BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak
pernah berhenti. Bany...
tersebut, tujuan pendidikan nasional telah merumuskan ke dalam rencana
strategis berupa visi, misi, tujuan dan sasaran, st...
pendidikan nasional yang perlu ditangani secara komprehensif, sistematis dan
berkelanjutan. Dalam hal mutu misalnya, terja...
”. Definisi sesungguhnya dari kata manajemen ternyata banyak, tergantung
pada persepsi masing-masing ahli. Namun,terdapat ...
dan bagaimana aja tanpa ada hambatan. Teori ini juga dikenal dengan
tabulrasa.
Seorang anak yang baru lahir tidak memiliki...
pendidikan. Selain itu, pemangku kepentingan (stakeholder) juga mempunyai
pengaruh yang besar terhadap proses penyelenggar...
dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk
peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan ...
2. Apakah hambatan yang dihadapi Komite dalam mengembangkan mutu
pendidikan MTs Subulussalam di Kabupaten Muna?
3. Bagaima...
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Strategi Pengembangan MTs Subulussalam
MTs Subulussalam perlu dikembangkan dari sifat “reaktif” ...
Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan; 3) Pengembangan sistem dan
manajemen pendidikan; 4) Pemberdayaan MTs Subulussal...
Pertama, Pengembangan Kurikulum sesuai jenis Madrasah, yang
meliputi : (a) pengembangan kurikulum Madrasah Tsanawiyah yang...
kemampuan sebagai berikut : (a) berkembangnya prakarsa dan
kemampuan-kemampuan kreatif dalam mengelola pendidikan, tetapi
...
perkembangan masyarakat; (b) mengembangkan sistem organisasi
kelembagaan pendidikan yang profesional, efektif dan efisien;...
konsep wacana, tetapi lebih pada praktik dilapangan. Selama ini dalam
realitasnya
pelibatan masyarakat dalam pendidikan le...
Komite madrasah berkedudukan disatuan pendidikan, baik sekolah maupun
luar sekolah. Komite madrasah dapat mewadahi satuan ...
Komite madrasah merupakan suatu badan yang mandiri dan
berkedudukan disatuan pendidikan, tidak mempunyai hubungan hierarki...
lembaga pendidikan Muhammadiyah, Al Azhar, Al Izhar, Sekolah Katholik,
Sekolah Kristen.
Sedangkan mengenai sifatnya Komite...
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tujuan dibentuknya suatu Komite
madrasah adalah untuk mewadahi partisipasi pada s...
Pendukung (supporting agency) baik yang berwujud pemikiran, finansial,
maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di s...
6) Hal-hal yang terkait dengan pendidikan
Mendorong orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mendukung
peningka...
Ketua, Sekertaris, bendahara dan bidang-bidang tertentu.
Pengurus dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis
Ketua bu...
h. Pembentukan Komite madrasah
Pembentukan Komite madrasah harus dilakukan secara transparan, akuntabel
dan demokratis. Di...
menerima, memahami dan mau menjalankan keputusan yang telah ditetapkan
bersama.
Allah menegaskan dalam surat Ali Imran aya...
B. Implementasi Strategi Pengembangan Madrasah
Berdasarkan kerangka strategis pengembangan madrasah sebagaimana
di atas, m...
tujuan, tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan dengan
langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh.
Pengertian...
disebabkan oleh proses kematangan, tetapi terjadi karena belajar dapat berupa
kebiasaan, kecakapan atau dalam aspek kognit...
g. Konsentrasi, hubungan antar mata pelajaran dapat diperluas dan
difokuskan kepada salah satu minat siswa sehingga siswa ...
peran pendidikan sebagai salah satu wadah yang meberikan transformasi
pengetahuan yang didalamnya terdapat unsur proses be...
Dukungan kelas berfungsi mensingkronkan berbagai input tersebut atau
mensinergikan semua komponen
dalam interaksi (proses)...
Dr. Edward deming mengembangkan 14 prinsip yang mengambarkan
apa yang dibutuhkan sekolah/madrasah untuk mengembangkan buda...
menghilangkan hambatan yang menghalangi orang mencapai keberhasilan
dalam menjalankan keberhasilan 10) Menciptakan budaya ...
rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan
kreativitas dan bertanggung jawab, dapat menyuburkan si...
Dengan demikian untuk meningkatkan SDM yang bermutu melalui
pendidikan, harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah se...
"Pemimpin (kepala negara) adalah pihak yang berkewajiban memelihara
urusan rakyat dan dia bertanggung jawab atas urusan ra...
keimanan dan keislaman. Hal itu bisa tercapai bila para pelajar dibina
dengan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh.
Para...
[23]: 1-4)"Dan hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah)
orangorang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati, d...
Hadis di atas memberitahukan pada umat Islam bahwa teori
pendidikan Islam beserta penerapannya harus mampu mencetak
genera...
berulang tentang masalah keislaman pada para pelajar agar membekas dalam
pikiran dan hatinya.
Dalam mengajarkan pelajaran ...
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian
1. Waktu dan tempat Penlitian
Rencana penelitian ini akan dilaksanaka...
1. Sumber data penelitian diperoleh dari guru dan siswa Mts. Selain itu,
bersumber dari dokumen-dokumen yang dipandang pen...
Peluang yang bisa diraih adalah pada kenyataanya MTs Subulussalam di
Kabupaten Muna dapat bersaing dengan Madrasah lain. C...
BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Strategi pengembangan MTs Subulus...
program, c) Membentuk jadwal piket anggota komite untuk selalu hadir di
kantor komite MTs Subulussalam secara bergantian s...
DAFTAR PUSTAKA
Ade Irawan, dkk. 2004. Mendagangkan sekolah, Indonesia Corruption watch
Jakarta.
Abdul Qaadir Haamid, Tijan...
STRATEGI PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN MTS SUBULUSSALAM
DI KABUPATEN MUNA

Proposal Tesis ini dinyatakan disetujui

Kendari...
STRATEGI PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN
MADRASAH TSANAWIYAH SUBULUSSALAM DI
KABUPATEN MUNA

PROPOSAL TESIS

Di Ajukan Oleh:
...
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehdirat Allah SWT yang
telah melimpahkan taufiq dan...
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………….............. i
Daftar Isi……………………………………………………………....................... ...
B.

. Implementasi Strategi Pengembangan Madrasah………………………… 24

C.

Proses Belajar Mengajar……………………………………………………. 24

D.

M...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Tesis

751 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
751
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
20
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tesis

  1. 1. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti. Banyak agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan, beragam program inovatif ikut serta memeriahkan reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan bisa diartikan dengan restrukturisasi pendidikan, yaitu memperbaiki secara menyeluruh pola hubungan sekolah dengan lingkungan masyarakat, orang tua, peserta didik dan pemerintah. Disamping itu terdapat juga pengembangan pola rencana strategis sekolah, pengembangan manajerialnya, pemberdayaan guru, stakeholders dan restrukturisasi model-model pembelajaran. Seringkali pendidikan menjadi fokus perhatian dan sasaran ketidak puasan. Hal ini terjadi karena pendidikan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam pembangunan bangsa yang menyangkut hajat semua orang. Karena itu pendidikan perlu perbaikan dan peningkatan sehingga relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Berarti sekolah sebagai organisasi yang dirancang untuk berkontribusi terhadap peningkatan mutu perlu adanya sebuah hubungan kerjasama dalam ruang lingkup interen sekolah dan pemberdayaan masyarakat, sebab pada dasarnya kekuatan akselerasi peningkatan mutu akan tercapai jika dibangun bersama dalam sebuah organisasi dan peran serta masyarakat (stakeholders). Pendidikan nasional bertujuan mengantarkan bangsa Indonesia yang maju, cerdas, dan berbudaya untuk mencapai masyarakat madani (civil society) memasuki tataran peraturan masyarakat dunia. Dalam menjawab tantangan
  2. 2. tersebut, tujuan pendidikan nasional telah merumuskan ke dalam rencana strategis berupa visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi pencapaian beserta implementasinya. Misi jangka panjang Pendidikan Nasional adalah melakukan pembudayaan dan pemberdayaan sistem. Iklim dan proses pendidikan nasional yang demokratis dan mengutamakan mutu dalam perspektif nasional maupun global. Inilah yang menjadi framework dari keseluruhan upaya penyelenggaraan pendidikan nasional. Secara Implementatif, hal ini dijabarkan dalam rencana jangka pendek pendidikan nasional yang antara lain mengemban misi untuk mengembangkan pendidikan sesuai azas desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah. Secara faktual, out put pendidikan menghadapi tantangan yang luar biasa berat terutama dalam hal kemampuan dan daya saing dengan out put pendidikan dari luar. Menurut laporan Unesco, pada tahun 2003, posisi Human Development Index Indonesia - yakni komposisi peringkat pencapaian dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala berada di peringkat 112 dari 175 negara. Keadaan ini telah menyebabkan Indonesia tertinggal dari Vietnam yang menempati posisi ke 109, dimana posisi itu pernah ditempati Indonesia pada tahun 2000. Rendahnya HDI juga menunjukkan rendahnya daya saing bangsa dalam percaturan global. Menurut The World Economic Forum (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu urutan ke 37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Menyadari hal tersebut dan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana dikemukakan diatas, pemerintah bersungguh-sungguh menetapkan empat masalah pokok pendidikan yaitu pemerataan, mutu, relevansi, dan efisiensi (manajemen) pendidikan sebagai agenda kebijakan
  3. 3. pendidikan nasional yang perlu ditangani secara komprehensif, sistematis dan berkelanjutan. Dalam hal mutu misalnya, terjadi disparitas mutu pendidikan yang tajam di berbagai jenjang dan jenis pendidikan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya. Dalam rangka merespon beberapa problematika dalam bidang pendidikan yang terimplikasi dari kebijakan pemerintah tentang diberlakukanya otonomi daerah, maka pada tanggal 2 April 2002 pemerintah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No.014/U/2002 melakukan reformasi pada tingkat sekolah. Melalui keputusan menteri tersebut dinyatakan, bahwa badan pembantu penyelenggara pendidikan (BP3) tidak berlaku lagi. Sebagai gantinya wadah ini diberi nama “Komite Sekolah”, atas dasar prakarsa masyarakat, satuan pendidikan, dan pemerintah kabupaten/kota (Syaiful Sagala, 2009:240) Sehubungan dengan Manajemen, bukan sekedar proses melakukan sesuatu, melainkan sebagai seni.Mary Parker Follet (dalam Sule dan Saefullah, 2010:5) menegaskan bahwa“ manajemen is the art of getting things done through people. ” Artinya, manajemen adalah seni menyelesaikan sesuatu melalui orang lain. Manajemen sebagai prosesataupun seni senantiasa terarah pada suatu tujuan yang hendak dicapai dan melaluitahapan-tahapan yang pasti, yakni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Nickels dkk. (dalam Sule danSaefullah, 2010:6). Mereka menyebutkan pengertian manajemen sebagai “ the processused to accomplish organizational goals through planning, organizing, directing, and controlling people and other organizational goals
  4. 4. ”. Definisi sesungguhnya dari kata manajemen ternyata banyak, tergantung pada persepsi masing-masing ahli. Namun,terdapat salah satu definisi klasik tentang manajemen yang dirumuskan oleh GeorgeTerry (dalam Indrajit dan Djokopranoto, 2011:315), yakni “ management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, and controlling, performed todetermine and accomplish stated objetctives by the use of human beings and other resources. Dalam dunia pendidikan perlu dipahami dengan landasan-landasan antara lain: Landasan filosofi Landasan filosofi pendidikan adalah asumsi filosofi yang dijadikan titik tolak dalam rangka studi dan pendidikan, sebagai mana telah dipahami dalam pendidikan mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Melalui studi pendidikan antara lain kita akan memperoleh pemahaman tentang landasan-landasan pendidikan, yang akan dijadikan titik tolak praktek pendidikan. Dengan demikian, landasanfilosofispendidikan sebagai hasil studi pendidikan tersebut dapat dijadikan titik tolak dalam rangka studi pendidikan yang bersifat filsafiah, yaitu pendekatan yang lebih komprehensif, spekulatif, dan normatif. Landasan Empirisme Landasan empirisme beranggapan bahwa pengaruh eksternal penting dalam perkembangan manusia. Dalam landasan ini, tidak ada bakat turunan dari anak yang baru lahir. Semuanya ditentukan oleh lingkungannya. Seorang bayi seperti sebuah kertas kosong. Jadi, terserah dari pendidik untuk mengisinya dengan apa saja. Kertas kosong ini bisa ditulis dengan apa saja
  5. 5. dan bagaimana aja tanpa ada hambatan. Teori ini juga dikenal dengan tabulrasa. Seorang anak yang baru lahir tidak memiliki bakat apapun dari Tuhan. Anak dianggap sebuah kertas atau wadah kosong, yang bisa diisi dengan apapun oleh siapapun. Orang dewasa di sekitar dan lingkungan yang berperan sebagai pembentuk dan pendidik anak tersebut. Untuk itu, aliran ini juga disebut dengan enviromentalisme. Lingkungan yang baik akan mendukung anak menjadi baik. Seorang anak yang tinggal di lingkungan pedagang, akan mahir menjadi pedagang. Sementara itu, anak yang tinggal di lingkungan preman, akan cenderung bertindak kejahatan juga. Jadi, anak belajar lewat penerimaan tanpa penyangkalan apapun dari lingkungannya. Menyikapi landasan pendidikan,seorang pendidik harus memahami bahwa peserta didik merupakan manusia. Manusia merupakan makhluk dan bukan mesin mekanik. Untuk itu, sifat antara satu dan lain akan berbeda terhadap suatu hal. Ilmu tertentu memang mampu mengelompokkan beberapa sifat besar dari manusia. Namun tidak ada manusia yang identik antara satu dan lainnya. Untuk itu, tugas pendidik bisa dibilang lebih rumit lagi. Berdasarkan landasan pendidikan tersebut, ada elemen-elemen yang harus dipenuhi agar pendidikan berhasil. Peserta didik harus diberi lingkungan yang merangsang dirinya untuk belajar. Pendidik juga harus memiliki kemampuan untuk memberi fasilitas sesuai bakat siswa. Madrasah adalah sebuah pranata sosial yang bersistem, terdiri atas komponenkomponen yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Komponen utama sekolah adalah siswa, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, kurikulum, serta fasilitas
  6. 6. pendidikan. Selain itu, pemangku kepentingan (stakeholder) juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap proses penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini orang tua dan masyarakat merupakan pemangku kepentingan yang harus dapat bekerja sama secara sinergis dengan sekolah. Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga indikator yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Akan tetapi dalam kenyataanya, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi. Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan, padahal proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan. Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratiksentralistik sehingga menempatkan madrasah sebagai penyelenggaraan pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Sekolah/madrasah lebih menjadi subordinasi dari birokrasi diatasnya sehingga mereka kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreativitas
  7. 7. dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional. Faktor ketiga, peran serta warga madrasah khususnya guru dan peran serta masyarakat, orangtua siswa pada umumnya, dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering diabaikan, padahal terjadi atau tidaknya perubahan di madrasah sangat tergantung pada guru. Dikenalkan pembaharuan apapun jika guru tidak berubah, maka tidak akan terjadi perubahan di madrasah tersebut. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya sebatas pada dukungan dana, sedang dukungan-dukungan lain seperti pemikiran, moral, dan barang/jasa kurang diperhatikan. Akuntabilitas madrasah terhadap masyarakat juga lemah. Madrasah tidak mempunyai beban untuk bertanggung jawab atas hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, sebagai salah satu unsur utama yang berkepentingan dengan pendidikan. Memperhatikan pernyataan tersebut di atas, MTs Subulussalam Ghonsume Raha sebagai salah satu lembaga pendidikan madrsah yang berada dibawah naungan Departemen Agama (Depag) telah merealisasikan dan mengoptimalkan strategi dalam proses belajar mengajar dalam mengembangkan mutu pendidikan. Maka dengan keadaan seperti itu, mendorong penulis ingin membahas tentang “Strategi Pengembangan Mutu Pendidikan Mts Subulussalam di Kabupaten Muna” B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah Strategi pengembangan mutu pendidikan di MTs Subulussalam di Kabupaten Muna?
  8. 8. 2. Apakah hambatan yang dihadapi Komite dalam mengembangkan mutu pendidikan MTs Subulussalam di Kabupaten Muna? 3. Bagaimana upaya yang dilakukan Komite Madrasah pada proses belajar mengajar dan pengembangan mutu pendidikan di Mts Subulussalam di Kabupaten Muna? C. Tujuan Penulisan Sesuai dengan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mendiskripsikan Strategi mengembangkan Mutu Pendidikan Mts Subulussalam di Kabupaten Muna. D. Manfaat Penulisan Dengan tulisan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan yang positif, sehingga dapat digunakan sebagai acuan dan evaluasi untuk instansi pendidikan Mts Subulussalam di Kabupaten Muna. Disamping sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi kepala sekolah juga untuk menanggulangi masalah yang berhubungan dengan pengembangan mutu dalam proses belajar mengajar.
  9. 9. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Strategi Pengembangan MTs Subulussalam MTs Subulussalam perlu dikembangkan dari sifat “reaktif” dan proaktif terhadap perkembangan masyarakat sekitar menjadi rekonstruksionistik- sosial. Menjadi rekonsionistik berarti pendidikan madrasah perlu aktif ikut memberi corak dan arah terhadap perkembangan masyarakat yang dicitacitakan. Untuk memiliki kemandirian menjangkau keunggulan, filosofi ini perlu dijabarkan dalam strategi pengembangan pendidikan madrasah yang visioner, lebih memberi nilai tambah stategis, dan lebih meningkatkan harkat dan martabat manusia. Strategi pengembangan pendidikan Madrasah Tsanawiyah Subulussalam dirancang agar mampu menjangkau alternatif jangka panjang, mampu menghasilkan perubahan yang signifikan, ke arah perncapaian visi dan misi MTs Subulussalam di Kabupaten Muna, sehingga akan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif terhadap Madrasah Tsanawiyah lainnya, khususnya di daerah Kabupaten Muna. Pengembangan madrasah, di satu pihak, tidak boleh apriori terhadap trend pendidikan yang dibawa oleh proses globalisasi, internasionalisasi dan universalisasi, seperti komputerisasi, vokasionalisasi dan ekonomisasi. Tetapi di fihak lain, pengembangan madrasah harus tetap tegar dengan karakteristik khas yang dimilikinya sebagai bumper kehidupan masyarakat dari persoalanpersoalan moral dan spritual. Strategi Pengembangan Madrasah Strategi pengembangan MTs Subulussalam dilakukan dengan 5 strategi pokok, yaitu: 1) Peningkatan layanan pendidikan di MTs Subulussalam; 2)
  10. 10. Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan; 3) Pengembangan sistem dan manajemen pendidikan; 4) Pemberdayaan MTs Subulussalam pada masyarakat sekitar. 5) Melalui komite Madrasah 1.Strategi peningkatan layanan pendidikan di madrasah Berusaha mengembangkan MTs Subulussalam pada situasi apapun, termasuk pada situasi ekonomi orangtua peserta didik yang paspasan dalam upaya mencegah peserta didik agar tidak putus sekolah. Indikator keberhasilannya adalah : (a) angka putus sekolah di MTs Subulussalam di Kabupaen Muna dapat diperkecil; (b) peserta didik yang kurang beruntung di usahakan mendapat BSM (Bantuan Siswa Miskin) (c) siswa yang telah terlanjur putus sekolah didorong kembali untuk mengikuti atau memperoleh layanan pendidikan sederajat dengan cara lain seperti kejar paket B di tempat lain.(d) PBM (Proses Belajar Mengajar) di MTs Subulussalam tetap berlangsung meskipun dana yang terbatas. Kebijakan utama yang perlu dilakukan adalah : (a) mengintegrasikan dana bantuan operasional anggaran rutin untuk menunjang kegiatan operasional pendidikan di MTs Subulussalam; (b) meningkatkan dan mengembangkan program pendidikan alternatif secara konseptual dan berkesinambungan terutam untuk sasaran peserta didik yang kurang beruntung; (c) meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan dan kemajuan MTs Subulussalam. 2. Strategi peningkatan mutu dan relevansi pendidikan di MTs Subulassalam Untuk meningkatkan mutu relevansi madrasah, meliputi 4 (empat) aspek: kurikulum, guru dan tenaga kependidikan lainnya, sarana pendidikan, serta kepemimpinan madrasah.
  11. 11. Pertama, Pengembangan Kurikulum sesuai jenis Madrasah, yang meliputi : (a) pengembangan kurikulum Madrasah Tsanawiyah yang dapat memberikan kemampuan dasar secara merata yang disertai dengan penguatan muatan lokal; (b) mengintegrasikan kemampuan generik dalam kurikulum yang memberikan kemampuan adaptif; (c) meningkatkan relevansi program pendidikan dengan tuntutan masyarakat dan dunia kerja; dan (d) mengembangkan budaya keteladanan di madrasah. Kedua, pembinaan profesi Tenaga Pendidik di MTs Subulussalam, yang meliputi: (a) memberikan kesempatan yang luas kepada Tenaga Pendidik di MTs Subulussalam untuk meningkatkan profesionalisme melalui pelatihan-pelatihan dan studi lanjut; (b) memberikan perlindungan hukum dan rasa aman kepada Tenaga Pendidik di MTs Subulussalam dalam melaksanakan tugasnya. Ketiga, pengadaan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pendidikan di MTs Subulussalam yang meliputi : (a) menjamin tersedianya buku pelajaran, buku teks, buku daras dan buku-buku lainnya, satu buku untuk setiap peserta duduk; (b) melangkapi kebutuhan ruang belajar, laboratorium, dan perpustakaan; (c) mengefektifkan pengelolaan dan pendayagunaan sarana dan prasarana pendidikanyang dikaitkan dengan sisten insentif; (d) menyediakan dana pemeliharaan yang memadai untuk pemeliharaannya; (e) mengembangkan lingkungan MTs Subulassalam sebagai pusat pembudayaan dan pembinaan peserta didik. 3. Strategi pengembangan manajemen pendidikan MTs Subulussalam. Strategi ini berkenaan dengan upaya mengembangkan sistem manajemen MTs Subulussalam sehingga memiliki kemampuan-
  12. 12. kemampuan sebagai berikut : (a) berkembangnya prakarsa dan kemampuan-kemampuan kreatif dalam mengelola pendidikan, tetapi tetap berada dalam bingkai visi, misi, serta tujuan; (b) berkembangnya organisasi pendidikan di madrasah yang lebih berorientasi profesionalisme, daripada hierarchi; dan (c) layanan pendidikan yang semakin cepat, terbuka, adil, dan merata. Kebijaksanaan program yang dilaksanakan meliputi : (a) revitalisasi peran, fungsi, dan tanggung jawab pendidikan madrasah; (b) mengembangkan sistem perencanaan regional dan lokal di tingkat satuan pendidikan; (c) meningkatkan partisipasi masyarakat melalui pembentukan majelis madrasah; (d) pemberdayaan personel madrasah yang didukung oleh aparat yang bersih dan berwibawa; (e) melakukan kajian pengembangan madrasah yang didasarkan pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dengan segala macam aturan perundangannya. 4. Strategi pemberdayaan MTs Subulussalam pada masyarakat sekitar. Strategi ini menekankan pada pemberdayaan MTs Subulussalam kepada masyarakat sebagai pusat pembelajaran, pendidikan, dan pembudayaannya. Indikator-indokator keberhasilannya adalah: (a) tersedianya program-program kerja kegiatan peserta didik yang bervariasi, yang diikat oleh visi, misi dan tujuan pendidikan MTs Subulussalam, dengan dukungan organisasi yang efektif dan efisien; (b) mutu dan sarana-prasarana madrasah yang semakin meningkat dan iklim pembelajaran yang semakin kondusif bagi peserta didik; dan (c) tingkat kemandirian MTs Subulussalam semakin tinggi. Kebijakan yang perlu ditempuh adalah : (a) melaksanakan telaah, kajian, dan “restrukturisasi madrasah” sesuai dengan tuntutan
  13. 13. perkembangan masyarakat; (b) mengembangkan sistem organisasi kelembagaan pendidikan yang profesional, efektif dan efisien; (c) standarisasi kelembagaan yang didukung oleh sarana dan prasarana minimal dan kualifikasi personel yang sesuai dengan bidang keahlian serta beban pekerjaannya. 5. Strategi PemberdayaanKomite Madrasah/ Sekolah a.Pengertian Komite Madrasah Dalam meningkatan mutu pendidikan dan efektivitas proses belajar mengajar diperlukan suatu kerjasama yang erat antara sekolahan, masyarakat,LSM dan orang tua. Hal ini penting, karena sekolah memerlukan partisipasimasyarakat secara universal dalam menyusun program yang relevan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dibentuklah suatu wadah yang menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat dalam bentuk Komite madrasah. Konsep Komite madrasah mulai digulirkan sejak 2 April 2002, dan mengacu pada undang undang SisDikNas no 23 tahun 2003 dan dijabarkan pada BAB XV pasal 541) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan 2) Masyarakat dapat berperan sebagai sumber pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. Keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah yang terkandung didalamnya memerlukan pemahaman berbagai pihak yang terkait, terutama menyangkut dimana posisi dan apa manfaatnya. Pelibatan masyarakat dalam pendidikan ini dirasa sangat diperlukan, dan sekarang diharapkan tidak hanya
  14. 14. konsep wacana, tetapi lebih pada praktik dilapangan. Selama ini dalam realitasnya pelibatan masyarakat dalam pendidikan lebih pada tataran konsep, wacana, atau slogan masih sangat jauh dari apa sangat diharapkan. Sedangkan dalam surat keputusan (SK) MenDikNas No. 044/U/2002 tentang dewan pendidikan dan Komite Sekolah, Butir 1.1 dinyatakan bahwa Komite Sekolah adalah ''badan mandiri yang memadahi peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan, baik pra-sekolah, jalur sekolah maupun luar sekolah" Sedangkan pada butir 1.2 dinyatakan bahwa "nama badan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan, seperti Komite pendidikan luar sekolah, Dewan Pendidikan, Majelis Sekolah, Komite TK, atau nama lain yang disepakati" Komite Sekolah/Madrasah merupakan institusi yang dimunculkan untuk menampung dan menyalurkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan ditingkat satuan pendidikan. Karena dijadikan sebagai wadah yang representatif. Kemunculan Komite madrasah diharapkan bisa mewujudkan peningkatan mutu, pemerataan, dan efisiensi dalam pengelolaan pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan diluar sekolah. Menurut tim pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, Komite madrasah merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan satuan pendidikan maupun lembaga pemerintah lainnya. Posisi dewan pendidikan, Komite madrasah, satuan pendidikan, dan lembaga-lembaga lainnya yang mengacu pada kewenangan masing-masing berdasarkan ketentuan yang berlaku.
  15. 15. Komite madrasah berkedudukan disatuan pendidikan, baik sekolah maupun luar sekolah. Komite madrasah dapat mewadahi satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang sejenis, berada dalam satu kompleks, atau dibawah satu yayasan peyelenggara pendidikan. b. Dasar Hukum Dasar hukum yang digunakan sebagai pegangan dalam pembentukan dewan pendidikan dan Komite Sekolah, termasuk pelaksanaan program kegiatan sosialisasi dan fasilitasi, adalah sebagai berikut: Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000 – 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1992 tentang Peran serta Masyarakat dalam Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 559/C/Kep/PG/2002 tentang Tim Pengembangan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. c. Kedudukan dan Sifat Komite madrasah
  16. 16. Komite madrasah merupakan suatu badan yang mandiri dan berkedudukan disatuan pendidikan, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan lembaga pemerintah. Komite adrasah berkedudukan di satuan pendidikan, baik sekolah maupun luar sekolah. Satuan pendidikan dalam berbagai jenjang, jenis, dan jalur pendidikan, mempunyai penyebaran lokasi yang amat beragam. Ada sekolah tunggal dan ada sekolah yang berada dalam satu kompleks. Ada sekolah negeri dan ada sekolah swasta yang didirikan oleh yayasan penyelenggara pendidikan. Oleh karena itu, Komite Sekolah dapat dibentuk dengan alternatif sebagai berikut: Komite Sekolah yang dibentuk di dalam satu satuan pendidikan, yaitu satuan pendidikan sekolah yang siswanya dalam jumlah yang banyak, atau sekolah khusus seperti sekolah luar biasa, temasuk dalam ketegori yang dapat membentuk Komite Sekolah sendiri. Komite Sekolah yang dibentuk untuk beberapa satuan pendidikan sekolah yang sejenis yaitu, dapat dimisalkan beberapa SD yang terletak di dalam satu kompleks atau kawasan yang berdekatan dapat membentuk satu Komite Sekolah. Komite Sekolah yang dibentuk untuk beberapa satuan pendidikan yang berbeda jenis dan jenjang pendidikan dan terletak di dalam satu kompleks atau kawasan yang berdekatan yaitu, Sebagai misal ada satu kompleks pendidikan yang terdiri dari satuan pendidikan TK, SD, SLB, dan SMU, dan bahkan SMK dapat membentuk satu Komite Sekolah. Komite Sekolah yang dibentuk untuk beberapa satuan pendidikan yang berbeda jenis dan jenjang pendidikan milik atau dalam pembinaan satu yayasan penyelenggara pendidikan, misalnya sekolah-sekolah di bawah
  17. 17. lembaga pendidikan Muhammadiyah, Al Azhar, Al Izhar, Sekolah Katholik, Sekolah Kristen. Sedangkan mengenai sifatnya Komite Sekolah merupakan badan yang bersifat mandiri, tidak mempunyai hubungan hierarkis dengan sekolah maupun lembaga pemerintah lainnya. Komite Sekolah dan sekolah memiliki kemandirian masing-masing, tetapi tetap sebagai mitra yang harus saling bekerja sama sejalan dengan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS).Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa satuan pendidikan tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan dalam Komite madrasah. d. Tujuan Komite madrasah Setiap lembaga pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian juga Komite madrasah sebagai suatu lembaga mempunyai tujuan tertentu. Adapun tujuan dibentuknya Komite madrasah adalah sebagai berikut: -Mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta memprakarsai masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program jawab peran serta pendi dikan disatuanpendidikan. Meningkatkan tanggung dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan disatuan pendidikan. Menciptakan suasana dan kondisi transparansi, akuntabel, dan demokratis dalam peyelenggaraan pendidikan yang bermutu disatuan pendidikan.24
  18. 18. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tujuan dibentuknya suatu Komite madrasah adalah untuk mewadahi partisipasi pada stakeholders agar turut serta dalam manajemen sekolah sesuai dengan peran dan fungsinya, berkenaan dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program sekolah secara proporsinal, sehingga Komite madrasah dapat meningkatkan mutu pendidikan. Komite madrasah bertujuan untuk memperdayakan masyarakat sekitar. Mohammad Noor Syam, dalam "Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan" mengemukakan bahwa hubungan masyarakat dengan pendidikan sangat bersifat korelatif, bahkan seperti telur dengan ayam. Masyarakat maju karena pendidikan, dan pendidikan yang maju hanya akan ditemukan dalam masyarakat yang maju pula.25 Bagaimanapun kemajuan dan keberadaan pendidikan sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat yang ada. Tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat, jangan diharapkan dapat berkembang dan tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu, tujuan dibentuknya Komite madrasah adalah untuk mengembangkan program pendidikan dengan melibatkan peran serta masyarakat sehingga melahirkan kebijakan dan tanggung jawab terhadap kualitas proses dan hasil pendidikan. e. Peran dan Fungsi Komite madrasah Adapun peran yang dijalankan Komite Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut: (i)Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
  19. 19. Pendukung (supporting agency) baik yang berwujud pemikiran, finansial, maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Pengontrol (controling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan. Mediator antara pemerintah (executive) dengan masyarakat dalam satuan pendidikan. Untuk menjalankan perannya itu, Komite Sekolah/Madrasah memiliki fungsi sebagai berikut: Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/dunia usaha, dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Menampung dan menganalisa aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat. Memberikan masukan, pertimbangan dan rekomendasi kepada kepala satuan pendidikan mengenai: 1) Kebijakan program pendidikan 2) Rencana anggaran pendapatan dan belanja madrasah (RAPBM); 3) Kriteria kinerja satuan pendidikan 4) Kriteria kinerja tenaga kependidikan 5) Kriteria fasilitas pendidikan
  20. 20. 6) Hal-hal yang terkait dengan pendidikan Mendorong orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mendukung peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan. f. Keanggotaan Komite madrasah Keanggotaan Komite madrasah berasal dari unsur-unsur yang ada dalam masyarakat, unsur dewan guru, yayasan atau lembaga penyelenggara pendidikan, badan pertimbangan desa dapat pula dilibatkan sebagai Komite madrasah. Anggota Komite madrasah yang berasal dari unsur masyarakat berasal dari orang tua atau wali peserta didik, tokoh masyarakat yang menjadi panutan masyarakat yaitu orang yang ucapannya benar-benar didengar sehingga apa yang dikatakan diikuti masyarakat, tokoh pendidikan, dunia usaha atau industri (pengusaha industri, jasa, asosiasi, dan lain-lain), organisasi profesi tenaga pendidikan, wakil alumni, wakil pesertra didik. Unsur dewan guru, yayasan atau lembaga penyelenggara pendidikan, badan pertimbangan desa, sebanyak-banyaknya berjumlah 3 (tiga) orang. Jumlah anggota Komite madrasah sekurang-kurangnya sembilan orang dan jumlahnya gasal, yang ditetapkan dalam AD/ART. g. Kepengurusan Komite madrasah Pengurus Komite Sekolah sekurangkurangnya terdiri atas: ditetapkan berdasarkan AD/ART yang
  21. 21. Ketua, Sekertaris, bendahara dan bidang-bidang tertentu. Pengurus dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis Ketua bukan berasal dari kepala satuan pendidikan31 Pengurus Komite Sekolah adalah personal yang ditetapkan berdasarkan kriteria sebagai berikut. Dipilih dari dan oleh anggota secara demokratis dan terbuka dalam musyawarah Komite Sekolah. Masa kerja ditetapkan oleh musyawarah anggota Komite Sekolah. Jika diperlukan pengurus Komite Sekolah dapat menunjuk atau dibantu oleh tim ahli sebagai konsultan sesuai dengan bidang keahliannya. Mekanisme kerja pengurus Komite Sekolah dapat diidentifikasikan sebagai berikut : Pengurus Komite Sekolah terpilih bertanggungjawab kepada musyawarah anggota sebagai forum tertinggi sesuai AD dan ART. Pengurus Komite Sekolah menyusun program kerja yang disetujui melalui musyawarah anggota yang berfokus pada peningkatan mutu pelayanan pendidikan peserta didik. Apabila pengurus Komite Sekolah terpilih dinilai tidak produktif dalam masa jabatannya, maka musyawarah anggota dapat memberhentikan dan mengganti dengan kepengurusan baru. Pembiayaan pengurus Komite Sekolah diambil dari anggaran Komite Sekolah yang ditetapkan melalui musyawarah.
  22. 22. h. Pembentukan Komite madrasah Pembentukan Komite madrasah harus dilakukan secara transparan, akuntabel dan demokratis. Dilakukan secara secara transparan adalah bahwa Komite madrasah harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan. Dilakukan secara akuntabel adalah bahwa panitia persiapan hendaknya menyampaikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya maupun penggunaan dana kepanitiaan. Dilakukan secara demokratis adalah bahwa proses pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu pemilihan anggota dan pengurus dapat dilakukan melalui pemungutan suara. Pembentukan Komite madrasah harus diawali dengan pembentukan panitia persiapan yang dibentuk oleh kepala satuan pendidikan dan atau oleh masyarakat. Panitia persiapan berjumlah sekurang-kurangnya 5 (lima) orang yang terdiri atas kalangan praktisi pendidikan (seperti guru, kepala satuan pendidikan, penyelenggara pendidikan), pemerhati pendidikan (lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia usaha dan industri), dan orang tua peserta didik. i. Komite Madrasah Dalam Perspektif Islam Islam adalah agama yang mencintai kebersamaan, kerukunan dan perdamaian dalam setiap hal, keadaan dan dimana saja. Terlebih dalam masalah pemerintahan dan pendidikan yang merupakan sendi-sendi dakwah Islam. Oleh karena itu Islam mempunyai konsep musyawarah untuk menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan bersama. Sehingga setiap pihak dapat saling
  23. 23. menerima, memahami dan mau menjalankan keputusan yang telah ditetapkan bersama. Allah menegaskan dalam surat Ali Imran ayat 159: Dalam ayat di atas, “syura” atau “musyawarah” sebagai sifat ketiga bagi masyarakat Islam dituturkan sesudah iman dan shalat. Menurut Taufiq asySyawi, hal ini memberi pengertian bahwa musyawarah mempunyai martabat sesudah ibadah terpenting, yaitu shalat, sekaligus memberikan pengertian bahwa musyawarah merupakan salah satu ibadah yang tingkatannya sama dengan shalat dan zakat. Maka masyarakat yang mengabaikannya dianggap sebagai masyarakat yang tidak menetapi salah satu ibadah. ‘Abdul Karim Zaidan menyebutkan bahwa musyawarah adalah hak ummat dan kewajiban imam atau pemimpin, dalilnya adalah firman Allah SWT yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk bermusyawarah dengan para sahabat (Abdul Qaadir Haamid, Tijani; 2007:103) Begitu juga dengan Komite madrasah, keberadaannya dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPERNAS). Selanjutnya demi memudahkan masyarakat dalam membentuk Komite madrasah, Menteri Pendidikan menerbitkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 dan diperkuat dengan aspek legal karena dicantumkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Keputusan dan undang-undang yang telah ditetapkan itu adalah hasil musyawarah yang mencapai mufakat. Oleh karenanya, perencanaan (rencana strategis pengembangan) dan kerjasama antar individu menjadi penting dalam menjalankan program madrasah atau Komite Sekolah demi mewujudkan tujuan dan cita-cita luhur pendidikan.
  24. 24. B. Implementasi Strategi Pengembangan Madrasah Berdasarkan kerangka strategis pengembangan madrasah sebagaimana di atas, maka pada tataran implementasinya dirumuskan secara singkat dalam bentuk program-program pokok yang perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. C. Proses Belajar Mengajar 1. Pengertian Proses Belajar Mengajar Dalam psikologi belajar menurut Reber, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dapat menimbulkan beberapa perubahan sehingga tercapai hasil-hasil tertentu. Jika memperhatikan ungkapan “any change in object or organism” dari definisi Caplin dengan kata-kata caracara atau langkahlangkah “ manner or operations” dalam definisi reber tersebut istilah tahapanperubahan dapat dipakai sebagai padanan kata proses. Jadi proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat posoitif dalam arti berorientasi kearah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Tentang pengertian belajar mengajar bukanlah hal asing, dan hampir setiap orang akan dapat menjelaskanya apa itu belajar mengajar. Akan tetapi maknanya belum tentu sama bagi setiap orang. Pemahaman guru tentang pengertian belajar mengajar akan mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar. Karena dari pengertian proses belajar mengajar inilah akan lahir berbagai bentuk kegiatan yang mungkin dapat dilakukan, baik oleh siswa maupun oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sedangkan belajar itu sendiri bukan suatu
  25. 25. tujuan, tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan dengan langkah-langkah atau prosedur yang ditempuh. Pengertian tentang belajar menurut beberapa tokoh pendidikan diantaranya adalah sebagai berikut: Menurut Muhaimin dkk, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau tingkah laku. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah kejadian(peristiwa) yang secara sengaja maupun tidak sengaja dialami oleh seseorang. Sedangkan latihan merupakan kejadian yang sengaja dilakukan setiap orang secara berulang-ulang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan dalam pembelajaran adalah supaya ada perubahan dalam setiap tindak tanduk. b. Menurut Slameto, belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkunganya c. Belajar menurut S. Nasution, MA adalah perubahan-perubahan dalam sistem urat syaraf. Dalam definisi tersebut dianggap belajar itu sebagai perubahan-perubahan fisiologis yang tak dapat dibuktikan atau disangkal kebenaranya. Tetapi yang nyata bagi kita adalah bahwa perubahan ituterjadi pada salah satu bagian dari organisme, yakni hanya dalam sistem urat syaraf Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku seseorang yang terjadi sebagai hasil interaksi denganlingkunganya, yang didalamnya terjadi serangkaian latihan atau pengalama yang telah dilaluinya. Jadi belajar iti pada dasarnya merupakan suatu pembawaaan kearah perubahan yang positif, perubahan itu terjadi kareana usaha dengankesengajaan. Perubahan tingkah laku ini bukan
  26. 26. disebabkan oleh proses kematangan, tetapi terjadi karena belajar dapat berupa kebiasaan, kecakapan atau dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. 2. Prisip-Prinsip dalam Poses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar kegiatan mengajar bukanlah hal yang ringan bagi seorang guru, karena dihadapkan dengan sekelompok siswa yang mana mereka memerlukan bimbingan dan pembinaan untuk menuju dewasa. Siswa diharapkan setelah mengalami proses pendidikan dapat menjadi mnuasia dewasa yang bertanggung jawab pada diri sendiri, mempunyai kemampuan intelektual, dan memiliki kpribadian serta moral yang baik. Mengingat tugas yang berat itu, seorang guru harus mempunyai prinsi-prinsip dalam mengajar dan mampu melaksanakan tanggung jawab itu seefektif mungkin, agar guru tidak dipandang hanya asal mengajar saja. Ada beberapa pendapat mengenai prinsip-prinsip yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam mengajar diantarannya sebagai berikut: a. Perhatian, yaitu didalam mengajar guru harus dapat membangkitkan perhatian siswa kepada materi pelajaran yang diberikan. b. Aktivitas, yaitu di dalam proses belajar mengajar, seorang guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berfikir maupun berbuat. c. Appersepsi, yaitu setiap guru dalam mengajar perlu menghubungkan pelajaran yang diberikan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. d. Peragaan, yaitu dalam mengajar sebaiknya guru harus berusaha menunjukan dengan benda-benda yang asli atau peragaan yang nyata. e. Repetisi, yaitu apabila seorang guru menjelaskan sesuatu unit pelajaran sebaiknya perlu diulang-ulang. f. Korelasi, guru dalam mengajar wajib memikirkanhubungan antar setiap mata pelajaran. memperhatikan dan
  27. 27. g. Konsentrasi, hubungan antar mata pelajaran dapat diperluas dan difokuskan kepada salah satu minat siswa sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan mendalam. h. Sosialisasi, seoarang guru harus mampu mengefektifkan kerjasama antar siswa dan melakukan pembelajaran kelompok agar siswa dapat mempnuyai jiwa sosial dengan temanya. i. Evaluasi, semua kegiatan belajar mengajar perlu dievaluasi untuk perbaikan mengajar berikutnya dan akan memberi motivasi bagi siswa maupun guru. 3. Proses Belajar Mengajar dalam Prespektif Islam Dalam melakukan proses belajar megajar dan mencari ilmu pengetahuan agama Islam mengajak umatnya untuk tidak putus asa dan selalu mencari, memperluas pegalaman dan pengetahuannya sampai akhir hayatnya. Karena dengan melakukan proses belajar mengajar dan mencari pengetahuan orang akan mendapatkan jalan yang terarah dan merubah hidupnya menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan dan harapanya, menjadi mahluk alloh SWT yang berakal, lebih sempurna dibandingkan ciptaan lainya di dunia. Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam surat AlMujadilah ayat 11 dan Ar Ro’du ayat 11. Dari kedua ayat diatas dapat digambarkan bahwa betapa pentingnya manusia untuk melakukan aktifitas belajar mengajar dan mencari pengetahuan. Karena dengan belajar seseorang akan mendapatkan pengetahuan yang dapat dijadikan modal untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik dan terarah. Disamping itu orang yang mempunyai pengetahuan luas akan diberi suatu tempat istimewa didalam hidupnya baik dalam lingkup sosialisasi antar manusia maupaun dimata sang khaliq. Jadi dapat diambil ide pokok bahwa
  28. 28. peran pendidikan sebagai salah satu wadah yang meberikan transformasi pengetahuan yang didalamnya terdapat unsur proses belajar mengajar menjadi salah satu faktor penting dalam membangun pribadi seseorang, masyarakat dan kemajuan bangsa. D. Mutu Pendidikan 1. Sejarah Mutu Dr. Edward Deming diakui sebagai “Bapak Mutu”. Filosofi Dr. Deming cenderung menempatkan mutu dalam artian manusiawi. Ketika pekerja sebuah lembaga/instansi benar-benar berkomitmen pada pekerjaan untuk dilaksanakan dengan baik dan memiliki proses manajerial yang kuat untuk bertindak, maka mutupun akan mengalir dengan sendirinya. Definisi mutu yang praktis adalah: sebuah derajat variasi yang terduga standar yang digunakan dan memiliki kebergantungan pada biaya yang rendah. 2. Konsep Definisi Mutu dalam Pendidikan Pengertian mutu secara umum adalah gambaran dan karakteristik yang menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalammemuaskan kebutuhan yang ditentukan. Mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu bukanlah benda magis atau sesuatu yang rumit. Mutu didasarkan pada akal sehat. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; SDM, bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi pembelajaran, sarana sekolah, dukungan administrasi, sarana prasarana serta penciptaan suasana yang kondusif.
  29. 29. Dukungan kelas berfungsi mensingkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstrakurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang nonakademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana tertuang pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 20 Tahun 2003) dalam bab II pasal 3 menyatakan: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Adapun kriteria mutu pendidikan yang baik madrasah diharapkan memiliki beberapa indikator yang menunjukkan bahwa sekolahan tersebut sudah bisa dibilang bermutu. Indikatornya adalah lingkungan sekolah yang aman dan tertib, sekolah memiliki tujuan dan target mutu yang ingin dicapai, sekolah memilikikepemimpinan yang kuat, adanya pengembangan staff sekolah yang terus menerus sesuai dengan tuntutan iptek dan adanya pelaksanaan evaluasi yang berkelanjutan terhadap berbagai aspek akademik dan administratif serta pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan atau perbaikan mutu pendidikan. 3.Prinsip-Prinsip Peningkatan Mutu Pendidikan
  30. 30. Dr. Edward deming mengembangkan 14 prinsip yang mengambarkan apa yang dibutuhkan sekolah/madrasah untuk mengembangkan budaya mutu. Hal ini didasarkan pada kegiatan yang dilakukan sekolah menengah kejuruan tehnik regional 3 di Lincoln, maine dan soundwell college di Bristol, inggris. Kedua sekolah tersebut dapat mencapai sasaran yang sudah digariskan dalam butir-butir tersebut mampu memperbaiki outcame siswa dan administratif. 14 prinsip itu adalah sebagai berikut: 1) Menciptakan konsistensi tujuan, yaitu untuk memperbaiki layanan dan siswa dimaksudkan untuk menjadikan madrasah sebagai madrasah yang kompetitif dan berkelas dunia 2) Mengadopsi filosofi mutu total, setiap orang harus mengikuti prinsipprinsip mutu 3) Mengurangi kebutuhan pengajuan, mengurangi kebutuhan pengajuan dan inspeksi yang berbasis produksi massal dilakukan dengan membangun mutu dalam layanan pendidikan. Memberikan lingkungan belajar yang menghasilkan kinerja siswa yang bermutu 4) Menilai bisnis sekolah dengan cara baru, nilailah bisnis sekolah dengan meminimalkan biaya total pendidikan. 5) Memperbaiki mutu dan produktivitas serta mengurangi biaya, memperbaiki mutu dan produktivitas sehingga mengurangi biaya, dengan mengembangkan proses “rencanakan/periksa/ubah”.6) Belajar sepanjang hayat, mutu diawali dan diakhiri dengan latihan. Bila anda mengharapkan orang mengubah cara berkerja mereka, anda mesti memberikan mereka perangkat yang diperlukan untuk mengubah proses kerja mereka. 7) Kepemimpinan dalam pendidikan, merupakan tanggung jawab manajemen untuk memberikan arahan. Para manajer dalam pendidikan mesti mengembangkan visi dan misi untuk wilayah. Visi dan misi harus diketahui dan didukung oleh para guru, orang tua dan komunitas 8) Mengeliminasi rasa takut, ciptakan lingkungan yang akan mendorong orang untuk bebas bicara 9) Mengelinimasi hambatan keberhasilan, manajemen bertanggung jawab untuk
  31. 31. menghilangkan hambatan yang menghalangi orang mencapai keberhasilan dalam menjalankan keberhasilan 10) Menciptakan budaya mutu, ciptakanlah budaya mutu yang mengembangkan tanggung jawab pada setiap orang 11) Perbaikan proses, tidak ada proses yang pernah sempurna, karena itu carilah cara terbaik, proses terbaik, terapkan tanpa pandang bulu. 12) Membantu siswa berhasil, hilangkan rintangan yang merampok hak siswa, guru atau administrator untuk memiliki rasa bangga pada hasil karyanya 13) Komitmen, manajemen harus memiliki komitmen terhadap budaya mutu dan 14) Tanggung jawab, berikan setiap orang disekolah untuk bekerja menyelesaikan transformasi mutu Mutu Pendidikan dalam Perspektif Islam Menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu melesat maka kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas mutlak diperlukan. Oleh sebab itu pengenalan akan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilakukan sedini mungkin. Sadar akan hal itu pemerintah dengan segala daya dan upaya berusaha untuk memperbaiki mutu pendidikandi Indonesia, mulai dari perubahan kurikulum, standarisasi ujian nasional sampai dengan perhatian yang serius terhadap kesejahteraan para pendidik. Usaha maksimal pemerintah tersebut adalah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan manusia seutuhnya. Umar Tirta Raharja mengemukakan: ”Bahwa yang dimaksud dengan manusia utuh adalah manusia yang sehat jasmani dan rohani, manusia yang mempunyai hubungan vertikal (dengan Tuhan), horizontal (dengan lingkungan) dan konsentris (dengan diri sendiri) yang berimbang antara duniawi dan ukhrawi” Tujuan pendidikan nasional Indonesia menggambarkan kualitas manusia yang baik menurut bangsa Indonesia, bagi bangsa Indonesia manusia yang baik ialah manusia pembangunan yang pancasilais, sehat jasmani dan
  32. 32. rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan bertanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsa dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaksud di dalam UUD 1945. Dalam konsepsi Islam, membaca sangat dianjurkan karena dengan membaca maka cakrawala berfikir akan terbuka dan jendela pengetahuan akan terkuak sehingga manusia akan menemukan hal-hal baru untuk memecahkan masalah hidupnya dan dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah dibumi ini dengan baik. Dalam kaitannya dengan membaca, Allah SWT berfirman:Ayat ini dengan tegas memerintahkan kepada manusia untuk membaca agar dapat menemukan keagungan Allah SWT sehingga dengan demikian Allah akan memberikan kemurahanNya. Prof. DR. M. Quraish Shihab ketika menjelaskan ayat ketiga dari surat Al Alaq diatas berkata: “Kemurahan Allah dapat menghantarkan manusia yang mempelajari alam raya ini untuk menemukan rahasia-rahasia alam yang baru serta berbeda dengan ilmuwan terdahulu. Memang tidak mudah menciptakan SDM muslim Indonesia yang bermutu, namun upaya peningkatan itu harus tetap dilakukan dan hal itu juga merupakan sebagian tugas bersama baik pemerintah atau masyarakat sebagai umat Islam. Peradaban suatu bangsa akan mendapatkan akselerasi kemajuannya apabila ditopang oleh kemampuan SDM yang handal. Setiap pihak tidak boleh berputus asa akan upaya tersebut, sebab Allah mengingatkan dalam surat Yusuf ayat 87 dan an-Nisa’ ayat 9: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”
  33. 33. Dengan demikian untuk meningkatkan SDM yang bermutu melalui pendidikan, harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah selaku pemegang kebijakan pendidikan dan masyarakat sebagai subyek dan obyek pendidikan serta masing-masing kepala keluarga yang dapat memberikan input terhadap pendidikan. Kalau ketiga unsur diatas mampu bekerjasama dengan baik, maka akan tercipta Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik, dengan bekal iman dan ilmu pengetahuan . Berbagai pandangan tentangTeori Pendidikan Islam Teori pendidikan Islam menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib untuk menuntut ilmu. Ilmu adalah kebutuhan primer yang akan dipakai dalam menjalani kehidupan. Rasulullah saw pernah bersabda: "Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim." (HR Ibnu Majah)."Jadilah kamu orang berilmu, atau pencari ilmu, atau pendengar (ilmu), atau pecinta (ilmu) jangan menjadi yang kelima (orang bodoh) nanti kamu binasa." (Lihat: AlFathul Kabir, I/204). Teori pendidikan Islam yang sesuai dengan hadis Nabi saw di atas menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh menjadi rakyat yang bodoh dan tertinggal. Tugas mulia dalam mewujudkannya adalah di tangan negara. Pemimpin dan pejabat pemerintah wajib menyediakan pendidikan yang murah bahkan gratis dengan kualitas terbaik. Tugas dari pemimpin dan pejabat negara adalah melayani rakyat dengan segenap kemampuan agar mendapatkan ridho dari Allah Swt dan terhidar dari celaan dandosa. Rasulullah Saw bersabda: "Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya." (HR. Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu Dawud, dari Ibnu Umar)
  34. 34. "Pemimpin (kepala negara) adalah pihak yang berkewajiban memelihara urusan rakyat dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya." (HR Muslim) Teori pendidikan Islam tentunya berbanding terbalik dengan keadaan pendidikan sekuler dan kapitalis yang menjadikan pendidikan sebagai barang komersil yang dijadikan mesin pengeruk uang rakyat. Pendidikan mahal yang terjadi saat ini juga tidak lepas dari penerapan UU BHP terhadap instansi dan lembaga pendidikan mulai dari PAUD sampai tingkat universitas atau sekolah pendidikan tinggi. Belum lagi kerusakan sarana dan prasarana sekolah, sering terdengar sekolah yang atapnya bolong, sekolah roboh, tembok sekolah retak, dan lainnya. Ditambah kasus korupsi di dunia pendidikan yang semakin membuat kita miris. Indonesian Corruption Watch (ICW) menyebutkan bahwa instansi/lembaga dunia pendidikan adalah yang paling korup di tanah air dengan menelan kerugian negara sebanyak 2,1 triliun pada 2011. Teori Pendidikan Islam Membentuk Kepribadian Islam Pembinaan pelajar pada teori pendidikan Islam dilakukan secara serius dan segenap kemampuan oleh para guru yang ditugaskan negara. Pendidikan nasional, khususnya teori pendidikan Islam, memiliki dua tujuan utama. (1). Tujuan Teori Pendidikan Islam - Membentuk Kepribadian Islam Sesuai Tuntunan Rasulullah Tujuan Teori Pendidikan Islam yang pertama adalah membentuk kepribadian Islam sesuai tuntunan Rasulullah. Kepribadian Islam terdiri atas dua komponen, yaitu pola pikir dan pola sikap. Aqidah para pelajar haruslah kuat dan tidak ada celah keraguan tentang masalah
  35. 35. keimanan dan keislaman. Hal itu bisa tercapai bila para pelajar dibina dengan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh. Para pelajar juga akan didorong untuk memiliki perilaku sesuai dengan Al-Quran dan As Sunnah. Setiap warga negara berhak menerima pendidikanIslami seperti ini agar selamat di dunia dan akhirat. Allah Swt berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. AtTahrim [66]: 6) Teori pendidikan Islam telah menjadikan karakteristik/ciri-ciri kepribadian Islam bersandar pada Al-Quran yang sempurna.Karakteristik/ciri-ciri tersebut juga telah dimiliki oleh para sahabat Nabi berserta para ulama salaf dan harus dimiliki orang yang beriman. Allah Swt berfirman:"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah." (QS. AtTaubah [9]: 100) "Sesungguhnya beruntunglah orang-orangyang beriman, (yaitu) orangorang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orangyang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakatnya." (QS. Al-Mukminun
  36. 36. [23]: 1-4)"Dan hamba-hamba Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orangorang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan katakata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." (QS. Al-Furqan [25]: 63-64) Jika keperibadian Islam telah terbentuk dalam diri masyarakat sesuai dengan teori pendidikan Islam, maka kesalahan dalam berperilaku dalam diri masyarakat akan dapat diminimalisir bahkan dihilangkan. Kesalahan berperilaku itu misalnya korupsi, berzina, mencuri, mengurangi timbangan, tidak mengeluarkan zakat dan lainnya. Dengan teori pendidikan seperti ini, maka masyarakat yang terwujud tidak akan rusak seperti saat ini. (2). Tujuan Kedua Teori Pendidikan Islam - Melahirkan Generasi Umat yang Menguasai Keahlian di Seluruh Bidang Sains dan Teknologi Tujuan kedua teori pendidikan Islam adalah melahirkan generasi umat yang menguasai keahlian di seluruh bidang sains danteknologi seperti matematika, fisika, kimia, teknik mesin, teknologi internet, ilmu geologi dan lainnya. Penguasaan terhadap ilmu sains itu sesuai dengan firmanNya: "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan." (QS. Ar-Rahmaan [55]: 33)Dan sabda Nabi Saw: "Kalian lebih tahu urusan dunia kalian." (Hr. Muslim)
  37. 37. Hadis di atas memberitahukan pada umat Islam bahwa teori pendidikan Islam beserta penerapannya harus mampu mencetak generasi maju dan unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Teori pendidikan Islam telah melahirkan banyak sekali para ilmuan yang telah memberikan sumbangsih besar terhadap ilmu pengetahuan dunia.Beberapa contohnya yaitu Abu Qosim Az-Zahrawi. Beliau telah membuat alat bedah yang sampai sekarang masih digunakan dalam dunia kedokteran. Alat bedah tersebut yaitu pisau untuk operasi, gergaji untuk bagian tulang, gunting kecil untuk operasi mata, dan 200 alat bedah lainnya. Ada juga Al-Khwarizmi dan Al-Kindi yang telah membuat cara berhitung yang masih dipergunakan dalam ilmu matematika modern saat ini. Inilah 2 contoh dari teori pendidikan Islam ketika diterapkan mampu melahirkan ahli dalam bidang kedokteran dan matematika. Teori Pendidikan Islam dalam Hal Pengajaran Pengajaran dalam teori pendidikan Islam harus dirancang dan dilakukan dengan berbagai cara efektif dan efisien agar bisa membentuk manusia yang berpikiran cemerlang dan berimbas pada perilakunya. Menghafal merupakan metode yang harus dilakukan dalam setiap jenjang dari pendidikan anak usia dini sampai pendidikan tinggi.Metode menghafal harus diajarkan oleh pendidik dengan cara yang benar supaya tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman. Contoh kesalahan tersebut ialah hafalan ayat Al-Quran hanya untuk lulus ujian namun tidak untuk diamalkan.Para pendidik dalam teori pendidikan Islam, pada saat memberikan pelajaran tentang masalah keimanan dan keislaman harus meletakkanhukum Allah Swt sebagai standar/tolok ukur perbuatan. Pendidik harus memberikan pengajaran yang mendalam dan
  38. 38. berulang tentang masalah keislaman pada para pelajar agar membekas dalam pikiran dan hatinya. Dalam mengajarkan pelajaran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya komputer, biologi, geografi, teknik sipil, teknik perkapalan dan lainnya, maka teori pendidikan Islam mewajibkan para pendidik harus bisa menanamkan semangat untuk mempelajari dan mendalaminya sehingga kemanfaatannya dapat dinikmati seluruh umat dan akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah Swt. "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. Al-Qashash [28]: 77) Begitulah sedikit ulasan mengenai teori pendidikan Islam yang mampu memberikan pendidikan berkualitas dengan biaya yang murah sehingga mampu mencetak generasi unggul dalam semua bidang. Teori pendidikan Islam ini tidak hanya mungkin bisa diterapkan oleh lembaga atau instansi pendidikan, tetapi memerlukan kerja keras dari tangan dari pemimpin negara dan pejabat pemerintah. ....................................................................................................................................... Al-Fathul Kabir, I/204 Sagala syaiful, 2007. Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Pendidian. Bandung. CV. Alfaabeta Rusyan dkk. 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Remaja Karya Bandung Hamalik Oemar. 200. Proses Belajar Mengajar. Jakarta
  39. 39. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Setting Penelitian 1. Waktu dan tempat Penlitian Rencana penelitian ini akan dilaksanakan pada bilan Januari- Maret 2014, bertempat di Mts Subulussalam. 2. Jenis penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitan perspektif yang bertujuan untuk mengembangkan mutu pendidikan Mts Subulussalam di kabupaten Muna. 3. Subyek Penelitian Subyek Penelitian yaitu seluruh siswa Mts Subulussalam. B. Faktor Yang Diteliti Adapun faktor-faktor ang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Faktor Siswa, melakukan aktifitas dalam proses pembelajaran melalui strategi pengembangan mutu pendidkan. 2. Faktor guru Mts yaitu aktifitas guru dalam mengembangkan mutu pendidikan pada sisiwa Mts Subulussalam melalui strategi proses pembelajaran. 3. Faktor sumber, bahan atau perangkat pembelajaran yang diterapkan atau yang di manfaatkan guru yag dapat mendukung dan melancarkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. C. Tehnik Pengumpulan Data Sumber data dan tehnik dalam pengumpulan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
  40. 40. 1. Sumber data penelitian diperoleh dari guru dan siswa Mts. Selain itu, bersumber dari dokumen-dokumen yang dipandang penting berupa catatan khusus tentang program-program kegiatan. 2. Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif berupa nilai yang diperoleh dari siswa. 3. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan tehnik penilaian dengan melakukan observasi yaitu cara pengumpulan dengan menggunakan pengamatan langsung terhadap suatu kegiatan yang sedang berjalan dan merupakan metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis. D. Metodologi Penelitian Menggunakan Analisis Swot 1. Keunggulan Madrasah Tsanawiah Subulussalam mempunyai beberapa keunggulan diantaranya menjadi aset Sulawesi tenggara pada ifen-ifen nasional baik dibidang agama maupun dibidang umum, olah raga dan seni yakni siswa Mts pernah meraih juara II harapan 1 jus dan tilawa, tingkat regional pernah mewakili Sultra bidang tahfiz 5 jus sampai 10 jus, Palangkaraya, Medan dan Jakarta. Olahraga atlet di Jawa Timur dan gorontalo. Kegiatan pramuka Nusantara di Cibubur dan Bandung masuk 4 besar se Indonesia. 2. Kelemahan Untuk mengembangkan mutu pendidikan MTs Subulussalam di Kabupaten Muna, kendala atau kelemahan yang di hadapi adalah kurang tersedianya sarana prasarna yang memadai. 3. Peluang Yang bisa Diraih
  41. 41. Peluang yang bisa diraih adalah pada kenyataanya MTs Subulussalam di Kabupaten Muna dapat bersaing dengan Madrasah lain. Contohnya pada tahun 2013 kemarin alumnus dari MTs Subulussalam lulus pada fakultas berprestasi yang ternama di Indonesia. 4. Tantangan Adapun tantangan yang dihadapi MTs Subulussalam di Kabupaten Muna saat ini adalah persaingan dengan sekolah umum karena saat ini MTs Subulussalam diapit oleh SMP umum. Oleh karena itu MTs Subulussalam harus bekerja keras
  42. 42. BAB IV KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Strategi pengembangan MTs Subulussalam dilakukan dengan 5 (empat) strategi pokok, yaitu: 1) Peningkatan layanan pendidikan di MTs Subulussalam; 2) Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan; 3) Pengembangan sistem dan manajemen pendidikan; dan 4) Pemberdayaan MTs Subulussalam pada masyarakat sekitar. 5) Melalui komite Madrasah. 2. Faktor penghambat Komite madrasah dalam menunjang proses belajar mengajar dan meningkatkan mutu pendidikan di MTs Subulussalam Ghonsume Raha adalah a) Kualitas SDM yang tidak merata dari guru dan pegawai di MTs penyelenggaraan pendidikan Subulussalam Ghonsume Raha dalam mengusai program bilingual serta teknologi informasi, b) Kurang maksimalnya kontribusi anggota komite dalam kehadiranya di MTs Subulussalam Ghonsume Raha. Untuk mengawasi karena kesibukan profesinya masing-masing c) Kurangnya maksimalnya partisipasi dan antusias guru dalam mengikuti program yang diadakan oleh pihak komite dan madrasah, d) Kurang intensifnya realisasi dan sosialisasi program komite kepada seluruh elemen madrasah. 3. Upaya yang dilakukan Komite madrasah dalam mengambil langkah dan solusi untuk menanggulangi hambatan pada aktualisasi peranya menunjang proses belajar mengajar dan meningkatkan mutu pendidikan di MTs Subulussalam Ghonsume Raha diantaranya adalah a) Membagi beberapa sub bidang didalam lembaga Komitemadrasah agar lebih fokus dalam menjalankan peranya, b) Mengadakan rapat tiga bulan sekali untuk evaluasi dan membahas masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan
  43. 43. program, c) Membentuk jadwal piket anggota komite untuk selalu hadir di kantor komite MTs Subulussalam secara bergantian seminggu sekali, d) Antara pengurus dan anggota komite, pihak komite dengan pengurus madrasah selalu melakukan kontak dan komunikasi, baik lewat handpohne maupun saling berkunjung kerumah, untuk memantau dan mendapatkan informasi mengenai masalah dan perkembangan penyelenggaraan pendidika di di MTs Subulussalam Ghonsume Raha.
  44. 44. DAFTAR PUSTAKA Ade Irawan, dkk. 2004. Mendagangkan sekolah, Indonesia Corruption watch Jakarta. Abdul Qaadir Haamid, Tijani, 2007. Pemikiran Politik dalam Islam; Terj., Abdul Hayyie al- Kattani dkk dari Ushulul Fikris-Siyaasi fil-Qur’aanil-Makki. Jakarta: Gema Insani Pers. Arikunto, Suharsimi. 1991,2002,2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta. Artikel Pendidikan, Konsep dasar MPMBN, WWW. Dikdasmen. Depdiknas .go.id Depag RI, 2005. Al-qur’an dan terjemahanya. Bandung: CV. Diponegoro. Hamalik Oemar, 2001.” Proses Belajar Mengajar” Jakarta. Hazbullah, 2001. Dasar- Dasar Ilmu Pendidikan. Raja Grafindo Persada Jakarta. Hazbullah, 2006 : Otonomi Pendidikan : Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Raharja, Umar Tirta, 1995. Pengantar Pendidikan. Rangka Cipta. Rusyan dkk, 1989. “ Pendekatan Dalam Proses belajar Mengajar”. Remaja Karya : Bandung. Sagala, syaiul, 2007. Menejemen Strategik Dalam Peningkatan Pendidikan Mutu Pendidikan. Bandung. CV Alfabeta. Slameto, 2010. Belajar Dan Faktor- Factor Yang Mempengaruhinya. Rineka: Jakarta. Sutrisno Hadi. 1991. Metodologi Rresearch II, Jakarta Andi nOfset. Sukmadinata , Nana Syaodih. 2004. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya. Sukma dinata, Nana syaodih. 2007. Pengembangan Mutu Pendidikan Sekolah Menengah. Bandung: refika Aditama.
  45. 45. STRATEGI PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN MTS SUBULUSSALAM DI KABUPATEN MUNA Proposal Tesis ini dinyatakan disetujui Kendari, Januari, 2014 PENGUJI Mengetahui KETUA PROGRAM
  46. 46. STRATEGI PENGEMBANGAN MUTU PENDIDIKAN MADRASAH TSANAWIYAH SUBULUSSALAM DI KABUPATEN MUNA PROPOSAL TESIS Di Ajukan Oleh: WA NDOIMA NOMOR POKOK 2011920104 TAHUN 2014
  47. 47. KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehdirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya berkat rahmat dan petunjuknya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini dengan judul ”Strategi Pengembangan Mutu Pendidikan Mts Subulussalam di Kabupaten Muna”. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa petunjuk kebenaran seluruh umat manusia yaitu Agama islam yang kita harapkan syafaatnya di dunia dan diakhirat. Penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan proposal ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hanya ucapan terima kasih sebesar-besarnya yang dapat penulis sampaikan, semoga bantuan dan do, yang telah diberikan dapat menjadi catatan amal kebaikan dihadapan Allah SWT. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan penulisan proposal ini, yang tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik sangat kami harapkan guna penyempurnaan proposal ini. Akhirnya dengan segala bentuk kekurangan dan kesalahan, penulis berharap semoga dengan rahmat dan izin-Nya mudah-mudahan proposal ini bermanfaat bagi penulis khususnya serta bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Raha, Januari 2014 Penulis
  48. 48. DAFTAR ISI Kata Pengantar…………………………………………………………….............. i Daftar Isi……………………………………………………………....................... ii BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………...... 1 A. Latar Belakang……………………………………………………………... 1 B. Rumusan Masalah…………………………………………………………. 7 C. Tujuan Penulisan…………………………………………………………. 8 D. Manfaat Penulisan………………………………………………………… 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Strategi Pengembangan Mts Subulussalam…………………………….............9 1. Strategi peningkatan layanan pendidikan di madrasah…………………... 10 2. Strategi peningkatan mutu dan relevansi pendidikan di MTs Subulassalam. 10 3. Strategi pengembangan manajemen pendidikan MTs Subulussalam……… 11 4. Strategi pemberdayaan MTs Subulussalam pada masyarakat sekitar……… 12 5. StrategipemberdayaanKomiteMadrasah………………………………….... 13 a.Pengertian Komite Madrasah……………………………………………...... 13 b. Dasar Hukum………………………………………………………….......... 15 c.Kedudukan dan Sifat Komite Madrasah…………………………………...... 15 d.Tujuan Komite Madasah ………………………………………………….....17 e. Peran Dan Fungsi Komite Madrasah……………………………………...... 18 f. Keanggotaan Komite Madrasah…………………………………………...... 20 g. Kepegurusan Komite Madrasah………………………………………......... 20 h. Pembentukan Komite Madrasah………………………………………......... 22 i. Komite Madrasah Dalam Perspektif Islam………………………………...... 22
  49. 49. B. . Implementasi Strategi Pengembangan Madrasah………………………… 24 C. Proses Belajar Mengajar……………………………………………………. 24 D. Mutu Pendidikan……………………………………………………………. 28 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Setting Penelitian…………………………………………………………..... 39 B. Faktor Yang Diteliti………………………………………………………… 39 C. Tehnik Pengumpulan Data……………………………………………………39 D. Metodologi Penelitian...................................................................................... 40 1. Keunggulan……………………………………………………………….. 40 2. Kelemahan…………………………………………………………………. 40 3. Peluang Yang bisa Diraih………………………………………………….. 40 4. Tantangan…………………………………………………………………. 41 BAB IV KESIMPULAN……………………………….....……………………... 42 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 44

×