dengan para pewarisnya dan diyakini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pendukungnya. Tradisi lisan memiliki peranan dan fungsi untuk menguatkan ketahanan budaya bangsa. Hanya saja, seiring perkembangan zaman, kian banyak tradisi lisan yang mulai raib dan untuk melestarikannya harus berkejaran dengan proses perkembangan sastra tulisan.
  • 5 Tradisi Lisan kantola merupakan salah satu sastra lisan yang berasal dari daerah Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai produk kultural yang dihasilkan bertatanan tradisional, yang pada prinsipnya kantola memiliki karakteristik umum yang sama dengan sastra lisan daerah lain di tanah air. Sebagai sastra lisan, keberadaan kantola pada masyarakat Muna merupakan kristalisasi kultural dalam kehidupan sosial yang tumbuh dan berkembang seiring dengan kemapanan tradisi masyarakatnya. Pada saat tradisi berproses secara alami mengalami stagnasi akibat perubahan sosial, maka keberadaan kantola sebagai tradisi lisan turut melemah. Hal semacam ini berakibat fatal terhadap perkembangan tradisi lisan kantola yang semakin teralienasi dari masyarakat Muna, akibat dampak dari modrnisasi. Tradisi lisan kantola merupakan tradisi lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna sebagai media ekpresi yang lirik-liriknya bermuatan perasaan, pengalaman pribadi, dan dimensi kemasyarakatan. Lirik kantola terdiri atas beberapa baris yang jumlahnya tidak menentu; ada lirik yang panjang (sepuluh sampai lima belas baris) dan ada lirik yang pendek (empat sampai lima baris). Penyampaian lirik kantola tidak secara lugas, tetapi dikiaskan melalui simbolsimbol yang ada. Oleh Karena itu, untuk mengetahui kandungan makna yang terdapat dalam lirik kantola, seseorang harus memiliki kemampuan interpretatif terhadap simbol-simbol tersebut (Aderlaepe, 2006:51). Pada mulanya, tradisi lisan kantola ini sangat diminati oleh masyarakat Muna, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan. Meskipun tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan, tradisi lisan ini tetap dilestarikan secara
  • 6 turun temurun, dari mulut kemulut. Akan tetapi, dengan semakin gencarnya arus globalisasi di bidang teknologi dan informasi yang merasuki wilayah budaya lokal, maka keberadaan tradisi kantola ini, sudah mulai terpinggirkan bahkan sudah mulai menunjukan gejala-gejala terlupakan. Hal ini tercermin pada pertunjukan tradisi kantola yang semakin jarang dijumpai pada masyarakat Muna, karena semakin berkurangnya pelaku tradisi ini, dan juga tidak adanya regenerasi dari gerasi tua kegenerasi muda untuk mempelajari dan memahami makna yang terkandung dalam tradisi lisan kantola. Generasi muda sudah tidak menginginkan lagi tradisi lisan kantola yang dianggap sebagai tradisi kuno. Maka bukan hal mustahil tradisi lisan kantola berada di ambang kepunahan apabila tidak dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal. Hegemoni di bidang teknologi dan informasi dan bergulirnya suatu proses transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial mengarah pada hegemoni budaya kosmopolitan dengan mendesakkan uniformitas secara universal. Proses universalisasi ini mengikis secara perlahan, namun pasti, identitas individu dan budaya-budaya lokal melalui liberalisasi ekonomi ditingkat nasional dan lokal sehingga berdampak pada kecenderungan menguatnya sikap konsumerisme dan individualisme, serta mereduksi semangat kolektivitas masyarakat lokal. Dampak yang lebih jauh akan terasa dengan semakin dilupakannya nilai-nilai budaya lokal, maka perlu dilakukan revitalisasi kearifan lokal. Pudarnya sebuah tradisi atau kebudayaan lisan ini disebabkan masyarakat menganggap tradisi lisan adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu. Stigma semacam itu menyebabkan
  • 7 generasi sekarang enggan memelihara dan mempertahankan tradisi lisan tersebut. (Gidden, 2005: 5; Steger, 2006: 54). Harkat suatu masyarakat sangat ditentukan oleh budayanya sendiri. Budaya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung oleh masyarakatnya yang mejadi ahli waris sekaligus pelaku menuju tercipta dan terwujudnya situasi yang disebut sadar budaya. Sadar budaya adalah kesadaran atau pemahaman dikalangan masyarakat bahwa sebagai individu yang berada ditengah tatanan pergaulan, posisinya tidak pernah bersifat singular, melainkan plural. Disamping itu, suatu masyarakat tidak akan mampu menjaga eksistensi dan menghayati budayanya sendiri apabila tidak bergaul dengan masyarakat lain. Persoalan hakiki inipun menjadi sesuatu yang penting dan tak terhindarkan bagi budaya-budaya lokal. Oleh karena itu, masalah pemahaman tradisi lisan tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diaktualisasikan dengan cara apapun yang dipandang baik (Sayuti, 2008: 25-26). Dengan demikian, merevitalisasi kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi lisan sangatlah mendesak untuk dilakukan, sebagai bagian dari sadar budaya agar tetap dapat menjaga dan mempertahankan keberadaan tradisi lisan dalam budaya lokal. Kebudayaan nasional ataupun budaya-budaya lokal selalu berada didalam suatu proses, di dalam kancah hubungan antarabudaya yang selalu terjadi tanpa dapat dihindari. Masyarakat pemilik budaya tersebut maupun pemerintah harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga jatidiri dan identitas bangsa atau suku bangsa senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-
  • 8 pengaruh globalisasi yang terus merambah dan berkecambah. Menghidupkan kembali budaya lokal sama artinya dengan menghidupkan kembali identitas lokal, oleh karena identitas merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan (Piliang, 2004: 279). Identitas itu sendiri menjadi sebuah persoalan saat warisan masa lalu diambil alih oleh pengaruh-pengaruh globalisasi yang menciptakan hegemoni budaya. Krisis identitas muncul ketika warisan budaya yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal tidak dapat dipertahankan lagi karena ia telah direnggut oleh nilai-nilai lain yang berasal dari luar. Revitalisasi merupakan suatu proses menjadikan kebudayaan sebagai suatu yang menjadi bagian terpenting di dalam kehidupan manusia sebelum kehilangan maknanya. Proses revitalisasi tentunya dilakukan secara terorganisir oleh individu pelaku budaya, kelompok komunitas bersama-sama pemerintah yang dimemiliki kesadaran dan merasa begitu pentingnya warisan budaya. Kesadaran akan pentingnya kebudayaan beserta kearifan lokal yang terkandung didalamnya timbul sebagai akibat penemuan akan jatidiri, berlatar belakang dari warisan leluhur yang khas dan tidak dapat ditemukan pada daerah lain. Revitalisasi dilakukan untuk mempertahankan eksistensi budaya lokal sebelum rantai pewarisnya terputus dan sebelum terjadinya profanisasi budaya lokal yang dianggap bermakna oleh suatu komunitas budaya tertentu. Revitalisasi budaya lokal, terutama kantola harus terus digali, diperkuat, dan dikembangkan dalam rangka menangkal arus globalisasi yang begitu gencar mempengaruhi eksistensi, legitimasi, dan keberlanjutan budaya lokal tersebut. Sosialisasi konsep-
  • 9 konsep, kaidah-kaidah, pola-pola, dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus, dari generasi ke generasi, agar keberadaan tradisi lisan dalam budaya lokal dapat terus dipertahankan keberlanjutannya. Menghidupkan kembali budaya lokal tidak dengan sendirinya disebut revitalisasi. Revitalisasi sejatinya berfungsi untuk menjadikan budaya lokal sebagai sesuatu yang sangat berguna, bermanfaat, dan berfungsi dalam kehidupan masyarakat (Sibarani, 2004: 31). Menurut Sibarani, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan revitalisasi, antara lain: 1) mendorong setiap kebudayan etnik hidup berkembang tanpa diskriminasi dengan menghindari dominasi kebudayaan mayoritas, hegemoni kebudayaan mayoritas, dan penyeragaman kebudayaan; 2) membangun perkampungan budaya (cultural village) sebagai wadah transfer budaya, sosialisasi kebudayaan, dan sebagai tujuan wisata budaya; 3) segala bentuk pembangunan harus dilandasi oleh kebudayaan masyarakat setempat; 4) melibatkan masyarakat setempat sebagai pemain, penentu prioritas, perencana, pelaksana, dan penerima untung dari kegiatan kebudayaan termasuk kegiatan pembangunan; 5) melibatkan “orangorang budaya” dalam penelitian, perencanaan, dan pelaksanaan setiap pembangunan. Untuk melakukan revitalisasi tradisi lisan dibutuhkan kepedulian berbagai kalangan, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Namun, yang menjadi persoalan utama dan kunci utama revitalisasi tradisi lisan kantola adalah menyangkut sikap masyarakat pendukungnya. Apakah mereka mau melestarikan budayanya atau tidak menganggap perlu lagi karena menjadi bagian dari masa
  • 10 lalu. Dan tentu saja revitalisasi akan bisa dilaksanakan jika tradisi lisan itu masih ada dan belum mati atau masih memiliki ahli waris. Penelitian ini berusaha mengkaji keberadaan tradisi lisan kantola dalam kaitannya dengan revitalisasi tradisi lisan. Kantola sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi dasar pijakan kehidupan bermasyarakat dalam ruang lingkup masyarakat Muna. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berparadigma budaya dengan permasalahan menyangkut bentuk, fungsi dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola, di mana kantola yang dalam syairsyairnya, bermuatan multidimensional yang sarat makna.
  • 11 1.2 Rumusan Masalah Dalam penelitian akan dikemukakan tiga masalah yang berkaitan dengan revitalisasi tradisi lisan kantola dan hubungannya dengan pelestarian dan pengembangan tradisi lisan pada masyarakat Muna, yaitu: 1. Bagaimana bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi? 2. Apa fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi? 3. Bagaimana makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami serta mendeskripsikan tradisi lisan kantola dan menggali informasi tentang revitalisasi terhadap tradisi lisan tersebut pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara. 1.3.1 Tujuan Khusus Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi; 2. Untuk mengetahui fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi;
  • 12 3. Untuk memahami dan menginterpretasikan makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoretis Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat: 1) menambah khazanah pengetahuan tentang tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna dan 2) hasil penelitian ini dapat menambah referensi tentang tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna ditinjau dari segi bentuk, fungsi, dan maknanya. 1.4.2 Manfaat Praktis Secara praktis, temuan penelitian ini dapat: 1) memberikan masukan dan pertimbangan bagi penentu kebijakan terutama yang berkaitan dengan kebudayaan daerah, 2) membuka wawasan masyarakat terhadap perkembangan tradisi lisan kantola pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara sehingga dapat memberikan sumbangsih dalam memperkaya khazanah kebudayaan nasional, dan 3) temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan tradisi lisan sehingga nantinya tidak lagi menjadi tradisi minoritas yang tersubordinasi.
  • BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka yang dimaksud adalah membicarakan mengenai uraian tentang konsep ataupun teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah dalam penelitian. Dengan demikian, kajian pustaka secara tidak langsung dapat memberikan inspirasi, membuka wawasan kerangka berpikir. Kajian pustaka sekaligus dapat menjadi acuan dalam pemahaman yang sifatnya teoritis dan konseptual yang berhubungan dengan penelitian. Kajian pustaka juga memungkinkan peneliti untuk menentukan jangkauan atau ruang lingkup penelitiaannya, mencermati teori dan menempatkan masalah penelitiannya, memiliki gambaran mengenai pustaka yang relevan, menghindari pengulangan terhadap penelitian terdahulu, menempatkan hasil penelitiannya pada ranah yang berbeda dengan penelitian yang lainnya (Aziz, 2003: 193- dalam Ola, 2003: 53). Maka perlu ditegaskan lebih dahulu bahwa kepustakaan utama yamg menjadi pembanding sekaligus menjadi sumber inspirasi untuk melakukan kajian terhadap revitalisasi tradisi lisan kantola pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara adalah hasil kajian Aderlaepe dkk (2006) tentang Analisis Semiotik Atas Lirik Kantola: Sastra Lisan Daerah Muna, yang merupakan Proyek Pusat bahasa Sulawesi Tenggara, dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 2006 oleh Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara Departemen Pendidikan Nasional. 13
  • 14 Penelitian Aderlaepe tersebut merupakan gambaran pola prilaku budaya secara kolektif oleh suku Muna di Sulawesi Tenggara dengan mengambil objek kantola, yaitu sastra lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna dengan cara didendangkan. Dalam penelitian tersebut menguraikan tentang lirik syair kantola berbentuk soneta, tidak terikat oleh bentuk sajak maupun baris. Lirik syair-syair kantola yang bermuatan multidimensional, sarat makna. Fokus kajian Aderlape ini terletak pada kandungan maknanya, sedangkan peneliti difokuskan pada bentuk tradisi lisan kantola, fungsi ttadisi lisan kantola makna tradisi lisan kantola, Kajian Aderlaepe ini memiliki kesamaan objek dengan rencana penelitian ini yakni tradisi lisan kantola, tetapi apabila dilihat dari: (a) lokasi penelitian memiliki perbedaan yaitu penelitian Aderlaepe terdiri dari enam kecamatan (Kecamatan Tongkuno, Tiworo kepulauan, Kabawo, Napabalano, dan kecamatan Kusambi) sedangkan peneliti mengambil objek dua kecamatan, yaitu kecamatan lawa dan Kontunaga dikabupaten Muna. (b)kajian Aderlaepe hanya menggunakan Teori Semiotika, sedangkan peneliti menggunakan empat teori diantaranya, teori Hegemoni, teori resepsi, teori semiotika dan teori dekontruksi. Selain pustaka utama tersebut, penulis juga menyajikan beberapa kajian ilmiah lainnya untuk menunjang pustaka utama dalam mempertajam dan memperkaya khasanah penelitian ini. Bardia (2006) melakukan penelitian yang berjudul “Wacana Kantola Di Kabupaten Muna Dalam Perspektif Linguistik Kebudayaan”. Penelitian tersebut berfokus pada deskripsi mengenai struktur
  • 15 linguistik, struktur tematik, struktur skematik, makna lingual-kultur, dan nilai budaya. sedangkan peneliti mengkaji dari perspektif kajian budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian Bardia adalah metode deskriptif kualitatif. Untuk mengumpulkan data digunakan metode observasi dan wawancara. Metode distribusional digunakan untuk menganalisis data. metode formal dan informal digunakan dalam penyajian hasil analisis. Penetapan metode ini berdasarkan paradigma naturalistik dan interpretatif dengan prinsip kealamiahan data dan interpretasi data. Dari hasil analisis mengenai struktur linguistik ditemukan bahwa dalam kantola ada kecenderungan penggunaan bunyibunyi nyaring. Hasil penelitian Aderlaepe (2006) dan Bardia (2006) di atas, semakin memperjelas keaslian atau pentingnya penelitian ini bahwa masyarakat Muna memiliki tradisi lisan kantola yang belum dikembangkan secara optimal dan masih jarang dikaji secara mendalam melalui kajian-kajian ilmiah. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut oleh penelitian ini dijadikan pula sebagai petunjuk awal atau rujukan untuk mengkaji lebih dalam tradisi-tradisi lisan masyarakat Muna yang diwarisi secara turun-temurun baik dari ajaran nenek moyang maupun dari hasil pengalaman hidup mereka berinteraksi dengan alam. Penelitian Hadirman (2009) yang berjudul “Fungsi Sosial Budaya Bahasa Muna dalam Konteks Katoba”. Merupakan penelitian sebagai tesis S2 di Program Magister Linguistik Universitas Udayana Denpasar. Penelitian tersebut menganalisis tentang tuturan ritual katoba sebagai penuntun etika moral dan fungsi sosial bagi budaya masyarakat Muna, ungkapan-ungkapan dalam ritual katoba, berupa ungkapan keagamaan, nasihat, dan permohonan ampun kepada
  • 16 yang kuasa. Sedangkan ungkapan-ungkapan pada tradisi lisan kantola berupa cinta kasih, nasihat, kekecewaan, kebencian, pelipur lara, kritikan moral, dan kritikan sosial. Maka letak persamaan penelitian Hadirman dengan peneliti adalah pada ungkapan nasehat, dimana ungkapan tersebut ada juga tradisi lisan kantola. Hanya saja pada ritual katoba diungkapan secara langsung, sedangkan pada tradisi kantola mengunakan bahasa metaforis. Penelitian ini juga dapat membantu peneliti dalam mengkaji fenomena pada kebudayaan masyarakat Muna. Arnailis (2004) yang berjudul “Kesenian Ilau Di Nagari Salayo Sumatera Barat Suatu Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna” merupakan penelitian sebagai tesis S2 di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar. Penelitian tersebut merupakan pertunjukan kesenian ilau adalah untuk mengupacarai saudara yang mati dirantau yang jasadnya tidak dibawa pulang kekampung halaman. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pada kajian ini ditelaah bentuk estetika pertunjukan kesenian ilau, fungsi pertunjukan kesenian ilau, dan makna estetika pertunjukan kesenian ilau, dan makna estetika pertunjukan kesenian ilau dalam masyarakat salayo dewasa ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan kepustakaan, dan dokumentasi. Penelitian ini telah memberikan gambaran mengenai aspek-aspek kebudayaan, dan juga dapat menambah wawasan dalam mengkaji bentuk, fungsi, dan maknanya. Marafad, (2008) yang berjudul Seni Kantola dalam Konteks Bahasa Muna. Merupakan makalah yang disampaikan pada seminar internasional tanggal 2 Desember 2008 di Wanci, Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara
  • 17 Dalam makalahnya menguraikan kajiannya tentang Bentuk Kantola, Isi Kantola, Pelaksanaan Kantola, Tujuan Pelaksanaan Kantola, Peserta Kantola, Waktu Pelaksanaan Kantola, Tempat Pelaksanaan Kantola, Durasi Waktu Kantola, Sasaran Kantola diadakan, sedangkan peneliti memfokuskan kajiannya pada bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola, fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola, dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola. Makalah tersebut memiliki kesamaan objek dengan rencana penelitian ini yakni tradisi lisan kantola. Selain penelitian tersebut di atas, pada penelitian ini juga mengambil rujukan buku tentang Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya oleh Alo Liliweri (2002). Pada buku itu dijelaskan pertumbuhan kesenian multikultural yang sedang bergejolak dewasa ini. Menurut buku itu, “penyembuhannya” dapat dilakukan dengan humanisme yang digali dari kearifan lokal sarat dengan nilainilai humanistik. Buku tersebut dapat membantu penelitian ini, terutama untuk menjelaskan bentuk tradisi lisan kantola dari perspektif ilmu sosial masyarakat dan ilmu komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2002: 259). Dari berbagai pendapat tersebut diatas, peneliti dapat memperoleh gambaran yang berguna dan bermanfaat dalam pengembangan penelitian selanjutnya. Hal ini akan memberikan kontribusi yang besar dalam menelusuri keberadaan kantola beserta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap syairnya serta bentuk dan fungsinya. Dengan demikian, revitalisasi dapat dilakukan setelah mengetahui keberadaan bentuk tradisi lisan ini sehingga dapat menjalankan fungsinya dan menghasilkan makna.
  • 18 Hal-hal yang dikemukakan pada penelitian terdahulu umumnya berfokus pada pembahasan stuktur dan aspek-aspek yang melingkupi tradisi lisan kantola. Penelitian ini berusaha memanfaatkan ruang kosong hasil penelitian sebelumnya dengan melakukan pembahasan dari segi bentuk, fungsi dan makna, revitalisasi tradisi lisan kantola. Kelebihan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya terletak pada pembahasan yang dihasilkan lebih kongkrit dan lebih komprehensif. Penelitian ini tidak sekedar mengumpulkan data sebanyakbanyaknya tetapi yang lebih utama menarik akar permasalahan berdasarkan pernyataan teoritis. 2.2 Konsep Konsep ialah penyederhanaan pemikiran dengan menggunakan satu istilah untuk beberapa kajian. Konsep juga diartikan sebagai hasil abstraksi dan sintesis teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi, disamping untuk menjawab dan memecahkan masalah penelitian. Konsep dapat berfungsi untuk menyederhanakan arti atau pemikiran, ide serta hal-hal atau gejala sosial yang digunakan agar pembaca dapat memahami maksudnya sesuai dengan keinginan peneliti dalam penggunaan konsep tersebut. Konsep juga merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena yang serupa kenyataanya konsep dapat mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda, semakin dekat suatu konsep kepada realita maka semakin mudah konsep tersebut diukur dan diartikan (Koentjaraningrat, 1994: 4). Konsep merupakan deskripsi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Maka dari itu, dalam penelitian diuraikan konsep secara langsung berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
  • 19 2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Pada bagian ini terdapat tiga satuan konsep yang harus dijelaskan terlebih dahulu, yaitu pertama revitalisasi. Menurut Keesing (1999:257) revitalisasi adalah perubahan komunitas karena kesadaran baru untuk mencapai suatu citacita atau menempuh suatu cara hidup dengan sesuatu yang baru ataupun cara hidup dan nilai-nilai dari zaman yang sudah lampau. Keesing lebih menekankan pada kesadaran baru terhadap upaya-upaya perubahan kehidupan masyarakat yang sudah menyimpang dari tradisi-tradisi lama. Revitalisasi dapat berupa cara hidup yang sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap mengikuti aturan-aturan yang diwariskan oleh para leluhur ataupun tetap mengikuti pola kehidupan lama yang telah diturun-temurunkan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Konsep revitalisasi juga diungkapkan oleh Sibarani (2004:30) yang menyatakan bahwa revitalisasi kebudayaan adalah sebuah proses dan usaha memvitalkan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat atau usaha untuk membuat kebudayaan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan harus menjadi bagian dari masyarakat pendukungnya. Budaya lokal harus diusahakan dapat bermanfaat dalam kehidupan manusia untuk lebih menyejahterakan masyarakat. Budaya lokal yang berkembang secara turun temurun dari zaman lampau sudah semakin tergerus dan tertatih-tatih menghadapi pengaruh globalisasi yang semakin luas daya jelajahnya. Untuk menangkal arus globalisasi yang begitu gencar mempengaruhi keberadaan, legitimasi, dan keberlanjutan budaya lokal,
  • 20 maka munculnya kekuatan yang disebut kearifan lokal, atau lebih tegasnya revitalisasi kearifan lokal. Astra (dalam Majid 2009:19) lebih lanjut menegaskan bahwa revitalisasi itu difungsikan untuk memperkokoh jati diri bangsa, yang didalamnya meliputi kesadaran sejarah memegang peranan penting dalam menumbuhkembangkan jati diri dan identitas bangsa sehingga penghayatan kebersamaan dimasa lampau dapat membangkitkan rasa kepemilikan terhadap kearifan lokal. Selain itu, kesatuan dan persatuan akan terus terpelihara dalam mempersiapkan masa yang akan datang tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh generasi pendahulu. Gagasan revitalisasi mengandung pikiran jernih yang menyisaratkan adanya pandangan positif tentang beberapa strateginya kekuatan kearifan lokal dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Ardana (2004:91-92) menilai kebijakan pelestarian nilai-nilai budaya lokal terjebak pada persoalan idiom politik, tanpa aplikasi yang nyata, hal ini terlihat ketika nilai-nilai budaya lokal yang sebenarnya masih relevan dalam menjawab persoalan global akhirnya punah. Sentralisasi kekuasaan yang begitu besar membuat pemerintah dimasa lalu mengidap “paranoia” terhadap segala sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan nasional. Pelestarian adat dan nilainilai budaya lokal lebih bersifat top down berkaitan dengan upaya pelestarian kekuasaan. Untuk itu perlu kiranya ditinjau kembali tentang apa yang dikerjakan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang berlangsung dalam masyarakat yang seringkali tanpa arah ketika berhadapan dengan berbagai persoalan global.
  • 21 Berdasarkan pengalaman historis, seringkali pengalaman masa lalu menjadi berharga dalam mempertahankan eksistensi kehidupan masyarakat. Maka dari itu, di berbagai kesempatan telah seringkali dimunculkan wacana tentang upaya untuk revitalisasi nilai-nilai budaya lokal yaitu sebagai langkah pemberdayaan budaya lokal itu dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dengan kata lain, perlunya untuk memulihkan dan membangkitkan kembali ingatan dan kesatuan kolektif masyarakat lokal sehingga tidak tercabut dari akarnya. Berbagai tantangan yang muncul di masyarakat mulai dari ethnosentrisme di tingkat lokal, munculnya berbagai konflik sosial, politik dan ekonomi yang berkepanjangan sampai berkembangnya paham-paham separatisme. Tantangantantangan ini harus dihadapi dengan membangkitkan kembali atau revitalisasi nilai-nilai budaya lokal di era globalisasi ini. Kemunculan nilai-nilai budaya lokal itu dapat diharapkan, apabila masih ada tradisi kebudayaan sendiri yang dapat dihidupkan kembali. Dalam era globalisasi, menurut Ardana, telah muncul upaya-upaya untuk membangkitkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan peran dari lembaga adat. Menggunakan nilai-nilai budaya lokal untuk menjawab berbagai tantangan inilah sebagai wujud nyata dari revitalisasi budaya lokal. Dalam hal ini perlunya lebih ditingkatkan peran lembaga adat dalam menangani persoalan-persoalan konflik politik, krisis ekonomi, degradasi budaya sebagai akibat pengaruh globalisme.
  • 22 Kebudayaan nasional merupakan proses dari bawah, dengan bertumpu pada dualistik antara kebudayaan lama dan kebudayaan baru. Namun pada kenyataannya, kebudayaan baru terus menekan kebudayaan lama yang sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dapat menangkal gelombang pasang globalisasi dan bergulirnya proses transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial yang mengarah pada satu pusat budaya kosmopolitan. Strategi kebudayaan melalui revitalisasi, harus membuka akses partisipatif dan membangkitkan respon mutualistik dari eksponen budaya yang beragam. Revitalisasi, dengan demikian menjadi hal yang sangat urgen untuk dilakukan dalam menangkal berbagai pengaruh globalisasi. Globalisasi yang menimbulkan berbagai dampak. Salah satu dampak globalisasi adalah keengganan untuk melanjutkan tradisi lama yang dianggap sebagai bagian dari masa lalu yang telah usang dan tidak sesuai lagi dengan masa kekinian, harus sesegera mungkin disikapi dan ditindak lanjuti. Revitalisasi meniscahayakan nilai-nilai budaya lokal untuk menjawab berbagai tantangan globalisasi. Kedua konsep tradisi lisan. Tradisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:1069) diartikan sebagai adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat. Tradisi juga berarti penilaian atau anggapan bahwa yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. Ini menyiratkan bahwa warisan dari masa lalu mengandung nilai-nilai kebenaran yang masih telah berlaku di dalam masyarakat dan harus terus dilestarikan. Piliang (2005) mendefinisikan tradisi lisan sebagai setiap bentuk karya, gaya yang dipresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu kemasa kini,
  • 23 sehingga tradisi lisan adalah sesuatu yang tidak pernah berubah, dan dijalankan sebagai sebuah pengulangan-pengulangan. Tradisi menurut Piliang adalah proses repetisi dan reproduksi. Tradisi adalah reproduksi atau kelanjutan masa lalu, dan ia akan kehilangan sifat tradisi bila ia berubah. Perubahan dianggap sebagai musuh tradisi yang mengancam keaslian dan keberlanjutannya. Konsep lain yang dikemukakan Piliang menyangkut tradisi lisan adalah bentuk, prinsip, konsep, pranata tingkah laku, ekspresi, norma dan nilai yang telah didefinisikan dimasa lalu secara kolektif, dan diwariskan secara turun temurun. Karena didefinisikan secara kolektif, maka tradisi mampu mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya lokal yang dapat bertahan dalam menumbuhkan kemampuannya, dalam arti tidak terikat dengan sifat ketergantungan pada globalisasi. Dengan kata lain, tradisi harus mampu bergerak secara aktif dalam menumbuhkan kemampuannya. Ketiga, konsep kantola adalah dari sisi etimologinya berasal dari dua morfem, yakni morfem ka- dan morfem tola 'panggil'. Morfem ka- pada verba dalam bahasa Muna memiliki fungsi gramatikal derivasional atau penominal. Adapun morfem ka- mengalami perubahan bentuk menjadi kan-, hal itu sebenamya sebagai pengaruh nasalisasi bahasa seni dalam bahasa Muna. Dengan demikian, kantola lebih bermakna 'panggilan', 'ajakan' atau 'seruan'. Kantola merupakan nama prosa lirik dari daerah Muna yang didendangkan pada saat acara berbalas pantun antara dua kelompok, yaitu kelompok pria dan kelompok wanita. Secara ontologis, syair-syair kantola bermuatan multidimensional yang sarat makna. Lirik kantola disusun dan digubah pada saat pementasan berlangsung. Hal
  • 24 ini mempunyai tujuan agar tradisi kelisanannya tetap terjaga. Pengekspresian makna dalam lirik kantola tidak secara lugas, tetapi melalui simbol-simbol yang disertai dengan gaya estetis. Ini berarti bahwa kandungan makna syair-syair kantola ada dibalik simbol-simbol yang ada. Oleh karena itu untuk mengetahui kandungan makna syair-syair kantola, seseorang harus memiliki kemampuan interpretatif terhadap simbol-simbol yang digunakan (Aderlaepe, 2006: 3-4). Memperlihatkan keanekaragaman karya sastra sebagai perwujudan genre, maka perlu adanya penekanan bentuk dan cara-cara pemahaman yang berbeda pula. Untuk mewujudkan keseimbangan antara sastra tulisan dan sastra lisan. Perlu diadakan pemetaan terhadap keberadaan sastra lisan dan dilakukan penelitian secara mendalam. Di satu pihak perlu diperhatikan dengan pertimbangan bahwa khazanan sastra lisan kaya dengan nilai-nilai kultur yang pada dasarnya sangat diperlukan dalam rangka membina semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, dipihak lain sastra lisan dianggap tidak memiliki peranan dalam meningkatkan kualitas bermasyarakat. Sudah pada saatnya kajian tentang karya sastra terutama karya sastra lisan yang dikelompokkan ke dalam sastra lama dikaji oleh para peneliti lokal, yang pada umumnya lebih tertarik mengkaji sastra modern. Hal ini akan berdampak positif sehingga keberadaan sastra lama dapat diidentifikasi. Selain itu, dengan hasil kajian ini dapat diperoleh gambaran mengenai kekayaan kehidupan bangsa. Prioritas penelitian terhadap khazanah sastra lama. Selain dalam rangka mengantisipasi proses kepunahannya, juga berfungsi untuk mengungkapkan nilainilai kultur yang terkandung didalamnya (Ratna, 2008).
  • 25 Kantola yang merupakan bagian dari khazanah sastra lisan Nusantara tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat Muna. Apabila dilihat dari kacamata historis, Muna adalah sebuah etnis besar yang berbentuk kerajaan dan sekarang menjadi satu kabupaten. Sejak saat itu sastra lisan kantola muncul, yang disebabkan masyarakat membutuhkan media untuk mengemukakan dan mengapresiasikan ide-ide mereka. Tradisi lisan kantola mencakup hasil ekspresi warga suatu kebudayaan masyarakat Muna yang diwariskan secara turun temurun dan disebarluaskan secara lisan, yang merupakan produk kreativitas yang mendalam terhadap segala aspirasi, cita-cita, keinginan, dan ide bagi masyarakat lama yang bercorak tradisional. Segala ekspresi masyarakat untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap fenomena sosial sangat intim dengan tradisi lisan (kantola). Konsep-konsep tersebut di atas dapat memberikan gambaran bagaimana suatu tradisi lisan yang berkembang dalam suatu masyarakat dapat terus bertahan dengan memvitalkan kembali cara hidup dan nilai-nilai dari zaman yang sudah lampau yang merupakan sumber kearifan lokal. Hal ini terutama disebabkan oleh kuatnya pengaruh perilaku kolektif yang terdapat di dalamnya. Namun, pengaruh tersebut dapat saja berkurang daya tariknya jika revitalisasi tradisi lisan tersebut dibenturkan pada berbagai perubahan pola hidup yang terus berkembang seiring dengan perubahan zaman yang bergerak dinamis. Revitalisasi tradisi lisan melingkupi perubahan komunitas karena adanya kesadaran baru untuk memperkokoh jati diri bangsa dengan memvalitkan kembali norma dan nilai yang telah didefenisikan di masa lalu secara kolektif, dan
  • 26 diwariskan secara turun-temurun yang merupakan sumber kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat. 2.2.2 Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara Kata Masyarakat dan Muna terdiri tiga unsur: pertama, konsep masyarakat mengacu pada suku bangsa atau kelompok etnik yang dicirikan berdasarkan wujud kebudayaan dan corak tradisi yang digunakan dalam kapasitasnya sebagai unsur budaya, indeks budaya, dan simbol budaya. Sejalan dengan itu, Koentjaraningrat (Hadirman, 2009: 9) mengartikan suku bangsa sebagai suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas kesatuan kebudayaan, yang seringkali dikuatkan oleh kesatuan tradisi. Kesatuan kebudayaan dan tradisi dalam satu kelompok masyarakat tidak ditentukan oleh orang luar, tetapi berdasarkan konvensi para anggotanya. Sosok kebudayaan suatu kelompok masyarakat tercermin, antara lain dengan bentuk tradisi yang mereka gunakan dalam konteks sosial dan konteks budaya. Adapun masyarakat Muna yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Muna yang bermukin dikecamatan Lawa dan Kontunaga. Kedua, Muna merupakan nama salah satu wilayah yang mana wilayahnya tersebut menjadi ibukota atau pusat pemerintahan Daerah Tingkat II Muna. Ketiga, Sulawesi Tenggara adalah merupakan salah satu wilayah di Pulau Sulawesi yang memiliki hak otonom dalam hal pemerintahan sehingga memiliki status sebagai Provinsi Sulawesi Tenggara. Jadi masyarakat Muna yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Muna yang mengacu pada suatu suku bangsa atau kelompok etnik yang berada di kabupaten muna, akan tetapi lokasi penelitian ini di pusatkan pada dua kecamatan yaitu
  • 27 kecamatan Lawa dan kecamatan Kontunaga, bukan pada wilayah kabupaten Muna secara keseluruhan. 2.2.3 Era Globalisasi Kata era berarti ‘jaman, masa, tarikh’. Adapun kata globalisasi merupakan kata yang diserap dari kata bahasa Inggris dari kata globe yang artinya ‘bola dunia’ (Poerwarminta, 1988: 61). Dari kata globe muncul kata global yang diartikan “sedunia, sejagat’ dan kata globalisasi yaitu gejala terbentuknya sistem organisasi dan sistem komunikasi antara masyarakat-masyarakat di seluruh dunia yang mengikuti sistem nilai dan kaidah yang sama. Sistem-sistem yang bersifat global terbentuk sebagai akibat dari sistem transport udara yang makin lama makin cepat, dan karena sistem komunikasi person-to-person serta komunikasi massa yang mampu menyelenggarakan hubungan atas dasar hitungan waktu yang diukur dengan jam, menit, detik ataupun dalam seketika (Sumardjan, 2007: 23). Berdasarkan uraian tentang masing-masing bagian konsep tersebut di atas maka dapat dirumuskan bahwa globalisasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu jaman atau massa di mana sistem organisasi dan sistem komunikasi antara masyarakat-masyarakat di seluruh dunia mengikuti sistem nilai dan kaidah yang sama atau hampir sama. Jadi defenisi oprasional Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada Era Globalisasi adalah merupakan pengokohan jati diri yang menyiratkan adanya pandangan positif tentang betapa strateginya tradisi lisan kantola, sebagai media ekspresi, dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Selain itu, mampu mengendalikan dan memberikan arah pada
  • 28 perkembangan budaya lokal tersebut, yang dipresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu ke masa kini, sehingga dapat bertahan dalam menumbuhkan kemampuannya. Revitalisasi merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan budaya lokal sehingga dapat mengaktualisasi diri dalam konteks global. Pengembangan budaya lokal dapat dilakukan melalui pengenalan dan pengajaran budaya lokal, dengan menciptakan ruang bagi pengembangan kreativitas lokal sehingga mampu menumbuhkan kesadaran kultural tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar budaya lokal tersebut. Selain itu, revitalisasi harus menjadikan budaya lokal sebagai kebutuhan dalam menyejahterakan masyarakat. Adapun indikator yang menyangkut revitalisasi tradisi lisan antara lain: 1. Kesadaran untuk menanamkan cara hidup berdasarkan norma-norma dan nilai-nilai budaya lokal dalam memperkokoh jadi diri masyarakat lokal. 2. Menumbuhkan kesadaran akan strategisnya kekuatan kearifan lokal dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. 3. Membangkitkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan peran dari lembaga adat. 4. Memulihkan dan membangkitkan kembali ingatan dan kesadaran kolektif masyarakat lokal sehingga tidak tercabut dari akarnya. 5. Dorongan untuk menata ulang pengalaman kultural dan memberikan arah pada perkembangan budaya lokal.
  • 29 2.3 Landasan Teori Pada hakikatnya, teori merupakan seperangkat konsep, defenisi dan preposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena atas realitas sosial. Teori digunakan baik untuk menggambarkan yang seharusnya maupun menjelaskan yang senyatanya secara empirik (Cooper and Schindler, 2003, Sugiyono, 2009:41). Untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi sebagai yang berlaku dalam kenyataan, teori harus melaksanakan fungsi ganda. Pertama, menjelaskan fakta yang sudah diketahui, dan kedua; membuka celah pandangan baru untuk menemukan fakta baru pula. Bila kejadian yang sama ditafsirkan dalam konteks teoritik berbeda, akan muncul jenis-jenis fakta yang berlainan pula (Kaplan, 2002:15). Dengan demikian, diperlukan beberapa teori yang relevan dan dipergunakan dalam penelitian ini dalam menjelaskan kenyataan empirik tersebut, antara lain (1) teori hegemoni yang difokuskan pada pengaruh globalisasi terhadap tradisi lisan kantola, (2) teori resepsi, penerima/penyambut ataupun masyarakat dalam hal pemaksaan dan penilaian suatu karya sastra. (3) Teori Dekontruksi, Dekonstruksi tentunya diikuti oleh penyusunan kembali (rekontruksi) atau menata kembali struktur-struktur yang telah didekonstruksi. (4) Teori Semiotika, berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia.
  • 30 2.3.1 Teori Hegemoni Masyarakat Muna adalah salah satu etnis besar yang termaginalisasi dari segi tradisi, yang diakibatkan oleh modernisasi. Proses pengikisan tradisi lisan secara perlahan yang melupakan identitas individu dan budaya-budaya lokal, sehingga berdampak pada kecenderungan sikap masyarakat yang konsumerisme. Hal ini bisa berdampak dengan semakin dilupakannya nilai-nilai budaya lokal. Pudarnya sebuah tradisi atau kebudayaan lisan disebabkan masyarakat menganggap tradisi lisan adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu. Oleh karena itu, problematika kehidupan masyarakat Muna dapat dikaji dengan menerapkan teori hegemoni Wacana hegemoni yang dapat diterapkan untuk menelaah masalah mengapa mulai ditinggalkannya tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna adalah analisis wacana hegemoni dari Foucault dan Gramsci. Analisis geneologi Foucault tentang formasi diskursif mengetengahkan antara hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan, sebaliknya tidak ada pengetahuan tanpa ada kekuasaan yang mendukungnya (Foucault, 1977). Selanjutnya Foucault menawarkan tiga konsep pendisiplinan, yaitu (1) ilmu-ilmu pengetahuan yang menempatkan subjek sebagai objek penyelidikan; (2) praktikpraktik pemisahan yang memilah antara yang waras dengan yang gila, antara yang kriminal dengan warga yang taat hukum, dan antara kawan dengan lawan; (3) teknologi-teknologi tentang diri yang digunakan individu untuk mengubah diri mereka menjadi subjek (Barker, 2004: 107). Sesuai dengan formasi diskursif dan
  • 31 praktik-praktik pemisahan yang dikemukan Foucault tersebut, masyarakat Muna diwacanakan sebagai lawan yang harus ditaklukkan oleh pihak lain. Menurut Simon (1999: 19) secara esensial hegemoni bukan merupakan hubungan dominasi inherent dengan menggunakan kekuasaan, melainkan terjadi kesepahaman dengan penggunaan kepemimpinan politik dan ideologi, sehingga hegemoni merupakan organisasi konsensus. Dalam hegemoni kontrol sosial dilakukan dengan cara membentuk keyakinan ke dalam. Namun demikian, yang berlaku adalah supremasi kelompok dalam hegemoni yang diperoleh bukan atas penindasan tetapi melalui konsensus menggiring cara pandang orang dalam menyikapi problematik sesuai dengan cara pandang kelas sosial yang menaklukkannya. Hegemoni adalah sebuah rantai kemenangan yang dapat muncul melalui mekanisme konsensus daripada melalui penindasan terhadap kelompok sosial lainnya, yakni melalui institusi yang ada dalam masyarakat yang menentukan secara langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyarakat (Hendarto, 1993: 35). Itulah sebabnya hegemoni menurut Gramsci pada hakikatnya adalah upaya untuk menggiring orang menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan. Melalui hegemoni, cara pandang dan keyakinan masyarakat akan dipengaruhi sehingga kehilangan kesadaran kritis mereka terhadap sistem yang ada. Hal ini berimplikasi bahwa seolah-olah kelompok penguasa memberikan kebebasan bagi kelompok yang tertindas dalam berekspresi. Namun, sesungguhnya hal itu adalah strategi yang diterapkan kelompok penguasa sehingga tidak terlihat adanya tekanan bagi kaum
  • 32 tertindas. Hegemoni merupakan suatu tatanan atau cara hidup dan pemikiran kelompok tertentu menjadi dominan, yakni suatu konsep realitas yang disebarkan ke seluruh masyarakat dalam seluruh kelembagaan dan kehidupan pribadinya yang mempengaruhi seluruh cita rasa, moralitas, kebiasaan, prinsip, agama dan politik, serta seluruh hubungan sosial terutama dalam pengertian intelektual dan moral (Fakih, 2000). Dalam konteks konsensus, Gramsci mengajukan tiga kategori konformitas/ penyesuaian bagi masyarakat yang tidak mampu beroposisi, yaitu (1) orang akan menyesuaikan diri mungkin karena takut akan konsekuensi-konsekuensi bila tidak menyesuaikannya; (2) orang menyesuaikan diri mungkin karena terbiasa mengikuti tujuan-tujuan tertentu; (3) konformitas yang muncul dari tingkahlaku yang mempunyai tingkatan-tingkatan kesadaran dan persetujuan dengan unsurunsur tertentu dalam masyarakat (Hendarto, 1993: 36). Dalam konteks ini hegemoni terus-menerus diperbaharui. diciptakan dipertahankan dan dimodifikasi. Hegemoni juga ditantang, dibatasi, diubah, dan dihadang oleh tekanan dari luar, sehingga hegemoni selalu peka terhadap alternatif. Upaya revitalisasi tradisi lisan dalam masyarakat Muna adalah bagian dari perlawanan terhadap hegemonik yang sedang dialami oleh masyarakat Muna. Teori di atas, digunakan untuk menganalisis permasalahan kedua dalam penelitian ini yakni tentang fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, juga model rekonstruksi tradisi lisan kantola sebagai kekayaan budaya masyarakat tersebut. Faktor penunjang dan penghambat tersebut dicurigai berasal dari dalam masyarakat Muna itu sendiri dan
  • 33 ada yang berasal dari luar masyarakat, seperti pemerintah daerah dan pihak-pihak lain. Begitu pula dengan kemungkinan merekonstruksi tradisi lisan kantola sebagai strategi dalam mengembangkan identitas tidak terlepas dari peranan masyarakat, khususnya masyarakat Muna dan juga adanya campur tangan pemerintah daerah. Sebab menurut Wibowo (2000: 45), pemerintah daerah dan masyarakat saling berinteraksi. Mengacu pada teori hegemoni di atas, dengan mulai ditinggalkanya nilainilai tradisi lisan kantola yang diakibatkan oleh pengaruh budaya global terhadap perkembangan budaya masyarakat Muna. Budaya global memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan budaya lokal, dalam hal ini tradisi lisan kantola yang merupakan identitas masyarakat lokal Muna. Namun seiring dengan gencarnya budaya global mempengaruhi keberadaan tradisi lisan dan identitas masyarakat Muna. Budaya global dengan kekuasaan kapitalisme dan hegemoni kultural melalui media terus mengancam keberadaan budaya lokal ini. 2.3.2 Teori Dekonstruksi Pada penelitian ini digunakan juga teori Dekonstruksi Derrida untuk membedah makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Upaya konstruksi yang dilakukan oleh masyarakat Muna atas penolakan oposisi biner di mana telah dilekatkan kepada mereka selama ini, terutama yang berkaitan dengan keberadaan tradisi lisan kantola. Derrida memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma modernisme dan senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya. Dalam hal ini dekonstruksi hendak memunculkan dimensi-dimensi
  • 34 yang tertindas di bawah totalitas modernisme (Padje, 2007: 97). Dekonstruksi menolak otoritas sentral dalam pemaknaan budaya. Oleh karena makna budaya tidak harus tunggal, tetapi dapat bersifat terbuka pada makna lainnya. Disamping itu dekonstruksi juga menolak segala bentuk asumsi yang membelenggu. Teori dekonstruksi dikemukakan oleh Derrida sebagai sebuah usaha untuk menolak logosentrisme atau metafisika yang melahirkan oposisi biner (Lubis, 2006: 121; Al Fayyadl, 2006: 8). Dalam oposisi biner terdapat satu unsur yang mendominasi unsur lainnya dan pada akhirnya menimbulkan kesenjangan, sehingga kehadiran dekonstruksi memberi arti pada kelompok yang lemah atau minoritas. Menurut Ratna (2005: 252), dalam dekonstruksi dilakukan semacam pembongkaran. Tujuan akhir yang hendak dicapai adalah penyusunan kembali ke dalam tataran yang lebih signifikan, sesuai dengan hakikat objek sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Lebih lanjut Ratna (2006:37) mangatakan bahwa keberadaan teori Dekonstruksi adalah untuk membongkar, merakit ulang oposisi biner dan kekuatan-kekuatan sosial lainnya. Jadi, dekonstruksi mengandung arti mengurangi, membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu susunan dan struktur yang dibangun bersama hingga intensitasnya berkurang. Agar dekonstruksi dapat menciptakan dinamika, kreativitas serta produktivitas tafsir, maka tentunya diperlukan perlakuan baru terhadap sesuatu yang hendak didekonstruksi tersebut. Dekonstruksi tentunya diikuti oleh penyusunan kembali atau menata kembali struktur-struktur yang telah didekonstruksi.
  • 35 Penggunaan teori dekonstruksi dalam penelitian ini untuk mengungkap proses dekontruksi dalam arti proses pembebasan dari modernitas yang dianggap represif dan proses pembentukan kontruksi postmodernitas yang dilakukan tradisi lisan kantola. Dalam hal ini membongkar dan menafsir kembali hal-hal yang berhubungan dengan tradisi lisan kantola yang selama ini telah dicirikan sebelumnya akan melahirkan makna baru terhadap keberadaan tradisi lisan itu sendiri. Sebagaimana telah diutarakan di atas, teori dekonstruksi dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkapkan proses dekonstruksi dalam arti proses pembebasan dari modernitas yang dianggap represif dan proses pembentukan konstruksi postmodernitas sebagai konstruksi baru yang dilakukan tradisi lisan kantola. Pembebasan terhadap modernitas akan mengacu kepada pembebasan atas hegemoni, sedangkan pembentukan konstruksi postmodernitas akan mengacu pada konstruksi budaya, sosial, politik, estetika, dan seni pertunjukan yang baru atau postmodern. Hal ini sesuai dengan cara kerja dekonstruksi yang dikenal dengan “membongkar”, selanjutnya pembongkaran tersebut diikuti oleh pembangunan kembali (Ratna, 2005: 26). 2.3.3 Teori Semiotika Cassier membedakan antara tanda (sign) dengan simbol. Tanda adalah bagian “dunia fisik” yang berfungsi sebagai operator yang memiliki substansial. Sementara simbol tidak memiliki kenyataan fisik atau substansial, tetapi hanya memiliki nilai fungsional (Triguna, 2000: 8). Menafsirkan sarana tanda sebagai suatu tanda dalam penelitian ini akan
  • 36 digunakan teori semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia (Cobley dan Jans dalam Ratna, 2004: 71) sebagai ilmu tanda, semiotika sosial mesti dipahami dengan konteks dimana tanda-tanda tersebut difungsikan. Pendekatan semiotik atau semiologi didasarkan pada asumsi bahwa tindakan manusia atau hal yang dihasilkannya menunjukan makna asalkan tindakan tersebut berfungsi sebagai tanda, tentu ada sistem konvensi dan pembedaan yang mendasarinya dan yang memungkinkan adanya makna tersebut. Dimana ada tanda disitulah ada sistem. Hal inilah yang sama-sama ada dalam berbagai kegiatan yang menjadi penanda (Culler, 1996: 74). Menurut Levi Straus untuk menganalisis fenomena yang menjadi penanda, meneliti tindakan atau objek yang membawa makna, seorang peneliti harus mendalilkan (mengandaikan) adanya sistem hubungan yang mendasari hal yang ditelitinya, dan harus mencoba melihat apakah makna unsur atau objek individual, bukan merupakan akibat dari kontrasnya dengan unsur dan objek lain dalam suatu sistem hubungan yang tidak disadari adanya oleh anggota suatu budaya. Makna yang diberikan kepada objek atau tindakan oleh para anggota suatu budaya bukanlah fenomena yang benar-benar acak, pasti ada sistem pembedaan, penggolongan yang merupakan semiologi, pasti ada kaidah penggabungan yang dapat digambarkan. Jadi yang dapat dimasukan kedalam semiologi adalah suatu bidang kajian yang amat luas. Segala ranah kegiatan manusia, apakah itu musik, arsitektur memasak, etiket, periklanan, mode dan sastra dapat dikaji (dibedakan) menurut pendekatan semiologi. Meskipun kebanyakan objek dan kegiatan
  • 37 masyarakat adalah tanda, objek dan kegiatan tersebut bukanlah tanda yang jenisnya sama. Untuk membedakan antara jenis-jenis tanda yang berbeda perlu dikaji dengan cara yang berbeda. Ada tiga golongan tanda yang mendasar dan (yang kadang-kadang secara keliru disebut ‘simbol’). Semua tanda terdiri atas suatu penanda (signifier) dan petanda (konsep atau singnifified), yakni bentuk dengan makna atau makna-makna terkait. Hubungan antara penanda dan konsep (ditanda) akan berbeda bagi masing-masing dari ketiga jenis tanda ini (Culler, 1996: 80-83). Sebagai suatu ilmu, semiotika memiliki jangkauan yang relatif luas. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sobur (2003: V, XIX) ada tiga aliran pemikiran yang terdapat dalam semiotika, (1) Semiotika segnifikasi, (2) Semotika Komunikasi, (3) Semiotika exstra-komunikasi. Semiotika signifikasi merupakan suatu aliran semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure beserta pengikutnya. Semiotika komunikasi yang dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce beserta pengikutnya. Sedangkan semiotika extra-komunikasi merupakan aliran pemikiran baru dalam semiotika yang melampaui kontraversi antar dua semiotika tersebut diatas, merupakan kritik maupun pengembangan terhadap semiotika signifikasi. Hubungan dengan permasalahan penelitian ini, semiotika signifikasi relevan untuk digunakan, semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saususure, menempatkan bahasa sebagai suatu sistem tanda yang mengungkapkan ide-ide dan dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad, tuna rungu, bentuk sopan santun, isyarat militer, dan seterusnya (Krampen, 1996: 56).
  • 38 Semiotika signifikasi pada lingkup penanda tersebut terkait dengan permasalahan penelitian ini, khususnya tentang tradisi lisan kantola. Pada tradisi lisan kantola dapat dipandang sebagai salah satu formulasi atau ragam budaya, yaitu sebagai simbol, ungkapan ataupun pribahasa. Dengan demikian tradisi lisan kantola dapat dikatakan sebagai salah satu objek semiotika dalam lingkup penanda. Dalam kaitan ini, pendekatan semiotika terhadap tradisi lisan kantola meliputi analisis penanda, untuk mengindentifikasi pelibat tradisi lisan kantola¸ petanda untuk memahami isi dari pelibat tradisi lisan kantola tersebut. Kenyataan yang ada dalam tradisi lisan kantola sebagai elemen daya tarik, untuk digunakan sebagai bentuk estetis yang indah pada saat tradisi lisan kantola terjadi. Keadaan seperti ini merefleksikan terjadinya komunikasi yang terintegrasi sebagai kesatuan emosi. Penyampaian lirik kantola diungkapkan tidak secara lugas, tetapi dikiaskan melalui simbol-simbol. Disini juga kelihatan bahwa peserta pertunjukan tradisi lisan kantola mempunyai kemampuan intpretatif dan menguasai keahlian yang formulaik. Sebagaimana diungkapkan di atas, teori ini digunakan untuk menganalisis permasalahan pertama dalam penelitian ini yakni tentang bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Propinsi Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. 2.3.3 Teori Resepsi Karya sastra sangat erat kaitannya dengan penerima/penyambut. Karya sastra ditujukan untuk penerima dan kepentingan masyarakat
  • 39 penerima/penyambut. Karya sastra tidak mempunyai nilai tanpa ada penerima/penyambut yang menilainya karena penerima/penyambutlah yang menentukan makna dan nilai suatu karya sastra (Teeuw dalam Pradopo, 2007: 207). Teori resepsi melokasikan penikmat ke dalam posisi yang memegang peranan penting. Tanpa peran serta audiens, seperti pendengar, penikmat, penonton, pemirsa, penerjemah, dan para pengguna lainnya. Khususnya penerima/ penyambut itu sendiri, maka keseluruhan aspek-aspek kultural yang terdapat dalam suatu karya sastra akan kehilangan maknanya. Peranan penerima/penyambut sangat penting walaupun penerima/penyambut sama sekali tidak memiliki relevansi dalam kaitannya dengan proses kreatif penciptaan suatu karya sastra (Ratna, 2006: 165) Selanjutnya Ratna mengemukakan bahwa teori resepsi diartikan sebagai penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi, dan sikap penerima/penyambut sehingga dapat memberikan tanggapan terhadap suatu karya sastra. Tanggapan yang dimaksudkan tidak dilakukan antara karya dengan seorang penerima/penyambut, melainkan penerima/penyambut sebagai proses sejarah, penerima/penyambut dalam periode tertentu. Dalam hubungan inilah teori resepsi dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a) resepsi secara sinkronis, meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan penerima/penyambut sezaman, dan b) resepsi secara diakronis, penelitian dalam kaitannya dengan penerima/penyambut sepanjang sejarah. Pada dasarnya, model resepsi diakronis dapat memberikan pemahaman yang signifikan, dengan pertimbangan, khususnya dalam kaitannya dengan studi
  • 40 kultural, pertama, adalah perubahan pandangan terhadap karya sastra sebagai akibat perubahan horison harapan, paradigma, dan sudut pandang. Kedua, pergeseran penilaian terhadap perkembangan suatu karya sastra ini merupakan tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana masyarakat telah berubah. Menurut teori resepsi, keindahan dan manfaat karya sastra bagi masyarakat juga para aktor kebudayaan umumnya, bukanlah keindahan yang sudah pasti defenisinya. Keindahan yang dimaksudkan bukanlah keindahan abadi, karya seni dalam hubungan ini tidak bersifat universal. Sebaliknya keindahan adalah nisbih, yang kualitasnya bergantung dari situasi latar belakang sosial budaya penerima/penyambut, yang melalui keindahannya penerima/penyambut dapat mengali dan memahami aktivital kultural secara berbeda-beda pula. Resepsi sastra tampil sebagai teori dominan sejak tahun 1970an, dengan berbagai pertimbangan: a) sebagai jalan keluar untuk mengatasi strukturalisme yang dianggap hanya memberikan perhatian terhadap unsur-unsur, b) timbulnya kesadaran untuk membangkitkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, dalam rangka kesadaran humanisme universal, c) kesadaran bahwa nilai-nilai karya sastra dapat dikembangkan hanya melalui kompetensi penerima/penyambut, d) kesadaran bahwa keabadian nilai karya seni disebabkan oleh penerima/penyambut, e) kesadaran bahwa makna yang terkandung dalam hubungan ambigius antara karya sastra dengan penerima/penyambut (Ratna, 2006: 166). Secara historis, teori resepsi telah diperkenalkan sejak akhir 1969 oleh Hans Robert Jauss (Pradopo, 2007: 206). Jauss mengungkapkan bahwa apresiasi penerima/penyambut dengan terhadap sebuah karya sastra akan diperkaya melalui
  • 41 tanggapan-tanggapan lebih lanjut dari generasi ke generasi. Dengan cara ini makna historis karya sastra akan ditentukan dan nilai estetikanya terungkap. Tanggapan-tanggapan seseorang mengenai karya sastra akan berbeda-beda, demikian pemahaman karya sastra pada satu periode dengan periode yang lainnya. Perbedaan inilah yang disebut oleh Jauss sebagai horison harapan. Horison harapan ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan dalam menanggapi karya sastra. Sehubungan dengan horison harapan, Seger (Pradopo, 2007: 208) menetapkan tiga kriteria: pertama, ditentukan oleh norma-norma yang terpencar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; kedua, ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman atas sebuah teks yang telah dibaca sebelumnya; ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan. Proses penerima/penyambutan, bagi teori resepsi, selalu bersifat dinamis sepanjang waktu. Karya sastra eksis hanya sebagai apa yang disebut Roman ingarden sebagai seperangkat “skhemata” atau arah yang umum, yang harus diaktualisasikan oleh pembaca (Eagleton, 2006:109). Teori resepsi digunakan untuk mengkaji makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, dengan pertimbangan bahwa tradisi lisan sangat berkaitan dengan norma-norma dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat yang cenderung bergerak dinamis seiring dengan perkembangan zaman. Selain itu, pemahaman masyarakat Muna terhadap tradisi lisan kantola juga sangat beragam sesuai dengan kondisi kultural mereka.
  • 42 Teeuw (Ratna, 2006: 170) menganggap studi resepsi sastra sangat tepat diterapkan di Indonesia karena memiliki khazanah sastra, khususnya sastra lama (sastra lisan sering juga disebut sebagai sastra lama) yang sangat beragam. Sebagai ahli dalam bidang sastra lama, menurut Juass, nilai karya sastra dengan demikian terkandung dalam pertemuan antara masa lampau dengan kekinian masing-masing peneliti.
  • 43 2.4 Model Penelitian Model penelitian dimaksudkan untuk menunjukkan arah dalam mengakaji masalah penelitian secara keseluruhan. Dengan kata lain, model penelitian adalah patokan akademis yang menjadi petunjuk dalam mengkaji masalah penelitian. Model penelitian berikut ini diterapkan untuk menuntun arah penelitian dalam mengidentifikasi realitas budaya yang berkembang dalam masyarakat. Model penelitian tersebut dapat dilihat melalui bagan berikut ini. Kebudayaan Masyarakat Muna Globalisasi Revitalisasi Tradisi lisan Kantola TRADISI MITOS Bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi Fungsi revitalisasi Tradisi lisan Kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi Keterangan Model: = Keterangan satu arah = Keterangan dua arah Media dan Teknologi Makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi
  • 44 Penjelasan Model Penelitian ini berangkat dari keberadaan tradisi lisan kantola yang menjadi bagian budaya masyarakat Muna. Pertama-tama peneliti melihat proses munculnya tradisi lisan dalam masyarakat Muna yang dipentaskan dalam pasca acara budaya seperti perkawinan, pengislaman, pingitan. Pementasan tradisi lisan kantola tidak berdiri sendiri. Ia dilantunkan dalam sebuah pertunjukan yang hanya dipentaskan dalam acara tertentu didalam suatu acara. Selanjutnya peneliti melihat pengaruh budaya global terhadap perkembangan budaya Muna. Budaya global memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan budaya lokal, dalam hal ini tradisi lisan kantola yang merupakan identitas masyarakat lokal Muna. Namun seiring dengan gencarnya budaya global mempengaruhi keberadaan tradisi lisan dan identitas masyarakat Muna. Budaya global dengan kekuasaan kapitalisme dan hegemoni kultural melalui media dan teknologi terus mengancam keberadaan budaya lokal ini. Sesuai dengan model penelitian diatas, revitalisasi merupakan objek formal dalam memvitalkan kembali tradisi lisan kantola. Revitalisasi merupakan suatu proses menjadikan kebudayaan sebagai suatu yang menjadi bagian terpenting didalam kehidupan manusia sebelum kehilangan bentuk dan maknanya. Proses revitalisasi tentunya dilakukan secara teroganisir oleh individu pelaku budaya, kelompok komunitas bersama-sama pemerintah yang memiliki kesadaran dan merasa begitu pentingnya warisan budaya. Pada akhirnya model penelitian ini digunakan untuk mengkaji revitalisasi kebudayaan secara holistik. Sesuai dengan perspektif kajian budaya, penelitian ini
  • 45 berfokus pada kajian bentuk, fungsi, dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Keseluruhan unsur-unsur yang terdapat dalam model penelitian ini saling berkaitan dan saling mendukung antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya sehingga membentuk satu kesatuan.
  • BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika, yaitu telaah atas makna yang tersembunyi di dalam teks yang mengandung makna. Pendekatan hermeneutika digunakan untuk menghayati dan memahami secara mendalam terhadap fenomena budaya terhadap tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Pengumpulan data dan analisis data dikerjakan secara simultan dalam menghayati dan memahami makna melalui teori dekontruksi teori hegemoni, teori resepsi, dan teori semiotika. Hermeneutika adalah proses penafsiran dan penginterprestasian. Hermeneutika mengimplikasikan pesan lewat bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan untuk memproduksi makna secara tak terbatas sesuai dengan kemampuan subjek yang menafsirkan (Ratna, 2005: 91). Maka sikap interprestasi tak lain adalah suatu usaha untuk menguak makna yang masih tersirat dan tersembunyi dalam suatu teks. Teks merupakan kumpulan kata yang tersusun dalam suatu pola tertentu dan maksud tertentu. Menurut Palmer (2003:277), apa yang dibutuhkan dalam interprestasi sastra adalah penalaran dialektika yang tidak menginterogasi teks tetapi menyediakan sesuatu yang dikatakan pada teks untuk menginterogasi balik, untuk mengajak horizon penafsiran ke dalam pertanyaan dan melakukan transformasi pemahaman seseorang terhadap subjek. 46
  • 47 3.2 Lokasi Penelitian Untuk melakukan penelitian ini maka peneliti membatasi lokasi penelitian, yaitu di Kecamatan Lawa dan Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna, Propinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan sebagai berikut (1) Pelantun tradisi lisan kantola, umumnya dijumpai di wilayah ini (kecamatan Lawa dan Kontunaga). (2) Dua kecamatan tersebut (kecamatan Lawa dan Kontunaga), sudah mewakili pola prilaku masyarakat Muna, secara keseluruhan dalam hal pewarisan dan pemanfaatan tradisi lisan kantola. (3) Apabila dilihat dari letak geografis Kabupaten Muna, dua kecamatan tersebut (kecamatan Lawa dan Kecamatan Kontunaga) berada ditengah-tengah. 3.3 Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif. Data kualitatif adalah data yang dapat berupa kalimat, kata-kata ataupun ungkapan. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan dua sumber data, yakni sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi di lapangan dan wawancara dengan informan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan atau dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti termasuk hasil penelitian yang telah lebih dulu didokumentasikan dan dipublikasikan maupun referensi lainnya, seperti jurnal, monografi, dan berbagai makalah yang relevan sebagai penunjang data primer (Endraswara, 2003: 208).
  • 48 3.4 Penentuan Informan Dalam metode kualitatif ini, peneliti menentukan dan memilih informan sesuai dengan tujuan penelitian (purposive) yakni informan yang mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian. Peneliti akan menemui informan, yaitu orang yang mengetahui hal-hal yang akan diteliti dan dari mereka akan diperoleh data yang berhubungan dengan penelitian. Berdasarkan penuturan mereka, peneliti segera meneruskan pengumpulan data dari subyek yang lain. Sebelum memulai penelitian ini, peneliti telah mengadakan kontak dengan masyarakat Muna. Dengan demikian, peneliti dapat menentukan informan secara purposive, baik informan kunci maupun informan biasa. Untuk memulai pemilihan informan, peneliti akan secara cermat memilih informan atas pertimbangan-pertimbangan tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Menurut Sudikan (2001:91), penentuan informasi kunci didasarkan pada beberapa pertimbangan diantaranya: (1) orang yang bersangkutan memiliki pengalaman pribadi sesuai dengan permasalahan yang diteliti (pelaku pertunjukan tradisi lisan kantola); (2) orang yang bersangkutan bersifat netral, tidak memiliki kepentingan pribadi; (3) orang yang bersangkutan tokoh masyarakat; (4) orang yang bersangkutan memiliki pengetahuan yang luas mengenai permasalahan yang diteliti. Perbedaan antara informan kunci dan informan biasa adalah jika informan kunci merupakan orang yang dapat memberikan informasi secara detail dan komprehensif serta mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang
  • 49 masalah yang diteliti, sedangkan informasi biasa adalah orang yang dapat memberi informasi secara mendalam mengenai permasalahan yang diteliti. 3.5 Instrumen Penelitian Peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam dan pengamatan langsung di lapangan dengan menggunakan instrumen penelitian, yaitu interview guide (pedoman wawancara) yang disusun secara sistematik untuk lebih memfokuskan pada wawancara yang mendalam. Wawancara ditunjang dengan alat perekam. Kamera digital, dan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang penting. 3.6 Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan cara kerja, terkait dengan apa yang harus diperbuat dan bagaimana berbuat dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Sehubungan dengan itu maka teknik yang digunakan dalam pengumpulan data terdiri atas: 1) observasi partisipasi, 2) wawancara mendalam, dan 3) studi dokumen dan pustaka, dan teks berupa pantun yang dilantunkan oleh pelaku tradisi lisan kantola. 3.6.1 Observasi Partisipasi Untuk mendapatkan data yang akurat di lapangan, maka dilakukan observasi partisipasi. Observasi partisipasi yang dimaksudkan adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap objek penelitian melalui pengamatan terlibat secara langsung dan juga sebagai anggota kelompok yang
  • 50 diteliti, namun keterlibatan peneliti hanya sebatas pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan fokus kajian atau pokok masalah penelitian (Bungin, 2010: 116; Ratna, 2010: 218-219). Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti berusaha untuk tinggal di lokasi penelitian dan membaur dengan masyarakat setempat. Hal ini bertujuan untuk dapat mengikuti rangkaian kegiatan serta melakukan perekaman secara langsung dan untuk memahami secara mendalam terhadap beberapa fenomena kehidupan dan aktivitas masyarakat Muna. Dalam melakukan observasi, peneliti dibekali dengan alat pencatatan secara manual dan elektronik seperti kamera digital untuk merekam secara akurat berbagai pola perilaku dan lingkungan masyarakatnya. Dengan demikian aspek yang diamati tidak hanya bentuknya, tetapi juga fungsi dan makna tradisi lisan kantola. Hasil pengamatan baik manual maupun hasil perekaman dijadikan sebagai ilustrasi yang dapat mempertajam analisis terhadap berbagai masalah yang tampak, dalam kaitanya dengan tradisi lisan kantola. 3.6.2 Wawancara Mendalam Wawancara mendalam dilakukan pada informan terpilih untuk memperoleh data primer yang diambil di lapangan. Teknik ini bertujuan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Menurut Bogdan dan Taylor (Endraswara, 2003: 214), melalui wawancara mendalam peneliti akan membentuk dua macam pertanyaan, yaitu pertanyaan subtantif dan pertanyaan teoretik. Pertanyaan substantif menyangkut persoalan yang terkait dengan aktivitas kultural budaya masyarakat Muna dalam kaitanya dengan tradisi
  • 51 lisan kantola sedangkan pertanyaan teoretik menyangkut bentuk, fungsi dan makna tradisi lisan kantola. 3.6.3 Studi Dokumen dan Pustaka Selain observasi dan wawancara, peneliti juga melakukan studi dokumen. Peneliti mencari berbagai data terutama buku-buku, makalah-makalah yang cakupan pembahasannya menyangkut tradisi lisan kantola, yang relevan dan berkaitan erat dengan permasalahan yang diteliti. Kebutuhan tambahan sebagai sumber data sekunder sangat penting selain data yang diperoleh dari informan. Studi dokumen merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang berfungsi menunjang pelaksanaan penelitian. Pengumpulan datanya dapat berupa bacaan dan teks yang berupa rekaman audio atau audio visual, sesuai dengan fokus permasalahan yang digarap (Maryaeni, 2005: 73). Sedangkan studi pustaka adalah teknik pengumpulan data cara membaca dan mempelajari buku-buku, literaturliteratur yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas. 3.7 Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yang dilakukan secara deskriptif kualitatif dan interpretatif. Analisis data dilakukan mulai dari perumusan masalah, pengumpulan data dan pasca pengumpulan data. Dengan adanya perumusan masalah maka peneliti telah melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut dalam berbagai prespektif teori dan metode yang digunakan.
  • 52 Berdasarkan hal tersebut maka peneliti akan melakukan proses spengumpulan dan analisis data sepanjang rangkaian kegiatan penelitian dituangkan dalam penulisan hasil penelitian. Jadi, analisis data dalam penelitian ini adalah melakukan penyederhanaan data yang terkumpul, yang selanjutnya diolah, ditafsirkan, dan melakukan pemaknaan terhadap data yang telah terkumpul tersebut, kemudian disajikan secara sistematis. 3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data Hasil penelitian ini disajikan dengan menggunakan teknik informal dan formal. Secara informal, hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk narasi karena makna teks bersifat verbal dan memiliki struktur naratif dengan mengikuti kaidah penulisan ilmiah. Secara formal, hasil penelitian ini disajikan melalui gambar, foto, peta dan lain sebagainya. Penyajian hasil analisis data dituangkan ke dalam delapan bab.
  • BAB IV GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN DI KABUPATEN MUNA 4.1 Sejarah Kabupaten Muna Muna adalah salah satu daerah tingkat II di Propinsi Sulawesi Tenggara yang diresmikan sebagai Kabupaten pada tahun 1960. Nama Muna adalah nama daerah yang dahulunya bernama Wuna, asal usul nama Muna, konon adanya sebuah bukit karang yang sewaktu-waktu karang tersebut tumbuh dan menyerupai bunga batu yang disebut Kontu Kowuna (Batu Berbunga), disinilah nama wuna itu awalnya. Bukit Bahutara itu terletak di kampung Butu di sebelah Timur Laut Mesjid Kota Muna sekarang ini. Muna mempunyai nama lain yang disebut Pancana sesuai nama yang tertulis dalam naskah perjanjian Bongayah tanggal 18 November 1667 (Batoa, 1991: 2). Menurut cerita, sebagai awal diketahui pulau Muna dengan adanya seorang pelayar terkenal saat itu, ia berasal dari Luwu Sulawesi Selatan yang dikenal dengan nama Sawerigadi. Dalam perjalanan pelayarannya perahunya terdampar disekitar Pantai Timur Pulau Muna tepatnya di Kampung Butu, suatu tebing di Pinggir laut saat itu. Butu adalah nama kampung di sekitar pertengahan daratan Muna (penduduknya telah dipindahkan ke desa Bahutara yang sekarang ini). Tempat terdamparnya perahu Sawerigadi tersebut dinamakan Bahutara (mungkin dari kata Bahtera/perahu). Saat ini bahutara dikenal dengan sebutan Kontu Kowuna atau batu berbunga. Sebelum perahu Sawerigadi ini terdampar di Muna, saat ini telah ada penduduknya yaitu To Muna, artinya orang Muna. To 53
  • 54 Muna ini adalah penduduk pertama di Pulau Muna. Para pendatang menganggap bahwa To Muna ini adalah penduduk asli Muna. Berdasarkan legenda (cerita rakyat) bahwa Sawerigadi disertai awak perahunya yang berjumlah 40 orang. Perahu Sawerigadi yang kandas tersebut pada akhirnya diliputi karang, badan perahu berubah menjadi bukit dan ruang dalam perahu menjadi liang. Liang tersebut disebut “Liano Bahutara” yang saat sekarang ini dianggap tempat keramat. Awak perahu sawerigadi itu, menurut Batoa selanjutnya sebagian ada yang pulang ke luwu ada pula yang pulang ke Sulawesi Tengah, dan ada yang menuju ke Negeri Mekongga, sebagai besar menuju ke arah Barat Pulau Muna. Di Setiap tempat mereka tiba, mereka membentuk kampung dan selalu menyebut kampungnya kampung Sawerigadi. Di Muna Barat mereka membentuk kampung yang disebut Gadi. Orang To Muna menyebutnya “Lagadi” yang lama-kelamaan orang terbiasa dengan sebutan Lagadi. Rupanya di Lagadi mereka tidak terlalu lama tinggal dan kemudian mereka kembali membentuk kampung kampung disekitar Butu. Keturunan mereka inilah yang menjadi pembentuk Kerajaan Muna. Pada suatu saat mereka membentuk sebuah kampung besar yang diberi nama “Wamelai” yang dikepalai oleh mieno Wamelai. Mereka akhirnya berkembang terus dan terjadi pula perkawinan campuran dengan orang To Muna, kemudian membentuk kampung baru yang lebih luas dan disebut “Tongkuno”yang dikepalai oleh Kamokulano Tongkuno.
  • 55 Pada suatu saat Kamokulano Tongkuno mengadakan suatu pertemuan, bermusyawarah pada suatu rumah yang disebut Lambubalano, kemudian disepakati membentuk pemekaran kampung sebanyak delapan buah kampung baru. Empat buah kampung dikepalai oleh Mieno dan empat buah kampung lainnya dikepalai oleh kamokulano. Kampung-kampung yang dikepalai oleh Mieno: 1. Kampung Kancitala dikepalai oleh Mieno Kancitala 2. Kampung Kaura dikepalai oleh Mieno Kaura 3. Kampung Lembo dikepalai oleh Mieno Lembo 4. Kampung Ndoke dikepalai oleh Mieno Ndoke Kampung-kampung yang dikepali oleh Kamokula: 1. Kampung Tongkuno dikepalai oleh Kamokulano Tongkuno 2. Kampung Barangka dikepalai oleh Kamokulano Bharangka 3. Kampung Lindo dikepalai oleh Kamokulano Lindo 4. Kampung Wapepi dikelapai oleh Kamokulano Wapepi Sebagai yang dituakan dari kedelapan kampung tersebut adalah kamokulano Tongkuno yang bernama La Bhalano, kedelapan kampung tersebut disebut rumpun Wamelai atau keluarga Wamelai. Sebagai pusat pemerintahan beribukota di Lambubalano (di sebelah Utara kampung Bharang lama). Pada zaman dahulu, memasuki Kota Muna, Sulawesi Tenggara, tidak boleh sembarangan. Berjalan kaki saja dilarang, apalagi menunggang kuda. Ini tak lain untuk menjaga etika dan sopan santun. Yang boleh menunggang kuda hanya para pejabat tinggi. Kalau sudah mendekati rumah kediaman perdana
  • 56 menteri, penunggang kuda juga harus turun, lalu berjalan kaki ke tempat tujuan di kota tersebut. Budaya dan tatakrama di Kota Muna adalah potret sepenggal sejarah Kerajaan Muna di masa lampau, sebagaimana diungkapkan Jules Couvreur dalam buku Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna yang diterbitkan Artha Wacana Press, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tahun 2001. Couvreur cukup memahami sejarah dan kebudayaan Muna, salah satu etnis yang mendiami Pulau Muna dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Sebab, dia adalah pegawai pemerintah kolonial Belanda yang pernah menjabat sebagai kontroler (setingkat bupati) di Kerajaan Muna selama kurang lebih dua tahun (1933-1935). Selama kurun waktu itu dia tekun menggali sejarah dan kebudayaan daerah tersebut. Ketika Couvreur meninggal dunia di Den Haag, Belanda, pada tahun 1971 dalam usia 70 tahun, naskah yang ditulisnya tahun 1935 itu masih dalam bentuk stensilan berbahasa Belanda. Stensilan itu kemudian diterjemahkan Dr Rene van den Berg, dosen linguistik dan peneliti bahasa Muna di Darwin, Australia. Kota Muna terletak sekitar 25 kilometer dari Raha, ibu kota Kabupaten Muna, sekarang. Orang Muna sebetulnya menyebutnya Wuna, sebagaimana nama asli suku Muna dan Pulau Muna. Namun, kata "Wuna" itu lama kelamaan diucapkan dan ditulis menjadi "Muna" dalam laporan dan bahasa resmi. Wuna dalam bahasa Muna berarti bunga. Disebut begitu karena tidak jauh dari Kota Wuna itu terdapat sebuah bukit batu karang yang sewaktu-waktu tumbuh dan menyerupai bunga.
  • 57 Daratan Pulau Muna memang hampir didominasi batu karang. Bukit batu (yang sering) berbunga itu disebut Bahutara yang diartikan sebagai bahtera. Hal itu terkait dengan tradisi lisan yang menyebutkan bahwa di tempat itulah perahu Sawerigading, tokoh asal Sulawesi Selatan yang melegenda, terdampar setelah menabrak batu karang. Para pengikutnya sebanyak 40 orang dari Luwu, Sulawesi selatan, kemudian terpencar ke berbagai tempat, sebagian membuat koloni di Muna, dan lainnya ke Konawe di jazirah Sulawesi Tenggara. Sejalan dengan semakin baiknya sistem pemerintahan, pada masa kekuasaan Lakilaponto sebagai Raja Muna VII (1538- 1541) mulailah dibangun pusat kerajaan di lokasi yang disebut Wuna tadi. Pembuatan benteng yang mengelilingi Kota Wuna merupakan prestasi besar yang dihasilkan pemerintahan raja tersebut. Setelah Lakilaponto ditunjuk menjadi Raja Buton, pembangunan Kota Wuna dilanjutkan penggantinya, La Posasu, adik Lakilaponto. Pengangkatan Lakilaponto sebagai Raja Buton merupakan hadiah dari raja yang sedang berkuasa atas keberhasilan Raja Muna itu mengalahkan dan membunuh bajak laut La Bolontio, pengacau keamanan rakyat Buton. Setelah menjadi raja dan kemudian bergelar sultan, menyusul diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan, Lakilaponto mengadakan kesepakatan dengan adiknya, La Posasu, untuk saling membantu dan bekerja sama bila kedua kerajaan menghadapi situasi pelik, termasuk ancaman dan intervensi dari luar. Hubungan persaudaraan di antara kedua kerajaan terjalin hangat selama kurang lebih 3,5 abad. Namun, dalam kerangka politik pecah belah pemerintah kolonial
  • 58 Belanda bersama Sultan Buton secara sepihak membuat perjanjian yang disebut Korte Verklaring pada 2 Agustus 1918. Isi perjanjian itu menyebutkan, Belanda hanya mengakui dua pemerintahan swapraja di Sulawesi Tenggara, yakni Swapraja Buton dan Swapraja Laiwoi di Kendari. Sejak saat itu Kerajaan Muna yang berdaulat dinyatakan berada di bawah kontrol Kesultanan Buton. Sebagai subordinasi Kesultanan Buton, Muna praktis menjadi salah satu dari empat wilayah penyangga (bharata) kerajaan Islam tersebut. Tiga bharata yang lain adalah Tiworo, Kulisusu, dan Kaledupa. Berdasarkan Korte Verklaring itu pula beberapa kerajaan kecil di sekitar Kesultanan Buton, seperti Tiworo, Kulisusu, Kaledupa, Rumbia, dan Kabaena, ikut menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Dua kerajaan kecil yang terakhir merupakan wilayah nonstruktural karena tidak menyandang predikat bharata. Ihwal pembangunan Kota Wuna, Couvreur mengutip kepercayaan mistis bahwa dalam pembangunan benteng kota itu oleh Lakilaponto dibantu para jin (roh halus). Pembuatan benteng itu memang merupakan pekerjaan raksasa sebab, seperti ditulis Couvreur, panjang keliling pagar tembok itu mencapai 8.073 meter dengan tinggi empat meter dan tebal tiga meter. Selain melanjutkan dan menyempurnakan pembangunan tembok pagar ibu kota kerajaan tersebut, La Posasu sebagai pengganti La kilaponto juga mendirikan bangunan tempat perguruan Islam, sesuai anjuran Syekh Abdul Wahid. Seperti disebutkan Batoa, pensiunan guru sejarah, Abdul Wahid adalah penyebar agama Islam pertama di Pulau Muna. Fasilitas publik lainnya di Kota Wuna adalah masjid. Masjid pertama dibangun pada masa pemerintahan La Titakono sebagai Raja Muna X
  • 59 (1600- 1625). Menurut La Ode Muhammad Sirad Imbo (65), tokoh adat Muna, masjid yang dibangun raja tersebut masih sederhana dan bersifat darurat. Masjid agak besar baru dibangun pada era pemerintahan Raja La Ode Huseini dengan gelar Omputo Sangia (1716- 1757). Masjid tersebut dibangun di tempat berbeda dengan lokasi masjid pertama. Masjid di Kota Wuna itu hampir seumur dengan Masjid Agung Keraton Buton di Bau- Bau. Masjid Keraton Buton dibangun oleh Sultan Sakiuddin Darul Alam pada tahun 1712 dengan konstruksi permanen, dan baru dipugar pada tahun 1930-an di masa pemerintah Sultan Buton ke-37, Muhammad Hamidi. Adapun Masjid Kota Wuna baru dibangun secara permanen sekitar tahun 1933 oleh La Ode Dika sebagai Raja Muna (1930-1938). Kegiatan pembangunan (renovasi) masjid tersebut mendapat bantuan dari Kontroler Belanda yang berkedudukan di Raha, Jules Couvreur. "Dia menyediakan bahan, seperti semen, atap seng, dan bahan bangunan lainnya," tutur Sirad Imbo. Karena selama memangku raja lebih banyak memperhatikan pembangunan masjid tersebut, maka La Ode Dika diberi gelar Komasigino (pemilik masjid). Dua dari 14 putra-putri La Ode Dika tercatat sebagai tokoh daerah, yakni La Ode Kaimuddin, mantan Gubernur Sultra, dan La Ode Rasyid, mantan Bupati Muna. Kerajaan Muna di masa lalu kini nyaris tak meninggalkan bekas. Satu-satunya peninggalan yang tampak di Kota Wuna saat ini hanyalah bangunan masjid yang pernah dirawat La Ode Dika, Raja Muna terakhir yang dipilih oleh Sarano Muna yang dibentuk Raja La Titakono pada abad ke-17 itu. Bangunan masjid itu juga sudah tidak asli. Menurut Sirad Imbo, ketika Bupati
  • 60 Muna dijabat Maola Daud pada tahun 1980-an, bangunan masjid tua itu dirombak total ukuran dan bentuknya. Giliran Ridwan menjadi Bupati Muna (2000- 2005), bangunan masjid itu dirombak lagi untuk dikembalikan ke bentuk aslinya. Bentuk masjid di bekas ibu kota kerajaan itu sangat sederhana. Bangunannya terdiri atas tiga susun, termasuk tempat dudukan kubah. Itulah bentuknya yang asli dari masjid tua tersebut, ujar Sirad, yang juga salah satu putra La Ode Dika. Peninggalan yang lain sudah tidak ada lagi, kecuali beberapa makam tua yang menjadi kuburan raja-raja zaman dulu, antara lain makam La Ode Huseini, yang pada masa hidupnya dikenal sangat taat menjalankan ajaran Islam. Adapun bukti nyata La Ode Huseini menjalankan ajaran agama Islam, beliau membangun sebuah masjid yang pertama di Kabupaten Muna, seperti pada gambar 4.1 berikut. Gambar 4.1: Masjid Pertama Di Kabupaten Muna Dokomentasi: Darwan Sari, 2011 Sisa-sisa ataupun reruntuhan benteng Kota Wuna yang konon dibangun dengan bantuan jin itu juga sudah tidak ada lagi. Namun, Sirad mengaku bahwa
  • 61 pagar tembok itu masih tersisa sekitar 1.800 meter yang masih utuh. Hanya fisik bangunannya memang tidak kelihatan karena dibalut rumput liar. Kota Muna yang dulu berbudaya feodal kini tinggal kenangan. Yang ada hanyalah hamparan semak belukar di sebuah dataran agak cekung yang diapit bukit-bukit karang. Di sana-sini tampak rumah-rumah adat Muna dari kayu jati yang baru dibangun. Menurut Sirad, ada rencana Pemerintah Kabupaten Muna membangun perkampungan bagi para pemangku Sarano Muna sebagai miniatur Kota Wuna beberapa abad silam. 4.2 Letak Geografis Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara, berada pada ketinggian daratan yang bervariasi antara 0 - >1000 m di atas permukaan laut. Namun, sebagian besar dari luas daratannya berada pada ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut, yaitu sebesar 33, 13% dari luas daratan kabupaten Muna. Sedangkan luas daratan yang mempunyai ketinggian >1000 m di atas permukaan laut hanya sekitar 0,02% dari luas keseluruhan daratan Kabupaten Muna. Secara administrasi Kabupaten Muna di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Tiworo dan Kabupaten Kendari, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton, Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Buton (Selat Spelman). Muna merupakan daerah kepulauan, sehingga transportasi laut sangat dibutuhkan sebagai penghubung baik antar daerah dalam wilayah Muna maupun dengan daerah lain di luar Muna. Prasarana pelabuhan laut yang sudah tersedia adalah pelabuhan kapal laut yang terdiri atas Pelabuhan Raha serta dermaga-
  • 62 dermaga kecil yang ada di beberapa daerah. Dermaga yang ada antara lain: Pelabuhan Feri Tondasi, Labuan, Maligano, Pure, Pola, dan Feri Tampo. Jenis pelayaran yang beroperasi di wilayah Kabupaten Muna terdiri atas pelayaran umum, pelayaran rakyat, dan penyeberangan, serta pelayaran khusus Pertamina. Sementara itu prasarana transportasi darat yang ada di Pulau Muna maupun Pulau Buton juga cukup memadai. Angkutan umum yang menghubungan antar daerah biasanya berupa angkutan pedesaan yang melayani rute Raha dengan kecamatan lain yang ada di Pulau Muna. Angkutan di dalam kota Raha berupa taksi, ojek, sepeda motor, serta becak motor. Aktivitas pemerintah dan kemasyarakatan di Kabupaten Muna pada awal pembentukannya sembilan kecamatan. Sinergi antara pemerintah Daerah dan masyarakat dalam aktivitas pembangunan telah membawa dampak perubahan yang ditandai dengan perkembangan dan kemajuan diberbagai bidang. Dengan memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang, di samping rentang kendali pemerintah, maka wilayah tertentu dapat ditingkatkan wilayah admistrasinya. Seperti Barangka dan Kontunaga. Ada beberapa Desa yang dimekarkan dan ditingkatkan statusnya menjadi beberapa kelurahan. Pada akhirnya perkembangan yang dicapai dari segi administrasi pemerintah adalah yang sebelumnya sembilan kecamatan menjadi dua puluh tiga kecamatan, seperti pada tabel 4.1 berikut.
  • 63 Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan/Desa pada Tiap Kecamatan No. Kecamatan 01. Tongkuno 02. Parigi 03. Bone 04. Kabawo 05. Kabangka 06. Tiworo Kep. 07. Maginti 08. Tiworo Tengah 09. Lawa 10. Sawerigadi 11. Barangka 12. Kusambi 13. Kontunaga 14. Watupute 15. Katobu 16. Lohia 17. Duruka 18. Batalaiworu 19. Napabalano 20. Lasalepa 21. Wakorumba Selatan 22. Pasir Putih 23. Maligano Kabupaten Muna Raha Jumlah Desa 15 8 8 13 12 9 13 13 13 10 8 12 6 6 0 9 5 2 12 7 5 10 9 205 Jumlah Kelurahan 4 4 0 1 0 2 0 0 2 0 0 1 0 2 8 0 2 2 2 0 1 0 0 31 Ibu Kota Wakuru Wasolangka Marobo Lasehao Oensuli Kambara Pajala Tondasi Lambubalano Kampobalano Barangka Konawe Liabalano Wali Raha Lohia Wapunto Laiworu Tampo Bonea Pure Pola Maligano Total 19 12 8 14 12 11 13 13 15 10 8 13 6 8 8 9 7 4 14 7 6 10 9 236 Sumber BPS Kabupaten Muna, 2009 Kabupaten Muna Merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Tenggara yang berada di Pulau Muna dan Pulau Buton yang terdiri dari sebagian Pulau Muna dan sebagian Pulau Buton, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya yang berada di posisi 40 15’LS – 40 30’ Lintang Selatan (LS) serta 1220 15’ BT – 1230 00’ Bujur Timur (BT). Luas daratan Kabupaten Muna adalah sebesar 2.963,97 km2 atau 296.397 Ha. (BPS, 2009). Seperti umumnya di daerah lain, kabupaten Muna banyak memiliki kecamatan dan kelurahan/desa. Dari 23 kecamatan yang ada didaerah ini, 3
  • 64 kecamatan memiliki pantai dan 20 kecamatan bebatuan. Banyaknya kecamatan di daerah ini yang secara geografis terletak dalam satu pulau. Dalam pulau ini terdapat satu Gua yang juga menjadi identitas masyarakat Muna, yaitu Gua Liangkabori (batu bertulis), seperti yang terlihat pada gambar 4.2 berikut. Gambar 4.2: Gua Liangkabori Dokumentasi: Darwan Sari, 2011 Liang Kobori yang berarti “Gua Bertulis” merupakan sebuah gua dengan lebar 30 meter dan tinggi bervarisi antara 2 sampai dengan 5 meter serta memiliki total kedalaman sekitar 50 meter. Gua ini menyimpan berbagai misteri kehidupan masyarakat prasejarah suku Muna yang tergambar pada 130 situs aneka goresan berwarna merah pada dinding gua bagian dalam. Goresan-goresan tersebut masih tetap terjaga keasliannya, terutama bentuk dan kecermelangan warnanya yang hingga saat ini masih merupakan sebuah misteri tentang bahan tinta yang digunakan. Misteri peninggalan sejarah ini menanti kedatangan wisatawan yang gemar terhadap penelitian kepurbakalaan serta penjelajahan keaslian alam.
  • 65 Pada dinding goa tersebut merupakan lukisan dinding yang menggambarkan kehidupan suku Muna pada masa itu seperti perjuangan suku Muna dalam mempertahankan hidupnya yang digambarkan seseorang menaiki seekor gajah, gambar matahari, gambar pohon kelapa yang menggambarkan tingkat pertanian suku Muna, gambar binatang ternak seperti sapi, kuda dan lainlainnya. Walaupun relief atau gambarnya terkesan sederhana tetapi kita dapat menangkap arti makna yang jelas yaitu keberadaan suku Muna pada saat itu. Selain gua yang melukiskan relief terdapat pula gua yang didiami oleh burung walet. Gua tersebut mempunyai stalaktit dan stalaknit yang sangat indah dengan warna yang cenderung hitam mengkilap. Apabila kita menyelusuri gua kecil kita akan menyaksikan keindahan batu yang berbentuk bulatan-bulatan berwarna putih. Kawasan gua tersebut, sangat cocok untuk rekreasi dan berkemah, berhawa sejuk dengan alamnya yang asli. Jarak menuju obyek ini sekitar satu jam atau sekitar 20 Km dari kota Raha ke arah Timur. Secara umum, seperti daerah lainnya di Propinsi Sulawesi Tenggara, Kabupaten Muna mempunyai tipe iklim tropis dengan suhu rata-rata 25-270C. Di daerah ini mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau yang seringkali diselingi dengan dua masa pancaroba dalam setiap tahunnya. Dalam tahun 2009, kondisi curah hujan di Kabupaten Muna mengalami peningkatan dibandingkan rata-rata curah hujan tahun 2008. Sedangkan rata-rata hari hujan mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu, informasi mengenai hari hujan dan curah hujan selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut.
  • 66 Tabel 4.2 Hari Hujan dan Curah Hujan Di Kabupaten Muna No. Bulan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah/Total Rata-rata Hari Hujan Curah Hujan Hari Hujan Curah 10 11 13 16 12 18 10 8 6 7 9 13 133 11 64 161 115 371 194 498 111 114 81 147 176 242 2.274 190 8 7 14 15 15 11 8 8 5 5 12 14 122 10 Hujan 190 382 465 395 992 1224 324 139 37 68 245 187 4.648 387 Sumber: BPS Kabupaten Muna Tahun, 2009 Muna yang berada didaerah lintang khatulistiwa, memiliki hutan rimba primer tropis yang sangat cocok untuk berladang. Tebel 4.2 memberikan gambaran bahwa wilayah ini memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi karena ditopong oleh hari hujan yang sering terjadi. Selain itu temperatur rata-rata intesitas cahaya matahari di wilayah ini sangat kondusif bagi sistem perladangan. Saat intesitas cahaya matahari tinggi, masyarakat tradisional yang umumnya petani penggarap, memberikan dampak positif karena pada saat itu juga mereka dapat menjemur hasil pertanian dan perkembunan mereka seperti, jambu mete, kacang tanah, dan kakao. Intesitas cahaya ini memungkinkan petani mendapatkan hasil komoditas dengan kadar air yang rendah, dengan nilai jual tinggi. Komoditas ini menjadi andalan utama bagi masyarakat Muna selain komoditas lainnya, seperti kelapa dan kopra.
  • 67 Kondisi topografi kabupaten Muna ditandai dengan tingkat ketinggian dari permukaan laut yang bervariasi antara 0-1000 m di atas permukaan laut, namun sebagian besar dari daratan kabupaten Muna berada pada ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut, yaitu sebesar 33, 13% dari luas daratan kabupaten Muna. Sedangkan luas daratan yang mempunyai ketinggian >1000 m di atas permukaan laut hanya sekitar 0,02% dari luas keseluruhan daratan Kabupaten Muna. Masalah kependudukan, terutama penyebarannya, menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan pembangunan. Hasil pembangunan yang dilaksanakan diharapkan dapat memberi dampak bagi peningkatan kesejahteraan penduduk seperti kesehatan, pendidikan, dan ketersediaan sarana bagi aktivitas baik sosial maupun ekonomi. Untuk mewujudkan berbagai program pemerintah dalam menata masalah kependudukan, tentunya diperlukan informasi atau data kependudukan yang akurat dan dapat digunakan sebagai landasan untuk menyusun perencanaan dan penentuan kebijakan diberbagai bidang pembangunan. Jumlah penduduk kabupaten Muna berdasarkan proyeksi penduduk yang didasarkan pada hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas 2009) adalah berjumlah 246,004 jiwa, dan tersebar di dua puluh tiga kecamatan. Tingkat penyebaran penduduk menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. Tabel 4.3 Penduduk, Rumah Tangga, Penduduk per Rumah Tangga. dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan No. Kecamatan Luas (Km2) Rumah Tangga Penduduk 1 2 3 4 5 Penduduk/ Rumah Tangga 6 Kepadatan Penduduk 7
  • 68 01. 02. 03. 04. 05 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Tongkuno Parigi Bone Kabawo Kabangka Tikep Maginti Tiworo Tengah Lawa Sawerigadi Barangka Kusambi Kontunaga Watupute Katobu Lohia Duruka Batalaiworu Napabalano Lasalepa Wakorsel Pasir Putih Maligano Muna 515,91 134.78 142.77 249.89 123.14 93,82 107.55 128.07 5,696 3,186 2,327 3,465 2,931 2127 3286 2367 18,427 11,686 8,748 13,735 9,964 8,105 11,484 8,088 3 4 4 4 3 4 3 3 36 87 61 55 81 86 107 63 260.22 102.60 33.09 143.19 50,88 96.12 12.88 49,81 11.52 22.71 176.32 107.92 104.86 138.30 157.62 2,964 3506 1736 1677 3187 1953 3140 6331 3477 2690 2307 4537 2662 1160 1921 1800 67,469 12,084 6,665 5,813 11,907 7,083 10.777 25,942 13,489 9,705 9,069 16,061 8,800 4,456 7,603 6,313 246,004 3 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 46 65 176 83 139 112 2014 271 842 399 91 82 42 55 40 83 Sumber: BPS Kabupaten Muna Tahun, 2009 Informasi distribusi penduduk akan lebih berarti jika menggunakan ukuran demografi, antara lain kepadatan penduduk. Hal ini penting mengingat diferensiasi jumlah penduduk antarwilayah dalam suatu daerah tidak mutlak menggambarkan kepadatan penduduknya. Suatu daerah yang memiliki jumlah penduduk yang besar, belum tentu wilayahnya juga luas. 4.3 Sistem Mata Pencaharian Sebagaimana halnya mata pencaharian penduduk di kabupaten lainnya di Indonesia yang berkisar pada bidang pertanian, pemerintahan, khususnya menjadi pegawai negeri sipil, dan peternakan. Semua jenis pekerjaan itu kita bisa jumpai di Kabupaten Muna, hanya saja penduduk Kabupaten Muna memiliki
  • 69 kecenderungan yang besar pada dunia pertanian. Sebagian besar penduduk kabupaten Muna menghabiskan aktivitas kesehariannya dengan bertani. Selain pertanian dan perkebunan, masyarakat Muna juga bermata pencaharian sebagai pegawai negeri sipil, juga bergerak dibidang peternakan dan perikanan. Walaupun dalam penelitian ini hanya menyebutkan empat jenis mata pencaharian penduduk di Kabupaten Muna, tetapi bukan berarti penduduk di Kabupaten Muna memiliki mata pencaharian lain seperti perdagangan, pertukangan, perbengkelan dan sebagainya. Peneliti hanya menampilkan jenis mata pencaharian yang ditekuni oleh sebagian besar penduduk di kabupaten Muna. 4.3.1 Pertanian dan Perkebunan Selain berprofesi sebagai petani dan menjadi Pegawai Negeri (PN) baik pegawai negeri pada instansi pemerintahan maupun pegawai negeri pada instansi swasta, juga banyak penduduk kabupaten Muna yang berprofesi sebagai petani. Jenis tanaman pertanian yang dikembangkan di Kabupaten Muna terdiri dari jenis tanaman pangan seperti; jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedelai kacang hijau, dan padi sawah. Produksi tanaman bahan makan pada tahun 2007 sebesar 11.990 ton dan hasil ini mengalami peningkatan pada tahun 2008 menjadi 14.874 ton. Hasil ini tidak membuat para petani merasa puas sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan hasil pertaniannya. Usaha para petani ini tidak sia-sia karena pada tahun 2009 hasil pertanian di kabupaten Muna mengalami peningkatan yang sangat signifikan sampai mencapai angka 24.805 ton.
  • 70 Dari angka tersebut, produksi bahan makanan yang paling tinggi adalah Jagung dengan mencapai angka 10.526 ton dan menunjukkan peningkatan sekitar 23,73 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelunya yakni tahun 2007 dan tahun 2008 yang hanya mencapai angka sebanyak 8.507 ton. Produksi jagung sebesar 1.855 ton, ini juga mengalami peningkatan sebesar 41,93 persen dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai angka sebesar 1.307 ton. Produksi ubi jalar sebesar 1.194 ton yang berarti juga mengalami peningkatan sebesar 2,58 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 1.164 ton. Produksi padi sawah sebesar 1.118 ton, juga mengalami peningkatan sebesar 27,63 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (BPS Kabupaten Muna Tahun 2009). Hasil ini apabila dilihat dalam hitung-hitungan secara kuantitatif memang menunjukkan bahwa semua jenis pertanian bahan pangan mengalami peningkatan, dan apabila dilihat dari kacamata kualitas menunjukkan bahwa masyarakat Muna yang berprofesi sebagai petani berhasil meningkatkan hasil panen, mereka menghasilkan panen yang berkualitas ekspor. Ironisnya sampai hari ini petani di kabupaten Muna belum menikmati hasil kesuksesan mereka. Hal ini diakibatkan oleh tidak adanya perhatian pemerintah untuk menyediakan atau mengontrol pembeli, sehingga pembeli dengan sesuka hatinya memainkan harga. Petani menjual hasil pertaniannya dengan harga sangat rendah sementara harga pupuk yang dibutuhkan oleh petani sangat mahal. Selain jenis tanaman yang disebutkan di atas, ada juga jenis tanaman yang dikembangkan oleh para petani yang ada di kabupaten Muna yaitu jenis tanaman buah-buahan. Berbagai jenis buah-buahan ini diantaranya adalah mangga,
  • 71 rambutan, duku atau langsat, jeruk, jambu air, pepaya, pisang, salak, nangka dan masih banyak lagi. Hasil produksi buah-buahan pada tahun 2009 sebesar 5.334 Kw atau turun sebesar 61,41 persen bila dibandingkan dengan tahun 2008. hal ini diakibatkan oleh kondisi cuaca dan suhu udara di kabupaten Muna yang tidak stabil. Jenis buah-buahan yang mempunyai hasil produksi paling banyak adalah sirsak sebanyak 1,327 Kw. Bila dibandingkan dengan tahun 2008, produksi sirsak tersebut mengalami peningkatan sebesar 1.100 Kw, atau sekitar 485 persen. Produksi terbanyak kedua adalah pepaya sebanyak 1.175 Kw, bila dibandingkan dengan hasil tahun sebelumnya, produksi pepaya menurun sebesar 55,29 persen. Produksi terbanyak ketiga adalah pisang sebanyak 551 Kw. Bila dilihat dari keseluruhan komoditi buah-buahan, lalu dibandingkan dengan hasil produksi tahun 2008 sebagian besar mengalami penurunan pada tahun 2009. Hanya ada beberapa jenis komoditi buah-buahan saja yang mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan hasil produksi tahun 2008 diantaranya sirsak, dan nenas. Ada juga jenis tanaman sayur-sayuran yang dijadikan komoditi yaitu Kacang Panjang, Cabe Besar, Cabe Rawit, Tomat, Terung, Ketimun, Labu, Kangkung, Bayam dan Sawi. Produksi tanaman sayur-sayuran pada tahun 2009 tercatat sebanyak 29.785 Kw atau mengalami kenaikan sebesar 29,25 persen bila dibandingkan dengan tahun 2008. Jenis sayuran yang produksinya lebih tinggi adalah sawi mencapai 7.713 Kw, sedangkan produksi terendah tanaman sayursayuran adalah ketimun sebesar 200 Kw. Jika dibandingkan dengan tahun 2008, produksi sayuran yang mengalami peningkatan sangat tajam di tahun 2009 adalah
  • 72 bayam, meningkat sebesar 162, 84 persen, disusul dengan Kangkung, Cabe Rawit dan Tomat. Bukan saja jenis tanaman pangan seperti, buah-buahan dan sayur-sayuran yang dikembangkan oleh penduduk kabupaten Muna yang berprofesi sebagai petani, tetapi mereka juga mengembangkan jenis tanaman perkebunan rakyat seperti Kelapa, Kopi, Kapuk, Lada, Cengkeh, Jambu Mete, Kemiri, Coklat, Enau, Kelapa Hibrida, Asam Jawa, Pinang dan Jahe. Jenis tanaman perkebunan rakyat yang sedang dikembangkan karena produksinya sangat potensial untuk ekspor ada delapan jenis yaitu kelapa, lada, kopi, cengkeh, jambu mete, kemiri, coklat, dan kelapa hibrida. Hasil perkebunan rakyat pada tahun 2009 menunjukkan bahwa jenis tanaman perkebunan rakyat yang dikembangkan di kabupaten Muna sebagian besar mengalami penurunan hasil produksi bila dibandingkan dengan tahun 2008. sedangkan jenis tanaman perkebunan rakyat yang hasil produksinya meningkat hanya lima jenis, tiga jenis diantaranya mengalami jumlah produksi yang sangat besar adalah pinang, lada dan kelapa hibrida masing-masing meningkat 390,91 persen, 269,91 persen dan 101, 94 persen. Data di atas menunjukkan bahwa tidak semua komoditi pertanian yang dikembangkan di kabupaten Muna dapat dikembangkan secara baik dan maksimal untuk memperoleh hasil yang maksimal pula. Baik itu dari komoditi tanaman pangan maupun dari komoditi tanaman perkebunan rakyat. Pada tanaman pangan terdapat beberapa jenis yang hasil produksinya mengalami peningkatan pada setiap tahun seperti ubi kayu, jagung, ubi jalar dan padi sawah. Masih dalam jenis
  • 73 tanaman pangan dari jenis buah-buahan, jenis buah-buahan yang mengalami peningkatan pada setiap tahun seperti sirsak, nenas sedangkan dari jenis sayursayuran yang mangalami peningkatan hasil produksi pada setiap tahunnya adalah bayam, kangkung, cabe rawit dan tomat. Sementara dari jenis tanaman perkebunan rakyat yang hasil produksinya mengalami peningkatan pada setiap tahun bahkan sampai masuk pada level ekspor adalah pinang, lada dan kelapa hibrida. 4.3.2 Pegawai Negeri Sipil Selain Petani penduduk Kabupaten Muna juga ada yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Jumlah penduduk Kabupaten Muna yang berprofesi sebagai PNS berjumlah 25. 688 jiwa yang tersebar di seluruh instansi pemerintah maupun instansi swasta yang ada di kabupeten Muna. Akan tetapi, peneliti tidak dapat merinci berapa banyak jiwa yang mengisi lapangan pekerjaan pada instansi pemerintah maupun pada instansi swasta. Bukan saja itu, peneliti juga tidak dapat merinci secara jelas jumlah angkatan kerja perempuan atau laki-laki yang mengisi atau yang bekerja pada instansi swasta maupun instansi pemerintahan, begitu juga sebaliknya. Hal itu diakibatkan karena tidak adanya data yang membagi atau membedakan hal tersebut. Dari jumlah keseluruhan di atas, peneliti hanya dapat mengidentifikasi mengenai berapa jumlah perempuan secara keseluruhan yang mengisi lapangan pekerjaan baik itu pada instansi swasta maupun pada instansi pemerintah sebanyak 10. 460 jiwa, sedangkan laki-laki berjumlah 15.225 jiwa. Akan tetapi, untuk pembagian dari jumlah 10.460 jiwa tersebut lagi-lagi peneliti tidak bisa
  • 74 mengidentifikasi berapa orang perempuan dari jumlah tersebut yang mengisi atau yang bekerja pada instansi pemerintah maupun instansi swasta, demikian pula sebaliknya. 4.3.3 Peternakan Di kabupaten Muna, terdapat usaha peternakan sapi, kerbau, kuda, kambing, babi, itik, ayam ras, ayam ras petelur, dan ayam potong. Populasi ternak di kabupaten Muna secara keseluruhan mengalami peningkatan dibanding tahun 2008. Populasi ternak terbesar di kabupaten Muna adalah populasi ayam buras. Banyaknya ternak yang dipotong di kabupaten Muna adalah 1.417.791 ekor. Ternak yang paling banyak dipotong adalah ayam buras yaitu sebanyak 1.408.518 ekor. Sedangkan ternak yang paling sedikit dipotong adalah kerbau, dan yang tidak pernah terjadi pemotongan yaitu ternak ayam ras 4.3.4 Perikanan Secara umum, mata pencaharian penduduk Kabupaten Kepulauan Muna didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini dikarenakan, sektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan) masih memberikan kontribusi yang terbesar bagi PDRB Kabupaten Muna, dengan kontribusi rata-rata 33%. Selanjutnya sektor jasa 22%, diikuti oleh perdagangan, hotel dan restoran yang memberikan kontribusi sebesar 15%, kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan, serta bangunan dan konstruksi. Sementara itu, khusus untuk perikanan, berdasarkan data dari Dinas Perikanan Kabupaten Muna, sebagian besar rumah tangga nelayan masih berpendapatan kurang dari Rp. 1.000.000 per bulan. Pendapatan rumah tangga
  • 75 nelayan paling rendah lebih kurang sebesar Rp. 2.111.000 per tahun atau hanya Rp. 350.000 per bulan. Armada penangkapan ikan yang ada di kabupaten Muna didominasi oleh perahu tanpa motor sebanyak 2.617 unit (48,12%), yang terdiri atas jukung diikuti oleh perahu motor tempel sebanyak 874 unit (27,7%). Kapal motor hanya sejumlah 123 unit atau 4,17% dari armada penangkapan ikan yang ada. Jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Kabupaten Muna adalah pancing (rawai tetap, pancing tonda, dan pancing lainnya), gillnet (jaring insang hanyut dan tetap), bagan perahu dan bagan tancap, bubu, pukat cincin, pukat udang, pukat pantai, serta payang. Khusus Kecamatan Tiworo Kepulauan, alat tangkap yang dominan adalah pancing, rawai tetap, jaring insang tetap, bubu, bagan perahu dan bagan tancap. Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Muna, potensi perikanan diperkirakan sebesar 40.000 ton per tahun. Potensi tersebut terdiri dari: ikan demersal (ikan kerapu, kakap, bambangan, lencam, kurisi dan pari), ikan pelagis (kembung, kue, selar, layar, tongkol, cakalang, tuna, bawal putih, belanak, tenggiri dan teri), serta terdapat beberapa jenis udang, kepiting bakau, rajungan, lobster, teripang, cumi-cumi, rumput laut, kerang mutiara, lola, japing-japing dan abalone. Selain perikanan laut, kabupaten ini juga memiliki potensi lahan budidaya laut sekitar 79.258 ha dan lahan budidaya tambak seluas lebih kurang 20.000 ha. Tambak yang sudah diolah baru mencapai sekitar 500 ha. 4.4 Sistem Kekerabatan Masyarakat Muna, sama halnya dengan masyarakat lain yang ada di Indonesia, juga mengenal sistem kekerabatan yaitu sistem hubungan sosial yang
  • 76 timbul dari keturunan dan perkawinan. Dalam menjalankan fungsinya, sistem kekerabatan ini terlihat pada lembaga kecil, yaitu keluarga. Keluarga terdiri atas keluarga inti dan keluarga besar. Keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, anak yang belum nikah, dan anak angkat. Keluarga inti dapat ditandai oleh tempat tinggal yang sama, sahnya hubungan suami istri yang tujuannya untuk mendapatkan keturunan, adanya kerjasama ekonomi, dan berkewajiban untuk mendidik anggota keluarganya. Sedangkan keluarga besar terdiri dari beberapa keluarga inti. Untuk kepentingan bersama, mereka menggambungkan diri dengan dasar atau anggapan masih dalam satu leluhur atau keturunan. Menurut Koetjaraningrat, keluarga inti dibagi dalam tiga kelompok yang semua didasarkan pada adat setempat sesudah nikah, yaitu: (1) utralokal, yang terdiri dari satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti dan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan; (2) virilokal, terdiri dari keluarga inti senior dengan keluarga inti dari anak laki-laki; dan (3) uxorilokal, terdiri dari keluarga inti senior dengan kelurga-keluarga inti dari anak perempuan. Ikatan kekeluargaan berdasarkan adat utrolokal banyak dijumpai pada masyarakat Muna yang tinggal bersama dalam satu rumah besar ataupun masih dalam satu lingkungan tempat tinggal dengan beberapa keluarga inti. Masyarakat Muna mengenal sistem kekerabatan patrilinear, yaitu menghitung kekerabatan mengikuti pihak ayah karena umumnya nama anak digabungkan dengan nama turunan bapaknya, baik bapaknya sendiri ataupun kakek dari pihak ayah. Berdasarkan sistem kekerabatan ini, dalam pelaksanaan
  • 77 suatu hajatan atau acara perkawinan misalnya, yang menjadi suatu penentu adalah pihak keluarga ayah. Jika ayah sudah tiada, perannya digantikan oleh kakak atau adik laki-laki dari pihak ayah. Bahkan, jika seorang anak perempuan yang telah menikah akan dijemput oleh pihak laki-laki seminggu setelah pelaksanaan perkawinan (Djalaluddin, dkk, 2007: 60-61). Selama suami mereka yang baru menikah tersebut belum memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri, mereka harus menetap dirumah orang tua suami. Pola ini dikenal dengan pola menetap Patrilokal (Narwoko dan Surynto, 2006: 233; Subyakto, 2007: 177). Dalam beberapa kasus tertentu, pola patrilokal tidak berlaku, suami biasanya ikut istri, menetap di rumah orang tua pihak perempuan. Hal ini disebabkan adanya pengecualian bagi orang-orang dipihak laki-laki yang masih menumpang dirumah orang lain terutama bagi pendatang yang memang jumlahnya banyak. Para pendatang ini, biasanya yang di luar kabupateman Muna. Masyarakat Muna, dalam menjalin sistem kekerabatan, dapat dilakukan melalui perkawinan. Menurut La Gii Masyarakat yang mendiami wilayah ini mengenal beberapa sistem perkawinan, antara lain: 1. Kawin minta atau doangka tewise. Sistem perkawinan lazim dilangsungkan pada hampir seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali masyarakat Muna. Perkawinan ini terjadi apabila laki-laki dan perempuan telah terjalin hubungan percintaan dan ingin mengikat diri dari dalam satu ikatan perkawinan. Inisiatif melamar datang dari pihak kerabat laki-laki dengan cara mengutus satu delegasi ke rumah orang tua perempuan. Kunjungan lamaran ini disebut masuk minta. Yang melamar biasanya
  • 78 saudara dari pihak ayah si laki-laki atau kerabat dekat. Apabila lamaran sudah diterima, maka pada saat itu akan ditentukan mas kawin (ajhati), biaya perkawinan, dan hari perkawinan. 2. Kawin lari atau pofeleigho. Proses perkawinan ini dipandang kurang baik dan tidak diinginkan oleh pihak keluarga si perempuan. Namun, ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kawin lari, antara lain keluarga dari salah satu pihak tidak setuju dan beban perkawinan yang ditentukan oleh keluarga si perempuan terlalu berat sehingga pihak laki-laki tidak dapat menyanggupinya. Dengan kejadian ini, pihak keluarga perempuan berusaha untuk mengembalikan anak gadisnya. Jika terdapat tanda-tanda keluarga perempuan mau menerima mereka kembali, maka keluarga lakilaki mengirim utusan untuk mendamaikan persoalan ini. Jika tidak diperoleh jalan keluar, maka tetap akan dilangsungkan perkawinan tanpa kehadiran keluarga dari pihak perempuan. 3. Kawin jodoh adalah proses perkawinan yang telah disepakati oleh dua keluarga sejak anak-anak mereka masih kecil. Antara kedua belah pihak telah sepakat untuk mengawinkan anak lak-laki dan perempuan mereka setelah menginjak usia dewasa. Perkawinan ini dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan. 4. Kawin tangkap yaitu proses perkawinan ini cukup unik, apabila diketahui atau diketemukan seorang pemuda dan seorang gadis berbicara ditempat gelap atau ditempat yang tidak wajar, maka kedua orang tua mereka segera
  • 79 mengawinkannya. Perkawinan ini bertujuan untuk menghindari perbuatan maksiat yang dapat mencemarkan nama baik keluarga. Masyarakat kabupaten Muna terdiri dari berbagai suku sehingga setiap suku memiliki kebiasaan dan tradisi masing-masing termasuk kebiasaan menentukan garis keturunan. Akan tetapi, secara umum masyarakat di lokasi penelitian ini mengikuti garis keturunan ayah atau patrilineal. Sehingga anak lakilaki yang sudah menikah akan membawa istrinya untuk tinggal di kediaman orang tua suaminya (keluarga luas virilokal). Selain itu untuk mengetahui bahwa masyarakat di lokasi penelitian mengikuti garis keturunan patrilineal, dapat dilihat dari setiap pemberian nama terhadap anak yang baru lahir selalu yang dicantumkan adalah nama ayah atau marga ayahnya bukan nama ibu atau marga ibunya. Perkawinan yang ideal dalam masyarakat di lokasi penelitian ini adalah perkawinan di mana seorang anak laki-laki menikah dengan seorang anak perempuan dari luar marganya, bukan dari marga ayah atau ibunya (eksogami marga). Masyarakat di lokasi penelitian ini secara umum jarang terjadi pernikahan melalui proses perjodohan yang dilakukan oleh orang tua. Selain itu syarat yang terpenting dalam perkawinan adalah istri atau calon istri harus bisa bergaul dengan baik kepada semua kerabat suami. Penghitungan garis keturunan yang mengikuti garis keturunan ayah ini berlaku dalam setiap ranah kehidupan pada masyarakat di lokasi penelitian, termasuk dalam hal pembagian harta waris dan penentuan tempat tinggal menetap setelah menikah. Pembagian harta waris pada masyarakat di lokasi penelitian ini,
  • 80 anak laki-laki mendapat bagian lebih banyak daripada anak perempuan, dengan pertimbangan bahwa anak laki-laki setelah menikah nanti memiliki beban tanggung jawab yang berat yaitu menafkahi istri dan anak-anaknya. Sedangkan anak perempuan mendapat warisan lebih sedikit dari anak laki-laki karena dengan pertimbangan bahwa setelah menikah nanti anak perempuan akan mendapat harta atau dinafkahi oleh suaminya. Pembagian harta waris ini ditentukan oleh orang tua dalam hal ini ayah. Apabila orang tua laki-laki meninggal sebelum harta warisan dibagikan kepada anak-anaknya, maka yang berhak membagikan harta warisan tersebut adalah saudara laki-laki suami, bukan istri yang masih hidup. Istri hanya sekedar mengetahui tetapi tidak berhak untuk menentukan berapa bagian yang harus diperoleh anak laki-laki atau anak perempuan. Harta waris seperti rumah, selalu menjadi milik anak bungsu laki-laki meskipun anak laki-laki tersebut masih memiliki adik perempuan. Keistimewaan anak laki-laki juga berlaku dalan penentuan tempat tinggal menetap setelah menikah. Masyarakat Muna khusunya di lokasi penelitian ini adat tinggal menetap setelah menikah itu ditentukan oleh suami. Anak perempuan yang sudah menikah secara otomatis harus keluar dari rumah orang tuanya dan mengikuti suaminya (virilokal), tinggal bersama dengan orang tua suami atau mertua. Anak laki-laki yang sudah menikah bisa tinggal di rumah orang tuanya sampai si anak memiliki rumah sendiri. Sehubungan dengan adat menetap secara virilokal, dalam masyarakat setempat dengan sendirinya di tempat tersebut akan
  • 81 mengelompok menjadi keluarga yang terikat oleh suatu hubungan yang diperhitungkan melalui garis keturunan laki-laki atau patrilineal. Selain adat menetap secara virilokal dalam masyarakat di lokasi penelitian ini juga terdapat adat menetap secara bilokal yaitu adat yang menentukan bahwa pengantin baru tinggal berganti-ganti pada satu masa tertentu sekitar pusat kediaman kerabat suami dan pada masa tertentu sekitar pusat kediaman kerabat istri. Hal ini terjadi apabila pengantin perempuan tidak mempunyai saudara lakilaki atau apabila pengantin laki-laki mendapatkan pekerjaan di sekitar kediaman perempuan. Dewasa ini, sehubungan dengan lokasi yang tidak memungkinkan untuk mendirikan rumah di samping kediaman orang tua pihak laki-laki maka suami istri cenderung menetap secara neolokal yaitu tinggal di kediaman yang baru. Selain itu, adanya neolokal ini juga dipengaruhi oleh faktor pekerjaan. Biasanya pekerjaan suamilah yang mengakibatkan suami istri tinggal di tempat baru. Gejala ini mulai terlihat di daerah yang padat penduduk, manakala lokasi untuk membangun rumah mulai sempit, tetapi kondisi ini masih sangat langkah terjadi di lokasi penelitian, kebanyakan suami istri tinggal dirumahnya kerabat suami. Menurut pemahaman masyarakat di lokasi penelitian ini bahwa anak perempuan yang sudah menikah bukan lagi tanggung jawab orang tua dalam hal memberikan nafkah tetapi sudah menjadi tanggung jawab suami. Anak perempuan yang tetap tinggal bersama dengan orang tuanya walaupun sudah menikah bisa saja terjadi tetapi itu harus keinginan orang tuanya. Biasanya hal ini diakibatkan karena orang tua tersebut hanya memiliki satu orang anak.
  • 82 4.5 Sistem Religi dan Kepercayaan Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, memiliki penduduk yang beragam. Keberagaman itu bukan hanya pada suku, etnis, daerah asal tetapi juga agama dan kepercayaan. Kabupaten Muna juga memiliki penduduk yang beragam mulai dari suku, etnis, daerah asal sampai pada keberagaman agama dan kepercayaan. Kabupaten Muna memiliki keberagaman suku atau etnis yang terdiri dari etnis Muna sebagai penduduk yang mayoritas atau penduduk pribumi, meskipun masih banyak etnis-etnis yang lain sebagai etnis pendatang seperti etnis Buton, etnis Bugis-Makasar, etnis Jawa, etnis Bali, dan etnis Tionghoa. Keberagaman etnis tersebut di barengi dengan keberagaman agama dan kepercayaan. Di Kabupaten Muna terdapat lima agama yang teridentifikasi oleh pemerintah diantaranya, agama Islam sebagai agama yang mayoritas dianut oleh masyarakat Muna, dengan jumlah pengikutnya sebanyak 227.655 orang, agama Kristen Katolik yang penganutnya berjumlah 4.734 orang, pemeluk agama Kristen Protestan berjumlah 15.823 orang, pemeluk agama Hindu berjumlah 2.421 orang dan pemeluk agama Budha berjumlah 844 orang. Setiap agama yang ada di kabupatn Muna tidak saja ada secara tertulis di Departemen Agama dan Banda Pusat Statistik (BPS) kabupaten Muna, tetapi kita bisa melihat keberagaman agama itu dari hal-hal yang nampak di permukaan masyarakat seperti simbol-simbol keagamaan. Simbol yang paling nyata dan kita bisa lihat adalah tempat-tempat ibadah setiap agama yang ada di kabupaten Muna. Jumlah tempat ibadah setiap agama sangat bervariasi tergantung banyak
  • 83 sedikitnya jumlah penganut dan kemampuan serta keinginan penganut agama tersebut untuk membangun tempat ibadahnya. Islam merupakan agama yang mayoritas penganutnya memiliki tempat ibadah sebanyak 284 buah Masjid dan memiliki Mushola sebanyak 54 buah. Gereja Kristen Katolik sebanyak 19 buah, Gereja Kristen Protestan sebanyak 9 buah, Pura sebanyak 3 buah dan Vihara sebanyak 2 buah. Sehingga total semua tempat ibadah agama yang ada di kabupaten Muna berjumlah 371 buah dan tersebar di seluruh kabupaten Muna dengan rincian seperti di atas. Bagi masyarakat Muna yang beragama Islam masjid berfungsi sebagai tempat melakukan ibadah sembahyang lima waktu, selamatan, tahlilan, dan tempat mengaji. Keyakinan dalam beragama Islam dikalangan masyarakat Muna pada hakekatnya telah ditanamkan sejak masa kanak-kanak. Kewajiban belajar mengaji bagi anak-anak yang beragama Islam di lakukan pada malam hari atau pada pagi hari setelah selesai melaksanakan sholat Subuh, hal ini di sebabkan karena pada siang hari anak-anak pergi ke sekolah. Walaupun masyarakat Muna mayoritas yang beragama Islam, akan tetapi Islam yang dianut dan di kembangkan oleh sebagian penganut agama Islam di Muna tampaknya Islam sinkritis. Indikasinya adalah sering dijumpainya keyakinan lain yang bukan berasal dari agama Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Muna. Misalnya mereka yakin dan mempercayai adanya berbagai makhluk halus yang mendiami tempat-tempat tertentu, seperti batu besar, gua dan pohon-pohon besar. Berbagai makhluk halus itu dianggap sebagai pemilik atau penjaga tempat tersebut. Pendek kata masyarakat yang menganut
  • 84 agama Islam di Kabupaten Muna juga masih yakin dan mempercayai kepercayaan animisme dan dinamisme. Sebagian masyarakat Muna yang beragama Islam masih yakin akan adanya roh leluhur dan hubungan dengan roh-roh semacam ini tetap dipelihara kesinambungannya dalam kehidupan sehari-hari. Terperliharanya kesinambungan itu dimanifestasikan dalam perilaku masyarakat yang disebut dhe bhasa, yakni mengirim do’a dengan disertai makanan dan minuman sekedarnya yang ditujukan kepada arwah-arwah para leluhur. Hal itu biasanya dilakukan pada setiap malam Jum’at atau pada hari-hari tertentu yang dianggap baik menurut mereka. Selain itu ada upacara dan ritus adat yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, misalnya dalam peristiwa yang berhubungan dengan siklus hidup individu seperti kehamilan, kelahiran, perkawinan dan kematian. Biasanya dhe bhasa itu dilakukan sebelum acara puncak dilaksanakan, misalnya dalam pesta pernikahan, sebelum memasuki acara ijab qobul terlebih dahulu melakukan ritual dhe bhasa yang dilakukan satu malam sebelum acara puncak dilaksanakan. 4.6 Bahasa dan Kesenian Tradisional Masyarakat Muna mengenal dua bahasa, bahasa Ibu dan bahasa Indonesia. Bahasa Ibu dalam hal ini bahasa Muna sangat dikuasai dengan baik hampir seluruh masyarakat Muna. Hal ini sangat sama dengan wilayah-wilayah lain di tanah air, di mana sangat mengenal bahasa ibu dan dapat berkomunikasi dengan bahasa ibu mereka. Selain itu, bagi penduduk yang berasa dari luar Muna, tidak menemukan kendala dalam berinteraksi dengan penduduk setempat. Mereka mampu berinteraksi menggunakan bahasa Indonesia walaupun sebagian
  • 85 masyarakat tidak terlalu vasih menggunakan bahasa tersebut, tetapi mereka bisa untuk mengerti apa maksud yang diungkapkannya. Kabupaten Muna tidak hanya di huni oleh penduduk asli tetapi juga di huni pendatang, sehingga dalam berkomunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan pendatang. Banyaknya suku bangsa atau etnis yang bertempat tinggal di kabupaten Muna dengan sendirinya membuat kabupaten Muna juga kaya akan bahasa. Semua suku bangsa yang berasal dari daerah lain yang bertempat tinggal di kabupaten Muna secara otomatis juga membawa persebaran bahasa daerah suku bangsa tersebut. Misalnya orang Bali dan Jawa mengikuti kegiatan transmigrasi yang diadakan oleh pemerintah ke kabupaten Muna secara otomatis bahasa mereka juga ikut bertransmigrasi. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari bukan berarti bahasa daerah masing-masing tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi. Semua bahasa daerah bisa digunakan untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kabupaten Muna tetapi hanya sesama suku, etnis yang menggunakan bahasa daerah tersebut. Misalnya bahasa Bali hanya bisa digunakan berkomukasi dengan sesama orang Bali, hal ini diakibatkan oleh masyarakat pengguna bahasa tersebut hanya terbatas pada orang Bali saja, begitu juga bahasa daerah yang lain. Bahasa Muna, sekarang ini sudah mulai dijadikan sebagai bahan mata pelajaran di sekolah, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai mata salah satu mata pelajaran muatan lokal.
  • 86 Bahasa Muna menjadi lingua-france bagi masyarakat Muna dalam berbagai aktivitas kebudayaan. Kesenian tradisional umumnya ditampilkan dengan menggunakan bahasa Muna. Berbagai bentuk kesenian tradisional tetap dipertahankan keberadaannya hingga saat ini. Namun, tidak sedikit pula yang telah punah, hanya tinggal nama. Tinggal sedikit tradisi listra lisan yang masih hidup dalam masyarakat, walaupun jumlah penuturnya tinggal beberapa orang saja dan tersebar di beberapa wilayah kabupaten Muna. Kesenian rakyat merupakan satu khazanah kaya-raya yang di dalamnya tersimpan rekaman-rekaman realitas kehidupan etnik Muna pada masa lampau. Bagi masyarakat etnik Muna, memiliki kesenian tradisonal antara lain, kantola, modero dan gambusu dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan, kekompakan, dan menguatkan persatuan. Tradisi lisan yang berwujud kabhanti, kantola, modero, dan gambusu ini bermuatan pesan-pesan moral. Pesan-pesan dalam seni kabhanti, kantola, modero, dan gambusu berdampak pada orang yang mendengarnya. Orang yang mendengarnya akan tercerahi (terajari) ke arah pembentukan diri individu, diri sosial, dan diri religius yang arif dan bijaksana. Khusus untuk tradisi lisan kantola akan dibahas lebih lanjut pada bab-bab berikutnya. 4.7 Keberadaan Tradisi Lisan Sastra lisan menurut Dundes (Endaraswara, 2009:235) merupakan part of more inclisive term of folklore. Sastra lisan memiliki tradisi turun-temurun yang mencakup antara lain; teka-teki (riddles), pribahasa (proverbs), kutukan (curses), mantra guna-guna (charms), dan lain-lain. Genre ini memberikan gambaran
  • 87 bahwa sebenarnya cakupan sastra lisan itu sangat luas dan memiliki ekspresi estetis yang merupakan bagian dari komunikasi. Sastra lisan tidak dapat dipisahkan dari budaya dan tradisi masyarakat. Pemahaman sastra lisan memerlukan penguasaan kode bahasa, budaya, religi, dan segala aspek kehidupan sosial masyarakat. Sastra lisan pada masyarakat Muna, seperti umumnya yang terdapat disejumlah daerah di Nusantara, bersifat tradisional dan tanpa diketahui siapa yang penciptanya (anonim). Sastra lisan pada awalnya hanya merupakan ungkapan-ungkapan yang sering diucapakan dalam situasi yang dianggap memiliki makna tertentu. Menurut informan, jumlah karya sastra yang bersifat lisan saat ini sudah tidak dapat diidentifikasi semua, hanya beberapa saja jenis sastra lisan yang dapat bertahan hingga sekarang, di antaranya kantola, modero, gambusu. Hampir keseluruhan sastra lisan ini mengikuti pola pantun pada umumnya, yaitu berupa sampiran dan isi. Sastra lisan tersebut di atas masih dapat disaksikan dan hidup di tengahtengah masyarakat hingga sekarang, namun tidak demikian halnya dengan sastra tulis. Lembaga kebudayaan Daerah Muna, berusaha melakukan penelusuran sastra tulis. Setelah beberapa kali melakukan penelitian, daerah ini tidak memilki sastra tulis dalam pengertian sastra sebagai salah satu cabang kesenian, yang memilki nilai estetika (aesthetical satisfaction). Kleden (2004:8) menetapkan batas-batas antara karya sastra dengan jenisjenis tulisan lainnya. Jenis-jenis tulisan tidak dapat dikategorikan sebagai karya sastra konsep-konsepnya disusun dengan cara menyingkirkan sebanyak mungkin
  • 88 konotasi dan ambivalensi sehingga tercapai suatu denotasi yang dapat ditetapkan isi dan batas-batasnya. Sedangkan dalam karya sastra, konotasi dimungkinkan, dan ambivalensi justru diaktifkan untuk menghidupkan watak simbolik sastra. Watak simbolik sastra itu sendiri menggunakan berbagai teknik simbolisasi, seperti metafora, aligeria, atau cara-cara lainnya. Karya sastra, dengan berbagai teknik simbolisasinya, mampu menyajikan nilai estetika. Secara historis, sastra lisan sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu sebagai salah satu bentuk komunikasi antar masyarakat yang mendiami wilayah Pulau Muna. Untuk mengetahui kapan terciptanya tradisi lisan sangat sulit untuk ditentukan. Dari berbagai wawancara dengan beberapa informan dapat disimpulkan bahwa sastra lisan yang ada saat ini tidak diketahui pasti kapan mulanya tercipta.
  • BAB V BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA Setiap masyarakat mempunyai seperangkat tradisi lisan yang harus digali dari pengalaman hidup mereka pada masa lalu. Tradisi lisan merupakan produk budaya masa lalu yang berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus, yang kesemuanya itu dianggap baik sehingga patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Tradisi lisan merupakan semua kecerdasan tradisional yang ditranformasikan ke dalam cipta, karya dan karsa, sehingga masyarakat dapat mengatasi berbagai persoalan hidup dalam berbagai iklim sosial yang terus berubah-ubah. Maka untuk itu diperlukan kesungguhan dan kerja secara sistematis dan periodik yang sangat kuat, serta diakrabkan kembali pada masyarakat pendukungnya dalam mempertahankan eksistensi warisan budaya lokal yang merupakan penunjang kebudayaan nasional. Untuk itu, langkah penting harus segera dilakukan pemerintah dan lembaga non-pemerintah serta masyarakat pendukung untuk terus proaktif dalam upaya penyelamatan dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya. Sebagai warisan budaya, tradisi lisan kantola, terus diupayakan pelestariannya, seperti tampak pada pertunjukan tradisional secara periodik, pengintegrasian kantola dalam berbagai bentuk pantun, aktualisasi kantola dalam masyarakat, dan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pelestarian tradisi lisan kantola. Demikian pula halnya dengan masyarakat Muna, sebagai masyarakat yang bisa dikategorikan sebagai masyarakat berbudaya. Masyarakat Muna memiliki 89
  • 90 tradisi lisan yang telah menjadi sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, hukum serta lingkungan di tengah-tengah kehidupan mereka. Tradisi lisan pada masyarakat Muna bersifat dinamis berkelanjutan dan dapat diterima oleh komunitasnya, serta memiliki ranah dan dimensi yang sangat luas mulai dari sifatnya yang sangat teologis sampai yang sangat pragmatis dan teknis. Masyarakat Muna, menciptakan dan mengembangkan tradisi lisan yang di dalamnya tercakup berbagai mekanisme dan cara untuk bersikap, berperilaku dan bertindak, baik dalam hubungan mereka dengan sesama manusia, dengan alam maupun dengan kuasa. Tradisi lisan dalam masyarakat Muna dikemas berdasarkan pengalaman dalam berinteraksi dengan alam di sekitar mereka, dengan sesama orang Muna, dan dengan Kakawasa Ompu (Tuhan Yang Maha Esa). Pengalaman dan pengetahuan empirik yang diperoleh terus diwariskan dan dikembangkan serta dipertahankan melalui proses pembelajaran dari generasi ke generasi, di mana bahan ajar dalam proses pembelajaran tersebut tidak tertulis, tetapi tersimpan disetiap kepala masyarakat Muna, terutama para tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat Muna. Koentjaraningrat (1992: 79) menyebut proses pembelajaran seperti ini sebagai pembudayaan atau biasa pula dikenal dengan istilah institusionalisasi yaitu proses belajar yang dilalui oleh setiap orang selama hidupnya untuk menyesuaikan diri di alam pikirannya serta sikapnya terhadap adat, sistem norma dan semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan dan masyarakatnya.
  • 91 Sebagai produk budaya masa lampau tradisi lisan yang memiliki dimensi yang sangat luas (Ife, 2002: 301), maka kajian tradisi lisan masyarakat Muna sebagai grand issu kajian ini, lebih difokuskan pada upaya pengidentifikasian perangkat-perangkat tradisi lisan masyarakat Muna yang kiranya dapat direvitalisasi sebagai model tradisi lisan, khususnya tradisi lisan masyarakat Muna berbasis budaya tradisonal. Hasil eksplorasi dan upaya revitalisasi tersebut akan diberikan pada bagian-bagian berikut ini. 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola secara Periodik Akhir-akhir ini krisis kebudayaan yang melanda dunia, bukan hanya mengakibatkan keterpinggiran ilmu-ilmu budaya oleh perkembangan teknologi dan media yang sangat pesat, tetapi juga berdampak pada terpuruknya apresiasi masyarakat, terutama generasi muda, terhadap produk-produk tradisi lisan yang tak ternilai harganya, selain unsur filosofis dan nilai etis yang terkandung di dalamnya. Mayoritas generasi muda lebih suka menikmati dan menggeluti produk-produk budaya modern dan pop, dan beranggapan bahwa produk-produk tradisi lisan yang bernuansa tradisional merupakan bagian dari masa lalu yang tidak lagi sesuai dengan kondisi masyarakat yang dianggap modern, hingga kini. Tradisi lisan selalu berkembang di dalam suatu proses seiring dengan perkembangan masyarakat pendukungnya. Masyarakat pemilik budaya tersebut, termasuk pemerintah, harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-pengaruh
  • 92 globalisasi yang terus mengancam eksistensinya. Untuk itu diperlukan berbagai upaya mendorong pelestarian tradisi lisan. Upaya untuk mempertahankan dan meningkatan apresiasi masyarakat terhadap tradisi lisan kantola adalah pertunjukan tradisi lisan kantola harus dilakukan secara periodik. Peningkatan apresiasi masyarakat tentu saja akan membuka peluang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan memiliki kekuatan yang bisa mempengaruhi rancang bangun kebudayaan nasional karena tradisi lisan merupakan produk estetis simbolis masyarakat yang berakar pada pengalaman sosiokultural sehingga di dalamnya terkandung kearifan dan nilainilai mulia (Sutarto, 2004: 1). Pengalaman sosiokultural ini menjadi sesuatu yang berharga dalam mempertahankan eksistensi kehidupan masyarakat dalam menghadapi derasnya arus globalisasi yang setiap saat dapat mengancam segala aktivitas kultural, termasuk keberadaan tradisi lisan. Sutarto lebih jauh mengungkapkan bahwa tradisi lisan telah menjadi korban perubahan dari budaya global yang berdampak pada keterpurukan dan bahkan lambat laun akan hilang di muka bumi. Gejala keterpurukan dan kepunahan sudah tampak di pelupuk mata dan ini tidak semestinya terjadi. Jika hal ini dibiarkan maka bangsa Indonesia sebagai bangsa besar, dengan berbagai jenis tradisinya yang tak terhingga jumlahnya, akan kehilangan produk kebudayaan. Apabila tidak terjadi peningkatan apresiasi, tradisi lisan akan gagal memenangi dukungan masyarakat (communal support) dan dukungan pasar (financial support). Dukungan masyarakat akan melemah dan dengan sendirinya
  • 93 pewaris tradisi lisan akan makin berkurang pula. Banyak di antara kita yang tidak sadar dengan fakta bahwa aktivitas kedaerahan kita telah dipengaruhi, bahkan terkadang ditentukan, oleh peristiwa atau agen yang jauh (Giddens, 2003: 9). Budaya global mampu menebus batas-batas dan sekat-sekat lokalitas masyarakat mana pun di belahan bumi ini. Dia menjadi agen perubahan yang seolah-olah memiliki remote control dalam mengendalikan segala aktivitas masyarakat sesuai yang dia inginkan. Anggapan ini melekat dalam masyarakat bahwa globalisasi memberi ruang terhadap penciptaan produk-produk budaya yang universal, sehingga produk-produk budaya lokal akan terserap ke dalamnya atau malah sebaliknya, sehingga terjadi tarik menarik di antara keduanya. Dalam hal ini, terjadi pertemuan antara globalitas dan lokalitas. Swellengrebel (Astra, 2009: 125) menyebutkan pertemuan antara tradisi besar (great tradition) dengan tradisi kecil (little tradition) vis a vis. Menurut Astra, tradisi besar tidak pernah mampu mencerabut tradisi kecil yang memang sudah mengakar di bumi Nusantara. Kekuatan budaya lokal terwujud dalam bentuk kearifan lokal (lokal genius) yang mampu menyaring hal-hal positif dari tradisi besar sehingga memperluas cakrawala budaya dan meningkatkan adab bangsa. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa budaya global memiliki daya tersendiri, magnet yang memiliki daya tarik yang kuat. Dia mampu memutar balikkan fakta sehingga lambat laun tradisi kecil akan tercerabut dari akarnya. Akhirnya, pemikiran konvensional akan terus bermunculan yang beranggapan bahwa produk budaya lokal itu kuno ketinggalan zaman sehingga tidak menarik,
  • 94 sementara budaya global itu selalu bagus dan menarik dimata masyarakat yang telah dipengaruhi oleh budaya global. Pertunjukan tradisi lisan kantola merupakan satu dari beberapa pertujukan berbalas pantun yang menampilkan berbagai unsur pertunjukan tradisional yang ada pada masyarakat Muna, yang diselenggarakan pada acara pasca perkawinan, syukuran, sunatan, pingitan, dan pasca panen. Keberadaan kantola yang sekarang ini sudah mulai hilang atau memudar dikalangan masyarakat Muna. Mulanya penyelenggaraan pertunjukan tradisi lisan kantola sebagai sarana hiburan bagi masyarakat daerah Muna sejak dahulu. Manakala ada acara kantola, orang beramai-ramai mengunjungi keramaian itu untuk mendengarkan kantola yang ditampilkan pada waktu itu. Orang-orang tua, anak-anak, lebih-lebih para pemuda dan pemudi tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Dalam kondisi seperti itu kantola berperan sebagai sarana jumpa sehingga momentum itu dapat digunakan untuk menggalang massa. Lewat kantola kita dapat memberikan informasi pembangunan, agama, dan nasihat-nasihat. Bagi pemuda dan pemudi mempunyai kesempatan seperti itu dapat digunakannya untuk memperluas pergaulan. Lebih dari itu dapat pula digunakannya sebagai langkah awal untuk memilih pasangan hidup, seperti gambar 5.1 dan 5.2 berikut.
  • 95 Gambar 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Laki_Laki Dokumentasi: Darwan Sari, 2011 Gambar 5.2 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Perempuan Dokomentasi: Darwan Sari, 2011
  • 96 Pada gambar 5.1 dan 5.2, dalam pertunjukan ini, kantola digunakan pada waktu bermain kantola. Kantola adalah sejenis permainan tradisional, di mana para pemain pria dan perempuan masing-masing bersaf kemudian mereka berhadapan dengan jarak kurang lebih dua meter. Acara kantola biasanya dilaksanakan pada malam hari. Mereka bermain kantola diawasi oleh orang-orang tua yang berwibawa, hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pantun yang mengundang pertikaian. Oleh karenanya kantola dari masing-masing pihak harus diucapkan lebih dahulu sebelum dilagukan. Jika dinilai rawan, maka kantola itu tidak boleh dilagukan. Pada saat bermain tradisi lisan kantola, saat peserta peserta perempuan melantunkan, maka peserta laki-laki mendengarkan dan memikirkan kira-kira apa yang akan mereka jawab nantinya. Fenomena tersebut sesuai dengan pendapatnya Lord dalam Achadiati (2008: 205) yang mengungkapkan bahwa bunyi, kata, atau peristiwa yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan. Formula merupakan peranti mnemonic yang membantu orang menemukan kembali pikiran yang tersimpan dalam ingatan, di antaranya rima, paralelisme, aliterasi, asonansi, struktur-struktur tetap yang digunakan dalam tradisi lisan. Pada setiap penyelenggaraannya, pertunjukan ini yang selalu menampilkan pertunjukan kantola yang sudah jarang ditampilkan dalam kegiatan-kegiatan berbalas pantun. Hal ini sangat terkait dengan komitmen kultural para pemegang kekuasaan dan juga media. Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan tradisi lisan. Di tangan merekalah ekspos tradisi lisan dapat diwujudkan, selain karena ditunjang oleh segi finansial juga memiliki akses dalam membuka kran pertunjukan tradisi lisan.
  • 97 Untuk mempertahankan eksistensi tradisi lisan, komitmen kultural pemerintah sangat dibutuhkan. Mereka seyogyanya membuka peluang bagi tradisi lisan sehingga mampu bersaing dan berkembang di tengah kesenian modern yang menampakkan wajah yang terus merubah sehingga tidak menjadi statis dan monoton seperti halnya yang terdapat pada tradisi lisan. Peluang itu tidak hanya terkait dengan pertunjukan sendiri, melainkan juga berhubungan dengan media massa. Kehadiran media massa yang terus tumbuh subur, telah menjarah kehidupan masyarakat dan budaya lokal dengan sebuah budaya baru. Sebuah budaya massa hasil ciptaan media, yang lebih menonjolkan nilai-nilai konsumerisme dan hedoisme. Bagaimanapun juga, media massa telah menjadi tumpuan untuk dijadikan sebagai medium pengembangan budaya, termasuk di dalamnya tradisi lisan tanpa harus menghilangkan identitas tipikalnya. Keterkaitan media massa dan budaya akan bersinggungan langsung dengan ekonomi (profitable) dan pasar (marketable) yang akhirnya melahirkan industri budaya. Menurut Stokes (2007: 112) industri budaya adalah sesuatu yang memiliki fungsi utama produksi atau distribusi seni, hiburan, atau informasi. Hal ini dimaksudkan untuk memproduksi artifak-artifak yang berbentuk seni pertunjukan. Dorongan ekonomi dan pasar merupakan dorongan yang paling signifikan dalam menentukan apa yang akan dikerjakan selanjutnya. Industri budaya terlibat dalam produksi benda-benda simbolis yang perlu bersaing dalam ruang pasar. Bahkan, organisasi seni yang paling dermawan sekali pun memerlukan sesuatu yang profitable untuk bertahan dan bersaing. Dengan demikian, tumbuh
  • 98 kembangnya tradisi lisan sangat bergantung pada kedua unsur yang telah disebutkan di atas, tanpa berusaha mengerdilkan peran masyarakat pewaris tradisi lisan. Olehnya itu, untuk menumbuh kembangkan suatu kebudayaan tidak terlepas dari persoalan kapitalisme dalam memproduksi dan menyalurkan berbagai bentuk seni, hiburan dan informasi. Persoalan utama kapitalisme terletak pada kecenderungan menjadikan kebudayaan sebagai “budak komoditi” yang patuh pada logika dan hukum-hukum yang diciptakan sendiri, yaitu kebudayaan industri. Kebudayaan industri dibuat untuk massa berdasarkan relasi kekuasaan, yang totaliter dalam menentukan bentuk, gaya, konsep, makna, dan pesan-pesan ideologi yang tersembunyi di balik produk budayanya. Kebudayaan industri merupakan bentuk “pengomandoan” masyarakat konsumer dari kaum kapitalisme (Adorno dalam Piliang, 2004: 313). Fenomena yang diungkapkan Adorno di atas sedang berlangsung di tanah air saat ini. Kebudayaan sudah menjadi komoditi yang tidak terlepas dari motif ekonomi dan relasi kekuasaan. Pemerintah, sebagai pemegang kekuasaan, dan media massa memiliki peran yang sangat signifikan dalam membuka dan mendistribusikan pertunjukan tradisi lisan kepada masyarakat. Tanpa peran pemerintah dan media massa, pertunjukkan tradisi lisan tidak dapat berbuat banyak, apalagi menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran dan fungsi tradisi lisan. Masyarakat tentunya tidak menginginkan tradisi lisan berubah wujud menjadi artifak-artifak kultural peninggalan masa lalu yang tidak bernilai.
  • 99 Sekarang ini masyarakat hanya tampil sebagai penikmat budaya ketimbang menjadi pelaku, memandang tradisi dari segi pragmatisme saja. Sikap pragmatis ini lebih jauh lagi memandang bahwa tradisi lisan ini bukan menjadi bagian dari hidup mereka. Tradisi lisan berfungsi sebagai alat hiburan semata dengan mengenyampingkan fungsi-fungsi lainnya yang merekat pada tradisi lisan tersebut. Padahal, pertunjukkan tradisi lisan dapat membuka peluang bagi pengembangan produk-produk budaya lokal lainnya. Hal ini dipertegas oleh La Mokui (wawancara 11 Maret 2011) yang mengungkapkan bahwa; “Pertunjukkan tradisi lisan hanya sebagai media sehingga dalam kantola bisa dikenal oleh masyarakat. Tujuan pertunjukan ini sebenarnya untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa dalam tradisi lisan kantola semenjak dahulu sudah mematuhi etika dan norma-norma” Ungkapan di atas mengindikasikan adanya ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengetahui simbol-simbol budaya. Pertunjukan tradisi lisan tidak semata-mata menonjolkan aspek estetika atau keindahan kesenian tersebut, tetapi juga pemaknaan terhadap unsur yang terdapat di dalamnya, seperti kreativitas yang senantiasa hadir untuk setiap penampilannya dan sebagai unsur etika dan norma pada masyarakat. Tradisi lisan mampu menumbuhkan ikatan batin di antara masyarakat yang menjadi pendukung utama tradisi tersebut. Tradisi lisan sangat kaya dengan nilai-nilai kearifan sehingga perlu dilestarikan. Di dalamnya mengandung hal-hal yang berhubungan langsung dengan interaksi manusia dengan manusia, dan alam. Pelestariannya bukan apa yang ditampilkan, kemasan atau penampilan fisik, melainkan nilai-nilai yang terkandung dalam seni tersebut. Inilah wujud nyata revitalisasi kebudayaan. Revitalisasi merupakan suatu proses
  • 100 menjadikan kebudayaan sebagian terpenting di dalam kehidupan bermasyarakat sebelum kebudayaan itu kehilangan makna yang terkandung di dalamnya. 5.2 Aktualisasi Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna Suatu realitas yang sangat memprihatinkan, banyak produk budaya lokal yang saat ini sekarat atau bahkan mati. Tidak jauh berbeda dengan produk budaya lainnya, tradisi lisan juga berada dalam ambang kepunahan. Paling tidak, terdapat dua faktor yang mempengaruhi kondisi ini, yaitu faktor yang berasal dari luar dirinya (faktor eksternal) dan yang berasal dari dalam dirinya (faktor internal). Gelombang perubahan yang melanda dunia mencuatkan produk-produk budaya global yang menghibur, mudah dicerna, gampang ditiru, enak dirasakan, disebarluaskan oleh media masa, dan didukung oleh modal besar, merupakan faktor eksternal yang menyebabkan keterpurukan budaya lokal. Produk-produk budaya global benar-benar merampas selera seni masyarakat lokal dan menggiring ke dalam cita rasa estetis homogeni yang dikendalikan oleh lingkaran pemegang modal dan penguasa (Sutarto, 2004: 2). Fenomena ini berangkat dari fungsi media itu sendiri, baik media massa maupun media elektronik, yang telah menentukan pemikiran, persepsi, opini, dan bahkan perilaku masyarakat. Pada saat inilah media dipandang sebagai mediator dalam menyampaikan berbagai ideologi yang memboncenginya. Beberapa persoalan ideologis pada media muncul ketika apa yang disampaikan media sebagai dunia representasi dikaitkan dengan kenyataan sosial sebagai dunia nyata memunculkan berbagai persoalan di dalam kehidupan sosial, termasuk kebudayaan.
  • 101 Selain faktor yang berasal dari luar dirinya, faktor yang berasal dari dalam pun menjadi pemicu keterpurukan kebudayaan yang disebabkan oleh para pelaku dan pendukung budaya lokal yang seringkali kurang sigap menanggapi perubahan kultural yang begitu cepat merambah sehingga budaya yang ditampilkan terkesan statis dan monoton. Dalam situasi seperti ini, budaya lokal tidak akan pernah mampu bersaing dengan produk-produk budaya global. Ketidakmampuan ini, dari segi individu dan kelompok, berdampak langsung pada kemunduran budaya lokal. Sedangkan dalam cakupan nasional, akan berdampak pada krisis budaya nasional. Rancang bangun kebudayaan nasional bersumber dari budaya-budaya lokal yang ada di seluruh nusantara. Fenomena di atas dipertegas oleh Piliang (2004b: 277) yang mengatakan bahwa bila kecenderungan pengaruh budaya kapitalisme yang dilandasi dengan prinsip-prinsip budaya konsumerisme, budaya citra, dan budaya tontonan, atau bila pandangan dunia (world view) yang dibangun oleh kapitalisme pada individuindividu di dalam masyarakat tidak diubah, maka sesungguhnya proses kapitalisme global sama artinya dengan proses penghancuran budaya lokal. Ancaman bagi budaya lokal dan nasional adalah globalisasi dan kapitalisme yang lebih berbahaya dibandingkan komunisme dan fanatisme agama. Untuk mengantisipasi hal ini, harus dibutuhkan komitmen untuk merubah diri dalam memandang dunia dengan lebih manusiawi dengan berlandaskan nilai-nilai budaya lokal. Merubah pandangan dunia merupakan perubahan mendasar dalam rangka menghidupkan kembali budaya lokal atau revitalisasi budaya lokal. Dalam upaya ini, harus dikembangkan indikator-indikator yang harus digali dari sistem-
  • 102 sistem lokal yang lebih sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal. Merubah pandangan dunia, disamping merubah paradigma, juga merubah cara berpikir masyarakat lokal. Selanjutnya Piliang (2004: 277) mengemukakan bahwa perubahan pandangan dunia akan ditentukan oleh perubahan mendasar pada perspektif, nilai, dan tindak-tanduk individual. Merubah pandangan dunia berarti merubah bagaimana masyarakat lokal merubah persepsi mereka tentang makna (meaning) dan tujuan hidup yang selama ini sangat dibentuk oleh sistem kapitalisme. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pembelajaran sosial (social learning). Salah satu proses pembelajaran sosial yang sangat penting adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang perlunya mengadakan perubahan dari pandangan dunia kapitalisme global ke arah pandangan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya lokal, sebuah karya sastra tidak dapat mengelak dari kondisi masyarakat dan situasi kebudayaan tempat karya itu dihasilkan (Kleden, 2004: 8). Karya sastra berperan sebagai refleksi atau cerminan dari suatu masyarakat. Sastra lisan termasuk khazanah sastra yang penting sebagai bagian utama dari budaya sastra masyarakat. Masyarakat Muna mengenal tradisi lisan sebagai bentuk tradisi yang paling dominan. Melalui tradisi lisan itulah masyarakat berkomunikasi, mewariskan, dan mengembangkan pengetahuan dan pola sikap tentang dan atas kehidupan. Tradisi lisan kantola mempunyai kedudukan dan peranan penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Muna.
  • 103 Kenyataan ini jauh dari realita yang sesungguhnya. Dari berbagai pengamatan yang dilakukan di lapangan dapat dikemukakan bahwa tradisi lisan ini tidak lagi merupakan cerminan budaya masyarakat setempat. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain; (1) generasi muda beranggapan bahwa tradisi lisan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Stigma semacam ini hampir merasuki seluruh pikiran generasi muda yang beranggapan bahwa tradisi lisan hanya cocok untuk generasi tua, (2) perkembangan teknologi yang begitu pesat juga menjadi indikator memudarnya tradisi lisan. Generasi muda cenderung membaca komik, memirsa layar kaca, bermain game yang lebih interaktif, face book dan sebagainya ketimbang mendengarkan cerita atau nasehat orang tua yang menurut mereka tidak lagi memiliki daya pikat. Dengan kata lain, media cetak dan elektronik menjadi media atraktif dibanding mempelajari atau pun mendengarkan tradisi lisan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5.3 berikut.
  • 104 Gambar: 5.3 Masyarakat yang Menyaksikan Pertunjukkan Tradisi Lisan Kantola Didominasi Generasi Tua (Dokomentasi: Darwan Sari, 2011) Pada gambar 5.3 menggambarkan tentang masyarakat Muna dalam memandang tradisi lisan kantola memiliki pandangan yang berbeda. Di satu sisi, sebagian masyarakat optimis beranggapan bahwa keberadaan tradisi lisan harus tetap dilestarikan. Umumnya mereka ini berasal dari generasi tua yang tetap memandang kantola sebagai panutan dalam hidup. Namun, disisi lain masyarakat pesimis karena mereka beranggapan bahwa tradisi lisan ini bagian dari masa lalu. Hidup harus bergerak ke depan, bukan sekedar berpepatah-petitih dan tidak perlu balik ke belakang (wawancara dengan La Mokui pada 11 Maret 2011). Hal tersebut tersebut di atas mengindikasikan adanya celah untuk membuka jurang dalam menghempaskan tradisi lisan ke tempat yang terdalam. Olehnya itu keadaan seperti ini, tentu saja sangat mengkhawatirkan. Kedudukan dan fungsi tradisi lisan kantola yang penuh dengan nilai-nilai moral dan kaya
  • 105 makna kehidupan akan semakin tergerus dan lamban laun menghilang. Dengan sendirinya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan terlupakan bahkan akan menghilang. Revitalisasi berarti prinsip atau sistem-sistem lokal yang harus diperbaharui, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Hal ini berarti bahwa sistem-sistem lokal harus diberi nafas baru, terlepas dari sikap apapun yang dianut dalam menghadapi gelombang pengaruh kapitalisme dan budaya global. Upaya revitalisasi yang tidak dilakukan secara sistematis dan terencana tidak akan membawa pengaruh apa-apa, ketika berhadapan dengan mesin kapitalisme global yang sangat sistematis dan terencana (Piliang, 2004b: 285). Revitalisasi harus dimulai dari hal-hal yang berkaitan langsung dengan kondisi sosiokultural masyarakat setempat, seperti yang dikemukakan La Mokui (wawancara 11 Maret 2011) berikut. “Untuk melakukan revitalisasi dimulai dari bahasa, setelah itu dilakukan sosialisasi, kemudian membersikan perangkat adat. Kaum sara harus dikembangkan lagi, menjadi adat sebagaimana mestinya. Dia tidak mencampuri urusan pemerintah tetapi untuk memperkuat institusi adat.” Ungkapan yang disampaikan oleh La Mokui di atas, mengindikasikan bahwa peran lembaga adat sudah tidak berfungsi. Untuk itu perlunya kembali penguatan lembaga dalam proses memvitalkan kembali budaya-budaya lokal. Fenomena ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ardana (2004:99) yang menekankan perlunya penguatan fungsi dan peran lembaga adat. Jika tetap ingin mempertahankan budaya lokal, peran lembaga adat ini harus dilibatkan kembali. Perangkat adat (kaum sara) harus merumuskan kembali kebijakan pelestarian warisan budaya dan menjadi mitra pemerintah dalam usaha-usaha pelestarian
  • 106 budaya lokal. Namun, pada kenyataannya, pemerintah dan perangkat adat tidak menunjukkan partisipasi nyata dalam mengembangkan warisan budaya lokal. Menurut Tilaar (2007: 10-11), terdapat dua ikatan primordial yang memperkuat hubungan dan membentuk masyarakat lokal, yaitu bahasa dan agama. Keduanya berfungsi dalam menumbuhkan solidaritas masyarakat Muna dalam menumbuhkan kemampuannya. Bahasa Muna, sebagai lingua france di seluruh aktivitas kultural, merupakan faktor pengikat yang sangat besar dalam menumbuhkan ikatan sosial. Lebih lanjut bahasa, menurut Boerdieu (Harker, 2005: 226), harus dipandang sebagai bagian dari cara hidup sebuah kelompok masyarakat. Sedangkan agama, dalam hal ini direpresentasikan melalui kaum sara, merupakan regulator dan pijakan kehidupan masyarakat Muna. Peranan pendidikan dalam mewujudkan upaya pelestarian kebudayaan lokal. Untuk melaksanakan revitalisasi harus berproses dalam berbagai tahapan, yaitu internalisasi, sosialisasi, dan implementasi. Pendidikan dalam arti yang selaus-luasnya, pembinaan dan berfungsi sebagai pemberdayaan. mekanisme Proses pengenalan, pemilikan pembiasaan, pengetahuan lewat pembelajaran, sehingga melalui proses ini timbul pemahaman terhadap aktivitas kultural yang berlangsung di masyarakat. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman individu adalah sejauh mana dia mengetahui maksud dan tujuan kegiatan tersebut. Kesadaran seseorang terhadap budayanya serta kebanggaan memilikinya dalam ikatan sosial merupakan hasil dari perkembangan pribadi seseorang. Inilah yang dikenal sebagai pendidikan multikulturalisme (Tilaar, 2007: 15).
  • 107 Pendidikan multikulturalisme akan tercapai bila ada campur tangan pemerintah, sebab pemerintah juga berperan besar dalam menentukan arah kehidupan masyarakat Muna. Perubahan yang sangat signifikan terjadi pula pada era globalisasi dengan mobilitas modernisasinya. Seperti yang diungkapkan oleh Giddens (2003: 8) bahwa hampir pasti modernitas selalu penentangan terhadap tradisi. Modernitas telah membangun tradisi sebagimana ia menghancurkannya, serta keberlanjutan dan penciptaan tradisi merupakan bagian utama dari legitimasi kekuasaan. Globalisasi yang mengandung paradoks, dan paradoks globalisasi tercipta akibat hadirnya secara bersamaan dan di dalam ruang waktu yang sama dua sifat yang saling bertentangan satu sama lainnya secara kontradiktif, globalitas dan lokalitas, hegemonisasi dan heterogenisasi, penyeragaman dan keberanekaragaman. Masyarakat Muna sekarang ini, terjebak dalam pola-pola kontradiktif yang mewarnai perubahan sosial dan kultural akhir-akhir ini; kontradiksi antara globalisme dan lokalisme, sentralisasi dan desentralisasi. di satu pihak, kehidupan sosial masyarakat kita akhir-akhir ini diwarnai oleh berbagai macam kendala, akibat suhu politik di daerah ini yang semakin memanas dengan seringnya adanya demonstrasi, dan kemudian berkembang ke dalam politik praktis yang mengabaikan kepentingan masyarakat serta berpihak kepada kaum penguasa. Keyakinan banyak pihak yang mengungkapkan bahwa segala macam kendala, akibat suhu politik di daerah ini tidak perlu terjadi jika masyarakat Muna mampu mengimplementasikan simbol-simbol kebudayaan yang terwujud dalam
  • 108 tradisi lisan, seperti “Daseise Damowanu Liwu” yang artinya Bersatu Membangun Daerah”. Menurut La Mokui (Wawancara 11 Maret 2011) ungkapan ini tidak lagi menjadi semboyan pemersatu untuk membangun daerah Muna, yang terjadi di daerah justru tercerai-berai yang mempunyai kepentingan masing-masing. Konsep bersatu ini untuk membangun daerah tidak lagi bermakna bagi seluruh masyarakat Muna, akan tetapi sebagai identitas bahwa ia orang Muna. Secara historis tradisi lisan kantola, sering dijadikan sebagai media ekspresi dalam kultur kehidupan bermasyarakat. Tradisi lisan kantola mempunyai peranan penting bagi masyarakat Muna. Seseorang dapat mengekspresikan apa yang dihayalkannya, yang dipikirkan, serta apa yang dikehendakinya disampaikan secara sastrawi melalui kantola, sehingga kantola merupakan salah satu media bagi masyarakat Muna untuk menyampaikan sesuatu berupa kritikan, nasihat, dan cinta kasih. Dengan adanya kantola, maka pengungkapan kritikan ataupun nasihat lebih beretika, sehingga orang yang dikritik merasa dihargai. Pengungkapan simbol-simbol sebagai bentuk ekspresi. De Saussure (1916) menjabarkan konsep tentang tanda dan membaginya ke dalam bentuk dikotomi significant dan signifie. Significant berupa penanda atau yang menandai, yaitu citra bunyi yang timbul dalam pikiran berupa simbol bahasa, sedangkan signifie atau yang ditandai adalah hal yang diacu atau kesan makna yang dalam pikiran. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bentuk bahasa signifier adalah bentuk bahasa atau simbol bahasa, sedangkan signified adalah makna yang terkandung di dalamnya.
  • 109 Djajasudarma (1999: 18) menyatakan bahwa setiap situasi dapat diamati dari segi bahasa karena bahasa merupakan keseharian manusia. Bahasa manusia tidak hanya berupa ragam tulis, tetapi juga ragam lisan. Secara ontologis, eksistensi bahasa lisan dianggap lebih awal daripada bahasa tulis karena jauh sebelum mengenal tulisan manusia sudah dapat berbahasa yakni bahasa lisan. Disamping itu, keberadaan bahasa lisan terbatas hanya pada masyarakat yang bermelek huruf (literate society), sedangkan bahasa lisan ada pada masyarakat manapun. Dengan demikian, masyarakat yang tidak beraksara sudah barang tentu mengekspresikan hal-hal yang menyangkut diri dan alam sekitarnya melalui tuturan tanpa dokumentasi. Pewarisan dengan cara seperti ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk bahasa yang indah. Hal ini disebabkan oleh fitrah manusia yang menyukai keindahan. Berdasarkan hal ini, manusia melahirkan karya sastra lisan baik berupa cerita lisan, nyanyian rakyat, maupun pepatah petitih. Dengan demikian karya sastra lisan bukan pelipur lara semata, bukan cerita mitos belaka, tetapi merupakan muatan nilai dimensional dan sarat dengan nilai. Nilai yang dimaksudkan adalah nilai-nilai budaya masyarakanya. Hal ini senada dengan pernyataan Luxemburg et.al (1989:21), bahwa sastra terikat oleh dimensi waktu dan budaya karena sastra itu sendiri merupakan produk dari sebuah kebudayaan. di balik rangkaian kalimat yang estetis, karya sastra (sastra lisan) tampil dengan gayanya yang unik, yang menginformasikan keadaan manusia dan tipe masyarakatnya. Secara umum sastra berbicara tentang manusia, ihwal kemanusiaan, dan kehidupan yang kompleks dengan segala varian-variannya melalui kekuatan
  • 110 kreativitasnya. Dengan demikian, tradisi lisan sebagai produk masyarakat lama yang bercorak tradisional mengandung aspek filosofis yang multi dimensional dan sarat makna. Nilai tak terbatas itu ada dalam ranah imajinasi, yang dikongkritkan dalam bentuk simbol-simbol atau kata-kata. Sebagai sebuah akibat dari simbolisasi, sebagai kebenaran yang tak terbatas mengalami kemerosotan (penyempitan). Sementara itu, makna sebuah simbolisasi tiada lain karena kesempatan yang sewaktu-waktu bisa berubah. Kebudayaan bagi suatu kelompok telah menjadi standar ukuran dalam menilai dan mewujudkan tingkahlaku. Nilai baik dan buruk kemudian diukur berdasarkan ukuran yang berlaku dan telah disepakati sebelumnya. Proses semacam ini melahirkan proses eksklusi sosial di mana satu kelompok cenderung membangun wilayah simbolik sendiri yang membedakan diri mereka dengan yang lain (Abdullah, 2006: 52). Nilai etika dan moral, yang juga terdapat dalam kantola dijadikan ukuran dalam segala aspek kehidupan. Walaupun tidak semua anggota masyarakat menjalankan nilai-nilai etika dan moral sebagaimana seharusnya, yang dianggap sebagai penghambat dan membatasi dinamika kehidupan mereka yang bergerak dinamis. Kantola pada akhirnya melahirkan dua sikap, yaitu malu berbuat salah dan takut berbuat salah. Sikap ini merupakan bagian dari kehidupan beragama yang selalu menuntut kebenaran, yaitu kebenaran agama (wawancara La Mokui, 11 Maret 2011). Bertolak dari pemikiran (engkau dan aku) terlihat bahwa masyarakat Muna sudah memikirkan hubungan anatara manusia dengan penciptaNya, antara makhluk dengan khalik.
  • 111 Konkretisasi simbol kebudayaan ini menjadi pedoman tingkahlaku dalam berbagai praktik sosial. Sebagai kerangka acuan, kebudayaan merupakan serangkaian nilai yang disepakati. Kebudayaan sebagai simbol menunjuk pada bagaimana suatu budaya dimanfaatkan untuk menegaskan batas-batas kelompok. Bahasa yang merupakan materi budaya digunakan untuk membangun wilayahwilayah simbolik, menjadi kunci penting dalam suatu tradisi lisan. Perbincangan mengenai bahasa tidak dapat dipisahkan dari kesalingberkaitannya dengan pengetahuan yang melandasi serta bentuk-bentuk kekuasaan yang beroperasi di baliknya. Artinya perbincangan mengenai bahasa tidak dapat dipisahkan dari ideologi yang beroperasi di baliknya, melalui fungsi referensial dan afektif bahasa. Dasar persoalan dalam konsep ideologi yang berkaitan dengan status epistemologinya, yaitu hubungan antara ideologi dengan kebenaran pengetahuan. Foucaul (Barker, 2009: 85) melihat bahwa pengetahuan itu terimplikasi pada kekuasaan, tak bisa dipisahkan dari kekuasaan, yang terlihat dalam konsepnya kuasa/pengetahuan. Yang dimaksudkan dengan konsep ini adalah bahwa ada hubungan timbal balik yang saling membentuk antara pengetahuan dengan kekuasaan, sehingga pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari rezim-rezim kekuasaan. Foucaul (2002: 66) melihat pelaksanaan kekuasaan terus menerus menciptakan pengetahuan, dan sebaliknya pengetahuan secara konstan menyebabkan pengaruh kekuasaan. Pengetahuan terbentuk di dalam konteks relasi dan praktik-praktik kekuasaan, dan selanjutnya turut berperan dalam pengembangan, perbaikan, dan pemeliharaan teknik-teknik kekuasaan yang baru.
  • 112 Tradisi lisan merupakan sebuah ideologi. Sastra mempunyai relasi paling intim dengan pertanyaan-pertanyaan kekuatan sosial, terformulasikan dalam imaji, simbol, dan kebiasaan. Kebenaran-kebanaran mendasarkannya, seperti yang dimediasikan oleh simbol-simbol tradisi, menjadi rational dan karenanya bersifat mutlak dalam pertanyaan-pertanyaannya (Eagleton, 2006: 30-31). Ideologi bukan hanya sekedar kepercayaan-kepercayaan yang berakar dalam, tetapi lebih khusus ke cara-cara merasa, menilai, memandang, mempercayai yang berhubungan dengan pemeliharaan dan reproduksi kekuatan sosial. Ideologi, menurut Barker (2009: 13), adalah peta-peta makna meskipun berpotensi mengandung kebenaran universal yang sebenarnya merupakan pemahaman historis yang menopengi dan melanggengkan kekuasaan. Kantola adalah syair yang sebagian intinya mengkritik pemerintah yang disampaikan secara santun. Masyarakat mempunyai kekuatan tersendiri dengan wewenang atau hak yang dimilikinya. Yang pada intinya adalah penyampaian kritik ini mewakili kelompok masyarakat yang mana dan apakah kritik ini efektif mewakili seluruh masyarakat. Namun terlepas dari semua itu, kantola mampu menjalankan salah satu fungsinya sebagai alat kontrol walaupun tahap pengimplementasiannya belum terlihat secara nyata di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat yang paling utama adalah menghargai budaya lokal merupakan komponen esensial dari setiap pembangunan. Masyarakat memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kearifan terhadap kondisi sosiokultural masyarakat tersebut. Pemerintah hanya menjadi pendengar dan
  • 113 belajar dari masyarakat, bukan mengajari masyarakat tentang problem dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, peran pemerintah hanya mengarahkan dan memberikan dukungan, baik secara finansial dan pemasaran, tidak dengan cara mengendalikan dan mengembangkan warisan budaya menurut kepentingan dan keinginannya. Tujuan dari revitalisasi tidak berhenti pada tahap pemahaman, namun harus mampu mengimplementasikan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Proses selanjutnya adalah pemberdayaan warisan budaya sehingga dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Keberhasilan proses sosialisasi nilai-nilai budaya yang selanjutnya teristitusikan terhadap warga masyarakat, ditunjukan berbagai tindakan nyata, berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup sebelumnya. Proses-proses itulah, yang menurut hemat penulis, belum dijalankan oleh masyarakat Muna. Terdapat kecenderungan dalam masyarakat yang tidak memahami pentingnya pelestarian warisan budaya. Umumnya generasi muda tidak lagi menaruh perhatian warisan budaya, apalagi tradisi lisan. Mereka lebih terbuai oleh produk budaya global yang mampu memberikan kesenangan sesaat namun cepat berganti rupa dengan kesenangan berikutnya tanpa memberikan makna dan manfaat bagi pengayaan dan pembentukan kepribadian, seperti yang terdapat dalam tradisi lisan. 5.3 Pelestarian Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna Tradisi lisan dalam perjalanannya harus berhadapan dengan berbagai kekuasaan, misalnya masyarakat, Negara, dan terutama para pewaris tradisi lisan tersebut. Siklus berkesenian harus tetap ditumbuhkan mengingat makin gencarnya
  • 114 produk global yang terus-menerus mengancam keberadaan tradisi lisan. Kesenian, menurut Wijaya (2008), merupakan bentuk pembelajaran yang harus tetap dilestarikan, dihidupkan, pergaulan, dan hubungan kemanusiaan. Sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya, tradisi lisan merupakan wadah pencarian identitas bagi masyarakat atau etnik tertentu sehingga dapat memahami keberadaannya di tengah-tengah kemajemukan masyarakat saat ini. Identitas diperoleh, dikelolah, dan ditransformasikan melalui berbagai proses sosial. Identitas sangat penting karena dia membentuk perilaku masyarakat. Tradisi lisan mampu membentuk identitas masyarakat lokal dan membedakannya dari masyarakat lain. Perbedaan prilaku masyarakat bertentangan dengan prinsip yang dianut masyarakat global. Globalisasi menjadi universalitas sebagai tujuan utamanya sehingga memungkinkan terciptanya homogenisasi budaya. Dengan terciptanya hemogenisasi budaya, maka akan merajalelanya kapitalisme. Peran media massa akan memunculkan hegemoni budaya yang menghasilkan budaya massa, dan penguasa yang terus menerus mengembangkan praktik-praktik kekuasaan. Kapitalisme global tidak hanya berkaitan dengan ekspansi kapital dan pasar, tetapi juga merambah pada nilai-nilai kultural. Kapitalisme global dibangun atas fondasi individualisme, dibangun berdasarkan persaingan untuk menguasai dan mendominasi. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh budaya lokal, seperti semangat kebersamaan, kesederhanaan, tenggang rasa, dan kasih sayang. Jika hegemoni
  • 115 kultural terus berlanjut, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi proses penghancuran warisan-warisan budaya lokal. Sebagai bagian dari warisan budaya yang intangible, keberadaan tradisi lisan sadar atau tidak, telah berada dalam tahap penghancuran. Tradisi lisan kantola saat ini, menimbulkan banyak kekhawatiran bagi pemerhati budaya lokal, sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah Tingkat II, dan lembaga non-pemerintah, termasuk para tokoh masyarakat, dan tentu saja masyarakat Muna sendiri yang menjadi pendukung utama tradisi lisan tersebut. Hal ini menjadi krusial karena keberadaan kantola tidak dapat didokumentasikan, hanya dalam beberapa makalah saja yang dapat di bukukan. Kantola sebenarnya sudah menjadi artefak bagi dirinya yang dimiliki orang per orang dan menyimpan dari fungsi yang seharusnya (wawancara dengan La Djehe Palola, 1 Maret 2011). Lebih Jauh La Dehe mengungkapkan: “Pemerintah belum ada upaya untuk melestarikan. Kami pernah menyarankan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk melakukan kodefikasi dan revitalisasi kebudayaan masyarakat Muna tidak terealisasikan. Belum ada campur tangan pemerintah sejauh ini. Dulu pernah dibentuk lembaga kebudayaan namun terbatas pada penelitian bahasa daerah namun pengdokumentasian kantola belum pernah dilakukan oleh pemerintah Daerah Muna.” Ungkapan di atas mengindikasikan sikap dan posisi pemerintah yang kurang memperhatikan keberadaan warisan budaya yang bersifat kelisanan. Padahal, pemerintah, selain unsur masyarakat lainnya, memegang peranan penting dalam melakukan revitalisasi kearifan lokal yang mulai terlupakan oleh masyarakat setempat. Fenomena ini dipertegas oleh Astra, (2004: 115-116) yang menyatakan pentingnya mendayagunakan atau merevitalisasi keriafan lokal untuk tujuan
  • 116 pembangunan. Selanjutnya Astra memilah-milah upaya-upaya revitalisasi, yaitu menggali serta merumuskan dengan tepat kearifan lokal yang “masih terpendam” dalam berbagai aspek kehidupan atau budaya; memupuk kearifan lokal yang sudah berfungsi dengan baik; dan merevitalisasi kearifan lokal secara sistematis dan terencana sehingga dapat berfungsi secara tepat dan optimal. Sebenarnya untuk pelestaraian tradisi lisan telah dicanangkan oleh pemerintah pusat. Para pendiri Negara menetapkan kewajiban pemerintah untuk “memajukan kebudayaan nasional Indonesia” dalam pasal 32 Undang-undang Dasar 1945. Penguatan kebudayaan nasional juga dilakukan setelah amandemen keempat UUD 1945 dimana pasal 32 menjadi dua ayat, di dalamnya dicantumkan “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa.” Hal ini berarti bahwa adanya pengakuan terhadap bahasa-bahasa daerah yang perlu dijaga, dan dilestarikan agar jumlah penuturnya bertambah. Namun pada kenyataannya undang-undang ini belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pemerintah. Banyak bahasa daerah yang jumlah penuturnya berkurang bahkan hampir punah, begitu pun tradisi lisan. Pemetaan, dokumentasi, kodefikasi bahasa daerah dan tradisi lisan hanya dilakukan di wilayah-wilayah yang secara ekonomis dan politis berkontribusi bagi pemerintah. Sebaliknya, wilayah-wilayah yang kurang memberikan kontribusi terhadap pemerintah, seolah-olah keberadaannya diabaikan. Padahal, menurut penjelasan pasal 32 sebelum diamandemen, kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang timbul sebagai usaha bersama rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan nasional merupakan kolektivitas budaya-budaya lokal yang ditanah air.
  • 117 Sedyawati (2008: 162), mengungkapkan bahwa warisan budaya, baik yang tangible maupun yang intangible, tidak boleh dibiarkan terbengkalai namun sebaliknya arus tetap ditumbuhkan dalam iklim yang sesehat-sehatnya. Alih-alih menguatkan, pemerintah memegang andil yang signifikan dalam kepunahan warisan budaya. Pembubaran Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata dalam Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menghilangkan sandaran bagi pengembangan kebudayaan. Secara normatif, hal ini berarti bahwa pemerintah kini tidak menangani pelaksanaan kerja dan hanya berperan sebagai pengarah kebijakan. Perlindungan peninggalan sejarah purbakala, serta berbagai warisan budaya intangible tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah dan dilepas ke khalayak ramai. Ini berdampak pada kemunduran dan kepunahan warisan budaya milik etnis tertentu, yang secara politis dan ekonomis tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam khalayak ramai. Fenomena di atas sesuai dengan pendapat Piliang (2005b: 379), yang mengatakan bahwa amandemen UDD 1945 harus dilihat dalam dua perspektif sekaligus, yaitu perspektif budaya lokal dan perspektif budaya global. Berbagai pengaturan dalam relasi antarbudaya, ekspresi budaya, dan otoritas budaya harus tetap mempertimbangkan dualisme budaya yang muncul akibat benturan budaya lokal dan global. Perubahan pasal ini, di satu pihak harus dapat menampung berbagai perubahan kultural yang terjadi akibat proses globalisasi, namun di pihak lain, harus dapat meminimalisasi pengaruh-pengaruh kontradiktif, pergeseran dan konflik budaya yang timbul dari akses globalisasi.
  • 118 Apabila tradisi lisan tidak dilestarikan, dikhawatirkan tradisi lisan tidak akan bertahan menghadapi gempuran budaya global. Satu hal yang pasti, setiap masyarakat selalu memiliki sistem yang mengatur hirarki dan status kekuasaan bagi pembentukan identitas budaya. Sistem ini kemudian melahirkan konsepkonsep dominasi, baik mayoritas maupun minoritas. Sistem ini terlihat dengan jelas dalam dikotomi yang berdasarkan perbedaan etnik yang kemudian tersublimasi menjadi persoalan etnisitas. Pada tataran aktualisasi, terjadi pertarungan memperebutkan identitas budaya (Yusuf, 2005: 2-3). Arus globalisasi saat ini semakin kuat, maka saat ini pula dirasakan mengecilkannya peranan tradisi lisan di tengah kehidupan. Lalu di balik itu tentunya bahasa dan sastra daerah ikut terpuruk. Tak berlebihan kemudian menghilangnya seperangkat sistem kebudayaan lokal dipunyai oleh etnik tertentu. Melihat gelagat itu, tampaknya sudah ada upaya pelestarian ataupun tindakan penyelamatan yang ditempuh oleh sebagian orang atau lembaga baik secara inovasi maupun secara konservasi. Sekarang ini pula, bahkan jauh sebelumnya banyak upaya dari berbagai lembaga kebudayaan melakukan penelitian, perekaman, dan pertunjukan dalam melakukan usaha penyelamatan dan pelestarian. Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) misalnya, sejak tahun 1993 sudah melakukan kerja pelestarian tradisi lisan dengan berbagai kegiatan antara lain; perekaman suara dan gambar, seminar nasional dan internasional, festival, penerbitan jurnal, buku seri sastra lisan, dan sejak tahun 2009 Aosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang bekerjasama dengan Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) memberikan kesempatan kepada dosen Negeri ataupun Swasta
  • 119 untuk melanjutkan studi S2 dan S3 yang bermintat mengkaji tentang Kajian Tradisi Lisan (KTL) yang ada di daerahnya masing-masing. Upaya- upaya yang dilakukan dari berbagai lembaga kebudayaan untuk melestarikan tradisi lisan, agar tradisi-tradisi yang ada di negeri ini tetap lestrari, tetapi dengan gaya hidup modern sekarang ini, masyarakat yang cenderung hedoistik dan berprilaku konsumerisme, melihat pertunjukan tradisi lisan (sastra lisan) yang sebagai bagian dari masa lalu, sudah bukan zamannya lagi. Artinya, penuturan tradisi lisan saat ini sudah tidak bisa lagi dikonsumsi dan harus menghilang dari peredaran. Itulah sebabnya sebagaian masyarakat cemas dengan gejala lenyapnya tradisi lisan ini. Sebagai orang sepertinya memandang tradisi lisan sebagai sesuatu yang terancam, seperti etnis atau masyarakat pendukungnya, yang telah melahirkan dan membesarkannya. Sebelum kehilangan maknanya, kiranya revitalisasi perlu dilakukan yang merupakan suatu proses menjadikan warisan budaya sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Proses revitalisasi, tentunya, harus dilakukan secara terorganisir oleh individu pelaku budaya, kelompok komunitas bersama-sama pemerintah yang melakukan kesadaran dan merasa begitu pentingnya warisan budaya. Kesadaran akan pentingnya kebudayaan beserta kearifan lokal yang terkandung di dalamnya timbul sebagai akibat penemuan jatidiri, berlatar belakang dari warisan leluhur yang khas dan tidak dapat ditemukan pada daerah lain. Untuk itu segala produk hukum dan perundang-undangan harus dilandasi nilai-nilai tradisi lokal sehingga akan ada perlakuan arif, kalau tidak bisa dikatakan lebih adil bagi tradisi lisan.
  • 120 Perlakuan arif bagi tradisi lisan adalah dengan adanya asumsi yang menganggap bahwa budaya suatu masyarakat tertentu lebih dominan dari budaya masyarakat lainnya. Pada tingkat pusat, pemerintah seolah-olah memberikan perhatian penuh pada budaya masyarakat yang memberikan kontribusi besar pada pembangunan. Perbedaan perlakuan seperti ini akan membuka celah atas kematian budaya-budaya lokal lainnya, yang dianggap tidak memiliki peluang untuk dikembangkan, dari segi finansial tidak menguntungkan lagi. Akhirnya budaya-budaya lokal, bergerak sendiri-sendiri dan tertatih-tatih dalam upaya pelestariannya. Jika masyarakat ini tidak mampu lagi menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal, maka hilang pula kekayaan budaya di tanah air. Kalaupun budaya-budaya tradisional berusaha untuk dipertahankan, yang tampak di permukaan hanyalah dalam konteks memanjangkan nilai-nilai semata (Hayat, 2003: 153). Pada tingkat lokal, pemerintah daerah juga terbelit persoalan yang sama. Perlakuan terhadap satu produk budaya dengan produk budaya lainnya terkesan pilih kasih. Pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak karena segala kebijakan bersumber dari pusat, yang sentralistik hegemonik. Pelaku budaya lokal juga bergerak di tempat karena menunggu kebijakan dari pemerintah daerah dengan berbagai regulasi yang ditetapkannya sendiri. Hal ini akan berdampak negatif pada pelaku aktif kebudayaan. Mereka akan bersikap pesimis dan apatis terhadap upaya pelestarian budaya lokal. Persoalan menjadi lebih krusial lagi jika pelaku kebudayaan tidak lagi menaruh minat dan mengapresiasi eksistensi budaya lokal. Produk budaya lokal dibiarkan tercerai berai, tanpa tuan, dan hanya tinggal
  • 121 menunggu momen-momen kehancurannya. Fenomena tersebut sesuai dengan pendapat Dhavamony (1995: 181) yang mengatakan bahwa sudah seharusnya pemerintah proaktif untuk menghidupkan tradisi-tradisi lokal yang bekerjasama dengan tokoh masyarakat dan tokoh adat agar masyarakat tidak terbawa arus globalisasi, yang menggiring masyarakat pada ranah kapitalisme.
  • BAB VI FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA Hendaknya fungsi revitalisasi tidak hanya pada tataran menyatakan yang benar, tetapi juga harus sampai pada tataran implementasi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai aktivitas kultur yang mengandung aspek estetika dan moral, tradisi lisan berfungsi berdasarkan atas kemampuan karya sastra tersebut yang dapat menyebabkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya. Sesuai dengan hakikat karya sastra, fungsi yang terpenting adalah berkaitan dengan totalitas karya sastra terhadap totalitas mesyarakat. Berikut ini dipaparkan berbagai fungsi tradisi lisan kantola, seperti fungsi tradisi, fungsi komunikasi, fungsi sosial, dan fungsi pelestarian. 6.1 Fungsi Tradisi Tradisi selalu berubah-ubah, tradisi terkait dengan memori, terutama dengan apa yang diistilahkan oleh Maurice Halbwachs dengan ‘memori kolektif’ yang melibatkan kesenian (Giddens, 2003: 18). Selanjutnya Giddens mengemukakan bahwa semua tradisi memiliki muatan normatif atau moral, yang merupakan pembentuk karakter pengikat masyarakat lokal. Tradisi terkait erat dengan proses interpretatif, di mana masa lalu dan masa sekarang saling terkait dan saling terhubungkan. Tradisi tidak hanya menggambarkan dengan apa yang sebenarnya dilakukan dalam suatu kelompok masyarakat akan tetapi, apa yang seharusnya dilakukan. Tradisi adalah reproduksi atau kelanjutan masa lalu, dan ia 122
  • 123 akan kehilangan sifat tradisinya bila berubah. Perubahan dianggap sebagai musuh tradisi, yang mengancam keaslian dan keberlanjutan tradisi. Menurut Giddens (2003: 24) tradisi terlalu parvasif untuk dibedakan dari bentuk sikap dan perilaku kelompok masyarakat. Situasi yang pervasif semacam ini cenderung merupakan kekhasan dari kebudayaan lisan. Setiap wilayah di tanah air memiliki tradisi lisan, dengan kekhasan masing-masing, berpengalaman terhadap pola-pola kehidupan masyarakat tradisional. Masyarakat Muna, yang secara historis dan kekhasan tradisi lisan yang dimilikinya, telah mengambarkan kesadaran tersendiri dalam menyikapi perubahan. Ungkapan syair kantola di bawah ini mengindikasikan dalam hal menyikapi perubahan. koemo peda kawea tada mangka angkafimo hamadi sokaghuluhano kawea somokaghuluhanomo pae wekokantidaha artinya: jangan seperti iringan awan ke barat ikut ke timur ikut tak tentu tempat berhenti terkatung-katung di antara langit Syair di atas menggambarkan kondisi masyarakat saat ini yang selalu saja mengikuti arah angin perubahan yang dihembuskan oleh kapitalisme global yang mencengkeram segala sendi-sendi kehidupan. Perubahan, yang dimetaforakan dalam syair kantola ‘iringan awan’ menggambarkan betapa rapuhnya manusia, tanpa daya, di tengah-tengah belantara dunia yang semakin luas dan tanpa sekat.
  • 124 Dalam syair kantola tersebut pula lebih jauh digambarkan bahwa perubahan akan terus dan terus berlanjut tanpa pernah diketahui kapan berhentinya. Sebenarnya dalam alam pikiran masyarakat tradisional masyarakat Muna telah lama menyadari akan terjadinya perubahan, hanya saja telah dikonstruksi oleh hegemoni perubahan global sehingga mereka secara sadar maupun tidak sadar akan keterombang ambingan yang tanpa arah dalam memandang dunianya. Fungsi tradisi dalam revitalisasi tradisi lisan kantola diperkuat secara etik dengan apa yang dikemukakan oleh Piliang (2004: 422), yang menegaskan bahwa di tengah deru globalisasi, di tengah gelombang komoditi yang dahsyat dan cepat, di tengah-tengah hutan rimba pencitraan melalui media massa, perubahan masyarakat yang tanpa arah ini akan mengancam integritas sosial, sistem normatif, dan keutuhan identitas lokal. Nilai-nilai tradisi ini akan semakin jauh dari masyarakat, termasuk tradisi lisan kantola, tidak saja pada masyarakat modern, tetapi juga pada masyarakat tradisional di Kabupaten Muna, sebagai pemilik dan pewaris tradisi lisan kantola. Lebih lanjut Callinicos (2008: 45-46) mempertegas keberadaan masyarakat modern, di mana masyarakat modern merepresentasikan sebuah gerak pemisahan diri secara radikal dari sifat statis masyarakat tradisional. Masyarakat modern dicirikan oleh usaha-usaha mereka untuk secara sistematis mengontrol dan mengubah lingkungan fisik mereka, yang disebarluaskan melalui pasar dunia yang terus berkembang sehingga melahirkan sebuah proses perubahan yang berlangsung secara cepat. Di satu sisi relasi-relasi sosial, praktek-praktek kebudayaan, dan keyakinan-keyakinan keagamaan yang didasarkan pada tradisi,
  • 125 tersapu bersih oleh badai perubahan yang terus berlangsung. Namun, disisi yang lain masyarakat modern tidak sanggup memenuhi dua prasyarat yang paling mendasar dari peradaban manusia, yaitu kebutuhan manusia untuk dapat hidup harmonis dengan sesama munusia, serta kebutuhan manusia untuk dapat hidup secara harmonis dengan lingkungannya. Dalam hubungannya dengan lingkungan, pada kelompok masyarakat tertentu, terdapat sebuah tradisi yang tetap dijaga keberadaannya hingga saat ini. Mereka beranggapan bahwa lingkungan alam dan manusia sama-sama makhluk Tuhan sehingga perlu dijaga keseimbangannya diatara keduanya. Sebagai contoh masyarakat tidak memperkenankan sesorang memetik buah pada malam hari. Mungkin bagi sebagian orang ini hanya sebagai pemali atau tabu. Namun, jika ditelusuri lebih jauh pelarangan merupakan sikap positif masyarakat yang menganggap bahwa seperti manusia, pohon juga butuh istrahat di malam hari. Sebab itu tidak boleh ‘diganggu’ dengan memetik buahnya (Ibrahim, 2008: 147). Apa yang terdapat di dalam alam, baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik, merupakan karunia Tuhan. Dengan demikian, pelestarian dan kelangsungan hidup alam harus tetap dipertahankan sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia pada masa yang akan datang. Sikap pralogis semacam ini, menurut Steven Lukes (Gibbons, 2002: 60), dianggap sebagi ramah tamah dan bertentangan dengan pemikiran logis masyarakat modern, akan menimbulkan sikap penghargaan terhadap lingkungan. Langkah awal harus dimulai dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih besar. Manusia dan alam harus hidup
  • 126 berdampingan dengan harmonis, bukan dengan cara memperlakukan lingkungan secara destruktif. Jika hal ini terjadi, maka untuk mewujudkan masyarakat yang lebih beradab dan berkeadilan tidak akan dipenuhi oleh masyarakat modern. Berdasarkan apa yang dikemukakan Piliang dan Callinicos di atas mengindikasikan bahwa perubahan dilakukan secara sistematis, terencana, dan tepat sasaran. Perubahan akan mengancam segala aspek-aspek kehidupan masyarakat tradisional yang bisa dikatakan statis namun penuh makna, bukan dinamis namun tanpa makna, seperti yang melanda masyarakat modern. Dalam beberapa dekade lalu, ikatan sosial komunitas lokal masih kuat, namun pesatnya teknologi komunikasi global, masyarakat tradisional telah berubah secara radikal. Gideens (2003: 76) menganalogikan hal ini sebagai sebuah dunia, yang mencakup semua orang adalah sebuah dunia di mana tradisi-tradisi lama tidak menghindari kontak, tidak hanya dengan tradisi lisan, tetapi juga dengan banyak cara hidup alternatif. Dalam syair kantola berikut ini dapat memberikan alternatif terhadap perubahan yang telah melanda masyarakat tradisional saat ini. dakumala dalumilili dawawehi dhunia daekapihi kambea modadi newunta wuntano nepadhughi dhughi Artinya: kita pergi keliling alam kita mencari bunga yang bermata hidupnya di tengah-tengah yang kita harapkan
  • 127 Syair di atas memberikan gambaran tentang solusi alternatif bagaimana menyikapi arus perubahan tersebut, apa yang sebaiknya dan seharusnya ditempuh. Tradisi dihancurkan oleh modernitas, namun kolaborasi antara tradisi modernitas sangat penting dalam tahap perkembangan sosiokultural masyarakat. Masyarakat tradisional yang statis, terjebak dalam dualisme antara lokalitas dan globalitas. Disatu sisi, masyarakat harus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, namun disisi lain tidak dapat menghindari perubahan secara dramatis yang memasuki pola-pola kehidupan mereka. Fenomena ini menurut Zait (2004: 336), bahwa adanya kesadaran terhadap hubungan dialektis antara masa lalu dan masa kini, merupakan fenomena yang harus diterima. Menerima hubungan dialektis yang mengaitkannya dengan masa lalu, dan berangkat dari kekinian dalam memahami masa lalu. masa lalu bukanlah satu gugusan, tetapi merupakan kecenderungan yang merefleksikan kekuatan. Perubahan akibat modernisasi bukanlah sesuatu yang haram, yang harus ditolak mentah-mentah. Modernisasi mampu memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian, modernisasi tidak serta merta diadopsi secara keseluruhan, melainkan memilih sebagian dengan cara menegasikan sebagian dan mengambil sebagian pula. Modernisasi terus tumbuh dengan produk-produk budaya globalnya, tetapi warisan budaya lokal harus terus dipertahankan dan dipelihara, serta masyarakat tradisional selalu menanamkan relasi-relasi sosial, praktek-praktek kebudayaan, dan keyakinan-keyakinan yang didasarkan pada tradisi. Tradisi kecil mampu mengembangkan pola-pola hidup harmonis terhadap lingkungan dan dengan
  • 128 sesama manusia, hal yang tidak dijumpai pada tradisi besar yang secara sistematis terus mengekploitasi manusia dan lingkungan sekitar mereka. Menurut pandangan Giddens (2003: 83) bahwa dimasa sekarang, kehancuran komunitas lokal yang hidup ditengah-tengah masyarakat modern, telah mencapai puncaknya. Tradisi-tradisi kecil hidup atau secara aktif dihidupkan selama fase-fase awal perkembangan masyarakat modern, telah semakin mengarah pada kekuatan evakuasi budaya. pembagian antara tradisi besar dan tradisi kecil, sekarang hampir sepenuhnya menghilang. Hal ini bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan Astra (2009: 125) pada bab sebelumnya. Tradisi kecil mampu hidup berdampingan dengan sejumlah unsur budaya yang berasal dari tradisi besar. Tradisi kecil mampu berfungsi sebagai filter, sensor, dan adaptor terhadap budaya-budaya luar. Hal ini dipergegas oleh Sztompka (2007: 75) yang menyatakan bahwa tradisi semacam onggokan gagasan dan material yang dapat digunakan oleh setiap tindakan kini dan berdasarkan pengalaman masa lalu membuka celah untuk membangun masa depan. Untuk mengaktualisasikan fungsi tradisi kecil sudah tentu memerlukan berbagai sarana, baik berupa struktur-struktur dalam tata masyarakat yang memungkinkan untuk dijalankan dan diimplementasikan. Keberadaan lembagalembaga Pembina, baik yang dikelola oleh pemerintah daerah, kalangan akademisi, maupun kalangan swasta, dan masyarakat pendukungnya. Komponenkomponen masyarakat yang bergerak di bidang pengkajian maupun pelestarian warisan budaya lokal, merupakan sarana struktur yang diperlukan untuk
  • 129 mengaktualisasikan fungsi-fungsi tradisi kecil yang tersubordinasi oleh tradisi besar. 6.2 Fungsi Komunikasi Kekhasan tradisi lisan kantola merupakan komunikasi yang terjadi dalam berbalas pantun antara kelompok laki-laki dan perempun. Bahasa yang digunakan dalam tradisi kantola adalah diungkapkan secara puitik dan metaforik, dipadukan dengan gerak-gerakan yang khas pula. Kemampuan berkomunikasi dalam tradisi lisan kantola akan membutuhkan kelihayan dalam melangsir bait-bait syair tradisi lisan kantola. Kebenaran dan informasi yang disampaikan dalam komunikasi dalam tradisi lisan kantola merupakan kualitas individu yang diramu dalam suatu pola kebersamaan. Dengan demikian, komunikasi dalam tardisi lisan kantola dapat menjalankan fungsi informatif dan komunikatifnya. Menurut Sperber dan Wilson (2009: 42), maksud informatif berfungsi untuk menginformasikan sesuatu, sedangkan maksud komunikatif berfungsi untuk menginformasikan maksud informatif tersebut. Maksud komunikatif dapat dipenuhi setelah maksud informatif dimengerti oleh pendendang ataupun penikmat tradisi lisan ini. Tradisi lisan kantola dibangun dalam konstruksi sebait-bait kata, frasa, maupun susunan kalimat yang merupakan ekspresi perasaan dan pendapat peserta kantola. Ciri kecepatan, ketepatan, dan kecerdasan menyusun bait-bait syait kantola menjadi tolak ukur kemampuan seseorang dalam menyampaikan pandangan dan pendapatnya dalam bentuk bahasa metaforik kepada peserta lain. Dalam melantunkan kantola perserta harus menyampaikan pantun dengan bahasa yang santun dan tidak bertentangan dengan budaya masyarakat atau individu yang
  • 130 menjadi sasaran maksud kantola. Kalaupun ditujukan kepada peserta yang mengarah pada tabiat, watak atau rahasia pribadi peserta kantola, penyampaian bahasanya akan dipilih bahasa yang santun dan tidak menyinggung perasaan pada seseorang tempat ditujukannya syair kantola tersebut. Komunikasi dalam tradisi lisan kantola biasa yang menggunakan bahasa berkesan, menyindir, dan sederhana, tetapi tak jarang pula ditemukan bahasa kantola yang sulit untuk dipahami. Biasanya untuk memahami lebih dalam tentang hal itu, akan melibatkan kecermatan, konsentrasi yang tinggi dan berpikir filasafat. Hal ini sesuai dengan pandangan Piris dkk. (2000:8) yang menyatakan bahwa kantola berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kecermatan berbahasa, seperti dalam ungkapan berikut. Lambu pata nepondoiki amambanu aengkorahiea kengkorahano Artinya: rumah yang saya tiada bisa malu menduduki kursinya Syair kantola di atas berisi nilai etika mengenai sikap malu seseorang, sikap malu untuk berbuat kesalahan. Dalam masyarakat tradisional, yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat yang berlandaskan pada tradisi, sikap malu ini merupakan dasar yang paling hakiki dalam kehidupan masyarakat. Sikap malu ini tidak saja diterapkan pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain. Sikap ini, tentu saja menimbulkan sikap yang menghargai dan menghormati eksistensi orang lain diluar dirinya. Apa yang hendak dikomunikasikan melalui ungkapan di atas harus
  • 131 ditanamkan pada generasi penerus sejak awal. Internalisasi sikap malu sudah mulai terbangun semenjak mereka telah mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar sehingga nantinya tercipta keharmonisan antara sesama masyarakat. Fenomena ini, menurut Syam (2005: 38) bahwa hal ini harus bermula pada diri sendiri, di tengah-tengah lembaga-lembaga sosial di mana dia berada. Internalisasi selanjutnya diterapkan pada lingkungan sekitarnya. Misalnya, ucapan salam pada saat meninggalkan dan memasuki rumah. Begitu pula pada saat memasuki rumah orang lain. Kebiasaan ini harus terus ditumbuhkan dalam diri generasi penerus sejak dini. Dengan demikian, dalam diri mereka telah tertanam sikap sopan santun dan penghargaan terhadap orang lain. Selain itu, ungkapan ini juga mencerminkan sikap adaptatif manusia jika memasuki lingkungan yang baru, di mana penghormatan terhadap budaya setempat harus dijunjung tinggi oleh siapa pun. Sebagian besar yang terselubung dalam tradisi lisan kantola mengandung struktur nilai untuk menginformasikan dan memotivasi pernyataan-pernyataan faktual adalah merupakan bagian dari apa yang dimaksud ideologi. Ideologi secara kasar adalah segala cara yang dikatakan dan dipercayai, terhubung dengan struktur kekuasaan dan relasi-relasi yang terdapat dalam masyarakat. Ideologi bukan sekedar kepercayaan-kepercayaan yang berakar dalam, sering kali disadari terdapat dalam setiap individu, tetapi lebih khusus kecara-cara merasa, menilai, memandang, mempercayai yang berhubungan dengan pemeliharaan dan reproduksi kekuatan sosial. Fakta bahwa kepercayaan macam itu hanyalah kebiasaan privat yang digambarkan dalam karya sastra (Eagleton, 2006: 20).
  • 132 Tradisi lisan kantola biasanya berisi pandangan manusia tentang alam dan dunianya. Bahwa setiap individu masyarakat dituntut untuk dapat menempatkan dirinya dalam masyarakat serta mampu menciptakan suasana keragaman yang dapat menjalin ikatan antara sesama manusia dalam hubungan kekeluargaan sampai ke tempat kelompok besar, yaitu masyarakat. Namun, jangan sampai terbawa oleh situasi yang menggiring ke arah tak menentu, terombang ambing oleh keadaan dunia yang penuh jebakan, kesenangan duniawi semata. 6.3 Fungsi Sosial Tradisi lisan kantola didendangkan, didengarkan dan dihayati secara bersama-sama pada peristiwa tertentu, dengan maksud dan tujuan tertentu pula. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain berkaitan dengan pasca perkawinan, syukuran, khitanan, pasca panen dan acara lain yang tujuannya menghibur. Tradisi lisan, pada dasarnya, sangat digemari oleh warga masyarakat dan biasanya didengarkan bersama-sama karena mengandung gagasan, pikiran, ajaran, nasehat, dan nilai-nilai moral. Gagasan ini berpengaruh pada sikap dan perilaku masyarakat tradisional yang memiliki ikatan kolektivitas yang kuat. Keberadaan produk budaya lokal ini dianggap sebagai bukti historis kreativitas masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat solidaritas sesama masyarakat. Semangat solidaritas yang dihasilkan dari tradisi lisan kantola berdampak positif pada menguatnya ikatan batin di antara anggota masyarakat. Dalam konteks ini, bisa dilihat bahwa tradisi lisan juga memiliki fungsi sosial, dengan demikian, bisa dikatakan bahwa memudarnya tradisi lisan kantola di masyarakat
  • 133 merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial di antara mereka, dan sebaliknya. Pertanyaan ini sering mengemuka di kalangan pemerhati budaya yang menilai ikatan sosial budaya suatu masyarakat sudah beralih ke sikap individualistis dan kompromistis, bukan lagi pencerminan dan perwujudan dari sistem budaya yang melekat pada masyarakat tradisional. Syair kantola berikut ini memberikan gambaran ikatan sosial dalam masyarakat lokal. noporomu mina naseise nopogaati mina nakogholata Artinya: berkumpul tidak bersatu berpisah tidak berantara Syair kantola di atas mengisyaratkan bahwa setiap manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok membutuhkan orang lain atau kelompok lain dalam mewujudkan tujuan hidupnya. Mereka saling kerjasama, saling mendukung dan saling melengkapi. Ketergantungan manusia yang satu dengan manusia yang lain menurut masyarakat Muna, ibarat anggota tubuh manusia yang tidak mungkin dipisahkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya. Semua anggota tubuh manusia mempunyai tugas, tanggung jawab dan fungsi masing-masing untuk mendukung fungsi tubuh itu secara keseluruhan. Demikian halnya dengan masyarakat Muna misalnya dalam menjalin hubungan antarstrata sosial (kaomu, walaka, dan maradika), masing-masing mempunyai hak, kewajiban, tugas tanggung jawab dan fungsi, akan tetapi saling membantu, saling mendukung dan saling melengkapi sesuai norma-norma adat yang telah disepakati bersama. Tradisi lisan kantola termasuk khazanah sastra yang penting sebagai bagian utama
  • 134 dari budaya sastra masyarakat. Ungkapkan isi syair tentang asal-usul dalam masyarakat yang mengandung maksud legitimasi yang berhubungan dengan kekuasaan. Realitas sosial di atas yang menyangkut legitimasi yang berhubungan dengan kekuasaan dalam masyarakat menurut Syam (2005: 39), bahwa legitimasi berfungsi untuk membuat objektivisi yang telah dilembagakan menjadi masuk akal secara subyaktif. Subyektifitas menggiring masyarakat terpaku pada polapola yang ditetapkan pemerintah daerah dan terus direproduksi sebagai perilaku atau tindakan. Proses habitualisasi ini terus mengendap dalam masyarakat dan memberikan pemahaman diri dan tindakan mereka, dalam konteks kehidupan sosiokultural melalui proses pentradisian. Masyarakat Muna mengenal tradisi lisan kantola sebagai bentuk tradisi sastra yang paling dominan. Melalui tradisi lisan inilah masyarakat menjalankan fungsi sosialnya, dan mengembangkan pengetahuan dan pola sikap atas kehidupannya. 6.3.1 Fungsi Pengendalian Sosial Dalam tulisan ini akan membahas tentang keberadaan tradisi lisan kantola sebagai alat pengendalian sosial pada masyarakat Muna. Dinamika masyarakat dan kebudayaan membawa berbagai bentuk perubahan, seperti perubahan pola hidup, gaya hidup dan pandangan hidup. Perubahan juga terjadi pada aktivitas kultural termasuk perubahan pada sistem sosiokultural. Tradisi lisan kantola sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang ada pada masyarakat Muna yang menjadi pijakan kehidupannya.
  • 135 Dalam melakukan interaksi sosial setiap komunitas sering terjadi perbedaan pandangan. Tentunya diharapkan masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan akan kembali pada situasi dan kondisi semula, sehingga terwujud suatu keseimbangan (social equilibrium) upaya untuk mewujutkan kondisi seimbang di dalam masyarakat disebut pengendalian sosial (social control). Pengendalian sosial sebenarnya sudah ada semenjak awal kehidupan manusia. Pada bentuk pergaulan hidup yang paling sederhana, pengendalian sosial merupakan suatu sarana untuk mengorganisasikan perilaku sosial dan budaya. Joseph S. Roucek (Soekanto, 1993: 205) dalam salah satu karyanya yang berjudul Sosial Control menyatakan bahwa pengendalian sosial merupakan, “….a collective term for those processes, planned or implanned, by which individuals are taught, persuaded, or compelled to conform to the usages and live-values of groups. Pernyataan Roucek di atas merupakan hal yang menarik, bahwa dalam proses pengendalian sosial terdapat unsur pemaksaan dalam menerapkan nilai-nilai dalam hidup bermasyarakat suatu kelompok. Nilai-nilai yang mengikat masyarakat dalam suatu kelompok dapat terlaksana jika penerapan nilai-nilai tersebut diikuti dengan unsur pemaksaan melalui berbagai pendekatan dan sosialisasi. Pendekatan dan sosialisasi ini umumnya dilakukan oleh pemegang kekuasaan dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, pengendalian sosial tidak lepas dari elemen penguasa dalam struktur budaya suatu kelompok masyarakat tertentu. Berkaitan dengan penjelasan di atas, simbol-simbol agama misalnya, tidak hanya menjadi petunjuk arah dari suatu praktik yang berhubungan dengan
  • 136 religiusitas, tetapi juga legitimasi atas keberadaan dan kepentingan. Agama berfungsi mengesahkan keberadaan dan tindakan-tindakan yang bisa saja menyimpang dari substansi yang hakiki karena simbolisasi agama telah mewakili suatu realitas keagaaam itu sendiri. Agama dipraktikkan sebagai bahan dari proses pengendalian sosial dan identifikasi diri untuk lebih menekankan pada pemosisian individu, kelompok, dan institusi (Abdullah, 2006: 9). Ada tiga prasyarat untuk melakukan pengendalian sosial yang dikemukakan oleh Soekanto (1993: 208) yaitu, (1) suatu kelompok pengendalian prilaku kelompok lain; (2) suatu kelompok mengendalikan perilaku anggotaanggotanya; dan (3) pribadi-pribadi mempengaruhi tanggapan dari pihak lain. Dengan demikian, pengendalian sosial berproses pada tiga tingkatan, yaitu dari kelompok terhadap kelompok lainnya, kelompok terhadap anggotanya, dan pribadi terhadap pribadi lainnya. Bentuk-bentuk sosiokultural masyarakat sangat penting untuk menentukan arah pengendalian sosial. syair tradisi lisan kantola berikut ini mencerminkan salah satu usaha untuk melakukan pengendalian sosial. andoa naando, andoa naando insaidi naando, insaidi naando Artinya: mereka punya, mereka punya kita punya, kita punya Syair di atas menggambarkan tentang masyarakat Muna sebagai masyarakat tradisional, umumnya menggantungkan hidupnya sebagai petani ladang. Ladangladang mereka berlokasi tidak jauh dari rumah mereka, tetapi juga ada yang berlokasi di daerah pegunungan. Ladang-ladang tersebut, terutama di daerah
  • 137 pegunungan, tidak terdapat batas-batas yang menegaskan antara pemilik yang satu dengan pemilik lainnya. Namun, masyarakat tidak ada yang melanggar batasbatas tertentu, apalagi menggarap ladang orang lain. Masyarakat Muna telah memiliki kesadaran bahwa apa yang mereka miliki, itulah yang menjadi hak mereka tanpa harus merebut sebagian atau seluruh ladang milik orang lain. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di alam ini, tentunya ada pemiliknya masing-masing. Olehnya itu sudah saatnya masyarakat Muna menumbuhkan kesadaran yang cukup mendalam pada diri mereka sendiri. Fenomena ini, menurut Sulistyowati (2003: 104) ditentukan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah faktor pemimpin, baik pemimpin pemerintah, adat, atau keluarga. Dalam hal ini, nama besar Witeno Wuna Barakati dan lembaga adat sangat dominan dalam menentukan proses ketaatan dan kepatutan masyarakat setempat. Sedangkan faktor internal adalah faktor pemahaman diri terhadap apa yang sedang dan akan berlangsung. Hanya saja jika ketaatan yang muncul berasal dari faktor eksternal, penghargaan terhadap orang lain sulit dicapai. Tetapi jika ketaatan yang tumbuh dalam warga adalah karena faktor internal, maka penghargaan terhadap nilai sosial budaya yang ada akan tinggi, sebab mereka sudah memahami apa yang seharusnya dilakukan. Ungkapan tradisi lisan kantola di atas mengisaratkan sikap kejujuran, hidup bersih dengan tidak mengambil hak orang lain. Selain itu, ungkapan ini juga dengan tegas mengungkapkan penghargaan terhadap kepemilikan seseorang atau hak-hak individu. Jika mampu menerapkan sikap jujur ini dalam kehidupan sehari-hari, maka perilaku korupsi menyebar di mana-mana, tanpa memandang
  • 138 bulu siapa perilaku dan korbannya. Yang paling dirugikan adalah rakyat kecil yang tidak memiliki daya saing dan kekuatan untuk melawan sikap ketiranian ini. Saling klaim, caplok mencaplok, rampas-merampas milik orang lain bukan lagi hal-hal yang tabu dan secara diam-diam dilakukan, tetapi sudah secara terangterangan dilakukan di depan mata. Perilaku negatif akan berdampak negatif pula pada orang lain. Selain menyengsarakan rakyat banyak, juga akan terjadi kontinuitas perilaku pada orang lain. Sebagaimana terungkap dalam syair kantola di bawah ini. Setanga mate aewei kamotugha Tamaka kawulehaku doalae bhaindo Tamaka kamotugha kawulehamani koemo motehi mada kaawu daeghawa dua dawu Artinya: setelah mati membongkar hutan tapi hasilnya diambil orang tetapi hutan kita punya lelah tidak perlu takut kita akan peroleh bagian Syair di atas mengungkapkan tentang segala upaya yang telah diusahakan dengan bersusah payah dan bersimbah peluh namun hasilnya dirampas dan dijarah orang lain. Salah satu hal yang hendak dicapai dalam pengendalian sosial adalah terwujudnya keseimbangan sosial. Namun, masyarakat di belahan dunia mana pun, tidak selalu taat dan patuh pada adat istiadat dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Deviant, senantiasa menentang peraturan yang berlaku, selalu timbul dalam suatu kelompok masyarakat. Fenomena ini sesuai dengan yang
  • 139 dikemukakan oleh Kimball Young (Soekanto, 1993: 209) yang berpendapat bahwa tujuan pengendalian sosial agar terjadi konformitas, solidaritas, dan kesinambungan dari suatu kelompok atau masyarakat. Olehnya itu, desas-desuslah merupakan cara yang ampuh untuk memaksakan terjadinya konformitas pada masyarakat. Menurut Koentjaraningrat, (1998: 185-186) bahwa untuk menghindari desas-desus masyarakat, orang akan berupaya untuk tidak berbuat sosial, melanggar adat dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Tapi hal ini tidak dapat diterapkan pada masyarakat heterogen. Efektivitas pengendalian sosial senantiasa bergantung pada perubahan-perubahan organisasi sosial dan nilai-nilai masyarakat yang bersangkutan. Perilaku negatif ini harus dikekang semaksimal mungkin sehingga tidak menimbulkan keresahan masyarakat yang dapat berakibat pada macetnya tatanan sosial yang telah dibina selama ini. Untuk itu diperlukan berbagai cara dalam mengendalikan ketegangan-ketegangan sosial, seperti yang dikemukakan Koentjaraningrat, yaitu (1) mempertebal keyakinan akan kebaikan dan manfaat adat istiadat; (2) memberikan ganjaran kepada warga yang taat kepada adat istiadat; (3) mengembangkan rasa takut untuk menyeleweng karena adaya ancaman; dan (4) mengembangkan rasa malu untuk menyeleweng dari adat istiadat. Pentingnya lembaga-lembaga atau pun sarana pengendalian sosial, bergantung pada konteks sosiokultural di mana pengendalian sosial tersebut beroperasi. Efektivitas pengendalian sosial juga bergantung pada perubahanperubahan sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat. Muna, dengan karakteristik
  • 140 masyarakat dan budayanya yang berbeda dengan wilayah lain di nusantara, memiliki struktur adat yang bertumpu pada adat masing-masing. Konsep adat ini membentuk atau nilai-nilai yang dilaksanakan oleh masyarakat. Nilai-nilai yang mengikat masyarakat dalam suatu kelompok dapat terlaksana jika penerapan nilainilai tersebut diikuti dengan unsur pemaksaan melalui berbagai pendekatan dan sosialisasi. Pelanggaran terhadap nilai-nilai akan berakibat pada pemberian sanksi kepada yang bersangkutan. Aktivitas kultural dan adat istiadat dapat dideskripsikan menjadi acuan terhadap hukum yang berlaku dalam masyarakat. Tradisi lisan kantola yang merupakan landasan pijak bagi masyarakat Muna dalam menentukan kebenaran juga menyisaratkan adanya aturan atau norma-norma hukum yang harus dipatuhi. Adat istiadat merupakan dasar hukum yang dapat dijadikan alat pengendalian sosial, artinya bahwa sistem pengendalian sosial masyarakat yang berupa hukum ada dalam semua masyarakat, dan karena itu bersifat universal. Dalam suatu masyarakat, tidak seluruh adat istiadat beribadat hukum, dan hanya pelanggaran terhadap sebagian dari adat istiadat yang dapat berakibat hukum. Hukum merupakan suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat universal, dan dalam komunitas yang lebih kecil pengendalian sosial dilakukan dengan kegiatan-kegiatan tertentu, dan tidak terutama karena ketaatan yang mutlak kepada adat (Koentjaningrat, 1998: 188) Apabila terjadi pelanggaran adat istiadat yang menimbulkan ketegangan, maka akan diupayakan pemecahannya melalui pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang berkompoten untuk menyelesaikannya.
  • 141 Hukum yaitu suatu kegiatan kebudayaan yang berfungsi sebagai alat pengendalian sosial. Menurut Pospisil (Koentjaraningrat, 1998: 190) hukum memiliki empat ciri utama yaitu attributes of law, yaitu attribute of authority, kegiatan kebudayaan yang disebut hukum adalah keputusan orang-orang atau golongan yang berkuasa dalam masyarakat, yang dapat merendakan keteganganketegangan dalam masyarakat; attribute of intention of universal application, keputusan pemegang kuasa harus mengandung perumusan kewajiban pihak pertama terhadap pihak kedua dan sebaliknya; attribute of sanction, keputusan pihak yang berkuasa harus diikutkan dengan sanksi yang sudah ditetapkan. Kebudayaan dalam kaitannya dengan pengendalian sosial bergantung pada organisasi sosial dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Perkembangan hubungan dalam organisasi sosial menyebabkan terjadinya pembentukan kebiasaan, kerangka mentalitas, dan konteks pengalaman individual. Perkembangan kepribadian, sebagai hasil pengalaman yang penting bagi pengendalian sosial adalah timbulnya kesadaran sosial. Memahami pengendalian sosial diperlukan pengetahuan tentang proses-proses dan unsur-unsur yang berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Dalam teori revitalisasi, tipe kepribadian dominan atau karakter sosial, menjamin istilah erich Fromm dapat berperan dalam melestarikan budaya. dalam setiap kebudayaan pasti ada kemungkinan-kemungkinan masuknya unsur-unsur tertentu ke dalam kepribadian, hal ini mendorong individu untuk menata ulang pengalaman kultural individu dalam pengembangan dan pelestariannya.
  • 142 6.3.2 Fungsi Kritik Sosial Pada era modern seperti saat ini kecenderungan yang paling mencolok adalah perubahan menuju globalisasi. Modernitas menimbulkan efek ambivalen, selain menguntungkan, modernitas juga merusak, dan kerusakan itu bisa sangat fatal. Globalisasi tidak hanya berdampak positif terhadap segala aspek kehidupan, tetapi juga berdampak negatif dengan ditandainya berbagai bentuk hegemonisasi, termasuk aktivitas kultur, yang menyebabkan tingkat ketergantungan dalam segala aspek kehidupan sangat tinggi. Nilai-nilai lokal, yang menampilkan bentuk kesederhanaan dan kebersamaan, mengalami pergeseran ke arah hedoisme dan individualisme. Masyarakat sudah terlalu jauh memisahkan diri dengan masa lalu, bahkan ada yang ingin memberangus masa lalu. Jauhnya memisahkan diri dengan masa lalu sehingga etika dan moral yang terkadang dalam tradisi lisan merupakan bentuk kritik terhadap kondisi masyarakat saat ini, sudah mulai terlupakan. Modernisasi berusaha menghancurkan kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang penuh dengan kearifan lokal. Masyarakat tidak akan pernah menjadi masyarakat bila kaitan dengan masa lalunya tidak ada. Menurut Sztompka (2007: 65), masyarakat ada setiap saat dari masa lalu ke masa yang akan datang. Kehadirannya justru memulai fase antara apa yang telah terjadi di masa lampau dan apa yang akan terjadi. Apa yang terdapat saat ini merupakan warisan gagasan, keyakinan, norma, dan nilai-nilai masa lalu. Hal ini berarti masyarakat tidak dapat menafikan keterkaitan masa lalu dengan masa kini ataupun masa yang akan datang.
  • 143 Masyarakat Muna merupakan masyarakat yang majemuk dengan berbagai pola interaksi yang bermacam-macam pula. Perilaku masyarakat terikat pada tata nilai dan norma-norma yang berlaku secara turun-temurun. Seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat tradisional manuju pola hidup masyarakat modern, tata nilai yang bersumber dari kearifan lokal tidak lagi menjadi tuntunan hidup dalam berinteraksi. Globalisasi mampu merontokkan segala bentuk kebiasaan-kebiasaan yang berbau tradisional dan primordialisme. Perubahan pola hidup masyarakat tradisional tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Tata nilai yang bersumber dari adat istiadat tidak lagi mampu membendung terciptanya pola-pola hidup yang dianggapnya modern. Segala hal yang berbau modernitas diserap dan dianggap sebagai sesuatu yang menjadi keharusan dalam hidup ini. Perkembangan globalisasi telah menciptakan produk global, yang intensitasnya mampu melampaui akal sehat. Pada hakekatnya, budaya global merupakan kebudayaan yang terbentuk akibat berbagai bentuk relasi ekonomi berskala global, khususnya relasi kapitalisme global, yang memiliki otoritas dalam menentukan dan mengontrol arah kebijakan (Piliang, 2005b: 375). Budaya global telah memunculkan sikap kompromistik, individualistik, dan konsumtif. Nilai-nilai tradisional, yang bersumber pada kearifan lokal, mulai tergantikan oleh sistem yang dihasilkan oleh budaya global. Sebagai salah satu kearifan lokal, tradisi lisan juga mulai tergantikan oleh produk-produk budaya global melalui media yang sangat massive dalam pendistribusiannya, yang bertumpu pada mesin kapitalisme yang sangat kuat. Sebagai aktivitas kultur, tradisi lisan, mampu
  • 144 menghasilkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat didalamnya. Misalnya dalam ungkapan tradisi lisan kantola berikut ini. koise notolori kalangke bahi taohala osampu Artinya: jangan kamu terlalu tinggi nanti turunnya salah Syair tradisi lisan kantola di atas merefleksikan pencapaian individu dalam menapaki puncak tertinggi dalam kehidupan masyarakat, yaitu kekuasaan. Pada dasarnya, manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih dari apa yang telah diperolehnya. Menurut Durkheim (Sztompka, 2007: 65), sifat alami manusia adalah buas, egoistis, individualistis, yang siap bertempur untuk mempertahankan kepentingannya tanpa menghiraukan kepentingan orang lain. Fenomena ini lebih jauh lagi ditegaskan oleh Piliang (2005b:119) yang mengemukakan bahwa penguasaan terhadap orang lain, sikap mental merampas, hedoisme selalu saja berkembang subur dalam masyarakat dengan mengahalkan berbagai macam cara. Foucault (Piliang, 2005b: 112), mengungkapkan bahwa kekuasaan tidaklah semata-mata dilanggengkan melalui cara-cara represif, akan tetapi melalui berbagai tawaran-tawaran pengetahuan dan kesenangan. Kekuasaan selalu berusaha menghasilkan sesuatu yang baru dalam rangka melanggengkan ketergantungan setiap orang. Pelanggengan kekuasaan dilakukan dengan memberi ruang hidup yang seluas-luasnya bagi pelepasan berbagai bentuk hasrat di dalam
  • 145 kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan itu sendiri dianggap menghalangi prinsip kebebasan yang mampu mengendalikan berbagai aktivitas kultural. Untuk mencapai kehidupan sosial yang selaras dan harmonis, yaitu dengan aturan kultural, norma, dan nilai yang harus diwujudkan. Segala aturan yang bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun ikatan sosial masyarakat yang tercerai-berai dalam alam perubahan yang ditimbulkan oleh globalisasi. Tata nilai kehidupan masyarakat tradisional sifatnya mengikat, bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dianut masyarakat modern yang menuntut kompromistis dan kebebasan. Tata nilai ini bertujuan untuk melestarikan dan memulihkan tatanan moral yang kuat pada masyarakat. Sebagai bangsa yang berbudaya, tentunya tidak ingin menjadi masyarakat yang oleh Durkheim disebut sebagai anomi atau masyarakat tanpa norma. Keadaan anomi berlangsung ketika orang hidup tanpa kebimbangan, merasa terjungkir, dan kehilangan pegangan hidup. Individu akan mencari jalan keluar dengan perilaku menyimpang, melampaui batas-batas humanitas, menerabas, dan bahkan tidak menghiraukan keberadaan individu lain yang berada disekitarnya. Produk budaya global yang ditumpangi oleh kapitalisme global, bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa menghiraukan persoalanpersoalan moral, ideologi, dan bahkan agama. Kapitalisme menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru, yang secara inovatif, terus berkembang dan tanpa henti. Kondisi anomi, hedonistik, dan konsumerisme terus diciptakan dan dibenamkan dalam benak masyarakat. Dengan demikian, kaum kapitalis akan lebih mudah menentukan arah kebudayaan masyarakat tersebut. Produk-produk
  • 146 budaya global sarat dengan muatan-muatan ideologi. Penanaman ideologi ini akan menimbulkan proses penjiblakan bagi individu untuk menanamkan pengaruhnya terhadap orang lain. Media elektronik, misalnya mampu menciptakan dan menghadirkan ideologi kapan pun dan di mana pun juga. Menurut Gramsci (Bacock, 2007: 122) mengungkapkan bahwa peran lembaga kemasyarakatan ataupun lembaga adat yang merupakan perpanjangan tangan kelompok yang berkuasa untuk menentukan ideologi yang mendominasi. Bahasa misalnya, menjadi sarana penting untuk melayani fungsi hegemonik tersebut, terutama dalam undang-undang, lembaga-lembaga pendidikan Negara, masyarakat sipil, media massa, dan kesenian. Ideologi menjadi sumber pembuatan aturan perilaku sehari-hari dan tindakan moral yang setara dengan agama. Bagi Gramsci, agama merupakan wawasan dunia yang populer, dengan suatu sistem nilai moral, suatu sistem kepercayaan, dan suatu sistem ritual/simbolik. Ideologi merupakan pengalaman sehari-hari sekaligus juga sekumpulan ide sistematis yang berperan untuk mengatur dan mengikat suatu blok elemen sosial yang beragam. Kekuasaan senantiasa ada di dalam setiap masyarakat, baik struktur masyarakat tradisional maupun struktur masyarakat modern. Dalam masyarakat modern, orang akan kehilangan identitas individual dan mulai diperlakukan tanpa nama (anonim), Sztompka (2007: 92-93). Kehormatan individu atau kesetiaan terhadap kelompok terpaksa dikaburkan atau diabaikan sama sekali. Akibatnya, ikatan antarpribadi, berdasarkan kesamaan lingkungan tempat tinggal, kesukuan, dan agama menjadi terputus. Masyarakat yang terputus ini dapat mengakibatkan munculnya kekuasaan otokrasi bahkan totaliter. Juga
  • 147 mempermudah mobilitas berbagai jenis gerekan sosial sebagai pengganti ikatan sosial yang hilang. Kekuasaan otokratis semacam ini dapat di gambarkan dalam syair tradisi lisan kantola di bawah ini. koise ihintu nodero podiu koise ihintu mekalimbaki tida omekona mie, mefewambaki mie omie mina, intaidi kaawu foliuno kakantiba koise pogau pontalabi-labi dhunia nando naewanta Artinya: jangan engkau terlalu congkak jangan kamu melewati batas menyebut orang, mengumpat orang orang tidak, kita saja yang paling benar jangan berkata-kata takabur dunia masih panjang Syair di atas menggambarkan sikap yang tidak menghargai pendapat dan hak-hak manusia yang melekat pada masing-masing individu. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip demokrasi yang sangat membimbing tinggi kebebasan dalam mengeluarkan pendapat dan prinsip keadilan. Hal ini akan menimbulkan penguatan bentuk-bentuk penindasan dan opresi terhadap individu atau kelompok sosial lainnya. Fenomena ini bertentangan dengan yang dikemukakan oleh Ife dan Toseriero (2008: 116) yang beranggapan bahwa keadilan sosial adalah pandangan kejujuran dan kesetaraan. Prinsip-prinsip ini diletakkan pada umumnya mencakup
  • 148 beberapa acuan hak-hak yang dimiliki tiap individu untuk mengeluarkan pendapat. Untuk menentukan posisi individu dalam suatu masyarakat dibutuhkan penghormatan terhadap keberadaan manusia. Pengakuan eksistensi manusia sebagai mahluk ciptaan yang Maha Kuasa, sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dengan satu sama lain. Penerapan konsep ini mampu menumbuhkan prinsip menghormati perbedaan pendapat. Ia tidak perlu ngotot menyangkal pandangan orang lain yang berbeda dan tak merasa takut bila ada orang lain yang membangkang pandangannya. Ia pun kurang menyukai pendapat yang disodorkan secara otokratis. Nilai etis dan moral dalam kearifan lokal ini memberikan ramburambu dalam berintekraksi dengan sesama. Perbedaan pandangan selalu saja ada itu sah-sah saja dalam kehidupan masyarakat. Kebijakan dan kematangan dalam berprilaku dapat menumbuhkan sikap toleransi dalam menghargai kemajemukan. Ungkapan tradisi lisan kantola di bawah ini patut menjadi renungan dalam menyikapi sisi kelam modernitas saat ini. Kopodiu peda kumbou Tibaliu ko kambea Koise peda kambea wekangkaha Kokambea kaawu poko bhakea Artinya: Berlakulah seperti duku Berbuah tanpa berbunga Jangan seperti bunga di jalan Hanya berbunga tanpa berbuah
  • 149 Syair di atas ini mencerminkan eksistensi manusia dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Bahwa manusia sesungguhnya harus menumbuhkan sifat mutualisme dan menghindari sikap parasitisme. Manusia harus dapat bermanfaat bagi manusia lainnya, tidak mengisap keuntungan dari manusia yang lemah dan tanpa daya. Hal ini tidak tampak dalam masyarakat modern. Fenomena ini menurut Abdullah (2006: 169) bahwa masyarakat tradisional mengalami pergeseran menuju masyarakat modern, melahirkan ideologi baru yang paling mendasar, yaitu penegasan perbedaan dan kebebasan. Dalam era modernitas, kapitalisme menjadi kekuasaan paling penting, tidak hanya mampu menata dunia menjadi satu tatanan global, tetapi juga mengubah tatanan masyarakat menjadi sistem yang bertumpu pada perbedaan-perbedaan yang berorientasi pada pembentukan status dan kelas sosial. Perilaku individualistis merupakan hasil ciptaan modernitas, yang berdasarkan kebebasan, dan perilaku eksklusivisme, serta berdasarkan kebebasan. Interaksi sosial dilakukan berdasarkan untung rugi. Masyarakat tradisional tidak mengenal gaya hidup seperti ini. Dalam berperilaku, sifat pamrih harus disingkirkan jauh-jauh, tidak menonjolkan keegoan dan materialistik. Perilaku positif ini mencerminkan sikap kesederhanaan dan penghargaan terhadap sesama manusia. Manusia harus diperlakukan sesuai dengan kodratnya, bukan eksploitasi untuk kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan nilai-nilai hakiki kemanusiaan yang terdapat dalam diri tiap manusia. Perkembangan kesadaran manusia mengenai sisi suram modernitas dan dengan meningkatnya kritik terhadap sifat anti-humanitas yang ditimbulkan oleh
  • 150 arus globalisasi, maka muncullah pandangan bahwa jalan yang dilalui masyarakat modern harus diubah secara radikal. Pandangan alternatif ini bersumber dari penemuan kembali adanya aspek keharmoniasan dan keselarasan dalam masyarakat tradisional. Saat ini timbul berbagai gerakan untuk membangun kembali kehidupan komunitas, pemakaian kembali ikatan sosial primordial, dan menghidupkan kembali lembaga-lembaga adat. Semakin tingginya kecenderungan untuk kembali ke lokalitas, berarti menunjukkan betapa penting dan sentralnya hal-hal yang berbau lokal. Potensipotensi lokal sebelumnya diabaikan sekarang mulai dilirik lagi. Gejala ini dianggap sebagai bagian dari kritik terhadap modernitasasi yang selama ini mengusung universalisasi sehingga mengabaikan hal-hal bersifat parsial dan lokalis. Sudah saatnya kembali menggali budaya sebagai sebuah pengalaman hidup yang terbukti telah teruji menyelesaikan beragam masalah. Berbagai nilai budaya yang dimiliki oleh komunitas lokal sangat signifikan untuk mengembangkan kembali ikatan sosial pada masyarakat. 6.4 Fungsi Pelestarian Untuk melakukan revitalisasi tradisi lisan dibutuhkan kepedulian berbagai kalangan, baik dari pemerintah daerah, pemerhati budaya, maupun masyarakat. Namun, yang menjadi persoalan utama dan kunci utama dari revitalisasi tradisi lisan adalah adalah menyangkut sikap masyarakat pendukungnya. La Mokui (wawancara 11 Maret 2011) menyatakan bahwa: “Masyarakat Muna saat ini terdapat dualisme dalam menyikapi upaya pelestarian aktivitas kelisanan. Pada satu sisi, harus disikapi dengan optimis, namun pada sisi lain masyarakat bersikap
  • 151 pesimis dan menganggap tidak perlu lagi karena menjadi bagian dari masa lalu, tidak memahami masa kini dan tidak mampu mengantisipasi langkah-langkah yang harus di lakukan masa yang akan datang”. Generasi muda harus terus diberikan dorongan yang sifatnya motivatif dan provokatif serta menanamkan, menjaga, dan memelihara keberadaan kearifan lokal sebagai identitas masyarakat lokal. Pemerhati budaya sering mengungkapkan bahwa tradisi lisan merupakan bagian dari kebudayaan dan hidupnya tradisi lisan mencerminkan hidupnya kebudayaan. Tradisi lisan kantola yang tangguh ialah yang tetap hidup dalam komunitas, hadir dalam kegiatan masyarakat dan menjalankan fungsinya dalam kehidupan, selain itu, penyebaran dan penerusan kepada anggota masyarakat, baik segenerasi maupun antargenerasi harus terus berlangsung serta tradisi lisan ini diharapkan tetap hidup dilingkungan masyarakat pendukungnya. Olehnya itu diperlukan pemahaman dan kesadaran baru terhadap upayaupaya perubahan kehidupan masyarakat yang sudah menyimpang dari tradisitradisi lama. Revitalisasi dapat berupa cara hidup yang sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap mengikuti aturan-aturan yang diwariskan oleh para leluhur ataupun tetap mengikuti pola kehidupan lama yang telah dituruntemurunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti ungkapan tradisi lisan kantola berikut ini.
  • 152 Kowasi kalatehano welo tehi Taaka mina namandehaane kandalono tehi Ghalo kalatehano welo sangku Taaka anoa mina namandehaane kalalesano sangku Maka Anoa mada kaawu nembali bubuno Nokala nokodoho we tehi Artinya: ikan lele tempatnya di danau tapi dia tidak mengetahui dalamnya danau burung elang tempatnya dihutan tapi dia tidak mengetahui luasnya hutan maka dia akan menjadi buah langsat hanyut sedalam-dalamnya di danau luas Syair di atas dapat memberikan pemahaman dan kesadaran akan eksistensi masyarakat dalam tata pergaulan global. Kondisi saat ini merupakan keberlanjutan dari masa lalu. Tanpa masa lalu, masyarakat tidak akan mampu mereproduksi kekuatan-kekuatan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman yang harus berubah. Fenomena ini sesuai dengan pendapat Shils (Sztompka, 2007: 65) yang menyatakan bahwa masyarakat tidak akan pernah menjadi masyarakat yang memahami tradisi lisan bila kaitan masa lalunya tidak ada. Kaitan antara masa lalu dengan masa kini merupakan basis tradisi, yang seharusnya dikembangkan dari generasi ke generasi. Budaya-budaya yang merupakan hasil dari masa lalu, terbukti mampu bertahan melintasi zaman dan menjawab berbagai tantangan. Masyarakat yang peduli terhadap nilai-nilai kearifan lokal menekankan pentingnya kesadaran
  • 153 kultural terhadap pemahaman atas eksistensi diri sehingga dapat menempatkan dan menyesuaikan diri dalam konteks global. Dengan demikian, arus perubahan tetap meletakkan atau menempatkan tradisi sebagai pijakan utama masyarakat, berupa akumulasi-akumulasi pengalaman di masa lalu yang berdampak pada reproduksi kekuatan sosial. Di saat masyarakat Muna mengalami berbagai guncangan perubahan, tradisi lisan kantola mampu menyesuaikan struktur dan fungsinya sehingga dapat hadir dalam wujud yang serasi dengan perilaku penggunanya. Namun, kenyataan ini bertentangan dengan kondisi yang terjadi saat ini, di mana implementasi fungsi tradisi lisan sering jauh melenceng dari yang seharusnya. Tradisi lisan tidak lagi menjadi cerminan masyarakat pendukungnya. Malah sebaliknya, justru makin menjauh dan tidak bisa menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya yang disebabkan tidak lagi memiliki daya pikat tersendiri. Sebagai warisan budaya lokal tradisi lisan kantola dan selanjutnya akan menjadi sebuah lembaga otonom yang tercabut dari masyarakatnya. Tradisi tidak mempunyai pesan sosial dan tidak merasa bertanggung jawab dalam menyuarakan suara publik, sebagaimana fungsi yang diembannya sejak awal. Ini menyiratkan bahwa karya sastra itu sendiri sudah kehilangan substansinya, yang seyogyanya harus berfungsi untuk masyarakat. Dalam tatanan wacana, kedudukan, peran, dan fungsi tradisi lisan sangat mulia dan strategis. Namun, hegemoni kapitalisme telah mendorong proses homogenisasi produk budaya. Maka dengan demikian desakan produk-produk budaya global, yang membuat produk budaya lokal semakin terpinggirkan dan semakin dilupakan oleh pemiliknya.
  • 154 Produk budaya global ditandai dengan adanya integrasi budaya lokal ke dalam suatu tatanan global. Globalisasi yang ditandai oleh perbedaan-perbedaan dalam kehidupan telah mendorong pembentukan definisi baru tentang berbagai hal dan memunculkan praktik kehidupan beragam (Abdullah, 2006: 107). Budaya global telah memunculkan sikap yang konsumtif, kompromistis, dan individualistik. Siatem yang dihasil oleh produk budaya global telah mengantikan nilai tradisional yang mengacu pada tradisi. Kondisi sosiokultural masyarakat yang dihadapi dewasa ini, pada satu pihak telah berkembang secara historis dan menjadi tradisi, dan pihak lain tengah membuka diri terhadap perubahan-perubahan, sebagai dampak dari globalisasi, yang ternyata telah mampu mengubah wajah dunia secara fundamental. Dalam hal ini harus dijaga agar tidak terjadi cultural lags atau ketertinggalan budaya. Cultural lags dapat mengabaikan kesadaran masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai sosiokultural, di mana masyarakat dapat menumbuhkan segala kemampuan yang dimilikinya, beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang setiap saat muncul, dan merealisasikan secara optimal potensi humanitasnya yang bertumpu pada nilai-nilai lokal pula. Pemahaman ini sangatlah mendasar di tengah-tengah deru kapitalisme global yang terus mendorong derap laju homogenisasi budaya. Globalisasi mampu membentuk standar kehidupan, gaya hidup mondial, dan pola tingkahlaku yang berlaku pada seluruh warga yang ada di dunia ini. Pemahaman mengenai budaya global, diperlukan untuk memahami keadaan sosiokultur masyarakat lokal. Pelestarian budaya lokal harus pula
  • 155 dilandasi oleh kebudayaan masyarakat setempat. Kebudayaan bukanlah warisan yang secara turun-turumun dipraktikkan secara kolektif. Akan tetapi, kebudayaan bersifat situasional yang berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada strukturstruktur sosial membangkitkan masyarakat memori pendukungnya. kolektif Kesadaran masyarakat kultural berdasarkan mampu pengalaman- pengalaman masa lalu dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Hal ini harus terus ditumbuh kembangkan dalam rangka menata-ulang pengalaman kultural dan memberikan arah secara signifikan bagi perkembangan budaya lokal. Menurut Ardana (2004: 99), dalam era globalisasi telah muncul upayaupaya untuk mengembangkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan peran lembaga adat. Menggunakan nilai-nilai budaya lokal untuk menjawab berbagai tantangan inilah sebagai wujud nyata dari revitalisasi budaya lokal. Terjadinya pemutusan tradisi selama rezim Orde Baru yang sangat hegemonik setralistik dan menekankan keseragaman, menuju proses homogenisasi budaya, menghempaskan budaya lokal yang sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma dalam palung kepunahan. Menurut Griffin (2005: 25), proses setralisasi berarti penghancuran komunitas dan institusi organik yang kecil dan intim, yaitu masyarakat tradisional. Dalam kondisi perubahan budaya yang pesat dan kontak budaya yang intensif, struktur institusional suatu masyarakat cenderung macet dan ambruk. Salah satu upaya untuk mengembangkan budaya lokal sehingga dapat mengaktualisasikan diri dalam konteks global adalah dengan dilakukan revitalisasi. Pengembangan budaya lokal, dapat dilakukan melalui pengenalan dan
  • 156 pengajaran, dengan menciptakan ruang bagi pengembagan kreativitas lokal sehingga mampu menumbuhkan kesadaran kultural tanpa mengorbankan nilainilai dasar budaya lokal tersebut. Selain itu, revitalisasi harus menjadikan budaya lokal sebagai kebutuhan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Tujuan gerakan revitalisasi adalah untuk memberikan arti pada masyarakat dalam menyatukan kembali dunia yang cerai berai dan yang telah kehilangan makna. Revitalisasi juga terutama ditujukan bagaimana memanusiakan manusia sehingga menemukan kembali jati dirinya. Untuk itu diperlukan pemahaman individu terhadap realitas budaya yang dihadapi saat ini. Kebudayaan sebagai sistem pengetahuan tidak mampu menjelaskan realitas kehidupan masa kini yang berubah dengan cepat karena kebudayaan sebagai cognitive map tidak mampu menghasilkan sebuah peta realitas empiris (Abdullah, 2006: 60). Fredric Jameson (Best dan Kellner, 2002: 189) mengemukakan pendapat menyangkut penciptaan ruang pengembangan kreativitas lokal dan hubungannya dengan peta pemahaman tentang “postmodern space vitiates capacities to act and struggle. Postmodern hyperspace has finally succueede in transcending the capacities of the individual human body to locate itself, to organize its immediate surroundings perceptually, and cognitively map ist position in a mappable external world. Jameson arques that cognitive mapping does not represent the world in the classical mimetic sence, but rather transcodes it through historically conditioned frames” Pendapat Jameson adalah ruang posmodernitas meniadakan kapasitas masyarakat dalam bertindak, meniadakan ruang bagi penciptaan kreativitas lokal. Hyperspace telah berhasil dalam meningkatkan kapasitas manusia dalam menempatkan dirinya, mengorganisasikan lingkungan di sekitarnya secara nyata, dan memahami
  • 157 posisinya di dunia luar dirinya. Menurut Terrence McKenna (Piliang, 2004b: 257) hyperspace merupakan sebuah ruang informasi yang di dalamnya tidak ada lagi batas antara realitas dan halusinasi, kenyataan dan mimpi. Pemosisian ini berkaitan dengan kesadaran individu atau kelompok masyarakat yang berada di tengah tata pergaulan global yang pluralistik. Masyarakat harus mampu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga jati diri atau identitas senantiasa terus muncul dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruhpengaruh negatif globalisasi. Jameson menilai cognitive map bukan merupakan representasi dari dunia dalam pengertian mimesis, sebagai penggambaran, bukan semata-mata tiruan dari realitas yang dihadapi saat ini. Cognitive map (peta pemahaman) lebih tertuju pada pengalihan dalam ruang-ruang sejarah sesuai dengan keadaan masa kini yang terkondisikan. Keberadaan kebudayaan yang selalu bersifat situasional, berubah-ubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian individu-individu tertentu yang secara aktif berproduksi dengan cara tertentu masuk ke dalam hubungan-hubungan sosial dan politik tertentu. Struktur sosial dan Negara secara terus menerus menyusun proses kehidupan individu-individu yang nyata, bukanya individu-individu yang berada dalam imajinasi masyarakat, yakni mereka yang aktif di bawah batas-batas material tertentu, prakiraan dan kondisi yang independen dari keinginan mereka (Fromm, 2002: 257). Individu harus mengembangkan menata dan mengorganisasikan pengalaman kultural dengan cara tertentu, yang tentu saja memiliki makna. Bukan terjebak antara kenyataan dan mimpi, realitas dan halusinasi.
  • 158 Budaya-budaya lokal dan kebudayaan nasional selalu berada di dalam suatu proses, di dalam kancah hubungan antarbudaya yang selalu terjadi tanpa dapat dihindari. Kebudayaan nasional merupakan proses dari bawah, dengan bertumpu pada dualistik antara kebudayaan lama dan kebudayaan baru. Pelestarian kebudayaan lama, tentu saja tidak dapat menafikan keberadaan kebudayaan baru yang terus menciptakan perubahan dalam berbagai segi. Hal ini tidak terlepas dari arus globalisasi yang makin menembus batas-batas dan ruangruang tanpa dapat dibendung sehingga membuat dunia seolah-olah terbuka dan meniadakan sekat-sekat budaya. budaya global, dengan mesin kapitalismenya, terus menekan budaya lokal. Budaya lokal syarat dengan nilai-nilai dan normanorma yang dapat menangkal efek negatif globalisasi. Strategi kebudayaan melalui revitalisasi, harus membuka akses partisipatif dan membangkitkan respon mutualistis dari eksponen budaya yang beragam di negeri ini. Strategi kebudayaan melalui revitalisasi terdapat dua hal pokok yang perlu diperhatikan. Pertama, situasi kehidupan kini yang semakin mengglobal, tanpa sekat. Bersamaan itu pula akan terbentuk nilai-nilai budaya baru yang bersifat mondial, transnasional, atau pranata nilai budaya yang berada di jalur utama (mainstream). Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan acuan dan tolak ukur yang dapat diterapkan di mana-mana. Kedua, pemikiran yang bertolak dari kekhawatiran akan munculnya dampak budaya yang disebabkan oleh globalisasi, terutama tata ekonomi dan tata informasi yang dapat memberikan perubahan mendasar pada segala aspek kehidupan masyarakat tradisional. Pemikiran kedua ini mewaspadai berbagai akibat yang mungkin muncul dan tidak menguntungkan
  • 159 bagi sektor-sektor kehidupan yang tidak berada di jalur utama. Masyarakat yang tidak berada pada jalur utama adalah mereka yang tetap menghayati nilai-nilai budaya lokalnya akan menjadi kaum marginal yang kurang dimunculkan dalam kontelasi informasi dunia, dan seringkali kurang di untungkan secara ekonomi. Adapun tujuan dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal diyakini sebagai langkah untuk memberdayakan budaya lokal dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik, dalam arti tidak terikat dengan sifat ketergantungan pada globalisasi. Globalisasi bukanlah barang suci yang dijunjung tinggi, diadopsi dan ditanamkan dalam benak setiap individu karena memiliki prestise dan menjanjikan kesejahteraan bersama, Tidak seperti halnya budaya lokal yang terkesan kaku dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Penghargaan terhadap budaya lokal tidak akan mematikan martabat bangsa, malah akan membangkitkan ikatan sosial yang kuat dan penemuan jati diri dan identitas bangsa yang sesungguhnya kepada masyarakat.
  • BAB VII MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA Kebudayaan lokal yang banyak bercerceran di tanah air, seolah-olah tak bertuan. Kenyataan ini sangat ironis, di mana bangsa-bangasa lain mengagumi kekayaan budaya Indonesia, akan tetapi masyarakat Indonesia sendiri enggan untuk memelihara dan mengapresiasikannya. Tradisi lisan kantola misalnya, produk budaya ini sebenarnya sangat sarat dengan pesan-pesan dan makna kehidupan, makna folisofis, moral, dan sosial, namun sayangnya tradisi lisan ini pun makin terpuruk dan tergilas oleh budaya global yang tumbuh dengan sedemikian rupa. Kebudayaan lokal akan kehilangan maknanya seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat yang kapitalistik, jika tidak dilakukan upaya-upaya pelestarian. Seperti halnya, makna revitalisasi dalam tradisi lisan kantola tentunya tidak dalam kekosongan, tetapi memiliki makna-makna yang sangat dalam, juga berimplikasi pada menguatnya kembali budaya lokal dalam gempuran budaya global. Berikut ini akan dipaparkan makna identitas, edukasi, inovasi, dan pelestarian budaya dalam kaitannya dengan ketahanan budaya. 7.1 Makna Identitas Menguatnya arus dan hegemoni budaya kapitalisme global, akan berimbas pada mengecilnya daya hidup tradisi lisan kantola di tengah kehidupan masyarakat Muna. Di balik proses pengerdilan tradisi lisan ini, tentunya bahasa sebagai mediumnya dan sastra daerah sebagai penguatnya ikut pula menyertainya dalam kekerdilan dan pada akhirnya akan punah. Dalam tradisi lisan kantola, 160
  • 161 bahasa kantola yang khas, dan pertunjukannya tentunya merupakan bagian dari identitas masyarakat Muna, di samping produk budaya masyarakat Muna lainnya. Tak berlebihan apabila dikemukakan bahwa mengerdilnya atau punahnya tradisi lisan kantola akan terjadi pemudaran identitas dan penghilangan seperangkat sistem kebudayaan lokal yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat Muna yang selama ini terkooptasi pada proses globalisasi yang menciptakan hegomonisasi budaya, yaitu penyeragaman budaya dunia dalam satu bentuk. Globalisasi telah menjadikan masyarakat sebagai warga dunia yang universal, warga sekat teritorial dan tanpa batas. Budaya-budaya lokal dan kebudayaan nasional selalu berada di dalam suatu proses, di dalam kancah hubungan antarbudaya yang selalu terjadi tanpa dapat dihindari. Masyarakat pemilik budaya tersebut maupun pemerintah harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga jatidiri dan identitas bangsa atau suku bangsa senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruhpengaruh globalisasi yang merambah dan berkecambah terus menerus. Kebudayaan merupakan suatu yang sangat esensial untuk mengembangkan sebuah identitas dalam masyarakat, dan sebuah masyarakat yang tidak menghargai budaya lokal berarti menjauhkan kesempatan bagi anggota masyarakat untuk memiliki identitas lokal yang kuat dan sangat penting. Penghargaan dan dukungan terhadap budaya lokal merupakan sebuah komponen esensial dari pengembangan masyarakat. Budaya juga sangat penting untuk mendorong budaya lokal yang partisipatif. Kebudayaan yang partisipatif akan
  • 162 cenderung menghargai budaya lokal, mengingat masyarakat akan mengungkap identias budaya mereka dalam cara yang disesuaikan dengan konteks lokal (Ife, 2008: 518). Menurut La Mokui (Wawancara 11 Maret 2011) mengungkapkan hal-hal yang menyangkut dengan identitas lokal masyarakat Muna, yang harus terus digali dan diangkat ke permukaan, yaitu salah satunya adalah tradisi lisan kantola, di samping bahasa daerah, pakaian adat, dan sejarah. Penampakan bahasa daerah, pakaian adat, dan pemahaman sejarah yang baik akan berpengaruh pada penampakan identitas masyarakat Muna, nilai-nilai dasar kebudayaan ini dimulai tergantikan oleh nilai-nilai yang berasal dari produk budaya global. Selama ini, menurut Muhammad Idul (Wawancara 30 Februari 2011). Masyarakat Muna sudah tidak lagi memiliki nilai-nilai dasar kebudayaan yang dapat ditampilkan sebagai identitas masyarakat Muna. Untuk itu diperlukan berbagai upaya, seperti pada kutipan berikut. “Kita harus mencatat, mendata dan paling bagus dibukukan nilai-nilai dasar kebudayaan Masyarakat Muna yang menjadi identitas masyarakat pendukungnya. Kita harus membukukan, inti kebudayaan masyarakat Muna karena bagian dari identitas kita, di antaranya tradisi lisan kantola.” Ungkapan di atas menggambarkan bahwa pengembangan identitas pada masyarakat Muna, yang belum terwujud dalam satu bentuk pemahaman, saat ini masih memerlukan upaya untuk menemukan inti kebudayaan atau sistem nilai budaya. Fenomena ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Storey (2007: 4) bahwa sistem nilai budaya merupakan dasar atau pijakan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi dan dinamika dalam kehidupan bermasyarakat. Budaya membantu membangun struktur dan membentuk sejarah pada masyarakat.
  • 163 Kebudayaan merupakan pertautan dinamis antara konstruksi sosial (social construction) dan fakta sosial (sosial fact). Pertautan ini bersifar dinamis, bukan sesuatu yang statis. Potensi dan dinamika kebudayaan yang sangat besar ternyata terdapat dalam masyarakat dan sekaligus memberi jiwa dan semangat kepada masyarakat dalam bentuk ide dan gagasan-gagasan yang saling berkaitan dan berhungan satu sama lain sebagai suatu sistem yang disebut dengan nilai budaya (Alqadrie, 2008). Apa yang dikemukakan La Mokui dan Muhammad Idul mengenai nilai-nilai budaya harus mampu diwujudkan sehingga membangkitkan jati diri dan identitas masyarakat Muna. Menurut La Djehe Palola (Wawancara 1 Maret 2011), ada lima hal yang mendasar yang tetap harus dikembangan dalam menampakkan identitas masyarakat Muna, yaitu mitos, agama, sejarah, seni, dan budaya. Mitos menurut Roland Barthes (2007: 295), adalah sebuah tipe pembicaraan atau wicara (a type of speech). Mitos bukanlah pembicaraan atau wicara yang sembarangan; bahasa, membutuhkan kode-kode khusus untuk menjadi mitos. Mitos merupakan sistem komunikasi, yang di dalamnya berisi pesan. Mitos menurut masyarakat Muna, mengandung kekuatan yang di luar realitas yang ada. Mitos berkaitan dengan berbagai aktivitas masyarakat yang dapat memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, yang secara rasional tidak dapat dijawab. Menurut Levi Strauss (Storey, 2007: 70), semua mitos memiliki fungsi sosiokultur yang sama dalam masyarakat, termasuk agama, sejarah, seni, dan budaya. tujuannya adalah membuat dunia bisa dijelaskan, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dunia yang bersifat kontradiksi.
  • 164 Kelima hal tersebut saling terkait dalam menumbuhkan kembali kesadaran bermasyarakat. Jika unsur-unsur ini tidak dikembangkan, maka sulit bagi masyarakat Muna untuk mengembangkan identitas mereka. Apa yang menjadi dasar pembentukan identitas ini sulit ditentukan dalam masyarakat Muna. Kesadaran ini harus ditumbuhkan pada diri pribadi masyarakat itu sendiri. Menurut Teeuw (Pradopo, 2007: 207) bahwa tradisi lisan sangat erat kaitannya dengan penikmat/penyambut dan masyarakat, ditunjukan untuk penikmat/penyambut dan kepentingan masyarakat penikmat/penyambut. Tradisi lisan tidak mempunyai nilai tanpa ada masyarakat penikmat/penyambut yang menilainya karena masyarakatlah yang menentukan makna dan nilai suatu tradisi lisan. Kemudian Ratna (2006: 165) mengemukakan bahwa peranan masyarakat sangat penting walaupun mereka sama sekali tidak memiliki relevansi dalam kaitannya dengan proses kreatif penciptaan suatu tradisi lisan. Sebagai aktivitas kultural tradisi lisan kantola, menggunakan bahasa Muna sebagai mediumnya. Bahasa Muna sebagai bahasa Ibu mulai ditinggalkan dan masyarakat semakin bisa dan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, baik dari ranah pertuturan sesama mereka maupun dengan orang tua mereka. Situasi kebahasaan seperti menunjukan adanya pola pergerakan atau pergeseran, mulai meninggalkan bahasa ibu ke bahasa kedua yang dikuasainya, yaitu bahasa Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak lagi menganggap aktivitas kelisanan dengan menggunakan bahasa ibu merupakan suatu kewajiban, melainkan beranggapan bahwa Muna tidak lagi sesuai dengan tuntutan
  • 165 modernisasi yang menggiring perubahan pola hidup dan bermasyarakat yang lebih maju dan modern. Kenyataan seperti inilah yang menjadi perhatian utama bagi pemerhati budaya di wilayah Kabupaten Muna. Bahasa Muna harus dihidupkan kembali sebagai bahasa ibu, sebagai bahasa paten untuk bahasa ibu dan tidak dicapur adukan dengan bahasa Indonesia. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa ada semacam kegelisahan dari berbagai kalangan, terutama mereka yang tetap konsen dengan warisan budaya lokal, penggunaan bahasa Muna yang asli tidak lagi digunakan oleh masyarakat Muna itu sendiri. Hal ini dipertegas oleh La Ode Kape (Wawancara 7 Maret 2011), yang menyatakan bahwa bahasa Muna yang diucapkan di masyarakat bukan lagi bahasa Muna yang sesunguhnya, namun sudah tercampur oleh bahasa Indonesia. Masyarakat, terutama generasi muda, merasa malu menggunakan bahasa Muna di daerahnya sendiri. Mereka lebih bangga menggunakan bahasa di luar bahasa Muna, yang menurut mereka lebih modern dan prestisius, apalagi jika disertai dengan bahasa asing. Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan apabila tidak disikapi dengan sigap, akan berakibat fatal bagi aktivitas kelisanan yang mengarah kelangkaan pengguna bahasa daerah Muna itu sendiri dan bahkan akan mengakibatkan kepunahan. Segala bentuk aktivitas kultur yang berlangsung di Muna, diucapkan dengan menggunakan bahasa Muna. Pemahaman warisan budaya ini tentu harus dibekali dengan pemahaman bahasa yang baik. Menurut teori resepsi, keindahan dan manfaat karya sastra bagi masyarakat bukanlah keindahan (bahasa) yang sudah pasti defenisinya. Tetapi, bergantung pada situasi latar belakang sosial
  • 166 budaya penikmatnya, yang melalui keindahannya masyarakat dapat menggali dan memahami aktivitas kultural secara berbeda-beda. Penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi, dan sikap masyarakat Muna terhadap kandungan makna yang terdapat dalam syair-syait kantola tidak lagi tampak di permukaan, apabila memahaminya. Kantola hanya dikenal sebagai tradisi lisan tetapi masyarakat tidak lagi mengetahui bentuk tradisi lisan itu sendiri. Pada masyarakat Muna, tradisi lisan kantola hanya dikenal oleh sekelompok kecil orang, itu pun mereka yang sudah berusia lanjut. Generasi muda, bersikap pesimis terhadap keberadaan tradisi lisan. Ada semacam keengganan untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman makna-makna yang terkandung dalam tradisi lisan ini. Padahal, menurut Hans Robert Jauss (Pradopo, 2007: 206), apresiasi masyarakat terhadap sebuah karya sastra akan diperkaya melalui tanggapan-tanggapan lebih lanjut dari generasi ke generasi. Dengan cara ini makna histori karya sastra akan ditentukan dan akan terungkap nilai estetikanya. Berbeda-bedanya tanggapan dan pemahaman masyarakat mengenai karya sastra, dari satu periode dengan periode yang lainnya. Perbedaan inilah yang disebut oleh jauss (Pradopo, 2007: 206) sebagai horison harapan. Horison harapan ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan dalam menanggapi karya sastra. Oleh karena itu, menurut Sayuti (2008: 25-26), masalah pemahaman tradisi lisan tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diaktualisasikan dan diimplementasikan dengan cara apapun yang dipandang baik, dan tetap mengacu pada konteks masyarakat lokal.
  • 167 Mengaktualisasikan dan mengimplementasikan budaya lokal dapat dilakukan melalui pengenalan dan pengajaran budaya lokal. dengan menciptakan ruang bagi pengembangan kreativitas lokal sehingga mampu menumbuhkan kesadaran kultural tanpa pengorbanan nilai-nilai dasar budaya lokal tersebut. Hal yang paling mendasar dari revitalisasi tradisi lisan kantola adalah bagaimana menumbuhkan semangat keberagaman dan menciptakan harmonisasi hidup antara manusia dengan lingkungannya. Nilai-nilai budaya lokal harus tetap dipertahankan sehingga dapat menumbuhkan kemampunnya dalam menangkal berbagai dampak negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi. Untuk mempertahankan eksistensi nilai-nilai budaya lokal, maka langkah yang tepat dilakukan adalah segala aktivitas kultural masyarakat yang mendiami wilayah Kabupaten Muna menggunakan bahasa Muna sebagai mediumnya. Namun pada kenyataannya, penggunaan bahasa Muna telah menggalami pergeseran yang sangat jauh. Pergeseran ini telah berada pada titik krusial. Masyarakat Muna tidak lagi mengenal bahasanya sendiri, dalam arti penggunaannya secara baik dan benar, namun telah dipengaruhi oleh produkproduk bahasa yang berasal dari luar, terutama bahasa asing. Proses internalisasi juga tidak diterapkan dalam keluarga, sehingga generasi muda tumbuh tanpa mengenal identitas kebahasaan mereka. Kondisi ini sangat berpengaruh pada persepsi dan pemaknaan aktivitas kultural. Masyarakat sudah enggan untuk mempelajari budaya-budaya lokal karena mereka tidak mengetahui nilai-nilai apa yang sebenarnya terkandung dalam aktivitas kultural tersebut. Demikian pula halnya dengan pemahaman sejarah yang memberikan wacana identitas pada
  • 168 masyarakat. Penampakan sejarah menjadi bagian penting untuk menampakkan identitas dalam masyarakat. Dalam era globalisasi, identitas masyarakat mendapat banyak terpaan dari luar. Globalisasi telah membuat segala hal di dunia ini terkait satu sama lain. Apa yang dulunya dianggap tidak saling terkait, saat ini secara amat mencolok tampak saling berkaitan (Kristiatmo, 2007: 77). Melalui globalisasi, tiap kebudayaan berinteraksi. Dengan semakin hilangnya batas, hidup pun tak lagi memiliki ruang dan sekaligus mengalami poligami tempat pada deteritorialisasi. Deteritorialisasi, merupakan perpindahan yang berlangsung terus-menerus entitas, wujud, identitas, subjek, kelompok atau komunitas dari satu tempat ke tempat lainnya (Piliang, 2005b: 158). Nilai-nilai modernitas yang terus bergerak akan selalu mempengaruhi nilai-nilai dasar kebudayaan. Jika nilai-nilai dasar kebudayaan ini tidak lagi memiliki keterikatan dengan masyarakat Muna, maka sesungguhnya masyarakat Muna akan kehilangan pegangan dari terpaan globalisasi. Beranjak dari pemikiran ini, masyarakat harus berperan aktif dalam pembangkitan dan menumbuhkan kembali, baik aktivitas kelisanan dengan menggunakan bahasa daerah, pertunjukan tradisi lisan, dan pemahaman sejarah yang baik. Dengan demikian, pemunculan kembali nilai-nilai dasar kebudayaan mampu memberikan arah bagi pengembangan kekuatan sosial menuju perubahan kearah yang lebih baik. Hal ini menjadi sangat penting karena selama ini masyarakat berkiblat pada hal-hal yang berbau global, yang kering dan tanpa makna. Jika masyarakat terus terkooptasi
  • 169 pada modernitas, maka masyarakat Indonesia gagal menampakkan diri sebagai bangsa yang berbudaya dan bermartabat. Produk budaya kelisanan dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan identitas lokal. Tradisi lisan kantola, sebagai aktivitas kultural yang berbentuk lisan, merupakan bukti kreativitas masyarakat pada masa lalu, yang secara tekstual, tidak mengalami perubahan hingga saat ini. Hal ini mengindikasikan bahwa tradisi lisan kantola mampu bertahan melintasi zaman, yang dengan sendirinya memberikan identitas pada masyarakat pendukungnya dalam hal ini masyarakat Muna. Tradisi lisan kantola mampu diinternalisasi begitu mendalam pada masyarakat setempat sehingga saat ini masih hadir di tengah-tengah derasnya arus globalisasi yang melanda masyarakat. Menurut Jauss (Newton, 1994: 158) bahwa karya sastra ada hanya jika ia telah diciptakan kembali atau dikonkretkan dalam otak masyarakat penyambut. Proses internalisasi menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian warisan budaya lokal. Muara internalisasi ini mengarah pada pemahaman makna dan nilainilai moral yang tertanam dalam sastra lisan. Pemahaman makna berwujud pada implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh Jauss mengungkapkan hubungan suatu karya sastra dengan masyarakat berikut ini. “Fungsi sosial sastra hanya dapat dimungkinkan apabila pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horizon pengharapan dari praktek yang dihidupinya, membentuk pemahamannya tentang dunia dan dengan demikian juga mempengaruhi tingkahlaku sosialnya.” Sebagai pelaku dan penikmat budaya, masyarakat berperan dalam memberikan makna terhadap keseluruhan aspek-aspek kultural yang terdapat dalam suatu karya sastra. Penerimaan, persepsi, dan pemahaman terhadap sastra
  • 170 lisan berkaitan erat dengan tingkat pendidikan dan kondisi yang terjadi pada saat ini. Tanggapan-tanggapan seseorang mengenai karya sastra akan menimbulkan perbedaan-perbedaan pandangan berdasarkan tingkat pendidikan dan pengalaman penafsiran. Sehingga hal ini setidaknya memberikan pengaruh yang sifatnya subyektif dalam pembentukan pola pikir tertentu. Para pemerhati budaya yang menjadi perhatian utamanya adalah bagaimana proses internalisasi yang melibatkan berbagai pihak. Kepedulian ini memberikan arah bagi keberlanjutan tradisi lisan yang telah tertimpa berbagai macam produk budaya global. Menurut Palmer (2003: 277), apa yang dibutuhkan dalam interpretasi sastra adalah penalaran dialektis yang tidak menginterigasi teks tetapi menyediakan sesuatu yang dikatakan pada teks untuk menginterogasi balik, untuk mengajak horizon penafsiran ke dalam pertanyaan dan melakukan transformasi pemahaman seseorang terhadap subjek. Trasformasi pemahaman ini sangat mendasar dalam penerimaan dan tanggapan masyarakat terhadap suatu tradisi lisan. Menghidupkan kembali kebudayaan lokal sama artinya dengan menghidupkan kembali identitas lokal, oleh karena itu identitas merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan (Piliang, 2004b: 279). Identitas itu sendiri menjadi sebuah persoalan saat warisan masa lalu diambil alih oleh pengaruh-pengaruh globalisasi yang menciptakan hegemoni budaya. krisis identitas muncul ketika warisan budaya yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal tidak dapat dipertahankan lagi karena ia telah direnggut oleh nilai-nilai lain yang berasal dari luar. Oleh karena itu, menurut
  • 171 Tilaar (2007: xxv) untuk dapat bertahan dari terpaan globalisasi yang inhuman, maka individu atau masyarakat harus memiliki, mempertahankan, dan mengembangkan identitasnya sendiri. Kondisi yang inhuman ini merupakan identitas bagi masyarakat modern, yang tidak lagi menaruh minat pada sisi kemanusiaan. Pergeseran besar yang terjadi akibat modernitas dari pemahaman diri kondisi komunal ke pemahaman diri individualistik. Modernitas tidak melihat masyarakat atau komunitas sebagai yang utama, melainkan menganggap masyarakat hanya sebagai kumpulan individu-individu bebas yang secara sukarela bergabung demi tujuan-tujuan tertentu (Griffin, 2005:18). Kelompok-kelompok masyarakat ini telah menggiring ke sebuah bentuk identitas baru yang mereka ciptakan sendiri berdasarkan kepentingan masing-masing. Tidak lagi mencerminkan identitas sesungguhnya yang menjadi ciri khas suatu kelompok masyarakat. Bahkan, ada kelompok-kelompok masyarakat yang melaksanakan kegiatan bersama dan merevitalisasi ikatan-ikatan primordial yang kemudian disalurkan melalui kelompok-kelompok politik. Fenomena ini tidak lagi menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat Muna, bahkan kelompok etnis tertentu menjadi ikatan-ikatan primordial untuk merebut melanggengkan kekuasaan. Masyarakat Muna tidak lagi memikirkan bagaimana membangun suatu entitas yang mengarah pada pembentukan identitas yang khas sebagai modal budaya masyarakat itu sendiri.
  • 172 7.2 Makna Edukasi Pelestarian tradisi lisan kantola oleh masyarakat Muna sendiri dan juga pemerintah memiliki makna edukatif. Hal ini terjadi karena dengan dilaksanakannya upaya pelestarian tradisi lisan kantola seperti yang dijelaskan di atas, maka masyarakat yang selama ini kurang memahami tradisi lisan tersebut diharapkan mendapat pemahaman baru serta mengerti akan hak dan kewajibannya sebagai pewaris suatu tradisi lisan. Adapun bagi pemerintah sendiri akan memperoleh masukan-masukan yang dapat dipergunakan sebagai pegangan dalam melaksanakan tugas-tugas selanjutnya. Proses edukatif itu merupakan proses penanaman nilai-nilai, sikap serta keyakinan-keyakinan yang mungkin sistem budaya tetap diyakini keberadaanya dan berfungsi sebagaimana mestinya. Proses edukatif, di samping mengandung proses penanaman nilai-nilai pembaruan seperti dikatakan Redfield dalam Widja (1993: 53). Dengan kata lain dalam proses ini ada penekanan fungsi diskontinuitas (perubahan), tetapi tersirat juga fungsi pelestarian nilai budaya yang dimiliki suatu masyarakat. Dari uraian di atas jelaslah bahwa makna edukatif dalam revitalisasi tradisi lisan kantola sejalan dengan proses regenerasi dalam masyarakat Muna. Revitalisasi tradisi lisan kantola mengarah pada pemberian peran-peran baru bagi generasi muda untuk tetap mempertahankan warisan budaya mereka meskipun menjadi aspek-aspek perubahan dalam kehidupan kulturalnya. Hal ini sejalan dengan konsep pelestarian yang secara intrinsik mengandung unsur dinamika budayanya.
  • 173 Sesuai dengan teori dekontruksi bahwa dalam dekontruksi terjadi pengurangan, atau penurunan intesitas bentuk yang sudah tersusun, sebagai bentuk yang baku. Sebaliknya unsur-unsur yang semula selalu terlupakan, terdegradasi dan termarginalisasi, seperti kelompok minoritas, kelompok yang lemah dapat diberikan perhatian yang menandai bahkan secara seimbang dan proporsional. Dekontruksi melakukan semacam pembongkaran, tetapi tujuan akhir yang hendak dicapai adalah penyusunan kembali ke dalam tatanan dan tataran yang lebih signifikan, sesuai dengan hakekat objek, sehingga aspek-aspek yang dianalisis dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin (Ratna, 2005: 250). Dekontruksi dalam hubungannya dengan revitalisai tradisi lisan kantola dalam era globalisasi adalah merupakan usaha untuk memberikan arti pada kelompok yang lemah yaitu masyarakat Muna, yang selama ini kurang memperoleh pengertian, bahkan diabaikan sama sekali. Tujuan dekontruksi adalah tetap kontruksi yang dengan sendirinya dalam bentuk yang berbeda, kontruksi yang seimbang sekaligus dinamis, bukan kontruksi yang statis. Proses regenerasi adalah suatu proses alih generasi yang biasanya akan menimbulkan goncangan-gocangan sebagai akibat dari gejala yang disebut generation gap. Proses edukatif modern, terutama sistem persekolahan formal tanpa disertai dengan penanaman nilai-nilai budaya tradisional sering dianggap sebagai faktor yang menyebabkan melebarnya jurang antar generasi. Proses edukatif semacam ini dengan sendirinya akan membawa dislokasi pada pola-pola hidup dan hubungan interpersonal yang ada dalam lingkungan masyarakat sebelumnya. Dalam situasi demikian lembaga pendidikan seperti kurang bertautan
  • 174 secara struktural dengan masyarakat lingkungannya. Ketidakadaan tautan struktural ini pula yang bisa menjadikan sumber bagi berkembangnya kesenjangan generasi dan kesenjangan budaya. Meskipun selama ini sebagian masyarakat Muna masih memegang kuat tradisi leluhur, kemungkinan akan adanya perubahan pandangan di kalangan generasi muda perlu diantisipasi. Tanggung jawab revitalisasi tradisi lisan yang selama ini dilakukan oleh generasi masa kini suatu ketika akan menjadi tanggung jawab generasi selanjutnya. Kondisi seperti itu kelihatan seperti berjalan wajar/otomatis, tetapi dalam prosesnya sering tidak sederhana itu. Proses regenerasi berarti alih generasi, dari generasi tua ke generasi muda. Proses ini, secara biofisik begitu wajar terjadi pada setiap kelompok manusia karena menyangkut perkembangan alamiah yang mau tidak mau harus dilalui manusia. Hanya secara sosial budaya persoalannya sering menjadi begitu kompleks, karena menyangkut gagasan-gagasan mendasar mengenai harkat hidup masyarakat di masa yang akan datang. Proses transformasi budaya bisa dilihat dari dua sudut, yaitu sudut generasi tua yang merasa bertanggung jawab menyiapkan generasi muda untuk hidup di masa yang akan datang sesuai dengan yang diidealkan oleh generasi tua. Di pihak lain generasi muda sendiri tentunya memiliki cara pandang tersendiri tentang peran serta tanggung jawabnya dalam proses alih generasi tersebut. Apabila diperhatikan secara umum, maka regenerasi tidak lain dari pada proses transmisi kultur (cultural transmission) yang dalam bentuk lebih nyata berupa proses edukatif (pendidikan dalam arti luas).
  • 175 7.3 Makna Inovasi Suatu produk kebudayaan termasuk tradisi lisan, apabila terus melakukan perubahan melalui inovasi yang berkelanjutan, maka beberapa jenis pertunjukan tradisional akan mampu bangkit dan merebut kembali hati publik setelah diinovasi dan terobosan baru dilakukan. Di satu sisi, kreativitas baru dalam berbagai bentuknya perlu terus didorong, tetapi di sisi lain perubahan zaman juga harus dibaca dengan cermat. Perkembangan zaman yang antara lain didorong oleh kemajuan dan teknologi tidak dapat dihindari. Benturan antara kepentingan pemodal, idealisme, dan kreativitas selalu menimbulkan tegangan dan tarikmenarik, namun tetap perlu dijaga keseimbangannya. Perkembangan zaman tidak mungkin dicegah atau menghindari perkembangan teknologi pasar. La Mokui (Wawancara pada 11 Maret 2011) berharap tradisi lisan kantola dapat dipentaskan dan dikreasikan. Hasil pementasan harus diinovasi atau didokumenatasikan dalam kepingan-kepingan CD/DVD lalu disebarkan ke setiap jenjang pendidikan di Muna. Sehingga tradisi lisan kantola akan dikenal oleh generasi muda dan proses pewarisannya tetap terjaga. Pada aspek penampilan atau pertunjukannya, pelestarian tradisi lisan memang sangat sedikit yang melakukan sebuah upaya inovasi, terutama inovasi yang muncul dari kalangan seniman tradisi itu sendiri. Kalau pun ada, kerja inovasi terhadap tradisi lisan sebagai seni pertunjukan, maka inovasi itu muncul justru dari seniman modern atau seniman akademis, dan jarang dari kalangan struktural dan birokrasi daerah memikirkan langkah-langkah menginovasi tradisi lokal untuk menjadi tradisi yang bisa bersaing dengan budaya global. Tradisi lokal
  • 176 semakin terhimpit dan terjepit oleh perilaku masyarakat pemilik tradisi yang tidak berpihak pada tradisi lokal. Bahkan para pelaku budaya atau penerus aktif terkesan berjalan di tempat dan tidak mampu mengembangkan daya kreativitasnya dalam mengemas dan menampilkannya menjadi lebih atraktif, tidak monoton dan membosankan. Inilah yang dirasakan oleh sebagian penduduk Muna yang menilai bahwa tradisi lisan kantola tidak lagi memenuhi unsur estetikanya ketika dimunculkan publik. Kesan yang ditangkap oleh penulis bahwa tradisi lisan ini terkekang oleh aturan yang diterapkan oleh pihak pemerintah daerah sehingga sangat sulit untuk dipentaskan dan dikreasikan oleh pelaku budaya ataupun penerus aktif tradisi lokal ini. Tradisi lisan kantola ini, sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur tata hidup masyarakat. Proses inovasi harus tetap mempertahankan nilai-nilai dan norma-norma tradisi yang terdapat di dalamnya. Tradisi lisan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dalam menggambarkan realitas, seniman tidak semata-mata melukiskan keadaan yang sesungguhnya, tetapi mengubah sedemikian rupa sesuai dengan kualitas kreativitasnya. Dalam hubungan ini, menurut Teeuw (Ratna, 2003: 7), ada empat cara yang mungkin dilakukan, yaitu 1) afirmasi, menetapkan nilai-nilai dan norma-norma yang sudah ada; 2) restorasi, sebagai ungkapan kerinduan pada nilai dan norma yang sudah usang; 3) negasi, mengadakan pemberontakan nilai dan norma yang sedang berlaku; dan 4) inovasi, mengadakan pembaruan nilai dan norma yang ada pada masyarakat.
  • 177 Berdasarkan hubungan antara pemahaman dan tanggapan atas tradisi lisan, di mana tidak terdapat batasan antara fiksi dan realitas, apa yang dikemukakan Teeuw di atas, berhubungan dengan horison harapan yang tertuang dalam teori resepsi Hans Robert Jauss, yaitu, pertama, ditentukan oleh norma-norma yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; kedua, ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman atas sebuah teks yang telah dibaca sebelumya; ketiga, pertentangan antara fiksi dan kenyataan. Proses pemahaman, bagi teori resepsi, selalu bersifat dinamis sepanjang waktu. Inovasi membuka peluang terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian yang serba temporer. Hubungan dialektis antara masa lalu dan masa kini, tradisi lisan merupakan proses imajinatif yang hidup di masa lalu hingga masa kini memiliki tujuan dan ekspresi yang jelas. Nilai-nilai kesastraan tetap hidup dan inheren di dalamnya, namun nilai lain dapat masuk sesuai dengan kondisi sosiokultural masyarakat masa kini. Kita tidak menafikan adanya proses kreatif inovatif dalam sastra lisan. Inovasi ini menuntut perubahan, baik memanfaatkan yang lama atau dalam bentuk yang lain, tanpa menghilangkan tipikalitas sastra lisan tersebut (Endraswara, 2009: 246). Derasnya arus modernisasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang melanda kehidupan masyarakat, tradisi lisan untuk zaman sekarang ini bukan lagi sebagai aktivitas kultural di mana perwujudannya tidak mampu memenuhi cita rasa estetika serta hiburan bagi masyarakat saat ini. Maka boleh jadi, masyarakat dengan gaya hidup modern sekarang ini, pertunjukan tradisi lisan sudah bukan
  • 178 zamannya lagi. Artinya, penuturan tradisi lisan saat ini sudah tidak bisa lagi dikonsumsi dan harus menghilang dari peredaran. Itu sebabnya sebagian orang banyak yang cemas dengan lenyapnya tradisi lisan. Sebagian orang sepertinya memandang tradisi lisan sebagai sesuatu yang terancam seperti etnis atau masyarakat pendukungnya yang telah melahirkan dan membesarkan tradisi lisan tersebut. Tradisi lisan kantola ini sebenarnya telah mengalami proses inovatif, ketika tradisi lisan ini diintegrasikan ke dalam makna pertunjukkan yang lebih menyesuaikan dengan keadaan. Namun, inovasi ini tidak cukup mendobrak sifat monoton dan kekakuan tradisi lisan ini. Kecenderungan masyarakat lebih tertuju pada aspek hiburan yang dipentaskan. Masyarakat tidak lagi menaruh perhatian pada lantunan syair-syair tradisi lisan kantola yang dibawakan pelantun yang pada saat itu dibawakan. Dalam rangka menanamkan sikap positif masyarakat untuk berprilaku, maka proses inovasi tradisi lisan yang harus dikembangkan. Inovasi akan memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika yang dapat menuntun ke arah yang lebih bermakna, jika dikemas secara tepat dan sistematis. Pemahaman, tanggapan dan reaksi masyarakat atas esistensi tradisi lisan akan berubah pula sehingga nantinya tidak lagi menjadi produk budaya minoritas yang tersobordinasi. Tradisi lisan mampu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai solusi alternatif, dalam mengatasi persoalan-persoalan yang membelit di dunia yang telah carut marut saat ini.
  • 179 Dikotomi dengan masuknya modernisasi yang biasa dikemas antara modern dan tradisional, menyebabkan penghargaan kepada tradisi lisan jauh dari yang sebenarnya. Bahkan, pemikir kebudayaan Sutan Takdir Alisyahbana, pernah menyebut kebudayaan tradisional (dengan Borobudur sebagai contoh yang diajukannya) sebagai kebudayaan dari zaman jahiliyah. Penilaian Alisyahbana ini didasarkan pada retrospeksi, menunjukan kekaguman apa yang dinamakan modernitas, bukan pada pengertian yang memadai tentang kompleksitas dan kekayaan kebudayaan tradisional. Kebudayaan tradisional tetap relevan bahkan pada masa yang paling modern sekali pun. Lebih dari itu, semakin disadari bahwa adanya kontradiksi dalam kebudayaan modern, telah dipecahkan justru dengan cara-cara tradisional (Kleden, 2004: 342). Sebagai warisan budaya tradisional, tradisi lisan kantola terbukti mampu melintasi zaman dan terbukti pula mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan terutama berkaitan dengan pendidikan budi pekerti, nasehat-nasehat, dan informasi tentang pembangunan. Tingkat keberlanjutan tradisi lisan kantola, dengan berbagai unsur di dalamnya, harus perlu dipikirkan dan direncanakan dengan baik. Hal ini sangat penting, mengingat tingkat pemahaman dan penghargaan masyarakat terhadap warisan tradisi lisan ini belum menunjukan perkembangan yang berarti akhir-akhir ini, malah semakin jauh. Generasi muda tidak lagi mengetahui bentuk, apalagi fungsi dan maknanya, tradisi lisan itu sendiri. Generasi muda lebih gandrung menikmati budaya pop, sebagai produk budaya global yang mengglobal. Mengenai revitalisasi tradisi lisan kantola, menurut Ardana, (2004: 101), bahwa sebenarnya revitalisasi itu sendiri bukan
  • 180 hanya menyangkut nilai-nilai lama, akan tetapi merupakan kombinasi antara yang lama dan baru dalam beberapa hal dapat dilihat sebagai respon terhadap proses modernitas. Tradisi lisan kantola perlu diinovasi secara kreatif, kalau perlu dikembangkan, reinovasi untuk menemukan formula nilai-nilai baru yang lebih segar dan atraktif dalam memberikan inspirasi bagi kehidupan kekinian dan masa depan. Sebagai ungkapan yang berisikan nilai-nilai dan norma-norma, kelahiran tradisi lisan kantola bersifat anonim. Lahirnya tradisi lisan kantola tentunya bermula dari proses dan pengumulan dan perpaduan ide, perasaan, dan intelektual yang diwujudkan dalam lantunan syair-syair yang indah, dan sarat makna. Hasil pengumulan proses kreatif ini tertuang dalam suatu rangkaian kata-kata yang mencerminkan masa depan sehingga menjadi local genius yang pantas dijadikan acuan hidup dalam masyarakat masa kini. Perkembangan tradisi lisan kantola dapat lebih bervariasi, lebih luas penyebarannya pada masyarakat Muna, dan menemukan posisi yang lebih baik dalam konteks kehidupan. Masalah dasar kebudayaan yang dihadapi sebagai bangsa adalah perlunya kesatuan visi mengenai hakekat pembangunan kebudayaan. Pada satu sisi kebudayaan, terdapat kebutuhan yang terus menerus atas penciptaan, kreativitas, eksplorasi, perenungan, serta pendalaman nilai-nilai. Sedangkan pada sisi yang lain terdapat pengemasan dan penyebarluasan informasi budaya terkait dengan segi pemasaran finansial. Kedua hal ini memerlukan penanganan yang terintegrasi dengan visi kebudayaan itu sendiri, yaitu pemberdayaan diri yang keberlanjutan dengan ditopang oleh keberpihakan
  • 181 semuan pihak, pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama untuk menyatukan visi dalam melaksanakan pembangunan kebudayaan. 7.4 Makna Pelestarian Budaya Di dalam ungkapan tradisi lisan kantola terdapat nilai-nilai budaya masyarakat Muna yang menjadi pedoman dan menjadi tuntunan hidup, sehingga perlu untuk dilestarikan. Memahami isi dan makna budaya yang terkandung di dalam tradisi lisan kantola terutama para generasi muda masyarakat Muna, maka sama pula memahami pandangan hidup, dan sikap hidup yang dianut oleh nenek moyang mereka. Dengan demikian para generasi muda dapat memahami esensi dari makna yang terkandung dalam tradisi lisan kantola. Upaya melestarikan suatu kebudayaan merupakan sebuah keindahan dan kesempurnaan, tetapi upaya itu di hadapkan pada kenyataan hilangnya satu per satu tradisi-tradisi yang ada di tanah air. Melestarikan suatu kebudayaan tidak hanya cukup diwacanakan dengan mengemukakan berbagai indikator keberhasilannya, akan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan seharihari dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Proses pelestarian ini hendaknya tidak bersifat temporal dan sesat semata, sehingga nantinya tercipta alih generasi pendukung aktif kebudayaan lokal. Upaya pelestarian tetap selalu dimunculkan namun produk budaya lokal tetap saja terpendam dan lambat laun mengalami kepunahan dan juga akan terlupakan. Kondisi ini dipicu oleh faktor internal adalah masyarakat itu sendiri dan faktor eksternal adalah kondisi di luar masyarakat, yang saling terkait satu sama lain. Masyarakat mulai tidak percaya diri dengan budaya lokal yang dimilikinya.
  • 182 Mereka beranggapan budaya tersebut sudah usang, kaku, dan menjemukan. Mereka menginginkan perubahan, dan itu dihadirkan oleh budaya global dengan berbagai produknya yang dinamis, atraktif dan mampu menghadirkan suasana yang lebih menyenangkan dan mengembirakan. Akhirnya, masyarakat lokal mulai meninggalkan warisan budaya masa lalu yang sangat kaya dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang dapat menuntun ke arah yang lebih baik dan dinamis. Untuk menanamkan pemahaman akan pentingnya kedudukan dan fungsi warisan budaya lokal, maka yang harus ditumbuhkan kembali adalah kesadaran atau pemahaman di kalangan masyarakat sebagai individu yang berada pada tata pergaulan dan tata kehidupan yang tanpa batas, saling berinteraksi dengan masyarakat luar. Kesadaran budaya yang tinggi dapat menimbulkan pengaruh positif masyarakat dalam menilai keberadaan warisan budaya yang dimilikinya. Penilaian itu berkaitan dengan apresiasi, tanggapan atau pun penerimaan warisan budaya sehingga tidak mudah tergiring oleh gelombang globalisasi yang telah merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat saat ini. Wilayah dimuka bumi ini tidak satu pun yang terbebas dari dampak globalisasi. Perubahan zaman terjadi begitu cepat dan tidak terhindarkan lagi. Pergeseran nilai-nilai kehidupan juga berlangsung dengan sangat cepat. Pergeseran nilai yang sudah pada taraf mengkhawatirkan tampak nyata di depan mata. Menurut Sutarto (2004: 179), yang menyebabkan pergeseran nilai ini adalah sebagai berikut 1) Tuhan terasa jauh dan uang terasa dekat; 2) nilai moral lebih murah dari nilai materi; 3) kekerasan sering digunakan untuk menyelesaikan
  • 183 berbagai persoalan dalam masyarakat; 4) produk-produk budaya global lebih digandrungi dibanding budaya lokal; 5) kepentingan agama, politik, dan ekonomi dicampuradukkan sehingga batas-batasnya menjadi tidak jelas. Saat ini masyarakat terjebak dalam perangkap kapitalisme global, dan kaum kapitalisme telah berhasil mengubah dan bahkan mengatur perilaku sosiokultur masyarakat. Padahal, kapitalisme tidak memberikan sistem nilai yang pasti. Sistem nilai yang selama ini ditawarkan bertumpu pada materi. Kehidupan yang dilandasi oleh konsumerisme, tidak akan menumbuhkan pilihan dan keputusan yang benar-benar tulus karena selalu mengacu pada segi materi yang serba duniawi. Perilaku masyarakat tradisional yang sederhana dan menanamkan semangat kebersamaan yang berlandaskan kebudayaan lokal, tidak lagi tampak dipermukaan karena ditenggelamkan oleh nilai-nilai yang dibawa oleh produkproduk budaya global. Sztompka (2007: 157), dampak negatif telah ditimbulkan oleh modernisasi yang menyebabkan kehancuran lembaga dan cara hidup tradisional sering menimbulkan disorganisasi, kekacauan, dan anomi. Perilaku menyimpang dan kenakalan meningkat. Ketidakselarasan di sektor ekonomi dan tak sinkronkannya perubahan di berbagai subsistem. Padahal, visi awal modernisasi berkaitan dengan keunggulan inovasi atau terobosan kesadaran, moral, etika, dan tatanan sosial yang berguna bagi umat manusia untuk meningkatkan kesejateraannya. Kehidupan tatap muka pada masyarakat tradisional yang sudah mulai hilang, dan tergantikan dengan sikap hidup modern yang individualistis, telah membuat saluran penerusan nilai-nilai budaya dari gerasi ke generasi berikutnya
  • 184 menjadi terputus. Sebagai gantinya generasi muda dan juga berkat mediasi media massa yang lebih berorientasi pada budaya-budaya luar yang pancaran informasi makin melemah, Sedyawati (2008: 42). Hal ini, akan menghasilkan sindrom modernitas secara menyeluruh, akan menghasilkan kesamaan atau keseragaman yang melanda berbagai masyarakat dan melenyapkan perbedaan lokal, Sztompka (2007: 155). Upaya pemberdayaan masyarakat lokal dilakukan dengan cara menyediakan fasilitas agar masyarakat bersangkutan mempunyai ketahanan budaya. Ketahanan budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jati diri dan kekuatan budaya sendiri, sehingga dengan begitu tidak perlu merasa rendah diri jika berhadapan dengan kebudayaan lain. Untuk mencapai ketahanan budaya, diperlukan pengetahuan untuk memahami serta menghayatinya, dan pengetahuan itu perlu disampaikan dengan sengaja melalui upaya terarah dan terancam (Sedyawati, 2008: 106). Masyarakat Muna, berdasarkan wawancara dengan La Mokui (11 Maret 2011), telah memiliki suatu ketahan budaya yang bersumber dari falsafah damowanu liwu, yang membentuk tata nilai kehidupan yang memiliki kekuatan budaya, seperti pada kutipan berikut ini. “Ketika orang memahami falsafah damowanu liwu maka dia secara individu sudah tumbuh suatu ketahanan dalam dirinya, ketahanan keluarga, dan ketahanan nasional. Ketahanan berarti orang memahami sesuatu yang betul-betul harus dipertahankan”. Falsafah damowanu liwu, mampu memberikan arah bagi kehidupan bermasyarakat. Konsep ini lebih mengarah bagaimana individu menempatkan dirinya, timbulnya kesadaran akan diri yang sebenarnya. Ketahanan budaya dimulai dari diri sendiri, kemudian berkembang diteruskan pada keluarga dan
  • 185 masyarakat. Pada hakekatnya, ketahanan budaya merupakan akumulasi pengetahuan yang diperoleh berdasarkan proses internalisasi dan sosialisasi dari segala sesuatu yang diamati secara empiris. Fenomena ini sesuai dengan pendapat Sedyawati (2008:170) yang mengemukakan bahwa nilai-nilai budaya diinternalisasikan melalui berbagai pembelajaran, baik yang terstruktur maupun yang bersifat meneruskan tradisi atau mengikuti adat. Dalam mengertian, adanya kesinambungan antara pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Pengetahuan yang bersumber dari warisan budaya masa lampau sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai kehidupan dalam bermasyarakat. Berbagai bentuk warisan budaya, termasuk di dalamnya tradisi lisan kantola mempunyai nilai-nilai sosiokultural yang terdapat di dalamnya, kiranya perlu terus dipelihara dan dikembangkan karena merupakan acuan bagi pengembangan tatanan sosial bermasyarakat yang berlaku secara umum. Nilainilai ini harus mampu berkompetensi dan kompoten terhadap dinamika perkembangan global, yang dapat terwujud sebagai modal sosial dan modal budaya. Demikian pula halnya tradisi lisan kantola tidak terlepas keterkaitannya dengan kebudayaan lokal. Kebudayaan lokal belum tergantikan kedudukannya untuk menata kehidupan yang beretika dan berahlak. Kebudayaan lokal membentuk individu-individu yang santun, dapat menjadi panutan bagi individuindividu yang lainnya. Masyarakat akan mampu mempertahankan identitas budayanya dan merespon berbagai gejolak globalisasi, apabila adanya upaya untuk membangun
  • 186 ketahanan budaya. Tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, masyarakat akan kehilangan produk budaya lokal. Melalui penggalian kembali produk-produk budaya lokal yang bernilai-tinggi, masyarakat akan mampu membangun ketahanan budaya yang telah terkoyak-koyak akibat kelalaian masyarakat itu sendiri dalam memeliharanya, serta desakan produkproduk budaya global yang kian hari kian kuat daya cengkramannya. Kesadaran budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya lokal, yang selanjutnya mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal. Segala sesuatu harus dimulai dengan niat baik, diamini oleh hati, dan dilaksanakan dengan wujud yang nyata. Refleksi Tradisi lisan kantola, merupakan bagian dari warisan budaya yang intangible, telah berada dalam tahap kepunahan. Keberadaan tradisi lisan kantola saat ini, menimbulkan banyak kekhawatiran bagi para pemerhati budaya lokal, dan juga sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, dan lembaga non-pemerintah, termasuk para tokoh masyarakat, dan tentu saja masyarakat Muna sendiri yang menjadi pendukung utama tradisi lisan kantola. Hal ini menjadi krusial karena keberadaan tradisi lisan kantola tidak didokumentasikan, untuk itu perlu diupayakan pelestarian warisan budaya lokal. Revitalisasi budaya lokal, terutama tradisi lisan kantola harus terus digali, diperkuat, dan dikembangkan dalam rangka menangkal arus globalisasi yang
  • 187 begitu gencar mempengaruhi eksistensi, legitimasi, dan keberlanjutan budayabudaya lokal saat ini. Olehnya itu, untuk melestarikan tradisi lisan kantola harus dilakukan secara sistematis dan terencana, dengan tetap bertumpu pada prinsip berkeadilan, karena keberadaan warisan budaya ini sudah semakin dilupakan masyarakat pendukungnya. Pelestarian yang dilakukan selama ini belum memenuhi rasa keadilan, hanya bertumpu pada wilayah-wilayah yang secara politis dan ekonomis, memberikan manfaat bagi sektor finansial pemerintah. Sehingga menimbulkan sikap apatis bagi pelaku budaya untuk terus memelihara produkproduk budaya mereka. Hal ini sangat terpampang jelas dengan banyaknya produk-produk budaya lokal yang punah, dan juga yang dirasakan oleh pelaku aktif kebudayaan yang berada di wilayah Kabupaten Muna yang selama ini terabaikan oleh pemerintah selaku penentu kebijakan. Para pelaku ini bergerak sendiri-sendiri, tertatih-tatih dalam mengembangkan budaya lokal tanpa uluran tangan dari pemerintah dengan memanfaatkan segala sumber daya yang mereka miliki. Merupakan sebuah ironi melihat wilayah lain yang perkembangan budayanya sangat pesat karena terus mendapat bantuan dari pemerintah. Sementara, di wilayah lain di Nusantara, produk-produk budaya lokal mereka hanya tinggal menunggu waktu proses kehancurannya. Padahal, kebudayaan nasional bukan hanya bersumber dari wilayah tertentu, melainkan kolektivitas budaya-budaya lokal yang terdapat di tanah air. Hal ini diperparah lagi dengan makin maraknya produk-produk budaya global yang terus berkembang dan
  • 188 bertransformasi mengikuti selera masyarakat yang semakin jauh meninggalkan budaya lokal mereka. Suatu hal yang tidak mengherankan jika pola-pola hidup masyarakat juga semakin jauh meninggalkan pola-pola hidup yang berlandaskan pada tradisi masyarakat lokal, yaitu ikatan sosial yang kuat dan sederhana yang semakin memudar. Menghargai keberadaan lokalitas berarti akan memberikan ruang untuk mengembangkan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional bertumpu pada kolektivitas budaya-budaya lokal, warisan budaya bangsa yang timbul sebagai usaha bersama rakyat Indonesia secara keseluruhan. Warisan budaya tidak selalu terpisahkan, tetapi dilihat sebagai bagian yang nyata dari kehidupan masyarakat. Jika hal ini terlaksana, tradisi yang bersifat budaya lokal dapat menjadi poin sentral untuk interaksi sosial, keterlibatan masyarakat dan partisipasi yang luas, dan dapat menjadi poros penting dalam mengembangkan aspek kehidupan yang lain, seperti pengembangan sosial dan ekonomi. Selain itu, mampu menumbuhkan ketahanan budaya sebagai rasa memiliki jati diri dan kekuatan budaya sendiri. Dengan membangun ketahanan budaya. masyarakat akan mampu mempertahankan identitas budayanya dan merespon berbagai gejolak globalisasi. Tanpa adanya upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan dalam melestarikan produk-produk budaya lokal, masyarakat akan kehilangan produk budaya mereka yang telah diwariskan secara turun-temurun.
  • BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan data yang ditemukan di lapangan pada saat penelitian, dapat diungkapkan berbagai fakta yang menyangkut dengan revitalisasi tradisi lisan kantola, yang merupakan aktivitas kultural masyarakat Muna. Fakta-fakta ini menunjukan bahwa telah terjadi pergeseran dan perubahan persepsi masyarakat terhadap keberadaan tradisi lisan ini. Tradisi lisan kantola semakin terhempaskan dengan maraknya produk budaya global yang terus merambah berbagai aktivitas keseharian masyarakat Muna. Berikut ini akan dipaparkan beberapa simpulan dan saran, yang berlandaskan atas temuan dan analisis data dengan menggunakan paradigma kajian budaya. 8.1 Simpulan Deskripsi mengenai bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola, dapat disimpulkan bahwa keberadaan tradisi lisan ini mulai tergantikan dengan produk budaya global. Kondisi ini akan berakibat pada pemutusan pewarisan budaya, yang secara faktual, memang sedang berlangsung. Jika hal ini terus dibiarkan, maka salah satu produk budaya lokal yang tak ternilai harganya ini akan hilang. Untuk itu diperlukan upaya dalam mempertahankan keberadaan tradisi lisan ini melalui pertunjukan tradisi lisan kantola secara periodik. Masyarakat dan pemerintah harus menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan kantola senantiasa terus muncul di permukaan. Peningkatan apresiasi masyarakat akan membuka 189
  • 190 peluang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan kantola yang semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan kantola memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi rancang bangun kebudayaan nasional karena tradisi lisan kantola merupakan produk estetis simbolis masyarakat yang berakar pada pengalaman sosio kultur masyarakatnya. Upaya pelestarian bukan hanya sesaat tetapi harus dilakukan secara bertahap, yaitu melalui proses internalisasi, sosialisasi, dan implementasi. Analisis fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola, dapat disimpulkan bahwa tradisi lisan kantola dapat menumbuhkan semangat solidaritas masyarakat lokal yang bertumpu pada tradisi, di mana masa lalu dan masa sekarang sering terkait. Tradisi selalu melibatkan aspek moral dan etika. Aspek moral dan etika, berfungsi untuk menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang melekat pada masyarakat lokal. Penyampaian pendapat melalui komunikasi verbal dengan menggunakan kantola dapat menumbuhkan sikap santun dan penghargaan terhadap orang, selain itu juga dapat mempertahankan kecermatan berbahasa. Memudarnya tradisi lisan di masyarakat merupakan indikasi telah memudarnya ikatan sosial sehingga terjadi proses dehumanisasi dan terciptanya masyarakat yang anomi. Analisis makna revitalisasi tradisi lisan kantola, dapat dikemukakan bahwa produk budaya global telah mengikis nilai-nilai kehidupan masyarakat tradisional. Arus kapitalisme global semakin kuat, esistensi tradisi lisan makin terpinggirkan. Menghidupkan kembali budaya lokal akan berpengaruh terhadap pengembangan identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan kantola memiliki
  • 191 kekuatan dasar, yaitu kekuatan bermakna edukasi yang berlandaskan nilai-nilai, di mana nilai-nilai sangat kaya dengan keyakinan-keyakinan yang dapat dijadikan titik tolak untuk membentuk pribadi yang kuat. Untuk itu proses inovasi terus dilakukan untuk dapat mempertahankan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi lisan sehingga membuka peluang pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian. Dengan demikian, pelestraian budaya dapat terlaksana, mampu mempertahankan identitas budaya dan merespon berbagai akses negatif globalisasi. 8.2 Saran Mencermati realitas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna, hasil kajian ini dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi semua pihak yang terkait untuk dapat membangkitkan kembali dan melestarikan warisan budaya lokal yang sangat sarat dengan pesan-pesan filosofis, moral, dan sosial. Saransaran ini hendaknya mampu diterapkan oleh pihak-pihak yang merasa berkompeten. Maka langkah-langkah strategis yang diterapkan dalam masyarakat Muna adalah sebagai berikut. 1. Seyogyanya pemerintah memikirkan secara arif, terencana dan sistematis langkah-langkah yang diperlukan untuk melestarikan budaya-budaya lokal, seperti tradisi lisan kantola, yang sudah semakin dilupakan masyarakat pendukungnya dengan tetap bertumpu pada prinsip berkeadilan. Pelestarian selama ini hanya bertumpu pada produk-produk budaya dan wilayah-wilayah yang secara finansial memberikan manfaat bagi sektor keuangan pemerintah.
  • 192 2. Para pelaku kebudayaan dan pemerintah harus mengatisipasi secara komprehensif terhadap memudarnya apresiasi masyarakat terhadap keberadaan tradisi lisan dan memikirkan langkah-langkah strategis dalam menguatnya kembali sikap apresiatif masyarakat. Hal ini sangat krusial karena perkembangan produk-produk budaya global begitu cepat dan langsung diserap masyarakat. Langkah-langkah ini diharapkan mampu mendorong timbulnya kesadaran budaya akan pentingnya peran yang diemban warisan budaya lokal. 3. Perlunya mendorong pemerhati budaya dan peneliti untuk terus melakukan penelitian sastra lisan, yang selama ini terkesan diabaikan oleh peneliti. Sastra tulis hendaknya tidak dijadikan prioritas penelitian sehingga menimbulkan kesan seolah-olah sastra lisan menjadi karya sastra minoritas. Sastra lisan saat ini hanya menjadi onggokan tanpa makna jika tidak dilakukan penelusuran dan penelitian secara mendalam.
  • DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Aderlaepe, dkk. 2006. Analisis Semiotik Sastra Lisan Kantola: Sastra Lisan Daerah Muna. Kendari: Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara Departemen Pendidikan Nasional. Alqadrie, Syarif Ibrahim. 2008. “Identitas Budaya, Identitas Etnis dan Keagamaan, Kesadaran Etnis, dan Hipotesis Kekerasan 2020an di Kalimantan Barat. “Makalah disampaikan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2008. Bogor, 10-12 Desember 2008. Ardana, I Ketut. 2004. “Kesadaran Kolektif Lokal dan Identitas Nasional dalam Proses Globalisasi” dalam I Wayan Ardika dan Darma Putra (ed). Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik. Bali: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Balimangsi Press. Arivia, Gadis. 2004. “Mencari Kesadaran Baru untuk Mendapatkan Peradaban Baru”. Dalam: Jalan Paradoks visi Baru Frijof Capra tentang dan Kehidupan Modern. Penyunting: Budi Munawar R dan Eko Wijayanto. Jakarta: Teraju. Astra, I Gde Semadi. 2004. “Revitalisasi Kearifan Lokal dalam Upaya Memperkokoh Jati Diri Bangsa” dalam I Wayan Ardika dan Darma Putra (ed). Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik. Bali: Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Balimangsi Press. Astra, I Gde Semadi. 2009. “Epigrafi, Historiografi, dan Kearifan Lokal dalam Perspektif Multikultural” dalam Pemikiran Kritis Guru Besar Universitas Udayana Bidang Sastra dan Budaya. Denpasar: Udayana University Press. Bardia, La Ode. 2006. “Kantola di Kabupaten Muna dalam Prespektif Linguistik Kebudayaan”. Denpasar: Tesis Program Magister PPs Unud. Denpasar; Tidak diterbitkan. Barker, Chris. 2009. Cultural Studies: Teori dan Praktek. (Nurhadi, Pentj). Yogyakarta: Kreasi Wacana. Barthes, Roland. 2007. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. (Ikramullah Mahyuddin, Pentj). Yogyakarta: Jalasutra. Burhan, Bungin. 2010. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu sosial lainnya. Jakarta: Prenada Media Group. 193
  • 194 Culler, Jonathan. 1981. The Pursuit of Sign: Semiotik, Literature Deconstrukction. London: Rouldge & Keagan Paul Ltd. Culler, Jonathan. 1996. Saursure, Penerjemahan Rodyah dan Siti Suhayati. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Penyumbangan Bahasa. Dhavamony, M. 1995. Fenomena Agama. Yogyakarta: Kanisius. Djelantik, M.A.A.. 2008. Estetika Sebuah Pengantar. Jakarta: Masyarakat Sebi Pertunjukan Indonesia (MSPI). Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. (Harfiah Widyawati dan Evi Setyarini, Pentj). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra. Endraswara, Suwardi. 2005. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo. Endraswara, Suwardi. 2009. Metodologi Penelitian Foklore: Konsep, Toeri, dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo. Fairclough, Norman. 2003. Language and Power: Relasi Bahasa, Kekuasaan dan ideology. (Indah Rohmani, Pentj). Malang: Boyan Publishing. Fakih, Mansour. 2000. Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pengelolaan Ideologi di Dunia LSM Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Fromm, Erich. 2002. Konsep Manusia Menurut Marx. (Agung Prihantoro, Pentj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Foucault, Michel. 1977. Dicipline and Punish: The Birth of the Prison. Alih bahasa: Alan Sheridan. New York: Vintage Books. Gibbons, Michael T. 2002. Tafsir Politik: Telaah Hermeneutis Wacana SosialPolitik Kontemporer. Yogyakarta: Qalam. Giddens, Anthony. 2003. Masyarakat Post-Tradisional. Penerjemah: Ali Noer Zaman. Yogyakarta: IRCiSoD. Giddens, Anthony. 2005. Konsekuensi-konsekuensi Modernitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Griffin, David Ray. 2005. Visi-visi Postmodern: Spritualitas dan Masyarakat. (A.Gunawan Admiranto, Pentj). Yogyakarta: Kanisius.
  • 195 Hadirman. 2009. “Fungsi Sosial Budaya Bahasa Muna dalam Konteks Katoba”. Tesis Program PPs Unud. Denpasar: Tidak diterbitkan. Hendarto, Heru, 1993. Mengenal Konsep Hegemoni Gramsci, dalam: Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia. Ife, Jim, 1997. Community Development, Creating Community AlternativesVision, Analysis and Practice. Melbourne: Addison Wesley Longman. Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002. Teori Kebudayaan (Landung Simatupang, Pentj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. (Samuel Gunawan, Pentj). Jakarta: Erlangga. Kristiatmoko, Thomas. 2007. Redefenisi Subjek dalam Kebudayaan: Pengantar Memahami Subjektivitas Modern Menurut Perspektif Slavoj Zizek. Yogyakarta: Jalasutra. Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam enam Pertanyaan: Esai-esai Sastra dan Budaya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press. Koentjaraningrat. 1998. Sejarah Teori Antropologi 11. Jakarta: UI Press. Koentjaraningrat. 1981. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Aksara Baru. Maliki, Zainuddin. 2004. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. Surabaya: LPAM. Marafat, La Ode Sidu. 2008. “Seni Pantun Kantola Dalam Konteks Budaya Nusantara” Makalah disajikan pada Seminar lntemasional tanggal 2 Desember 2008 di Wanci, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Marafat, La Ode Sidu. 2009. “Seni Kantola dalam Konteks Masyarakat Muna”. Makalah yang di sampaikan pada Seminar Nasional Bahasa Ibu II diselenggarakan oleh Universitas Udayana Denpasar, 27-28 Pada Bulan Februari 2009. Maryaeni. 2005. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara. Newton, K.M. 1994. Menafsirkan Teks: Pengantar Kritis Kepada Teori dan Praktek Penafsiran Sastra. (Soelistia, Pentj). Semarang: IKIP Semarang Press.
  • 196 Parmer, Richard E. 2003. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interprestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pilliang, Yasraf Amir. 2004a. Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-Tuhan” Digital. Jakarta: Grasindo. Piliang, Yasraf Amir. 2004b. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui BatasBatas Kebudayaan. Yagyakarta: Jalasutra Piliang, Yasraf Amir. 2005a. “Menciptakan Keunggulan Lokal untuk Merebut Peluang Global: Sebuah Pendekatan Kultural”. Makalah disampaikan dalam Seminar Membedah Keunggulan Lokal dalam Konteks Global diselenggaran oleh ISI Denpasar, 26 Juli 2005. Piliang, Yasraf Amir. 2005b. Transpolitika: Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra. Pozzolini, A. 2006. Pijar-Pijar Pemikiran Gramsci. (Eko PD, Pentj). Yogyakarta: Resist Book. Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pudentia, MPPS. ed., 2008. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: ATL. Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme: Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2008. “Teori Wacana Naratif”. Makalah disampaikan dalam Matrikulasi Program Doktor (S3) Linguistik. Program Pascasarjana Universitas Udayana, 12 Agustus 2008. Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • 197 Sardar, Zianuddin dan Borin Van Loon. 2001. Mengenal Cultural Studies For Beginner (Alfathri Aldin, Pentj.) Bandung: Mizan Sayuti, Suminto A. 2008. “Bahasa, Identitas, dan Kearifan Lokal dalam Perspektif Pendidikan” dalam Mulya (ed). Pembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah dalam Kerangka Budaya. Yogyakarta: Tiara Wacana. Sedyawati, Edi. 2008. Keindonesiaan dalam Budaya. Buku 2. Jakarta: Wedatama Widya Sastra. Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik: Antropologi Linguistik atau Linguitik Antropologi. Medan: Penerbit Poda. Simon, Roger, 1999. Gagasan-Gagasan Politik Gramsci. Yogyakarta: INSIST dan Pustaka Pelajar. Sobur, Alex. 2003. Semotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Steger, M., B.. 2006. Globalisme Bangkitnya Ideologi Pasar. Yogyakarta: Lafadl Pustaka. Stokes Jane. 2007. How to do Media and Cultural Studies: Panduan untuk Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya. (Santi Indra Astuti, Pentj). Yogyakarta: Bentang. Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. (Laily Rahmawati, Pentj). Yogyakarta & Bandung: Jalasutra. Suastika, I Made. 2011. Tradisi Sastra Lisan (Satua) di Bali Kajian Bentuk Fungsi dan Makna. Denpasar: Pustaka Larasan bekerjasama dengan program S2 dan S3 Kajian Budaya. Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya: Citra Wacana. Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfebeta. Sulistyowati, Tutik. 2003. “Proses Institutionalizations Nilai-nilai Sosial Budaya Masyarakat Tengger dalam Nurudin dkk (ed). Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Yogyakarta: LKIS. Surbakti, Ramlan A. 2005. “ Teori dalam Penelitian Ilmu Sosial” dalam Bagong Suyatno dan Sutibah (ed). Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Prenada Media. Sutarto, Ayu. 2004. Menguak Pergumulan antara Seni, Politik, Islam, dan Indonesia. Jember: Kopyawisda.
  • 198 Sztompka, Piotr. 2007. Sosiologi Perubahan Sosial. (Alimandan, Pentj). Jakarta: Prenada. Tilaar, H.A.R. 2007. Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Triguna, IBG Yudha. 1996. Arti dan Fungsi Karya Agung Eka Bhuwana di Pura Besakih. Denpasar: Peradah Indonesia Propinsi Bali. Widja, I Gde. 1993. “Pelestarian Budaya: Makna dan Implikasi dalam Proses Regenerasi Bangsa”. dalam kebudayaan dan Kepribadian Bangsa. Denpasar: PT. Upada Sastra. Wijaya, Putu. 2008. “Seni Pertunjukan”. Makalah disampaikan dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2008. Bogor, 10-12 Desember 2008. Yusuf, Iwan Awaluddin. 2005. Media, Kematian dan Identitas Budaya Lokal: Representasi Etnit Tionghoa dalam Iklan Dukacita. Yogyakarta: UI Press. Zaid, Nashr Hamid Abu. 2004. Hermeneutik Inklusif: Mengatasi Problematika Bacaan dan Cara-cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan. (Muhammad Mansur dan Khorian Nahdliyin, Pentj). Jakarta: ICIP. Zamroni. 1999. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. Fairclough, Norman. 2003. Language and Power: Relasi Bahasa, Kekuasaan dan Ideologi. (Indah Rohmani, Pentj). Malang: Boyan Publishing.
  • LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara A. PERTANYAAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 1. Apa yang anda ketahui mengenai sejarah kabupaten Muna? 2. Dalam berinteraksi sosial, bahasa apa yang paling sering digunakan? 3. Tahukah Anda bentuk-bentuk tradisi lisan yang masih sering dipentaskan ataupun yang sudah tidak lagi dipentaskan? 4. Bagaimana dengan sistem mata pencaharian dan tingkat pendidikan masyarakat? 5. Apakah terdapat sistem kekerabatan pada masyarakat dan bagaimana bentuknya? 6. Bagaimana pula dengan sistem religi dan kepercayaan yang dianut masyarakat? B. PERTANYAAN BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA DALAM ERA GLOBALISASI 1. Sejak kapan tardisi lisan Kantola diciptakan, oleh siapa, dan bagaimana perkembangannya hingga saat ini? 2. Pada mulanya, tradisi lisan Kantola diperuntukkan untuk siapa? 3. Dalam perkembangannya, apakah tradisi lisan Kantola mengalami perubahan? Jika ada, mulai kapan dan mengapa? apa saja yang menyebabkan perubahan tersebut? Jika tidak ada, apa yang membuatnya tidak berubah? 4. Pernahkan anda melihat Pertunjukan Kantola? Kapan dan bagaimna bentuk pementasannya? 5. Apakah tradisi lisan Kantola itu merupakan identitas budaya masyarakat Muna? 6. Apa saja yang harus dilakukan untuk melestarikan tradisi lisan Kantola dan bagaimana cara melestarikan hal tersebut? 7. Apakah saja peran tradisi lisan kantola? 199
  • 200 C. PERTANYAAN FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA 1. Apakah saja fungsi kantola yang anda ketahui 2. Apakah fungsi-fungsi tersebut masih diterapkan oleh masyarakat ataukah telah terjadi penyimpangan fungsi 3. bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat Muna dalam upaya pelestarian tradisi lisan kantola 4. Apakah upaya pelestarian tradisi lisan kantola sudah sesuai dengan diharapkan? Bagaimana fungsinya terhadap kehidupan bermasyarakat? 5. Adakah campur tangan pemerintah yang bertentangan dengan upaya pelestarian tersebut D. PERTANYAAN MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA 1. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari penguatan kembali identitas budaya pada masyarakat Muna? 2. Nilai-nilai budaya apa saja yang dapat diperoleh dari penguatan tradisi lisan kantola? 3. Makna apa saja yang dapat diperoleh dari upaya pelestarian tradisi lisan kantola 4. Bagaimana kebijakan pemerintah terhadap pelestarian budaya di era reformasi ini? Apakah mengarah pada kesadaran ataupun ketahanan budaya?
  • 201 Lampiran 2 Daftar Informan No. Nama Usia A. Informan Kunci (Key Informan) 1. Drs. La Mokui 65 (Pemerhati Kesenian Tradisional Muna) 2. La Djehe Palola 63 (Guru Tari Kabupaten Muna) 3. La Ode Kape 71 (Pelaku Kantola) 4. Drs. Muhammad Idul 62 (Pelaku Kantola) 5. La Giy 70 (Tokoh Adat Muna) Pekerjaan Pendidikan Pensiunan Guru Sarjana - SMA Petani SR Pensiunan Guru Sarjana - SR No. Nama B. Informan Biasa 1. La Ode Halumi 2. La Ode Samuri 3. La Ode Karimu 4. La Vulu 5. Wa Dae 6. Wa Mangke 7. Wa Ode Pae 8. Wa Ode Siti 9. Wa Ode Hamola 10. La Kore 11. La Ode Bouh 12. La Dharangku Usia Pekerjaan Pendidikan 71 65 63 57 65 70 70 68 65 60 62 60 Petani Petani Petani Petani Petani Petani Petani Petani Petani Pensiunan PNS Petani Petani SR SR SR SR SR SR
  • 202 Lampiran 3 Peta Lokasi Penelitian PETA SULAWESI TENGGARA DALAM SULAWESI
  • 203 PETA KABUPATEN MUNA DALAM SULAWESI TENGGARA