Studi banding

1,128 views
993 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,128
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
14
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi banding

  1. 1. BAB I PENDAHULUN A. Latar Belakang Penelitian Sapi memberikan kontribusi yang besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sapi mengandung banyak nutrisi dan membantu perekonomian masyarakat. Dickson menyatakan hampir 200 juta orang dari Negara berkembang menggantungkan hidup pada industri sapi mulai dari hulu sampai hilir. Hampir 70% industri sapi perah di kerjakan oleh para peternak kecil. Modal kecil dan manajemen yang masih tradisional menjadi salah satu penyebab peternak kecil gagal bersaing dengan pengusaha besar. Ostrom (1990), dalam Dickson et al. (2007), menekankan di butuhkan institutionalize networks antara semua unsur dalam industri sapi khususnya dengan pemerintah. Di Indonesia, sapi perah adalah sumber pendapatan khususnya masyarakat di daerah pedesaan dan menyediakan kebutuhan protein untuk tumbuh kembang. Tahun 1998, Departemen Pertanian merekomendasikan pembentukan kelompok tani ternak (KTT) sebagai bagian dari upaya mengatasi kemiskinan dan dampak krisi s ekonomi di tahun1997. Para pengurus dan anggota KTT di harapkan meningkatkan dan memperbaiki manajemen dan organisasinya. Bagaimanapun juga di butuhkan peran dari pemerintah dengan menyediakan technical support, kredit, marketing support dan bantuan hukum. Banyak faktor yang mempengaruhi kelangsungan kelompok tani ternak setidaknya masyarakatlah penentu keberhasilan pengembangan kelompok tani ternak. Untuk memastikan kelangsungan kelompok tani ternak, empowerment (pemberdayaan masyarakat) adalah strategi tepat untuk dikembangkan pihak yang terlibat dalam keberlangsungan kelompok tani ternak, yaitu : pemerintah, LSM B. Permasalahan Keberhasilan kelompok tani ternak akan lebih terarah jika di dukung pembinaan langsung dari pemerintah. Dukungan dari pemerintah dapat berupa bantuan finansial dan technical support untuk meningkatkan kapasitas dari anggota kelompok tani ternak. Pemberdayaan kelompok tani ternak adalah konsep baru dalam pengembangan ternak sapi perah di Indonesia. Masih kurangnya kesadaran dari pemerintah pusat dan lokal serta kesadaran dari masyarakat adalah salah satu masalah dari pengembangan kelompok tani ternak. Juga kurangnya legal framework dan strategi baru untuk pengembangan kelompok tani ternak.
  2. 2. Ada beberapa masalah yang di hadapi peternak sapi saat ini. Kurangnya teknologi, harga pakan yang tinggi, manajemen ternak sapi yang buruk, kurangnya peran peternak kecil dalam menentukan kebijakan pengembangan ternak sapi dan rendahnya partisipasi peternak dalam berorganisasi (Prodjoharjono, 1992). Di tambahkan dalam penelitian di desa raemuna, banyak peternak sapi perah adalah anggota kelompok tani ternak, namun masih memiliki masalah dalam meningkatkan kualitas pemeliharaan sapi. Tantangan besar yang sering di hadapi oleh kelompok tani ternak adalah lack of power (pemberdayaan) dari kelompok tani ternak sendiri. Anggota kelompok tani ternak dan anggota masyarakat harus di dorong untuk berpartisipasi dengan sumber daya yang ada (pengetahuan, dukungan dana). Peran partisipasi dari anggota KTT sangat di butuhkan untuk turut serta dalam pengembangan KTT dan manajemen ternak sapi. Berdasarkan masalah yang sudah dipaparkan di atas, walaupun sudah di lakukan metode dalam mendorong partisipasi masyarakat, masih terdapat kontroversi tentang pemberdayaan masyarakat dalam konteks hubungan dengan pemberdayaan kelompok tani ternak sapi. Lebih lanjut belum ada suatu penelitian tentang empowerment (pemberdayaan masyarakat) kelompok tani ternak. Dengan situasi tersebut, penelitian ini untuk menjawab beberapa pertanyaan: 1. Bagaimana strategi pemberdayaan yang dapat di terapkan dalam keberlangsungan kelompok tani ternak sapi di Desa Raimuna Kecamatan Maligano ? 2. Bagaimana pendapat peternak terhadap pemberdayaan kelompok tani ternaknya Desa Raimuna Kecamatan Maligano? 3. Bagaimana tingkat pemberdayaan di kelompok tani ternak sapi di Desa Raimuna Kecamatan Maligano? 4. Faktor apa saja yang mempengaruhi pemberdayaan kelompok tani ternak sapi di Desa Raimuna Kecamatan Maligano ? 5. Apa pengaruh proses pemberdayaan kelompok tani ternak Desa Raimuna Kecamatan Maligano terhadap performa organisasi? C. Tujuan Penelitian Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme pemberdayaan masyarakat dan pengaruhnya terhadap performa organisasi di kelompok tani ternak sapi di Desa Raimuna Kecamatan Maligano. Sedangkan tujuan penelitian secara khusus adalah: a. Untuk mengetahui mekanisme pemberdayaan masyarakat di kelompok tani ternak sapi
  3. 3. di Desa Raimuna Kecamatan Maligano b. Untuk mengetahui pemahaman anggota kelompok tani ternak tentang pemberdayaan masyarakat di kelompok tani ternak di Desa Raimuna Kecamatan Maligano. c. Untuk mengukur tingkat pemberdayaan di kelompok tani ternak sapi di Desa Raimuna Kecamatan Maligano d. Untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi pemberdayaan kelompok tani e. Ternak sapi perah di Desa Raimuna Kecamatan Maligano f. Untuk mengetahui pengaruh proses pemberdayaan kelompok tani ternak sapi di Desa Raimuna Kecamatan Maligano terhadap performa organisasi. D. Batasan Penelitian Penelitian ini akan fokus pada kelompok tani ternak sapi dan akan menganalisis pengaruh faktor social demografik (umur, gender, pekerjaan, pendapatan peternak, dan pendidikan); factor psikologis pemberdayaan (perilaku, kesadaran dan peran individu), dan factor institusional (philosophy kelompok tani ternak, peran kelompok tani ternak, kebijakan kelompok tani ternak, dan sumber daya yang ada di kelompok tani ternak) terhadap mekanisme pemberdayaan kelompok tani ternak dan performa organisasi. Penelitian ini juga menganalisis pengaruh proses pemberdayaan (community organizing, training, and building network) terhadap performa organisasi. Reliability data tergantung terhadap kemampuan respondent untuk mengingat selama proses wawancara. E. Manfaat Penelitian Penelitian ini di harapkan mampu memberikan kontribusi terhadap proses pemberdayaan masyarakat khususnya yang berhubungan dengan ternak sapi. Selain itu penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan industry ternak sapi khususnya yang berhubungan dengan peternak kecil. Ditambahkan bahwa penelitian ini akan memberikan kontribusi untuk mengidentifikasi strategi kebijakan peternakan sapi, meningkatkan kemampuan peternak dengan sumber daya yang dimiliki, serta meningkatkan kerja sama dan networking dengan para stakeholder seperti pemerintah, penyuluh, dan NGOs Hasil penelitian ini juga bisa di gunakan sebagai guideline dalam proses pemberdayaan peternak serta bagaimana mendorong peternak dalam memberikan kontribusi dalam pembangunan. Penelitian ini juga berguna dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi program pengembangan ternak sapi. Penelitian ini sebagai langkah awal pengumpulan informasi tentang pemberdayaan masyarakat di bidang ternak sapi yang berguna bagi pemerintah dan institusi lain.
  4. 4. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Empowerement (Pemberdayaan Masyarakat) The World Bank (2002) mendedinisikan pemberdayaan masyarakat sebagai suatu konsep terfokus pada kebebasan untuk memilih dan bertindak. Selanjutnya World Bank juga mendefinisikan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari ―poverty reduction‖ “Pemberdayaan masyarakat sebagai suatu kekuatan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat dan kapasitas “poor people” untuk berpartisipasi, bernegosiasi, mempengaruhi, mengontrol institusi yang akan mempengaruhi kehidupan mereka.” World Bank juga mendefinisikan empowerement (pemberdayaan masyarakat) sebagai suatu proses untuk memanfaatkan dan mengontrol sumber daya yang ada dan membuat keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Di tambahkan, biasanya penelitian tentang empowerment (pemberdayaan masyarakat) fokus pada the poor people (orang miskin) – ketidakmampuan pengembangan diri dan kurangnya kesempatan untuk mengemukakan pendapat. Sedangkan tujuan dari pemberantasan kemiskinan adalah suatu evaluasi diri untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki. Selanjutnya World Bank juga mendefinisikan suatu ―the empowerment framework for action‖: a. Empowerment memfasilitasi masyarakat terutama dari golongan bawah untuk mempengaruhi suatu institusi formal melalui partisipasi dalam membuat keputusan. b. Mengurangi batas perbedaan antara masyarakat dan institusi formal untuk memastikan kesemapatan untuk masyarakat dapat mengakses segala bentuk sumber daya dan hasil pembanguan. B. Konsep Pemberdayaan Masyarakat Berdasarkan Hollnsteiner (1979), disitasi oleh Trinh (2001), ―community organization‖ di asosiasikan sebagai suatu bentuk pemberdayaan, partisipasi dan pengembangan diri melalui suatu bentuk struktur organisasi yang telah ada. Konsep ini memaksimalkan pertisipasi dari masyarakat. Di mana kemampuan individu di gabungkan dengan sumber daya yang dimiliki dengan tujuan untuk memaksimalkan partisipasi individu dalam pembangunan sesuai denga n kebutuhan dan masalah yang di hadapi masyarakat.
  5. 5. C. Elemen Pemberdayaan The World Bank (2002) menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat meliputi kesempatan untuk mengakses 4 elemen: a. Informasi b. Partisipasi c. Accountability‖. d. Local organizational capacity‖, mengacu pada kemampuan individu untuk bekerja sama, Berpartisipasi aktif dalam organisasi, memobilisasi sumber daya untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. D. Indikator Pemberdayaan Masyarakat Berdasarkan Alsop et al., (2006), pemberdayaan masyarakat dapat diukur melalui asset endowments atau opportunity structure. Berdasarkan ―asset endowment‖, World Bank mengukur indikator dalam pemberdayaan masyarakat berdasarkan data dari the World Bank’s Living Standards Measurement Survey (LSMS) termasuk diantarnya human capital, social capital, and access to productive assets. Table 1 adalah contoh indikator dari pemberdayaan masyarakat. E. Definition of Organization Berdasarkan Chester I. Barnard yang disitasi oleh Kreituer (1998), sebuah organisasi adalah suatu sistem yang mengkoordinasikan lebih dari dua individu. Terdapat empat komponen dalam organisasi yang mengacu sebagai struktur organisasi: koordinasi, goal (tujuan), karyawan, dan authority. Berdasarkan Gibson et al., (2000), organisasi adalah suatu system sosial. Hubungan antara individu dan kelompok dalam suatu organisasi dapat mempengaruhi perilaku dan organizational performance. Dalam suatu organisasi terdapat system authority, status, power. Setiap individu yang terlibat memiliki kebutuhan dan tanggung jawab yang berbeda. F. Empowerment Process Pemberdayaan masyarakat merupakan tujuan dari program pembangunan atau merupakan suatu instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan (Alsop et al., 2006). Ditambahkan oleh Gonzaga et al., (1994) yang disitasi oleh Eusebio (2003), ―Dalam pemberdayaan masyarakat, terdapat beberapa proses: community organization, bantuan kredit, training capacity building, akses teknologi, dan bantuan advocacy‖.
  6. 6. G. Community Organizing Community Organizing mengacu pada pembentukan suatu organisasi masyarakat untuk memecahkan masalah dan mengutamakan kerja sama antar anggota. Community organizing (CO) mengatur individu atau kelompok dengan berbagai pemikiran, kebutuhan, dan perilaku yang berbeda. Di dalam CO terdapat tujuan organisasi dan prosedur yang harus di ikuti. H. Traning (pelatihan) Berdasarkan pendapat Nelson (2006), salah satu cara yang dilakukan oleh negara donor dalam mendukung pembangunan di negara berkembang adalah melalui pelatihan dan ―skills- building programs‖. Pendidikan adalah hal terpenting dalam keikutsertaan dan partisipasi masyarakat dalam program pembangunan. Training bertujuan meningkatkan pengetahuan dan inovasi dalam perubahan lingkungan. I. Membangun Network Dizon (1997) berpendapat salah satu indikator pemberdayaan adalah jaringan kerjasama atau networking. Kemampuan suatu KTT dalam membangun kerja sama dengan pihak lain tentunya akan memberi keuntungan terhadap KTT dan anggotanya. Salah satu keuntungan membangun kerjasama dengan pihak lain adalah efektivitas pertukaran pengetahuan dan informasi serta mendorong keberlangsungan sebuah KTT. Fongmul (2006) menjelaskan bahwa elaborasi antar organisasi petani akan menguatkan hubungan untuk saling membantu memecahkan masalah petani.
  7. 7. BAB III METHODOLOGI PENELITIAN A. Daerah Penelitian Penelitian ini akan di lakukan di Desa Raimuna Kecamatan Maligano. Kecamatan maligano memainkan peran yang besar sebagai salah satu sentra produksi daging sapi di Kabupaten muna. Kecamatan maligano memiliki sumber daya alam yang sangat cocok dalam pengembangan ternak sapi. Selain itu, di dukung partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan ternak sapi dengan bergabung dalam wadah kelompok tani ternak (KTT). B. Responden dan Metode Pengambilan Sampling Penelitian di lakukan dengan metode survey dimana data yang di ambil adalah data dari sampel yang dapat mewakili populasi tersebut. Penentuan responden di lakukan dengan metode ―purposive sampling‖ yaitu dengan memilih 3 kelompok tani ternak dengan criteria maju, sedang, dan buruk. Dari masing-masing criteria di pilih secara acak 1 KTT untuk dijadikan sebagai responden. Responden dalam penelitian ini adalah anggota KTT yang telah terpilih secara acak berdasarkan 3 kriteria tersebut Tabel 2. Responden penelitian Kriteria KTT Nama KTT Jumlah Anggota Maju Kampanaha ( Desa raimuna) 25 Sedang Pandehao (Desa Bone-bone) 10 Buruk Soliwu (Desa Latompa) 15 Jumlah Responden 50 C. Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi dan wawancara langsung dnegan responden dengan berpedoman pada kuesioner. Data- data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer berupa data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden dengan panduan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari beberapa instansi terkait dengan penelitian. D. Instrumen Penelitian  Kuesioner Kuesioner pada penelitian ini akan di kembangkan menjadi 2 buah kuesioner, kuesioner yang akan digunakan untuk pengambilan data responden dan kuesioner sebagai guideline untuk focus group discussion.
  8. 8.  Focus Group Discussion Focus group discussions akan di lakukan dengan menggunakan ―informal structure questionnaires‖. Tujuan dari FGD adalah untuk lebih menggali informasi yang yang lebih mendalam.  Observasi Observasi digunakan sebagai informasi tambahan yang dapat mendukung hasil penelitian. Observasi langsung bisa di lakukan selama proses survey di lapangan. Untuk mendapatkan data tambahan seperti life style, modal sosial, ekonomi masyarakat, sumber daya alam daerah penelitian yang pada dasarnya dapat di gunakan sebagai dasar mengalisis data kualitative. E. Data Analisis Analisis kualitative akan dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari survey kuesioner, personal observasi dan FGD. Data hasil interview dengan responden selanjutnya akan di kalkulasi dengan menggunakan the Statistical Package Social Science (SPSS). Selanjutnya akan di analisis secara kuantitatif menggunakan statistik descriptive dan in ferensial menggunakan Pearson’s Product Moment/Spearman Rank Correlation Coefficient.
  9. 9. BAB IV PEMBAHASAN A. Faktor Psikologi Faktor psikologi responden yang menjadi fokus dalam penelitian ini meliputi : pengetahuan, sikap, dan ketrampilan responden mengenai kegiatan pemberdayaan masyarakat di kelompok taninya. Tabel 4 menunjukkan bahwa responden memiliki persepsi dalam kategori tinggi mengenai aktivitas pemberdayaan masyarakat. Tabel 4. Persepsi responden mengenai aktivitas pemberdayaan di Kelompok Tani Tenak Keterangan Score Kategori Pengetahuan 3,9 Tinggi Sikap 3,3 Tinggi Ketrampilan 2,9 Sedang Mayoritas responden (83.7%) mengerti tentang aktivitas pemberdayaan di kelompok tani ternak. 18% responden menyatakan mereka tidak mengerti aktivitas pemberdayaan di KTT karena tidak punya kesempatan untuk menghadiri kegiatan di kelompok tani ternak atau termasuk dalam kategori anggota pasif. Ditambahkan bahwa sebagian besar responden menjawab bahwa KTT memfasilitasi setiap kegiatan pemberdayaan yang berhubungan dengan manajemen ternak sapi perah terutama kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peternak sapi perah. Selain itu 38% responden berpendapat bahwa salah satu kelemahan program pemberdayaan yang dalam KTT mereka karena rendahnya kemampuan dan kapasitas peternak itu sendiri untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. Masih terdapat ketidakjelasan peran anggota dalam KTT dan masih rendahnya kerjasama antar anggota serta partisipasi peternak. Sebagian besar responden menyatakan bahwa kelompok tani ternak dapat meningkatkan kesempatan peternak tentang meningkatkan kemampuannya. B. Faktor Institusional Faktor institusional meliputi persepsi responden mengenai visi, peran, aktivitas dan penyediaan sumberdaya dalam organisasi kelompok tani ternak sapi perah di Kecamatan Getasan. Visi KTT. Sebagian besar responden (62%) menyatakan bahwa mereka mengetahui visi dan misi dari kelompok tani ternak yang ada di wilayah mereka. Dari 31 responden yang menjawab mengetahui visi dari KTT memperlihatkan 15 responden (48.38%) menjawab salah 9
  10. 10. satu visi dari KTT sapi perah adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peternak dalam manajemen sapi perah, 6 responden (19.35%) berpendapat bahwa visi KTT adalah membantu menyediakan sumberdaya dalam pengembangan usaha sapi perah, 4 respondent (12.9%) menjawab KTT tempat peternak bernaung membantu membuka pasar bagi produk peternakan sapi perah, 4 respondent (12.9%) berpendapat bahwa visi KTT mendorong partisipasi peternak dalam pengembangan usaha ternak sapi perah, dan 3 respondent (9.67%) berpendapat bahwa visi KTT adalah sebagai jembatan membantu penentu kebijakan dalam peningkatan pengembangan usaha ternak sapi perah di Kecamatan Getasan. Peran. Secara garis besar, responden memiliki persepsi yang tinggi mengenai peran peternak dalam organisasi KTT. Sebagian besar responden setuju bahwa KTT mempunyai peran yang besar dalam memfasilitasi kebutuhan anggota, membantu menyelesaikan konflik antar anggota, membantu meningkatkan kemampuan anggota, membantu dalam penyediaan kredit bagi anggota, meningkatkan kehidupan sosial ekonomi anggotanya, membuka pasar untuk produk ternak sapi perah, dan memfasilitasi kegiatan penyuluhan. Aktivitas. Sebagian besar peternak menjawab bahwa KTT sapi perah yang ada di wilayahnya telah mengadakan beberapa aktivitas misalnya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan peternak, program mikro kredit, program Inseminasi buatan, penyediaan pakan, capacity building terhadap penyelesaian konflik, pelatihan management sederhana untuk anggota KTT, peningkatan akses informasi, penyebaran informasi tentang kebijakan peternakan sapi perah, dan peningkatan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Penyediaan sumberdaya. Responden menjawab beberapa sumberdaya yang di fasilitasi oleh KTT seperti penyediaan kredit lunak, penyediaan sumberdaya material seperti pakan , obat- obat dan perlengkapan, penyediaan jasa pelayanan inseminasi buatan dan penyediaan buku-buku yang berhubungan dengan manajemen ternak sapi perah. C. Proses pemberdayaan Community Organizing. Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak semua responden aktif untuk menghadiri rapat atau pertemuan yang diadakan oleh KTT yang ada di wilayahnya. 86% responden selalu mengikuti kegiatan yang diadakan oleh KTT sedangkan14% responden mengaku jarang mengikuti pertemuan di KTT temnpat mereka bernaung. 60% responden menjawab bahwa setiap sebulan sekali selalu di adakan pertemuan di KTT, diikuti 10
  11. 11. 30% menjawab bahwa pertemuand i KTT adalah setiap ―selapanan‖ sedangkan 10% responden menjawab tidak tahu. Hal ini menjadi bukti semakin pentingnya pembentukan organisasi peternak di masyarakat untuk mendukung pengembangan ternak sapi perah. Pola pembinaan dan pendekatan kepada peternak dapat di lakukan dalam sebuah organisasi peternak (Kelompok Tani Ternak) di maksudkan untuk memotivasi dan merangsang peternak secara lebih aktif meningkatkan partisipasinya. Training. Suatu pelatihan atau training dalam usaha ternak sapi perah di buat untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan, khususnya menganalisis kebutuhan dan membantu menyelesaikan masalah yang di hadapi oleh peternak. Sebagian besar respondent (90%) menyatakan jarang di lakukan pelatihan atau training yang di fasilitasi oleh KTT dan hanya 10% responden yang menjawab tidak pernah diadakan training di KTT. Jenis pelatihan yang diadakan oleh KTT biasanya berupa penyuluhan tentang manajemen ternak sapi perah, penanganan kebuntingan, pemerahan, penanganan penyakit dan adminstrasi sederhana. Networking. Networking atau kerjasama dengan organisasi lain dalam proses pemberdayaan sayang penting karena membuka kesempatan berkerjasama untuk menambah pengetahuan dan membuka pemasaran produk peternak. Sebanyak 35 responden (70%) menjawab bahwa KTT mempunyai kerjasama dengan organisasi lain sedangkan 30 responden menjawab tidak tahu. Pihak lain atau organisasi lain tersebut misalnya : dengan perguruan tinggi, perusahaan pengolahan susu seperti PT. Indolacto, GKSI, KUD Melati Kecamatan Getasan, KUD Banyumanik. Kerjasama ini dalam bentuk pemberian pelatihan/training, bantuan dana mikro kredit, bantuan perlengkapan berupa material assistance dan infrastructure. D. Output Pemberdayaan Kelompok Tani ternak Akses yang sama dalam memperoleh informasi. Tabel 5 menunjukkan persepsi responden mengenai output pemberdayaan Kelompok Tani Ternak. Kisaran score ―akses yang sama dalam memperoleh informasi‖ memperlihatkan responden berada dalam kisaran tinggi. Responden berpendapat bahwa pengurus KTT selalu terbuka mengenai informasi yang berhubungan dengan pengembangan usaha ternak sapi perah. Anggota KTT dengan mudah dapat memperoleh informasi tidak hanya yang berhubungan dengan manajemen ternak sapi perah tetapi juga tentang pemasaran produk, kebijakan baru dari pemerintah, tetapi juga informasi tentang penetapan aturan baru oleh perusahaan pengolahan susu. 11
  12. 12. Tabel 5. Persepsi responden mengenai output pemberdayaan Kelompok Tani Tenak Keterangan Score Kategori Akses yang sama dalam memperoleh informasi 3.8 Tinggi Akses yang sama dalam menggunakan 4.3 Tinggi sumber daya (modal sosial, finansial capital) Partisipasi dalam pengambilan keputusan. Responden memiliki persepsi yang tinggi mengenai partisipasi dalam pengambilan keputusan dalam organisasi KTT . Sebagian besar responden setuju bahwa KKT mendorong anggotanya untuk berpartisipasi dalam setiap pengambilan keputusan seperti : dalam perencanaan sampai pada evaluasi kegiatan, formulasi peraturan baru, manajemen konflik dan bidang simpan pinjam serta pemasaran produk. Setiap pengmbilan keputusan di KTT selalau harus berdasarkan musyawarah mufakat dan selalu mengedepankan kepentingan bersama. Akses yang sama dalam menggunakan sumber daya (sosial capital, finansial capital). Tabel 5 memperlihatkan bahwa responden memiliki persepsi yang tinggi mengenai kedudukan mereka dalam menggunakan sumberdaya yang ada. Penggunaan sumberdaya yang dimaksud adalah sosial capital dan finansial capital. Sebagian besar responden berpendapat bahwa modal sosial adalah bagian-bagian dari organisasi KTT seperti kepercayaan, norma dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan-tindakan yang terkoordinasi. Modal sosial juga didefinisikan sebagai kapabilitas yang muncul dari kepercayaan umum didalam sebuah masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama. Sedangkan financial capital dapat merujuk pada dana yang digunakan oleh KTT untuk diberikan pada para peternak untuk membeli apa yang mereka butuhkan dalam rangka meningkatkan usaha ternak sapi perah. Sebagian besar responden juga berpendapat bahwa KKT memfasilitasi anggotanya untuk mendapatkan bantuan keuangan untuk meningkatkan usahanya. Setiap anggota berhak mengajukan kredit dengan bunga rendah. 12
  13. 13. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Jika di lihat dari gender, sebagian besar peternak sapi potong adalah pria, dimana mereka adalah kepala rumah tangga yang berperan aktif dalam pengambilan keputusan usaha ternaknya. Perlunya peningkatan partisipasi wanita dalam setiap kegiatan pemberdayaan. 2. Aktivitas pemberdayaan sudah seharusnya adalah berasal dari ide original petani dengan dikoordinasikan oleh KTT berkerjasama dengan pemerintahan lokal, peneliti ataupun NGO’s. 3. Sebagian besar peternak mengetahui visi dan tujuan organisasi KTT sehingga memungkinkan peternak untuk berpartispasi aktif dalam setiap kegiatan. 4. Variabel community organizing adalah faktor penting dalam partisipasi dalam pengambilan keputusan dalam organisasi KTT. 5. Training adalah faktor penting dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap peternak. 6. Dari ketiga usaha Peternak sapi di Desa Ramemuna yang paling banyak produksinya dan terbagus kualitas sapinya. B. Saran 1. KTT perlu meningkatkan partisipasi wanita dalam program pemberdayaan. 2. KTT perlu meningktakan kerjasama dengan NGO’s terkait dengan program pemberdayaan peternak sapi perah seperti peningkatan pelatihan untuk peternak. 3. KTT perlu meningkatkan penyebaran informasi kepada anggota tentang perencanaan aktivitas kegiatan yang dapat meningktkan usaha pengembangan ternak sapi perah. 4. KTT perlu mendorong partisipasi peternak untuk bergabung dalam organisasi KTT sehingga akan memperkaya keanggotaan dan mendorong kerjasama antar peternak.KTT harus berupaya untuk meningkatkan performa struktur 13
  14. 14. organisasinya dengan mengimplementasikan tahap-tahap struktur community organizing. 5. Penelitian ini terfokus pada pemberdayaan kelompok, disarankan bahwa perlu penelitian lebih lanjut tentang proses pemberdayaan anggota—individual empowerment—apakah berpengaruh terhadap pemberdayaan kelompok. 6. Perlunya peningkatan program pemberdayaan peternak yang lebih dikoordinasikan oleh others institution dan lokal government. 7. Perlunya penelitian yang lebih mengarah pada faktor lain dalam pemberdayaan masyarakat selain faktor yang ada dalam penelitian ini. 14
  15. 15. DAFTAR PUSTAKA 1. Alsop, r. Bertelsen, f. M. Holland, j. 2006. Empowerment in practice 2. Gibson, j. L. Ivancevich, j. M. Jr, j. H. D. 2000. Organizations – behavior, structure, processes. 3. Kreitner, r. Kinicki, a. 1998. Organizational behavior. 4. Nelson, m. 2006. Does training work? Re-examining donor-sponsored training programs in developing countries. Capacity development brief. Sharing knowledge and lessons learned. World bank institute. 5. World bank. 2002. Empowerment and poverty reduction: a sourcebook – draft. 15
  16. 16. 16

×