TESIS
REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
PADA ERA GLOBALISASI

DARWAN SARI

PROGRAM PASC...
TESIS
REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
PADA ERA GLOBALISASI

DARWAN SARI
NIM 099026103...
REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA
MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA
PADA ERA GLOBALISASI

Tesis untuk memperoleh Gelar Ma...
LEMBAR PENGESAHAN

TESIS INI TELAH DISETUJUI
TANGGAL 26 AGUSTUS 2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Prof. Dr. I Made Suas...
Tesis ini Telah Diuji pada
Tanggal, 26 Agustus 2011

Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor
Universitas Udayana
Nomor...
UCAPAN TERIMA KASIH
Rasa syukur tanpa batas penulis panjatkan atas kekuasaan dan keridhaan
Allah SWT yang telah memberikan...
bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang telah memberikan
bantuan beasiswa (BPPS KTL) Kelima, kepada rekan-rek...
Sari, S.Pt., Siti Kadri Yanti Sari, S.Sos., Putri Suswani Sari, penulis ucapkan
terima kasih banyak atas dukungannya semog...
ABSTRAK
Penelitian ini membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna
pada era globalisasi. Pada dasarnya, tr...
ABSTRACT
This research concerns with traditional revitalization of kantola is
Munaness society in globalization era. Princ...
RINGKASAN
Penelitian ini, membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat
Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisa...
Pertunjukan tradisi lisan kantola secara periodik merupakan media
pengenalan dalam menumbuhkan kesadaran dan apresiasi mas...
mereka. Tradisi lisan berfungsi sebagai alat komunikasi semata dengan
mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya yang melekat p...
untuk menyampaikan perasaan dan pendapat, kesantunan berbahasa sangat mutlak
diperlukan untuk menangkap informasi yang ing...
normatif, dan keutuhan identitas lokal. Nilai-nilai tradisi lokal akan semakin jauh
dari masyarakat. Perubahan pola hidup ...
mampu melintasi zaman dan terbukti mampu memberikan solusi berbagai
persoalan.
Sadar budaya harus ditumbuhkan kembali untu...
GLOSARIUM

adhati

: Mahar perkawinan atau mas kawin pada
masyarakat Muna, yang harus dibayar oleh pihak
laki-laki.

damow...
kapitalau (semacam adipati di Jawa) atau jabatan
lain yang menyangkut eksekutif.
lulo

: Merupakan salah satu tarian yang ...
video game

walaka

: diuraikan per kata berdasarkan makna kamus
bahasa inggris, video berasal dari kata vide yang
berarti...
DAFTAR ISI

JUDUL............................................................................................................
1.4.2 Manfaat Secara Praktis..........................................................................12
BAB II KAJIAN PUS...
3.7 Teknik Analisis Data ...............................................................................51
3.8 Teknik Peny...
6.3 Fungsi Sosial............................................................................................132
6.3.1 Fun...
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Model Penelitian.........................................................................43
Gamba...
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan/Desa pada Tiap Kecamatan..............................63
Tabel 4.2 Hari Hujan dan ...
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Pedoman Wawancara

Lampiran 2

: Daftar Informan

Lampiran 3

: Peta Lokasi Penelitian

Lam...
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dewasa ini pola kehidupan sosial budaya sehari-hari masyarakat Muna
telah menunjukkan...
2

menentang nilai-nilai dan identitas parochial. Hal ini mengancam keberadaan
budaya lokal yang mengantarkannnya menuju k...
3

mendokumentasikan unsur-unsur kebudayaan tertentu sehingga dapat diwariskan
pada generasi berikutnya.
Tradisi lisan mer...
4

diterapkan terhadap sastra yang sekaligus mensubordinasi sastra lisan sebagai
sastra kelas dua (Ratna, 2006:328).
Pemer...
5

Tradisi Lisan kantola merupakan salah satu sastra lisan yang berasal dari
daerah Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebag...
6

turun temurun, dari mulut kemulut. Akan tetapi, dengan semakin gencarnya arus
globalisasi di bidang teknologi dan infor...
7

generasi sekarang enggan memelihara dan mempertahankan tradisi lisan tersebut.
(Gidden, 2005: 5; Steger, 2006: 54).
Har...
8

pengaruh globalisasi yang terus merambah dan berkecambah. Menghidupkan
kembali budaya lokal sama artinya dengan menghid...
9

konsep, kaidah-kaidah, pola-pola, dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus,
dari generasi ke generasi, agar kebera...
10

lalu. Dan tentu saja revitalisasi akan bisa dilaksanakan jika tradisi lisan itu masih
ada dan belum mati atau masih me...
11

1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian akan dikemukakan tiga masalah yang berkaitan dengan
revitalisasi tradisi lisan ka...
12

3.

Untuk memahami dan menginterpretasikan makna revitalisasi tradisi lisan
kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara ...
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI
DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
Kajian pustaka yang dimaksud adalah ...
14

Penelitian Aderlaepe tersebut merupakan gambaran pola prilaku budaya secara
kolektif oleh suku Muna di Sulawesi Tengga...
15

linguistik, struktur tematik, struktur skematik, makna lingual-kultur, dan nilai
budaya. sedangkan peneliti mengkaji d...
16

yang kuasa. Sedangkan ungkapan-ungkapan pada tradisi lisan kantola berupa
cinta kasih, nasihat, kekecewaan, kebencian,...
17

Dalam makalahnya menguraikan kajiannya tentang Bentuk Kantola, Isi Kantola,
Pelaksanaan Kantola, Tujuan Pelaksanaan Ka...
18

Hal-hal yang dikemukakan pada penelitian terdahulu umumnya berfokus
pada pembahasan stuktur dan aspek-aspek yang melin...
19

2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola
Pada bagian ini terdapat tiga satuan konsep yang harus dijelaskan terlebih
da...
20

maka munculnya kekuatan yang disebut kearifan lokal, atau lebih tegasnya
revitalisasi kearifan lokal.
Astra (dalam Maj...
21

Berdasarkan pengalaman historis, seringkali pengalaman masa lalu menjadi
berharga dalam mempertahankan eksistensi kehi...
22

Kebudayaan nasional merupakan proses dari bawah, dengan bertumpu
pada dualistik antara kebudayaan lama dan kebudayaan ...
23

sehingga tradisi lisan adalah sesuatu yang tidak pernah berubah, dan dijalankan
sebagai sebuah pengulangan-pengulangan...
24

ini mempunyai tujuan agar tradisi kelisanannya tetap terjaga. Pengekspresian
makna dalam lirik kantola tidak secara lu...
25

Kantola yang merupakan bagian dari khazanah sastra lisan Nusantara
tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat M...
26

diwariskan secara turun-temurun yang merupakan sumber kearifan lokal dalam
kehidupan masyarakat.
2.2.2 Masyarakat Muna...
27

kecamatan Lawa dan kecamatan Kontunaga, bukan pada wilayah kabupaten Muna
secara keseluruhan.
2.2.3 Era Globalisasi
Ka...
28

perkembangan budaya lokal tersebut, yang dipresentasikan sebagai kelanjutan
dari masa lalu ke masa kini, sehingga dapa...
29

2.3 Landasan Teori
Pada hakikatnya, teori merupakan seperangkat konsep, defenisi dan
preposisi yang tersusun secara si...
30

2.3.1 Teori Hegemoni
Masyarakat Muna adalah salah satu etnis besar yang termaginalisasi dari
segi tradisi, yang diakib...
31

praktik-praktik pemisahan yang dikemukan Foucault tersebut, masyarakat Muna
diwacanakan sebagai lawan yang harus ditak...
32

tertindas. Hegemoni merupakan suatu tatanan atau cara hidup dan pemikiran
kelompok tertentu menjadi dominan, yakni sua...
33

ada yang berasal dari luar masyarakat, seperti pemerintah daerah dan pihak-pihak
lain. Begitu pula dengan kemungkinan ...
34

yang tertindas di bawah totalitas modernisme (Padje, 2007: 97). Dekonstruksi
menolak otoritas sentral dalam pemaknaan ...
35

Penggunaan teori dekonstruksi dalam penelitian ini untuk mengungkap
proses dekontruksi dalam arti proses pembebasan da...
36

digunakan teori semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan
interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, ...
37

masyarakat adalah tanda, objek dan kegiatan tersebut bukanlah tanda yang
jenisnya sama. Untuk membedakan antara jenis-...
38

Semiotika signifikasi pada lingkup penanda tersebut terkait dengan permasalahan
penelitian ini, khususnya tentang trad...
39

penerima/penyambut.

Karya

sastra

tidak

mempunyai

nilai

tanpa

ada

penerima/penyambut yang menilainya karena pen...
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Tesis lisan kantola di kabupaten muna
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Tesis lisan kantola di kabupaten muna

813

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
813
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
27
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Tesis lisan kantola di kabupaten muna"

  1. 1. TESIS REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI DARWAN SARI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 i
  2. 2. TESIS REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI DARWAN SARI NIM 0990261032 PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI KAJIAN BUDAYA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 ii
  3. 3. REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA PADA ERA GLOBALISASI Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Progam Studi Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana DARWAN SARI NIM 0990261032 PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI KAJIAN BUDAYA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 iii
  4. 4. LEMBAR PENGESAHAN TESIS INI TELAH DISETUJUI TANGGAL 26 AGUSTUS 2011 Pembimbing I, Pembimbing II, Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. NIP. 19570113 198003 1 001 003 Dr. Sutamat Arybowo, M.A. NIP. 1955 0721 1983 03 1 Mengetahui: Ketua Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya Program Pascasarjana Universitas Udayana, Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S. Sudewi,Sp.S(K) NIP. 19430521 198303 2 001 Prof. Dr.dr.A.A.Raka NIP. 19590215 1985 10 2 001 iv
  5. 5. Tesis ini Telah Diuji pada Tanggal, 26 Agustus 2011 Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana Nomor: 1442/UN.14.4/HK/2011, Tanggal 19 Agustus 2011 Ketua : Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. Anggota : 1. Dr. Sutamat Arybowo, M.A. 2. Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S. 3. Prof. Dr.I Gde Semadi Astra 4. Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. v
  6. 6. UCAPAN TERIMA KASIH Rasa syukur tanpa batas penulis panjatkan atas kekuasaan dan keridhaan Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penelitian dan penulisan tesis yang berjudul Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada Era Globalisasi dapat diselesaikan. Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, memiliki banyak kekurangan di sana sini namun hal tersebut sangatlah wajar karena terkait dengan proses dalam menuntut ilmu. Penulis menyadari bahwa tesis ini tidak akan selesai, tanpa bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, seyogyanyalah penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada yang terhormat: Pertama, Prof. Dr. I Made Suastika, S.U. selaku pembimbing I yang penuh perhatian telah memberikan bimbingan serta dorongan dalam menyelesaikan penulisan tesis ini. Kepada Dr. Sutamat Arybowo, M.A. selaku pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan kepada penulis selama ini. Kedua, kepada Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S, Prof. Dr. I Gde Semadi Astra, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., sebagai tim penguji juga banyak memberikan bantuan baik berupa komentar, kritik maupun saran atas bagianbagian tertentu atau keseluruhan naskah tesis ini. Ketiga, Dekan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., juga pada Ketua dan Sekretaris Program Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S., dan Dr. I Wayan Redig, serta seluruh staf pengajar Program Magister (S2) Kajian Budaya, yang telah banyak mentransformasikan ilmu pengetahuan dan membantu penulis dalam melaksanakan studi selama ini. Keempat, kepada seluruh staf administrasi Program Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana, yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu yang selama ini telah banyak memberikan kemudahan kepada penulis dalam hal administrasi perkuliahan. Serta Direktorat Jendral Perguruan Tinggi yang vi
  7. 7. bekerjasama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang telah memberikan bantuan beasiswa (BPPS KTL) Kelima, kepada rekan-rekan Program Magister (S2) Kajian Budaya Universitas Udayana, khususnya angkatan 2009 sebagai teman-teman diskusi dalam mengasah ketajaman analisis dan memperluas wawasan keilmuan. Keenam, kepada kedua sahabatku Rahmat Sewa Suraya dan Muh. Al Kausar telah bersama suka maupun duka. Juga ucapan terima kasih banyak kepada para informan yang telah bersedia meluangkan waktunya dan memberikan informasi. Ketujuh, kepada pihak keluarga dan juga pihak lain yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan studi dan penulisan tesis ini, yang namanya saya tidak bisa sebut satu demi satu. Jasa baik mereka akan selalu penulis kenang. Paling teristimewa kepada ibuku tercinta, penulis mengucapkan terima kasih banyak atas semua motivasi, dan do’anya untuk kesuksesan penulis dari sejak kecil hingga saat ini. Semoga setiap derap langkah kaki, ayunan tangan beliau selalu mendapat imbalan kebaikan dari Allah SWT, amin. Kedelapan, kepada Rektor Universitas Haluoleo di Sulawesi Tenggara Bapak Prof. Dr. Ir. Usman Rianse, M,S, dan Ketua ATL Pusat Dr. Pudentia MPPS, M.Hum. serta Ketua ATL Sulawesi Tenggara Dr. La Niampe, M.Hum. yang telah memberikan kesempatan dan membukakan jalan penulis untuk mendapatkan beasiswa, serta tak lupa penulis mengucapkan salam perjuangan kepada teman-teman dari Kajian Tradisi Lisan yang sekarang ini sementara melanjutkan studi. Kesembilan, Kepada keluarga besar Bapak Soedjiwo yang telah memberikan nasehat, dukungan, bantuan, serta doanya kepada penulis, dan kepada orang yang saya tuakan Dr. La Taena, M.Si., serta Kakanda saya Hadirman, S.Pd., M.Hum., Briptu Ismail Story, Hamirudin Udu, S.Pd.,M.Hum., Hardin Arin, S.Pd., juga penulis ucapkan terima kasih banyak atas segala do’a dan bantuannya demi tercapainya studi penulis. Kepada kakak saya Yani, S.Pd. terimakasih atas bantuan dan dukungannya dan ketiga adik saya, Awal Maulid vii
  8. 8. Sari, S.Pt., Siti Kadri Yanti Sari, S.Sos., Putri Suswani Sari, penulis ucapkan terima kasih banyak atas dukungannya semoga mereka juga lebih termotivasi untuk melanjutkan studi. Semoga semua amal kebaikan mereka mendapatkan balasan kebaikan pula dari Allah SWT, amin. Walaupun dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak berupa pemikiran melalui komentar, kritik maupun saran, tanggung jawab terakhir tetap berada kepada penulis sendiri. Banyak atau sedikitnya kekurangan dan kesalahan dalam tesis ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis. Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri dan mohon ampunan atas segala kesalahan. Kepada-Nya jugalah penulis menyerahkan semua amal kebaikan pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat-Nya pada kita semua, amin. Denpasar, Agustus 2011 Penulis, viii
  9. 9. ABSTRAK Penelitian ini membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna pada era globalisasi. Pada dasarnya, tradisi lisan kantola, sebagai bentuk warisan budaya masyarakat Muna, telah menuju ambang kepunahan. Selain dampak negatif dari globalisasi, kemunduran nilai-nilai budaya lokal tidak lepas dari masyarakat Muna yang sudah makin jauh meninggalkan tradisi ini. Tiadanya dukungan pemerintah terhadap tradisi ini juga membuka celah kehancuran warisan budaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami upaya-upaya revitalisai tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Pemahaman terhadap aktivitas kultural ini dapat memberikan arah bagi pembentukan kembali ikatan sosial dan identitas masyarakat lokal. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (2) fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (3) makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Dalam pembahasan ini digunakan teori hegemoni, teori resepsi, teori dekontruksi, dan teori semiotika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen dan pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertunjukan tradisi lisan kantola yang dilaksanakan secara periodik merupakan media pengenalan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat sehingga membuka peluang bagi pertumbuhan, dan perkembangan tradisi lisan, termasuk tradisi lisan yang semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Tradisi lisan yang sarat dengan nilai-nilai estetika berfungsi untuk menyebarkan aspek-aspek moral dan etika kepada masyarakat. Kantola merupakan pernyataan perasaan dan pendapat seseorang, disampaikan secara santun sehingga mudah dihayati dan dipahami. Segala aturan yang bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun ikatan sosial masyarakat. Penghargaan terhadap warisan budaya lokal bermakna pada pengembangan identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan kantola berkaitan dengan nilai-nilai dan sikap serta keyakinan-keyakinan yang tetap diyakini keberadaannya. Edukasi dalam tradisi lisan kantola sejalan dengan proses regenerasi dalam masyarakat Muna, yang mengarah pada peran-peran baru bagi generasi muda untuk tetap mempertahankan warisan budayanya. Kantola memiliki makna yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Muna. Inovasi membuka pelung terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian. Inovasi dapat pula memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika. Pelestarian budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jatidiri dan kekuatan budaya sendiri, kesadaran budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya lokal, yang mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal. Kata kunci: budaya global, budaya lokal, tradisi lisan kantola, revitalisasi. ix
  10. 10. ABSTRACT This research concerns with traditional revitalization of kantola is Munaness society in globalization era. Principally oral tradition of kantola as a cultural heritage of Munaness society has been being threaten of extinction. Besides as the negative impact of globalisation, the decline of local cultural values is not separated from Munaness people who had neglected this tradition. Less attention of government on this tradition supports the decline of this cultural heritage. The research aims with to understand the real efforts of revitalisation the oral tradition of kantola in Munaness society. The knowledge of this cultural activity can contributes to reform of social emotion and local society identity. The problems of the research are (1) the form of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisation era, (2) the function of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisasi era, (3) the meaning of local tradition of kantola revitalization is Munaness society south east Sulawesi in globalisasi era. In discussion, the writer uses the theories of hegemony, receptive, deconstruction, and semiotics. The research applies qualitative method with hermeneutic approach. Collecting was done through participative observation, indept interview, also library and document study. Results of the research shows that the presentation of kantola local tradition which done periodically functions as a social medium in raising people awareness in society that inspire them to maintain and develop kantola as an oral tradition, includes the other ones which had been eliminated by global cultural products. The oral tradition that contains full esthetic values functions to strengthen moral and ethic aspects in the society. Kantola is an emotional statemen and individual expression of people that uttered politely so the meaning of kantola lyrics can be easily recognized and anderstood. All social norms taken from traditional values can be a solidarity instrument to create the unity is the society. The appreciation to local culture heritage has certain meaning to the development on local people identity. The local tradition of kantola is close related to values and attitude also doctrines that people treat as a true. The education exists is local tradition of kantola is suitable with regeneration process is Munaness society, towards to new roles of young generation to maintain their cultural heritage. Kantola has a pragmatic meaning in daily life of Munaness society. Inovation gives upportunity to the understanding of past time tradition heritage that able to answer present problems. The inovation can also give the medium of moral and ethic socialization. The maintaining of culture can be viewed as self posessive of identity and the force of own culture, the awareness of culture must be raised to give appreciation on local culture, towards cultural sustainability. This phenomenon can happens through local culture revitalization based on local context. Key Words: global culture, local culture, oral tradition of kantola, revitalization. x
  11. 11. RINGKASAN Penelitian ini, membahas revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Pada dasarnya tradisi lisan kantola, sebagai bentuk warisan budaya masyarakat Muna, telah menuju kepunahan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh negatif globalisasi yang berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya lokal. Masyarakat Muna, sebagai pendukung utama warisan budaya lokal ini, sudah makin jauh meninggalkan tradisi ini. Selain itu, tiadanya dukungan pemerintah terhadap keberadaan dan keberlanjutan tradisi lisan ini membuka celah kehancuran warisan budaya masyarakat Muna. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap upaya-upaya revitalisasi tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna. Pemahaman terhadap aktivitas kultural ini dapat memberikan arah bagi pembentukan kembali ikatan sosial dan identitas masyarakat lokal. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (2) fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, (3) makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Dalam pembahasan ini digunakan teori hegemoni, teori resepsi, teori dekontruksi, dan teori semiotika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen dan pustaka. Tradisi lisan selalu berkembang di dalam suatu proses seiring dengan perkembangan masyarakat pendukungnya. Masyarakat pemilik budaya tersebut, termasuk pemerintah, harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga tradisi lisan senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-pengaruh globalisasi yang mengancam eksistensinya. Untuk itu diperlukan berbagai upaya mendorong pelestarian kesenian tradisional. Bab V memaparkan bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola. xi dalam penelitian ini
  12. 12. Pertunjukan tradisi lisan kantola secara periodik merupakan media pengenalan dalam menumbuhkan kesadaran dan apresiasi masyarakat sehingga membuka peluang bagi pertumbuhan dan perkembangan tradisi lisan yang semakin terhimpit dengan produk-produk budaya global. Pertunjukan tradisi lisan kantola, bukan hanya menampilkan aspek keindahan, tetapi juga pemaknaan yang arif pada semua disiplin. Di dalam pertunjukan ini terdapat nilai-nilai moral, pendidikan, dan sosial. Tradisi lisan kantola merupakan refleksi atau cerminan dari kondisi masyarakat Muna. Menghidupkan nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi lisan berarti memberikan pandangan kepada mereka dalam memandang dunia dengan lebih manusiawi berlandaskan nilai-nilai budaya lokal. Pemberian pandangan ini menyangkut tanggapan mereka tentang makna dan tujuan hidup selama ini dibentuk oleh sistem kapitalisme. Untuk itu perlu ditumbuhkan kesadaran melalui pembelajaran sosial. Salah satu proses pembelajaran sosial yang sangat penting adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang perlunya mengadakan perubahan dari pandangan dunia kapitalisme global ke arah pandangan yang sesuai dengan nilai-nilai lokal. Revitalisasi berarti nilai-nilai budaya lokal harus terus diperbaharui, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Hal ini berarti bahwa budaya lokal harus diberi nafas baru dalam menghadapi gelombang pengaruh kapitalisme dan budaya global. Tradisi lisan telah menjadi korban perubahan dari budaya global yang berdampak pada keterpurukan dan kepunahan berbagai warisan budaya lokal. Globalisasi memberi ruang terhadap penciptaan produkproduk budaya yang universal, sehingga produk-produk budaya lokal akan terserap didalamnya. Globalisasi menjadikan universalitas sebagai tujuan utamanya sehingga menciptakan hegemonisasi budaya. Kemorosatan budaya lokal juga dipengaruhi oleh masyarakat pendukungnya. Masyarakat sekarang hanya tampil sebagai penikmat budaya ketimbang menjadi pelaku aktif, memandang tradisi lisan dari segi pragmatisme saja. Sikap pragmatis ini lebih jauh lagi memandang bahwa tradisi lisan ini bukan menjadi bagian dari hidup xii
  13. 13. mereka. Tradisi lisan berfungsi sebagai alat komunikasi semata dengan mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya yang melekat pada tradisi lisan tersebut. Sebagai aktivitas kultural yang mengandung aspek estetika dan moral, tradisi lisan berfungsi berdasarkan atas kemampuan tradisi lisan tersebut dalam menyebarkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya. Fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola yang dipaparkan dalam bab VI menggambarkan keterkaitan totalitas fungsi tradisi lisan dengan kehidupan masyarakat. Tradisi memiliki muatan normatif atau moral, yang merupakan pembentukan karakter pengikat masyarakat lokal. Tradisi terkait erat dengan proses interpretatif, di mana masa lalu dan masa sekarang saling terkait serta terhubungkan. Tradisi lisan kantola berkaitan erat dengan pemahaman nilai-nilai moral yang diselenggaran berdasarkan aturan-aturan yang bersumber dari ajaran-ajaran adat masyarakat setempat, terkait dengan struktur dan dinamika sosial masyarakat Muna. Tradisi ini berfungsi untuk tetap menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam adat istiadat ataupun tradisi yang melekat pada masyarakat. Kantola merupakan pernyataan perasaan dan pendapat seseorang, yang disampaikan secara santun, sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Komunikasi dengan menggunakan kantola lebih berkesan mudah dihayati, dipahami maksud serta pendapat seseorang. Kantola berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan kecermatan berbahasa. Hal ini akan menumbuhkan sikap penghargaan terhadap orang lain dan sikap malu untuk berbuat kesalahan. Dalam masyarakat tradisional, yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat yang berlandaskan pada tradisi, sikap malu merupakan dasar yang paling hakiki dalam kehidupan masyarakat. Komunikasi verbal dalam mengungkapkan masalah-masalah kebenaran yang berlandaskan tradisi telah tergantikan dengan komunikasi yang sifatnya trival, dengan tidak lagi mengindahkan kaidah kesantunan berbahasa. Komunikasi kini berubah fungsi dari wacana penyampaian pesan dan makna menjadi semacam wacana ekstase yang merupakan sebuah bentuk komunikasi yang berlangsung begitu saja, tanpa memerlukan fondasi makna, kode, dan nilai moral. Padahal, xiii
  14. 14. untuk menyampaikan perasaan dan pendapat, kesantunan berbahasa sangat mutlak diperlukan untuk menangkap informasi yang ingin disampaikan. Tradisi lisan kantola, sebagai produk budaya lokal, fungsi sosial tradisi lisan ditujukan untuk membangun suasana kebersamaan yang berdampak positif pada penguatannya ikatan batin di antara sesama anggota masyarakat. Dengan demikian, bila dikatakan bahwa memudarnya tradisi lisan di masyarakat, merupakan salah satu indikasi telah memudarnya ikatan sosial diantara mereka, dan sebaliknya. Perwujudan dari sistem budaya yang melekat pada masyarakat tradisional dapat menciptakan keseimbangan sosial (social equilibrium), melalui upaya pengendalian sosial (social control). Pentingnya lembaga-lembaga atau pun sarana pengendalian sosial, bergantung pada konteks sosiokultur di mana pengendalian sosial tersebut beroperasi. Efektifitas pengendalian sosial juga bergantung pada perubahan-perubahan sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat. Muna, dengan karakteristik masyarakat dan budayanya yang berbeda dengan wilayah lain di nusantara, memiliki sturuktur adat yang bertumpu pada adat damowanu liwu. Konsep adat ini merupakan kebiasaan yang berlaku secara turuntemurun yang membentuk atau nilai-nilai yang dilaksanakan oleh masyarakat. Berdasarkan aturan kultural, norma, dan nilai-nilai tradisional, kehidupan sosial yang selaras dan harmonis dapat terwujud. Segala aturan yang bersumber dari nilai-nilai tradisional mampu menjadi perekat dalam membangun ikatan sosial masyarakat yang tercerai berai dalam alam perubahan yang ditimbulkan oleh globalisasi. Tata nilai kehidupan masyarakat tradisional sifatnya mengikat, bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dianut masyarakat modern yang menuntut kompromistis dan kebebasan. Tata nilai ini bertujuan untuk melestarikan dan memelihara tatanan moral yang kuat pada masyarakat dan keberadaan kearifan lokal sebagai identitas masyarakat. Budaya global telah memunculkan sikap yang kompromistis, individualistik, dan konsumtif. Nilai tradisional, yang mengacu pada tradisi, mulai tergantikan oleh sistem yang dihasilkan oleh budaya global. Melalui media massa, perubahan masyarakat yang tanpa arah akan mengancam integritas sosial, sistem xiv
  15. 15. normatif, dan keutuhan identitas lokal. Nilai-nilai tradisi lokal akan semakin jauh dari masyarakat. Perubahan pola hidup masyarakat tradisional tampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Tata nilai yang bersumber dari adat istiadat tidak lagi mampu membendung terciptanya pola-pola hidup yang dianggapnya modern. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat tradisional akan berubah menjadi museum hidup (the living museum). Revitalisasi nilai-nilai budaya lokal merupakan langkah untuk memberdayakan budaya lokal dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik, dalam arti tidak terikat dengan sifat ketergantungan pada globalisasi. Makna revitalisasi dipaparkan pada Bab VII menunjukan pembentukan hubungan antara ketahanan identitas, budaya. inovasi, penghargaan dan edukasi terhadap terhadap lokalitas akan memberikan ruang bagi pembentukan identitas lokal. Warisan budaya lokal harus dilihat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Saat ini arus kapitalisme global semakin kuat, maka saat ini pula dirasakan mengecilnya peranan tradisi lisan di tengah masyarakat. Di balik proses pengerdilan itu tentunya bahasa dan sastra daerah ikut pula menyertainya. Tak berlebihan apabila dikemukakan bahwa akan terjadi pemudaran dan penghilangan seperangkat sistem kebudayaan lokal yang menjadi identitas masyarakat lokal. Tradisi lisan sarat dengan norma-norma yang mengatur tata hidup masyarakat. Proses inovasi harus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang terdapat didalamnya. Inovasi membuka peluang terhadap pemahaman warisan tradisi masa lalu yang mampu menjawab persoalan kekinian yang terus berubah tanpa dapat dihindari. Inovasi ini menuntut perubahan, baik dimanfaatkan yang lama atau dalam bentuk yang lain, tanpa menghilangkan tipikal tradisi lisan tersebut. Proses inovasi tradisi lisan harus lebih berkembang dalam rangka menanamkan sikap positif masyarakat dalam berprilaku. Inovasi dapat pula memberikan wadah bagi penyaluran nilai-nilai moral dan etika yang dapat menuntun ke arah yang lebih bermakna. Warisan budaya lokal berupa tradisi lisan mampu hadir di tengah-tengah masyarakat, sebagai solusi alternatif, dalam mengatasi persoalan-persoalan pelik yang melanda tanah air. Tradisi lisan terbukti xv
  16. 16. mampu melintasi zaman dan terbukti mampu memberikan solusi berbagai persoalan. Sadar budaya harus ditumbuhkan kembali untuk menanamkan pemahaman akan pentingnya kedudukan dan fungsi warisan budaya lokal. Kesadaran budaya yang tinggi dapat menimbulkan pengaruh positif masyarakat dalam menilai keberadaan warisan budaya yang dimilikinya. Penilaian itu berkaitan dengan apresiasi, tanggapan ataupun penerimaan warisan budaya sehingga tidak mudah tergiring oleh gelombang globalisasi. Masyarakat Muna mengalami perubahan pola hidup dan gaya hidup, yang sudah meninggalkan nilai-nilai tradisional yang dianut masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak akan lagi memiliki ketahanan budaya jika tidak mencari solusi alternatif dalam membendung perubahan zaman yang bergerak sangat dinamis. Ketahanan budaya dapat tercipta jika masyarakat berperan aktif dalam segala aktivitas kultural. Ketahanan budaya dapat dirumuskan sebagai rasa memiliki jatidiri dan kekuatan budaya sendiri, sehingga dengan begitu tidak perlu merasa rendah diri jika berhadapan dengan kebudayaan lain. Untuk mencapai ketahanan budaya, diperlukan pengetahuan untuk memahami serta menghayatinya, dan pengetahuan itu perlu disampaikan dengan sengaja melalui upaya terarah dan terencana. Dengan membangun ketahanan budaya, masyarakat akan mampu mempertahankan budayanya sendiri dan merespon berbagai gejolak globalisasi. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, masyarakat akan kehilangan produk budaya lokal yang tak ternilai harganya. Kesadaran budaya harus ditumbuhkan untuk memberikan apresiasi terhadap budaya-budaya lokal, yang selanjutnya mengarah pada ketahanan budaya. Hal ini hanya dapat terwujud melalui revitalisasi budaya-budaya lokal yang berlandaskan pada konteks lokal. xvi
  17. 17. GLOSARIUM adhati : Mahar perkawinan atau mas kawin pada masyarakat Muna, yang harus dibayar oleh pihak laki-laki. damowanu liwu : Membangun daerah. daseise damowanu liwu : Bersatu membangun daerah. doangka tewise : Biasa disebut kawin minta merupakan suatu bentuk perkawinan pada masyarakat Muna yang proses berlangsungnya ada kesepakatan antara kedua belah pihak antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Perkawinan seperti ini biasanya ada pelamaran dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. equilibrium facebook : Keseimbangan : Program dalam internet yang bisa menghubungkan manusia di seluruh belahan dunia untuk mencari teman atau sahabat. gambusu : Sejenis kesenian rakyat yang melantunkan pantun, yang pesertanya melantunkannya dalam bentuk nyanyian dengan menggunakan iringan musik tradisional (gambus, sejenis kecapi). Jenis kesenian ini biasanya dilakukan oleh laki-laki ataupun perempuan secara bersamaan, baik tua maupun muda yang jumlah pesertanya 1 atau 2 orang. handphone : Alat komunikasi jarak jauh yang menghubungkan orang yang satu dengan yang lainnya. kakawasano ompu kaomu : Tuhan yang Maha Esa : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna, yang paling tertinggi atau golongan bangsawan (Ode), biasanya pada zaman dahulu orang yang bergelar kaomu mereka yang berhak menjadi raja, xvii
  18. 18. kapitalau (semacam adipati di Jawa) atau jabatan lain yang menyangkut eksekutif. lulo : Merupakan salah satu tarian yang ada di Sulawesi Tenggara, Tarian ini milik etnik Tolaki hanya saja sekarang sudah sering dilakukan oleh semua etnik di Sulawesi Tenggara pada saat acara hajatan seperti pesta pernikahan. maradika : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna, yang paling terendah marginalisasi : Penyingkiran. Marginalisasi dan ketidakberdayaan komunitas lokal dapat merupakan akibat dari masalah yang bersifat struktural. modero : Sejenis kesenian rakyat yang saling berbalas pantun, namun pesertanya melantunkannya dalam bentuk nyanyian. Jenis kesenian ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, baik tua maupun muda, yang dilakukan dengan cara bergandengan tangan. Mereka membentuk dua barisan, barisan laki-laki dan barisan perempuan, yang membentuk sebuah lingkaran. pofeleigho : Biasa disebut kawin lari merupakan suatu bentuk perkawinan pada masyarakat Muna yang dipandang kurang baik dan tidak diinginkan oleh keluarga perempuan. sara : Pejabat Muna di Jaman Kerajaan simulasi : Proses penciptaan bentuk nyata melalui modelmodel yang tidak mempunyai asal-usul atau referensi realitasnya, sehingga memampukan manusia membuat yang supranatural, ilusi, fantasi, khayali, menjadi tampak nyata skizofrenia : Berasal dari dua kata, yaitu ‘skizo’ yang artinya retak atau pecah (split) dan ‘frenia’ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian. xviii
  19. 19. video game walaka : diuraikan per kata berdasarkan makna kamus bahasa inggris, video berasal dari kata vide yang berarti lihat. Game berarti permainan; binatang liar; perburuan; mengadakan permainan; memperolok-olokkan; bermain judi; berani; lumpuh. Video game adalah permainan anak-anak berupa benda elektronik yang disambungkan ke televisi untuk bisa dimainkan. Biasanya mengunakan tambahan kaset permainan yang diinginkan. : Merupakan strata sosial pada masyarakat Muna, yang golongan ke dua (biasanya dinamakan golongan Sara). Pada zaman dahulu, golongan ini adalah yang berhak menjadi perdana menteri, mengatur adat, menetapkan hukum bersama Raja, memilih dan mengangkat raja bahkan mencopot raja dari jabatannya jika dianggap melanggar hukum Negara dan adat serta agama. xix
  20. 20. DAFTAR ISI JUDUL.............................................................................................................i PRASYARATAN GELAR.............................................................................ii LEMBAR PERSETUJUAN...........................................................................iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI...............................................................iv UCAPAN TERIMAKASIH............................................................................v ABSTRAK.....................................................................................................viii ABSTRACT....................................................................................................ix RINGKASAN..................................................................................................x GLOSARIUM................................................................................................xvi DAFTAR ISI..................................................................................................xix DAFTAR GAMBAR....................................................................................xxiii DAFTAR TABEL.........................................................................................xxiv DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................xxv BAB I PENDAHULUAN................................................................................1 1.1 Latar Belakang...........................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................11 1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................11 1.3.1 Tujuan Umum .......................................................................................11 1.3.2 Tujuan Khusus ......................................................................................11 1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................12 1.4.1 Manfaat Secara Teoretis .......................................................................12 xx
  21. 21. 1.4.2 Manfaat Secara Praktis..........................................................................12 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI..........13 2.1 Kajian Pustaka .........................................................................................13 2.2 Konsep ....................................................................................................18 2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola ........................................................19 2.2.2 Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara...................................................26 2.2.3 Era Globalisasi.......................................................................................27 2.3 Landasan Teori.........................................................................................29 2.3.1 Teori Hegemoni ....................................................................................30 2.3.2 Teori Dekonstruksi................................................................................33 2.3.3 Teori Semiotika.....................................................................................35 2.3.4. Teori Resepsi........................................................................................38 2.4 Model Penelitian.......................................................................................43 BAB III METODE PENELITIAN.................................................................46 3.1 Rancangan Penelitian ...............................................................................46 3.2 Lokasi Penelitian .....................................................................................47 3.3 Jenis dan Sumber Data..............................................................................47 3.4 Penentuan Informan..................................................................................48 3.5 Instrumen Penelitian.................................................................................49 3.6 Teknik Pengumpulan Data.......................................................................49 3.6.1 Observasi Partisipasi .............................................................................49 3.6.2 Wawancara Mendalam .........................................................................50 3.6.3 Studi Dokumen dan Pustaka..................................................................51 xxi
  22. 22. 3.7 Teknik Analisis Data ...............................................................................51 3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data .....................................................52 BAB IV GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN DI KABUPATEN MUNA ...............................53 4.1 Sejarah Kabupaten Muna..........................................................................53 4.2 Letak Geografis........................................................................................61 4.3 Sistem Mata Pencaharian..........................................................................69 4.3.1 Pertanian dan Perkebunan......................................................................69 4.3.2 Pegawai Negeri Sipil.............................................................................73 4.3.3 Peternakan..............................................................................................74 4.3.4 Perikanan...............................................................................................74 4.4 Sistem Kekerabatan..................................................................................76 4.5 Sistem Religi dan Kepercayaan................................................................82 4.6 Bahasa dan Kesenian Tradisional.............................................................85 4.7 Keberadaan Tradisi Lisan.........................................................................87 BAB V BENTUK REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA.............89 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Secara Periodik.................................91 5.2 Aktualisasi Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna..................100 5.3 Pelestarian Tradisi Lisan Kantola dalam Masyarakat Muna...................113 BAB VI FUNGSI REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA PADA MASYARAKAT MUNA SULAWESI TENGGARA......122 6.1 Fungsi Tradisi..........................................................................................122 6.2 Fungsi Komunikasi..................................................................................129 xxii
  23. 23. 6.3 Fungsi Sosial............................................................................................132 6.3.1 Fungsi Pengendalian Sosial..................................................................134 6.3.2 Fungsi Kritik Sosial..............................................................................142 6.4 Fungsi Pelestarian....................................................................................150 BAB VII MAKNA REVITALISASI TRADISI LISAN KANTOLA..........160 7.1 Makna Identitas.......................................................................................160 7.2 Makna Edukasi........................................................................................172 7.3 Makna Inovasi.........................................................................................175 7.4 Makna Pelestarian Budaya......................................................................181 Refleksi..........................................................................................................186 BAB VIII PENUTUP....................................................................................189 8.1 Simpulan..................................................................................................189 8.2 Saran........................................................................................................191 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................193 xxiii
  24. 24. DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Model Penelitian.........................................................................43 Gambar 4.1 Masjid Pertama Di Kabupaten Muna..........................................60 Gambar 4.2 Gua Liangkabori.........................................................................64 Gambar 5.1 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Laki_Laki.........95 Gambar 5.2 Pertunjukan Tradisi Lisan Kantola Kelompok Perempuan........95 Gambar 5.3 Masyarakat yang Menyaksikan Pertunjukan Tradisi lisan Kantola Didominasi Generasi Tua.............................................104 xxiv
  25. 25. DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Jumlah Kelurahan/Desa pada Tiap Kecamatan..............................63 Tabel 4.2 Hari Hujan dan Curah Hujan Di Kabupaten Muna........................66 Tabel 4.3 Penduduk, Rumah Tangga, Penduduk per Rumah Tangga dan kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan......................................68 xxv
  26. 26. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Pedoman Wawancara Lampiran 2 : Daftar Informan Lampiran 3 : Peta Lokasi Penelitian Lampiran 4 : Surat Pernyataan Pembimbing dan Penguji Lampiran 5 : Surat Keputusan Rektor Universitas Udayana Lampiran 6 : Pernyataan Keaslian xxvi
  27. 27. BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Dewasa ini pola kehidupan sosial budaya sehari-hari masyarakat Muna telah menunjukkan berbagai pengaruh yang sangat kuat, yang disebut sebagai pola kehidupan global. Warga masyarakat mengalami berbagai perubahan cara hidup, gaya hidup, bahkan pandangan hidup mereka. Maka, perubahan tersebut telah mengancam keberadaan tradisi lokal, antara lain warisan budaya, kebiasaan, nilai, identitas, dan simbol-simbol kehidupan masyarakatnya (Giddens 2003: 9-15). Globalisasi telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan global yang semakin tinggi intesitasnya. Sistem nilai budaya lokal yang selama ini digunakan sebagai acuan atau panutan oleh masyarakat pendukungnya tidak jarang mengalami perubahan karena nilai-nilai budaya global dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin mempercepat proses perubahan tersebut (Nashir 1999:176). Menurut Giddens (2003:67); Arivia, 2004:25), globalisasi membawa prinsip budaya modernitas sehingga memunculkan segudang permasalahan sosial dan mengancam peradaban manusia. Melalui ideologi kultural konsumerisme, globalisasi telah banyak menimbulkan konflik, kesenjangan dan bentuk-bentuk stratifikasi baru. Globalisasi telah membersihkan hampir semua tatanan sosial tradisional dan mengiring umat manusia pada pola homogenitas kultural yang 1
  28. 28. 2 menentang nilai-nilai dan identitas parochial. Hal ini mengancam keberadaan budaya lokal yang mengantarkannnya menuju kepunahan. Pengaruh globalisasi tidak hanya terkait dengan teknologi dan ekonomi, tetapi juga mempengaruhi berbagai segi kehidupan. Pengaruh globalisasi ini, disatu sisi membawa kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, namun disisi lain memberikan pengaruh negatif yang sangat signifikan pada aspek-aspek kebudayaan. Bukan hanya berdampak pada kemunduran nilai-nilai budaya lokal tetapi juga akan mengancam terjadinya kepunahan berbagai aspek kebudayaan, seperti tradisi lisan yang berkembang secara turun-temurun sebagai bentuk warisan budaya dari generasi sebelumnya. Tradisi lisan sebagai bagian dari kearifan lokal yang dapat diperhitungkan sebagai realitas nilai budaya alternatif dalam kehidupan global berada dalam dua sistem budaya yang harus dipelihara dan dikembangkan, yakni sistem budaya nasional dan sistem budaya lokal. Nilai budaya nasional berlaku secara umum untuk seluruh bangsa, sekaligus berada diluar ikatan budaya lokal manapun. Nilainilai kearifan lokal tertentu akan bercitra Indonesia karena dipadu dengan nilainilai lain yang sesungguhnya diwariskan dari nilai-nilai budaya lokal. Warisan budaya mempunyai cakupan pengertian yang luas, meliputi budaya yang bersifat kebendaan yang dapat diraba (tangible) dan yang tidak dapat diraba (intangible). Warisan budaya yang tak teraba (intangible) tercakup didalamnya hal-hal yang tertangkap panca indera lain diluar perabaan, seperti musik, pembacaan sastra maupun bahasa lisan (Sedyawati, 2008:207). Sastra lisan, melalui kaidah-kaidah irama bunyinya, dapat berperan serta dalam
  29. 29. 3 mendokumentasikan unsur-unsur kebudayaan tertentu sehingga dapat diwariskan pada generasi berikutnya. Tradisi lisan merupakan cikal bakal munculnya seni dan sastra dalam komunitas kehidupan Masyarakat Muna. Cerita-cerita yang acapkali dituturkan oleh orang tua kepada anak cucunya pada masa lalu merupakan bentuk tradisi lisan yang dikemudian hari berkembang menjadi sastra lisan. Namun, dalam proses selanjutnya perkembangan tradisi lisan cukup memprihatinkan. Hanya sebagian kecil saja yang dapat didokumentasikan dalam lembaran-lembaran kertas. Karya sastra yang berbau tradisi lisan tidak lagi sesuai dengan minat generasi muda yang cenderung menaruh minat pada hal-hal yang mengandung unsur budaya pop media elektronik. Perkembangan tradisi lisan hanya menjadi bagian terkecil dari perkembangan budaya pada satu komunitas. Hal itu tentu tidak lepas dari minat para pelaku budaya itu sendiri yang sudah semakin jauh meninggalkan tradisi tersebut. Hal ini diperparah lagi dengan tidak didukungnya tradisi lisan menjadi bagian integral dari proses perkembangan budaya dalam satu komunitas yang cenderung bergerak dinamis saat ini. Pemerintah sendiri seolah-olah mengabaikan pengenalan ataupun pembelajaran sastra lisan. Contoh yang paling kongkret dari ketiadaan dukungan tersebut adalah pengenalan tentang sastra lisan di sekolah-sekolah. Kurikulum yang dikembangkan hanyalah untuk mempelajari dan memberikan pemahaman umum terhadap karya sastra tulis. Pembelajaran dan pemahaman terhadap sastra lisan tidak memperoleh porsi yang seimbang. Inilah oposisi biner yang pertama
  30. 30. 4 diterapkan terhadap sastra yang sekaligus mensubordinasi sastra lisan sebagai sastra kelas dua (Ratna, 2006:328). Pemerintah selama ini tampaknya hanya berusaha untuk memajukan kebudayaan nasional. Padahal pemerintah diharapkan juga menggali dan memperkenalkan kekayaan khasanah kebudayaan lokal. Kenyataan di masyarakat terjadi frakmentasi antara satu produk budaya dengan produk budaya lainnya. Produk budaya yang dianggap sebagai antibudaya itulah yang dianggap sebagai kebudayaan nasional, walaupun kebudayaan nasional bersumber dari kolektivitas budaya-budaya lokal. Akibatnya timbul diskriminasi terhadap produk budaya lokal yang tersebar di seluruh wilayah pelosok nusantara. Terjadinya pemutusan tradisi selama rezim Orde Baru yang sangat hegemonik sentralistik dan menekankan keseragaman sehingga mengakibatkan keragaman budaya lokal sering terabaikan. Tidak mengherankan, banyak budaya lokal yang kemudian sedikit demi sedikit hilang, bahkan ada yang punah. Tradisi lisan memiliki peranan penting dan strategis dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena tradisi lisan sebagai salah satu bentuk budaya lokal memiliki hubungan batin dengan para pewarisnya dan diyakini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat pendukungnya. Tradisi lisan memiliki peranan dan fungsi untuk menguatkan ketahanan budaya bangsa. Hanya saja, seiring perkembangan zaman, kian banyak tradisi lisan yang mulai raib dan untuk melestarikannya harus berkejaran dengan proses perkembangan sastra tulisan.
  31. 31. 5 Tradisi Lisan kantola merupakan salah satu sastra lisan yang berasal dari daerah Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai produk kultural yang dihasilkan bertatanan tradisional, yang pada prinsipnya kantola memiliki karakteristik umum yang sama dengan sastra lisan daerah lain di tanah air. Sebagai sastra lisan, keberadaan kantola pada masyarakat Muna merupakan kristalisasi kultural dalam kehidupan sosial yang tumbuh dan berkembang seiring dengan kemapanan tradisi masyarakatnya. Pada saat tradisi berproses secara alami mengalami stagnasi akibat perubahan sosial, maka keberadaan kantola sebagai tradisi lisan turut melemah. Hal semacam ini berakibat fatal terhadap perkembangan tradisi lisan kantola yang semakin teralienasi dari masyarakat Muna, akibat dampak dari modrnisasi. Tradisi lisan kantola merupakan tradisi lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna sebagai media ekpresi yang lirik-liriknya bermuatan perasaan, pengalaman pribadi, dan dimensi kemasyarakatan. Lirik kantola terdiri atas beberapa baris yang jumlahnya tidak menentu; ada lirik yang panjang (sepuluh sampai lima belas baris) dan ada lirik yang pendek (empat sampai lima baris). Penyampaian lirik kantola tidak secara lugas, tetapi dikiaskan melalui simbolsimbol yang ada. Oleh Karena itu, untuk mengetahui kandungan makna yang terdapat dalam lirik kantola, seseorang harus memiliki kemampuan interpretatif terhadap simbol-simbol tersebut (Aderlaepe, 2006:51). Pada mulanya, tradisi lisan kantola ini sangat diminati oleh masyarakat Muna, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan. Meskipun tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan, tradisi lisan ini tetap dilestarikan secara
  32. 32. 6 turun temurun, dari mulut kemulut. Akan tetapi, dengan semakin gencarnya arus globalisasi di bidang teknologi dan informasi yang merasuki wilayah budaya lokal, maka keberadaan tradisi kantola ini, sudah mulai terpinggirkan bahkan sudah mulai menunjukan gejala-gejala terlupakan. Hal ini tercermin pada pertunjukan tradisi kantola yang semakin jarang dijumpai pada masyarakat Muna, karena semakin berkurangnya pelaku tradisi ini, dan juga tidak adanya regenerasi dari gerasi tua kegenerasi muda untuk mempelajari dan memahami makna yang terkandung dalam tradisi lisan kantola. Generasi muda sudah tidak menginginkan lagi tradisi lisan kantola yang dianggap sebagai tradisi kuno. Maka bukan hal mustahil tradisi lisan kantola berada di ambang kepunahan apabila tidak dilakukan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal. Hegemoni di bidang teknologi dan informasi dan bergulirnya suatu proses transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial mengarah pada hegemoni budaya kosmopolitan dengan mendesakkan uniformitas secara universal. Proses universalisasi ini mengikis secara perlahan, namun pasti, identitas individu dan budaya-budaya lokal melalui liberalisasi ekonomi ditingkat nasional dan lokal sehingga berdampak pada kecenderungan menguatnya sikap konsumerisme dan individualisme, serta mereduksi semangat kolektivitas masyarakat lokal. Dampak yang lebih jauh akan terasa dengan semakin dilupakannya nilai-nilai budaya lokal, maka perlu dilakukan revitalisasi kearifan lokal. Pudarnya sebuah tradisi atau kebudayaan lisan ini disebabkan masyarakat menganggap tradisi lisan adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu. Stigma semacam itu menyebabkan
  33. 33. 7 generasi sekarang enggan memelihara dan mempertahankan tradisi lisan tersebut. (Gidden, 2005: 5; Steger, 2006: 54). Harkat suatu masyarakat sangat ditentukan oleh budayanya sendiri. Budaya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung oleh masyarakatnya yang mejadi ahli waris sekaligus pelaku menuju tercipta dan terwujudnya situasi yang disebut sadar budaya. Sadar budaya adalah kesadaran atau pemahaman dikalangan masyarakat bahwa sebagai individu yang berada ditengah tatanan pergaulan, posisinya tidak pernah bersifat singular, melainkan plural. Disamping itu, suatu masyarakat tidak akan mampu menjaga eksistensi dan menghayati budayanya sendiri apabila tidak bergaul dengan masyarakat lain. Persoalan hakiki inipun menjadi sesuatu yang penting dan tak terhindarkan bagi budaya-budaya lokal. Oleh karena itu, masalah pemahaman tradisi lisan tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diaktualisasikan dengan cara apapun yang dipandang baik (Sayuti, 2008: 25-26). Dengan demikian, merevitalisasi kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi lisan sangatlah mendesak untuk dilakukan, sebagai bagian dari sadar budaya agar tetap dapat menjaga dan mempertahankan keberadaan tradisi lisan dalam budaya lokal. Kebudayaan nasional ataupun budaya-budaya lokal selalu berada didalam suatu proses, di dalam kancah hubungan antarabudaya yang selalu terjadi tanpa dapat dihindari. Masyarakat pemilik budaya tersebut maupun pemerintah harus selalu menjaga dan mempertahankan keseimbangan antara keberlanjutan dan perubahan yang terjadi sehingga jatidiri dan identitas bangsa atau suku bangsa senantiasa terus muncul di permukaan dan tidak ditenggelamkan oleh pengaruh-
  34. 34. 8 pengaruh globalisasi yang terus merambah dan berkecambah. Menghidupkan kembali budaya lokal sama artinya dengan menghidupkan kembali identitas lokal, oleh karena identitas merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan (Piliang, 2004: 279). Identitas itu sendiri menjadi sebuah persoalan saat warisan masa lalu diambil alih oleh pengaruh-pengaruh globalisasi yang menciptakan hegemoni budaya. Krisis identitas muncul ketika warisan budaya yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat lokal tidak dapat dipertahankan lagi karena ia telah direnggut oleh nilai-nilai lain yang berasal dari luar. Revitalisasi merupakan suatu proses menjadikan kebudayaan sebagai suatu yang menjadi bagian terpenting di dalam kehidupan manusia sebelum kehilangan maknanya. Proses revitalisasi tentunya dilakukan secara terorganisir oleh individu pelaku budaya, kelompok komunitas bersama-sama pemerintah yang dimemiliki kesadaran dan merasa begitu pentingnya warisan budaya. Kesadaran akan pentingnya kebudayaan beserta kearifan lokal yang terkandung didalamnya timbul sebagai akibat penemuan akan jatidiri, berlatar belakang dari warisan leluhur yang khas dan tidak dapat ditemukan pada daerah lain. Revitalisasi dilakukan untuk mempertahankan eksistensi budaya lokal sebelum rantai pewarisnya terputus dan sebelum terjadinya profanisasi budaya lokal yang dianggap bermakna oleh suatu komunitas budaya tertentu. Revitalisasi budaya lokal, terutama kantola harus terus digali, diperkuat, dan dikembangkan dalam rangka menangkal arus globalisasi yang begitu gencar mempengaruhi eksistensi, legitimasi, dan keberlanjutan budaya lokal tersebut. Sosialisasi konsep-
  35. 35. 9 konsep, kaidah-kaidah, pola-pola, dan nilai-nilai harus dilakukan terus menerus, dari generasi ke generasi, agar keberadaan tradisi lisan dalam budaya lokal dapat terus dipertahankan keberlanjutannya. Menghidupkan kembali budaya lokal tidak dengan sendirinya disebut revitalisasi. Revitalisasi sejatinya berfungsi untuk menjadikan budaya lokal sebagai sesuatu yang sangat berguna, bermanfaat, dan berfungsi dalam kehidupan masyarakat (Sibarani, 2004: 31). Menurut Sibarani, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan revitalisasi, antara lain: 1) mendorong setiap kebudayan etnik hidup berkembang tanpa diskriminasi dengan menghindari dominasi kebudayaan mayoritas, hegemoni kebudayaan mayoritas, dan penyeragaman kebudayaan; 2) membangun perkampungan budaya (cultural village) sebagai wadah transfer budaya, sosialisasi kebudayaan, dan sebagai tujuan wisata budaya; 3) segala bentuk pembangunan harus dilandasi oleh kebudayaan masyarakat setempat; 4) melibatkan masyarakat setempat sebagai pemain, penentu prioritas, perencana, pelaksana, dan penerima untung dari kegiatan kebudayaan termasuk kegiatan pembangunan; 5) melibatkan “orangorang budaya” dalam penelitian, perencanaan, dan pelaksanaan setiap pembangunan. Untuk melakukan revitalisasi tradisi lisan dibutuhkan kepedulian berbagai kalangan, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Namun, yang menjadi persoalan utama dan kunci utama revitalisasi tradisi lisan kantola adalah menyangkut sikap masyarakat pendukungnya. Apakah mereka mau melestarikan budayanya atau tidak menganggap perlu lagi karena menjadi bagian dari masa
  36. 36. 10 lalu. Dan tentu saja revitalisasi akan bisa dilaksanakan jika tradisi lisan itu masih ada dan belum mati atau masih memiliki ahli waris. Penelitian ini berusaha mengkaji keberadaan tradisi lisan kantola dalam kaitannya dengan revitalisasi tradisi lisan. Kantola sangat berkaitan erat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi dasar pijakan kehidupan bermasyarakat dalam ruang lingkup masyarakat Muna. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berparadigma budaya dengan permasalahan menyangkut bentuk, fungsi dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola, di mana kantola yang dalam syairsyairnya, bermuatan multidimensional yang sarat makna.
  37. 37. 11 1.2 Rumusan Masalah Dalam penelitian akan dikemukakan tiga masalah yang berkaitan dengan revitalisasi tradisi lisan kantola dan hubungannya dengan pelestarian dan pengembangan tradisi lisan pada masyarakat Muna, yaitu: 1. Bagaimana bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi? 2. Apa fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi? 3. Bagaimana makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan memahami serta mendeskripsikan tradisi lisan kantola dan menggali informasi tentang revitalisasi terhadap tradisi lisan tersebut pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara. 1.3.1 Tujuan Khusus Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi; 2. Untuk mengetahui fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi;
  38. 38. 12 3. Untuk memahami dan menginterpretasikan makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoretis Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat: 1) menambah khazanah pengetahuan tentang tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna dan 2) hasil penelitian ini dapat menambah referensi tentang tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna ditinjau dari segi bentuk, fungsi, dan maknanya. 1.4.2 Manfaat Praktis Secara praktis, temuan penelitian ini dapat: 1) memberikan masukan dan pertimbangan bagi penentu kebijakan terutama yang berkaitan dengan kebudayaan daerah, 2) membuka wawasan masyarakat terhadap perkembangan tradisi lisan kantola pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara sehingga dapat memberikan sumbangsih dalam memperkaya khazanah kebudayaan nasional, dan 3) temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan tradisi lisan sehingga nantinya tidak lagi menjadi tradisi minoritas yang tersubordinasi.
  39. 39. BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka yang dimaksud adalah membicarakan mengenai uraian tentang konsep ataupun teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah-masalah dalam penelitian. Dengan demikian, kajian pustaka secara tidak langsung dapat memberikan inspirasi, membuka wawasan kerangka berpikir. Kajian pustaka sekaligus dapat menjadi acuan dalam pemahaman yang sifatnya teoritis dan konseptual yang berhubungan dengan penelitian. Kajian pustaka juga memungkinkan peneliti untuk menentukan jangkauan atau ruang lingkup penelitiaannya, mencermati teori dan menempatkan masalah penelitiannya, memiliki gambaran mengenai pustaka yang relevan, menghindari pengulangan terhadap penelitian terdahulu, menempatkan hasil penelitiannya pada ranah yang berbeda dengan penelitian yang lainnya (Aziz, 2003: 193- dalam Ola, 2003: 53). Maka perlu ditegaskan lebih dahulu bahwa kepustakaan utama yamg menjadi pembanding sekaligus menjadi sumber inspirasi untuk melakukan kajian terhadap revitalisasi tradisi lisan kantola pada masyarakat Muna Sulawesi Tenggara adalah hasil kajian Aderlaepe dkk (2006) tentang Analisis Semiotik Atas Lirik Kantola: Sastra Lisan Daerah Muna, yang merupakan Proyek Pusat bahasa Sulawesi Tenggara, dan diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 2006 oleh Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara Departemen Pendidikan Nasional. 13
  40. 40. 14 Penelitian Aderlaepe tersebut merupakan gambaran pola prilaku budaya secara kolektif oleh suku Muna di Sulawesi Tenggara dengan mengambil objek kantola, yaitu sastra lisan yang diapresiasi oleh masyarakat Muna dengan cara didendangkan. Dalam penelitian tersebut menguraikan tentang lirik syair kantola berbentuk soneta, tidak terikat oleh bentuk sajak maupun baris. Lirik syair-syair kantola yang bermuatan multidimensional, sarat makna. Fokus kajian Aderlape ini terletak pada kandungan maknanya, sedangkan peneliti difokuskan pada bentuk tradisi lisan kantola, fungsi ttadisi lisan kantola makna tradisi lisan kantola, Kajian Aderlaepe ini memiliki kesamaan objek dengan rencana penelitian ini yakni tradisi lisan kantola, tetapi apabila dilihat dari: (a) lokasi penelitian memiliki perbedaan yaitu penelitian Aderlaepe terdiri dari enam kecamatan (Kecamatan Tongkuno, Tiworo kepulauan, Kabawo, Napabalano, dan kecamatan Kusambi) sedangkan peneliti mengambil objek dua kecamatan, yaitu kecamatan lawa dan Kontunaga dikabupaten Muna. (b)kajian Aderlaepe hanya menggunakan Teori Semiotika, sedangkan peneliti menggunakan empat teori diantaranya, teori Hegemoni, teori resepsi, teori semiotika dan teori dekontruksi. Selain pustaka utama tersebut, penulis juga menyajikan beberapa kajian ilmiah lainnya untuk menunjang pustaka utama dalam mempertajam dan memperkaya khasanah penelitian ini. Bardia (2006) melakukan penelitian yang berjudul “Wacana Kantola Di Kabupaten Muna Dalam Perspektif Linguistik Kebudayaan”. Penelitian tersebut berfokus pada deskripsi mengenai struktur
  41. 41. 15 linguistik, struktur tematik, struktur skematik, makna lingual-kultur, dan nilai budaya. sedangkan peneliti mengkaji dari perspektif kajian budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian Bardia adalah metode deskriptif kualitatif. Untuk mengumpulkan data digunakan metode observasi dan wawancara. Metode distribusional digunakan untuk menganalisis data. metode formal dan informal digunakan dalam penyajian hasil analisis. Penetapan metode ini berdasarkan paradigma naturalistik dan interpretatif dengan prinsip kealamiahan data dan interpretasi data. Dari hasil analisis mengenai struktur linguistik ditemukan bahwa dalam kantola ada kecenderungan penggunaan bunyibunyi nyaring. Hasil penelitian Aderlaepe (2006) dan Bardia (2006) di atas, semakin memperjelas keaslian atau pentingnya penelitian ini bahwa masyarakat Muna memiliki tradisi lisan kantola yang belum dikembangkan secara optimal dan masih jarang dikaji secara mendalam melalui kajian-kajian ilmiah. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut oleh penelitian ini dijadikan pula sebagai petunjuk awal atau rujukan untuk mengkaji lebih dalam tradisi-tradisi lisan masyarakat Muna yang diwarisi secara turun-temurun baik dari ajaran nenek moyang maupun dari hasil pengalaman hidup mereka berinteraksi dengan alam. Penelitian Hadirman (2009) yang berjudul “Fungsi Sosial Budaya Bahasa Muna dalam Konteks Katoba”. Merupakan penelitian sebagai tesis S2 di Program Magister Linguistik Universitas Udayana Denpasar. Penelitian tersebut menganalisis tentang tuturan ritual katoba sebagai penuntun etika moral dan fungsi sosial bagi budaya masyarakat Muna, ungkapan-ungkapan dalam ritual katoba, berupa ungkapan keagamaan, nasihat, dan permohonan ampun kepada
  42. 42. 16 yang kuasa. Sedangkan ungkapan-ungkapan pada tradisi lisan kantola berupa cinta kasih, nasihat, kekecewaan, kebencian, pelipur lara, kritikan moral, dan kritikan sosial. Maka letak persamaan penelitian Hadirman dengan peneliti adalah pada ungkapan nasehat, dimana ungkapan tersebut ada juga tradisi lisan kantola. Hanya saja pada ritual katoba diungkapan secara langsung, sedangkan pada tradisi kantola mengunakan bahasa metaforis. Penelitian ini juga dapat membantu peneliti dalam mengkaji fenomena pada kebudayaan masyarakat Muna. Arnailis (2004) yang berjudul “Kesenian Ilau Di Nagari Salayo Sumatera Barat Suatu Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna” merupakan penelitian sebagai tesis S2 di Program Magister Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar. Penelitian tersebut merupakan pertunjukan kesenian ilau adalah untuk mengupacarai saudara yang mati dirantau yang jasadnya tidak dibawa pulang kekampung halaman. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pada kajian ini ditelaah bentuk estetika pertunjukan kesenian ilau, fungsi pertunjukan kesenian ilau, dan makna estetika pertunjukan kesenian ilau, dan makna estetika pertunjukan kesenian ilau dalam masyarakat salayo dewasa ini. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan kepustakaan, dan dokumentasi. Penelitian ini telah memberikan gambaran mengenai aspek-aspek kebudayaan, dan juga dapat menambah wawasan dalam mengkaji bentuk, fungsi, dan maknanya. Marafad, (2008) yang berjudul Seni Kantola dalam Konteks Bahasa Muna. Merupakan makalah yang disampaikan pada seminar internasional tanggal 2 Desember 2008 di Wanci, Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara
  43. 43. 17 Dalam makalahnya menguraikan kajiannya tentang Bentuk Kantola, Isi Kantola, Pelaksanaan Kantola, Tujuan Pelaksanaan Kantola, Peserta Kantola, Waktu Pelaksanaan Kantola, Tempat Pelaksanaan Kantola, Durasi Waktu Kantola, Sasaran Kantola diadakan, sedangkan peneliti memfokuskan kajiannya pada bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola, fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola, dan makna revitalisasi tradisi lisan kantola. Makalah tersebut memiliki kesamaan objek dengan rencana penelitian ini yakni tradisi lisan kantola. Selain penelitian tersebut di atas, pada penelitian ini juga mengambil rujukan buku tentang Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya oleh Alo Liliweri (2002). Pada buku itu dijelaskan pertumbuhan kesenian multikultural yang sedang bergejolak dewasa ini. Menurut buku itu, “penyembuhannya” dapat dilakukan dengan humanisme yang digali dari kearifan lokal sarat dengan nilainilai humanistik. Buku tersebut dapat membantu penelitian ini, terutama untuk menjelaskan bentuk tradisi lisan kantola dari perspektif ilmu sosial masyarakat dan ilmu komunikasi antarbudaya (Liliweri, 2002: 259). Dari berbagai pendapat tersebut diatas, peneliti dapat memperoleh gambaran yang berguna dan bermanfaat dalam pengembangan penelitian selanjutnya. Hal ini akan memberikan kontribusi yang besar dalam menelusuri keberadaan kantola beserta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap syairnya serta bentuk dan fungsinya. Dengan demikian, revitalisasi dapat dilakukan setelah mengetahui keberadaan bentuk tradisi lisan ini sehingga dapat menjalankan fungsinya dan menghasilkan makna.
  44. 44. 18 Hal-hal yang dikemukakan pada penelitian terdahulu umumnya berfokus pada pembahasan stuktur dan aspek-aspek yang melingkupi tradisi lisan kantola. Penelitian ini berusaha memanfaatkan ruang kosong hasil penelitian sebelumnya dengan melakukan pembahasan dari segi bentuk, fungsi dan makna, revitalisasi tradisi lisan kantola. Kelebihan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya terletak pada pembahasan yang dihasilkan lebih kongkrit dan lebih komprehensif. Penelitian ini tidak sekedar mengumpulkan data sebanyakbanyaknya tetapi yang lebih utama menarik akar permasalahan berdasarkan pernyataan teoritis. 2.2 Konsep Konsep ialah penyederhanaan pemikiran dengan menggunakan satu istilah untuk beberapa kajian. Konsep juga diartikan sebagai hasil abstraksi dan sintesis teori yang dikaitkan dengan masalah penelitian yang dihadapi, disamping untuk menjawab dan memecahkan masalah penelitian. Konsep dapat berfungsi untuk menyederhanakan arti atau pemikiran, ide serta hal-hal atau gejala sosial yang digunakan agar pembaca dapat memahami maksudnya sesuai dengan keinginan peneliti dalam penggunaan konsep tersebut. Konsep juga merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena yang serupa kenyataanya konsep dapat mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda, semakin dekat suatu konsep kepada realita maka semakin mudah konsep tersebut diukur dan diartikan (Koentjaraningrat, 1994: 4). Konsep merupakan deskripsi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala. Maka dari itu, dalam penelitian diuraikan konsep secara langsung berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
  45. 45. 19 2.2.1 Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Pada bagian ini terdapat tiga satuan konsep yang harus dijelaskan terlebih dahulu, yaitu pertama revitalisasi. Menurut Keesing (1999:257) revitalisasi adalah perubahan komunitas karena kesadaran baru untuk mencapai suatu citacita atau menempuh suatu cara hidup dengan sesuatu yang baru ataupun cara hidup dan nilai-nilai dari zaman yang sudah lampau. Keesing lebih menekankan pada kesadaran baru terhadap upaya-upaya perubahan kehidupan masyarakat yang sudah menyimpang dari tradisi-tradisi lama. Revitalisasi dapat berupa cara hidup yang sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap mengikuti aturan-aturan yang diwariskan oleh para leluhur ataupun tetap mengikuti pola kehidupan lama yang telah diturun-temurunkan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Konsep revitalisasi juga diungkapkan oleh Sibarani (2004:30) yang menyatakan bahwa revitalisasi kebudayaan adalah sebuah proses dan usaha memvitalkan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat atau usaha untuk membuat kebudayaan menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan harus menjadi bagian dari masyarakat pendukungnya. Budaya lokal harus diusahakan dapat bermanfaat dalam kehidupan manusia untuk lebih menyejahterakan masyarakat. Budaya lokal yang berkembang secara turun temurun dari zaman lampau sudah semakin tergerus dan tertatih-tatih menghadapi pengaruh globalisasi yang semakin luas daya jelajahnya. Untuk menangkal arus globalisasi yang begitu gencar mempengaruhi keberadaan, legitimasi, dan keberlanjutan budaya lokal,
  46. 46. 20 maka munculnya kekuatan yang disebut kearifan lokal, atau lebih tegasnya revitalisasi kearifan lokal. Astra (dalam Majid 2009:19) lebih lanjut menegaskan bahwa revitalisasi itu difungsikan untuk memperkokoh jati diri bangsa, yang didalamnya meliputi kesadaran sejarah memegang peranan penting dalam menumbuhkembangkan jati diri dan identitas bangsa sehingga penghayatan kebersamaan dimasa lampau dapat membangkitkan rasa kepemilikan terhadap kearifan lokal. Selain itu, kesatuan dan persatuan akan terus terpelihara dalam mempersiapkan masa yang akan datang tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh generasi pendahulu. Gagasan revitalisasi mengandung pikiran jernih yang menyisaratkan adanya pandangan positif tentang beberapa strateginya kekuatan kearifan lokal dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Ardana (2004:91-92) menilai kebijakan pelestarian nilai-nilai budaya lokal terjebak pada persoalan idiom politik, tanpa aplikasi yang nyata, hal ini terlihat ketika nilai-nilai budaya lokal yang sebenarnya masih relevan dalam menjawab persoalan global akhirnya punah. Sentralisasi kekuasaan yang begitu besar membuat pemerintah dimasa lalu mengidap “paranoia” terhadap segala sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan nasional. Pelestarian adat dan nilainilai budaya lokal lebih bersifat top down berkaitan dengan upaya pelestarian kekuasaan. Untuk itu perlu kiranya ditinjau kembali tentang apa yang dikerjakan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang berlangsung dalam masyarakat yang seringkali tanpa arah ketika berhadapan dengan berbagai persoalan global.
  47. 47. 21 Berdasarkan pengalaman historis, seringkali pengalaman masa lalu menjadi berharga dalam mempertahankan eksistensi kehidupan masyarakat. Maka dari itu, di berbagai kesempatan telah seringkali dimunculkan wacana tentang upaya untuk revitalisasi nilai-nilai budaya lokal yaitu sebagai langkah pemberdayaan budaya lokal itu dalam mengantisipasi tantangan zaman ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dengan kata lain, perlunya untuk memulihkan dan membangkitkan kembali ingatan dan kesatuan kolektif masyarakat lokal sehingga tidak tercabut dari akarnya. Berbagai tantangan yang muncul di masyarakat mulai dari ethnosentrisme di tingkat lokal, munculnya berbagai konflik sosial, politik dan ekonomi yang berkepanjangan sampai berkembangnya paham-paham separatisme. Tantangantantangan ini harus dihadapi dengan membangkitkan kembali atau revitalisasi nilai-nilai budaya lokal di era globalisasi ini. Kemunculan nilai-nilai budaya lokal itu dapat diharapkan, apabila masih ada tradisi kebudayaan sendiri yang dapat dihidupkan kembali. Dalam era globalisasi, menurut Ardana, telah muncul upaya-upaya untuk membangkitkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan peran dari lembaga adat. Menggunakan nilai-nilai budaya lokal untuk menjawab berbagai tantangan inilah sebagai wujud nyata dari revitalisasi budaya lokal. Dalam hal ini perlunya lebih ditingkatkan peran lembaga adat dalam menangani persoalan-persoalan konflik politik, krisis ekonomi, degradasi budaya sebagai akibat pengaruh globalisme.
  48. 48. 22 Kebudayaan nasional merupakan proses dari bawah, dengan bertumpu pada dualistik antara kebudayaan lama dan kebudayaan baru. Namun pada kenyataannya, kebudayaan baru terus menekan kebudayaan lama yang sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang dapat menangkal gelombang pasang globalisasi dan bergulirnya proses transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial yang mengarah pada satu pusat budaya kosmopolitan. Strategi kebudayaan melalui revitalisasi, harus membuka akses partisipatif dan membangkitkan respon mutualistik dari eksponen budaya yang beragam. Revitalisasi, dengan demikian menjadi hal yang sangat urgen untuk dilakukan dalam menangkal berbagai pengaruh globalisasi. Globalisasi yang menimbulkan berbagai dampak. Salah satu dampak globalisasi adalah keengganan untuk melanjutkan tradisi lama yang dianggap sebagai bagian dari masa lalu yang telah usang dan tidak sesuai lagi dengan masa kekinian, harus sesegera mungkin disikapi dan ditindak lanjuti. Revitalisasi meniscahayakan nilai-nilai budaya lokal untuk menjawab berbagai tantangan globalisasi. Kedua konsep tradisi lisan. Tradisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:1069) diartikan sebagai adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat. Tradisi juga berarti penilaian atau anggapan bahwa yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. Ini menyiratkan bahwa warisan dari masa lalu mengandung nilai-nilai kebenaran yang masih telah berlaku di dalam masyarakat dan harus terus dilestarikan. Piliang (2005) mendefinisikan tradisi lisan sebagai setiap bentuk karya, gaya yang dipresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu kemasa kini,
  49. 49. 23 sehingga tradisi lisan adalah sesuatu yang tidak pernah berubah, dan dijalankan sebagai sebuah pengulangan-pengulangan. Tradisi menurut Piliang adalah proses repetisi dan reproduksi. Tradisi adalah reproduksi atau kelanjutan masa lalu, dan ia akan kehilangan sifat tradisi bila ia berubah. Perubahan dianggap sebagai musuh tradisi yang mengancam keaslian dan keberlanjutannya. Konsep lain yang dikemukakan Piliang menyangkut tradisi lisan adalah bentuk, prinsip, konsep, pranata tingkah laku, ekspresi, norma dan nilai yang telah didefinisikan dimasa lalu secara kolektif, dan diwariskan secara turun temurun. Karena didefinisikan secara kolektif, maka tradisi mampu mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya lokal yang dapat bertahan dalam menumbuhkan kemampuannya, dalam arti tidak terikat dengan sifat ketergantungan pada globalisasi. Dengan kata lain, tradisi harus mampu bergerak secara aktif dalam menumbuhkan kemampuannya. Ketiga, konsep kantola adalah dari sisi etimologinya berasal dari dua morfem, yakni morfem ka- dan morfem tola 'panggil'. Morfem ka- pada verba dalam bahasa Muna memiliki fungsi gramatikal derivasional atau penominal. Adapun morfem ka- mengalami perubahan bentuk menjadi kan-, hal itu sebenamya sebagai pengaruh nasalisasi bahasa seni dalam bahasa Muna. Dengan demikian, kantola lebih bermakna 'panggilan', 'ajakan' atau 'seruan'. Kantola merupakan nama prosa lirik dari daerah Muna yang didendangkan pada saat acara berbalas pantun antara dua kelompok, yaitu kelompok pria dan kelompok wanita. Secara ontologis, syair-syair kantola bermuatan multidimensional yang sarat makna. Lirik kantola disusun dan digubah pada saat pementasan berlangsung. Hal
  50. 50. 24 ini mempunyai tujuan agar tradisi kelisanannya tetap terjaga. Pengekspresian makna dalam lirik kantola tidak secara lugas, tetapi melalui simbol-simbol yang disertai dengan gaya estetis. Ini berarti bahwa kandungan makna syair-syair kantola ada dibalik simbol-simbol yang ada. Oleh karena itu untuk mengetahui kandungan makna syair-syair kantola, seseorang harus memiliki kemampuan interpretatif terhadap simbol-simbol yang digunakan (Aderlaepe, 2006: 3-4). Memperlihatkan keanekaragaman karya sastra sebagai perwujudan genre, maka perlu adanya penekanan bentuk dan cara-cara pemahaman yang berbeda pula. Untuk mewujudkan keseimbangan antara sastra tulisan dan sastra lisan. Perlu diadakan pemetaan terhadap keberadaan sastra lisan dan dilakukan penelitian secara mendalam. Di satu pihak perlu diperhatikan dengan pertimbangan bahwa khazanan sastra lisan kaya dengan nilai-nilai kultur yang pada dasarnya sangat diperlukan dalam rangka membina semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, dipihak lain sastra lisan dianggap tidak memiliki peranan dalam meningkatkan kualitas bermasyarakat. Sudah pada saatnya kajian tentang karya sastra terutama karya sastra lisan yang dikelompokkan ke dalam sastra lama dikaji oleh para peneliti lokal, yang pada umumnya lebih tertarik mengkaji sastra modern. Hal ini akan berdampak positif sehingga keberadaan sastra lama dapat diidentifikasi. Selain itu, dengan hasil kajian ini dapat diperoleh gambaran mengenai kekayaan kehidupan bangsa. Prioritas penelitian terhadap khazanah sastra lama. Selain dalam rangka mengantisipasi proses kepunahannya, juga berfungsi untuk mengungkapkan nilainilai kultur yang terkandung didalamnya (Ratna, 2008).
  51. 51. 25 Kantola yang merupakan bagian dari khazanah sastra lisan Nusantara tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat Muna. Apabila dilihat dari kacamata historis, Muna adalah sebuah etnis besar yang berbentuk kerajaan dan sekarang menjadi satu kabupaten. Sejak saat itu sastra lisan kantola muncul, yang disebabkan masyarakat membutuhkan media untuk mengemukakan dan mengapresiasikan ide-ide mereka. Tradisi lisan kantola mencakup hasil ekspresi warga suatu kebudayaan masyarakat Muna yang diwariskan secara turun temurun dan disebarluaskan secara lisan, yang merupakan produk kreativitas yang mendalam terhadap segala aspirasi, cita-cita, keinginan, dan ide bagi masyarakat lama yang bercorak tradisional. Segala ekspresi masyarakat untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap fenomena sosial sangat intim dengan tradisi lisan (kantola). Konsep-konsep tersebut di atas dapat memberikan gambaran bagaimana suatu tradisi lisan yang berkembang dalam suatu masyarakat dapat terus bertahan dengan memvitalkan kembali cara hidup dan nilai-nilai dari zaman yang sudah lampau yang merupakan sumber kearifan lokal. Hal ini terutama disebabkan oleh kuatnya pengaruh perilaku kolektif yang terdapat di dalamnya. Namun, pengaruh tersebut dapat saja berkurang daya tariknya jika revitalisasi tradisi lisan tersebut dibenturkan pada berbagai perubahan pola hidup yang terus berkembang seiring dengan perubahan zaman yang bergerak dinamis. Revitalisasi tradisi lisan melingkupi perubahan komunitas karena adanya kesadaran baru untuk memperkokoh jati diri bangsa dengan memvalitkan kembali norma dan nilai yang telah didefenisikan di masa lalu secara kolektif, dan
  52. 52. 26 diwariskan secara turun-temurun yang merupakan sumber kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat. 2.2.2 Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara Kata Masyarakat dan Muna terdiri tiga unsur: pertama, konsep masyarakat mengacu pada suku bangsa atau kelompok etnik yang dicirikan berdasarkan wujud kebudayaan dan corak tradisi yang digunakan dalam kapasitasnya sebagai unsur budaya, indeks budaya, dan simbol budaya. Sejalan dengan itu, Koentjaraningrat (Hadirman, 2009: 9) mengartikan suku bangsa sebagai suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas kesatuan kebudayaan, yang seringkali dikuatkan oleh kesatuan tradisi. Kesatuan kebudayaan dan tradisi dalam satu kelompok masyarakat tidak ditentukan oleh orang luar, tetapi berdasarkan konvensi para anggotanya. Sosok kebudayaan suatu kelompok masyarakat tercermin, antara lain dengan bentuk tradisi yang mereka gunakan dalam konteks sosial dan konteks budaya. Adapun masyarakat Muna yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Muna yang bermukin dikecamatan Lawa dan Kontunaga. Kedua, Muna merupakan nama salah satu wilayah yang mana wilayahnya tersebut menjadi ibukota atau pusat pemerintahan Daerah Tingkat II Muna. Ketiga, Sulawesi Tenggara adalah merupakan salah satu wilayah di Pulau Sulawesi yang memiliki hak otonom dalam hal pemerintahan sehingga memiliki status sebagai Provinsi Sulawesi Tenggara. Jadi masyarakat Muna yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Muna yang mengacu pada suatu suku bangsa atau kelompok etnik yang berada di kabupaten muna, akan tetapi lokasi penelitian ini di pusatkan pada dua kecamatan yaitu
  53. 53. 27 kecamatan Lawa dan kecamatan Kontunaga, bukan pada wilayah kabupaten Muna secara keseluruhan. 2.2.3 Era Globalisasi Kata era berarti ‘jaman, masa, tarikh’. Adapun kata globalisasi merupakan kata yang diserap dari kata bahasa Inggris dari kata globe yang artinya ‘bola dunia’ (Poerwarminta, 1988: 61). Dari kata globe muncul kata global yang diartikan “sedunia, sejagat’ dan kata globalisasi yaitu gejala terbentuknya sistem organisasi dan sistem komunikasi antara masyarakat-masyarakat di seluruh dunia yang mengikuti sistem nilai dan kaidah yang sama. Sistem-sistem yang bersifat global terbentuk sebagai akibat dari sistem transport udara yang makin lama makin cepat, dan karena sistem komunikasi person-to-person serta komunikasi massa yang mampu menyelenggarakan hubungan atas dasar hitungan waktu yang diukur dengan jam, menit, detik ataupun dalam seketika (Sumardjan, 2007: 23). Berdasarkan uraian tentang masing-masing bagian konsep tersebut di atas maka dapat dirumuskan bahwa globalisasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu jaman atau massa di mana sistem organisasi dan sistem komunikasi antara masyarakat-masyarakat di seluruh dunia mengikuti sistem nilai dan kaidah yang sama atau hampir sama. Jadi defenisi oprasional Revitalisasi Tradisi Lisan Kantola Masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada Era Globalisasi adalah merupakan pengokohan jati diri yang menyiratkan adanya pandangan positif tentang betapa strateginya tradisi lisan kantola, sebagai media ekspresi, dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. Selain itu, mampu mengendalikan dan memberikan arah pada
  54. 54. 28 perkembangan budaya lokal tersebut, yang dipresentasikan sebagai kelanjutan dari masa lalu ke masa kini, sehingga dapat bertahan dalam menumbuhkan kemampuannya. Revitalisasi merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan budaya lokal sehingga dapat mengaktualisasi diri dalam konteks global. Pengembangan budaya lokal dapat dilakukan melalui pengenalan dan pengajaran budaya lokal, dengan menciptakan ruang bagi pengembangan kreativitas lokal sehingga mampu menumbuhkan kesadaran kultural tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar budaya lokal tersebut. Selain itu, revitalisasi harus menjadikan budaya lokal sebagai kebutuhan dalam menyejahterakan masyarakat. Adapun indikator yang menyangkut revitalisasi tradisi lisan antara lain: 1. Kesadaran untuk menanamkan cara hidup berdasarkan norma-norma dan nilai-nilai budaya lokal dalam memperkokoh jadi diri masyarakat lokal. 2. Menumbuhkan kesadaran akan strategisnya kekuatan kearifan lokal dalam menghadapi derasnya arus globalisasi. 3. Membangkitkan kembali atau pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan peran dari lembaga adat. 4. Memulihkan dan membangkitkan kembali ingatan dan kesadaran kolektif masyarakat lokal sehingga tidak tercabut dari akarnya. 5. Dorongan untuk menata ulang pengalaman kultural dan memberikan arah pada perkembangan budaya lokal.
  55. 55. 29 2.3 Landasan Teori Pada hakikatnya, teori merupakan seperangkat konsep, defenisi dan preposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan suatu fenomena atas realitas sosial. Teori digunakan baik untuk menggambarkan yang seharusnya maupun menjelaskan yang senyatanya secara empirik (Cooper and Schindler, 2003, Sugiyono, 2009:41). Untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi sebagai yang berlaku dalam kenyataan, teori harus melaksanakan fungsi ganda. Pertama, menjelaskan fakta yang sudah diketahui, dan kedua; membuka celah pandangan baru untuk menemukan fakta baru pula. Bila kejadian yang sama ditafsirkan dalam konteks teoritik berbeda, akan muncul jenis-jenis fakta yang berlainan pula (Kaplan, 2002:15). Dengan demikian, diperlukan beberapa teori yang relevan dan dipergunakan dalam penelitian ini dalam menjelaskan kenyataan empirik tersebut, antara lain (1) teori hegemoni yang difokuskan pada pengaruh globalisasi terhadap tradisi lisan kantola, (2) teori resepsi, penerima/penyambut ataupun masyarakat dalam hal pemaksaan dan penilaian suatu karya sastra. (3) Teori Dekontruksi, Dekonstruksi tentunya diikuti oleh penyusunan kembali (rekontruksi) atau menata kembali struktur-struktur yang telah didekonstruksi. (4) Teori Semiotika, berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia.
  56. 56. 30 2.3.1 Teori Hegemoni Masyarakat Muna adalah salah satu etnis besar yang termaginalisasi dari segi tradisi, yang diakibatkan oleh modernisasi. Proses pengikisan tradisi lisan secara perlahan yang melupakan identitas individu dan budaya-budaya lokal, sehingga berdampak pada kecenderungan sikap masyarakat yang konsumerisme. Hal ini bisa berdampak dengan semakin dilupakannya nilai-nilai budaya lokal. Pudarnya sebuah tradisi atau kebudayaan lisan disebabkan masyarakat menganggap tradisi lisan adalah sesuatu yang kuno atau bagian dari masa lalu. Oleh karena itu, problematika kehidupan masyarakat Muna dapat dikaji dengan menerapkan teori hegemoni Wacana hegemoni yang dapat diterapkan untuk menelaah masalah mengapa mulai ditinggalkannya tradisi lisan kantola dalam masyarakat Muna adalah analisis wacana hegemoni dari Foucault dan Gramsci. Analisis geneologi Foucault tentang formasi diskursif mengetengahkan antara hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan, sebaliknya tidak ada pengetahuan tanpa ada kekuasaan yang mendukungnya (Foucault, 1977). Selanjutnya Foucault menawarkan tiga konsep pendisiplinan, yaitu (1) ilmu-ilmu pengetahuan yang menempatkan subjek sebagai objek penyelidikan; (2) praktikpraktik pemisahan yang memilah antara yang waras dengan yang gila, antara yang kriminal dengan warga yang taat hukum, dan antara kawan dengan lawan; (3) teknologi-teknologi tentang diri yang digunakan individu untuk mengubah diri mereka menjadi subjek (Barker, 2004: 107). Sesuai dengan formasi diskursif dan
  57. 57. 31 praktik-praktik pemisahan yang dikemukan Foucault tersebut, masyarakat Muna diwacanakan sebagai lawan yang harus ditaklukkan oleh pihak lain. Menurut Simon (1999: 19) secara esensial hegemoni bukan merupakan hubungan dominasi inherent dengan menggunakan kekuasaan, melainkan terjadi kesepahaman dengan penggunaan kepemimpinan politik dan ideologi, sehingga hegemoni merupakan organisasi konsensus. Dalam hegemoni kontrol sosial dilakukan dengan cara membentuk keyakinan ke dalam. Namun demikian, yang berlaku adalah supremasi kelompok dalam hegemoni yang diperoleh bukan atas penindasan tetapi melalui konsensus menggiring cara pandang orang dalam menyikapi problematik sesuai dengan cara pandang kelas sosial yang menaklukkannya. Hegemoni adalah sebuah rantai kemenangan yang dapat muncul melalui mekanisme konsensus daripada melalui penindasan terhadap kelompok sosial lainnya, yakni melalui institusi yang ada dalam masyarakat yang menentukan secara langsung atau tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyarakat (Hendarto, 1993: 35). Itulah sebabnya hegemoni menurut Gramsci pada hakikatnya adalah upaya untuk menggiring orang menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan. Melalui hegemoni, cara pandang dan keyakinan masyarakat akan dipengaruhi sehingga kehilangan kesadaran kritis mereka terhadap sistem yang ada. Hal ini berimplikasi bahwa seolah-olah kelompok penguasa memberikan kebebasan bagi kelompok yang tertindas dalam berekspresi. Namun, sesungguhnya hal itu adalah strategi yang diterapkan kelompok penguasa sehingga tidak terlihat adanya tekanan bagi kaum
  58. 58. 32 tertindas. Hegemoni merupakan suatu tatanan atau cara hidup dan pemikiran kelompok tertentu menjadi dominan, yakni suatu konsep realitas yang disebarkan ke seluruh masyarakat dalam seluruh kelembagaan dan kehidupan pribadinya yang mempengaruhi seluruh cita rasa, moralitas, kebiasaan, prinsip, agama dan politik, serta seluruh hubungan sosial terutama dalam pengertian intelektual dan moral (Fakih, 2000). Dalam konteks konsensus, Gramsci mengajukan tiga kategori konformitas/ penyesuaian bagi masyarakat yang tidak mampu beroposisi, yaitu (1) orang akan menyesuaikan diri mungkin karena takut akan konsekuensi-konsekuensi bila tidak menyesuaikannya; (2) orang menyesuaikan diri mungkin karena terbiasa mengikuti tujuan-tujuan tertentu; (3) konformitas yang muncul dari tingkahlaku yang mempunyai tingkatan-tingkatan kesadaran dan persetujuan dengan unsurunsur tertentu dalam masyarakat (Hendarto, 1993: 36). Dalam konteks ini hegemoni terus-menerus diperbaharui. diciptakan dipertahankan dan dimodifikasi. Hegemoni juga ditantang, dibatasi, diubah, dan dihadang oleh tekanan dari luar, sehingga hegemoni selalu peka terhadap alternatif. Upaya revitalisasi tradisi lisan dalam masyarakat Muna adalah bagian dari perlawanan terhadap hegemonik yang sedang dialami oleh masyarakat Muna. Teori di atas, digunakan untuk menganalisis permasalahan kedua dalam penelitian ini yakni tentang fungsi revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi, juga model rekonstruksi tradisi lisan kantola sebagai kekayaan budaya masyarakat tersebut. Faktor penunjang dan penghambat tersebut dicurigai berasal dari dalam masyarakat Muna itu sendiri dan
  59. 59. 33 ada yang berasal dari luar masyarakat, seperti pemerintah daerah dan pihak-pihak lain. Begitu pula dengan kemungkinan merekonstruksi tradisi lisan kantola sebagai strategi dalam mengembangkan identitas tidak terlepas dari peranan masyarakat, khususnya masyarakat Muna dan juga adanya campur tangan pemerintah daerah. Sebab menurut Wibowo (2000: 45), pemerintah daerah dan masyarakat saling berinteraksi. Mengacu pada teori hegemoni di atas, dengan mulai ditinggalkanya nilainilai tradisi lisan kantola yang diakibatkan oleh pengaruh budaya global terhadap perkembangan budaya masyarakat Muna. Budaya global memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan budaya lokal, dalam hal ini tradisi lisan kantola yang merupakan identitas masyarakat lokal Muna. Namun seiring dengan gencarnya budaya global mempengaruhi keberadaan tradisi lisan dan identitas masyarakat Muna. Budaya global dengan kekuasaan kapitalisme dan hegemoni kultural melalui media terus mengancam keberadaan budaya lokal ini. 2.3.2 Teori Dekonstruksi Pada penelitian ini digunakan juga teori Dekonstruksi Derrida untuk membedah makna revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. Upaya konstruksi yang dilakukan oleh masyarakat Muna atas penolakan oposisi biner di mana telah dilekatkan kepada mereka selama ini, terutama yang berkaitan dengan keberadaan tradisi lisan kantola. Derrida memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma modernisme dan senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya. Dalam hal ini dekonstruksi hendak memunculkan dimensi-dimensi
  60. 60. 34 yang tertindas di bawah totalitas modernisme (Padje, 2007: 97). Dekonstruksi menolak otoritas sentral dalam pemaknaan budaya. Oleh karena makna budaya tidak harus tunggal, tetapi dapat bersifat terbuka pada makna lainnya. Disamping itu dekonstruksi juga menolak segala bentuk asumsi yang membelenggu. Teori dekonstruksi dikemukakan oleh Derrida sebagai sebuah usaha untuk menolak logosentrisme atau metafisika yang melahirkan oposisi biner (Lubis, 2006: 121; Al Fayyadl, 2006: 8). Dalam oposisi biner terdapat satu unsur yang mendominasi unsur lainnya dan pada akhirnya menimbulkan kesenjangan, sehingga kehadiran dekonstruksi memberi arti pada kelompok yang lemah atau minoritas. Menurut Ratna (2005: 252), dalam dekonstruksi dilakukan semacam pembongkaran. Tujuan akhir yang hendak dicapai adalah penyusunan kembali ke dalam tataran yang lebih signifikan, sesuai dengan hakikat objek sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Lebih lanjut Ratna (2006:37) mangatakan bahwa keberadaan teori Dekonstruksi adalah untuk membongkar, merakit ulang oposisi biner dan kekuatan-kekuatan sosial lainnya. Jadi, dekonstruksi mengandung arti mengurangi, membongkar secara keseluruhan atau sebagian suatu susunan dan struktur yang dibangun bersama hingga intensitasnya berkurang. Agar dekonstruksi dapat menciptakan dinamika, kreativitas serta produktivitas tafsir, maka tentunya diperlukan perlakuan baru terhadap sesuatu yang hendak didekonstruksi tersebut. Dekonstruksi tentunya diikuti oleh penyusunan kembali atau menata kembali struktur-struktur yang telah didekonstruksi.
  61. 61. 35 Penggunaan teori dekonstruksi dalam penelitian ini untuk mengungkap proses dekontruksi dalam arti proses pembebasan dari modernitas yang dianggap represif dan proses pembentukan kontruksi postmodernitas yang dilakukan tradisi lisan kantola. Dalam hal ini membongkar dan menafsir kembali hal-hal yang berhubungan dengan tradisi lisan kantola yang selama ini telah dicirikan sebelumnya akan melahirkan makna baru terhadap keberadaan tradisi lisan itu sendiri. Sebagaimana telah diutarakan di atas, teori dekonstruksi dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkapkan proses dekonstruksi dalam arti proses pembebasan dari modernitas yang dianggap represif dan proses pembentukan konstruksi postmodernitas sebagai konstruksi baru yang dilakukan tradisi lisan kantola. Pembebasan terhadap modernitas akan mengacu kepada pembebasan atas hegemoni, sedangkan pembentukan konstruksi postmodernitas akan mengacu pada konstruksi budaya, sosial, politik, estetika, dan seni pertunjukan yang baru atau postmodern. Hal ini sesuai dengan cara kerja dekonstruksi yang dikenal dengan “membongkar”, selanjutnya pembongkaran tersebut diikuti oleh pembangunan kembali (Ratna, 2005: 26). 2.3.3 Teori Semiotika Cassier membedakan antara tanda (sign) dengan simbol. Tanda adalah bagian “dunia fisik” yang berfungsi sebagai operator yang memiliki substansial. Sementara simbol tidak memiliki kenyataan fisik atau substansial, tetapi hanya memiliki nilai fungsional (Triguna, 2000: 8). Menafsirkan sarana tanda sebagai suatu tanda dalam penelitian ini akan
  62. 62. 36 digunakan teori semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya, apa manfaatnya terhadap kehidupan manusia (Cobley dan Jans dalam Ratna, 2004: 71) sebagai ilmu tanda, semiotika sosial mesti dipahami dengan konteks dimana tanda-tanda tersebut difungsikan. Pendekatan semiotik atau semiologi didasarkan pada asumsi bahwa tindakan manusia atau hal yang dihasilkannya menunjukan makna asalkan tindakan tersebut berfungsi sebagai tanda, tentu ada sistem konvensi dan pembedaan yang mendasarinya dan yang memungkinkan adanya makna tersebut. Dimana ada tanda disitulah ada sistem. Hal inilah yang sama-sama ada dalam berbagai kegiatan yang menjadi penanda (Culler, 1996: 74). Menurut Levi Straus untuk menganalisis fenomena yang menjadi penanda, meneliti tindakan atau objek yang membawa makna, seorang peneliti harus mendalilkan (mengandaikan) adanya sistem hubungan yang mendasari hal yang ditelitinya, dan harus mencoba melihat apakah makna unsur atau objek individual, bukan merupakan akibat dari kontrasnya dengan unsur dan objek lain dalam suatu sistem hubungan yang tidak disadari adanya oleh anggota suatu budaya. Makna yang diberikan kepada objek atau tindakan oleh para anggota suatu budaya bukanlah fenomena yang benar-benar acak, pasti ada sistem pembedaan, penggolongan yang merupakan semiologi, pasti ada kaidah penggabungan yang dapat digambarkan. Jadi yang dapat dimasukan kedalam semiologi adalah suatu bidang kajian yang amat luas. Segala ranah kegiatan manusia, apakah itu musik, arsitektur memasak, etiket, periklanan, mode dan sastra dapat dikaji (dibedakan) menurut pendekatan semiologi. Meskipun kebanyakan objek dan kegiatan
  63. 63. 37 masyarakat adalah tanda, objek dan kegiatan tersebut bukanlah tanda yang jenisnya sama. Untuk membedakan antara jenis-jenis tanda yang berbeda perlu dikaji dengan cara yang berbeda. Ada tiga golongan tanda yang mendasar dan (yang kadang-kadang secara keliru disebut ‘simbol’). Semua tanda terdiri atas suatu penanda (signifier) dan petanda (konsep atau singnifified), yakni bentuk dengan makna atau makna-makna terkait. Hubungan antara penanda dan konsep (ditanda) akan berbeda bagi masing-masing dari ketiga jenis tanda ini (Culler, 1996: 80-83). Sebagai suatu ilmu, semiotika memiliki jangkauan yang relatif luas. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sobur (2003: V, XIX) ada tiga aliran pemikiran yang terdapat dalam semiotika, (1) Semiotika segnifikasi, (2) Semotika Komunikasi, (3) Semiotika exstra-komunikasi. Semiotika signifikasi merupakan suatu aliran semiotika yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure beserta pengikutnya. Semiotika komunikasi yang dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce beserta pengikutnya. Sedangkan semiotika extra-komunikasi merupakan aliran pemikiran baru dalam semiotika yang melampaui kontraversi antar dua semiotika tersebut diatas, merupakan kritik maupun pengembangan terhadap semiotika signifikasi. Hubungan dengan permasalahan penelitian ini, semiotika signifikasi relevan untuk digunakan, semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saususure, menempatkan bahasa sebagai suatu sistem tanda yang mengungkapkan ide-ide dan dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad, tuna rungu, bentuk sopan santun, isyarat militer, dan seterusnya (Krampen, 1996: 56).
  64. 64. 38 Semiotika signifikasi pada lingkup penanda tersebut terkait dengan permasalahan penelitian ini, khususnya tentang tradisi lisan kantola. Pada tradisi lisan kantola dapat dipandang sebagai salah satu formulasi atau ragam budaya, yaitu sebagai simbol, ungkapan ataupun pribahasa. Dengan demikian tradisi lisan kantola dapat dikatakan sebagai salah satu objek semiotika dalam lingkup penanda. Dalam kaitan ini, pendekatan semiotika terhadap tradisi lisan kantola meliputi analisis penanda, untuk mengindentifikasi pelibat tradisi lisan kantola¸ petanda untuk memahami isi dari pelibat tradisi lisan kantola tersebut. Kenyataan yang ada dalam tradisi lisan kantola sebagai elemen daya tarik, untuk digunakan sebagai bentuk estetis yang indah pada saat tradisi lisan kantola terjadi. Keadaan seperti ini merefleksikan terjadinya komunikasi yang terintegrasi sebagai kesatuan emosi. Penyampaian lirik kantola diungkapkan tidak secara lugas, tetapi dikiaskan melalui simbol-simbol. Disini juga kelihatan bahwa peserta pertunjukan tradisi lisan kantola mempunyai kemampuan intpretatif dan menguasai keahlian yang formulaik. Sebagaimana diungkapkan di atas, teori ini digunakan untuk menganalisis permasalahan pertama dalam penelitian ini yakni tentang bentuk revitalisasi tradisi lisan kantola masyarakat Muna Propinsi Sulawesi Tenggara pada era globalisasi. 2.3.3 Teori Resepsi Karya sastra sangat erat kaitannya dengan penerima/penyambut. Karya sastra ditujukan untuk penerima dan kepentingan masyarakat
  65. 65. 39 penerima/penyambut. Karya sastra tidak mempunyai nilai tanpa ada penerima/penyambut yang menilainya karena penerima/penyambutlah yang menentukan makna dan nilai suatu karya sastra (Teeuw dalam Pradopo, 2007: 207). Teori resepsi melokasikan penikmat ke dalam posisi yang memegang peranan penting. Tanpa peran serta audiens, seperti pendengar, penikmat, penonton, pemirsa, penerjemah, dan para pengguna lainnya. Khususnya penerima/ penyambut itu sendiri, maka keseluruhan aspek-aspek kultural yang terdapat dalam suatu karya sastra akan kehilangan maknanya. Peranan penerima/penyambut sangat penting walaupun penerima/penyambut sama sekali tidak memiliki relevansi dalam kaitannya dengan proses kreatif penciptaan suatu karya sastra (Ratna, 2006: 165) Selanjutnya Ratna mengemukakan bahwa teori resepsi diartikan sebagai penerimaan, penyambutan, tanggapan, reaksi, dan sikap penerima/penyambut sehingga dapat memberikan tanggapan terhadap suatu karya sastra. Tanggapan yang dimaksudkan tidak dilakukan antara karya dengan seorang penerima/penyambut, melainkan penerima/penyambut sebagai proses sejarah, penerima/penyambut dalam periode tertentu. Dalam hubungan inilah teori resepsi dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a) resepsi secara sinkronis, meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan penerima/penyambut sezaman, dan b) resepsi secara diakronis, penelitian dalam kaitannya dengan penerima/penyambut sepanjang sejarah. Pada dasarnya, model resepsi diakronis dapat memberikan pemahaman yang signifikan, dengan pertimbangan, khususnya dalam kaitannya dengan studi

×